PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB

)
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dapat didefinisikan adalah “Pajak Negara yang dikenakan terhadap bumi dan/atau bangunan berdasarkan Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994”. PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan/atau bangunan. Keadaan subyek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak. B OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN Objek PBB adalah "Bumi dan/atau Bangunan": Bumi : Permukaan bumi (tanah dan perairan) dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Contoh : sawah, ladang, kebun, tanah. pekarangan, tambang, dll. Bangunan : Konstruksi teknik yang ditanamkan atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan di wilayah Republik Indonesia. Contoh : rumah tempat tinggal, bangunan tempat usaha, gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, jalan tol, kolam renang, anjungan minyak lepas pantai, dll C OBJEK PBB YANG DIKECUALIKAN Pada dasarnya semua tanah dan bangunan yang berada di wilayah negara kita ini bisa dimasukkan sebagai “objek Pajak”. Namun terhadap tanah dan bangunan tertentu dapat dikecualikan atau tidak dikenakan pungutan Pajak Bumi dan Bangunan. Adapun objek pajak atau tanah dan bangunan yang dikecualikan/tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan itu adalah sebagai berikut : 1. Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum dibidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional yang tidak dimaksudkan memperoleh keuntungan, seperti pesantren atau sejenisnya, mesjid, gereja, tanah wakaf, rumah sakit pemerintah, sekolah/madrasah, panti asuhan, candi, dan lain-lain. 2. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala atau yang sejenis dengan itu seperti musium. 3. Merupakan hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah pengembalaan yang dikuasai oleh desa dan tanah negara yang belum dibebani sesuatu hak dan lain-lain. 4. Tanah atau Bangunan yang digunakan oleh perwakilan diplomatik atau konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. Artinya bila tanah/gedung perwakilan RI dinegara tertentu tidak dikenai PBB, hal yang sama kita perlakukanterhadap tanah/gedung negara tersebut yang ada disini. 5. Bangunan yang digunakan oleh perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. D SUBYEK PAJAK DAN WAJIB PAJAK Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata : ♦ mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau; ♦ memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau; ♦ memiliki, menguasai atas bangunan, dan/atau; ♦ memperoleh manfaat atas bangunan. Wajib Pajak Wajib Pajak adalah Subjek Pajak (orang pribadi/badan) yang dikenakan kewajiban membayar pajak. Pada umumnya setiap orang/badan yang secara nyata mempunyai hak atas bumi atau memperoleh manfaat atas bumi, dan atau memiliki, menguasai dan atau memperoleh manfaat atas bangunan yang bersangkutan bisa dikenakan pajak bumi dan bangunan . Apabila suatu bidang tanah dan bangunan tidak diketahui secara jelas siapa yang menanggung pajaknya, maka yang menetapkan adalah Direktorat Jendral Pajak. Penetapan ini ditentukan berdasarkan buktibukti apakah ada perjanjian antara pemilik dan penyewa yang mengatur, siapa yang menanggung kewajiban pajaknya dan siapa yang secara nyata mendapat manfaat atas bidang tanah dan bangunan tersebut. Tetapi bila ternyata orang atau badan yang ditetapkan sebagai pihak yang harus membayar pajak itu menolak, maka yang bersangkutan dapat memberikan keterangan tertulis kepada Direktur Jendral Pajak. Dalam hal ini DirJen Pajak dapat

menyetujui atau mungkin menolaknya dengan alasan-alasan tertentu. Jawaban dapat diperoleh dalam jangka waktu satu bulan sejak diterimanya keterangan tersebut. E CARA MENDAFTARKAN OBJEK PBB Orang atau Badan yang menjadi Subyek PBB harus mendaftarkan Objek Pajaknya ke Kantor Pelayanan PBB atau Kantor Penyuluhan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi letak objek tersebut, dengan menggunakan formulir Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) yang tersedia gratis di Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak setempat. F DASAR PENGENAAN PBB Dasar pengenaan PBB adalah "Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)". NJOP ditentukan per wilayah berdasarkan keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dengan terlebih dahulu memperhatikan : 1. harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar; 2. perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan telah diketahui harga jualnya 3. nilai perolehan baru 4. penentuan nilai jual objek pengganti. G NILAI JUAL OBJEK PAJAK TIDAK KENA PAJAK (NJOPTKP) NJOPTKP adalah batas NJOP atas bumi dan/atau bangunan yang tidak kena pajak. Besarnya NJOPTKP adalah Rp 8.000.000,- dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Setiap Wajib Pajak memperoleh pengurangan NJOPTKP sebanyak satu kali dalam satu Tahun Pajak. 2. Apabila wajib pajak mempunyai beberapa Objek Pajak, maka yang mendapatkan pengurangan NJOPTKP hanya satu Objek Pajak yang nilainya terbesar dan tidak bisa digabungkan dengan Objek Pajak lainnya. H DASAR PENGHITUNGAN PBB Dasar penghitungan PBB adalah Nilai Jual Kena Pajak (NJKP). Besarnya NJKP adalah sebagai berikut : 1. 40% untuk objek pajak perumahan yang wajib pajaknya perseorangan dengan NJOP sama atau lebih dari Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) 2. 20% untuk objek pajak lainnya. Besarnya tarip PBB adalah 0,5% Rumus penghitungan PBB = Tarif x NJKP a. Jika NJKP = 40% x (NJOP - NJOPTKP) maka besarnya PBB = 0,5% x 40% x (NJOP-NJOPTKP) = 0,2% x (NJOP-NJOPTKP) b. Jika NJKP = 20% x (NJOP - NJOPTKP) maka besarnya PBB = 0,5% x 20% x (NJOP-NJOPTKP) = 0,1% x (NJOP-NJOPTKP) I TEMPAT PEMBAYARAN PBB Wajib Pajak yang telah menerima Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), Surat Ketetapan Pajak (SKP) dan Surat Tagihan Pajak (STP) dari Kantor Pelayanan PBB atau disampaikan lewat Pemerintah Daerah harus melunasinya tepat waktu pada tempat pembayaran yang telah ditunjuk dalam SPPT yaitu Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro. J SAAT YANG MENENTUKAN PAJAK TERUTANG. Saat yang menentukan pajak terutang atau belum dibayar adalah keadaan Objek Pajak pada tanggal 1 Januari. Dengan demikian segala mutasi atau perubahan atas Objek Pajak yang terjadi setelah tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak pada tahun berikutnya. Contoh : A menjual tanah kepada B pada tanggal 2 Januari 1996. Kewajiban PBB Tahun 1996 masih menjadi tanggung jawab A. Sejak Tahun Pajak 1997 kewajiban PBB menjadi tanggung jawab B.

5. 2. 2. akta jual beli tanah. sebagai kuasa Wajib Pajak untuk mengisi dan menandatangani SPOP. Menyampaikan kembali SPOP yang telah diisi WP ke Kantor Pelayanan PBB atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat selambat-lambatnya 30 hari setelah formulir SPOP diterima. Memperoleh penjelasan. maka akan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) dengan sanksi berupa denda administrasi sebesar 25% dari PBB yang terutang. Menunjuk orang/pihak lain selain pegawai Direktorat Jenderal Pajak dengan surat kuasa khusus bermeterai. 2. Mengajukan permohonan tertulis mengenai penundaan penyampaian SPOP sebelum batas waktu dilampaui dengan menyebutkan alasan-alasan yang sah. Sanksi Administrasi 1. dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya 2 (dua) kali lipat pajak yang terutang. Barang siapa karena kealpaannya tidak mengembalikan SPOP atau mengembalikan SPOP tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan/ atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga menimbulkan kerugian bagi negara. keterangan tentang tata cara pengisian maupun penyampaian kembali SPOP pada Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak. C KEWAJIBAN WAJIB PAJAK 1. Kantor Penyuluhan Pajak. maka akan diterbitkan SKP degan sanksi berupa denda administrasi sebesar 25% dari selisih besarnya PBB yang terutang. Mengisi SPOP dengan jelas. Mendaftarkan Objek Pajak dengan cara mengisi SPOP. 6. Melaporkan perubahan data Objek Pajak/WP kepada Kantor Pelayanan PBB atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat dengan cara mengisi SPOP sebagai perbaikan/pembetulan SPOP sebelumnya. atau tempat lain yang ditunjuk. Sanksi Pidana 1. Memperoleh tanda terima pengembalian SPOP dari Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak. dan lain-lain). Memperoleh formulir SPOP secara gratis pada setiap Kantor Pelayanan PBB. 4. 3. Apabila pengisian SPOP setelah diteliti atau diperiksa ternyata tidak benar (lebih kecil). Barang siapa karena dengan sengaja : ♦ tidak mengembalikan atau menyampaikan SPOP kepada Direktorat Jenderal Pajak . dan lengkap: ♦ Jelas berarti dapat dibaca sehingga tidak salah tafsir ♦ Benar berarti data yang diisi sesuai dengan keadaan yang sebenarnya ♦ Lengkap berarti terisi semua dan ditandatangani. benar. D SANKSI a. Memperbaiki/mengisi ulang SPOP apabila terjadi kesalahan dalam pengisian dengan melampirkan foto kopi bukti yang sah (sertifikat tanah. 3. 4. B HAK WAJIB PAJAK 1.SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK (SPOP) A DEFINISI SPOP Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) adalah sarana bagi Wajib Pajak (WP) untuk mendaftarkan Objek Pajak yang akan dipakai sebagai dasar untuk menghitung Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang terutang. b. Dalam hal WP tidak menyampaikan kembali SPOP pada waktunya dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan sebagaimana ditentukan dalam surat teguran. 2.

Pembayaran dapat dilakukan melalui : a. Sanksi pidana tersebut dilipatkan dua apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat satu tahun. sehingga menimbulkan kerugian pada negara. terhitung sejak selesainya menjalani sebagian atau seluruh pidana penjara yang dijatuhkan atau sejak dibayarnya denda. B TATA CARA PEMBAYARAN PBB. . dipidana dengan pidana penjara selamalamanya 2 (dua) tahun atau denda setinggi-tingginya sebesar 5 (lima) kali pajak yang terutang. Pembayaran harus dilakukan sekaligus (tidak diperkenankan mencicil).♦ menyampaikan SPOP tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan keterangan yang tidak benar ♦ memperlihatkan surat palsu atau dipalsukan atau dokumen yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar ♦ tidak memperlihatkan data atau tidak meminjamkan surat atau dokumen lainnya ♦ tidak menunjukkan data atau tidak menyampaikan keterangan yang diperlukan. bank atau Kantor Pos dan Giro yang tercantum pada SPPT atau b. 2. Petugas pemungut PBB Kelurahan/Desa yang ditunjuk resmi. 1.

yaitu : ♦ lahan pertanian/perkebunan/perikanan/peternakan yang hasilnya sangat terbatas yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi. Terkena sebab-sebab lain yang luar biasa seperti kebakaran. 36 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi . ♦ Objek Pajak yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh masyarakat berpenghasilan rendah lainnya sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi. 2. Permohonan pengurangan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Kepala Kantor Pelayanan PBB yang menerbitkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)/Surat Ketetapan Pajak (SKP). Terkena bencana alam seperti gempa bumi. kekeringan (puso). sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi. Kondisi tertentu Objek Pajak yang ada hubungannya dengan Subyek Pajak dan/atau karena sebabsebab tertentu lainnya. B CARA PENGAJUAN PERMOHONAN a. ♦ Objek Pajak yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Badan yang mengalami kerugian dan kesulitan likuiditas yang serius sepanjang tahun. ♦ Objek Pajak yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi yang penghasilannya semata-mata berasal dari pensiun. BAB 4 Pajak Bumi dan Bangunan Hal. sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban rutin perusahaan. 3. banjir.PENGURANGAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN A PENGERTIAN Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pemberian keringanan pajak yang terutang atas Objek Pajak dalam hal : 1. ♦ Objek Pajak yang nilai jualnya meningkat disebabkan karena adanya pembangunan atau perkembangan lingkungan yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi yang berpenghasilan rendah. tanah longsor.

disertai penjelasan seperlunya. e. Apabila batas waktu pengajuan tersebut tidak dipenuhi. Isi surat permohonan menyebutkan prosentase pengurangan yang diminta c. dan Kepala Kantor Pelayanan PBB yang bersangkutan harus memberitahukan secara tertulis kepada WP/Kepala Desa/Lurah. Untuk Objek Pajak yang terkena bencana alam. Untuk ketetapan PBB di atas Rp 25. Permohonan diajukan selambat-lambatnya 60 hari sejak SPPT/SKP diterima WP. 2.000. d. 2. ♦ menolak.dapat diajukan secara perseorangan atau kolektif (melalui Kepala Desa/Lurah yang bersangkutan) dengan formulir yang telah ditentukan. 37 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi . dan sebab lain yang luar biasa dan bersifat massal diajukan oleh Kepala Desa/Lurah dengan diketahui oleh Camat dengan mencantumkan nama-nama Wajib Pajak yang dimohonkan pengurangannya dengan mempergunakan formulir yang telah ditentukan.harus diajukan oleh WP yang bersangkutan dengan melampirkan fotokopi SPPT/SKP PBB Tahun Pajak yang dimohonkan. Untuk WP Badan. melampirkan fotokopi : 1. 3.. hama tanaman. 4. SPT PPh tahun terakhir beserta lampirannya. SPPT/SKP PBB tahun yang dimohonkan. BENTUK KEPUTUSAN Keputusan atas permohonan pengurangan besarnya PBB yang diajukan WP dapat berupa: ♦ mengabulkan seluruh permohonan. Pengajuan permohonan dilakukan dengan ketentuan : 1. ♦ mengabulkan sebagaian atau. Pajak Bumi dan Bangunan Hal.. Untuk ketetapan PBB s/d Rp 25. 3. maka permohonannya tidak diproses.b.000.

b. E BATAS WAKTU PELUNASAN SKP BAB 5 Pajak Bumi dan Bangunan Hal. b. Kantor Pos dan Giro. c. D CARA PENYAMPAIAN SKP SKP disampaikan kepada WP melalui : a. adalah sebesar pokok pajak ditambah dengan denda administrasi sebesar 25% dihitung dari pokok pajak. Jumlah pajak yang terutang dalam SKP yang disebabkan oleh hasil pemeriksaan atau keterangan lainnya. Pemerintah Daerah. 38 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi . Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain yang ada ternyata jumlah pajak yang terutang lebih besar dari jumlah pajak yang dihitung berdasarkan SPOP yang disampaikan oleh WP.SURAT KETETAPAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN A PENGERTIAN Surat Ketatapan Pajak (SKP) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan yang memberitahukan besarnya pajak yang terutang termasuk denda administrasi. dihitung berdasarkan SPOP ditambah denda administrasi 25% dari selisih pajak yang terutang. Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak. Jumlah pajak yang terutang dalam SKP yang disebabkan oleh pengembalian SPOP lewat 30 hari setelah diterima WP. b. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) tidak disampaikan kembali dalam jangka waktu 30 hari dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan sebagaimana ditentukan dalam surat teguran. C JUMLAH PAJAK TERUTANG DALAM SKP a. kepada Wajib Pajak (WP). B DASAR PENERBITAN SKP SKP diterbitkan apabila : a.

39 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi . F LAIN-LAIN Atas SKP dapat diajukan keberatan/pengurangan.SKP harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak SKP diterima oleh WP. Pajak Bumi dan Bangunan Hal.

D BATAS WAKTU PELUNASAN STP STP harus dilunasi selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal STP diterima WP. WP dapat mengajukan permohonan peninjauan kembali atas STP jika ternyata WP telah melunasi kewajiban pajaknya. b. Atas STP tidak dapat diajukan keberatan. BAB 6 Pajak Bumi dan Bangunan Hal. b. ♦ Kantor Pos dan Giro. C CARA PENYAMPAIAN STP STP disampaikan kepada WP melalui: ♦ Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak. B DASAR PENERBITAN STP a. E SANKSI ADMINISTRASI Sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) setiap bulan. WP melunasi pajak yang terutang setelah lewat saat jatuh tempo pembayaran SPPT/SKP tetapi denda administrasi tidak dilunasi. 40 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi . untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan hari pembayaran. ♦ Pemerintah Daerah.SURAT TAGIHAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN A PENGERTIAN Surat Tagihan Pajak (STP) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KP. Wajib Pajak (WP) tidak melunasi pajak yang terutang sedangkan saat jatuh tempo pembayaran Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)/Surat Ketetapan Pajak (SKP) telah lewat. F LAIN-LAIN a.PBB) untuk menagih pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar ditambah denda administrasi sebesar 2 (dua) persen per bulan.

41 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi .c. Pajak yang terutang dalam STP apabila tidak dilunasi setelah jangka waktu yang telah ditentukan dapat ditagih dengan surat paksa. Pajak Bumi dan Bangunan Hal.

KEBERATAN ATAS PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN A ALASAN PENGAJUAN KEBERATAN a. dan/atau ♦ Akta Jual Beli. Disampaikan dalam batas waktu 3 (tiga) bulan sejak diterimanya SPPT atau SKP. Pajak yang terutang pada Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) atau Surat Ketetapan Pajak (SKP) yang diterbitkan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. c. C BENTUK KEPUTUSAN. dan/atau ♦ SPPT/SKP. Kesalahan Penetapan Subyek Pajak sebagai WP oleh Direktorat Jenderal Pajak. dan/atau ♦ Bukti Surat Ukur/Rincik. b. Terdapat perbedaan penafsiran peraturan perundang-undangan tentang PBB antara Wajib Pajak (WP) dan Fiskus. ♦ klasifikasi Objek Pajak bumi dan/atau bangunan. 42 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi . Membuat permohonan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Kepala Kantor Pelayanan PBB. c. dan/atau ♦ Bukti resmi lainnya. karena kesalahan : ♦ luas Objek Pajak bumi dan/atau bangunan. b. B TATA CARA PENGAJUAN KEBERATAN a. ♦ penetapan/pengenaan. BAB 7 Pajak Bumi dan Bangunan Hal. Memuat alasan yang jelas d. dan/atau ♦ Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Melampirkan foto kopi sebagai berikut : ♦ Bukti pemilikan hak atas tanah/sertifikat.

b. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam peninjauan sebagian terbukti kebenarannya. Resi Tanda Pengiriman menjadi Tanda Bukti Penerimaan. ♦ ditambah jumlah pajaknya. ♦ diterima sebagian. a. D LAIN-LAIN. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam peninjauan tidak terbukti kebenarannya. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam peninjauan terbukti kebenarannya. menunjukkan adanya peningkatan jumlah luas dan/atau Nilai Jual Objek Pajak. Pengajuan permohonan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak. 43 dari 54HOM E :: DAFTA R ISI Laboratori um Pengemba ngan Akuntansi . Surat keberatan yang diajukan langsung oleh WP akan diberi Tanda Bukti Penerimaan. c. Pajak Bumi dan Bangunan Hal. ♦ ditolak. Keberatan terhadap SPPT/SKP harus diajukan per Objek Pajak dan per tahun pajak. dan surat keberatan yang dikirim malalui Pos Tercatat.Keputusan keberatan dapat berupa: ♦ diterima seluruhnya. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam peninjauan lapangan.

q. Perubahahan peraturan b.KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN A PENGERTIAN Kelebihan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah selisih antara pajak yang dibayar dengan pajak yang terutang. Surat permohonan dilampiri dengan dokumen yang berkaitan dengan Objek Pajak yang dimohonkan berupa: ♦ Fotokopi SPPT/SKP/STP dan Surat Keputusan tentang Keberatan/Banding dan/atau Surat Keputusan tentang pemberian pengurangan. Surat Keputusan Penyelesaian Keberatan d. Meminta tanda bukti penerimaan surat permohonan (yang sudah lengkap) dari pejabat Kantor Pelayanan PBB yang ditunjuk. Mengajukan permohonan secara tertulis dalam bahasa Indonesia yang jelas kepada Direktur Jenderal Pajak c. Surat permohonan disampaikan langsung atau dikirim melalui pos tercatat c. D PELAKSANAAN PENGEMBALIAN BAB 8 Pajak Bumi dan Bangunan Hal. Surat Keputusan Pemberian Pengurangan c. d. 44 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi . Kekeliruan pembayaran. Kepala Kantor Pelayanan PBB yang menerbitkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)/Surat Ketetapan Pajak (SKP)/Surat Tagihan Pajak (STP). Kelebihan pembayaran PBB terjadi dalam hal pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak (WP) lebih besar dari jumlah PBB yang seharusnya terutang. b. B PENYEBAB TERJADINYA KELEBIHAN PEMBAYARAN a. C TATA CARA PENGAJUAN PERMOHONAN a. ♦ Asli Surat Tanda Terima Setoran (STTS) PBB.

b.PBB) dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak diterbitkannya SKKPP. maka kelebihan pembayaran PBB yang tercantum dalam SKKPP.PBB langsung diperhitungkan terlebih dahulu. ♦ Surat Pemberitaan (SPb). Dalam jangka waktu 12 bulan sejak diterimanya surat permohonan secara lengkap dari WP.PBB.PBB. Atas sisa penghitungan sebagaimana dimaksud pada huruf c dan d.a. dapat diterbitkan SPMKP. Dalam hal WP mempunyai utang PBB atas objek lainnya dalam wilayah Dati II yang sama. ♦ Surat Ketetapan Pajak (SKP) apabila jumlah yang dibayar ternyata kurang dari jumlah PBB yang seharusnya terutang. c. d. apabila jumlah yang dibayar ternyata lebih besar dari yang seharusnya terutang. Kantor Pelayanan PBB harus menerbitkan : ♦ Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak (SKKPP) PBB. WP dapat mengajukan permohonan agar kelebihan pembayaran PBB diperhitungkan dengan penetapan PBB yang akan datang. 45 dari 54HOM E :: DAFTA R ISI Laboratori um Pengemba ngan Akuntansi . e. apabila jumlah yang dibayar sama dengan jumlah PBB yang seharusnya terutang. Pajak Bumi dan Bangunan Hal. Kepala Kantor Pelayanan PBB harus menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak PBB (SPMKP.

E LAIN-LAIN BAB 9 Pajak Bumi dan Bangunan Hal. b. Permohonan banding diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Keputusan atas Keberatan oleh WP. c. Putusan banding oleh BPP merupakan putusan akhir dan bersifat tetap serta bukan merupakan keputusan Tata Usaha Negara.PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN BANDING PBB A PENGERTIAN Wajib Pajak (WP) yang tidak/belum puas terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak atas keberatannya. 46 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi . B TATA CARA PENGAJUAN BANDING a. Putusan banding dapat berupa : ♦ Diterima seluruhnya ♦ Diterima sebagian ♦ Ditolak ♦ Menambah jumlah PBB yang terutang. Sebelum BPP dibentuk permohonan banding diajukan kepada Majelis Pertimbangan Pajak (MPP). maka kelebihan pembayaran (bila ada) dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan untuk selama-lamanya 24 bulan. b. C BENTUK PUTUSAN BANDING a. Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan memuat alasan yang jelas. D IMBALAN BUNGA Apabila pengajuan permohonan banding diterima sebagian atau seluruhnya. Permohonan banding harus dilampiri foto kopi Surat Keputusan atas Keberatan. dapat mengajukan banding kepada Badan Peradilan Pajak (BPP).

47 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi . Pajak Bumi dan Bangunan Hal.Pengajuan permohonan banding tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak.

B TARIF PAJAK BUMI DAN BANGUNAN Tarif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang dikenakan atas Objek Pajak adalah tarif tunggal yaitu sebesar 0.KLASIFIKASI BUMI & BANGUNAN SERTA PENERAPANNYA DALAM MENGHITUNG PBB Untuk memudahkan penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang terutang atas suatu objek pajak berupa tanah (bumi) dan/atau bangunan perlu diketahui pengelompokan objek pajak menurut nilai jualnya. Pengelompokan Objek Pajak menurut nilai jual tersebut lazim disebut dengan klasifikasi tanah (bumi) dan bangunan. dikuasai atau dimanfaatkan oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS). Apabila WP mempunyai lebih dari satu Objek Pajak maka yang mendapatkan NJOPTKP hanya satu objek. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP).000. A NILAI JUAL OBJEK PAJAK TIDAK KENA PAJAK Sejak tahun 1995 NJOPTKP ditetapkan sebesar Rp 8. ABRI.5%.000. C NILAI JUAL KENA PAJAK Nilai Jual Kena Pajak ditetapkan : 1.untuk tiap Wajib Pajak (WP). tarif. Untuk Objek Pajak jenis penggunaan perumahan yang Wajib Pajaknya Orang Pribadi dengan NJOP bernilai Rp 1 milyar atau lebih dan tidak dimiliki. dan para pensiunan BAB 10 Pajak Bumi dan Bangunan Hal. yaitu yang nilainya paling tinggi. dan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP).. 48 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi .

000.240. Objek perumahan yang tidak dimiliki.000.000.5% x Rp 472.200.000.000.000.♦ NJOP sebagai dasar pengenaan PBB = Rp 1..000.. ABRI.000.♦ NJKP : 40% x Rp 1..400. Nilai jual bumi tersebut termasuk kelas 30 dengan nilai jual Rp 82..000. dikuasai..PBB yang terutang : 0. 2.5% x Rp 236.362..Luas Bumi 300 m2 dengan nilai jual Rp 75.000. 49 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi .= Rp 802./m2 Penghitungan PBB-nya : ♦ Jumlah NJOP bumi :1.181.PBB yang terutang : 0.00/m2.termasuk janda atau dudanya yang berpenghasilan semata-mata dari gaji atau uang pensiun ditetapkan sebesar 40 %.00/m2 Nilai jual tanah tersebut termasuk kelas 17 dengan nilai jual Rp 802.000./m2.181. Apabila Objek Pajak pada contoh A dimiliki/dikuasai/dimanfaatkan oleh PNS. Nilai jual bangunan tersebut termasuk kelas 2 dengan nilai jual Rp 968.000.480.000.200./m2 Pajak Bumi dan Bangunan Hal.000.000..= Rp 1.= Rp 2.200.= Rp 472.000 x Rp 802. Objek perumahan lainnya dan non perumahan.♦ NJOPTKP = Rp 8.000.= Rp 387.♦ NJOP untuk penghitungan PBB = Rp 1.NJKP : 20% x Rp 1.♦ Jumlah NJOP Bangunan : 400 x Rp 968. D PENERAPAN KLASIFIKASI BUMI DAN/ATAU BANGUNAN 1.200.189. ♦ Luas Bumi 1.(Satu juta seratus delapan puluh satu ribu dua ratus rupiah) 3.240.(Dua juta tiga ratus enam puluh dua ribu empat ratus rupiah) 2.000.000 m2 dengan nilai jual Rp 840. Pensiunan termasuk janda/dudanya yang berpenghasilan semata-mata dari gaji atau uang pensiun maka penghitungannya adalah: ..200. ABRI dan para pensiunan termasuk janda dan dudanya.= Rp 236.200. .000.000. Untuk Objek Pajak lainnya ditetapkan sebesar 20% .000..480.181.000. atau dimanfaatkan oleh PNS./m2 ♦ Luas Bangunan 400 m2 dengan nilai jual Rp 1.181.000.

Jumlah NJOP bumi : 300 x Rp 82.600.5% x Rp 11.000.= Rp 39.000....200.(Lima puluh enam ribu dua ratus rupiah) Pajak Bumi dan Bangunan Hal../m2 Penghitungan PBB-nya : .240.240.000.NJOPTKP = Rp 8.000.NJKP : 20% x Rp 56.Luas Bangunan 150 m2 dengan nilai jual Rp 260. Nilai jual bangunan tersebut termasuk kelas 10 dengan nilai jual Rp 264.000..000..000.Jumlah NJOP Bangunan : 150 x Rp 264.000.= Rp 24.600.NJOP untuk penghitungan PBB = Rp 56.-/m2..200.200.200.000...000..000.PBB yang terutang 0. 50 dari 54HOM E :: DAFTA R ISI Laboratori um Pengemba ngan Akuntansi .000.= Rp 11.NJOP sebagai dasar pengenaan PBB = Rp 64..000.= Rp 56.

c. b. Formulir SPOP disediakan dan dapat diambil gratis di Kantor Pelayanan PBB atau tempat lain yang ditunjuk. Pendataan dapat dilakukan dengan cara: a. terpencil dan mempunyai potensi PBB yang relatif kecil. benar dan lengkap dengan disertai sket/denah Objek Pajak dan ditandatangani serta dikembalikan ke Kantor Pelayanan PBB yang bersangkutan atau tempat lain yang ditunjuk untuk pengambilan dan pengembalian SPOP. BAB 11 Pajak Bumi dan Bangunan Hal.PENDAFTARAN PENDATAAN OBJEK PBB & A PENDAFTARAN OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) Pendaftaran Objek PBB dilakukan oleh Subyek Pajak dengan cara mengambil dan mengisi formulir Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) secara jelas. Verifikasi Objek Pajak Dilakukan pada daerah/wilayah yang sudah memiliki peta garis/peta foto dan sudah mempunyai data administrasi pembukuan PBB hasil pendataan 3 (tiga) tahun terakhir secara lengkap. namun tidak mempunyai data administrasi pembukuan PBB hasil pendataan 3 (tiga) tahun terakhir secara lengkap. B PENDATAAN OBJEK PAJAK Pendataan Objek Pajak Bumi dan Bangunan dilakukan oleh Kantor Pelayanan PBB dengan menggunakan SPOP dan dilaksanakan sekurang-kurangnya untuk satu wilayah administrasi desa/kelurahan. Penyebaran SPOP: Hanya dapat dilakukan pada daerah/wilayah yang tidak/belum mempunyai peta. Identifikasi Objek Pajak Dilakukan pada daerah/wilayah yang sudah memiliki peta garis/peta foto yang dapat menentukan posisi relatif Objek Pajak. 51 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi .

sehingga belum dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif Objek Pajak. 52 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi .d. namun letaknya strategis dan mempunyai potensi PBB yang pesat. Pajak Bumi dan Bangunan Hal. Pengukuran Bidang Objek Pajak Dilakukan pada daerah/wilayah yang hanya memiliki sket desa/kelurahan.

000. Dalam hal WP tidak melunasi utang pajak beserta denda dalam waktu yang telah ditentukan dalam Surat Teguran. d.000. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) b. c. Pajak yang terutang dalam SPPT/SKP yang tidak/kurang dibayar setelah lewat jatuh tempo pembayaran akan ditagih dengan Surat Tagihan Pajak (STP) termasuk denda administrasinya.-.dibebankan kepada WP.PENAGIHAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN A DASAR PENAGIHAN Dasar penagihan Pajak Bumi dan Bangunan adalah : a. Surat Ketetapan Pajak (SKP) c. pelaksanaan penagihan akan dilanjutkan dengan tindakan BAB 12 Pajak Bumi dan Bangunan Hal. segera diterbitkan Surat Perintah Melakukan Penyitaan dengan biaya pelaksanaaan sita sebesar Rp 75. b. Apabila dalam waktu 1 x 24 jam sejak tanggal pemberitahuan Surat Paksa utang pajak beserta denda belum juga dilunasi. Surat Tagihan Pajak (STP) B PELAKSANAAN Penagihan a. utang pajak beserta denda belum dibayar. utang pajak beserta denda belum dilunasi. Surat Paksa harus segera diterbitkan setelah 21 hari sejak tanggal Surat Teguran dengan dibebani biaya pelaksanaan penagihan paksa sebesar Rp 25. segera diterbitkan Surat Teguran . Dalam waktu sepuluh hari setelah tindakan penyitaan. Setelah tujuh hari sejak jatuh tempo yang tercantum dalam STP. Jumlah tagihan yang tercantum dalam STP harus dilunasi selambat-lambatnya 1 bulan sejak STP diterima oleh Wajib Pajak (WP). 53 dari 54HOME :: DAFTAR ISI Laboratorium Pengembangan Akuntansi .. e.

pelelangan melalui Kantor Lelang Negara. E LAIN-LAIN Juru Sita Pajak Negara berhak meminta bantuan Kepolisian Negara atau aparat Pemerintah Daerah dalam rangka pelaksanaan penagihan pajak negara. c. D KEWAJIBAN WAJIB PAJAK a. ♦ Apabila WP melunasi utang pajaknya beserta denda dan biaya-biaya lainnya sebelum pelaksanaan lelang. b. Barang yang disita dilarang dipindahtangankan. . b. Menentukan urutan barang yang akan dilelang d. objek PBB ini adalah bumi dan/atau bangunan sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang PBB. sesuai dengan namanya. Hal ini bisa kita lihat dari susunan pasal dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 dan perubahannya yang menempatkan pasal tentang objek pajak lebih dahulu daripada subjeknya. PBB adalah termasuk jenis pajak objektif. Sebelum pelaksanaan lelang mendapat kesempatan terakhir untuk melunasi utang pajak beserta denda termasuk biaya penyitaan. Membantu Juru Sita Pajak Negara dalam melaksanakan tugasnyda engan : ♦ memperbolehkan memasuki ruangan. Menerima salinan Surat Paksa dan Salinan Berita Acara Penyitaan. ♦ memberikan keterangan lisan atau pun tertulis yang diperlukan. tempat tinggal. Yang dimaksud dengan bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya. maka Pengumuman Lelang dibatalkan C HAK-HAK WAJIB PAJAK a. di mana yang lebih ditekankan dalam pengenaan pajak ini adalah pada objeknya. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan. setelah terlebih dahulu diumumkan melalui surat kabar. dihipotikkan. Objek Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah salah satu jenis pajak yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) selain Pajak Penghasilan (PPh). Catatan: ♦ Apabila WP melunasi utang pajaknya beserta denda dan biaya-biaya lainnya sebelum pelaksanaan penyitaan. Meminta Juru Sita memperlihatkan tanda pengenal Juru Sita Pajak Negara. maka akan dibebankan kepada WP bersama-sama dengan biaya iklan untuk pengumuman lelang dalam surat kabar dan biaya lelang pada saat pelelangan. dan biaya pembatalan lelang serta melaporkan pelunasan tersebut kepada Kantor Pelayanan PBB yang bersangkutan. Nah. Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia. tempat usaha. Sementara itu arti bumi dan bangunan dijelaskan dalam Pasal 1 Undang-undang PBB. Bea Meterai (BM) dan Bea Perolehan Hak Tas Tanah dan/atau Bangunan (BPHTB). maka Surat Perintah Melakukan Penyitaan dicabut. Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Dalam hal biaya penagihan paksa dan biaya pelaksanaan sita belum dibayar. atau disewakan. iklan.

hutan suaka alam. dermaga 7. yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan 2. OBJEK PAJAK TIDAK DIKENAKAN PBB: Pasal 3 Undang-undang PBB memberikan pengecualian bumi dan/atau bangunan yang tidak dikenakan PBB. kesehatan.Yang termasuk dalam pengertian bangunan adalah : 1. Galangan kapal. Pagar mewah 5. hutan wisata. sosial. Tempat penampungan/kilang minyak. konsulat berdasarkan perlakuan timbal balik 5. dan lain-lain yang merupakan satu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut 2. pendidikan dan kebudayaan nasional. air dan gas. yaitu objek pajak yang : 1. peninggalan purbakala. Jalan tol 3. pipa minyak 9. Taman mewah 8. pabrik. Fasilitas lain yang memberikan manfaat. taman nasional. dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak 4. Merupakan hutan lindung. Tempat olah raga 6. atau yang sejenis dengan itu 3. Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah. Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan . Digunakan untuk kuburan. Digunakan oleh perwakilan diplomatik. Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan seperti hotel. tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa. Kolam renang 4. dan emplasemennya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful