P. 1
Landasan Sosiologis Dan Antropologis Pendidikan

Landasan Sosiologis Dan Antropologis Pendidikan

|Views: 547|Likes:
Published by Handi Agus Hidayat

More info:

Published by: Handi Agus Hidayat on May 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2014

pdf

text

original

LANDASAN SOSIOLOGIS DAN ANTROPOLOGIS PENDIDIKAN

A. Individu, Masyarakat, dan Kebudayan Individu adalah manusia perseorangan sebagai kesatuan yang tak dapat dibagi, memiliki pebedaan yang unik, serta bebas mengambil keputusan atau tindakan atas pilihan dan tanggung jawabnya sendiri (otonom). Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dan bekerja bersama sebagai kesatuan sosial yang menghasilkan kebudayaan. Empat unsur masyarakat , yaitu : 1. Manusia yang hidup bersama 2. Adanya interaksi sosial yang cukup lama 3. Mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan 4. Menghasilkan kebudayaan Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan mililk diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1985).Terdapat tiga jenis wujud dari kebudayaan, yaitu : 1. Sebagai satu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturanperaturan, dsb 2. Sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat 3. Sebagai benda-benda hasil karya manusia Antara individu, masyarakat, dan kebudayaannya tak dapat dipisahkan. Hal ini sebagaimana kita maklumi bahwa setiap individu hidup bermasyarakat dan berbudaya, adapun masyarakat terbentuk dari individu. Untuk memenuhi kebutuhan, setiap individu maupun kelompk melakukan interaksi sosial yang didalamnya melakukan berbagai tindakan sosial, yaitu perilaku individu dengan mempertimbangkan dan berorientasi pada perilaku orang lain. Masyarakat menuntut hal tersebut tiada lain agar tercipta konformitas, yaitu bentuk interaksi yang didalamnya setiap individu berperilaku terhadap individu lainnya sesuai yang diharapkan masyarakat agar tidak terjadi penyimpangan tingkah laku. Apabila terjadi penyimpangan tingkah laku, maka masysarakat akan mengucilkannya bahkan melakukan pengedalian sosial (social control), yaitu apa yang didefinisikan Peter L. Berger sebagai cara masyarakat untuk menertibkan anggotanya. B. Pendidikan : Sosialisasi dan Enkulturasi Ditinjau dari sudut masyarakt, sosialisasi dan enkulturasi merupakan fungsi masyarakat dalam rangka mengantarkan setiap individu ke dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Dari sudut individu, dalam proses sosialisasi dan enkulturasi setiap individu sesuai dengan staatusnya dituntu untuk belajar tentang berbagai macam peranan dalam konteks kebudayaanmasyarakatnya, sehingga mereka mampu hidup berbudaya dan bermasyarakat. Menurut Peter L. Berger “sosialisasi adalah proses anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisiapsi dalam masyarakat. Sedangkan enkulturasi adalah proses individu belajar cra berpikir, bertindak yang mencerminkan kebudayaan masyarakat. Dalam kehidupan riil, sosialisasi inherent dengan kebudayaan , sebab kebudayaanlah yang menentukan arah dan cara- cara sosialisasi yang dilaksanakan masyarakat. Karena itu, proses sosialisasi terjadi juga proses enkulturasi (pembudayaan). Dari sudut sosiologi, dan pendidikan identik dengan sosialisasi. Sedangka dari sudut antropologi, pendidikan identik dengan enkulturasi.

C. Pendidikan Sebagai Pranata Sosial Pranata sosial adalah perilaku terpola yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Pranata pendidikan merupakana salah satu pranata sosial dalam prses sosialisasi dan/atau enkulturasiuntuk mengantarkan individu ke dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya, serta menjaga kelangsungan eksistensinya. D. Pendidikan Informal, Formal, dan Nonformal 1. Pendidikan Informal Pendidikan Informal adalah pendidikan yang berlangsung secara wajar di lingkungan hidup sehari-hari. Contohnya di dalam keluarga, pergaulan anak sebaya, dll. Pengetahuan yang dipelajari contohnya sikap, norma-norma, nilai-nilai, adat kebiasaan keterampilan. a. Pendidikan Informal dalam Keluarga Tujuan dari pendidikan dalam keluarga ialah agar anak menadi pribadi yang mantap, bermoral dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Sedangkan fungsinya sebagai peletak dasar dan persiapan ke arh kehidupan anak dalam masyarakatnya. Keluarga merupakan Lingkungan pendidikan yang bersifat informal, artinya suatu keluarga dibangun bukan pertama-tama sebagai pranata pendidikan. Pelaksanaan pendidikan dalam keluarga berlangsung tidak dengan cara-cara formal an artificial, melainkan melalui cara dn suasanan yang wajar. b. Pendidikan Informal dalam Masyarakat Berlangsung melalui adat kebiasaan, upacara adat, permainan, pagelaran kesenia yang mengandung pengetahuan, nilai-nilai, norma-norma, sikap keterampilan, dll. 2. Pendidikan Formal (Sekolah) Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Komponen utama sekolah, yaitu : 1) Peserta Didik 2) Guru 3) Kurikulum Redja Mudyahardjo (Odang Muchtar, 1991) mengemukakan bahwa sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah mempunyai karakteristik : 1) Sekolah mempunyai fungsi tugas atau fungsia khusus dalam pendidikan untuk mencapai tujuan kurikuler (intern) dan mencapai tuuan institusional (ekstern). 2) Sekolah mempunyai tatanan nilai dan norma 3) Sekolah mempunyai program yang terorganisasi dengan ketat 4) Kredensials dipandang penting baik dalam penerimaan siswa baru maupun untuk menunjukkan bukti kelulusan Beberapa fungsi pendidikan sekolah ialah sebagai tranmisi kebudayaan masyarakat sebagai sosialisasi, sebagai intregasi sosial, pengembanga kepribadia anak, persiapan untuk suatu pekerjaan, dan pentranformasian masyarakat dan kebudayaan.Perbedaan aturan yang dipelajari anak di sekolah dan di keluarga menurut Robert Dreeben (1968) terletak pada kemandirian (independence),prestasi (achievement), universalisme, dan specifity. 3. Pendidikan Nonformal Pendidikan Nonformal ialah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang yang biasanya terjadi di pelatihan, lembaga kursus, kelompk belajar, pusat kegiatan masyarakat, majelis taklim, dll.Pendidikan nonformal berfungsi

mengembangjan poternsi pesarta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilam fungsinal seta pengembangan sikap dn kepribadian professional. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidiakan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pembedayaan perempuan,pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikankesetaraan. E. Pendidikan, Masyarakat, dan Kebudayaaan Terdapat hubungan timbal balik antara pendidikan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Masyarakat dan kebudayaannya menyediakan atau memberikan sumber-sumber input bagi pranata pendidikan dan menerima output dari pranata pendidikan. Dua fungsi utama pranata pendidikan yaitu : a) Fungsi Konservasi Pranata pendidikan berfungsi untuk mewariskan atau melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat dan atau mempertahankan kelangsungan eksistensi masyarakat. b) Fungsi Inovasi/Kreasi/Transformasi Pranata pendidikan berfungsi untuk melakukan perubahan dan pembaharuan masyarakat masyarakat beserta nilai-nilai budayanya. F. Pola – Pola Kegiatan Sosial Pendidikan 1. Pola Nomothetis Pola Nomothetis mengutamakan fungsi dimensi tingkah laku yang bersifat normative/nomothetis daripada fungsi tingkah laku ideografis. Tingkah laku pendidik dan pesrta didik akan lebih mengutamakan tuntutan-tuntutan institusi, peranan-peranan yang seharusnya, dan harapan-harapan sosial.Pendidikan berdasarkan pola nomothetis mempunyai pengertian sebagai sosialisasi kepribadian dan dipandang sebagai upaya pewarisan nilai-nilai sosial kepada generasi muda. 2. Pola Ideografis Pendidikan mempunyai pengertian sebagai personalisasi peranan yaitu upaya membantu seseorang untuk mengetahui dan mengembangkan pengetahuan. 3. Pola Transaksional Lebih mengutamakan keseimbangan berfungsinya dimensi tingkah laku nomothetis dan tingkah laku ideografis. Berdasarkan pola ini, pendidikan dipahami sebagai suatu system sosial yang mempunyai ciri :  Mengenal tujuan-tujuan system  Harapan sosial bersifat rasional  Individu mempunyai kelompok dengan suasana emosional yang sama G. Pola Sikap Guru kepada Siswa dan Implikasinya terhadap Fungsi dan Tipe Guru David Hargreaves mengemukakan tiga kemungkinan pola sikap guru terhadap muridnya serta implikasinya terhadap fungsi dan tipe/kategori guru :  Guru berasumsi bahwa muridnya belum menguasai kebudayaan, sedangkan pendidikan diartikan sebagai enkulturasi (pembudayaan). Implikasinya maka tugas dan fungsi guru adalah menggiring muridnya untuk mempelajari hal-hal yang dipilihkan guru. Tipe guru ini dinamakan sebagai penjinak atau penggembala singa

Guru berasumsi bahwa muridnya mempunyai dorongan untuk belajar yang harus menghadapi materi yang baru, cukup berat dan kurang menarik. Implikasinyatugas guru adalah membuat pengajaran menjadi menyenangkan, menarik, an mudah. Tipe guru ini dinamakan sebagai penghibur atau “entertainer”. Guru berasumsi bahwa muridnya mempunyai dorongan belajar ditambah dengan harapan mampu menggali sumber belajar. Implikasinya guru harus memberikan kebebasan yang cukup luas kepada murid. Tipe guru ini dinamakan sebagai guru romantik.

Oleh Handi Agus H (JPTE FPTK UPI)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->