P. 1
:..Persalinan Pervaginam pada Janin Letak Sungsang_Laporan Kasus..:

:..Persalinan Pervaginam pada Janin Letak Sungsang_Laporan Kasus..:

|Views: 1,709|Likes:
Published by Nur Rahmat Wibowo

More info:

Published by: Nur Rahmat Wibowo on May 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

Persalinan sungsang dengan tarikan sampai pada lahirnya umbilikus dan

tali pusat menyentuh pelvis, akan menekan tali pusat. Oleh karena itu, sekali

letak sungsang melewati introitus vagina, abdomen, thoraks, lengan dan

kepala harus lahir secara tepat. Ini melibatkan persalinan yang sedikit cepat

dapat menekan bagian-bagian janin. Pada kehamilan aterm, beberapa

pergerakan kepala mungkin sukses melewati jalan lahir. Pada keadaan yang

tidak menguntungkan ini, pilihan persalinan pervaginam keduanya tidak

memuaskan:

a) Persalinan mungkin tertunda beberapa menit ketika melahirkan kepala

yang menyusul melewati pelvis ibu, tetapi hipoksia dan asidemia

bertambah berat; atau

b) Persalinan mungkin dipaksakan, menyebabkan trauma dari penekanan,

tarikan atau keduanya.

Pada fetus preterm, perbedaan antara ukuran kepala dan bokong biasanya

lebih besar daripada fetus yang lebih tua. Saat itu, bokong dan ekstremitas

bawah fetus preterm akan melewati serviks dan dilahirkan, dan serviks belum

berdilatasi cukup untuk melahirkan kepala tanpa trauma. Pada keadaan ini,

insisi Duhrssen pada serviks mugkin dapat dilakukan. Walaupun demikian,

trauma pada fetus dan ibu mungkin dapat dinilai, dan fetal hipoksia mungkin

berbahaya. Robertson dan kawan-kawan (1995-1996) mengamati tidak ada

perbedaan yang bermakna pada kejadian kepala terperangkap pada persalinan

sungsang umur kehamilan 28-36 mingggu atau 24-27 minggu. Mereka juga

menemukan tidak ada hubungan kelahiran neonatus yang tidak diinginkan

setelah kepala terperangkap. Masalah lain pada mekanisme letak sungsang

adalah terperangkapnya lengan di belakang leher. Komplikasi lengan

menunjuk (nuchal arm) sampai 6 persen dari persalinan sungsang pervaginam

dan dihubungkan dengan peningkatan mortalitas neonatal (Cheng and Hanah,

1993).

25

Frekuensi prolaps tali pusat meningkat apabila fetus berukuran kecil atau

bila sungsang tidak dalam posisi bokong murni. Dalam laporan Collea dan

kawan- kawan (1978), insiden pada posisi frank breech sekitar 0,5%, yang

sesuai dengan 0,4% pada presentasi kepala (Barrett,1991). Sedangkan, insiden

prolaps tali pusat pada presentasi kaki adalah 15%, dan 5% pada letak bokong

murni.

Soernes dan Bakke (1986) pada pengamatan awal menyatakan bahwa

panjang tali pusat umbilikus lebih pendek pada letak sungsang dari keterliban

letak kepala secara signifikan. Lebih lanjut, keterlibatan tali pusat yang

melingkar-lingkar pada fetus lebih umum pada letak sungsang (Spellacy and

associates,1996). Abnormalitas tali pusat ini sepertinya memainkan peran

dalam perkembangan janin letak sungsang seperti insiden yang relatif tinggi

pola denyut jantung janin yang mencemaskan pada persalinan. Sebagai

contoh, Flannagan dan kawan-kawan (1987) menyeleksi 244 wanita dengan

letak sungsung yang bervariasi (72% adalah frank brech) untuk percobaan

persalinan, didapatkan 4% kejadian prolaps tali pusat. Fetal distres bukan

karena prolaps tali pusat didiagnosa pada 5% wanita lainnya yang dipilih

untuk persalinan pervaginam. Keseluruhan, 10% dari wanita yang dikenali

untuk persalinan pervaginam mengalami persalinan sesarean karena berisiko

dalam persalinan.

Apgar skor, khususnya pada 1 menit, pada persalinan pervaginam letak

sungsang secara umum lebih rendah dari bila dilakukan persalinan sesarean

secara elektif (Flanagan dan kawan-kawan,1987). Dengan cara yang sama,

nilai asam basa darah tali pusat secara signifikan berbeda untuk persalinan

pervaginam. Christian dan Brady (1991) melaporkan bahwa pH darah arteri

umbilikus rendah, PCO2 tinggi, dan HCO3 lebih rendah dibandingkan

persalinan letak kepala. Socol dan kawan-kawan (1988) menyimpulkan,

bagaimanapun persalinan sesarean meningkatkan Apgar skor tetapi tidak

status asam basa. Flanagan dan kawankawan (1987) menekankan bahwa

kelahiran bayi pada persalinan sungsang tidak diperburuk oleh perbedaan yang

signifikan dari Apgar skor atau status asam basa pada kelahiran.

26

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->