Apa Itu Sungsang ?

“Sungsang adalah kondisi letak bayi memanjang dengan kepala di bagian atas rahim sementara bokong bayi di bagian bawah,” katanya. Jadi jangan terburu panik.

Posisi sungsang, posisi janin memanjang dengan kepala di bagian atas rahim dan bokongnya ada di bagian bawah, tergolong sebagai kelainan letak janin. Kondisi ini biasanya sudah terdekteksi saat kehamilan memasuki trimester kedua. Jika situasi ini terjadi pada saat kehamilan masih berusia di bawah 9 bulan maka masih dikategorikan sebagai sesuatu yang normal. Salah satu indikasi awam adalah kandungan yang terasa penuh di bagian atas dengan gerakan janin terasa lebih banyak di bagian bawah. Namun, tentu saja untuk memastikannya Anda perlu memeriksakan kehamilan pada dokter. Lebih jauh, bahwa sungsang dapat terjadi pada ibu hamil manapun tanpa bisa dicegah. “Ini merupakan proses adaptasi bayi terhadap rahim”. Jika kondisi ini terjadi pada kehamilan Anda, maka jangan buru-buru panik. Asalkan usia kandungan masih di bawah 32 minggu maka si kecil dalam perut masih bisa dikembalikan pada posisi normal kok.

Mengapa bisa sungsang ?
Penyebabnya ada dua, yaitu faktor janin dan ibu sendiri. Dari segi janin, mungkin karena ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan ruangan rahim ibu. Akibatnya, janin bebas berputar, baik ke atas

maupun ke bawah. Di Indonesia, bila berat bayi di bawah 3 kg dan ibunya telah beberapa kali melahirkan, ada kemungkinan akan menjadi sungsang. Sebaliknya, bila si bayi terlalu besar dan posisi kepala masih di atas. Pada saat kepala akan melewati panggul menuju posisi normal, akhirnya terpental kembali karena ruangan panggul ibu terlalu sempit sehingga kepala bayi sulit berputar ke arah bawah. Pada kasus bayi kembar, kemungkinan sungsang menjadi lebih besar sebab janin yang kepalanya berputar ke arah bawah lebih dulu akan membuat rongga panggul ibu susah dilalui janin kembarannya. Maka, pada bayi kembar, posisi salah satu janinnya sungsang. Sedangkan faktor ibu, antara lain karena bentuk rahim yang tidak normal, air ketuban yang terlalu banyak, adanya tumor, plasenta di bawah, dan lainnya. Penyebab Lain :

1. Bobot janin relatif rendah. Hal ini mengakibatkan janin bebas bergerak. Ketika menginjak usia 28-34 minggu kehamilan, berat janin makin membesar, sehingga tidak bebas lagi bergerak. Pada usia tersebut, umumnya janin sudah menetap pada satu posisi. Kalau posisinya salah, maka disebut sungsang. 2. Rahim yang sangat elastis. Hal ini biasanya terjadi karena ibu telah melahirkan beberapa anak sebelumnya, sehingga rahim sangat elastis dan membuat janin berpeluang besar untuk berputar hingga minggu ke-37 dan seterusnya. 3. Hamil kembar. Adanya lebih dari satu janin dalam rahim menyebabkan terjadinya perebutan tempat. Setiap janin berusaha mencari tempat yang nyaman, sehingga ada kemungkinan bagian tubuh yang lebih besar (yakni bokong janin) berada di bagian bawah rahim. 4. Hidramnion (kembar air). Volume air ketuban yang melebihi normal menyebabkan janin lebih leluasa bergerak walau sudah memasuki trimester ketiga. 5. Hidrosefalus. Besarnya ukuran kepala akibat kelebihan cairan (hidrosefalus) membuat janin mencari tempat yang lebih luas, yakni di bagian atas rahim.

6. Plasenta previa. Plasenta yang menutupi jalan lahir dapat mengurangi luas ruangan dalam rahim. Akibatnya, janin berusaha mencari tempat yang lebih luas yakni di bagian atas rahim. 7. Panggul sempit. Sempitnya ruang panggul mendorong janin mengubah posisinya menjadi sungsang. 8. Kelainan bawaan. Jika bagian bawah rahim lebih besar daripada bagian atasnya, maka janin cenderung mengubah posisinya menjadi sungsang. Letak yang salah itulah yang dapat menimbulkan masalah saat ibu harus menjalani persalinan. Dan berbeda dengan persalinan normal, pada persalinan sungsang dibatasi waktu. Begitu badan bayi sudah keluar, kepalanya harus dikeluarkan 4 menit kemudian. “Ini perlu dan harus dilakukan demi keselamatan bayi. Sebab, jika terlalu lama, bayi bisa kekurangan oksigen dan dapat menimbulkan kematian,”

Jenis Sungsang
Bila dikaitkan dengan posisi kaki bayi, ada 3 jenis sungsang, yaitu :

1. Frank Breech/Letak Bokong. Letak bokong dengan kedua tungkai kaki terangkat ke atas, kadang kaki sampai menyentuh telinga. 2. Complete Breech/Letak Sungsang Sempurna. Letak bokong di mana kedua kaki ada di samping bokong (letak bokong kaki sempurna/lipat kejang). Seakan posisi bayi “jongkok” dengan bokong di atas mulut rahim, lutut terangkat ke perut. 3. Incomplete Breech/Singel Footling Breech. Bila satu kaki di atas dan kaki yang lainnya di bawah, dalam dunia

kedokteran disebut presentasi bokong kaki. Tetapi, kasus letak sungsang jenis ini jarang ditemui.

MULTIPARITAS
Selain dapat terjadi secara fisiologis atau normal, sungsang dapat juga disebabkan oleh penyebab lain, diantaranya adalah :

1. Kelainan dari rahim, sebut saja terdapat sekat pada rahim, bisa juga karena rahim bentuknya menyerupai angka 7 2. Ada miom dalam rahim yang mendesak 3. Adanya lilitan tali pusat sehingga bayi tidak bisa memutar 4. Placenta previa, yakni placenta yang menutupi jalan lahir 5. Kepala bayi yang terlampau besar (hidrosefalus) 6. Ukuran bayi lebih besar daripada panggul ibu 7. Kehamilan bayi kembar 8. Multiparitas, seperti kehamilan anak ke-2,3,4, dst. Kongres Dokter kandungan Amerika dan Ginekologis mengatakan kelahiran bayi sungsang lebih umum terjadi, bila :

1. Si ibu telah hamil sebelumnya atau ini bukan kelahiran anak pertamanya. 2. Si ibu mengandung lebih dari satu janin. 3. Sang ibu memiliki cairan ketuban terlalu banyak atau terlalu sedikit di dalam rahim. 4. Sang ibu memiliki kelainan pada bentuk rahim atau pertumbuhan yang tidak biasa seperti fibroid. 5. Plasenta ibu hamil secara keseluruhan atau sebagian menghalangi pembukaan rahim. Kondisi seperti ini disebut plasenta previa. 6. Bayi prematur.

SUJUD

dengan posisi perut seakan-akan menggantung ke bawah. Lantas. dianjurkan untuk melakukan posisi bersujud. Namun. Jika Anda sudah merasa lebih baik. berkisar sekitar 92 persen. 5. “Pada kehamilan 7-8 bulan koreksi dilakukan dengan cara ibu berada dalam posisi sujud atau knee-chest position. 3. Lakukan antara 5-10 menit sebanyak 2 kali sehari. Diharapkan dengan rutin melakukannya. Artinya. untuk melakukan tindakan ini ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. 2. ia mengingatkan bahwa posisi tersebut dapat membuat ibu merasa tidak nyaman atau sesak jika dilakukan terlalu lama. maka kondisi sungsang dianggap sebagai sesuatu yang normal. “Kemungkinannya kembali ke posisi normal. seperti : 1.Jika tidak terdapat faktor risiko seperti yang disebutkan di atas. Jangan dipaksakan. bagaimana jika setelah rutin melakukan sujud si mungil tetap berada dalam kondisi sungsang? Dokter dapat melakukan tindakan koreksi dari luar dengan cara memutar janin hingga pada posisi yang seharusnya. Tidak ada lilitan tali pusat pada leher bayi Tidak ada kondisi hidrosefalus Tidak ada placenta previa Tidak ada miom Ukuran bayi tidak lebih besar daripada panggul ibu . sujud dapat dilakukan lagi. 4. bayi akan memutar ke posisi yang seharusnya”. berhentilah dulu setiap Anda mulai merasa tidak nyaman. Biasanya para ibu yang janinnya berposisi sungsang. Cara sederhana yang bisa Anda lakukan adalah dengan melakukan posisi sujud. Bila posisi ini dilakukan dengan baik dan teratur. diyakini dapat diupayakan untuk dilakukan pengoreksian. Sarannya. Dan posisi bersujud ini tidak berbahaya karena secara alamiah memberi ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke posisi normal Hanya saja. kemungkinan besar bayi yang sungsang dapat kembali ke posisi normal.

Cara lain adalah dengan ultrasonografi (USG). Kemungkinan janin akan kembali ke posisi normal. Dan posisi bersujud ini tidak berbahaya karena secara alamiah memberi ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke posisi normal. Cara ini pun hanya bisa dilakukan oleh dokter atau bidan. 3. Metode ini adalah mengubah . Tindakan apa yang harus dilakukan? Selain upaya yang dilakukan dokter. kepala merupakan bagian terbesar dan terkeras dari janin. Nah. Cara ini dilakukan oleh dokter atau bidan. 2. Karena seperti kita tahu. • • Anda dianjurkan untuk melakukan posisi bersujud (knee chest position). dengan posisi perut seakan-akan menggantung ke bawah. Perlu diketahui bahwa kepala merupakan bagian terbesar dan terkeras dari janin. 4. bayi akan diduga sungsang bila bagian yang paling keras dan besar berada di kutub atas. misalnya pagi dan sore. Melakukan perabaan perut bagian luar.Bagaimana Cara Mendeteksi Sungsang ? 1. kemungkinan besar bayi yang sungsang dapat kembali ke posisi normal. Cara ini harus rutin dilakukan setiap hari sebanyak 2 kali. Usaha lain yang dapat dilakukan oleh dokter adalah mengubah letak janin sungsang menjadi normal dengan cara externalcephalic versin/ECV. Melalui pemeriksaan bagian dalam menggunakan jari. Bila di bagian panggul ibu lunak dan bagian atas keras. Janin akan diduga sungsang bila bagian yang paling keras dan besar berada di kutub atas perut. Masing-masing selama 10 menit. Cara ini dilakukan oleh dokter atau bidan. berkisar sekitar 92 persen. Bila posisi ini dilakukan dengan baik dan teratur. Caranya dengan perabaan luar melalui perut. berarti bayinya sungsang. Letak janin sungsang sudah bisa diketahui saat kehamilan berusia tua. maka Anda pun bisa mengupayakan sendiri agar janin kembali ke posisi semula.

3. Cara ini dilakukan saat kandungan mulai memasuki usia 34 minggu. seperti : 1. Pada persalinan normal. JANGAN MEMAKSA DAN TAHU RISIKO Setiap ibu dipastikan menginginkan persalinan normal. ia akan meninggal”. pada persalinan sungsang (posisi bokong bayi ke luar lebih dulu) hingga keseluruhan badannya. kepala bayi akan beradaptasi mengikuti jalan lahir sedangkan pada persalinan sungsang kepala bayi tidak memiliki waktu untuk beradaptasi. Dikhawatirkan dapat menyebabkan perdarahan otak karena dalam waktu singkat terjadi dekompresi. Pasalnya. Jika bokong bayi ke luar lebih dulu. kapasitas oksigen yang dimiliki bayi hanya cukup untuk 8 menit. proses melahirkan benarbenar mengandalkan tenaga ibu sepenuhnya. Pada persalinan normal (posisi kepala bayi ke luar lebih dulu) waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kepala hingga seluruh tubuhnya bisa hingga 2 jam. hanya saja jika sudah tiba saatnya si kecil lahir posisinya masih sungsang. Pada persalinan normal. Sementara.posisi janin dari luar tubuh sang ibu. Bagaimana dengan Anda? Apa Yang Terjadi Saat Persalinan ? . itulah mengapa banyak pasangan yang memilih jalan caesar. 2. jika dalam proses melahirkan Anda merasa kelelahan maka dokter dapat membantu dengan melakukan tindakan vakum atau bayi ditarik dengan forcep. Dengan sejumlah risiko seperti yang telah dituturkan di atas. “Nah. dan bayi bisa terjepit di jalan lahir. cara ini menimbulkan rasa sakit bahkan kematian janin. akibat kekurangan suplai oksigen ke otaknya. waktu yang tersedia hanya 8 menit. Sayangnya. walau persalinan per vaginal bisa diusahakan tetap terdapat beberapa risiko. begitu bokongnya ke luar. tali pusat akan terjepit –tertekan dengan kepala—karena kepala sudah masuk panggul. Lebih dari itu. Waktu sangat singkat.

posisi kepala yang baik yaitu menunduk seperti menghadap ke bawah. ada kemungkinan posisi kepala janin seperti posisi “militer”. dan tertarik saat persalinan normal. Untuk itu biasanya dokter menggunakan partograf. Jika persalinan dinilai berjalan lambat. posisi kepala janin. Ketiga. Jika sungsang terjadi pada anak pertama. yaitu tegak menghadap ke depan (layaknya prajurit siap siaga). urutan kelahiran. tidak bisa dicoba-coba untuk melahirkan dengan cara normal karena dapat mengakibatkan cedera. Tapi. Yang jelas. perdarahan otak (akibat kepalanya terjepit dalam waktu yang lama). Proses persalinan yang salah. Pada janin sungsang. Cara ini dipilih untuk menghindari cedera pada otot leher bayi yang mungkin saja tersangkut Kedua. Kendati letak bayi sungsang. persalinan disarankan melalui caesar. alat untuk memantau kemajuan persalinan. jelas menimbulkan risiko. persalinan pervaginam masih tetap bisa dilakukan. Bila berat bayi di atas 3. bila dipaksakan keluar dapat mematahkan tulang punggung yang paling atas dan dapat mengakibatkan radang otak.Posisi janin sungsang tentunya dapat memengaruhi proses persalinan. maka harus segera dilakukan operasi bedah sesar. Pertama.5 kg. patah paha (akibat salah saat menarik paha ke luar). Karena panggul ibu belum pernah melahirkan. dan lain-lain. persalinan sungsang dipengaruhi beberapa faktor. ukuran bayi. seperti janin mengalami pundak patah atau saraf di bagian pundak tertarik (akibat salah posisi saat menarik bagian tangannya ke luar). dokter akan cenderung memilih operasi caesar. Pada janin normal. .

panggul Baca luas.web.web. Selengkapnya bayi tidak terlilit usus” : http://www. Persalinan pervaginam bisa dilakukan bila tidak terdapat faktorfaktor yang telah disebutkan di atas. “Misalnya bila bayinya kecil.html#axzz1vyYdAGUG .html#ixzz1vyYsWApL http://www.id/2011/06/hamil-sungsang-fakta-jenispenyebab.id/2011/06/hamil- sungsang-fakta-jenis-penyebab.Sebab itulah sebaiknya persalinan pun dilakukan dengan jalan caesar.iniunik.iniunik.

Complete breech (5-10%) yaitu tungkai atas lurus keatas. Tipe letak sungsang yaitu: Frank breech (50-70%) yaitu kedua tungkai fleksi . Kejadian letak sungsang . Letak sungsang terjadi pada 3-4% dari seluruh persalinan. dengan akibat hipoksia atau perdarahan di dalam tengkorak. tungkai bawah ekstensi . presentasi kaki. Trauma lahir pada presentasi bokong banyak dihubungkan dengan usaha untuk mempercepat persalinan dengan tindakan-tindakan untuk mengatasi macetnya persalinan.Persalinan LETAK SUNGSANG 15:03 Diposkan oleh Febri Kematian perinatal langsung yang disebabkan karena persalinan presentasi bokong sebesar 4-5 kali dibanding presentasi kepala. Sebab kematian perinatal pada persalinan presentasi bokong yang terpenting adalah prematuritas dan penanganan persalinan yang kurang sempurna. Footling (10-30%) yaitu satu atau kedua tungkai atas ekstensi. Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri (2).

Disamping bokong teraba satu kaki .1998). Letak Bokong Murni 1. Teraba bokong 2. Letak Bokong Kaki Sempurna 1. Berdasarkan komposisi dari bokong dan kaki dapat ditentukan bentuk letak sungsang sebagai berikut : A. Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme “Maulage” karena susunan tulang dasar kepala yang rapat dan padat. Letak Bokong Tak Sempurna 1. Letak sungsang pada usia kehamilan kurang dari 28 minggu sebesar 25%. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme maulage dapat menimbulkan kematian bayi yang besar (Manuaba.1998)).berkurang dengan bertambahnya usia kehamilan. 1-3% pada kehamilan aterm. kepala berada pada fundus uteri. Kedua kaki berada di samping bokong C. setelah badan bayi lahir.1998). sedangkan pesalinan letak sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir. Pada letak kepala. Teraba bokong 2. Kedua kaki menjungkit ke atas sampai kepala bayi 3. kepala yang merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu. Kedua kaki bertindak sebagai spalk B. pada kehamilan 32 minggu 7% dan. Bentuk-Bentuk Letak Sungsang (Manuaba . sedangkan bokong merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis (Manuab. Pengertian Kehamilan Sungsang Kehamilan pada bayi dengan presentasi bokong (sungsang) dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu. sehingga hanya mempunyai waktu 8 menit. Teraba bokong 2.

Letak Bokong Murni Flexi pada paha. a. Implantasi plasenta di fundus atau di tonus uteri cenderung untuk mempermudah terjadinya presentasi bokong ( Harry oxorn. extensi pada lutut. ini merupakan jenis yang tersering dan meliputi hampir 2/3 presentasi bokong.. panggul sempit.hydrocepalus dan janin besar. Letak Kaki 1.D. Dapat dibedakan letak kaki bila kaki terendah . Bila bagian terendah teraba salah satu dan atau kedua kaki atau lutut 2. air ketuban yang berlebihan. Sudut Ibu a. letak bila lutut terendah Untuk menentukan berbagai letak sungsang dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan dalam. Letak Bokong Tak Sempurna / lutut Satu atau dua kaki dengan ekstensi pada kaki merupakan bagian terendah (Fn Complek Breech). ada pesentasi bokong membakal. Kehamilan ganda. Keadaan rahim 1) Rahim arkuatus . b. fibra. Letak Bokong Kaki Sempurna Flexi pada paha dan lutut (Frant Greech). plasenta previa. Beberapa ibu melahirkan bayinya semua dengan presentasi bokong menunjukkan bahwa bentuk panggulnya adalah sedemikian rupa sehingga lebih cocok untuk presentasi bokong daripada presentasi kepala. myoma. Etiologi Faktor-faktor presentasi bokong meliputi prematuritas. dan pemeriksaan ultrasonografi. c.1996 ) Penyebab letak sungsang dapat berasal dari 1. Banyak yang diketahui sebabnya. pemeriksaan foto abdomen.

Disamping itu kepala janin merupakan bagian terbesar dan keras serta paling lambat. Mekanisme persalinan letak sungsang Mekanisme persalinan letak sungsang berlangsung sebagai berikut : a) Persalinan bokong b) Persalinan bahu c) Persalinan kepala . Melalui hukum gaya berat. kepala janin berangsur-angsur masuk ke pintu atas panggul. Dengan gerakan kaki janin. bokong mencapai tempat yang lebih luas sehingga terdapat kedudukan letak kepala. kepala janin akan menuju kearah pintu atas panggul. Sudut janin Pada janin tedapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak sungsang : 1) Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat 2) Hedrosefalus atau anesefalus 3) Kehamilan kembar 4) Hidroamnion atau aligohidromion 5) Prematuritas Dalam keadaan normal. ketegangan ligamentum fatundum dan kontraksi braxson hicks.2) Septum pada rahim 3) Uterus dupleks 4) Mioma bersama kehamilan b. Keadaan plasenta 1) Plasenta letak rendah 2) Plasenta previa c. Keadaan jalan lahir 1) Kesempitan panggul 2) Deformitas tulang panggul 3) Terdapat tumor menjalani jalan lahir dan perputaran ke posisi kepala 2.

mulut. Di atas panggul terasa massa lunak mengalir dan tidak terasa seperti kepala. Pemeriksaan abdominal a. e. Persalinan kepala mempunyai waktu terbatas sekitar 8 menit. Dengan bahu depan sebagai hipomoklion akan lahir bahu belakang bersama dengan tangan belakang diikuti kelahiran bahu depan dan tangan depan. Kepala berada di fundus uteri. Suboksiput menjadi hipomuklion. 1998). Bersamaan dengan kelahiran bahu. Denyut jantung janin Denyut jantung janin terdengar paling keras pada atau di atas umbilicus dan pada sisi . serta melakukan putaran paksi dalam sehingga suboksiput berada di bawah simfisis. jauh dari garis tengah dan di belakang. muka dan kepala seluruhnya. berturut-turut akan lahir dagu. Mungkin kepala cukup diraba bila kepala ada di bawah tupar/iga-iga. Letaknya adalah memanjang. d. Kepala lebih keras dan lebih bulat dari paha bokong dan kadangkadang dapat dipantulkan (Balloffablle) dari pada bokong uteri teraba terasa massa yang dapat dipantulkan harus dicurigai presentasi bokong. c. setelah bokong lahir. b. Tonjolan kepala tidak ada bokong tidak dapat dipantulkan 2. Diagnosa kedudukan 1. kepala bayi memasuki jalan lahir dapat melintang atau miring. Melampaui batas 8 menit dapat menimbulkan kesakitan /kematian bayi (Manuaba. 1998) Bokong masuk pintu atas panggul dapat melintang atau miring mengikuti jalan lahir dan melakukan putaran paksi dalam sehingga trochanter depan berada di bawah simfisis. hidung. Dengan trochanter depan sebagai hipomoklion akan lahir trochanter belakang dan selanjutnya seluruh bokong lahir untuk melakukan putaran paksi dalam sehingga bahu depan berada dibawah simfisis.(Manuaba. memberikan gambaran keras menyerupai kepala dan menyebabkan kesalahan diagnostic. Dicurigai bokong. Punggung ada di sebelah kanan dekat dengan garis tengah bagian-bagian kecil ada di sebelah kiri. Pada presentasi bokong murni otot-otot paha teregama di atas tulang-tulang dibawahnya.

2. Pada RSA (Right Sacrum Antorior) denyut jantung janin terdengar paling keras di kuadrat kanan atas perut ibu kadang-kadang denyut jantung janin terdengar di bawah umbilicus 3. demikian pula kelainankelainan seperti hydrocephalus. Tahap cepat : dari lahirnya pusar sampai mulut.yang sama pada punggung. Anus dan tuber ichiadicum terletak pada satu garis. pada fase ini kepala janin masuk PAP. sehingga kemungkinan tali pusat terjepit. Menurut Prawirohardjo. 4. Persalinan Pervaginam a. Persalinan per abdominal : Seksio Sesaria Prosedur persalinan sungsang secara spontan : 1. Bokong dapat dikelirukan dengan muka. maka persalinan sungsang dibagi menjadi : 1. 4) Kadang-kadang pada presentasi bokong murni sacrum tertarik ke bawah dan teraba oleh jari-jari pemeriksa. Tahap lambat : mulai lahirnya bokong sampai pusar merupakan fase yang tidak berbahaya. Ia dapat dikelirukan dngan kepala oleh karena tulang yang keras. Hasil pemeriksaan negatif ini menunjukkan adanya mal presentasi. Pemeriksaan Sinar X Sinar X menunjukkan dengan tepat sikap dan posisi janin. Partial breech extraction : Manual and assisted breech delivery c. Total breech extraction 2. Pemeriksaan vaginal 1) Bagian terendah teraba tinggi 2) Tidak teraba kepala yang keras. 3) Bagian terendahnya teraba lunak dan ireguler. Spontaneous breech (Bracht) b. rata dan teratur dengan garis-garis sutura dan fantenella. 5) Sakrum ada di kuadran kanan depan panggul dan diameter gitochanterika ada pada diameter obligua kanan. berdasarkan jalan lahir yang dilalui. .

masker dan kaca mata pelindung b) Cuci tangan hingga siku dengan di bawah air mengalir c) Keringkan tangan dengan handuk DTT d) Pakai sarung tangan DTT / steril e) Memasang duk (kain penutup) . Persiapan Pasien : a) Ibu dalam posisi litotomi pada tempat tidur persalinan b) Mengosongkan kandung kemih . Prosedur Persalinan Bayi Sungsang ( Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. Tahap lama : lahirnya mulut sampai seluruh bagian kepala.23 (sekali pakai) g) Alat-alat infus h) Povidon Iodin 10% i) Perangkat episiotomi dan penjahitan luka episiotomi Persiapan Penolong a) Pakai baju dan alas kaki ruang tindakan. Oksitosin) d) Anastesi lokal (Lidokain 2%) e) Cunam piper. rektum serta membersihkan daerah perenium dengan antiseptic Instrumen : a) Perangkat untuk persalinan b) Perangkat untuk resusitasi bayi c) Uterotonika (Ergometrin maleat.3. kepala keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang tekanannya lebih rendah sehingga kepala harus dilahirkan perlahan-lahan untuk menghindari pendarahan intrakranial (adanya tentorium cerebellum).2002) Langkah klinik 1. Persetujuan tindakan medik 2. jika tidak ada sediakan cunam panjang f) Semprit dan jarum no.

2) Tali pusat dikendorkan.2002) Pengeluaran bahu dan tangan secara klasik dilakukan jika dengan Bracht baht dan tangan tidak bisa lahir. ikuti saja proses keluarnya janin.Tindakan Pertolongan Partus Sungsang a) Lakukan periksa dalam untuk menilai besarnya pembukaan. Dengan tangan kiri dan menariknya ke arah kanan atas ibu untuk melahirkan bahu kiri bayi yang berada di belakang. Melahirkan bayi : I. 2) Jangan melakukan intervensi. hidung. Cara Klasik (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. mulut. b. bersihkan jalan nafas bayi. tali pusat dipotong.4. Cara Bracht 1) Segera setelah bokong lahir. dahi dan kepala. 3) Pegang kaki pada pergelangan kaki dengan satu tangan dan tarik ke atas a. selaput ketuban dan penurunan bokong serta kemungkinan adanya penyulit. 5) Gerakkan ke atas hingga lahir dagu. 3) Longgarkan tali pusat setelah lahirnya perut dan sebagian dada. bokong dicekam dan dilahirkan sehingga bokong dan kaki lahir. bokong dicekam secara bracht (kedua ibu jari penolong sejajar dengan panjang paha. 4) Lakukan hiperlordosis janin pada saat anguluc skapula inferior tampak di bawah simfisis (dengan mengikuti gerak rotasi anterior yaitu punggung janin didekatkan ke arah perut ibu tanpa tarikan) disesuaikan dengan lahirnya badan bayi. bungkus bayi dengan handuk hangat. c) Pimpin berulang kali hingga bokong turun ke dasar panggul. b) Intruksikan pasien agar mengedan dengan benar selama ada his. Dengan tanggan kanan dan menariknya ke arah kiri atas ibu untuk melahirkan bahu . II. lakukan episiotomi saat bokong membuka vulva dan perineum sudah tipis. jari-jari yang lain memegang daerah panggul). Prosedur : 1) Segera setelah bokong lahir. 6) Letakkan bayi di perut ibu.

yaitu kedua ibu jari diletakkan di .kanan bayi yang berada di belakang. Setelah bahu dan lengan depan lahir dilanjutkan langkah yang sama untuk melahirkan bahu dan lengan belakang. Melahirkan bahu depan terlebih dahulu dengan menarik kedua kaki dengan cara yang sama seperti klasik. Ekstraksi Kaki Dilakukan bila kala II tidak maju atau tampak gejala kegawatan ibu-bayi. 1) Tangan kanan masuk secara obstetrik melahirkan bokong. untuk melahirkan lengan belakang bayi. 2) Kedua tangan penolong memegang betis janin. ke arah belakang kontra lateral dari letak bahu depan. V. Keadaan bayi / ibu mengharuskan bayi segera dilahirkan. IV.tangan yang lain mendorong fundus ke bawah. Setelah kaki fleksi pergelangan kaki dipegang dengan dua jari dan dituntun keluar dari vagina sampai batas lutut. 4) Masukkan dua jari tangan kanan atau kiri (sesuai letak bahu belakang) sejajar dengan lengan bayi. Cara Lovset (Dilakukan bila ada lengan bayi yang terjungkit di belakang kepala / nuchal arm) (a) Setelah bokong dan kaki bayi lahir memegang bayi dengan kedua tangan. (b) Memutar kembali 180o ke arah yang berlawanan ke kiri atau ke kanan beberapa kali hingga kedua bahu dan lengan dilahirkan secara Klasik atau Muller. pangkal paha sampai lutut. Cara Muller Pengeluaran bahu dan tangan secara Muller dilakukan jika dengan cara Bracht bahu dan tangan tidak bisa lahir. Memutar bayi 180o dengan lengan bayi yang terjungkit ke arah penunjuk jari tangan yang muchal. III. 5) Setelah bahu dan lengan belakang lahir kedua kaki ditarik ke arah bawah kontra lateral dari langkah sebelumnya untuk melahirkan bahu dan lengan bayi depan dengan cara yang sama. kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin sehingga kaki bawah menjadi fleksi.

maka tangan penolong yang lain menekam pergelangan tadi dan turut menarik curam ke bawah. atau Muller atau Lovset. 1) Letakkan badan bayi di atas tangan kiri sehingga badan bayi seolah-olah memegang kuda (Untuk penolong kidal meletakkan badan bayi di atas tangan kanan). bila kala II tidak maju atau tampak keadaan janin lebih dari ibu yang mengharuskan bayi segera dilahirkan. maka yang akan lahir lebih dahulu ialah trokhanter belakang dan untuk melahirkan trokhanter depan maka pangkal paha ditarik terus cunam ke bawah. Cara Melahirkan Kepala Bayi Cara Mauriceu (dilakukan bila bayi dilahirkan secara manual aid bila dengan Bracht kepala belum lahir). dimasukkan kedalam jalan lahir dan diletakkan dilipatan paha bagian depan. VI. sejajar sumbu panjang paha dan jari lain di depan paha. 5) Sebaliknya bila kaki belakang yang dilahirkan lebih dulu. Bila kedua trokhanter lahir berarti bokong telah lahir. 2) Bila dengan tarikan ini trokhanter depan mulai tampak di bawah simfisis. bayi dilahirkan secara Clasik . 1) Jari penunjuk penolong yang searah dengan bagian kecil janin. maka jari telujuk penolong yang lain mengkait lipatan paha ditarik curam ke bawah sampai bokong lahir. kaki ditarik turun ke bawah sampai pangkal paha lahir. Untuk memperkuat tenaga tarikan ini. 4) Pangkal paha ditarik curam ke bawah sampai trokhanter depan lahir kemudian pangkal paha dengan pegangan yang sama dievaluasi ke atas hingga trokhanter belakang lahir.belakang betis sejajar sumbu panjang paha dan jari-jari lain di depan betis. . atau Muller atau Lovset. 2) Satu jari dimasukkan di mulut dan dua jari di maksila. Dengan jari ini lipat paha atau krista iliaka dikait dan ditarik curam ke bawah. 3) Setelah bokong lahir. 6) Setelah bokong lahir maka dilanjutkan cara Clasik . 3) Pegangan dipindah ke pangkal paha sehingga mungkin dengan kedua ibu jari di belakang paha. Teknik Ekstraksi Bokong Dikerjakan bila presentasi bokong murni dan bokong sudah turun di dasar panggul.

Sarwono. January 2002. Breech Presentation.Ilmu KebidananPenyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. asisten menekan fundus uteri. Premature Rupture of the Membrane. Fischer Richard et al. Distosia Pada Kelainan Letak Serta Bentuk Janin. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.William R. DAFTAR PUSTAKA Prof.EGC.3) Tangan kanan memegang atau mencekam bahu tengkuk bayi 4) Minta seorang asisten menekan fundus uteri.Harry&Forte..2002. http://bidanshop. e medicine.Ida Bagus Gede Manuaba. Jakarta 2005.blogspot.Jakarta.JNPKKR_POGI. Mc. Wiknjosastro H.Jakarta. Ilmu Kebidanan. 2005.1998.html . 5) Bersama dengan adanya his. .1996. Williams Obstetric.Prawirohardjo.Jakarta.Graw Hill Publishing Division.com/2009/12/persalinan-letak-sungsang. 22st ed. New York.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. Cunningham FG et al. Oxorn.SpOG. penolong persalinan melakukan tarikan ke bawah sesuai arah sumbu jalan lahir dibimbing jari yang dimasukkan untuk menekan dagu atau mulut.Dr.Yayasan Essentia Medica.Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi.

yang meliputi partisipasi dalam perencanaan. dan kelahiran berikutnya akan menjadi tugas dari profesi ini. 7) Tidak ada indikasi bagi pencukuran bulu pubis atau klisma sebelum persalinan 8) Wanita hamil sebaiknya tidak ditempatkan dalam posisi litotomi (tidur terlentang) selama melahirkan. 3) Informasi mengenai praktek persalinan di rumah sakit ( kelahiran bedah. psikologis dan mental turut menentukan dalam pemahaman dan pelaksanaan perawatan prenatal semestinya” 1) Keseluruhan komunitas harus diberitahukan mengenai berbagai prosedur dalam perawatan kelahiran. 9) Penggunaan episotomi sistematis adalah tidak dibenarkan 10) Kelahiran tidak harus diinduksi (secara artifisial dimulai) dan induksi kelahiran harus . Mereka harus didorong untuk berjalan selama sakit melahirkan dan setiap wanita harus secara bebas memutuskan mana posisi yang diinginkan selama melahirkan. 6) Tidak ada fakta-fakta yang menyatakan bahwa pemonitoran elektronik rutin janin selama persalinan memiliki efek positif terhadap hasil kehamilan. dan bahwa faktor sosial.16 Rekomendasi dari WHO tentang kehamilan dan persalinan 20:18 Diposkan oleh Febri “Didasarkan pada prinsip bahwa setiap wanita memiliki hak fundamental untuk mendapatkan perawatan prenatal yang semestinya. pelaksanaan dan evaluasi perawatan. untuk memberdayakan setiap wanita dalam memilih jenis perawatan persalinan yang dia sukai 2) Pelatihan tenaga profesional atau pelayan kelahiran harus ditingkatkan. Perawatan selama kelahiran dan kehamilan normal. bahwa wanita memiliki peran sentral di semua aspek perawatan ini. persalinan pervaginam setelah sebelumnya sesar dianjurkan dimanapun asalkan kapasistas bedah darurat tersedia. dan sebagainya) harus diberikan kepada publik yang dilayani oleh rumah sakit. 4) Tidak dibenarkan pada wilayah geographis tertentu untuk memiliki angka persalinan dengan bedah sesar lebih dari 10-15% kelahiran (baru-baru ini tingkat kelahiran dengan bedah sesar di amerika serikat diestimasi hingga sekitar 23%) 5) Tidak ada fakta-fakta yang menyatakan bahwa bedah sesar diperlukan jika kelahiran sebelumnya dengan teknik potongan melintang dibawah segmen bawah rahim.

sampai sebelum ibu meninggalkan kamar bersalin (dan memperkirakan dia diberikan fasilitas) 15) Pelayanan obsterik memiliki sikap kritis terhadap teknologi .dipersiapkan selama ada indikasi-indikasi medis tertentu. administrasi rutin berupa obat-obat analgesik atau anastesi yang secara khusus diperlukan untuk mengoreksi atau mencegah komplikasi dalam melahirkan. 14) Utamakan untuk memulai segera memberikan air susu ibu. 11) .blogspot. 13) .Bayi baru lahir sehat harus tetap bersama ibu. http://bidanshop. bilamana kondisi keduanya mengijinkan.Selama melahirkan. Tiap wilayah geographis dianjurkan persalinan induksi tidak boleh lebih dari 10%. psikologis dan aspek sosial pada kelahiran yang akan diidentifikasi. sebagai proses rutin.html . Layanan-layanan seperti itu harus dianjurkan dan proses yang mengarahkan mereka ke posisinya harus dipelajari sehingga mereka dapat digunakan sebagai model untuk membantu perkembangan sikap serupa di pusat-pusat lain dan untuk mempengaruhi pandangan obsetetrikal seluruh dunia 16) Pemerintah harus mempertimbangkan pengembangan peraturan-peraturan untuk mengijinkan menggunakan teknologi dalam persalinan hanya jika telah dilakukan evaluasi yang memadai. adalah tidak dibenarkan secara ilmiah. Tidak dibenarkan proses observasi memisahkan bayi baru lahir sehat dari ibunya.com/2009/12/16-rekomendasi-dari-organisasi. dengan mengadopsi sikap respek terhadap emosional. 12) Pemecahan selaput ketuban. harus dihindari.

denyut tali pusat atau gerakan otot-otot sadar”. and Causes of Death. yang bukan komplikasi obstetri.usia dimana berat lahir normalnya mencapai 500gram) sampai 7 hari setelah dilahirkan. tanpa memperhatikan lama dan tempat terjadinya kehamilan. yaitu kematian ibu yang langsung disebabkan oleh komplikasi obstetri pada masa hamil. yaitu kematian ibu yang disebabkan oleh suatu penyakit. bersalin dan nifas. tetapi bukan karena kecelakaan” Kematian ibu dibedakan menjadi dua kelompok. berapa pun usia kehamilannya. yang disebabkan oleh atau dipicu oleh oleh kehamilannya. Periode Perinatal adalah periode antara umur gestasi 22 minggu lengkap (154 hari.Defenisi Kematian Ibu dan Bayi baru lahir 21:14 Diposkan oleh Febri Menurut International Statistical Classification of Disease. yaitu: 1. Edition X (ICD-X): “ Kematian seorang perempuan yang terjadi selama kehamilan sampai dengan 42 hari setelah berakhirnya kehamilan. Di negara berkembang. atau kematian yang disebabkan oleh suatu tindakan. sekitar 95% kematian ibu termasuk dalam kelompok ini. kematian ditandai dengan kenyataan bahwa setelah dipisahkan dari ibunya janin tidak bernafas ataupun menunjukkan tanda-tanda kehidupan lain seperti detak jantung. 2. Direct obstetric deaths. ICD-X mendefinisikan beberapa periode berkaitan dengan kehamilan dan kelahirannya sebagai berikut: 1. yang berkembang atau bertambah berat akibat kehamilan atau persalinan. Dengan demikian yang dimaksud dengan kematian perinatal adalah kematian yang terjadi pada janin ketika usia kehamilan mencapai 22 minggu lengkap sampai pada saat 7 hari setelah . Injuries. bersalin atau nifas. atau berbagai hal yang terjadi akibat tindakan-tindakan tersebut yang dilakukan selama hamil. atau penanganan kehamilannya. Sedangkan yang dimaksud dengan lahir mati (fetal death) menurut ICD-X adalah: ”Kematian sebelum dilahirkannya atau dikeluarkannya hasil konsepsi secara lengkap dari ibunya. Indirect obstetric deaths.

sedangkan kematian neonatal lanjut adalah kematian yang terjadi pada bayi berusia 8-28 hari.Pertama. Kematian neonatal dini adalah kematian yang terjadi pada bayi dalam periode 7 hari setelah bayi dilahirkan. Potts (1986) menganalogikannya dengan jatuhnya setiap 4 jam sekali sebuah pesawat jumbo jet berpenumpang 500 orang. lebih dari satu perempuan meninggal setiap menitnya akibat komplikasi kehamilan dan persalinan. Risiko Kematian Ibu di dunia Berdasarkan Wilayah Wilayah Risiko Kematian Maternal Afrika 1:16 Asia 1: 65 Amerika latin dan karibia 1:130 Eropa 1: 1400 Amerika utara 1: 3700 Risiko rata-rata di negara miskin 1: 48 Risiko rata-rata di negara kaya 1: 1800 Ada dua alasan utama yang menyebabkan upaya safe motherhood perlu menjadi prioritas. Besaran Masalah Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir Untuk menggambarkan besarnya masalh kematian ibu. yang seluruh penumpangnya adalah perempuan hamil. sedangkan di negara maju 1: 2800.dilahirkan. termasuk didalam nya 68. diperkirakan kematian maternal sebagian besar masih terjadi di negara-negara yang paling miskin seperti Asia dan Afrika. Periode neonatal adalah periode mulai saat bayi dilahirkan sampai dengan usia 28 hari. besarnya masalah kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta dampak yang . Saat ini jurang antara kematian ibu di negara miskin dan kaya masih besar. atau 529. Kematian neonatal (yaitu kematian yang terjadi pada saat bayi baru lahir sampai berumur 28 hari) dapat dibedakan menjadi kematian neonatal dini dan kematian neonatal lanjut. terutama berasal dari negara berkembang. 2005).000 kematian akibat aborsi tidak aman (WHO. 2.000 kematian ibu pertahunnya. Perbandingan kematian ibu di negara miskin adalah 1: 16.

Hanya sedikit negara di Asia Tenggara yang mempunyai sistem registrasi kelahiran yang baik sehingga tidak diperoleh data yang akurat tentang jumlah kematian bayi baru lahir atau pun kematian pada bulan pertama. upaya Safe Motherhood pada hakekatnya merupakan intervensi yang efisien dan efektif dalam menurunkan kejadian kematian ibu.diakibatkannya. baik bagi keluarga. Dampak sosial dan ekonomi kejadian ini dapat dipastikan sangat besar. Sekitar 15% ibu akan mengalami komplikasi (Maine. Setiap tahunnya komplikasi persalinan menyebabkan 585. walaupun tetap dibutuhkan biaya untuk penanganan komplikasi sebesar AS $ 230 per kasus (WHO. 2/3 kematian neonatal terjadi pada masa perinatal . persalinan.4 juta bayi lahir mati ( Tinker. Proporsi kematian bayi baru lahir di dunia sangat tinggi dengan estimasi sebesar 4 juta kematian bayi baru lahir pertahun dan 1. Dalam Kenyataannya. Keberadaan seorang ibu merupakan tonggak utama untuk tercapainya keluarga yang sejahtera dan kematian seorang ibu merupakan suatu bencana bagi keluarganya. Data menunjukkan bahwa seperempat dari perempuan usia reproduktif di negara berkembang mengalami kesakitan yang berhubungan dengan kehamilan. 2/3 kematian bayi terjadi pada masa neonatal 2.000 kematian perempuan di dunia. 1. Kedua.1991). 1997). dan nifas. penurunan angka kematian bayi baru lahir di setiap negara di Asia Tenggara masih sangat lambat (WHO. 2005) Sedangkan kematian bayi baru lahir menurut perkiraan SDKI tahun 2002-2003 adalah 22/1000 kelahiran hidup.5 juta kematian bayi berusia satu minggu. dan 1. Untuk memberikan gambaran efisiensi upaya pencegahan. masyarakat maupun angkatan kerja di suatu negara. 1997). Walaupun kematian bayi turun tetapi kematian bayi baru lahir di Indonesia masih tetap tinggi dan hal ini erat kaitannya dengan kurang baiknya penanganan komplikasi obstetri saat persalinan dan masih rendahnya status kesehatan ibu.4 juta kematian pada bayi baru lahir pad abulan pertama di Asia tenggara. WHO mengungkapkan bahwa ternyata cukup dianggarkan biaya sebesar AS $ 2 per ibu untuk pelayanan kesehatan yang optimal selama hamil. sehingga dalam anggaran untuk penanganan komplikasi diupayakan agar tetap dalam batas yang layak. Hubungan antara kematian bayi baru lahir dan kondisi ibu terkait dengan ”fenomena 2/3” yang terjadi yaitu: 1.

Hal ini disebabkan antara lain : kurangnya nakes terlatih yang memiliki motivasi kesehatan. 4. 6. namun di berbagai daerah pelayanan yang aman tidak tersedia secara adekuat. 3. kualitas juga dinilai masih rendah. kesenjangan dalam komitmen politik dan kebijakan terhadap kesehatan ibu dan bayi baru lahir. pengawasan yang tidak efektif. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggung jawab penuh untuk merencanakan dan melaksanakan pelayanan kesehatan di daerahnya. Pelayanan di fasilitas kesehatan diberikan dengan cara pembayaran tunai. Perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi menjadi desentralisasi menuntut adanya perubahan peran dan tanggung jawab di tingkat propinsi dan kabupaten/kota. Kesenjangan dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Kesenjangan dalam penyediaan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. . penggunaan sumber daya yang tidak efektif dan kesulitan dalam memanfaatkan hasil kajian untuk perbaikan program dan perluasan intervensi. atau kurangnya sumber dana. dengan sektor swasta. Kesenjangan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. faktor geografis dan pembangunan sosial. Kesenjangan dalam kerjasama dan koordinasi antara pemerintah dan mitra kerja seperti kerjasama antar departemen. LSM dan organisasi profesi serta lembaga donor. Kurangnya koordinasi di lapangan menciptakan tumpang tindih yang tidak dapat dihindari. 5.3. kecuali pelayanan bagi keluarga miskin di fasilitas kesehatan pemerintah. Keterbatasan dana merupakan masalah utama program kesehatan kabupaten. Walaupun menurut hukum wanita berhak memperoleh pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. pendidikan wanita. 2. persyaratan peraturan yang kompleks. 2/3 kematian perinatal terjadi pada hari pertama Berbagai permasalahan masih dialami oleh Indonesia sehingga upaya penurunan AKI dan AKB sulit dilakukan. Permasalahan yang ada tersebut antara lain adalah : 1. kegiatan yang terkotak-kotak. Selain jumlah fasilitas yang tersedia masih terbatas. Pelayanan komplikasi yang tepat waktu dan adekuat sangat kritis untuk kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir namun memerlukan biaya mahal. Pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang tidak merata sangat erat hubungannya dengan kemiskinan.

000 kematian ibu di dunia setiap tahunnya. Kenyataan ini membuka mata dunia bahwa telah terjadi ketimpangan yang besar antara masalah kesehatan perempuan di negara maju dan di negara berkembang. karena 99% kematian ibu di dunia terjadi di negara-negara tersebut. Tujuan upaya Safe Motherhood adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil. Kenya. serta lebarnya jurang antara keadaan di negara berkembang dan keadaan di negara maju. Sekitar 99% kematian ibu tersebut terjadi di negara-negara berkembang. pertemuan ini kemudian menjadi dasar dari gerakan dunia untuk menyelamatkan ibu dari kesakitan dan kematian. Hasil-hasil penelitian semacam ini kemudian dibicarakan pada Inter Regional Meeting on the Prevention of Maternal Mortality di WHO Geneva pada bulan November 1985. sedangan ”Keselamatan Ibu” mempunyai konotasi yang terkait langsung dengna aspek kesehatan. bersalin. meliputi hal-hal diluar kesehatan. WHO dan UNDP. upaya Safe Motherhood diterjemahkan sebagai UpayaKesejahteraan/Keselamatan Ibu. Dalam konferensi tersebut diungkapkan terjadinya 585. disamping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Mulai saat itu. perbedaan AKI ternyata jauh lebih besar. Dibandingkan dengan angka kematian bayi (selanjutnya disingkat AKB). pada bulan Oktober tahun 1987 atas kerjasama Bank Dunia. nifas.Perkembangan Upaya Global Penurunan Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir Upaya Safe Motherhood dirintis untuk mengatasi perbedaan yang sangat besar antara AKI di negara maju dengan angka tersebut dinegara berkembang. Hasil penelitian WHO dan UNFPA menunjukkan tingginya AKI di berbagai negara berkembang. Upaya ini terutama ditujukan kepada negara yang sedang berkembang. serta menghasilkan bayi yang sehat. UNFPA. Istilah ”Kesejahteraan Ibu” menunjukkan ruang lingkup yang lebih luas. Di Indonesia. Konferensi ini merupakan forum pertama yang secara khusus membahas masalah kematian ibu karena kehamilan dna persalinan. yang kemudian dicanangkan dalam Konferensi Internasional Safe Motherhood (International Conference on Safe Motherhood) di Nairobi. Upaya Safe Motherhood merupakan upaya untuk menyelamatkan perempuan agar kehamilan dan persalinannya dapat dilalui dengan sehat dan aman. .

.000 kelahiran hidup pada tahun 2000. Perubahan ke arah analisis gender ini didukung dan disebarkan secara luas oleh WHO. Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut menandatangani deklarasi tersebut juga telah bertekad untuk menurunkan angka kematian ibu dari 450 per 100. Dalam Konferensi di Beijing ini penekanan lebih “terpusat pada perempuan”.dicanangkanlah upaya Safe Motherhood sebagai upaya global untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan pada perempuan dan bayi baru lahir. Konsensus umum yang disepakati adalah perubahan paradigma dari kontrol penduduk menjadi pemenuhan hak-hak reproduksi manusia. prioritas masalah. Dalam pertemuan pertemuan tersebut satu dari tujuh deklarasi adalah menurunkan AKI menjadi setengahnya pada tahun 1990-2000. Hal tersebut lebih memfokuskan pada peningkatan kualitas hidup manusia yang hanya dapat dicapai melalui partisipasi penuh dari kaum perempuan di segala bidang. pemenuhan hak reproduksi klien menjadi pusat perhatian. Konferensi kedua yang menjadi tonggak upaya Safe Motherhood adalah World Summit for Children tahun 1990. mobilisasi penelitian. Selanjutnya Konferensi Dunia ke IV tentang Perempuan di Beijing pada tanggal 15 Oktober 1995 memberikan penekanan yang berbeda pada masalah gender dibandingkan dengan pemikiran di Nairobi yang lebih sempit. khususnya di negara berkembang.000 kelahiran hidup menjadi 225 per 100. Peserta Konferensi menganggap bahwa ICPD pada taun 1994 merupakan awal pengakuan global tentang kemitraan pria-perempuan (equity) dan pemberdayaan perempuan sebagai dasar dalam merencanakan program kesehatan dan kependudukan yang efektif. Konferensi berikut yang juga menentukan adalah Intenational Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo pada bulan September tahun 1994. untuk mencapai hal ini kemudian dibentuk jaringan global guna meningkatkan kesadaran. Hal ini berarti setiap negara dari 166 negara yang menandatangani deklarasi tersebut telah menyatakan komitmennya untuk menurunkan AKI di negara masing-masing sebesar 50%. Dengan demikian pemberdayaan perempuan (women empowerment). bantuan teknis dan informasi tentang masalah kematian ibu.

Dalam pertemuan tersebut disampaikan 10 pesan aksi untuk dapat dilaksanakan di setiap Negara. diselenggarakan Safe Motherhood Technical Consultation. Safe Motherhood : Inventasi Sosial dan Ekonomi yang Vital. 4. Pastikan Persalinan Ditolong oleh Tenaga Terdidik/Terampil. Kembangkan Safe Motherhood melalui Hak Azasi Manusia. perinatal dan enonatal. Ukur Kemajuan Program Safe Motherhood Kekuatan dalam Kemitraan untuk Safe Motherhood. Tunda Perkawinan dan Kehamilan Pertama. Cegah Kehamilan yang Tak Diinginkan dan Atasi Aborsi yang Tak Aman.Pada bulan Oktober tahun 1997 di Colombo. Inisiatif ini juga menjadi bahan resolusi pada Pertemuan Regional Asia Tenggara di New Delhi . yaitu : 1. namun masih tetap banyak yang perlu dilakukan. 10. WHO meluncurkan inisiatif Making Pregnancy Safer (MPS) pada tahun 1999 yang didasari pada penekanan pentingnya kemitraan menurunkan AKI. 8. Dalam pertemuan yang diikuti oleh wakil dari 65 negara tersebut diakui bahwa telah banyak yang dilakukan dalam 10 tahun. Sri Lanka. Setiap Kehamilan Menghadapi Risiko. yang merupakan peringatan 10 tahun upaya global dalam Safe Motherhood yang dicanangkan di Nairobi. walaupun berbagai upaya mendapat berbagai dukungan namun pada kenyataannya upaya penurunan AKI belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Memberikan Kesempatan Memilih. Memberdayakan Perempuan. 5. 9. 7. 2. Peringatan ulang tahun ke-10 upaya Safe Motherhood ini kemudian dilanjutkan oleh WHO dengan memakai tema tersebut untuk memperingati Hari Kesehatan Sedunia pada bulan April tahun 1998. 3. 6. Tingkatkan Akses terhadap Pelayanan Kesehatan Ibu yang Berkualitas. Selanjutnya untuk mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian ibu. MPS menjadi komponen penting upaya safe montherhood di tingkat global.

dan anggota masyarakat. Namun demikian beberapa penelitian telah membuktikan bahwa angka total kesuburan (Total Fertility Rate/TFR) ternyata tidak selalu memberikan dampak yang berarti pada penurunan AKI karena kematian ibu berkaitan pula dengan faktor-faktor lain seperti kualitas pelayanan kesehatan. Dengan demikian program keluarga berencana dapat secara tidak langsung mengurangi risiko kematian ibu.pada September tahun 2000. Sebaliknya bila TFR cukup rendah. maka pelayanan KB tidak lagi berpengaruh terhadap penurunan AKI. Determinan proksi/dekat. termasuk Indonesia menyatakan keprihatinan dan ikut mengadopsi resolusi untuk menurunkan kesakitan dan kematian ibu. yang meliputi: Kejadian kehamilan Perempuan yang hamil memiliki risiko untuk mengalami komplikasi. Konsep-konsep dasar A. determinan antara (intermediate determinants) dan determinan kontekstual (contekstual determinants) 1. . Pada pertemuan tersebut.000 setiap tahun dan hal itu terjadi pada negara-negara berkembang di Asia Tenggara. sektor swasta.Carti dan Maine (1992) dalam kerangka konsepnya mengemukakan peran determinan kematian ibu sebagai keadaan atau hal yang melatarbelakangi dan menjadi penyebab langsung serta tidak langsung dari kematian ibu. negara-negara di Asia Tenggara. sedangkan perempuan yang tidak hamil tidak memiliki risiko tersebut. Bila TFR tinggi maka penurunan kematian ibu akan sangat dipengaruhi oleh keikitsertaan KB. MPS juga menjadi strategi penurunan kematian ibu dan anak dengan penekanan pada pentingnya kemitraan antara sektor pemerintah. keluarga. yaitu perdarahan. badan donor. Determinan Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir Mc. MPS menjadi dokumen pedoman bagi negaranegara yang mengadopsinya agar safe motherhood menjadi prioritas di dalam kebijakan dan anggaran nasional. Komplikasi kehamilan dan persalinan Komplikasi obstetri ini merupakan penyebab langsung kematian ibu. Determinan kematian ibu itu dikelompokkan dalam : Determinan Proksi atau dekat (proximate determinant). infeksi. diperkirakan Asia Tenggara menyumbang sekitar 40% dari angka kematian ibu di dunia yang terjadi sekitar 500. Efek KB terhadap penurunan AKI berkaitan dengan TFR.

status perkawinan (perempuan dengan status tidak menikah cenderung kurang memperhatikan kesehatan diri dan janinnya selama kehamilan dengan tidak melakukan pemeriksaan kehamilan. 2. jarak antara kehamilan. Dalam jangka panjang. Siklus reproduksi kehamilan dan menyusui yang berulang-ulang pada seorang ibu dapat menyebabkan suatu masalah kekurangan gizi pada ibu yang disebut “ Maternal Depletion Syndrome”. penyakit infeksi atau parasit.eklampsi. yang akan menyebabkan tidak terdeteksinya kelainan yang dapat mengakibatkan komplikasi). yang hasilnya akan dapat segera terlihat dalam bentuk penurunan AKI. Kurang gizi yang dialami bisa berupa kekurangan zat gizi makro seperti kurang energi protein (KEP) ataupun zat gizi mikro seperti anemia. Intervensi yang ditujukan untuk mengatasi komplikasi obstetri tersebut merupakan intervensi jangka pendek. upaya penurunan AKI harus memperhatikan dan dilengkapi dengan intervensi antara determinan antara dan kontekstual. Tempat pelayanan yang lokasinya tidak strategis/sulit dicapai oleh para ibu menyebabkan berkurangnya akses ibu hamil terhadap pelayanan kesehatan. yang meliputi: Status Kesehatan Faktor-faktor status kesehatan ibu antara lain status gizi. gondok dll. abortus dan rupture uteri. penyakit jantung. ginjal dan riwayat komplikasi obstetri. Status Reproduksi Faktor-faktor status reproduksi antara lain usia ibu hamil ( usia dibawah 20 tahun dan di atas 35 tahun merupakan usia berisikountuk hamil dan melahirkan). Namun. waktu dan biaya. intervensi hanya pada penyebab langsung saja tidak akan menyelesaikan masalah kematian ibu secara tuntas dan berkesinambungan. Ketersediaan adalah tersedianya fasilitas pelayanan kesehatandengan jumlah dan kualitas yang memadai. Keterjangkauan pelayanan kesehatan mencakup jarak. partus lama. jumlah kelahiran (semakin banyak jumlah kelahiran yang dialami oleh seorang ibu semakin tinggi risikonya untuk mengalami komplikasi). yaitu ketersediaan dan keterjangkauan. ada dua aspek utama. Akses terhadap pelayanan kesehatan Dalam membahas mengenai akse pelayanan. Determinan antara. penyakit menahun seperti TBC. Walaupun . beri-beri.

Pemberdayaan perempuan merupakan salah satu kata kunci dari keberhasilan upaya safe motherhood. pekerjaan (ibu yang bekerja di sektor formal memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi kesehatan). dan 95% . ketuban pecah dini. dan persalinan kasep. 3. Perilaku sehat Hal ini antara lain meliputi penggunaan alat-alat kontrasepsi ( ibu ber KB akan lebih jarang melahirkan dibandingkan dengan ibu yang tidak berKB). misalnya kontraksi uterus yang tidak adekuat. Angka melek huruf di beberapa negara adalah 40% di Afrika. Faktor-faktor lain yang tidak diketahui atau tidak terduga Disamping hal-hal diatas. perilaku menggugurkan kandungan (ibu yang berusaha menggugurkan kandungannya berisiko lebih besar untuk mengalami komplikasi). keberdayaan perempuan (woman empowerment) yang memungkinkan perempuan lebih aktif dalam menentukan sikap dan lebih mandiri dalam memutuskan hal terbaik bagi dirinya. Beberapa keadaan tersebut terjadi pada saat melhirkan. ekonomi dan budaya) Status perempuan dalam keluarga dan masyarakat Faktor-faktor yang menentukan status perempuan antara lain tingkat pendidikan (Perempuan yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih memperhatikan kesehatn diri dan keluarganya). penolong persalinan (ibu yang ditolong oleh dukun berisiko lebih besar untuk mengalami kematian dibandingkan dengan ibu yang melahirkan oleh tenaga kesehatan).ketersediaan pelayanan kesehatan sudah memadai. Determinan Kontekstual/jauh (determinan sosial. Semua variabel tersebut dapat menjadi faktor yang berpengaruh dalam mencegah kematian ibu. terdapat keadaan yang mungkin terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi selam hamil atau melahirkan. 83% di Amerika latin dan Karibia. namun penggunaannya tergantung dari aksesibilitas masyarakat terhadap informasi. Salah satu indikator dari pemberdayaan perempuan adalah tingkat pendidikan yang antara lain digambarkan dengan tingkat melek huruf (literacy rate).57% di Asia. termasuk kesehatan atau kehamilannya. pemeriksaan kehamilan (ibu yang melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur akan terdeteksi masalah kesehatan dan komplikasinya).

ketersediaan sumber daya (misalnya jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia). Hal ini dapat dipantau melalui persentasi dari anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk sektor kesehatan. Status keluarga dalam masyarakat Jika variabel tersebut diatas lebih menekankan pada diri perempuan sebagai individu. Walaupun demikian terdapat beberapa negara sedang berkembang/berpenghasilan renadah yang sudah mampu menurunkan AKI dinegaranya seperti Sri Lanka dan Thailand. yang dapat dipakai sebagi indikator ketidak berdayaan perempuan. Di negara yang mempunyai AKI tinggi. 4. juga dapat berpengaruh terhadap risiko mengalami kematian ibu. masingmasing berhasil menurunkan AKI menjadi 30 per 100. tingkat pendidikan dan status pekerjaan anggota keluarga. Bila semua masalah tersebut dapat diatasi. Semuanya itu biasanya tidak dapat diatasi dalam waktu singkat. transportasi dan pelayanan kesehatan terbatas. Status Masyarakat Variabel ini meliputi antara lain tingkat kesejahteraan. Variabel tersebut antara lain penghasilan keluarga. Sejak dilaksanaknnya konferensi internasional Safe Motherhood di Nairobi taun 1987. seperti kemiskinan. Semakin rendah tingkat melek huruf suatu negara. Sebagian negara berpenghasilan rendah lainnya masih sangat sulituntuk menurunkan AKI sampai pada tingkat yang sama dengan Sri Lanka dan Thailand. Namun demikian penurunan AKI masih mungkin dilakukan sebelum masala-masalah . maka Aki dapat dipastikan akan turun. tingkat pendidikan dan status pendidikan yang rendah.000 kelahiran hidup. maka variabel berikut ini merupakan variabel keluarga perempuan tersebut.di Negara maju. sanitassi dan status gizi yang buruk. biasanya ditemukan banyak masalah. biasanya semakin tinggi AKI. serta ketersediaan dan kemudahan transportasi. Intervensi pokok menurunkan kematian ibu dan bayi baru lahir. Kemiskinan juga merupakan salah satu faktor penghambat dalam upaya penurunan AKI.000 kelahiran hidup dan 50 per 100. kekayaan keluarga. Status masyarakat umumnya terkait pula pada tingkat kemakmuran suatu negara serta besarnya perhatian perhatian pemerintah terhadap masalah kesehatan. hampir setiap negara berkembang berusaha sekuat tenaga untuk menurunkan angka kematian ibu.

15% di Kenya. Mencegah/memperkecil kemungkinan perempuan untuk menjadi hamil Selama seorang perempuan tidak berada dalam kehamilan. yaitu: 1) kemungkinan selamat dalam menjalani setiap kehamilan.1 di Amerika Latin dan Karibia. 39% di Kolombia. mengungkapkan keadaan yang sebenarnya secara keseluruhan. 22% di Filipina. Dengan demikian. Analisi menunjukkan bahwa kebanyakan kejadian komplikasi obstetri tidak dapat di cegah atau diperkirakan sebelumnya. Asil penelitian di Matlab. Disamping itu. Keikutsertaan ber-KB berhubungan dengan “risiko kematian seumur hidup” (life time risk) seorang permpuan. Terdapat hubungan tidak langsung antara TFR dan AKI. 44% di Jamaika. b.6 di negara-negara maju. yang merupakan fungsi dari dua aspek. Tampak bahwa risiko kematian ibu terbesar pada kelompok umur di bawah 20 tahun dan di atas 30 tahun. telah lama diketahui bahwa kelopok perempuan tertentu mempunyai risiko yang lebih besar terhadap kematian dari pada kelompok perempuan lainnya. Risiko perempuan untuk mengalami kehamilanpada suatu negara dapat diukur melalui angka fertilitas total ( Total fertility rate/TFR). karena bila seorang ibu tidak mengalami kehamilan. Misalnya. ia tidak mempunyai risiko kematian ibu. dan 2) jumlah lehamilan rata-rata yang dialami perempuan.Maine dkk mengidentifikasi “rantai penyebab” kematian ibu dan menghubungkannya dengan strategi intervensi yang dikelompokkan dalam tiga kategori sbb: a. Melalui penggunaan alat kontrasepsi.tersebut teratasi. 28% di mesir. kecuali misalnya induksi abortus yang tidak aman. Bangladesh. dan hanya 1. .9 di Asia. Keikutsertaan ber Kbmencegah kematian ibu melalui aspek kedua tersebut. kematian ibu sebanyak 22% di Jordania. 2.8 di Afrika. kejadian kematian terendah pada kelompok perempuan yang melahirkan pada usia 20-an. menurunkan angka kesuburan perempuan merupakan cara yang efektif untuk mencegah kemungkinan menjadi hamil sehingga menghilangkan risiko kematian akibat kehamilan/persalinan. maka ia bebas dari risiko untuk mengalami kesakitan dan kematian akibat kehamilan/persalinan. 3. dan 6% di Nigeria dapat dicegah. Mencegah/Memperkecil kemungkinan perempuan hamil mengalami komplikasi dalam kehamilan/persalinan. TFR mencapai 5.

jumlah kematian ibu yang terjadi di masyarakat merupakan indikator yang lebih relevan bila dibandingkan dengan risiko relatif. Paradoks nyata ini disebabkan oleh besarnya jumlah kelahiran pada kelompok umur tersebut dibandingkan kelompok umur lainnya.Perdarahan antepartum dan postpartum .3 4667 27 40-49 670 1. Komplikasi Obstetri meliputi: . memberikan kontribusi jumlah kematian ibu yang kecil (9) dibandingkan kelompok umur 20-29 tahun yang memberikan kontribusi kematian ibu terbesar (51).Komplikasi abortus .9 509 9 15-19 740 1. sementara komplikasi dan kematian kebanyakan terjadi pada kelompok ini.Infeksi/sepsis postpartum . Jadi.Kematian Ibu dan Fertilitas Menurut Umur di Matlab.Preeklamsi/ eklamsi .5 447 3 Namun bila dilihat jumlah kematian ibu.Persalinan macet/lama . gambarannya sangat berbeda.6 3907 29 20-29 450 1. Sebaliknya.286 51 30-39 580 1. walaupun risiko relatifnya rendah. Kelompok umur 10-14 tahun yang mempunyai AKI dan risiko relatif tertinggi. Bangladesh. kelompok perempuan pada usia 20 an mempunyai jumlah kematian ibu yang terbesar bila dibandingkan dengan kelompok umur lainnya. dalam pengelolaan program kesehatan masyarakat. 1968-1970 Umur AKI Risiko relatif kematian ibu JUmlah Lahir Hidup Jumlah Kematian Ibu 10-14 1770 3.0 11. Skrining perempuan hamil untuk menentukan mereka yang berisiko tinggi akan mengabaikan perempuan yang dikategorikan sebagai berisiko rendah. guna menentukan pola konseling dan penanganan kasus perorangan. Risiko relatif sangat layak bila digunakan sebagai acuan dalam praktek klinis.

hampir semua kematian ibu dapat dicegah. Pada umumnya rumah sakit yang telah ada tidak dapt memberikan pelayanan efektif dalam penanganan kegawat-daruratan obstetri. fasilitas pelayanan obstetri yang mudah terjangkau tidak tersedia di wilayah tersebut. Ternyata angka kematian ibu setara dengan 2000 per 100. antara lain . a) bahwa sebagian ibu hamil akan mengalami komplikasi obstetri.Kehamilan ektopik . Mencegah/memperkecil kematian perempuan yang mengalami komplikasi dalam kehamilan/persalinan Walaupun kebanyakan komplikasi obstetri tidak dapat dicegah dan diperkirakan sebelumnya.. Para perempuan hamil mendapat pelayanan antenatal yang baik.000 kelahiran hidup. dan c) perempuan yang mengalami komplikasi harus mendapatkan pelayanan obstetri agar diri dan janinnya dapat diselamatkan sekaligus tercegahnya kesakitan yang berkepanjangan. yaitu. Penyediaan pelayanan obstetri tidak berarti mendirikan fasilitas rumah sakit yang serba berkecukupan dan canggih. Mengingat bahwa setiap ibu hamil berisiko untuk mengalami komplikasi obstetri. Pada akhir proyek. Namun. sebagai bagian dari intervensi dalam penelitian tersebut.Ruptura uteri Penanganan dini kesakitan pada masa kehamilan pun tidak selalu efektif. Intervensi untuk mendekatkan pelayanan obstetri kepada setiap ibu hamil didasari oleh tiga premis. Skrining risiko dilakukan dua kali selama kehamilan. Namun asuhan antenatal berkualitas dan pertolongan perslainan yang aman tetep berperan penting dalam menghasilkan ibu dan bayi yang sehat pada akhir kehamilan. b) sebagian besar dari kejadian komplikasi tersebut tidak dapat diperkirakan atau dicegah. seperti diilustrasikan oleh hasil penelitian di daerah pedesaan di Gambia. perempuan dikunjungai selama sebulan sekali dan semua jenis kesakitan diobati. Dengan penanganan yang ade kuat. disamping perlunya persiapan terhadap keadaan darurat obstetri yang tidak terduga bagi setiap ibu hamil. maka mereka perlu mempunyai akses terhadap pelayanan kegawat-daruratan obstetri. para peneliti menyimpulkan bahwa faktor risiko tidak banyak berperan dalam menentukan perempuan yang paling berisiko terhadap kematian. tidak berarti bahwa komplikasi tersebut tidak dapat ditangani. c.

1994) Empat pilar upaya safe motherhood tersebut adalah. Intervensi untuk mencegah kematian ibu Intervensi untuk mencegah kematian ibu dilakukan terhadap ketiga jenis determinan. Peningkatan status gizi ibu memperkecil risiko ibu untuk meninggal jika mengalami komplikasi. penundaan usia kehamilan serta menjarangkan kehamilan. Mother. Dengan demikian perempuan dapat mengambil keputusan terbaik secara lebih mandiri dalam merencanakan kahamilan danpersalinannya. B. misalnya melalui kegiatan pemberdayaan kemitraan dan kemitraan laki-laki perempuan. 1. obat dan bimbingan tekhnis. sedangkan peningkatan pendidikan ibu akan mempertinggi kesadaran ibu dalam mengenali gejala/ tanda komplikasi secara dini dan mencari pertolongan profesional. misalnya melalui peningkatan gizi serta pendidikan ibu. Intervensi yang memberi dampak relatif cepat terhadap penurunan AKI adalah intervensi terhadap pelayanan kesehatan. Empat Pilar Safe motherhood WHO mengembangkan konsep “ Four Pillars of Safe motherhoof” untuk menggambarkan ruang lingkup upaya penyelamatan ibu dan bayi (WHO. Keluarga Berencana Konseling dan pelayanan keluarga berencana harus tersedia pada semua pasangan dan individu. kekurangan alat. manajemen penatalaksanaan pertolongan yang buruk. dan pelayanan ini harus merupakan bagian dari program kompherensif pelayanan kesehatan reproduksi. Pelayanan keluarga berencana harus menyediakan informasi dan konseling yang lengkap dan juga pilihan metode kontrasepsi yang memadai. termasuk kontrasepsi emergensi.Baby Package. . Intervensi yang diarahkan kepada determinan kontekstual akan memberikan efek pada jangka panjang. Program keluarga berencana memiliki peranan dalam menurunkan risiko kematian ibu melalui pencegahan kehamilan. 5. Intervensi yang ditujukan kepada determinan antara akan memberikan efek pada jangka menengah.karena kurang atau tidak ada tenaga terampil. Peningkatan kemampuan penatalaksanaan komplikasi obstetri secara langsung mencegah kematian perempuan yang mengalami komplikasi sehiangga dengan cepat akan menurunkan angka kematian ibu. khususnya pelayanan obstetri esensial.

Asuhan Antenatal Dalam masa kehamilan. Petugas kesehatan diharapkan mampu mengidentifikasi dan melakukan penanganan risiko tinggi/komplikasi secara dini serta meningkatkan status kesehatan perempuan hamil. Pelayanan obstetri esesial Pelayanan obstetri esensial bagi ibu yang mengalami kehamilan risiko tinggi atau komplikasi diupayakan agar berada dalam jangkauan setiap ibu hamil. 3. Persalinan Bersih dan Aman Dalam persalinan. Secara keseluruhan. pererempuan harus ditolong oleh tenaga kesehatan profesional yang memahami cara menolong persalianan yang bersih dan aman. Selain itu. membantuperempuan hamil serta keluarganya untuk persiapan kehamilan bayi. 4.2. Sebagai dasar/ fondasi yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan upaya ini adalah pemberdayaan perempuan. Pelayanan obstetri esensial meliputi kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan untuk melakukan tindakan dalam mengatasi risiko tinggi dan komplikasi kehamilan dan persalinan. Asuhan Bayi Baru Lahir Esensial Mosley and Chen (1983) mengembangkan proximate determinan framework yaitu suatu model kematian bayi dan balita yang disebabkan oleh berbagai faktor Proximate determinant . petugas kesehatan harus memberikan pendidikan pada ibu hamil tentang cara menjaga diri agar tetap sehat dalam masa tersebut. mereka juga harus siap untuk melakukan rujukan komplikasi persalinan yang tidak bisa diatasinya ke tingkat pelayanan yang lebih mampu. Tenaga kesehatan juga harus mampu mengenali secara dini gejala dan tanda komplikasi persalinan serta mampu melakukan penatalaksanaan dasar terhadap gejala dan tanda tersebut. meningkatkan kesadaran mereka tentang kemungkinan adanya risiko tinggi atau terjadinya komplikasi dalam kehamilan/persalinan dan cara mengenali komplikasi tersebut secara dini. keempat tonggak tersebut merupakan bagian dari pelayanan kesehatan primer. Dua diantaranya yaitu: Asuhan antnatal dan persalinan yang bersih dan aman merupakan bagian dari pelayanan kebidanan dasar. C.

Kontrol penyakit individu: Pencegahan dan pengobatan penyakit D.mpengaruhi risiko sakit tidaknya suatu bayi dan dampak dari proses penyakit tersebut.(penyebab langsung) Konsep tersebut dilandasi oleh beberapa landasan yaitu: 1. Kekurangan zat gizi : Kalori. belumlah menjadi jaminan pemanfaatannya. ekonomi. Faktor Ibu : Umur. Tiga jenis keterlambatan dalam rujukan Bila pelayanan obstetri yang tepat guna/ memadai telah tersedia. kulit. lebih dari 97% bayi baru lahir bisa bertahan hidup dalam lima tahun pertama kehidupannya. sementara peran suami dan mertua amat dominan. Dalam suatu kondisi optimal. Determinan sosio ekonomi merupakan faktor yang mendasari penyebab langsung yang akan me. Kontaminasi Lingkungan : air. Growth Faltering (gangguan pertumbuhan) dan kematian bayi adalah konsekuensi kumulatif dari berbagai proses penyakit. Di banyak negara berkembang. biaya dan budaya. protein. 2.dll 3. Kunci dari model tersebut adalah identifikasi satu perangkat penyebab langsung dan/atau variabel perantara yang secara langsung mempengaruhi risiko kesakitan dan kematian bayi. 4. Dalam model tersebut yang dianggap sebagai faktor penyebab langsung adalah: 1. Masyarakat yang membutuhkan seringkali tidak dapat menjangkau akibat hambatan jarak. biologi dan lingkungan. namun dapat dikategorikan . jarak kehamilan 2. 3. Banyak faktor yang menyebabkan keterlambatan dalam rujukan. masih sering ditemukan hambatan yang lainberupa ketidak berdayaan perempuan dalam pengambilan keputusan. kecelakaan : trauma 5. 5. tanah. Paritas. insektisida. Penyakit-penyakit tertentu dan kekurangan gizi dianggap sebagai indikator biologi dari faktor penyebab langsung tersebut. vitamin dan mineral 4. Penurunan angka ketahanan hidup hidup ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sosial. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam pengenalan tanda bahaya dan pencarian pertolongan profesional seringkali belum memadai.

serta ketidak percayaan akan kualitas pelayanan kesehatan.dalam tiga jenis keterlambatan yaitu: a. Keterlambatan dalam memperoleh pertolongan di fasilitas kesehatan Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. ketersediaan alat. misalnya jumlah dan keterampilan tenaga kesehatan. ketidaktahuan kemanan mencari pertolongan. Keterlambatan dalam mencapai fasilitas kesehatan Bila keputusan untuk merujuk telah diambil. c. misalnya ketidakmampuan ibu /keluarganya untuk mengenali tanda bahaya. transfusi darah dan bahan habis pakai. ketersediaan dan efisiensi sarana transportasi serta biaya. SEJARAH DAN PENGALAMAN BERBAGAI NEGARA DALAM UPAYA PENURUNAN KEMATIAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR A. obat. Keterlambatan dalam mengambil keputusan di tingkat keluarga ini mungkin dipengaruhi oleh banyak hal. ibu akan menuju ke fasiltas pelayanan kedaruratan obstetri. keputusan tergantung kepada suami. Keterlambatan dalam pengambilan keputusan untuk merujuk Pengambilan keputusan untuk merujuk merupakan langkah pertama dalam menyelamatkan ibu yang mengalami komplikasi obstetri. Penurunan AKI melalui peningkatan peran bidan ( Abad 18 sampai dengan pertengahan abad 19) London. ketakutan akan besarnya biaya yang perlu dibayar untuk transportasi dan perawatan di rumah sakit. seorang pelopor penurunan angka kematian ibu menuliskan upaya tersebut di negara maju pada masa itu sebagai : “lebih ditujukan kepada faktor-faktor yang berhubungan khusus dengan persalinan dibandingkan dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan sebab lain”. London juga menyimpulkan bahwa penurunan angka kematian ibu (antara tahun 1750-1850) berhubungan dengan peningkatan jumla persalinan yang ditolong oleh bidan dan peningkatan . keterlambatan dalam mencapai pelayanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh jarak. Penurunan AKI di negara maju 1. faktor budaya. b. manajemen serta kondisi fasilitas pelayanan.

tindakan bedah sesar dan antibiotika. a. Komisi Kesehatan Swedia secara langsung memberikan perhatian terhadap pencegahan kematian ibu. Swedia Sampai pertengahan abad ke-18. angka kematian ibu mengalami penurunan sejak awal tahun 1870 dan stabil pada tahun 1900-1940. Di Swedia. transfusi darah. Inggris memperlihatkan kecenderungan penurunan angka tersebut dan stabil pada akhir tahun 19301n. Pada tahun 1850 angka kematian ibu pada ketiga negara maju ini berada dibawah 700 per 100. Aki sebesar 600-800 per 100. Perbedaan pola penurunan angka kematian ibu (tahun 1870 sampai akhir tahun 1930-an) Pada fase ini kecepatan dan waktu penurunan angka kematian ibu bervariasi dari satu negara kenegara lainnya. Pada awal tahun 1751. Di Amerika serikat. yaitu 400-450 per 100. yaitu 250-300 per 100. 2. Berikut adalah uraian lebih rinci tentang faktor-faktor sukses di Swedia dan faktor-faktor yang menyebabkan Inggris dan Amerika Serikat tertinggal dalam upaya penurunan angka kematian ibu pada tahun-tahun tersebut. Keberhasilan intervensi tersebut ternyata telah menempatkan negaranegara barat pada pertengahan abad ke-19 pada angka kematian ibu yang sama besarnya dengan median angka kematian ibu di negara miskin saat ini. pada abad tersebut tindakan bedah sesar. seperti transfusi darah. Swedia merupakan negara miskin dengan penduduk tersebar di pedesaan. Padahal. Umumnya terdapat tiga macam pola. Amerika Serikat dan Inggris. dan antibiotika belum tersedia dan persalinan masih lebih banyak dilakukan di rumah ibu.000 kelahiran hidup atau sama dengan median angka kematian ibu di negara miskin saat ini. Selain terjadi paling awal. penurunan angka kematian ibu juga telah dapat dicapai sebelum ditemukannya tekhnologi rumah sakit yang modern. yaitu penurunan angka kematian ibu dapat di lihat di swedia. Hal ini dilakukan setelah pengamatan bahwa sekurang kurangnya 400 dari 651 kasus kematian ibu per tahun dapat di selamatkan bila tersedia bidan dalam jumlah cukup untuk menolong persalinan.standar kebidanan. Para ahli kesehatan masyarakat mulai melatih bidan untuk memastikan bahwa semua persalinan di rumah dapat ditangani oleh tenaga kesehatan berkualitas.000 kelahiran hidup pada pertengahan tahun 1930an dan cenderung stabil.000 kelahiran hidup. Dari gambaran di atas dapat di simpulkan bahwa Swedia merupakan contoh negara paling sukses dalam upaya menurunkan angka kematian ibu.000 kelahiran hidup. Pelatihan bidan ternyata berjalan .

Amerika Serikat Di Amerika serikat. Ternyata bertambahnya cakupan persalinan yang ditolong oleh bidan. Namun para ahli kebidanan masih tetap ingin memegang . sampai akhirnya masyarakat menyalahkan para ahli kebidanan karena tidak memperhatikan kematian ibu. yang dapat dipanggil jika bidan menghadapi kasuskasus komplikasi yang serius. c. Kegiatan para bidan disupervisi oleh dokter kesehatn masyarakat setempat. perkembangan informasi baru tersedia sejak tahun 1900. para bidan terlatih mempraktekkan tekhnik persalinan modern. Pertama. langsung diikuti dengan penurunan angka kematian ibu. dan diizinkan untuk menggunakan forsep dan alat untuk kraniotomi. Dapat disimpulkan bahwa keberhasilan Swedia ini di sebabkan oleh perubahan penolong persalinan ke arah profesionalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan serta tekhnologi. Keberhasilan akhirnya berjalan cepat setelah dikeluarkannya kebijakan politis untuk mengatasi kematian ibu. Seperti halnya Swedia.sangat lambat. keadaan tersebut terutama disebabkan oleh profesionalisasi pertolongan persalinan di rumah. Penurunan angka kematian ibu berlangsung cepat dan stabil pada akhir tahun 1930an. Pada masa itu tidak ada dorongan kebijakan yang efektif untuk menurunkan angka kematian ibu. Pada akhir tahun 1870. Jepang Pengalaman keberhasilan Jepang hampir sama dengan Swedia. Pada masa itu mayoritas persalinan dilakukna di rumah. bidan. Kedua. lebih lam bat dari Swedia . Dokter tersebut juga bertanggung jawab atas pelaporan hasil pelayanan. baik di rumah maupun di rumah sakit. kedua unsur yang mempunyai peranan penting dalam turunnya angka kematian ibu di Swedia tidak terjadi secara bersamaan. Pada tahun 1861 jumlah persalinan yang ditolong bidan meningkat menjadi 40%. Pada tahun 1881. dan di ikuti penurunan jumlah persalinan oleh dukun dari 60% pada tahun 1861 menjadi 18% pada tahun 1900. para bidan memanfaatkan tekhnik tersebut pada pertolongan persalinan di luar rumah sakit. Mulai tahun 1829. meningkat lagi menjadi 78% pada tahun 1900. Hal ini menjadikan Swedia sebagai negara dengan angka kematian ibu paling rendah di benua Eropa pada awal abad ke-20. terjadi penurunan angka kematian ibu secqrq drastis setelah ditemukan dan diterapkannya tekhnik asepsis. tidak dianggap penting karena besarnya pengaruh dokter ahli kebidanan. umumnya imigran dari benua Eropa. di samping perubahan sosial yang diperkuat oleh kebijakan politik. b.

3. Kebijakan tersebut ternyata tidak dapat menjamin akses persalinan yang berkualitas. tindakan bedah sesar dan transfusi darah) yang diterapkan dalam pertolongan persalinan. 4. Selain itu. Inggris Situasi di Inggris dan Wales sedikit lebih baik dibandingkan dengan keadaan di Amerika Serikat. Penurunan angka kematian ibu di negara berkembang a. bahkan menambah kematian akibat keteledoran pelayanan di rumah sakit (latrogenik). Negara – negara di Amerika Latin Penuruna angka kematian ibu yang paling awal dan paling cepat di wilayah ini ternyata dicapai . Faktor lain yang berpengaruh adalah lambatnya upaya pengembangan bidan karena persaingan keras antara dokter umum dan bidan dalam memperebutkan pasar. Dapat disimpulkan bahwa penurunan angkan kematian ibu di Amerika serikat pada masa itu mengalami Stagnasi. keterlambatan dalam memerangi angka kematian ibu d Inggris disebabkan oleh tiadanya kebijakan pemerintah yang mendukung. Evolusi setelah tahun 1935: Informasi. wewenang pengalokasian danan yang diperlukan untuk upaya penurunan angka kematian ibu diserahkan kepada pemerintah daerah. kemajuan yang dicapai dalam upaya penurunan angka kematian ibu berjalan sangat lambat. Penerapan ilmu pengetahuan dan tekhnologi makin berkembang di negara maju. Akibatnya. yang seringkali tidak memprioritaskan upaya penurunan angka kematian ibu. Penurunan ini merupakan akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (penemuan antibiotika. Loudon berpendapat bahwa. tetapi baru pada akhir abad ke-20 “faktor primer yang dapat dicegah” dikenali dan secara diam-diam diselidiki. Profesionalisasi dan Akses Era tekhnologi Modern (Tahun 1937-1970) Pada tahun 1937-1970 angka kematian ibu menurun di hampir semua negara barat. sebelum abad ke-20 Inggris tidak mengeluarkan kebijakan aktif untuk meningkatkan peranan dan profesionalisme bidan. d. karena didukung oleh budaya memelihara dan senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.kendali dan menetapkan persalinan di rumah sakit sebagai prioritas dan kebijakan utama. Informasi telah tersedia sejak pertengahan abad ke-19. baik di rumah sakit maupun di rumah. Tidak seperti Swedia.

.000 kelahiran hidup di tahun 1995. Hampir semua persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan.3 juta lahir mati).000 kelahiran hidup di tahun 1970 menjadi 30 per 100. Keberhasilan ini ternyata berhubungan dengan penerapan sistem pelayanan kesehatan pemerintah yang dinilai lengkap dan disediakan secara Cuma-Cuma kepada masyarakat yang memanfaatkannya. misalnya ai Kuba. Penurunan Angka kematian Bayi Baru Lahir Thn 1995-2003 Di dunia diperkirakan setiap tahun hampir 3. B. Banyak negara berkembang di Amerika Latin menunjukkan gambaran penurunan angka kematian ibu yang sangat lamban dan berhenti pada AKI sebesar 100-200 per 100. Hal ini menghasilkan hubungan erat antara masyarakat dan pelayanan kesehatan pemerintah . Walaupun jumlah kematian tertinggi terjadi di Asia tapi angka kematian bayi dan angka lahir mati paling besar terjadi di Sub Sahara Afrika. selam dan segera setelah melahirkan. yang diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang memanfaatkannya. b.000 kelahiran hidup. yaitu dari 150 per 100. Negara – negara di Asia 1. Jumlah terbesar kematian bayi terjadi di wilayah Asia Tenggara (1. Selain akibat pesatnya pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat. Malaysia Penurunan angka kematian ibu di Malaysia cukup pesat. Angka kematian ibu yang tinggi dan menetap ini antara lain berhubungan dengan tidak meratanya akses terhadap pelayanan kesehatan. Sri Lanka dan Thailand Kedua Negara berkembang ini berhasil menurunkan nagka kematian ibu. dan undangundang yang membatasi segala macam bentuk pengguran kandungan (aborsi). 2.3 juta bayi baru lahir mati dan lebih dari 4 juta lainnya mati dalm 28 hari pertama kehidupannya. Hampir semua persalinan dilakukan fasilitas kesehatan.oleh negara yang mempunyai pelayanan kesehatan yang terorganisasi dengan baik dan terjangkau oleh masyarakat. Masalah lain yang dihadapi negara-negara di Amerika Latin adalah keraguan terhadap keabsahan dan keakuratan data tentang kematian ibu yang dikumpulkan. penurunan angka kematian ibu ini tercapai karena dukungan kebijakan dalam manajemen upaya Safe Motherhood dan berfungsinya fasiltas pelayanan kesehatan secara baik.4 juta kematian bayi dan 1. Penyebab utama kematian bayi erat kaitannya dengan kesehatan ibu dan pemeriksaan ibu yang diperoleh sebelum.

. seperti yang terjadi di negara swedia. Pada banyak negara. WHO memperkirakan bahwa dari tahun 1995 hingga tahun 2000 sebagian besar negara di Amerika. pasca persalinan dapat menurunkan angka kematian bayi. yang mempunyai angka kematian bayi 17 dan 15 per 1000 kelahiran hidup mengalokasi dana kesehatan sekitar US$45 dan US$20 per kapita pad atahun 1990. kematian bayi baru lahir mengalami penurunan lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang lebih tua atau anak. Pengalamandari negara-negara maju memperlihatkan bahwa penurunan kematian bayi ( terutama kematian baru lahir) tidak terjadi penurunan secara substansial dalam beberapa tahun apabila penurunan kematian pada bayi yang lebih besar (Post-neonatal) dan anak (Childhood) telah tercapai. Kematian ibu karena kehamilan dan persalinan sangat erat kaitannya dengan penolong persalinan. Sebenarnya penurunan kematian bayi tidak hanya tergantung dari tingginya alokasi dana untuk tekhnologi canggih. Daerah mediterania Timur kurang dapat menurunkan angka kematian bayi dan sedangkan Afrika justru mengalami kenaikan angka kematian bayi. Nicaragua dan Vietnam. Eropa. 56% di Asia. c. Sebagai contoh Kolombia dan Sri Lanka dengan angka kematian bayi tidak lebih dari 15 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup. Komitmen Pemerintah dalam bentuk kebijakan nasional yang berlaku bagi masyarakat luas sangat membantu dalam memberikan perlindungan dan dukungan moral bagi upaya penurunan angka kematian ibu yang dilakukan oleh sektor kesehatan.Asfiksia dan trauma saat lahir terjadi karena buruknya managemen persalinan dan kurangnya akses pada pelayanan obstetri. dan 99% di negara-negara maju. Proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan adalah 39% di Afrika.Sedangkan negara-negara di Eropa Utara dengan kordinasi yang lebih baik pada pelayanan antenatal. Pelajaran yang di petik dari berbagai upaya penurunan kematian Ibu dan Bayi baru Lahir: a. persalinan. b. Keberhasilan negara maju dalam menurunkan angka kematian ibu bukan merupakan hasil pekerjaan yang dilaksanakan dalam jangka waktu satu atau dua tahun saja. 81% di Amerika Latin dan Karibia. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan profesional terbukti secara drastis dapat menurunkan angka kematian di negara maju. Asia Tenggara. dan wilayah Barat Pasifik dapat menurunkan angka kematian bayi. melainkan merupakan upaya yang membutuhkan waktu berpuluh tahun bahkan beberapa abad.

d. Arogansi profesi membawa akibat buruk pada percepatan penurunan angka kematian ibu. senantiasa diperlukan untuk menunjang upaya penurunan angka kematian ibu. f. Pelayanan kesehatan. pencarian terobosan baru dan penerapan iptek yang sesuai serta mengikuti kaidah kemanusiaan. Informasi yang absah dan akurat sangat penting dan dibutuhkan dalam perencanaan kegiatan dalam upaya menurunkan kematian ibu. asalkan ditolong oleh tenaga kesehatan profesional. Pengembangan Iptek. Pertolongan persalinan di rumah pun dapat dilakukan. i. seperti di Amerika Serikat pada abad lampau. Pertolongan persalinan tidak selalu harus dilakukan di rumah sakit. h. e. Negara berkembang mungkin menurunkan angka kematian ibu. Sumber Modul AKI Depkes RI . g. Keberhasilan di Sri Lanka dan Thailand terutama disebabkan oleh penerapan sistem pelayanan kesehatan yang baik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful