P. 1
Konsep Dasar Negara Yang Islami

Konsep Dasar Negara Yang Islami

|Views: 143|Likes:
Published by Elhasib Jozz

More info:

Published by: Elhasib Jozz on May 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2015

pdf

text

original

KONSEP DASAR NEGARA YANG ISLAMI I.

PENDAHULUAN Keberadaan suatu institusi yang bernama negara tidak dapat dielakkan, hal ini karena kodrat manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan perangkat yang menjadi ikatan kebersamaan dalam kontrak sosial antar manusia. Perangkat institusi yang bernama negara diharapkan menjadi wadah agar manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan baik, jauh dari sengketa atau konflik dan menjaga kedamaian sosial. Dengan alasan tersebut, maka negara memiliki faktor penting dalam kehidupan manusia. Dalam dunia, hanya ada tiga kutub paradigma yaitu Paradigma Sosialisme Komunis, Paradigma Liberalisme Kapitalis, dan Paradigma Islam. Ideologi itu sendiri diterjemahkan sebagai sistem pedoman hidup yang menjadi cita-cita untuk dicapai oleh sebagian besar individu dalam masyarakat yang bersifat khusus, disusun secara sadar oleh para tokoh pemikir negara, dan kemudian menyebarluaskannya secara resmi sebagai Dasar Negara. Di Negara Indonesia Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila kembali diuji ketahanannya dalam era reformasi sekarang. Merekahnya matahari bulan Juni 1945, 63 tahun yang lalu disambut dengan lahirnya sebuah konsepsi kenengaraan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu lahirnya Pancasila. Sebagai falsafah negara, tentu Pancasila ada yang merumuskannya. Pancasila telah ada dalam segala bentuk kehidupan rakyat Indonesia, terkecuali bagi mereka yang tidak Pancasilais. Pancasila lahir 1 Juni 1945, ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan UUD 1945. Dengan demikian bahwa falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia yang harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia. II. RUMUSAN MASALAH A. Apa pengertian Konsep Dasar Negara yang Islami?

Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. A. Namun demikian. . Sedangkan secara terminologi. (Jakarta:ICCE UIN Syarif Hidayatullah. keduanya memuat prinsip-prinsip dasar tata cara hidup bermasyarakat. tidak secara tersurat mendefinisikan model negara dalam Islam. konsep islam tentang negara juga berasal dari 3 (tiga) paradigma. 2006).h. yaitu: 1[1] Kikidengok. tidak ditemukan rumusan yang pasti (qathi’) tentang konsep negara. E. Al-Qur’an dan Al-Sunnah.com/2009// 2[2] Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. hidup di dalam suatu kawasan dan mempunyai pemerintah yang berdaulat.wordpress. Pengertian Konsep Dasar Negara yang Islami Dasar negara adalah fandemen yang kokoh dan kuat serta bersumbar dari pandangan hidup atau falsafah (cerminan dari peradaban.2 Selain itu. F. Jelaskan Konsep Hubungan Agama dan Negara dalam Islam! III. kebudayaan. Ketidakadaan konsep yang pasti tentang negara telah melahirkan beragam pemikiran tentang konsep negara dalam tradisi pemikiran politik Islam. negara diartikan sebagai organisasi tertinggi di antara satu kelompok masyarakat yang mempunyai citacita untuk bersatu. Max Weber mendefinisikan negara dengan sebuah masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah. Soltau. C.B. keluhuran budi dan kepribadian yang tumbuh dalam sejarah perkembangan Indonesia) yang diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Menurut Roger H. menurut kebanyakan ahli politik Islam modern. Demokrasi . Dalam konsepsi Islam. negara merupakan perpaduan antara alat (agency) dan wewenang (authority) yang mengatur dan mengendalikan persoalan-persoalan bersama. staat (Belanda dan Jerman) atau etat (Prancis). http://www.pengertian dasar negara Indonesia.1[1] Secara literal istilah negara merupakan terjemahan dari beberapa kata asing : state (Inggris). 24-25. atas nama masyarakat. Dua sumber Islam. Apa Tujuan dan Unsur-Unsur Negara? Jelaskan Teori Terbentuknya Negara dan Bentuk-Bentuk Negara ! Jelaskan Hubungan Islam dan Negara di Indonesia! Jelaskan Bentuk Negara Islam! PEMBAHASAN D.

dapat dipahami secara sederhana bahwa yang dimaksud dengan negara adalah suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah (governed) oleh sejumlah pejabat yang berhak menuntut dari warganegaranya untuk taat pada peraturan perundang-undangan melalui penguasaan monopolistis dari kekuasaan yang sah. . (Jakarta: Prenada Media. Demokrasi . 2. c. Bertujuan untuk mencapai kesejahteraan umum. ialah “Pemerintahan islam yang mempunyai UndangUndang” atau “Pemerintahan yang berUndang-Undang dasar”. Tujuan sebuah negara dapat bermacammacam. Teori tentang Khilafah menurut Amien Rais. Imam Mawardi mengatakan: "Imamah adalah suatu kedudukan yang diadakan untuk mengganti peranan kenabian dalam urusan memelihara agama (Islam) dan mengendalikan dunia". b. Bertujuan menyelenggarakan ketertiban hukum. terutama biasanya merujuk pada masa Khulafa al Rasyidin. antara lain : a. institusi khilafah atau imamah adalah lembaga politik yang memerintah rakyat sesuai dengan peraturan syariah agama untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat. Tujuan Negara 3[3] Azyumardi Azra. maupun Rasul-Nya. maka kemaslahatan dunia seluruhnya harus berpedoman kepada syariah. negara harus memiliki tujuan yang disepakati bersama. tetapi dalam bentuk global saja. Dari beberapa pendapat tentang negara tersebut. Sedangkan untuk teori Imamah. Paradigma yang bersumber dari teori Imamah atau pemerintahan.h.1. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Tujuan dan Unsur – Unsur Negara Sebagai sebuah organisasi kekuasaan dari kumpulan orang-orang yang mendiaminya. 3[3] B. Karena kemaslahatan akhirnya adalah tujuan akhir. 2000). 3. 42-43. Paradigma yang bersumber pada teori Imamah dalam paham Islam Syi’ah. Bertujuan untuk memperluas kekuasaan. Adapun cara pelaksanaannya al-Qur’an tidak menunjukkan secara terperinci. Amien lebih lanjut mengatakan bahwa kata imamah (dalam pengertian negara/state) dalam al-Qur’an tidak tertulis. Bagi Ibnu Khaldun. Paradigma tentang teori khilafah yang dipraktikan sesudah Rasulullah SAW. Definisi yang hakiki bagi Imamah. dipahami sebagai suatu misi kaum muslimin yang harus ditegakan di muka bumi ini untuk memakmurkan sesuai dengan petunjuk dan peraturan Allah SWT. 1.

Tidak bisa dibayangkan jika suatu negara tanpa rakyat.. tujuan negara adalah untuk mengusahakan kemaslahatan agama dan dunia yang bermuara pada kepentingan akhirat. Pemerintah 4[4]Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. tujuan negara adalah agar manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan baik. c. . Unsur-Unsur Negara Dalam rumusan Konvensi Montevideo tahun 1933 disebutkan bahwa suatu negara harus memiliki unsur penting. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ibid. tujuan negara adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. perairan (samudra. seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi. jauh dari sengketa dan menjaga intervensi pihak-pihak asing. 25-26.Dalam Islam. yaitu: a. Sementara menurut Ibnu Khaldun. yang membawa konsekuensi antara individu-individu satu sama lain saling membutuhkan bantuan. Selain itu. Wilayah Wilayah adalah unsur negara yang harus terpenuhi karena tidak mungkin ada negara tanpa ada batas-batas teritorial yang jelas. h. dalam penjelasan UUD 1945 ditetapkan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat). 4[4] 2. Dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan suatu negara hukum yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan umum. masing-masing batas wilayah tersebut diatur dalam perjanjian dan perundang-undangan internasional. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Dalam konteks negara Indonesia. laut dan sungai) dan udara. Secara umum wilayah dalam sebuah negara biasanya mencakup daratan. Hal ini mengingat rakyat atau warga negara adalah substratum personil dari negara. membentuk suatu masyarakat adil dan makmur. Rakyat (masyarakat / warga negara) Rakyat dalam pengertian keberadaan suatu negara adalah sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh suatu rasa persamaan dan bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu. Paradigma ini didasarkan pada konsep sosio-historis bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan watak dan kecenderungan berkumpul dan bermasyarakat. Dalam konsep negara modern. b. tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat).

Pengakuan tersebut didasarkan adanya fakta bahwa suatu masyarakat politik telah memenuhi 3 unsur utama negara (wilayah. Teori kontrak sosial (Social Contract) Teori kontrak sosial atau teori perjanjian masyarakat beranggapan bahwa Negara dibentuk berdasarkan perjanjian-perjanjian masyarakat dan tradisi sosial masyarakat. ialah pengakuan atas fakta adanya negara. melaksanakan ketertiban dan keamanan. Sementara Negara dengan sistem parlementer mempunyai presiden sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. mengadakan perdamaian dan lainnya dalam rangka mewujudkan kepentingan warga negaranya yang beragam. Teori ini meletakkan untuk tidak berpotensi menjadi Negara tirani.5[5] C.h. Sedangkan pengakuan de jure merupakan pengakuan akan sahnya suatu negara atas dasar pertimbangan yuridis menurut hukum. Op cit. Teori Terbentuknya Negara Banyak dijumpai teori tentang terbentuknya sebuah Negara. Doktrin ketuhanan ini memperoleh bentuknya yang sempurna dalam tulisan-tuliasan para sejarah Eropa pada abad pertengahan yang menggunakan teori ini untuk membenarkan kekuasaan mutlak para raja. Praktik kekuasaan 5[5] Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. Negara dengan sistem presidentil berbentuk republik dengan presiden sebagai kepala negara sekaligus sebagai kepala pemerintahan. Teori ini di temukan baik di timur maupun di belahan dunia barat. melalui aparat dan alatalat negara. rakyat. b. Secara umum pemerintahan terbagi dalam dua bentuk. Pemerintah. Diantara teori-teori tersebut adalah : a. Mereka mendapat mandat dari tuhan untuk bertahta sebagai pengusa. Pengakuan Negara Lain Ada dua macam pengakuan atas suatu negara. Doktrin ini memiliki pandangan bahwa hak pemerintah yang di miliki para raja berasal dari tuhan. Teori Terbentuknya Negara dan Bentuk-Bentuk Negara 1. karna berlangsungnya berdasar pada kontrak-kontrak antara warga Negara dengan lembaga Negara. parlementer dan presidentil.. . yakni pengakuan de facto dan pengakuan de jure. yang menetapkan hukum. Teori Ketuhanan (Teokrasi) Teori ketuhanan di kenal juga dengan istilah doktrin teokratis. dan pemerintah yang berdaulat). d. 27. Pengakuan de facto.Pemerintah adalah alat kelengkapan negara yang bertugas memimpin organisasi negara untuk mencapai tujuan bersama didirikannya sebuah negara.

Menurut mereka. melalui proses penaklukan dan penduduk oleh suatu kelompok (etnis) atas kelompok tertentu di mulailah proses pembentukan suatu Negara. Negara Kesatuan Negara Kesatuan adalah bentuk suatu negara yang merdeka dan berdaulat. Teori Kekuasaan Secara sederhana teori ini dapat di artikan bahwa negara terbentuk karena adanya dominasi Negara kuat mealui penjajahan. Secara umum dalam konsep dan teori modern negara terbagi ke dalam dua bentuk. kekuatan menjadi pembenaran (rasion d’ektre) dari terbentuknya sebuah negara. Dengan kata lain.h. dari sisi pelaksana dan mekanisme pemilihannya. Di samping dua bentuk ini. terbentuknya suatu Negara karena pertarungan kekuaatan dimana sang pemenang memilki kekuatan untuk membentuk sebuah Negara. Sistem ini dikenal dengan istilah otonomi daerah atau swatantra. Mereka beranggapan bahwa sumber kekuasaan adalah rakyat. 6[6] Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. 30-33. dan Demokrasi. b. 1) Negara Kesatuan dengan sistem sentralsisasi adalah sistem pemerintahan yang langsung dipimpin oleh Pemerintah Pusat. Negara Serikat (Federasi) Negara Serikat atau federasi merupakan bentuk negara gabungan yang terdiri dari beberapa negara bagian dari sebuah Negara Serikat.6[6] 2.model ini di tentang oleh kalangan monar chomach (penentang raja). bahkan dapat di bunuh. 2) Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi adalah kepala daerah diberikan kesempatan dan kewenangan untuk mengurus urusan pemerintah di wilayahnya sendiri. a. .. Namun dalam pelaksanaannya. raja tiran dapat di turunkan dari mahkotanya. Bentuk-Bentuk Negara Negara memiliki bentuk yang berbeda-beda. c. Menurut teori ini. yaitu Negara Kesatuan (Unitarianisme) dan Negara Serikat (Federasi). dengan satu pemerintah pusat yang berkuasa dan mengatur seluruh daerah. sementara pemerintah daerah di bawahnya melaksanakan kebijakan pemerintah pusat. Op cit. negara kesatuan ini terbagi ke dalam 2 macam sistem pemerintahan: Sentral dan Otonomi. bentuk negara dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok : Monarki Oligarki.

Banyak para ulama tradisional yang beragumentasi bahwa 7[7] Azyumardi Azra. Jepang. dan eksperimen tersebut dalam banyak hal sangat beragam. bebas. Berbagai eksperimen dilakukan dalam menyelaraskan antara din dengan konsep dan kultur politik masyarakat muslim. Contoh: Arab Saudi. hubungan agama dengan negara menjadi perdebatan yang cukup panjang di antara para pakar Islam hingga kini. dan adil. (Azra. Konsep Relasi Agama dan Negara dalam Islam Dalam Islam. 1996:1). Yordania. seperti dalih konsensus nasional dan secara bersamaan memojokkan kaum oposisi yang berusaha menjatuhkannya dengan dalih disloyalitas pada Negara. Dalam lintasan historis Islam. Ibid. • Suara mayoritas. dan lain-lain. perdabatan itu telah berlangsung sejak hampir satu abad. Contoh: Inggris. Monarki memiliki dua jenis : Monarki Absolut dan Monarki Konstitusional. hubungan agama dengan negara dan sistem politik menunjukan fakta yang sangat beragam. yang kerap kali menentukan keputusan akhir dalam sistem demokrasi. Thailand. Ketegangan perdebatan tentang hubungan agama dan negara ini diilhami oleh hubungan yang agak canggung antara Islam sebagai agama (din) dan negara (dawlah). D. aman. Bahkan. Monarki absolut adalah model pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan satu orang raja atau ratu.. Sedangkan Monarki Konstitusional adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan kepala negaranya (raja atau ratu) dibatasi oleh ketentuan-ketentuan konstitusi negara. dan berlangsungn hingga dewasa ini.1) Monarki adalah model pemerintahan yang dikepalai oleh raja atau ratu. menurut Azra.56-58 . seringkali menjurus kepada kesalahan-kesalahan yang fatal karena pemeritah kerap “mendoktrin” rakyat dengan hal-hal yang berakibat buruk dalam berjalannya sistem suatu negara. 3) Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang bersandar pada kedaulatan rakyat atau mendasarkan kekuasaannya pada pilihan dan kehendak rakyat melalui mekanisme pemilihan umum (pemilu) yang berlangsung jujur.h.7[7] Kelemahan pemerintahan model demokrasi antara lain : • Para pemerintah yang mengatasnamakan wakil rakyat akan terus berusaha mempertahankan kedudukannya dengan berbagai macam dalih. 2) Oligarki adalah pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu.

Di Madinah Rasulullah berperan sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai kepala agama. 3. 2. hubungan agama dan negara dipahami saling membutuhkan dan bersifat timbal balik. prinsip-prinsip dasar kehidupan kemasyarakatan yang diberikan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah tidak ada yang langsung berkaitan dengan ketatanegaraan. Dalam konteks ini. Islam dan Tata Negara. Ini juga memberikan pengertian bahwa negara merupakan suatu lembaga politik dan sekaligus lembaga agama. Berdasar pada pemahaman yang dikotomis ini. 8 [8] Dalam lintasan sejarah dan opini para teoritisi politik Islam ditemukan beberapa pendapat yang berkenaan dengan konsep hubungan agama dan negara. Dari sudut pandang ini maka pada dasarnya dalam islam tidak ada pemisahan antara agama dan politik. Islam memberikan pandangan dunia dan makna hidup bagi manusia termasuk bidang politik. Paradigma Integralistik Merupakan paham dan konsep hubungan agama dan negara yang menganggap bahwa agama dan negara meupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. agama membutuhkan negara sebagai instrumen dalam melestarikan dan mengembangkan agama. antara lain dapat dirangkum ke dalam 3 (tiga) paradigma. (Jakarta: Universitas Indonesia Press.islam merupakan sistem kepercayaan di mana agama memiliki hubungan erat dengan politik. Argumentasi ini sering dikaitkan dengan posisi Nabi Muhammad SAW ketika berada di Madinah yang membangun sistem pemerintahan dalam sebuah negara kota (city-state). Paradigma Simbiotik Menurut konsep ini. 1993). . Manurut Mohammad Husein Haikal. etika. Agama dan negara merupakan dua bentuk yang berbeda dan satu sama lain memiliki garapan bidangnya masing – masing. maka hukum positif 8[8] Munawir Syadzali. sehingga keberadaannya harus dipisahkan dan tidak boleh satu sama lain melakukan intervensi. negara juga memerlukan agama. karena agama juga membantu negara dalam pembinaan moral. Begitu juga sebaliknya. dan spiritualitas. Paradigma Sekularistik Paradigma ini beranggapan bahwa ada pemisahan (disparitas) antara agama dan negara. Keduanya merupakan dua lembaga yang menyatu (integrated). Konsep ini menegaskan kembali bahwa Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik atau negara. yakni: 1. Konsep seperti ini sama dengan teokrasi.

2001). tetapi karena kompleksnya persoalan yang muncul. Lebih dari itu.10[10] 1. tetapi mereka juga sering disebut sebagai kelompok yang secara politik “minoritas” atau “outsider”. 1993). Hubungan Islam dan Negara di Indonesia Masalah hubungan Islam dan negara di Indonesia merupakan persoalan yang menarik untuk dibahas. lebih dipahami sebagai sifat hubungan dimana negara dan agama satu sama lain saling mengisi bahkan ada kecenderungan memiliki kesamaan untuk mengurangi konflik. bahkan politik Islam sering dicurigai sebagai anti ideologi negara Pancasila.9[9] E. 11[11] Bahtiar Effendy. membawa implikasi terhadap keinginan negara untuk berusaha menghalangi dan melakukan domestikasi terhadap gerak ideologis politik Islam.yang berlaku adalah hukum yang betul – betul berasal dari kesepakatan manusia melalui social contract dan tidak ada kaitannya dengan hukum agama (syari’ah). Hubungan antagonistik merupakan sifat hubungan yang mencirikan adanya ketegangan antara negara dengan Islam sebagai sebuah agama. (Yogyakarta: galang Press.. kecenderungan legalistik. Agama Demokrasi dan Keadilan. Sedangkan paham akomodatif. negara memberlakukan kebijakan the politics of containment 9[9] Azyumardi Azra. Antara lain karena alasan – alasan seperti ini. Persepsi tersebut. Gramedia Pustaka Utama. karena tidak saja Indonesia merupakan negara yang mayoritas warga negaranya beragama Islam. (Jakarta: PT. Op cit. secara umum dapat digolongkan ke dalam 2 (dua) bagian. formalistik dan simbolistik itu masih berkembang pada sebagian aktivis Islam pada dua dasawarsa pertama pemerintahan Orde Baru. Hubungan Agama dan Negara yang Bersifat Antagonistik Eksistensi Islam politik (political Islam) pada masa kemerdekaan dan sampai pada pasca revolusi pernah dianggap sebagai pesaing kekuasaan yang dapat mengusik basis kebangsaan negara. Sebagai hasil kebijakan semacam ini. yakni hubungan yang bersifat antagonistik dan hubungan yang bersifat akomodatif.11[11] Kendatipun ada upaya – upaya untuk mencarikan jalan keluar dari ketegangan ini pada awal tahun 1970-an. Mengkaji hubungan agama dan negara di Indonesia.Imam Aziz.61-64.h. Negara dan Demokrasi. bukan saja para pemimpin dan aktivis politik Islam gagal untuk menjadikan Islam sebagai ideologi atau agama negara (pada 1945 dan dekade 1950-an). Teologi Baru Politik Islam: Pertautan Agama. 10[10] M. .

Bentuk Negara Islam Suatu negara disebut sebagai Negara Islam jika memberlakukan hukum Islam. Di sisi lain. Dengan kata lain. infrastruktural dan kultural. pelaksanaan hukum Islam merupakan prasyarat formal dan utama bagi eksistensinya Negara Islam. ada yang bersifat struktural. Realitas empirik inilah yang kemudian menjelaskan bahwa hubungan agama dengan negara pada masa ini dikenal dengan antagonistik. umat Islam sendiri pada masa itu memiliki ghirah yang tinggi untuk mewujudkan Islam sebagai sumber ideologi dalam menjalankan pemerintahan. yang oleh karenanya negara lebih memilih akomodasi terhadap islam. Pemerintah menyadari bahwa umat Islam merupakan kekuatan politik yang potensial. 2. Hubungan Agama dan Negara yang Bersifat Akomodatif Gejala menurunnya ketergantungan hubungan antara Islam dan negara mulai terlihat pada pertengahan tahun 1980-an. Kebijakan – kebijakan tersebut berspektrumluas. Secara tidak langsung.agar macana politik Islam yang formalistik. di mana negara betul-betul mencurigai Islam sebagai kekuatan yang potensial dalam menandingi eksistensi negara. Hal ini ditandai dengan semakin besarnya peluang umat Islam dalam mengembangkan wacana politiknya serta munculnya kebijakan-kebijakan yang dianggap positif bagi umat Islam. legalistik dan simbolistik itu tidak berkembang lebih lanjut. ekspansi Eropa ini telah memberikan andil terhadap kebangkitan Islam. maka konflik akan sulit dihindari yang pada akhirnya akan membawa imbas terhadap proses pemeliharaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Fokus pergerakan mereka tidak . legislatif. karena jika negara menempatkan Islam sebagai out sider negara. F. Sejarah telah mencatat bahwa abad ke-15 hingga 20 merupakan fase ketika Eropa berdiaspora dan menyebar ke dunia Timur dalam rangka imperialisasi dan kolonialisasi. Kecenderungan akomodasi negara terhadap Islam juga – menurut Affan Gaffar – ditengarai dengan adanya kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan dan keagamaan serta kondisi dan kecenderungan politik umat Islam sendiri. yaitu membidani lahirnya sederetan tokoh-tokoh pembaharu Islam.

. Dengan demikian. Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. politik umat dalam mencapai dua . Ibnu Khaldun menyatakan: "Hakikat Khalifah adalah Shahibus-Syari’ (iaitu seseorang yang bertugas memelihara dan melaksanakan syariat) dalam memelihara urusan agama dan mengelola dunia". Rasulullah saw telah menegaskannya dalam Hadis riwayat al-Bazzar: ". tetapi juga mendirikan kerangka atau konsep dasar tentang negara yang dilandasi oleh agama.kemudian akan muncul (kembali) Khilafah yang mengikuti jejak kenabian. Jika telah diakui bahwa lembaga imamah itu adalah wajib menurut ijmak (konsesus umum). dan mengenai itu terserah kepada ikhtiar dari pemuka-pemuka Islam yang kompeten (Ar. (Tetapi) nanti akan ada para Khulafaa dan jumlahnya akan banyak sekali". maka harus pula ditambahkan di sini. tampaknya khilafah yang di maksudkan adalah bentuk kepemimpinan dari suatu pemerintahan islam sebagai suatu kekuatan sosiorelegi kepantingan hidupnya. baik secara normatif mahupun praktikal sebagaimana yang tercatat dalam lembaran sejarah sejak masa Nabi sampai runtuhnya Khilafah Islamiyyah yang berpusat di Turki pada tahun 1924. yaitu kehidupan dunia dan akhirat." Berdasarkan penjelasan di atas. Setiap kali seorang nabi meninggal. Dalam masalah yang sama. (HR Bukhari dan Muslim). maka pengganti di sini berfungsi menggantikan kedudukan beliau sebagai Ketua Negara.hanya menumpaskan penjajahan. bahwa keperluan lembaga itu adalah satu fardl alkifayah. digantikan oleh nabi yang lain. Hal ini diperkuat oleh keputusan Abu Bakar yang menyandang gelaran Khalifatur-Rasulillah (pengganti Rasulullah sebagai Ketua Negara). Islam mengenal bentuk negara Khilafah Islamiyyah. Mahmud Abdul Majid al-Khalidi menjelaskan pengertian Khalifah sebagai berikut: "Khalifah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin secara keseluruhan di dunia untuk mendirikan/melaksanakan undang-undang Islam dan mengembangkan dakwah Islam ke seluruh pelusuk dunia". dan setiap orang wajib taat kepada Imam sesuai dengan perintah Al-Qur’an: “Taatlah pada Allah dan taatlah pada Rasul dan pada mereka yang dikuasakan di antara kamu!” (Al-Qur’an IV:59). khulafaa berarti pengganti. Rasulullah saw bersabda: "Dahulu bani Israil dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi.. Tentang bentuk negara Khilafah ini.. Berdasarkan penegasan Rasulullah bahwa tidak ada nabi lagi sesudah beliau. Ahl al-‘aqd wa al-hill). Adalah kewajiban mereka untuk beerbuat agar imamah itu berdiri. Menurut pengertian bahasa Arab..

As-salamah). Al-kifayah). hukum. Keadilan (Ar. Negara Islam menurut Konsep Ibnu Khaldun.Lembaga Imamah itu mempunyai empat syarat. Agama sebagai pendorong keberhasilan. Dari berbagai peranan tersebut. Adapun yang dapat diambil dari pemikiran – pemikiran Ibnu Khaldun adalah dalam mempraktikkan keempat peran agama dalam bernegara tersebut diperlukan keseimbangan. setidaknya ada empat peran agama yang besar andilnya dalam kehidupan bernegara sepanjang sejarah. c. apabila agama dan ‘ashabiyah dipertentangkan akan mempercepat munculnya disentegrasi suatu negara. Termasuk fanatisme doktrin agama yang berakibat pada agama hanya sekadar legitimasi politik belaka. berbangsa. Agama merupakan pedoman dan petunjuk agar senantiasa berada dalam bimbingan moral. Kesanggupan (Ar. secara dialektis akan memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan integritas kekuasaan politik. Al-‘adalah). Menurutnya. Al-‘ilm).13[13] KESIMPULAN 12[12] Osman Raliby. Sebaliknya. berarti bahwa Imam bersedia melaksanakan hukuman-hukuman yang ditetapkan oleh undang – undang dan sedia pergi berperang. d. b. 12[12] Ibnu Khaldun mengutarakan peran penting agama dalam kehidupan bermasyarakat.h. Ibnu Khaldun tentang Masyarakat Negara. 2007).h.177-178 IV. Agama sebagai pemersatu. Ilmu pengetahuan (Ar. Kebebasan pancaindera dari sesuatu cacat yang dapat memberi bekas pada pengeluaran pendapat dan pekerjaan (Ar. Agama sebagai legitimasi sistem politik. Imam hanya dapat melaksanakan hukum-hukum Allah itu jika ia mengetahui tentangnya. dan bernegara.148-149. (Yogyakarta: Gama Media. Kenyataan sejarah membuktikan adanya pasang surutnya politik Islam juga karena keempat faktor tersebut tidak diposisikan pada rel sebenarnya. c. (Jakarta: Bulan Bintang. 1962). 13[13] Syafiuddin. apabila kekuatan agama berdampingan dengan solidaritas kelompok (‘ashabiyah). dan etika. . b. yaitu: a. a. hal ini perlu karena Imamah adalah satu lembaga keagamaan yang mengawasi segala lembaga – lembaga lainnya yang pula memerlukan keadilan. d.

Jakarta: Bulan Bintang. Agama tetap memiliki daya kritis terhadap negara dan negara punya kewajibankewajiban terhadap agama. 1962. . Demokrasi. Dengan kata lain. Komarudin & Azyumardi Azra. Kikidengok. Semoga makalah ini juga dapat bermanfaat bagi kita semua. Demokrasi. Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta: Prenada Media. menurut kebanyakan ahli politik Islam modern. Hubungan agama dan negara di Indonesia lebih menganut pada asas keseimbangan yang dinamis. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Kami sadar bahwa penyajian makalah ini jauh dari kesempurnaan. Meskipun demikian.com/ 2009// Raliby. Osman. Pengertian Dasar Negara Indonesia.. Keseimbangan dinamis adalah tidak ada pemisahan agama dan politik. Dua sumber Islam. Hidayah. 2006. DAFTAR PUSTAKA Azra.. pola hubungan agama dan negara di Indonesia menganut apa yang sering disebut oleh banyak kalangan sebagai hubungan mutualisme-simbiotik. V. namun masing-masing dapat saling mengisi dengan segala peranannya. Islam mengajarkan banyak nilai dan etika bagaimana seharusnya negara itu dibangun dan dibesarkan. Ibnu Khaldun tentang Masyarakat Negara. Kami menyarankan kepada pembaca untuk selalu menerapkan pemerintahan yang berkonsep dasar islami. 2000. Azyumardi. jalan tengah antara sekularisme dan teokrasi. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani.. Al-Qur’an dan Al-Sunnah. PENUTUP Demikian makalah yang kami sampaikan tentang “Konsep Dasar Negara yang Islami”. tidak secara tersurat mendefinisikan model negara dalam Islam. http: //www.wordpress. Semoga dapat menjadi bahan diskusi bersama untuk memperoleh kefahaman dalam mata kulia Pendidikan Kewarganegaraan. Amin. tidak ditemukan rumusan yang pasti (qathi’) tentang konsep negara.Dari pembahasan konsep dasar negara yang islami dalam makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut: Dalam konsepsi Islam.

2007.Syafiie. Bandung: Refika Aditama. Yogyakarta: Gama Media. . Syafiuddin. Perbandingan Pemerintahan. 2007. Negara Islam menurut Konsep Ibnu Khaldun. Inu Kencana & Andi Azikin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->