P. 1
KB

KB

|Views: 680|Likes:
Published by Tina Milatina

More info:

Published by: Tina Milatina on May 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Untuk optimalisasi manfaat kesehatan KB, pelayanan tersebut harus disediakan bagi wanita dengan cara menggabungkan dan memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi utama dan yang lain. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit. Tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia, tetapi juga karena metodemetode tersebut mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi. Dalam memilih suatu metode, wanita harus menimbang berbagai faktor termasuk status kesehatan mereka, efek samping potensial suatu metode, konsekuensi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, besarnya keluarga yang diinginkan, kerjasama pasangan, dan norma budaya mengenai kemampuan mempunyai anak (Maryani ,2007)

Lama penggunaan setiap metode kontrasepsi mempuyai kelebihan dan kekurangan. Namun demikian, meskipun telah mempertimbangkan untung rugi semua kontrasepsi yang tersedia, tetap saja terdapat kesulitan untuk mengontrol fertilitas secara aman, efektif, dengan metode yang dapat diterima, baik secara perseorangan maupun budaya pada berbagai tingkat reproduksi. Tidak mengejutkan apabila banyak wanita merasa bahwa penggunaan kontrasepsi terkadang problematis dan mungkin terpaksa memilih metode yang tidak cocok dengan konsekuensi yang merugikan atau tidak menggunakan metode KB sama sekali (Maryani,2007).

Banyak alat kontrasepsi yang digunakan untuk mengendalikan kehamilan, mulai dari cara alami tanpa menggunakan alat, seperti dengan sistem kalender atau pantang berkala, hingga menggunakan alat seperti kondom, spiral, suntik atau pil. Masing-masing ada keluhan efek sampingnya (Jambi Independent, 2008).

Hasil survey BKKBN ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Jawa Tengah tahun 2005, alat kontrasepsi yang banyak dipakai oleh WUS ( Wanita Usia Subur) di Jawa Tengah adalah kontrasepsi hormonal suntik yaitu 2.497.665 WUS,

Menopause merupakan masa yang dialami seorang wanita ketika akan memasuki masa tua. Masa ini mengingatkan dirinya yang akan menjadi tua karena organ reproduksinya sudah tidak berfungsi lagi ( Kasdu. diberikan setiap 2(dua) bulan dengan cara disuntik intramuscular. sering dianggap sebagai momok dalam kehidupan seorang wanita. (Mangoenprasojo.2004) Usia harapan hidup perempuan pada umumnya terus meningkat. harganya relatif murah. penurunan libido. salah satu masalah kesehatan yang sering dialami. Menopause yang dikenal dengan masa berakhirnya menstruasi atau haid. Dengan meningkatnya usia harapan hidup maka jumlah wanita yang akan melalui masa . terlambatnya kembali kesuburan. jenis alat kontrasepsi yang paling banyak dipakai adalah kontrasepsi hormonal suntik yaitu sebesar 122. yang mengandung 200mg Noretindron Enantat. Akseptor keluarga berencana yang menggunnakan kontrasepsi hormonal suntik dalam kurun waktu tertentu sering mengeluhkan masalah kesehatan.masa ini umumnya terjadi pada usia 50 tahun.376 WUS. Kontrasepsi hormonal jenis suntikan ini banyak dipakai karena pemakaiannya praktis. akhir haid juga bervariasi antara perempuan yang satu dngan yang lainnya. kerjanya yang efektif. Menopause muncul secara alami sebagai siklus kehidupan yang harus di jalani seorang wanita. 2002) Disebut menopause jika orang tidak lagi menstruasi selama 1 tahun. dan aman. Keuntungan dari pemakaian kontrasepsi hormonal jenis suntikan ini adalah sangat efektif. permasalahan berat badan. Tersedia 2 (dua) jenis suntikan yang disediakan dalam kontrasesi hormonal yaitu depomedroksiprogesteron Asetat ( Depoprovera). Efek samping dari penggunaan kontrasepsi suntik antara lain gangguan haid. hipertensi. sakit kepala. 2005).220 WUS. yang mengandung 150 mg DMPA yang diberikan setiap 3 (tiga) bulan dengan cara disuntik intramuscular dan DepoNoretisteron Enantat (Depo Noristerat). pencegahan kehamilan jangka panjang. Sebagaimana awal haid. 2006).556 WUS. dan kondom 49.279 WUS sedangkan yang memakai pil sebanyak 16.sedangkan pil 873. dan angka kegagalan dari penggunaan kontrasepsi suntik kurang dari 1% ( BKKBN Jawa Tengah. tidak berpengaruh pada hubungan suami istri. aman. baik di Negaranegara maju maupun di Negara-negara berkembang. stroke (Saifuddin. (Baziad. Demikian pula yang terjadi di Kabupaten Blora. 2005). Umumnya terjadi pada usia 50 tahun.

Menurut WHO pada tahun 2020 diperkirakan penduduk lanjut usia (lansia) diseluruh dunia akan melebihi 1 milyar jiwa. sedang menopouse terjadi pada usia 50 tahun.0 juta atau 11. ( Mangoenprasodjo. namun dampak jangka panjang dari kekurangan estrogen adalah timbulnya osteoporosis dengan akibat meningkatnya kejadian patah tulang. meningkatnya kejadian penyakit jantung koroner. Jika orang hidup sampai usia 70 tahun.). 2008). stroke. 2006).5% dari total penduduk.wordpresscom. termasuk gangguan fisik yang menyertai.(Milyandra. sedangkan di Negara-negara Asia Tenggara adalah 51. 2010.menopause akan meningkat. (Baziad. Umur menopause perempuan di Negara-negara maju seperti di Amerika Serikat dan Inggris adalah 51. artinya sepertiga hidup wanita dijalani pada masa pasca menopouse. Seiring peningkatan usia harapan hidup. wanita Indonesia yang memasuki masa menopause saat ini semakin meningkat setiap tahunnya.09 tahun. Makalah Usia Harapan Hidup. ( Baziad. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 30. 2004). Banyak mitos-mitos yang dipercaya tentang kejadian-kejadian pada masa tersebut. Menopouse dianggap hal alami. dimana wanita lebih banyak dari laki-laki. Banyak wanita yang mengalami usia menopouse tidak mengalami keluhan apapun. . Berdasarkan data. http://mily. (Rambulangi. Meskipun tidak mengalami keluhan. Dua dekade lalu menopouse belum banyak dibicarakan. seperti perubahan-perubahan perilaku. orang mulai menaruh perhatian pada menopouse. demensia. diperoleh tanggal 6 April 2010. dan kanker usus besar. ( Kusumawardhani. mudah marah atau suasana hati depresi tanpa sebab yang jelas. 2005). Usia menopause untuk perempuan Indonesia adalah 50 tahun. 2005).4 tahun.

2. dan diharapkan agar dapat meningkatkan pendidikan kesehatan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu yang belum menopouse tentang : . Tujuan Penelitian 1. Tujuan Khusus a.ibu pasca menopause. 2. Manfaat Penelitian 1.B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka dapat dirumuskan permasalahannya yaitu adakah hubungan yang bermakna antara penggunaan kontrsepsi hormonal (suntik) dengan usia menopause pada ibu. mengetahui adakah hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik) dengan usia menopause pada ibu-ibu pasca menopouse b. yaitu sebagai bahan masukan mengenai factor-faktor yang dapat mempengaruhi usia menopause. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik) dengan usia menopause pada ibu. C . Bagi Ilmu Pengetahuan Penelitian ini di harapkan dapat menambah ilmu pengetahuan khususnya tentang hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik) dengan usia menopause sehingga dapat digunakan untuk pengembangan di bidang ilmu keperawatan maternitas. mengetahui jumlah akseptor kb suntik yang mengalami usia menopouse pada ibu-ibu pasca menopouse D.ibu pasca menopause. Bagi Masyarakat Kegunaan penelitian ini bagi masyarakat umum adalah untuk mengetahui tentang hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik) dengan usia menopause pada ibu-ibu pasca menopause.

Bagi Institusi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah Yogyakarta. Ruang Lingkup Tempat F.a. 3. b. Bagi Profesi Keperawatan Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan materi tentang salah satu faktor yang dapat mempengaruhi usia menopouse dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. jumlah anak. Ruang Lingkup Penelitian 1. Pencegahan komplikasi/ dampak dari menopouse yang mungkin timbul dengan meningkatkan asupan nutrisi yang baik sebelum menopouse terjadi sehingga komplikasi-komplikasi tersebut dapat dicegah. 2. Menambah kepustakaan sebagai salah satu sarana memperkaya ilmu pengetahuan pembaca khususnya mahasiswa tentang menopouse. 4. Keaslian Penelitian . Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi usia menopouse khususnya pengaruh penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik). Ruang Lingkup Responden Responden yang digunakan adalah ibu-ibu pasca menopouse usia rata-rata 45-65 tahun. Beberapa faktor yang dapat diupayakan meliputi faktor psikis. Ruang Lingkup Waktu Penelitian ini di lakukan mulai dari penyusunan proposal skripsi pada bulan April 2012 sampai dengan penyusunan skripsi pada bulan Agustus 2013 4. Ruang Lingkup Materi Penelitian ini mengambil materi keperawatan maternitas karena meneliti tentang usia terjadinya menopause terkait dengan penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik). nutrisi. 3. E. Penelitian ini meneliti hubungan dua variabel yaitu hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik) dengan usia menopause.

Persamaannya adalah meneliti tentang faktor yang mempengaruhi usia menopouse yaitu penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik). Sampel yang digunakan adalah ibu-ibu pasca menopouse usia rata-rata 45-65 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. . Analisis data hanya analisis bivariat.Penelitian sejenis yang hampir sama dengan penelitian tentang hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik) dengan usia menopouse pernah dilakukan oleh : 1. usia rata-rata 51-65 tahun. Jenis penelitian yang dilakukan adalah survey analitik dengan pendekatan waktu retrospektif. Jumlah sampel sebesar 120 orang ibu-ibu yang sudah menopouse dan memenuhi kriteria inklusi sudah menopouse. meneliti tentang Beberapa Faktor Ibu Yang Berhubungan Dengan Usia Menopouse Pada Ibu-Ibu di Wilayah Desa Bumirejo Lendah Kulon Progo Yogyakarta Bulan Agustus 2010. Nurul Munawaroh (2010). Perbedaan dengan penelitian ini adalah penelitian ini hanya meneliti tentang satu faktor yang dapat mempengaruhi usia menopouse yaitu Hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik) dengan Usia Menopouse pada Ibu-Ibu Pasca Menopouse. Tehnik pengambilan sampel secara Area probability sampling.

Mekanisme kerja suntikan KB     Mencegah ovulasi degnan cara menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi pelepasan ovum. a. efektif. Suntikan KB merupakan metode KB yang menjadi bagian gerakan keluarga berencana nasional serta peminatnya makin bertambah. Bentuk Suntik KB 1. sehingga konsep dihambat Mengubah suasana endometrium. tidak menimbulkan ganggua dan dapat dipakai pada pasca persalinan. c.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. sederhana. 444) b. 1. Estrogen menekan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan mencegah perkembangan folikel dominant. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan. Progestin menekan peningkatan Luteinizing Hormone (LH) sehingga mencegah ovulasi. Progestin juga menyebabkan penebalan mukus leher rahim sehingga mempersulit perjalanan sperma dan atrofi endometrium sehingga menghambat implantasi. Depoprovera . Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma Perubahan peristatik tuba falopii. Estrogen juga menstabilkan bagian dasar endometrium dan memperkuat kerja progestin. (IBG Manuaba. sehinggat idak sempurna untuk implantasi hasil konsepsi. Tingginya minat pemakain suntikan KB karena aman. Tinjauan Teoritis Kontrasepsi hormonal Pengertian Kontrasepsi mengandung kombinasi estrogen dan progesteron sintetik atau hanya progestin.

Disuntikkan setiap bulan. Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikut 3. Norigest Turunan dari testoteron. 2. Pencegahan kehamilan yang jangka panjang 4. Kerugiannya sering terjadi kegagalan menstruasi yang diharapkan setelah pemakaian beberapa bulan efeknya hampir sama dengan depoprovera.Mengandung progesteron sebanyak 150 mgr dalam betnuk partikel kecil. Sering ditemukan gangguan haid seperti : Siklus haid yang memendek atau memanjang Perdarahan yang banyak atau sedikit. Klien tidak perlu menyimpang obat suntik 7. perdarahan yang tidak teratur. 2. Kerugian sering terjadi kelambatan datang bulan sekalipun telah menghetnikan suntikan. badan terasa panas dan liang senggama kering. Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai perimenopouse. 8. d. Keterbatasan Suntikan KB 1. 3. Cyclofem Mengandung progesteron sebanyak 50 mg dan estrogen. Diharapkan dapt menstruasi setiap bulan karena komponen estrogennya. Pengawasan medis yang ringan 5. Sedikit efek samping 6. Suntik setipa 12 minggu keuntungan datang setiap 3 bulan. Membantu mencegah kanker endoemtrium dan kehamilan ektopik 9. Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara 10. Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering . Pemberiannay sederhana setiap 8 sampai 12 minggu 3. Tingkat efektivitasnya tinggi 2. Mencegah beebrapa penyebab penyakit radang panggul e. Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting) Tidak haid sama sekali.d apat terjadi perdarahan berkepanjangan di laru mensetruasi. Keuntungan suntikan KB 1. Disuntikan setiap 8 minggu kerugiannya hampir sama dengan depoprovera.

Setelah melahirkan dan tidak menyusui 6. terutama amenorhea 4. Yang dapat menggunakan suntikan KB 1. 4. Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektivitas tinggi. Setelah abartus atau keguguran 7. 7. Mendekati usia menopause yang tidak mau atautidak boleh menggunakan pil kontrasepsi kombinasi. Terlambatnya kembali keseburan setelah penghentian pemakaian 6. g. Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara 5. gangguan emosi (jaran). Nuli para dan yang telah memiliki anak 3.4. Selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual. menurunkan libido. virus Hepatitis B atau Infeksi virus HIV. Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina. Perokok 9.000 kelahiran) 2. Yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntikan KB 1. Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid. 5. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesui 5. Nilai hari pertama sampai hari ke 7 siklus haid Pada ibu yang tidak haid. Waktu menggunakan kontrasepsi suntikan KB • • • Setiap saat selama siklus haid. Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan tulang (denstias). . Perdarahan pervaginan yang belum jelas penyebabnya 3. 8. Telah banyak anak tetapi tidak menghendaki rubektomi 8. asalkan saja ibu tersebut tidak hamil. Tidak menjamin perlindangan terhadap penularan ifneksi menular seksual. Anemia defisiensi besi 11. Sering lupa menggunakan kontrasepsi pil 10. jerawat. Hamil atau dicurigai hamil (resiko cacat pada janin 7 per 100. injeksi pertama dapat diebrikan setiap saat. sakit kepala. Diabetes militus disertai komplikasi. Usia reproduksi 2. Masih terjadi kemungkinan hamil f. asal ibu tersebut tidak hamil. h. nervositas.

• Ibu tidak haid a tau ibu dengan perdarahan tidak teratur. a. (Fox-Spencer. Bila ibu telah menggunakan kontrasepsi hormonal sebelumnya secara beanr dan ibu tersebut tidak hamil. asal saja ibu tersebut tidak hamil dan selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual. suntukan pertama dapat segera diberikan tidak perlu menunggu sampai haid berikut datang. kontrasepsi suntikan yang akan diberikan dimulai pada saat jadwal kontrasepsi suntik yang sebelumnya. gejala fisik  Hot flushes ( rasa panas pada wajah. Bila ibu disuntik selama hari ke 7 haid. 2. • Ibu ingin mengganti AKDR dengan kontrasepsi hormonal. suntikan pertama dapt diberikan setiap saat. • Bila ibu sedang menggunakan kontrasepsi jenis lain dan ingin mengantinya dengan jenis kontrasepsi suntik yang lain lagi. dan pemberiannay tidak perlu menunggu haik berikutnya datang. Suntikan pertama dapat diberikan pada hari pertama sampai hari ke 7 siklus haid atau dapat diberikan setiapsaat setelah hasil ke 7 siklus haid. Gejala psikologis . leher dan dada)berlangsung selama beberapa menit.  berkeringat di malam hari. dapat juga merasa pusing.lemah atau sakit. asajl saja yakin ibu tersebut tidak hamil. asal saja ibu tersebut tidak hamil.Spencer 2007:20) 1. suntikan pertama kontrasepsi hormonal yang akan diberikan dapat segera diberikan.• Ibu yang menggunakan kontrasepsi normonal lain dan ingin mengganti dengan kontrasepsi suntikan. Ini menandai berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi dan merupakan kejadian normal dalam kehidupan wanita. • Ibu yang menggunakan kontrasepsi non hormonal dan ining menggantinya dengan kontrasepsi hormonal. susah tidur. berdebar-debar. sakit kepala. ( Kasdu. Patofisiologi Kadar estrogen dan progesteron turun dengan dramatis karena ovarium berhenti merespon FSH dan LH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis yang ada di otak. 2. Menopouse Pengertian Men dan pauseis adalah kata Yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan berhentinya haid. Gejala Menopouse (Fox. ibu tersbeut selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.2007:18) b. 2002: 9 ).

Pada wanita yang menggunakan kontrasepsi ini akan akan lebih lama tau tua memasuki menopouse. Perubahan yang terjadi (Kasdu. • Jumlah anak Meskipun belum ditemukan hubungan antara jumlah anak dan menopouse. Mudah tersinggung. akan mengurangi beban fisiologis dan psikologis. cemas. khususnya kontrasepsi jenis hormonal. kesehatan. 2000:26-29) . dibandingkan mereka yang menikah dan tidak bekerja/bekerja atau tidak menikah dan tidak bekerja. • Sosial ekonomi Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi faktor fisik. (Pakasi. Faktor yang mempengaruhi (Kasdu. semakin cepat atau dini ia memasuki usia menopouse. mereka akan mengalami menopouse lebih muda. depresi. susah berkosentrasi 3. • Merokok Beberapa ahli yang melakukan penelitian menemukan adanya hubungan antara merokok dengan usia seorang wanita memasuki menopouse. 2002:17-19) • Faktor psikis Keadaan seorang wanita yang tidak menikah dan bekerja di duga mempengaruhi perkembangan psikis seorang wanita. tetapi beberapa peneliti menemukan bahwa makin sering seorang wanita melahirkan maka semakin tua atau lama mereka memasuki masa menopouse. Kesadaran akan faktor klimakterium sebagai faktor fisiologis lebih cepat dikenal. • Pemakaian kontrasepsi Pemakaian kontrasepsi ini. Kesimpulan dari penelitian-penelitian ini mengungkapkan. Menurut beberapa penelitian. 2000:15) d. Hal ini bisa terjadi karena cara kerja kontrasepsi yang menekan fungsi indung telur sehingga tidak memproduksi sel telur. Apabila faktor-faktor diatas cukup baik. bahwa semakin aktif orang merokok di masa muda. Gejala seksual  Kekeringan vagina dan menurunnya libido c. mood yang tidak menentu. dan pendidikan.

panjangnya menyusut dan dindingnya menipis.• Perubahan organ reproduksi a) Rahim Rahim mengalami atrofi. (Pakasi. kurang erektil. Kelenjar payudara Puting susu mengecil. bahkan lama-lama akan merata dengan dinding vagina. c) Vagina Mengalami kontraktur (melemahnya otot jaringan). Atrofi vagina berangsur-angsur menghilang. • Perubahan fisik (Kasdu. b) Saluran telur Lipatan-lipatan saluran menjadi lebih pendek. • Perubahan hormon Perubahan tubuh akibat berkurangnya hormon estrogen.2000) Dasar pinggul Kekuatan dan elastisitasnya berkurang menghilang karena penciutan (atrofi) dan melemahnya daya sokong akibat turunnya alat-alat kelamin bagian dalam. Leher rahim (serviks) menyusut tidak menonjol kedalam vagina. menipis dan mengerut. Jaringan miometrium (otot rahim) menjadi sedikit lebih banyak mengandung jaringan fibrotic (sifat berserabut secara berlebihan). Forniks ( dinding vagina bagian belakang dekat mulut rahim) menjadi dangkal.2000:31-35) . panjang dan lebar vagina juga mengalami pengecilan. pigmentasi berkurang sehingga payudara mendatar dan mengendor. Anus dan perinium Lemak dibawah kulit menghilang. atrofi otot sekitarnya yang menyebabkan tonus sfingter melemah dan menghilang. Selaput lendir alat kelamin akan menipis dan tidak lagi mempertahankan elastisitasnya akibat fibrosis (pembentukan jaringan ikat dalam alat atau bagian tubuh dalam jumlah yang melampaui keadaan biasa). Rambut getar yang ada di ujung saluran telur atau fimbrae menghilang.

2004:1016-1018)  Atrofi genitalia dan perubahan seksualitas Penurunan kadar estrogen menyebabkan epitel vagina menipis dan pH vagina meningkat sehingga timbul kekeringan. rasa terbakar. munculya menopouse bisa menjadi peran dalam kemunduran memori. hal ini mungkin menjadi masalah kesehatan jangka panjang setelah munculnya menpouse. • Masalah urogenital Kemungkinan akan mengalami masalah seksual. keringat berlebih. serangan jantung dan stroke. iritasi dan dispreunia. gangguan mata. Terjadi peningkatan adar kolesterol setelah menopouse dan penumpukan kolesterol LDL (kolesterol jahat) yang dapat mempersempit dan menyumbat pembuluh arteri sehingga meningkatkan resiko terkena penyakit kardiovaskuler.Meliputi hot flushes (perasaan panas). tetapi tidak seperti gejala menopouse lainnya. Bila ovarium sudah tidak berfungsi lagi pada usia <40 disebut klimakterium prekok ( Baziad.2007:22-24) • Osteoporosis ‘Pengeroposan tulang’ membuat sangat mudah tersa nyeri dan sangat berpotensi mengalami patah tulang. Senium adalah pasca menopouse lanjut setelah usia 65 tahun. Komplikasi ( Fox-Spencer. dan infeksi dalam saluran kemih selama masa perimenopouse. . a. 3. ketidak mampuan mengendalikan buang air kecil (inkontinensia). angina. e. tidak dapat menahan air seni. Pada beberapa wanita.  Penyakit kardiovaskuler Permasalahan yang meliputi jantung dan sistem pembuluh darah yang memasok darah keseluruh tubuh seperti. nyeri tulang dan sendi. vagina kering. Gejala fase pasca menopouse ( Bobak. • Demensia Meskipun secara normal tidak mempengaruhi wanita sampai mereka berada pada masa pasca menopouse. 2003:1) b. Pasca menopouse Pengertian Disebut pasca menopouse bila telah mengalami menopouse 12 bulan sampai menuju senium. perubahan emosi.

yang dihubungkan dengan peningkatan kerentanan fraktur. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua wanita mengalami gejala atrofi vagina. Hormon estrogen diperukan untuk mengubah vitamin D menjadi kalsitonin yang esensial dalam penyerapan kalsium. dan bagian distral uretra.terjadi penyusutan uterus. . vulva.  Osteoporosis Penurunan masa tulang seiring peningkatan umur.  Penyakit jantung koroner Wanita pasca menopouse beresiko menderita penyakit arteri koroner karena wanita mengalami penurunan kadar kolesterol HDL dalam serum sekaligus peningkatan kadar LDL.

Faktor psikis 2. Hipotesis ada hubungan yang signifikan antara penggunaan kontrasepsi hormonal (suntik) dengan usia menopouse pada ibu-ibu pasca menopouse.B. Sosial ekonomi Menopouse dini normal Pemakaian kontrasepsi hormonal (suntik) Pernah memenggunak an Tidak pernah menggunakan Keterangan : = Diteliti = Tidak diteliti C. . Kerangka Konsep Faktor penyebab 1. Jumlah anak 3. Merokok 4.

. artinya pengumpulan data dimulai dari efek atau akibat yang telah terjadi. Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah survey analitik. 2007).BAB III METODE PENELITIAN a. 2005) b. Variabel pengganggu : faktor psikis. yaitu penelitian yang berusaha melihat ke belakang. Variabel bebas (independent variable) yaitu pemakaian kontrasepsi hormonal (suntik) 2. maupun antar faktor efek (Notoatmodjo. Penelitian survey analitik adalah penelitian yang mencoba menggali bagaimana fenomena kesehatan itu terjadi. Kemudian dari efek tersebut ditelusuri penyebab atau variabel-variabel yang mempengaruhi akibat tersebut. Variabel pada penelitian ini terdiri dari : 1. baik antara faktor risiko dengan faktor efek. sosial ekonomi c. Menggunakan metode wawancara dan skala data yang digunakan adalah skala interval. merokok. Variabel penelitian Variabel penelitian adalah objek penelitian yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Sugiyono. 2005) Metode pengumpulan data yang digunakan berdasarkan pendekatan waktu retrospektif. jumlah anak. Usia menopouse adalah usia seorang wanita mengalami perdarahan haid yang terakhir. Variabel terikat (dependent variable) yaitu usia menopouse 3. Menggunakan metode wawancara dan skala data yang digunakan adalah skala interval. (Notoatmodjo. antar faktor risiko. Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena. Definisi operasional penelitian Hubungan antara pemakaian kontrasepsi hormonal (suntik) dengan usia menopouse pada ibu-ibu pasca menopouse Kontrasepsi hormonal suntik adalah suatu cara pengendalian fertilitas untuk mencegah timbulnya kehamilan.

Urutan yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan waktu pengambilan data. Populasi semua akseptor Kontrasepsi hormonal (suntik). f. Menurut Sugiyono (2007) populasi adalah wilayah generalisasi yang atas : obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya. Kelompok kasus Tehnik atau desain sampling dengan area probability sampling b. Populasi Populasi menurut Notoadmodjo (2005) adalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang diteliti. Alat dan metode pengumpulan data Dengan lembar format wawancara. Populasi dan sampel 1. Tehnik sampling a. Kriteria populasi :  Kriteria inklusi  Akseptor kb suntik Berusia antara 51-65 tahun Kriteria eksklusi 2. (Narimawati dan Munandar. Metode pengolahan dan analisis data . Kelompok kontrol Tehnik atau desain sampling dalam penarikan sampel untuk kasus kelompok kontrol dengan menggunakan secara random sistematis (systematic random sampling). e.d. yaitu cara penarikan sampel dengan menggunakan pengacakan dengan urutan yang telah ditentukan (sistematis). 2008) 3. 2007). Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili populasi (Sugiyono.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->