P. 1
Seuntai Hasil Lawatan_hutan Di Kaki Fujiyama

Seuntai Hasil Lawatan_hutan Di Kaki Fujiyama

|Views: 183|Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on May 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2013

pdf

text

original

SEUNTAI HASIL LAWATAN

:

TAHUN 1992

HUTAN DI KAKI FUJIYAMA

OLEH : BANJAR Y LABAN
Kumano Nachi Grand Shrine (Nachi – Katsuura Town, 1992)

ULASAN ATAS BUKU

HUTAN DI KAKI FUJIYAMA
Oleh: Ir. H.Moh. Duryat, M.Sc. Buku dengan judul tersebut di atas, ditulis oleh Ir. Banjar Yulianto Laban, yang lahir di Banjarmasin, tanggal 20 Juli 1953. Saudara Banjar Yulianto Laban adalah rimbawan yang dilahirkan setelah era kemerdekaan Republik Indonesia, mempunyai minat yang tinggi terhadap filsafat, antropologi budaya dan sejarah nasional. Rimbawan Banjar Yulianto Laban, adalah sosok rimbawan professional yang mempunyai perhatian khusus dalam bidang pembinaan pendidikan konservasi untuk generasi muda. Hal ini terbukti dari aktivitas yang bersangkutan dalam Gerakan Pramuka Saka Wanabakti dan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam bidang konservasi. Pembuat ulasan ini adalah rimbawan generasi sebelumnya, lahir pada tahun 1932, yang sempat mengalami hidup dalam zaman Pemerintahan Hindia Belanda dan Penjajahan Jepang, yang sekaligus juga hidup dalam zaman “membahana dan romantika”nya perang kemerdekaan. Saya menyadari tidak mudah membaca, mempelajari dan membuat ulasan terhadap buku yang tebalnya lebih 300 halaman, yang digali secara intensif dari observasi di Jepang selama dua bulan. Hasil observasinya kemudian ditelaah lebih lanjut oleh penulis buku dengan mengacu pada 35 bahan pustaka dalam dan luar negeri. Buku HUTAN DI KAKI FUJIYAMA disajikan dalam bentuk ilmiah popular dan bergaya reportasi seorang wartawan sehingga enak dibaca, apalagi didukung dengan 140 gambar. Dari sudut pemaparan menurut kesan saya, memenuhi sepenuhnya kaidah penulisan ilmiah popular, yaitu kaidah “ABC” (Atraktif atau menarik, Belonging atau pembaca ditarik minat dan perasaannya larut ke dalam suasana dan masalah yang diungkap, dan Communicative atau gaya bertutur yang alur pikirnya mudah diikuti). Pengulas buku, banyak mendapat wawasan, informasi dan gagasan dari Banjaru-san (panggilan akrab penulis buku oleh sahabatnya warganegara Jepang, pimpinan LSM yang bergerak dalam konservasi lingkungan). Ulasan ini bertitiktolak dari apa yang ditulis oleh Saudara Banjar Yulianto Laban, yaitu pernyataan sebagai berikut:

Sebagai rimbawan, dalam buku ini saya mencoba menyoroti komitmen pemerintah dan kehidupan masyarakat Jepang dari sudut pandang kepentingan hutan, baik sebagai komponen stabilitas lingkungan fisik dan tata ruang wilayah, maupun sebagai komponen ekonomi dan profil kebudayaan yang secara langsung, tidak dapat dipisahkan dari kontinuitas kebutuhan hidup manusia, dari generasi ke generasi. Pernyataan tersebut di atas sarat dengan filsafat konservasi yang dipadukan dengan dinamika antropologi budaya yang secara runut dan rinci dipaparkan dalam buku. Saya yang mengalami masa kanak-kanak dalam Penjajahan Jepang, dan pernah mengikuti training selama 4 bulan di Jepang (yang di dalamnya termasuk acara studi tour ke Kaki Gunung Fuji) serta kemudian kontak-kontak intensif dengan ekspert lingkungan hidup dari Jepang dalam forum Asia Pasific Conference, terus terang belum dapat “menangkap” sepenuhnya apa yang tersirat dalam buku. Tetapi kesan umum saya, adalah bahwa buku HUTAN DI KAKI FUJIYAMA “enak dibaca dan bermanfaat”. Ulasan dibatasi pada empat bab pokok yaitu : 1. Rimba hukum di Hutan Jepang; 2. Hutan, andalan Ekonomi dan Ekologi; 3. Hutan dalam Dilema Kebudayaan; 4. Bunga Rampai Kinerja Rimbawan Jepang.

Dalam buku disamping keempat bab pokok tersebut di atas, terdapat bab khusus sebagai penutup yaitu yang oleh penulis, disebutnya sebagai Epilog. Apabila disimak dengan teliti dalam bab Epilog, penulis buku mengemukakan pandangan dan kesimpulannya dari sudut pandang filsafat, sejarah dan antropologi budaya. Hal ini tidak mengherankan karena penulis buku, menggunakan acuan dalam analisisnya pustaka sebagai berikut 1. Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, 1986. Ungkapan-ungkapan Filsafat Barat dan Timur. 2. Drs. Hargosaputro, 1988. Dr. Soedjarwo, sebuah profil dalam dua dimensi. 3. Ir. H. Dwiatmo Siswomartono, M.Sc., 1989. Ensiklopedi Konservasi Sumber daya. 4. Annonimous, 1992. Artikel khusus dalam majalah/bulletin di Jepang dengan judul: a. Environment takes back seat in Japan; b. How will kids spend school-less saturday ?

Karena itu, kepada rekan-rekan rimbawan yang bertugas di lingkungan konservasi sumber daya alam dan membina LSM-LSM yang bergerak dalam bidang kelestarian hutan seyogyanya membaca buku HUTAN DI KAKI FUJIYAMA. Ulasan akan dibagi dalam empat bab, berturut-turut sebagai berikut: a. Overview atau tinjauan umum; b. Wawasan Kehutanan dalam dilema kebudayaan; c. Kinerja rimbawan Jepang; d. Pandangan tentang kesan dan kesimpulan penulis buku

BAB I OVERVIEW ATAU TINJAUAN UMUM Menurut laporan lawatan ke Jepang yang ditulis oleh rimbawan Banjar Yulianto Laban, urusan Kehutanan di Jepang dilaksanakan oleh Jawatan Kehutanan (Forestry Agency) di lingkungan Kementrian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan. Jawatan Kehutanan Jepang mengurus secara langsung hutan-hutan nasional dan hutan-hutan swasta atau hutan milik. Di prefecture (setingkat propinsi di Indonesia), terdapat juga hutan-hutan prefecture yang dikelola langsung oleh Pemerintah Perfecture c.q. Pengelola Hutan Perfecture atas arahan kebijaksanaan Jawatan Kehutanan. Hubungan antara jawatan Kehutanan (Pusat) dengan Pengelola Hutan Prefecture adalah hubungan pembinaan dan konsultasi. Untuk mendukung pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan, Pemerintah Jepang telah mengembangkan ilmu dan teknologi Kehutanan melalui wadah dan wahana Taman Pengembangan Iptek Kehutanan, lembaga Pemuliaan pohon hutan (5 lokasi), Pusat Experimentasi Hutan (9 lokasi) dan Stasiun Penelitian Hutan (5 lokasi). Meskipun perkembangan IPTEK Kehutanan di Jepang telah sangat maju, tetapi hal ini tidak banyak diketahui oleh ahli-ahli Kehutanan di Indonesia. Mungkin disebabkan terbatasnya sarjana-sarjana Kehutanan Indonesia yang mengambil pendidikan pasca sarjana di Jepang. Mungkin disebabkan faktor bahasa pengantar pendidikan di Jepang yang masih “kental” menggunakan bahasa Jepang, ditambah dengan literatur Jepang yang sebagian besar masih menggunakan bahasa Jepang dengan huruf kanjinya.

BAB II WAWASAN HUTAN DAN KEHUTANAN DALAM DILEMA KEBUDAYAAN Sungguh penghargaan yang tulus dari saya kepada penulis buku karena dengan “berani dan penuh kepercayaan diri’, membahas hutan dan Kehutanan dari aspek dilemma kebudayaan yang rumit. Begitu rumit masalah dilemma kebudayaan ini, sehingga pakar kebudayaan menyatakan dilemma kebudayaan dengan “misteri tabir hijau di hutan alam” atau mirip “padang lamun di dasar lautan”. Tentang masalah dilemma kebudayaan, saya banyak belajar dan mendapat informasi dari penulis buku, namun penulis ulasan ini ingin juga untuk ikut “urun-urun rembug”, semoga dalam ikut omong ini saya tidak tergelincir ke arah “waton omong”, bukan yang seharusnya, yaitu “omong maton”. Penulis menyadari memang tidak mudah membuat ulasan yang “pener” dan “bener” (obyektif dan relevant). Untuk ini pada tempatnya terlebih dahulu saya minta maaf kepada penulis buku. Keadaan hutan (khususnya aspek kelestariannya) di Jepang berkaitan erat dengan falsafah, sejarah dan budaya bangsa Jepang. Penulis buku menganalogikan kesejahrahannya dengan apa yang terjadi di telatah Mangkunegaran, yang wujud peninggalan sejarahnya adalah kelestarian Hutan Donoloyo. Hutan Donoloyo adalah bagian Hutan Wonomarto Mangkunegara terletak di Desa Made, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Kompleks hutan yang banyak disebut-sebut dalam Babad Tanah Jawa dan legenda rakyat. Hutan Donoloyo pada khususnya, dan Hutan Wonomarto Mangkunegara pada umumnya, pada jaman Hindia Belanda, dikuasai dan diurus langsung oleh Pemerintah Swapraja Mangkunegara. Hutan Wonomarto, tidak pernah mengalami rusak berat, kecuali pada jaman penjajahan Jepang. Ini suatu bukti peninggalan sejarah, kemandirian Pemerintah dan Rakyat yang berakar pada budaya yang ternyata mampu mengurus dan melestarikan sumber daya hutannya. Contoh-contoh wawasan hutan dan Kehutanan dalam dilemma kebudayaan di Jepang, dapat disimak lebih lanjut dalam buku. Penulis buku mengajak pembaca untuk merenungkan sejarah hutan dan Kehutanan Indonesia dalam kaitan dan perspektif budaya Bangsa Indonesia.

BAB III KINERJA RIMBAWAN JEPANG Penulis buku HUTAN DI KAKI FUJIYAMA, menyoroti konsepsi rimbawan Jepang dalam aspek budaya kerja yang ada dan berkembang. Penulis buku berpendapat bahwa budaya kerja yang berkembang, adalah berakar dari sejarah dan filsafat kerja bangsa Jepang, yang antara lain sebagai berikut: 1. Selalu usahakan arus pekerjaan penuh harmonis, selalu perhatikan arti dari riset dan ketekunan ………….. (Keichiro Honda, 1956) 2. Hormati teori sehat, kembangkan gagasan segar, dan gunakan waktu sepenuh mungkin …………….. (Keichiro Honda, 1956) 3. Harus selalu maju, penuh ambisi, dan semangat muda ………………………. (Keichiro Honda, 1956) 4. Nikmati pekerjaan, dan usahakanlah lingkungan kerja yang cerah (Keichiro Honda, 1956) Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang disimak oleh penulis sebagai observasi perkembangan kelestarian manfaat hutan di Jepang yang ternyata didukung oleh semangat dan kinerja rimbawan Jepang yang tinggi. Apa yang dipaparkan oleh penulis buku adalah bukti bahwa rimbawan Jepang generasi pasca Perang Dunia II menghayati pesan Shoichi Nagata, bahwa generasi muda harus bekerja lebih keras untuk mewujudkan cita-cita bangsanya menjadi kenyataan. Pesan Shoichi Nagata, selengkapnya adalah ungkapan sebagai berikut : Kehidupan anak adalah khayalan, kehidupan pemuda adalah mimpi, kehidupan orang setengah baya adalah kenyataan, kehidupan manula adalah kenangan

Budaya kerja rimbawan Jepang banyak disorot oleh penulis buku HUTAN DI KAKI FUJIYAMA, yang hasil serta dampak kinerjanya dapat diamati dari hasil pembangunan hutan dan Kehutanan yang ada. BAB IV PENUTUP Saya menjadi terkenang dan teringat kembali sewaktu training di Jepang selama 14 minggu di Nagoya Kokusei Kenshu Centre, ditambah kontak dengan expert Jepang selama 6 minggu observasi dan diskusi di beberapa Taman Nasional di Kanada dan Amerika Serikat, dalam forum International Seminar on Parks and Equivalent Reserves tahun 1982. Saya sependapat dengan penulis buku bahwa sistem training di Jepang, khususnya untuk training yang bersifat kerjasama internasional, kenyataannya lebih banyak bersifat “learning by doing”. “Doing” dalam pengertian observasi lapangan, diskusi lapangan dan menggali sendiri informasiinformasi yang diminati dari berbagai perpustakaan dan nara sumber. Seperti telah kita maklumi bahwa kegiatan “learning by doing” hasilnya sangat ditentukan oleh oto-aktivita dan daya seleksi dari peserta latihan. Sistem pelatihan ini cocok untuk pejabat senior yang telah mempunyai pengalaman operasional dan daya analisis yang tinggi. Buku yang ditulis oleh rimbawan Banjar Yulianto Laban adalah hasil kerja keras penulis, baik kerja keras dalam persiapan, selama di Jepang maupun dalam mengolahnya menjadi karya tulis yang informative. Saya menganjurkan buku tulisan Saudara Banjar Yulianto Laban disebarluaskan. Mengingat tebalnya tulisan, dapat saja disebarluaskan intisarinya (dalam bentuk ringkasan eksekutif) yang dibarengi dengan serangkaian diskusi-diskusi panel. Sungguh sayang kalaulah wawasan dan gagasan yang ada dalam buku, tidak disebarluaskan sehingga dapat memperkaya gagasan-gagasan rimbawan Indonesia. Saya teringat kembali ungkapan ahli hikmah yang mengatakan : Tulislah hal-hal yang pantas diperbuat, dan berbuatlah hal-hal yang bermanfaat untuk ditulis. Dalam menyiapkan ulasan ini, saya juga menjadi teringat kembali sindiran Prof. Andi Hakim Nasution yang berbunyi : Terawanglah masa depan dengan tekun, agar tidak cepat menjadi pikun.

Sebagai rimbawan berusia di atas 63 tahun, memang saya tidak lagi “mandegani” dan “kiprah” langsung dalam pembangunan hutan dan Kehutanan. Kemampuan saya tinggal terbatas menerawang masa depan, dengan sedikit “tutwuri” dan “urun-urun rembug” untuk terwujudnya kemajuan pembangunan hutan dan Kehutanan di Indonesia. Akhirul kalam kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, penulis bersyukur, semoga ulasan saya ini bermanfaat adanya.

Let the river of asia flow with sparking beauty, Let the mountains continue to cheer our hearts, Let the forests and flowers grow abundantly, Let the farms produce our needs. Sudhakar S. Ramteke, 1991.

Penulis di depan rumah pemujaan pengikut Shintoisme. September 1992. Kumano Hongu Grand Shrine (Hongu Town)

Satu diantara seribu kenangan untuk Rini istriku dan anak-anakku: Niko, Eric, Fema dan Taka

PENGANTAR DARI PENULIS

Era pasca perang dunia II, secara pasti dunia semakin mengarahkan muka ke Jepang. Suatu negeri kecil – total luas tidak lebih besar dari Pulau Sumatra – dan pada 1945 remuk redam karena perang. Negeri di kawasan Asia, paling pesat perkembangan ekonominya ini, selalu saja membuat kejutan pengembangan produk teknologi. Banyak Negara membina hubungan bilateral dengan Jepang, termasuk USA, yang sampai kini tidak dapat lepas dari teknologi microchipnya. Mungkin hanya kebetulan menimpa saya, sehingga dalam sejarah telah merasuk suatu kesan, yaitu pengalaman hidup dan tinggal 35 hari di negeri matahari terbit ini. Sebagai seorang rimbawan, potensi hutan dan masyarakat perhutanan Jepang menggugah saya untuk mencoba menuangkan pengalaman – apa yang saya dengar, apa yang saya baca dan apa yang saya lihat di Jepang – dalam tulisan ini, dengan harapan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan menggugah niat kita yang sesungguhnya, bagaimana mengelola potensi hutan dan kawasan berhutan, khususnya di Indonesia dan beberapa Negara berkembangan di Benua Asia. Benua yang kaya potensi sumber daya alam, namun dilain pihak, masih diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Dalam era globalisasi ini, Jepang adalah salah satu batu penjuru Asia yang perlu dicermati. Pertengahan Juni 1992, pertemuan ala warung kopi terjadi di pantai Kuta – Bali. Kehadiran beberapa praktisi dan pengamat lingkungan pada pertemuan tersebut membawa keprihatinan bersama tentang nasib pulau yang seyogyanya bersih, aman, lestari dan indah (b, a, l, i). Pariwisata untuk Bali atau Bali untuk pariwisata ? Mulailah disusun langkah-langkah strategis, akhirnya, pada awal Agustus 1992, lahirlah produk inspirasi baru di Bali yaitu PROGRAM KONSERVASI ALAM BALI. Program ini sepakat dilaksanakan oleh tiga

Yayasan yang tertarik menyumbangkan darma bakti di bidang pengembangan sumber daya manusia dan konservasi sumber daya alam Bali. Ketiga yayasan tersebut adalah: Human Organisation for Social Action and Natural resources Network Activity Foundation (Yayasan H.O.S.A.N.N.A) – Bali, Yayasan LESTARI JAYA SATWA – Bali dan Yayasan HABITAT KITA –Yogyakarta. Pada waktu semangat menyusun program tersebut mencapai draft konsep, pertengahan Juli 1992, datanglah sahabat Sdr. Eka Santosa dari Jepang. Selaku Ketua Yayasan H.O.S.A.N.N.A, beliau telah lama membina hubungan baik dengan sahabat-sahabatnya di luar negeri, salah satunya adalah Mr. Kimihiko Murakami, sahabat dari Jepang tersebut. Mr. Kimihiko Murakami adalah Direktur Eksekutif Asian Friendship Society (AFS) dan Direktur Japan Asian Friendship Society (JAFS) yang berkantor pusat di Osaka –Jepang. Maksud kedatangan beliau ke Indonesia adalah mempersiapkan seminar AFS III di Bali, 2 – 10 Nopember 1992 dan menjajagi kemungkinan seorang rimbawan Indonesia mengikuti Program Training Kehutanan yang diselenggarakan JAFS di Prefektur Wakayama – Jepang. Atas rekomendasi Sdr. Eka Santosa, pada awal minggu terakhir bulan Agustus 1992, saya menerima undangan training. Mengingat kapasitas saya pada waktu itu sebagai Kepala Seksi Konservasi Jenis pada Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Ketua Yayasan HABITAT KITA Yogyakarta yang merasa bertanggungjawab atas tindak lanjut program Konservasi Alam Bali, saya pikir memenuhi undangan tersebut adalah kesempatan baik untuk menambah pengalaman profesi. Setelah mendapat ijin cuti besar (2 bulan) dari Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan mengurus paspor di Yogyakarta, visa di Surabaya (Konsulat Jepang), berangkatlah saya ke Jepang tanggal 1 September 1992 melalui Bandara Ngurah Rai – Bali.

Cathay Pasific membawa saya ke Osaka, transit dua jam di Hongkong. Lebih kurang 9 jam penerbangan saya tempuh ketika gebyar-gebyar lampu malam metropolitan menyambut saya mendarat di Bandara Internasional Osaka. Mr. Murakami dan Mr. Cunanan (Eksekutif AFS dari Philipina) menjemput dan segera mengantar saya ke Hotel Umeshin Plaza. Dua hari saya di Osaka, kesempatan baik merasakan detak jantungnya. Puri tua Osaka-Jo buah karya Hideyoshi Toyotomi (1536 – 1598) pada 1583 dan Museum sejarah kota yang satu komplek dengan puri tua tersebut, menjadi pusat informasi perkembangan metropolitan Osaka. Ketelatenan bangsa Jepang memelihara warisan leluhur terpancar dari asset ini. Mozaik tradisional selalu mewarnai produk goods and properties yang digambarkan sebagai modernisasi Jepang. Kehadiran subway, highway dan gedung pencakar langit serta kesibukan masyarakat Osaka terlihat jauh dari kesan semrawut, meskipun jalan manusia Jepang tidak kalah cepat dengan mobil Jepang di Jantung kota budaya Yogyakarta. Ada kesan sangat sulit menemukan hamparan lahan terbuka. Hijauan pepohonan mengisi relung-relung diantara konstruksi semen dan baja yang merajalela di tata ruang kota. Sawah di pinggiran pun bak kolam, pematang dan seluruh irigasi tak luput dari olesan semen. Nun jauh disana terlihat hamparan hutan mencengkeram pegunungan, seakan sulit direnggut dari dasarnya. Training Kehutanan ala Jepang mulai saya runut pada hari ketiga kehadiran saya di Jepang. Training dengan sistem Learning by doing ini diselenggarakan di kawasan hutan Perhimpunan Masyarakat Perhutanan wilayah Kumano (Kumano Inter-forest Association) Prefektur Wakayama dan sebagian Hutan Nasional Distrik Oomata serta hutan prefektur Distrik Owase di Prefektur Mie. Dua Prefektur di Pulau Honsyu wilayah ujung selatan. Hampir empat minggu saya berlalu lalang di wilayah ini.

Sebagian besar waktu training habis untuk kunjungan praktek dan diskusi lapangan. Pusat kegiatan sekaligus tempat menginap trainee adalah Takata Greenland, suatu hostel atau semacam lodge di Distrik Shingu Prefektur Wakayama. AFS/JAFS menjadi sponsor training semacam sudah untuk keempat kalinya, sejak 1989. Training ke-4, 1992, diikuti oleh empat orang peserta; dua orang rimbawan Nepal dan dua orang Indonesia. Seorang Indonesia lainnya adalah Sdr. Toesmoyo, dari Yayasan KUALITAS – Jakarta. Apa dan siapa AFS/JAFS itu, pada halaman xii – xv saya beberkan sekelumit riwayat, maksud tujuan, filosofi, visi, aktifitas dan program serta alamat kantor pusatnya. Pada halaman berikutnya (xvi – xxi), saya sampaikan gambar letak dan kondisi lingkungan kegiatan training, berupa peta tanpa skala, namun lebih tepat bila dikatakan sebagai adaptasi dari foto udara atau citra satelit. Untuk ilustrasi tentang peran dan pelaku dalam pengelolaan hutan di Jepang dan ilustrasi tentang hutan jepang dalam angka luas (jutaan hektar) dapat dilihat pada halaman xxii dan xxiii. Selanjutnya, untuk meyakinkan kesungguhan saya mengikuti training, sebuah tanda penghargaan berupa sertifikat, copinya dapat dilihat pada halaman xxiv. Sebagai rimbawan, dalam buku ini saya mencoba menyoroti komitmen pemerintah dan kehidupan masyarakat Jepang dari sudut pandang kepentingan hutan, baik sebagai komponen stabilitas lingkungan phisik dan tata ruang wilayah, maupun sebagai komponen ekonomi dan profil kebudayaan yang secara langsung tidak dapat dipisahkan dari kontinuitas kebutuhan hidup manusia, dari generasi ke generasi. Untuk itulah maka, meskipun cenderung bersifat informative dan saya coba untuk lebih bersifat edukatif, lay-out dan isi buku ini saya coba susun sedekat mungkin mendukung Pedoman Internasional Timber Trade Organization (ITTO) bagi pembangunan dan pengelolaan hutan tanaman tropis secara lestari. Dengan demikian, saya lebih mantap memilih ungkapanungkapan yang tepat dan runut untuk mengurai informasi dan pengalaman yang saya peroleh di Jepang dalam buku ini.

Isi buku ini, terbagi dalam 4 bab pokok dan 1 bab Epilog. Masingmasing bab pokok terdiri dari beberapa sub bab.Bab Pertama: Rimba hukum di hutan Jepang. Didalamnya secara ringkas terinci informasi tentang peraturan dan pola kebijaksanaan pemerintah yang berkaitan dengan hutan dan hasil hutan. Ketentuan hukum tertulis tersebut, menjadi patok kesepakatan pemerintah dengan masyarakat, khususnya masyarakat perhutanan Jepang, sehingga menimbulkan aktifitas mempertahankan dan mengembangkan potensi hutan yang keberhasilannya digelar sebagai hutan dalam angka dan contoh penyajian kawasan hutan dalam peta ; Bab kedua : Hutan andalan ekonomi dan Ekologi. Sejauh mana Jepang mengelola hutan dalam kondisi fisik lingkungan yang kurang ramah dan rawan bencana, antisipasi terhadap kesinambungan penyediaan kebutuhan kayu dan nonkayu serta lingkungan hidup aman, sejahtera, disajikan dalam bab ini ; Bab ketiga : Hutan dalam dilemma kebudayaan. Rekayasa sebagai bukti pengembangan kualitas sumber daya manusia, menjadikan Jepang pada posisi simpang jalan atau bak saringan yang bergoyang, karena seleksi nyaris tak terkendali terhadap tradisi yang enak dipertahankan dan perlu, sedang dan masih terus berlangsung. Namun nomor satu property kayu, kelihatan tetap bertahan pada tahta pembakuan kualitas tradisional; Bab keempat : Bunga rampai kinerja rimbawan Jepang. Beberapa fakta budidaya Jepang, bangkit dari hutan dalam berbagai prosesi peningkatan nilai tambah, disajikan pada bab ini; selanjutnya, Bab Epilog . Pada bab ini dicoba menarik benang merah, pantulan pengelolaan hutan dan hasil hutan di Jepang yang dapat saya serap. Sejauh mana pantulan tersebut dapat diterapkan di luar jangkauan tradisi Jepang ? Opini dan argumentasi dari berbagai sumber, diharapkan dapat memilih dan mempertajam fokus penerapan, khususnya di Indonesia.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa materi, metode pembangunan dan pengelolaan hutan sub tropis seperti di Jepang sangat tidak mungkin mencapai 100% berhasil diterapkan di kawasan tropis. Namun demikian apabila ini dikaitkan dengan disiplin dan semangat kerja masyarakat sesuai patok kesepakatan mereka dengan pemerintah dan pola kebijaksanaan pemerintah Jepang di bidang pengelolaan hutan; pengembangan diversifikasi dan efisiensi pemanfaatan hasil hutan; pembakuan tradisional; pemuliaan pohon; peningkatan mutu produk property dari kayu; konservasi alam dan pembinaan peran kawasan berhutan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup serta pemerataan pekerjaan di Kehutanan, saya yakin bahwa buku ini dapat menjadi bagian referensi yang diperlukan. Ada pendapat mengatakan bahwa ilustrasi atau foto-foto dokumentasi suatu obyek tertentu lebih informative dan motivative dari pada sekedar uraian kata-kata. Penyajian table, ilustrasi dan dokumentasi sebanyak 140 foto/gambar dalam buku ini, menempati prioritas informasi yang factual, karena sebagai bukti fakta saya harapkan dapat menjadi pijakan langkah maju lebih mantap. Satu dan lain hal, sekiranya ada yang kurang berkenan tersaji dalam buku ini, saya harapkan dapat menjadi batu loncatan menuju obyektifitas prima dan penyempurnaannya. Demikian, semoga bermanfaat. Bogor, Juli 1995 Penulis,

Banjar Yulianto Laban

SEKELUMIT TENTANG ASIAN FRIENDSHIP SOCIETY (AFS)

Riwayat singkat Pada musim panas 1962 ada roving seminar tentang seluk beluk Asia Timur di Philipina, Hongkong, Taiwan dan Jepang. Adalah orang Jepang bernama Kimihiko Murakami menjadi peserta seminar tersebut. Setelah bertemu dan berbicara dengan beberapa orang Asia peserta seminar, Murakami menyadari ada kenyataan bahwa bangsa-bangsa Asia membutuhkan suasana yang guyub dan rukun. Kemudian pada kesempatan lain, Murakami membicarakan hal tersebut dengan beberapa orang Jepang peserta seminar dan akhirnya mereka sepakat untuk membentuk Grup Studi Asia. Grup ini resmi terbentuk pada 1963 dan menjadi AFS. Antara 1965 – 1967, Murakami belajar di Bengalore India dan bertemu S.S. Ramteke orang India. Sampai saat ini mereka menjadi sejoli tak terpisahkan dalam AFS. Melalui persahabatan tersebut, mereka menyatakan bahwa kerjasama dan kesetiakawanan akan terjadi dengan kondisi yang baik dan berkembang apabila didasari hubungan kepercayaan nyata dan saling menguntungkan dalam suatu kegiatan konstruktif. Waktu berjalan terus, pada 1970 – 1971 Murakami berada di Swiss, belajar pada Institute Eukumene. Dalam program belajar tersebut terdapat 50 mahasiwa Program S2 dari berbagai Negara di seluruh dunia. Bahkan dari Negara-negara Eropa Timur : Chekoslowakia, Yugoslavia, Rumania, Hongaria dan Polandia. Pada program belajar tersebut timbullah beberapa diskusi diantara peserta yang akhirnya menyimpulkan antara lain, masyarakat Eropa perlu bekerjasama menggalang kesetiakawanan. Pengalaman belajar di Swiss yang penuh dengan rasa kesetiakawanan dan suasana persahabatan saling hormat itu, sangat membekas dalam jiwa Murakami sehingga timbullah keprihatinan dan tidak mau tinggal diam apabila

sebagai seorang Asia berpaling ke Asia, karena begitu banyak masalah, masih jauh dari rasa kesetiakawanan orang Asia di segala bidang kehidupan. Pada 1972, setelah kembali dari Swiss, Murakami bersama beberapa orang Jepang membentuk organisasi kecil yang mereka beri nama EPOS, suatu istilah Yunani berarti Pencipta Perdamaian. Melalui EPOS, Murakami dan kawan-kawan mulai mewujudkan gagasan-gagasan kesetiakawanan Asia dalam suatu kerja nyata, antara lain mengirim beberapa generasi muda Jepang sebagai sukarelawan pekerja sosial ke sahabatnya S.S. Ramteke di India. Kegiatan ini berlangsung sampai 1974. Akhirnya, pada 1978 bersama S.S. Ramteke, Murakami memutuskan membentuk Asian Friendship Society (AFS) yang berangkat pada awalnya sebagai organisasi kecil dengan gagasan dan semangat besar yaitu mewujudkan kesetiakawanan Asia untuk seluruh masyarakat Asia. Maksud dan Tujuan AFS sebagai Lembaga Internasional Nirlaba dibentuk oleh beberapa orang Asia yang percaya bahwa, setiap orang dapat mewujudkan peranan kreatif dalam usaha memajukan dan memperbaiki nasib masyarakat. Asia adalah benua yang sarat dengan berbagai ragam latar belakang peradaban, warisan budaya, sistem sosio-ekonomi, agama dan lain-lain. Dengan demikian, AFS mencoba untuk mengapresiasikan perbedaan ragam tersebut dalam waktu yang bersamaan dengan membentuk suatu kebersamaan yaitu hubungan antar masyarakat Asia, sehingga ada perkembangan persahabatan dan kesetiakawanan diantara masyarakat Asia. AFS dengan berbagai aktifitas dan program kegiatan menyediakan jalur yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan persahabatan dan kesetiakawanan masyarakat Asia. Berdasarkan keramahan persahabatan tersebut, program nyata diwujudkan untuk perbaikan nasib manusia. Dengan pemusatan pikiran yang demikian, aktifitas dan program selanjutnya dapat ditingkatkan dan dikelola melalui AFS.

Filosofi Bahwa setiap orang mempunyai hak untuk hidup layak sebagai manusia. Namun demikian dukungan moral masih diperlukan untuk menolong upaya meningkatkannya, sehingga menjadi kelayakan hidup bagi seluruh umat manusia. Visi Mengembangkan kondisi perdamaian, persahabatan dan kesetiakawanan diantara masyarakat Asia dengan melalui cirikhas hubungan persahabatan pribadi diantara masyarakat seluruh bangsa di Asia. Untuk itulah AFS mempromosikan pengertian dan kerjasama saling menguntungkan tersebut. Aktifitas dan Program a. Program sanitasi, pelestarian sumber air dan pengadaan air minum di daerah pedesaan b. Camp Kerja Pemuda c. Pertukaran Pemuda dan Kebudayaan d. Program latihan pengembangan e. Program peningkatan kreatifitas masyarakat dalam peran serta di bidang lingkungan hidup dan Kehutanan. f. Mendukung upaya perdamaian di negara-negara Asia. g. Mengembangkan teknologi tepat guna dan industri skala kecil di pedesaan. h. Pelayanan kegiatan perhimpunan mahasiswa Asia. i. Pelayanan kursus bahasa-bahasa Asia

Alamat kantor pusat AFS/JAFS Executive Director 7F, Heiwasogo Building 1 – 14 – 1, Edobori Nishi – ku, OSAKA 550 JAPAN.

JEPANG

Wilayah Kerja Kumano Interforest Association

Arus Samodra Pasifik yang mempengaruhi Musim di Prefektur Wakayama

Daerah Aliran Sungai di Kumano Interforest

Spot Hitam : Hutan Tanaman

Spot Hitam : Hutan Alam

Spot Hitam : tanah datar (alam dan buatan)

PERAN DAN PELAKU DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI JEPANG

Kementrian Pertanian, Kehutanan & Perikanan Dept Adm Dept Hutan Kel/ Swasta Dept Urs Umum Hutan Nas. Divisi Pengelola Ht Pref, Ht Keluarga/ Lembaga Pemuliaan pohon hut lokasi) : Pusat Experimentasi hutan (9 lokasi) Swasta Stasiun Penelitian hutan (5 lokasi) District Forest Office (316 Dist) Divisi Pengelola Hutan Nasional Regional Forest Office (9 regu) Dept Urs pengelolaa n hut. Nas.

Local/Pref Gouvernment Pengelola Hutan Pref / Public Forest

Japan Forestry Agency (JFA) HQ

Taman Ilmu penge Tahuan Ht/Kht di Tama. Keterangan

(5

: Hubungan Struktural : Hubungan Rekomendasi : Hubungan Pembinaan : Hubungan bimbingan/ Konsultasi Sumber : Forestry and forest Industries in Japan, 1991

Forest rangers

Perhimpunan masyarakat perhutanan

ILUSTRASI HUTAN JEPANG DALAM ANGKA LUAS (JUTAAN HEKTAR) A. BERDASAR STATUS, PENGELOLA DAN POTENSI HUTAN. Hutan 25,26 (100 %) 68 % luas daratan

Hutan Prefektur/ Hutan Nasional (JFA) 7,89 (31,24 %) Public Forest (Pemerintah Lokal) 2,69 (10,64 %)

Hutan Keluarga/ Swasta (Masyarakat) 14,68 (58,12 %)

Hutan Alam 2,58

Hutan Tanaman 5,31

Hutan Alam

Hutan Tanaman 2,69

Hutan Alam 9,82

Hutan Tanaman 4,86

-

Cagar Alam 0,13

Dikelola JFA 3,37

Histrical Forest 0,28 Taman Nasional 2,17

Kerjasama JFA & Mas 1,94

TN dikelola JFA 1,18

TN dikelola Pref 0,99

B. BERDASAR PENAMPAKAN JENIS DOMINAN Hutan 25,26 (100 %)

Hutan Alam 13,29 (52,6 %)

Hutan Tanaman 10,17 (40,3 %)

Hutan Murni bambu alam 0,58 (2,3 %)

Semak Belukar 1,22 (4,8 %)

Daun jarum 1,74 Daun lebar 9,91 Camp 1,64

Sugi = 4,51 Hinoki = 2,34 Pinus = 1,09 Larix = 1,09 Picea+Abies = 0,88 Daun jarum lain = 0,08 Daun lebar = 0,18

Sumber : Forestry and Forest Industries in Japan, 1991

DAFTAR ISI ULASAN BUKU OLEH Ir. H.Moh. Duryat, M.Sc. PENGANTAR DARI PENULIS SEKELUMIT TENTANG ASIAN FRIENDSHIP SOCIETY DAFTAR ISI UCAPAN TERIMA KASIH

RIMBA HUKUM DI HUTAN JEPANG Patok kesepakatan Peran dan pelaku Hutan dalam angka Hutan dalam peta

HUTAN ANDALAN EKONOMI DAN EKOLOGI Paras bumi yang tak rata Iklim diantara berkah dan bencana Tipe hutan klasifikasi horizontal Coniferae primadona hutan tanaman Rombak dan tanam untuk dimanfaatkan Budidaya jenis lain Hutan pelindung kawasan Perlindungan tegakan hutan Hujan asam dan konsentrasi karbon Kurang kayu import kayu

HUTAN DALAM DILEMA KEBUDAYAAN Tokachi-wine anggur desa Ikeda Isson Ippin di Distrik Oyama Kayu olahan desa Aketa Kursus rancang bangun kayu desa Toyama Catch USA, go ahead Europe Totsukawa desa Raksasa Mantan Walikota punya ceritera Derap konservasi alam Makan dan festival Nomor satu property kayu

BUNGA RAMPAI KINERJA RIMBAWAN JEPANG Pusat eksperimen hutan Wakayama Persemaian hutan tanaman Hutan keluarga Maeda Kayu magis kurinoki Lelang kayu di Shingu Kerja kayu main kayu Pabrik pulp dan kertas Kishu Mitsumata bahan baku yensatsu Shiitake si-jamur kayu Penggembalaan lebah madu

Taman tropis di rumah kaca

EPILOG Makna penderitaan Hutan dan demokrasi Manusia kembali ke alam Inklusifkan hutan dalam kebudayaan

DAFTAR ISTILAH / GLOSSARY DAFTAR PUSTAKA RIWAYAT PENULIS

UCAPAN TERIMA KASIH Saya menyadari bahwa buku dengan judul “seuntai hasil lawatan : HUTAN DI KAKI FUJIYAMA“ ini, disusun antara lain karena kebersamaan dalam kerjasama professional diantara individu atau lembaga yang mempunyai inspirasi dan refleksi yang sama. Sekarang ini, bicara tentang hutan dan bergerak di bidang Kehutanan tidak dimonopoli oleh rimbawan saja. Peluang untuk berpendapat tentang kepentingan hutan bagi manusia sudah demikian transparant. Kerjasama AFS/JAFS dalam program training ini dengan Kementrian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang (cq. Japan Forestry Agency) dari pihak Pemerintah Jepang dan kerjasama JAFS dengan Kumano Interforest Association yaitu Lembaga Kerjasama antar anggota masyarakat perhutanan di Prefektur Wakayama, sangat saya rasakan manfaatnya. Pada kesempatan ini, saya ucapkan terima kasih kepada yang terhormat: Bapak. Ir. Dradjad Supomo (Alm), Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jabatan lain yang beliau emban adalah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Doa restu Beliau mengiring semangat saya. Pesan Beliau untuk melihat Kyoto Botanical Garden, berhasil saya penuhi. Semoga hubungan Twin City Kyoto – Yogyakarta semakin erat dan berkembang. Mr. Teruya Yamanaka, Mayor Shingu City (Walikota Shingu) Mr. Hiroshi Nakanishi, Town Mayor Hongu – Cho (Walikota Hongu dan President Kumano Inter – forest Association).

Mr. Yasuo Enomoto, Town Mayor Kumanogawa – Cho (Walikota Kumanogawa) Mr. Takeshi Hayashi, Regional Forest Office of Provincial Government of Wakayama. Mr. Hideo Ueya, Shingu District Forest Office Government of Japan (Kepala Kantor Wilayah Kehutanan Distrik Shingu). Mr. Shigetoshi Takabayashi, Wakil Direktur Kyoto Botanical Garden.Melalui tangan dinginnya hutan tropis tersaji di rumah kaca. Mr. Mitsuya Karaya, President of JAFS. Mr. Yokoi, Chairman JAFS. Jabatan lain yang beliau emban adalah Presiden Direktur Refigerator Matsushita Panasonic Electricity Inc. Pernyataan beliau yang mengesankan saya adalah: masalah lingkungan dunia tidak akan terpecahkan apabila tidak mencantumkan pelestarian hutan sebagai agenda utama. Salah satu langkah terbaik untuk memecahkan masalah adalah persahabatan antar bangsa. Mr. Kimihiko Murakami, eksekutif Direktur AFS dan Direktur JAFS. Saya kagumi semangat dan kesetiaannya pada komitmen atas dasar kebersamaan. Tanpa interest beliau, kemungkinan Jepang hanya berupa majalah atau sekedar berita Koran bagi saya. Mr. Masaki Yamada, Mr. Taku Iwasawa, Mr. Toshiki Aoi,PhD, Mr. Masaharu Tasaka, Mr. Tamaki Haruo, Mr. Takeji Okada, Mr. Akikazu Nakajima, Mr. Kouzou Kouno, Ms. Mikio Saika dan Mr. Toshiaki Tamaoka.

Atas keterbukaan dan kesabaran mereka selaku narasumber training, dengan agak tertatih-tatih saya berusaha untuk memahami budaya kerja orang Jepang. Mr. Akihiro Maeda, Mr. Nabuhiro Seko dan Mr. Nakamura. Tiga diantara jutaan rimbawan swasta Jepang yang mengelola hutan swasta (private forest) dan produk non-kayu. Saya terkesan oleh ketekunan dan kesetiaan mereka terhadap hutan dan konservasi alam, selalu menjadi topic diskusi menarik di lapangan. Mr. Takinaka, Mr. Fumiaki Okita dan Mr. Michio Shimizu. Tiga Kepala Keluarga Jepang yang menerima saya menginap di rumahnya (home stay), beberapa hari sebelum saya kembali ke Indonesia. Keluarga Takinaka, ada 7 jiwa di dalamnya. Suami istri Takinaka, tiga putri mereka : yang tertua berumur 10 tahun dan sepasang suami istri Mertua Mr. Takanika. Keluarga ini adalah profil petani hutan Jepang yang tinggal di pedesaan dekat hutan. Suami istri Fumiaki Okita, belum punya momongan. Profil keluarga muda pegawai negeri yang tinggal di real estate pinggiran kota metropolitan Osaka. Keluarga Michio Shimizu, punya satu anak laki-laki kelas V SD. Profil keluarga wiraswasta Jepang yang tinggal di salah satu kondominium Osaka. Ketulusan, keramahan dan kesederhanaan mereka sulit saya lupakan. Mr. Toyota Sakamoto dan Mr. Hisao Tanaka. Dua orang tua (usia mungkin lebih 55 tahun) yang patut diteladani dalam pelayanan program training ini. Selama tugas belum selesai, dalam 24 jam istirahat lebih dari 6 jam tabu bagi mereka. Terus terang saya salut.

Mrs. Junko Ohara, Mrs. Hisayo Sakaguchi, Mr. Seiya Suzuki, Mr. Kazutomo Shimo, Ms. Kikuka Kobatake, Ms. “Oshin” Kuzuki dan Ms. Kiyoko Horaji. Tanpa mereka, bahasa tubuh (body language) yang amburadul mungkin lebih melelahkan dalam berkomunikasi dengan masyarakat rimbawan Jepang dan sudah pasti tidak kena sasaran. Dengan pengantar bahasa Inggris, secara bergantian atau bersama, mereka memandu peserta training. Ms. Anita Manandar, Koordinator training. Wanita Nepal yang fasih bahasa Jepang. Copy catatannya memperkaya informasi dalam buku ini. Mr. Ananta V. Parajuli, Mr. Chakra Man Shakya, Mr. Toesmojo Teman-teman senasib sepenanggungan dalam training. Namaste, selamat !. Mas Eka Santosa, Sihnyoto, Pudji Rahardjo, Aris dan Wiwiek. Sahabat-sahabat saya terbaik yang mendorong saya ikut training. Ibu, Istri dan anak-anak saya, yang telah memberi restu berangkat ke Jepang dan memberi semangat menulis hasil lawatan ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberi kelimpahan dan jalan terang kepada kita semua.

Bogor, Juli 1995 Penulis,

Banjar Yulianto Laban

RIMBA HUKUM DI HUTAN JEPANG
Selalu usahakan arus pekerjaan penuh harmoni, selalu perhatikan arti dari riset dan ketekunan . . . . Keichiro Honda, 1956.

Perang dunia II berakhir. Berakhir pulalah jaman keemasan oligarki Meiji dan gegap gempita “Fukoku Kyohei”, artinya “suatu negara kaya, suatu tentara yang kuat” (M.Y. Yoshiro, 1968) terjemahan T. Gandasasmita, 1981), yang aksi ekspansionismenya berakhir di Hiroshima dan Nagasaki. Kini Rakyat Jepang kelihatan semakin mantap dalam demokrasi parlementer tanpa tentara yang maju perang. Kaisar beserta keluarga dihormati sebagai symbol dan tolok ukur perkembangan budaya dan tradisi, sementara pemerintahan seharihari dilaksanakan oleh Perdana Menteri dan beberapa Menteri dalam kabinet yang membantunya. Warisan Feodalisme Tokugawa dan Restorasi Meiji yang masih kental dan semakin kenyal tertanam dalam sikap bangsa Jepang sampai kini yaitu disiplin. Sikap ini terkonstitusi dalam rimba hukum yang jauh dari hukum rimba. Segala factor pembentuk sikap disiplin menyatu dalam tatanan hukum. Hal ini tak nampak beda diterapkan pada tatanan pengelolaan hutan ala Jepang, karena disiplin adalah kunci pokok keberhasilannya. Menurut rimba hukum yang terkondisi dalam sikap disiplin itu, seluruh kawasan hutan di Jepang dikuasai dan diatur oleh Negara. Dibawah Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang, Japan Forestry Agency (JFA) menegakkan tatanan rimba hukum di bidang kehutanan yang ditetapkan dan disyahkan Parlemen. Hukum rimba yang dijinakkan dalam tatanan dan nota bene adalah landasan hukum peraturan kehutanan di Jepang, sampai menjelang 1992 berakhir, ada 5 (lima) Undang-Undang, meliputi 2 Undang-Undang yang terutama harus ditegakkan Pemerintah cq. JFA dan 3 Undang-Undang untuk ditegakkan partisipasi dan semangat kemandirian masyarakat Jepang di bidang kehutanan.

Undang-Undang sebagai patok kesepakatan yang pada giliran operasionalnya menjadi batu penjuru arah terbaik hubungan rakyat dan pemerintah, menjadi pusat perhatian untuk bersikap dalam system konsolidasi. Peranan apa dan siapa pelaku dalam peran itu. Hutan dalam angka dan hutan dalam peta kemajuan teknologi dan ekonomi Jepang menjadi bukti, sejauh mana kecanggihan system konsolidasi itu. Patok kesepakatan Patok kesepakatan yang harus ditegakkan JFA adalah Undang_undang tentang kawasan Hutan Nasional (the National Forestland Law) dan UndangUndang tentang Kewenangan khusus Kehutanan Nasional (the National Forest Service Special Account Law). Dengan landasan hukum berupa kedua Undang – undang tersebut, JFA berkiprah di dalam pengelolaan hutan nasional, membina pengelolaan hutan prefektur/public forest yang dilaksanakan oleh pemerintah lokal setingkat Prefektur dan membimbing pengelolaan hutan keluarga/swasta. Undang-Undang tentang kawasan hutan nasional menjamin kekuatan hukum pada tata batas kawasan hutan nasional, prosedur perisalahan dan hasil perisalahan potensi hutan nasional. Berdasarkan hasil perisalahan, tata guna kawasan hutan nasional definitif segera disusun sebagai bahan informasi penyusunan rencana pengelolaan hutan nasional, selanjutnya dimanfaatkan oleh JFA untuk landasan operasional pengelolaan hutan nasional. Undang-Undang tentang kewenangan khusus kehutanan nasional, pada prinsipnya merupakan kekuatan hukum JFA sebagai special account holder yaitu institusi pemerintah, pemegang kuasa khusus untuk memimpin, membina, membimbing dan memantau pelaksanaan segala peraturan teknis opreasional kehutanan di Jepang. Hutan tanpa pandang status pemilikan adalah aset nasional bernilai strategis. Untuk kelangsungan hidup bangsa, kuasa khusus tersebut tidak tak terbatas. Hutan prefektur lebih banyak menerima aturan pembinaan teknis, sedang hutan keluarga/swasta menerima aturan bimbingan teknis.

Masyarakat Jepang menghendaki hubungan harmonis dengan pemerintah. Keterlibatan mereka dalam pengelolaan hutan nasional harus diimbangi keterlibatan pemerintah dalam inspirasi dan refleksi masyarakat di bidang kehutanan. Modal marginal yang mereka miliki sangat potensial untuk pengembangan hutan. Usaha masyarakat di bidang kehutanan dinilai sangat strategis, baik dari aspek sosio-ekonomis maupun aspek ekologis dan stabilitas nasional. Oleh karena itu landasan hukum yang menjembatani hubungan masyarakat Perhutanan Jepang dengan pemerintah menjadi patokan penting simbiose mutualisme ini. Landasan hukum tersebut adalah Undang - Undang Hutan (the Forest Law), Undang - undang Kehutanan (the Forestry Basic Law) dan Undang - Undang Perhimpunan Kerjasama Masyarakat di bidang Kehutanan (the Forestry Cooperative Association Law). Dua Undang-Undang yang disebut duluan, mencerminkan simbiose mutualisme. Pemerintah sebagai pembimbing sekaligus pemerhati resmi pengembangan hutan keluarga/swasta sangat berperan Strategis dalam UndangUndang tersebut. Sedang dalam Undang-Undang yang disebut belakangan, lebih mencerminkan apa yang seharusnya dilakukan masyarakat Perhutanan Jepang dalam semangat kebersamaan dan kemandirian di antara mereka untuk mengembangkan potensi dan keberadaan hutan. Tujuan Undang - Undang Hutan (the Forest Law) yaitu menjamin dan memberikan kekuatan hukum tetap kepada upaya masyarakat untuk meningkatkan potensi dan produksi hasil hutan serta memelihara hutan secara lestari. Berdasar Undang - Undang Hutan, Pemerintah mengatur nilai-nilai penghargaan kepada anggota masyarakat yang sadar memanfaatkan lahan, tenaga dan pikirannya untuk konstribusi konservasi alam dan pembangunan ekonomi nasional melalui aset hutan. Disamping itu, Pemerintah memperhatikan juga Undang-Undang Hutan ini sebagai dasar penetapan peraturan-peraturan yang disepakati masyarakat untuk merencanakan pengelolaan hutan, merawat hutan sebagai pelindung kawasan serta dasar petunjuk-petunjuk teknis operasional pengelolaan hutan keluarga/swasta.

Undang - Undang Kehutanan (the Forestry Basic Law) adalah dasar peraturan administrasi yang menjamin dan memberi kekuatan hukum tetap kepada anggota masyarakat dalam mengadakan perjanjian dengan pemerintah untuk berperan serta aktif membangun hutan. Perjanjian tersebut merupakan bukti kelengkapan administrasi pemerintah dalam rangka meningkatkan status sosial masyarakat yang terlibat dalam pembangunan dan pengelolaan hutan. Dalam Undang - Undang Kehutanan ditetapkan pula pokok-pokok kepentingan politik berkaitan dengan pengamanan sumber daya alam, antara lain meliputi : pembakuan ukuran dan indikasi-indikasi yang diperlukan. Dengan demikian, perjanjian tersebut dipihak masyarakat perhutanan merupakan bukti administrasi penampilan mereka dalam usaha bela negara. Keterkaitan mereka pada unit wilayah pengembangan hutan keluarga/swasta adalah kondisi baik yang mendorong mereka membentuk perhimpunan, suatu wadah kreatifitas untuk meningkatkan dan mengembangkan produk sumber daya domestik. Tidak sedikit sistem, versi dan inovasi baru pengembangan hutan mereka temukan melalui kegiatan perhimpunan tersebut. Beberapa perhimpunan di seluruh Jepang merupakan simpul -simpul sistem jaringan komunikasi dan informasi pengembangan pengelolaan hutan. Pemerintah cq. JFA melihat jaringan tersebut sebagai peluang yang efektif dan efisien untuk menyampaikan bimbingan, informasi dan penyuluhan. Seluruh kegiatan multi dimensi tersebut, sepakat mereka terima sebagai sistem dan mekanisme yang dijamin pemerintah berdasarkan Undang-Undang Perhimpunan Kerjasama Masyarakat di bidang Kehutanan (the Forestry Cooperative Association Law). Peran dan pelaku (Ilustrasi pada halaman xxii) Lima Undang - Undang diatas ditetapkan dan dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat Perhutanan Jepang. Evaluasi dan upaya penyempurnaan peraturan, kebijaksanaan dan bahkan Undang-Undang jika diperlukan, secara terus menerus dilakukan melalui mekanisme hubungan kelembagaan. Peran apa dan siapa pelaku peran, bagaimana hubungan peran dengan peran, pelaku dengan

pelaku lainnya dalam peran masing-maisng, menjadi barometer kegiatan kehutanan Jepang. Badan Administrasi Nasional yang mengurus kawasan hutan dan seluruh kegiatan kehutanan di daerah adalah JFA dibawah Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan. Melalui Kementerian inilah peraturan dan kebijaksanaan nasional yang berkaitan dengan hutan sebagai aset pembangunan sosio-ekonomi dan stabilitas nasional ditetapkan pemerintah. Dengan tujuan menerapkan fungsi hutan yang tetap sehat sebagai pemasok kebutuhan spiritual masyarakat dan menjaga stabilitas penyediaan kayu dan hasil hutan lainnya, JFA Headquarter (Kantor Pusat Badan Kehutanan Jepang) di Tokyo bertugas dalam dua divisi utama, yaitu : Divisi yang mengelola peraturan, kebijaksanaan dan administrasi hutan keluarga/swasta dan hutan bagi fasilitas umum (public forest/prefecture forest). Sedang divisi yang lain spesifik memperhatikan pengelolaan kawasan hutan nasional di daerah. Tugas divisi-divisi tersebut, dengan memperhatikan rekomendasi pemerintah daerah (local gouverment = prefecture) adalah membantu JFA menetapkan ketentuan teknis bagi penyusunan rencana dan pengawasan operasional yang berkaitan dengan konservasi alam, rehabilitasi lahan, konstruksi jalan, dam dan infrastruktur lain di dalam kawasan hutan. JFA dalam melaksanakan tugas di lapangan memberikan kewenangan operasional kepada 9 Regional Forest Office yang mengendalikan kegiatan 316 District Forest Office di seluruh Jepang dengan pegawai kurang lebih 60.000 orang. District Forest Office bertanggungjawab terhadap segala kegiatan jajaran kehutanan lapangan (Forest Ranger) dan beberapa stasiun penelitian hutan di wilayah kerjanya. Dalam hal mempererat hubungan dengan masyarakat, khususnya masyarakat perhutanan di wilayah kerjanya, District Forest Office mempunyai tugas memberikan bimbingan teknis. Misalnya : Shingu District Forest Office sebagai salah satu district Osaka Regional Forest Office, berdasar pedoman yang ada, memberi bimbingan teknis kepada Kumano Interforest Association. Departemen Administrasi dan Departemen Urusan hutan keluarga/sawasta mempunyai tugas menyusun konsep-konsep atau rencana : Kebijaksanaan

kehutanan, alokasi anggaran, pedoman -pedoman teknis pembinaan public forest/prefecture forest dan bimbingan untuk hutan keluarga/swasta. Disamping itu melaksanakan juga training untuk studi kelayakan pengembangan hutan bagi yang bertugas di JFA, Regional Forest Office dan District Forest Office. Adapun Departemen Urusan Umum Hutan Nasional dan Departemen Pengelolaan Hutan Nasional bertanggungjawab melayani kebutuhan prasarana dan sarana pengelolaan hutan nasional. Dalam menyusun kebijaksanaan maupun peraturan, empat Departemen tersebut menerima masukan informasi dan hasil penelitian dari Lembaga Penelitian Hutan dan Produksi Hasil Hutan serta Lembaga Pemuliaan pohon-pohon Hutan. Selanjutnya, untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia di bidang kehutanan dibebankan kepada Lembaga Pendidikan dan Latihan Kehutanan. Tugasnya yaitu menyiapkan tenaga kerja produktif dan berkualitas sesuai keterampilan tertentu yang dibutuhkan JFA. Sampai menjelang 1992 berakhir, di Jepang terdapat 5 Stasiun Penelitian, 1 Taman ilmu pengetahuan kehutanan di Tama (Tama Forestry Science Park) dan 9 lokasi eksperimen hutan, serta beberapa Pusat Penelitian Prefektur yang melayani kebutuhan informasi teknologi tepat guna, antara lain di bidang kehutanan sesuai kondisi di wilayah prefektur yang bersangkuitan. Mengenai upaya pemuliaan pohon di Jepang, Lembaga Pemuliaan Pohon Kehutanan Nasional mempunyai 5 sentra pemuliaan. Disamping itu, masing masing prefektur yang wilayahnya mengembangkan hutan sebagai aset pembangunan, juga mendirikan Lembaga Studi Pemuliaan Pohon untuk pengembangan pohon - pohon plus/unggul sesuai kondisi wilayah prefektur yang bersangkutan. Memahami pesan Keichiro Honda (1956) yaitu . . . perhatikan arti dari riset dan ketekunan . . . maka tepatlah kiranya apabila informasi hasil studi atau penelitian skala nasional mengalir ke Kementrian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan untuk dihimpun dalam bentuk bulletin atau petunjuk-petunjuk praktis sesuai bidangnya. Oleh JFA Headquarter bulletin atau petunjuk-petunjuk tersebut didistribusikan ke berbagai lembaga pengguna yang berkaitan dengan urusan

hutan dan produksi hasil hutan, antara lain Perhimpunan Kerjasama masyarakat Perhutanan yang ada di beberapa prefektur. Berkaitan dengan penelitian hutan dan hasil hutan, kelembagaannya tidak hanya bernaung di Kementrian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan. Penelitian sebagai kegitan prima, di bidang kehutanan tidak menutup kemungkinan melibatkan peran universitas, antara lain: Wakayama Experimental Forest, Faculty of Agriculture Hokkaido University. Hutan dalam angka (Ilustrasi pada halaman xxiii) Menurut statistik JFA yang terbit 1986, dan sampai penjelang akhir 1992 belum direvisi , luas kawasan hutan di Jepang 25,26 juta hektar, meliputi hutan alam 13,29 juta hektar (52,6%), hutan tanaman 10,17 juta hektar (40,3%), hutan murni bamboo alam 0,58 juta hektar (2,3%) dan semak belukar diatas singkapan batuan dasar (unstocked land) 1,22 juta hektar (4,8%). Meskipun kawasan hutan tersebut menutup 68% total luas daratan dan menjadi kebanggaan bangsa Jepang sebagai salah satu negara yang lebat hutannya, ternyata hanya 0,2 hektar perkapita, yaitu lebih kecil dari 0,5 hektar perkapita rata-rata dunia. Hutan alam seluas 13,29 juta hektar, meliputi jenis daun jarum 1,74 juta hektar, jenis daun lebar 9,91 juta hektar dan hutan alam campuran daun jarum dan daun lebar seluas 1,64 juta hektar. Daun jarum mendominasi hutan tanaman. Sedikitnya ada 6 jenis daun jarum. Selebihnya jenis daun jarum yang lain dan daun lebar. Hutan tanaman seluas 10,17 juta hektar tersebut berdasar dominasi jenis meliputi : sugi (Cryptomeria japonica) : 4,51 juta hektar, hinoki (Chamaecyparis obtuse) : 2,34 juta hektar, Pinus sp : 1,09 juta hektar, Larix leptolapis : 1,09 juta hektar, hutan campuran Picea jezoensis dan Abies sachalinensis : 0,88 juta hektar, jenis daun jarum yang lain : 0,08 juta hektar dan jenis daun lebar yang lain: 0,18 juta hektar. Potensi kayu tegakan hutan alam sekitar 1.500 juta meter kubik dan hutan tanaman 1.360 juta meter kubik dengan pertumbuhan tegakan (riap) rata-rata 76

juta meter kubik pertahun. Bagaimanapun distribusi kelas umur hutan tanaman mempengaruhi riap tersebut. Diperkirakan 5 juta Hektar hutan tanaman pada tahun 1992 berumur antara 20-35 tahun. Jika tidak ada aral melintang, pada dua dasawarsa awal abad 21 boleh jadi jaman emas kayu Jepang merebak kebutuhan domestik. Pada dasawarsa 1980-an hutan Jepang hanya mampu memberi kontribusi log sekitar 31 juta meter kubik pertahun yang berasal dari hutan alam 13 juta meter kubik dan hutan tanaman 18 juta meter kubik. Berdasarkan pemilikan, produksi log kayu tersebut, disajikan oleh hutan keluarga/swasta 20,5 juta meter kubik, hutan prefektur 1,9 juta meter kubik dan hutan nasional 8,6 juta meter kubik. Pengelompokkan hutan di Jepang berdasar pemilikan tersebut dikandung maksud untuk mengatur tanggungjawab pengelolaan hutan diatas lahan yang secara hukum mendapat pengakuan aspek sejarah, aspek budaya, aspek sosioekonomi dan aspek tata ruang wilayah. Hal ini dapat dilihat pada hutan keluarga/swasta dan hutan prefektur yang sebagian besar menyelimuti kawasan perbukitan dan dataran landai kaki pegunungan. Sedang hutan nasional pada umumnya tersebar di puncak dan lereng tajam pegunungan. Banyak bukti sejarah dan budaya diketemukan di lahan hutan keluarga/swasta menunjukkan bahwa semula, sebelum era industri semarak di Jepang, lahan tersebut digarap sebagai lahan pertanian tanah kering. Pada 1986 luas hutan keluarga/swasta mencapai 14,68 juta hektar, meliputi hutan alam 9,82 juta hektar dan hutan tanaman 4,86 juta hektar. Jumlah pemilik 2,8 juta orang lebih mewakili keluarga, swasta berupa koperasi/perusahaan industri kayu dan badan hukum organisasi keagamaan (hutan di sekitar candi Budha atau tempat pemujaan Shintoisme). Hampir 90% hutan tersebut adalah milik keluarga. Oleh karena itu pengelolaan hutan keluarga/swasta di Jepang digolongkan pada pengusahaan komoditi skala kecil. Pada bagian kalayak tersebut rata-rata tiap keluarga mengelola 2,6 hektar. Jadi sangatlah masuk akal apabila kegiatan kehutanan, seperti penebangan dan penanaman sering kali dilaksanakan secara selang seling

sepanjang tahun oleh para keluarga/swasta yang bergabung dalam suatu perhimpunan kerjasama masyarakat perhutanan. Melalui perhimpunan itulah peningkatan mutu pengelolaan hutan keluarga/swasta di suatu wilayah menggantungkan nasib pada kejujuran dan kesetiakawanan kerjasama kelompok. Rakyat Jepang telah mengamanatkan prinsip gotongroyong tersebut dalam Undan-Undang Perhimpunan Kerjasama Masyarakat di Bidang Kehutanan (the Forestry Cooperative Association Law). Hutan Prefektur dikelola oleh pemerintah tingkat lokal. Di Jepang terdapat 2,69 juta hektar hutan prefektur atau sering disebut juga sebagai public forest. Bersama hutan nasional, hutan prefektur ditata sesuai kondisi lapangan, sehingga dapat berfungsi sebagai stabilisator penyediaan log kayu, pencegah erosi, pelindung sumber air dan plasmanutfah flora fauna asli, tempat rekreasi alam dan subyek yang menyumbangkan keberadaan dan potensinya bagi peningkatan aspek sosio-ekonomi masyarakat pegunungan. Hutan nasional sebagian besar menutup paras pegunungan pada ketajaman lereng lebih 30 derajat. Oleh karena itu kebutuhan manusia yang dapat diperoleh dari hutan ini, menurut skala prioritas diatur sebagai berikut : Konservasi tanah dan air  Perlindungan potensi alam  Rekreasi dan pendidikan alam  Produksi kayu  Pengembangan aspek sosio-ekonomi masyarakat pegunungan. Berdasar tebaran hutan nasional, 2,58 juta hektar berupa hutan alam yang dimanfaatkan untuk melestarikan sumber air, plasma nutfah dan memberi rasa aman manusia dari bahaya banjir, erosi dan tanah longsor. Untuk menunjang biaya perawatan, 2,17 juta hektar kawasan hutan konservasi tersebut ditetapkan sebagai Taman Alam yang dikelola dengan sistem Taman Nasional. Fasilitas jasa rekreasi alam, olah raga di alam bebas, pendidikan dan penelitian alam tersedia dalam sistem tersebut. Tebaran kawasan konservasi hutan nasional menonjolkan pula kawasan khusus semacam cagar alam untuk perlindungan potensi alam (habitat plasmanutfah flora fauna asli). Luas kawasan khusus tersebut lebih kurang 130.000 hektar tersebar pada 10 lokasi. Sedang kawasan konservasi hutan nasional yang

potensinya khusus dilindungi untuk merunut sejarah pengelolaan hutan di Jepang, menurut data 1990 ada 924 lokasi dengan total luas sekitar 280.000 hektar. Berdasarkan sistem taman nasional, dalam rangka menyemarakkan kegiatan rekreasi alam dan olah raga di alam bebas, pemerintah menetapkan 1230 lokasi untuk kegiatan tersebut di dalam taman alam hutan nasional. Demikian besar minat masyarakat Jepang untuk memanfaatkan waktu rekreasinya di dalam hutan, telah terbukti bahwa pada 1990 lebih dari 230 juta orang mengunjungi 1230 lokasi tersebut. Ini berarti, setiap orang Jepang mengunjungi hutan rekrteasi di taman alam hutan nasional rata-rata dua kali setahun. Taman alam hutan nasional seluas 2,17 juta hektar yang dikelola berdasarkan sistem taman nasional tersebut, meliputi 1,18 juta hektar sepenuhnya dibawah kewenangan JFA dan 0,99 juta diserahkan kewenangan pengelolaannya kepada pemerintah lokal setingkat prefektur. Selebihnya yaitu 5,31 juta hektar hutan nasional adalah hutan tanaman, meliputi 3,37 juta hektar dikelola sepenuhnya oleh JFA dan 1,94 juta hektar dikelola JFA bersama masyarakat pegunungan dengan sistem bagi hasil guna memperbaiki dan meningkatkan kondisi sosio-ekonomi yang lebih baik. Kontribusi hutan nasional melalui pengembangan hutan tanaman tersebut pada dasawarsa 1980-an berhasil menyediakan kebutuhan kayu domestik tidak kurang dari 30% setiap tahun. Hutan dalam peta Hubungan diplomatic dan perdagangan dengan beberapa negara di Eropa barat pada era Meiji (1868-1911), berdampak positip ke hutan Jepang. Pada waktu itu beberapa rimbawan muda diberi kesempatan studi oleh Pemerintah untuk memperdalam ilmu kehutanan di Jerman. Setelah selesai dan berulangkali menguji coba di negaranya sendiri, beberapa tahun kemudian rimbawan plus tersebut menghasilkan pola tanam dan teknik pengelolaan hutan ala barat yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat diterima oleh pola dasar tradisional produk hutan Jepang. Klarifikasi pemilikan atau penguasaan kawasan hutan sebagai janin penataan hutan, tidak bertentangan dengan sejarah dan budaya bangsa. Oleh karena itu sudah selayaknya apabila di Jepang terdapat 3 in 1

kekuatan organisasi untuk tumbuh kembang hutan yang diatur dan dikuasai negara, yaitu : Pemerintah Pusat mengelola hutan nasional, Pemerintah Daerah mengelola hutan prefektur dan sebagian taman alam hutan nasional. Adapun masyarakat dalam kerjasama kelompok, mengelola petak-petak hutan keluarga/swasta. Pemetaan hutan nasional dan hutan prefektur secara terestris berkembang pesat waktu itu. Syahdan, ketika perekonomian Jepang melesat ke langit (1960-an sampai sekarang), peta hutan semakin disempurnakan dengan foto udara dan citra saltelit. Tebaran informasi kandungan kawasan hutan makin marak di dalam peta. Melalui pembakuan kode - kode di dalam peta, semakin sempurnalah rimbawan Jepang bercumbu dengan bayang-bayang hutan yang badan wadhagnya – sesuai analisis yang tersurat – ada di lapangan. Penampilan peta situasi kawasan hutan di Jepang tak jauh beda dengan peta situasi kawasan hutan yang dikelola Perum Perhutani di Pulau Jawa. Maklumlah, karena Senshe penataannya sama yaitu pakar dari Jerman. Di dalam peta situasi hutan nasional dan hutan prefektur – seperti yang pernah saya lihat di Oomata National Forest dan Distrik Owase – dengan skala 1 : 10.000 dipaparkan informasi antara lain yaitu : petak, anak petak lengkap dengan tanda batas, nomor dan luas (dalam satuan hektar); alur sungai, jalan setapak, jalan inspeksi/jalan angkut kayu, jenis-jenis pohon dominan, tahun tanam/umur (untuk hutan tanaman) dan potensi tegakan (m3/ha). Di Jepang, peta situasi bukan peta kerja, tetapi rencana kerja. Di atas peta situasi inilah segala data dan informasi yang bermanfaat untuk menyusun rencana kerja dicurahkan. Data konfigurasi lapangan yang diperoleh dari peta topografi skala 1 : 50.000, dapat lebih diyakinkan dengan survei terestrial langsung di lapangan. Mengingat kelabilan tanah Jepang, siapa tahu garis kontur meleset dan terjadi perubahan. Kiranya perlu saya sampaikan bahwa, peta topografi – pada umumnya skala 1 : 50.000 – adalah peta dasar yang digunakan Jepang untuk mengungkap informasi spesifik berskala nasional dan bersifat strategis, dari suatu lembaga pemerintah yang pekerjaannya berkaitan dengan kawasan. Contoh : JFA memiliki

peta petak-petak kawasan hutan di atas peta topografi skala 1 : 50.000 dan petak hutan diatas peta topografi skala 1 : 5.000. Selanjutnya, bersumber dari peta situasi yang sarat kode-kode perencanaan untuk kepentingan pelaksanaan diseleksi petak per petak atau anak petak per anak petak yang ada, dicomot nomornya, kemudian dikelompokkan – di peta dengan warna yang sama – sesuai dengan kelompok pekerjaan yang akan dilaksanakan pada tahun yang bersangkutan. Petak-petak hutan yang tegakkannya direncanakan akan ditebang dikelompokkan pada kelompok pekerjaan tebangan, demikian halnya untuk kelompok pekerjaan tanaman dan pemeliharaan. Penampilan petak/anak petak – sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan – menjadi lebih gamblang dalam pola pikir rimbawan Jepang apabila dipindahkan ke peta topografi sakala 1 : 5.000. Peta ini menjadi peta kerja. Berdasar peta kerja, diperhitungkan perkiraan biaya pekerjaan yang menyangkut berbagai aspek, antara lain aspek lingkungan pekerjaan, hari orang kerja, material, efisiensi dan efektifitas pekerjaan, keselamatan kerja, sarana kerja dan lain-lain. Informasi petak hutan tanaman yang sudah waktunya tertimpa pekerjaan tebangan pada tahun yang bersangkutan, sebagaimana contoh berikut ini : Areal pekerjaan Sistem tebang Kawasan hutan nasional Nomor petak Nomor anak petak Umur tegakan Luas Volume tegakan Hutan tanaman campuran Terdiri dari jenis - Sugi 82% tebangan tebang habis Oomata 37 37 – huruf kanji 56 tahun 9,03 hektar 410 m3/ha

- Hinoki - Daun lebar Sistem eksploitasi - panjang skyline - daya angkut max

16% 2%

766 meter 1.300 kilogram

Apabila pada petak/anak petak hutan tidak diperkenankan pekerjaan penebangan, tetapi perlu pekerjaan pemeliharaan dan pengamanan yang terus menerus sepanjang tahun, maka informasi yang ditampilkan petak/anak petak tersebut sebagaimana contoh berikut ini : Areal perlindungan hutan untuk mempelajari sejarah hutan alam dan tanaman di Jepang : Kawasan hutan nasional Nomor petak Nomor anak petak Umur tegakan dominan Luas Hutan campuran terdiri dari Oomata 47 47-huruf kanji + 229 tahun 9,3 hektar Mendekati Hutan alam 50% 12% 25% 13% 400 m3/ha Oomata 47 47-huruf kanji 169 tahun 1,48 hektar Mendekati Hutan tanaman 1% 94% 2% 2.397 m3/ha

- Tsugu sieboldii - Sugi - Abies firma - Daun jarum lain - Daun lebar lain Volume tegakan

Hutan keluarga/swasta dalam peta ditampilkan hampir mirip hutan nasional atau hutan prefektur. Bedanya, nomor petak di hutan tersebut identik dengan nama pemilik. Luas pemilikan yang relatif sempit – rata-rata 2,6 hektar per keluarga – boleh jadi produksi skala kecil. Misal : bibit sugi ditanam dengan kerapatan tinggi (jarak tanam 90 x 90 centimeter), rotasi/daur 20 tahun dan pemeliharaan intensif akan menghasilkan kaifu maruta (kaso Jepang) pada lahan yang relatif sempit. Pada bagian petak yang lain, dapat ditanam sugi atau hinoki untuk sasaran produksi yang lain, missal : miyagi maruta. Pada hutan keluarga yang masih berwujud hutan alam, diatur rotasi panen kayu dari jenis pohon yang dapat dikelola dengan copies system (trubusan), misalnya : pohon jenis Quercus phyllraeoides, dikenal Jepang sebagai kayu ubamegashi untuk bahan baku arang binchotan. Kegotongroyongan yang hampir mirip mapalus di Sulawesi Utara atau sambatan di Yogyakarta, adalah inti dari pekerjaan tanaman atau tebangan di wilayah hutan keluarga. Kinerja produksi dan pelestarian hutan keluarga menjadi ukuran kekuatan organisasi dalam perhimpunan kerjasama masyarakat perhutanan di Jepang.

HUTAN ANDALAN EKONOMI DAN EKOLOGI
Hormati teori sehat, kembangkan gagasan segar Gunakan waktu sepenuh mungkin,,,,,,,,,,,,

Keichiro Honda, 1956 Dunia mengenal Jepang sebagai negara rawan bencana alam, Paras bumi tak rata, jalur vulkanik aktif dan iklim yang menggoda, menciptakan Bangsa Jepang penuh karakter siaga menghadapi ketidakpastian. Hutan di Jepang berkembang pada temperamen sosial demikian, paralel juga sebagai bagian alam biotik tumimbal lahir, potensinya menjadi materi kesinambungan dan pengembangan ekonomi sekaligus diandalkan sebagai komponen stabilitas lingkungan. Perkembangan hutan tanaman di Jepang yang merebak lahan masyarakat pegunungan , tampak dititikberatkan pada kepentingan perdagangan dan industri. Namun Globalisasi lingkungan melanda dunia ekonomi sekarang ini, sehingga peran konservasi alam naik panggung belantara di negara manapun, termasuk Jepang, yang sebenarnya sudah sejak Meiji panggung itu dibangun. Panggung belantara tanpa sekat pemisah prinsip ekonomi dan prinsip konservasi dalam system pengelolaan di Jepang, memberi kontribusi tradisional terhadap pembinaan spiritual dan intelektual bangsa serta penyediaan kayu dan hasil hutan lainnya bagi kebutuhan masyarakat. Sementara itu, sejumlah kran import kayu punya peluang cukup leluasa untuk dibuka, di antara kemandegan pola pembakuan tradisional produk akhir kayu domestik.

Paras bumi yang tak rata Jepang adalah negara kepulauan di Asia Timur yang membentang sepanjang lebih kurang 3.000 kilometer. Empat pulau besar mendominasi negara ini. Mulai dari utara ke selatan yaitu Pulau Hokkaido, Pulau Honsyu, Pulau Shikoku dan Pulau Kyusyu. Selebihnya pulau-pulau kecil, lebih dari 3.000 pulau, sehingga negeri matahari terbit ini memiliki total daratan 370.000 kilometer persegi. Menurut Asiaweek magazine tanggal 4 september 1992 daratan tersebut dihuni penduduk 124,6 juta jiwa. Paras bumi berupa daratan tersebut, 75 % merupakan tonjolantonjolan berbentuk gunung, pegunungan dan perbukitan. Lempeng batuan dan aktivitas lava menjadi biang timbulnya tonjolan-tonjolan tersebut sejak dulu, yang secara evolusioner menurut hikayat ilmu vulkanologi, membentuk alur lava bawah tanah pegunungan vulkanik aktif sampai sekarang. Penampilannya antara lain gunung meletus, bumi berguncang, tanah retak, timbul sumber air panas, tanah longsor dan cuaca tak menentu. Itulah sebabnya mengapa bangsa Jepang memiliki naluri dan ketajaman perkembangan teknologi bangunan untuk mengantisipasi kondisi paras bumi yang demikian. Menurut JFA, pada 1989 permintaan masyarakat akan bangunan properti perumahan bahan baku kayu masih cukup tinggi. Posisinya yaitu setiap membangun 14 rumah kayu terdapat 19 rumah non kayu yang dibangun. Posisi ini jauh berbeda pada sembilan tahun sebelumnya. Pada 1980, setiap membangun 15 rumah kayu terdapat bagunan 11 rumah non kayu baru. Iklim diantara berkah dan bencana Kepulauan Jepang dipengaruhi iklim yang bervariasi sehingga menimbulkan zonasi dari Temperate Zone di Wakayama hingga Sub Tropical Zone di Hokkaido. Meskipun demikian bangsa Jepang selalu dapat merasakan berkah kelembutan variasi tersebut.

Letak Jepang di bawah zona udara yang selalu dilewati arus angin dari udara tekanan tinggi ke udara tekanan rendah setiap tahun. Pada musim dingin terjadi dominasi arus angin dari udara tekanan tinggi diatas daratan Benua Asia, dan pada musim panas terjadi arus angin dari udara tekanan tinggi diatas Samudra Pasifik. Arus angin dari Samudra Pasifik inilah, biasa menjadi biang bencana alam taifun. Taifun menghantam Jepang hampir setiap tahun, terutama di beberapa bagian wilayah pantai timur. Untuk memantau dan mencatat jalur lintasan gerakan taifun ini, beberapa taifun khas diberi nomor sesuai wilayah serangan rutinnya, misalnya di Distrik Shingu Prefektur Wakayama wilayah selatan dikenal taifun nomor 22. Gerakan taifun pada lintasannya meninggalkan jejak, antara lain berupa pohon tumbang dan kerusakan tegakan hutan. Terjadi tebangan tak terduga, apabila belum masak tebang kualitas kayu rendah, akhirnya tidak laku dijual, akibat lain yaitu air sungai keruh, fasilitas umum dan rumah penduduk rusak. Itulah iklim di Jepang, disatu pihak mendatangkan kelembutan dan kesejahteraan, seperti di Prefektur Wakayama akan terjadi zona temperate sejuk dan bersahabat di musim panas. Dilain pihak masyarakat harus siaga dan menerima nasib dihantam taifun. Black Japan Current, arus air laut di Samudra Pasifik yang terlihat bagai pita berwarna biru gelap dari pantai Shigu, boleh jadi sebagai pertanda kelembutan datang, berupa zona temperate sejuk di musim panas. Tetapi di balik keceriaan, masyarakat Shigu siap menghadapi taifun nomor 22.

Semakin mengendur tekanan udara di Benua Asia dan semakin naik tekanan udara di atas Samudra Pasifik, maka terjadilah arus angin basah dari pasifik yang tertahan pelan-pelan dan menumpuk menjadi air di udara di atas Jepang. Pada saat inilah, bulan Juni, Juli sampai akhir September, yaitu bersamaan dengan musim panas, Jepang diguyur hujan. Petani memelihara padi di sawah hasil tanam bulan Mei. Curah Hujan begitu tinggi di Jepang, JFA mencatat antara 3.000 – 4.000 milimeter pertahun. Angka ini menyebabkan Jepang sebagai negara tertinggi curah hujan dan kelembabannya di dunia. Tipe hutan klasifikasi horisontal Paras bumi Jepang, 75 % berupa tonjolan besar, kecil dan berderet, di selimuti oleh iklim yang tinggi curah hujannya. Hal tersebut, antara lain menjadikan keanekaragaman flora fauna Jepang dalam kondisi alam beranekaragam tipe. Keanekaragaman ini menunjukkan perbedaan tipe zonasi yang cenderung ke arah klasifikasi horisontal. Secara garis besar klasifikasi hutan alam tersebut terbagi dalam lima tipe hutan yaitu: hutan zona sub frigid, hutan campur daun lebar dan jarum, hutan zona temperate dingin, hutan zona temperate hangat dan hutan zona sub tropika. Hutan zona sub frigid Tipe hutan alam ini menyelimuti pegunungan di pulau Hokkaido dan zona sub alpine di pulau Honsyu dan pulau Shikoku pada temperatur ratarata dibawah 6 derajat celcius. Ditengah-tengah daratan pulau Honsyu tipe hutan ini sangat luas tebarannya. Jenis-jenis pohon yang mendominasi meliputi : Abies veitchii, abies mariesii, Picea hondoensis dan Tsuga diversifolia. Jenis-jenis tersebut kadang-kadang membentuk suatu formasi yang dominan di suatu wilayah, misalnya Abies mariesii di pulau Honsyu wilayah utara; formasi jalur Tsuga difersifolia dan Abies veitchii di sepanjang

pantai Pulau Honsyu. Di pulau Hokkaido tipe hutan ini didominasi Abies sachalinensis dan Picea jezoensis. Hutan campur daun lebar dan daun jarum Pada kondisi temperatur harian rata-rata, tipe hutan alam ini menduduki zona temperate dingin di pulau Hokkaido. Jenis pohon yang dominan antara lain Quercus mongolica, Q dentata, Ulmus clavidiana, Fraxinus mandshurica dan Acer mono. Tebarannya di daerah dataran rendah pulau Hokkaido kecuali wilayah selatan. Fagus crenata dominan di wilayah selatan. Jenis pohon ini, populasinya dimanfaatkan sebagai formasi yang menunjukan perubahan tipe hutan yaitu dari tipe hutan zona temperate dingin di dataran rendah menuju ke tipe hutan zona sub frigid di dataran tinggi. Hutan Zona temperate dingin Tipe hutan ini dapat ditemukan di pulau Honsyu dari wilayah tengah menuju ke wilayah utara. Hamparan hutan sebagian besar menyelimuti paras pegunungan dengan temperatur harian rata-rata 6 – 13 derajat celcius. Pada tipe hutan ini ditemukan jenis pohon lebar deciduous (mengugurkan daun) yang dominan yaitu Fagus crenata yang kemudian diikuti Quercus mongolica, Acer spp, dan Asculus turbinata. Di wilayah yang menunjukkan perubahan tipe hutan dari zona temperate hangat ke zona temperate dingin terdapat beberapa jenis pohon antara lain yaitu Abies firma, Tsuga sieboldii dan Thujopsis dolabrata. Diantara kedua jenis pohon tersebut yang terakhir, secara alami ditemukan pula jenis-jenis pohon jarum (coniferous) : Chamaecyparis obtusa (=Hinoki) dan Cryptomeria japonica (=Sugi).

Hutan zona temperate hangat Tipe hutan ini hadir di pulau Kyusyu, Pulau Shikoku dan wilayah selatan pulau Honsyu. Temperatur harian rata-rata di kawasan hutan ini berkisar antara 13 – 21 derajat celcius. Pohon yang dominan yaitu Machilus thumbergii, Quercus spp, dan Castanopsis spp. Pada dataran tinggi zona hutan ini berbatasan dengan zona temperate dingin didominasi jenis Quercus acuta, sementara jenis Castanopsis spp tersebar diantaranya. Hutan zona sub tropika Di kepulauan Jepang yang terletak di Samudra Pasifik pada temperatur harian lebih dari 21 derajat Celcius ditemukan tipe hutan ini. Tipe hutan ini meliputi beberapa jenis pohon tropis dan sub tropis antara lain Ficus wightiana, F.retusa, callopylum inophylum dan Rhyzophoraceae. Namun demikian terdapat pula jenis-jenis pohon hutan zona temperate hangat antara lain Castanopsis cuspidata, Quercus spp, Machillus thumbergii dan Distylium racemosum. Coniferae primadona hutan tanaman Dua jenis pohon domestik yang kayunya digemari dan sekaligus potensial dibina untuk memenuhi permintaan konsumen di Jepang adalah Chamaecyparis obtusa (Hinoki (Jpn): Cypress (Ing) dan Cryptomeria japonica ((Sugi (Jpn): Cedar (Ing)). Manfaat kayunya sudah lebih dari tiga abad menjadi bagian tata budaya Jepang yang disimpan dan dipelihara dalam ramuan bangunan rumah, peralatan rumah tangga maupun sarana lain. Populasi kedua jenis pohon sekarabat dalam keluarga Coniferae (keluarga pohon daun berbentuk jarum) ini, menghampar paras pegunungan Jepang, terutama di zona temperate hangat dan zona transisi ke arah zona temperate dingin. Kecepatan penghamparan dalam struktur

monokultur hutan tanaman, cenderung dipacu berdasarkan pertimbangan ekonomi dan konservasi tanah. Konservasi jenis sebagai tujuan penyelamatan hutan alam dari degradasi genetis menjadi pertimbangan sekunder ekonomi dan konservasi tanah. Akibatnya, pengembangan hutan tanaman di Jepang memacu kerawanan ekologis. Banyak komponen alam biotis berkurang populasinya dan perlakuan manusia pun diperlukan untuk pembudidayaan. Berbagai rekayasa untuk mengendalikan kerawanan ekologis telah diterapkan di lahan pengembangan hutan tanaman. Menurut Toshiki Aoi, Phd dari Wakayama Experimental Forest, antara lain yaitu dengan pola sabuk gunung dan pola Surjan gunung. Pola sabuk gunung yaitu dari puncak ke kaki terdapat hamparan hutan dengan susunan: belukar  hutan tanaman sugi hinoki  hutan alam/hutan tanaman daun lebar  hutan tanaman sugi hinoki  hutan alam/hutan tanaman daun lebar. Belukar dan hutan alam/ hutan tanaman daun lebar dipertahankan atau dibentuk antara lain untuk habitat satwa liar. Pola surjan gunung biasa diterapkan di pegunungan yang membujur di kanan kiri sungai. Polanya yaitu seperti lajur vertikal yang berjajar dan berselang seling antara lajur hutan tanaman sugi hinoki dan lajur hutan alam/ hutan tanaman daun lebar. Dalam hutan tanaman baik pola sabuk gunung maupun pola surjan gunung pentapakannya adalah bagian lereng atas hinoki dan lereng di bawahnya untuk sugi. Hinoki tahan hidup dan berkembang di lereng atus (drainazed) dan tipis solum tanah ( kurang dari 15 centimeter). Siasat lain yaitu dengan membuat hutan tanaman campuran. Meliputi jenis-jenis pokok hinoki sugi dan beberapa jenis daun lebar. Setelah tanaman

berumur antara 5 sampai 10 tahun diadakan penjarangan selektif dengan prinsip kanopi yang tertekan ditebang. Hutan tanaman di Jepang dibentuk dengan tingkat kerapatan populasi pohon yang tinggi. Jarak tanam antara 1 dan 2 meter, bahkan sebelum penjarangan ada yang kurang dari 1 meter. Dasar pertimbangannya, sebagaimana dijelaskan oleh Toshiki yaitu: Apabila langsung ditanam dengan kerapatan rendah dan tanpa proses penjarangan (thinning), akan diperoleh produk kayu kualitas rendah, antara lain : jarak lingkar tahun pada penampang batang lebar-lebar dan kayu bengkok-bengkok. Ketegaran log silinderis akan tampak pada kerapatan lingkaran tahun dan kelurusan batang. Sugi ditanam lebih intensif karena lebih mudah dan cepat tumbuh, terutama di lahan atus dan tebal solum tanahnya (lebih dari 15 centimeter). Penggunaan log silinderis sugi sebagai Hashira (tiang penyangga rumah tradisional) sangat digandrungi oleh orang Jepang. Keterbatasan habitat yang cocok untuk hinoki menyebabkan jenis ini menduduki tebaran kedua dalam kancah hutan tanaman di Jepang. Kualitas kayunya cukup baik untuk segala keperluan, termasuk Dodai (balok horisontal yang diletakan diatas pondasi rumah). Di lahan yang tidak cocok untuk sugi dan hinoki dikembangkan hutan tanaman Pinus spp dan Larix Leptolepis. Biasanya di pegunungan yang lebih tinggi, dingin dan atus lahannya. Jenis-jenis lain yang dikembangkan untuk hutan tanaman yaitu : Picea jezoensis dan Abies sachalinensis di pulau Hokkaido, sedangkan Pinus luchuensis dan Casuarina equisetifolia ditanam di Okinawa. Jarak tanam awal menentukan kerapatan hutan tanaman di Jepang. Penepatannya berdasarkan : jenis tanaman, kelerengan lahan dan target penggunaan kayu. Sebagai contoh, untuk mendapatkan hashira pada kelerengan lahan sekitar 30 derajat, setiap hektar ditanam 2.500 – 4.000 bibit

sugi atau 3.000 – 5000 bibit hinoki. Pemeliharaan bibit yang ditanam hingga mendapat hashira hingga 70 tahun kemudian, yaitu pembersihan dari semak belukar atau tanaman pengganggu (weeding) sekali atau dua kali setiap tahun selama 6 – 7 tahun sejak ditanam. Pemangkasan cabang tua ( prunning ), jauh dibawah buntut bajing dimulai setelah weeding selesai, yaitu pada waktu diameter batang tanaman setinggi dada mencapai 6 – 7 sentimeter. Perlakuan prunning akan memberikan penampakan log kayu hashira lurus, konsisten diameternya dari bawah ke atas dan tanpa mata kayu (knots) di permukaan batangnya. Saling silang cabang dan daun pada konstruksi kanopi tegakan, dapat menyebabkan peran matahari kurang efektif memacu pertumbuhan, demikian halnya saling silang akar yang bersaing mencari hara, sehingga diperlukan penjarangan (thinning), yaitu pohon yang tertekan kanopinya atau jelek posturnya ditebang. Keterbatasan tenaga kerja dan daya beli kayu domestik yang kadang-kadang anjlog di pasaran, merupakan pertimbangan pemerintah dan masyarakat perhutanan di jepang untuk melaksanakan tata cara penjarangan dengan prosedur tata waktu tidak mengikat. Sudah menjadi kebiasaan bahwa, untuk mendapatkan batang hashira kualitas no. 1, penjarangan di suatu petak hutan tanaman sugi atau hinoki sama umur dimulai pada waktu tegakan berumur 5 –10 tahun, untuk selanjutnya dilakukan dengan interval antara 5 – 10 tahun, empat sampai lima kali sebelum penebangan. Yang penting dalam perlakuan ini adalah hasil akhir, yaitu kualitas tegakan sesuai target hashira. Disamping itu, selama pemeliharaan 10 – 20 tahun yaitu masa menunggu giliran ditebang setelah penjarangan terakhir, fungsi hutan sebagai pengendali erosi dan tanah longsor daerah pegunungan tetap terjamin.

Log hasil penjarangan yang belum mencapai hashira dan boleh dipastikan tidak laku dijual, ditinggalkan begitu saja di lantai hutan, dengan harapan proses pelapukan menghancurkan kayu tersebut menjadi hara. Untuk tanaman sugi atau hinoki, rimbawan Jepang tidak diwajibkan mengenal pemupukan. Usaha tambahan dapat diterapkan selama menunggu giliran ditebang, setelah penjarangan terakhir, yaitu lantai hutan tanaman tersebut ditanami beberapa jenis tanaman komersial yang tahan naungan dengan intensitas pencahayaan matahari 70 – 85%, terjadilah dua atau tiga strata tumbuhan. Intensifikasi dan diversifikasi pengolahan hutan tersebut akan meningkatan nilai tambah atau pendapatan rutin. Rombak dan tanam untuk dimanfaatkan. Pemasaran kayu di Jepang berkembang sejak 1620. Pada pertengahan tahun 1600 – an, di Distrik Yoshino Prefektur Nara mulai ada budidaya hutan tanaman sugi, sebagai salah satu antisipasi masyarakat terhadap perkembangan industri dan pemasaran kayu di Osaka. Kota Osaka pada waktu itu terkenal seebagai pusat perdagangan terbesar di Jepang. Sejarah mencatat perkembangan hutan tanaman sejak 1660, yaitu di Ohme dan Nishikawa, dua daerah pinggiran Edo. Edo pada waktu itu menjadi pusat pemerintahan Jepang. Lokasi lain yaitu Distrik Owase Prefektur Mie, Distrik Tenryu Prefektur Shizouka dan beberapa distrik yang berhadapan langsung dengan pusat-pusat konsumen kayu dan dapat dilayani melalui fasilitas transportasi sungai. Kehutanan dalam pengertian administrasi pengelolaan mulai berkembang sejak saat itu. Pada era Meiji ( 1868 – 1911 ) , sepanjang aselerasi modernisasi Jepang, beberapa perubahan mengambil tempat di sistim pengelolaan

hutan, antara lain yaitu klarifikasi pemilikan dan penguasaan lahan hutan. Pada waktu itu mulai berkembang penerapan teknologi barat dalam sistim pengelolaan hutan di Jepang. Dalam skala besar, proyek-proyek tanaman hutan mulai dikembangkan tidak hanya untuk kepentingan ekonomi, tetapi telah dijuruskan pula pada upaya pengendalian erosi dan penyelamatan sumber-sumber daya alam hayati yang sekiranya, pada gilirannya nanti, dapat meningkatkan peran hutan sebagai sumber bahan baku produk-produk hayati lainnya. Selama perang dunia II aktivitas tanam hutan berhenti total, kemudian mulai lagi seusai perang dengan mobilisasi gerakan penghijauan terutama di daerah-daerah yang berantakan. Sistem pengelolaan hutan warisan era Meiji mengalami perubahan bentuk fisik, namun tempaan pengalaman tidak merubah dan menyurutkan semangat bangsa Jepang untuk terus berurusan dengan hutan. Di kawasan hutan nasional secara besar-besaran terjadi penebangan pohon dan perombakan sebagian hutan alam pegunungan menjadi hutan tanaman. Hal tersebut dapat dimaklumi sehubungan dengan permintaan kayu yang meningkat untuk membangun perumahan dan perbaikan fasilitas umum yang hancur karena perang. Sebagian lahan milik masyarakat yang masih penuh pohon-pohon jenis daun lebar, dirombak dan ditata kembali menjadi tanaman jenis konifer. Kebutuhan kayu bakar dan arang sangat besar pada waktu itu, sebagai jawaban masyarakat terhadap sulitnya bahan bakar minyak dan gas. Upaya tersebut dalam sejarah tercatat bahwa, proses perbaikan ekonomi Jepang tidak lepas dari peran dan ketekunan masyarakat meningkatkan nilai tambah hutan dari arang menjadi bahan bangunan, melalui revolusi pembangunan hutan tanaman. Hasilnya sudah dinikmati masyarakat secara hati-hati, kurang lebih satu dasawarsa terakhir ini. Kehati-hatian mereka semata-mata didasarkan pada komitmen pembakuan properti kayu bahan bangunan yang dihasilkan, sejak pohon

atau tegakan ditanam yaitu : bentuk, ukuran batang, kualitas dan ornamen tradisional warisan nenek moyang yang tetap dipelihara sampai sekarang. Meskipun pemanfaatan sumber daya hutan berkembang sesuai laju penerapan teknologi dan rekayasa genetika guna meningkatkan kualitas fisik produksi kayu, pada dasawarsa terakhir ini terasa ada pengapungan yang disebabkan oleh berkembangnya produk industri non kayu dan perdagangan internasional yang besar peluangnya untuk yendoka merebak bumi. Arus urbanisasi secara besar-besaran dari daerah pegunungan ke pusat-pusat industri dan perdagangan, menyebabkan kekurangan tenaga kerja produktif di bidang kehutanan. Dampak yang ditimbulkan antara lain : biaya pembangunan dan pengolahan hutan membengkak, produk kayu domestik turun dan persaingan harga dengan kayu import. Kayu import sengaja didatangkan pemerintah untuk memelihara hubungan dagang internasiaonal dan memenuhi target kebutuhan kayu di Jepang. Di lain pihak, dalam rangka menerapkan kebijaksanaan pemerintah di bidang pelestarian fungsi lingkungan hidup, exodus sebagian masyarakat pegunungan mendukung Jepang dalam upaya pelestarian hutan alam, tetapi tidak mendukung untuk hutan tanaman yang tradisi pengelolaannya membutuhkan banyak tenaga kerja. Sementara kondisi itu berlangsung, pemerintah bersama masyarakat pegunungan yang tersisa menggunakan kesempatan memacu penataan kawasan hutan untuk kepentingan lingkungan dan rekreasi. Konservasi sumber daya air sebagai tuntutan penyediaan air bersih bagi industri dan pemukiman di sentra-sentra metropolitan dan pencakar langit, merupakan salah satu sasaran pemerintah dalam mengembangkan kebijaksanaan moneter di bidang kehutanan.

Perhatian terhadap subsidi dan pajak dalam pengelolaan hutan keluarga / swasta semakin meningkat. Hiroshi Nakanishi, Walikota Hongu sekaligus Presiden Kumano Inter-forest Association menjelaskan bahwa, dalam kegiatan tanaman, subsidi dapat mencapai 70% dari seluruh biaya tanam. Sedang pajak bagi lahan yang dimanfaatkan untuk kepentingan hutan paling rendah bila dibandingkan dengan pajak lahan yang digunakan untuk kepentingan usaha lain. Hutan sebagai prasarana rekreasi, merupakan peluang pemerintah untuk mengembangkan perekonomian di sektor jasa pariwisata domestik. Hal ini menjadi perhatian khusus JFA untuk memenuhi kebutuhan rekreasi di alam bebas bagi masyarakat urban dan perkotaan. Beberapa kawasan hutan alam milik prefektur dan/ atau kawasan hutan nasional ditetapkan menjadi Taman Alam. Pertimbangan penetapan didasarkan pada keunikan alam dan warisan budaya di dalam kawasan hutan tersebut yang mempunyai daya tarik rekreasi dan pendidikan, antara lain : sumber air panas, sungai, jeram, tebing karang berbentuk aneh, habitat burung atau satwa liar lainnya dan kuil tempat sembahyang agama Budha atau Shinto serta beberapa aset kuno yang mungkin tidak ada duanya di dunia. Keunikan alam atau budaya tersebut perlu dilestarikan, sehingga tegakan pohon dalam kawasan hutan tidak boleh ditebang. Pemanfaatan hutan untuk jasa pariwisata menjadi tujuan utama Taman Alam yang dikelola dengan Sistem Taman Nasional. Di beberapa prefektur, Taman Alam tersebut dibawah pengawasan intensif Regional Forestry Office. Sebagai contoh adalah tiga Taman Alam yang sistem pengelolaannya dalam pengawasan Osaka Regional Forestry Office, yaitu: Taman Nasional Distrik

Kanasawa, Taman Nasional Yoshino Kumano di Distrik Owase dan Taman Nasional Daisen Oki di Distrik Kurayoshi. Fasilitas pendukung aktivitas pengunjung di dalam Taman Alam, Boleh dibuat atau disediakan di hutan keluarga / swasta sekitarnya, sebagai partisipasi mereka terhadap program wisata alam. Fasilitas tersebut dapat berupa jalan setapak, bumi perkemahan dan fasilitas lain yang tidak dapat merusak lingkungan. Kembali kepada pemanfaatan hutan tanaman sebagai sumber bahan baku bangunan kayu. Di Jepang kayu untuk bangunan rumah pada umumnya berbentuk silinder. Kondisi alam, sifat pohon yang ditanam dan rekayasa manusia Jepang dalam mengatur jarak tanam, menetapkan daur tegakan dan memelihara hutan tanaman akan membentuk batang silindris untuk berbagai keperluan ramuan rumah yang bermacam-macam ukuran panjang dan diameternya. Miyagi maruta untuk tiang rumah tradisional (hashira) adalah pembakuan batang silindris sugi atau hinoki yang berukuran tinggi 3 meter dan diameter antara 20 – 24 centimeter. Miyagi maruta apabila berasal dari tegakan sugi, tegakan tersebut berumur antara 50-60 tahun lebih, pada kondisi hutan tanaman setelah penjarangan terakhir, yaitu satu pohon menguasai lantai hutan rata-rata seluas 7 meter persegi dan tinggi kanopi antara 14 - 18 meter dari muka tanah. Dengan demikian untuk setiap tegakan sugi dimaksud, dapat menghasilkan 3 – 4 miyagi maruta. Kualitas sumber daya manusia di Jepang dapat diamati pada sistem pengelolaan hutan tanamannya. Pemeliharaan tegakan yang intensif sejak tanam hingga tebang dan kesetiaan mereka pada komitmen pembakuan produk hasil akhir, merupakan ekspresi tumpukan pengalaman rekayasa bertahun-tahun dari berbagai alternatif siasat bergumul dengan alam yang kurang ramah.

Pergumulan tersebut antara lain menghasilkan hutan tanaman di daerah pegunungan yang sebagian besar sangat fantastis kelerengannya. Hutan dengan tingkat kelerengan lahan 45 derajat keatas, menurut peraturan kehutanan di Indonesia menjadi hutan lindung mutlak , tetapi di Jepang dapat menjadi hutan produksi ; artinya hutan alam pada lahan tersebut, apabila bertentangan dengan kepentingan ilmu pengetahuan dan tata ruang wilayah setempat, boleh dikonversi potensinya menjadi hutan tanaman sama umur dan sama jenis. Semua hutan di Jepang multifungsi, meskipun potensinya dirubah, beban fungsi lindung pengatur tata air masih tetap menjadi sandangan pada proses pemeliharaan dalam konteks : menumpuk biomass di setiap batang tanaman selama daur yang ditetapkan. Untuk mejelaskan bagaimana rimbawan Jepang mengelola sepetak hutan tanaman, sejak tanam hingga panen, pada halaman ini saya sajikan contoh ilustrasi pengelolaan hutan tanaman sugi seluas 1 hektar. Suatu model hasil penelitian Wakayama Experimental Forest Hokkaido University, 1989.

Faktor-faktor yang tersaji pada ilustrasi tersebut adalah : jumlah bibit atau pohon, umur tegakan (tahun), diameter pohon setinggi dada (centimeter), tinggi pohon (meter), rata-rata luas penguasaan lahan masingmasing pohon (meter persegi), jumlah tegakan yang dijarangi (pohon) dan keredupan cahaya di bawah tegakan setelah penjarangan (%).

Rimbawan Jepang tidak mengenal tumpangsari dan pemupukan dalam kegiatan tanaman. Lapangan harus bersih. Kelerengan lahan memerlukan anggelan penceggah erosi dari tonggak, babatan semak belukar, sisa-sisa potongan kayu dan batu-batuan di lapangan tanaman tersebut. Kalau perlu ditahan dengan patok-patok kayu supaya tidak runtuh, Pekerjaan ini harus selesai sebelum musim dingin tiba. Pada awal musim semi segera dimulai kegiatan penanaman. Jumlah bibit yang ditanam sangat variatif. Ambang batas maksimum per hektar 8.000 bibit pada tabel tersebut ada hubungan dengan kelerengan 45 derejat, yaitu kelerengan tertajam yang mampu dijamah manusia terlatih dalam pekerjaan tanaman, tanpa menggunakan alat-alat khusus. Untuk membantu mempercepat bibit dan buruh tanam sampai ke lokasi pekerjaan , diinformasikan oleh Masaki Yamada – seorang ahli alatalat berat kehutanan di Shigu – bahwa, belum lama ini ada produk baru alat transportasi yaitu kereta monoril mesin Kubota berbusi satu, bahan bakar bensin. Alat ini mampu mengangkut beban maksimum 500 kilogram pada turunan atau tanjakan dengan kelerengan 45 derajat. Satu unit alat ini, lengkap dengan rill sepanjang 370 meter, harganya pada waktu itu 4 juta yen. Semua bibit sugi atau hinoki, tinggi rata-rata 0,5 meter berasal dari persemaian stek pucuk tanpa pupuk dalam waktu 1 tahun. Bibit dengan mudah dicabut begitu saja dari bedeng semai, karena medianya tanah gembur sehingga akar tetap utuh. Beberapa bibit telanjang akar itu, kemudian dibengket teratur untuk memudahkan pengangkutan. Tanpa perlakuan yang lain pada kondisi awal musim semi, bibit tersebut tahan 4 (empat) jam perjalanan menuju lapangan tanaman untuk langsung ditanam. Lebih dari 4 (empat) jam, prosentase hidup di lapangan banyak berkurang. Yang jelas setelah dicabut, semakin cepat ditanam semakin baik, Oleh karena itu bedeng semai selalu dekat petak hutan calon lapangan

tanam, 1 (satu) tahun sebelum petak hutan tersebut tuntas dibersihkan dan di tata untuk kerja tanaman. Luas lahan 1 hektar dengan kelerengan 45 derajat, ditanami merata 8.000 bibit sugi. Hasilnya kerapatan tanaman yang fantastis: setiap bibit menguasai lahan 1,25 meter persegi. Weeding mulai intensif dilaksanakan, terlebih di musim panas yang juga musim hujan. Disamping weeding pada tahun ke-1 tanaman ini, sulaman intensif dilaksanakan. Weeding berlangsung terus hingga tahun ke-5. Weeding berakhir, berarti awal kegiatan prunning dan thinning. Thinning I dilaksanakan pada tahun ke-5 dengan membabat habis pole sugi yang tertekan kurang lebih 700 batang, hingga ada keredupan cahaya dibawah kanopi sebesar 8 %. Prunning berlanjut dengan frekuensi yang semakin menurun hingga mendekati thinning terakhir. Sifat pekerjaan prunning tidak terlalu terikat jadual, meskipun kegiatan ini sangat penting untuk membentuk batang silindris. Yang penting setiap ranting dipotong hati-hati, untuk menghindari knots batang dan luka pada cabang yang tidak dipotong. Bekas luka dapat menjadi media serangga borer masuk, berlanjut merusak batang. Pada tahun ke – 10 thinning II dilaksanakan. Sejumlah 400 batang tertekan dikorbankan hingga tercipta suasana remang sebesar 5 %. Dimulai saat itu, diameter pole mencapai 5 centimeter dan tinggi rata-rata 5 meter. Setiap pole menguasai lahan sekitar 1 – 1,5 meter persegi. Tegakan pole sugi mulai melesat. Namun tiba-tiba pada tahun ke-12 dilaksanakan thinning III yang boleh dikata sebagai “pembantaian”, karena 2.200 batang tertekan atau diperkirakan akan tertekan pertumbuhannya kelak, pada saat itu dikorbankan. Keredupan ruang hutanpun kembali agak cerah, keremangan bawah kanopi menjadi 33 % dan luas penguasaan lahan setiap pohon ratarata meningkat menjadi 2 meter persegi. Gertakan ini memberi peluang tegakan melaju menumpuk biomas pada batang untuk 8 tahun

mendatang, Pada tahun ke – 20, sementara diameter batang rata-rata telah mencapai 10 centimeter dan tinggi 8 meter, kesadisan rimbawan Jepang terulang lagi. Kali ini, pada thinning IV, 1.100 batang pohon yang oleh awam sudah tidak begitu jelas statusnya tertekan atau tidak, ditebang oleh rimbawan spesialis thinning yang punya kelebihan futurolog memilih dan mempertahankan batang tegakan paling bermutu untuk ditebang diakhir daur. Akibat thinning IV keremangan bawah kanopi menjadi 25 %, semakin redup bila dibandingkan kondisi pada 8 tahun yang lalu. Penumpukan biomass berlangsung terus. Tahun ke-30 thinning V dilakukan, lagi-lagi ada korban, 1.000 batang pohon yang semakin sulit dipilih merelakan diri untuk mati sebagai martyr, ditebang demi laju pertumbuhan teman-temannya yang paling fit – semacam survival of the fittest buatan – pada waktu itu menuju ke akhir daur. Demikian seterusnya gerakan thinning ini dimunculkan. Tahun ke-37, Thinning IV 600 pohon jadi korban, tahun ke 42 thinning VII 500 pohon jadi korban. Lima tahun kemudian , tahun ke – 47 thinning VIII 300 pohon dikorbankan dan yang terakhir thinning IX, yaitu tahun ke –52, 200 pohon dibabat. Mulai saat itu, 1.000 pohon yang mempunyai perdikat terbaik di bidang perdagangan kayu, menanti eksekusi terakhir 10 atau 20 tahun lagi. Syarat pembakuan properti kayu bahan bangunan atau ramuan rumah ala jepang telah tertanam pada masing-masing batang tegakan tersebut. Tebang habis akhir daur hutan tanaman di sistem pengelolaan hutan negeri sakura ini, lebih cocok diistilahkan sebagai kegiatan meraup keringat jerih payah sumber daya rimbawan. Kayu thinning boleh dikata tidak ada nilainya sama sekali, karena belum memenuhi bakuan perdagangan. Kualitasnya dianggap belum maksimal, sehingga hanya ditinggal terserak malang melintang dilantai hutan. Untuk bahan bakar semakin tidak ekonomis lagi, semenjak elpiji import dan tenaga listrik makin mengimbas pedesaan di Jepang. Seandainya ada orang Jepang mau nyolong kayu di negerinya sendiri, kesempatan terbaik hanya

di TPK (Tempat Penimbunan Kayu/ Log Yard) atau tempat pelelangan. Di lokasi ini, jelas sebagian besar kayu teruji mutunya. Tebang habis di hutan tanaman, biasa dilaksanakan pada daur 60 tahun bahkan lebih, kadang-kadang ada yang sampai 100 tahun ditebang. Alasannya antara lain untuk memenuhi kebutuhan log berdiameter besar, mendapatkan kualitas log yang terbaik – selama kunjungan, saya tidak melihat dan mendapat informasi tentang log Sugi atau Hinoki tua yang gerowong – upaya mengatasi harga kayu yang belum impas dengan pencurahan jerih payah serta kesulitan tenaga kerja produktif atau operator peralatan tebang/ eksploitasi yang terbatas, Kegiatan penebangan dilakukan pada musim panas sampai awal musim dingin. Menjaga mutu kayu yang sudah dibangun demikian susah payah di kawasan hutan tanaman adalah sasaran pokok sistem eksploitasi hutan di jepang. Dengan demikian janganlah heran apabila harga 1 meter kubik kayu sugi yang terbaik mutunya dipelelangan dapat mencapai 0.50 juta yen atau 10 juta rupiah. Konsekuensi tersebut diantisipasi dengan kemajuan teknologi. Semarak peralatan eksploitasi berbau baja dan BBM merambah kawasan hutan secara terkendali, sejauh tenaga kerja produktif untuk padat karya sulit diraih. Sekarang, menebang pohon (felling) dan memotong batang sesuai ukuran baku (logging) menggunakan mesin gergaji rantai atau mesin gergaji potong (chain saw and cross cutting machine). Mekanisme yarding yaitu penyaradan log dari lokasi tebangan ke logyard menggunakan traktor dan kabel. Sistem kabel dinilai paling praktis dan efisien untuk eksploitasi hutan di pegunungan Jepang. Angkutan log dari logyard ke penampungan kayu atau ke tempat lelang, dahulu di beberapa distrik menggunakan lori, namun sekarang sudah ditinggalkan karena keterbatasan mobilitasnya, truk atau trailer mengganti kedudukan dan fungsi alat angkut tersebut, sehingga meningkatkan

kepadatan jaringan jalan dan membangun jembatan di dalam hutan, mulai dipertimbangkan kesesuainnya dengan efisiensi pengelolaan hutan. Berdasarkan catatan JFA tahun 1990, di hutan nasional terdapat total panjang jalan tak kurang dari 40.000 kilometer. Ini berarti bahwa setiap hektar hutan nasional terdapat jalan hutan dengan panjang rata-rata 5 meter, sedang di hutan tanaman milik masyarakat hanya 2.500 kilometer atau 0,5 meter per hektar. Oleh karena itu, di Jepang jalan hutan di hutan nasional boleh dimanfaatkan masyarakat setempat untuk prasarana transportasi. Budi daya Jenis lain Konsentrasi industri dan kegiatan ekonomi yang menggiurkan di jalur perdagangan Fukuoka – Osaka – Nagoya – Tokyo, bagaikan magnit. Dalam kurun dua dasawarsa terakhir ini, tarikan kutubnya sungguh sangat fantastis: gerakan urbanisasi masyarakat, terutama generasi muda, bak air bah yang turun dari gunung. Ketimpangan distribusi penduduk menjadi masalah nasional di Jepang. Di satu pihak, timbul kepadatan penduduk yang memaksa masyarakat metropolitan kongkow-kongkow di apartement pencakar langit atau berjubel ngerumpi di subway dan underground supermarket. Di pihak lain, masyarakat pegunungan yang didominasi generasi tua tetap asyik dengan kesederhanaan, dinamika hutan, dan sedikit aktifitas di lahan sempit pertanian. Program penghamparan hutan di daerah pegunungan, disana-sini ternyata telah tercemar masalah sosial: kekurangan tenaga kerja produktif. Dampaknya tidak hanya menimbulkan pengapungan aktifitas pengelolaan hutan, tetapi dikuatirkan, pada gilirannya nanti, dapat mengganggu stabilitas nasional. Mengatasi hal demikian, pelan tapi pasti, pemerintah sejak 10 tahun terakhir ini mengembangkan kebijaksanaan perbaikan ekonomi masyarakat

pegunungan. Dengan tetap berpegang pada kepentingan hutan sebagai stabilisator lingkungan, kiat diversifikasi usaha masyarakat di bidang pertanian, perikanan dan kehutanan dikembangkan di pegunungan. Satu persatu nabati pegunungan diteliti dan kalau bermanfaat bagi kesejahteraan segera diciptakan pasar. Prosessing kayu, selama limbahnya dapat dikendalikan melalui proses lanjut peningkatan rendemen untuk diversifikasi properti dan perluasan lapangan kerja, boleh diselenggarakan di pegunungan di dekat sumber bahan baku. Efisiensi biaya angkutan log menjadi bahan pertimbangan. Isi ruang pegunungan ditata. Alur sungai yang berkelok genit di lembah sempit pegunungan, pemanfaatan airnya dikendalikan. Beberapa bendungan tahan gempa dibangun sepanjang sungai. Sungai Kumano yang terpanjang dan terlebar di Prefektur Wakayama, sebelum airnya menyentuh salinitas samudra Pasifik, secara bersaf dibendung. Ada 8 dam besar dan berteknologi canggih disana, PLTA merubah gulita menjadi pelita malam desa pegunungan dan irigasi permanen manjamin pengairan sawah-sawah sempit dilembahnya. Sungai kumano yang tempo doeloe dapat menghantar biduk dan rakitan kayu dari Hongu sampai ke Shingu, sekarang hanya menyisikan sedikit kenangan, yaitu jet boating dan kanoe. Dua sarana wisata sungai di distrik Hongu. Dampak dam pun berkembang. Arus air sungai yang jinak memberi kesempatan reklamasi DAS (Daerah Aliran Sungai) pada beberapa bagian sepanjang tepian sungai. Meander sungai ditimbun bongkah batu dan tanah gunung. Proyek-proyek reklamasi meander – secara ekstrim boleh desebut “ pelurusan” badan sungai – dalam rangka penyiapan lokasi pemukiman dan pencetakan lahan pertanian, akan merubah lembah-lembah sempit pegunungan Kumano menjadi deretan metropolitan mini yang diharapkan dapat menarik tenaga kerja produktif datang, menetap dan

mengembangkan pemanfaatan sumber daya domestik pegunungan secara lestari. Selaras dengan proyek-proyek pengembangan jaringan jalan di daerah pegunungan, efisiensi nampak menjadi pertimbangan dominan. Badan jalan berliku-liku di sepanjang sungai, untuk menghubungkan distrik satu dengan yang lain, lebih baik menembus tabir pegunungan dari pada membuat jalan berputar-putar atau melambung. Jalan penghubung Distrik Hongu ke kota Shingu harus melewati Tidak kurang dari 3 terowongan, masing-masing panjangnya kurang lebih 1 kilometer. Pada waktu ada pekerjaan membuat terowongan di pegunungan, berarti tidak jauh dari tempat itu ada pekerjaan pelurusan badan sungai. Demikianlah salah satu cara Jepang mengembangkan infrastruktur dan wilayah pembangunan. Sumbangan kehutanan dalam perbaikan ekonomi masyarakat pegunungan secara tradisional, antara lain : bamboo dan kayu paulownia untuk industri kerajinan (handicraft); Shikibi dan Shakiki yaitu tumbuhan semak yang dibudidayakan di bawah tegakan sugi tua. Ranting dan daunnya dengan sistem tebasan (copies system) diambil/dijual untuk upacara persembahan liturgy agama Shinto atau Budha; Chesnut, biji buah pohon Castanopsis, semacam pohon sarangan (Castanopsis gigantea) yang banyak tumbuh di hutan alam gunung vulkanik Pulau Jawa (Whitmore dan Tantra, 1986); Binchotan yaitu arang kayu keras sejenis Quercus Jepang, apabila potongan-potongannya diadu, melenting bagai kelereng jatuh ke ubin. Pada waktu arang ini dibakar, sebelum jadi abu tahan membara tiga hari tiga malam. Ditambah lagi beberapa jenis jamur kayu yang digandrungi masyarakat Jepang di meja makan, yaitu : Shiitake, Enokitake, Hiratake dan Nameko. Hasil hutan spesifik tersebut diatas, dalam pengembangan budidaya sudah dipahami sebagai sumber daya domestik yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pegunungan. Melalui keanekaragaman produk

bahan pangan lokal untuk meningkatkan baku hidup masyarakat pegunungan, ternyata jamur kayu menduduki sumber penghasilan peringkat teratas diantara bahan pangan lain. Meskipun beaya perproduksi naik dan harga jual mengalami pengapungan, beberapa jamur kayu, terutama shiitake tetap diujicoba untuk mendapatkan produk maksimum, dengan beaya produksi seefisien mungkin. Disamping itu tak kalah pentingnya adalah perbaikan sistem distribusi pemasarannya. Peluangpun muncul bagi pengembangan dan pemasaran hasil home industry kerajinan tradisional dari kayu/bamboo, sejalan dengan program pemerintah mengembangkan pariwisata alam domestik di daerah pegunungan. Menurut catatan JFA, antara 1983 sampai 1988, nilai produksi hasil hutan non-logkayu sebagaimana tersebut diatas, boleh dikatakan tetap setiap tahunnya yaitu kurang lebih 340 milyard yen. Uang sebesar ini meliputi sumbangan produk dari shiitake basah 24%, shiitake kering 11%, Enokitake 14%, Hiratake 7%, Matsutake 3%, Nameko 4%, Chesnut 4%, Bambu 5% dan produk hasil hutan non-logkayu lainnya sebesar 26%. Bila dibandingkan dengan nilai export Jepang pada tahun 1991 sebesar 32,06 trilyun yen (Asiaweek magazine, 4 September 1992), produk non-logkayu tersebut setiap tahun baru berhasil mencapai 1% nya. Hutan pelindung kawasan. Stabilisator adalah peran kunci yang membuka kesempatan kawasan berhutan di Jepang aktif di bidang lingkungan hidup. Aktifitas hutan dominan dalam hal ini adalah melindungi, baik kawasannya sendiri maupun kawasan yang dilindungi.

Melindungi kawasannya sendiri, hutan menitikberatkan pada beberapa peran konservasi alam, yaitu : menjaga stabilitas sumber-sumber air dan iklim mikro sehingga terjadi proses ekologis penyangga kehidupan di dalam hutan, mempertahankan struktur dan agregat tanah serta sifat kimiawi batuan dasar (mother rock), melestarikan daur ulang unsur-unsur hara dan kesinambungan proses pelapukan (weathering) serta menjamin penyediaan habitat flora fauna endemic sealamiah mungkin. Sedang melindungi kawasan yang dilindungi, peran kawasan berhutan boleh digambarkan sebagai bemper atau benteng pertahanan terakhir sehingga sifat perlindungan cenderung mencegah atau berperan sebagai alat kontrol (pengendali) dampak aktifitas factor-faktor alam yang diperkirakan dapat menimbulkan bencana pada kawasan yang dilindunginya. Kawasan yang dilindungi oleh kawasan berhutan, meliputi : pedesaan, perkebunan, pertanian, perairan, industri, perkotaan dan metropolitan. Kecuali itu tak kalah pentingnya adalah melindungi prasarana dan sarana berupa : jaringan transportasi darat, jaringan listrik dan jaringan telepon yang melintasi hutan. Di Jepang sedikitnya ada tiga tantangan alam yang dihadapi kawasan berhutan yaitu : curah hujan, gempa bumi dan ketajaman lereng pegunungan. Dengan demikian posisi kawasan berhutan sebagai pelindung tata ruang wilayah pengembangan dan stabilisator lingkungan menjadi sangat penting. Curah hujan yang tinggi selaras dengan peran hutan sebagai pengatur tata air. Komunitas tumbuhan pohon permanen jangka panjang ini, melalui struktur jaringan akar, bentuk kanopi, bentuk daun dan batangnya dapat mencegah berbagai bahaya yang menimpa manusia karena over dosis air, misalnya : banjir, air laut pasang dan Lumpur longsor.

Disamping itu dapat pula mengendalikan erosi lapisan tanah pegunungan dan gerakan pasir ditepi laut. Menduduki paras bumi rawan gempa, paling tidak jaringan perakaran komunitas tumbuhan pohon yang disebut hutan ini dapat mencegah karang runtuh. Demikian pula lereng tajam pegunungan, merupakan tantangan pertumbuhan hutan diatasnya, untuk tetap tegar berdiri menjalankan fungsi konservasi, fungsi produksi dan sekaligus fungsi pertahanan-keamanan. Pemerintah Jepang sampai sekarang masih tetap melaksanakan Program Hutan Pelindung Kawasan. Program tersebut diimprofisasikan melalui kegiatan proyek konservasi hutan dan proyek perawatan hutan. Proyek konservasi hutan dilaksanakan dengan maksud untuk mencegah dan mitigasi (mengurangi dampak) tanah longsor di dalam kawasan hutan. Disamping itu proyek ini melayani reklamasi sungai, pantai dan bekas-bekas pertambangan serta rehabilitasi tanah-tanah kritis dengan berbagai jenis pohon cepat tumbuh (fast growing species). Bangunan civil teknis murni atau dikombinasi dengan vegetasi merupakan karya nyata proyek di tebing-tebing tepi hutan, tepi jalan dan tepi sungai serta bekas tanah longsor. Variasi conblock, ram kawat baja, batu, pasir, semen, tanah dan berbagai jenis semak, tanaman hias dan rumput menjadi materi pokok proyek konservasi ini. Melalui proyek, fungsi konservasi hutan tetap berjalan, luasan kawasan hutan tidak berkurang, bahkan dapat bertambah sekaligus air dapat dikendalikan. Proyek perawatan hutan, cakupannya lebih luas. Tata ruang wilayah berintikan wawasan lingkungan, menjadi acuan proyek dalam rangka

menetapkan beberapa sasaran perlindungan hutan untuk keselamatan dan kesejahteraan manusia. Sasaran perlindungan hutan yang ditetapkan proyek meliputi : Konservasi, Pengendalian, Pencegahan dan kepentingan lainnya. Masing-masing sasaran mempunyai criteria tertentu yang harus digunakan sebagai pedoman survei darat dan pembacaan citra satelit atau potret udara. Inventarisasi dan tata guna hutan untuk kepentingan perlindungan menjadi inti pekerjaan proyek ini. Hak pemilikan atau penguasaan kawasan hutan, apakah Hutan Nasional, hutan prefektur atau hutan keluarga/swasta tidak menjadi halangan mencapai sasaran penataan perlindungan hutan. Dalam menerapkan hasil penataan perlindungan hutan di lapangan, perlu diingat bahwa untuk mencapai sasaran tersebut tetap melekat pada kawasan hutan yang dirawat. Pelekatan ini berupa syarat-syarat atau peraturan-peraturan perawatan kawasan hutan tersebut, sehingga dalam pengelolaannya tidak bertentangan dengan penetapan salah satu sasaran perlindungan hutan. Meskipun sarat dengan peraturan, khusus untuk hutan keluarga/swasta yang kebetulan perlu dirawat sebagai salah satu sasaran perlindungan hutan, dalam pengelolaannya masih diperkenankan untuk ditebang, namun melalui prosedur perijinan yang ketat dan obyektif. Pemerintah, demi kepentingan umum merasa memiliki kawasan hutan tersebut. Di lain pihak, si pemilik hutan merasa mempunyai hak untuk memetik hasilnya, meskipun almarhum bapaknya atau kakeknya yang menanam. Untuk itu diperlukan kebersamaan. Pemerintah akan memberikan nilai pajak tanah paling murah dan subsidi biaya penanaman kembali yang cukup besar, dapat mencapai 80% dari budget tanaman, asalkan sipemilik sanggup mengikuti aturan

perlindungan hutan sesuai sasarannya dan memenuhi syarat-syarat perawatannya. Penebangan yang diperkenankan Pemerintah, tidak dilepas begitu saja, jadi perlu perencanaan dan pengawasan berdasar pertimbangan teknis dan kepentingan kawasan yang dilindungi, sehingga ada beberapa pohon tidak boleh ditebang, misalnya : di tepi-tepi jurang atau di tebingtebing peka erosi. Beberapa pohon terselamatkan dari penebangan, sasaran perlindungan tercapai, dan apabila pohon-pohon tersebut sugi atau hinoki, maka boleh hidup tanpa daur sampai ratusan tahun. Di Oomata Nasional Forest saya pernah melihat pohon sugi berumur 169 tahun. Diameter pohon setinggi dada kurang lebih 0,75 meter dengan tinggi pohon tidak kurang dari 40 meter. Ini adalah salah satu keuntungan Jepang menanam jenis sugi sebagai hutan tanaman. Hutan andalan ekonomi sekaligus andalan ekologis tidak diragukan lagi. Beberapa kegiatan melalui Proyek Perawatan Hutan, sampai dengan 1989 JFA berhasil menata hutan seluas 8,68 juta hektar atau 28% dari seluruh luas hutan di Jepang, sebagai sasaran perlindungan hutan.

Rinciannya sebagaimana table berikut ini : TABEL PENATAAN PERLINDUNGAN HUTAN UNTUK KESELAMATAN DAN KESEJAHTERAAN UMAT MANUSIA DI JEPANG.

No

Sasaran Perlindungan

Obyek Pokok

Luas (Ha)

Keterangan Kawasan Yang dilindungi

I.

Konservasi

air

5.966.264

Banyak sumber air yang perlu diselamat-kan untuk kepentingan industri dan pemu-kiman di sekitar hutan yang bersangkutan

Tanah

45.141

Tanah labil mudah longsor atau runtuh

JUMLAH I II. Pengendalian erosi

6.011.405 1.868.260 Pegunungan dengan jenis tanah peka erosi, perlu dikendalikan un-tuk tetap menjaga kesuburan tanah. Dune di pantai yang luas, gerakannya perlu dikendalikan dengan hutan supaya tidak mengurangi luas areal pertanian

Gerakan pasir pantai

16.357

JUMLAH II III. Pencegahan dari berbagai bahaya yang diperkirakan akan menimpa kawasan yang perlu dilindungi Bahaya banjir

1.884.617 742 Dikawasan/lokasi tersebut akan terjadi musibah banjir, apabila hutan yang berperan sebagai bumper dihilangkan

Bahaya air pasang

13.143

Formasi mangrove sebagai bumper pemukiman di pantai Tidak ada hutan, kawasan tersebut akan kering. Pengaruh mikro klimat hutan sangat besar

Bahaya kekeringan

38.195

Bahaya awan/ kabut

51.323

Hutan akan mena ngkap kabut sehingga tidak akan turun ke kawasan pertanian. Banyak jenis tanaman pertanian yang mati karena kabut tebal (frost) Kawasan hutan yang dipertahankan keberadaannya untuk da-pat mencegah turun-nya salju (longsor) ke pemukiman Tebing-tebing curam dengan batuan dasar (mother rock) jenis granit atau kalsit perlu dilindungi kawasan hutan diatasnya, perakaran mencegah karang runtuh. Jenis pohon spesifik tahan api, populasinya dapat ditanam seba-gai sederet hutan dibatas desa yang fungsinya mencegah dampak kebakaran hutan menimpa pemukiman/desa

Bahaya avalanche (longsoran salju)

19.103

Bahaya karang runtuh (mungkin karena gempa bumi)

1.690

Bahaya kebakaran

407

JUMLAH III IV. Kepentingan lain Pemecah angin

124.603 54.714

Hutan disepanjang pantai kering untuk melindungi kawasan pertanian dari hempasan angin laut langsung.
Penyerbukan tidak terjadi bila angin terlalu kencang

Pemijahan ikan

27.827

Sasaran navigasi laut

1.105

Kesehatan lingkungan

544.057

Keindahan alam

27.796

Hutan mangrove yang dikelola dengan baik, secara alami dapat dimanfaatkan untuk pemijahan ikan Hutan di suatu pulau yang kebetulan dekat pelabuhan perlu dilestarikan sebagai alat Bantu navigasi disamping mercusuar yang ada . Kawasan hutan yang berdekatan dengan kota besar yang padat penduduknya Hutan sebagai aset wisata. Bila hutan hilang kegiatan wisata menjadi hampa di daerah tersebut

JUMLAH IV JUMLAH I s/d IV

655.499 8.676.124

Sumber : Forestry and Forest Industries in Japan, 1991.

Perlindungan tegakan hutan
Dinamika alam dan sumber daya manusia di Jepang, ternyata masih menimbulkan gangguan yang sedikit banyak dapat memporakporandakan sistem pengelolaan hutan.

Ada dua gangguan diklasifikasikan sebagai gangguan dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan melalui sistem pengelolaan hutan. Termasuk tidak dapat dikendalikan adalah gangguan alam yang terjadi di luar prediksi manusia, berupa taifun, gempa bumi dan halilintar yang kebetulan kekuatannya dapat menimbulkan kebakaran hutan. Sakamoto-san, pensiunan guru SMU di Shingu sekaligus penanggungjawab kegiatan training ini, masih ingat bahwa, di sebelah utara kota Shingu, pada 1977 pernah ada kebakaran hutan karena halilintar. Pada peristiwa itu, ternyata, tidak kurang dari 1.000 hektar hutan keluarga/swasta rusak terbakar. Mengendalikan gangguan berarti mencegah gangguan terjadi dan mitigasi yaitu melokalisir atau mempersempit dampak gangguan yang sedang berlangsung. Berdasar catatan Takeji Okada, pegawai kehutanan Distrik Tenabe, mengutip hasil pemantauan JFA terhadap gangguan yang timbul setiap tahun, gangguan dapat dikendalikan tersebut meliputi : kebakaran hutan, keberingasan dan kerakusan satwa liar, ledakan populasi serangga, dan penyakit spesifik. Kebakaran hutan hampir setiap tahun terjadi. Rata-rata memberikan komposisi prosentase tata urut musim sebagai berikut : musim semi (MaretMei) : 53%, musim panas (Juni-Agustus) : 12%, musim gugur (SeptemberNopember) : 8%, dan musim dingin (Desember-Februari) : 27%.

Musim dingin dilanjut ke musim semi, memberi kontribusi besar terhadap kebakaran hutan di Jepang. Takeji Okada tidak ragu lagi menuding manusia sebagai penyebab utamanya, karena pada kedua musim itu seakan api adalah nyawa kedua bagi orang Jepang yang sedang berasyik ria dengan hutan atau bekerja keras di dalam hutan. Di musim semi, banyak masyarakat pemilik hutan melaksanakan penanaman atau operasional lainnya di dalam hutan. Sedang di musim dingin, panggilan jiwa petualangan sering menggiring mereka untuk berkemah, berburu atau sekedar jalan-jalan di dalam hutan. Tudingan Takeji Okada tidak sia-sia. JFA berdasar pemantauannya mengungkap bahwa kebakaran hutan di Jepang disebabkan oleh : kelalaian membunuh sisa bara setelah kegiatan api unggun (30%), puntung rokok membara dibuang ke semak-semak (25%), kontrol kurang ketat terhadap pekerjaan di hutan yang menggunakan api (9%) dan kecerobohan lain (8%). Sisanya (28%) disebabkan halilintar. Berurusan dengan api sebagai penyebab kebakaran hutan, ternyata orang Jepang masih harus meningkatkan kesadaran dalam kaitan disiplin nasionalnya. Diakui bahwa memadamkan kebakaran hutan adalah pekerjaan ketepatan waktu dan strategi. Pekerjaan kolosal koordinatif memerlukan banyak beaya, metoda, teknik, sarana, tenaga dan bahan pemadam api. Oleh karena itu mencegah murka api tak terkendali di hutan, sebagai hasil karya kecerobohan atau kelalaian manusia, frekuensi operasionalnya terus menerus ditingkatkan.

Mencegah kebakaran hutan di Jepang dilaksanakan melalui kegiatan : patroli kawasan, penyuluhan, penyebaran leaflet dan brosur peringatan, pemasangan poster dan papan-papan petunjuk untuk mengasuransikan hutan. Pemerintah menghimbau kepada seluruh masyarakat pemilik hutan untuk mengasuransikan tegakan hutannya. Asuransi tersebut dapat berupa obligasi yang nilainya diperhitungkan di dalam subsidi pemerintah untuk menunjang kegiatan penanaman. Rehabilitasi pada lahan bekas kebakaran hutan dapat dibeayai oleh asuransi tersebut. Satwa liar di Jepang, tak jauh beda nasib dengan kerabatnya yang kebetulan menjadi warga negara lain. Maklum makluk ini banyak kehilangan isi ruang hidup yang telah bertahun-tahun membentuk karakter dan nalurinya. Perkembangan hutan di Jepang semakin padat dengan keseragaman ciptaan manusia. Ekspansi dan monokulturisasi hutan sugi dan hinoki, selaras dengan degradasi potensi jenis di hutan alam, diduga mengurangi variasi bahan pangan satwa. Seandainya mereka tetap sehat sampai mati tua, selera makan hanyalah sekedar ekspresi naluri. Dalam komputer otaknya tidak ada program memilih variasi lagi. Yang ada hanya program : makanlah kesukaan di depanmu dan habiskan sesuai kekuatan fisikmu. Akibatnya, fatal. Hamparan sugi dan hinoki di pegunungan, menjelang akhir musim dingin sampai awal musim panas, kulit batang setiap pohon harus siap menerima elusan kuku-kuku beruang Jepang. Tak ayal lagi kulit mengelupas, luka busuk batang tak tersembuhkan. Getah penyembuh telah dihisap sang beruang. Untung bila pohon tidak mati. Kualitas batang merosot adalah satu-satunya kerugian.

Selanjutnya, dunia janganlah heran, apabila perburuan beruang dengan senjata api dan jerat masih merajalela di Jepang. Kontrol ketat sejak 1992. Mainichi daily news 21 September 1992, dalam artikelnya mengungkap bahwa pemerintah Jepang melalui Japan Environment Agency (JEA) akan menjatuhkan sangsi bagi pemburu beruang yang melanggar ketentuan tentang pengendalian populasinya. Ketentuan tersebut disamping mengatur lokasi habitat perlindungan beruang juga melarang sama sekali kegiatan berburu di luar musim yang telah ditentukan dan berburu dengan memasang jerat. Dilaporkan pula oleh sumber yang sama, bahwa selama 1990 telah tertangkap hidup atau mati tidak kurang dari 1.000 ekor beruang. Lebih dari 10% nya ditangkap dengan jerat. Beruang yang terjerat menggantung, menggelepar kepala di bawah. Dibiarkan begitu saja oleh pemburu, kadang-kadang lebih dari satu minggu, supaya kantong empedunya membesar. Semakin besar kantong empedu tersebut, semakin mahal harganya sebagai campuran obat tradisional gaya pecinan di Jepang. Populasi beruang yang berkurang dan menderita ini adalah beruang soklat Hokkaido – salah satu endemic Jepang yang sangat patut dilindungi – dan beruang hitam asia. Di lain kesempatan, bencana menimpa pula hutan tanaman muda, Si rakus regul jepang (japanese serow) bereaksi dalam hal ini. Populasinya belum lama dilaporkan melahap habis tanaman muda sugi dan hinoki. Kontradiksi kebijaksanaan timbul dalam pengendaliannya, karena satwa liar ini telah lama dinyatakan sebagai satwa kebanggaan dan kekayaan alam Nasional. Jadi wajar kalau dilindungi Undang-Undang. Antara belum lama dilaporkan dan telah lama dilindungi terdapat tanda tanya besar. Apakah tumbuhan, makanan lain, jenis dan populasinya semakin menipis dan tidak diberi kesempatan hadir dalam era

monokulturisasi ? atau tidak ada pilihan lain sehingga dengan teknik jibaku dan hara-kiri satwa liar ini menyerang dan melahap tanaman muda sugi dan hinoki. Ternyata mereka kenyang, hidup berkembang dan bertahan. Suatu budaya makan terbaik telah ditemukan oleh si regul yang notabene memaksa rimbawan Jepang putar otak menciptakan budaya pengendaliannya. Dalam hal ini yang penting adalah bagaimana kiat menegakkan consensus bahwa si regul ini tetap menjadi kebanggaan dan kekayaan alam nasional. Nasib tanaman sugi dan hinoki muda, ternyata tidak dapat diserahkan begitu saja kepada alam. Perkembangannya membutuhkan kesibukan rimbawan untuk menjaga dan merawatnya. Si regul pada kesempatan aksinya juga menghadapi kompetisi dengan satwa liar lain yang seselera. Kijang, kelinci hutan dan tikus melahap pula sugi dan hinoki muda, bahkan sampai ke akarnya. Penampakan seperti jejak taifun kecil menimpa tegakan kadang disajikan sekawanan babi hutan beringas menggali tanah, makan akar dan robohlah sederet pohon dewasa menimpa bumi. Berburu dalam rangka mengendalikan populasi satwa-satwa liar tersebut diatur pemerintah. Musim berburu dimulai pada awal sampai pertengahan musim dingin setiap tahun. Kegiatan ini hanya sekedar shock therapy untuk sejenak meringankan beban rimbawan Jepang menjaga kebun kayunya. Rekayasa pengendalian populasi berdasar logika teknologi, missal electric fence (pagar kawat berkejut listrik) dipasang mengitari blok

tanaman. Upaya lain tak kalah hebatnya adalah rekayasa untunguntungan, nyaris klenik, yaitu menggantungkan kantong-kantong kain berisi potongan rambut manusia, pada ranting kayu yang ditancapkan dengan jarak rata-rata 5 meter di sepanjang tepi blok tanaman. Mesranya hubungan salon dan barber shop dengan upaya penyelamatan tanaman hutan di Jepang tidak diragukan lagi, seperti yang saya lihat di hutan keluarga Maeda, prefektur Mie. Sejauh mana efektifnya, yang jelas kijang, babi hutan dan kelinci hutan di Jepang takut manusia. Indra penciumnya tajam dan peka sekali, terutama, mungkin, terhadap bau rambut manusia. Dari jauh naluri mereka sudah mengatakan lebih baik mundur teratur dari pada maju celaka. Benar atau semakin perlu penelitian lebih lanjut. Penyakit cacingan tidak hanya diidab manusia dan hewan bertulang belakang (vertebrata). Tanaman Pinus di Jepang dapat pula menderita karena ulah kerabat Nematoda ini. Populasi cacing Bursaphalenchus lignicolus ini, merusak daun, berpestapora menghabiskan sel-sel kulit dan batang Pinus. Penampakan luka dari luar hanya sekedar lubang kecil di kulit batang, di dalamnya tercipta suatu rongga yang cukup hangat untuk tidur kumbang Monochamus alternatus di sepanjang musim dingin. Sayang sekali tidak diperoleh informasi lengkap mengenai siklus hidup si kumbang. Pada akhir bulan Mei, selepas musim dingin, kumbang keluar, terbang menikmati udara cerah musim semi. Bersama terbang si kumbang, terbawa pula ribuan anak cacing yang menempel di tubuhnya, diawali dengan melepaskan diri dari tubuh si kumbang sewaktu hinggap dan mulai menggerek kulit mulus batang pinus. Luka gerekan kumbang pada kulit dilanjut caing-cacing itu hingga ke dalam batang. Demikian menebar cacing ini hingga pemerintah rugi kurang lebih 2,5 juta meter kubik kayu pinus setiap tahun.

Mengendalikan populasi kumbang adalah salah satu cara mencegah dan mengurangi jumlah pohon yang rusak. Pohon pinus sehat, batangnya diinjeksi insektisida tertentu (?), dapat bebas kumbang 2 tahun. Fakta lain membuktikan bahwa batang sugi dan hinoki akan turun drastic nilai lelangnya apabila ketahuan ada lubang (bore) hasil karya Semanotus japonicus (borer besar) dan Anagryptus subfasciatus (borer kecil). Kedua jenis serangga ini dilaporkan menjadi perusak batang tegakan sugi dan hinoki di wilayah selatan Prefektur Wakayama. Penderita paling runyam adalah tegakan berumur 10 tahun keatas. Pada mulanya serangga tersebut meletakkan telur pada kulit cabang retak atau tergores benda tajam. Telur menetas, larva aktif mulai dengan mengebor cabang, terus semakin aktif makan sel-sel kayu kearah bawah menuju empulur batang. Jarak tempuh aktivitas larva tersebut kurang lebih 30 centimeter. Kemudian diteruskan ngebor ke atas dengan arah tak teratur, akhirnya muncul ke permukaan kulit batang telah siap menjadi pupa untuk terbang sebagai serangga. Demikian kedua jenis serangga borer tersebut menjalankan daur ulang hidupnya. Ketelatenan rimbawan Jepang merawat hutan tanaman, satusatunya andalan termurah dalam pengendalian populasi kedua jenis borer tersebut. Kebiasaan pemangkasan cabang tua (prunning) adalah perlakuan yang patut dipuji. Di satu pihak membesarkan batang, di lain pihak memutus media awal aktifitas borer. Kewaspadaan sangat diperlukan pada waktu prunning. Luka sekecil apapun pada kulit cabang bebas pangkas, berarti memberi kesempatan borer meletakkan telur. Sekelompok sugi atau hinoki tiba-tiba, tanpa angin, serempak tumbang batang di tengah, menunjukkan populasi larva borer tak terkendalikan lagi.

Pemberantasan pada kondisi seperti itu adalah alternatif terbaik. Caranya : tebang habis, bakar dan kendalikan apinya. Pada waktu menanam kembali atau melaksanakan kegiatan tanaman di kawasan manapun, ingat : pilihlah bibit yang sehat ! Bibit umur 1 tahun yang berukuran tinggi rata-rata 0,5 meter di bedeng pesemaian, perlu diteliti daunnya, boleh jadi mengidab cercospora spp sejenis jamur dari keluarga Cryptomeriae. Cirikhas penyakit ini dapat dilihat dengan mata telanjang adalah daun bibit terbawah, dekat dengan tanah, berwarna soklat tua. Menurut Takeji Okada, bubur Bordeaux, campuran asam sulfur, tembaga dan kapur komposisi hak patent pabrik, dapat mengendalikan populasi cescospora. Semprotan komposisi Bordeaux – air dengan ratio 1/10 pada bibir sehat di pesemaian. Rutinitas penyemprotan dua kali sebulan dari mei hingga September dapat mencegah penyakit soklat daun ini. Selesai training, tiba-tiba saya ingat ada kesempatan sia-sia saya manfaatkan waktu yaitu menanyakan penebangan hutan illegal oleh manusia waras yang ingin cepat kaya dan juga penggembalaan ternak di dalam kawasan hutan. Jawabnya nol besar, nyaris jadi bahan lelucon suatu kebodohan. Benar tidaknya hal itu ? yang jelas satu bulan di hutan Jepang tidak ada sekilas gelagat pun saya jumpai sebagai ilegalitas di lapangan. Hujan asam dan konsentrasi karbon Sejalan dengan perkembangan industri kelas berat di Jepang dan beberapa negara di sekitarnya, tak pelak jika hujan asam mulai terasa menggugurkan bunga sakura sejak 25 tahun yang lalu. Demikian awal penjelasan Masaaki Yamada tentang lingkungan hidup di Jepang.

Rata-rata derajat keasaman (pH) air 5,6. Di hutan dapat mencapai 4,2 – 4,1, artinya semakin asam. Daun lebar yang menguning pertanda bahwa pH air telah mencapai 4,0. Tanaman tak begitu lama menunggu kematian. Toleransi sejoli si daun jarum, sugi dan hinoki terhadap pH 4,0 memberi alasan kuat mengapa hutan tanaman konifer semakin mendesak popolasi pohon daun lebar di hutan alam dan dikuatirkan akan mengganggu stabilitas lingkungan. Tanah di Jepang dipapar Yamada sebagai tanah termiskin di dunia. Meskipun gumpalan tanah vulkanik terserak dimana-mana, ternyata miskin unsur-unsur : Kalsium (Ca), Natrium (Na) dan Zincum (Zn). Ketiganya sangat didambakan Jepang untuk cepat mendorong derajat keasaman menuju netral (pH = 7,0) yang berarti dapat mengantisipasi unsur-unsur hujan asam : NOX, SOX dan Cl. Kendala lain bersumber di tanah yaitu sangat sedikit unsur kimiawi yang cepat dan intensif mendaur ulang sampah dan seresah hutan di pegunungan. Dengan teknologi penjernihan air, merupakan tantangan yang terus-menerus disempurnakan guna meningkatkan kualitas air minum. Disamping itu masih ada fakta lain yaitu sangat sedikit keluarga Leguminosae di Jepang. Serupa kutil penuh bacteria yang bersimbiose mutualistis dengan ujung akar keluarga tanaman tersebut pada dasarnya sanggup merangket NOX. Masalah konsentrasi karbon di udara (CO2), menurut Yamada pengaruhnya kecil di Jepang. Hutan di darat dan plankton di lautan membantu melahapnya, nyaris sempurna. Walaupun demikian, pencemaran udara di Jepang dapat menjadi lebih jelek di kawasan industri

dan padat pemukiman, mislanya di jalur Fukuoka – Osaka – Nagoya – Tokyo, apabila kurang hati-hati mengelola hutan dan perairan. Kurang kayu import kayu Ini adalah sekelumit kisah gila suatu bangsa pada materi dan property yang serba kayu. Kejadian yang terutama adalah antara 1960 sampai 1989, seperti yang dituturkan JFA melalui buku : Forestry and forest industries in Japan, 1991. Perang dunia II berakhir. Bagai merawat luka bakar menuju kesembuhan. Demikian Jepang merekonstruksi kondisi ekonominya. Tidak ada catatan pasti saya temukan, seberapa besar potensi hutan tanaman era Meiji dimanfaatkan kayunya untuk membangun perumahan, bahan bakar dan rehabilitasi fasilitas umum pada waktu itu. Namun pada 1960, sebagai patokan sejarah perekonomian Jepang yang tumbuh pesat, ada catatan bahwa pada tahun tersebut Jepang berhasil membangun pemukiman sebanyak 420.000 rumah. Kegiatan pembangunan perumahan ini berlangsung terus hingga mencapai hampir 5 kali lipat pada tahun 1973 yaitu 1.910.000 rumah. Pada waktu hampir bersamaan, penyediaan chip dan pulp bahan baku kertas semakin meningkat, sejalan dengan kemajuan program pemerintah di bidang pendidikan. Sarana untuk mengembangkan budaya tulis – baca mulai di kalangan masyarakat luas. Suatu prestasi luar biasa selama 13 tahun. Bagaimana dukungan hutan Jepang untuk pengadaan kayu selama waktu prestasi tersebut ? Ternyata ada wawasan yang memperkuat fanatisme bangsa Jepang terhadap produk kayu domestik. Potensi tegakan yang kualitas kayunya

belum memenuhi pembakuan tradisional tetap dipertahankan hidup di dalam hutan. Untuk memenuhi kebutuhan mendesak selama 13 tahun, sambil memelihara dan meningkatkan hubungan dagang internasional, dengan senang hati Jepang menerima kayu dari luar. Dari 1960, kayu domestik yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan perumahan dan kertas meningkat terus hingga mencapai 52,74 juta meter kubik pada 1967, kemudian turun menjadi sekitar 40 juta meter kubik. Sebaliknya kayu dari luar, pada 1960 hanya mencukupi 13,3% dari seluruh kebutuhan, meningkat terus hingga 1973 sebanyak 64,1% dari total kebutuhan kayu di Jepang. Kayu import sebagian besar dalam bentuk log, dengan sendirinya bentuk dan ukuran tidak memenuhi pembakuan tradisional. Konsekuensinya kayu tersebut harus diproses di dalam negeri menjadi kayu gergajian (Lumber), kayu lapis (Plywood), bakal bubur kertas (Chip) dan bubur kertas (Pulp). Kayu gergajian dan kayu lapis dari log import ini dimanfaatkan hanya sebagai pelengkap kesempurnaan seni dekorasi bangunan rumah dan bahan baku industri peti kemas. Semakin tinggi nilai corak ornamen alamiahnya semakin disenangi bangsa Jepang. Permintaan untuk mendatangkan kayu kuat, awet dan berornamen terkadang menjengkelkan exportir karena keterbatasan jenis dan potensi kayu tersebut di alam dan tidak ada kesempatan atau waktu cepat untuk meneliti dan membudidayakannya. Seperti pepatah pucuk dicinta ulam tiba, beberapa tambang minyak baru diketemukan dan bermunculan di negara-negara berkembang pada masa 13 tahun aselerasi perekonomian Jepang tersebut. Terjadilah revolusi

energi di Jepang. Prekonomian dunia masa itu, memperkuat negeri liliput ini menjadi importir kayu, minyak dan gas. Tiga komoditas strategis yang semakin memperkuat Jepang sebagai macan asia. Bahan bakar menggunakan kayu sebesar 14,91 juta meter kubik pada 1960, pada tahun berikutnya, kayu tersebut semakin diberi kesempatan untuk keperluan lain, hingga 1973 tinggal 1,56 juta meter kubik saja yang dimanfaatkan untuk bahan bakar. Armada kayu import secara reguler datang dari Amerika Utara, Siberia/Rusia, Selandia Baru dan negara-negara tropis termasuk Indonesia. Pelabuhan di berbagai distrik pinggir pantai direhabilitasi untuk menampung persediaan kayu import yang terus meningkat. Muncul langkah berikut yaitu : pembangunan zona industri perkayuan skala besar dan efisiensi tinggi di sepanjang pantai. Pertumbuhan fantastis dan lengkaplah sudah penciptaan prasarana ketergantungan Jepang pada kayu import. Bagaikan sungai yang selalu resah dengan pasang surut air laut, begitulah zona industri perkayuan di Jepang. Kenaikan harga BBM, terjadi di 1970-an, digambarkan sebagai tamparan paling serius seusai perang dunia II. Oil shock tersebut menciutkan aktifitas perkayuan di Jepang. Pada dasawarsa tersebut hasil produksi perumahan pertahun tidak pernah melonjak diatas 1,2 juta rumah. Pemerintah putar otak. Menghasilkan penurunan suku bunga pinjaman yang khusus dimanfaatkan untuk membangun perumahan. Kebijaksanaan tersebut diberlakukan mulai 1986. Dampaknya adalah permintaan rumah sejak 1987 meningkat diatas 1,6 juta rumah. Dalam rangka mengantisipasi permintaan tersebut, pemerintah perlu kayu untuk dilontar ke pasar industri 100 juta meter kubik pada 1987 dan mencapai 113,86 juta meter kubik pada 1989. Bagaimana penyediaan kayu domestik untuk mencapai target tersebut tetap dikalahkan oleh penyediaan

kayu import. Yen yang semakin kuat dibanding nilai dollar USA yang semakin lemah beberapa tahun terakhir ini, merupakan peluang Jepang untuk menerima kayu logs import secara besar-besaran. Tidaklah heran apabila pada 1989, kayu langsung import diberi peluang untuk mencukupi sebesar 73,3% total kebutuhan industri perkayuan di Jepang. Namun hanya dapat dipenuhi 36%. Suatu hal patut mendapat pujian ketika Jepang tidak gegabah mengumbar nafsu memporakporandakan hutannya hanya untuk mengejar prestasi ekonomi. Konstribusi kayu domestik terhadap total kebutuhan industri perkayuan berkurang terus yaitu dari 36% pada 1984 menjadi 26,7% pada 1989. Alasan klasik cukup kuat mengapa konstribusi begitu kecil, disampaikan Akihiro Maeda, seorang manajer hutan swasta, antara lain yaitu sebagian besar hutan tanaman masih muda, belum mencapai baku kualitas kayu yang pantas untuk industri; factor alam tidak stabil mempengaruhi ketepatan waktu dan volume penyediaan kayu; luas kawasan hutan terbatas; kesulitan tenaga kerja produktif, khusus pada kegiatan ekploitasi hutan dan yang terakhir, mengantisipasi issue global lingkungan. Lebih lanjut Maeda menyarankan agar ada perbaikan pada system penyediaan kayu domestik antara lain dengan pengadaan tenaga kerja produktif atau peralatan tepat guna dan efisiensi bagi pengelolaan hutan serta penelitian dan penggalakan kegiatan pemuliaan pohon komersial. Penyediaan kayu domestik untuk industri pada 1989 hanya mencapai 30,52 juta meter kubik atau 26,7% total kebutuhan industri. Kayu tersebut dimanfaatkan untuk konstruksi 61%, chip 30%, pulp 5% dan kayu lapis 4%. Konstruksi tersebut meliputi bangunan perumahan 82%, peti kemas 7% mebelair 4% dan beberapa macam konstruksi lain 7%.

Mengenai kayu import, Jepang sebenarnya masih memeprtimbangkan tentang keragaman kualitas dan stabilitas penyediaannya. Oleh karena itu suasana kompetitif dengan kayu domestik sengaja diciptakan agar struktur penyediaan kayu import berubah. Hal ini dapat dinilai sebagai satu diantara seribu kejelian Jepang membaca gelagat perdagangan internasional. Kayu sebagai komoditi yang cukup tinggi nilai tambahnya di bidang industri dan perdagangan menjadi incaran GATT dan Putaran Uruguay. Saran kedua organisasi forum internasional ini diperhatikan Jepang dengan penelitian mengenai kualitas dan bentuk kayu import pilihan, hasil proses teknologi tepat manfaat dan peluang pasar property hasil industri kayu di dunia internasional. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Jepang siap menerima kayu import dalam bentuk kayu gergajian, kayu lapis dan chip. Ketiga bentuk kayu import tersebut harus memenuhi persyaratan yang mencegah zona industri perkayuan di Jepang gulung tikar. Peningkatan nilai tambah dengan berdirinya pabrik-pabrik pengolahan kayu di negara exportir yang bermanfaat bagi perluasan lapangan kerja dan peningkatan devisa negara, pada gilirannya diduga akan memperkuat posisi Jepang dalam globalisasi perdagangan property hasil industri kayu di dunia. Pada 1989, kayu logs import sebanyak 37,08 juta meter kubik diproses di dalam negeri menjadi kayu gergajian 69%, kayu lapis 28%, chip 2% dan penggunaan lain 1%. Sementara itu pada tahun yang bersamaan, didatangkan pula ke Jepang kayu gergajian. Dalam rangka proses teknologi tepat manfaat, kayu gergajian tersebut oleh industri perkayuan di Jepang telah diproses lanjut. Antara lain kayu gergajian dari Amerika dan Rusia diproses kembali,

sehingga 84% dari volume kayu import tersebut menjadi konstruksi bangunan rumah. Dari Selandia Baru 87% menjadi peti kemas. Sedangkan kayu gergajian dari daerah tropis, setelah diproses kembali hanya menghasilkan bahan konstruksi 45 % dan mebelair serta bahan-bahan pertukangan 24%. Peralatan canggih dan efisiensi tinggi pada zona industri perkayuan di Jepang – saya pernah melihat gergaji sinar laser di Shingu – kapasitas terpasangnya membuka peluang besar untuk proses lanjut berbagai bentuk kayu import. Diduga untuk beberapa tahun mendatang ini, sikap Jepang tetap was-was terhadap quota export kayu dan kebijaksanaan pemerintah masing-masing negara exportir dalam menghadapi issue global lingkungan dan penerapan ekolabeling, karena target kebutuhan kayu pertahun di negeri gila kayu ini, sampai 1989 – meskipun berayun – belum pernah tercukupi.

1. Paras bumi, 75% pegunungan

Hutan menghampar pegunungan

2. Paras bumi pantai teluk padat penduduk

3. Samodra Pasifik dan pasir pantai Distrik Shingu

black Japan current

4. Suatu tempat rekreasi pantai di Shingu tegakan karang pemecah gelombang

5. Tembok besar Shingu
pemecah gelombang taifun

6. Hutan alam zona temperate hangat Hujan di musim panas

7. Sugi (Cryptomeria japonica) diantara hutan daun lebar temperatur harian 13 – 21 derajad Celcius

8. Semakin tajam lereng, semakin lebat
hutan alam yang dipertahankan

9. Pemukiman diantara hutan dan sungai
coniferae primadona hutan tanaman

10. Hamparan hutan pola sabuk gunung
kawasan pengendalian kerawanan ekologis

11. Hamparan hutan pola surjan gunung
hutan tanaman berseling dengan hutan alam

12. Okulasi di batang sugi rekayasa mengharapkan Tennushibo

13. Kemampuan sugi
copies system produk kaifu maruta

14. Prunning
Mengharapkan batang lurus silindris

15. Hasil prunning
buntut bajing masih berkibar

16. Prunning dengan galah
mengharapkan produk hashira

17. Prunning dengan alat panjat tenaga kerja terbatas

18. Dua strata hutan sama jenis beda umur
intensifikasi lahan hutan

19. Dua strata, sugi tua dan shikibi
meraih pendapatan harian

20. Tebas habis hutan pegunungan
sesuai pembakuan properti

21. Yarding di hutan pegunungan
efisiensi dan menjaga mutu kayu

22. Jembatan dan jalan hutan
pertimbangan efisiensi

23. Menuju ke TPK
lori sudah lama pensiun

24. Bekas tebangan dan lahan siap tanam
tidak mengenal pupuk dan tumpangsari

25. Monoril, alat angkut bibit dan pekerja hutan
busi satu, 500 kilogram, tanjakan 45

26. Sebetan untuk property habis pakai
efisiensi pemanfaatan kayu

27. Pabrik chopstick
pengembangan lapangan kerja di pegunungan

28. Pengambilan bahan semen di hutan Jepang menunggu reklamasi

29. Berkanoe di sungai Kumano
merakit kayu ke hilir berhenti total

30. Meander sungai Kumano
siap diluruskan

31. Pengembangan pemukiman di pegunungan jadilah metropolitan mini

32. Pintu gerbang kota Shingu
terowongan penghubung antar distrik

33. Tanaman wasabi
tanpa dia sushi tak berarti

34. Packing daun shakaki
materi upacara persembahan Shinto

35. Koleksi binchotan dan jamur Jepang
melenting dan digandrungi

36. Unstockland
semak pun tidak tumbuh

37. Singkapan batuan dasar
tiada solum di parasnya

38. Terasering tanpa semen rekayasa civil teknis sederhana

39. Tembok penahan longsor
investasi jutaan yen

40. Batu granit di lapis semen kombinasi alam dan buatan

41. Ram kawat baja
seperti sekedar penahan

42. Pembangunan dam pengendali
tidak hanya menahan lumpur

43. Cetakannya mantap
kualitas bendung anti gempa

44. Melepas air mencegah batu
besi baja masuk hutan

45. Pracetak conblock dam pengendali
pandangan depan

46. Pracetak conblock dam pengendali
pandangan samping

47. Perlindungan hutan untuk pelajaran sejarah
tegakan sugi satu setengah abad lebih

48. Sketsa peta rekreasi hutan
efisien dan tidak bingung

49. Jalan setapak hutan rekreasi Yachono Kimichi – Owase
Trap batang kayu plastik

50. Satwa buru di Jepang target awal musim dingin

51. Daun menguning
korban hujan asam

52. Daun kering, sugi lapar diatas solum tipis
tanah termiskin di dunia

53. Batu kerikil sungai Kumano
yang keras dan yang lunak

54. Sekeping tanah vertical di lereng bukit solum tipis cocok untuk hinoki

55. Gumpalan tanah di samping lembah
habitat sugi, NOX sulit dirangket

56. Pabrik kertas Kishu
konsentrasi karbon dilahap hutan

57. Kayu import dari Rusia
tidak mengenal pembakuan

60. Penampang kayu Rusia
siap memoles rumah Jepang

59. Pengisi zona industri perkayuan
skala besar dan efisiensi tinggi

60. Bahan baku dan nilai tambah kayu import
hanya memenuhi 36% kebutuhan

61. Pengawetan kayu import
sugi bukan untuk papan

62. Siap dikirim ke pabrik rumah
masih mempertimbangkan keragaman kualitas

HUTAN DALAM DILEMA KEBUDAYAAN
Harus selalu maju, penuh ambisi Dan semangat muda . . . . . . Keichiro Honda, 1956 Berdasarkan sejarah kebudayaan Jepang, ternyata harus ada keselarasan pendapat dan pengetahuan antara rakyat dan pemerintah. Demikian Taku Iwasawa mengawali penjelasan mengenai promosi pertanian dan kehutanan local. Namun, di Jepang masih ada masalah yang sampai sekarang, menjadi topik perdebatan dan kompetisi pembangunan wilayah tingkat local, yaitu bagaimana mempertahankan kebudayaan tradisional dalam anyaman “tatami” pembangunan nasional. Tradisi yang tenggelam dalam lautan materi, mencemaskan generasi tua. Sementara itu, pemerintah mengharapkan rakyat membangun spiritual, budi pekerti dan agamanya sendiri, disamping mendukung pengembangan budidaya potensi domestik untuk kepentingan nasional. Cara mendukungnya antara lain, yaitu : meningkatkan aktifitas kelompok masyarakat tertentu dalam suatu unit institusi untuk mencapai kesejahteraan dalam kebersamaan dan kemandirian. Keberhasilannya, tergantung pada kerjasama kelompok dalam mengembangkan sumber daya manusia – meningkat wawasan dan kualitasnya – dan memanfaatkan sumber daya alam seefisien mungkin, sesuai kondisi lingkungan dan suasana politik. Pada unit institusi tersebut, dibebankan pula tanggungjawab mempertahankan pola budaya tradisional tertentu, yang pada hakekatnya semakin bersifat ceremonial. Tokachi-wine, anggur desa Ikeda.

Desa Ikeda di Pulau Hokkaido punya kiat dan ceritera tersendiri, bagaimana masyarakatnya menjadi kaya dalam kebersamaan dan kemandirian. Kisah sukses diawali pada pertengahan 1950-an. Sebelum itu miskin dan menderita karena gempa bumi. Sebagian masyarakat meninggalkan desa, pindah ke suasana tenang untuk kerja dan sekedar hidup. Marutani, sang lurah prihatin melihat kondisi ini. Tanpa tinggal diam dalam keprihatinan, lurah ini berusaha meningkatkan kesejahteraan. Satusatunya usaha tepat manfaat menurut dia adalah bidang pertanian. Lahan,

modal marginal mungkin mau mendukung usaha itu. Masalahnya adalah jenis tumbuhan asli apa yang dapat dikembangkan dan menguntungkan daerah tersebut.
Suatu hari, setelah satu tahun berupaya, Marutani menemukan tumbuhan anggur liar di desanya. Bersama 12 petani, dia berusaha membudidayakan anggur liar tersebut. Setelah 5 tahun, mereka mengundang seorang professor pertanian untuk melihat dan diharapkan dapat memberi saran tentang tindak lanjut usaha kebun anggur itu. Ternyata buah anggur tersebut dapat diproses menjadi minuman Wine. Di Jepang pada waktu itu tidak ada ijin usaha dari pemerintah pusat diberikan kepada pemerintah daerah (desa). Kewenangan pemerintah pusat hanya menerbitkan ijin usaha bagi wiraswasta perorangan atau badan usaha tertentu, dan pemerintah daerah diminta membinanya. Mengatasi hal tersebut lurah Ikeda tidak kekurangan akal. Bersama masyarakat setempat, sang lurah membentuk perhimpunan petani anggur menjadi badan usaha semacam koperasi, lengkap dengan fasilitas administrasi, laboratorium dan pabrik Wine sangat sederhana. Pada produksi Wine tahun pertama, Badan Usaha tersebut mengikuti kontes Wine di Eropa. Ini kesempatan promosi, dengan merk dagang Tokachi-wine, produk tersebut masuk nominasi. Sejak saat itu desa Ikeda terangkat sebagai salah satu daerah penghasil Wine popular di dunia. Mengantisipasi keberhasilan tersebut, Marutani membangun restoran dan pusat pertokoan Tokachi-wine Ikeda di Tokyo. Memelihara jalur pemasaran Ikeda – Tokyo, sebagian besar karyawan pengelola pertokoan tersebut berasal dari Ikeda. Bergantian setiap dua tahun sekali. Pengalaman pekerjaan tersebut menimbulkan ide-ide baru baik di bidang pemasaran maupun peningkatan kemampuan pengetahuan produksi. Badan Usaha memberi penghargaan pada karyawan. Salah satu bentuk penghargaan dan sekaligus upaya promosi adalah memberi hak bagi pasangan suami isteri Ikeda yang telah menggeluti proses produksi Tokachi-Wine tak terputus selama 25 tahun, untuk mengunjungi beberapa negara di dunia dengan biaya ditanggung Badan Usaha.

Keuntungan dari tokachi-wine, mereka gunakan untuk membangun desa dan mengembangkan kebun anggur serta kegiatan penelitian. Bangunan terkenal di Ikeda adalah puri dan jalan desa yang diberi nama wine castle dan wine road. Untuk menarik wisatawan tinggal lama di desa Ikeda, mereka membuat pula beberapa fasilitas dan property pariwisata serba berwarna dan berbau anggur. Sekarang, dalam era kemajuan sistem teknologi komunikasi dan transportasi, menjadikan tokachi-wine merambah dimana tempat di dunia. Harga tokachi-wine pada masa promosi besar-besaran sepuluh tahun yang lalu, sangat murah bila dibandingkan harga sekarang. Hal ini disadari karena, generasi baru Ikeda sudah tidak menghendaki lagi produksi tokachi-wine jauh dari profesionalisme. Isson Ippin di Distrik Oyama Distrik Oyama di Pulau Kyusyu, pada awal 1960-an memulai program pengembangan aktifitas masyarakat, diberi nama Isson Ippin, yaitu setiap desa harus memiliki satu aktifitas profil unggulan yang berbeda dengan aktifitas desa lainnya, tetapi produknya saling melengkapi kebutuhan masyarakat. Produk tersebut pada umumnya hasil pertanian. Pengembangan produk dari desa A, misalnya buah jeruk manis tanpa biji – bila berhasil – kualitas produksi dan pola pemasarannya dilarang ditiru oleh masyarakat desa B atau desa lainnya. Demikian sebaliknya bila di desa B ada produk beras ketan kualitas satu, produk dan pemasarannya menjadi hak patent masyarakat desa B. Model Isson Ippin Distrik Oyama ini masih dikembangkan terbatas dan dalam ujicoba untuk seluruh wilayah Prefektur Oita, kira-kira sejak 10 tahun yang lalu. Yawata, pioneer pengembangan produksi pertanian dalam model Isson Ippin, pada awalnya mengalami kesulitas perluasan lahan karena Distrik Oyama sedikit menyediakan lahan datar untuk pertanian. Atas persetujuan Miramata – Kepala Distrik Oyama – Yawata meperdalam studi pertanian di Eropa. Belajar dari pengalaman bangsa lain dan pengembangan kerjasama kelompok, setelah tujuh tahun dipraktekkan, Isson Ippin berkembang menjadi New Paradise Community dengan slogan Go to Hawaii, plant Plum and Chesnut. Slogan tersebut dipegang

teguh oleh para peserta Isson Ippin dalam praktek intensifikasi dan pengembangan pemasaran produksi. Kualitas terbaik adalah sasaran utama. Hasilnya yaitu panen tidak sia-sia, masyarakat mendapat pendidikan spesialist dibidangnya dan kondisi lingkungan lebih baik. Kayu olahan desa Aketo

Semula, masyarakat desa Aketo di Pulau Hokkaido dikenal sebagai masyarakat pembuat arang. Setelah disadari bahwa, tegakan hutan di desa tersebut akan habis ditebang untuk arang dalam jangka waktu 80 tahun lagi, maka mereka mencoba beralih profesi dengan tetap berpegang pada bahan baku kayu sebagai materinya.
Diundanglah Akioka, seorang perancang produksi industri tradisional Jepang yang cukup terkenal, untuk memberikan saran. Pilihan jatuh pada industri mebel tradisional Jepang. Produk mebel ini mahal karena seni yang dibuat tanpa paku dan tanpa mesin atau alat-alat modern. Disamping itu, mebel dibuat berdasarkan pesanan. Luas pemasaran terbatas dan tidak dapat menunjang aselerasi perluasan lapangan kerja. Pada saat produksi berlangsung di desa Aketo, hanya dapat menampung lapangan kerja 100 tukang kayu melayani pelanggan atau konsumen tidak lebih dari 1.000 orang. Sampai disini belum terpikirkan rehabilitasi hutan dan pengadaan bahan baku kayu alternatif, sementara hutan semakin memprihatinkan. Melihat kondisi demikian, Akioka tetap setia pada profesi sebagai perancang, hanya pola efisiensinya mulai berkembang. Didatangkanlah ke desa Aketo, alat-alat dan bahan kerajinan modern, antara lain mesin pres kayu, oven dan perekat kayu. Menggunakan bahan baku kayu, hampir tiada limbah, dibuatlah alat-alat rumah tangga dan alat saji makan ala Jepang. Tanpa kehilangan kekuatan, warna dan pamor serat kayu karena air panas, produk alat-alat semacam itulah yang pesat berkembang di Aketo. Lima tahun sejak produksi tersebut dikembangkan, datanglah pesanan dari Tokyo Departement Store. Pemasaran meluas, desa Aketo semakin terkenal. Partisipasi masyarakat untuk membangun dan mengelola hutan semakin berkembang.

Kursus rancang bangun kayu desa Toyama Desa Toyama Prefektur Miyagi, dikenal sebagai desa hutan. Tegakan hutan tanaman sugi sangat baik mutunya di desa ini. Penjarangan sebagai upaya pemeliharaan tegakan, jadualnya sangat intensif diperhatikan masyarakat setempat, seakan tidak ada waktu lagi untuk kerja, selain memelihara hutan. Namun ada limbah penting untuk dimanfaatkan , yaitu ratusan, bahkan ribuan batang tegakan jelek yang ditebang pada penjarangan. Untuk apa ? selain digunakan untuk kayu bakar, bila sebagian besar ditinggalkan begitu saja di lantai hutan, ada kemungkinan menimbulkan kondisi hutan kurang sehat. Dalam proses pelapukan, jamur, bakteri dan rayap dapat menimbulkan masalah. Dilain pihak dalam jangka panjang daur ulang bioma hutan tetap terjadi, walaupun komposisi kimia tanah pegunungan di Jepang kurang intensif mendaur ulang seresah. Menghadapi hal demikian, salah satu alternatif cukup menarik adalah memanfaatkan sebagian hasil penjarangan tersebut sebagai bahan baku membuat rancangan-rancangan prototype bentuk rumah tradisional, rancangan alat-alat rumah tangga, mainan anak bahkan papan bekesting bangunan konstruksi beton. Dalam rangka mengembangkan kreatifitas rancangan, dibangun pula di desa itu, sebuah rumah besar untuk pendidikan dan latihan (diklat) merancang bangunan atau alat-alat dari kayu lengkap dengan workshopnya. Peserta diklat sebagian besar adalah generasi muda desa setempat dan sekelilingnya, bahkan ada pula murid-murid sekolah atau mahasiswa kota mengisi hari libur di desa tersebut untuk belajar dan praktek rancang merancang itu. Catch USA go ahead Europe Taku Iwasawa, pada kesempatan lain mengungkapkan bahwa, memang sudah sejak pertengahan abad XIX masyarakat Jepang mendukung pengembangan budaya dengan cara meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam domestik, sebagaimana beberapa contoh ceritera seperti tersebut diatas. Sambil belajar dengan keadaan dan keterbatasan sumber alam, serta aktif mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, politik Pemerintah Jepang akhirnya berubah yaitu memperkaya dan meningkatkan kualitas property. Politik

ekspansionisme, biang tragedy besar 1945, telah lama ditinggalkan dan berangsurangsur dilupakan. Properti tersebut semakin merambah dengan slogan catch USA go ahead Europe. Politik ekspansionisme merupakan trauma besar perasaan umum masyarakat Jepang. Sekarang mereka lebih percaya pada sistem pemerintahan demokrasi parlementer tanpa tentara berambisi maju perang. Sistem pendidikan masyarakat diarahkan pada kemandirian dan persatuan bangsa melalui bahasa, karena sebelum 1945 ditemukan banyak dialek bahasa di beberapa prefektur. Pada saat ini, saat pengembangan teknologi microchip, lebih dari 50% masyarakat terutama generasi muda Jepang sekolah, bekerja dan bahkan tinggal di kota. Sebagian besar di kota-kota metropolitan jalur industri dan perdagangan : Fukuoka – Osaka – Nagoya – Tokyo. Bagaimana dampaknya ? Taku Iwasawa menyampaikan 4 butir hasil pengamatannya, sebagai berikut : 1. Masyarakat Jepang pada umumya merasa ada tradisi atau gaya hidup lama yang berangsur-angsur hilang. 2. Banyak kuil-kuil Shinto dan Budha atau tempat sembahyang di pegunungan dikelola oleh orang-orang tua. 3. Generasi muda, terutama penghuni kota, semakin banyak yang senang menjadi pahlawan dengan cara hidup glamour, masuk ke niteclub, karaoke, pachinko dan lain-lain. 4. Ada kekuatiran masyarakat Jepang terhadap penggunaan kimia pengawet makanan. Berdasarkan penelitian, 56% masyarakat kota metropolitan Jepang merasa tidak sakit tetapi tidak sehat. Memahami generasi muda Jepang, lebih lanjut Taku Iwasawa menjelaskan bahwa, wajib belajar di Jepang adalah pendidikan dasar untuk mencetak generasi muda memiliki semangat kemandirian. Dengan semangat inilah, mereka selalu ingin membuka dan memperluas wawasan pergaulan dan ilmu pengetahuan. Dalam meraih prestasi, mereka cenderung memilih peluang yang penuh tantangan hidup yaitu suatu kondisi dinamis, berkembang dan selalu menguji semangat kemandirian.

Menilik semangat kemandirian generasi muda terdidik tersebut, ternyata generasi muda desa pegunungan mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan peluang, kebutuhan tenaga kerja dan fasilitas metropolitan, yang telah berkembang pesat dua dasawarsa terakhir ini. Dalam meraih prestasi, mereka cenderung lebih leluasa pergi dari tempat kelahirannya, di desa pegunungan, untuk bekerja dengan harapan mendapat penghasilan lebih baik atau sekolah, meneruskan ke perguruan tinggi, di kota-kota metropolitan. Hal ini terbukti pada generasi muda Jepang, yang tertarik kerja di hutan dan desa pegunungan setelah lulus perguruan tinggi. Taku Iwasawa memperkirakan hanya 15-18 orang setiap tahun.

Totsukawa desa raksasa Bagaimana gambaran desa pegunungan di Jepang ? Apakah perbedaan desa pegunungan – kota metropolitan menimbulkan masalah budaya yang dikuatirkan generasi tua sebagai biang penyakit moral manusia abad microchip ? Hasil kunjungan saya ke desa Totsukawa pada 25 September 1992, mungkin dapat memberi jawaban, melengkapi hasil pengamatan Taku Iwasawa. Desa Totsukawa, adalah desa terbesar di Jepang. Desa ini terletak di paruparu Prefektur Wakayama pada bagian terlebat hutan tanamannya. Di bawah pemerintahan Distrik Hongu, desa ini maju kena mundur kena dalam goyangan gelombang slogan Hardware to software – material to mankind. Luas desa lebih kurang 70.000 hektar, meliputi lahan pemukiman 4.700 hektar untuk lebih kurang 2.200 rumah, hutan nasional 1.700 hektar dan sisanya hutan tanaman milik pribadi masing-masing warga masyarakat yang secara hukum mempunyai hak dan kewajiban di desa tersebut, meskipun tinggal dan bekerja atau aktif sehari-hari dan lebih banyak hari di kota.

Ketinggian tempat rata-rata desa ini 1.000 meter diatas permukaan laut, berupa pegunungan dengan lebih dari 100 puncak tonjolan. Lahan datar hanya 3% lebih kurang 2.000 hektar. Seluruhnya untuk usaha pertanian yang sulit

dinilai dengan uang, karena sebagian besar hasil langsung mencukupi kebutuhan makan masyarakat desa setempat. Melalui makan hasil pertanian ini, terasa budaya tradisional Jepang sangat kental di desa ini. Koniaku, makanan dari bahan sejenis umbi-umbian penawar racun dalam tubuh; Miyoga, jahe Jepang; Wasabi, saos sashimi dan sushi, dan Shiitake, si – jamur Jepang. Masyarakat penghuni tetap desa Totsukawa, 25% dari lebih kurang 2.000 orang, berusia lebih dari 60 tahun. Lebih dari 50% pemuda exodus ke kota sejak 5 tahun yang lalu. Hutan sebagai lapangan pekerjaan semakin sepi. Sebelum exodus berjangkit, masih dapat dijumpai lebih 2.200 orang kerja di hutan setiap hari, namun sekarang kurang dari 200 orang per hari. Mungkin tidak cukup tempat untuk belajar dan mengembangkan lapangan kerja baru. Di desa ini terdapat satu gedung SMU, empat gedung SLTP dan sembilan gedung SD. Alat informasi dan komunikasi semacam telepon, radio dan televisi bukan barang mewah di desa ini. Listrik sumber energi utama. Dua Dam dan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) dibangun di desa ini, sehingga perahu pun tidak mampu lagi menghilir ke Distrik Shingu. Apakah informasi dan komunikasi semakin transparant mempengaruhi generasi muda, sehingga mereka exodus ke kota ? Tamaki Haruo, orang nomor satu desa Totsukawa menjawab bahwa, tantangan kota menarik mereka untuk menguji semangat kemandirian. Kenyataan, mereka di kota juga bekerja, dapat penghasilan dan belajar pun tidak kesulitan biaya. Bahkan sebagian besar dari mereka berjanji tidak akan lupa asal. Haruo berharap, paling tidak empat tahun sekali pada waktu pemilihan lurah, mereka dan keturunan kelahiran kota sempat mudik ke Totsukawa. Bagaimana peran hutan ? Ternyata komponen ini tidak hanya penting bagi keseimbangan lingkungan alam dan sistem sosio-ekonomi desa Totsukawa, tetapi penting juga sebagai tali pengikat batin masyarakat exodus asal Totsukawa untuk selalu ingat leluhur dan secuil tanah warisan. Murakami menjelaskan bahwa, tanah leluhur di pegunungan menjadi hutan, secara spiritual dipercaya bangsa Jepang sebagai penyempurnaan amal bakti menuju keabadian. Hal tersebut dapat disimak pada pengelolaan hutan di desa Totsukawa sebagai berikut :

1. Sebagian besar hutan di desa Totsukawa adalah hutan milik perorangan atau keluarga. Dalam rangka pengelolaannya, masyarakat Totsukawa, baik menetap maupun exodus ke kota, membentuk perhimpunan – semacam union – yaitu organisasi para pemilik hutan. Pemerintah desa tidak mempengaruhi langsung usaha union dimaksud. 2. Mereka menyadari bahwa hutan adalah usaha jangka panjang, tidak hanya bertanggungjawab kepada keuntungan ekonomi semata, tetapi juga stabilitas lingkungan dan alam keabadian, maka perlu pedoman teknis dan perijinan : tebang – tanam – pemeliharaan sebagai produk pokok kesepakatan antara union dan pemerintah desa. 3. Pemilik hutan pribadi atau atas nama keluarga melalui union mengajukan permohonan kepada pemerintah desa, misalnya untuk menebang hutannya karena secara ekonomis telah masak tebang. Pemerintah desa mempertimbangkan permohonan ijin tersebut didasarkan pada pedoman teknis dan rasa tanggungjawab terhadap lingkungan : Apakah betul sudah masak tebang ? bagaimana peran kawasan hutan tersebut terhadap konservasi tanah dan sumber air ? Boleh ditebang atau tidak ? Bila tidak boleh ditebang apa kompensasinya ? berapa perkiraan kubikasinya ? Di luar ketentuan hak dan kewajiban yang ditetapkan pemerintah prefektur dan pusat, manfaat pendataan dan pertimbangan ijin tersebut bagi desa Totsukawa antara lain yaitu : a. Memperkirakan pajak pendapatan dari pohon yang ditebang pada blok tebangan yang ditetapkan kepala desa di areal hutan milik pemohon. b. Menentukan kompensasi jasa konservasi tanah yang harus diberikan oleh pemerintah desa kepada pemohon/pemilik hutan, andaikata hutannya tidak boleh ditebang, sebagian atau seluruhnya, karena mengandung peran prima dalam masalah perlindungan kawasan desa Totsukawa. Kompensasi tersebut sesuai perjanjian dapat berupa uang dan uang sewa tahunan untuk masa berikutnya dan/atau rekomendasi atau keterangan jasa baik di bidang lingkungan, sebagai kelengkapan syarat

mendapatkan kemudahan usaha di tempat lain. Pembakuan kompensasi berupa uang atau uang sewa tersebut, ditentukan berdasarkan musyawarah antara union dengan Pemerintah Desa. c. Menentukan subsidi dari pemerintah desa untuk penanaman kembali. Biasanya 30% dari total biaya penanaman. Dari 30% tersebut 97% untuk biaya pengadaan bibit dan upah tenaga kerja penanaman dan 3% untuk mendukung kegiatan pengurus harian union dalam hal mengatur tenaga kerja, administrasi dan program pengelolaan hutan milik keseluruhan serta kesinambungan kiprah organisasi union. Dalam rangka pemeliharaan : weeding – prunning – thinning pada hutan milik masyarakat Totsukawa, terutama yang tinggal di kota, biayanya diminta untuk diserahkan ke union, dirinci untuk setiap macam pekerjaan pemeliharaan tersebut. Union hanya mengambil 5% saja untuk mengatur tenaga kerja dan program pengelolaan hutan milik di desa tersebut. Dalam hal ini pemerintah desa memberi ijin dan berperan sebagai pengawas atau pengendali. Setiap pelanggaran akan mendapat sanksi sesuai hasil musyawarah desa. Sanksi tersebut dapat berupa denda atau dalam tempo tertentu pelanggar mendapat kewajiban khusus yang bermanfaat bagi kepentingan umum di desa Totsukawa. Mantan Walikota punya ceritera Masaharu Tasaka (65 tahun), mantan Walikota Shingu merasa bahwa, Jepang mulai menghadapi masyarakat yang cenderung berorientasi pada aspek ekonomi semata, karena begitu banyak property dan asesoris terkondisi sedemikian rupa, sehingga mereka harus membayar biaya hidup mahal, termasuk pajak pendapatan. Boleh jadi orang Jepang lebih banyak menggunakan waktu untuk berhitung dari pada mengumbar rasa, melalui aspek lain. Taki Anaka (40 tahun), petani hutan yang mengusahakan bunga anggrek sebagai pokok penghasilan hariannya di desa Katsuura Distrik Shingu, menanggapi pendapat Masaharu Tasaka dengan mengungkap rasa beratnya berusaha memenuhi tuntutan pendapatan bersih antara 3 juta – 4 juta yen setahun. Pendapatan tersebut akan impas dengan pengeluaran untuk pemeliharaan dua mobil sarana kerja, rumah beserta perlengkapan serba elektronik dan gas termasuk mandi air panas, biaya pendidikan dua anak tingkat SD, mengurus bunga dan hutan lebih kurang tiga hektar, serta memenuhi kebutuhan hidup harian dirinya beserta istri, tiga orang anak dan dua orang tua yang tinggal bersamanya. Pada waktu saya

berkunjung ke rumahnya telah tersedia di atas meja pendek dan tatami ruang tamunya dua piring bubur kentang, tiga buah tomat, empat buah jeruk, satu botol besar beer, dua cangkir kopi susu dan tiga mangkok nasi. Apakah hidangan tersebut istimewa karena kedatangan saya ? Saya merasa pada waktu itu kurang ethis menanyakan. Pada waktu saya ingin menghubungi Sakya, teman Nepal saya, via telepon, ternyata tiada telepon di rumahnya. Lain halnya dengan Tanaka (55 tahun), Gaek muda ini lebih senang kumpul profesi dari pada kumpul anak dan istri. Sebagai manager percetakan dan toko buku sekaligus direktur urusan luar negeri JAFS, beliau lebih senang sewa apartemen gelap tujuh lantai tanpa sentuhan sinar matahari langsung, di bilangan jantung Osaka padat pencakar langit. Ruang apartemen di lantai empat dengan ukuran 36 m2 rata-rata hanya ditiduri lima malam seminggu. Dua malam berikut cukup untuk kumpul keluarga di Tokyo. Isi apartemen meliputi satu kamar mandi merangkap toilet, satu dapur, satu ruang serba guna dan satu ruang tidur disewa 80.000 yen per bulan. Listrik, gas, telepon dan air masih menjadi bebannya, ratarata 10.000 yen per bulan, dan berapa biaya langganan pulang pergi Osaka – Tokyo dengan Shinkansen (Kereta tercepat di Jepang ) ? 26.000 yen hanya untuk empat jam perjalanan. Begitu besar biaya hidup Tanaka-san, orang metropolitan ini. Kembali pada Masaharu Tasaka. Pada waktu kecil beliau senang mendengarkan lagu yang mengingatkan nasib jelek apabila hidup tanpa perjuangan. Namun lagu tersebut sekarang iramanya telah menyatu dalam perjuangan setiap individu Jepang. Mereka seakan tidak punya waktu lagi untuk mendengarkan lagu, meskipun perkakas dan alat untuk membunyikan lagu peringatan tersebut menjadi asesoris setiap gubug orang Jepang. Waktu, boleh jadi dimensi ke empat bagi setiap orang untuk mengumpulkan materi tiga dimensi sebanyak-banyaknya di dunia, namun ada kekuatiran Tasaka dari relung hatinya yang paling dalam, yaitu masyarakat Jepang masa depan akan banyak kehilangan, kecuali materi yang belum tentu membahagiakan hidup. Beliau juga menghimbau kepada beberapa perusahaan di Jepang untuk mewujudkan beberapa bentuk bonus kesejahteraan karyawan ke arah lebih bersifat immaterial, antara lain yaitu kesempatan rekreasi, kesempatan untuk mengembangkan wawasan di bidang sosial, lingkungan hidup dan keagamaan. Gejala mencari pekerjaan tetap yang lebih menitikberatkan pada wawasan pengabdian cenderung mengapung, bahkan tenggelam. Hal ini sesuai dengan keprihatinan Tasaka, yaitu jarang generasi muda Jepang masa kini antusias cari kerja di Instansi Pemerintah. Memilih terbaik, terenak dan terbersih adalah selera prima di benak orang Jepang, generasi angkatan era perkembangan informasi dan komunikasi. Kristalisasi sikap

tersebut semakin kuat, sejak bangsa Jepang bebas buta huruf dan buta pengetahuan. Asiaweek Magazine terbit di Hongkong 4 September 1992 memapar informasi bahwa, di Jepang nihil ibu rumah tangga malas baca dan menulis. Budaya literasi telah merambah ke pelosok-pelosok hutan, desa dan pulau terpencil. Bisnis cetak mencetak buku mengantisipasi dengan harga jual terjangkau. Tasaka, untuk satu ini, boleh bangga sekaligus berharap dengan pernyataannya bahwa, Ibu sebagai akar budaya Jepang berperan kunci mempertahankan atau menyesuaikan tradisi dengan perkembangan jaman. Mereka paling bertanggung jawab terhadap posisi tradisional Jepang. Ada dalam setiap perilaku, ada dalam property, ada dalam asesoris atau ada di ketiganya. Perkembangan anak selama dalam dekapan dan bimbingannya menentukan gaya hidup masyarakat kini dan yang akan datang. Perkembangan sistem komunikasi menunjukkan gaya hidup orang Jepang semakin transparan sebagai makhluk sosial. Dengan segala keterbatasan, mereka menyadari bahwa tanpa perkembangan sarana komunikasi canggih, pemanfaatan sumber daya domestik semakin tidak efisien. Mengantisipasi hal tersebut, menurut Asiaweek Magazine, di Jepang sekarang ini satu telepon untuk dua orang. Begitu mudah mereka mengirim dan menerima berita, begitu cepat negosiasi terjadi dan betapa bingung seorang manager perusahaan, jika belum siap di hajar alat canggih itu. Stress !. Bagi orang Jepang kata ini mungkin tabu diekspresikan dalam sikap. Mainichi Daily News (MDN), 5 September 1992 mengutip hasil survei Kokusai Denshin Denwa Kaisha antara tanggal 28 Juli – 11 Agustus 1992 terhadap 100 responden orang asing yang telah bekerja atau melaksanakan bisnis satu tahun lebih di Jepang. Dilaporkan bahwa, ada dua orang responden menyatakan keheranannya : Mengapa bisnismen Jepang tidak pernah kelihatan stress sama sekali ? Selanjutnya, penelitian tersebut menemukan bahwa, 61% responden stress, dengan alasan : apartemen kecil dan sempit, biaya hidup tinggi dan terlalu banyak orang, terutama begitu banyak orang merokok di kantor. Harga tanah di Jepang mungkin dapat memberi gambaran, bagaimana Jepang harus putar otak untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan ruang, hingga berdampak stress pada orang asing di apartemen sewaan. MDN, 23 September 1992 mengungkap harga tanah di tiga kawasan metropolitan terbesar : Tokyo, Osaka, Nagoya. Tahun 1992 harga tanah di tiga kawasan tersebut turun 14,9% dari harga tahun 1991, di Prefektur Osaka rata-rata 333.400 yen per meter persegi dan di Prefektur Tokyo rata-rata 423.400 yen per meter persegi. Tanah residential paling mahal terletak di Kojimachi Sanbancho Mansion Condominium Tokyo. Mantan Perdana Menteri Toshiki Kaifu bertempat tinggal di daerah ini. Harganya 10,2 juta yen per meter persegi. Adapun komersial real estate

termahal di Jepang pada tahun 1992 ada di The Meiji – ya Ginza Bulding Tokyo, harganya 36 juta yen per meter persegi. Permintaan dan penawaran di atas harga tanah melangit itu, menimbulkan pasar elite di kalangan bisnis Jepang. Hal ini, dampak perkembangannya dikuatirkan Tasaka. Pertama orang Jepang menjadi terlalu money oriented dan kedua, berkaitan dengan masalah tata ruang lingkungan akan terjadi kontradiksi pendapat antara environmentalist dengan bisnismen. Menyambut kekuatiran kedua, wartawan freelance Jamie Allen (dikutip MDN, 13 September 1992) secara terang-terangan menganggap promosi pemerintah Jepang dalam pembangunan wilayah, pada hasil pelaksanaannya, telah menimbulkan noda pada aset-aset taman alami. Suatu contoh tragedy, bagaimana Jepang mengalami kegagalan mengangkat keterpaduan antara upaya konservasi alam dan pembangunan. Di Jepang, pada hakekatnya fluktuasi gerakan konservasi alam masih seirama dengan upaya mempertahankan warna budaya tradisional dalam anyaman “tatami” pembangunan. Derap konservasi alam Gerakan konservasi alam di Jepang sealur dengan aselerasi gaung dunia yang mengharapkan kesadaran manusia terhadap pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pelestarian tersebut dalam satu dasawarsa terakhir ini semakin mantap melalui strategi konservasi dunia. Pemerintah Jepang menanggapi hal tersebut dengan sikap tegas, menindak segala pelanggaran atau kelalaian terhadap komitmen internasional tentang konservasi sumber daya alam hayati. MDN, 15 September 1992 memaparkan suatu realita tentang barangbarang bawaan pelancong atau orang Jepang sendiri yang pulang dari luar negeri. Barang-barang tersebut berupa bagian-bagian satwa langka, bahkan ada kulit harimau ditemukan ditinggal begitu saja di Bandara NaritaTokyo menjadi barang tak bertuan. Ini salah satu bukti bahwa, mereka tidak punya nyali kuat mengambil barangnya lagi, karena pemerintah semakin ketat mengawasi lalu lintas benda-benda dilindungi Washington Convention atau CITES (Conservation of International Trade in Edangered Species flora fauna).

Walaupun demikian ada juga yang lolos, yaitu tulang-tulang harimau china, MDN menyatakan cukup dramatis jumlahnya. Tulang-tulang tersebut untuk ramuan obat gaya pechinan di Jepang. Hal lain pantas diungkap adalah keluhan seorang pengusaha ukir tanduk dari Yogyakarta. Exportnya ke Jepang dikembalikan dan gagal total, gara-gara tidak dilengkapi dokumen CITES tentang keabsahan tanduktanduk tersebut bukan tanduk banteng jawa. Menurut CITES, banteng jawa (Bos sundaicus) dilindungi Undang-Undang dan masuk dalam apendiks I (sangat langkah). Dari bandara marilah beralih ke laut. Memburu paus – si raksasa mamalia laut – sangat getol dilakukan nelayan Jepang, tetapi sejak satu setengah dasawarsa terakhir ini semakin surut aktifitasnya. Banyak nelayan Jepang bersepakat untuk mengalihkan citra perburuan ke citra pelestarian paus. Meski sangat berat, karena daging paus lenyap di jamuan makan, berarti satu tradisi nasional hilang. Materi informasi dan pendidikan alam di RING of FIRE – akuarium laut Osaka dan museum paus di kota Shingu, diharapkan oleh dunia konservasionist dapat menjadi salah satu bentuk nyata komitmen mereka kepada anak cucu, untuk sama sekali tidak berburu paus di perairan manapun, termasuk Antartika. Shingu, disamping dikenal sebagai kawasan hutan rakyat, dahulu sangat terkenal sebagai tempat pengelolaan daging dan minyak lemak paus di Jepang. Lain dengan paus yang agak lantun bernapas lega di dunia banyak ancaman ini, nasib lumba-lumba masih sangat memprihatinkan. Ketegasan upaya perlindungannya belum setransparan upaya konservasionist melindungi jenis dan populasi paus di dunia. Berita nelayan Jepang memburu lumba-lumba, masih sering mengisi kolom koran-koran internasional. Sensasi besar tahun 1992. Demikian kalau boleh dikata untuk nasib penyu di Jepang. Tanggal 12 September 1992, MDN mengangkat sebuah artikel berisi berita sangat mengenaskan bagi satwa dilindungi Washington Convention ini. Koshiro Shimada, pekerja sekaligus peneliti penyu pada Institut Penelitian Lingkungan Jepang melaporkan bahwa selama 1991 hingga bulan Agustus 1992 diketemukan 92 bangkai penyu, antara lain di pantai Prefektur Takushima dan pantai Prefektur Miyazaki. Kedua wilayah pantai ini, sudah lama dikenal sebagai pantai penangkaran penyu di Jepang. Bangkai-bangkai penyu tersebut semakin menarik Shimada sejak melakukan penelitian tentang ekologi penyu, bulan Juni 1990. Shimada-san bermukim di Kamogawa, wilayah timur semenanjung Boso menghadap langsung ke Samudera Pasifik. Beliau meneliti ekologi penyu dari Shirahama, ujung selatan semenanjung Boso sampai ke Lioka, wilayah utara semenanjung. Melewati 1991 dalam penelitiannya, telah diketemukan 66 bangkai penyu di pantai. Dari Januari sampai Agustus 1992

diketemukan lagi 26 bangkai penyu. Separo dari seluruh bangkai tersebut diketemukan di pantai antara Kamogawa dan kota Chikura. Hasil autopsy pada beberapa bangkai penyu, antara lain diketemukan plastik dan balon karet di ususnya. Sebagian lagi, pada batok kepala terdapat cacat seperti bekas terkena pukulan benda tumpul. Namun demikian diperoleh laporan bahwa kematian penyu tersebut bukan karena wabah penyakit di perairan Jepang. Prefektur Takushima, memiliki pantai tempat penyu bertelur. Sepanjang tahun tak kurang dari 100 ekor penyu bertelur di pantai tersebut. Yoshito Nakajima – Kepala perhimpunan peneliti flora fauna alam di Prefektur tersebut justru melaporkan bahwa pada 1992 sampai bulan Agustus tercatat kurang lebih 1.100 ekor penyu bertelur. Tidak ada seorang pun atau lembaga apa pun tahu persis berapa ekor penyu membangkai di seluruh pantai perairan Jepang. Shimada untuk sementara berpendapat bahwa kematian penyu tersebut misterius. Penyu datang ke Jepang hanya untuk bertelur. Bagimanapun ada rasa kuatir dari environmentalist Jepang akan kepunahannya, karena pencemaran laut dan perusakan atau perubahan pantai sebagai bagian habitatnya. Suatu peringatan bagi upaya pengembangan fasilitas hunian resort wisata pantai di Jepang. Memang benar bagai suatu aksioma, bahwa harus ada korban untuk pengembangan wilayah. Namun berapa besar korban tidaklah selalu sebagai hasil upaya pemberantasan atau pemusnahan. Jepang mengantisipasi pendapat tersebut antara lain dengan meratifikasi dan menjadi anggota dalam World Heritage Convention sejak Juni 1992. Demikian MDN, 5 September 1992 menggelar manuver tersebut. Salah satu gebrakan menambah kawasan perlindungan warisan alam dunia adalah rekomendasi Japan Environment Agency (JEA) terhadap pulau Yakushima dan Gunung Shirakami. Keduanya sebagai tapak baru, memperkaya daftar Warisan Dunia yang telah menampung antara lain : Yosemite National Park – USA, Galapagos Island National Park – Equador, the Great Barrier reef, Australia, Mount Athos – Yunani, Mount Sint Michel – Perancis, dan the Rock sites of Cappodocia – Turki. Menurut JEA, lebih dari 100 Negara meratifikasi World Heritage Convention. Pulau Yakushima terletak 60 kilometer dari ujung selatan Pulau Kyusyu. Pulau ini menjadi warisan alam dunia terutama untuk melindungi komunitas vegetasi sub tropika – zona temperate paling asli di Jepang. Di dalamnya diketemukan pohon sugi berumur 7.200 tahun, 100 species anggrek alam dan 300 species pakis. Berbeda dengan pulau Yakushima, di kawasan alamiah gunung Shirakami terdapat beberapa pohon Beech terbesar di dunia dan komunitas vegetasi habitat beruang asia dan beruang soklat

Hokkaido, wood peckers dan satwa liar lainnya. Gunung Shirakami terletak di Prefektur Aomori dan Prefektur Akita. Dua prefektur di wilayah utara Pulau Honsyu. Sayang sekali, sumber berita tidak menyebutkan luas kedua kawasan warisan alam dunia di Jepang itu. Mengenai kehidupan burung liar, kelihatan semakin menepis ketakutan pada kehadiran manusia. Suatu keengganan berburu atau sadar lingkungan alamiah telah mewabah masyarakat perkotaan di Jepang, mereka memberi kesempatan tampil beradaptasi secara leluasa di antara gedung-gedung, beberapa burung liar di lingkungan tersebut. Kenyataan sehari-hari di Osaka misalnya, banyak burung gagak, merpati liar dan sejenis burung gereja dapat berperilaku familiar dengan manusia. Di lokasi wisata alam, seperti saya lihat di hutan rekreasi Yachono kimichi – Distrik Owase pada 27 September 1992, selalu terlihat kotak-kotak kayu tempat meletakkan pakan burung, bahkan ada usaha manusia membantu kemudahan burung bertelur dan memelihara anak-anaknya. Pencinta Alam Jepang membuat sarang dari rumah-rumah kayu kecil ditempel di batangbatang pohon. Dalam masalah perburuan, tidak kalah hebat adalah usaha pemerintah pusat cq. JEA. Bersumber pada artikel di MDN 21 September 1992, dipaparkan bahwa JEA telah menetapkan Suaka Margasatwa baru yaitu Danau Tofutsu di wilayah timur laut Hokkaido seluas kurang lebih 2.000 hektar. Suaka tersebut penting untuk persinggahan burung-burung migran di Jepang melalui Kepulauan Kuril. Dalam penetapannya disebutkan bahwa, selama 20 tahun, sejak 1992, wilayah di sekitar danau dilarang dijadikan tempat pemukiman atau pengembangan lain. Setelah 20 tahun akan diadakan peninjauan kembali. JEA memutuskan Danau Tofutsu dan sekitarnya masuk dalam daftar the Ramsar Convention, suatu kesepakatan internasional melindungi bebek air (Water fowl) dan beberapa jenis burung migran lainnya. Konvensi tersebut telah diratifikasi 61 negara sejak 1971. Kewajiban negara-negara tersebut sesuai kesepakatan dalam konvensi adalah menetapkan beberapa tapak lahan basah (rawa-rawa) dan danau persinggahan burung migran sebagai wilayah perlindungan. Angsa dan bebek liar dapat dilihat di Danau Tofutsu antara bulan Nopember dan April setiap tahun, ketika salju mulai melepaskan konsentrasinya di pantai utara Pulau Hokkaido di akhir musim dingin. Danau tofutsu, disamping sebagai halte burung migran, juga penting perannya sebagai markas perlindungan elang laut steller dan elang ekor putih. Adapun vegetasi asli yang penting dilestarikan di daerah perairan tersebut adalah sweetbrier. Pemerintah Daerah Hokkaido menetapkan Danau Tofutsu sebagai wilayah perlindungan alam sejak 1988. Penetapan tersebut dikuatkan oleh Pemerintah Pusat pada focus perhatian spesifik yaitu, sebagai Suaka Margasatwa. Penetapan tersebut adalah bukti kesetiaan Jepang di mata

dunia pada kesepakatan Konvensi Ramsar. Jepang resmi meratifikasi dan menjadi anggota Konvensi Ramsar pada 1980. Konferensi Internasional 1992, Jepang menjadi tuan rumah, penyelenggaraannya diadakan di Kushiro – Hokkaido. Tahun 1992, tahun paling bersejarah bagi Suaka Margasatwa Danau Tofutsu. Sampai 1992 terdaftar 508 lahan basah dan danau di seluruh dunia bagi perlindungan burung migran. Tiga diantaranya ada di Jepang, termasuk Danau Tofutsu. JEA akan mempertimbangkan beberapa danau atau lahan basah di Jepang untuk menambah daftar di konvensi tersebut, setelah mendapat rekomendasi dari pemerintah daerah setempat. Sebagai contoh, Danau Kutcharo di Hokkaido. Danau ini tempat persinggahan burung air migran dari Kepulauan Sakhalin. Meskipun belum terdaftar, danau tersebut telah dilindungi berdasarkan keputusan prefektur setempat. Untuk mamalia besar daratan, JEA tidak menunjuk atau menetapkan kawasan spesifik sebagai wilayah perlindungannya. Kerjasama dengan JEA, JEA mengatur perburuannya. Perburuan di hutan-hutan dilaksanakan dua bulan pertama musim dingin dan ditentukan lokasinya. Sasarannya, antara lain : beruang, kijang dan babi hutan. Babi hutan dipandang masyarakat perhutanan Jepang sebagai satwa liar paling ganas merusak hutan dan tanaman pertanian. Oleh karena itu berbagai rekayasa pengendaliannya terus dikembangkan. Hal tersebut perlu mengingat peran babi hutan sebagai sumber gizi masyarakat. Suatu eksperimen pembudidayaan atau penangkaran babi hutan dalam suatu rank di tepi hutan, menunjukkan gejala keberhasilan, seperti dilaksanakan masyarakat Shingu di lereng gunung Kumano. Menyajikan masakan daging inu sishi (babi hutan) pada jamuan makan ala Jepang termasuk budaya tua. MDN 5 September 1992 membeberkan penemuan Kyoto Prefektur Research atas 17 buah lubang kuno jebakan babi hutan. Lubang tersebut dibuat pada periode Jomon (+ 4.000 tahun yang lalu). Lembaga Penelitian tersebut menemukan lubanglubang pada waktu penelitian archeology, bulan Juli 1992 di kawasan Hiyoshi – Kyoto. Masing-masing lubang mendekati bentuk silinderis dengan penampang berdiameter 1 meter dan dalam 1,5 meter. Di tengah-tengah dasar lubang terdapat lubang kecil dengan diameter 10 centimeter dan dalam 30 centimeter. Pada lubang ini dipancang sebuah tonggak kayu runcing ujung atasnya. Penemuan benda-benda budaya kuno pada penelitian archeology tersebut ada indikasi mendukung bahwa, babi hutan terjebak tidak sekedar dibunuh, tetapi dimanfaatkan gizinya. Gerakan konservasi alam sebagai suatu penerapan strategi untuk kelangsungan hidup bangsa di negara mana pun di dunia, mengandung tiga misi penting yaitu : (1) menjaga proses ekologis penyangga kehidupan

tetap berlangsung, (2) mengawetkan plasmanutfah flora dan fauna dan (3) melestarikan pemanfaatan sumber daya alam hayati untuk meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia. Memperhatikan upaya Jepang di pintu gerbang negara, di perairan, di udara dan di darat, seperti artikel muatan MDN, dapatlah dinilai sebagai ungkapan nyata aktifitas Jepang di peta strategi konservasi dunia. Meskipun, program aksi tersebut disiapkan dan diumumkan kurang dari 15 tahun terakhir ini, hampir bersamaan waktu dengan gaung globalisasi lingkungan yang semakin marak mewarnai sanksisanksi internasional di bidang ekonomi. Pendapat yang mengatakan bahwa gerakan konservasi alam hanya di hutan dan tempat-tempat jauh dari daerah padat pemukiman, telah ditepis Murakami dan Okita. Menurut mereka, kesetiaan bangsa Jepang memelihara tanaman di rumah sempitnya dan kesetiaan merawat tanaman peneduh jalan, secara gotong royong di lingkungan kampungnya, merupakan bagian dari perilaku nyata derap konservasi alam yang dilakukan masyarakat. Pohon ditanam di pot besar dan dipelihara semi bonsai, antara lain sedang trend di Jepang pada waktu saya disana, adalah pohon beringin (Ficus benyamina). Pohon ini dikenal masyarakat pencinta pohon di Jepang sebagai pohon benyamin. Harga 1 pot pohon benyamin setinggi + 0,5 meter di toko tanaman hias metropolitan Osaka pada waktu itu antara 3.000 yen – 5.000 yen. Pohon tersebut dibeli masyarakat penggemarnya hanya untuk menghias sudut ruang tamu atau samping pintu masuk rumah tinggal. Nyonya Hiroko Okita sempat kagum dan heran di Bali, ketika saya tunjukkan pohon beringin sebesar rumah kayunya di Osaka, tanpa menyadari bahwa di negaranya secara alami dapat ditemukan Ficus wightiana dan Ficus retusa di hutan zona sub tropis. Saya sempat terharu, ketika dia spontan mengungkap niat untuk memindahkan pohon beringinnya ke hutan. “Bagaikan memelihara anak macan”, katanya. Di lain tempat, tak jauh dari rumah keluarga Okita, ada rumah keluarga Hatsui. Pekarangan sempit di sekitar rumahnya – tak lebih dari 30 meter persegi – penuh koleksi beberapa jenis anggrek tropis dan sub tropis. Sebagai co-pilot All Nippon Airlines (ANA) line internasional, Hatsui-san pada waktu singgah dan istirahat di negara tujuan selalu memanfaatkan waktu membeli bibit anggrek untuk dipelihara di pekarangannya. “Suatu hobby yang menyegarkan profesi”, begitu katanya. Dan hobby inilah, selalu dia jadikan senjata sebagai ketua lingkungan perumahan di Nana chomae – Tonda bayashi – Osaka. Kesabaran, ketelatenan dan kebanggaan merawat anggrek, terbawa dalam sikap Hatsui-san memimpin musyawarah 250 kepala keluarga di lingkungannya dua kali sebulan. Hasil musyawarah paling mengesankan saya adalah tata cara seleksi dan pengumpulan sampah. Nyonya Hiroko Okita sebagai warga setempat sekaligus aktifis JAFS, menyanggupkan diri menjadi koordinator

pengumpulan aluminium bekas kaleng minuman dan kain perca dalam rangka menggalang dana kegiatan JAFS di luar negeri. Menurut Murakami, dukungan masyarakat Nana chomae terhadap JAFS cukup besar melalui sampah. Catatan Hiroko-san dalam Buku Kas Umum (BKU) – saya sempat melihatnya -, antara lain berturut-turut pada bulan Agustus dan September 1992 diperoleh 7.000 yen dan 6.000 yen dari penjualan aluminium bekas kaleng minuman. Kato company sebagai pemilik pabrik pengolah daur ulang sampah kaleng aluminium sanggup membeli 50 yen per kilogram. Bulan Agustus biasa diperoleh hasil terbanyak setiap tahun, karena pada bulan inilah cuaca terpanas di musim panas terjadi di Osaka. Banyak orang minum soft drink. Adapun kain perca, oleh kelompok ibu-ibu setempat dijahit, disambung-sambung kembali menjadi kain untuk dijadikan kantongkantong, tas, taplak meja, sarung bantal dan produk kain artistic lainnya, dijual pada acara-acara bazaar sosial di Osaka. Hasilnya untuk mendukung kegiatan sosial baik di dalam maupun di luar negeri. Tentang sampah organik, sesuai hobby Hatsui, dianjurkan kepada masyarakat setempat untuk sedapat mungkin di daur ulang sendiri menjadi pupuk atau kompos tanaman di pekarangan rumah masing-masing. Pelayanan pemerintah terhadap pembuangan sampah rumah tangga di Jepang, pada umumnya telah berhasil dengan baik, karena kesadaran masyarakat Jepang terhadap masalah sampah sudah sangat agresif dan transparant. Dari awal, sampah rumah tangga dikumpulkan dalam kantong-kantong plastik besar. Kantong tersebut harus ada pada masing-masing keluarga. Setelah penuh diletakkan di dalam kerangkeng sampah di pinggir jalan, sehingga mudah dijangkau truk pemuat sampah. Selanjutnya, dibawa ke pabrik pengolah sampah untuk proses daur ulang bagi yang dapat didaur ulang (plastik, kaleng aluminium, besi, kertas, kaca) dan bagi sampah organic diproses menjadi pupuk atau kompos, untuk ditaburkan di tanah reklamasi atau tanah kritis sebagai pemacu usaha penghijauan. Memang masih harus diakui, bahwa gerak cepat atau kekurang-sabaran masyarakat Jepang kadang-kadang menghasilkan karya indisipliner di bidang persampahan. Hal tersebut dapat dilihat, dan sempat saya abadikan, seperti sampah berserakan di luar kerangkeng, di pinggir jalan daerah pedesaan Distrik Shingu. Pengamatan sekilas terhadap derap konservasi alam di Jepang mengesankan sebagai pola kerjasama pemerintah dan masyarakat mulai dari rumah menjalar ke kampung, kota, prefektur dan seluruh negara. Kebiasaan hidup dalam lingkungan bersih dan tertata indah dalam keterbatasan sumber daya alam domestik negara kecil dan padat penduduk ini, menurut Michio Shimizu – Wiraswastawan Osaka, sukses di bidang perdagangan property – sebagaimana umumnya orang Jepang jaman microchip, memerlukan peningkatan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam dan disiplin kerja yang semakin bernas untuk mencapai kinerja di segala bidang. Diakuinya bahwa penerapan dan pelaksanaannya di masyarakat tidaklah semudah orang membalik telapak tangan. Prosesi

efisiensi pemanfaatan sumber daya alam domestik jaman restorasi dan oligarki Meiji pun gagal mencapai kulminasi kesempurnaan. Kegagalan tersebut antara lain disebabkan oleh politik ekspansiononisme Jepang dan ini merupakan bukti, bagaimana Jepang telah keliru berupaya, membebaskan diri dari keterbatasan dan pola efisiensi melalui kekerasan fisik. Mungkin belajar dari sejarah dan sikap kemandirian setiap individu Jepang, menyebabkan kerusakan materiil karena ekspansionisme tersebut, pada gilirannya menjadi kekuatan moril bangsa Jepang untuk berjuang kembali menegakkan prinsip efisiensi dengan andalan kebersamaan dan terbukti keberhasilannya kini, hampir di segala aspek kehidupan. Dalam hidup penuh ukuran efisiensi inilah, benih-benih budaya tradisional dan strategi konservasi alam ala Jepang ditanamkan ke benak anak-anak, melalui pembinaan spiritual dan agama. Pembinaan ini diserahkan pemerintah kepada masing-masing unit keluarga. Keberhasilannya dianggap sebagai konstribusi warga negara terhadap ketahanan nasional. Sikap gotongroyong, kerjasama dalam kebersamaan, telah jelas diukir melalui mobilisasi umum menjelang Perang Dunia II, namun hikmahnya tetap terjaga dan mengalir dalam semangat pembangunan. Oleh karena itu, patutlah dihargai apabila disiplin sumber daya manusia Jepang berangkat dari latar belakang sumber daya alam domestik terbatas yang perlu efisiensi melalui strategi konservasi alam dan berangkat dari budaya gotongroyong yang perlu kesadaran dan semangat pembangunan. Pendidikan, disamping memberi bekal untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, adalah kunci untuk membuka belenggu masyarakat Jepang dari trauma besar kehancuran Nagasaki dan Hiroshima. Kemandirian paling utama disuntikkan di pola wajib belajar orang Jepang. Diharapkan dengan suntikan tersebut, pendirian setiap individu akan mantap dan cepat tanggap mengantisipasi susasana resiko perhitungan untung rugi. Pemanfaatan ruang, waktu, materi dan energi secara serba efisien dan mantap perencanaannya di belahan bumi mana pun, menghantar bangsa Jepang ke kondisi globalisasi. Makan dan Festival Keterbatasan macam dan potensi sumber daya alam domestik, mengantar bangsa Jepang pada ekpresi dan dedikasi tinggi dalam menghadapi tantangan hidup paling hakiki, yaitu kebutuhan pangan. “Makan untuk hidup” atau “hidup untuk makan” adalah dua pilihan. Ternyata, keduanya bukan pilihan orang Jepang. Makan bagi mereka adalah bagian perkara sakral, perkara suci wajib dipelihara dalam ritual

tradisional. Upacara minum teh, awal prosesi jamuan makan ala Kaiseki misalnya, adalah ritualisasi pendeta-pendeta Budha aliran Zen ketika masuk Jepang pada abad XV (Femina edisi tahunan, 1994). Makna upacara syukur kepada Sang Pencipta dalam ritual tersebut, telah membawa bangsa Jepang pada pengertian bahwa dirinya adalah bagian dari alam. Oleh karena itu, sudah sepantasnya apabila bangsa Jepang tidak merusak alam hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Mikio Saika, dalam penjelasan perkara makan dan budaya Jepang, terus terang memaparkan bahwa satwa liar adalah guru makan terbaik di dunia. Katanya, satwa liar – melalui naluri – telah mengajar manusia untuk menikmati hidup sebagai bagian dari alam. Sebagai kelompok ekosistem dalam dinamika alam – apa adanya – menurut Sang Pencipta, satwa liar ditakdirkan tidak mengenal nutrisi dan kalori. Mereka makan produk alam kesenangannya di habitat, dalam kondisi alamiah keanekaragaman hayati, sehingga banyak pilihan, namun jarang terlalu gemuk atau kurus dan jarang sakit. “Yang sedang-sedang saja” bukan sekedar lagu dangdut, tetapi benar-benar terjadi pada postur tubuh rata-rata masyarakat pedesaan di Jepang. Paparan Seika benar dan Taku Iwasawa pun senang, apabila kembali ke alam dalam hal makan menjadi kenyataan bagi 56% masyarakat kota metropolitan Jepang. Masyarakat tersebut merasa tidak sakit tetapi tidak sehat. Menurut sahibul hikayat makan, sebagaimana dituturkan Saika, ada dua periode sejarah bangsa Jepang dalam hal pemanfaatan bahan pangan dari alam, yaitu periode tanpa beras dan periode beras. Periode beras di Jepang diperkirakan terjadi sejak 3.000 tahun lalu, sebagai bagian introduksi produk budaya China. Pada periode tanpa beras, bangsa Jepang makan buah tanaman tertentu dan isi biji-bijian dari buah berbagai jenis pohon. Isi biji diambil dengan cara memecah kulit kerasnya. Biji tersebut misalnya, chesnut dan walnut. Asal buah dan biji pilihan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : polo gemantung (buah menggantung di pohon), polo kasampar (buah menggeletak di muka tanah) dan polo kependhem (buah di dalam tanah). Polo gemantung menjadi makanan pokok sarapan pagi, kelaparan di siang hari segera diganjal polo kasampar dan polo kependhem menjadi pengantar tidur malam. Mengenai sayuran tidak berbeda dengan sayuran orang Jepang kini. Pada waktu itu sudah diketemukan antara lain, Sandomame (kacang panjang), mbayung dan terong. Tambahan nabati, mereka peroleh dari daun pasemon, buah pinus dan rumput laut. Sehubungan dengan 4 musim di Jepang, bahan pangan pun mengalami prioritas pemanfaatan, yaitu : polo gemantung prioritas untuk

musim semi; produk nabati dan hijau dedauan merebak pada sajian menu musim panas; musim gugur, buah dan biji-bijian menjadi makanan utama, sedang di musim dingin, selagi manusia mendekam didekat pendiangan, tersaji disampingnya untuk siap disantap berbagai jenis polo kependhem antara lain, wortel dan ketela rambat. Pada waktu itu mereka telah mengenal bahan pangan dari laut yaitu berbagai jenis ikan dan rumput laut. Baik nabati maupun hewani sebagai bahan pangan disajikan dalam kondisi bersih dan dilahap tanpa garam tanpa dimasak. Takut kehilangan nutrisi asli dan energi plus pada bahan pangan, rupanya telah membudaya lebih dari 3.000 tahun. Periode beras adalah periode penuh variasi budidaya bahan pangan. Memungut langsung dari hutan alam – mungkin jauh dari pemukiman – berbagai-bagai buah atau biji-bijian, sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Rekayasa pembudidayaan dalam rangka efisiensi pemungutan dan pengumpulan bahan pangan mulai berkembang. Hal ini seirama dengan budidaya penyediaan beras, meliputi : pengolahan lahan, pengairan, penanaman padi, pemupukan, pemeliharaan, panen dan pengolahan padi serta penyimpanan beras. Budaya pertanian menetap pada lahan pilihan dan kesesuaian musim, merubah bangsa Jepang pada kemapanan peradaban. Pada waktu Dinasti Edo berkuasa yaitu pada abad XVI, dari 30 juta penduduk, 80% petani penggarap sawah dengan padi (Oriza sativa) sebagai produk utama. Jelas, beras menjadi bahan pangan pokok pada waktu itu di Jepang. Namun, ketika disodorkan dihadapannya suatu masalah yaitu degradasi diversifikasi pangan era pra beras, Seika cepat tanggap dan menepis masalah itu. Selanjutnya, Seika menjelaskan bahwa masyarakat petani Jepang kuno memiliki tiga kearifan makan variasi bahan pangan. Kearifan tersebut sampai sekarang tetap dianut petani dan masyarakat Jepang era satelit. Pertama : makanlah sayuran dan buah-buahan segar sebagai bagian menu makan. Dengan cara ini sifat keasaman beras segera dapat dinetralisir oleh kebasaan alkaline di sayuran dan buah-buahan. Kedua : usahakanlah setiap hari makan sebanyak mungkin variasi produk-produk era pra beras yang pembudidayaannya mantap secara ekologis pada era beras. Dan kenanglah setiap produk makanan non beras dalam suatu festival sebagai hari-hari ritualisasi upacara syukur kepada Sang Pencipta, sehingga anugerah difersivikasi pangan semakin mantap tersedia dari generasi ke generasi. Ketiga : lestarikanlah dan laksanakanlah jadual acara tahunan berupa festival ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas anugerah berupa kekayaan alam yang berhasil diolah menjadi bahan pangan untuk mencerdaskan bangsa dan mengembangkan sumber daya manusia.

Festival Seku misalnya, masuk Jepang bersamaan waktu dengan introduksi beras dari China. Deretan acaranya hampir dipenuhi dengan upacara pemujaan, permohonan dan ucapan syukur kepada Tuhan. Harihari festival ini, dapat berlangsung kurang lebih satu sampai tiga hari, merupakan hari-hari libur bagi petani untuk tidak bekerja di sawah dan di hutan. Pusat-pusat pemujaan pun penuh petani. Mereka datang berarakan, memanggul berbagai jenis makanan dan hasil bumi bahan pangan Jepang dari berbagai penjuru desa, kemudian diletakkan di altar persembahan, selanjutnya dimohonkan kekuatan supra natural, dengan harapan hasil panen tahun berikut dapat meningkat. Waktu Seku untuk masing-masing daerah tidak sama, tergantung musim tata tanam bahan pangan dominan (missal padi) di daerah tersebut. Kesempatan melihat Seku festival Kumano pertengahan bulan September 1992, mengingatkan saya pada upacara Gunungan Sekaten di Yogyakarta dan Tabot di Bengkulu. Demikianlah cara Jepang mempertahankan dan melestarikan budaya tradisional dalam tatami pembangunan yang pada hakekatnya cenderung semakin bersifat ceremonial. Bahkan, beberapa festival bahan pangan ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional. Festival tersebut dalam kurun satu tahun meliputi : 1. Festival tahun baru, diselenggarakan setiap tanggal 1 Januari. Festival ini dimaksudkan sebagai persiapan atau ancang-ancang untuk kerja lebih keras di tahun menjelang ditapaki. Pada hari festival ini ibu-ibu dan wanita Jepang dilarang masuk dapur, walaupun tempat ini, sebelumnya menjadi ajang mereka untuk mempersiapkan makanan berkalori dan bernutrisi tinggi. Pada festival ini adalah kesempatan paling pantas untuk menyajikan beberapa macam minuman kebugaran beralkohol rendah dari China. 2. Festival bubur 7 bahan pangan nabati, diselenggarakan tanggal 7 Januari di seluruh Jepang. Pada festival sehari ini, masyarakat Jepang melahap 7 jenis bahan nabati tersaji dalam bentuk bubur. Dimaksudkan sebagai penetralisir pengaruh kalori tinggi dari sajian makanan festival tahun baru. 3. Festival buah Peach, diselenggarakan setiap tanggal 3 Maret. Pada festival ini diharapkan setiap orang Jepang dapat kebagian makan

cairan kental putih dari endosperm biji buah peach mentah/belum masak. Cairan tersebut dipercaya dapat mengurangi tekanan darah tinggi bangsa Jepang, karena selama musim dingin mereka makan ikan, daging, biji-bijian, sayuran atau buah-buahan yang diawetkan dengan garam pada musim gugur. Festival buah peach disemarakkan pula oleh hari keagamaan ohimachi. Pada hari keagamaan ini, setiap gadis Jepang diingatkan feminitasnya melalui kegiatan ikebana (tata bunga) dan dekorasi boneka (kokeshi). 4. Festival bunga iris, diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 5 Mei. Pada festival ini, bangsa Jepang diingatkan untuk minum teh dari akar pohon iris. Minuman ini dipercaya dapat menawar racun dalam tubuh sekaligus berfungsi sebagai tonix penguat tubuh. Pada festival ini, mereka juga ramai-ramai melakukan shoburo seko yaitu mandi berendam di air hangat ditaburi daun dan bunga iris. Perlakuan ini dipercaya sebagai upaya mencegah rusak kulit karena gigitan serangga dan mencegah kulit menjadi lembek karena sengatan matahari pada waktu tanam padi di sawah. 5. Festival zukino seku atau Tanaba ceremonial, setiap tahun diselenggarakan pada tanggal 7 Juli. Festival atau ceremonial penuh bunga berwarna merah ini, merupakan perlabang semangat baru untuk bekerja lebih keras lagi di sawah, karena awal bulan Juli adalah awal musim panas kehujanan di Jepang. Ramai-ramai pelihara padi mengimbas persawahan Jepang. 6. Festival chrysanthemum, terselenggara di seluruh Jepang pada tanggal 9 September setiap tahun. Dalam festival ini, upacara minum teh mengandung bunga chrysanthemum yaitu bunga liar berwarna kuning yang semarak tumbuh di hutan, dipercaya sebagai penambah kesehatan dan kekuatan masyarakat petani dalam mempersiapkan diri untuk kegiatan panen padi. Festival sebagai refleksi spiritual masyarakat, menunjukkan kadar dominan dalam upaya mempertahankan dan melestarikan budaya

tradisional di Jepang. Peran beras dalam festival dengan fasilitas hari libur nasional tersebut, menjadi pusat perhatian masyarakat bukan karena beras diunggulkan sebagai makanan pokok, tetapi karena proses ciptaannya itu, merupakan alternatif terbaik untuk mengingatkan bangsa Jepang sebagai bagian dari alam. Demikian Mikio Saika mengakhiri penjelasannya. Sehari setelah bertemu Saika, iseng-iseng ketika berada di super market Shingu, saya tengok ke bagian beras. Ternyata di Jepang ada berbagai jenis beras dengan harga bervariasi pula. Contoh : jenis beras sasini saiki, harga per kilogram tertera pada label yaitu 554,- yen, owa kosihi kari, 648,40 yen/kg dan owa nihon bare, 543,- yen/kg. Sedangkan beras ketan Jepang 990,- yen/kg. Menurut Hiro Okita, tidak setiap hari orang Jepang makan mochigome (juadah). Beras ketan biasa di-mochigome-kan pada waktu ada kelahiran dan ulang tahun bayi, festival tahun baru dan hari-hari bahagia lainnya. Selanjutnya, Hiroko mengakui bahwa dalam soal beras, bangsa Jepang sangat fanatik terhadap beras domestik. Kebiasaan makan nasi menggunakan chopstick, boleh jadi nasi beras import yang enggan dijepit, enggan pula membangkitkan selera makan orang Jepang. Suatu kejadian sempat saya rekam dalam ingatan adalah negosiasi perdagangan Jepang-USA, ramai waktu itu di media masa (awal Oktober 1992), karena terjadi ketimpangan nilai export. Nilai export Jepang ke USA lebih tinggi dari pada nilai export USA ke Jepang. Untuk meningkatkan nilai export, ketika USA tahu bahwa Jepang mulai merasa kekurangan beras karena ulah cuaca yang menggagalkan panen raya 1992 dan dikuatirkan terjadi pula pada tahun berikutnya, menawarkan beras ke Jepang dalam negosiasi tersebut. Reaksi masyarakat Jepang luar biasa, protes tidak setuju berkobar dimana-mana dengan alasan beras USA tidak dapat diproses menjadi sushi. Jalan tengah pun diambil oleh pemerintah kedua belah pihak yaitu USA tidak boleh export beras tetapi boleh export sushi ke Jepang. Setelah saya otak-atik seberapa besar nilai export sushi USA ke Jepang tersebut, ternyata tidak lebih dari sekedar kocek Jepang untuk sewa sawah di USA yang dinilai stabilitas cuacanya lebih ramah. Bagaimana tidak ? bibit padi – nasinya dapat dijepit chopstick – dari Jepang, ditanam orang USA di sawah USA dengan penyelia orang Jepang. Ketika panen, padi mengalir ke pabrik sushi. Di dalam pabrik, penuh pekerja orang Jepang dan segelintir orang Amerika berlagak mengenal teknologi sushi. Begitulah sebagian prosesi bagaimana orang Jepang di negeri Jepang menikmati sushi Amerika.

Apakah sushi itu ? berikut ini saya kutipkan resep aneka sushi bersumber dari artikel “Ala Kaiseki negeri sakura” pada majalah Femina edisi tahunan, 1994 halaman 181 : Aneka sushi : untuk 2 orang Bahan : 4 sendok makan nasi pulen yang panas 1 sendok makan sake ½ sendok teh gula pasir ¼ sendok teh garam 10 gram irisan daging ikan tuna segar 10 gram irisan daging ikan ekor kuning segar 10 gram irisan daging ikan sebelah segar 1 sendok teh wasabi parut *) 1 sendok teh jahe parut Cara membuat : Rebus sake, gula dan garam hingga gula larut Angkat dan dinginkan Aduk nasi panas dengan campuran sake hingga rata Dan biarkan hingga agak dingin Bentuk adonan nasi menjadi bulatan-bulatan panjang – ramping Atur irisan-irisan daging ikan diatasnya Sajikan segera dengan wasabi dan jehe parut *) Wasabi adalah akar tumbuhan Wasabi. Warna hijau tua kesoklatan, biasanya diparut dan rasanya sangat panas menusuk hidung. Terdapat juga berupa bubuk dan pasta siap pakai. Gaya Jepang mengatasi problematic difersivikasi pangan dan sandang dalam era globalisasi ini – belajar dari sushi amerika – ada gejala semakin mempertajam nilai sumber daya alam domestiknya. Artinya yaitu, beberapa komponen sumber daya alam domestik paling akurat dan mendapat prioritas tinggi untuk menunjang produksi sandang pangan sesuai selera orang Jepang, harus tetap dikuasai berdasarkan perkembangan teknologi mutakhir. Selanjutnya, komponen penunjang, misalnya lahan, tenaga kerja dan sarana produksi lain diminta untuk disiapkan oleh negara sahabat yang sanggup bekerjasama dan bernegosiasi dengan Jepang. Beberapa pengusaha garmen di Jepang mengendus tenaga kerja murah di Indonesia, terutama di Bali. Perhitungan spekulasi jlimet membawa mereka beserta berkoli-koli potongan pakaian siap jahit – sesuai ukuran dan selera orang Jepang – menuju ke Bali. Di Denpasar dan sekitarnya, telah menunggu dan siap kerja berpuluh-puluh tukang jahit sanggup lembur dengan upah 20 –40 yen per potong. Bagi pengusaha garmen Jepang tersebut, kesempatan sewaktu-waktu berperan sebagai penyelia sambil menunggu selesai jahitan berarti kesempatan berperan sebagai wisatawan

di Bali. Yendoka pun merebak di money changer. Kepadatan frekuensi harian penerbangan Internasional dari Bandara Ngurah Rai ke empat Bandara Internasional di jepang (Fukuoka – Osaka – Nagoya – Narita), kelihatannya, semakin memantapkan hasil produksi garmen “internasional” tersebut. Begitulah, contoh sisi lain pola kerjasama Jepang di bidang ekonomi dengan negara sahabat pada era globalisasi, yang pada akhirnya, menjadi keberhasilan Jepang dalam mempertahankan profil kebudayaannya. Karena selera suatu bangsa pada makanan atau pakaian, pada dasarnya tidak lepas dari anutan budayanya. Nomor satu property kayu Sakamoto-san, pensiunan guru sebuah SMU di Shingu, mengakui bahwa agak sulit melacak sejarah, kapan profil budaya Jepang mulai dilumuri property kayu. Tak pelak lagi JFA pun memaparkan dokumen lama. Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa, kiprah bangsa Jepang pada periode sekitar satu abad yang lalu, yaitu ketika kayu mulai menduduki tahta bahan aplikasi dunia, mereka telah mengenal berbagai macam kayu berasal dari kurang lebih 200 jenis pohon, baik endemik maupun introduksi. Hal yang jamak pula, sekiranya pada waktu itu bangsa Jepang memanfaatkan kayu sebagai bahan baku utama bangunan rumah. Disamping keterbukaan hutan alam sebagai gudang kayu, kondisi alam pun menjadi biang, mengapa kayu menjadi bahan pilihan. Karakter flleksibelitas kayu dalam goyangan gempa, kesanggupan kayu menyerap panas udara lembab dan menahan udara kering dingin, memberi harapan besar bagi jeroan rumah tradisional Jepang untuk tetap tegar, segar, hangat dan nyaman. MDN 21 September 1992, dalam suatu artikel, kembali menggelar berita sejarah dengan maksud untuk lebih meyakinkan bangsa Jepang, supaya tetap setia menggunakan kayu sebagai bahan bangunan. Dalam artikel tersebut diceriterakan tentang penemuan bekas letak rumah kayu kuno di Prefektur Shingu oleh Dinas Pendidikan setempat pada awal 1992. Berdasarkan analisis lapisan tanah, disimpulkan bahwa konstruksi bangunan kayu tersebut berdiri pada akhir pertengahan abad II. Ekskavasi arkeologis pada lubang-lubang bekas tiang penyangga bangunan dan posisi lubanglubang tersebut berupa rumah panggung dengan satu lantai papan seluas 88 meter persegi. Letak lantai 4 meter, sedang bubungan atap lebih kurang 12 meter di atas muka tanah. Masing-masing tiang penyangga berdiameter 40 – 50 sentimeter, ditanam pada tanah sedalam 1,2 – 1,5 meter. Memperhatikan lukisan kesan seniman terhadap hasil ekskavasi tersebut, mengingatkan saya pada rumah dayak (lamin) di Kalimantan. Rumah kayu tradisional Jepang pada dasarnya dibangun dengan sistem bingkai, yaitu gabungan antara tiang penyangga dengan balokbalok horizontal saling terkunci pada lubang-lubang tatahan unik tanpa

paku. Ruang terbuka tercipta diantara bingkai-bingkai tersebut, akhirnya – setelah diberi tabir papan ringan pilihan sekaligus berfungsi pula sebagai pintu dorong – akan menjadi kamar-kamar untuk tidur, makan, pertemuan dan keperluan spesial lainnya. Karakteristik kayu menjadi kapita selekta Jepang untuk menentukan manfaat kayu. Bicara hinoki, sugi dan hiba (Thujopsis dolabrata) berarti dapat mengarah pada keputusan pemanfaatan untuk tokobashira (tiang penyangga utama) atau hashira (tiang penyangga penunjang), bahkan dodai (balok kayu horizontal diatas fondasi beton bertulang). Khusus dodai, kalau tidak dipaksa dan yakin akan kemampuan koceknya, mereka akan memilih hinoki atau hiba sebagai pilihan ke-dua. Hinoki dan hiba berdasar pengalaman dan test laboratorium, sangat tahan air. Bagaimana dengan akamatsu (Pinus densiflora) ? Tukang kayu Jepang akan menjawab bahwa, tidak ada manfaat lain bagi bangunan rumah kayu, kecuali sebagai balokbalok horizontal penyangga shikii (lantai papan). Akamatsu dipilih karena sifat tegangnya tidak mengenal kerapuhan dan keretakan. Shikii, dengan persyaratan kayu papan tahan gores dan berkesan muka berkilat minyak, biasanya memanfaatkan kayu pohon Batula grossa, Distylium recemosum dan Prunus spp. Tabir papan dan pintu dorong ringan menyempurnakan jeroan rumah tradisional Jepang menjadi kamar-kamar, biasanya dibuat dari kayu ringan Paulownia tomentosa dan, kalau persaingan jatah dengan kokeshi (boneka kayu tradisional Jepang) cukup berat, dijatuhkanlah pilihan pada sugi atau jenis kayu ringan lainnya. Demikianlah, beberapa contoh upaya Jepang mengalamatkan manfaat berbagai karakter kayu dalam budaya rumah kayu tradisional. Tidak jauh berbeda dengan pilihan pada kekuatan konstruksi bawaan si kayu – dalam penerapan teknologi bangunan rumah – warna, kecerahan dan seni ornamen alami permukaan kayu pun muncul sebagai bahan pertimbangan. Misalnya, hinoki diakui sebagai jenis pohon endemik yang melahirkan kayu gergajian terbaik dan paling dihargai ekspresi kesucian warna cerah permukaannya. Oleh karena itu tepatlah kiranya, apabila bangunan kayu bermakna sakral, seperti shrine (tempat pemujaan), istana dan puri menggunakan hinoki. Untuk jenis lain, karena temperatur kegandrungan bangsa Jepang sangat tinggi pada kecerahan dan warna alamiah, maka pemanfaatannya tidak lepas dari kreatifitas yang semakin demonstratif dalam dekorasi rumah Jepang. Penampakan serat kayu mengesankan keanggunan dekorasi telah disajikan beberapa jenis pohon daun lebar, antara lain : zelkova serrata, Cinnamomum camphara, Sophora japonica dan Aesculus turbinate. Dan kreatifitas tersebut semakin jadi, setelah ornamen timbul alamiah mengesankan kekuatan otot pesumo Jepang disajikan sugi aneh, naik pamor dalam kancah selera seni bangsa Jepang. Tennushibo, demikian nama batang sugi aneh tersebut, sebenarnya adalah sugi cacat genetis (semacam mutasi gen) yang sulit rekayasa vegetatif pengkayaannya. Pada waktu mampir di sebuah toko kayu dalam perjalanan Shingu – Kino Prefektur Mie 16 September 1992, saya melihat

Tennushibo ukuran miyagi maruta (tiang tinggi 3 meter, diameter 20-24 centimeter) dikemas plastik sangat rapi dan berkesan mahal. Harganya 200.000 yen sebatang atau 20 kali lipat harga sebatang sugi polos ukuran sama disampingnya. Keterpaduan sugi dan hinoki dalam rumah kayu tradisional mengesankan kesucian dan kekuatan. Kesan inilah, sebagaimana diungkap Nabuhiro Seko – seorang rimbawan swasta Jepang – antara lain menjadikan keduanya tumbuh dalam prioritas prima pengembangan dan pelestarian property kayu domestik di Jepang. Aroma khas kayu dapat menentukan nilai tambah propertinya. Melalui beberapa contoh berikut ini, bangsa Jepang menyajikan bukti pantas dinikmati, antara lain : Aroma hinoki memantapkan kesakralan rumah pemujaan; Lemari kabinet dibuat dari kayu Cinnamomum camphora berkharisma tinggi karena aromanya; Aroma tusuk gigi mengasyikan penggunanya dapat diperoleh dari Lindera umbellate dan sake terkontaminasi sugi, memberikan aroma khas meningkatkan daya jual. Oleh karena itu menyimpan sake dalam tong log sugi tua merupakan kepastian bebas gugatan dan harus dilaksanakan. Begitulah kreasi bangsa Jepang, menggali dan mengembangkan pemanfaatan beberapa jenis kayu dalam multi-dimensi kebutuhan hidup. Efisiensi tetap terpancar dari kreasi ini yaitu mengurangi jumlah jenis pohon untuk kepentingan penggunaan umum. Karakter kayu dari satu jenis pohon, kadang-kadang hanya untuk satu kepentingan penggunaan spesifik. Apabila spesifikasi ini merupakan kekuatan inti suatu komponen yang menyatu dalam dinamika sistem budaya masyarakat Jepang, maka tak diragukan lagi upaya pelestariannya. Rumah bagi bangsa Jepang adalah suatu sistem konstruksi sekaligus komponen atau sub sistem dalam sistem budaya. Kehilangan rumah kehilangan suatu mata rantai, membangun rumah menguntai rangkaian mata rantai. Dalam buku Forestry and forest Industries in Japan, 1991, JFA memaparkan bahwa kayu adalah bahan baku kebutuhan terbesar untuk konstruksi rumah di Jepang, baik rumah kayu maupun rumah tidak seluruh bahannya dari kayu. Rumah kayu meliputi : Rumah Bingkai Tradisional (RBT), Rumah Kemasan Pabrik (RKP) dan Rumah Sistem Dua Empat (RS 2.4). Rumah Bingkai Tradisional (RBT) Meskipun bentuk RBT tidak dibakukan berdasarkan kondisi alam dan iklim, kondisi sosial dan budaya di masing-masing prefektur, namun bangsa Jepang yang tertarik pada RBT tetap berpegang pada pembakuan ukuranukuran kayu penyangga utama RBT antara lain : dodai, tokobashira, hashira dan tabir diantara hashira. Tabir RBT terdiri dari tabir gaya Jepang dengan cirri khas hashira tetap terlihat dan tabir gaya barat (Eropa – Amerika) dengan cirri khas hashira tertutup. Konstruksi tabir dibuat berdasar metode

basah yaitu dengan diplester semen atau metode kering yaitu menggunakan kayu dalam bentuk papan tipis, jointing board, ply wood atau partikel board. Kedua gaya tabir tersebut pada umumnya diterapkan bangsa Jepang di RBT. Tetapi, pada tahun-tahun terakhir ini, pengembangan tabir gaya barat dengan metode kering lebih marak dalam sistem borongan perumahan RBT. Rumah Kemasan Pabrik (RKP) RKP muncul pertama kali pada akhir 1950-an, yaitu ketika aselerasi permintaan masyarakat akan konstruksi rumah tinggal mulai melesat. Pada awalnya ide RKP bertolak pada efisiensi waktu pembangunan rumah di lokasi dan pemerataan pekerjaan komponen bangunan pada masingmasing unit badan usaha atau industri perkayuan. Dengan cara itu, RKP merupakan hasil kombinasi beberapa produk dari unit-unit industri perkayuan yang memerlukan: pembakuan ukuran dan bentuk, pemeriksaan ketat hasil produksi oleh masing-masing produsen dan kontinuitas pemeliharaan kepercayaan masyarakat konsumen. Rumah Sistem Dua Empat (RS 2.4) RS 2.4 pada awalnya dikembangkan di USA. Masuk ke Jepang, mungkin hanya sekedar sebagai salah satu alih teknologi total yang kebetulan dapat diterima masyarakat Jepang. Dalam RS 2.4, tabir baik berupa ply wood atau plesteran semen dipakukan pada komponenkomponen kayu yang disebut dimensi lumber. Ukuran baku masing-masing komponen 2 inchi kali 4 inchi. Terbentuklah panel-panel. Penggabungan panel-panel tersebut adalah prinsip dasar pembentukan RS 2.4. Pemanfaatan kayu dalam bangunan tidak terbatas pada rumah kayu. Beberapa model rumah non-kayu baik rumah beton kemasan pabrik, rumah baja ringan kemasan pabrik maupun kondominium bertingkat dan perkantoran pencakar langit. Sama sekali tidak mau meninggalkan aroma dan penampilan kayu di dalam interior atau jeroannya. Statistik JFA pada 1989 menampilkan angka jumlah rumah yang dibangun pada tahun yang bersangkutan, yaitu 1.663.000 unit rumah, meliputi rumah kayu 720.000 unit (43%) dan rumah non-kayu 943.000 unit (57%). Selanjutnya, rumah kayu 720.000 unit tersebut terdiri dari : 640.000 unit (89%) RBT, 32.000 unit (4%) RKP dan 48.000 unit (7%) RS 2.4. Memperhatikan RS 2.4. yang cukup lumayan jumlah unitnya itu, menunjukkan bahwa pada akhir 1980-an ada perubahan selera bangsa Jepang yang condong ke akomodasi model barat (Eropa-Amerika). Suatu gejala degradasi budaya telah muncul melalui model property perumahan. Ekstrimitas distribusi penduduk ke metropolitan dan harga tanah melangit, mempersulit pengembangan wilayah pembangunan perumahan. Pencakar langit kondominium mungkin menjadi jalan keluar. Bagaimanapun

juga, 43% bangunan baru berupa rumah kayu pada 1989 dan merupakan peningkatan dari 41% pada 1988, harus dapat diterima sebagai kenyataan bahwa nomor satu property kayu belum luntur dari selera dan budaya bangsa Jepang. Distribusi kayu Namun demikian perlu diingat bahwa, kelompok masyarakat Jepang yang loyal dan royal property kayu, pada prinsipnya masih terkurung dalam tatanan ketat distribusi. Penomena ini sangat bertolak belakang dengan distribusi penduduk Jepang. Distribusi kayu domestik Skenario distribusi kayu domestik yang rutin meriwayatkan kiprah 2,83 juta kepala keluarga perhutanan dan 160.000 unit usaha industri perkayuan, merupakan proses multi-jenjang ruwet, apabila titik-titik peningkatan nilai tambah tidak diperhatikan sebagai basis transaksi dan simpul urat nadi distribusi. Titik-titik peningkatan nilai tambah tersebut, khusus untuk kayu domestik menempati prosedur distribusi log dan distribusi kayu gergajian. Pada prosedur distribusi log terdapat empat titik peningkatan nilai tambah yaitu pemilik hutan, pengurus perhimpunan para pemilik hutan yang biasanya berperan juga sebagai pengepul kayu log (logger), pasar lelang log dan zona industri penggergajian (saw mill). Dalam prosedur distribusi ini terdapat aturan kesepakatan mereka yaitu pemilik hutan tidak boleh langsung menawarkan dan mendistribusikan lognya ke saw mill. Sedang logger harus melepas log ke saw mill melalui lelang. Saw mill paling awal berperan dalam prosedur distribusi kayu gergajian domestik. Sebelum dibeli tukang kayu, badan usaha konstruksi dan badan usaha perumahan (real estate), tiga titik peningkatan nilai tambah harus mengkaji kayu gergajian tersebut. Tiga titik itu adalah : pasar lelang kayu gergajian, pedagang besar yang melayani penawaran partai besar kayu gergajian dan pedagang kayu eceran. Konsensus diantara mereka pada prosedur distribusi tersebut adalah pedagang besar tidak boleh ikut lelang. Sehubungan dengan efisiensi pemanfaatan ruang, tempat lelang disentralkan di ibukota distrik. Hal ini terkadang dapat menimbulkan ketidak puasan logger atau pemilik kayu. Kehadiran kayu di tempat lelang, biasa serba partai kecil dari berbagai lokasi hutan, dinilai keuntungan lelang masih kurang memadai atau efisien untuk menanggung biaya angkutan. Distribusi kayu import Multi-jenjang distribusi kayu import di Jepang sangat sederhana. Pasar lelang absen, baik pada prosedur distribusi log maupun distribusi hasil proses lanjutan. Sejak log import diterima importir, peranan pengusaha kelas kakap kayu import mendominir log hingga ke prosesing lanjutan. Kehadiran

beberapa pedagang besar hanyalah alternatif untuk mempercepat penyaluran log import ke zona industri perkayuan yang jauh dari pelabuhan besar. Peralatan dan mesin-mesin canggih di zona industri perkayuan merubah log import menjadi material siap rakit akan menambah panjang daftar sensus property perumahan, mebelair dan produk perlengkapan dari kayu lainnya. Material tersebut antara lain adalah kayu gergajian (lumber), kayu lapis (ply wood), chip, jointing board, partikel board, lantai kayu (parkeet) dan bubur serat kayu (pulp). Berkaitan dengan upaya peningkatan nilai tambah material tersebut dalam prosedur distribusi sampai ke konsumen perakit, ada tiga alternatif jalur yang dapat ditempuh, yaitu : pertama, jalur langsung dari zona industri ke konsumen perakit; kedua, melalui perantara jasa pengecer; dan ketiga, melalui perantara jasa pedagang besar dilanjut jasa pengecer. Pada prosedur distribusi material inilah peran pengusaha kelas teri di bidang perkayuan diberi peluang, meskipun hanya sebagai pengecer dan asetnya mungkin hanya mampu untuk transaksi dengan tukang kayu desa sebagai salah satu konsumen perakit. Kontraktor bangunan dan pengusaha real estate adalah konsumen perakit partai besar yang selalu siap transaksi dengan konsumen pengguna. Hubungan langsung mereka dengan produsen material ada kecendrungan membentuk konglomerasi, karena fluktuasi volume pekerjaannya tergantung pada permintaan pasar dan aktifitas importir. Demikianlah garis besar distribusi kayu di Jepang. Industri perkayuan sebagai salah satu simpul urat nadi distribusi, peranannya bagaikan jantung. Detak inspirasi dan refleksinya dalam pengembangan rekayasa perkayuan sangat menentukan efisiensi pemanfaatan kayu, terutama dalam rangka memenuhi permintaan konsumen, baik perakit mapun pengguna.

Efisiensi pemanfaatan kayu Seberapa besar efisiensinya ? JFA mencatat dalam buku statistik, perkembangan dan fluktuasi produk industri perkayuan meliputi kayu gergajian (lumber), kayu lapis (ply wood), chip, pulp dan kertas sebagai berikut : Kayu gergajian (lumber) Sampai dengan 1989 di Jepang terdapat 17.233 Unit Pengergajian (UP), meliputi 6.594 UP melayani penggergajian log domestik; 7.989 UP melayani penggergajian log import dan domestik; dan 2.650 UP hanya sanggup melayani penggergajian log import. Untuk mengoperasikan UP-UP tersebut, pada 1989, masing-masing UP sesuai profesinya, telah dipasok rata-

rata 6.500 meter kubik log import dan 1.800 meter kubik log domestik. Hasilnya : 30,56 juta meter kubik kayu gergajian (lumber). Kayu lapis (ply wood) Kayu lapis produk Jepang mengalami penyesuaian produksi sejak 1973, sebagai langkah maju yang aselerasinya melantun dalam gelombang resesi dunia 1970-an. Resesi dunia menghablur bersamaan dengan posisi dan stabilitas harga BBM pada 1980-an. Kondisi ini, antara lain meningkatkan pembangunan perumahan yang konstruksinya tidak secuilpun meninggalkan kayu. Hal tersebut sesuai permintaan masyarakat, terutama permintaan pada model-model konstruksi rumah bertata tabir-tabir tipis pemisah ruang jeroan rumah Jepang dalam rangka efisiensi tersebut. Produksi kayu lapis mulai mengejar permintaan pasar, terasa kehangatannya sejak 1986. Dan mencapai kulminasi produk sebesar 7,29 juta meter kubik pada 1988. Jepang merasa kewalahan, justru pada waktu Indonesia sedang getol-getolnya export kayu lapis, sehingga pada 1989, 30% permintaan pasar di Jepang dapat dipenuhi kayu lapis dari Indonesia. Namun dipihak Jepang sendiri, karena persediaan log import sebagai bahan baku kayu lapis mulai menipis, produksinya turun dibawah kinerja 1986, yaitu hanya 6,71 juta meter kubik. Suatu kejutan pernah diraih Jepang pada produksi 1987. Pada waktu itulah produksi kayu lapis Jepang menduduki ranking dua dunia setelah USA. Khusus untuk kayu lapis bahan baku log keras, Jepang menduduki ranking satu dan diikuti Indonesia pada ranking dua. Globalisasi lingkungan yang melanda ekonomi dunia, diharapkan dapat semakin mengheningkan hutan tropis dari hiruk pikuk eksploitasi log cuci mangkok. Sistem konsesi mulai diatur bonafiditasnya. Sejak awal dasa warsa terakhir ini kemampuannya sebagai fasilitator pemanfaatan sekaligus pelestarian hutan tropis diuji. Memiliki dan mengoperasikan pabrik penggergajian atau kayu lapis, sebagai aksi pengendalian gegap gempita export log, diharuskan menjadi sub sistem dalam konsesi. Bagaimana antisipasi Jepang ? Pada waktu log tropis leluasa didamparkan di pantai Jepang, 20% untuk kayu gergajian dan 80% untuk kayu lapis. Komposisi menu tersebut tetap berlanjut antara 1979-1989, namun volumenya semakin turun, sehingga Jepang selama 10 tahun tersebut membongkar 73 unit pabrik kayu lapisnya, yaitu dari 212 unit pada 1979 menjadi 139 unit pada 1989. Pulp dan kertas Pada jaman komputer ini, barometer peradaban suatu bangsa dapat diukur melalui kebutuhan kertas. Jepang sangat menyolok dalam hal ini. Sebagai negara pemasok 9% kertas dunia atau ranking dua setelah USA pada 1988, Jepang cukup menggunakan 0,26 juta ton kertas produksi 1989 ditambah hasil daur ulang kertas yang memenuhi 50% kebutuhan dalam

negeri. Produk kertas 1989 sebesar 26,81 juta ton, 26,55 juta ton diexport ke beberapa negara berkembang. Meskipun dapat mencukupi kebutuhan kertas dari produksi sendiri, Jepang tetap menggantungkan import pulp sebesar 20% dari kapasitas pabrik kertas dan 50% bahan baku pulp (chip) dari kapasitas pabrik pulp yang ada di Jepang. Dua pertiga pulp import tersebut berasal dari USA dan Kanada. Sedangkan chip di import dari USA, Kanada, Australia dan Selandia Baru. Jepang berhasil menduduki ranking tiga setelah USA dan Kanada dalam hal produksi pulp pada 1988. Menurut data 1985, di Jepang terdapat 412 pabrik kertas dan 499 pabrik pulp. Namun, konglomerasi yang timbul dari aset komoditi ini, menyebabkan setiap tahunnya 55-70% hasil produksi total lahir dari rahim sepuluh besar. Kehadiran pengusaha gurem dalam blantika kertas di Jepang pada umumnya, eksistensinya timbul karena spesifikasi produk kertas tertentu. Misalnya : kertas spesifik untuk menulis indah huruf kanji, hiragana dan katakana, kertas yang erat kaitannya dengan upacara agama dan sebagainya. Mengenai daur ulang kertas, Jepang menduduki ranking dua setelah Korea Selatan. Optimalisasi pemanfaatan kayu Bisnis materi dan property berbau kayu di Jepang tidak berhenti atau berputar dalam lingkaran norma tradisional semata, melainkan mendapat peluang sangat luas untuk melesat, sejalan dengan optimalisasi pemanfaatan kayu dalam kreatifitas seni dekorasi dan konstruksi. Peluang terbuka bagi kreatifitas tersebut timbul, antara lain karena dari berbagai aspek, sedikit sekali sumber daya alam domestik lain yang pantas dikeruk dari dalam bumi, untuk berkreasi. Negara miskim mineral seperti Jepang, dapatlah dimaklumi apabila perhatian masyarakatnya lebih banyak tertuju pada sumber daya alam hayati, kendati jumlah jenisnya terbatas. Sebagaimana Diderot telah mengungkap, bahwa :”adalah kehadiran manusia, yang menaruh kepentingan atas adanya makluk yang lain” (Sartono Kartodirdjo, 1986), begitulah kiranya masyarakat Jepang yang menaruh kepentingan atas berbagai jenis pohon di negaranya. Menaruh kepentingan adalah ungkapan kunci, tidak hanya menempel di bibir mungil gadis Jepang, tetapi telah terlontar keluar berupa aksi nyata yang sedikit banyak tidak bertentangan dengan strategi konservasi dunia. Kepentingan hutan yang semula ditaruh diatas wawasan property, pada dasa warsa terakhir ini mulai goyah, seirama dengan pengembangan pola pikir masyarakat yang semakin menjurus ke peningkatan kualitas hidup.

Jurus tersebut akhirnya memposisikan kepentingan hutan bagi segala aspek kehidupan. Aspek ekonomi misalnya, pemerintah memberikan subsidi cukup besar bagi pembangunan fasilitas-fasilitas umum yang hampir seluruh bahan bakunya kayu. Stasiun Kereta Api local, sekolahan, tempat pertemuan, halte bis, boks telepon umum dan prasarana rekreasi alam adalah beberapa sasaran fisik bagaimana upaya Jepang meningkatkan pemanfaatan kayu untuk konstruksi. Seni dekorasi menggunakan moulding, parkeet dan produk-produk kayu spesifik merubah pula jeroan gedunggedung konstruksi beton. Bank, hotel, kondominium dan perkantoran akan terasa hambar bila tanpa perlengkapan dari kayu. Aspek ekologi, tidak diragukan lagi bila mengingat kondisi lingkungan fisik Jepang sangat rentan tanpa hutan. Dan dalam rangka mengurangi pencemaran lingkungan, kayu pun hadir sebagai bahan baku kemasan yang mudah dikemas alam. Begitulah pengembangan pemanfaatan kayu di Jepang yang profil dan sifat kayunya masih kelihatan. Sedangkan yang secara kimiawi mengalami perubahan total dan memberi nilai tambah luar biasa di kancah perekonomian Jepang masa depan, antara lain adalah : produk serat karbon dan resin dari lignin; oligosakarida sebagai hasil penyulingan hemiselulosa; dan asam pirolignin sebagai hasil samping industri arang kayu. Asam tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki lahan kritis dan sekaligus mempercepat pemulihan kesuburan tanah. Kerjasama luar negeri Mungkin solidaritas atau menaruh kepentingan khusus terhadap kayu tropis di kancah perdagangan dunia, bangsa Jepang pun dilanda ketakutan menghadapi degradasi hutan tropis karena dampak sosial dan konsesi yang tidak bertanggungjawab. Suatu langkah strategis, ketika Jepang – di dalam ITTO – mendukung program ecolabeling sebagai salah satu kesepakatan dunia mengatasi kerusakan hutan tropis. Ecolabeling yang dikenakan pada produk-produk hayati, terutama hasil budidaya kayu tropis, merupakan legalitas perdagangan kayu Internasional. Melalui program inilah untuk kesempatan awal Pemerintah Jepang sepakat mengadakan kerjasama dengan beberapa negara tropis dalam rangka realisasi bantuan teknis, meliputi : Konservasi Alam, pemanfaatan dan rehabilitasi hutan. Hal tersebut, boleh jadi sebagai upaya alih teknologi pengalaman Jepang yang telah berhasil membangun hutan tanaman lebih dari 10 juta hektar selama 4 dasa warsa terakhir ini. Kerjasama tersebut dilaksanakan melalui perjanjian bilateral (antara dua negara) dan melalui Organisasi Internasional.

Proyek-proyek kerjasama bilateral, diwujudkan pada awalnya dengan mengirim tenaga ahli Jepang ke negara hutan tropis yang mengusulkan kerjasama. Selanjutnya, berdasarkan hasil evaluasi, kerjasama tersebut dapat berkembang dalam berbagai bentuk kegiatan teknis, meliputi : pendidikan dan latihan, pengadaan mesin dan alat-alat, transfer teknologi dan bimbingan teknik kepada beberapa rimbawan tropis mengenal ekologi hutan dan metode penelitian pemanfaatan hasil hutan (kayu dan nonkayu). Berdasarkan catatan JFA, selama 10 tahun terakhir ini, rata-rata setiap tahun Pemerintah Jepang menerima dan membiayai 100 rimbawan tropis untuk training kehutanan di Jepang. Hampir bersamaan waktu, 15 proyek kerjasama teknis dalam proses pengembangan di 12 negara tropis. Sekitar 70 expert (tenaga ahli) Jepang bekerja di proyek-proyek kerjasama tersebut. Adapun proyek-proyek kerjasama tersebut, sebagaimana table berikut ini : Tabel : Kerjasama/Bantuan Teknis Jepang yang berkaitan dengan Kehutanan. No. Negara Nama Proyek Proyek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nigeria Kenya RR China RR China Thailand Malaysia Sabah-Malaysia Indonesia Indonesia Philipina Brunai Darusalam Uji coba reboisasi/penghijauan daerah semi arid Pelatihan Perhutanan Sosial Pelatihan pengelolaan DAS dan Loess plateau Penelitian pemanfaatan kayu terpadu di Propinsi Helong-Jiang Pelatihan dan penelitian Reboisasi Penelitian Produksi kayu Tropis Pelatihan dan pengembangan teknik reboisasi Penelitian hutan tropika basah Konservasi Hutan di Sulawesi Selatan Pengembangan hutan untuk daerah pertambangan Penelitian hutan tropis

12 13 14 15

Papua New Guinea Peru Paraguay Myanmar

Penelitian hutan tropis Ujicoba reboisasi kawasan Amazon Reboisasi di capiibary, Paraguay Tengah Pusat Pelatihan Pengembangan Hutan

Sumber : Forestry and Forest Industries in Japan, 1991 Dalam rangka kerjasama melalui Organisasi Internasional, Pemerintah Jepang berperan sebagai penyandang dana aktifitas-aktifitas kehutanan, meliputi : Konservasi Alam, Pemanfaatan Hutan dan Reboisasi. Organisasi Internasional tersebut antara lain ITTO dan FAO. ITTO berkantor pusat di Yokohama, menerima kontribusi dana yang terbesar dari Pemerintah Jepang. Sedangkan dana yang disiapkan untuk FAO, diarahkan untuk membiayai aktifitas TFAP (Tropical Forestry Action Plan).

63. Sebagian arteri di jantung Osaka Tradisi yang tenggelam di lautan materi

64. Generasi muda Jepang
menjadi pahlawan di atas HD

65. Desa Totsukawa
mundur kena maju kena

66. Salah satu tempat pemujaan
membina spiritual dan agamanya sendiri

67. Harpun di musium paus Shingu
melantunkan nafas lega

68. Penangkaran babi hutan di lereng Gunung Kumano
membudidayakan naluri liar

69. Barang bawaan yang ditinggalkan di Narita
tidak punya nyali kuat MDN, 5 September 1992

70. Jebakan babi hutan 4.000 tahun yang lalu. perlu gizi, bukan sekedar pembunuhan MDN, 5 September 1992

71. Kerangkeng dan serak sampah di jalan desa
akibat gerak cepat orang Jepang

72. Menunggu diangkut
di dalam kerangkeng : dua kantong cukup

73. Pengambilan sampah
kerjasama supir dan kernet, suatu efisiensi

74. Truk sampah Jepang
siap menuju ke daur ulang

75. Di lahan datar adalah sawah
penggarapannya penuh festival

76. Ramai-ramai potong padi
diawali dengan festival chryssanthimum

77. Arang binchotan memanggang ikan
takut kehilangan nutrisi hewani

78. Warung otomatis
melayani serba cepat orang Jepang

79. Arakan festival Seku
menuju altar persembahan

80. Menaruh kepentingan di dalam arakan
tidak hanya menempel di bibir mungil gadis Jepang

81. Logyard Oomata
meraup keringat jerih payah rimbawan

82. Lelang kayu di Shingu
nomor satu property kayu

83. Tampang hinoki di kancah property
spesial dodai dan bengunan sakral

84. Potongan papan sugi
log sugi, mantap untuk hashira

85. Warna cerah dan alur serat
membangkitkan selera seniman

86. Tempat terhormat koleksi pustaka perlu ornamen dan aroma

87. Sudut keanekaragaman jenis kayu di rumah Jepang
satu karakter satu kepentingan

88. Tabir dan pintu dorong di kamar tidur
ply wood pelengkap efisiensi

89. Tong log sugi, alat simpan sake
aroma sake naik pamor

90. Kerajinan kayu masyarakat pegunungan Tokeshi terselip di antaranya

91. Hasil kerjaan tukang
pelanggan pedagang kayu eceran

92. Sebuah RBT (Rumah Bingkai Tradisional) 1989 : 640.000 RBT versus 48.000 RS 2.4

93. Kesan seniman Jepang pada bangunan abad II
tinggi bubungan 12 meter, mirip lamin Kalimantan MDN, 21 September 1992

94. Hasil galian arkeologi
lubang pilar bukti sejarah MDN, 21 September 1992

BUNGA RAMPAI KINERJA RIMBAWAN JEPANG
Nikmati pekerjaan dan usahakanlah Lingkungan kerja selalu cerah . . . . . . . . Keichiro Honda, 1956.

Untuk pertama kali adalah seorang Putra Jepang, Dr. M.Y. Yoshiro, berani mencoba membedah sistem manajemen bangsanya. Pembedahan yang dirintis bersama Prof. Leonard Marks. Jr, ketika masih di Universitas Stanford (1962), dituangkan dalam sebuah karya besar, yaitu sebuah buku dengan judul “Sistem manajemen Jepang”. Terbit pertama kali di USA, 1968.
Dalam buku tersebut Yoshino menulis, sebagaimana diterjemahkan oleh T. Gandasasmita, 1981, antara lain sebagai berikut : Pemunculan Jepang modern berakar pada masyarakat tradisional yang disebut sebagai jaman Tokugawa. Jaman ini bersifat feodal, mandeg dan terbelakang. Pembaharuan dimulai sejak Restorasi Meiji (1868). Namun demikian dasar-dasar yang diletakkan pada jaman Tokugawa memberikan landasan penting bagi proses modernisasi Jepang, sehingga dapat berlangsung dengan sangat pesat. Jaman ini memberikan dasar masyarakat yang disiplin dan teratur sebagai kekuatan yang mempunyai daya pendorong besar bagi dinamika perubahan menuju modernisasi. Kekuatannya merebak pula ke segala penjuru pekerjaan yang berkaitan dengan hutan. Tokugawa boleh bangga dengan feodalisme dan Meiji boleh senang dengan restorasi. Namun bangsa Jepang era microchip saat ini agaknya sudah tidak sempat lagi terlena pada era pra Perang Duna II, karena esensi kedisiplinan dan keteraturan sudah menjiwa dalam sirkuit komputer kehidupan kolektif masyarakat Jepang. Berikut ini adalah bunga rampai, beberapa contoh pekerjaan orang Jepang yang berkaitan dengan hutan dan sempat saya rekam data teknis, ekonomis dan

metodisnya dalam kapasitas “kulit apel”. Keterbatasan waktu sudah jamak bagi saya sebagai alasan klasik. Namun, alangkah nikmatnya, apabila ada orang lain berbagi daging apel dengan saya, khususnya orang Jepang yang keterbukaannya semakin transparan di Dunia Internasional. Diversifikasi pekerjaan di kanca kehutanan Jepang, sengaja saya tampilkan sebagai kinerja rimbawan, karena dari merekalah kesempatan peran hutan mengisi peluang aktifitas kehidupan nampak diwujudkan. Bahkan dalam pencapaian pembakuan efisiensi yang penuh tatanan disiplin dan kemapanan peraturan. Pusat eksperimen hutan Wakayama. Saya mengunjungi pusat Eksperimen Hutan Wakayama (PEHW) pada 14 September 1992. Ini adalah salah satu pusat eksperimen hutan di luar yurisdiksi pengelolaan JFA atau Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang. Tak pelak lagi, langsung ingatan saya menerawang ke Hutan Pendidikan Wanagama I Yogyakarta yang dikelola Universitas Gadja Mada cq. Fakultas Kehutanan diatas tanah hutan negara. Ternyata, serupa tapi tak sama. Serupa statusnya, tak sama luas dan tujuannya. Hutan nasional seluas 429,31 hektar sejak 1925 diserahkan pemerintah kepada Universitas Hokkaido cq. Fakultas Pertanian untuk menjadi PEHW. Tujuan pokoknya adalah : pertama, memperoleh hasil penelitian melalui berbagai eksperimen hutan tanaman untuk diterapkan pada pembangunan dan pengelolaan di zona temperate hangat; kedua, meneliti pengembangan suksesi hutan tanaman untuk sedekat mungkin laras sebagai habitat satwa liar. Letak PEHW ini lebih kurang 50 kilometer perjalanan naik kendaraan darat, berlika liku ke arah barat laut dari Shingu, pada daerah pegunungan dengan tinggi rata-rata 1.000 meter di atas permukaan laut. Temperatur harian rata-rata 15,1

derajat Celsius, temperatur maksimum 36,8 derajat Celcius dan temperatur minimum – 7,1 derajat Celsius. Curah hujan cukup tinggi, rata-rata pertahun mencapai 3.501,2 milimeter. Hutan seluas 429,31 hektar tersebut, meliputi : hutan alam 75,71 hektar (17,64%) dan hutan tanaman 353,60 hektar (82,36%). Hinoki dan sugi mendominir hutan tanaman. Selanjutnya, sesuai tujuan, kawasan hutan tersebut dizonasi dalam blok-blok. Penyebaran jenis dan perlakuan eksperimen sesuai data 1989, sebagaimana peta kawasan pada halaman berikut ini. Blok biru muda : adalah lokasi penyebaran hutan tanaman – baik hinoki maupun sugi – dalam berbagai variasi daur pendek, antara 25 – 70 tahun dan populasi tegakan kerapatan tinggi, luas 246,32 hektar; hijau muda : penyebaran hutan tanaman dalam berbagai variasi daur panjang – lebih dari 70 tahun atau rata-rata 120 tahun dan terletak pada kelerengan lahan derajat tinggi,

Luas 51,24 hektar; hijau tua : penyebaran hutan tanaman pemeliharaan intensif, sehingga di dalamnya terdapat stratifikasi kanopi sama jenis dan atau beda jenis, biasanya 2 – 3 strata, luas 21,17 hektar, kuning : seluas 15,56 hektar adalah lokasi penyebaran hutan alam campuran dipelihara/dibina sebagai habitat satwa liar. Di

dalamnya terdapat tanaman introduksi dari USA yaitu Calopinus sp. Tanaman tersebut sengaja dikembangkan sebagai bahan baku media jamur shiitake; violet : adalah blok hutan omodiyama yaitu hutan alam sekunder. Hutan ini dibiarkan tumbuh mengikuti suksesi sealamiah mungkin menuju klimaks. Tanaman introduksi tidak boleh hadir di blok ini. Luas 60,06 hektar; merah : unstock land, yaitu batu cadas miskin hara tanpa pohon, luas 34,87 hektar; putih : enclave, yaitu tanah milik perorangan. Tanpa paksa, ternyata dimanfaatkan pemiliknya sebagai lahan hutan tanaman. Pengelola harian PEHW hanya 16 orang, meliputi : seorang direktur, seorang wakil direktur, tiga orang asisten teknis, delapan orang pekerja lapangan, seorang sekretaris (wanita) dibantu dua orang gadis urusan administrasi. Menurut Toshiki Aoi. PhD, pejabat direktur sejak 1989, PEHW sedikit sekali menerima subsidi pengelolaan dari Universitas Hokkaido. Bahkan, pada kepemimpinannya kali ini subsidi tersebut distop. Kompensasinya, Toshiki cs dipersilahkan untuk mencari uang sendiri dengan cara menjual buku-buku atau bulletin-buletin hasil penelitian dan menjual pohon yang ditebang dalam rangkaian penelitiannya. Sebagai kaisar kecil penelitian di kawasan hutan tersebut – sesuai profesi – Toshiki harus selalu setia pada tujuan dan mempertanggungjawabkan “kebebasan” nya tersebut kepada Universitas Hokkaido. Berikut ini adalah bukti berupa matrik perbuatan Toshiki cs pada 1991 di wilayah kerjanya.

Matrik A : Daftar pohon yang dijual masih dalam bentuk Tegakan berdiri di lapangan pada 1991 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. TOTAL Jenis Umur tegakan (tahun) Hinoki (tanaman) Hinoki (alam) Sugi Pinus merah (Pinus densiflora) Abies filma Castanopsis cuspidate 2.125 758,04 0,36 ? ? 2 1 3,53 1,29 1,77 1,29 50 ? 50 ? Jumlah Volume pohon 1.699 1 421 1 (m3) 526,83 2,78 221,21 1,40 0,31 2,78 0,53 1,40 Volume/ phn (m3)

Dari penjualan pohon tersebut, Toshiki cs tanpa susah payah menebang sendiri pohon-pohon yang dicolek dalam rangka penelitian, mendapat duwit 12.310.000 yen. Matrik B No. 1. 2. 3. Jenis Sugi (tanaman) Sugi (alam) Hinoki (alam, umur kurang lebih 300 _________________________________________________________________ TOTAL 290 115,410 3 : Daftar pohon yang dijual dalam bentuk log pada 1991. Jumlah pohon 273 14 57,848 Volume (m3) 51,214 6,348

Toshiki cs memperoleh yen dari hasil jerih payah menebang pohon dan memotong menjadi log dalam rangkaian penelitian, sebesar 1.700.000 yen.

Total pemasukan tersebut diatas, pada tahun yang sama dimanfaatkan untuk penanaman, sebagaimana bukti hasil kreasi ilmiah Toshiki cs pada matrik berikut ini : Matrik C No. 1. 2. 3. 4. 5. TOTAL : Tanaman 1991. luas tanaman (Ha) 0,89 0,37 0,52 0,25 0,27 2,30

Jenis yang ditanam Jumlah bibit Sugi Hinoki Quercus serrata Q acutissima Jenis daun lebar lainnya

4.267 1.800 2.050 1.000 288 9.405

Pukul rata, beaya penanaman jenis-jenis tersebut diatas : 5.313.000 yen, meliputi : Persiapan lahan : 990.000 yen/hektar; 2,30 hektar : 2.277.000 yen Borongan upah tanam : 260.000 yen/hektar; 2,30 Ha : 598.000 yen Pengadaan 9.405 bibit : 2.438.000 yen, jadi harga rata-rata tiap bibit 259 yen. Diakui oleh Toshiki bahwa, pengadaan bibit untuk eksperimen hutan apabila dihitung perbibit, jatuhnya sangat mahal, dapat mencapai 4 – 5 kali harga bibit sugi atau hinoki hasil semai masyarakat. Hal tersebut karena, sekaligus dikaitkan dengan penelitian pemuliaan pohon. Mengenai biaya persiapan lahan dan borongan upah tanam sesuai pembakuan tariff umum, berlaku di kawasan hutan Wakayama pada waktu itu. Pembakuan tariff tersebut dipilah-pilah berdasarkan derajat kelerengan lahan dan kondisi tanah. Menurut Toshiki, karena kelerengan lahan, maka kegiatan tanaman di PEHW sering menggunakan pembakuan tariff maksimum.

Disamping tanaman, uang pemasukan digunakan pula untuk rekonstruksi jalan. Data jaringan jalan sebagaimana matrik D berikut ini : Matrik D : keadaan jaringan jalan di PEHW, 1991. No. 1. 2. Jenis prasarana Transportasi Jalan hutan Jalan setapak 6.991 59.110 16 131 Panjang (m) m/hektar

Pada 1992 telah direkontruksi jalan hutan sepanjang 240 meter, lebar badan lebih kurang 6 meter, dengan total beaya 6.442.428 yen atau 26.843 yen per meter. Demikian contoh kiprah Toshiki cs menggalang kesatuan dan kelangsungan PEHW dalam kebersamaan dan kemandirian. Dan ini adalah amanat salah satu kebijaksanaan pemerintah Jepang di bidang pengembangan property. Selama di PEHW, diskusi pun berlangsung dengan santai, tidak pandang tempat, kebebasan bertanya, ungkapannya terkadang dibungkam oleh jawaban nyata, berupa bukti-bukti hasil eksperimen baik bentuk pustaka, maupun wujudwujud nyata di museum, laboratorium dan lapangan di lingkungan PEHW. Suatu hal cukup menarik dan perlu diangkat adalah upaya Toshiki cs mengamankan potensi hutan di wilayah kerjanya. Gangguan, bukan karena ulah manusia Jepang, yang pada umumnya tidak senang usil, tetapi karena ulah yang lebih bersifat alamiah yaitu ulah satwa liar (kijang, babi hutan dan regul). Dalam pengembangan hutan tanaman, disadari sepenuhnya akan terjadi gangguan tersebut. Sesuai hukum alam, keanekaragaman berkurang, kelemahan datang. Dan untuk memperkuat niat mencapai sasaran akhir yaitu log kualitas terbaik, maka beberapa upaya telah dilakukan Toshiki, antara lain kegiatan pembinaan habitat dengan menanam pohon buah-buahan kesukaan satwa. Konsekuensinya perlu

beaya, nilainya harus lebih rendah dari pada nilai tanaman pokok muda yang menjadi sasaran gangguan satwa. Konsekuensi lain jauh hari telah diantisipasi Toshiki cs yaitu mengendalikan erosi dan mencegah tanah longsor di hutan tanaman muda. Hutan tanaman terlalu banyak dikembangkan akan menurunkan kualitas air. Diakui bahwa, kelatahan mengembangkan hutan tanaman di PEHW, yang kurang memperhatikan pengembangan jenis daun lebar, secara ekologis dapat menimbulkan degradasi jenis dan ketimpangan struktur potensi hutan. oleh karena itu, patutlah dihargai dan mendapat dukungan moral apabila Toshiki cs mulai 1992 melaksanakan janjinya yaitu mengembangkan lebih banyak hutan tanaman daun lebar di PEHW.

95. Kunjungan ke PEHW, Toshiki-san nomor 2 dari kiri
mandiri tanpa susbsidi

96. Koleksi contoh kayu di PEHW dibungkam jawaban nyata

Pesemaian hutan tanaman Pendalaman mengenai pesemaian sugi dan hinoki di Jepang, sempat saya nikmati dua kali yaitu pertama pada 12 September 1992 di pekarangan samping rumah seorang penduduk desa Shiyukawa Distrik Hongu dan kedua di pusat pesemaian milik salah seorang juragan besar kehutanan swasta Jepang, Nabuhiro Seko-san (43) pada 21 September 1992. Nabuhiro adalah pemilik Yamaichi Timber Corp. badan Usaha ini mengelola hutan seluas 1.000 hektar. Sebagian kawasan hutan adalah hutan nasional, dikelola Nabuhiro dibawah perjanjian bagi hasil dengan pemerintah cq. JFA. Dari kedua lokasi tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa, bahan dan metoda pesemaiannya mirip, perbedaan hanya pada alat dan daya serapnya. Penduduk desa Shiyukawa cukup satu kotak bedeng semai untuk keperluan sendiri, sesuai kawasan hutannya yang sempit. Sedang Nabuhiro, pesemaiannya lebih dari 100 kotak bedeng. Entah untuk keperluan sendiri atau dijual, ternyata juragan besar wiraswasta hutan di Jepang, sesuai kesetiaan pada usaha dan ruang lingkup profesinya, mencari penghasilan tidak hanya dari kayu. Kegiatan konservasi tanah di lahan usahanya melalui vegetasi tehnis dengan diversifikasi jenis komersial dan intensifikasi lahan hutan dengan stratifikasi kanopi, menjadikan Nabuhiro sibuk sepanjang hari. Cita-citanya adalah memproduksi sebanyak mungkin hasil hutan bermutu, baik kayu maupun non-kayu, sesuai permintaan masyarakat dari lahan usahanya. Ketika merasa berhasil mengembangkan mekanisme produksi dan pemasaran shikibi dan shakiki, Nabuhiro semakin yakin bahwa tanpa kehendakNya usahanya akan sia-sia. Mengapa demikian ? Horaji-san – penterjemah – menjelaskan bahwa, shikibi dan shakaki adalah jenis perdu daun lebar. Populasi perdu tersebut sebagian besar masih

tumbuh liar di hutan alam pegunungan. Batang dan daunnya merupakan syarat wajib untuk dihadirkan dalam upacara agama/kepercayaan di Jepang. Shikibi hadir pada upacara Shinto dalam bentuk tangkai berdaun. Sedangkan shakaki hadir pada upacara Budha dalam bentuk ramuan di ujung stik hio. Nabuhiro, dalam rangka konservasi tanah berhasil membudidayakan kedua jenis perdu tersebut, disamping sebagai komoditi keperluan domestik, upaya mendapatkan kemudahan di pasar, sedikit banyak merupakan sumbangan Nabuhiro bagi masyarakat Jepang membina agama/kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nabuhiro pada waktu itu melempar shikibi ke pasar dengan harga 700 yen per kilogram dan shakaki dalam bentuk ramuan hio, 1.000 – 2.000 yen per kilogram. Tanaman shikibi dan shakaki sebagai perdu daun lebar sangat baik dikembangkan untuk konservasi tanah, karena daya trubusnya sangat besar. Melalui sistem trubus (copies system), budidaya dengan cara mengatur blok rotasi pangkasan dapat panen tiga kali dalam satu tahun. Penanamannya sangat mudah yaitu dengan stek pucuk. Panen dapat dimulai setelah 5 – 6 tahun ditanam di lapangan dengan jarak tanam rata-rata 2 x 1 meter. Shakaki di lahan terbuka, sedang shikibi dapat ditanam di bawah tegakan sugi atau hinoki tua. Imbasan stek pucuk sebagai upaya pengkayaan tanaman hutan ternyata telah melanda hampir semua jenis pohon komersial di Jepang, tak terkecuali sugi dan hinoki. Stek pucuk dikenal sebagai sashiki, telah berkembang pesat di masyarakat perhutanan Jepang sebagai perlakuan awal rangkaian pekerjaan pesemaian. Mi sho yaitu pengkayaan pohon secara generatif dengan biji, semakin ditinggalkan.

Sashiki yang berasal dari klonal atau pohon induk terbaik akan mendapatkan bibit berkualitas sesuai sifat vegetatif klonalnya. Rumusan tersebut telah merasuk dalam perilaku rimbawan Jepang dalam rangka mempertahankan mutu phenotipe pohon – berlanjut ke mutu kayu – dari awal, sejak sashiki itu ditancapkan di tanah. Beberapa pusat pemuliaan pohon hutan di jepang – melalui buletinnya – mengambil peran prima dalam upaya sosialisasi cara-cara semacam shasiki, sehingga tidaklah heran apabila botanist Jepang dalam pengembangan budidaya tanaman era globalisasi ini lebih senang bermain kultur jaringan dari pada genetika Mendel. Salah satu hormon buatan yaitu suatu zat yang diperlukan untuk menggertak birahi sel pertumbuhan akar sangat diharapkan sashiki. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil pesemaian optimal, diperlukan sashiki dari klon bermutu, sehat, tidak terlalu besar, lurus dan banyak percabangan di bawah. Sedang kondisi sashiki yang diambil dari klon tersebut harus dalam keadaan sehat, tidak dorman dan tegak lurus. Hormon buatan yang biasa dioleskan pada ujung bawah sashiki – calon tempat akar keluar – adalah IAA (Indol Acetic Acid). Berikut ini langkah-langkah pengadaan bibit sugi atau hinoki melalui pesemaian sashiki, menurut penjelasan dan unjuk keahlian Nabuhiro : (1) Diawali dengan pengumpulan sashiki dari klonal pada musim semi (Februari – April). Pada saat inilah, sashiki terbaik dalam masa pertumbuhan dapat dijamin prosentase hidupnya 70 – 80%. (2) Kumpulan sashiki, rata-rata sepanjang chopstick Jepang – kurang lebih 20 centimeter – direndam dalam air bersih mengalir selama 7 – 10 hari.

(3)

Sementara perendaman sashiki berlangsung, media semai disiapkan. Kotak dari papan kayu baku ukuran 190 x 90 x 20 centimeter dipakai sebagai prasarana media semai. Syaratnya : kuat dan kencang ketika diisi media semai yaitu tanah gunung vulkanik yang gembur dan atus atau campuran 80% pasir : 10% bubuk arang : 10% pyrite dan tidak jebol ketika diangkat ke bedeng semai.

(4)

Sebelum sashiki ditancapkan, media semai disiram air bersih hingga air keluar melalui celah-celah papan bawah kotak semai.

(5) (6)

Setelah perendaman selesai, sashiki diangkat dan daun dikurangi. Ujung sashiki, tepat dicalon keluar akar dibuat runcing, kemudian runcingan ini dioles bubuk IAA.

(7)

Tancapkan ujung sashiki yang belepotan IAA tersebut di media semai basah sedalam 6 – 7 centimeter. Dengan jarak tancap antara 5 –6 centimeter dan 3 centimeter dari tepi kotak, maka dalam 1 (satu) kotak semai dapat diisi kurang lebih 400 sashiki.

(8)

Kotak semai penuh sashiki dibawa dan diatur peletakkannya di bedeng semai yang bentuknya seperti hanggar, dengan atap jaring plastik warna hitam intensitas sinar 50%. Perbedaan alat antara pesemaian milik petani desa Shijukawa dengan pesemaian Nabuhiro terletak pada bentuk bedeng semainya. Bedeng semai si petani sangat sederhana, nyaris seperti kandang ayam di emperan rumah.

(9)

Dua bulan kemudian, melalui perlakuan siraman air bersih dua kali sehari, akar keluar, naungan dibuka.

(10)

Sambil mengamati proses perubahan sashiki menjadi bibit yang siap ditanam di lapangan pada musim semi tahun berikutnya, pemeliharaan dan

penyulaman (mengganti sashiki mati) dilakukan, antara lain dengan mencegah timbulnya jamur penyebab dumping off (layu daun) dengan fungisida semacam bubur Bordeaux, terutama pada musim panas kehujanan antara juli – September.

97. Klonal sugi
lurus banyak cabang di bawah

98. Unjuk keahlian : sashiki direndam
dalam air bersih mengalir 7 – 10 hari

98. Unjuk keahlian : sashiki direndam dalam air bersih mengalir 7 – 10 hari

99. Media semai disiapkan
tanah gunung yang gembur dan atus

100. Media disiram air
hingga keluar melalui celah-celah

101. Daun dikurangi, ujung ranting dibuat runcing siap dioles IAA dan tancapkan

102. Dioles bubuk IAA
hormon penggertak birahi akar

103. Tancapkan di media basah sedalam 6 – 7 centimeter

104. Siram air bersih dua kali sehari
dua bulan akar keluar

105. Bedeng pesemaian seperti hanggar, intensitas sinar 50%

106. Bedeng pesemaian sederhana
nyaris seperti kandang ayam

107. Sashiki berubah fungsi
tiga bulan di pesemaian

108. Bibit siap tanam di lapangan
telanjang akar, tinggi 50 cm

109. Cangkul yang dalam, cukup 30 cm
lereng terjal berbatu

110. Bibit ditanam
tidak kenal pupuk dan tumpangsari

111. Tanah sekitar bibit diinjak-injak
semakin kuat dan tegar

112. Sugi satu tahun di lapangan
menuju hari esok

Hutan keluarga Maeda Sejarah pemilikan tanah di Jepang berkaitan erat dengan upaya pelestarian nilai-nilai tradisional. Selanjutnya Yoshino (1968) menjelaskan bahwa, pada waktu era Meiji berjaya, sector pertanian berperan penting dalam mempertahankan nilainilai tradisional tersebut, karena struktur desa didominasi tuan-tuan tanah berpandangan konservatif dan kolektif, sehingga sifat pengendaliannya otoriter. Otoritas porsi besar, boleh jadi memperkuat bukti pemilikan tanah luas di daerah pegunungan pada waktu itu, dan tak tergoyahkan sampai sekarang dalam tangan pewaris atau keturunannya, dari generasi ke generasi. Salah satu diantara mereka adalah keluarga Maeda.

Akihiro Maeda (36), sebagai ahli waris tertua generasi Maeda kini, telah menerima tongkat kepercayaan dari saudara-saudaranya untuk mengelola tanah pegunungan seluas 150 hektar. Letaknya tidak massif atau pada satu lokasi, tetapi tersebar di beberapa tempat. Pada 16 dan 24 September 1992, saya dibawa Maeda-san dengan Pajeronya ke beberapa tempat lahan usaha. Ternyata, semuanya berkaitan dengan hutan. Ada yang masih dalam tahap pemeliharaan, tahap penanaman dan ada pula yang dalam tahap menunggu beberapa saat lagi untuk ditebang. Kunjungan di Yogigawa kiya dani Distrik Kiwa Prefektur Mie, 16 September 1992, Maeda mengungkapkan bahwa hutan tanaman sugi seluas 40 hektar miliknya ini, telah berumur 15 tahun. Semula, 17 tahun yang lalu, berupa hutan rusak karena taifun dan halilintar penyulut kebakaran. Penanaman kembali dapat dilaksanakan, berkat kerjasama dengan pemerintah cq Osaka Regional Forest Office. Sebenarnya, Maeda telah menerima asuransi beserta preminya untuk penanaman kembali lokasi hutan rusak itu, namun pada waktu itu dia sedang kekurangan modal untuk mengembangkan kegiatan dan pemeliharaan hutan di lokasi lain. Seandainya Maeda menolak kerjasama tersebut, konsekuensinya harus mencari modal berupa pinjaman dari Bank dengan bunga 3,5 – 5,5% per tahun. Maeda angkat tangan. Akhirnya diputuskan untuk akad kerjasama dengan pemerintah. Isi akad, antara lain yaitu : menerima bantuan beaya penanaman 2.000.000 yen/hektar; setelah panen, 50 tahun kemudian, keuntungan dibagi dua; pajak tanah tetap

ditanggung Maeda, sebesar 2.000 yen/hektar/tahun; pemeliharaan dan resiko kerusakan tak terduga ditanggung berdua sama porsi. Pada waktu berada di dalam kawasan hutan sugi berumur 15 tahun tersebut, saya sempat ikut mengukur diameter batang setinggi dada, ditemukan angka rata-rata 12 centimeter pada jarak tanam 1 x 1 meter. Tidak jauh dari kawasan tersebut yaitu di Yuno Kuchi, diperlihatkan juga hutan tanaman Castanopsis berumur 13 tahun, seluas 7,6 hektar. Hutan murni Castanopsis tersebut pada umur 18 tahun nanti ditebang, batangnya dimanfaatkan untuk media jamur Shiitake. Rotasi blok dan Copies system menjadi dasar pengelolaannya. Hal lain, tak kalah menarik adalah melihat hutan tanaman hinoki berumur 90 tahun, luas 7 hektar, di bagian kawasan hutan Maeda lainnya. Pengukuran diameter batang setinggi dada mendapatkan angka rata-rata 33 centimeter. Menurut Maeda, hutan ini tinggal menunggu harga pasar terbaik untuk ditebang. Kira-kira setengah jam perjalanan pajero dari hinoki tua tersebut, pada waktu menuju kearah kembali ke Shingu, Maeda menunjukkan beberapa hasil eksperimen provenance test (uji coba tempat asal) jenis sugi dalam rangka mendapatkan klon baik atau terbaik. Beberapa pole sugi tanaman 1990 tersebut berasal dari berbagai tempat di Pulau Honsyu, antara lain dari : Tokyo, Nara, Mie, Wakayama dan lainlain. Perbedaan sangat terasa pada ketegaran batang, apabila batang tanaman sugi-sugi muda berasal dari berbagai tempat tersebut digoyang-goyang. Maeda selanjutnya menjelaskan bahwa, pole semakin tegar berarti semakin besar kebolehjadiannya untuk dipilih sebagai klonal. Pada waktunya kelak, dapat diambil sashikinya untuk disebarluaskan di kawasan hutan tersebut sebagai bibit tanaman sugi plus, tinggi mutu kayunya.

Di sebelah provenance test tadi, ada usaha Maeda cukup menarik sebagai upaya intensifikasi lahan hutan, boleh jadi sebagai stratifikasi kanopi, karena ada beberapa blok usaha tersebut dikembangkan di bawah tegakan tua. Usaha tersebut adalah membuat kaifu maruta. Sebagai batang silinderis sugi atau hinoki baku untuk keperluan kaso dan dekorasi rumah Jepang, kaifu maruta berukuran diameter 3,6 – 4,5 centimeter. Adapun panjangnya bervariasi dari 1,8 sampai 3,0 meter. Materi bangunan tidak lahir di unit penggergajian ini, harga pasaran pada waktu itu antara lain adalah sebagai berikut : (1) Kaifu maruta kelas rendah : - Panjang 1,8 meter, jenis sugi - Panjang 3,0 meter, jenis sugi (2) Kaifu maruta kelas tinggi : - Panjang 3,0 meter, jenis sugi - Panjang 3,0 meter, jenis hinoki : 5.200 yen/meter. : 6.000 yen/meter. : 1.200 yen/meter. : 3.500 yen/meter.

Cara membuatnya, sebagaimana saya lihat di hutan dan mengikuti penjelasan Maeda, sebenarnya sangat sederhana, hanya perlu ketelatenan dan disiplin. Betapa tidak, 13.000 bibit sugi atau hinoki hasil pesemaian sashiki dari klonal produk provenance terst terbaik, ditanam serentak dan rapi pada lahan seluas 1 hektar sehingga diperoleh jarak tanam rata-rata 90 x 90 centimeter. Dalam rotasi 20 tahun, dengan thinning ekstra hati-hati dan pruning intensif memerlukan ketelatenan dan interval waktu teratur, akan menghasilkan kaifu maruta tersebut sampai akhir daur mencapai aselerasi pertumbuhan 45 centimeter/tahun.

Model-model upaya peningkatan nilai tambah komersial kayu ala Jepang tidak terlewatkan oleh kejelian Maeda. Dalam rangka mendapatkan tennushibo ukuran kaifu maruta dari sugi cacat genetis (mutasi gen), jauh tahun sebelum akhir rotasi – kira-kira calon kaifu maruta biasa itu mencapai tinggi 1,5 meter – sepucuk kecil sashiki tennushibo lepas dorman, segera, dengan cepat diokulasikan pada batang bawah calon kaifu maruta biasa. Keberhasilan okulasi ini merupakan harapan besar pada hasil rotasi berikutnya, karena panenannya adalah kaifu maruta tennushibo. Harganya dapat mencapai 20 kali lipat harga kaifu maruta biasa. Penerapan enten (sambungan) dan grafting sashiki tennushibo lepas dorman pada bibit sugi adalah dua cara yang sering dilakukan Maeda untuk memperkaya miyagi maruta tennushibo. Namun demikian, Maeda mengakui bahwa pengkayaan vegetatif semacam itu sangat sulit, bahkan nyaris untung-untungan. Kemampuan sugi menggandakan cabang melalui copies system, menimbulkan gagasan Maeda untuk mengembangkan taruki, yaitu mambuat kaifu maruta dari terubusan pohon sugi tua berbentuk amburadul (asimetris). Upaya taruki ini, disamping bentuk pohon, banyak percabangan juga akan mempengaruhi kuantitas kaifu maruta. Pada 24 September 1992, masih membawa pajero, Maeda datang lagi ke Takata dengan maksud mengajak melihat usahanya yang lain, yaitu membuat jinkoshibo. Tawaran menyenangkan, disamping belum tahu apa itu jinkoshibo, perjalanan menembus rimba Jepang mempunyai kesan tersendiri bagi saya. Rimba monoton di atas variasi paras bumi. Setelah sampai di lokasi, ternyata jinkoshibo adalah tennushibo buatan yang sama sekali menghindari perlakuan provenance test, sashiki, okulasi, enten dan

grafting. Mutlak, jinkoshibo lebih condong ke seni dan teknis. Ornamental timbul di batang miyagi maruta betul-betul murni gagasan manusia dan kemampuan alam meneruskannya. Mulanya adalah batang tegakan sugi normal ukuran miyagi maruta. Kulit batang, dibersihkan dengan cara digosok memakai alat, ingat jangan sampai menimbulkan luka. Kemudian tempelkan secara teratur, menurut selera seni, di batang bersih tersebut beberapa stik, selanjutnya segera dibalut supaya stik tidak jatuh. Stik dibuat dari ranting sejenis semak atau plastik lentur dan awet (1 – 2 tahun). Panjang stik 15 – 20 centimeter. Pembalut dari estasen yaitu plastik sintetis tidak mulur. Pembalutan batang yang ditempeli stik – stik tersebut, dilakukan 2 (dua) tahun sebelum pohon ditebang. Lamanya pembalutan relatif, biasanya satu tahun, bahkan ada yang dua tahun, sehingga setelah pembalut dan stik dilepas tegakan pohon langsung ditebang. Ketika itulah, wajah batang pohon penuh tonjolantonjolan diantara lekukan-lekukan seukuran stik terlihat sebagai miyagi maruta jinkoshibo. Harganya, pada waktu itu 30.000 yen per batang atau 1/6 – 1/7 kali harga miyagi maruta tennushibo. Log ukuran miyagi maruta (panjang 3 meter, diameter 20 – 21 centimeter), biasa dimanfaatkan untuk hashira (tiang penyangga penunjang) pada rumah tradisional Jepang. Menurut Maeda, dalam rangka menghindari retak hashira karena cuaca, maka perlu dibuat celah dari atas ke bawah, dalam celah sampai empulur. Sedang lebar celah dipermukaan batang maksimum satu sentimeter, sehingga celah tersebut merupakan sector batang yang dibuang. Untuk menghindari kerusakan atau pecah kayu karena benturan, pada waktu dibawa

seseorang dan mempermudah pemasangan sebagai hashira, maka dibagian bawah dibuat runcing kerucut, bentuknya seperti caping petani. Pada kesempatan kunjungan lapangan ini, sehubungan tidak ada obyek kegiatan penenbangan padat karya di hutan keluarga yang bersamaan waktu dengan kegiatan training, maka khusus untuk kegiatan tersebut, sambil memperlihatkan beberapa foto, Maeda menjelaskan sebagai berikut : (1) Cara conventional semakin ditinggalkan. Menurut cara tersebut, setelah pohon ditebang, kemudian dipotong-potong menjadi log; log disarad dan diangkut truk ke TPK (logyard) terus dilelang. Log dengan kandungan air 70% diterima di medan lelang, sehingga kayu gergajian mutlak harus dikeringkan. (2) Cara baru sebagaimana sedang dikembangkan oleh JFA sejak 1986, lebih dititikberatkan pada pengeringan secara alamiah di lokasi tebang. (3) Pada awalnya tegakan pohon di dalam blok tebangan dipangkas cabangcabang bagian bawah. Sisakan 2 atu 3 tingkat percabangan di bagian atas. Sisa kanopi ini, gunanya untuk mempercepat pengeringan batang. (4) Sebelum beberapa pohon ditebang, dibuatkan takik rebah yang menjadkan beberapa pohon dalam satu lingkaran rebah menuju ke pusat lingkaran. (5) Pusat lingkaran, tidak lain adalah pohon hidup berdiri tegar. Fungsinya adalah untuk sandaran pengeringan setelah pohon-pohon di sekitarnya ditebang. Jarak kemampuan sandar menentukan jumlah bentuk kerucut kelompok pengeringan pohon di blok tebangan tersebut. (6) Beberapa bentuk kerucut tersebut dipertahankan di blok tebangan selam 40 – 50 hari. Kemudian direbahkan di atas tanah, masing-masing pohon dipotong-potong menjadi log, log dibawa ke TPK terus dilelang.

(7)

Pengeringan di blok tebangan ini, akan mengurangi beaya pengeringan dan meningkatkan kualitas warna dan pencerahan kayu gergajian. Sedang kelemahannya adalah dapat terjadi blustain bila cuaca tak keruan, missal frekuensi hujan harian yang tinggi. Blustain atau karat biru karena jamur, dapat mengurangi kualitas batang.

(8)

Untuk menghindari hal tersebut, khusus di Prefektur Wakayama, penebangan pohon yang dilanjut pengeringan di blok tebangan dilaksanakan bulan Juni – Juli, selagi frequensi hujan masih rendah atau bulan Oktober – Nopember, yaitu waktu hujan semakin jarang. Penebangan hutan model padat karya tersebut diatas, adalah satu warna

diantara puluhan warna kekompakan rimbawan rakyat Jepang. Selanjutnya, Maeda menjelaskan bahwa, koordinasi dibawah pengurus perhimpunan sangat menentukan pelaksanaan tim kerja kolosal tersebut, karena pada dasarnya tim kerja adalah dari mereka untuk mereka dan bukan buruh upahan.

Kayu magis kurinoki Zelkova serrata, demikian nama ilmiah pohon kurinoki, adalah salah satu jenis pohon daun lebar yang belum lama dibudidayakan di jepang, dalam bentuk hutan tanaman monokultur. Serat kayu berkesan indah, kuat dan magis menjadikan keistimewaan kurinoki, sehingga posisinya setara lebih tinggi dari hinoki. Peran kayu kurinoki di rumah pemujaan memberi kekusukan tersendiri bagi pembinaan agama bangsa Jepang. Keterbatasan produk di hutan alam saat ini, menjadkan kayu ini sangat mahal, sehingga sempat direkayasa efisiensinya, yaitu hanya untuk pelapis luar kayu-kayu murah, dalam rangka memenuhi kebutuhan kurinoki sebagai sekedar dekorasi bangunan rumah-rumah pemujaan baru.

Pengelola hutan prefektur di Distrik Owase Prefektur Mie mempunyai catatan lengkap dari hasil survei Hiroshi Tomida dan Aketmusu Naka pada 1984 tentang perkembangan pembudidayaan kurinoki tanaman murni 1928, di salah satu petak hutan wilayah kerjanya. Tanaman tersebut, sebagai kenangan bagi naik tahta salah seorang kaisar oligarki Meiji. Saya sempat melihat lokasi tanaman pada 27 September 1992. Pengukuran diameter setinggi dada, mendapat angka rata-rata 18 centimeter. Mengingat 64 tahun umur pohon, maka rentabilitasnya boleh dikata sangat rendah sekali.

113. Hutan tanaman murni kurinoki
setara lebih tinggi dari hinoki

Pada mulanya, 10.000 bibit kurinoki cabutan dari permudaan alam ditanam di atas lahan luas 5 hektar. Lahan tersebut berupa bukit dengan kelerengan 30 – 45 derajat. Beaya penanaman pada waktu itu 150 yen.

Pemeliharaan kurang intensif yaitu weeding 7 tahun sekali dan spot weeding 11 tahun sekali, boleh jadi menyebabkan banyak pohon mati sampai tanaman berumur 32 tahun. Menurut hasil survei 1984 di lokasi tersebut, masih dapat diketemukan 1058 pohon kurinoki. Diameter pohon rata-rata 14,8 centimeter, tinggi 13,37 meter dan volume tegakan per hektar lebih kurang 92 meter kubik. Tegakan hutan tanaman murni kurinoki tersebut, direncanakan akan ditebang habis setelah berumur 120 tahun, dari sejak penanaman.
Berapa besar nilai yen kayu magis kurinoki ? Berikut ini saya sampaikan daftar harga dari catatan Dinas Kehutanan Distrik Owase, 1992 atas pemasaran kurinoki dari hutan alam milik rakyat, sebagai berikut : Panjang 5 meter, diameter 35 centimeter Panjang 2 meter, diameter 30 centimeter Panjang 4 meter, diameter 26 centimeter Panjang 4 meter, diameter 18 centimeter : 140.000 yen/meter kubik : 25.000 yen/meter kubik : 15.000 yen/meter kubik : 10.000 yen/meter kubik

Memperhatikan variasi harga tersebut, kemungkinan besar kualitas batang menjadi patokan perhitungan. Semakin jauh dari muka tanah, kualitas batang semakin turun. Otomatis harganya lebih rendah.

Lelang kayu di Shingu. Suatu prosesi unik, bagi peningkatan nilai jasa melalui selera manusia atas kualitas kayu domestik di Jepang, saya saksikan di pelelangan pada 16 September 1992.

Tempat lelang kayu Shingu tanpa saingan. Sebagai mata rantai rangkaian distribusi kayu domestik. Posisinya memberi kesan efisien, baik untuk memantau harga maupun nafas kehidupan zona industri perkayuan di Shingu. Pada waktu itu sedang berlangsung lelang log domestik. Saya menyesal tidak ada kesempatan melihat lelang kayu gergajian domestik. Kegiatan ini, tentunya, tata caranya lain. Lelang log domestik; pada awalnya, log diangkut truk datang, dikawal logger – orang bisnis pengepul log – dari berbagai kawasan hutan milik sekitar Shingu. Logger mendaftarkan lognya ke panitia lelang, membayar sewa tempat – sudah termasuk beaya penyelenggaraan lelang – dan minta nomor lelang, identik dengan nomor tempat yang disewanya. Di lain pihak, yaitu peserta lelang, mendaftar juga ke panitia lelang untuk mendapatkan nomor peserta, sambil menyerahkan segepok uang jaminan keseriusan. Logger tidak mengenal uang jaminan. Logger hanya tandatangan surat kesanggupan menerima harga log minimum yang ditetapkan panitia lelang – biasanya sudah termasuk pajak pendapatan – seandainya log tidak laku lelang selama waktu sewa tempat. Harga log minimum didasarkan pada pembakuan ukuran dan kualitas minimum serta suasana pasar. Dengan demikian, jangan cobacoba membawa log ke pelelangan di bawah kualitas minimum yang diumumkan panitia lelang. Berkaitan dengan pajak, maka semua log yang pindah tangan dalam transaksi lelang dibebani pajak pendapatan. Pajak tersebut ditanggung penerima uang (logger). Penyerahan pajak pendapatan kepada pemerintah dilakukan oleh panitia lelang.

Setelah proses administrasi tersebut selesai, log diturunkan dari truk, diletakkan pada tempat yang disewanya. Secara keseluruhan log berada di tempat datar, lantai hotmix dan terbuka. Sengatan terik matahari di siang hari bolong pada waktu lelang berlangsung, memaksa panitia, logger dan peserta lelang mengenakan baju putih, topi putih dan celana warna cerah, sehingga kesan serius, resmi, disiplin dan tertib menyelimuti kegerahan suasana lelang. Log di tempat lelang sesuai nomornya ditata rapi, bongkot kumpul bongkot, ujung kumpul ujung. Angka diameter log (dalam satuan centimeter) dan kode jenis log dicantumkan di penampang bongkot masing-masing log. Salah satu log dalam kelompok log di tempat tersebut dipilih sebagai wakil untuk ditulisi permukaannya. Dengan demikian log tersebut harus diletakkan pada tumpukan di bagian atas supaya mudah dilihat. Di dekat bongkot : ditulis nomor tempat lelang; di dekat ujung disediakan tempat untuk penulisan nomor peserta lelang dan nilai yen kesepakatan lelang. Tempat log – tiap tempat ada nomornya – di lokasi lelang terbuka itu, ditata seperti lapangan parkir atau drive-in theater. Lebar tiap kolom baris 6 meter, sehingga panjang log, pada umumnya 4 – 6 meter, dapat masuk melintang dalam kolom baris tersebut. Antara kolom baris ada lajur kosong lebar 4 meter, untuk truk lewat atau peserta lelang jalan kaki dari nomor ke nomor secara berurutan. Acara lelang dapat diulang lagi pada lajur yang sama dari awal, apabila log belum mencapai kesepakatan harga. Lelang diselenggarakan pada akhir musim panas. Apabila log dan peminat lelang cukup banyak, dapat berlangsung sehari penuh dari jam 08.00 hingga 17.00 dengan diselingi istirahat satu jam antara 12.00 sampai 13.00.

Kesepakatan harga seperti saya saksikan pada lelang log waktu itu, memang luar biasa, running ratio yang terjadi yaitu pendapatan logger melesat menjadi 4 sampai 7 kali lipat pendapatan rimbawan rakyat. Berapa konsumen harus bayar property produk industrialist kayu sekaligus pedagang besar peserta lelang ? Itulah Jepang. Kemudian saya ingat, Sotheby pun geleng kepala, heran, menghadapi nihon-jin di mimbar lelang. Kerja kayu main kayu Tanggal 19 September 1992 adalah kesempatan saya beserta trainee yang lain untuk menyaksikan aktifitas zona industri perkayuan di Shingu, setelah lepas urusan lelang log dan prosedur import. Waktu terbatas, memaksa saya untuk bersyukur dapat mengunjungi kegiatan proses jointing block dan kayu pertukangan. Secara umum aktifitas zona industri perkayuan di Shingu atau Jepang pada umumnya, semakin mengarah pada produk-produk property efisiensi tinggi. Hal ini sebagai langkah antisipasi terhadap pembatasan quota bahan baku import dan harga log domestik yang semakin mahal. Dengan demikian, kerja kayu di zona industri ini, lebih mirip main-main dengan kayu menuju efisiensi bahan baku dan teknologi presisi tinggi, dalam menciptakan hasil akhir produksinya. Salah satu efisiensi penggunaan kayu, saya saksikan di pabrik Jointing Block. Pabrik ini membutuhkan bahan baku log daun lebar himoroku (pohon beech) yang diimport dari China dan didatangkan dari Pulau Hokkaido (50%), log pinus (30%) diimport dari USA dan Kanada. Sisanya (20%), dari dalam negeri terutama Prefektur Wakayama dan sekitarnya, berupa jenis-jenis domestik khusus untuk veneer pelapis luar.

Pabrik Jointing Block ini, memanfaatkan modifikasi dan pengembangan peralatan alih tehnologi dari USA. Efisiensi mesin ditunjukkan oleh pemanfaatan kayu dengan rendemen diatas 90%. Kayu-kayu import setebal 2 – 2,5 centimeter direkat satu persatu dan dipres membentuk blok berbagai ukuran menurut pesanan, bagian luarnya dilapis veneer domestik setebal 0,3 centimeter. Keterpaduan perekat, besar tekanan, pemanasan dan seni menyelang nyeling kekuatan serat papan pinus dan himoroku memberi kesan kekuatan kayu domestik Jepang – yang sebenarnya hanya veneer pelapis luar saja. Oleh karena itu jointing block tidak dapat dimanfaatkan sebagai material konstruksi berat. Sasaran penggunaannya hanya mebelair dan dekorasi jeroan rumah atau gedunggedung pencakar langit. Produk jointing block rata-rata 40% setiap tahun untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Sisanya diexport. Efisiensi lain, saya temukan di salah satu pabrik kayu pertukangan. Bahan baku pabrik tersebut adalah log domestik 60% dan 40% log import, berupa spruce dan doglas fir dari USA, dengan harga sampai tempat 25.000 yen/meter kubik untuk doglas fir dan 18.000 yen/meter kubik untuk spruce. Operasional peralatan pabrik hanya dilayani 30 orang, menghasilkan produk harian sebesar 30 meter kubik kayu pertukangan atau dengan rendemen 62% per bulan berhasil memperoduksi 1.000 meter kubik kayu pertukangan. Di bidang pemasaran, setiap bulan berhasil menjual kayu pertukangan tersebut untuk keperluan dalam negeri sebesar 700 – 720 meter kubik, berdasar harga pasar 51.000 – 52.000 yen/meter kubik. Selanjutnya, dimanfaatkan oleh konsumen untuk konstruksi bangunan 75% dan peti kemas atau bentuk kemasan lain sebesar 25%.

Di zona industri perkayuan Shingu ini, sempat pula saya amati pengelolaan limbah kayu. Pada umumnya produk efisiensi tinggi, sedikit limbah. Kenyataan tersebut terjadi di pabrik jointing block dan kayu pertukangan. Tahi gergaji langsung disedot vacuum cleaner mengalir cepat menuju ke kilang pengeringan kayu sebagai bahan bakar. Untuk menggergaji papan-papan atau balok-balok kecil, nyaris tanpa limbah, karena dilayani gergaji sinar laser. Kulit log dikupas mesin pengupas, sebelum diproses lebih lanjut sebagai kayu pertukangan. Kulit tidak sempat menjadi limbah mubazir. Mempercepat kulit menjadi gambut, telah diupayakan melalui proses permentasi, yaitu dengan menambahkan suatu bahan kimia dan gambut yang diimport dari Kanada. Permentasi di tempat terbuka berlangsung 1 – 2 tahun. Hasilnya adalah media untuk : tanaman hias, sayuran dan buah-buahan. Harga 1 kantong gambut yang beratnya 20 kilogram, pada waktu itu 300 yen.

114. Kulit log dikupas log jadi mulus

115. bahan kimia dan gambut pemacu permentasi import dari kanada

116. Proses permentasi kulit batang
1 – 2 tahun jadi gambut

117. Gambut siap angkut
media tanaman hias, sayur dan buah Pabrik pulp dan kertas Kishu. Potensi kayu dunia, memberi peluang bagi Jepang untuk mendirikan beberapa pabrik pulp dan kertas, diantaranya adalah pabrik pulp dan kertas Kishu yang saya kunjungi pada 17 September 1992 . Pabrik tersebut terletak di kota Nachi Distrik Shingu. Berdasarkan informasi Itatani-san, selaku manajer umum, pabrik tersebut menyerap beaya operasional cukup besar, rata-rata 58 milyard yen setiap tahun. Kapasitas masih dapat menyerap bahan baku 550 ton sehari dan kecepatan hasil 1 kilometer kertas per menit. Pabrik dijaga kesinambungan produksinya berkat usaha patungan sama porsi antara pemerintah dengan beberapa badan usaha swasta Jepang.

Upaya mendapatkan bahan baku, tidak hanya mengandalkan chip usaha rimbawan Jepang dari kayu domestik, tetapi juga kehadiran chip maupun pulp import. Berdasarkan kebutuhan bahan baku, pasokan chip domestik menghasilkan pulp serat pendek 65% dan chip import memenuhi kebutuhan 35% berupa pulp serat panjang. Asal bahan baku tersebut, untuk pulp serat pendek 90% dari Pulau Honsyu, terutama Prefektur Nara, Mie dan Wakayama. Sedang 10% dipenuhi dari luar Pulau Honsyu. Pulp serat panjang diusahakan dengan import chip dari Kanada, USA, Australia, China, Indonesia dan Rusia. Pada pabrik ini ada suatu keistimewaan, yaitu disamping besar kapasitasnya, bahan baku tidak spesifik. Pabrik ini dapat menghasilkan kertas kraft dari chip daun lebar maupun daun jarum. Perbedaan hanya pada rendemennya. Rendemen chip daun lebar 47 – 50%, sedang daun jarum 44 – 47%. Menggunakan proses soda dan leaching (pencucian) dengan hipoclorit, dapat melepas lignin untuk memenuhi 70% kebutuhan bahan bakar energy pabrik. Sedang kertas kraft sebagai produk akhir, hanya mengandung air 3 – 4%. Melalui proses pelapisan kimiawi, kraft tersebut dirubah menjadi kertas fotocopy dan kertas-kertas lux untuk kalender, majalah, sampul buku dan sebagainya. Pemasaran tidak mengalami kesulitan, karena Jepang sendiri mengandalkan pabrik ini untuk penyediaan paling sedikit 60% dari produksinya bagi kepentingan dalam negeri, sedang sisanya diexport. Mengenai daur ulang limbah cair, menurut keterangan Taku Iwasawa, pabrik pulp dan kertas Kishu mempunyai water treatment paling baik di Shingu. Dan ini menjadi prioritas pabrik mengingat letaknya di ujung muara Sungai Kumano.

Mengenai kemungkinan semakin langka bahan baku segar, pabrik kertas Kishu telah mengantisipasinya, antara lain dengan memenuhi pembakuan nasional yaitu memproduksi kertas yang mudah didaur ulang. Penggunaan daur ulang kertas ini, kapasitas produksi dapat menyerap 50%, ditambah 10% pulp import dan 40% chip dibagi sama porsi pengadaannya yaitu 50% import dan 50% domestik. Mitsumata bahan baku yensatsu. Menurut Sakya – trainee dari Nepal – Nepal negara asal mitsumata (Edgewarthia papyrifera Sieb), mungkin karena evolusi, Himalayan mitsumata sekarang berbeda dengan mitsumata di Jepang. Himalayan mitsumata di pegunungan himalaya pada ketinggian 1.500 – 2.000 meter diatas permukaan laut. Jepang dan Nepal, dua negara di dunia pengguna mitsumata sebagai bahan baku kertas. Namun Jepang, telah membudidayakannya. Tidak jelas bagaimana tanaman tersebut ada di Jepang. Diduga dibawa nenek moyang bangsa Jepang melalui daratan China. Mitsumata sebagai bahan baku kertas, setelah bahan baku lain digunakan. Pada abad XVII mitsumata mulai dibudidayakan di Jepang. Menjadi popular sebagai tanaman budidaya mulai 1875, pada waktu kementerian Keuangan Jepang mengembangkan uang kertas (yensatsu) dari bubur serat kulit batang mitsumata. Pada 1942, luas lahan mitsumata mencapai 16,9 hektar dengan hasil panen serat siap proses mencapai rata-rata 5,7 ton per tahun. Sekarang di Jepang terdapat tanaman budidaya mitsumata 989 Hektar. Prefektur Kochi paling luas : 349 hektar, kemudian berturut-turut, prefektur Okayama 261 hektar, Prefektur Tokushima 163 hektar, Prefektur Shimame 115 hektar dan Prefektur Ehima 77 hektar. Dari ke-5

prefektur inilah bahan baku uang kertas Jepang diproduksi. Demikian awal diskripsi mitsumata, terjemahan Gyo Hani, 1992. Lokasi penanaman mitsumata di Prefektur Okayama, sempat saya kunjungi pada 22 September 1992. Tepatnya di desa Katsuta, dusun Higasidani pada ketinggian 500 meter diatas permukaan laut dalam suasana seperti Tawangmangu Jawa Tengah. Hirata Gitaro (70), tokoh masyarakat sekaligus pengelola mitsumata desa Katsuta, menjadi nara sumber utama informasi teknis pengembangan mitsumata. Menurut beliau, serat kulit batang mitsumata dibeli pemerintah sebagai konsumen tunggal. Selanjutnya dijelaskan bahwa, mitsumata adalah semak menggugurkan daun pada musim gugur dan sepanjang musim dingin. Keluarga Thymelaeceae ini, apabila tumbuh liar, batang dapat mencapai tinggi lebih dari 3 meter. Pada kondisi budidaya, tinggi batang 2 meter sudah dipanen. Disebut mitsumata karena mempunyai kebiasaan bila satu batang dipangkas, bertunas tiga cabang (calon batang) seperti bentuk trisula (= mitsumata). Oleh karena itu tanaman ini sangat cocok untuk konservasi tanah vegetasi teknis jangka panjang. Sekali tanam dengan panen pangkas batang atau copies system, produktifitas dapat bertahan sampai umur 60 tahun, bahkan lebih. Serat kulit batang digunakan sebagai bahan baku kertas, berbeda dengan kozo – jenis tanaman lain – mitsumata tidak mengandung akumulasi lignin sampai masak pangkas. Tempat tumbuh mitsumata harus dipilih secara hati-hati, karena tanaman ini intoleran naungan, tetapi tahan panas matahari langsung sepanjang hari. Kelerengan lahan tanaman menghadap ke utara dengan tingkat lereng maksimum

45 derajat habitat terbaik untuk tumbuh mitsumata. Namun demikian musim dingin yang ekstrim, salju tebal dapat merusak batang mitsumata. Tanah harus atus. Tanaman tumbuh baik di tanah abu vulkanik dan tanah pelapukan batuan granit. Pada kedua jenis tanah ini, 2 varietas mitsumata dikembangkan secara tradisional yaitu varietas kochi dan varietas shizuoka. Varietas shizuoka lebih luas budidayanya, karena mudah dikembangkan dari biji. Hanya batangnya lebih pendek dari pada varietas kochi. Kedua varietas dapat menghasilkan serat kualitas tinggi. Setiap kali panen – satu kali setahun – menghasilkan berat kering serat antara 0,3 – 0,5 ton per hektar. Bunga kedua varietas tersebut, berwarna kuning dan berbau harum, diameter bunga lebih 3 centimeter, tiap bunga terdapat 17 – 20 biji. Bunga muncul pada awal musim semi. Pemasakan biji bulan Mei hingga pertengahan Juni. Biji masak harus segera dipetik. Kemudian disimpan sampai musim semi berikutnya pada tempat khusus, antara lain dengan cara membuat lubang di tanah. Maksudnya yaitu supaya temperatur dan kelembaban ruang penyimpanan tersebut rendah kisarannya. Temperatur antara 0 – 10 derajat Celcius masih dapat ditolerir. Biji selama penyimpanan harus dalam kondisi temperatur tersebut supaya daya kecambahnya tetap bertahan. Dormansi biji cukup lama. Tidak akan terjadi biji dipetik, segera akan tumbuh bila disemaikan. Tapak lahan tanaman, dapat berupa lereng pegunungan atau datar. Kelangkaan lahan datar, menyebabkan mitsumata paling luas ditanam di lereng pegunungan dengan perlakuan weeding intensif hingga panen. Pupuk hanya kadang-kadang dipasokkan. Berikut ini tata cara budidaya mitsumata oleh Gitaro-san di lahannya : (1) untuk 1 hektar lahan tanaman diperlukan 7 – 9 liter biji.

(2) Siapkan bedeng semai ukuran 1 x 4 meter tiap bedeng di lahan datar dekat sumber air. Tanah bedeng semai harus atus, jika perlu tanah dicampur kerikil. Tanpa pupuk atau tergantung kesuburan tanah. Apabila perlu pupuk, maka pupuk kandang atau NPK kurang lebih 5 kilogram per hektar ditebarkan pada waktu menyiapkan bedeng semai. Kemudian tambahkan lagi 2 – 3 kilogram per hektar pada bulan Agustus. (3) Semaikan biji di bedeng semai, jarak semai tiap biji 10 – 15 centimeter, kedalaman 3 centimeter. Pesemaian tersebut dilaksanakan pada awal musim semi (bulan April – Mei). Setelah 7 hari keluar kecambah. Sedling (anakan) berada di bedeng semai sampai awal musim semi tahun berikutnya. Hasil pengamatan pesemaian Gitaro-san di Prefektur Okayama, sedling umur 5 bulan tinggi rata-rata 29 centimeter dengan jumlah daun 12 – 16 buah. (4) Pada musim panas, sedling perlu dilindungi mulching (potongan-potongan rumput) dan disiram pada pagi dan sore hari. (5) Stum sedling dari bedeng semai disiapkan pada awal musim semi, untuk ditanam permanen di lapangan dengan jarak tanam 1 x 1 meter. Sampai akhir Maret (tanaman berumur lebih kurang 1 tahun sejak disemaikan), kira-kira 10.000 batang tanaman mitsumata per hektar sudah permanen di lapangan. Di Prefektur Okayama, tanaman berumur 6 bulan di lapangan rata-rata telah mencapai tinggi 70 centimeter. Ditanam pada lahan dengan kelerengan 45 derajat, tanpa teras, weeding sebagai upaya pemeliharaan dan blok tanaman mitsumata tersebut dikelilingi hutan tanaman sugi. (6) Pupuk NPK diberikan 5 – 10 kilogram per hektar pada persiapan penanaman yaitu awal musim semi. Kemudian, khusus bagi tanah tidak subur boleh ditambah sepertiga bagian NPK lagi di awal musim panas. (7) Di awal musim panas tersebut, perlu dilakukan mulching dengan 500 kilogram potongan rumput setiap hektarnya. Perlakuan ini sangat membantu pertumbuhan tunas baru.

(8)

Panen pertama dengan sistem pangkas pilih, yaitu batang berdiameter 1,5 – 3,0 centimeter dapat dilaksanakan pada musim dingin tahun ke-3 sejak penanaman (pada bulan Desember sampai Maret). Dilaksanakan pada waktu daun gugur. Setelah panen, kumpulkan batang dan secepatnya diproses.

(9)

Panen pertama berakhir, langsung taburkan NPK 5 – 10 kilogram per hektar di musim semi, sebelum tunas-tunas baru tumbuh.

(10) Setelah panen pertama, batang-batang tinggal dapat dipanen dengan pangkas pilih lagi pada tahun berikutnya. (11) Setelah 6 tahun sejak ditanam, batang ukuran baku diameter 1,5 – 3,0 centimeter dapat dipanen rutin setiap tahun.

Selanjutnya, proses pengolahan sampai menjadi serat adalah sebagai berikut :

(1)

Potongan batang mitsumata (panjang 2 meter, diameter 1,5 – 3 centimeter) dikukus selama 3 jam pada temperatur 100 derajat Celcius. Pengukusan tersebut dimaksudkan supaya kulit batang lunak dan muda dikupas.

(2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kulit dikupas dan batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengukusan. Kulit direndam air jernih mengalir selama 12 – 15 jam. Serat dibersihkan dengan mengupas kulit luarnya, bersihkan dengan air jernih. Serat putih bersih dijemur kering angin. Setelah kering angin, dipres dan diikat dengan berat 30 kilgram setiap unitnya. Dijual ke pemerintah melalui koperasi setempat dengan harga pada waktu itu 2.000 yen/kilogram.

118. Tampang daun mitsumata Serat kulit batang tanpa lignin

119. Semai mitsumata cukup setahun, cabutan ke lapangan

120. Sebentar lagi dipanen memanfaatkan secuil dataran

121. Rumah pengukusan tiga jam 100 derajat Celcius

122. Mengupas kulit batang untuk bahan bakar pengukusan

123. Kulit direndam
air jernih mengalir 12 – 15 jam

124. Dijemur kering angin serat putih bersih

125. Dijual ke Pemerintah 2.000 yen/kilogram

Shiitake si – jamur kayu. Pada 12 September 1992, saya mengunjungi Takayama Mushroom Cultivication Center. Salah satu pusat budidaya komersial jamur kayu shiitake (Lentinus edodes). Lokasi pusat budidaya ini di Distrik Hongu, sebelah utara kota Shingu Prefektur Wakayama. Terletak di tengah hutan pegunungan pada ketinggian lebih kurang 600 meter diatas permukaan laut dan jauh dari pemukiman penduduk. Lokasi ini dengan mudah dapat dicapai kendaraan jenis sedan, lebih kurang 1,5 jam dari kota Shingu.
Pada umumnya, bangsa Jepang tidak menolak apabila jamur kayu dikatakan sebagai makanan istimewa di meja makan. Disamping shiitake, pembudidayaan jamur kayu lain dan terkenal di Jepang yaitu jamur kayu : matsutake, emokitake, nameko dan iliratake. Media untuk menanam jamur kayu shiitake di Takayama masih sederhana dan tradisional. Hal ini ternyata ada kaitan dengan ketegaran tradisi dan sosialisasi pengadaan bahan baku media shiitake, terutama budidaya ubamegashi (log kayu quercus) dan castanopsis di hutan alam milik rakyat. Kedua jenis kayu ini kadar sellulosenya cukup tinggi, tidak berminyak atau bergetah dan masih mempunyai kerabat yang memperkaya komunitas hutan tropis pegunungan, khususnya di lereng-lereng gunung vulkanik Pulau Sumatra dan Pulau Jawa pada ketinggian sekitar 1.000 meter diatas permukaan laut (Whitmore dan Tantra, 1986). Peluang untuk mencoba mengembangkan shiitake di daerah tropis dan mempelajari teknologi pengawetan/pengeringannya, kemungkinan besar dapat mendukung prospek export non-migas ke Jepang. Pada saat ini, untuk memenuhi kebutuhan konsumen domestik, Jepang masih import jamur shiitake mentah atau basah dari Taiwan, Korea dan China. Proses pengawetan/pengeringan dan packing kemasan, karena disesuaikan dengan selera orang Jepang, dilaksanakan di dalam negeri. Padahal, menurut pengelola Takayama, Jepang sendiri

memproduksi setiap tahun tidak kurang dari 75.000 ton shiitake basah dan 12.000 ton shiitake kering. Log kayu media jamur di Takayama berukuran panjang 1 meter dan diameter antara 5 – 10 centimeter. Kemudian permukaannya dilobangi (dibor). Diameter tiap lobang 1,2 centimeter dan dalam 2,5 centimeter. Jarak antara lobang lebih kurang 5 sentimeter. Lobang tersebut disiapkan untuk inokulasi spora jamur. Sebelum diinokulasi, log kayu berlobang-lobang tersebut direndam dalam air mengalir pada temperatur 15 derajat Celsius paling cepat 7 jam untuk membebaskan dari bahan-bahan pencemar, antara lain : minyak, insektisida dan fungisida. Selanjutnya, dipindah ke ruang dengan temperatur 20 derajat Celsius pada pagi dan siang hari, yang dinaikkan menjadi 24 – 25 derajat Celsius pada sore dan malam hari. Kelembaban dipertahankan pada 82 – 90%. Pada waktu pemindahan, sekaligus dilakukan inokulasi dan penutupan lobang dengan lilin. Loglog kayu tersebut ditata bertumpuk, berselang seling. Di Takayama, inokulasi dilaksanakan pada musim dingin (Desember-April); enam bulan kemudian, pada waktu musim panas, spora jamur tumbuh. Ketika tumbuh besar, kelembaban ruang dikurangi hingga 60% dan diatur dengan cara disiram air bersih pada pagi dan sore hari. Panen pertama bulan Desember, kemudian dilanjutkan 7-8 kali panen dalam 2 tahun. Harga jamur shiitake segar, pada waktu itu 1.300 yen per kilogram. Satu log dapat menghasilkan rata-rata 1,3 kilogram jamur segar total produksi selama 8-9 kali panen. Sedangkan harga 1 log kayu ubamegashi, sebelum diinokulasi 300 yen, setelah diinokulasi menjadi 600 yen. Untuk 1.000 cc spora jamur harganya 1.000 yen dan dapat diinokulasikan pada 5-15 log kayu, tergantung diameternya.

Selanjutnya, dilaporkan bahwa pusat budidaya jamur ini, tidak ada gangguan hama atau penyakit yang berarti. Pengganggu yang dinilai cukup meresahkan adalah sekawanan kera lokal yang kadang-kadang masuk ruang budidaya, memetik dan makan jamur yang siap dipanen. Log kayu media inokulasi jenis quercus dari terubusan di hutan alam (nature copies management system). Sedang jenis castanopsis telah dibudidayakan oleh Maeda, antara lain di Yunokuchi Kiwa-cho. Lokasi tersebut sempat saya kunjungi pada 16 September 1992. Menempati lahan 7,6 hektar pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut, Castanopsis ditanam 5.000 batang pohon setiap hektarnya, untuk rotasi 18 tahun. Umur tegakan pada waktu itu 13 tahun. Berikut ini catatan Maeda mengenai beaya penanaman dan pemeliharaan Castanopsis per hektar pada tahun pertama : - Pembersihan lahan tanaman - Pengadaan bibit hasil semai dari biji dalam kantong plastik - Penanaman di lapangan : 250.000 yen : 200.000 yen : 335.000 yen

- Pemeliharaan satu tahun (weeding): 70.000 yen Jumlah beaya : 855.000 yen

Pada waktu masak tebang (akhir rotasi), dengan system tebas habis batang pada kira-kira 0,25 meter di atas muka tanah, maka beberapa hari kemudian terubusan muda cepat mengisi ruang. Pelihara terubusan tersebut cukup 1 – 2 batang untuk panen 18 tahun berikutnya (man made copies management system). Sistem pengelolaan ini cukup baik untuk konservasi tanah.

Setiap batang pohon dapat menghasilkan log kayu produktif rata-rata sepanjang 5 meter. Sebagai log kayu media jamur shiitake, harga jual per meter dengan diameter 5 – 10 centimeter, pada waktu itu 500 yen. Lebih mahal dari log kayu quercus.

126. Daun dan buah Castanopsis batang media shiitake

127. Perendaman media shiitake air mengalir, 7 jam, 15 derajat Celsius

128. Jamur kayu shiitake log disusun berselang seling

129. Pengatur suhu dan kelembaban ruang budidaya shiitake kelembaban dipertahankan 82-90%

Penggembalaan lebah madu Lebah madu senang menabur rejeki kepada manusia, bila dikelola dengan baik, tak terkecuali di Jepang. Nakamura-san, salah satu dari ratusan penggembala lebah di Jepang, menjelaskan lebih lanjut bahwa, lebah madu asli Jepang tidak banyak populasinya dan bandel dikelola, sehingga sejak 1976 mereka mengembangkan lebah yang diimport dari USA. Pengelolaan lebah madu di Jepang sejak pertengahan 1950-an menggunakan teknologi dan alat-alat dari Jerman. Alih teknologi itulah yang sekarang dibakukan di Jepang dengan beberapa penyesuaian.
Pertemuan dengan Nakamura di Gedung Pusat Pendidikan kota Katsuura Distrik Shingu, pada 17 September 1992 sangat menarik. Sebagai penggembala lebah madu di Jepang yang berpengelaman lebih dari 10 tahun, sengat lebah dan manis madu dirasakan cukup olehnya untuk berani menjelaskan secara blakblakkan usahanya itu. Sore hari ketika saya sampai di salah satu kelompok penggembalaannya, ternyata menemukan suasana yang jauh dari kesan “wah”. Sangat sederhana sekali. Dikitari semak belukar berbunga, lebih kurang 300 meter dari tepi hutan, empat stup lebah bergeletakan langsung diatas tanah, bagai rongsokan kopor kayu siap digerogoti alam. Matahari semakin meremang di ufuk barat, dengan mengenakan kelambu hitam sebagai kerudung penangkal sengat, dibukalah tutup satu stup, kemudian diambilnya satu frame penuh lebah. Benar, ternyata tawon introduksi mirip tawon australia. Tubuh lebih bongsor dari pada tawon jawa yang senang tinggal di glodog kelapa. Menurut Nakamura, serangga asuhan ini sangat setia dan rajin. Tiap bulan, selagi hari baik, 20-30 kilogram madu dari tiap koloni (tiap stup) diserahkan kepada tuannya. Fluktuasi hasil tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas bunga vegetasi di medan jelajahnya, radius sekitar 6 kilometer. Berdasarkan

pengalaman, dengan radius tersebut Nakamura meletakkan kelompok-kelompok stup pada satu kawasan yang lain, lebih kurang 2 kilometer. Dalam satu kelompok terdapat 4 – 5 stup. Sewaktu banyak bunga, tidak tanggung-tanggung Nakamura memasang dobel stup. Kebebasan untuk memilih kawasan penggembalaan produktif, sangat ditunjang oleh naluri dan perilaku lebah import tersebut, antara lain tak terpengaruh tinggi tempat. Musim sangat prima dalam pertimbangan penggembalaan. Nakamura berpengalaman bahwa menggembalakan lebah di Hokkaido pada musim panas dengan temperatur udara sekitar 20 derajat Celsius paling baik untuk produktifitas madu. Hasil dari penggembalaan lebah madu di Jepang sangat variatif dan cukup tinggi nilai tambahnya. Antara lain yaitu : madu, royal jelly, pollen, lilin dan pengobatan akupuntur atau tepatnya sengat puntur yang cukup laris di Jepang. Harga madu pada waktu itu di Jepang 2.100 yen per liter. Satu stup yang mengandung koloni lebah produktif dijual dengan harga pasar 6.000 yen. Sedang pasaran dobel stup all-in, ada koloni lebah di dalamnya, lebih kurang 10.000 yen. Frame lebih murah, harganya tiap frame 150 yen. Stup dibuat dari kayu sugi dengan pembakuan ukuran sebagai berikut : - tabal papan - panjang - lebar - tinggi - frame : 0,9 centimeter : 46,7 centimeter : 37,9 centimeter : 25,3 centimeter :

- panjang bagian atas

: 47,9 centimeter

- panjang bagian bawah : 44,8 centimeter

- lebar/tinggi

: 25, 3 centimeter. 1,7

- tiap stup 9 frame, dengan jarak antar fram lebih kurang centimeter.
Malam yang semakin gelap adalah malam kesibukan Nakamura memindahkan stup koloni lebah, apabila bunga semakin layu di kawasan penggembalaannya. Konvoi truk lebah bergerak cepat ke padang penggembalaan yang baru dan produktif. Arigato gosaimatsu, Nakamura-san ! Sampai jumpa di Hokkaido.

130. Stup menggeletak diatas tanah
20-30 kilogram madu per bulan

131. Frame dan lebah yang digembalakan
lebah lebih bongsor

132. Alat pemerah madu
teknologi Jerman

133. Produk madu Jepang bukan sekedar sengatpuntur

Taman tropis di rumah kaca. Tiga hari sebelum saya ke Tanah Air, suatu rekayasa koleksi flora telah mengukir bidang wawasan saya menjadi semakin heterogen. Wawasan hutan tropis, hampir setiap hari menari di benak saya, pada hari itu terhenyak, melihat taman tropis di rumah kaca Negeri Sakura. Rumah kaca terkenal sebagai conservatory tersebut, luasnya 4.613 meter persegi, tinggi 14,8 meter. Bagaikan kubah kaca raksasa, ditengah belantara Jepang. Suatu prasarana luar biasa Kyoto Botanical Garden. Kawasan kebun raya di wilayah utara kota Kyoto, yaitu di Hongi-cho, Shimogamo, Sakyo-ku, Kyoto, saya kunjungi bersama Shimizu-san pada 6 Oktober 1992. Kyoto menjadi pilihan utama acara kunjungan saya di Jepang, di luar Osaka dan acara resmi training. Hal tersebut saya cantumkan untuk memenuhi tawaran Murakami-san, mengisi waktu sebelum pulang. Kyoto menjadi penting bagi saya, karena ingin mencari jawab, tanda tanya besar, mengapa harus ada twin city, kota kembar dalam suatu kerjasama Kyoto – Yogyakarta, sejak 16 Juli 1985. Kesempatan baik untuk tidak di sia-sia kan. Sebelum kebun raya teraih, jalan kaki keliling kota, kesempatan pertama Shimizu-san menuntun saya melihat asset-aset kebudayaan Jepang di Kyoto. Ternyata tak jauh beda dengan Yogya. Kesakralan bangunan kraton kekaisaran Jepang, mengingatkan saya pada Kraton Kasultanan

Yogyakarta; keheningan Kampus Universitas Kyoto mirip kampus UGM tahun 1970-an; bahkan, soto serasa soto pak Soleh Yogya sempat saya nikmati di Kyoto. Suasana kota pedalaman, jauh dari hiruk pikuk pelabuhan dan perdagangan besar seperti di Yogya, saya temukan di kota ini, meski jalan orang Jepang tetap saja lebih cepat, bila dibandingkan laju mobil Jepang di malioboro Yogyakarta. Kyoto Botanical Garden (KBG) terlibat dalam rangkaian agenda kegiatan kerjasama twin city Kyoto – Yogya. Aset unggulan ilmiah dan wisata budaya Kyoto ini, mencoba menambah koleksi flora tropis melalui program twin city. Diawali, kunjungan beberapa pejabat Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk Kepala Dinas Kehutanan, ke Kyoto pada awal Maret 1991. Kunjungan tersebut dalam rangka memenuhi undangan Pemerintah Prefektur setempat untuk hadir dalam upacara Regreening Day, semacam Puncak Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional di Indonesia setiap bulan Desember. Kepala Dinas kehutanan bersama pejabat pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta lainnya, tidak melewatkan KBG sebagai obyek, dalam rangkaian acara kunjungan ke Kyoto. Pada waktu itulah, Direktur KBG menyampaikan informasi bahwa, pada bulan Maret 1992, conservatory akan diresmikan pengelolaannya, walaupun masih ada beberapa jenis flora tropis belum masuk dalam daftar inventaris koleksi kebun raya. Pada kesempatan itulah, Direktur KBG mohon agar Yogyakarta, melalui program twin city, dapat membantu memperkaya koleksi conservatory. Selanjutnya dijelaskan bahwa, conservatory yang masih dalam tahap penyelesaian itu, fungsinya akan menjadi milik dunia. Kekuatiran terhadap gelombang degradasi genetis, melalui conservatory tersebut, Jepang ingin mengantisipasinya dengan mencoba memberikan konstribusi pengawetan plasma nutfah, sebagai salah satu dari tiga sasaran strategis konservasi alam dunia. Bulan Agustus 1991, sepucuk surat dilayangkan ke Yogya, maksudnya adalah mempertegas permohonan dengan mencantumkan nama flora tropis yang sangat diharapkan KBG sebagai koleksi baru, flora tersebut adalah : - Amorphophallus titanium Becc ex Arcang (bunga bangkai) Amorphophallus companulatus (Suweg) Nepenthes rajah Hook.f (kantong semar rajah) N lowii Hook.f (Kantong semar lowii) N merrilliana macfar (kantong semar merrilliana) Eusideroxylon zwagerii (kayu besi/ulin)

Sungguh pun tidak menjanjikan kepastian, demi twin city dan tujuan mulia conservatory. Yogya mencoba memenuhi permohonan. Langkah pertama adalah mencari informasi habitat masing-masing flora tersebut. Dari namanya, dapat dipastikan hanya suweg yang ada di Yogya. Mudah diambil, populasi banyak. Habitat suweg berupa pekarangan di pedesaan pun jadi. Namun untuk 5 jenis lainnya ? Terpaksa harus berburu ke Bogor. PHPA menjawab : bunga bangkai di Bengkulu, ulin di Kalimantan, tepatnya Kalimantan Timur, diperkirakan populasinya masih banyak. Sedangkan untuk trio Nepenthes ? Herbarium Bogoriensis LBN – LIPI, sempat saya “kulo nuwuni”, mendapat pelayanan baik, saya melihat spesimen “kuno” herbarium trio Nepenthes tersebut. Saya katakan kuno, karena tahun koleksi ketiga spesimen herbarium tersebut sebelum tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Kolektornya botanist Belanda totok, yang saya yakin, dalam benaknya pada waktu itu, tidak ada secuil pun harapan Indonesia merdeka. Berdasarkan spesimen herbarium tersebut, diperoleh informasi otentik bahwa habitat Nepenthes raja dan N lowii di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Sabah, habitat N merrilliana di Sulawesi Utara. Wawasan habitat, sangat penting untuk koleksi flora hidup demi tujuan ilmiah penyelamatan plasma nutfah. Jadi, bukan sekedar tempelan informasi barang tontonan aset Wisata budaya. Timbul pertanyaan : pertama, karena ulah satu kota (Yogyakarta), dapatkah satu Negara (Indonesia) menanggung beban ? kedua, masih adakah trio Nepenthes itu di habitatnya ? Dua pertanyaan yang membutuhkan prosedur dan waktu panjang untuk menjawab. Dalam program tahunan twin city, 1991 adalah tahun promosi kebudayaan Yogyakarta di Kyoto. Rencana promosi disepakati bulan Desember 1991. Supaya permohonan flora dapat dipenuhi dan menjadi salah satu agenda acara promosi, maka diputuskan untuk membawa jenis flora yang paling mudah diperoleh di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu suweg dan mencoba mencari jenis Nepenthes habitat hutan lindung Kaliurang. Akhirnya, pada pertengahan bulan Desember 1991, 5 pot suweg dan 5 pot Nepenthes Kaliurang, setelah melalui prosedur ijin, dapat dibawa ke Kyoto, tanpa media tanah. Prosedur ijin mengambil di habitatnya, dilanjut membawa ke luar negeri, khusus untuk kepentingan ilmiah telah diatur Pemerintah Republik Indonesia. Tiga instansi terlibat di dalamnya. Pertama, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) sebagai Scientific Authority – pemegang kewenangan ilmiah, antara lain berpedoman pada daftar CITES; kedua, berdasarkan rekomendasi LIPI, Direktorat Jenderal PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam) Departemen Kehutanan sebagai Management Authority – pemegang kewenangan pengelolaan, menerbitkan exit permit

menggunakan form CITES; ketiga, Instansi Karantina Tumbuhan Departemen Pertanian, mempunyai kewenangan meloloskan flora tersebut ke luar negeri apabila dinyatakan sehat, bebas hama dan tidak mengandung bibit penyakit. Di pihak Jepang sendiri, sebagai negara calon penerima, setelah memperhatikan fax dokumen exit permit flora dimaksud, baru dapat mengambil sikap bahwa, flora boleh masuk atau tidak ke Jepang. Biasanya, flora hidup untuk kepentingan ilmiah yang jelas sasarannya tidak menjadi masalah import permit diterbitkan, hanya ditegaskan, supaya dibawa tanpa secuil pun tanah menempel di akarnya. Oleh karena itu, diperlukan rekayasa mempertahankan hidup flora selama dalam perjalanan, caranya membungkus akar dengan kapas basah yang mengandung cairan hormon tumbuh tertentu. Pada waktu itu menggunakan hormon auxin 1%. Tindak lanjut memenuhi permohonan jenis lainnya, kosong pada 1992 dan 1993, sehubungan kepindahan saya kerja di Departemen Kehutanan Pusat – Jakarta, saya kehilangan informasi pasti, karena sudah tidak terlibat langsung memantau perkembangannya. Imbal baliknya, berdasar saran Kepala Dinas Kehutanan kepada panitia twin city pihak Yogyakarta adalah bamboo jepang dan sugi untuk dicoba, dikembangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Disamping itu, mengirim pegawai kehutanan untuk mempelajari dan memperdalam praktek-praktek pemuliaan pohon di Jepang. Panitia menjanjikan akan direalisir 1994/1995. Kembali pada kunjungan saya ke Kyoto, khususnya ke KBG. Salah satu tujuan adalah melihat perkembangan suweg dan Nepenthes Kaliurang yang 9 bulan lalu saya siapkan kemasannya supaya mudah dibawa dan tidak rusak. Ternyata tumbuh baik. Nepenthes, pada waktu dikemas tinggi rata-rata 10 centimeter, setelah 9 bulan di Jepang, merambat mencapai tinggi 25 centimeter dan berkantong semar di ujung 6 – 8 daun tuanya. Suweg, dikemas dalam bentuk umbi sebesar kepalan tangan orang dewasa, 9 bulan di Jepang tumbuh langsing, mencapai tinggi lebih kurang 50 centimeter. Conservatory KBG, besarnya telah saya ungkap di depan, diresmikan untuk umum sejak Maret 1992. Terbagi dalam 10 ruang utama, meliputi 9 ruang koleksi variasi flora tropis dari daerah lembab (humid), kering (gurun) dan pegunungan (alpine region), lebih kurang 4.500 taxa dan 1 ruang untuk pertunjukan spesial. Bentuk bangunan conservatory menurut Shigetoshi-san, Wakil Direktur KBG, diilhami bentuk candi Kinkaku-ji, di kelilingi kolam di bawah bayangbayang pegunungan Kitayama yang mengitari Kyoto.

Secara garis besar, gambaran isi conservatory adalah sebagai berikut : 1. Di lobby, sebelum masuk ruang koleksi flora, tersaji informasi, antara lain : conservatory buka setiap hari, kecuali 28 Desember – 4 Januari (libur tahun baru), mulai jam 10.00 pagi sampai jam 04.00 sore. Loket karcis tutup jam 03.45 sore. Harga karcis dewasa 200 yen, murid SMU 150 yen dan murid SD, SLTP 80 yen per orang. Di lobby ini, pengunjung disambut bunga terbesar di dunia, Rafflesia arnoldi dalam cairan formalin. Bunga awetan ini telah berwarna hitam. Asli warnanya, muncul pada replica di sampingnya. Bunga tersebut sumbangan Indonesia pada waktu expo Osaka 1990. 2. Ruang flora air dan flora pemakan serangga; di ruang ini dapat disaksikan bunga lili raksasa, mangrove dan kantong semar (Nepenthes) si pemakan serangga. 3. Ruang belantara tropis; di koleksi beberapa jenis flora tropis, di tata bagaikan rimba belantara tropis dan suasana udara hutan tropis sangat terasa di ruangan ini. 4. Ruang flora tropis yang bermanfaat bagi kebutuhan pangan manusia, antara lain : pisang, kopi, soklat, durian, nangka. Jenis-jenis flora tersebut, sama sekali tidak ditemukan di habitat Jepang. 5. Ruang flora pegunungan alpine tropika; meliputi berbagai jenis flora coniferae, Castanopsis dan Quercus, dikombinasi kerabatnya yang hidup di sub tropis. Udara ruang diatur sesejuk musim panas di Wakayama. 6. Ruang flora savanna dan gurun; beberapa jenis kaktus, missal Baobab dan Welwitschia mirabillia di tanam di ruang yang udara panasnya mirip gurun di siang hari.

7.

Ruang koleksi flora sucullent yaitu flora batang dan daun lunak, misalnya : Rhipsalis, Hoya dan lida buaya.

8.

Ruang koleksi Bromeliads, yaitu flora yang susunan batang dan daunnya mirip tanaman nanas.

9.

Ruang anggrek; terdapat koleksi anggrek-anggrek spesi (asli) dari tropis dan sub tropis maupun hibridanya.

10. Ruang pertunjukkan spesial, antara lain untuk pemutaran film pendidikan flora fauna, video clip flora, pameran foto habitat hutan tropis dan sebagainya. Beberapa ketentuan cukup ketat, digariskan pengelola conservatory KBG bagi pengunjung. Hal yang patut dihargai adalah kepatuhan orang Jepang, dari murid SD sampai orang dewasa, mengikuti ketentuan tertulis itu, sepanjang perjalanan mengikuti route ruang ke ruang di dalam conservatory. Sempat menarik perhatian saya, missal : bunga cukup mereka kagumi atau dipotret dari jauh, tanpa disentuh. Ketentuan tersebut, antara lain : a. Tidak boleh menyentuh tanaman dan fasilitas penyangga media tanaman. Sebagian besar media tanaman dalam pot adalah gambut permentasi kulit kayu yang telah disterilkan sebelum diberi unsur-unsur hara rekayasa. b. Tidak boleh masuk ke ruang, selain ruang pamer untuk umum. Karena saya dan Shimizu-san dianggap pengunjung khusus, pada waktu itu dituntun Shigetoshi-san ke ruang-ruang lainnya, yaitu ruang perawatan, ruang perkayaan jenis dan ruang penyimpanan pot flora cadangan. Pot suweg dan Nepenthes Kaliurang pada waktu itu masih berada di ruang perawatan. c. Karena jalur jalan sempit, lebih kurang lebar 2 meter, maka bagi pemotret yang membawa tripod, diperkenankan menggunakan tripod pada waktu sepi pengunjung.

d.

Tidak boleh merokok dan membawa makanan minuman di dalam conservatory.

Demikian tentang conservatory yang merupakan bagian dari KBG. Ada pun mengenai KBG keseluruhan, secara garis besar adalah sebagai berikut : 1. Luas 2,4 hektar, meliputi 13.000 spesies dalam bentuk koleksi 120.000 tanaman. Selama satu dasawarsa terakhir ini, berdasarkan catatan Shigetoshi-san, dikunjungi rata-rata 1.000.000 orang per tahun. Pembangunannya dimulai pada 1917 dan resmi dibuka untuk umum pada 1923. Pernah mengalami pengapungan pengelolaan selama 12 tahun sejak perang dunia II berakhir. Kemudian diadakan pembenahan fasilitas lagi dan resmi dikelola dengan peraturan-peraturan lebih ketat sejak April 1961. 2. Kebun raya diapit kampus Universitas Kyoto ini, berdasarkan peta petunjuk terdapat fasilitas untuk pengunjung meliputi : 6 toilet/lavatory untuk orang normal; 3 toilet/lavatory untuk orang cacat lumpuh menggunakan kursi roda; 2 kios makanan minuman dan souvenir; 7 kran air minum; 4 telepon; 2 lounge, tempat duduk santai; 3 tempat berteduh dari pohon merambat (arbour); 1 area taman rumput terbuka; 1 tempat parkir; 1 loket dan pintu gerbang utama; 1 loket dan pintu gerbang cadangan; 1 ruang satpam dan 1 bel tanda bahaya kebakaran. 3. Model-model tanaman yang disusun dengan berbagai variasi jenis flora baik asli maupun introduksi, meliputi : Taman camellia, Taman Ekologi, Taman Jepang, Taman Iris Jepang, Taman untuk bermain anak-anak, Taman Eropa, Taman Sun ken, Taman Bonzai, dan taman yang ditata seperti Hutan Nakaragi (Nakaragi no Mori). 4. Blok koleksi flora spesifik, meliputi : tanaman perennial/trubusan yang bermanfaat, maple, plum, coniferae, Cherry, rhododendron, kamper

dan conservatory untuk koleksi flora-flora tropis yang memerlukan system pengelolaan spesifik tersendiri. 5. Peninggalan sejarah budaya lama yang erat kaitannya dengan pemanfaatan flora bagi kebutuhan hidup manusia, antara lain : penggilingan padi tenaga air seperti di Sumatera Barat dan rumah upacara minum teh gaya Jepang. 6. Waktu kunjungan untuk umum, setiap hari kecuali 28 Desember sampai dengan 4 Januari (libur tahun baru), buka jam 09.00 pagi, tutup jam 05.00 sore. Loket karcis buka sampai jam 04.00 sore. Harga karcis dan klasifikasinya tak jauh berbeda dengan karcis masuk conservatory.

\
134. Didepan conser vatory bersama Shigetoshi-san

taman tropis di rumah kaca

135. Rafflesia arnoldi dan replikanya bunga terbesar di dunia

136. Jeroan conservatory rekayasa belantara tropis

137. Pinang merah perwakilan tropis kelembaban tinggi

138. Pohon perdamaian Baringtonia asiatica perwakilan tropis pantai kering

139. Nepenthes Kaliurang dibawah tanpa tanah

139. Nepenthes Kaliurang dibawah tanpa tanah

140. Suweg Yogyakarta
langsing dari umbi sekepal tangan

EPILOG
Datanglah bantuan dari Nusa Tembini, berkulit kuning, kerdil tubuhnya. Mereka yang menduduki tanah Jawa dan memerintah selama umur jagung. Kemudian pulang ke negeri mereka. Pulau Jawa kembali kepada asalnya, dikuasai oleh anak negeri sendiri.

Redaksi Soemodidjojo pada Djangka Djajabaja serat Tiwikrama halaman 18, dikutip Sartono Kartodirdjo, 1986. Cukilan ramalan Jayabaya tersebut diatas, dipercaya orang Jawa atau bangsa Indonesia pada umumnya, telah digenapi bangsa Jepang, ketika jaman ekspansionisme. Dampak okupasi Jepang di Indonesia, khusus Pulau Jawa, seperti diungkap Kromo Sentiko, pengawal Raden Ngabehi Sarojo – Mantri Kehutanan Donoloyo – sebagai berikut : “Hutan Donoloyo sendiri tidak pernah rusak berat, kecuali di jaman Jepang yang bahkan rakyat Donoloyo sendiri pernah berpakaian goni”. Hutan Donoloyo adalah bagian hutan Wonomarto Mangkunegaran, terletak di Desa Made, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Selanjutnya dinyatakan bahwa, hutan Wonomarto Mangkunegaran pada jaman kolonial Belanda, masih dikuasasi sepenuhnya oleh Pemerintah Mangkunegaran.

Demikianlah, tuturan sejarah yang ditulis dalam buku : “Dr. Soedjarwo, sebuah profil dalam dua dimensi” (Hargo Suputro, 1988). Untuk memperjelas arah dan misi, maka dari tuturan tersebut dapat ditarik 2 (dua) kesan, yaitu : (1) perlu disadari bahwa, Jepang pernah memberi andil trauma penderitaan kepada rakyat Indonesia. (2) hendaklah menjadi kebanggaan budaya dan memacu semangat kemandirian bangsa dalam era kemerdekaan dan pembangunan ini bahwa, dalam suasana penjajahan, masih ada Wonomarto Mangkunegaran yang pernah memberi kesempatan bangsa Indonesia, pemerintah bersama rakyat Mangkunegaran untuk mengelola hutannya sendiri, bebas dari intrik kolonialis Belanda, namun akhirnya, dirusak oleh ekspansionis Jepang.

Makna penderitaan

Apakah bangsa Jepang pernah menderita ditindas bangsa lain ? Yoshino sebagaimana diterjemahkan oleh Gandasasmita, 1981 menulis bahwa, akibat kegagalan politik ekspansionisme, Jepang telah mengunyah buah kepayang, berupa : kehilangan 1.850.000 jiwa, lebih dari sepertiganya meninggal di Jepang; 40% daerah urban hancur; sekitar 2.252.000 bangunan rata dengan tanah. Selanjutnya, Jepang menyerah tanpa syarat 5 Agustus 1945. Kekuatan sekutu masuk ke dalam negeri. Okupasi yang dimotori USA ingin mencapai dua tujuan yaitu demiliterisasi dan pendemokrasian Jepang. Namun tujuan tersebut berubah pada bulan Januari 1948, yaitu menjadi kebijaksanaan untuk mengadakan pembangunan ekonomi dan menciptakan negara Jepang yang kuat. Balance budget, pembatasan kredit, perluasan produksi dan perdagangan adalah butir-butir program stabilitas ekonomi Jepang. Inflasi yang merajalela dapat diatasi pada tahun 1949, dan Jepang dibawah “tuntunan” USA, mulai menuju kebangkitannya.

Apa dibalik perubahan tujuan USA tersebut, mulai terkuak pada 1950, ketika pecah perang Korea. Ajang barikade kekuatan komunis dan liberalis terciptalah sudah di jasirah Asia Timur ini. Dewi Fortuna tiba-tiba hinggap di Jepang. Negeri yang lima tahun sebelumnya porak poranda, pada waktu perang Korea menjadi sumber supply PBB. Yoshiro menaksir bahwa, selama konflik Korea, PBB menghabiskan hampir 4 milyard US dollar di Jepang. Pembayaran tersebut memungkinkan Jepang membentuk cadangan dollar yang sebagian besar untuk memperalati kembali industri Jepang. Pada waktu yang bersamaan, bantuan USA 2 milyard US dollar menyusup dalam perekonomian Jepang. Ketika Jepang memperoleh kembali kemerdekaannya, pada 1952, Okinawa masih menjadi pangkalan militer USA dan output industri Jepang telah mencapai tingkat sebelum perang dunia II. Suatu pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan. Berangkat seperti singa mencari mangsa di padang ilalang, bertekuk lutut seperti musang kesiangan dan bangkit kembali seperti elang terbang tenang di awang-awang. Itulah Jepang ! Sementara itu, pada periode yang sama, Indonesia masih terus berjuang. Kedatangan Belanda untuk kedua kali ke bumi Ibu Pertiwi yang diramalkan Jayabaya sebagai “Wedhon (hantu) dari barat laut, berselimut kain putih, bertongkat tebu ireng “(Cantrik Mataram, dikutip Sartono Kartodirdjo, 1986) cukup merepotkan.

Mending membumihanguskan pabrik gula, mandi darah sendiri di Surabaya, gerilya di gunung rimba, bahkan kota Bandung lautan api pun jadi, dari pada menghidupkan kembali kolonialisme di Bumi Indonesia. Persatuan bangsa yang susah payah diikrarkan pada 28 Oktober 1928 dan menjadi acuan inspirasi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, terpaksa harus didudukkan pada porsinya kembali, melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, karena kehadiran UUDS 1950 dan Republik Indonesia Serikat, jika diteruskan akan melunturkan arti Proklamasi Kemerdekaan 1945. Dan boleh jadi, Indonesia semakin jauh ketinggalan kereta pertumbuhan ekonomi Jepang. Satu lagi hambatan telak, pemberontakan “G 30 S / PKI 1965” , sebagai akhir rangkaian hari-hari panjang pergolakan politik antara 1959 – 1965. Keberhasilan memadamkan pemberontakan tersebut, semakin meyakinkan bangsa Indonesia pada persatuan dan kesatuan bangsa yang diamanatkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. Sistem pemerintahan orde baru berupaya terus memantapkan laju pembangunan dan stabilitas Nasional. Melalui tahapan pembangunan lima tahun, pertumbuhan ekonomi semakin “tidak diragukan” lagi. Meskipun sudah jauh ketinggalan, ada satu hal yang paling mendasar dan perlu diingat oleh generasi penerus yaitu demokrasi Indonesia lahir di bumi Indonesia dan oleh bangsa Indonesia sendiri. Menurut Asiaweek Magazine 4 September 1992, nilai export Jepang pada 1991 sebesar 320,6 milyard US dollar, Indonesia 29,4 milyard US dollar, sehingga paling sedikit 11 kali lagi Indonesia mengejar Jepang. Secara keseluruhan, bangsa Indonesia pernah merasakan disiplin kehidupan bunga tulip dan nina bobo beer bangsa Belanda selama 3,5 abad, ditambah tohokan pedang samurai Jepang tanpa sake, langsung ulu hati, selama seumur jagung yang kenyataannya tiga tahun lebih dan masih dibumbui pasang surut gejolak politik dalam negeri pada pra orde baru. Dalam laju globalisasi dan pembangunan sekarang ini, seyogyanya “kenikmatan” tersebut dapat menjadi pelajaran yang mengingatkan generasi penerus bangsa Indonesia untuk (1) menjauhkan diri dari politik kolonialisme dan ekspansionisme, dari mana pun asalnya dan bagaimanapun bentuknya. (2) dalam kesempatan apapun, harus berpegang pada semangat persatuan, kemandirian dan selalu menjunjung tinggi kebudayaan bangsa sendiri. (3) menerapkan dan mengembangkan prinsip dasar pengelolaan

“Wonomarto Mangkunegaran” yang memperhatikan peran masyarakat sebagai cikal bakal demokrasi, dalam pengelolaan hutan di Indonesia.

Hutan dan demokrasi
Pengertian hutan dalam suatu sistem pengelolaan, mulai dikenal di Indonesia sejak pertengahan abad XIX. Berdasarkan buku sejarah Kehutanan Indonesia I, 1986, disebutkan bahwa Gubernur Jenderal JJ Soechussen, pada 1847 mengusulkan kepada Ratu Belanda supaya mengijinkan ke Hindia Belanda, beberapa ahli kehutanan yang dididik di Jerman. Lebih kurang dua tahun kemudian, 1849, datanglah dua orang ahli kehutanan yaitu Bennich dan Mollier serta Balzar seorang ahli geodesi. Tiga orang ahli inilah perintis penataan dan pengelolaan hutan di Jawa, yang pada waktu itu sudah didominasi Jati. Peta kawasan hutan bukan barang dan pengetahuan baru pada waktu itu, namun Balzar harus lebih memantapkannya, sehingga dapat dimanfaatkan secara ilmiah dalam suatu sistem pengelolaan hutan.

Berdasarkan sumber pustaka yang sama, diinformasikan bahwa pada 1692, hutan jati di sepanjang tepi sungai Citarum yang melitas Batavia dan sepanjang sungai Ciluntung yang melintas Cirebon, telah berhasil dipetakan sebagai peta hutan jati yang pertama kali disajikan kolonial Belanda, setelah 90 tahun sejak VOC melempar jangkar di Indonesia. Kemudian pada 1796, jadilah untuk pertama kali peta hutan Jawa dan Madura. Peta ini masih tersimpan dengan baik di Kolonial archief’s Gravenhage negeri Belanda. Selanjutnya pada 1820, berdasarkan Staatblad 1818 telah berhasil dipetakan beberapa kawasan hutan jati yang berwawasan pemangkuan. Namun Balzar berpendapat bahwa, peta tersebut masih acak-acakan, antara lain tidak bersinggungan dengan titik-titik trianggulasi. Walaupun demikian, ada yang dinilai baik, dalam arti mendekati wawasan pemangkuan ilmiah, yaitu di ex Karesidenan Rembang dan Ex Karesidenan Semarang. Peta tersebut tersaji dalam skala 1 : 10.000, 1 : 25.000 dan 1 : 100.000. Pada waktu itu, hutan di luar Jawa sama sekali belum disentuh model pengelolaan apa pun.

Aktifitas yang dirintis Mollier dan kawan-kawan, berlanjut terus selama jaman kolonial dari 1850 sampai 1942, sehingga terciptalah sistem pengelolaan pemangkuan hutan secara ilmiah. Tapi sayang, jati yang menggiurkan penguasa pada waktu itu, menyebabkan penataan intensif tersebut hanya terpaku dan berkutat di Pulau Jawa saja.

Bagaimana hutan di Jepang ? Pada periode yang sama, dalam sejarah awal penataan hutan di Jawa yaitu abad XVII sampai XIX, Jepang masih gelap. Pemerintah feodal Shogun Tokugawa menutup Jepang dari dunia luar. Lebih lanjut Yoshino menulis bahwa, dalam rangka menjamin status quo, Shogun hanya melakukan hubungan terbatas yaitu dengan China dan Belanda. Dua bangsa feodal yang paling getol mengembangkan perdagangan internasional sistem koloni pada waktu itu. Suatu hobby politik yang sebenarnya bertolak belakang dengan tradisi Shogun. Max Weber dalam tulisannya mengenai kota (Apakah yang disebut kota?) sebagaimana dikutip Sartono Kartoditdjo, 1977, mengungkap bahwa, pada waktu di Eropa maupun di beberapa daerah di luar Eropa, membangun benteng sebagai ciri sebuah kota feodal atau sebuah koloni, di Jepang tidak semua kota punya benteng. Satu fakta yang tidak dapat dipungkiri di China, karena tiap kota di China selalu dikelilingi tembok batu yang amat besar. Pejabat Kekaisaran China ada di dalam kota berbenteng tersebut, tetapi Shogun atau Samurai Jepang, dalam menghadapi petani, seniman dan pedagang, sama sekali tidak ada tembok pemisah setipis apapun, meskipun tata cara tradisional tetap menjadi sekat kehormatan golongan. Selanjutnya Yoshino menulis bahwa, hubungan seprofesi yang saling menguntungkan terjadi di kota-kota Jepang waktu itu, khususnya golongan pedagang. Berdasar pengertian dan kebijaksanaan Shogun Tokugawa bahwa, kesejahteraan ekonomi merupakan dasar bagi stabilitas politik, maka para pedagang naik daun. Timbullah pedagang-pedagang kaya yang mulai memperluas pengaruh pada penguasa feodal, sehingga boleh jadi dalam jaman Shogun, Jepang yang tertutup tersebut, mulai terbuka dari dalam, karena aktifitas pedagang yang mulai menjadi gantungan aktifitas golongan petani dan samurai. Pedagang, yang kadang-kadang tidak dapat dipegang kepala dan buntutnya ini, sangat menyambut baik kehadiran China dan Belanda di pelataran rumahnya. Bibit-bibit go internasional Jepang mulai tumbuh. Bahkan golongan samurai pun mulai mengerti apa arti militer untuk mempertahankan negara dari

intervensi asing. Cikal bakal Restorasi Meiji mulai timbul. Dan ternyata benar, melalui Shogun Nagasaki, restorasi tersebut berkembang. Perkembangan pembaharuan Jepang pada era Meiji (1868-1911) menimpa penataan hutan. Belanda memberi andil besar, mendorong pintu gerbang Jepang semakin lebar untuk intervensi budaya barat (Eropa), termasuk teknologi dan sistem pengelolaan hutan yang mereka peroleh langsung belajar di Jerman. Dengan demikian, janganlah heran apabila dasar sistem pengelolaan hutan Jepang, sedikit pun tidak menyimpang dari sistem pengelolaan hutan jati di Jawa, yang sebenarnya lebih dahulu mulai ditata yaitu oleh Mollier cs. Pada 1850. Namun dalam wawasan negara, Jepang lebih dahulu selesai. Sedang Indonesia, belajar dari pengalaman Jawa masih terus berlanjut hingga kini. Suatu hal yang dapat dimaklumi, karena kenyataan bahwa luas daratan Jepang 370.000 kilometer persegi, masuk seluruhnya dalam daratan Sumatera yang luasnya 475.000 kilometer persegi (Vademicum Kehutanan Indonesia, 1976). Oleh karena itu, dalam demokrasi sekarang ini, sudah sepantasnya kalau Indonesia dan Jepang harus saling kerja sama menimba pengalaman dalam penataan dan pengelolaan hutan. Rakyat Jepang meraih demokrasi pada 1947. Yoshino menjelaskan bahwa, pada tahun tersebut Jepang membuat konstitusi baru. Dalam konstitusi tersebut, konsep kebebasan masyarakat salah satu hal yang penting. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Jepang, kebebasan ada ditangan rakyat, Kaisar hanya menjadi symbol upacara negara. Penataan hutan, baik di Jawa maupun di Jepang tidak jauh berbeda sebagai produk kolonial-feodalistis, yang harus dimanfaatkan dan dikembangkan sekarang ini oleh masyarakat demokratis. Bagaimanapun yang terjadi, konstitusi beserta peraturan dan perundang-undangan terkait adalah pedoman hasil musyawarah yang harus ditaati dan dilaksanakan dalam pertumbuhan ekonomi, pembangunan, peningkatan mutu sumber daya manusia dan pelestarian sumber daya alam. Manusia kembali ke alam

Sistem pemerintahan demokrasi, pada hakekatnya mengemban amanat rakyat. Lain sama sekali dengan sistem pemerintahan feodal atau kolonial, yang hanya mengemban amanat segelintir golongan manusia penguasa atau bangsa lain tanpa musyawarah dan perimbangan yang layak. Penderitaan dan kemiskinan golongan akar rumput sering dianggap wajar diterima oleh penguasa sistem ini. Penindasan diantara manusia atau golongan manusia seperti itu, seyogyanya lenyap dalam masyarakat demokratis. Manusia harus dipandang sewajarnya sebagai manusia. Meminjam istilah yang dikutip Poespowardojo, 1977, manusia wajar adalah manusia konkret, manusia riil, seperti yang kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak teori mengupas dari berbagai sudut pandang filsafat. Hasil akhir yang mengenaskan adalah manusia dipisahkan dari dunia riil, dilucuti makna sosialnya dan dipencilkan dalam alam idealisme sebagaimana kesimpulan pandangan Hegelian (Poespowardojo, 1977). Lebih lanjut dari sumber yang sama ditulis bahwa, pandangan Hegelian tersebut tidak jauh berbeda dengan pandangan komunis yang mereduksi manusia, sehingga hanya sekedar sebagai materi dan dapat digelindingkan kesana kemari. Bagaimana manusia dalam lingkungan masyarakat demokratis ? baik Jepang maupun Indonesia pada prinsipnya adalah sama, yaitu menolak mentahmentah pandangan Hegelian tersebut. Manusia riil yang seutuhnya adalah tujuan demokrasi kedua negara. Perbedaan terletak pada pandangan dan cara mencapai tujuan tersebut. Di Jepang hubungan manusia dengan dunia riil atau alam nyata lebih eksklusif dari pada di Indonesia. Politik memperkaya dan meningkatkan kualitas property yang lebih erat kaitannya dengan sumber daya alam domestik, terutama hutan dan intensifikasi pertanian, boleh jadi menyebabkan kaitan tersebut lebih diperhatikan pemerintah. Perhatian tersebut antara lain adalah kebijaksanaan pemerintah untuk menetapkan hari-hari libur nasional yang berhubungan dengan usaha pertanian. Shintoisme, ternyata lebih condong sebagai gerakan nasional (Yoshino, terjemahan Gandasasmita, 1981), dari pada sebagai gerakan agama. Melalui Shintoisme, sebagian bangsa Jepang dapat membanggakan sekaligus

mempertahankan keunikan bangsanya sebagai bangsa suci. Dalam hal ini, Kaisar tetap mendapat penghormatan yang besar. Pembinaan mental melalui gerakan agama atau kepercayaan apa pun kurang diperhatikan pemerintah, walaupun kebebasan ibadahnya tetap dijamin dan dipantau melalui kementerian Pendidikan, Ilmu pengetahuan dan Kebudayaan. Kementrian tersebut, pada prinsipnya hanya melegalisir status organisasi non profit keagamaan yang bersangkutan. Sampai dengan 1991 tercatat legalitas tersebut telah mencapai lebih dari 180.000 organisasi keagamaan yang tersebar di seluruh Jepang. Jadi melalui peningkatan kualitas produk property dan Shintoisme, Jepang kelihatan menggiring hidup manusianya dalam tiga taraf Kier Kegaard yaitu estetis, etis dan religius (Poespowardojo, 1977). Properti adalah produk karya bangsa Jepang dalam mengungkap dunia alamnya yang mengagumkan. Melalui property itulah bangsa Jepang menempuh kehidupan estetisnya. Kehidupan etis tercapai melalui Shintoisme. Faham ini memberi peluang kepada kehidupan estetis untuk meningkat menuju ke kebanggaan nasional yaitu berbangsa yang suci. Karena suci disini tidak bermakna universal, maka banyak manusia Jepang yang mencari Tuhan melalui kehidupan religius. Suatu kehidupan di Jepang yang lebih bersifat individual atau kelompok dari pada nasional. Di Indonesia kehidupan religius adalah kehidupan nasional. Meskipun bukan negara agama, aktifitas kehidupan beragama mendapat fasilitas negara yang cukup memadai. Pemerintah menjamin kehidupan tersebut melalui Departemen Agama. Hari-hari penting yang berkaitan dengan agama ditetapkan Pemerintah sebagai hari libur nasional. Aliran kepercayaan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa, dijamin aktifitasnya oleh pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan demikian di Indonesia, ajaran agama adalah ajaran universal. Di dalam beragama, manusia Indonesia beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di dalamnya ada olah batin “makluk rohani” yang sadar bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta alam dan manusia. Ajaran Cinta Kasih di dalam agama memberi tuntunan kepada individu manusia tentang perilaku bagaimana menghargai ciptaannya. Di Indonesia, sudah jamak bila hasil perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam dan sesamanya selalu diukur dengan kehidupan religiusnya. Oleh karena itu, materialistis (termasuk property) adalah

berkat dari Tuhan dan dimensi manusia yang benar-benar hakiki, bukan merupakan belenggu yang mengganggu atau merendahkannya, sebagaimana pendapat Plato yang senang memencilkan manusia dalam alam idealistis. Penghinaan serta pengingkaran terhadap dunia (ciptaan Tuhan) secara total hanya dapat terjadi karena manusia menganggap dirinya semata-mata sebagai makluk rohani (Poespowardojo, 1977). Dengan demikian, baik manusia Indonesia maupun manusia Jepang – keduanya riil – tidak dapat meninggalkan alam. Mereka dapat disebut sebagai makluk alamiah. Mengenai makluk alamiah ini, lebih lanjut Poespowardojo menulis bahwa : dengan membuka lingkup yang sewajarnya, seharusnya kita melihat manusia sebagai makluk alamiah, yang merupakan bagian dari alam dan oleh karena itu, memiliki sifat-sifat dan tunduk kepada hukum yang alamiah pula. Tepatnya, Poeswardojo mendukung pendapat Mikio Saika, manusia kembali ke alam karena bagian dari alam. Hanya saran Saika untuk berguru pada satwa liar, terutama dalam hal makan, rupanya belum dapat diterima orang Indonesia dan ternyata pula bertolak belakang dengan pendapat Poespowardojo tentang binatang, sebagai berikut : Dalam kehidupan binatang tidak akan kita jumpai fenomim kebudayaan, di situ tidak ada proses perkembangan mutu, karena segala sesuatu dalam binatang berjalan secara mekanis-biologis. Binatang hidup dalam alam yang sudah ditentukan dan tunduk sepenuhnya pada hukum serta naluri alamiahnya. Sedangkan dalam kehidupan manusia, kebudayaan adalah kancah, dimana setiap orang dapat berjuang dengan mempergunakan segala kemampuannya dan dengan demikian memperoleh kemajuan serta peningkatan mutu hidupnya.

Bicara kebudayaan dalam konteks perwujudan proses perkembangan manusia sebagai bagian dari alam, ternyata ada perbedaan yang menyolok antara Jepang dan Indonesia. Perbedaan tersebut terletak pada kemampuan manusianya dan suasana kancah itu berlangsung.

Pada waktu seminar III Asian Friendship Society 2 – 10 Nopember 1992 di Bali dengan tema “Kearifan budaya dan kualitas hidup” terungkap antara lain bahwa, kebudayaan Jepang pada menjelang sisa abad XX ini, lebih enak kalau

diilustrasikan sebagai buah apel yaitu kulitnya barat, esensi atau daging buahnya Jepang. Budaya yang demikian, diakui tidak berlaku di bidang ekonomi. Budaya barat disandangnya utuh. Ada sebagian dari mereka yang menyebutnya sebagai budaya internasional, karena prosesnya sesuai kesepakatan dalam konvensi internasional. Wawasan internasional sudah demikian maju di Jepang, khususnya pada beberapa kegiatan yang berbau ekonomi antara lain : pemasaran pariwisata, hubungan dagang internasional, kerjasama teknis luar negeri, jaringan kerjasama kelembagaan nirlaba internasional, otomotif dan peralatan elektronik. Khusus untuk pemasaran dua yang terakhir ke calon negara pembeli, biasanya Jepang lebih dahulu mempelajari budaya, terutama kebiasaan hidup masyarakat setempat. Adapun melalui budaya buah apel, Jepang ingin menunjukkan pada bangsa lain bahwa, tradisi dalam arti budaya warisan yang dilestarikan masih ada, hanya penampilannya diatur dengan sistem pengelolaan atau teknologi barat, misalnya : pengelolaan hutan menggunakan system barat, tetapi sasaran produknya tetap mengikuti pembakuan tradisional. Dalam hal administrasi perkantoran, peralatan barat, tradisi Jepang jatuh pada tulisan dan ungkapan bahasanya. Dialek yang pada 1945 masih menjadi kendala persatuan bangsa, sekarang sudah banyak yang dikikis. Mungkin lepas abad XX dialek di Jepang punah. Kekayaan property, misalnya dalam keluarga Jepang, yang demikian besar, sehingga menjadi kekuatiran Masaharu Tasaka akan masa depan bangsa Jepang yang banyak kehilangan kecuali materi, ternyata ditopang pendapat Poespowardojo sebagai berkut : adalah ironi bahwa pada suatu ketika manusia diperbudak oleh hasil kreasinya sendiri. Tanpa mengurangi penghargaan kami terhadap teknologi, manusia mulai dihimbau oleh hasil-hasil yang serba modern dan mutakhir, sehingga ia tidak sadar terperangkap dalam kehidupan yang mekanistis. Jalan keluar yang sementara ini sedang ditempuh, antara lain adalah melalui pendidikan. Sistem pendidikan 9 tahun wajib belajar yang sudah dilaksanakan sejak jaman pendudukan sekutu, sebagai salah satu reformasi menuju

pendemokrasian Jepang (Yoshino, terjemahan Gandasasmita, 1981), mulai 12 September 1992 kurikulumnya dirubah. Demikian MDN 13 September 1992 menggelar berita. Perubahan tersebut adalah 6 hari intra kurikuler menjadi 5 hari intra kurikuler dan 1 hari extra kurikuler. Extra kurikuler yang jatuh pada hari sabtu per minggu, dinyatakan sudah tidak lagi menjadi tanggng jawab sekolahan. Walaupun demikian pemerintah, demi kepentingan nasional, menghimbau kepada beberapa lembaga pendidikan informal atau asosiasi-asosiasi kegiatan masyarakat tertentu untuk memberi pelayanan spesial kepada para siswa sekolah tersebut. Disamping gratis atau separo harga, diharapkan lembaga atau asosiasi dapat memberi motivasi pengembangan kreatifitas ilmiah prosedural dan membuka wawasan immaterial. Kegiatan yang disetujui pemerintah kota metropolitan Osaka dan Kyoto misalnya, antara lain adalah : kunjungan ke museum, kebun raya, pelajaran dan praktek astronomi, botani dan sejarah alam; kesehatan dan olahraga; kerajinan tangan dan beberapa aktifitas social dan kebudayaan. Kegiatan yang sifatnya konsumtif, permainan dan dianggap kurang memberi pengembangan kreatifitas, dilarang tampil memberi pelayanan kepada mereka. Kegiatan tersebut antara lain : karaoke dan bilyard. Bagaimana Indonesia ? Keterikatan bangsa Indonesia dengan alam subur kepulauan tropis yang secara alamiah melahirkan keanekaragaman budaya, mengherankan Masaaki Yamada – sesosok manusia Jepang tiga jaman – yang tidak habis pikir mengapa lebih dari 300 suku bangsa dapat bersatu dalam satu negara dan dikendalikan dengan sistem pemerintahan “demokrasi” pula. Kemudian ia merenung. Akhirnya mengambil kesimpulan sendiri bahwa, alngkah indah dan damai dunia ini, apabila pandangan “satu suku satu negara” yang menimbulkan gejolak perang etnis di berbagai bagian dunia akhir-akhir ini, lenyap dari muka bumi. Rupanya trauma perang baru saja melintas dibenaknya. Selanjutnya ia menyarankan agar Indonesia mempercepat pembangunan transportasi, informasi dan komunikasi. Masaaki Yamada hanyalah orang asing. Ia memandang Indonesia sebagai negara unik yang pada jaman perang etnik sekarang ini, tetap bertahan dalam kanca persatuan, bahkan dapat menjadi panutan dan kepercayaan negara lain.

Suasana stabilitas inilah sebenarnya yang menjadi modal utama bangsa Indonesia dapat membangun. Mengenai pembangunan, Poespowardojo, 1977 berpendapat sebagai berikut : Ucapan “Indonesia sedang membangun” menunjukan tahap kebudayaan nasionalnya yang sedang berkembang. Dalam hal ini jelaslah bahwa akulturasi serta pembaharuan dalam bidang kebudayaan adalah gejala-gejala yang berulang kali terjadi dan perlu terjadi dalam kehidupan manusia. Dan akhirnya ada pula yang terwujud dalam bentuk nilai serta tingkah laku. Bagi Indonesia, perwujudan proses perkembangan manusia sebagai bagian dari alam sangat jelas dibatasi dalam tata nilai atau norma agama yang universal itu, disamping pertumbuhan tata nilai hukum yang berlaku. Sedangkan tingkah laku yang mempunyai arti kultural dalam lingkup pembangunan manusia seutuhnya, sebagaimana pendapat Poespowardojo, adalah bekerja, belajar dan menari. Ketiganya tidak disangkal lagi, dapat diterima dan dilaksanakan oleh semua suku bangsa di Indonesia dalam kanca Bhineka Tunggal Ika. Bekerja untuk mencari nafkah mencukupi kebutuhan hidup, belajar untuk menuntut ilmu dan menari sebagai salah satu cara untuk mengungkap kegembiraan. Kesedihan dan penyesalan terjadi apabila ada kegagalan. Kegagalan terjadi karena alam kodrat manusia yang pada dasarnya baik itu, demikian Rousseau seperti dikutip Poespowardojo, kini menjadi rusak dan a-susila justru oleh peradaban dan pergaulan yang palsu. Selanjutnya Poespowardojo menyatakan bawah : pembangunan ekonomi serta teknologi justru akan mendapatkan arti yang lengkap dan human, sejauh dilaksanakan berdasarkan azas dan semangat kemanusiaan yang diungkapkan dalam kebudayaan.

Inklusifkan hutan dalam kebudayaan.

Pendapat Rousseau dan Poespowardojo yang berkaitan dengan hutan, khususnya hutan tropis beserta ekosistemnya di Indonesia. Dalam era pembangunan sekarang ini, bangsa Indonesia harus siap menghindari dan membasmi peradaban palsu. Hutan yang “fragile and delicate” sangat

peka terhadap peradaban palsu. Sekali kepalsuan itu muncul, maka akan menghasilkan subyek hutan yang kehilangan jati diri.
Personifikasi hutan dalam rangka menggalang semangat kemanusiaan akan memberi arti kultural terhadap hutan itu sendiri. Hutan adalah subyek yang menjadikan keutuhan hidup manusia. Tanpa hutan hidup manusia tidak utuh lagi. Hutan sebagai komponen biotis dalam ekosistem perlu bekerja sesuai kekuatan mekanis – biologisnya. Hutan sebagai komunitas perlu belajar menyesuaikan diri dengan tingkah laku alam semesta di sekitarnya dan hutan sebagai factor penentu keutuhan hidup manusia, perlu melampiaskan keceriaan dalam bentuk nilai estetis, ekologis atau nilai ekonomis. Keceriaan inilah, biang yang dapat menjadikan manusia lupa akan ancaman terhadap keutuhan hidupnya. Oleh karena itu diperlukan kesadaran, khususnya kesadaran manusia sebagai bagian dari alam, yang sangat menolong sekali usaha pelestarian atau menjaga kesinambungan pemanfaatan hutan sesuai fungsinya dalam dinamika kebudayaan. Pengelolaan hutan di Jepang menjadi mantap, karena status pemilikannya dan sistem pemanfaatannya inklusif dalam irama perkembangan masyarakat Jepang yang tetap mempertahankan esensi ketradisionalan hasil hutan dalam budayanya. Lahan masyarakat di pegunungan didominasi tegakan hutan yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri. Luasnya satu peringkat diatas luas kawasan hutan nasional. Kenyataan inilah yang penting untuk mengukur sejauh mana hubungan antara hutan dan kebudayaan di Jepang. Diakui oleh beberapa kalangan bahwa, bicara kebudayaan Jepang akan terasa hambar, jika tanpa kehadiran hutan, meskipun kemajuan Jepang telah memaksa kehadiran budaya buah apel. Kayu import sekedar asesoris, namun esensinya tetap kayu domestik, yang lestari dalam pembakuan tradisional dan kerawanan daerah gempa. Di Indonesia, sebagai daerah rawan gempa seperti di Jepang, peluang untuk meng-inklusif-kan hutan dan kayu dalam kebudayaan masih terbuka lebar untuk mempertahankan tradisi lama warisan nenek moyang beberapa suku bangsa. Keanekaragaman budaya yang menyatu dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika” disadari oleh masing-masing suku bangsa sebagai kekayaan dan kebanggaan budaya nasional.

Modal dasar pembangunan nasional berupa keanekaragaman sumber daya alam hayati misalnya, yang selama ini sebagian besar masih bermukim di dalam hutan alam dan tentunya, belum tersentuh budidaya, namun tidak pernah absen tampil dalam profil kebudayaan. Penampilan yang pernah dan sedang eksklusif di suatu daerah, terkadang menjadi identitas propinsi (Setiadi D Sastrapradja dan Mien A Rafai, 1991). Lebih lanjut Didin S Satrapradja dkk, 1989 menginformasikan hasil penelitian Deparetemen Kehutanan tentang jenis pohon di Indonesia yang mapan teridentifikasi sebagai pohon komersial, yairu sejumlah 257 jenis. Jumlah yang diragukan apabila diketemukan di Jepang atau negara sub tropis lainnya. Kekayaan jenis pohon komersial tersebut, sebagian ada yang dimanfaatkan sebagai bahan baku utama konstruksi rumah kayu tradisional khas budaya daerah. Misalnya : jati di Jawa timur dan Jawa Tengah wilayah utara sampai timur, nangka dan laban di wilayah pesisir pantai selatan Jawa Tengah, sengon dan rasamala di Jawa Barat, ulin di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, eboni dan palapi di Sulawesi Tengah. Menggantungkan bahan baku di hutan alam pada era globalisasi sekarang ini, dikuatirkan oleh kalangan konservasionist sebagai gejala peradaban palsu. Peradaban yang semakin melunturkan esensi kebudayaan tradisional, khususnya daerah di luar Jawa, karena begitu banyak kayu profil andalan kebudayaan daerah tersebut dimanfaatkan dalam kebudayaan nasional atau bahkan, sebagai asesoris kebudayaan bangsa lain. Uluran tangan manusia untuk upaya budidaya sangat diharapkan, selagi jenis komersial tersebut belum lenyap dari muka bumi. Pemecahan masalah dalam rangka menyelamatkan hutan tropis bukan main rumitnya dan sulit (Jaequeline Sawyer, 1990). Pembudidayaan jenis pohon tertentu yang hanya memprioritaskan keperluan export untuk memenuhi permintaan pasar internasional, selama ada kemapanan lokasi dan memahami arti heterogenitas jenis dalam komunitas hutan alam, dapat dipahami sebagai upaya ekolabeling yang membuka lapangan kerja dan pemukiman baru serta mendatangkan devisa bagi negara. Namun apabila hal tersebut terlaksana tanpa kemapanan program, sehingga menghancurkan materi kelangsungan hidup bangsa dan budaya daerah atau kebudayaan nasional,

tentunya sangat bijaksana apabila budidaya tersebut dihentikan dan ditinjau kembali rasionalitasnya. Kehadiran dan aktifitas sistem konsesi di hutan alam produksi, yang selama ini sangat rawan peradaban palsu dan peka biodiversitas bermasalah, dalam sistem pengelolaannya tidaklah berlebihan apabila pengalaman Jepang dalam menata hutan dijadikan acuan. Tingkat kedataran tapak yang mengarah ke bentuk perbukitan atau lahan dataran, hendaknya tidak mengurangi arti penerapan pola sabuk gunung dan pola surjan gunung Jepang. Sistem tebang jalur atau sistem tebang jalur melingkar bukit yang dikanan kiri atau atas bawah jalur tetap hadir keutuhan jalur hutan alam, kemudian segera disusul penanaman jenis-jenis komersial daur panjang dan asli setempat di bekas jalur tebangan, diharapkan dapat menjadi sistem pengelolaan hutan tropis jangka panjang yang tetap memperhatikan stratifikasi dan susunan ruang habitat biodiversitas hutan alam, baik flora maupun faunanya. Perubahan pola pungut yang pada gilirannya nanti berubah menjadi pola pengelolaan hutan bertanggungjawab dalam tata urut pekerjaan : planting – weeding – prunning – thinning – cutting/harvesting, dapat terselenggara di jalur hutan tanaman. Sedang di jalur hutan alam dapat diselenggarakan segala budidaya yang sebagian besar rekayasanya diurus alam, misalnya : jamur kayu, buah tengkawang, madu lebah hutan dan beberapa jenis kayu yang dapat dipungut sebagai bahan baku arang, melalui cara panen copies system seperti dilakukan pada genus Quercus dan Castanopsis di hutan alam Jepang. Namun demikian, uji coba tetap dihadirkan sebagai prioritas utama dalam program, mengingat keunikan distribusi jenis di hutan tropis terkadang menjadi kendala berat usaha manusia untuk mengelolanya. Mengenai pengelolaan kawasan konservasi alam dan pengawasan lalu lintas perdagangan jenis-jenis langka dan dilindungi CITES dan Undang-Undang di Indonesia, sejarah pengembangan sistemnya hampir bersamaan waktu dengan keseriusan Jepang dalam menetapkan dan mengelola kawasan dan kegiatan yang sama di negaranya. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila kerjasama di bidang konservasi lebih ditingkatkan.

Pengelolaan sugi dan hinoki serta jenis-jenis asli setempat adalah hak patent Jepang dalam mengembangkan kegiatan hutan tanaman yang sosialisasinya telah mencapai taraf pemuliaan pohon. Kehadiran hutan swasta (private forest) dan hutan milik keluarga dalam pengelolaan hutan di Jepang, merupakan inspirasi dan kiat pengelolaan hutan rakyat yang patut dikembangkan di Indonesia, mengingat tata ruang dan kesesuaian lahan di luar kawasan hutan negara di Indonesia banyak yang memerlukan stabilitas dalam sistem pengelolaannya, baik vegetasi teknis (hutan rakyat) maupun civil teknis (konservasi tanah). Kewenangan otonomi Daerah Tingkat II dalam mengatur dan mengembangkan hutan rakyat di daerahnya mulai 1994, diharapkan dapat dinilai sebagai niat dan semangat baru untuk membangun masyarakat perhutanan Indonesia, yang senyatanya tidak boleh lepas dari wawasan budaya bangsa. Peran masyarakat untuk melestarikan hutan dan mengembangkan jenis-jenis pohon (komersial) asli setempat di lahan milik sendiri dalam kanca kebudayaan, akan menambah kontribusi komoditi di bidang ekonomi. Suatu tantangan yang mengasyikan menuju kemandirian. Oleh sebab itu alangkah bahagianya orang atau sekelompok masyarakat pedesaan yang tadinya buruh dalam slogan “hutan untuk rakyat” berubah menjadi tuan dalam slogan “hutan milik rakyat”. Pengembangan hutan sengon di lahan pegunungan milik rakyat, khususnya di Pulau Jawa, merupakan realisasi kemandirian sejauh mana petani sengon menikmati hasilnya, meskipun kebutuhan export dalam bentuk jointing dan partikel board sebagai produk akhir, lebih banyak dipenuhi dari pada memenuhi kebutuhan sendiri. Pantai kering wilayah selatan Pulau Jawa misalnya, yang haus hijauan pohon merupakan lahan potensial pengembangan hutan yang seyogyanya dapat dilaksanakan oleh rakyat. Hutan nyamplung (Inophylum callophyllum) yang pernah saya pantau di pantai Ngambal Kebumen Jawa Tengah pada 1989, mungkin dapat dicoba untuk dikembangkan atau diperluas dalam usaha hutan rakyat. Pengembangan populasi nyamplung dalam formasi hutan alam murni di pantai Ngambal tersebut, ternyata diusahakan rakyat setempat untuk diambil buahnya sebagai prioritas utama. Melalui proses hidrolisa sederhana, keluarlah minyak nyamplung sebagai pelumas. Harga jual per kilogram waktu itu Rp. 1.200,-.

Konsumennya antara lain PINDAD – Bandung. Beberapa pohon tua yang menghasilkan batang lurus ditebang, dimanfaatkan masyarakat setempat untuk konstruksi rumah. Satu tiang ukuran 15 x 15 x 300 centimeter pada waktu itu harganya Rp. 20.000,-. Sayang sekali budidaya penanaman nyamplung belum dikenal masyarakat Ngambal. Suatu ide dan sekaligus perbuatan nyata yang terpuji apabila perlakuan terhadap sugi dan hinoki di jepang untuk dicoba terapkan dalam upaya pengembangan hutan tanaman nyamplung di Indonesia. Pilar-pilar bangunan hukum yang berkaitan dengan hutan di Indonesia, antara lain Undang-Undang Lingkungan Hidup, Undang-Undang Tata Ruang, Undang-Undang kehutanan, Undang-Undang Agraria dan Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, telah disiapkan, bahkan ditegakkan. Namun pilar yang tegak, sendiri tanpa dihubungkan tabir – tabir keserasian, akan menjadikan kekuatan bangunan hukum tersebut kurang bermakna integral. Marilah kita lengkapi bangunan hukum di Republik ini, dengan tabir-tabir berupa aturan dan pedoman yang semakin erat dengan esensi kebudayaan yaitu asas dan semangat kemanusiaan untuk menegakkan harga diri bangsa sendiri. Suatu wawasan prima kelangsungan hidup bangsa yang perlu dilaksanakan dalam pergaulan dan peradaban rasional.

DAFTAR ISTILAH/GLOSSARY

agenda akad ala alam biotik alokasi

= acara, daftar pekerjaan. = perjanjian, surat perjanjian = menurut kadar, menurut ukuran = makluk hidup ciptaan Tuhan = pembagian sesuai rencana dan skala prioritas

alur-alur

= dilewatkan melalui lekuk yang panjang – arti sinonim : dilewatkan pada tatanan yang mapan

ambang amburadul andalan anggelan anjlog

= titik kritis = tidak karuan, tanpa tatanan = yang dapat dipercaya = pengendali air di lahan miring = turun dratis, turun cepat mendadak

anyaman tatami

= anyaman tikar jepang, arti sinonim : untuk anyaman tatanan pembangunan di Jepang.

apung, pengapungan asesoris aset asuransi atus

= stagnasi, mengambang

= hiasan, pelengkap = modal kerja, lapangan pekerjaan = pertanggungan = tanah yang baik drainasenya, air tidak lama tergenang di atas tanah, cepat merembes = dengan segera = bergoyang berirama

ayal-tak ayal lagi ayun-berayun

babat semak

= weeding, membersihkan semak belukar atau tanaman pengganggu tanaman pokok dengan menggunakan alat pangkas/sabit

badan wadhag

= tubuh atau kondisi nyata yang terlihat

baku-pembakuan = standarisasi barometer = arti sinonim : ukuran semangat

batu penjuru = petunjuk atau contoh untuk coba ditiru BBM = Bahan Bakar Minyak

bengket-dibengket = diikat

biomass

= unsur hara yang tertanam atau tersimpan dalam tubuh tumbuhtumbuhan

bilateral biang bisnismen budget

= hubungan dua negara = biang keladi, penyebab = pekerja, pengusaha = anggaran

buntut bajing
cakupan

= pucuk pohon daun jarum yang masih aktif tumbuh.
= ruang lingkup masalah = sophisticate, luar biasa efisien

canggih-kecanggihan

cathay pacific cemar-pencemaran ceremonial ceria-keceriaan colong-nyolong con block copies system

= sebuah perusahaan penerbangan civil internasional = polusi, pengotoran lingkungan atau nama baik = keupacaraan = kebahagiaan, ekspresi kebahagiaan = mengambil tanpa ijin = paving, blok-blok konstruksi semen = trubusan, jenis pohon yang jika dipangkas akan mudah trubus kembali

cumbu-bercumbu dengan bayang-bayang = berangan-angan untuk suatu kenyataan atau mendekati kenyataan. citra dampak-berdampak = image, kesan = berpengaruh, akibat perbuatan yang menimpa sesuatu akan mempengaruhi system perbuatan/mekanisme yang lain. dasa warsa daun jarum daun lebar daur definitif degradasi dialek dimensi distrik diversifikasi domestik dominasi draft konsep eksekusi ekspansionisme eksperimen emban environmentalist era pasca = sepuluh tahun = jenis pohon konifer misal pinus = jenis pohon berdaun lebal misal jati = rotasi, lama waktu, duration = pasti = berkurang = logat, gaya bahasa daerah = perwujudan = semacam Daerah Tingkat II/Kabupaten = penganekaragaman = asli dari daerah yang bersangkutan = penguasaan = konsep yang belum ada kesepakatan beberapa pihak yang terkait = pelaksanaan hukuman = penjajahan, memperluas daerah/negara = percobaan = menyatakan tanggungjawab = pendamba lingkungan hidup yang alamiah dan bersih pencemar = masa setelah …

erosi

= partikel atau unsur-unsur tanah larut atau bergeser karena gerakan air ke tempat yang lebih rendah

ethis-tidak ethis evolusi

= tidak sopan = bergerak secara pelan tapi pasti

exodus fanatisme
fantastis fatal filosofi formasi fluktuasi futurolog gamblang

= keluar daerah untuk mencari sumber hidup baru = faham fanatik, faham yang tidak mau menerima pendapat orang lain
= menajubkan = mati konyol = filsafat = bentuk jajaran = naik turun tidak mapan = peramai masa depan = jelas = disenangi

gandrung-digandrungi garis kontour gebyar-gebyar

= garis pada peta yang menunjukkan ketinggian tempat yang sama = terang sekali

gedung pencakar langit= gedung bertingkat di kota-kota besar metropolitan
gelagat = gerakan = merenggang nyawa mau mati, sekarat

gelepar-menggelepar genetis

= sifat bawaan suatu jenis makluk hidup

gerek-menggerek = menggigit, mengunyah kayu glamour = serbah mewah

globalisasi
gubug

= urusan yang disamaratakan programnya, karena saling kait mengkait
= semacam rumah yang sangat sederhana

gugah-menggugah = membangkitkan gulung tikar guyub = bangkrut = rukun, setia satu dengan yang lain

good and property = peralatan, sarana dan prasarana habitat hara harakiri harmoni high way hostel = tempat melangsungkan hidup layak = unsur-unsur tanah yang diserap tanaman = bunuh diri = serasi = jalan bebas hambatan = penginapan

ilegal

= tidak legal, barang selundupan, kegiatan yang menyalahi aturan resmi

illustrasi

= gambaran

imaterial

= bukan benda tetapi jasa untuk meningkatkan kepercayaan dan ilmu pengetahuan

improfisasi informatif infrastruktur injeksi-diinjeksi inovasi inspirasi

= gaya pembawaan; sikap, cara penyampaian = sangat mudah diterima = prasarana = disampaikan = penerapan = angan-angan

intensifikasi
interest jajag-menjajagi janin jeli-kejelian jibaku joli-sejoli kancah kanopi

= penerapan yang efisien, sehingga menghasilkan output yang besar
= menarik = menyelidiki = calon anak, calon organisasi = mawas bertindak = nekat tanpa perhitungan = sepasang = medan pengembangan = tajuk pohon

karakter kental kenyal kerabat kiat kiprah klarifikasi

= sifat, tabiat = pekat = liat dan luwes/supel = sanak saudara = punya kehendak mengembangkan usaha = bergerak di suatu bidang usaha = penetapan status lahan usaha

klenik komersial ekonomi komitmen komoditi kompensasi komponen kondominium konfigurasi kong kow konsensus konservasi alam konsisten konsolidasi konstruksi kontes kontinuitas kontradiksi kontribusi konversi kristalisasi labil-kelabilan lahan lahap-melahap lantun lay out learning by doing limbah literasi lodge log

= analisis atau perbuatan yang dikaitkan dengan kekuatan gaib = dapat diperdagangkan, dijual belikan karena bernilai = kesepakatan = bahan atau barang yang dapat diperdagangkan = pengganti kerugian = bagian dari system = sistem pemenuhan kebutuhan hidup dalam satu unit bentuk bangunan = pemantapan bentuk permukaan = santai = persetujuan = pelestarian dan perlindungan alam = setia pada tujuan = pemantapan = wujud = pameran keunggulan = kelangsungan = perlawanan = sumbangan = pengalihan = sinonim untuk menunjukkan niat yang semakin nyata = mudah goyah = hamparan muka bumi = sangat nafsu makan = berirama = rancangan tata letak/tata urutan = belajar sambil praktek dan berhadapan langsung dengan obyeknya = sampah, polutan cair = buku bacaan, pustaka = pondok = kayu gelondongan

lubuk hati mandiri mangrove marak-semarak meander merajalela mikro klimat mobilisasi umum

= perasaan yang paling dalam

= tidak menggantungkan diri pada belas kasih orang lain = jenis vegetasi yang mendominir hutan payau = ramai = lekuk sungai = berkembang tak terkendali = iklim local di dalam kawasan hutan = gerakan kerja padat karya yang setengah di paksa suasana politik kepentingan umum modal marginal = modal usaha yang semakin bernilai tinggi kalau dimanfaatkan money oriented = pandangan yang hanya didasarkan pada perhitungan nilai uang monokultur = pengambangan tanaman sama umur dan sama jenis pada hamparan lahan tertentu motivatif-motivasi = menggerakkan mozaik tradisional = perwujudan beberapa kadar tradisi yang tidak sama esensi penampilannya mudik = kembali ke desa atau ke asalnya naluri = menuruti sifat bawaan namaste = selamat (bahasa Nepal) navigasi = sarana perhubungan laut negeri liliput = konotasi untuk menyebut Jepang sebagai negeri yang kecil negeri sakura = sebutan untuk Jepang sebagai negeri penghasil bunga sakura negosiasi = tawar menawar nihon-jin = orang Jepang nominasi = masuk perhitungan nota bene = kenyataannya adalah …….. nyaris = hampir obligasi over dosis = sejenis surat berharga = takaran yang berlebihan

papar-memaparkan = mengemukakan, menyampaikan paras = muka partisipasi = peran serta patut = pantas peka = sensitif
plasma nutfah = unsur esensiil bawaan sejenis makluk hidup

pemuliaan pohon

= pemilihan jenis pohon untuk mendapatkan keturunan unggulan

pohon-pohon plus = pohon unggulan

penjarangan

= thinning, pen ebangan pohon yang tertekan, jelek pertumbuhannya

peta topografi pijah

= peta rupa/paras bumi = perkawinan ikan

pole
populasi postur predikat

= tancang, batang pohon dengan ukuran diameter 10 – 20 centimeter
= kumpulan yang sejenis untuk flora/fauna = bentuk tubuh = julukan

prefektur
primadona profesi profil promosi quota

= semacam wilayah pemerintahan setingkat propinsi
= yang diunggulkan = keahlian = wujud, bentuk atau kondisi = peningkatan = jatah

rambah-merambah = merambat pelan tapi pasti rangket rasuk real estate rebak-merebak = ikat = masuk kemudian memepengaruhi pikiran = perusahaan perumahan = menyelimuti, mempengaruhi

reboisasi referensi regular rekayasa rekomendasi rempelan roving seminar rukun rumpi

= re-forestation, penghutanan, penanaman hutan yang rusak = dukungan = rutin, frekuensi waktu yang tetap = teknologi = saran = memangkas cabang pada batang pohon pada kegiatan prunning = seminar keliling = damai = duduk ngobrol santai

runut saf-bersaf salut sanitasi sarat semrawut sen she sentra seresah shock therapy simak

= mengikuti secara sistematis = bersusun = bangga = pembuangan limbah rumah tangga = penuh = tidak karuan = guru = pusat = guguran daun pohon hutan = therapy kejutan = mencermati

simbiose mutualisme = hubungan saling menguntungkan singkapan sistem slogan solum spot weeding = bukaan = rangkaian prosedur melalui beberapa komponen = pedoman/prinsip hidup = ketebalan tanah hasil pelapukan batuan dan seresah = babat semak hanya di sekitar pohon yang dipelihara, biasanya berbentuk piringan dengan diameter 1 meter statis stress stup subsidi sub way sulaman = tetap, tak ada perubahan = tekanan jiwa = kotak rumah lebah madu = bantuan = jalan kereta di bawah permukaan tanah = mengganti bibit tanaman yang mati

tabu taman alam taman nasional tebaran telaten terap-menerapkan teristris tertatih-tatih toleransi transisi transit transparant trauma tulus tumimbal lahir

= tidak diperkenankan, memalukan = cagar alam, kawasan konservasi alam = system pengelolaan taman alam = penyebaran = teliti = memakai, menggunakan = daratan = agak sulit berjalan atau berbicara = sanggup menyesuaikan = perpindahan, perubahan = pindah = kelihatan lebih nyata, jelas tidak ditutupi = takut pengalaman jelek masa lalu akan terulang lagi = jujur = mudah diperbaharui melalui perkembangan keturunannya, dalam jangka waktu tertentu

tumpang sari

= system penanaman hutan yang dikombinasi dengan cash crop/tanaman pertanian umur pendek

tuntas umbar-mengumbar

= selesai sempurna, tidak ada masalah lagi = membebaskan

under ground supermarket = pasar swalayan di bawah permukaan tanah urbanisasi versi via visi = pindahan penduduk dari desa ke kota = cara, system = melalui, lewat = sasaran nyata

volunteer wabah wadah was-was wawasan yendoka yensatsu zonasi

= sukarelawan = penyakit menular = tempat = kuatir = pandangan = mata uang Jepang (yen) yang dibuat dari tembaga = mata uang Jepang (yen) yang dibuat dari kertas = wilayah, bagian suatu wilayah

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 1976. Vademicum Kehutanan Indonesia. Departemen Pertanian Ditjen Kehutaann -----------------, 1982. Kebijaksanaan manajemen Keichiro, 1956 dikutip SKH Kompas 22 Mei 1982. -----------------, 1986. Sejarah Kehutanan I Departemen Kehutanan -----------------, 1989. Kamus Kehutanan Edisi I Departemen Kehutanan RI Jakarta -----------------, 1989. Leaflet Wakayama Experimental Forest Hokkaido University. Hirai, Kozagawa-cho Wakayama 649-45, JAPAN Tel 07357-0321 Fax 07357-6-0301 ----------------, 1990. Japanese Gouvernment Policies in Education, sciense and culture 1990. Towards the creation of New Structures for Higher Education. Ministry of Education, Science and Culture. ----------------, 1990. Catch Osaka. Osaka International House Foundation 2-6 Uehommachi 8-chome, Tennoji-ku, Osaka – JAPAN 543 (06) 772-5931 Fax (06) 772-7600. ----------------, 1990. Pedoman Agroforestry dalam program Perhutanan Sosial PHT-62 seri 99 Produksi Perum Perhutani-Jakarta. -----------------, 1991. Forestry and Forest Industries in Japan JFA, published by JAWIC. -----------------, 1992. Manual Kehutanan. Departemen Kehutanan RI Jakarta.

-----------------, 1992. Leaflet the Kyoto Botanical Garden Hangico, Shimogamo, Sakyo-ku, Kyoto-Japan Tel (075) 701-0141. ----------------, 1992. Leaflet Osaka Aquarium Ring of Fires Temposan Harbor Village 1-1-10 Kaigandori, Manato-ku Osaka Tel 06 (576) 5501. ----------------, 1992. Articles : “Travelers leave a lot behind” “61% of foreign businessmen say living here is stressful” “Yakushima is., mounts eyed for heritage list” “4.000 – year – old pitfalls used by boar hunters ?” MDN, September 5, 1992 ----------------, 1992. Article : “Dead sea turtle mystery” MDN, September 12, 1992.

----------------, 1992. Article : “Environment takes back seat in Japan” “How will Kids spend school-less Saturday ?” MDN, September 13, 1992 ------------------, 1992. Article : “Environment Agency bans especially cruel beartrap” “Large 2nd century building site excavated” MDN, September 21, 1992. -----------------, 1993. Kumpulan Pedoman Pengelolaan Hutan bagi rimbawan Indonesia. Departemen Kehutanan RI – Jakarta. -----------------, 1994. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 86/Kpts-II/1994 tanggal 1 Maret 1994 tentang Penyerahan sebagian urusan Pemerintah Pusat di bidang Kehutanan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. ------------------, 1994. Artikel : “Ala Keiseki negeri Sakura” Femina Edisi tahunan 1994, halaman 181 – 182. Dwiantmo Siswomartono, 1989. Ensiklopedi Konservasi Sumber Daya terjemahan dari buku “Resource Conservation Glossary terbitan Soil Conservation Society of Amerika”. Penerbit Erlangga – Jakarta (Anggota Ikapi). Dumanauw J.F, 1990. Mengenal kayu penerbit Kanisius Yogyakarta (Anggota Ikapi) Gyo hani, 1992. Mitsumata translating from Takayama field production. Hillegers, 1982. Surveying, penerbit SECM ATA 190, Ciawi – Bogor. Hargo Saputro. Drs, 1988. Dr. Soedjarwo, sebuah profil dalam dua dimensi. Dengan pengantar Prof. Dr. Sartono Kartodiradjo. Jacqueline Sawyer, 1990. Tropical Forests WWF ISBN 2 – 88085-035-5 Printed in Switzerland on recycled paper. Poespowardojo.S dan Bartens K, 1978. Sekitar Manusia, Bunga rampi tentang filsafat manusia penerbit PT. Gramedia – Jakarta. Sartono Kartodirdjo, 1977. Masyarakat kuno dan kelompok-kelompok social penerbit Bhatara Karya Aksara – Jakarta. Sartono Kartodirdjo, 1986. Ungkapan-ungkapan filsafat sejarah barat dan timur. Penjelasan berdasarkan kesadaran sejarah penerbit PT. Gramedia – Jakarta. Sastrapradja dkk, 1989. Keanekaragaman hayati untuk kelangsungan hidup bangsa penerbit Pusat Litbang Bioteknologi – LIPI, Bogor.

Setiati D Sastrapradja dan Mien A Rifai, 1991. Imengenal Nusantara melalui kekayaan floranya. CV. Bina Karya – Bogor. Sudhakar S. Ramteke, 1991. Asian Mixed Friend Rice Poems. Published by Ecumenical Development Centre of India. Dhadiwal Building, Katol road chhaoni, Nagpur – 13 (India). Srisang K and Kobatake K, 1992. Report third AFS seminar culture wisdom and quality of life Editing from seminar, held in Dhyana Pura, Bali – Indonesia 2 – 10 November 1992. Tomida and Naka, 1984. Report on the survey of a 56 year old zelkova serrata plantation in Owase city Mie Pref. Owase Dist For Office Owase 519-36. Whitmore and Tantra, 1986. Tree flora of Indonesia check list for Sumatra Published by Forest Research and Development Centre, Bogor. Yoshino M.Y, 1968. JAPAN’S managerial system, diterjemakan dan diedit oleh Drs. Tatang Gandasasmita dengan judul : Sistem Manajemen Jepang. Penerbit CV. IQRA Bandung, 1981.

RIWAYAT PENULIS

Banjar Yulianto Laban anak pertama dua bersaudara dari keluarga tentara. Lahir pada 20 Juli 1953 di Banjarmasin, menyelesaikan SD (1966), SMP (1969) dan SMA Pas Pal (1972) nya di Yogyakarta sebelum menyelesaikan kesarjanaannya pada jurusan Pembinaan Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada di kota yang sama pada Desember 1979. Selama hampir dua tahun sebelum lulus sarjana (1978 – 1979) ia sempat menjadi koordinator pelaksana penanaman seed orchad (kebun benih) Pinus merkusii Jungh et de Vries, di Cijambu Sumedang Jawa Barat. Suatu Proyek besar Pemuliaan pohon Direktorat Jenderal Kehutananan (cq. Direktorat Reboisasi) yang dipercayakan kepada Ibu Prof. Dr. Ir. Oemi Haniin Soeseno, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Setelah itu, dengan menyandang gelar sarjana kehutanan, ia mengabdikan diri pada Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam Direktorat Jenderal Kehutanan. Bengkulu sebagai tempat tugasnya yang pertama (1980 – 1982). Kemudian berturut-turut menjadi Kepala Seksi Konservasi Jenis di Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Jawa Tengah (1983 – 1985), Kepala Seksi Konservasi Jenis di Kantor Wilayah Departemen KehutananPropinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1986 – 1992).

Selama bertugas di Daerah Istimewa Yogyakarta, ia melihat demikian besar potensi pelajar dan mahasiswa yang haus informasi dan kegiatan konservasi sumber daya alam, maka untuk meningkatkan pelayanan kepada mereka, disamping melalui

Kantor Wilayah, ia bersama beberapa teman dari kalangan pendidikan pada 1987 mendirikan “Yayasan Habitat Kita” yang bergerak di bidang konservasi.

Kerjasama dengan Dana Mitra Lingkungan pada 1988 antara lain telah menghasilkan 15 mahasiswa Pecinta Alam yang siap menyebar luaskan pesan konservasi alam melalui berbagai profesi. Salah satu diantaranya adalah Saudara Iwan Arwani, yang sekarang bekerja sebagai fotografer dan filmist lingkungan hidup di Yogyakarta.

Kesenangannya menulis artikel masalah konservasi alam, sempat disalurkan ke Surat Kabar Harian “Kedaulatan Rakyat: Yogyakarta yang cukup gencar dimuat pada 1987 – 1989.

Jabatan sebagai Andalan Pramuka/Pimpinan Harian Daerah Saka Wanabakti Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pernah dipercayakan pula kepadanya pada 1990 – 1992.

Semangat pergaulan antara lain telah membawanya ke Jepang pada 31 Agustus s/d 5 Oktober 1992. Hasil lawatannya tersebut, ia coba goreskan sebagaimana isi buku ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->