Kebijakan Pemerintah Provinsi Riau dalam memajukan kegiatan Perikanan Di Riau

BAB I PENDAHULUAN
A. Pendahuluan Permasalahan Perikanan Negara Indonesia dikenal sebagai Negara kepulauan atau bisa disebut juga Negara bahari karena memiliki luasnya wilayah laut yang terbesar untuk kawasan Asia Tenggara. Begitu juga dengan Provinsi Riau dengan luas daratannya seluas 90.000 km2 dan lautannya sebesar 120.000 km2 (BPS Prov.Riau, 2000), yang menandakan bahwa seharusnya pusat kegiatan perekonomian yang paling potensial berada di perairan dan lautan, artinya juga daerah perairan dan lautan menjadi sumber kekuatan ekonomi yang luar biasa (strong magnificient natural resources). Pemerintah mulai menyadari bahwa pembangunan ekonomi yang seimbang (balance economy development) dan disertai dengan semangat untuk melestarikan lingkungan yang disebut pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (sustinable economy development) yang telah menjadi paradigma (mind set) bagi pelaku kegiatan ekonomi. Sering kali tejadi timpang tindih antara alasan dalam pengembangan kegiatan ekonomi untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan. Pemanfaatan potensi ekonomi baik di darat maupun di laut sama saja artinya lemah dalam hal prinsip pelestarian lingkungan. Semenjak teknologi yang digunakan sudah berkembang sedemikian maju maka manusia menggunakan/mengkomersilkan dengan alasan mencapai ekonomisasi dalam kegiatan ekonominya. Sebagai contoh, zaman dahulu sebelum ditemukan alat penangkapan yang canggih, nelayan memakai alat pengkapan tradisonal yang hanya mengunakan jaring kain biasa, namun seiring dengan penggunaan teknologi banyak sekali praktek kerakusan manusia dalam menangkap ikan yang ingin mendapatkan produksi ikan yang tinggi dengan mengunakan pukat harimau, atau bom ikan, dan sebagainya yang jelas jika digunakan terus menerus dapat mengancam ekosistem dan populasi ikan sehingga lama-lama bisa mengakibatkan kepunahan. Inilah yang menjadi permasalahan dalam perikanan terutama di Riau soal bagaimana tumpang tindih yang terjadi oleh para pelaku ekonomi sendiri yang kurang memperhatikan lingkungan sehingga menimbulkan kerugian di pihak lain. Untuk itu perlunya kebijakan pemerintah yang komprehensif/menyeluruh dalam memandang masalah sector perikanan ini sehingga bisa menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang kuat denga tetap memperhatikan lingkungan. Adapun masalah yang diangkat dalam sector perikanan di Riau berkaitan dengan beberapa masalah saja seperti: 1. Masalah perikanan untuk budidaya ikan arwana

Seperti yang disebutkan dalam pendahuluan di atas bahwa sebenarnya ekonomipengelolaan perikanan menurut H. mulai dilirik oleh kalangan investor dalam dan luar negeri untuk dilakukan skala ekonomisasi dalam jumlah besar. Siapa saja bias ikut berpartisipasi tanpa harus memilki sumber daya tersebut.2.S Gordon (1954). Masalah perikanan untuk budidaya ikan bandeng 3. dan non excludable (Akhmad Fauzi. Masalah perikanan di daerah Rokan Hilir BAB II ISI B. Untuk mem-follow up kegiatan tersebut. Ini bias dikatakan sebagai konsekuensi dari barang public yang besrifat non rivalry. 2006:99). sehinga kontinuitas dari budidaya ini menjadi tidak jelas hanya tergantung dari . Tidak seperti sumberdaya alam yang lainnya. yang menyatakan bahwa sumber daya ikan pada umumnya bersifat open access. Dengan demikian banyak sekali permaslaah perikanan yang muncul akibat tumpang tindihnya suatu kegiatan seperti: 1. Pada tahun 1970an dan 1980an. Untuk itu juga perlu beberapa kajian yang bias dituangkan dalam kebijakan sehingga aktivitas penangkaran ikan arwana ini bisa meningkatkan perekonomian dari sector perikanan dengan tetap memperhatikan lingkungan karena pada saat itu spesies ini termasuk dalam daftar heam langak karena spesiesnya yang terancam kepunahan. seperti pertanian dan perikanan yang jelas sumber daya kepemilikannya jelas. hanya diambil beberapa permasalah perikanan di Riau yang telah menyeruak artinya telah menarik perhatian/atensi yang tinggi yang juga sangat mempengaruhi kondisi lingkungan yang ada terutama wilayah perairan dan lautan. ikan arwana (scherophages formous) yang menjadi ikan yang mahal telah dikomersilkan oleh masyarakat dalam skala kecil-kecilan. Masalah konflik yang berlarut antara nelyan bantan dengan nelayan jaring baru 4. Masyarakat yang berada di Kabupaten Pelalawan harus kesulitan mengembangkan budidaya ikan bandeng karena infrastruktur yang masih jauh dari layak dan kesulitan modal yang tinggi sehingga usaha ini hanya dikerjakan dalam skala kecil-kelcilan yang terkadang hanya bersifat musiman. maka pemerintah Provinsi Riau harus memperhatikan beberapa analisis mengenai dampak lingkungan itu tersebut sehingga niat para investor untuk berinvestasi bias terjawab. 2. sumber daya ikan bersifat relative terbuka. Permasalahan Perikanan di Provinsi Riau Di dalam makalah ini.

Pemerintah Provinsis Riau telah komitmen untuk pengembanan usaha sector perikanan denga membantu dari segi . 3. Produksi Perikanan di Rokan Hilir yang menurun Kabupaten Rokan Hilir dengan Ibu Kota bagan Siapi-api sejak tahun 1980an sudah terkenal sebagai pelabuhan ikan terbesar nomor dua di Indonesia namun semenjak tahun 1990an sampai tahun 2000an.perimntaan pasar dan stok dari luar Provinsi Riau yang melakukan penjualan di dalam wilayah Riau sehingga membuat ketergantungan kita yang tinggi terhadap provinsi yang lain. 4. yang dimana jika ingin kualitas lingkungan meningkat maka kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber daya alam harus dikurangi dan jika ingin merasakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi kita harus merelakan kerusakan lingkungan yang bertambah atau lebih dikenal dengan trade-off (Akhmad Fauzi. 1994: 72). sehingga terjadillah konflik antara nelayan tradisonal dengan nelayan jaring batu. yang tentunya sudah sangat mengacam kehidupan mereka. gaung nama tersebut telah hilang karena mulainya permasalahan dalam sekotr perikanan di Rohil seperti mulai banyaknya rusaknya ekosistem laut. Namun dalam teorinya banyak juga kalangan yang beranggapan bahwa ada hunbungan yang terbalik antara peningkatan kegiatan ekonomi dengan kualitas lingkungan. Pada tahun awal 1990an pemerintah memberikan ijin pemanfaatan penangkapan untuk wilayah selat bengkalis dan laut di wilayah selat panjang untuk memeprguankan jaring yagn lebih modern yaitu jaring batu. Berarti ada dua kelompok yang beroperasi di wilayah laut tersebut yaitu nelayan tradisonal yang menggunakan jaring biasa dengan nelayang menggunakan jaring batu. Pada tahun 200an. dan masih tradisonalnya peralatan yang digunakan sehingga produksi perikanan di daerah tersebut terus menurun. nelayan jaring batu mulai mengeluh karena hasil tangkapan mereka mulai menurun dan terancam tidak ekonomis untuk penangkapan ikan di wilayah laut. C. Kebijakan yang Diambil Pemerintah Provinsi dalam Mengatasi Masalah Perikanan Dalam hal pengelolaan aktivitas ekonomi (managed exploitation) paradigm yang harus ditanamkan bagaimana meningkatkan nilai keekonomisan suatu kegiatan baik di darat maupun di laut tetapi tidak membebani lingkungan (DJ Simarmata. Nelayan tradisonal melakukan protes agar nelayan jaring batu yang beroperasi sehingga menghentikan kegiatan tersebut namun tidak digubris sehingga mereka melakukan tindakan secara sepihak untuk menghentikan aktivitas tersebut. Kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Provinsi Riau harus berpandangan terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi dari suatu kegiatan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Maka daripada itu tentunya diperlukan kebijakan yang arif dalam menyelesaikan masalah perikanan ini sehingga tidak terjadi konflik kepentingan (conflict interest) yang akan menjadiakan sector perikanan hanya menjadi sector yang rapuh. 2006:229) Pemerintah Provinsi Riau tentu menyadari bahwa dalam memacu pertumbuhan ekonomi tidak hanya memanfaatkan potensi dari barang tamabng saja tetapi juga perlu memastikan sumber-sumber daya lainnya telah terkelola denga baik sehingga bisa memacu pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

3. industry. dan memberikan perlindungan akses pasar yang cukup baik dari kegiatan tersebut. dan tentunya perlu juga memperhatikan ekosistem laut temapt penangkapan tersebut apakah telah terjadi kerusakan berat pada ekositem laut sehingga perlu penelitian untuk keputusan yang baik. yang diantaranya: 1. Pemerintah Provinsi Riau mengeluarkan kebijakan menjadiakan Rokan Hilir sebagai Kota Minopolitan yang artinya Kota Perikanan sehingga perlu perhatian yang lebih dari Pemerintah Pusat terutama bantuan dana dalam pengembangannya seperti infrastruktur yang harus ditingkatkan kapasitasnya.infrastuktur untuk sektor tersebut. D. Untuk kembali meningkatkan produksi perikanan di Rokan Hilir. perkebunan. dan wisata yang akan memberikan dampak terhadap sumber daya perikanan. Realisasi Kebijakan Pemerintah Provinsi Riau Untuk menindaklanjuti tentang kebijakan Pemerintah Provinsi Riau kita harus melihat juga bagaimana realisasi dari kebijakan Pemerintah Provinsi dari mengatasi permasalahan di atas. 32 tahun 2004 yang pada subtansinya atau intinya pusat memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengelola perairan laut untuk kegiatan permukiman. Pemerintah Provisni Riau memanggil pihak terkait untuk duduk bersama dalam mengatasi konflik yang berkepanjangan antara nelayan jaring batu dengan nelayan tradisonal sehingga bisa dicari solusi yang baik. Mempelajari soal proposal para investor yang ingin melakukan budidaya dalam skala besar tentang ikan arwana perlu dipikirkan oleh pemerintah sehingga nantinya tidak berbenturan dengan proses pemberian izin yang harus memenuhi standar yang telah ditetapkan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang mengatur bagaimana pengoperasional usaha tersebut karena spesies yang akan dibudidayakan adalah spesies yang langka. Beberapa payung hukum telah dipegang oleh Pemerintah Provinsi Riau sebagai acuan dalam pengambil kebijakan seperti UU No. PEmprov Riau mengeluarkan Kebijakan tentang standar operasionalnya dan koitmen ekonomi dalam memacu kegiatan ekonomi sehingga bisa membuka kesempatan kerja baru. 2. membantu memberikan modal sebagai penunjang. memberikan efek samping yang baik (multiple effect) terhadap ekonomi dan menjaga spesies ikan arwana dalam kepunahan. Kebijakan yang dikeluarkan mengarah kepada pelestarian lingkungan. dan pemeliharaan hutan mangrove untuk mencegah abrasi dan juga menjaga ekositem laut di Rokan Hilir sehingga populasi ikan tidak merosot tajam. 4. Kebijakan Pemerintah Provinsi Riau dalam membantu usaha budidaya ikan bandeng yaitu dengan memberikan infrstruktur yang layak dan bantuan mmodal yang terangkum dalam Program K2I yang bisa diakses oleh para petambak sehingga bisa membuat usaha ini tetap berjalan kontinuitas/berkelanjutan. Pemerintah tentu harus memilki kebijakan yang terpadu untuk mengatasi seperti beberapa masalah di atas. Dengan demikian ada beberapa hal yang perlu diliaht dari realisasi kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Riau terkait masalah perikanan di atas yang berada di Riau yang diantaranya: .

Pemerintah Provinsi Riau memberikan Izin kepada PT. Untuk menyelesaikan konflik Nelayan di Bengkalais antara Nelayan Tradisonal dengan Nelayan jaring batu.9. dalam relaisasinya pemerintah tidak tegas terhadap implementasi/pelaksanaan dengan tidak meindak tegas para pelaku nelayan jaring batu yang masih beroperasi di laut tersebut. 3. Pada tahun 1998. dan keramba 971.913 ton.1 ton dengan terdiri dari perikanan laut 54.61 Ha di Desa Muara Fajar.594. 4. Pada tahun 2007. Kecamatan Rumbai. perikanan umum 2.1 Triliun rupiah. dimabil kesepakatan untuk mengehntikan aktivitas nelayan jaring batu karena dalam pengoperasiannya di lapangan mereka banyak menggunakan pukat harimau sehingga membuat seluruh populasi ikan jadi tersedot sehingga mengurangi pertumbuhan perkembangbiakan ikan yang menjadiakn populasi ikan terancam. Pemerintah Provinsi Riau dan Pemkab Pelalawan sepakat dalam membantu usaha budidaya ikan bandeng yang berada di Kecamatan Kulu Kampar pada tahun 2005 dengan diberikan lahan seluas 10 Ha. dan nila merah. 2. Dan Provisni Riau mendapat devisa yang cukup tinggi dari penjualan ikan arwana ini ke luar negeri yang nilaninya hamper mencapai 5 juta dollar lebih. Pemerintah Pusat beserta Pemerintah Provinsi Riau sepakat mengucurkan dana untuk mempercepat pengembangan Rokan Hilir sebagai Kota Minapolitan dengan mengucurkan bantuan dana untuk penemabngan infrasturktur saja yang mencapai 3. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN E. Dengan keluarnya kebijkana perekonomian bisa meningkat karena daerah sanggahan dari penangkaran ini diberikan kepada penduduk untuk dikelola sehingga penduduk diberi kesempatan melalukan pembibitan benih ikan arwana. modal yang dibantu melalui kredit murah kepada para petambak yang nilainya mencapai 1o milyar. SAL untuk melakukan penangkaran ikan arwana seluas 126. Membantu industry pengolahan perikanan untuk berintegrasi antara perikanan hulu dan hilir. Perikanan Hulu jelas sekali denga menamabh lahan kepada para petambak ikan patin. Namun. Kesimpulan .709. Pengoperasian ikan arwana ini denga standar yang tinggi agar semua ikan arwana bisa tetap hidup sehingga menjaga ikan arwana ini juga dari kepunahan.2 ton. gurami. Produksi perikanan yang masih terus menyumbang angka terbesar dari eptambak udang yang mengekspor udang ke Jepang dan Amerika Serikat. Kota Pekanbaru sebagai penangkaran ikan arwana terbesar di Asia Tenggara.1. usaha budidaya ikan bandeng ini sudah bisa memproduksi ikan siap jual sebanyak 4 ton setiap tahunnya. Tahun 2008 pencapaian produksi perikanan di Roakn Hilir 58.

dan jua agar diberi kesempatan kepada masyarakt untuk mengembangkannya jangan hanya kepada para investor skala besar saja sehingga dikhawatirkan tidak terjadi pemerataan. 2. 3. Pemerintah telah peduli terhadap barang spesies yang hamper punah dengan memberikan izin untuk penangkaran sehingga jelas meningkatkan pertumbuhan dan pendapatan masyarakt denga tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. BAB IV DAFTAR PUSTAKA BPS. 2. F. Agar melakukan secara konsisten pelarangan memaki izin operasional penagkapan ikan dengan menggunakan jaring baut karena akan mengancam ekosistem sehingga perlu langkah tegas seperti razia berkala oleh Polisi Laut. Untu kdaerah Roakan Hilir agar lebih ditingkatkan proudksi perikanan dari udang dari valuenya sangat tinggi sehingga bisa mendatangkan devisa yang besar. 2008. Riau Dalam Angka . Kabupaten Pelalawan sehingga meningkatkan aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan lahan tidur agar bisa berproduktif dengan baik. Saran Ada beberapa saran yang perlu untuk diperhatikan pemerintah terkait masalah di atas. Pemerintah sebgaai fasiltator mengeluarkan kebijakan dalam mengatur tentang operasional dalam pengakapan ikan di Bengkalis tetapi tidak konsisten dalam melaksanakannya. Roakn Hilir sebagai Kota Minopolitan sudah menjadi program nasional sehingga perlu alokasi dana yang besar jua dan Pemerintah harus benar-benar bisa mensinergikan/menyatukan antara perikanan hulu dengan perikanan hiir sehingga bisa meningkatkan PDB daerah dan kesejahteraan rakyat. yaiut: 1.Ada beberapa kesimpulan yang bisa kita peroleh dari pembahsan di atas mengenai permaslahannya yang diantaranya: 1. Kualu Kampar. 4. Pemerintah Provinsi Riau juga perhatian terhadap pengemabangan perikanan hulu seperti yang ada Di Kec.

riauterkini.id www.Fauzi.pemkabpelalawan. 2006.pemrovriau. Jakrta: LP FE UI www. 1987.go.id .go. Jakarta:Gramedia Indonesia Simarmata. Akhmad. DJ. Jakarta: LP FE UI Soerjani. Ekonomi Sumber Daya Alam Dan Lingkungan. Ekonomi Publik dan Eksternal. Moh.com www. 1994.go.id www.. Lingkungan: Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembanguan.pemkabrohil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful