P. 1
perforasi

perforasi

|Views: 234|Likes:

More info:

Published by: Dwi Feris Martua Sidabutar on May 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2013

pdf

text

original

IDENTITAS PASIEN Nama : Tn.

AM Umur : 70 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Alamat : Kaliwader RT 01/01 Bener Purworejo Agama : Islam Pekerjaan : Petani Tanggal masuk : 13 Agustus 2008 Tanggal periksa : 16 Agustus 2008 Diagnosis masuk : Observasi abdominal pain susp peritonitis ANAMNESIS (autoanamnesis, 16-8-2008, di ICU) Keluhan Utama : Sesak napas. Keluhan Tambahan : Sakit perut, nyeri dada, batuk, pusing, BAK sulit, anyang-anyangan, BAB cair campur ampas, perut kembung, tidak nafsu makan dan minum. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke RSUD Saras Husada Purworejo via IGD dengan keluhan sesak napas sejak 2 hari SMRS. Pasien juga mengeluh sakit pada seluruh bagian perut sejak 2 hari SMRS, sakit dimulai dari ulu hati, kemudian pasien merasa nyeri dada, ada batuk, dan pusing. Pasien mengaku BAK sulit sejak 5 hari SMRS, harus mengejan, dan sakit seperti anyang-anyangan, selain itu pasien BAB cair campur ampas sejak 2 hari SMRS, sebelumnya BAB normal, pasien merasa masih bisa kentut namun berkurang, perut kembung, perut terasa kaku pada saat sakit, tidak nafsu makan dan minum, tidak mual dan tidak muntah. Riwayat Penyakit Dahulu • Riwayat sesak dan nyeri dada pada saat beraktivitas ringan dibenarkan • Riwayat asma disangkal • Riwayat gangguan pencernaan dibenarkan, pasien mengaku punya sakit Maag • Riwayat operasi sebelumnya dibenarkan, sekitar 3 tahun yang lalu pasien menjalani operasi hernia • Riwayat mengonsumsi obat-obatan bebas dan jamu dibenarkan, pasien mengaku sering membeli obat warung bila sesak napasnya kambuh, dan minum jamu kuat untuk menjaga stamina Riwayat Penyakit Keluarga • Keluarga tidak ada yang menderita penyakit serupa. ANAMNESIS SISTEM (13-8-2008): Sistem Cerebrospinal : pasien sadar, demam (-), pusing (+) Sistem Cardiovaskular : nyeri dada (+), berdebar-debar (-) Sistem Respiratorius : sesak napas (+), batuk (+) Sistem Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), BAB (+) cair campur ampas, flatus (+) Sistem Urogenital : BAK (+) sulit, anyang-anyangan (+), warna kuning jernih Sistem Integumentum : turgor kulit baik, tidak ada kelainan Sistem Muskuloskeletal : tonus baik, bengkak (-), pergerakan normal, tidak ada deformitas.

pekak hati menghilang. pupil isokor diameter 3 mm. reflek cahaya (+/+) • Hidung : Discharge (-/-). ketinggalan gerak (-) Palpasi : Taktil fremitus kanan sama dengan kiri Perkusi : Sonor seluruh lapangan paru Auskultasi : Suara dasar vesikuler kanan dan kiri. darm countour (-). simetris • Mata : Konjungtiva anemis (-/-). sikatriks bekas operasi (+) di regio kanan bawah • Auskultasi : Bising usus (+) menurun. sklera ikterik (-/-). gallop tidak ada. suara tambahan (-) ABDOMEN : Lihat Status lokalis EKSTREMITAS • Superior : Edema (-/-).PEMERIKSAAN FISIK (berdasarkan catatan RM) Status Generalis (13-8-2008) Keadaan Umum : Tampak sesak Kesadaran : Compos mentis Vital sign : TD : 100/70 mmHg N : 96 x/menit R : 40 x/menit C ° t : 37 KEPALA • Bentuk : Mesocephal. deviasi septum (-/-) • Mulut : Bibir tidak kering. • Pulmo Inspeksi : Simetris kanan dan kiri. JVP tidak meningkat THORAX • Jantung Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak Palpasi : Ictus cordis tidak kuat angkat Perkusi : Batas kiri atas SIC II LMC sinistra Batas kanan atas SIC II LPS dextra Batas kiri bawah SIC V LMC sinistra Batas kanan bawah SIC IV LPS dextra Auskultasi : Bunyi jantung I > Bunyi jantung II. gerakan pernafasan abdomen (-). nyeri tekan lepas (+) . tidak pucat • Telinga : Tidak ada kelainan bentuk. akral hangat Status Lokalis REGIO ABDOMEN • Inspeksi : Perut datar. darm steifung (-). metalic sound (-). borborigmi (-) • Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen. retraksi (+). tidak ada discharge • Leher : Kelenjar thyroid tidak membesar. kelenjar limfe tidak membesar. nyeri tekan di seluruh lapang abdomen (+). pekak beralih (-) • Palpasi : Defans muskular (+). akral hangat • Inferior : Edema (-/-). reguler.

7 (11. urin warna kuning jernih Pemeriksaan rectal toucher • Tonus m.0 gr/dl) .3 (3.0 (35.c susp perforasi viskus PLAN • Usul USG prostat • IVFD RL : D5 20 tpm • Diet bebas • Injeksi Cefotaxim 2 x 1 g • EKG • Rontgen thorax AP (usul: rontgen abdomen 3 posisi) • Pemeriksaan laboratorium darah rutin dan kimia darah • Konsul UPD untuk sesak napas HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG Foto Rontgen Thorax AP: • Pulmo normal • Besar Cor tidak valid untuk dinilai EKG : normal Laboratorium Darah Rutin (14-8-2008. spincter ani normal • Mukosa licin • Ampula recti tidak kolaps • Pole atas prostat teraba.0 – 50.0 % ) PLT : 438 (150 – 390.10³/mm³ ) RBC : 3.2 (26. pagi hari) WBC : 10.REGIO UROLOGI • CVA : bulging (-).5 – 10. nyeri ketok (-/-). nyeri tekan (+) • OUE : terpasang DC no 16.5 g/dl ) HCT : 30.80 – 5. feses (+) DIAGNOSIS BANDING Observasi Abdominal Pain DIAGNOSA KERJA Peritonitis e.5 %) MCHC : 32.5-35.10³/mm³ ) MCV : 78 (80-97 H µm³ ) MCH : 25.3 (31. nyeri tekan (-/-) • Suprapubik : bulging (+).106/mm³ ) HGB : 9.80. taksiran berat prostat 20 gram • Nyeri tekan di seluruh jam • STLD (-).0.5-33.85 (3.0 – 16.

c susp perforasi viskus PLAN • Cek Hb ulang pre-operasi (hasil 9.1 (L: 0. DARAH : B BT : 2’50” CT : 4’10” Laboratorium Kimia Darah (14-8-2008. DARAH : B BT : 2’50” CT : 4’05” Laboratorium Kimia Darah (14-8-2008.0 – 50.2) SGOT : 29 (L: 5-42) SGPT : 31 (L: 5-32) HBsAg : negatif Laboratorium Darah Rutin (14-8-2008.106/mm³ ) HGB : 8.5-33.8 (80-97 H µm³ ) MCH : 23.5 %) MCHC : 30.0.0 % ) PLT : 298 (150 – 390.GOL.6 (11.22 (3.10³/mm³ ) MCV : 75.7 g/dL) CITO dengan GA◊ • Tindakan operatif : PRO Laparatomi eksplorasi • Non medika mentosa: 20 tpm◊ o IVFD D5 : RL = 1 : 3 • Medika mentosa: o Inj Taxegram 2x1 g o Inj trichodazol 2x500 mg .0 – 16.5-35.9-1.80.5 g/dl ) HCT : 27.1 (L: 0.5 – 10. pagi hari) GDS : 146 mg% (<140) Ureum : 130 (10-50) Kreatinin : 3.2) HBsAg : negatif DIAGNOSIS BANDING Observasi Abdominal Pain DIAGNOSA KERJA Peritonitis e. cek ulang) WBC : 11.4 (26.0 gr/dl) GOL.68 (3.9-1.9 (35. cek ulang) GDS : 181 mg% (<140) Ureum : 140 (10-50) Kreatinin : 2.8 (31.80 – 5.10³/mm³ ) RBC : 3.

o Peritoneum dibuka. pusing (+) Sistem Cardiovaskular : nyeri dada (-). muntah (-). o Kontrol perdarahan. BAB (-). selanjutnya diet bertahap • IVFD RL 40 tpm • Pasang DC • Inj Taxegram 2x1 g • Inj trichodazol 2x500 mg • Inj Torasic 2x30 mg • Inj Ranitidin 2x1 amp • Cek Hb post operasi FOLLOW UP PASIEN (16-8-2008) ANAMNESIS: • Keluhan Utama : nyeri • Keluhan Tambahan : perut sebah. demam (-). gerakan normal. flatus (+) Sistem Urogenital : BAK (+) lewat kateter. pasang drain. warna kuning jernih Sistem Integumentum : turgor kulit baik.c perforasi viskus. hecting dan dilakukan omental reseksi.o Inj Torasic 2x30 mg o Inj Ranitidin 2x1 amp • Persiapkan darah WB 250 cc LAPORAN OPERASI • Diagnosa pra bedah : peritonitis e. o Operasi selesai. o Luka operasi dijahit lapis demi lapis. tidak ada kelainan Sistem Muskuloskeletal : tonus baik. bengkak (-). o Dilakukan wide excise. dalam stadium anestesi dilakukan prosedur aseptik-antiseptik. • Diagnosa pasca bedah : peritonitis e. tidak ada deformitas. berdebar-debar (-) Sistem Respiratorius : sesak napas (-). mayor • Anestesi : general anestesi • Laporan jalannya operasi: o Pasien posisi supine. o Dilakukan eksplorasi. . • Tindakan : laparotomi eksplorasi dengan wide excise • Golongan operasi : CITO. INSTRUKSI POST OPERASI (rawat di ICU) • Awasi KU/ VS/ balance cairan • Puasa 3 hari. keluar cairan keruh (nanah). batuk (-) Sistem Gastrointestinal : mual (+). tampak perforasi pada corpus gaster.c perforasi gaster. mual ANAMNESIS SISTEM (16-8-2008): Sistem Cerebrospinal : pasien sadar. diameter lebih kurang 2 cm. o Dilakukan insisi meridian dan diperdalan hingga tampak peritoneum.

infeksi. darm steifung (-). pekak hati menghilang. o Auskultasi : Bising usus (+) normal. perdarahan intraabdomen. tampak luka post operasi tertutup kassa. kering (+). darm countour (-). sikatriks bekas operasi (+) di regio kanan bawah. pekak beralih (-) o Palpasi : Defans muskular (-). nyeri ketok (-/-). urin warna kuning jernih 7. nyeri tekan lepas (-) REGIO UROLOGI o CVA : bulging (-).6 g/dL. nyeri tekan di sekitar luka bekas operasi (+). PLAN • Awasi KU dan VS • Balance cairan + 100 • IVFD Tutofusin OPS : RL = 2 : 1 • Injeksi teruskan. perdarahan (-). obstruksi dan strangulasi jalan cerna dapat . misalnya pada perforasi.1 • Status Lokalis REGIO ABDOMEN o Inspeksi : Perut datar. metalic sound (-). gerakan pernafasan abdomen (-). nyeri tekan (-) o OUE : terpasang DC no 16. nyeri tekan (-/-) o Suprapubik : bulging (-). 16-8-2008) • Status Generalis Keadaan Umum : Lemah Kesadaran : Compos mentis Vital sign : TD : 127/83 mmHg N : 78 x/menit R : 22 x/menit C° t : 37. terpasang drain.PEMERIKSAAN FISIK (ICU. produk minimal. borborigmi (-) o Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen.c perforasi gaster hari ke I. Tetapi sebagai acuan adalah kelainan nontraumatik mendadak dengan gejala utama di daerah abdomen dengan nyeri sebagai keluhan utama dan memerlukan tindakan bedah segera.◊ NOTE: Hb post op DIAGNOSIS KERJA • Post Laparotomi eksplorasi e. ditambah: o Inj cernevit 1x1 o Inj neuropain 3x15 mg PROGNOSIS : Dubia ad bonam DISKUSI Terminologi abdomen akut telah banyak diketahui namun sulit untuk didefinisikan secara tepat.

peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri. 2. Sedangkan kedua rongga mesoderm. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Sebagian kelainan disebabkan oleh cidera langsung atau tidak langsung yang mengakibatkan perforasi saluran cerna atau perdarahan. Neoplasma atau tumor: karsinoma. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. salpingitis. keadaan tersebut dapat dikelompokkan dalam lima hal. Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Peritonitis selain disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen yang berupa inflamasi dan penyulitnya. atau kehamilan ektopik. atau dari luka tembus abdomen. Proses peradangan bakterial-kimiawi. polypus. 5. bakteri yang virulen. Obstruksi mekanis: seperti pada volvulus. komplikasi post operasi. yaitu: 1. bagian dorsal dan ventral usus saling mendekat. Namun adanya kontaminasi bakteri yang terus menerus. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis. Enteron didaerah abdomen menjadi usus.menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. 3. dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif. resistensi tubuh yang menurun. Secara garis besar. . Pada keadaan normal. perforasi. dan fibrosis. ruptura saluran cerna. Kelainan vaskuler: emboli.Peritonitis dapat terjadi akibat suatu respon inflamasi atau supuratif dari peritoneum yang disebabkan oleh iritasi kimiawi atau invasi bakteri. sehingga mesoderm tersebut kemudian akan menjadi peritoneum. kesemua hal ini merupakan faktorfaktor yang dapat memudahkan terjadinya peritonitis (radang peritoneum). 4. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. DEFINISI Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. ANATOMI Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. hernia atau perlengketan. iritasi kimiawi. perforasi ulkus gastroduodenal). Kelainan kongenital Peradangan peritoneum merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis. tromboemboli. Banyak kondisi yang dapat menimbulkan abdomen akut. Pada permulaan. iskemia dan perdarahan. juga oleh ileus obstruktif.

obat-obatan batu empedu). appendisitis. ginjal dan ureter (retroperitoneum). dan aktivitasnya konsisten dengan suatu membran semi permeabel.Lapisan peritonium dibagi menjadi 3. dimana 10-30% pasien dengan sirosis hepatis yang mengalami asites akan mengalami peritonitis bakterial spontan) • Penyebab sekunder : berkaitan dengan proses patologis dari organ visera (berupa inflamasi.ta duktus koledokus. dan pada pasien yang imunokompromais (riwayat sirosis hepatis. • Lambung: perforasi ulkus peptikum. disebut lamina visceralis (tunika serosa). timbul pada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya. adenokarsinoma. uterus dan ovarium: radang panggul. hernia inkarserata. duodenum. kolon sigmoid. 2. dan trauma. lien. divertikulum meckel. infeksi peritonitis terbagi atas: • Penyebab primer : peritonitis spontan (pada pasien dengan penyakit hati kronik. perforasi tifus abdominalis. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. obstruksi loop. vesica fellea. • Kolon desendens dan appendiks: iskemia kolon. trauma dan iatrogenik. perforasi kolon akibat divertikulitis. • Salping. volvulus kolon. Sedangkan menurut agen-nya. misalnya getah . dan appendix (intraperitoneum). • Penyebab tersier : infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat. keganasan. keganasan dan trauma. penyakit crohn. jejenum. peritonitis dapat dibedakan menjadi dua kelompok sebagai berikut: • Peritonitis steril atau kimiawi: disebabkan karena iritasi bahan-bahan kimia. keganasan. • Pankreas. trauma. kolitis ulseratif. atau kanker dan strangulasi kolon asenden). • Duodenum: perforasi ulkus peptikum. yaitu: 1. kolon transversum. sekum. Area permukaan total peritoneum sekitar dua meter persegi. maka penyebabnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: • Esofagus: keganasan. keganasan. trauma dan iatrogenik. nekrosis dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis. kolon ascenden & descenden. limfoma. Organ-organ yang terdapat di cavum peritoneum yaitu: • Gaster. hepar. • Traktus bilier: kolesistitis. trauma dan iatrogenik. tumor stroma GIT. volvulus. penyakit crohn. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. perforasi ulkus peptikum atau duodenum. • Kolon asendens: iskemia kolon. 3. dan iatrogenik. Cairan dan elektrolit kecil dapat bergerak menuju dua arah. trauma (tumpul dan penetrasi). infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen (lokal). divertikulitis. Bila ditinjau dari penyebabnya. Lembaran yang menutupi dinding usus. TB). ETIOLOGI Secara umum. trauma dan iatrogenik. ileum. Bila dilihat dari organ yang menyebabkan peritonitis. iatrogenik dan sindrom Boerhaave. Molekul-molekul yang lebih besar kemudian akan dibersihkan ke dalam mesotelium diafragma dan sistem limfatik melalui stomata-stomata kecil. • Pankreas: pankreatitis (alkohol. perforasi kolelithiasis.

tersering adalah bakteri gram negatif. produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh. Biasanya diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum viseral) kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). peritonitis juga terjadi akibat virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan netrofil. Tanda-tanda peritonitis relatif sama dengan infeksi berat lainnya. tubuh sudah tidak mampu lagi mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen-kompartemen yang kita kenal sebagai abses. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. benda asing (talk. . yakni 40% Eschericia coli. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. Sementara bakteri gram positif. dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang banyak di antara matriks fibrin. spesies Pseudomonas. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang steril. dapat pula gram negatif. 7% Klebsiella-pneumoniae. atau polimikroba. yakni Streptococcus pneumoniae 15%. dehidrasi hingga menjadi hipotensi • Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi • Bising usus menurun sampai menghilang. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini dapat berasal dari berbagai sumber. tepung. 90% disebabkan monomikroba. Yang paling sering adalah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. golongan Staphylococcus 3%. Dinding perut akan terasa tegang (defans muskular). Saat ini peritonitis juga diteliti lebih lanjut karena melibatkan respon imun tubuh hingga mengaktifkan systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dan multiple organ failure (MOF). yakni: • Demam tinggi. Proteus dan lain-lain. dan kurang dari 5% kasus mengandung bakteri anaerob.dan pankreas. empedu. atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia • Takikardia. Selain itu. o Peritonitis sekunder lebih banyak disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. barium) dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (misalnya penyakit crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen • Peritonitis bakterial: o Peritonitis bakterial spontan. dimana mengandung gabungan bakteri aerob dan anaerob yang didominasi bakteri gram negatif. darah.lambung. MANIFESTASI KLINIS Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda – tanda rangsangan peritonium. PATOFISOLOGI Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan) aktivitas inhibitor aktivator plasminogen dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. urin. Streptococcus yang lain 15%.

tes psoas. kehamilan ektopik terganggu. Beberapa uji laboratorium dilakukan. atau tes lainnya. kolesistitis. Perkusi meteoristik yang terbatas di bagian atas perut biasanya disebabkan oleh obstruksi tinggi. Hitung trombosit dan faktor koagulasi diperlukan untuk persiapan bedah. kemungkinan adanya gangguan kesadaran. Penderita dengan perdarahan. dan lain-lain. atau mengejan. • PERKUSI: pekak hati yang hilang pada perkusi menunjukkan adanya udara bebas di bawah diafragma dan ini menandakan terjadinya perforasi saluran cerna. atau bisa pula tegang karena iritasi peritoneum. • Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. • Pada penderita wanita diperlukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat radang panggul. • AUSKULTASI: pada peritonitis akibat perforasi. . syok. • INSPEKSI: kemungkinan adanya peritonitis akibat perforasi perlu dicurigai bila tampak pernapasan torakal pada penderita yang abdomennya terlihat tegang. nilai hemoglobin dan hematokrit untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan atau dehidrasi. PEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan tanda vital perlu diperhatikan status gizi. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi. Hitung leukosit dapat menunjukkan adanya proses peradangan. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding dari peritonitis adalah apendisitis. pankreatitis. Pada obstruksi pilorus didengar adanya kecipak air akibat geseran gas dalam lambung yang distensi. Defans muskular menunjukkan adanya iritasi peritoneum. Distensi perut bagian atas disertai peristaltik lambung menunjukkan adanya obstruksi pilorus. batuk.biasanya karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasi yang menyakitkan. anemia. • PALPASI: untuk menentukan kelainan lambung dan duodenum hendaknya dipandu oleh anamnesis tentang nyeri. nyeri tekan lepas. Suara ini biasanya terdengar juga tanpa stetoskop. dehidrasi. peristaltik sering lemah atau hilang sama sekali karena terjadi ileus paralitik. Pemeriksaan penunjang kadang perlu untuk mempermudah pengambilan keputusan. namun pemeriksaan ini jarang dilakukan pada keadaan peritonitis yang akut. bernafas. dengan palpasi yang cermat mungkin teraba adanya massa tumor. dan gangguan napas. perforasi atau obstruksi lambung atau duodenum sering datang dalam keadaan gawat. salpingitis. gastroenteritis. Tonjolan di epigastrium yang tampak jelas sering disebabkan oleh tumor ganas lambung yang sudah lanjut yang tidak layak dioperasi. Nyeri subjektif berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan. misalnya karena perforasi. Bila perut tidak tegang.

2. Tiduran telentang (supine). yaitu sebagai berikut: 1. Dengan endoskopi. dengan sinar horizontal proyeksi AP. tanda utama radiologi adalah: 1. Pemeriksaan Gastroduodenoskopi dilakukan bila ada keluhan dan tanda yang mencurigakan ke arah penyakit lambung dan atau duodenum serta untuk tindak lanjutnya. Secara non-invasif dapat dilakukan dengan drainase abses dan endoskopi perkutan. jaringan atau cairan patologis dapat diambil untuk pemeriksaan kimia. harus dilakukan pula tata laksana terhadap penyakit yang mendasarinya. namun yang lebih umum dilakukan ialah laparotomi eksplorasi rongga peritoneum. 3. peritonitis yang tidak diobati dapat menjadi sangat fatal. prinsip-prinsip dasar penatalaksanaan operasi telah mulai dikerjakan. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum. pecahnya usus buntu atau karena sebab lain. Selain itu. TERAPI Sejak zaman dahulu. pembuangan fokus septik (apendiks. yaitu kontras positif (barium) dan negatif (udara). Duduk atau setengah duduk (semi erect) atau berdiri kalau memungkinkan. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Ketepatan diagnosis akan meningkat bila digunakan kontras ganda. Pada posisi LLD. didapatkan pre-peritonial fat menghilang. pemberian antibiotika yang sesuai. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. Pada posisi semi erect. dan sebagainya) atau penyebab . dan adanya kekaburan pada cavum abdomen. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Penatalaksanaan peritonitis secara kausal ialah eradikasi kuman yang menyebabkan radang di peritoneum. Pada posisi supine. Pada kecurigaan adanya peritonitis perlu dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. didapatkan free air pada subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). Foto kontras barium tetap merupakan pemeriksaan yang penting dalam membantu menegakkan diagnosis kelainan lambung. didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi.Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. 2. pemberian antibiotik dan terapi suportif untuk mencegah komplikasi sekunder akibat gagal sistem organ. Hingga kini tindakan operatif merupakan pilihan terbaik untuk menyelesaikan masalah peritonitis. sitologi atau patologi. proyeksi AP. Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Selain itu. psoas line menghilang. Pada tahun 1926. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP). 3. dengan sinar horizontal. kelainan yang langsung dilihat dapat difoto untuk dokumentasi. Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi.

atau mereseksi viskus yang perforasi. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut.radang lainnya. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. o Abses residual intraperitoneal. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi atau terpisah dari cavum peritoneum. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Pada umumnya. dan mekanisme pertahanan. Bila peritonitisnya terlokalisasi. KOMPLIKASI Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. o Portal Pyemia (misal abses hepar). Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Keluaran urine tekanan vena sentral. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. o Obstruksi intestinal rekuren. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. o Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi sistem. • Komplikasi lanjut o Adhesi. Operasi ini untuk mengontrol sumber primer kontaminasi bakteri. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. o Syok hipovolemik. mengeksklusi. yaitu : • Komplikasi dini o Septikemia dan syok septik. nutrisi. . Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika (misal sefalosporin) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Jika peritonitis terlokalisasi. Teknik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen.

alcohol. 2002.Sedangkan komplikasi pembedahan dengan laparotomi eksplorasi memang tidak sedikit. • Kegagalan reanimasi dari status narkose penderita pasca operasi. fistula enterokutan. o > 48 jam = 20% penderita selamat. akibat benda tajam atau tumpul. OAINS. dengan manifestasi sebagai berikut: • Pneumonia akibat pemasangan ventilator. Infeksi intraabdominal adalah respon inflamasi pada peritoneum terhadap mikroorganisme dan toksinnya yang menghasilkan eksudat purulen pada rongga peritoneum. Buku – Ajar Ilmu Bedah De Jong. PROGNOSIS Prognosis untuk peritonitis lokal dan ringan adalah baik. Tim editor EGC. salisilat. Kamus kedokteran Dorland. fibrin. tifoid dan appendicitis. Keadaan akan menjadi makin buruk mengkonsumsi nikotin. Namun secara medis. makin buruk prognosisnya. • Sepsis. kematian di meja operasi. o Makin tua usia penderita. Perawatan inilah yang sering menimbulkan komplikasi. sedangkan pada peritonitis umum prognosisnya mematikan akibat organisme virulen. sel-sel dan pus dalam peritoneum. kopi. • Adanya penyakit penyerta. dan kortikosteroid. suspek perforasi gaster + Hipertensi Peritonitis adalah suatu inflamasi intraabdominal yang difus. • Komplikasi. Secara prinsip tukak adalah kerusakan mukosa akibat ketidakseimbangan antara faktor pertahanan mukosa dan factor perusak asam lambung dan pepsin. Perforasi pada pasien ini terjadi akibat tukak peptik yang dideritanya. 2004.(1) . Jakarta. • Usia. yang ditandai dengan eksudasi serum. Secara bedah dapat terjadi trauma di peritoneum. DAFTAR PUSTAKA Tim penulis EGC. • Daya tahan tubuh. o 24-48 jam = 60% penderita selamat. Penerbit Buku Kedokteran EGC. penderita yang mengalami pembedahan laparotomi eksplorasi membutuhkan narkose dan perawatan intensif yang lebih lama. Jakarta. misalnya pada ulkus ventrikuli. • Perforasi oleh trauma. atau peritonitis berulang jika pembersihan kuman tidak adekuat. o < 24 jam = 90% penderita selamat. Prognosis ini bergantung kepada: • Lamanya peritonitis. Peritonitis diffusa ec. PERFORASI VISKUS Perforasi alat saluran cerna dapat dibagi dalam: • Perforasi non-trauma. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Penderita dengan perdarahan. kemudian ke seluruh perut. anemia. Gejala klinis perforasi saluran pencernaan adalah nyeri hebat yang datang tiba-tiba seperti ditikam. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. muntah. misalnya sumbatan atau perforasi. Pada lebih dari 50% kasus perforasi mungkin tampak adanya udara bebas . atau obstruksi lambung duodenum sering datang dalam keadaan gawat. perforasi. terutama dirasakan di daerah epigastrium yang menyebar ke kanan bawah. nausea. dan ini menandakan terjadinya perforasi saluran cerna. dehidrasi. yaitu gambaran cairan dan udara yang jelas batasnya. Perkusi meteoristik yang terbatas di bagian atas perut biasanya disebabkan oleh obstruksi tinggi AUSKULTASI Pada peritonitis akibat perforasi. Tonjolan di epigastrium yang tampak jelas sering disebabkan oleh tumor ganas lambung yang sudah lanjut yang tidak layak operasi. perut terasa kembung. Foto polos perut posisi tegak dengan arah sinar horizontal membantu untuk menegakkan diagnosis pada keadaan yang lebih lanjut. nilai hemoglobin dan hematokrit untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan atau dehidrasi. Suara ini biasanya terdengar juga tanpa stetoskop PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang kadang perlu untuk mempermudah pengambilan keputusan. INSPEKSI Kemungkinan adanya peritonitis akibat perforasi perlu dicurigai bila tampak pernafasan torakal pada penderita yang abdomennya terlihat tegang. Sumbatan yang ditandai dengan dilatasi lambung akan tampak jelas pada foto tersebut sebagai permukaan cairan. PEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan tanda vital perlu diperhatikan status gizi.Untuk menegakkan diagnosis dilihat dari anamnesis. peristaltis sering lemah atau hilang sama sekali karena terjadi ileus paralitik. syok. PERKUSI Pekak hati yang hilang pada perkusi menunjukkan adanya udara bebas di bawah diafragma. ANAMNESIS Anamnesis yang terarah sangat membantu dalam menegakkan diagnosis. Bila perut tidak tegang dengan palpasi yang cermat mungkin teraba adanya tumor. Hitung trombosit dan faktor koagulasi diperlukan untuk persiapan bedah. kemungkinan adanya gangguan kesadaran. dan gangguan napas. Pada obstruksi pilorus didengar adanya kecipak air akibat geseran cairan dan gas dalam lambung yang distensi. Pasien juga dapat mengeluh nyeri di bahu karena adanya rangsangan peritoneum di permukaan bawah diafragma. Hitung leukosit dapat menunjukkan adanya proses peradangan. Distensi perut bagian atas disertai peristaltis lambung menunjukkan adanya obstruksi pilorus. Defans muskular menunjukkan adanya iritasi peritoneum. Beberapa uji laboratorium dilakukan. misalnya karena perforasi.2 Nyeri ini timbul mendadak. PALPASI Palpasi untuk menentukan kelainan lambung dan duodenum hendaknya dipandu oleh anamnesis tentang nyeri.

c susp. nyeri lepas. 2.di bawah diafragma. kelainan yang langsung dilihat dapat difoto untuk dokumentasi. defans muskuler. Gastroduodenoskopi dilakukan bila ada keluhan dan tanda yang mencurigakan ke arah penyakit lambung dan atau duodenum serta untuk tindak lanjutnya. Subfebris (37.Pada regio abdomen terdapat nyeri tekan. yaitu kontras positif (barium) dan negatif (udara). tampak preperitoneal fat menghilang dan psoas line kabur Dari anamnesa.Riwayat panas badan disangkal .Riwayat gastritis diakui .3 Pada anamnesis pasien didapatkan : .900) . Bagaimana perforasi dapat terjadi pada pasien ini ¿ . Selain itu. jaringan atau cairan patologis dapat diambil untuk pemeriksaan kimia.Riwayat trauma sebelumnya disangkal . Awalnya pasien mengaku sempat merasa nyeri di daerah epigastrium lalu kemudian menjadi seluruh perut (difus) . perforasi gaster DD/ perforasi duodenum + Hipertensi Grade II.Pada thoraks foto tampak pembesaran jantung dan tampak free air di sub diafragma dekstra .Leukositosis ringan (10.Pada abdomen tegak dan datar.Mual-muntah .Nyeri seluruh perut yang bersifat akut.Pada rectal toucher terdapat nyeri tekan di seluruh jam Pada pemeriksaan penunjang didapatkan : . Takikardi (114x/mnt).8oC) . auskultasi bising usus menurun .Susah BAB Pada pemeriksaan fisik didapatkan : . Ketepatan diagnosis akan meningkat bila digunakan kontras ganda.Perut terasa kembung .Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan Hipertensi (165/110 mmHg). Takipneu (32x/mnt). Dengan endoskopi. sitologi atau patologi. Foto kontras barium tetap merupakan pemeriksaan yang penting dalam membantu menegakkan diagnosis kelainan lambung.Riwayat makan jamu-jamuan yang mengandung NSAID à predisposisi tukak peptik . pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang ditegakkan diagnosa peritonitis difus e.

atau pemberian obat yang memproteksi mukosa. Prinsip pengobatan medis adalah menghindari faktor predisposisi dan pengobatan infeksi H. sakit 1-2 jam setelah sarapan. Secara prinsip tukak adalah kerusakan mukosa akibat ketidakseimbangan antara faktor pertahanan mukosa dan faktor perusak asam lambung dan pepsin. untuk sementara karena penetralan asam lambung. pedas. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien ini ? Jawab : Penderita yang lambungnya mengalami perforasi harus diperbaiki keadaan umumnya sebelum operasi. rasa terbakar sampai rasa pedih. Pemberian cairan dan koreksi elektrolit. Operasi ini untuk mengontrol sumber primer kontaminasi bakteri. 3 . dan alkohol. pemasangan pipa nasogastrik untuk dekompresi dan pemberian antibiotik mutlak diperlukan. Sebelum dilakukan laparatomi. Hal ini jelas berbeda dengan tukak duodenum. Gejalanya bervariasi. Antibiotik yang diberikan harus berspektrum luas yang melingkupi gram positif. tidak sakit pagi hari. Pemeriksaan fisik biasanya tidak ada tanda lain kecuali nyeri tekan epigastrium yang. Nyeri timbul lagi pada malam hari. Prinsip pengobatan medis tukak lambung adalah antibiotik yang efektif terhadap H. menghindarkan dari obat yang dapat merangsang lambung seperti asam salisilat. misalnya cimetidin. Daur nyeri khas setiap harinya. kopi. penggunaan antasid. NSAID. proteksi mukosa yang itu sucralfat dan reseptor H2. Penderita dengan tukak kombinasi dianggap mempunyai etiologi yang sama dengan tukak duodenum. Nyeri hilang dengan makan siang dan kambuh lagi sore harinya. CS. misalnya pada ulkus ventrikuli. Bila ada nyeri epigatrium tidak berbatas jelas dan terjadi 30 menit-3 jam setelah makan. salisilat. negatif dan anaerob. tapi kadang bertambah berat setelah makan. pasien ini telah dipasang iv line. pipa NGT. Perforasi oleh Trauma (akibat benda tajam atau benda tumpul) Perforasi pada pasien ini terjadi akibat tukak peptik yang dideritanya. Umumnya terdapat mual dan muntah. Penyebab utama tukak lambung adalah gastritis H. alkohol. beberapa jam setelah makan malam atau pada saat tidur. Laparatomi segera dilakukan setelah upaya di atas dikerjakan. Keadaan akan menjadi lebih buruk dengan mengkonsumsi nikotin. Indikasi pembedahan tidak berbeda dengan tukak duodenum. kopi.Perforasi alat saluran cerna dapat dibagi dalam : a. tetapi nyeri epigastrium merupakan keluhan terbanyak. Gastroduodenitis yang disebabkan oleh H.Pylori. Sekitar 7 % penderita tukak peptik mempunyai tukak duodenum dan tukak lambung prepyloric. Makanan. Pylori dianggap penyebab penting yang menyebabkan terjadinya tukak. Tukak peptik duodenum bisa tanpa keluhan selama kelainan belum menembus mukosa. meskipun tanpa obstruksi. kateter dan pemberian antibiotik berspektrum luas yaitu cefotaxim dan metronidazole. tifoid dan appendisitis b. Kadang sakit hilang dengan makan. Penatalaksaan pasien ini sudah tepat. Indikasi bedah pada tukak duodenum adalah tukak yang membandel dan terjadi komplikasi. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu perforasi. perdarahan. NSAID dan CS. obstruksi dan stenosis. Berhenti merokok. 3 3. Sakitnya mulai dari nyeri. Pengendalian faktor yang memperberat penyakit lewat diet sehat yang terdiri dari pantang makan asam. Pylori. Perforasi Non Trauma. Pylori dengan antibiotik. Setelah itu dilakukan laparatomi eksplorasi untuk mengatasi perforasinya. seperti sukralfat dan antagonis reseptor H2. susu atau antasid menolong secara khas. Pengaruh iritasi asam pepsin terhadap mukosa dapat dikurangi dengan antasid.

tergantung keberhasilan operasi yang dilakukan. pasien ini bersifat dubia ad bonam karena penatalaksanaan perbaikan keadaan umumnya sudah dilakukan relatif dini.4. · Komplikasi Pada pasien ini diagnosa peritonitis ditegakkan dalam 24-48 jam. Selain itu. Untuk ad functionam bersifat dubia ad bonam. Untuk ad vitam. Bagaimana prognosa pasien ini ? Jawab : Prognosis bergantung kepada (1): · Lamanya peritonitis < style=""> : > 90 % penderita selamat 24 – 48 jam : 60 % penderita selamat > 48 jam : 20 % penderita selamat · Adanya penyakit penyerta · Daya tahan tubuih · Usia Makin tua usia penderita. makin buruk prognosisnya. pasien berusia 70 tahun dan terdapat penyakit penyerta yaitu hipertensi. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->