Kebudayaan zaman batu

Seperti yang telah disebutkan pada materi sebelumnya bahwa zaman batu berdasarkan hasil temuan alat-alatnya dan dari cara pengerjaannya, maka zaman batu tersebut terbagi menjadi 3 yaitu zaman batu tua atau kebudayaan Palaeolithikum (Palaeo = tua, Lithos = batu), zaman batu madya atau kebudayaan Mesolithikum (Meso = tengah) dan zaman batu muda atau kebudayaan Neolithikum (Neo = baru). Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang.

1. Kebudayaan Palaeolithikum/Batu tua. Hasil kebudayaan Palaeolithikum banyak ditemukan di daerah Pacitan (Jawa Timur) dan Ngandong (Jawa Timur). Untuk itu para arkeolog sepakat untuk membedakan temuan bendabenda prasejarah di kedua tempat tersebut yaitu sebagai kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong. Kapak genggam terkenal juga dengan sebutan kapak perimbas, atau dalam ilmu prasejarah disebut dengan chopper artinya alat penetak. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanya sebagai tempat menggenggam. Pada awal penemuannya semua kapak genggam ditemukan di permukaan bumi, sehingga tidak dapat diketahui secara pasti berasal dari lapisan mana. Berdasarkan penelitian yang intensif yang dilakukan sejak awal tahun 1990, dan diperkuat dengan adanya penemuan terbaru tahun 2000 melalui hasil ekskavasi yang dilakukan oleh tim peneliti Indonesia-Perancis diwilayah Pegunungan Seribu/Sewu maka dapat dipastikan bahwa kapak genggam/Chopper dipergunakan oleh manusia jenis Homo Erectus. Daerah penemuan kapak perimbas/kapak genggam selain di Punung (Pacitan) Jawa Timur juga ditemukan di daerah-daerah lain yaitu seperti Jampang Kulon, Parigi (Jawa Timur), Tambang Sawah, Lahat, dan KaliAnda (Sumatera), Awangbangkal (Kalimantan), Cabenge (Sulawesi), Sembiran dan Terunyan (Bali). Di sekitar daerah Nganding dan Sidorejo dekat Ngawi, Madiun (Jawa Timur) ditemukan kapak genggam dan alat-alat dari tulang dan tanduk. Alat-alat dari tulang tersebut bentuknya ada yang seperti belati dan ujung tombak yang bergerigi pada sisinya. Adapun fungsi dari alat-alat tersebut adalah untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah, serta menangkap

Flakes selain terbuat dari batu biasa juga ada yang dibuat dari batu-batu indah berwarna seperti calsedon. Gombong. Zaman batu tua (palaeolitikum) disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar. yaitu: 1. mengiris daging atau memotong umbi-umbian. Kebudayaan Ngandong.ikan. Terdapat dua kebudayaan yang merupakan patokan zaman ini. Jadi fungsinya seperti pisau pada masa sekarang. Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa dan Flakes dari batu Chalcedon (untuk mengupas makanan) 2.Selain alat-alat dari tulang yang termasuk kebudayaan Ngandong. Lahat (Sumatera). tetapi pada masa Mesolithikum manusia yang hidup pada zaman tersebut sudah ada yang menetap sehingga kebudayaan Mesolithikum yang sangat menonjol dan sekaligus menjadi ciri dari zaman ini yang disebut dengan kebudayaan Kjokkenmoddinger dan Abris sous Roche. Kjokkenmoddinger adalah istilah yang berasal dari bahasa Denmark yaitu kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah jadi Kjokkenmoddinger arti sebenarnya adalah sampah dapur. Walaupun alat-alat Ngandong ditemukan dipermukaan tanah tetapi melalui penelitian dapat ditentukan bahwa alat-alat tersebut berasal dari pleistocen atas/lapisan Ngandong. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya. Jampang Kulon. Dalam kenyataan Kjokkenmoddinger adalah timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu/menjadi fosil. Selain ditemukan di Sangiran flakes ditemukan di daerah-daerah lain seperti Pacitan. Blora (Homo Wajakinensis dan Homo Soloensis) Alat-alat yang dihasilkan antara lain: kapak genggam/perimbas (golongan chopper/pemotong). Ngandong (Jawa). Soa. Flakes mempunyai fungsi sebagai alat untuk menguliti hewan buruannya. Wangka. Kjokkenmoddinger ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera yakni antara Langsa dan . juga ditemukan alat alat lain berupa alat alat kecil terbuat dari batu yang disebut dengan flakes atau alat serpih. manusianya masih hidup secara nomaden (berpindah-pindah) dan belum tahu bercocok tanam. Kebudayaan Mesolithikum Ciri kebudayaan Mesolithikum tidak jauh berbeda dengan kebudayaan Palaeolithikum. Cabbenge (Sulawesi). Parigi. tidak diasah atau dipolis. Batturing (Sumbawa). Kebudayaan Pacitan (Pithecanthropus) 2. periode ini disebut masa food gathering (mengumpulkan makanan). Mangeruda (Flores).

Medan. Alat-alat yang ditemukan pada goa tersebut antara lain alat-alat dari batu seperti ujung panah. Penyelidikan pertama pada Abris Sous Roche dilakukan oleh Dr. tetapi dari hasil penelitian memberikan kesimpulan bahwa manusia yang hidup pada masa Mesolithikum adalah jenis Homo Sapiens. Di samping kapak-kapak yang ditemukan dalam Kjokkenmoddinger juga ditemukan pipisan (batu-batu penggiling beserta landasannya).V. bahan cat merah yang dihaluskan berasal dari tanah merah. Bentuk pebble seperti yang Anda lihat pada gambar 5 dapat dikatakan sudah agak sempurna dan buatannya agak halus. Di antara alat-alat kehidupan yang ditemukan ternyata yang paling banyak adalah alat dari tulang sehingga oleh para arkeolog disebut sebagai Sampung Bone Culture/kebudayaan tulang dari Sampung. Kecuali hasil-hasil kebudayaan. Tahun 1925 Dr. Kapak ini cara penggunaannya dengan menggenggam. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya banyak menemukan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan chopper (kapak genggam Palaeolithikum). Mengenai fungsi dari pemakaian cat merah tidak diketahui secara pasti. Dari bekas-bekas penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap. Batu pipisan selain dipergunakan untuk menggiling makanan juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah. pecahan tengkorak dan gigi. batu pipisan. flakes. tetapi diperkirakan bahwa cat merah dipergunakan untuk keperluan keagamaan atau untuk ilmu sihir. Abris Sous Roche adalah goa-goa yang yang dijadikan tempat tinggal manusia purba pada zaman Mesolithikum dan berfungsi sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan binatang buas. Selain di Sampung. di dalam Kjokkenmoddinger juga ditemukan fosil manusia yang berupa tulang belulang. serta alat-alat dari tulang dan tanduk rusa. Bahan untuk membuat kapak tersebut berasal dari batu kali yang dipecah-pecah. Abris Sous Roche . Karena goa di Sampung tidak ditemukan Pebble ataupun kapak pendek yang merupakan inti dari kebudayaan Mesolithikum. Van Stein Callenfels tahun 1928-1931 di goa Lawa dekat Sampung Ponorogo Jawa Timur. Selain pebble yang ditemukan dalam Kjokkenmoddinger juga ditemukan sejenis kapak tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan Hache Courte atau kapak pendek. P. kapak yang sudah diasah yang berasal dari zaman Mesolithikum. meskipun tulang-tulang tersebut tidak memberikan gambaran yang utuh/lengkap. Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble atau kapak Sumatera (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu di pulau Sumatera.

Kebudayaan pebble/pebble culture di Sumatera Timur.juga ditemukan di daerah Besuki dan Bojonegoro Jawa Timur. Kebudayaan Toala tersebut merupakan kebudayaan Mesolithikum yang berlangsung sekitar tahun 3000 sampai 1000 SM. suku Toala yang sampai sekarang masih ada dianggap sebagai keturunan langsung penduduk Sulawesi Selatan zaman prasejarah.Hoabinh yang terdiri dari pebble. Berdasarkan uraian materi di atas dapatlah disimpulkan: ü Kebudayaan Bacson . Untuk itu kebudayaan Abris Sous Roche di Lomoncong disebut kebudayaan Toala. di Asia Tenggara. Abris Sous Roche juga ditemukan di daerah Timor dan Rote. Tetapi di daerah tersebut tidak ditemukan flakes. sehingga oleh tokoh peneliti Fritz Sarasin dan Paul Sarasin. Timor dan Rote. ü Kebudayaan flakes masuk ke Indonesia melalui jalur timur. masuk ke Indonesia melalui Jepang. Di goa tersebut didiami oleh suku Toala. Kebudayaan flakes/flakes culture di Toala. Di Sulawesi Selatan juga banyak ditemukan Abris Sous Roche terutama di daerah Lomoncong yaitu goa Leang Patae yang di dalamnya ditemukan flakes. sedangkan di dalam Abris Sous Roche banyak ditemukan flakes bahkan di pulau Luzon (Filipina) juga ditemukan flakes. maka para arkeolog melakukan penelitian terhadap penyebaran pebble dan kapak pendek sampai ke daerah teluk Tonkin daerah asal bangsa Papua Melanosoide. . Dengan adanya keberadaan manusia jenis Papua Melanosoide di Indonesia sebagai pendukung kebudayaan Mesolithikum. Formosa dan Philipina. Penelitian terhadap goa di Besuki dan Bojonegoro ini dilakukan oleh Van Heekeren. Selain di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa zaman Mesolithikum sesungguhnya memiliki 3 corak kebudayaan yang terdiri dari: a. b. ujung mata panah yang sisi-sisinya bergerigi dan pebble. Ada kemungkinan kebudayaan flakes berasal dari daratan Asia. maka ditemukan pusat pebble dan kapak pendek berasal dari pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh. Penelitian terhadap goa tersebut dilakukan oleh Alfred Buhler yang di dalamnya ditemukan flakes dan ujung mata panah yang terbuat dari batu indah. Dari hasil penyelidikan tersebut. kapak pendek serta alat-alat dari tulang masuk ke Indonesia melalui jalur barat. c. Kebudayaan tulang/bone culture di Sampung Ponorogo.

Pergantian zaman dari Mesolithikum ke zaman Neolithikum membuktikan bahwa kebudayaannya mengalami perkembangan dari tingkat sederhana ke tingkat yang lebih kompleks. Kebudayaan Neolithikum. Alat-alat diatas banyak ditemukan di daerah Sumatera. Kalimantan. Asal-usul penyebaran kapak persegi melalui suatu migrasi bangsa Asia ke Indonesia. Kapak pendek (hache Courte) Pipisan (batu-batu penggiling) dan kapak-kapak dari batu kali yang dibelah. Hasil kebudayaan yang terkenal pada zaman Neolithikum ini adalah jenis kapak persegi dan kapak lonjong. Alat-alat yang dihasilkan nyaris sama dengan zaman palaeolithikum yakni masih merupakan alat-alat batu kasar. maka simaklah gambar 7 peta penyebaran kebudayaan tersebut ke Indonesia. Ciri zaman Mesolithikum: a. Dengan demikian masyarakat prasejarah selalu mengalami perkembangan. Jawa. Dari uraian materi yang telah disajikan.Untuk lebih memahami penyebaran kebudayaan Mesolithikum ke Indonesia.ujung mata panah. kapak persegi dan alat-alat dari tulang. f. Flakes Culture (kebudayaan alat serpih dari Abris Saus Roche) Manusia pendukung kebudayaan Mesolithikum adalah bangsa Papua--Melanosoid 3. Sulawesi. . e. Ditemukannya bukit-bukit kerang di pinggir pantai yang disebut Kjoken Mondinger (sampah dapur) d. Alat-alat kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua Lawa Sampung. Jawa Timur yang disebut Abris Sous Roche antara lain: Flakes (Alat serpih). Bone-Culture (alat kebudayaan dari Tulang) c. Alat-alat zaman mesolithikum antara lain: Kapak genggam (Pebble). pipisan. Flores. Nomaden dan masih melakukan food gathering (mengumpulkan makanan) b. Pebble-Culture (alat kebudayaan kapak genggam dari Kjoken Mondinger) b. Tiga bagian penting kebudayaan Mesolithikum: a. Nama kapak persegi diberikan oleh Van Heine Heldern atas dasar penampang lintangnya yang berbentuk persegi panjang atau trapesium. maka tentu ada perbanding penyebaran kebudayaan Mesolithikum lebih banyak dibandingkan dengan penyebaran kebudayaan Palaeolithikum. c.

sedangkan ujung lainnya diasah hingga tajam. Daerah asal kapak persegi adalah daratan Asia masuk ke Indonesia melalui jalur barat dan daerah penyebarannya di Indonesia adalah Sumatera. dan teknik pembuatannya masih sangat sederhana. tetapi di Indonesia banyak ditemukan pabrik/tempat pembuatan kapak tersebut yaitu di Lahat (Sumatera Selatan). Pada jaman Neolithikum selain berkembang kapak persegi dan kapak lonjong juga terdapat barang-barang yang lain seperti perhiasan. Kalimantan. Tanimbar dan Irian. Ukuran yang dimiliki kapak lonjong yang besar lazim disebut dengan Walzenbeil dan yang kecil disebut dengan Kleinbeil. Walaupun kapak persegi berasal dari daratan Asia. Selain perhiasan. Karawang. ada yang besar dan kecil. Seram. Tasikmalaya. Sukabumi. Bogor. Sulawesi dan Maluku. gerabah juga baru dikenal pada zaman Neolithikum. baik batu biasa maupun batu berwarna/batu permata atau juga terbuat dari kulit kerang. Nusa Tenggara. Leti. Yang ukuran besar lazim disebut dengan beliung dan fungsinya sebagai cangkul/pacul. Bali. Bentuk keseluruhan dari kapak tersebut adalah bulat telur dengan ujungnya yang lancip menjadi tempat tangkainya. Bahan untuk membuat kapak tersebut selain dari batu biasa. karena hanya menggunakan tangan tanpa bantuan . sehingga para arkeolog menyebutkan istilah lain dari kapak lonjong dengan sebutan Neolithikum Papua. Pada waktu yang hampir bersamaan dengan penyebaran kapak persegi. gerabah dan pakaian. Pacitan serta lereng selatan gunung Ijen (Jawa Timur). juga dibuat dari batu api/chalcedon. Dari Irian kapak lonjong tersebar meluas sampai di Kepulauan Melanesia. Kemungkinan besar kapak yang terbuat dari calsedon hanya dipergunakan sebagai alat upacara keagamaan. sedangkan fungsi kapak lonjong sama dengan kapak persegi. bagaimana menurut pendapat Anda bentuk keseluruhan dari kapak lonjong tersebut? Sebagian besar kapak lonjong dibuat dari batu kali. azimat atau tanda kebesaran. di Indonesia Timur juga tersebar sejenis kapak yang penampang melintangnya berbentuk lonjong sehingga disebut kapak lonjong. Daerah penyebaran kapak lonjong adalah Minahasa. Sedangkan yang ukuran kecil disebut dengan Tarah/Tatah dan fungsinya sebagai alat pahat/alat untuk mengerjakan kayu sebagaimana lazimnya pahat. Dengan adanya gambar kapak lonjong seperti pada gambar diatas. Untuk itu bentuk keseluruhan permukaan kapak lonjong sudah diasah halus. Jawa.Penampang kapak persegi tersedia dalam berbagai ukuran. Gerong. dan warnanya kehitam-hitaman. Perhiasan yang banyak ditemukan umumnya terbuat dari batu.

Jawa. 4. Melolo (Sunda) Manusia pendukung Neolithikum adalah Austronesia (Austria). Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah) ditemukan di Jawa. mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan. Maluku. pacul. Sulawesi. misalnya beliung. Nusa Tenggara. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Orang sudah mengenal teknik melebur logam. dan torah yang banyak terdapat di Sumatera. Kubur batu: peti mati yang terbuat dari batu besar yang dapat dibuka-tutup 6. Punden berundak: tempat pemujaan bertingkat 5. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam. Zaman logam ini dibagi atas: . Ciri utama pada zaman batu Muda (neolithikum) adalah alat-alat batu buatan manusia sudah diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. 2. antara lain: 1. Jawa. Hasil kebudayaan Megalithikum. Kalimantan. yang terbuat dari kulit kayu. Kapak batu (kapak persegi berleher) dari Minahasa. Sedangkan pakaian yang dikenal oleh masyarakat pada zaman Neolithikum dapat diketahui melalui suatu kesimpulan penemuan alat pemukul kayu di daerah Kalimantan dan Sulawesi Selatan. 2. Kapak persegi. Pakaian dari kulit kayu 5. Hal ini berarti pakaian yang dikenal pada zaman Neolithikum berasal dari kulit kayu. Menhir: tugu batu yang dibangun untuk pemujaan terhadap arwah-arwah nenek moyang. Austro-Asia (KhamerIndocina) Zaman Batu Besar Zaman ini disebut juga sebagai zaman megalithikum. Alat-alat yang dihasilkan antara lain: 1.roda pemutar seperti sekarang. Sarchopagus/keranda atau peti mati (berbentuk lesung bertutup) 4. Tembikar (periuk belaga) ditemukan di Sumatera. Arca/patung batu: simbol untuk mengungkapkan kepercayaan mereka Zaman Logam Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Dan kesimpulan tersebut diperkuat dengan adanya pakaian suku dayak dan suku Toraja. Dolmen: meja batu tempat meletakkan sesaji untuk upacara pemujaan roh nenek moyang 3. yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue. Bali. 3.

Antara zaman neolitikum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalitikum. Jawa-Bali. Sumbawa. Mata Kapak bertungkai kayu b. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi. Mata Pedang e. Jawa-Bali. yaitu kebudayaan yang menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya. Arca Perunggu ditemukan di Bang-kinang (Riau). Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu. Lumajang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat) Zaman Besi Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Alat-alat besi yang dihasilkan antara lain: a. bahkan puncak kebudayaan megalitikum justru pada zaman logam. yaitu ±3500 °C. Mata Pisau c. ditemukan pada zaman sejarah. d. Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang yang digunakan sebagai maskawin.Zaman Perunggu Pada zaman perunggu atau yang disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tonkin Cina (pusat kebudayaan)ini manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras. Irian b. sebab kebanyakan alat-alat besi. Mata Sabit d. Besuki dan Punung (Jawa Timur) Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Bogor (Jawa Barat). Leti c. . Alat-alat perunggu pada zaman ini antara lain : a. Kapak Corong (Kapak perunggu. termasuk golongan alat perkakas) ditemukan di Sumatera Selatan. Cangkul Alat-alat tersebut ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta). Kepulauan Selayar. Ditemukan di Sumatera. Roti. Sulawesi. Benjana Perunggu ditemukan di Madura dan Sumatera. Selayar.