Kaku sendi (Rheumatoid Arthritis

)
A. Definisi Artritis Reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit yang tersebar luas serta melibatkan semua kelompok ras dan etnik di dunia. Penyakit ini merupakan suatu penyakit autoimun yang ditandai dengan terdapatnya sinovitis erosif simetrik yang walaupun terutama mengenai jaringan persendian, seringkali juga melibatkan organ tubuh lainnya Sebagian besar penderita menunjukkan gejala penyakit kronik yang hilang timbul, yang jika tidak diobati akan menyebabkan terjadinya kerusakan persendian dan deformitas sendi yang progresif yang menyebabkan disabilitas bahkan kematian dini. Walaupun faktor genetik, hormon sex, infeksi dan umur telah diketahui berpengaruh kuat dalam menentukan pola morbiditas penyakit ini.hingga etiologi AR yang sebenarnya tetap belum dapat diketahui dengan pasti

B. Etiologi Penyebab Artritis Reumatoid masih belum diketahui. Faktor genetik dan beberapa faktor lingkungan telah lama diduga berperan dalam timbulnya penyakit ini. Hal ini terbukti dari terdapatnya hubungan antara produk kompleks histokompatibilitas utama kelas II, khususnya HLA-DR4 dengan AR seropositif. Pengemban HLA-DR4 memiliki resiko relatif 4:1 untuk menderita penyakit ini. Kecenderungan wanita untuk menderita AR dan sering dijumpainya remisi pada wanita yang sedang hamil menimbulkan dugaan terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang berpengaruh pada penyakit ini. Walaupun demikian karena pemberian hormon estrogen eksternal tidak pernah menghasilkan perbaikan sebagaimana yang diharapkan, sehingga kini belum berhasil dipastikan bahwa faktor hormonal memang merupakan penyebab penyakit ini. Sejak tahun 1930, infeksi telah diduga merupakan penyebab AR. Dugaan faktor infeksi sebagai penyebab AR juga timbul karena umumnya onset penyakit ini terjadi secara mendadak dan timbul dengan disertai oleh gambaran inflamasi yang mencolok. Walaupun hingga kini belum berhasil dilakukan isolasi suatu mikroorganisme dari jaringan sinovial, hal ini tidak menyingkirkan kemungkinan bahwa terdapat suatu komponen peptidoglikan atau endotoksin mikroorganisme yang dapat mencetuskan terjadinya AR. Agen infeksius yang diduga merupakan penyebab AR antara lain adalah bakteri, mikoplasma atau virus.

.Cairan sinovial adalah cairan pelumas pada kapsula sendi. Dapat dikelempokkan menjadi: a.Heat shock protein (HSP) adalah sekelompok protein berukuran sedang (60 sampai 90 kDa) yang dibentuk oleh sel seluruh spesies sebagai respons terhadap stress. Di bagian dalamnya terdapat rongga. Contoh: persendian tulang tengkorak.Kapsula sendi adalah lapisan berserabut yang melapisi sendi.Sinartrosis Adalah persendian yang tidak memperbolehkan pergerakan. Contoh: hubungan antarsegmen pada tulang belakang. Ligamentum juga berfungsi mencegah dislokasi. Contoh: hubungan tulang tengkorak dengan tulang belakang I (atlas).Tulang rawan hialin (kartilago hialin) adalah jaringan tulang rawan yang menutupi kedua ujung tulang. namun tidak ke segala arah. Sendi peluru: persendian yang memungkinkan pergerakan ke segala arah. Sendi putar: persendian yang memungkinkan gerakan berputar (rotasi). Contoh: hubungan tulang lengan atas dengan tulang belikat. b. Sendi pelana: persendian yang memungkinkan beberapa gerakan rotasi. Sinartrosis sinfibrosis: sinartrosis yang tulangnya dihubungkan jaringan ikat fibrosa. Berguna untuk menjaga benturan. D. Sinartrosis sinkondrosis: sinartrosis yang dihubungkan oleh tulang rawan. Beberapa komponen penunjang sendi: . Contoh: hubungan tulang telapak tangan dan jari tangan. Macam-macam persendian . mekanisme ini belum diketahui dengan jelas. . . .Diartrosis Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan. Dapat dibedakan menjadi dua: a. 2. Anatomi 1. .Ligamen (ligamentum) adalah jaringan pengikat yang mengikat luar ujung tulang yang saling membentuk persendian. Walaupun telah diketahui terdapat hubungan antara HSP dan sel T pada pasien AR. b. c.

Contoh: hubungan tulang pergerlangan kaki.Amfiartosis Persendian yang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan sehingga memungkinkan terjadinya sedikit gerakan a. Sendi luncur: persendian yang memungkinkan gerak rotasi pada satu bidang datar. Pada tahap selanjutnya kompleks antigen trimolekular tersebut akan mengekspresi reseptor interleukin-2 (IL-2) Pada permukaan CD4+. Patofisiologi Dari penelitian mutakhir diketahui bahwa patogenesis AR terjadi akibat rantai peristiwa imunologis sebagai berikut : Suatu antigen penyebab AR yang berada pada membran sinovial. e. Proliferasi sel CD4+ ini akan berlangsung terus selama antigen tetap berada dalam lingkunan tersebut.d. b. Antigen yang telah diproses akan dikenali dan diikat oleh sel CD4+ bersama dengan determinan HLA-DR yang terdapat pada permukaan membran APC tersebut membentuk suatu kompleks trimolekular. Sendi engsel: persendian yang memungkinkan gerakan satu arah. interleukin-3 (IL-3). Sindesmosis: Tulang dihubungkan oleh jaringan ikat serabut dan ligamen. Simfisis: Tulang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan yang berbentuk seperi cakram. CD4+ yang telah teraktivasi juga mensekresi berbagai limfokin lain seperti gamma-interferon. Selain IL-2. IL-2 yang diekskresi oleh sel CD4+ akan mengikatkan diri pada reseptor spesifik pada permukaannya sendiri dan akan menyebabkan terjadinya mitosis dan proliferasi sel tersebut. Kompleks trimolekular ini dengan bantuan interleukin-1 (IL-1) yang dibebaskan oleh monosit atau makrofag selanjutnya akan menyebabkan terjadinya aktivasi sel CD4+. E. Contoh:persendian antara fibula dan tibia. tumor necrosis factor β (TNFβ). granulocyte-macrophage colony stimulating factor (GM-CSF) serta beberapa mediator lain yang bekerja merangsang makrofag untuk meningkatkan . Contoh: hubungan antara ruas-ruas tulang belakang. sel dendritik atau makrofag yang semuanya mengekspresi determinan HLA-DR pada membran selnya. akan diproses oleh antigen presenting cells (APC) yang terdiri dari berbagai jenis sel seperti sel sinoviosit A. Contoh: sendi siku antara tulang lengan atas dan tulang hasta. . interleukin-4 (IL-4).

Pengendapan kompleks imun akan mengaktivasi sistem komplemen yang akan membebaskan komponen-komplemen C5a. Tidak terhentinya destruksi persendian pada AR kemungkinan juga disebabkan oleh terdapatnya faktor reumatoid. Pengendapan kompleks imun juga menyebabkan terjadinya degranulasi mast cell yang menyebabkan terjadinya pembebasan histamin dan berbagai enzim proteolitik serta aktivasi jalur asam arakidonat.aktivitas fagositosisnya dan merangsang proliferasi dan aktivasi sel B untuk memproduksi antibodi. leukotrien. sehingga proses destruksi sendi akan berlangsung terus. Fagositosis kompleks imun oleh sel radang akan disertai oleh pembentukan dan pembebasan radikal oksigen bebas. Faktor reumatoid akan berikatan dengan komplemen atau mengalami agregasi sendiri. Prostaglandin E2(PGE2) memiliki efek vasodilator yang kuat dan dapat merangsang terjadinya resorpsi tulang osteoklastik dengan bantuan IL-1 dan TNFβ. Akan tetapi pada AR. antigen atau komponen antigen umumnya akan menetap pada struktur persendian. Selain itu radikal oksigen bebas juga merusak kolagen dan proteoglikan rawan sendi. prostaglandin dan protease neutral (collagenase dan stromelysin) yang akan menyebabkan erosi rawan sendi dan tulang Radikal oksigen bebas dapat menyebabkan terjadinya depolimerisasi hialuronat sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan viskositas cairan sendi. Komponen-komplemen C5a merupakan faktor kemotaktik yang selain meningkatkan permeabilitas vaskular juga dapat menarik lebih banyak sel polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke arah lokasi tersebut. infiltrasi sel PMN dan pengendapan fibrin pada membran synovial (Rizasyah Daud. IL-2. Masuknya sel radang ke dalam membran sinovial akibat pengendapan kompleks imun menyebabkan terbentuknya pannus yang merupakan elemen yang paling destruktif dalam . sehingga proses peradangan akan berlanjut terus. Rantai peristiwa imunologis ini sebenarnya akan terhenti bila antigen penyebab dapat dihilangkan dari lingkungan tersebut. 2006). antibodi yang dihasilkan akan membentuk kompleks imun yang akan berdifusi secara bebas ke dalam ruang sendi. Produksi antibodi oleh sel B ini dibantu oleh IL-1. Pemeriksaan histopatologis membran sinovial menunjukkan bahwa lesi yang paling dini dijumpai pada AR adalah peningkatan permeabilitas mikrovaskular membran sinovial. Setelah berikatan dengan antigen yang sesuai. dan IL-4. Faktor reumatoid adalah suatu autoantibodi terhadap epitop fraksi Fc IgG yang dijumpai pada 70-90 % pasien AR.

Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku ) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan. F.patogenesis AR. 7. Gejala-gejala konstitusional. Revisi 1987. Gejala Klinis Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat yang bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi. Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer. berat badan menurun dan demam. Kriteria 1. 3. 2. dan pembuluh darah dapat rusak. Artritis erosif merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik. Deformitas: kerusakan dari struktur-struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit. namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalangs distal. 5. 2006). Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam: dapat bersifat generalisata tatapi terutama menyerang sendi-sendi. mata. Secara histopatologis pada daerah perbatasan rawan sendi dan pannus terdapatnya sel mononukleus. Manifestasi ekstra-artikular: artritis reumatoid juga dapat menyerang organ-organ lain di luar sendi. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita arthritis rheumatoid. misalnya lelah. mikrovaskular dan berbagai jenis sel radang. anoreksia. Kaku pagi hari Definisi Kekakuan pada pagi hari pada persendian dan disekitarnya. Kriteria American Rheumatism Association untuk Artritis Reumatoid. sekurangnya selama 1 jam sebelum perbaikan maksimal 2. umumnya banyak dijumpai kerusakan jaringan kolagen dan proteoglikan (Rizasyah Daud. 6. Artritis pada 3 daerah Pembengkakan jaringan lunak atau persendian atau lebih efusi (bukan pertumbuhan tulang) pada sekurang-kurangnya 3 sendi secara bersamaan yang diobservasi oleh seorang dokter. Dalam kriteria ini terdapat 14 persendian yang memenuhi kriteria yaitu . termasuk sendi-sendi di tangan. 1. 4. paru-paru (pleuritis). Jantung (perikarditis). Hampir semua sendi diartrodial dapat terserang. Pannus merupakan jaringan granulasi yang terdiri dari sel fibroblas yang berproliferasi.

probable atau possible tidak perlu dibuat. 3. siku pergelangan kaki dan MTP kiri dan kanan. Faktor rheumatoid serum Terdapatnya titer abnormal faktor reumatoid serum yang diperiksa dengan cara yang memberikan hasil positif kurang dari 5% kelompok kontrol yang diperiksa. Pasien dengan dua diagnosis tidak dieksklusikan. 7. Nodul rheumatoid Nodul subkutan pada penonjolan tulang atau permukaan ekstensor atau daerah juksta-artrikular yang diobservasi oleh seorang dokter. * PIP : Proximal Interphalangeal. 6. MCP : Metacarpophalangeal. MCP atau MTP bilateral dapat diterima walaupun tidak mutlak bersifat simetris. Kriteria 1 sampai 4 harus terdapat minimal selama 6 minggu. MTP: Metatarsophalangeal G. pergelangan tangan. Pembagian diagnosis sebagai artritis reumatoid klasik. 5. seseorang dikatakan menderita artritis reumatoid jika ia sekurang-kurangnya memenuhi 4 dari 7 kriteria di atas. Artritis simetris Sekurang-kurangnya terjadi pembengkakan satu persendian tangan seperti yang tertera diatas. Pemeriksaan Penunjang . MCP.PIP. keterlibatan PIP. Artritis pada persendian tangan 4. Keterlibatan sendi yang sama (seperti yang tertera pada kriteria 2 pada kedua belah sisi. Untuk keperluan klasifikasi. definit. Perubahan gambaran Perubahan gambaran radiologis yang radiologis khas bagi arthritis reumotoid pada periksaan sinar X tangan posteroanterior atau pergelangan tangan yang harus menunjukkan adanya erosi atau dekalsifikasi tulang yang berlokalisasi pada sendi atau daerah yang berdekatan dengan sendi (perubahan akibat osteoartritis saja tidak memenuhi persyaratan).

Erosi 3. Diagnosis Banding . namun dapat menyokong bila terdapat keraguan atau untuk melihat prognosis pasien. Tes faktor reuma biasanya positif pada lebih dari 75% pasien artritis reumatoid terutama bila masih aktif. semua sendi dapat terkena. Pembengkakan jaringan lunak 2. endokarditis bakterialis. tuberkulosis paru. Pada pemeriksaan laboraturium terdapat: 1. H. 2.Tidak banyak berperan dalam diagnosis artritis reumatoid. Protein C-reaktif biasanya positif. 6. Anemia normositik hipokrom akibat adanya inflamasi yang kronik. Diagnosis Diagnosa arthritis reumatod dapat dikatakn positif apabila sekurang-kurangnya empat dari criteria yang sekurang-kurangnya sudah berlangsung selama 6 minggu. Sendi sakroiliaka juga sering terkena. hepatitis infeksiosa. Pada awalnya terjadi pembengkakan jaringan lunak dan demineralisasi juksta artikular. Trombosit meningkat. tapi yang tersering adalah sendi metatarsofalang dan biasanya simetris. Sisanya dapat dijumpai pada pasien lepra. penyakit kolagen. 5. Leukosit normal atau meningkat sedikit. Kemudian terjadi penyempitan sendi dan erosi. Osteopororosis artikular I. 4. Pada periksaan rontgen. dan sarkoidosis. 7. Kriteria tersebut adalah:   Kekakuan dipagi hari lamanya paling tidak 1 jam Arthritis pada tiga atau lebih sendi      Arthritis sendi-sendi jari tangan Arthritis yang simetris Nodul rheumatoid Faktor rheumatoid dalam serum Perubahan-perubahan radiologic. 3. lues. sirosis hepatis. LED meningkat. Kadar albumin serum turun dan globulin naik. seperti: 1.

Radiografis sendi: pembengkakan pada satu sendi 11. Serangan mono arthritis 4. namun juga megenai seluruh sendi termasuk tulang subkondral. Arthritis unilateral termasuk sendi tarsal 8. 10. Gout Arthritis (pirai) Adalah sekelompok penyakit heterogen yang diakibatkan oleh deposisi Kristal monosodium urat (MSU) di jaringan. Terdapat Kristal asam urat dari tofus 9. Arthritis sesisi meliputi MTP1 7. Berikut adalah ciri-ciri osteoarthritis: 1. Berkembang lambat baik gejala maupun perubahan struktur 4. Puncak peradangan terjadi pada hari pertama 3. kapsul dan jaringan synovial serta jaringan ikat periartikular. Tidak selalu ada kolerasi antara gejala. Arthritis akut lebih dari sekali 2. disabilitas dan tingkat kerusakan sendi 6. Kemerahan pada sendi 5. ligamentum. Tidak ada manifestasi ekstraartikular 2. Proses penyakitnya tidak hanya mengenai rawan send.a. . Hiperurisemia. Radiograf: kista subkortikal tanpa erosi sendi 12. Osteoarthritis Adalah sekelompok penyakit yang overlap dengan etiologi yang berbeda namun mengakibatkan kelainan biologis. b. Biakan sendi negative saat terjadinya serangan radang. Umur jarang pada middle age 5. Symptoms dan sign lebih berkaitan erat dengan perubahan struktur sendi daripada dengan proses inflamasi. morfologis dan gambaran klinis yang sama. Kriteria diagnosis Arthritis Gout Akut: 1. Hanya satu atau beberapa sendi yang terkena 3. Bengkak dan nyeri pada MTP1 6.

garam emas.Gout tofaseus kronik biasanya terjadi setelah 12 tahun (5-40 tahun sejak serangan gout akut pertama). b. Operasi Jika berbagai cara pengobatan telah dilakukan dan tidak berhasil serta terdapat alasan yang cukup kuat. D-penisilamin. Istirahat yang cukup c. pergelangan. J. telinga. Tofi gout subkutan dapat ditemukan di seluruh tubuh: di jari tangan. a. misalnya sinovektoni. dan sebagainya) untuk menghilangkan nyeri dan DMARD’s (klorokuin. piroksikam. Komplikasi tofi antara lain nyeri dan destruksi sendi serta kompresi pada serabut saraf. pendekatan pertama yang harus dilakukan adalah segera berusaha untuk membina hubungan yang baik antara pasien dengan keluarganya dengan dokter atau tim pengobatan yang merawatnya. memperbaiki deviasi ulnar. lutut dan siku. dapat dilakukan pengobatan pembedahan. Obat Setelah diagnosis AR dapat ditegakkan. total hip replacement. Pemberian NSAID (aspirin. artrodesis. Penatalaksanaan Artritis Reumatoid a. Latihan untuk memperbaiki fungsi sendi d. naproksen. kortikosteroid. c. Memberi pendidikan yang cukup tentang penyakit kepada keluarga secara terusmenerus. diklofenak. Memakai alat bantu untuk beraktivitas sehari-hari e. Ibuprofen. Tanpa hubungan yang baik ini agaknya akan sukar untuk dapat memelihara ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam suatu jangka waktu yang cukup lama. sulfasalazin. dan sebagainya. dll) untuk melindungi rawan sendi dan tulang dari proses destruksi akibat artritis reumatoid. Jenis pengobatan ini pada pasien AR umumnya bersifat ortopedik. b. Rehabilitasi Rehabilitasi merupakan tindakan untuk mengembalikan tingkat kemampuan pasien AR dengan cara: · Mengurangi rasa nyeri · Mencegah terjadinya kekakuan dan keterbatasan gerak sendi .

Manfaat terapi fisis dalam pengobatan AR telah ternyata terbukti dan saat ini merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam penatalaksanaan AR. pendinginan. peningkatan ambang rasa nyeri dengan arus listrik. latihan serta dengan menggunakan modalitas terapi fisis seperti pemanasan. Rehabilitasi dilaksanakan dengan berbagai cara antara lain dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat. .· Mencegah terjadinya atrofi dan kelemahan otot · Mencegah terjadinya deformitas · Meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri · Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung kepada orang lain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful