KONSEP DASAR NEGARA YANG ISLAMI I.

PENDAHULUAN Keberadaan suatu institusi yang bernama negara tidak dapat dielakkan, hal ini karena kodrat manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan perangkat yang menjadi ikatan kebersamaan dalam kontrak sosial antar manusia. Perangkat institusi yang bernama negara diharapkan menjadi wadah agar manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan baik, jauh dari sengketa atau konflik dan menjaga kedamaian sosial. Dengan alasan tersebut, maka negara memiliki faktor penting dalam kehidupan manusia. Dalam dunia, hanya ada tiga kutub paradigma yaitu Paradigma Sosialisme Komunis, Paradigma Liberalisme Kapitalis, dan Paradigma Islam. Ideologi itu sendiri diterjemahkan sebagai sistem pedoman hidup yang menjadi cita-cita untuk dicapai oleh sebagian besar individu dalam masyarakat yang bersifat khusus, disusun secara sadar oleh para tokoh pemikir negara, dan kemudian menyebarluaskannya secara resmi sebagai Dasar Negara. Di Negara Indonesia Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila kembali diuji ketahanannya dalam era reformasi sekarang. Merekahnya matahari bulan Juni 1945, 63 tahun yang lalu disambut dengan lahirnya sebuah konsepsi kenengaraan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu lahirnya Pancasila. Sebagai falsafah negara, tentu Pancasila ada yang merumuskannya. Pancasila telah ada dalam segala bentuk kehidupan rakyat Indonesia, terkecuali bagi mereka yang tidak Pancasilais. Pancasila lahir 1 Juni 1945, ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan UUD 1945. Dengan demikian bahwa falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia yang harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia. II. RUMUSAN MASALAH A. Apa pengertian Konsep Dasar Negara yang Islami?

1[1] Secara literal istilah negara merupakan terjemahan dari beberapa kata asing : state (Inggris). tidak secara tersurat mendefinisikan model negara dalam Islam. yaitu: 1[1] Kikidengok. konsep islam tentang negara juga berasal dari 3 (tiga) paradigma. A. http://www. Jelaskan Konsep Hubungan Agama dan Negara dalam Islam! III. keluhuran budi dan kepribadian yang tumbuh dalam sejarah perkembangan Indonesia) yang diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.2 Selain itu. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. 2006). 24-25. (Jakarta:ICCE UIN Syarif Hidayatullah. negara diartikan sebagai organisasi tertinggi di antara satu kelompok masyarakat yang mempunyai citacita untuk bersatu.pengertian dasar negara Indonesia.com/2009// 2[2] Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra.B. Ketidakadaan konsep yang pasti tentang negara telah melahirkan beragam pemikiran tentang konsep negara dalam tradisi pemikiran politik Islam. Demokrasi . atas nama masyarakat. kebudayaan. Namun demikian. hidup di dalam suatu kawasan dan mempunyai pemerintah yang berdaulat. staat (Belanda dan Jerman) atau etat (Prancis). C. Max Weber mendefinisikan negara dengan sebuah masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah. Pengertian Konsep Dasar Negara yang Islami Dasar negara adalah fandemen yang kokoh dan kuat serta bersumbar dari pandangan hidup atau falsafah (cerminan dari peradaban. Soltau. negara merupakan perpaduan antara alat (agency) dan wewenang (authority) yang mengatur dan mengendalikan persoalan-persoalan bersama. Dua sumber Islam. . menurut kebanyakan ahli politik Islam modern. Sedangkan secara terminologi. Apa Tujuan dan Unsur-Unsur Negara? Jelaskan Teori Terbentuknya Negara dan Bentuk-Bentuk Negara ! Jelaskan Hubungan Islam dan Negara di Indonesia! Jelaskan Bentuk Negara Islam! PEMBAHASAN D. F. tidak ditemukan rumusan yang pasti (qathi’) tentang konsep negara. Dalam konsepsi Islam. keduanya memuat prinsip-prinsip dasar tata cara hidup bermasyarakat.h. Al-Qur’an dan Al-Sunnah. E.wordpress. Menurut Roger H.

terutama biasanya merujuk pada masa Khulafa al Rasyidin. Tujuan sebuah negara dapat bermacammacam. Demokrasi . Dari beberapa pendapat tentang negara tersebut. b. Paradigma yang bersumber dari teori Imamah atau pemerintahan. 3. Amien lebih lanjut mengatakan bahwa kata imamah (dalam pengertian negara/state) dalam al-Qur’an tidak tertulis. . Bagi Ibnu Khaldun. 42-43. antara lain : a. 2.h. 2000). maka kemaslahatan dunia seluruhnya harus berpedoman kepada syariah. tetapi dalam bentuk global saja. Sedangkan untuk teori Imamah. Tujuan Negara 3[3] Azyumardi Azra. 1. Paradigma yang bersumber pada teori Imamah dalam paham Islam Syi’ah. ialah “Pemerintahan islam yang mempunyai UndangUndang” atau “Pemerintahan yang berUndang-Undang dasar”. (Jakarta: Prenada Media. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. dapat dipahami secara sederhana bahwa yang dimaksud dengan negara adalah suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah (governed) oleh sejumlah pejabat yang berhak menuntut dari warganegaranya untuk taat pada peraturan perundang-undangan melalui penguasaan monopolistis dari kekuasaan yang sah. Bertujuan menyelenggarakan ketertiban hukum. maupun Rasul-Nya. institusi khilafah atau imamah adalah lembaga politik yang memerintah rakyat sesuai dengan peraturan syariah agama untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat. Definisi yang hakiki bagi Imamah.1. Adapun cara pelaksanaannya al-Qur’an tidak menunjukkan secara terperinci. Bertujuan untuk mencapai kesejahteraan umum. 3[3] B. Teori tentang Khilafah menurut Amien Rais. Karena kemaslahatan akhirnya adalah tujuan akhir. dipahami sebagai suatu misi kaum muslimin yang harus ditegakan di muka bumi ini untuk memakmurkan sesuai dengan petunjuk dan peraturan Allah SWT. c. Bertujuan untuk memperluas kekuasaan. Imam Mawardi mengatakan: "Imamah adalah suatu kedudukan yang diadakan untuk mengganti peranan kenabian dalam urusan memelihara agama (Islam) dan mengendalikan dunia". negara harus memiliki tujuan yang disepakati bersama. Paradigma tentang teori khilafah yang dipraktikan sesudah Rasulullah SAW. Tujuan dan Unsur – Unsur Negara Sebagai sebuah organisasi kekuasaan dari kumpulan orang-orang yang mendiaminya.

Ibid. b. 4[4] 2.Dalam Islam. jauh dari sengketa dan menjaga intervensi pihak-pihak asing. Rakyat (masyarakat / warga negara) Rakyat dalam pengertian keberadaan suatu negara adalah sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh suatu rasa persamaan dan bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu. Dalam konsep negara modern. yaitu: a. perdamaian abadi dan keadilan sosial. yang membawa konsekuensi antara individu-individu satu sama lain saling membutuhkan bantuan.. masing-masing batas wilayah tersebut diatur dalam perjanjian dan perundang-undangan internasional. tujuan negara adalah agar manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan baik. membentuk suatu masyarakat adil dan makmur. h. c. Unsur-Unsur Negara Dalam rumusan Konvensi Montevideo tahun 1933 disebutkan bahwa suatu negara harus memiliki unsur penting. Hal ini mengingat rakyat atau warga negara adalah substratum personil dari negara. tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat). Sementara menurut Ibnu Khaldun. Selain itu. Secara umum wilayah dalam sebuah negara biasanya mencakup daratan. dalam penjelasan UUD 1945 ditetapkan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat). mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. 25-26. laut dan sungai) dan udara. . tujuan negara adalah untuk mengusahakan kemaslahatan agama dan dunia yang bermuara pada kepentingan akhirat. tujuan negara adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Pemerintah 4[4]Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. Paradigma ini didasarkan pada konsep sosio-historis bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan watak dan kecenderungan berkumpul dan bermasyarakat. Tidak bisa dibayangkan jika suatu negara tanpa rakyat. Dalam konteks negara Indonesia. Dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan suatu negara hukum yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan umum. seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi. Wilayah Wilayah adalah unsur negara yang harus terpenuhi karena tidak mungkin ada negara tanpa ada batas-batas teritorial yang jelas. perairan (samudra.

Pengakuan de facto. Teori Ketuhanan (Teokrasi) Teori ketuhanan di kenal juga dengan istilah doktrin teokratis. Mereka mendapat mandat dari tuhan untuk bertahta sebagai pengusa. Pemerintah.Pemerintah adalah alat kelengkapan negara yang bertugas memimpin organisasi negara untuk mencapai tujuan bersama didirikannya sebuah negara. karna berlangsungnya berdasar pada kontrak-kontrak antara warga Negara dengan lembaga Negara. mengadakan perdamaian dan lainnya dalam rangka mewujudkan kepentingan warga negaranya yang beragam. Sementara Negara dengan sistem parlementer mempunyai presiden sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan.5[5] C.h. dan pemerintah yang berdaulat). Teori Terbentuknya Negara dan Bentuk-Bentuk Negara 1. Doktrin ketuhanan ini memperoleh bentuknya yang sempurna dalam tulisan-tuliasan para sejarah Eropa pada abad pertengahan yang menggunakan teori ini untuk membenarkan kekuasaan mutlak para raja. parlementer dan presidentil. melalui aparat dan alatalat negara. Teori kontrak sosial (Social Contract) Teori kontrak sosial atau teori perjanjian masyarakat beranggapan bahwa Negara dibentuk berdasarkan perjanjian-perjanjian masyarakat dan tradisi sosial masyarakat. Pengakuan tersebut didasarkan adanya fakta bahwa suatu masyarakat politik telah memenuhi 3 unsur utama negara (wilayah. Teori Terbentuknya Negara Banyak dijumpai teori tentang terbentuknya sebuah Negara. b. yakni pengakuan de facto dan pengakuan de jure. Sedangkan pengakuan de jure merupakan pengakuan akan sahnya suatu negara atas dasar pertimbangan yuridis menurut hukum. ialah pengakuan atas fakta adanya negara. Teori ini di temukan baik di timur maupun di belahan dunia barat. yang menetapkan hukum. Secara umum pemerintahan terbagi dalam dua bentuk. Praktik kekuasaan 5[5] Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. Negara dengan sistem presidentil berbentuk republik dengan presiden sebagai kepala negara sekaligus sebagai kepala pemerintahan. melaksanakan ketertiban dan keamanan. Pengakuan Negara Lain Ada dua macam pengakuan atas suatu negara. 27. d.. rakyat. Teori ini meletakkan untuk tidak berpotensi menjadi Negara tirani. Op cit. Diantara teori-teori tersebut adalah : a. Doktrin ini memiliki pandangan bahwa hak pemerintah yang di miliki para raja berasal dari tuhan. .

c. raja tiran dapat di turunkan dari mahkotanya. Negara Serikat (Federasi) Negara Serikat atau federasi merupakan bentuk negara gabungan yang terdiri dari beberapa negara bagian dari sebuah Negara Serikat. sementara pemerintah daerah di bawahnya melaksanakan kebijakan pemerintah pusat. dan Demokrasi.6[6] 2. yaitu Negara Kesatuan (Unitarianisme) dan Negara Serikat (Federasi). . Mereka beranggapan bahwa sumber kekuasaan adalah rakyat. 2) Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi adalah kepala daerah diberikan kesempatan dan kewenangan untuk mengurus urusan pemerintah di wilayahnya sendiri. melalui proses penaklukan dan penduduk oleh suatu kelompok (etnis) atas kelompok tertentu di mulailah proses pembentukan suatu Negara. Menurut teori ini.. bentuk negara dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok : Monarki Oligarki. negara kesatuan ini terbagi ke dalam 2 macam sistem pemerintahan: Sentral dan Otonomi. Negara Kesatuan Negara Kesatuan adalah bentuk suatu negara yang merdeka dan berdaulat. Menurut mereka.h. a. terbentuknya suatu Negara karena pertarungan kekuaatan dimana sang pemenang memilki kekuatan untuk membentuk sebuah Negara. Bentuk-Bentuk Negara Negara memiliki bentuk yang berbeda-beda. dengan satu pemerintah pusat yang berkuasa dan mengatur seluruh daerah.model ini di tentang oleh kalangan monar chomach (penentang raja). Teori Kekuasaan Secara sederhana teori ini dapat di artikan bahwa negara terbentuk karena adanya dominasi Negara kuat mealui penjajahan. bahkan dapat di bunuh. 30-33. 6[6] Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. 1) Negara Kesatuan dengan sistem sentralsisasi adalah sistem pemerintahan yang langsung dipimpin oleh Pemerintah Pusat. b. Dengan kata lain. Op cit. dari sisi pelaksana dan mekanisme pemilihannya. kekuatan menjadi pembenaran (rasion d’ektre) dari terbentuknya sebuah negara. Namun dalam pelaksanaannya. Sistem ini dikenal dengan istilah otonomi daerah atau swatantra. Secara umum dalam konsep dan teori modern negara terbagi ke dalam dua bentuk. Di samping dua bentuk ini.

dan eksperimen tersebut dalam banyak hal sangat beragam. seperti dalih konsensus nasional dan secara bersamaan memojokkan kaum oposisi yang berusaha menjatuhkannya dengan dalih disloyalitas pada Negara. Monarki memiliki dua jenis : Monarki Absolut dan Monarki Konstitusional. (Azra.1) Monarki adalah model pemerintahan yang dikepalai oleh raja atau ratu. seringkali menjurus kepada kesalahan-kesalahan yang fatal karena pemeritah kerap “mendoktrin” rakyat dengan hal-hal yang berakibat buruk dalam berjalannya sistem suatu negara. D. hubungan agama dengan negara menjadi perdebatan yang cukup panjang di antara para pakar Islam hingga kini. 2) Oligarki adalah pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. Berbagai eksperimen dilakukan dalam menyelaraskan antara din dengan konsep dan kultur politik masyarakat muslim. 3) Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang bersandar pada kedaulatan rakyat atau mendasarkan kekuasaannya pada pilihan dan kehendak rakyat melalui mekanisme pemilihan umum (pemilu) yang berlangsung jujur. Konsep Relasi Agama dan Negara dalam Islam Dalam Islam. Ketegangan perdebatan tentang hubungan agama dan negara ini diilhami oleh hubungan yang agak canggung antara Islam sebagai agama (din) dan negara (dawlah). aman. Contoh: Arab Saudi.. • Suara mayoritas. dan berlangsungn hingga dewasa ini. Sedangkan Monarki Konstitusional adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan kepala negaranya (raja atau ratu) dibatasi oleh ketentuan-ketentuan konstitusi negara. Monarki absolut adalah model pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan satu orang raja atau ratu. dan adil. Bahkan. bebas.h. Contoh: Inggris. menurut Azra. dan lain-lain.7[7] Kelemahan pemerintahan model demokrasi antara lain : • Para pemerintah yang mengatasnamakan wakil rakyat akan terus berusaha mempertahankan kedudukannya dengan berbagai macam dalih. Dalam lintasan historis Islam. Jepang.56-58 . Ibid. Thailand. hubungan agama dengan negara dan sistem politik menunjukan fakta yang sangat beragam. perdabatan itu telah berlangsung sejak hampir satu abad. yang kerap kali menentukan keputusan akhir dalam sistem demokrasi. Banyak para ulama tradisional yang beragumentasi bahwa 7[7] Azyumardi Azra. Yordania. 1996:1).

maka hukum positif 8[8] Munawir Syadzali. Islam dan Tata Negara. Islam memberikan pandangan dunia dan makna hidup bagi manusia termasuk bidang politik. Paradigma Integralistik Merupakan paham dan konsep hubungan agama dan negara yang menganggap bahwa agama dan negara meupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Begitu juga sebaliknya. karena agama juga membantu negara dalam pembinaan moral. etika. Argumentasi ini sering dikaitkan dengan posisi Nabi Muhammad SAW ketika berada di Madinah yang membangun sistem pemerintahan dalam sebuah negara kota (city-state). Dalam konteks ini. Agama dan negara merupakan dua bentuk yang berbeda dan satu sama lain memiliki garapan bidangnya masing – masing. Di Madinah Rasulullah berperan sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai kepala agama. Konsep seperti ini sama dengan teokrasi. Konsep ini menegaskan kembali bahwa Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik atau negara. 3. Dari sudut pandang ini maka pada dasarnya dalam islam tidak ada pemisahan antara agama dan politik. agama membutuhkan negara sebagai instrumen dalam melestarikan dan mengembangkan agama. hubungan agama dan negara dipahami saling membutuhkan dan bersifat timbal balik. sehingga keberadaannya harus dipisahkan dan tidak boleh satu sama lain melakukan intervensi. Ini juga memberikan pengertian bahwa negara merupakan suatu lembaga politik dan sekaligus lembaga agama. prinsip-prinsip dasar kehidupan kemasyarakatan yang diberikan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah tidak ada yang langsung berkaitan dengan ketatanegaraan.islam merupakan sistem kepercayaan di mana agama memiliki hubungan erat dengan politik. Paradigma Sekularistik Paradigma ini beranggapan bahwa ada pemisahan (disparitas) antara agama dan negara. dan spiritualitas. 8 [8] Dalam lintasan sejarah dan opini para teoritisi politik Islam ditemukan beberapa pendapat yang berkenaan dengan konsep hubungan agama dan negara. Manurut Mohammad Husein Haikal. 2. . (Jakarta: Universitas Indonesia Press. 1993). antara lain dapat dirangkum ke dalam 3 (tiga) paradigma. negara juga memerlukan agama. Keduanya merupakan dua lembaga yang menyatu (integrated). Paradigma Simbiotik Menurut konsep ini. yakni: 1. Berdasar pada pemahaman yang dikotomis ini.

kecenderungan legalistik. Persepsi tersebut. bahkan politik Islam sering dicurigai sebagai anti ideologi negara Pancasila. 11[11] Bahtiar Effendy. Gramedia Pustaka Utama. lebih dipahami sebagai sifat hubungan dimana negara dan agama satu sama lain saling mengisi bahkan ada kecenderungan memiliki kesamaan untuk mengurangi konflik. Agama Demokrasi dan Keadilan. Negara dan Demokrasi. Lebih dari itu. tetapi mereka juga sering disebut sebagai kelompok yang secara politik “minoritas” atau “outsider”. secara umum dapat digolongkan ke dalam 2 (dua) bagian.61-64. karena tidak saja Indonesia merupakan negara yang mayoritas warga negaranya beragama Islam. Sebagai hasil kebijakan semacam ini. Mengkaji hubungan agama dan negara di Indonesia. Hubungan Islam dan Negara di Indonesia Masalah hubungan Islam dan negara di Indonesia merupakan persoalan yang menarik untuk dibahas.11[11] Kendatipun ada upaya – upaya untuk mencarikan jalan keluar dari ketegangan ini pada awal tahun 1970-an. 2001). formalistik dan simbolistik itu masih berkembang pada sebagian aktivis Islam pada dua dasawarsa pertama pemerintahan Orde Baru. negara memberlakukan kebijakan the politics of containment 9[9] Azyumardi Azra.. tetapi karena kompleksnya persoalan yang muncul. Teologi Baru Politik Islam: Pertautan Agama.yang berlaku adalah hukum yang betul – betul berasal dari kesepakatan manusia melalui social contract dan tidak ada kaitannya dengan hukum agama (syari’ah).h. Sedangkan paham akomodatif. (Jakarta: PT. 10[10] M.9[9] E. membawa implikasi terhadap keinginan negara untuk berusaha menghalangi dan melakukan domestikasi terhadap gerak ideologis politik Islam. Hubungan Agama dan Negara yang Bersifat Antagonistik Eksistensi Islam politik (political Islam) pada masa kemerdekaan dan sampai pada pasca revolusi pernah dianggap sebagai pesaing kekuasaan yang dapat mengusik basis kebangsaan negara.Imam Aziz. . yakni hubungan yang bersifat antagonistik dan hubungan yang bersifat akomodatif. Hubungan antagonistik merupakan sifat hubungan yang mencirikan adanya ketegangan antara negara dengan Islam sebagai sebuah agama. Op cit.10[10] 1. Antara lain karena alasan – alasan seperti ini. 1993). (Yogyakarta: galang Press. bukan saja para pemimpin dan aktivis politik Islam gagal untuk menjadikan Islam sebagai ideologi atau agama negara (pada 1945 dan dekade 1950-an).

F. karena jika negara menempatkan Islam sebagai out sider negara. Dengan kata lain. legislatif. Hal ini ditandai dengan semakin besarnya peluang umat Islam dalam mengembangkan wacana politiknya serta munculnya kebijakan-kebijakan yang dianggap positif bagi umat Islam. Kecenderungan akomodasi negara terhadap Islam juga – menurut Affan Gaffar – ditengarai dengan adanya kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan dan keagamaan serta kondisi dan kecenderungan politik umat Islam sendiri. di mana negara betul-betul mencurigai Islam sebagai kekuatan yang potensial dalam menandingi eksistensi negara. Kebijakan – kebijakan tersebut berspektrumluas.agar macana politik Islam yang formalistik. yaitu membidani lahirnya sederetan tokoh-tokoh pembaharu Islam. ekspansi Eropa ini telah memberikan andil terhadap kebangkitan Islam. yang oleh karenanya negara lebih memilih akomodasi terhadap islam. Hubungan Agama dan Negara yang Bersifat Akomodatif Gejala menurunnya ketergantungan hubungan antara Islam dan negara mulai terlihat pada pertengahan tahun 1980-an. Sejarah telah mencatat bahwa abad ke-15 hingga 20 merupakan fase ketika Eropa berdiaspora dan menyebar ke dunia Timur dalam rangka imperialisasi dan kolonialisasi. infrastruktural dan kultural. Secara tidak langsung. ada yang bersifat struktural. maka konflik akan sulit dihindari yang pada akhirnya akan membawa imbas terhadap proses pemeliharaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. legalistik dan simbolistik itu tidak berkembang lebih lanjut. Pemerintah menyadari bahwa umat Islam merupakan kekuatan politik yang potensial. Realitas empirik inilah yang kemudian menjelaskan bahwa hubungan agama dengan negara pada masa ini dikenal dengan antagonistik. Bentuk Negara Islam Suatu negara disebut sebagai Negara Islam jika memberlakukan hukum Islam. 2. Fokus pergerakan mereka tidak . umat Islam sendiri pada masa itu memiliki ghirah yang tinggi untuk mewujudkan Islam sebagai sumber ideologi dalam menjalankan pemerintahan. pelaksanaan hukum Islam merupakan prasyarat formal dan utama bagi eksistensinya Negara Islam. Di sisi lain.

dan mengenai itu terserah kepada ikhtiar dari pemuka-pemuka Islam yang kompeten (Ar. politik umat dalam mencapai dua .. yaitu kehidupan dunia dan akhirat. tampaknya khilafah yang di maksudkan adalah bentuk kepemimpinan dari suatu pemerintahan islam sebagai suatu kekuatan sosiorelegi kepantingan hidupnya. maka pengganti di sini berfungsi menggantikan kedudukan beliau sebagai Ketua Negara. Ahl al-‘aqd wa al-hill). Rasulullah saw bersabda: "Dahulu bani Israil dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Tentang bentuk negara Khilafah ini. Islam mengenal bentuk negara Khilafah Islamiyyah. Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. baik secara normatif mahupun praktikal sebagaimana yang tercatat dalam lembaran sejarah sejak masa Nabi sampai runtuhnya Khilafah Islamiyyah yang berpusat di Turki pada tahun 1924... Ibnu Khaldun menyatakan: "Hakikat Khalifah adalah Shahibus-Syari’ (iaitu seseorang yang bertugas memelihara dan melaksanakan syariat) dalam memelihara urusan agama dan mengelola dunia". dan setiap orang wajib taat kepada Imam sesuai dengan perintah Al-Qur’an: “Taatlah pada Allah dan taatlah pada Rasul dan pada mereka yang dikuasakan di antara kamu!” (Al-Qur’an IV:59). khulafaa berarti pengganti. digantikan oleh nabi yang lain.. Mahmud Abdul Majid al-Khalidi menjelaskan pengertian Khalifah sebagai berikut: "Khalifah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin secara keseluruhan di dunia untuk mendirikan/melaksanakan undang-undang Islam dan mengembangkan dakwah Islam ke seluruh pelusuk dunia". Setiap kali seorang nabi meninggal.hanya menumpaskan penjajahan. Jika telah diakui bahwa lembaga imamah itu adalah wajib menurut ijmak (konsesus umum). Dengan demikian. (HR Bukhari dan Muslim). (Tetapi) nanti akan ada para Khulafaa dan jumlahnya akan banyak sekali". Menurut pengertian bahasa Arab. Dalam masalah yang sama. tetapi juga mendirikan kerangka atau konsep dasar tentang negara yang dilandasi oleh agama. Hal ini diperkuat oleh keputusan Abu Bakar yang menyandang gelaran Khalifatur-Rasulillah (pengganti Rasulullah sebagai Ketua Negara). bahwa keperluan lembaga itu adalah satu fardl alkifayah. maka harus pula ditambahkan di sini.kemudian akan muncul (kembali) Khilafah yang mengikuti jejak kenabian. Rasulullah saw telah menegaskannya dalam Hadis riwayat al-Bazzar: ". Adalah kewajiban mereka untuk beerbuat agar imamah itu berdiri." Berdasarkan penjelasan di atas. Berdasarkan penegasan Rasulullah bahwa tidak ada nabi lagi sesudah beliau.

Al-‘adalah). Termasuk fanatisme doktrin agama yang berakibat pada agama hanya sekadar legitimasi politik belaka. Sebaliknya. Keadilan (Ar.148-149. Adapun yang dapat diambil dari pemikiran – pemikiran Ibnu Khaldun adalah dalam mempraktikkan keempat peran agama dalam bernegara tersebut diperlukan keseimbangan. Kenyataan sejarah membuktikan adanya pasang surutnya politik Islam juga karena keempat faktor tersebut tidak diposisikan pada rel sebenarnya. yaitu: a. 12[12] Ibnu Khaldun mengutarakan peran penting agama dalam kehidupan bermasyarakat. Kebebasan pancaindera dari sesuatu cacat yang dapat memberi bekas pada pengeluaran pendapat dan pekerjaan (Ar. berarti bahwa Imam bersedia melaksanakan hukuman-hukuman yang ditetapkan oleh undang – undang dan sedia pergi berperang. Agama merupakan pedoman dan petunjuk agar senantiasa berada dalam bimbingan moral. a. d. berbangsa. dan etika. As-salamah). . Negara Islam menurut Konsep Ibnu Khaldun.177-178 IV. c.h. 2007).13[13] KESIMPULAN 12[12] Osman Raliby.Lembaga Imamah itu mempunyai empat syarat. Dari berbagai peranan tersebut. apabila kekuatan agama berdampingan dengan solidaritas kelompok (‘ashabiyah). Al-‘ilm). (Yogyakarta: Gama Media. b. Menurutnya. d. Al-kifayah). Ilmu pengetahuan (Ar. apabila agama dan ‘ashabiyah dipertentangkan akan mempercepat munculnya disentegrasi suatu negara. c. dan bernegara. hukum. Imam hanya dapat melaksanakan hukum-hukum Allah itu jika ia mengetahui tentangnya. Agama sebagai pemersatu. secara dialektis akan memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan integritas kekuasaan politik. 1962). Agama sebagai legitimasi sistem politik. 13[13] Syafiuddin. Kesanggupan (Ar. Agama sebagai pendorong keberhasilan. Ibnu Khaldun tentang Masyarakat Negara. hal ini perlu karena Imamah adalah satu lembaga keagamaan yang mengawasi segala lembaga – lembaga lainnya yang pula memerlukan keadilan. setidaknya ada empat peran agama yang besar andilnya dalam kehidupan bernegara sepanjang sejarah. b.h. (Jakarta: Bulan Bintang.

Azyumardi. Semoga makalah ini juga dapat bermanfaat bagi kita semua. DAFTAR PUSTAKA Azra. Agama tetap memiliki daya kritis terhadap negara dan negara punya kewajibankewajiban terhadap agama. Amin. Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah. V. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. namun masing-masing dapat saling mengisi dengan segala peranannya. Meskipun demikian. Kikidengok. http: //www. PENUTUP Demikian makalah yang kami sampaikan tentang “Konsep Dasar Negara yang Islami”. 2006. Jakarta: Bulan Bintang.Dari pembahasan konsep dasar negara yang islami dalam makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut: Dalam konsepsi Islam. Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Keseimbangan dinamis adalah tidak ada pemisahan agama dan politik... Hidayah. Ibnu Khaldun tentang Masyarakat Negara. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. tidak ditemukan rumusan yang pasti (qathi’) tentang konsep negara. Islam mengajarkan banyak nilai dan etika bagaimana seharusnya negara itu dibangun dan dibesarkan.com/ 2009// Raliby. pola hubungan agama dan negara di Indonesia menganut apa yang sering disebut oleh banyak kalangan sebagai hubungan mutualisme-simbiotik. Demokrasi.. Demokrasi. Dengan kata lain. Osman. Semoga dapat menjadi bahan diskusi bersama untuk memperoleh kefahaman dalam mata kulia Pendidikan Kewarganegaraan. menurut kebanyakan ahli politik Islam modern. Komarudin & Azyumardi Azra. jalan tengah antara sekularisme dan teokrasi. Hubungan agama dan negara di Indonesia lebih menganut pada asas keseimbangan yang dinamis. tidak secara tersurat mendefinisikan model negara dalam Islam. Pengertian Dasar Negara Indonesia. . Kami sadar bahwa penyajian makalah ini jauh dari kesempurnaan. 1962. Kami menyarankan kepada pembaca untuk selalu menerapkan pemerintahan yang berkonsep dasar islami.wordpress. 2000. Dua sumber Islam. Jakarta: Prenada Media.

Negara Islam menurut Konsep Ibnu Khaldun. 2007. Syafiuddin. Bandung: Refika Aditama. Perbandingan Pemerintahan. Inu Kencana & Andi Azikin.Syafiie. . Yogyakarta: Gama Media. 2007.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful