KONSEP DAN PRINSIP BERMAIN UNTUK PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI

A. PENDAHULUAN Sesungguhnya setiap anak dilahirkan cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masingmasing yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Prof. Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intelligence dalam Sunaryo (2009), menyatakan terdapat delapan kecerdasan pada manusia yaitu: kecerdasan linguistik/verbal/bahasa, kecerdasan logika matematika/ matematis logis, kecerdasan visualruang/spasial, kecerdasan musikal/ritmis, kecerdasan kinestetik jasmani/raga, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Tugas orangtua dan pendidik lah mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.

Anak pada usia 0-6 tahun perlu mendapat perhatian khusus karena pada usia inilah kesiapan mental dan emosional anak mulai dibentuk. Penelitian terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menunjukkan bahwa mutu pendidikan dan keberhasilan akademis secara signifikan dipengaruhi oleh kualitas masukan pendidikan yaitu kesiapan mental dan emosional anak memasuki sekolah dasar.

Anak mulai belajar dan beradaptasi dengan lingkungannya sejak bayi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan otak bayi dibentuk pada usia 0-6 tahun. Oleh sebab itu asupan nutrisi yang cukup juga harus diperhatikan. Para ahli neurologi meyakini sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia terjadi pada usia 4 tahun, 80% terjadi ketika usia 8 tahun, dan 100% ketika anak mencapai usia 8 - 18 tahun.

Itulah sebabnya, mengapa masa anak-anak dinamakan masa keemasan bagi manusia. Sebab, setelah masa perkembangan ini lewat, berapapun kapabilitas kecerdasan yang dicapai oleh masing-masing individu, tidak akan meningkat lagi, demikian menurut Widarso dalam researchengines.com/widarso0508.html, 2008).
1

Sebelum bersekolah. Banyak pendidik yang sudah mengakui bahwa bermain sangat penting dilakukan sebagai stimulasi pengembangan kemampuan pada pendidikan prasekolah. dan dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal. Hal ini sangatlah beralasan. dan dirinya sendiri. anak menggunakan metode bermain sebagai metode belajar yang paling efektif baginya. Di mana mereka bisa mengenali diri dan lingkungannya sebagai dasar perkembangan sosialnya hanya melalui bermain. yaitu berangsur-angsur dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih banyak) menjadi belajar sambil bermain (unsur belajar lebih banyak).1 Pengertian Bermain Bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak didik. Dalam keadaan senang anak tidak pernah merasa terbebani. bermain merupakan cara alamiah anak untuk menemukan lingkungan. Anak dapat melatih otot besar dan halusnya. 2 . Perkembangan bermain sebagai cara pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia dan kemampuan anak didik. B. orang lain. Selain itu seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa dengan bermain anak akan merasa senang sehingga segala bentuk materi yang hendak kita berikan akan terserap secara maksimal oleh mereka. diharapkan anak juga bisa mengembangkan segala potensi positif dan pembentukan perilaku yang baik yang ada pada diri mereka. meningkatkan penalaran dan memahami keberadaan lingkungannya. melalui kegiatan bermain ada proses belajar yang dialaminya. Tanpa disadari oleh mereka. Melalui kegiatan bermain. PEMBAHASAN B. sebab masa usia prasekolah seringkali disebut sebagai masa bermain.Untuk memaksimalkan fungsi dan tumbuh kembangnya. Kegiatan bermain sambil belajar yang dimaksud adalah pelaksanaan kegiatan di TK/RA yang tidak semata-mata hanya melakukan kegiatan bermain yang tidak bermakna bagi anak. tidak mudah jenuh. Pada prinsipnya bermain mengandung rasa senang dan lebih mementingkan proses daripada hasil akhir. bisa bereksplorasi.

4) menyenangkan. Bermain juga dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan anak dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi.mengembangkan daya imajinasi dan dunia sesungguhnya. 6) aturan main yang ditentukan sendiri dan episodik. berasal sepenuhnya dari motivasi internal. memberikan kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak (Sudono. mengikuti peraturan. Adapun Schaefer (1983) dikutip langsung oleh Gil mendefinisikan bermain sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan (pleasurable). Menurut Hurlock (1996:320). 3) aktif. Ciri khas simbolik dapat terlihat ketika seorang anak berpura-pura memainkan unit balok sebagai kereta. Dengan kata lain. tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Sepanjang waktu. Dengan bermain anak menggunakan seluruh aspek panca inderanya. arti yang tepat untuk bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya. yaitu: 1) simbolik.1995). Dengan demikian. 2) bermakna. 5) sukarela. bermain dilakukan oleh anak memiliki tujuan untuk kegiatan bermain itu sendiri agar anak merasa gembira. tata tertib dan disiplin. Fromberg dalam Dockett (2002:15) mendefinisikan bermain pada anak sebagai kegiatan yang mencakup kombinasi dari enam elemen. anak memanfaatkannya untuk kegiatan bermain. Semua ini dapat teraktualisasi pada anak dengan perasaan senang dan tanpa terbebani. 3 . Bermain merupakan aktivitas yang selalu dilakukan oleh anak setiap hari. Tidak semua kegiatan yang dilakukan oleh anak merupakan bermain dan tidak semua pengalaman yang bermakna melibatkan bermain. Oleh karena itu. bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar yang mewajibkan anak untuk melakukan kegiatan bermain.

Berdasarkan beberapa teori yang telah dikemukakan sebelumnya. Artinya bahwa ketika rasa senang itu sudah tidak ada atau anak sudah tidak dapat menikmati kegiatan yang dilakukannya maka kegiatan tersebut tidak dapat lagi dikatakan sebagai kegiatan bermain. (3) bermain mempercepat perkembangan representasi mental.” Dalam konteks ini yang perlu diperhatikan atau digarisbawahi adalah suasana dan rasa senang pada diri anak.bebas dari pengaruh orang dewasa dan ganjaran dari pihak luar. non instrumental. Sering kali anak bermain tanpa harus melihat tujuan dari kegiatan ini. Atau yang biasa kita kenal dengan pendekatan ‘Bermain sambil Belajar’. Elkolin mengidentifikasi empat cara utama agar bermain mempengaruhi perkembangan anak. tanpa ada paksaan ataupun tekanan dari luar. B. atau yang dikenal dengan teori ‘Surplus Energy’. 2004:7). Empat manfaat bermain tersebut yaitu: (1) bermain berdampak terhadap motivasi anak. dapat disimpulkan bahwa “bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi. 1991:27). (4) bermain mempercepat perkembangan perilaku dengan sengaja. Empat manfaat yang diperoleh melalui kegiatan bermain sangat penting sebagai pondasi pembelajaran bagi anak di kemudian hari. 4 .2 Manfaat Bermain Bermain merupakan suatu kegiatan yang inhern pada setiap anak yang normal. Ini menunjukkan bahwa bermain dapat membantu anak dalam mengembangkan potensi-potensi yang masih tersembunyi menjadi lebih teraktualisasikan. memberi kesenangan. tidak terjadi dalam kondisi situasi yang menakutkan (Gil. (2) bermain memfasilitasi perkembangan kognitif yang baik. tanpa tujuan. Bahkan ada juga teori yang mengatakan bahwa bermain sebagai salah satu bentuk aktualisasi diri dari energi yang berlebih dalam diri anak. serta mampu mengembangkan berbagai potansi pada anak. Oleh karenanya bermain sangat efektif untuk digunakan sebagai suatu pendekatan dalam kegiatan belajar pada pendidikan prasekolah. sikap sukarela secara fisik dan mental (Koralek.

(2) anak akan mampu mempraktikkan kemampuannya. dan (5) anak dapat mengekspresikan emosi. Anak-anak yang sering bermain berkelompok tentunya akan lebih mudah dalam beradaptasi dan bersosialisasi dengan orang lain dan lingkungannya. Mereka bisa meluapkan emosinya secara positif sehingga tidak menjadi penghambat mereka dalam berinteraksi baik dengan teman atau orang dewasa. Kognitif Melalui bermain anak akan mengembangkan fungsi panca inderanya dengan baik. dan mengeksplorasi situasi yang menghasilkan kesenangan (Driscoll. mengendurkan tekanan yang dimiliki. konsekuensi. Mereka bisa bereksplorasi dan menemukan sendiri suatu konsep atau sebuah pengertian dari kegiatan yang dilakukannya atau melalui alat-alat permainan yang dimanipulasikannya. Mereka akan belajar tentang sebuah aturan. apa yang boleh dan yang tidak boleh. Tentunya masih banyak lagi manfaat yang dapat diperoleh anak melalui kegiatan bermain. 2005:99-100). Konsep Diri Pada saat anak bermain sendiri ada kegiatan yang berhubungan dengan penyelesaian tugas atau yang sejenisnya. belajar untuk berbagi peran dan tugas. Dalam keadaan seperti ini anak-anak akan lebih mudah untuk melupakan beban-beban yang mereka alami. (3) anak akan mampu memecahkan masalah dan membuat keputusan dalam suasana yang nyaman.Selanjutnya Driscoll dan Nagel menguraikan nilai-nilai yang akan diperoleh anak dari kegiatan yang mereka lakukan sebagai berikut: (1) kompetensi pemikiran anak akan berkembang. Sosial-Emosi Bermain bisa dilakukan sendiri atau dengan berkelompok. dan penerimaan sosial pun akan lebih terbuka. (4) anak akan memperoleh dan memproses informasi. serta masih banyak lagi. Mereka tidak hanya sekedar menerima informasi tetapi juga menuangkannya saat bermain dengan beragam imajinasinya. Berikut akan dijelaskan beberapa manfaat bermain dalam mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak. Ketika ia bisa menyelesaikannya dengan baik akan muncul kepuasan 5 .

ada saatnya untuk menyimak dan mengungkapkan pendapat. pistol-pistolan dari pelepah pisang dan lain-lain. Banyaknya gerak yang dilakukan anak tidak hanya sekedar melatih kekuatan dan ketangkasan fisik tetapi juga akan lebih menyehatkan bagi tubuh mereka. Semakin banyak bahasa yang diterima oleh anak maka akan semakin banyak pula perbendaharaan bentuk bahasa yang bisa mereka dapat dan gunakan. Alat permainan yang digunakan. Dengan bermain seluruh tubuh anak lebih banyak bergerak dari pada mereka yang hanya menghabiskan waktunya untuk mengerjakan hal-hal membosankan yang biasanya berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh orang dewasa baik orang tua ataupun guru. Ini dapat diperoleh jika anak banyak dan terbiasa berinteraksi dengan lingkungannya. ada kebebasan berekspresi dan berapresiasi. mobilmobilan dan lain-lain yang dijual di toko-toko mainan tetapi ada pula yang dibuat sendiri dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar anak seperti mainan dari kulit jeruk.3 Peranan Media dan Alat Permainan dalam Bermain Kegiatan bermain itu sendiri sebenarnya ada yang dapat dilakukan tanpa menggunakan alat tetapi pada umumnya kegiatan bermain lebih banyak menggunakan alat.atau kepercayaan diri bahwa ia sudah dapat menguasai permainan tersebut. diakui keberadaannya dan berkembang pula konsep diri positif yang ada dalam diri mereka. Tentunya anak-anak yang diikutsertakan lebih merasa dihargai. 6 . Bahasa Kemampuan bahasa bukanlah kemampuan yang hanya bisa dikembangkan melalui proses pembelajaran formal. ada yang dibuat khusus untuk kegiatan bermain seperti boneka. Fisik-Motorik Anak-anak yang aktif dan menyenangi kegiatan bermain akan terbiasa melatih otot-otot fisiknya. Karena dalam bermain ada komunikasi yang mereka bangun. Begitu pula ketika beberapa anak bermain bersama kemudian mengajak beberapa anak yang lain untuk bergabung ikut terlibat dalam permainan tersebut. melainkan diawali dengan suatu pola atau kebiasaan yang diberikan pada anak. Bermain sebagai salah satu media bagi anak dalam melakukan interaksi dengan orang lain. B.

Pada saat anak merasakan senang. Alat permainan yang dimaksud misalnya bola sepak dari plastik. maka pertumbuhan otak anak pun kian meningkat sempurna sehingga akan makin memudahkan anak dalam melakukan proses pembelajarannya. Padahal dengan bola plastik saja jika dirancang sesuai dengan kebutuhan anak dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak. Nah. diperlukan media pembelajaran dan alat yang tepat. Oleh karena itu alat permainan ini tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan anak. juga dapat digali dan dikumpulkan dari sekeliling kita. mengembangkan motorik 7 . Anak dapat mengenali berbagai jenis warna karena bolanya menggunakan berbagai warna (warna-warni). Dalam hal ukurannya seringkali susah untuk dipegang secara nyaman oleh anak. 1995. Alat permainan adalah semua alat yang digunakan anak untuk memenuhi kebutuhan naluri bermainnya. Sebagai contoh bola sepak yang dibuat dari plastik yang dibeli langsung dari toko mainan.Untuk memudahkan proses pencapaian tujuan belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Mayke Sugianto. Pengertian alat permainan edukatif tersebut menunjukkan bahwa pada pengembangan dan pemanfaatannya tidak semua alat permainan yang digunakan anak di TK itu dirancang secara khusus untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak. boneka. jika mau saling melempar dengan teman-temannya akan terasa sakit di telapak tangan. tiruan alat-alat memasak dan lain sebagainya. T. hal tersebut terjadi karena pembuat bola plastik tersebut tidak sejak awal merancang alat permainan tersebut dengan memperhatikan karakteristik dan aspek-aspek perkembangan anak pemakai bola tersebut. Media dan alat pembelajaran yang digunakan hendaknya merupakan media dan alat permainan yang bersifat edukatif/mendidik. Warnanya pun sering kali menggunakan satu warna saja sehingga tidak menarik bagi anak karena anak biasanya menyenangi bendabenda yang berwarna-warni. kapal-kapalan. pistolpistolan. Alat permainan untuk anak dalam pengadaannya selain dapat dibeli di toko mainan. mobil-mobilan. Media dan alat permainan dapat memenuhi seluruh aspek kebahagiaan anak. mengemukakan bahwa alat permainan edukatif (APE) adalah alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan.

Hal ini dapat diminimalkan dengan mengoptimalkan pendidikan pada anak sejak usia dini. Upaya yang maksimal dari guru dan orang tua yang membimbingnya dapat memudahkan anak dalam bermain dan menggunakan alat-alat permainan yang sesuai dengan kepribadian mereka. masih ada berbagai jenis permainan dan alat-alat permainan edukatif yang sangat beragam dan bermanfaat untuk pendidikan anak. Dan untuk memudahkan pola pembelajaran dalam bermain ini perlu dikembangkan alat-alat permainan edukatif yang sesuai dengan perkembangan anak-anak. Salah satu metode yang mudah dan akrab untuk pendidikan anak usia dinia adalah dengan metode bermain. dan kemampuankemampuan yang lainnya. 8 . KESIMPULAN Rendahnya mutu pendidikan masih disandang bangsa Indonesia. Untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan anak usia dini perlu dipilih alternatif pola pendidikan yang cocok dengan karakter anak usia dini. Selain contoh di atas. melatih motorik halus jika teksturnya (kasar-halus) menggunakan berbagai bahan. Sehiingga anakanak pun dapat berkembang sesuai dengan tujuan anak pendidikan anak usia dini yang diharapkan. C. Hal ini sangat sesuai dengan dunia anak yang dikenal juga sebagai dunia bermain.kasar jika bola itu digunakan untuk bermain lemparlemparan dengan temannya.

html re-searchengines.com/content/view/24/2 9 . Alat Permainan Edukatif untuk Kelompok Bermain. Jakarta: Elex Media Komputindo.. Jakarta: Depdiknas.com www. Teguh. Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-kanak. Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia. Ismayani. A. 2008.wordpress. Media dan Sumber Belajar TK. (2003).com/widarso0508. Zaman. C.pestalozzi-indonesia.blogspot. Hernawan. Nining. Bandung: Pustaka Sebelas. Fun Math with Children.. B. Ani. (2003). dkk. Yogyakarta: Laboratorium Pusat Tekno-Psikologi DMI Primagama.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan Nasional.org/2008/11/mengasah-kecerdasan-matematis-logis-anak-sejak-usiadini/episentrum. 2010. Pembelajaran Matematika Terpadu untuk Anak Usia Dini. (2005). http://p4tkmatematika. dan Eliyawati.html apiqquantum.H.com/. 2009. Modul Universitas Terbuka. Mengapa Harus Tes bakat DMI.com consultant-academic-specialist./belajar-matematika-untuk-anak-usiadini.. Sunaryo. Jakarta : Depdiknas. Sriningsih. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful