P. 1
Mengungkap Makna Dibalik Puisi Doa

Mengungkap Makna Dibalik Puisi Doa

3.0

|Views: 2,875|Likes:
Published by Handi Agus Hidayat

More info:

Published by: Handi Agus Hidayat on May 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2014

pdf

text

original

MENGUNGKAP MAKNA DIBALIK PUISI DOA KARYA AMIR HAMZAH MAKALAH Disusun untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah Bahasa Indonesia Dosen : Welsi Damayanti, M. Pd.

Oleh Handi Agus H (0908810)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karya sastra secara umum bisa dibedakan menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Puisi adalah suatu bentuk seni yang menggunakan kekuatan dan keindahan bahasa dan mengandalkan kualitasnya untuk menciptakan interpretasi yang beragam bagi tiap orang. Puisi adalah salah satu karya sastra tertua dalam sejarah manusia. syair-syair mitologi Yunani seperti Iliad dan Odyssey karya Homerus juga kitab-kitab kebijaksanaan Tao dan Konfusius, atau tradisi sastra lokal seperti pantun, gurindam, seloka, dsb, semuanya disajikan dalam syair-syair yang indah. Dalam kata-kata puisi terekam peristiwa-peristiwa yang mengilhami penyairnya sehingga kita dapat ikut melihat isi pikiran penyair dan merasakan apa yang ia alami. Melalui puisi kita dapat melacak sejarah hidup seorang penyair bahkan sejarah suatu bangsa. Indonesia memiliki sastrawan dan penyair yang terkenal dari generasi ke generasi. Setiap generasi memiliki perbedaan ciri khas berdasarkan tema dan makna yang diangkat dalam setiap karya sastra. Perbedaan ini dipengaruhi oleh keadaan sosial politik bangsa Indonesia saat itu, latar belakang sosial, wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian. Amir Hamzah adalah salah satu Penyair besar Indonesia yang memiliki banyak karya puisi seperti Berdiri Aku, Hanyut Aku, Panji di Hadapanku, Memuji Dikau, dan masih banyak lagi. Belum lagi yang bertemakan religi seperti Doa, Berdiri Aku, Padamu Jua, dan Tetapi Aku. Keempat puisi tersebut memuat ajaran tasawuf. Tasawuf dalam ajaran Islam merupakan ajaran ketauhidan yang menjadi landasan utama akidah Islam.

B. Rumusan Masalah

Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan, maka beberapa masalah yang akan dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam makalah ini adalah: 1. Apakah yang dimaksud dengan puisi; 2. Unsur-unsur dalam puisi; 3. Macam-macam Puisi; dan 4. Makna yang terkandung dalam puisi Doa karya Amir Hamzah. C. Tujuan Penulisan Makalah Makalah ini disusun dengan tujuan: 1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia; 2. Memahami pengertian puisi; 3. Memahami Unsur-unsur puisi; 4. Memahami Macam-macam puisi; dan 5. Memahami makna puisi Doa karya Amir Hamzah. D. Manfaat Penulisan Makalah Makalah ini disusun dengan harapan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis makalah ini berguna sebagai pengembangan pemahaman puisi. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi: 1. Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan, menambah perbendaharaan makalah; dan 2. Pembaca/Dosen, sebagai media informasi.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pengertian Puisi Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Sedangkan menurut Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi katakatanya berturu-turut secara teratur). Tak berbeda jauh, Putu Arya Tirtawirya

(1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif. Dari definisi-definisi di atas, maka bisa disimpulkan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, diubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan dengan pemakaian makna konotatif.

B. Unsur-Unsur Puisi Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu tema, amanat, perwajahan puisi (tipografi), diksi, bahasa figuratif, bait, larik, dan ritme dan rima. Semua unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut: 1. Tema/makna (sense), yaitu unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Puisi harus mempunyai makna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut; 2. 3. Amanat, yaitu pesan yang ingin disampaikan oleh penyair; Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman

yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi; 4. kata; 5. Bahasa figuratif disebut juga majas, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi sehingga memancarkan kaya akan makna; Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya yang erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan

6.

Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait

inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi; 7. Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan; dan 8. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Menurut Siswanto dan Roekhan (1991:55-65) menjelaskan unsur-unsur puisi terbagi menjadi dua struktur yaitu: 1. Struktur batin puisi atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi tema, nada, rasa, dan amanat; dan 2. Struktur fisik puisi atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah saranasarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi diksi, imajeri, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima. C. Macam-Macam Puisi Bila dilihat berdasarkan zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.
1. Puisi Lama adalah Puisi yang sifatnya masih asli, belum terpengaruh oleh

Barat. Pusii lama dibedakan menjadi mantra, bidal atau peribahasa, pantun, dan gurindam. Ciri-ciri puisi lama:
a) Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya; b) Disampaikan lewat mulut ke mulut, sehingga bisa juga disebut sastra

lisan; dan
c) Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait,

jumlah suku kata maupun rima.

2. Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah

baris, suku kata, maupun rima. Puisi baru dibedakan menjadi balada, himne, ode, epigram, slogan, semboyan atau sajak cetusan, elegi, satire, dan romance. Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi/gagasannya, puisi dibedakan menjadi:
1. Puisi Naratif

Puisi naratif adalah puisi yang mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Yang termasuk puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair.

2. Puisi Lirik Puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan gagasan pribadi penyair (biasanya disebut juga aku lirik). Dalam puisi lirik, penyair tidak bercerita. Jenis puisi lirik, misalnya: elegi, ode, dan serenade (sajak percintaan yang bisa dinyanyikan).
3. Puisi Deskriptif

Puisi deskriptif adalah puisi yang penyairnya bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan / peristiwa, benda, atau suasana. Jenis puisi yang dapat diklasifikasikan dalam puisi deskriptif, misalnya puisi satire, kritik sosial, dan puisipuisi impresionitik. Berdasarkan kedalaman maknanya, puisi dibedakan menjadi: 1. Puisi Diafan atau Puisi Polos Puisi yang kurang memiliki pencitraan, terutama dalam hal diksi yang terlalu ‘biasa’, sehingga mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi diafan sangat mudah dihayati maknanya. Kelemahan utama pada karya-karya tersebut adalah, belum adanya harmonisasi bentuk fisik dalam mengungkapkan makna.

2. Puisi Prismatis Puisi prismatis puisi yang mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma. 3. Puisi Gelap Puisi gelap adalah Puisi yang sukar dimaknai. Terlampau banyak penggunaan majas, metafora, simbolisasi terkadang justru membenamkan arti/makna puisi itu sendiri. Mungkin hanya pengarangnya yang bisa membaca arti puisinya.

BAB III PEMBAHASAN

Dalam bab ini penyusun akan mencoba mengungkap makna yang terkandung dalam puisi Doa karya Amir Hamzah. Langkah pertama yang dilakukan untuk mengungkap maknanya, penulis membaca berulang-ulang lalu memahami puisi baik itu dari bait per bait maupun baris per baris. Memang tidaklah mudah memahami puisi tersebut, apalagi puisi karya Amir Hamzah. Kita semua tahu bahwa Amir Hamzah adalah salah satu pujangga besar yang pernah dimiliki Indonesia belum lagi puisi yang akan diungkap maknanya ini bertemakan religi. Perlu memerlukan waktu yang cukup dan penghayatan yang lebih sehingga kita benar-benar memahami dan mengerti benar dengan maksud, tujuan maupun pesan yang ingin disampaikan oleh penyair kepada khalayak publik.

Doa oleh: Amir Hamzah Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku? Dengan senja samar sepoi, Pada masa purnama meningkat naik, Setelah menghalaukan panas terik. Angin malam menghembus lemah, Menyejuk badan, melambung rasa menanyang pikir, Membawa angan ke bawah kursimu Hatiku terang menerima katamu,

Bagai bintang memasang lilinnya. Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, Bagai sedap-malam menyirak kelopak. Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku Dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, Biar berbinar gelakku rayu! Berdasarkan hasil pemahamannya, penulis bisa menyimpulkan bahwa puisi tersebut mengangkat tema religi sebagai patokannya dan termasuk ke dalam puisi baru. Sedangkan makna yang terkandung dalam puisi Doa karya Amir Hamzah, yaitu: 1. Bait Pertama Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku? Dengan senja samar sepoi, Pada masa purnama meningkat naik, Setelah menghalaukan panas terik. Angin malam menghembus lemah, Menyejuk badan, melambung rasa menanyang pikir,

Makna dari bait pertama adalah waktu pertemuan antara manusia sebagai mahlukNya dan Tuhan sebagai penciptanya (Allah swt.) atau waktu shalat. Sampaisampai waktu ini dianggap berharga sehingga waktu ini tidak mau dilewatkan ataupun diabaikan (Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?). Sedangkan baris selanjutnya menerangkan bahwa waktu pertemuan ini dilaksanakan setelah shalat maghrib menjelang Isya.

2. Bait Kedua Membawa angan ke bawah kursimu Hatiku terang menerima katamu, Bagai bintang memasang lilinnya. Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, Bagai sedap-malam menyirak kelopak.

Makna dari bait kedua ini adalah proses pembacaan ayat suci Al-Qur’an (Hatiku terang menerima katamu) yang seakan-akan diibaratkan seperti penerang hidup dari gelapnya dunia (Bagai bintang memasang lilinnya) dan pembuka hatinya yang mengharapakan belas kasihnya (Kalbuku terbuka menunggu kasihmu) dengan memberikan berbagai macam penyejuk hati sehingga membukakan mata hatinya (Bagai sedap-malam menyirak kelopak). 3. Bait Ketiga Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku Dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, Biar berbinar gelakku rayu!

Makna dari bait ini adalah sebuah pengharapan diberikannya ilham, isi yang terkandung dalam Al-Qur’an, maupun permohonan doa. Ini terlihat pada baris pertama dan kedua bait ketiga. Dengan melakukan permohonan doa dan dibacakannya Al-Qur’an, seseorang tersebut menginginkan agar doanya dapat dikabulkan sehingga dia merasa senang dan bahagia (Biar berbinar gelakku rayu!). Makna keseluruhan dari puisi tersebut ialah dalam melakukan permohonan doa, Kita sebagai mahluk ciptaanNya haruslah dengan keikhlasan hati disampaikan

pada waktu setelah selesai melaksanakan shalat yagn selanjutnya diteruskan dengan membaca Al-Qur’an.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, diubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan dengan pemakaian makna konotatif. Untuk memahami makna yang terkandung dalam suatu puisi kita harus membaca berulang-ulang lalu memahami puisi baik itu dari bait per bait maupun baris per baris ataupun kata per kata.

B. Saran • Kita selaku warga Indonesia harus mampu memahami suatu puisi, karena puisi merupakan karya sastra dan warisan budaya Indonesia; dan • Kita selaku pemuda penerus banga harus mampu memahami suatu puisi karena dengan memahaminya, kita dapat mengetahui makna yang terkandung didalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

Endonesa. (2008). Puisi definisi dan unsur-unsurnya. [Online]. Tersedia: http://endonesa.wordpress.com/2008/09/08/puisi-definisi-dan-unsur-unsurnya/ [ 8 September 2008]

Abdul, R. (2009). Puisi pengertian dan unsur-unsurnya. [Online]. Tersedia: http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/07/27/puisi-pengertian-dan-unsur-unsurnya/ [27 Juli 2009]

Motivasik. (-). Ragam_Jenis_Puisi.[Online]. Tersedia: http://motivasik.multiply.com/journal/item/67/Ragam_Jenis_Puisi [-]

Nurien. (2008). Puisi Amir Hamzah. [Online]. Tersedia: http://nurien.wordpress.com/2008/02/22/puisi-amir-hamzah/ [22 Februari 2008]

Abidin, Y. (2009). Kemampuan Berbahasa Indonesia Di Perguruan Tinggi. Bandung: CV. Maulana Media Grafika.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->