budidaya Jati

Cara Budidaya Jati Selama kurang lebih tiga dekade, sektor kehutanan merupakan salah satu roda penggerak

utama pembangunan Nasional. Selama kurun waktu tersebut sumberdaya hutan telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perolehan devisa maupun dalam penyediaan lapangan kerja. Namun demikian setelah sekian tahun pemanfaatan hutan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri kehutanan, maka telah terjadi penurunan potensi sumberdaya hutan yang begitu besar. Bahkan akibat nyata dari kondisi tersebut ditunjukan dengan adanya kawasan hutan dan lahan rusak seluas kurang lebih 40 juta hektar dengan laju deforestasi sebesar kurang lebih 1,6 juta hektar pertahun Melihat kondisi di atas pemerintah telah menetapkan 5 prioritas kebijakan pokok sebagai bagian restrukturisasi sektor kehutanan. Sementara itu untuk jangka waktu 20 tahun kedepan kebijakan kehutanan antara lain diarahkan pada rehabilitasi hutan dan lahan yang rusak. Sebagai bagian dari kebijakan jangka panjang, maka selama kurun waktu 5 tahun kedepan (2003 – 2007) pemerintah telah merencanakan kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) seluas 3 juta hektar. Pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan rehabilitasi tersebut adalah keseimbangan ekosistem satuan DAS sebagai unit pengelolaan. Hal ini sejalan dengan tujuan pengelolaan DAS yaitu mewujudkan kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam bagi manusia secara berkelanjutan. Pada tahun 2003 pemerintah mengalokasikan dana untuk kegiatan RHL pada 29 DAS prioritas dengan luasan mencapai 300.000 hektar dengan berbagai jenis tanaman kehutanan maupun serba guna. Salah satu jenis yang cukup menonjol dan banyak dipilih dalam kegiatan RHL adalah jati (Tectona grandis). Hal ini lebih disebabkan karena jati merupakan salah satu tanaman perdagangan yang memiliki kualitas kayu sangat bagus dan bernilai ekonomi sangat tinggi, banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, bahan baku industri mebel/furniture, maupun industri kerajinan (craft) dan sebagainya. Salah satu aspek penting dalam pengembangan jati untuk RHL adalah aspek persemaian. Untuk itu guna memberikan gambaran dalam kegiatan persemaian jati secara ringkas dalam buku ini disampaikan berbagai aspek persemaian mulai dari kegiatan pengadaan benih, perbanyakan sampai pada informasi sumber benih jati. 2. PENGADAAN BENIH 2.1. Penyebaran Alami dan Syarat Tumbuh Jati memiliki persebaran yang cukup luas baik di habitat alamnya maupun wilayah pengembangannya, meliputi sebagian besar India, Myanmar, Laos, Kamboja, bagian barat

Thailand dan Indo-cina. Jati juga tumbuh di Afrika (Sudan, Kenya, Tanzania, Tanganyika, Uganda, Lower Guinea, Ghana, Nigeria, Afrika Barat), New Zaeland, Australia (Queensland), Kepulauan Fiji, Taiwan, Kepulauan Pasifik. Di Benua Amerika, jati tumbuh di Jamaica, Panama, Argentina, Puertorico, Kepulauan Tobaqo dan Suriname. Di Indonesia, jati terdapat di sebagaian Pulau Jawa dan beberapa kepulauan kecil seperti di Muna, Kangen, Sumba dan Bali. Jati tumbuh baik pada tanah yang sarang, mengandung Ca dan P cukup serta PH tanah antara 6-8. Untuk tanah yang sangat kurus, dapat dilakukan penambahan unsur P (Phospor). Pada tanah yang berbatu – batu, kekurangan air, sangat kering dan jelek aerasinya, termasuk juga tanah yang dangkal, pertumbuhan jati dapat menjadi bengkok dan bercabang rendah. Jati termasuk calciolus tree spesies, yaitu tanaman yang memerlukan unsur kalsium dalam jumlah relatif besar untuk tumbuh dan berkembang. Dari hasil analisis abu yang telah dilakukan diketahui kandungan jati terdiri dari Calcium (CaO) 31,3%, Phosporus (P) 29,7%, Silika (SiO2) sebanyak 25%. Kondisi lingkungan yang baik untuk jati adalah daerah dengan musim kering yang nyata (meski bukan syarat mutlak), memiliki curah hujan antara 1200-3000 mm/tahun. Intensitas cahaya cukup tinggi, 75 -100% dengan suhu berkisar 22ºC – 31ºC. Ketinggian tanah yang optimal antara 0 - 700 m dari permukaan laut. Di Indonesia, memang masih di jumpai jati pada ketinggian 1300 m dpl, tetapi pertumbuhannya menjadi kurang optimal. Meskipun membutuhkan musim kemarau yang nyata, tetapi musim kemarau yang terlalu kering dan lama akan menjadi faktor pembatas persebaran jati. 2.2. Pengumpulan Benih Jati Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memperoleh benih jati yang baik, yaitu; 1. Pohon induk yang dipilih harus memiliki penampakan luar (fenotip) pohon yang unggul dan baik yaitu sehat, lurus, berbatang silindris, pertajukan rindang, mempunyai batang bebas cabang yang tinggi dan sebagainya. 2. Pohon induk dipilih dari sumber benih yang baik bisa dari kebun benih, Tegakan Benih, maupun Areal Produksi Benih (APB) yang telah ditunjuk ataupun dari pohon terseleksi (pohon plus), atau dari hutan jati alam/tegakan alam. 3. Pada tanah dengan bonita (tingkat kesuburan tanah) yang baik, pengumpulan benih dapat dimulai pada tegakan umur 20 tahun, tetapi untuk tanah dengan bonita rendah, pengumpulan benih dilakukan pada tegakan berumur 30 tahun. 4. Ciri benih yang telah masak adalah warna kulitnya coklat dengan kadar air antara 10 13%. Berat persatuan benih 0,55 - 0,92 gram, dengan diameter 1,38 -1,56 cm. Rata – rata tingkat produksi benih jati per pohon bervariasi antara 0,5 - 3 kg. 5. Pengumpulan benih dilakukan antara bulan September – November. 6. Ekstraksi benih dilakukan dengan cara : buah dijemur sampai kadar air menjadi 10 - 12%

1. 3. Persediaan air Ketersediaan air di lokasi persemaian merupakan hal mutlak. Media tabur menggunakan pasir steril yang telah dijemur dibawah sinar matahari selama 1 hari.2 minggu. sehingga memudahkan air dan udara masuk kedalam biji.2. Pembuatan Bibit Secara Generatif 3. Benih ditanam dengan bekas tangkainya dibawah. 8. 3. untuk menghilangkan gulma dapat dilakukan penyiangan. Untuk persemaian permanen letak lokasi persemaian harus memperhatikan beberapa hal yaitu : dekat dengan sumber air yang dapat mensuplai air sepanjang musim. buah dimasukan ke dalam karung. 4. Penentuan/perhitungan jumlah air yang tersedia hendaknya dilakukan pada musim kemarau untuk menghindari terjadinya salah perhitungan. 3. antara lain : 1. Biji yang telah diunduh disimpan dalam wadah yang tertutup rapat untuk mengurangi kelembaban udara. Biji jati dimasukan dalam karung goni kemudian direndam pada air mengalir (sungai kacil) selama 1 minggu kemudian ditiriskan selama 1 hari. Biji jati direndam dalam air dingin – air panas bergantian selama 1 minggu. 3. Pemilihan lokasi persemaian juga harus memperhatikan penggunaan tanah sebelumnya. tidak tergenang air atau banjir sewaktu musim hujan. Untuk menciptakan kondisi tanah yang ideal diperlukan beberapa perlakuan antara lain pengolahan tanah (dicangkul) untuk mengurangi tingkat kemasaman tanah dan pembuatan saluran untuk menghindari penggenangan air. Letak Letak persemaian tergantung dari fungsi pembuatan persemaian apakah persemaian yang akan dibuat tersebut termasuk persemaian permanen ataukah persemaian sementara. karena bibit jati yang telah disimpan sangat mudah berkurang daya kecambahnya. kemudian diinjak – injak. Terhindar dari pengembalaan. 4. dan lebih baik disediakan naungan. Polybag ditempatkan secara teratur pada bedeng sapih yang tersedia idealnya ukuran 1x5 cm agar memudahkan dalam perawatan/pemeliharaan.3. 4. Tanah harus mempunyai tekstur yang baik yaitu mempunyai 10 liat. diulang selama 1 . 5. Agar sungkup buah terlepas. Biji jati direndam dalam larutan asam sulfat pekat ( H2SO4 ) selama 15 menit. Untuk daerah pegunungan yang topogrfinya curam dapat diperlakukan dengan pembuatan terasering. Daging buah digosok dengan amplas.2. seperti tanah bekas peternakan akan mengakibatkan tanah menjadi padat. 2. Sumber air harus dapat menyediakan air sepanjang musim. Buah jati direndam dalam air dingin.5 cm. Air tersebut dapat berasal dari sumur pompa atau berasal dari air sungai. 3. Mudah dijangkau dan terletak didekat jalan. 2.2. Media kecambah (pasir) ditempatkan pada bak tabur dan jangan sampai dipadatkan. 7. Temperatur harus dibawah 20ºC dengan kelembaban ralatif kurang dari 60%. Penyiraman dilakukan agar media menjadi basah. 2. atau dapat juga disemprot dengan fungisida (Benlate). dan pada benih jati akan terjadi proses pengecambahan. umumnya 20% biji jati mulai berkecambah. Sebaiknya air tersebut sedikit mungkin mengandung alkali. Tenaga kerja mudah. Media sapih dianjurkan menggunakan tanah + pasir + kompos (perbandingan 7:2:1) menggunakan kantong plastik (polybag) yang digunakan adalah 10x15 cm. ditekan kedalam media sedalam 2 cm kemudian ditimbun. Pemisahan kotoran dan benih dilakukan dengan cara menampinya. 3. Penyapihan 1. Sedangkan untuk persemaian sementara lokasinya sebaiknya di tengah-tengah atau dekat dengan lokasi penanaman. 5. 2. Pengecambahan 1. 6.atau sekitar 2 hari hingga sungkup buah kering. Kondisi tanah Kedalaman solum tanah paling sedikit 22. Teknik Memecahkan Dormansi Biji Jati (Skarifikasi) Berikut beberapa teknik yang telah diketahui dalam memecahkan dormansi biji jati saat akan dikecambahkan untuk mempercepat proses pengecambahan. 7. 5. bukan air asin atau air yang asam. kemudian dicuci dengan air dingin setelah itu baru dikecambahkan dengan media pasir. . Pada hari ke 23 sampai hari ke 27. tanah bekas kebakaran akan menyebabkan tanah kekurangan unsur – unsur hara tertentu. Penentuan Lokasi Persemaian Lokasi yang dipilih untuk persemaian harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain sebagai berikut : 1. Biji jati dioven pada suhu 50ºC selama 48 jam. 15% silt. 3. selanjutnya ditabur di bedeng tabur.2. Selain itu. dan 75% pasir. 6. Topografi relatif datar dengan toleransi kemiringan tidak boleh lebih dari 5%. Kedua perlakuan ini diharapkan dapat menciptakan sistem drainase yang baik. Perkecambahan hingga 70% dari keseluruhan biji yang ditanam tercapai antara hari ke 44 hingga hari ke 47. Biji yang akan digunakan sebagai bibit hendaknya yang dipilih yang masih baru. lalu dijemur di bawah terik matahari. dekat dengan sarana angkutan bibit (jalan). 2. Penyapihan dilakukan dengan hati – hati dengan tidak merusak perakaran dari semai. PEMBIBITAN 3. Dengan cara penyimpanan seperti ini lama penyimpanan antara 11 bulan sampai 1 tahun tidak mengurangi viabilitas benih.1.

dan sebagainya. Ketika bibit telah berumur 2 minggu. antara lain adalah pengaturan suhu. Stek pucuk Stek pucuk adalah metode perbanyakan vegetatif secara konvensional dengan menumbuhkan terlabih dahulu tunas – tunas axilar pada media persemaian sampai berakar sebelum dipindahkan ke lapangan. ikatan rafia dapat dibuka secara bertahap.4. Setelah bibit berumur 35 hari. Sifat genetis dapat dipertahankan sesuai dengan induknya. pengaturan ventilasi. Scion segera ditempelkan pada rootstock dan diikat dengan parafilm plastik/tali rafia. kompos dan topsoil dengan perbandingan 2:2:1. Peralatan stek : · Gunting stek untuk memotong batang stek. 2. kemampuan adaptasi. 5. gembor. waktu pengumpulan stek.5 cm. 3. bak palstik. Tahapan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan stek pucuk : 1. ayakan pasir. suhu. Dengan memakai penutup parafilm. 3. Medium stek Umumnya media yang digunakan untuk penyetekan adalah media yang mampu menahan kelembaban air. seluruh permukaan okulasi dapat ditutup rapat termasuk pada bagian scionnya. pengambilan scion disarankan pada akhir musim kemarau/awal musim hujan. Diameter bagian bawah disesuaikan dengan ukuran scion. Keberhasilan stek pucuk menurut beberapa penelitian dilaporkan Na’iem (2001) seperti Kijkar (1991. 3.2. timbangan analitik. · Fasilitas penunjang diperlukan untuk memproduksi stek dalam jumlah besar dan jangka panjang. cukup aerasi dan dapat menahan dengan baik kedudukan stek yang ditanam (media stek yaitu pasir. plastik sungkup. . Metode Pengguntingan Stek Pengguntingan dilakukan pada tunas – tunas yang tegak (orthotrop) pengguntingan pada 3.5 cm dan lebar 1.9 bulan dengan tinggi rata – rata 70 -100 cm dan diameter 0. pengaturan naungan. Scion diambil pada cabang – cabang kecil/ranting – ranting sehingga ukurannya tidak terlalu besar dan daya tumbuhnya tinggi. 5. Ikatan dimulai dari bagian bawah ke atas dan kembali ke bawah hingga di pangkal akar. · Peneduh/sharlon dan sungkup untuk menjaga suhu dan kelembaban udara rata – rata 80% dalam bak serta mengurangi intensitas cahaya matahari secara langsung (+25 %). 6. 2. pisau atau cutter untuk memperhalus permukaan stek. Pemeliharaan dilakukan dengan menyirami dua kali sehari. dilakukan pemupukan menggunakan NPK sebanyak 2 gram per polybag. 2. sekop. · Label yang memadai untuk memberikan informasi yang jelas dari perlakuan yang digunakan dan tanggal pelaksanaan. seperti pertumbuhan cepat. · Media yang sesuai untuk stek. Sampai bibit berumur 28 hari kelembaban udara dijaga agar tetap di atas 80% suhu udara 26 s/d 29ºC dengan intensitas cahaya 50%. tahan terhadap hama penyakit. cukup aerasi dan dapat menahan dengan baik kedudukan stek yang ditanam. kondisi fisiologi stek. Penyiraman dilakukan dengan menghindari air masuk pada daerah tempelan. dan topsoil dengan perbandingan 2:2:1). Teknik Okulasi Okulasi dilakukan dengan cara menempelkan mata/tunas dari scion (tanaman yang diambil mata/tunasnya) pada tanaman yang akan diokulasi (rootstock) berasal dari tanaman jati asal semai biji yang memiliki perakaran sehat (tanaman yang ditempeli mata tunas). Dapat memilih sifat unggul tertentu sesuai yang diinginkan. Media tersebut dapat menggunakan pasir dan kompos dengan perbandingan 2:1 atau menggunakan pasir.1. intensitas cahaya. yaitu media yang mampu menahan kelembaban air.3. ember plastik. 4. Mata tunas (scion) dipilih dengan ukuran rootstock dan dalam keadaan dorman. Penempatan medium stek dapat menggunakan bak stek atau langsung menggunakan polybag yang selanjutnya ditempatkan pada bak stek permanen. Yang termasuk faktor di dalam di antaranya adalah tingkat ketuaan donor stek. Tunas baru apabila telah keluar akan mampu menembus lapisan parafilm 2 minggu setelah penempelan scion. yaitu. dsb. sprayer. Batang bawah dipilih dari bibit yang berumur 6 . Bibit siap ditanam dalam media yang telah disiapkan dengan posisi batang miring.1992) Achmad (1993) dan Pollisco (1994) tergantung pada beberapa faktor dalam dan luar. Pemeliharaan di persemaian dilakukan meliputi penyiangan dan pemberantasan hama penyakit . · Tempat/bak stek yang memperhatikan drainase guna menghindarkan adanya genangan air (bak perakaran dengan ukuran 500x600x20 cm). Ikatan harus rapat agar air tidak masuk dan membusukan scion. Setelah bibit memiliki 2 s/d 3 pasang daun.6 -1. 1. kelembaban. atau kurang lebih setengah sendok teh. cetok. dan hormon pengatur tumbuh. dan pengaturan kelembaban ruangan yang dijalankan secara otomatis merupakan suatu hal yang menunjang keberhasilan pembuatan stek. 3. kompos. Sekitar 7 cm dari atas pangkal leher (model forket sederhana) dibuat sayatan dengan panjang 3 . Tahapan – tahapan kegiatan dalam pembuatan okulasi pada jati adalah : 1. Setelah bibit berumur 3 bulan kondisinya sudah siap untuk ditanam di lapangan. siap untuk dipindahkan ke lapangan.3 Pembuatan Bibit Secara Vegetatif Beberapa keuntungan pembiakan tanaman secara vegetatif.5 cm.3. Sedangkan yang termasuk faktor luar antara lain adalah media perakaran. pengaturan penyiraman.

dan mendapat cahaya sepanjang hari. pemeliharaan bedeng dilakukan dengan penyiraman 2x sehari dan pembersihan rumput dan tanaman lain secara periodik. Pemberian dengan cara bubuk dapat dilakukan dengan cara mencampur hormon tersebut dengan bubuk (talk) sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan dan langsung dioleskan pada stek secara langsung atau terlebih dahulu dibuat pasta. · Ukuran bedeng disesuaikan dengan kebutuhan bibit dan jenis tanaman. dengan membuat gundukan di bawah rinbunan tanaman yang sengaja dibuat untuk peneduh dan akan lebih baik bila tanahnya disterilkan terlebih dahulu. 5. Pada cabang yang tertinggal disumbu pokok dibiarkan tumbuh sampai mempunyai 3 . NAA (Naftalene Acetic Acid) dan IAA (Indole Acetic Acid). 2.32ºC. 3.2. Persiapan pembuatan kebun pangkas Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahapan persiapan dan pembuatan bedeng untuk kebun pangkas jati terdiri atas : 1. serta lapisan tanahnya agak dalam dan tidak terdapat pohon besar. Daun pada stek dikurangi hingga tinggal 2/3 nya. · Intensitas cahaya matahari yang masuk 25%.setiap sumbu pokok atau tunas dilakukan pada sekitar 1 cm diatas mata/nodum (duduk daun) karena zat auksin yang membantu pertumbuhan jaringan baru terletek di bawah nodum tersebut.4. · Sekeliling bedeng dibuat parit (selebar 50 cm). Materi kebun pangkas . Pembuatan bedeng · Bedeng dibuat membujur arah utara selatan. · Lokasinya berada didekat persemaian. Pemilihan lokasi · Tempatnya rata sampai agak miring. Pengadaan medium Komposisi media umum digunakan adalah tanah topsoil dicampur pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Penanaman stek dengan polybag lebih praktis dan efisien. Campuran medium hendaknya dilakukan secara merata untuk mendapatkan kesuburan dan kegemburan yang merata.4. tidak tergenang air. Pada prinsipnya setiap mata akan menghasilkan tunas baru asalkan dijaga pertumbuhan dominansi apikalnya. 3. Apabila bibit yang akan ditanam belum siap. karena stek yang berakar tidak perlu disapih lagi. Pengisian bedeng Bedeng yang sudah siap diisi dengan medium campuran setinggi 20-30 cm. · Media tanah mempunyai aerasi yang baik dan terjaga kelembabannya dengan baik. biasanya menggunakan konsentrasi 10 sampai 30 gram/liter dan direndamkan selama beberapa saat. · Penanaman dengan menggunakan bak tabur. Bak tabur dapat dilengkapi sungkup plastik dan jaring naungan untuk menjaga suhu dan kelembaban serta intensitas cahaya. 4. Beberapa cara penanaman stek yang umum digunakan adalah : · Penanaman langsung pada bedengan. Metode pemberian hormon. penyiangan dari rumput/lumut serta penyemprotan dari hama dan penyakit. Sebaiknya setiap 10 bedeng dibuatkan jalan angkutan dan jalan pemeriksaan.juga mempunyai tanah yang subur dan gembur. Cara pembuatan hormon dalam bentuk larutan ini pertama – tama adalah melarutkan hormon dengan sedikit alkhohol kemudian ditambahkan air sedikit demi sedikit dengan pipet sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan.5 daun dewasa baru digunting ujung cabangnya. 3. 6. Pemeliharan dan penyapihan stek Pemeliharaan stek terdiri atas penyiraman secara rutin pagi dan sore. · Suhu lingkungan berkisar antara 24 . Umummnya media yang digunakan adalah dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai kemampuan untuk menahan air dengan baik dan drainase yang baik. 3. Pengadaan bibit bahan dasar kebun pangkas 1. disemprotkan dengan sprayer 2x sehari (pagi dan siang).1. · Jarak antara tanaman dalam bedengan 1x1 meter dengan pembuatan guludan pada jalur tanaman tersebut berkisar antara 40-60 cm. · Penanaman menggunakan polybag secara langsung yaitu dengan cara ditanami di bawah sungkup plastik yang diberi naungan.4. Penyapihan stek dilakukan apabila stek yang ditanam sudah berakar dan siap diaklimatisasi pada tempat di luar bedeng dengan intensitas cahaya yang bervariasi. pembuatan kebun pangkas jati Kebun pangkas adalah kebun yang digunakan sebagai sumber materi vegetatif dalam hal ini adalah bahan stek pucuk untuk pembuatan bibit jati. Pemberian hormon dalam bentuk IBA (Indole Buteric Acid). Setelah bedeng terisi dengan medium hendaknya segera dilakukan penanaman bibit. Cara penanaman stek jati Penanaman stek memerlukan syarat – syarat tertentu antara lain : · Kelembaban tinggi (>80%). 3. · Tanah dicampur pupuk kandang kompos yang digundukan.

dipangkas setinggi 50 cm. Penanaman bibit di kebun pangkas 1. kemudian bibit dimasukan ke dalam lubang tanam dengan posisi yang tegak lurus. dibangun sebagai sumber benih). bukan mendatar). Di dalam wilayah ini terdapat tegakan yang asli setempat dan merupakan atau sumber benih geografik. Penyiraman Penyiraman dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari untuk mempertahankan temperatur dan kelembaban tanah. kemudian dibiarkan bertunas sampai ketinggian tertentu untuk selanjutnya dirundukan.4. 2. Pembersihan Pembersihan kebun pangkas dilakukan dengan pembebasan dari tanaman pengganggu dan daun – daun kering yang jatuh di dalam bedeng. kultur jaringan maupun grafting dari hasil eksplorasi dari pohon induk yang terpilih dan pohon plus hasil seleksi yang diketahui hasil identitasnya. 3. Pemeliharaan 1. Kebun pangkas jati di lapangan dan sungkup 5.4. dimana sebaran lokasinya dengan tepat dapat teridentifikasi. 3. Pembuatan lubang tanam Pembuatan lubang tanam lebih mudah karena bedeng telah diisi terlebih dahulu dengan tanah gembur 2030 cm. Pemupukan Jenis pupuk yang bisa digunakan adalah pupuk NPK dengan dosis yang disesuaikan dengan keadaan tanah.3. Umumnya pupuk yang digunakan berkisar antara 20 – 50 gram pertanaman. Berdasarkan penelitian jaringan yang muda memiliki presentase keberhasilan yang tinggi untuk membiakan vegetatif dibandingkan sumber yang lebih tua. . arah kemiringan dan iklim) yang seragam. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 85/Kpts-II/2001. 2.Materi yang baik untuk digunakan dalam kebun pangkas adalah menggunakan materi stek. Kelebihan kebun pangkas adalah materi yang digunakan sebagai biakan vegetatif menjadi lebih mudah (rejuvenasi). 30x30x30 cm. Zona pengumpulan benih adalah suatu wilayah atau kelompok wilayah di dalam hutan yang memiliki ekologis (ketinggian tempat. Fungsi dari perundukan untuk menghasilkan stek yang pertumbuhannya kearah apikal (keatas. baik diameter. Lubang tanam dapat berukuran 20x20x30 cm. Ukuran bibit dan waktu penyiapan bibit Pada umumnya ukuran bibit yang digunakan dalam kebun pangkas adalah bibit dengan jumlah daun 2 sampai 5 helai. Setelah berumur 50 bulan di lapangan. Pembuatan jarak tanaman Jarak tanam untuk kebun pangkas jati yang biasa digunakan adalah 1x1 m atau 1 setengah meter antar scion. ada 6 klas atau kategori sumber benih tanaman hutan sebagai berikut : 1. misalnya menyerang sistem pencernaan/pernafasan/saraf. atau kurang lebih 2. 3. atau disesuaikan dengan ukuran kantong sapihan. Selanjutnya stek yang dihasilkan dari kebun pangkas dapat juga digunakan sebagai bahan dasar kebun pangkas. 2.5 sendok teh. Bibit sebagai materi kebun pangkas hendaknya sudah dipersiapkan 1 sampai 2 bulan sebelum pembuatan kebun pangkas . 4. 3. 2. Penanaman Penanaman dilakukan dengan membuka kantong (polybag) secara hati – hati agar akar bibit tidak terganggu. Pemberantasan hama Pemberantasan hama dapat dilakukan dengan menggunakan intektisida yang bersifat sistemik (mematikan fungsi pada jaringan serangga). 1 meter antar tanaman dalam guludan. INFORMASI SUMBER BENIH Sumber benih adalah suatu individu atau tegakan baik yang tumbuh secara alami (hutan alam) ataupun yang ditanam (hutan tanaman) yang digunakan (ditunjuk. Tegakan benih teridentifikasi adalah tegakan alam atau tanaman dengan kualitas rata – rata dan digunakan untuk menghasilkan benih. 4.4. Seleksi bibit Seleksi dilakukan dengan memilih bibit yang mempunyai pertumbuhan seragam. tinggi dan jumlah daun yang relatif sama. Gambar 5.

Penggunaan benih dari kebun benih klonal dapat menghasilkan peningkatan voleme 5 – 10% dibandingkan dengan APB. Pengalaman di Thailand menunjukan bahwa penggunaan benih jati yang berasal dari kualitas sumber benih yang berbeda memberikan peningkatan yang berarti sebagaimana yang dilaporkan oleh Kaosa-ard (1998) dalam Leksono (2001) sebagai berikut : 1. Penggunaan benih dari kebun benih klonal dapat menghasilkan peningkatan volume sebesar 12% dibandingkan dengan tegakan benih . percabangan ringan dan lain – lain) dan digunakan untuk menghasilkan benih. untuk keperluan produksi benih. Penggunaan benih dalam kegiatan penanaman sangat tergantung kepada sumber benih yang digunakan. Pengalaman di Thailand menunjukan bahwa penggunaan benih dalam kegiatan pananaman sangat tergantung kepada sumber benih yang digunakan.3. Tegakan benih terseleksi adalah suatu tegakan alam atau tanaman dengan pohon fenotipe supperior untuk sifat – sifat yang penting (pohon lurus. 3. 6. 5. Areal produksi benih adalah suatu wilayah tegakan benih terseleksi yang kemudian ditingkatkan kualitasnya melalui penebangan pohan – pohon yang interior. Tegakan benih provenan adalah tegakan yang dibangun dari benih yang provenannya telah teruji dan diketahui superioritasnya. Kebun benih adalah suatu tegakan yang dibangun secara khusus. 2. 4. Penggunaan benih APB yang terbaik dapat meningkatkan volume 5 – 12% dibandingkan benih dari tegakan benih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful