1

HUKUM ISLAM DI INDONESIA (Tinjauan Terhadap Esensi, Eksistensi, Pelembagaan, Pembaharuan, Pengembangan dan Prospek Penerapannya)

Oleh: M. Djamaluddin Miri*

A. PENDAHULUAN Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan, "…maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan yang Maha Esa…". Dari paragraph tersebut nampak jelas, bahwa Indonesia adalah merupakan Negara hukum, yang berkeinginan untuk membentuk suatu hukum baru sesuai dengan kebangsaan Indonesia. Sebagai perwujudan keinginan tersebut, maka diterbitkanlah UU No. 1 tahun 1946, yang walaupun secara subtansial masih memberlakukan UndangUndang Hukum Pidana Hindia-Belanda sehingga banyak mendapatkan sorotan,1 namun mengingat keberadaan Indonesia sebagai suatu Negara yang berdaulat meskipun masih dalam hitungan bulan, maka masih adanya keterkaitan kuat dengan hukum Belanda yang telah ratusan tahun melekat dalam peri kehidupan bangsa Indonesia itu karenanya bisa dimaklumi. Untuk dapat membuat undang-undang yang sesuai benar dengan keindonesiaan, tentunya sangat memerlukan rentang masa yang panjang, sementara pemerintah Indonesia ketika itu masih disibukkan dengan berbagai usaha untuk mempertahankan kemerdekaan.

1

* Penulis adalah Direktur Ma'hadis Aly Hasyim Asy'ary Pondok Pesantren Tebu Ireng

Jombang.
J

Lihar Sucipto, Tinjauan Kritis Terhadap Pembangunan Hukum Indonesia, dalam Analisa (SIS, No. I, Januari-Pebruari, 1993), h. 64

1

2

Berdasarkan Keputusan Presiden No.107/1958, maka dibentuklah "Lembaga Pembinaan Hukum Nasional" (LPHN), yang sejak tahun 1974 kemudian dirubah menjadi "Badan Pembinaan Hukum Nasional" (BPHN). Sesuai dengan bentuk ketatanegaraan Indonesia yang berlaku sampai akhir tahun 1958, LPHN secara langsung berada di bawah kekuasaan Perdana Menteri. Namun sejak kembali ke UUD-45 dan kemudian diperkuat oleh Keputusan Presiden RI No. 45/1974, kedudukan LPHN yang kemudian berubah menjadi BPHN itu menjadi setingkat dengan Direktorat Jenderal dalam Departemen Kehakiman. Dalam menunjang Programn Legislatif Nasional Repelita III (19791984), BPHN telah ikut aktif dalam pembuatan peta hukum nasional, yang sampai tahun 1987 tercatat telah berhasil menerbitkan 34 buah UU. Usaha untuk mewujudkan hukum baru nasional itu tetap berlangsung, walaupun berbagai kendala sejak semula juga terus menghadang, tidak hanya oleh penganut teori resepsi,2 yang masih banyak bercokol di tengah-tengah masyarakat Indonesia, terutama yang berasal dari kalangan perguruan tinggi hukum positif yang tidak menginginkan dominasi hukum Islam3 dalam hukum nasional, tetapi juga oleh kalangan ulama Islam sendiri yang masih memahami hukum Islam secara sepotong-potong dan terjebak dalam kerangka fanatisme mazhab yang sempit, sehingga kemudian lebih tersibukkan dengan berbagai pertikaian antara sesamanya dengan melupakan peningkatan kesadaran untuk melaksanakan hukum Islam itu dalam realitas kehidupan umat.

Menurut Teori Resepsi, Hukum Islam itu bukan "hukum" dan tidak bisa menjadi "hukum" jika belum diresapi oleh hukum adat. Walaupun sejak pemberlakuan UU Perkawinan pada 1 Oktober 1974, sebenarnya teori tersebut dengan sendirinya telah mati, namun arwah dan semangatnya ternyata masih melekat dalam benak sebagian sarjana hukum Indonesia. Lihat S. Praja, Hukum Islam di Indonesia: Pemikiran dan Praktek (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), h. 85 3 Sebenarnya, hukum Islam itu sudah eksis sejak masa kerajaan Islam awal, dan bahkan secara resmi sebagai hukum Negara pada masa kesultanan Islam Indonesia. Lihat Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995, Cet. I,), h. 12: Rahmat Djatmika, Sosialisasi Hukum Islam di Indonesia, dalam Abdurrahman Wahid, et al, Kontroversi Pemikiran Islam di Indonesia, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 1991, Cet. I), h. 230

2

44 4 . Dkk. 2) Pelembagaan. keberadaannya sudah menjadi autoritive source sejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional (Jakarta: Gema Insani Press. 1) Esensi dan eksistensi hukum Islam. Filsafat Hukum Islam. ESENSI DAN EKSISTENSI HUKUM ISLAM Secara sosiologis.3 Tulisan ini akan mencoba untuk menggunakan kontribusi dan prospek hukum Islam terhadap pembinaan hukum nasional di Indonesia. Lihat Hasbi Ash-Shiddieqy. hukum akan senantiasa berkemampuan untuk mendasari dan mengarahkan berbagai perubahan sosial masyarakat. SF.4 meliputi beberapa aspek bahasan. h. (Jakarta: Bulan Bintang. bukan hanya bersifat kekinian.. 1988. Hukum Islam di Indonesia…. h. 1966). Dalam perspektif Islam. Hal ini berarti. Lihat Juhana S. pembaharuan dan pengembangan hukum Islam. 3) Prospek penerapan hukum Islam di Indonesia. ekonomi dan politik di masa depan. hukum merupakan refleksi tata nilai yang diyakini oleh masyarakat sebagai suatu pranata dalam kehidupan bermasyarakat. namun juga menjadi acuan dalam mengantisipasi perkembangan sosial. Praja. bahwa muatan hukum itu seharusnya mampu menangkap aspirasi masyarakat yang tumbuh dan berkembang. namun juga berkemampuan untuk mendinamisasikan pemikiran serta merekayasa perilaku masyarakat dalam menggapai cita-cita. berbangsa dan bernegara. ix 6 Hukum Islam merupakan koleksi daya upaya para fuqaha dalam menerapkan syariat Islam sesuai dengan kebutuhan masyarakat.5 Dengan demikian. xixii 5 Amrullah Ahmad. cet III). bahwa hukum Islam6 itu mengandung dua dimensi: Hukum Islam yang memang merupakan sub system hukum nasional di Indonesia di samping sub system hukum Barat dan hukum adat. hukum itu tidak hanya sebagai norma statis yang hanya mengutamakan kepastian dan ketertiban. h. Hal ini mengingat. B.

talak. Dalam pengertian khusus. waris) dengan Pengadilan Agama sebagai pelaksananya. Praja. sebagaimana negeri-negeri lain yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hukum Islam yang berakar pada nas zhanni yang merupakan wilayah ijtihadi yang produk-produknya kemudian disebut dengan fiqhi. keberdayaannya telah sejak lama memperoleh tempat yang layak dalam kehidupan masyarakat seiring dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. h. Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional…. 1978). maka sedikit demi sedikit hukum Islam mulai dipangkas. (Kuwait: Dar al-Qalam. Secara umum. Di Indonesia. 11 9 Amruullah Ahmad. Hukum Islam di Indonesia… 11 Ali Syafie. Lihat: Abd. mencakup keseluruhan tata kehidupan dan Islam termasuk pengetahuan tentang ketuhanan.10 Setelah kedatangan bangsa penjajah (Belanda) yang kemudian berhasil mengambil alih seluruh kekuasaan kerajaan Islam tersebut. dalam Amrullah Ahmad. hukum Islam tidak pernah mati dan bahkan selalu hadir dalam kehidupan umat Islam dalam sistem politik Syariat mempunyai dua pengertian: umum dan khusus. bahwa setiap wilayah yang dihuni umat Islam dapat menerapkan hukum Islam secara berbeda-beda.4 1. 10 Ahmad Rafiq. 93 7 . rujuk.8 Dalam pengertiannya yang kedua inilah. sekalipun sudah tidak seutuhnya. Secara sosiologis dan kultural.11 Meskipun demikian.9 sesuai dengan konteks permasalahan yang dihadapi. dan bahkan pernah sempat menjadi hukum resmi Negara. yang kemudian memberikan kemungkinan epistemologis hukum. vii 8 Fiqhi adalah hukum syara' yang bersifat praktis diperoleh melalui dalil-dalil yang terinci. Hukum Islam dalam kaitannya dengan syari'at7 yang berakar pada nash qath'i berlaku universal dan menjadi asas pemersatu serta mempolakan arus utama aktivitas umat Islam sedunia. h. Hukum Islam di Indonesia…. sampai akhirnya yang tertinggal-selain ibadah-hanya sebagian saja dari hukum keluarga (nikah. Lihat: Juhaya S. hukum Islam masih tetap eksis. Wahhab Khallaf. Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Ummat. 2. ketetapan yang dihasilkan dari pemahaman seorang muslim yang memenuhi syarat tertentu tentang al-Qur'an dan sunnah dengan menggunakan metode tertentu (Ushul Fiqhi). h. Dimensi Hukum Islam …. Ilmu Ushul Fiqhi.

b. Pengembangan Teori Berlakunya hukum Islam di Indonesia. dalam Tjum Surajaman (ed).15 12 Mohammad Daud Ali. Lihat Amrullah Ahmad. yaitu yang berkaitan dengan aspek muamalat (khususnya bidang perdata dan dipayakan pula dalam bidang pidana13 sekalipun sampai sekarang masih dalam tahap perjuangan). fatwa ulama dan yurisprudensi. yang menyebabkan pelakunya dapat diancam dengan hukuman tertentu dan merupakan penderitaan atau siksaan baginya. baik yang bersifat normatif maupun yuridis formal. yang pelaksanaannya sangat tergantung kepada iman dan kepatuhan umat Islam Indonesia kepada agamanya. h. (Jakarta: Gramedia. atau yang tersosialisasikan dan diterima masyarakat secara persuasive. Hukum . 1992). baik masa kolonialisme maupun masa kemerdekaan serta sampai masa kini. 13 Hukum Pidana adalah hukum yang mengatur tentang pelanggaran-pelanggaran dan kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum. h. Wacana Baru Fiqhi Sosial. 73-74 14 Yakni. Jamal D. hukum yang diterima dan digunakan secara nyata dalam kehidupan umat. Ichtijanto. yang telah menjadi bagian dari hukum positif di Indonesia. selengkapnya dapat ditelaah dalam H. 1977). Hukum Islam yang bersifat yuridis formal. (Bandung: Mizan. tanggal 17 Mei 1995. Lihat JB. hukum Islam di Indonesia itu12 kemudian dibagi menjadi dua: a. 177 15 Tentang teori-teori tersebut. Adapun eksistensi hukum Islam di Indonesia yang sebagian daripadanya telah terpaparkan pada uraian sebelumnya. 209. bahwa esensi hukum Islam Indonesia adalah hukum-hukum Islam yang hidup14 dalam masyarakat Indonesia. Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional. ataupun teoritis. Dengan demikian dapat disimpulkan. namun keduanya itu sebenarnya dapat terlaksana secara serentak di Indonesia sesuai dengan UUD 45 pasal 29 ayat 2. Rahmat et al. karena dianggap telah sesuai dengan kesadaran hukum dan cita mereka tentang keadailan. h. Penerapan Hukum Islam dalam Negara Republik Indonesia. Makalah Kuliah Umum Pada Pendidikan Kader Ulama di Jakarta. Pengantar Ilmu Hukum. sepenuhnya dapat ditelusuri melalui pendekatan historis. yang konkritnya bisa berupa UU. Hukum Islam yang bersifat normatif.5 apapun. yaitu yang berkaitan dengan aspek ibadah murni. Daliyo dkk. Dalam perkembangan selanjutnya. Meskipun keduanya (hukum normative dan yuridis formal) masih mendapatkan perbedaan dalam pemberlakuannya.

Menurut teori ini. 200 17 Rahmat Djatmiko. 231-232 18 M. dan dua lagi pasca kemerdekaan.16 dua periode sebelum kemerdekaan. dalam buku Prospek Hukum Islam dalam Kerangka Pembangunan Hukum Nasional di Indonesia. Kedudukan Hukum Islam dan Sistem Hukum di Indonesia. maka pada tanggal 25 Mei 1760 M pemerintah Belanda secara resmi menerbitkan peraturan Resolutio der Indischr Regeering yang kemudian dikenal dengan Compendium Freijer. h. 91).W. dapat dibagi lagi ke dalam dua fase sebagai berikut: a. dikenal teori reception in complexu yang dikemukakan oleh L. Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Setelah Belanda dengan VOC-nya mulai semakin kuat dalam menjarah kekayaan bumi Indonesia. 1. yakni ketika Belanda masih belum mencampuri semua persoalan hukum yang berlaku di masyarakat.18 Islam di Indonesia (Bandung: Remaja Rosdakarya. Van Den Breg. Sosialisasi Hukum Islam…. 12 . Dua periode pertama. hukum Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi empat periode. h. Dalam fase ini. 1984). h.6 Dalam lintas sejarah. Daud Ali. (Jakarta: Risalah. 101-36. tetapi juga menggantikan kewenangan lembaga-lembaga peradilan Islam yang dibentuk oleh para raja atau sultan Islam dengan peradilan buatan Belanda. Fase berlakunya hukum Islam sepenuhnya. 16 Ismail Sunny. hukum Islam sepenuhnya telah diterima oleh umat Islam17 berlaku sejak adanya kerajaan Islam sampai masa awal VOC. Peraturan ini memang tidak hanya memuat pemberlakuan hukum Islam dalam bidang kekeluargaan (perkawinan dan kewarisan).C.

Van Den Breg itu21 kemudian digantikan oleh teori Receptio yang dikemukakan oleh Cristian Snouk Hurgronye dan dimulai oleh Corenlis Van Vallonhoven22 sebagai penggagas pertama. Dalam I. 43-44 21 Soerojo Wignjodipoero.7 Keberadaan hukum Islam19 di Indonesia sepenuhnya baru diakui oleh Belanda setelah dicabutnya Compendium Freijer secara berangsurangsur. dengan tanpa mengurangi legalitas mereka dalam melaksanakan tugas peradilan sesuai dengan ketentuan fiqhi. (Jakarta: Haji Masagung. dan terakhir dengan staatstabled 1913 No. tersebut. Dalam Staatsbled 1882 No. hukum Islam diakui sebagai otoritas hukum. 19 . pemerintah Belanda kemudian menerbitkan Wet op de Staatsinrichting van Nederlands Indie. (Ed. Demokrasi Pancasila (Jakarta: Tinta Mas. h. Dan dalam pasal 134 ayat 2 dinyatakan: 19 Ketika itu. h. Dalam fase ini. Landasan Pemikiran Politik Hukum di Indonesia dalam Rangka Menentukan Peradilan Agama di Indonesia. 354. h. I: Jakarta: Akademika Pressindo. Perkembangan dan Pembentukannya. Untuk menggantikan Receptio in Complexu dengan Receptio. Fase berlakunya hukum Islam setelah dikehendaki atau diterima oleh hukum adat. teori Reception in Complexu yang pertama kali diperkenalkan oleh L.W. h. 13 22 Mura Hutagalung. pasal 75 yang menganjurkan kepada hakim Indonesia untuk memberlakukan undang-undang agama. Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat. Lihat: Abdurrahman. h. Dan yang ada hanyalah kitab-kitab fiqhi yang masih berbentuk kajian ilmu hukum Islam dalam berbagai macam mazhab. walaupun mayoritasnya adalah mazhab Syafi'i.S. dalam Tjua Suryaman. Politik Hukum di Indonesia. 15-29 20 Munawir Sjadzali. 152 ditetapkan pembentukan Peradilan Agama di Jawa dan Madura.S). Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. yang sekaligus membatalkan Regeerrings Reglement (RR) tahun 1885. 1991). disingkat Indische Staatsregeling (I. diundangkan Stbl 1929: 212 yang menyatakan bahwa hukum Islam dicabut dari lingkungan tata hukum Hindia Belanda. 1973). Cet I).C. 1990). 1985. (Cet. 28. Hukum Islam dalam Era Pembangunan (Jakarta: Ind-Hill-CO. Hazairin. namun demikian keberadaan dan bentuknya masih sama dengan hukum adat yang tidak tertulis sebagaimana selayaknya peraturan perundang-undangan.20 2. 1995). I: Bandung: Raja Rosdakarya.

8 "Dalam hal terjadi perkara perdata antara sesame orang Islam. h. Dengan demikian. di samping dirancang untuk melumpuhkan system dan kelembagaan hukum Islam yang ada. 132 Notosusanto. yakni bahwa suatu sumber hukum baru dapat diterima hanya setelah diyakini. Hukum Islam sebagai sumber persuasif. mengingat ruang gerak hukum adapt sangat terbatas tidak seperti hukum Islam. maka dengan alasan hukum waris belum diterima sepenuhnya oleh hukum adat. yakni setelah kemerdekaan dapat dibagi pula ke dalam dua fase sebagai berikut: a. Organisasi dan Yurisprudensi Pengadilan Agama di Indonesia. 2. pemerintah Belanda kemudian menerbitkan Stbl. 9-10 24 . Dua periode kedua. maka pada fase ini hukum Islam mengalami kemunduran sebagai rekayasa Belanda yang mulai berkeyakinan. sehingga dalam kasus-kasus tertentu kemudian dibutuhkan hukum Barat. juga secara tidak langsung telah mengakibatkan perkembangan hukum Barat di Indonesia semakin eksis. (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Gajah Mada. Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia…. yang dalam hukum konstitusi disebut dengan persuasisive source.23 Berdasarkan ketentuan di atas. h. dan sejauh itu tidak ditentukan lain dengan sesuatu ordonansi".24 Dengan pemberlakuan teori Receptio tersebut dengan segala peraturan yang meninak-lanjutinya. akan diselesaikan oleh hakim agama Islam apabila hukum Adat mereka menghendakinya. 1937: 116 yang berisikan pencabutan wewenang Pengadilan agama dalam masalah waris (yang sejak 1882 telah menjadi kompetensinya) dan dialihkan ke Pengadilan Negeri. bahwa letak kekuatan moral umat Islam Indonesia sesungguhnya terletak pada komitmennya terhadap ajaran Islam. 1963). 23 Ismail Sunny.

yakni sebagai sumber hukum yang langsung memiliki kekuatan hukum. berubah menjadi sumber otoritatif. Hukum Islam sebagai sumber otoritatif. (Jakarta: Tinta Mas. mempunyai arti yang sangat penting bagi perkembangan sistem hukum di Indonesia. Suatu hal yang pasti adalah. Ia memerlukan upaya persuasif dan harus dilakukan secara terus menerus. Lihat: Hazairin. 26 Pada tahun 50-an menjadi penggagas pertama fiqhi Indonesia menjadi Mazhab Nasional.25 Namun setelah Dekrit yang mengakui bahwa Piagam itu menjiwai UUD-45. Teori itu sama Bandingkan paragraph pada UUD-45 yang kemudian menjadi sila pertama Pancasila sebagai Dasar Negara RI dengan rumusan dalam Piagam Jakarta: "…ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syarat Islam bagi para pemeluknya". h. Perubahan suatu produk hukum yang telah lama melembaga dalam tata-pola kehidupan bangsa adalah tidak mudah.9 b. berkedudukan sebagai sumber persuasuf UUD-45. simultan dan sistematis. Hendak ke Mana Hukum Islam. Bangsa Indonesia yang sebelumnya dikondisikan untuk mengikuti system hukum Belanda mulai berusaha untuk melepaskan diri dan berupaya untuk menggali hukum secara mandiri. Hal ini bukan berarti mengubahnya secara revolutif sebagaimana perolehan kemerdekaan itu sendiri. Upaya pertama yang dilakukan oleh pemerintah RI terhadap hukum Islam adalah pemberlakuan teori Receptio Exit gagasan Hazairin26 yang berarti menolak teori Receptio yang diberlakukan oleh pemerintah colonial Belanda sebelumnya. bahwa proklamasi kemerdekaan RI yang dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945. teori receptio itu memang sengaja diciptakan oleh Belanda untuk merintangi kemajuan Islam di Indonesia. 1976). Menurutnya. yang dalam hukum konstitusi dikenal dengan outheriotative source. Piagam Jakarta. 3-6 25 . sebelum Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959.

M. "Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh peradilan dalam lingkungan: 1) Peradilan umum. 220 Andi Rosdiyanah. Masa suram akibat politik kolonial Belanda. Kedudukan Hukum Islam dan Sistem Hukum di Indonesia…. di Ujung Pandang tanggal 1-2 Maret 1996. Aspek Kelembagaan Hukum dan Perundang-Undangan. h. 4) Peradilan Tata Usaha Negara. 2) Peradilan Agama. Masa pencerahan dengan menjadikan hukum Islam sebagai salah satu alternative utama yang dipercaya oleh pemerintah RI dalam upaya menciptakan hukum nasional. yakni bahwa hukum adat itu baru dapat diberlakukan jika tidak bertentangan dengan hukum Islam.27 Perkembangan hukum Islam menjadi semakin menggembirakan setelah lahirnya teori Receptio a Canirario yang memberlakukan hukum kebalikan dari Receptio. PELEMBAGAAN. 3) Peradilan Militer. bahwa perkembangan hukum Islam di Indonesia telah melampaui tiga tahapan: 1. Problematika dan Kendala yang Dihadapi Hukum Islam dalam Upaya Transformasi ke Dalam Hukum Nasional. 9-10. Masa penerimaan. PEMBAHARUAN DAN PENGEMBANGAN HUKUM ISLAM Diantara wujud kontribusi hukum Islam. Dari uraian di atas dapat disimpulkan. Dengan teori yang terakhir ini. 3. Daud Ali. 2. setidak-tidaknya dalam aspek penjiwaan dan nilai islami (khususnya bidang perdata karena bidang pidana untuk saat ini masih belum memungkinkan) terhadap hukum nasional adalah. 28 27 . 13-14.10 dengan teori IBLIS karena mengajak umat Islam untuk tidak mematuhi dan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.28 UU No. Makalah Disampaikan dalam seminar yang sama. Umar Shihab. 14 tahun 1970 tentang kekuatan-kekuatan pokok kekuasaan kehakiman pada pasal 10 ayat (1) diperundangkan. h. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional tentang Konstribusi Hukum Islam dalam Pembinaan Hukum Nasional Setelah 50 tahun Indonesia Merdeka. maka hukum Islam jadi memiliki ruang gerak yang lebih leluasa. C. h.

Namun demikian. 29 Pada masa kerajaan Islam dengan Tahkim sebagai lembaga peradilan dalam bentuknya yang masih sederhana dengan tokoh agama sebagai hakimnya. Pembaharuan hukum Islam di Indonesia. Ramadani. Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional…. Pengantar dan Asas-Asas Hukum Islam di Indonesia (Cet. maka selain lebih mempertegas keberadaan lembaga Peradilan Agama dalam system pengadilan nasional. 7 1989. Selanjutnya dengan disahkannya pula UU No. juga telah membatalkan segala peraturan tentang Peradilan Agama yang telah ada sebelumnya. 4 . h. 27 Desember 1949 Pemerintah RI melalui Undang-Undang Darurat No. h. UU ini telah terkodifikasikan serta terunifikasikan dalam UU No. Sehingga menjadi undang-undang tertulis dan berlaku bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. 1990). 638 dan 639 tentang Peradilan Agama di Kalimantan Selatan. 152 jo stbl 1937 No. menegaskan kembali pendiriannya untuk tetap memberlakukan Peradilan Agama. 116 tentang Peradilan Agama di jawa dan Madura. Undang-undang ini telah terlahirkan setelah melalui berbagai perjuangan yang panjang nan sulit penuh liku dalam tiga zaman: zaman Kolonial Belanda. dan pasca kemerdekaan. secara substansial terdapat bagian-bagian tertentu yang hanya berlaku khusus bagi masyarakat Islam saja.11 Dari sudut pelembagaan. setidak-tidaknya telah diterbitkan tiga peraturan perundang-undangan yang mengatur Peradilan Agama di Indonesia. yaitu: stbl 1882 No.29 zaman pendudukan Jepang. Stbl 1937 No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Pada tahun 1946. UU No. pemerintah RI mulai menyerahkan pembinaan Peradilan Agama dan Kementerian Kehakiman kepada Kementrian Agama melalui Peraturan Pemerintah No. Solo: CV. Lihat: Syadzali Musthofa. 59 30 Amrullah Ahmad. Sebagai tindak lanjut dari penegasan tersebut. II. 5/SD/194630 kemudian setelah pengakuan kedaulatan. 1 tahun 1951.

h. Kedudukan Kompilasi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional. maka tajdid yang dimaksud bisa berbentuk pikiran atau gerakan (dalam bidang hukum Islam) yang ingin merubah faham atau fikiran lama yang bersumber dari ketentuan yang bersifat zanni (aspek muamalat) yang bukan yang bersifat qath'i untuk disesuaikan dengan tuntutan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan zaman dan budaya lokal di Indonesia. h. masalah tajdid itu muncul terutama setelah Islam sebagai agama dan sekaligus tradisi akbar. aliran. pembinaan dan pembentukan hukum nasional. modernisasi dan modernisme. Sejarah Pemikiran dan Gerakannya (Jakarta: Bulan Bintang. h. berhadapan dengan berbagai budaya local. (ed). 1966). Suatu Tunjauan dari Sudut Perundang-Undangan Indonesia. Pembaharuan dalam Islam. bukan Kepres. Tajdid yang dalam istilah Indonesia dikenal dengan modern. dan sebaginya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu-pengetahuan dan teknologi modern.32 Dalam bidang hukum Islam (khususnya di Indonesia). baik di dunia Timur maupun Barat. dalam Amrullah Ahmad dkk. gerakan dan usaha untuk merubah faham-faham. (Jakarta: Akad: Mika Pressindo. bukan peraturan-peraturan pemerintah. 1975). Atamimi. 11 32 Amien Rais. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional. modernisme itu berarti fikiran. Hamid S. 1995). Lihat: A. 116 33 Karenanya. dan seterusnya. insitusi-institusi lama.34 dan kemudian disusun secara sistematis menyerupai Harun Nasution. 31 . h. adpat istiadat. dalam rangka pembangunan. Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang terlahir berdasarkan Inpres No.12 Istilah pembaharuan merupakan terjemahan dari bahasa Arab. Dalam masyarakat Barat. dari segi kedudukan belum menjadi UU bukan hukum tertulis meskipun dituliskan. Antara Cita dan Fakta (Cet VIII. 15-20. Bandung: Mizan. 1 Tahun 199133 yang berisikan rangkuman berbagai pendapat hukum dari kitabkitab fiqhi untuk dijadikan sebagai pertimbangan bagi hakim agama dalam mengambil keputusan. Cakrawala Islam.31 Sedangkan dalam pemikiran Islam. 152 34 Abdurrahman. berbagai faham non Islam dan aneka bentuk pemerintahan yang ada.

maka sangat dimungkinkan hukum Islam di Indonesia kemudian berkembang sesuai dan seiring dengan perubahan sosial terutama di era globalisasi saat ini. interpretasi dan refleksi terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan dalam arti luas (bukan hanya dalam bidang hukum saja. h. budaya dan sebagainya). 444 35 . Krisis relevansi dalam Islam muncul akibat pemahaman yang sempit terhadap ajaran Islam. karena sebelumnya memang tidak dikenal dalam tata hukum nasional. pelarangan perkawinan berbeda agama. lihat: John Obert Voll dalam Ajat Sudrajat.13 kitab perundang-undangan. 1977). juga beberapa materi muatannya memang termasuk baru. Lihat: Pengantar Amin Rais dalam Fathurrahman Djamil. 1995). x.36 Kebangkitan baru intelektualisme Islam untuk melakukan pembaharuan itu ditandai dengan munculnya berbagai pemikiran keislaman yang memberikan formulasi. Uraian lebih lanjut. 7 1989 tentang Peradilan Agama. Dimana kemajuan teknologi informasi seringkali dapat menimbulkan pergeseran nilainilai yang semula dianggap sudah sangat mapan. Jika umat Islam tidak cepat mengantisipasi perubahan sosial tersebut dan sekaligus mencari solusi dan pemecahan yang tepat. Disebut sebagai pembaharuan. h. dan PP No. adalah merupakan salah satu kontribusi pembaharuan hukum Islam di Indonesia. 36 Uraian lebih lanjut. Dikatakan baru. Produk lain yang masih termasuk ke dalam bagian ini misalnya adalah UU No. Metode Ijtihad Majlis Tarjih Muhammad (Jakarta: Logo Publishing House. khususnya bagi masyarakat Islam Indonesia. karena di satu sisi gagasan keberadaan KHI tersebut tidak pernah tercetus secara resmi sebelumnya (meskipun materi perbandingan mazhab sudah lama dikenal). maka tidak mustahil Islam akan dilanda krisis relevansi (crisis of relevance)35 dan akihrnya tersisihkan serta ditinggalkan orang. seperti ahli waris pengganti. dan sebagainya. terdiri dari bab-bab dan pasal-pasal. Politik Islam: Kelangsungan dan Perubahan di Dunia Islam (Yogyakarta: Titian Ilahi Press. namun juga dalam bidang yang lain: politik. 28 tentang Wakaf tanah milik. Dengan telah adanya berbagai pembaharuan tersebut.

h. 2. 1971). h. bahkan dari kalangan intelektual yang masih bersikukuh mempertahankan intepretasi ajaran lama dan tidak terbuka terhadap gagasan-gagasan baru. Tujuan Serangkai Tentang Hukum. V: Bandung: Mizan. (Jakarta: Tinta Mas. namun yang sangat keras justru dari pada cendekiawan. 1994).38 Namun kenyataan menunjukkan. khususnya dalam bidang hukum Islam adalah penetapan terhadap gagasan fiqhi bercorak keindonesiaan oleh Hazairin dengan mazhab Nasional39 dan Hasbi Ash-Shiddieqy dengan Fiqhi Indonesia. (Cet 1: Bandung Mizan. Hendak Kemana Hukum Islam.37 Penyebabnya cukup variatif. Sebagai contoh konkrit. sejarah sering menyajikan fakta yang cukup menyedihkan tentang nasib para penggagas pembaharuan. Fazlur Rahman di Pakistan dan Nurcholis Madjid di Indonesia. Islam dan Tantangan Modernisasi: Studi Atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman (Cet.42 Mereka itu antara lain Muhammad Abduh dan Ali Abd Roziq di Timur Tengah. 104-105. h. serta terlepas dari realita. bahwa masih ada sebagian umat Islam. diantaranya adalah penafsiran pembaharuan itu dengan istilah yang provokatif. h. I: Yogyakarta: Pustaka Pelajar. mengerti dan memecahkan berbagai persoalan yang baru. Jeram-Jeram Peradaban Muslim (Cet. Uraian selengkapnya lihat: Munawir Sjadzali. h. Mata Rantai yang Hilang. 1994).40 Penentangan itu bukan hanya dari kalangan awam. 1996). h.14 Namun demikian. Muhammad Kamal Hasan. Menggagas Fiqhi Indonesia. seperti Ali Yafie41 walaupun belakangan nampak adanya kecenderungan untuk mendukungnya. II. Aliran Modern dalam Islam (Jakarta: Rineka CIpta. Pembaharuan kemudian dianggap oleh sebagian orang sebagai upaya menggugat keabsahan sumber ajaran Islam yang telah diyakini sudah sangat benar dan mapan. 107-122 37 . 41 Ali Yafie. Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: UI Press. baik di Indonesia maupun di tempat lain. 45-46 42 Ali Yafie. Sesungguhnya keadaan Islam dan masyarakat Islam di masa depan sangat tergantung pada kecakapan para intelektualnya dalam menghadapi. 150151. Islam dan Tata Negara: Ajaran. 44 39 Hazairin. Munir dan Sudarsono. 236. 1985. yang dengan konotasi tertentu dapat menimbulkan kecurigaan dan kesalahpahaman. 1991). Muslim Intelektual Response to New Modernization (terj) oleh Ahmadie Thaha (Jakarta: Lingkaran Studi Indonesia. h. 1994). Vol. 115 40 Nouruzzaman Shiddieqy. 21. Taufik Adnan Amal. yang dianggap terlalu liberal. elitis dan tidak membumi. Dalam Pesantren No. h. 38 A. 1987).

Aspek ini berkaitan dengan kehidupan hukum di Indonesia yang menjadi kendala bagi prospek penerapan hukum Islam sebagai hukum positif di Indonesia. h. kapan pun dan di Bandingkan dengan Muin Salim. QS. Jilid I (Cet II: Beirut: Maktabah alImam. 1987). Keduanya berkaitan dengan hukum Islam dan umat Islam yang berperan sebagai pendukung prospek hukum Islam di Indonesia.44 b. Aspek kekuatan dan peluang. Al-Muwafaqat fi Usul al-Syare'ah. 1994). Al-Qur'an dan hadits. yang selain memuat ajaran tentang aqidah dan akhlaq. Ketiga esensi ajaran ini telah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam Islam. setidaknya ada dua aspek yang perlu untuk dikedepankan: 1. (Jakarta: FP-IKAHA.45 Dengan demikian. Jalan Mencari Hukum Islam Upaya ke Arah Pemahaman Metodologi Ijatihad. tujuan dan asas hukum Islam. maka produk-produk hukumnya akan senantiasa sesuai dengan kebutuhan normal manusia. Jilid II (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. tt). asas dan tujuan-tujuannya. h. Konstitusionalisasi Hukum Islam di Indonesia (Makalah). 3-5 44 Tentang Prinsip. baik bidang perdata maupun pidana. 3-4. sesuai dengan fitrah dan kodratnya yang karenanya sangat menganjurkan berbuat kebaikan. PROSPEK HUKUM ISLAM DI INDONESIA Dalam membicarakan prospek hukum Islam di Indonesia. 2: 195 43 . Aspek kelemahan dan hambatan. h. 2. Syareat Islam datang untuk kebaikan manusia semata. Adapun aspek kekuatan43 a. h. 266.15 D. dan melarang perbuatan yang merusak. juga memuat aturan-aturan hukum kemasyarakatan. dalam Aspek Hukum Islam dalam Kerangka Pembangunan Hukum Nasional di Indonesia. Rahmat Djarmika. bisa ditelaah selengkapnya dalam: Abu Ishaq al-Syatibi. Ketiganya bagaikan segi tiga sama kaki yang saling mendukung yang daripadanya kemudian lahir prinsip-prinsip hukum dalam Islam. 146-157 45 Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad bin Hanbal.

48 Andi Rasdiyanah. yang merumuskan keadaan hukum nasional Indonesia pada masa lalu. Aspek-aspek kekuatan tersebut akan semakin eksis dengan memperhatikan beberapa aspek pendukung sebagai berikut: a. yang tertuang dalam Pembukaan UUD-45 sebagai dasar Negara.48 telah mendudukkan agama (terutama pada sila pertama) pada posisi yang sangat fundamental. pertama dan utama. yang sila-silanya merupakan norma dasar dan norma tertinggi bagi berlakunya semua norma hukum dasar Negara. Dalam sejarah perjalanan hukum di Indonesia. keberadaan hukum Islam dalam hukum nasional merupakan perjuangan eksistensi. 1. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Makalah disampaikan pada upacara pembukaan Seminar Nasional tentang Kontribusi Hukum Islam Terhadap Terwujudnya Hukum Pidana Nasional yang Berjiwa Kebangsaan. baik dalam bentuk UU maupun IP. 7 1992 tentang Bank (Muamalat). 1. tahun 1991 tentang Sistem Pendidikan Nasional.47 merupakan bukti nyata tentang kekuatan dan kemampuan hukum Islam dalam berintegrasi dengan hukum nasional. UU No. Pancasila. Telah terwujudnya kontribusi hukum Islam dalam hukum nasional. baik dalam hukum tertulis maupun tidak tertulis. bahwa hukum Islam itu ada di dalam hukum nasional. 2 Desember 1995. IP No. masa kini dan akan datang. dalam berbagai lapangan kehidupan hukum dan praktek hukum. bahwa secara filosofis-politis hubungan Pancasila dengan agama sangat erat.16 man apun sebab syareat Islam dibangun di atas dan demi kebaikan manusia itu sendiri sehingga akan tetap diminati. Andi Rasdiyanah. 5-6 Seperti UU No.46 d. Yogyakarta. Kontribusi Hukum Islam dalam Mewujudkan Hukum Pidana Nasional. serta UU No. tahun 1974 tentang Perkawinan. Problematika dan Kendala…. 4 47 46 . h. karena menempatkannya pada posisi sentral. h. Hal ini berarti. c. serta memasukkan ajaran dan hukumnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

antara lain disebutkan: "…berfungsinya system hukum yang mantap. 1993-1998 (Surabaya: Bina Pustaka Tama. Dengan memperhatikan berbagai aspek tersebut di atas. 33-34 50 Penjelasan lebih lanjut tentang aspek kelemahan dan kendala tersebut. masing-masing daerah terkadang mempunyai kondisi yang saling berbeda yang menyebabkan upaya pengintegrasiannya ke dalam hukum nasional harus dipilih. h. diberi dan memiliki peluang besar untuk mewarnai hukum nasional. 11-14. Di samping itu. bahwa hukum Islam termasuk ke dalam tatanan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Dzat Yang Maha Sempurna dalam segala-Nya. yang mampu menjamin kepastian.49 Dari muatan GBHN tersebut. Dalam GBHN 1993-1998. tt). agama dan kepercayaan. Garis-Garis Besar Haluan Negara Republik Indonesia. kebenaran dan seterusnya sebagaimana yang diinginkan oleh hukum itu sendiri. juga budaya. ajaran (termasuk hukum) Islam yang merupakan agama anutan mayoritas penduduk Indonesia. Konstitusionalisasi Hukum Islam di Indonesia. tanggal 13 Juli 1996. dalam masyarakat Islam sendiri. b. makalah disampaikan dalam Seminar Nasional dan Kongres I Forum Mahasiswa Syari'ah se Indonesia. h. mana yang sudah bisa diunifikasikan dan yang belum bisa.17 Dengan demikian. tampak jelas adanya peluang hukum Islam untuk ikut andil dalam pembangunan hukum nasional. maka dapat disimpulkan bahwa prospek hukum Islam dalam pembangunan hukum nasional sangat cerah dan baik. Nasaruddin Umar. ketertiban. yang mampu menjamin kepastian. h. Majlis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. ketertiban…". Namun demikian. bukan berarti tanpa ada kelemahan dan kendala sama sekali yang memungkinkannya dapat berjalan mulus. keadilan. 6-7 49 . Kemajuan bangsa. Semua itu terjadi karena hukum Islam bersumber dari syareat sebagaimana telah dipaparkan di atas. bersumberkan Pancasila dan UUD 1945 dengan memperhatikan tatanan hukum yang berlaku. Problematika dan Kendala. di Ujung Pandang. dapat dilihat dalam: Andi Rasdiyanah. Diantara kelemahan dan kendala itu50 adalah: a. Hal ini mengingat. yang selain melahirkan pluralisme etnis. sesuai dengan ajaran Allah.

Konstitusional Hukum Islam di Indonesia. barangkali akibat trauma masa lalu oleh adanya kelompok ekstrim Islam dengan cara kekerasan (seperti DI/TII) dan terakhir oleh kelompok Imam Samudra dan Amrozi sehingga mengakibatkan kekacauan berkepanjangan. sangat dimengerti jika kemudian tidak senang terhadap pemberlakuan (setidaknya penjiwaan) hukum Islam pada hukum nasional. 51 . Bagi masyarakat non Islam.18 b. baik dalam hukum Islam maupun hukum umum yang mencakup Perihal tawaran solusi di atas. seperti melemahnya penguasaan bahasa Arab dan metode istinbat. bahkan di kalangan cendikiawan muslim sendiri disebabkan oleh banyak faktor. Konstitusionalisasi Hukum Islam di Indonesia. Lemahnya pemahaman dan penguasaan hukum Islam. dan diperparah dengan masih dianutnya kebijaksanaan tentang hukum colonial yang dilanjutkan di dalam Peraturan Perundang-undangan Baru (UUPA). juga kasusnya memang berbeda sekali (seperti rekayasa Iptek dalam reproduksi manusia). Abu Mu'in Salim. 8-9. h. h. maka beberapa solusi51 kemungkinan dapat dipertimbangkan. d. cerai dan rujuk). sementara pemerintah sendiri nampaknya belum mempunyai kemauan politik yang kuat untuk memberlakukannya (terutama dalam bidang pidana). antara lain: 1) Mengadakan pembaharuan yang radikal terhadap pendidikan hukum. sementara hukum Islam yang banyak beredar berbentuk fiqhi klasik harus berhadapan dengan berbagai kasus baru yang sangat memerlukan ijtihad baru. 11-12. Untuk menanggulangi berbagai hambatan dan kendala di atas. yang memperbolehkan umat Islam untuk memilih antara Peradilan Agama dengan Pengadilan Umum. Lemahnya kesadaran masyarakat Islam sendiri (kecuali di NAD berdasarkan otonomi khsusus yang masih dalam taraf uji-coba dan nampak masih setengah hati) terhadap pentingnya memberlakukan hukum Islam (kecuali dalam nikah. selain karena sudah tidak terkait lagi dengan fatwa ulama' mujtahidin terdahulu. bandingkan dengan pemaparan Nasaruddin Umar. c.

sehingga dapat mencetak para sarjana hukum yang handal. Berbagai kebijakan dan kebijaksanaan pemerintah selaku penyelenggara Negara yang memberi peluang bagi berperannya hukum Islam. seminar dan sejenisnya antara pakar hukum Islam dengan sesamanya. 3. antara lain: 1. PENUTUP Berdasarkan berbagai uraian di atas. Kesimpulan tersebut didasarkan pada berbagai kenyataan positif. sehingga selain dapat lebih meningkatkan kualitas iman juga kesadaran untuk melaksanakan secara hukum secara maksimal. Telah terwujudnya berbagai peraturan dan perundang-undangan yang membuat hukum Islam menjadi lebih eksis sebagai sub system dalam system hukum nasional. . 2) Mewujudkan integritas kelembagaan antara fakultas Syari'ah sebagai Pembina hukum Islam dengan fakultas hukum umum sebagai Pembina ilmu hukum. produktif.19 pola dan kurikulum. maka dapat disimpulkan bahwa prospek penerapan hukum Islam di Indonesia cukup cerah. dan dengan pakar hukum umum untuk menemukan kesamaan visi dan persepsi dalam rangka membangun hukum nasional. 2. 3) Menggalakkan dialog. E. Adanya upaya yang cukup maksimal dari kalangan umat Islam dan pakar hukum Islam melalui dakwah dan pendidikan. responsif dan antisipatif terhadap perkembangan sosial masyarakat.

jazakumullah khairal jaza.20 Sekian semoga bermanfaat bagi semuanya. .

1984). 1992). Mura. 1992) Djamil. Ilmu Ushul al-Fiqhi. Wahab. Amal. 1985) . Falsafah Hukum Islam. 1994) Ash-Ashiddieqy. Tujuh Serangkai Tentang Hukum (Jakarta: Tintamas. Hendak Kemana Hukum Islam. (Jakarta: Risalah. Ahmad.21 DAFTAR P USTAKA Abdurrahman. Jakarta: Bulan Bintang. dalam Prospek Hukum Islam dalam Kerangka Pembangunan Hukum Nasional di Indonesia. 1987) Hazairin. Bustanul Arifin Pemikiran dan Peranannya dalam Pelembagaan Hukum Islam dalam Prospek Hukum Islam dalam Kerangka Pembangunan Hukum Nasional di Indonesia. Hukum Islam dalam Era Pembangunan (Cet I. Amrullah dkk. Jilid I (Cet II: Beirut: Maktabah alImam. 1994) Khallaf. Makalah disampaikan pada Pendidikan Kader Ulama di Jakarta. (Kuwait: Dar al-Qalam. dkk. (Cet III. Upaya ke Arah Pemahaman Metodologi Ijtihad. 1978) Hanbal. 1995) Djatmika. Ahmad. 1994) Ali. Hasbi. Bandung: Mizan. Jalan Mencari Hukum Islam. (Jakarta: Tintamas. (Cet V. Taufiq Adnan. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Akademi Pressindo. Rahmat. Abd. _________________. (Jakarta PP-IKAHA. Penerapan Hukum Islam dalam Negara Republik Indonesia. tanggal 17 Mei 1995. Kedudukan Hukum Islam dan Sistem Hukum di Indonesia. Musnad Ahmad bin Hanbal. Muhammad Daud. 1976) ______. 1971) Hutagalung. Fathurrahman. Jakarta: Ind-HillCO. 1988) Daliyo JB. Islam dan Tantangan Modernisasi: Studi Atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman. (Jakarta: PP-IKAHA. Pengantar Ilmu Hukum (Jakarta: Gramedia. Metode Ijtihad Majlis Tarjih Muhammadiyah (Jakarta: Logos Publishing House.

Organisasi dan Yurisprudensi Peradilan Agama di Indonesia (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Gajah Mada. No. Raharjo. Politik Islam. dalam Hukum Prospek Hukum Islam dalam Kerangka Pembangunan Hukum Nasional di Indonesia.22 Ichjianto. 1988) Notosusanto. Kelangsungan dan Perubahan di Dunia Islam. (Surabaya: Bina Pustaka Tama. 1994) Nasution. Makalah Disampaikan pada upacara Pembukaan Seminar Nasional tentang Kontribusi Hukum Islam Terhadap Terwujudnya Hukum Pidana Nasional yang Berjiwa Kebangsaan. dalam Analisis CSIS. . Ujungpandang. 2 Desember 1995. 1991) Salim. Ujung Pandang. Garis-Garis Haluan Negara Republik Indonesia. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syariah. Tjun Surjaman (ed). Jilid II. (Yogyakarta: Titian Ilahi Press. Abu Ishaq. Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: UI-Press. dan Sudarsono. tt) Sudrajat. Konstitusionalisasi Hukum Islam di Indonesia. Kontribusi Hukum Islam dalam Mewujudkan Hukum Pidana Nasional. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Tentang Kontribusi Hukum Islam dan Pembinaan Hukum Nasional Setelah Limapuluh Tahun Indonesia Merdeka. Tinjauan Kritis Terhadap Pembangunan Hukum Indonesia. tt) Munir A. Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Islam dan Tata Negara: Ajaran. Suny. Muin. (Beirut: Dar alKutub al-Ilmiyah. Satjipto. UII-Yogyakarta. Pengembangan Teori Berlakunya Hukum di Indonesia dalam buku Hukum Islam di Indonesia. 13-15 Juli 1995. Andi. (Bandung: Remaja Rosdakarya. Syatibi. 1993-1998. 1-2 Maret 1996. Munawir. Aliran Modern dalam Islam (Jakarta: Rineka Cipta. _____________. 1 Januari-Pebruari 1993. 1991) Majlis Permusyawaratan Rakyat Indonesia. Harun. 1963) Rasdiyanah. Ajat. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional dan Kongres I Forum Komunikasi Mahasiswa Syariat se-Indonesia. Pembaharuan dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang. Problematika dan Kendala yang Dihadapi Hukum Islam dalam Upaya Transformasi ke Dalam Hukum Nasional. Ismail. 1977) Syaczali.

13-15 Juli 1995. Jakarta: PT. Nasaruddin. 16 Mei 1994. Bandung: Mizan. Jeram-Jeram Peradaban Muslim (Cet I: Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rais. Nouruzzaman. 1991) Yafie Ali. Raja Grafindo Persada.23 Shihab. 2 Vol II. Umar. Hukum Islam di Indonesia (Cet I. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional dan Kongres I Forum Komunikasi Mahasiswa Syariah se-Indonesia. Kontribusi Hukum Islam Terhadap Hukum Nasional. Hukum Islam. Matarantai yang Hilang. dalam Pesantren No. Makalah disampaikan pada Seminar Konsep Keadilan dalam Perspektif Hukum. Aspek Kelembagaan Hukum dan Perundang-undangan. 1994) Rafiq. Abdurrahman. _______. Antara Cita dan Fakta (Cet VIII. Speyoeti. Pemikiran dan Praktek (Bandung: Remaja Rosdakarya. Bandung: Remaja Rosdakarya. Zarkowi. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional tentang Kontribusi Hukum Islam dalam Pembinaan Hukum Nasional Setelah Lima Puluh Tahun Indonesia Merdeka. 1996) Praja Juhana S. Ujungpandang. 1-2 Maret 1996. Bandung: Mizan. Ahmad. Konstitusionalisasi Hukum Islam di Indonesia. Shiddieqy. 1996) Umar. IAIN Sunan Ampel Gunungjati-Bandung. 1985. 1995) Wahid. Ujungpandang. Cakrawala Islam. Kontroversi Pemikiran Islam di Indonesia (Cet I. 1994) . Amin. Menggagas Fiqhi Indonesia (Cet I.

Pembaharuan. Eksistensi.24 HUKUM ISLAM DI INDONESIA (Tinjauan Terhadap Esensi. Pengembangan dan Prospek Penerapannya) MAKALAH Disampaikan Pada Diskusi Ilmiah Yang diselenggarakan Oleh Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama Republik indonesia Di The SUN Hotel Jl. Pelembagaan. Djamaluddin Miri MAHAD ALI HASYIM ASY'ARI PONDOK PESANTREN TEBU IRENG JOMBANG 2010 . Pahlawan No. 1 Sidoarjo Pada Tanggal 18 – 20 Februari 2010 Oleh : M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful