KONSEP DASAR NEGARA YANG ISLAMI I.

PENDAHULUAN Keberadaan suatu institusi yang bernama negara tidak dapat dielakkan, hal ini karena kodrat manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan perangkat yang menjadi ikatan kebersamaan dalam kontrak sosial antar manusia. Perangkat institusi yang bernama negara diharapkan menjadi wadah agar manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan baik, jauh dari sengketa atau konflik dan menjaga kedamaian sosial. Dengan alasan tersebut, maka negara memiliki faktor penting dalam kehidupan manusia. Dalam dunia, hanya ada tiga kutub paradigma yaitu Paradigma Sosialisme Komunis, Paradigma Liberalisme Kapitalis, dan Paradigma Islam. Ideologi itu sendiri diterjemahkan sebagai sistem pedoman hidup yang menjadi cita-cita untuk dicapai oleh sebagian besar individu dalam masyarakat yang bersifat khusus, disusun secara sadar oleh para tokoh pemikir negara, dan kemudian menyebarluaskannya secara resmi sebagai Dasar Negara. Di Negara Indonesia Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila kembali diuji ketahanannya dalam era reformasi sekarang. Merekahnya matahari bulan Juni 1945, 63 tahun yang lalu disambut dengan lahirnya sebuah konsepsi kenengaraan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu lahirnya Pancasila. Sebagai falsafah negara, tentu Pancasila ada yang merumuskannya. Pancasila telah ada dalam segala bentuk kehidupan rakyat Indonesia, terkecuali bagi mereka yang tidak Pancasilais. Pancasila lahir 1 Juni 1945, ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan UUD 1945. Dengan demikian bahwa falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia yang harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia. II. RUMUSAN MASALAH A. Apa pengertian Konsep Dasar Negara yang Islami?

2006). keduanya memuat prinsip-prinsip dasar tata cara hidup bermasyarakat. Max Weber mendefinisikan negara dengan sebuah masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah. negara merupakan perpaduan antara alat (agency) dan wewenang (authority) yang mengatur dan mengendalikan persoalan-persoalan bersama. hidup di dalam suatu kawasan dan mempunyai pemerintah yang berdaulat. keluhuran budi dan kepribadian yang tumbuh dalam sejarah perkembangan Indonesia) yang diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.1[1] Secara literal istilah negara merupakan terjemahan dari beberapa kata asing : state (Inggris). Apa Tujuan dan Unsur-Unsur Negara? Jelaskan Teori Terbentuknya Negara dan Bentuk-Bentuk Negara ! Jelaskan Hubungan Islam dan Negara di Indonesia! Jelaskan Bentuk Negara Islam! PEMBAHASAN D. Ketidakadaan konsep yang pasti tentang negara telah melahirkan beragam pemikiran tentang konsep negara dalam tradisi pemikiran politik Islam.pengertian dasar negara Indonesia. tidak secara tersurat mendefinisikan model negara dalam Islam. Namun demikian. E.wordpress. Soltau. C. A. F. Al-Qur’an dan Al-Sunnah. (Jakarta:ICCE UIN Syarif Hidayatullah.h. yaitu: 1[1] Kikidengok. Jelaskan Konsep Hubungan Agama dan Negara dalam Islam! III. tidak ditemukan rumusan yang pasti (qathi’) tentang konsep negara. http://www. negara diartikan sebagai organisasi tertinggi di antara satu kelompok masyarakat yang mempunyai citacita untuk bersatu. staat (Belanda dan Jerman) atau etat (Prancis). Dua sumber Islam.B. Sedangkan secara terminologi.2 Selain itu. menurut kebanyakan ahli politik Islam modern. . Demokrasi . atas nama masyarakat. Pengertian Konsep Dasar Negara yang Islami Dasar negara adalah fandemen yang kokoh dan kuat serta bersumbar dari pandangan hidup atau falsafah (cerminan dari peradaban. konsep islam tentang negara juga berasal dari 3 (tiga) paradigma.com/2009// 2[2] Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. kebudayaan. Menurut Roger H. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Dalam konsepsi Islam. 24-25.

3. 2. maupun Rasul-Nya. Tujuan sebuah negara dapat bermacammacam. b. Imam Mawardi mengatakan: "Imamah adalah suatu kedudukan yang diadakan untuk mengganti peranan kenabian dalam urusan memelihara agama (Islam) dan mengendalikan dunia". dapat dipahami secara sederhana bahwa yang dimaksud dengan negara adalah suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah (governed) oleh sejumlah pejabat yang berhak menuntut dari warganegaranya untuk taat pada peraturan perundang-undangan melalui penguasaan monopolistis dari kekuasaan yang sah. tetapi dalam bentuk global saja. Demokrasi . (Jakarta: Prenada Media. Dari beberapa pendapat tentang negara tersebut. Tujuan dan Unsur – Unsur Negara Sebagai sebuah organisasi kekuasaan dari kumpulan orang-orang yang mendiaminya. Karena kemaslahatan akhirnya adalah tujuan akhir. institusi khilafah atau imamah adalah lembaga politik yang memerintah rakyat sesuai dengan peraturan syariah agama untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat. Bertujuan menyelenggarakan ketertiban hukum.1. dipahami sebagai suatu misi kaum muslimin yang harus ditegakan di muka bumi ini untuk memakmurkan sesuai dengan petunjuk dan peraturan Allah SWT. antara lain : a. maka kemaslahatan dunia seluruhnya harus berpedoman kepada syariah. Adapun cara pelaksanaannya al-Qur’an tidak menunjukkan secara terperinci. Amien lebih lanjut mengatakan bahwa kata imamah (dalam pengertian negara/state) dalam al-Qur’an tidak tertulis. Teori tentang Khilafah menurut Amien Rais. Tujuan Negara 3[3] Azyumardi Azra. . Bagi Ibnu Khaldun.h. terutama biasanya merujuk pada masa Khulafa al Rasyidin. c. 42-43. Bertujuan untuk memperluas kekuasaan. Sedangkan untuk teori Imamah. Paradigma yang bersumber pada teori Imamah dalam paham Islam Syi’ah. Bertujuan untuk mencapai kesejahteraan umum. ialah “Pemerintahan islam yang mempunyai UndangUndang” atau “Pemerintahan yang berUndang-Undang dasar”. Definisi yang hakiki bagi Imamah. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. negara harus memiliki tujuan yang disepakati bersama. Paradigma yang bersumber dari teori Imamah atau pemerintahan. Paradigma tentang teori khilafah yang dipraktikan sesudah Rasulullah SAW. 2000). 3[3] B. 1.

yaitu: a. Unsur-Unsur Negara Dalam rumusan Konvensi Montevideo tahun 1933 disebutkan bahwa suatu negara harus memiliki unsur penting. tujuan negara adalah untuk mengusahakan kemaslahatan agama dan dunia yang bermuara pada kepentingan akhirat. Paradigma ini didasarkan pada konsep sosio-historis bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan watak dan kecenderungan berkumpul dan bermasyarakat. Selain itu. laut dan sungai) dan udara. 4[4] 2. c. perairan (samudra. Ibid. Rakyat (masyarakat / warga negara) Rakyat dalam pengertian keberadaan suatu negara adalah sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh suatu rasa persamaan dan bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu. b. Tidak bisa dibayangkan jika suatu negara tanpa rakyat. seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi. Dalam konteks negara Indonesia. jauh dari sengketa dan menjaga intervensi pihak-pihak asing. dalam penjelasan UUD 1945 ditetapkan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat). tujuan negara adalah agar manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan baik. masing-masing batas wilayah tersebut diatur dalam perjanjian dan perundang-undangan internasional. Dalam konsep negara modern. 25-26.Dalam Islam. Wilayah Wilayah adalah unsur negara yang harus terpenuhi karena tidak mungkin ada negara tanpa ada batas-batas teritorial yang jelas.. . mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Sementara menurut Ibnu Khaldun. Hal ini mengingat rakyat atau warga negara adalah substratum personil dari negara. perdamaian abadi dan keadilan sosial. yang membawa konsekuensi antara individu-individu satu sama lain saling membutuhkan bantuan. tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat). tujuan negara adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Secara umum wilayah dalam sebuah negara biasanya mencakup daratan. h. membentuk suatu masyarakat adil dan makmur. Pemerintah 4[4]Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. Dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan suatu negara hukum yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan umum.

Pemerintah adalah alat kelengkapan negara yang bertugas memimpin organisasi negara untuk mencapai tujuan bersama didirikannya sebuah negara. karna berlangsungnya berdasar pada kontrak-kontrak antara warga Negara dengan lembaga Negara. Sementara Negara dengan sistem parlementer mempunyai presiden sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Teori Terbentuknya Negara dan Bentuk-Bentuk Negara 1. ialah pengakuan atas fakta adanya negara.5[5] C. Pengakuan de facto. .h.. Teori ini meletakkan untuk tidak berpotensi menjadi Negara tirani. parlementer dan presidentil. d. Teori Ketuhanan (Teokrasi) Teori ketuhanan di kenal juga dengan istilah doktrin teokratis. Sedangkan pengakuan de jure merupakan pengakuan akan sahnya suatu negara atas dasar pertimbangan yuridis menurut hukum. Teori ini di temukan baik di timur maupun di belahan dunia barat. Mereka mendapat mandat dari tuhan untuk bertahta sebagai pengusa. Teori kontrak sosial (Social Contract) Teori kontrak sosial atau teori perjanjian masyarakat beranggapan bahwa Negara dibentuk berdasarkan perjanjian-perjanjian masyarakat dan tradisi sosial masyarakat. dan pemerintah yang berdaulat). b. melalui aparat dan alatalat negara. yakni pengakuan de facto dan pengakuan de jure. Pengakuan Negara Lain Ada dua macam pengakuan atas suatu negara. Teori Terbentuknya Negara Banyak dijumpai teori tentang terbentuknya sebuah Negara. rakyat. yang menetapkan hukum. 27. Pengakuan tersebut didasarkan adanya fakta bahwa suatu masyarakat politik telah memenuhi 3 unsur utama negara (wilayah. Pemerintah. Doktrin ini memiliki pandangan bahwa hak pemerintah yang di miliki para raja berasal dari tuhan. Praktik kekuasaan 5[5] Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. mengadakan perdamaian dan lainnya dalam rangka mewujudkan kepentingan warga negaranya yang beragam. Op cit. melaksanakan ketertiban dan keamanan. Diantara teori-teori tersebut adalah : a. Secara umum pemerintahan terbagi dalam dua bentuk. Negara dengan sistem presidentil berbentuk republik dengan presiden sebagai kepala negara sekaligus sebagai kepala pemerintahan. Doktrin ketuhanan ini memperoleh bentuknya yang sempurna dalam tulisan-tuliasan para sejarah Eropa pada abad pertengahan yang menggunakan teori ini untuk membenarkan kekuasaan mutlak para raja.

Namun dalam pelaksanaannya. a. Sistem ini dikenal dengan istilah otonomi daerah atau swatantra. Secara umum dalam konsep dan teori modern negara terbagi ke dalam dua bentuk. dengan satu pemerintah pusat yang berkuasa dan mengatur seluruh daerah.6[6] 2. bahkan dapat di bunuh. Op cit. b. sementara pemerintah daerah di bawahnya melaksanakan kebijakan pemerintah pusat. raja tiran dapat di turunkan dari mahkotanya. kekuatan menjadi pembenaran (rasion d’ektre) dari terbentuknya sebuah negara. Negara Serikat (Federasi) Negara Serikat atau federasi merupakan bentuk negara gabungan yang terdiri dari beberapa negara bagian dari sebuah Negara Serikat. melalui proses penaklukan dan penduduk oleh suatu kelompok (etnis) atas kelompok tertentu di mulailah proses pembentukan suatu Negara. Negara Kesatuan Negara Kesatuan adalah bentuk suatu negara yang merdeka dan berdaulat. 30-33. yaitu Negara Kesatuan (Unitarianisme) dan Negara Serikat (Federasi). Teori Kekuasaan Secara sederhana teori ini dapat di artikan bahwa negara terbentuk karena adanya dominasi Negara kuat mealui penjajahan. dari sisi pelaksana dan mekanisme pemilihannya. dan Demokrasi. Menurut teori ini.model ini di tentang oleh kalangan monar chomach (penentang raja). c. 6[6] Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. 1) Negara Kesatuan dengan sistem sentralsisasi adalah sistem pemerintahan yang langsung dipimpin oleh Pemerintah Pusat. Di samping dua bentuk ini. negara kesatuan ini terbagi ke dalam 2 macam sistem pemerintahan: Sentral dan Otonomi.. terbentuknya suatu Negara karena pertarungan kekuaatan dimana sang pemenang memilki kekuatan untuk membentuk sebuah Negara. . Dengan kata lain. bentuk negara dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok : Monarki Oligarki.h. Bentuk-Bentuk Negara Negara memiliki bentuk yang berbeda-beda. 2) Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi adalah kepala daerah diberikan kesempatan dan kewenangan untuk mengurus urusan pemerintah di wilayahnya sendiri. Mereka beranggapan bahwa sumber kekuasaan adalah rakyat. Menurut mereka.

hubungan agama dengan negara dan sistem politik menunjukan fakta yang sangat beragam. hubungan agama dengan negara menjadi perdebatan yang cukup panjang di antara para pakar Islam hingga kini. Bahkan. Monarki absolut adalah model pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan satu orang raja atau ratu. bebas. 2) Oligarki adalah pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. D. seringkali menjurus kepada kesalahan-kesalahan yang fatal karena pemeritah kerap “mendoktrin” rakyat dengan hal-hal yang berakibat buruk dalam berjalannya sistem suatu negara. Ibid.7[7] Kelemahan pemerintahan model demokrasi antara lain : • Para pemerintah yang mengatasnamakan wakil rakyat akan terus berusaha mempertahankan kedudukannya dengan berbagai macam dalih. Sedangkan Monarki Konstitusional adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan kepala negaranya (raja atau ratu) dibatasi oleh ketentuan-ketentuan konstitusi negara. Jepang. (Azra. dan eksperimen tersebut dalam banyak hal sangat beragam. dan adil.1) Monarki adalah model pemerintahan yang dikepalai oleh raja atau ratu. aman. Banyak para ulama tradisional yang beragumentasi bahwa 7[7] Azyumardi Azra. Yordania. Berbagai eksperimen dilakukan dalam menyelaraskan antara din dengan konsep dan kultur politik masyarakat muslim. menurut Azra. dan lain-lain. Dalam lintasan historis Islam. perdabatan itu telah berlangsung sejak hampir satu abad. Contoh: Arab Saudi. • Suara mayoritas.56-58 .h.. Thailand. Konsep Relasi Agama dan Negara dalam Islam Dalam Islam. 3) Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang bersandar pada kedaulatan rakyat atau mendasarkan kekuasaannya pada pilihan dan kehendak rakyat melalui mekanisme pemilihan umum (pemilu) yang berlangsung jujur. Ketegangan perdebatan tentang hubungan agama dan negara ini diilhami oleh hubungan yang agak canggung antara Islam sebagai agama (din) dan negara (dawlah). dan berlangsungn hingga dewasa ini. Contoh: Inggris. seperti dalih konsensus nasional dan secara bersamaan memojokkan kaum oposisi yang berusaha menjatuhkannya dengan dalih disloyalitas pada Negara. yang kerap kali menentukan keputusan akhir dalam sistem demokrasi. Monarki memiliki dua jenis : Monarki Absolut dan Monarki Konstitusional. 1996:1).

Paradigma Sekularistik Paradigma ini beranggapan bahwa ada pemisahan (disparitas) antara agama dan negara. yakni: 1. agama membutuhkan negara sebagai instrumen dalam melestarikan dan mengembangkan agama. (Jakarta: Universitas Indonesia Press. Konsep seperti ini sama dengan teokrasi. Islam dan Tata Negara. Manurut Mohammad Husein Haikal. Berdasar pada pemahaman yang dikotomis ini. Paradigma Integralistik Merupakan paham dan konsep hubungan agama dan negara yang menganggap bahwa agama dan negara meupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.islam merupakan sistem kepercayaan di mana agama memiliki hubungan erat dengan politik. 1993). antara lain dapat dirangkum ke dalam 3 (tiga) paradigma. Begitu juga sebaliknya. 2. Konsep ini menegaskan kembali bahwa Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik atau negara. Dari sudut pandang ini maka pada dasarnya dalam islam tidak ada pemisahan antara agama dan politik. Agama dan negara merupakan dua bentuk yang berbeda dan satu sama lain memiliki garapan bidangnya masing – masing. prinsip-prinsip dasar kehidupan kemasyarakatan yang diberikan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah tidak ada yang langsung berkaitan dengan ketatanegaraan. . Dalam konteks ini. Paradigma Simbiotik Menurut konsep ini. hubungan agama dan negara dipahami saling membutuhkan dan bersifat timbal balik. Islam memberikan pandangan dunia dan makna hidup bagi manusia termasuk bidang politik. 3. Keduanya merupakan dua lembaga yang menyatu (integrated). Ini juga memberikan pengertian bahwa negara merupakan suatu lembaga politik dan sekaligus lembaga agama. negara juga memerlukan agama. Di Madinah Rasulullah berperan sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai kepala agama. sehingga keberadaannya harus dipisahkan dan tidak boleh satu sama lain melakukan intervensi. maka hukum positif 8[8] Munawir Syadzali. etika. Argumentasi ini sering dikaitkan dengan posisi Nabi Muhammad SAW ketika berada di Madinah yang membangun sistem pemerintahan dalam sebuah negara kota (city-state). dan spiritualitas. 8 [8] Dalam lintasan sejarah dan opini para teoritisi politik Islam ditemukan beberapa pendapat yang berkenaan dengan konsep hubungan agama dan negara. karena agama juga membantu negara dalam pembinaan moral.

61-64. Sedangkan paham akomodatif. tetapi karena kompleksnya persoalan yang muncul. secara umum dapat digolongkan ke dalam 2 (dua) bagian. Agama Demokrasi dan Keadilan. Antara lain karena alasan – alasan seperti ini. 11[11] Bahtiar Effendy.Imam Aziz.h. bahkan politik Islam sering dicurigai sebagai anti ideologi negara Pancasila. yakni hubungan yang bersifat antagonistik dan hubungan yang bersifat akomodatif. Op cit. 2001).9[9] E. . Hubungan Agama dan Negara yang Bersifat Antagonistik Eksistensi Islam politik (political Islam) pada masa kemerdekaan dan sampai pada pasca revolusi pernah dianggap sebagai pesaing kekuasaan yang dapat mengusik basis kebangsaan negara. negara memberlakukan kebijakan the politics of containment 9[9] Azyumardi Azra. formalistik dan simbolistik itu masih berkembang pada sebagian aktivis Islam pada dua dasawarsa pertama pemerintahan Orde Baru. Hubungan antagonistik merupakan sifat hubungan yang mencirikan adanya ketegangan antara negara dengan Islam sebagai sebuah agama. Teologi Baru Politik Islam: Pertautan Agama. bukan saja para pemimpin dan aktivis politik Islam gagal untuk menjadikan Islam sebagai ideologi atau agama negara (pada 1945 dan dekade 1950-an). kecenderungan legalistik. (Yogyakarta: galang Press. (Jakarta: PT.11[11] Kendatipun ada upaya – upaya untuk mencarikan jalan keluar dari ketegangan ini pada awal tahun 1970-an.yang berlaku adalah hukum yang betul – betul berasal dari kesepakatan manusia melalui social contract dan tidak ada kaitannya dengan hukum agama (syari’ah). lebih dipahami sebagai sifat hubungan dimana negara dan agama satu sama lain saling mengisi bahkan ada kecenderungan memiliki kesamaan untuk mengurangi konflik. 10[10] M. Persepsi tersebut. Lebih dari itu. Sebagai hasil kebijakan semacam ini. karena tidak saja Indonesia merupakan negara yang mayoritas warga negaranya beragama Islam. Mengkaji hubungan agama dan negara di Indonesia. membawa implikasi terhadap keinginan negara untuk berusaha menghalangi dan melakukan domestikasi terhadap gerak ideologis politik Islam. tetapi mereka juga sering disebut sebagai kelompok yang secara politik “minoritas” atau “outsider”. Hubungan Islam dan Negara di Indonesia Masalah hubungan Islam dan negara di Indonesia merupakan persoalan yang menarik untuk dibahas. Negara dan Demokrasi.. Gramedia Pustaka Utama. 1993).10[10] 1.

legislatif. Secara tidak langsung. yang oleh karenanya negara lebih memilih akomodasi terhadap islam. Pemerintah menyadari bahwa umat Islam merupakan kekuatan politik yang potensial. ekspansi Eropa ini telah memberikan andil terhadap kebangkitan Islam. karena jika negara menempatkan Islam sebagai out sider negara. Fokus pergerakan mereka tidak . 2. F. pelaksanaan hukum Islam merupakan prasyarat formal dan utama bagi eksistensinya Negara Islam. Bentuk Negara Islam Suatu negara disebut sebagai Negara Islam jika memberlakukan hukum Islam. ada yang bersifat struktural. Kebijakan – kebijakan tersebut berspektrumluas. Sejarah telah mencatat bahwa abad ke-15 hingga 20 merupakan fase ketika Eropa berdiaspora dan menyebar ke dunia Timur dalam rangka imperialisasi dan kolonialisasi. legalistik dan simbolistik itu tidak berkembang lebih lanjut. umat Islam sendiri pada masa itu memiliki ghirah yang tinggi untuk mewujudkan Islam sebagai sumber ideologi dalam menjalankan pemerintahan. Hal ini ditandai dengan semakin besarnya peluang umat Islam dalam mengembangkan wacana politiknya serta munculnya kebijakan-kebijakan yang dianggap positif bagi umat Islam. maka konflik akan sulit dihindari yang pada akhirnya akan membawa imbas terhadap proses pemeliharaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Realitas empirik inilah yang kemudian menjelaskan bahwa hubungan agama dengan negara pada masa ini dikenal dengan antagonistik. infrastruktural dan kultural. di mana negara betul-betul mencurigai Islam sebagai kekuatan yang potensial dalam menandingi eksistensi negara. Kecenderungan akomodasi negara terhadap Islam juga – menurut Affan Gaffar – ditengarai dengan adanya kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan dan keagamaan serta kondisi dan kecenderungan politik umat Islam sendiri. yaitu membidani lahirnya sederetan tokoh-tokoh pembaharu Islam.agar macana politik Islam yang formalistik. Hubungan Agama dan Negara yang Bersifat Akomodatif Gejala menurunnya ketergantungan hubungan antara Islam dan negara mulai terlihat pada pertengahan tahun 1980-an. Di sisi lain. Dengan kata lain.

Mahmud Abdul Majid al-Khalidi menjelaskan pengertian Khalifah sebagai berikut: "Khalifah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin secara keseluruhan di dunia untuk mendirikan/melaksanakan undang-undang Islam dan mengembangkan dakwah Islam ke seluruh pelusuk dunia".kemudian akan muncul (kembali) Khilafah yang mengikuti jejak kenabian. Jika telah diakui bahwa lembaga imamah itu adalah wajib menurut ijmak (konsesus umum). Rasulullah saw telah menegaskannya dalam Hadis riwayat al-Bazzar: ". Hal ini diperkuat oleh keputusan Abu Bakar yang menyandang gelaran Khalifatur-Rasulillah (pengganti Rasulullah sebagai Ketua Negara). Ibnu Khaldun menyatakan: "Hakikat Khalifah adalah Shahibus-Syari’ (iaitu seseorang yang bertugas memelihara dan melaksanakan syariat) dalam memelihara urusan agama dan mengelola dunia". (Tetapi) nanti akan ada para Khulafaa dan jumlahnya akan banyak sekali". Ahl al-‘aqd wa al-hill). politik umat dalam mencapai dua . Tentang bentuk negara Khilafah ini. yaitu kehidupan dunia dan akhirat... maka harus pula ditambahkan di sini. digantikan oleh nabi yang lain. tetapi juga mendirikan kerangka atau konsep dasar tentang negara yang dilandasi oleh agama. baik secara normatif mahupun praktikal sebagaimana yang tercatat dalam lembaran sejarah sejak masa Nabi sampai runtuhnya Khilafah Islamiyyah yang berpusat di Turki pada tahun 1924. Menurut pengertian bahasa Arab. Adalah kewajiban mereka untuk beerbuat agar imamah itu berdiri. khulafaa berarti pengganti." Berdasarkan penjelasan di atas. Dalam masalah yang sama. tampaknya khilafah yang di maksudkan adalah bentuk kepemimpinan dari suatu pemerintahan islam sebagai suatu kekuatan sosiorelegi kepantingan hidupnya.. Setiap kali seorang nabi meninggal.. (HR Bukhari dan Muslim). maka pengganti di sini berfungsi menggantikan kedudukan beliau sebagai Ketua Negara. Islam mengenal bentuk negara Khilafah Islamiyyah. Berdasarkan penegasan Rasulullah bahwa tidak ada nabi lagi sesudah beliau.hanya menumpaskan penjajahan. Rasulullah saw bersabda: "Dahulu bani Israil dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. dan setiap orang wajib taat kepada Imam sesuai dengan perintah Al-Qur’an: “Taatlah pada Allah dan taatlah pada Rasul dan pada mereka yang dikuasakan di antara kamu!” (Al-Qur’an IV:59). bahwa keperluan lembaga itu adalah satu fardl alkifayah. Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. dan mengenai itu terserah kepada ikhtiar dari pemuka-pemuka Islam yang kompeten (Ar. Dengan demikian.

Lembaga Imamah itu mempunyai empat syarat. Sebaliknya. dan etika. Al-kifayah). hukum. 1962).13[13] KESIMPULAN 12[12] Osman Raliby. b. c. 12[12] Ibnu Khaldun mengutarakan peran penting agama dalam kehidupan bermasyarakat.h. apabila kekuatan agama berdampingan dengan solidaritas kelompok (‘ashabiyah). berbangsa. secara dialektis akan memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan integritas kekuasaan politik. Termasuk fanatisme doktrin agama yang berakibat pada agama hanya sekadar legitimasi politik belaka. Negara Islam menurut Konsep Ibnu Khaldun. Al-‘adalah).177-178 IV. Kesanggupan (Ar. Menurutnya. Ilmu pengetahuan (Ar. Ibnu Khaldun tentang Masyarakat Negara. dan bernegara. (Yogyakarta: Gama Media. Keadilan (Ar. Agama merupakan pedoman dan petunjuk agar senantiasa berada dalam bimbingan moral. Imam hanya dapat melaksanakan hukum-hukum Allah itu jika ia mengetahui tentangnya. d. Agama sebagai pemersatu. As-salamah). . apabila agama dan ‘ashabiyah dipertentangkan akan mempercepat munculnya disentegrasi suatu negara. Agama sebagai legitimasi sistem politik. 13[13] Syafiuddin.148-149. c. Dari berbagai peranan tersebut. Kenyataan sejarah membuktikan adanya pasang surutnya politik Islam juga karena keempat faktor tersebut tidak diposisikan pada rel sebenarnya. berarti bahwa Imam bersedia melaksanakan hukuman-hukuman yang ditetapkan oleh undang – undang dan sedia pergi berperang. Agama sebagai pendorong keberhasilan.h. 2007). setidaknya ada empat peran agama yang besar andilnya dalam kehidupan bernegara sepanjang sejarah. (Jakarta: Bulan Bintang. Kebebasan pancaindera dari sesuatu cacat yang dapat memberi bekas pada pengeluaran pendapat dan pekerjaan (Ar. b. a. Al-‘ilm). Adapun yang dapat diambil dari pemikiran – pemikiran Ibnu Khaldun adalah dalam mempraktikkan keempat peran agama dalam bernegara tersebut diperlukan keseimbangan. yaitu: a. d. hal ini perlu karena Imamah adalah satu lembaga keagamaan yang mengawasi segala lembaga – lembaga lainnya yang pula memerlukan keadilan.

Agama tetap memiliki daya kritis terhadap negara dan negara punya kewajibankewajiban terhadap agama. 2000. Pengertian Dasar Negara Indonesia. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Kikidengok.. Keseimbangan dinamis adalah tidak ada pemisahan agama dan politik. Islam mengajarkan banyak nilai dan etika bagaimana seharusnya negara itu dibangun dan dibesarkan. Hubungan agama dan negara di Indonesia lebih menganut pada asas keseimbangan yang dinamis.com/ 2009// Raliby. 2006. Osman.wordpress.. PENUTUP Demikian makalah yang kami sampaikan tentang “Konsep Dasar Negara yang Islami”. pola hubungan agama dan negara di Indonesia menganut apa yang sering disebut oleh banyak kalangan sebagai hubungan mutualisme-simbiotik. Jakarta: Bulan Bintang. Semoga dapat menjadi bahan diskusi bersama untuk memperoleh kefahaman dalam mata kulia Pendidikan Kewarganegaraan. Hidayah. Jakarta: Prenada Media. menurut kebanyakan ahli politik Islam modern. Semoga makalah ini juga dapat bermanfaat bagi kita semua. tidak secara tersurat mendefinisikan model negara dalam Islam. Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah. Amin. Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Dua sumber Islam. http: //www. namun masing-masing dapat saling mengisi dengan segala peranannya. Kami menyarankan kepada pembaca untuk selalu menerapkan pemerintahan yang berkonsep dasar islami.. .Dari pembahasan konsep dasar negara yang islami dalam makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut: Dalam konsepsi Islam. Komarudin & Azyumardi Azra. Demokrasi. V. jalan tengah antara sekularisme dan teokrasi. Kami sadar bahwa penyajian makalah ini jauh dari kesempurnaan. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Ibnu Khaldun tentang Masyarakat Negara. DAFTAR PUSTAKA Azra. Dengan kata lain. Demokrasi. 1962. Azyumardi. Meskipun demikian. tidak ditemukan rumusan yang pasti (qathi’) tentang konsep negara.

2007. Inu Kencana & Andi Azikin. Syafiuddin. Perbandingan Pemerintahan. . Bandung: Refika Aditama. Negara Islam menurut Konsep Ibnu Khaldun. 2007. Yogyakarta: Gama Media.Syafiie.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful