Heparin-Binding Protein: Petanda Awal dari Kegagalan Sirkulasi pada Sepsis

Latar belakang. Deteksi awal dari kegagalan sirkulasi pada pasien dengan sepsis sangatlah penting untuk keberhasilan terapi. Heparin-binding protein (HBP), yang dilepaskan oleh netrofil yang teraktivasi, adalah pemicu kebocoran vaskuler yang sangat kuat. Penelitian ini menyelidiki apakah kadar HBP plasma dapat digunakan sebagai petanda diagnostik awal untuk sepsis berat dengan hipotensi. Metode. Penelitian prospektif dilakukan terhadap 233 orang pasien dewasa yang demam dan dicurigai mengalami infeksi. Seluruh pasien dikelompokkan menjadi 5 kelompok kriteria dasar sindrom respon inflamasi sistemik, kegagalan organ, dan diagnosis akhir. Sampel darah yang diambil saat perekrutan diperiksa kadar HBP, procal-citonin, interleukin-6, C-reactive protein, dan jumlah sel leukositnya. Hasil. Dua puluh pasien didiagnosis dengan sepsis berat dan syok septik, 44 pasien dengan sepsis berat tanpa syok, 100 pasien dengan sepsis, 43 pasien dengan infeksi tanpa sepsis, dan 20 pasien dengan respon inflamasi yang disebabkan oleh penyakit noninfeksi. Kadar HBP plasma > 15 ng/ml adalah indikator yang lebih baik pada sepsis berat (dengan atau tanpa syok septik) dibandingkan parameter laboratorium lain yang diperiksa (sensitivitas 87,1%; spesifisitas 95,1%; nilai prediktif positif 88,4%; nilai prediktif negatif 94,5%). Tiga puluh dua dari 70 pasien dengan sepsis berat diambil contoh sampai selama 12 jam sebelum tanda-tanda kegagalan sirkulasi muncul, dan 29 dari pasien ini didapatkan peningkatan dari kadar HBP dalam plasma. Kesimpulan. Pada pasien demam, kadar HBP dalam plasma yang tinggi membantu mengidentifikasi pasien sepsis yang berisiko berlanjut dengan kegagalan sirkulasi.

Mekanisme molekuler yang memicu kebocoran endotel kapiler pada sepsis memiliki peranan penting. Ekstravasasi dari plasma dan sel darah putih menuju focus infeksi merupakan suatu tahap penting dalam proses inflamasi (1). Walau

Pada pasien dengan syok septik telah ditunjukkan bahwa tingkat mortalitas berhubungan dengan waktu antara menurunnya tekanan darah sistolik dan mulai diberikannya terapi antibiotik (9). sepsis berat memiliki cirri khas yakni peningkatan permeabilitas vaskuler yang tidak terkendali. interleukin-6.5). HBP juga disekresikan ketika netrofil diaktifkan oleh kompleks protein sirkulasi yang dibentuk oleh protein M streptokokal dan fibrinogen. Tugas yang penting dari seorang klinisi yakni mengenali sepsis sebelum berlanjut ke stadium yang lebih berat dengan tanda-tanda gagal sirkulasi. mengakibatkan hipotensi. Diagnosis sepsis seringkali sulit ditegakkan dan bergantung terutama pada parameter klinis dan tes laboratorium standar. merupakan mediator inflamasi yang mempunyai kemampuan menyebabkan kebocoran vaskuler (2). triggering expressed on myeloid cells-1. laktat. Dengan demikian. hipoksia. Bagaimanapun. HBP yang juga dikenal sebagai azurocidin dan CAP 37. protein ini menggambarkan calon petanda baru yang . Procalcitonin.bagaimanapun. suatu mekanisme virulen yang mengakibatkan kerusakan organ berat yang ditunjukkan secara in vivo (4. dan C-reactive protein merupakan petanda-petanda yang sudah disarankan oleh peneliti-peneliti yang lain (10-14). Protein tersebut terkandung dalam granula sekretorik dan azurofilik pada neutrofil manusia (3) dan disekresikan selama stimulasi dari integrin b2 leukositik. yang mengakibatkan terputusnya pertahanan sel dan peningkatan pengaliran makromolekul kembali (2). Pertimbangan mengenai pengaruh dari HBP terhadap permeabilitas kapiler dan pelepasannya oleh netrofil yang teraktivasi. dan disfungsi organ. dan dan berfungsi pada jalur parakrin. Mortalitas yang berkaitan dengan sepsis masih sangat tinggi meskipun kesadaran terhadap diagnosis dan kemajuan terbaru strategi penatalaksanaan juga meningkat (6-8). HBP menyebabkan penyusunan kembali sitoskeleton dari sel endotel. peralatan molekuler yang reliabel untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko berlanjut menjadi sepsis berat diantara pasien-pasien yang menunjukkan demam dan tanda-tanda respon inflamasi sistemik akan menurunkan lamanya waktu yang diperlukan untuk terapi yang adekuat dan dapat menjadi pertimbangan secara klinis. gangguan mikrosirkulasi. Ini menunjukkan bahwa pelepasan HBP terjadi selama adhesi netrofil pada sel endotel.

dan frekuensi respirasi diukur tiap jam selama12 jam berikutnya. sel darah putih >12 x 109 sel/L atau <4 x 109 sel/L. Terapi imunosupresif. 216 pasien telah didaftar. Kriteria inklusinya adalah suhu > 380C dan dicurigai terkena infeksi oleh dokter yang hadir. suhu tubuh. jenis kelamin. dan diagnosis akhir. tekanan darah sistolik. dilakukan penelitian terhadap kadar HBP dalam plasma pada pasien suspek infeksi dan dan dilakukan analisis terhadap nilai dari pengukuran HBP dalam memprediksi dan mendiagnosis kasus sepsis berat dengan kegagalan sirkulasi. nadi >90 kali/menit. dan usia < 18 tahun. Usia. suhu tubuh >380C. untuk meningkatkan jumlah pasien dengan penyakit yang lebih berat. Pada penelitian yang terbaru. dan pada kriteria eksklusi dasar 233 pasien dapat dinilai. dengan menggunakan prosedur mikrobiologis standar dan radiologis. Dua ratus tiga puluh tiga pasien dewasa febris yang secara klinis suspek terkena infeksi dimasukkan dalam sampel prospektif nonconsecutive convenience di Klinik Penyakit Infeksi Rumah Sakit Universitas Lund (Lund. Pasien rawat inap. Mulai Maret 2006 sampai April 2007. METODE Populasi penelitian. dan respirasi >20 kali/menit (15)} atau hipotensi yang signifikan (tekanan darah sistolik <90mmHg) atau penurunan lebih dari 40mmHg dari harga normal. Kriteria eksklusinya adalah terapi antibiotik selama > 24 jam. Diagnosis akhir dari pasien-pasien ini dibuat oleh dokter-dokter yang hadir dan tidak mengetahui hasil penelitian. Setelah analisis sementara. ada atau tidaknya gagal organ. dan mortalitas dalam rumah sakit juga dicatat. nadi dan respirasi. Dengan kriteria dasar munculnya SIRS. Protocol penelitian ini telah disetujui oleh komite etik Rumah Sakit Universitas Lund dan informed consent diambil dari seluruh pasien atau dari keluarga dekat. pasien-pasien dikategorikan menjadi berbagai kelompok menurut kriteria American College of Chest Physicians/Society of Critical Care Medicine . Pada saat pendaftaran. netropenia yang disebabkan oleh keganasan hematologi. kriteria inklusi kemudian ditambahkan: >3 tanda-tanda dari respon inflamasi sistemik {SIRS. Itulah sebabnya total 248 pasien diikutsertakan dalam penelitian April 2008. serta angka leukosit dicatat.menarik. Swedia). frekuensi nadi.

pH 9. microtiter plates (Nunc) dilapisi antibodi monoclonal tikus yang langsung menghancurkan HBP dari manusia (2F23A) pada konsentrasi 1.5 ml natrium sitrat 0.05%. dan (5) SIRS tanpa infeksi. Analisis kadar BHP. Tabung segera disentrifugasi pada kecepatan 2000 g selama 10 menit. Antibodi terdeteksi melalui inkubasi dengan antibodi terkonjugasi peroksidase melawan imunoglobulin G dari kelinci (diencerkan . dan tidak ada gagal organ ataupun gagal organ yang berlanjut. Sampel darah yang digunakan untuk analisis kadar protein plasma dan laktat dikumpulkan pada saat pendaftaran dalam tabung vacutainer plastic 5 ml yang mengandung 0. ditambahkan dua kali lipat. Ringkasnya.05% dan diblok dengan albumin serum dari sapi (Sigma) dalam garam buffer fosfat ditambah Tween 0. dan aliquot yang terpisah dari supernatan plasma disimpan dalam suhu -700C sampai dilakukan analisis. (4) infeksi tanpa SIRS. termasuk penyakit noninfeksi dan memenuhi 2 kriteria SIRS. Konsentrasi HBP ditentukan dengan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) (3). Sepsis berat didefinisikan sebagai penyakit infeksi. Setelah dicuci. termasuk penyakit infeksi. Dua puluh tujuh pasien diambil sampel darah serial dan dikumpulkan samapai 96 jam. (3) sepsis. Pasien-pasien tersebut dibagi menjadi kelompok-kelompok: (1) sepsis berat dengan syok septik.129 mol/l. dan diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37 0C.6). plat diinkubasi dengan antiserum monoklonal kelinci (diencerkan 1:7000) yang langsung menghancurkan HBP manusia (17). protein plasma lain. (2) sepsis berat tanpa syok septik. dengan paling tidak memenuhi 2 kriteria SIRS. Plat dicuci dengan menggunakan garam buffer fosfat ditambah Tween 0.0 µl/ml dalam buffer (0. dan adanya atau berlanjutnya hipotensi. Sampel plasma pasien diencerkan 1:40 dalam buffer inkubasi. Syok septic didefinisikan sebagai sepsis berat yang disertai hipotensi yang memerlukan bantuan vasopresor atau hipotensi yang persisten selama 11 jam meskipun telah diresusitasi cairan dengan adekuat.05 mol/L NaHCO3. tiap plat mengandung sampel kalibrasi yang telah diketahui konsentrasi HBP manusia rekombinannya (0-600 ng/ml) (16). memenuhi paling tidak 2 kriteria SIRS.(15). dan laktat. dan/atau gagal organ dalam waktu 24 jam setelah pengambilan sampel darah.

a Nilai P untuk membandingkan antara 2 kelompok sepsis berat (n=70) dan kelompok sepsis (n=100) dengan menggunakan analisis nonparametrik MannWhitney . Analisis protein (Roche Diagnostics). URTI. Plat dikembangkan dan densitas optikal 420 nm ditentukan seperti yang dijelaskan di tempat lain (3). skin and soft-tissue infection. urinary tract infection. upper respiratory tract infection. SSTI. Interleukin (IL)-6 diukur dalam plasma (diencerkan 1:40 dalam garam buffer fosfat) dengan ELISA berlapis kuantitatif (Quantikine. Karakteristik Populasi Penelitian Keterangan.1:3000) (Bio-Rad). Table 1. Kadar HBP pada tiap sampel pasien ditentukan dengan menghitung rata-rata densitas optik dari duplikatnya. Variasi dari hari ke hari dari pemeriksaan memiliki koefisien varian < 5%. lower respiratory tract infection. systemic inflammatory response syndrome. yang berhubungan dengan hasil dari kurva standar. Analisis kadar prokalsitonin ditunjukkan dengan enzyme-linked fluorescent immuno-assay (Biome´rieux) menurut instruksi dari pabrik pembuat (batas pengenalan 0. Sistem R&D) sesuai dengan instruksi dari pabrik pembuatnya (batas pengenalan < 0.0007 ng/ml). LRTI. SIRS. UTI. menurut instruksi pabrik pembuatnya.05 ng/ml).

spesifisitas. Dua ratus tiga puluh tiga pasien memenuhi kriteria inklusi. dan 20 pasien dengan SIRS tanpa infeksi. procalcitonin. nilai prediktif positif. dan demam Dengue c Termasuk Mikoplasma pneumonia. 44 pasien dengan sepsis berat tanpa syok septik. standar deviasi. dan range dilaporkan sesuai yang didapatkan. Koefisian korelasi Pearson digunakan untuk menghitung korelasi antara HBP dan kadar sel darah putih. Lima belas pasien sepsis berat dengan syok septik dirawat di ICU dengan pemberian vasopresor. Nilai area di bawah kurva dilaporkan dengan interval tingkat kepercayaan 95%. 75% pasien dari kelompok sepsis. protein C-reaktif (CRP). dan nilai prediktif negative dihitung dari tabulasi silang. Perbandingan antar kelompokdibuat dengan uji nonparametrik. Plasmodium falciparum. dan 8 pasien menjalani ventilasi mekanik. Pneumonia dan infeksi saluran kemih adalah yang paling sering. Diagnosis-diagnosis tersebut juga muncul pada kelompok sepsis berat (dengan atau tanpa syok septik) dan pada kelompok sepsis. 100 pasien dengan sepsis. d Termasuk rontgen thorak positif pneumonia dan SSTI. . HASIL Karakteristik pasien. meningitis dan encephalitis viral.0. Kurva karakteristik receiver-operating dan area di bawah kurva menggambarkan berbagai nilai cut-off untuk kadar HBP. Mean. laktat. Sensitivitas. dan kadar sel darah putih. median. Dua puluh enam pasien didiagnosis sepsis berat dengan dengan syok septik. Analisis statistik. Nilai P < 0. dan Pneumocystis jiroveccii. versi 14. Karakteristik demografik pasien dan diagnosis ditampilkan dalam table 1. Pasien infeksi yang tanpa gejala SIRS kebanyakan mengalami infeksi saluran napas atas dengan terbukti maupun suspek disebabkan oleh virus. IL-6. 43 pasien dengan infeksi tanpa SIRS. malaria. Empat puluh satu (93%) dari 44 pasien dengan sepsis berat tanpa syok septik mengalami hipotensi nonpersisten. Penghitungan menggunakan sistem perangkat lunak SPSS. 33% pasien dengan infeksi tanpa SIRS. dan 83% pasien dengan SIRS tanpa infeksi.b Termasuk septikemia. Semua pasien sepsis (dengan atau tanpa syok septik).05 pada 2-tailed test dikatakan signifikan secara statistik.

Gambar 1. 290. C-reactive protein (CRP) (E). procalcitonin (B). interleukin (IL)–6 (C). kelima kelompok pasien digambarkan dalam metode batang yang menggambarkan nilai median. 269. Nilai cut-off yang dianjurkan untuk HBP bermakna adalah 15 ng/ml. Setiap titik menggambarkan konsentrasi individual dari HBP sampel plasma (A). titik-titik berada pada 120 ng/mL menggambarkan nilai yang lebih tinggi pada kelompok sepsis berat dengan syok . dan 182 ng/mL) dan pada kelompok sepsis berat tanpa syok septik (298 dan 179 ng/mL). dan white blood cells (WBCs) (F). Kadar 6 biomarker dalamplasma yang diukur di rumah sakit rujukan pada 233 pasien dengan demam dan suspek infeksi. lactate (D). Pada panel A titik-titik berada pada level 120 ng/ml menggambarkan nilai yang lebih tinggi pada kelompok sepsis berat dengan syok septik (494. Pada panel B.

Sebelas dari pasien-pasien ini mengalami hipotensi yang terus memberat. dan Nilai Prediktif Negatif dari Variabel Penelitian dalam Mendiagnosis Sepsis Berat Dengan atau Tanpa Syok Septik Angka kematian keseluruhan adalah 3. Pada kelompok yang lain. dehidrasi (n=2). dan sel darah putih plasma. Pada sepsis berat. . SIRS.1%) dari 44 pasien dengan sepsis berat tanpa syok septik melampaui nilai cut-off HBP yaitu ≥15 ng/mL. diagnosisdiagnosisnya yakni vaskulitis sistemik (n=4). dan 1 dari 20 pasien dengan SIRS tanpa infeksi memiliki nilai HBP plasma ≥15 ng/mL. prokalsitonin.3%) dari 26 pasien kelompok sepsis berat dengan syok septik dan 37 (84. Sensitivitas. laktat. angka kematian sebesar 10%. gagal jantung (n=3). Dua puluh empat (92. pasien dalam kelompok ini juga mengalami infeksi invasif. Diantara 20 pasien yang mengalami penyakit noninfeksi. systemic inflammatory response syndrome. thrombosis vena dalam (n=1). 200. Walau bagaimanapun. Spesifisitas. 7 dari 100 pasien dengan sepsis.001) (Gambar 1A). Tercatat. 20% dari pasien-pasien yang memenuhi kriteria sepsis dengan menggunakan skor SIRS didiagnosis dengan infeksi virus. Pada awalnya. jumlah HBP secara signifikan lebih tinggi pada kedua kelompok sepsis berat dibandingkan dengan 3 kelompok pasien yang lain (p< 0. defisiensi kortikosteroid relatif oleh karena hipopituarisme (n=2).septik (200. emboli pulmonal (n=2). dan retensi urin (n=1). perdarahan gastrointestinal (n=3). Nilai Prediktif Positif.4%. dan 19% pasien dengan syok septik meninggal. IL-6. Jumlah HBP. 200. seperti pneumonia atau bakteremia. CRP. and 133 ng/mL). 0 dari 43 pasien dengan infeksi tanpa SIRS. pancreatitis akut (n=2). Tabel 2. 190.

5% (Tabel 2). spesifisitas sebesar 95. Penggunaan kombinasi nilai HBP plasma dan rasio HBP:sel darah putih dapat mengidentifikasi 25 dari 26 .68). Semua kombinasi HBP dengan prokalsitonin.0. etiologi bakteri Gram positif dan Gram negative telah diverifikasi. Nilai marker-marker tersebut secara umum juga lebih tinggi secara signifikan (p<0. Untuk mengidentifikasi pasien sepsis berat dengan nilai HBP yang relative rendah karena leukopenia transien. dan CRP. dan CRP menghasilkan peningkatan NPV tetapi secara substansial menurunkan PPV (data tidak ditampilkan).1%. dengan asumsi prevalensi sepsis berat sebesar 30%. nilai prediktif positif/Positive Predictive Value(PPV) sebesar 88. dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai laktat antara kelompok sepsis berat dengan kelompok SIRS tanpa infeksi (Gambar 1B-1E). tidak didapatkan perbedaan signifikan (p=0. Sesuai penelitian sebelumnya. terdapat korelasi antara nilai HBP plasma dengan sel darah putih (r=0. Nilai tersebut melampaui nilai untuk marker lain. nilai cut-off HBP ≥15 ng/mL menunjukkan sensitifitas dalam mendiagnosis sepsis berat sebesar 87. laktat.Tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada hitung sel darah putih antar kelompok pasien (Gambar 1F).Konsentrasi beberapa marker infeksi berat yang sudah pernah diteliti. laktat. Satu pasien tambahan pada masing-masing 2 kelompok sepsis berat dianggap memiliki hasil positif dengan cut-off rasio HBP:sel darah putih ≥2. Ketika nilai HBP pada pasien tersebut dibandingkan. IL-6.Pada kelompok sepsis berat.95 (Gambar 2). rasio HBP:sel darah putih (dihitung dengan membagi nilai HBP dalam ng/mL dengan hitung sel darah putih dalam sel/L x 103) dihitung untuk setiap pasien. Namun.4%. HBP dilepaskan oleh netrofil. Pada kelompok sepsis berat (dengan atau tanpa syok septik).31). Rasio HBP:sel darah putih. Kurva karakteristik receiver-operating menunjukkan HBP merupakan prediktor terbaik untuk sepsis berat. dengan nilai area di bawah kurva sebesar 0.1%. dan nilai prediktif negative/Negative Predictive Value(NPV) sebesar 94.05) pada 2 kelompok sepsis berat. terdapat sejumlah overlap antar kelompok. juga diperiksa dan dibandingkan antar kelompok pasien. dan menarik untuk menghubungkan nilai HBP dengan hitung sel darah putih. secara berturut-turut sebanyak 23 dan 19 pasien. IL-6. prokalsitonin.

0 digunakan. IL-6 pada 25 pasien.pasien kelompok sepsis berat dengan syok septik dan 38 dari 44 pasien kelompok sepsis berat tanpa syok septik.Delapan belas pasien yang bertahan memiliki nilai HBP yang menurun secara cepat ketika tanda-tanda klinis muncul dan tekanan darah kembali normal (data tidak ditampilkan).Namun demikian. nilai prokalsitonin meningkat pada 23 pasien. Dengan menggunakan nilai cut-off pada tabel 2. dan laktat pada 9 pasien.-0.Tiga puluh dua dari 70 pasien yang telah diklasifikasikan menderita sepsis berat disertakan sebelum memenuhi kriteria untuk diagnosis ini. sampel plasma dari pasien-pasien tersebut dikumpulkan sampai 12 jam sebelum onset hipotensi yang signifikan. Nilai biomarker lain juga meningkat pada pasien tersebut. Dua puluh dari pasien dengan sepsis berat dimonitor dengan pengambilan sampel plasma serial selama perjalanan penyakit. nilai HBP telah naik. dan tidak ada pasien tambahan pada kelompok tersebut yang dianggap memiliki hasil positif ketika cut-off rasio HBP:sel darah putih ≥2.14 sampai 0. Nilai CRP >100 mg/mL pada 29 pasien. Tidak didapatkan korelasi antara nilai HBP plasma dan hitung sel darah putih pada pasien lain dalam kelompok-kelompok tersebut (r. Dua puluh sembilan dari pasien tersebut. HBP sebagai marker awal diagnostik dan prognostik.36). menunjukkan bahwa konsentrasi HBP plasma dapat meningkat beberapa jam sebelum kegagalan sirkulasi terbukti (Gambar 3). . spesifisitas marker tersebut rendah. Dengan demikian.

863) untuk IL-6.Hasil dari penelitian menunjukkan korelasi yang dekat antara peningkatan nilai HBP plasma dan terjadinya hipotensi. Sebanyak 44 pasien lainnya dengan sepsis berat. di antara 100 pasien dengan sepsis tidak berat. Area di bawah kurva adalah 0. Diskusi Berdasarkan data in vitro dan hewan uji sebelumnya dimana HBP yang dilepaskan netrofil memicu kebocoran vaskuler.611-0.95) untuk prokalsitonin.429-0.799-0.Gambar 2. 0. peneliti membuat hipotesis bahwa nilai HBP plasma mungkin berkorelasi dengan keparahan infeksi dan khususnya dengan terjadinya kegagalan sirkulasi. 0. hanya 7 pasien yang mengalami peningkatan HBP.3%) dari 26 pasien dengan syok septik mengalami peningkatan nilai HBP plasma di awal. 0. 0. membedakan antara ada dan tidaknya sepsis berat dengan atau tanpa syok septik.917-0. 0. 0.799 (95% CI.736-0.759) untuk CRP.Kurva karakteristik receiver-operating nilai heparin binding protein (HBP).Selain itu. 37 (84.982) untuk HBP.685(95% CI. C-reactive protein (CRP). prokalsitonin. Dua puluh empat (92. 0. interleukin(IL)-6. semua 43 pasien dengan .85) untuk laktat. dan sel darah putih (WBC) plasma. Sebaliknya. dan syok septik. 0.516 (95% CI.1%) mengalami peningkatan.949 (95% confidence interval (CI).730. laktat. 0.85 (95% CI.603) untuk WBC.79 (95% CI. dan 0. gagal organ. 0.

Untuk setiap jam penundaan pengobatan yang tepat. HBP diseksresi oleh netrofil.Data tersebut mendukung hipotesis dimana HBP memiliki peran patogenik spesifik dalam kegagalan sirkulasi pada pasien dengan sepsis berat. mortalitas meningkat 7. Beberapa dari pasien yang diikutsertakan dalam penelitian ini kemudian didiagnosis penyakit non-infeksi. karena sejumlah pasien dengan bakteremia dan infeksi bakterial invasif yang lain menunjukkan nilai HBP normal. Dua puluh sembilan dari 32 pasien pada kelompok sepsis berat (n=70) menunjukkan peningkatan nilai HBP plasma sampai 12 jam sebelum kegagalan sirkulasi terbukti. walaupun beberapa dari pasien tersebut didiagnosis pneumonia atau bakteremia. beberapa pasien dengan sepsis berat mengalami netropenia transien. dari 20 pasien tersebut. . Beberapa peneliti yang lain. menyingkirkan risiko berkembang menjadi sepsis berat.infeksi yang lebih ringan tanpa SIRS. neutropenia akibat obat.5%).Berlawanan dengan pasien dengan infeksi berat. 11 mengalami kegagalan sirkulasi akibat berbagai kondisi klinis non- infeksi. mungkin penggunaan rasio HBP:sel darah putih dapat meningkatkan sensitivitas diagnostik dari pengukuran HBP. Namun demikian. misalnya. Namun demikian. dan masih diteliti apakah HBP merupakan biomarker yang reliabel untuk sepsis berat pada pasien dengan. semua kecuali 1 pasien dengan hipotensi non-septik memiliki nilai HBP yang rendah. dan pada pasien tersebut. Implikasi dari temuan tersebut adalah deteksi peningkatan nilai HBP plasma pada pasien demam seharusnya menjadi peringatan segera untuk dokter mengintensifkan resusitasi cairan dan memulai terapi antibiotik yang tepat.Hal yang menarik. HBP jelas bukan marker untuk infeksi bakterial semata.5%. Hal penting dalam penelitian ini. peningkatan nilai HBP plasma mendahului perkembangan klinis dari kegagalan sirkulasi selama beberapa jam pada kebanyakan pasien. dengan probabilitas tinggi (NPV 94. telah menekankan bahwa pemberian dini antibiotik adekuat dan resusitasi cairan intravena memberi pengaruh besar pada mortalitas pada pasien dengan syok septik. Data menunjukkan bahwa nilai HBP normal pada pasien demam dengan tersangka infeksi akan. khususnya intensivis. menunjukkan HBP di bawah nilai cut-off.

Perhitungan nilai prediktif berdasarkan pada estimasi prevalensi sepsis berat (dengan atau tanpa syok septik) sebesar 30%. Namun demikian. sebagai tes skrining untuk semua pasien demam pada klinik rawat jalan. penggunaan kriteria klinis dan bukti mikrobiologis tidak memastikan penyebab pasti dari gejala pada semua pasien. Pasien yang menerima terapi imunosupresif atau dengan netropenia karena keganasan hematologi dieksklusi dari penelitian ini.Penelitian ini memiliki sejumlah kekuatan. Walaupun klinisi independen menentukan diagnosis untuk setiap pasien.Sampel penelitian besar dan melibatkan rentang tampilan klinis dan diagnosis yang luas. NPV akan meningkat secara signifikan. penelitian ini juga dilakukan di departemen gawat darurat. Subjek dengan demam dan tersangka infeksi yang diikutsertakan menunjukkan spektrum pasien yang tampaknya akanditemui jika HBP digunakan sebagai tes untuk sepsis berat di masa depan. Namun demikian. PPV akan menurun.Angka kematian keseluruhan yang relatif rendah mungkin menunjukkan bahwa banyak pasien dengan penyakit yang lebih ringan ikut dimasukkan. Jika pengukuran HBP plasma akan digunakan pada populasi dengan prevalensi sepsis berat yang lebih rendah secara signifikan. Di sisi lain.Hal ini dapat menimbulkan misklasifikasi pada beberapa kasus. misalnya. dan bias seleksi dapat menimbulkan populasi non-representatif.Penelitian selanjutnya penting untuk mengevaluasi penggunaan pengukuran HBP pada pasien-pasien tersebut. angka kematian 12% pada pasien dengan sepsis berat sesuai dengan mortalitas 10% pada penelitian ini. sejumlah keterbatasan dapat dipertimbangkan. . Penelitian ini bersifat penelitian non-konsekutif single-center.

Setiap titik mewakili 1 pasien.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian terapi suportif yang adekuat pada pasien demam dengan peningkatan nilai HBP plasma dapat mengurangi risiko terjadinya kegagalan sirkulasi. Dibandingkan dengan marker lain yang diteliti. HBP merupakan prediktor terbaik untuk kegagalan vaskuler.Tiga puluh dua dari pasien kelompok sepsis berat diikutsertakan sebelum hipotensi yang signifikan terbukti terjadi.Nilai heparin-binding protein (HBP) meningkat sebelum onset kegagalan sirkulasi.Nilai HBP dan waktu dari pengambilan sampel plasma sampai terjadinya hipotensi juga ditunjukkan.Gambar 3. Pengaruh langsung HBP terhadap permeabilitas endotel mungkin dapat dibuktikan. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful