P. 1
Urgensi Bimbingan Dan Konseling

Urgensi Bimbingan Dan Konseling

|Views: 243|Likes:
Published by Andi Anna Octaviana

More info:

Published by: Andi Anna Octaviana on May 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/30/2014

pdf

text

original

Sections

  • Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
  • Landasan Bimbingan dan Konseling
  • Tujuan Bimbingan dan Konseling
  • Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling
  • Bidang Bimbingan dan Konseling
  • Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling
  • Konsep Bimbingan Karier
  • Informasi Karier
  • 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah
  • Bimbingan dan Konseling di Sekolah
  • Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling
  • Rubrik Sertifikasi Guru BK
  • Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
  • Proses Layanan Konseling Individual
  • Pendekatan dan Teknik Konseling
  • Pendekatan Konseling Behavioral
  • Pendekatan Konseling Gestalt
  • Pendekatan Konseling Rasional Emotif
  • Pendekatan Konseling Psikoanalisis
  • Konseling Humanistik
  • Terapi Realitas
  • Teknik Umum Konseling (1)
  • Teknik Umum Konseling (2)
  • Teknik Khusus Konseling
  • Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling
  • Konseling Pecandu Narkoba
  • Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif
  • Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah
  • Kompetensi Konselor/Guru BK
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA
  • Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi
  • Program Bimbingan dan Konseling
  • Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling
  • BK dan MPMBS
  • Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif
  • Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling
  • Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor
  • Guru BK tak Perlu Beri Solusi
  • Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai
  • Penulis dan Bimbingan & Konseling
  • Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi
  • Seminar BK di Universitas Kuningan
  • Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling
  • In House Trainning di SMA N 1 Garawangi
  • Alat Ungkap Masalah
  • Inventori Tugas Perkembangan

A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara

1

sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

Management. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. 1995.——–. Bandung : PT. M. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. (2) landasan psikologis. dengan mencakup: (1) landasan filosofis. Boston : Allyn & Bacon. (2005). Stoner. London : Prentice-Hall International Inc. Remaja Rosda Karya. Kata kunci : bimbingan dan konseling. . Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25.Pd. 3 July’96. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. (1987). *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr.Pd. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. landasan sosial-budaya. Woolfolk. 4 . ―Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. (3) landasan sosial-budaya. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. Anita E. Educational Psychology. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. M.dan Juntika N. landasan psikologis. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. James A. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. religius dan yuridis-formal. landasan filosofis. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Vol 24 No. Uman Suherman. A. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. Landasan Bimbingan dan Konseling. (1996). Sebagai sebuah layanan profesional. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.

Alblaster & Lukes. Thompson & Rudolph. dalam Prayitno. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). B. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. khususnya bagi para konselor.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai ―polisi sekolah‖. etis maupun estetis.(Victor Frankl. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. Selanjutnya. dengan layanan bimbingan dan konseling. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan. Secara teoritik.. Dengan kata lain. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. 5 .sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. landasan psikologis. landasan sosial-budaya. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut :  Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. Ibarat sebuah bangunan. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. Patterson.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. yaitu landasan filosofis. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan.tentang landasan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum.. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. para penulis Barat . Demikian pula. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada.

manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. Misalnya dalam kecerdasan. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. (c) perkembangan individu. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. 2. golongan darah. warna kulit. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri.        Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . normal atau bahkan sangat kurang (debil. b. (d) belajar. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. Manusia pada hakikatnya positif. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. Manusia memiliki dimensi fisik. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. bakat. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. seperti struktur otot. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. embisil atau ideot). kecerdasan. ada yang sangat tinggi (jenius). beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. yang mencakup aspek psiko-fisik. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Demikian pula dengan lingkungan. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. seperti : rasa lapar. (b) pembawaan dan lingkungan. a. seperti rekreasi. dan (e) kepribadian. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun.

Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Allport (Calvin S. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. 7 .memadai. e. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. frustrasi dan konflik. moral dan sosial. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. afektif maupun psikomotor/keterampilan. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. baik dalam aspek kognitif. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. d. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Manusia belajar untuk hidup. c. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. Hall dan Gardner Lindzey. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai ―suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. ketegangan emosional. Berangkat dari studi yang dilakukannya. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal.dan menjadi tersia-siakan. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. dan (3) Teori Belajar Gestalt. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Tanpa belajar. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan.. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. bahasa dan kognitif/kecerdasan.

Begitu pula. Teori Sosial Psikologis dari Adler. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. negatif atau ambivalen. Sikap. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Sosiabilitas. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Hull. Watson. yang mencakup :       Karakter. Teori Psikologi Individual dari Allport. Responsibilitas (tanggung jawab). ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. Oleh karena itu.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. maka 8 . 3. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. yaitu bidang psikologi umum. Sementara itu. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. yaitu disposisi reaktif seorang. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. sedih. tampang. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Fromm. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. teori Personologi dari Murray. atau putus asa. cuci tangan. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. Stabilitas emosi. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak ―dijembatani‖. psikologi perkembangan. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. hormon. Temperamen. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Teori Medan dari Kurt Lewin. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. Selain itu. Horney dan Sullivan. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. Sejak lahirnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya.

tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. evaluasi. biologi. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. 4. ilmu ekonomi. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. antroplogi. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat ―multireferensial‖. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. 2003). baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. seperti: pengamatan. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. dan bahkan mungkin bertolak belakang. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. analisis dokumen. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. (b) komunikasi non-verbal. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. sosiologi. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. Moh. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. Sejalan dengan perkembangan teknologi. yaitu kesamaan di atas keragaman. (d) kecenderungan menilai. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. (c) stereotipe. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . khususnya teknologi informasi berbasis komputer. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. dan (e) kecemasan. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. seperti : psikologi. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. wawancara. yaitu : (a) perbedaan bahasa. pemikiran. ilmu hukum dan agama. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. manajemen. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. statistik. prosedur tes. Menurut Gausel (Prayitno. ilmu pendidikan. filsafat.

Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Moh. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis.pendidikan. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Dikemukakan pula. landasan religius dan landasan yuridis-formal. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. dalam bentuk ―cyber counseling‖. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. C. Sebagai ilmuwan. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. Peraturan Pemerintah. 10 . Undang – Undang. Ditegaskan pula oleh Moh. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno.

Surya. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. (b) landasan psikologis. 2004.T. SMA dan SMK Muhibbin Syah. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. Developmental Phsychology. (c) landasan sosial-budaya. E. Theory Into Practice. Bandung : PT ErescoH. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Bandung : Refika Gerungan 1964.1992. Supratiknya). yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. 11 . yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. PT Golden Terayon Press. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas.M. dan (d) kepribadian. New York : McMillan Publishing. Calvin S. Learning & Instruction.. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Remaja Rosdakarya. (d) belajar. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Arifin. Nana Syaodih Sukmadinata. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Psikologi Belajar. meliputi : (a) motif dan motivasi. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Hall & Gardner Lidzey (editor A.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. (b) pembawaan dan lingkungan. 2003. Jakarta. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Hurlock.IKIP Bandung . Gerlald Corey. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Psikologi Sosial. 2005. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. 2003. Elizabeth B. (c) perkembangan individu. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. 1997. Psikologi Pendidikan. 2003. Majalengka : Sanggar BK SMP. 1980. Margaret E. Jakarta : PT Raja Grafindo. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. 2003. Bandung PPB .———-2006. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. Bandung : P. Koswara). 2005.

Syamsu Yusuf LN.Prayitno. pergaulan dengan teman sebaya. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain.———-. keluarga. maupun masyarakat pada umumnya.. Sekolah/Madrasah. Jakarta : Rajawali. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. baik dalam kehidupan pribadi. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah:    Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 1. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. 2003. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. belajar (akademik). Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. dkk. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. 1984.Konseling Individual. dan tugas-tugas perkem-bangannya. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. 2004. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. 2004. Jakarta : Rineka Cipta . Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. Teori dan Praktek. serta 12 . (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. tempat kerja. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. Jakarta : Depdiknas . masyarakat. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat.2005. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. kekuatan. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. Willis.——–2003. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Teori-Teori Psikologi Sosial. 2004. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. maupun lingkungan kerja. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Psikologi Kepribadian. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. dan karir. dkk. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi.

kemampuan dan minat. prospek kerja. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan.       dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. 2. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. disiplin dalam belajar. Memiliki rasa tanggung jawab. Mengenal keterampilan. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah :          Memiliki pemahaman diri (kemampuan. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. persaudaraan. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. mengggunakan kamus. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. atau silaturahim dengan sesama manusia. kemampuan. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. asal bermakna bagi dirinya. mencatat pelajaran. Oleh karena itu. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. menghormati atau menghargai orang lain. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. Dapat membentuk pola-pola karir. dan sesuai dengan norma agama. baik fisik maupun psikis. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. tanpa merasa rendah diri. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. 13 . dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. mengerjakan tugas-tugas. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. dan kesejahteraan kerja. seperti keterampilan membaca buku. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. 3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah :       Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. seperti kebiasaan membaca buku. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. seperti membuat jadwal belajar. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. yaitu kecenderungan arah karir.

Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 . Guidance and Counseling in the Schools. CA: Brooks/Cole. (2003). Houston : Shell Com. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Menteri Pendidikan Nasional. ASCA (American School Counselor Association). Hurlock. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Browers. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Balitbang Diknas. Development Taks and Education. Depsiknas. G.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.DAFTAR RUJUKAN AACE. T. (1990). (2003). The Art of Integrative Counseling. & Henderson. Herr Edwin L.Nancy. & Hatch. Patricia A. Child Development. Depdiknas.ncat.J. (2007). http://aace. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (2001). 2006). (Eds). R. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Depdiknas. Donna A. Depdiknas. (1986). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Handbook of School Counseling. (1995). New Jersey. Comm. (1953).I. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.D. Adolescence.W dan J. The National Model for School Counseling Programs. Depdiknas. & Mitchel M. (2005). Bandung: ABKIN Bandura. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Judy L. 2006. (2003). (2005). New York : MacMillan Publishing Company. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.H. New York: David Mckay. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Columbia: The Educational Resources Information Center. California : Myfield Publishing Company. VA: AACD. Cambridge. Draft. (1992).). Self-Efficacy in Changing Soceties. A. (1979). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (2003). Ellis. (2002).L. Havighurts. Alexandria. Introduction to Counseling and Guidance. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Merrill Prentice Hall Corey. Cobia. Alizabeth B. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2005). Jakarta: Puskur Balitbang. (Ed. J. Belomont. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Dameron. Gibson R. (2006). D. Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (1956). UK: Cambridge University Press. Debra C. Engels.

Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Pusat Kurikulum. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. (2005). Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. supaya tidak dialami oleh konseli.Pd.dan Juntika N. Stoner. 2. Woolfolk. James A. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Anita E. Syamsu Yusuf L. Terry. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. dan norma agama). dkk. 1995. (2003). Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (1987). pekerjaan. Fungsi Pemahaman. ―Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Educational Psychology. (1995). LIPI. (2003). Sunaryo Kartadinata. Bandung : CV Bani Qureys. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. M. London : Prentice-Hall International Inc. Berdasarkan pemahaman ini. Remaja Rosda Karya. James J. (2005). Melalui fungsi ini.N. 2004. Pikunas. & Kottman. (1976). dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Bandung : PT. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Muro. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Fungsi Preventif. Michigan School Counselor Association. Management. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Bandung : Remaja Rosda Karya. Madison : Brown & Benchmark. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. Landasan Bimbingan dan Konseling. ——–. 2006. Balitbang Depdiknas. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. (2005). Uman Suherman. Vol 24 No. Adapun teknik yang 15 . The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Jakarta : Balitbang Depdiknas.Menteri Pendidikan Nasional. (1996). Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. 3 July’96. Boston : Allyn & Bacon. ——–. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Human Development. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Lustin. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah.Ltd.

Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. baik menyangkut aspek pribadi. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. informasi. serasi. kemampuan. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. 10. dan pergaulan bebas (free sex). 9. yang memfasilitasi perkembangan konseli. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. minat. dan bimbingan kelompok. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. berperasaan dan bertindak (berkehendak). pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. jurusan atau program studi. konselor. tutorial. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. 7. maupun karir. Fungsi Penyembuhan. Fungsi Perbaikan. Fungsi Pengembangan. 6. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini. 4. penyalahgunaan obatobatan. dan karyawisata. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi Adaptasi. Fungsi Penyesuaian. 5. belajar. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. drop out. dan remedial teaching. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. home room. bakat. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Fungsi Fasilitasi. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. merokok. Fungsi Pemeliharaan. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. dan kebutuhan konseli. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. baik pria maupun wanita. 3. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. sosial. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. Fungsi Penyaluran. diantaranya : bahayanya minuman keras. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. memilih metode dan proses pembelajaran. baik anak- 16 . 8. kepala Sekolah/Madrasah dan staf.

3. remaja. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. dan peluang untuk berkembang. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. 2. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Mereka bekerja sebagai teamwork. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. 17 . 3. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. Asas Kerahasiaan. 1. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. sosial. menyesuaikan diri. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. Bimbingan menekankan hal yang positif. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. memberikan dorongan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). yaitu meliputi aspek pribadi.2. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. tetapi juga di lingkungan keluarga. Asas kesukarelaan. anak. pendidikan. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Agar konseli dapat terbuka. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. 4. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. 5. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. 6. dan pekerjaan. maupun dewasa. perusahaan/industri. Asas keterbukaan. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). dan masyarakat pada umumnya.

Asas Keharmonisan. (2003). yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. guruguru lain. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Asas Kekinian. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Lebih jauh. ilmu pengetahuan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.4. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. Asas Keterpaduan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. Dalam hal ini. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. 9. yaitu nilai dan norma agama. DAFTAR RUJUKAN AACE. Asas kegiatan. Asas Kedinamisan. tidak monoton. Asas Alih Tangan Kasus. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. 5. dan terpadu. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri.ncat. Asas Keahlian. mampu mengambil keputusan. saling menunjang. 8. 11. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. hukum dan peraturan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. adat istiadat. 7. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Pelayanan yang berkenaan dengan ―masa depan atau kondisi masa lampau pun‖ dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. harmonis. menghayati. http://aace. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Asas kemandirian. 10. dan kebiasaan yang berlaku. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. atau ahli lain .edu 18 . 6.

Judy L. Dameron. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (2006). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. 2006. Menteri Pendidikan Nasional. J.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Balitbang Diknas. Belomont. Depsiknas. Patricia A. Gibson R. & Henderson. 19 . Browers. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Handbook of School Counseling. Draft. R. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. (2005). & Hatch. (1956).Nancy. Jakarta: Puskur Balitbang. (1979). (2006). (Eds). Columbia: The Educational Resources Information Center. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. (2007). Donna A. (2005). New York: David Mckay. The Missouri Comprehensive Guidance Model. New Jersey. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Houston : Shell Com. (2001). (1990). Cambridge. Merrill Prentice Hall Corey. New York : MacMillan Publishing Company. Comm. (2005). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Bandung: ABKIN Bandura.H. Havighurts. (Ed. Depdiknas. Development Taks and Education. The Art of Integrative Counseling. & Mitchel M. Adolescence. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Engels.W dan J. New York : McGraw Hill Book Company Inc.D. Debra C. (2003). Child Development. D. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Introduction to Counseling and Guidance. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. The National Model for School Counseling Programs. Self-Efficacy in Changing Soceties. (1995). (2003). VA: AACD. (1986).J. Alizabeth B. G. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. CA: Brooks/Cole. (2003). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. 2006). T. Herr Edwin L. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. (1953). Depdiknas. Hurlock. Michigan School Counselor Association. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. ASCA (American School Counselor Association). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. UK: Cambridge University Press. A. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ellis. (2002). Depdiknas.L. Cobia. 2006. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).I. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (1992). Guidance and Counseling in the Schools. Alexandria.). (2005). Depdiknas. California : Myfield Publishing Company.

Madison : Brown & Benchmark. Woolfolk.dan Juntika N. M. Remaja Rosda Karya. Anita E. Bandung : CV Bani Qureys. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools.N. & Kottman. Pengembangan kehidupan sosial. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. 2008     Pengembangan kehidupan pribadi.Muro. Balitbang Depdiknas. (2003). London : Prentice-Hall International Inc. Educational Psychology. dkk. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. Pikunas.Ltd. Human Development. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.Pd. serta memilih dan mengambil keputusan karir. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. 1995. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. ——–. Pengembangan karir. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. (2005). Terry. James J. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. 20 . Sunaryo Kartadinata. Jakarta : Balitbang Depdiknas. menilai. Landasan Bimbingan dan Konseling. Syamsu Yusuf L. (1996). (2003). Stoner. LIPI. 3 July’96. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. James A. (1987). Management. anggota keluarga. bakat dan minat. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Uman Suherman. (1976). Bandung : Remaja Rosda Karya. 2004. Boston : Allyn & Bacon. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. ——–. ―Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. (1995). Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Pusat Kurikulum. (2005). Bandung : PT. Lustin. Vol 24 No. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Pengembangan kemampuan belajar.

Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. diantaranya: Layanan Orientasi. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. jurusan/program studi. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. pergaulan. Layanan Bimbingan Kelompok. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. program latihan. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. dalam bidang pribadi. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu.     Layanan Konten. Layanan Informasi. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. pendidikan lanjutan). Layanan Konseling Perorangan. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. magang. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. serta untuk pengambilan 21 . kelompok belajar. sosial. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. kegiatan ko/ekstra kurikuler. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. karier. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai.

Alih Tangan Kasus. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. Konferensi Kasus. yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka. Konsultasi. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. dokter serta ahli lainnya. pemahaman. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. Kunjungan Rumah. dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung. kemudahan. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup.   keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Himpunan Data. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. terpadu dan sifatnya tertutup. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. sistematik. keterangan. mencakup :      Aplikasi Instrumentasi Data. baik tes maupun non tes. komprehensif. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. 22 . Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan. Mediasi.

Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut.Pd. Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar. akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan. rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul. terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. 1987). Hattari (1983) menyebutkan 23 . (3) kondisi ideologis. tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan. seperti urbanisasi. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh. termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Sedangkan pada model karier. dan (4) perkembangan ilmu (scientific). yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900). namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi. diantaranya : (1) keadaan ekonomi. khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner. sikap. Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. (2) keadaan sosial. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya. Helmotz dan Wundt. M. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan. psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel. konsep diri. para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career).Konsep Bimbingan Karier Diterbitkan Februari 7. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites. 1981 dalam Bahrul Falah. Namun sejak tahun 1951.

yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya. bidang bimbingan karier diarahkan untuk : 1. khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill). Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. 24 . bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994. Sementara itu. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi.bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi. pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an. sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini. tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. dalam perspektif pendidikan nasional. bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA. Selanjutnya. Dalam perkembangannya. dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah. dalam bentuk cyber counseling. pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984.

mereka mempertanyakan. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. Untuk itulah. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. Ke Arah Pengertian Developmental. Bandung : LPMP Jawa Barat. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. 1983. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih.Pd. belajar maupun kariernya. 2004.. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. (Muslihudin. M. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. Diantaranya. 4. Namun. sosial. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. berbangsa dan bernegara. perusahaan. 6. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). 2004) Sumber : Bahrul Falah. 3. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. Hattari. Bimbingan dan Konseling (Makalah). Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. Jakarta : BP3K. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna 25 . Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. 1987. dkk. bermasyarakat. sosial.2. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. belajar ataupun kariernya. dkk. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. 5.

materi informasi yang bersifat personal. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. seperti kondisi sosio-kultural. baik tentang bakat. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. seperti kecerdasan. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. Di samping itu. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. jenis dan prospek pekerjaan. jenis pekerjaan. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. dan sebagainya. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. Karena. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. Untuk itulah. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. bakat. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. cita-cita. diantaranya:       Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier.memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. atau minat pekerjaannya. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). Namun. persyaratan. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. Dalam hal ini. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. ciri-ciri kepribadian. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. 26 . yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. seperti bakat. pasar kerja. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. baik melalui media cetak atau eleltronik. minat. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. ciri-ciri pekerjaan. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. karier. Materi Informasi.

Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. Misalkan.Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. dalam rangka menambah wawasan. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. artikel. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. (1997). Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung 27 . Untuk itu. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. (1995). dapat dilakukan pula melalui media ―papan bimbingan‖. Selain itu. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. misalkan dengan mengundang ―tokoh karier‖. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. Dalam hal ini. keterangan. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Sebagaimana telah disinggung di atas. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. Dari hasil kunjungan. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. Selain itu. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. berdasarkan hasil pengalamannya. atau klipping yang berhubungan dengan karier. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media.Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. juga dapat menunjukkannya kepada siswa.

28 . 2. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). Begitu pula. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan.S. Dalam hal ini. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. yaitu sama-sama menginginkan konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. W. perencanaan individual. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. pelayanan responsif. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.Winkel. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. mendiagnosis. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. (1991).

Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. Misalkan. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. 5. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli.Kendati demikian. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). 3. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. suatu masalah dianggap berat namun 29 . Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. 6. Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. penguatan mental/psikis. Begitu pula sebaliknya. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. modifikasi perilaku. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. 7. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. Masalahnya. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. serta teknis medis lainnya. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. baik untuk kepentingan pencegahan. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. pengubahan lingkungan. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa.

Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8.sosial. penunjuk jalan. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar.dan piha-pihak lain. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Namun demikian. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. disiplin dan keamanan di sekolah. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. pemberi informasi. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat.siswa. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu.guru. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. Pekerjaan yang profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah ―polisi sekolah‖ yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat.dan lingkungan. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal.setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri. 30 .Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”. orang tua. sekolah dan masyarakat sekitarnya. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. 10. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. Di sekolah misalnya. 9. Konselor adalah kawan pengiring. pembangun kekuatan. seperti ―praktik pribadi‖.

Sementara itu. 14. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Konselor harus aktif.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. metode. 31 . konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. terutama klien. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah ―mulut‖ dan keterampilan pribadi. dan sarana yang tersedia. jenis dan sifat masalah. Bahkan sering kali terjadi. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. Jawaban ‖benar‖. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja ―benar‖ dan bisa pula ―tidak‖. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Pada dasarnya. ada dan digunakannya instrumen (tes.Lebih jauh. tujuan yang ingin dicapai. 12. dan asas-asas tertentu). guru pembimbing memang harus aktif. Dengan kata lain. dalam hal ini konselor. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. Di sekolah. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 15. pihak lain pun.11. 13. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. Sedangkan jawaban ‖tidak‖. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. bersikap ―jemput bola‖.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya.Oleh sebab itu. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. Masalah yang tampaknya ―sama‖ setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat. maka hasilnya akan kurang mantap.inventori. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. tujuan. menghambat. tersendat-sendat. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling.

akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. Wawasan dan Landasan BK (Buku II).Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal.2003. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan ―cepat‖ itu adalah dalam hitungan detik atau jam. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul.. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. Misalkan. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya.

Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya 33 . yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‗Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling―. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang disajikan secara sistematis.(lihat 1. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. Sunaryo. Ketika membuka kegiatan pelatihan.ABKIN. yaitu : 1. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. memperoleh keterampilan hidup. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. standar kompetensi konselor. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. Layanan Responsif. memiliki mental yang sehat. Layanan Dasar. 2. Prof. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Dr. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera‖. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal.Selama mengikuti pelatihan. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. bertempat di Cikole Lembang Bandung. selaku ketua PB. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. Hal yang cukup mengagetkan penulis. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. M. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa ―Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal―.Pd. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik.

maupun karier. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Layanan Perencanaan Individual. staf ahli.Pd. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan.Pd.N.Terkait dengan 34 . Untuk lebih jelasnya. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. Dr. penasihatan individual atau kelompok. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. Agus Taufiq. Layanan dukungan sistem. konsultasi dengan guru lain. manajemen program. baik dalam Kurikulum 1975. merencanakan. sosial. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. M. dan masyarakat yang lebih luas. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. Kurikulum 1984. referal dan bimbingan teman sebaya. Perbedaannya. M. baik menyangkut aspek pribadi. dan Dr. M. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. Syamsu Yusuf L. Selain itu. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. Uman Suherman. memelihara. konseling individual. Kendati demikian. mau pun Kurikulum 1994.Pd. dan penelitian dan pengembangan. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. atau mengelola pengembangan dirinya. konseling kelompok.Pd. Uman Suherman. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat.. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. M.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. 4. hubungan masyarakat dan staf. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. belajar. 3. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. A.yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal.

dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. proses. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling :    Pemahaman : (antara lain : sosiometri. Daftar konseli 3. kunjungan rumah. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. audio. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. catatan anekdot. buku saku) 7. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. bimbingan klasikal. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. berbentuk : 1. kotak masalah. bimbingan kelompok. media cetak : liflet. Laporan bulanan 5. (c) pemilihan instrumen/media. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. Dalam hal ini. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. bibliokonseling. konsultasi. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas.penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. 2. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. (d) strategi pelayanan. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . konseling kelompok. Laporan hasil evaluasi program. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. audio visual. Laporan semesteran/tahunan 6. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis .

Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. seperti tes inteligensi. yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. 3. (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. B. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. (E) Treatment. layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan. PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Mei 31. (3) behavioral. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. Developing a desire for counseling. 2. yaitu: (A) Identifikasi kasus. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. PROSEDUR. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya.B. Call them approach. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. 36 . tes bakat. 4. Maintain good relationship. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun. dan atau (4) personality. Prayitno dkk. (2) struktural – fungsional. (C) Diagnosis. menciptakan hubungan yang baik. (D) Prognosis. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu. 5. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Melakukan analisis sosiometris. 2008 Sebagai sebuah layanan profesional. (B) Identifikasi masalah. yakni : 1.

Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh. dan (10) waktu senggang. (6) pendidikan dan pelajaran. baik yang bersifat direktif.kasus yang dihadapi. (7) agama. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. (3) hubungan sosial. 37 . F. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya.dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor. D. W. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. bisa dilihat dari segi input. berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia. non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. seperti : lingkungan rumah. dan (2) faktor eksternal. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu: 1. ( hubungan muda-mudi. Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. kecerdasan. bakat. proses. (5) karier dan pekerjaan.H. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. (4) ekonomi dan keuangan. (9) keadaan dan hubungan keluarga. (2) diri pribadi. emosi. Namun. yaitu : (1) faktor internal. nilai dan moral. kepribadian. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik. dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus . seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung). E. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. ataupun out put belajarnya. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. C.

Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. 3. 12. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2004. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 9. Depdiknas. 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Sumber: Abin Syamsuddin Makmun. 7. Psikologi Pendidikan. Kriteria keberhasilan tampak segera. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif. 2003. 4. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 38 .2. dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno. dkk. 2004. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Jakarta : Depdiknas. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 8. 11. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang. 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. produktif. yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). dan 3. Sementara itu. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. diantaranya apabila: 1.

(2) tahap inti (tahap kerja). yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. diantaranya :     Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). dan kegiatan. terutama asas kerahasiaan. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). keterbukaan. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. berisi : (1) Kontrak waktu. Menegosiasikan kontrak. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. M.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. Membuat penaksiran dan perjajagan. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). diantaranya :   Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien.Pd. (2) Kontrak tugas. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. kesukarelaan. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. A. 39 . Secara umum. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Oleh karena itu. B. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik.

 Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. baik oleh pihak konselor maupun klien. DYP Sugiharto. yaitu . Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. yaitu :     Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . C. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Dr.tugas profesionalnya. rational emotive therapy (RET). dan trait and factor. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. psikoanaliss. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. (1) menurunnya kecemasan klien. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. M. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. gestalt. Dalam bentuk tayangan slide. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Hal ini bisa terjadi jika :    Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). sehat dan dinamis. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 .

3. 2. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. 2008 A. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. 41 . yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. 4. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. B. (c) peniruan. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. (b) pembiasaan operan.

42 . Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. (c) kemungkinan manfaatnya. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. atau melakukan referal. 2. (b) apakah tujuan itu realistik. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. Feedback. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. 3. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. dan (d)k emungkinan kerugiannya. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. Konselor aktif : 1. tingkah laku penyesuaian. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling.D. Technique implementation. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral    Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. Evaluation termination. Goal setting. 4. 5. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. kekuatan dan kelemahannya. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. pola hubungan interpersonal. Assesment.

kesulitan menyatakan tidak. DYP Sugiharto. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak.Pd. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. (Makalah) 43 . Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. model fisik. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Pendekatan-Pendekatan Konseling. tape recorder. atau contoh nyata langsung).  Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. dapat menggunakan model audio. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. M. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Sumber : Dr. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk.

persepsi. kecemasan. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. pasif. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. mengancam. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. dan tingkah lakunya Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang 44 . Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan ―top dog‖ dan keberadaan ―under dog‖. lemah. sakit hati. membela diri. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang ―ada‖ kecuali ―sekarang‖. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. ingin dimaklumi. maka mereka mengalami kecemasan. emosi. Meskipun tidak bisa diungkapkan. kedudukan. rasa berdosa. dan pemikirannya. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. jantung. pera-saan. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. B. Dalam pendekatan ini. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). menuntut. Under dog adalah keadaan defensif. kebencian. kemarahan. otak. dan sebagainya. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. perasaan. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. tidak berdaya. rasa diabaikan. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. 2008 A. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. kecemasan dipandang sebagai ―kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian‖. (3) aktor bukan reaktor. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu.

Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. interpretasi maupun memberi nasihat. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. C. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum ―hitam-putih‖ . memahami kenyataan atau realitas.Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. serta mendapatkan insight secara penuh. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. D. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. 45 . Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis.

Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk ―melepaskan‖ diri dari konselor. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. perasaan. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. dan tingkah lakunya. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. dirinya tidak berdaya. konselor mengembangkan pertemuan konseling. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Teknik Konseling 46 . konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. Fase keempat. dalam situasi di sini dan saat ini. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. Dalam hal ini. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. bodoh. Fase ketiga. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. Melalui fase ini. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. atau gila. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. perasaan-perasaannya. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. Fase kedua. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran.

konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu‖ 47 . konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. Orientasi Sekarang dan Di Sini. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya ―mengapa‖. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. Misalnya : ―Saya merasa jenuh. (c) kecenderungan ―anak baik‖ lawan kecenderungan ―anak bodoh‖ kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : ―…dan saya bertanggung jawab atas hal itu‖. Dalam kaitan itu. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik ―kursi kosong‖. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Orientasi Eksperiensial.

Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Meskipun tampaknya mekanis. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Sumber : Dr. DYP Sugiharto. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya.Pd.―Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya.Sering terjadi. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu‖. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. M. (Makalah) 48 . Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran ―ekshibisionis‖ bagi klien pemalu yang berlebihan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Pendekatan-Pendekatan Konseling. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu‖. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. ―Saya malas. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. kelulusan bagi siswa. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. 2008 A. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. dan keran itu tidak produktif. interpretasi. yang dapat diterima menurut akal sehat. dan kerana itu menjadi prosuktif. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. Belief (B) yaitu keyakinan. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. pandangan. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. Keyakinan seseorang ada dua macam. kejadian. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. masuk akal. dan kompeten. yaitu Antecedent event (A). tidak masuk akal. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. B. bahagia. (c) orang tua atau masyarakat 49 . Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. bijaksana. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. sangat personal. antara kenyatan dan imajinasi.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. kekhawatiran. nilai. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. dan Emotional consequence (C). Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. dan irasional. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Perceraian suatu keluarga.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. atau sikap orang lain. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Belief (B). emosional. tingkah laku.

memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. dan dihukum. persepsi. rasa berdosa. rasa marah. (6) menerima ketidakpastian. rasa cemas. bencana yang dahsyat. (4) toleransi terhadap pihak lain. Ketiga. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. C. disalahkan. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. rasa bersalah. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. cara berpikir. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. (3) pengarahan diri. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. ( penerimaan diri. jahat. Kedua. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. D. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. (9) berani mengambil risiko. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. merusak. mengerikan. merasa was-was. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. dan (10) menerima kenyataan. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . (2) minat sosial. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. (5) fleksibel. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut.

(d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan ―menekan‖ sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. Emotif-ekspreriensial. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. mendorong. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. 2. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. E. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . Kognitif-eksperiensial. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. Aktif-direktif. 3. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. 4. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. afektif. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.  masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. Behavioristik. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung.

mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. latihan. Dengan tugas rumah yang diberikan. mengobservasi. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru).Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). Dengan memberikan reward ataupun punishment. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. M. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri.Pd. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. DYP Sugiharto. membiasakan diri. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. atau meniru model-model sosial. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. (Makalah) 52 . Pendekatan-Pendekatan Konseling. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. Sumber : Dr. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments.

Manusia secara esensial bersifat biologis. konflik dan simbolisme. Menutup wawancara konseling E. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. D. untuk ditata. ego. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. Deskripsi Proses Konseling 1. Konsep Dasar 1. terutama usia 2-5 tahun. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. Klien diminta 53 . dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. Fungsi konselor   Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. dan super ego C. yaitu id. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. Langkah-langkah yang ditempuh :        Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat:       Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. Teknik Konseling  Asosiasi bebas. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. 2008 A. disikusikan. 2. Hakikat manusia. Tujuan Konseling   Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi.

Analisis mimpi. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Dalam hal ini. resitensi dan transferensi. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. dan transferensi klien. Konsep Dasar: 1. B. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Analisis resistensi. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Hal ini disebut juga katarsis. resistensi. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. objektif. baik dalam asosiasi bebas. kebencian. anonim. 2008 A. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. Manusia merupakan seseorang yang ada. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. Menurut Freud. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. 2.    mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. 3. 54 . menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. asosiasi bebas. pengalamannya tertekan. Konselor menetapkan. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. Memandang manusia sebagai individu yang unik. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. Interpretasi. resistensi berati penolakan. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. Manusia tidak pernah statis. Transferensi adalah mengalihkan. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. Dengan perkataan lain. mimpi. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. seksualitas. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi).

Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. 4. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. (4) reassurance (menentramkan hati). Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Sumber: Sayekti. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. E. yang unik. 3. 3. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. Teori dan Praktek. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. Memperbaiki dan mengubah sikap. (5) encouragement (memberi dorongan). (2) respect (rasa hormat). 5. D. (3) understanding (pemahaman). Konseling Individual.C. 2007. (2) mengambil keputusan yang tepat. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. (4) mewujudkan dirinya. Tujuan Konseling 1. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Bandung: Alfabeta 55 . Saya adalah saya 2. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. 1997. 2. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). 4. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. Rogers. (3) mengarahkan diri. Deskripsi Proses Konseling 1. Willis. persepsi cara berfikir.

Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. 5. 2. diperbaiki. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. 4. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. 3. dianalisis dan ditafsirkan. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. Menurutnya. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. 3. yang hadir di seluruh kehidupannya. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . 2. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. Tanggung jawab 56 . Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. sebagai pengalaman yang berharga. 2008 A.

dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. 6. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan., tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. 7. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. C. Tujuan Terapi 1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 2. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. 3. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. 5. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. D. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. Motivator, yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya; dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. 2. Penyalur tanggung jawab, sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli; (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. 3. Moralist; yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. 4. Guru; yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. 5. Pengikat janji (contractor); artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan, baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. Menggunakan role playing dengan konseli 2. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun, karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. 4. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. 5. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. 6. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya

57

7. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. 8. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Sumber:

untuk

Sayekti. 1997. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Willis. 2007. Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Teknik Umum Konseling (1)
Diterbitkan Januari 15, 2008

Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum, diantaranya : A. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Meningkatkan harga diri klien. 2. Menciptakan suasana yang aman 3. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Contoh perilaku attending yang baik :
    

Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang, ceria, senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah, menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Mendengarkan : aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.

Contoh perilaku attending yang tidak baik :
    

Kepala : kaku Muka : kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara, mata melotot. Posisi tubuh : tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling. Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Perhatian : terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.

B. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan

58

dengan perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Terdapat dua macam empati, yaitu : 1. Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.Contoh ungkapan empati primer :‖ Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda‖. ‖ Saya dapat memahami pikiran Anda‖.‖ Saya mengerti keinginan Anda‖. 2. Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu‖. C. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Terdapat tiga jenis refleksi, yaitu : 1. Refleksi perasaan, yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ‖ Tampaknya yang Anda katakan adalah ….‖ 2. Refleksi pikiran, yaitu teknik untuk memantulkan ide, pikiran, dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.Contoh : ‖ Tampaknya yang Anda katakan…‖ 3. Refleksi pengalaman, yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ‖ Tampaknya yang Anda katakan suatu…‖ D. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam. Seperti halnya pada teknik refleksi, terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi, yaitu : 1. Eksplorasi perasaan, yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh :‖ Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan ….‖ 2. Eksplorasi pikiran, yaitu teknik untuk menggali ide, pikiran, dan pendapat klien. Contoh : ‖ Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja‖. 3. Eksplorasi pengalaman, yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh :‖ Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda‖ E. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons klien terhadap konselor. 59

pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). bagaimana. Konselor: ‖Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ‖. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ‖ Konselor : ‖ Tampaknya Anda masih ragu.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. akan tetapi saya tidak mengambilnya. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. Contoh dialog : Klien : ‖ Itu suatu pekerjaan yang baik. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Oleh karenanya.‖ F. terus…. lebih baik gunakan kata tanya apakah. Klien : ‖ Empat ‖ Konselor: ‖ Sekarang berapa ? ‖ Klien : ‖ Sebelas ‖ H. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. adakah. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. dapatkah. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Contoh dialog : Klien : ‖Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan‖. Contoh : ‖ Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ‖ G. ya…. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. (3) memberi arah wawancara konseling. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. lalu…. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Contoh dialog : Klien : ‖ Saya putus asa… dan saya nyaris… ‖ (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ‖ ya…‖ Klien : ‖ nekad bunuh diri‖ Konselor: ‖ lalu…‖ 60 ..

2004.‖ Sumber : Sofyan S. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA‖. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. 2003. Jakarta. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. J. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.Konseling Individual. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Arifin. Karena tantangan masa depan makin banyak. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Contoh dialog : Klien : ‖ Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. Willis. (3) meningkatkan kualitas diskusi. bukan pandangan subyektif konselor. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Jakarta : PPPG 61 . Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan.‖ Konselor : ‖ Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Membantu orang tua memang harus. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. Contoh : ‖ Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. kedua. Bandung : Alfabeta H. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. Teori dan Praktek. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).‖ K.I.‖ Konselor : ‖ Bisakah Anda mencobakan di depan saya.M. PT Golden Terayon Press. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. Sugiharto. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.(2005. Klien : ‖ Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Saya tak dapat lagi menahan diri. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. namun masih ada hambatan yang akan hadapi.

4. (2) meningkatkan potensi klien. Contoh : ‖ Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan‖. Misalnya dengan mengatakan : ‖ Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ‖. 2. Contoh: ‖ Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?‖ 3. Fokus pada diri klien. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. konflik.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. senyum dengan kepedihan. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Fokus pada topik. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Contoh : ‖ Roni. telah membuat kamu menderita. diantaranya : 1. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Fokus pada orang lain. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. Contoh dialog : 62 .‖ C. ide awal dengan ide berikutnya. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. atau kontradiksi dalam dirinya. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. 2008 A. Tapi bagaimana ya?‖ Konselor : ‖ Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ‖. Oleh karena itu. dan sebagainya. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Fokus mengenai budaya. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Contoh : ‖ Tanti. Contoh dialog : Klien :‖ Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?‖ B. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Pada umumnya dalam wawancara konseling. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki.

Klien : ‖ Saya baik-baik saja‖.(suara rendah, wajah murung, posisi tubuh gelisah).‖ Konselor :‖ Anda mengatakan baik-baik saja, tapi kelihatannya ada yang tidak beres‖. ‖Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ‖. D. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar, kurang jelas dan agak meragukan. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas, ungkapan kata-kata yang tegas, dan dengan alasan-alasan yang logis, (2) agar klien menjelaskan, mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. Contoh dialog : Klien : ‖ Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.‖ Konselor : ‖Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah, ibu, atau saudara-saudara Anda.‖ E. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas. Contoh : ‖ Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya, karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.‖ F. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending, paling lama 5 – 10 detik, komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir; (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit; (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. Contoh dialog : Klien :‖Saya tidak senang dengan perilaku guru itu‖ Konselor :‖…………..‖ (diam) Klien :‖ Saya..harus bagaimana.., Saya.. tidak tahu.. Konselor :‖…………..‖ (diam) G. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang parisipatif. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat; (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan; (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. Contoh: ‖ Baiklah, saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Coba Anda renungkan kembali‖. G. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Walaupun demikian, konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. 63

Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ‖ Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab, dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya.‖ H. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat, jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Kalau pun konselor mengetahuinya, sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Contoh : ‖ Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia, saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.upi.com di internet‖. I. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action), perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Contoh : ‖ Nah, apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ‖ J. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini, terutama mengenai kecemasan; (2) memantapkan rencana klien; (3) pemahaman baru klien; dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya, jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan.
Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG

Teknik Khusus Konseling
Diterbitkan Januari 15, 2008

Dalam konseling, di samping menggunakan teknik-teknik umum, dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling, seperti pendekatan Behaviorisme, Rational Emotive Theraphy, Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling, yaitu : 64

1. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. 2. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. 3. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. 4. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. 5. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Kecenderungan ―anak baik‖ lawan kecenderungan ―anak bodoh‖. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.

65

dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu‖.Melalui dialog yang kontradiktif ini. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran ―ekshibisionis‖ bagi klien pemalu yang berlebihan. 6. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : ―…dan saya bertanggung jawab atas hal itu‖. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. 8. 9. ―Saya malas. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. 7. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik ―kursi kosong‖. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu‖ ―Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Sering terjadi. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Misalnya : ―Saya merasa jenuh. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu‖ Meskipun tampaknya mekanis.

Willis. Home work assigments. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). mendorong. Arifin. 2003. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. membiasakan diri. 12. Jakarta : PPPG 67 . Bandung : Alfabeta Sugiharto. 2004.(2005. Jakarta. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. 10. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. 13. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Sofyan S. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.Konseling Individual. Dengan tugas rumah yang diberikan.M. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. PT Golden Terayon Press. Sumber : H. 11. Teori dan Praktek. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. terisolik. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. terus bertahan. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. dan sombong. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. Makin lama perasaan ditolak. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. mengontrol dunia. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. Dasar saya anak desa. susah tak ada/punya teman yang peduli. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. kurang bersahabat. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. orang lain. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif.

Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. mengobservasi dan evaluasi diri. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. Ia menjadi minder. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. memaki-maki diri saya sendiri. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. teliti. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. peduli. karena saya berharga dihadiratNya. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. pemalu. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. hanya 10% saja yang membeci saya. bahkan adakalanya saya benci. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. puas dan bangga. Sehubungan dengan kasus. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. karena saya tak berharga. Saya pantas menderita karena semuanya itu. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. 50% netral. pemberian nasehat secara tepat. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya.dibiarkan terus berlangsung. Ide-ide ini diajarkan. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. Cara konselor ialah 69 . Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. Tekniknya jelas. tak seperti orang/teman-teman lainnya. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. bermain peran. semua teman memperhatikan / mendukung. Itu berarti salah saya. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. Allah mengasihi saya. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. sugestif. dan seterusnya.

Konseling Pancawashita. Jakarta Surya. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. Satya Wacana Semarang. mendebat. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. SUMBER Aryatmi.. Yogyakarta. M. Prayitno. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. Corey G. Pengantar Teori-teori Konseling. IKIP Semarang Pres. 2. Kota Kembang. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. 1991. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. 3. Kesegaran hasil yang dicapai. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. 1998. 4. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan.. FIP. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . S. 70 . Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. 1991/1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). progdi BK PPB.dengan pendekatan yang tegas.. 1988. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. Kesimpulannya. menantang. 1998. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. (5) menerima kenyataan bahwa. jika kita mengharap untuk berubah. IKIP Padang Rosjidan.

1977).1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau ―Ramuan Hebat‖ (Great Herbal). dan Asia. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Pemulihan. dan untuk bahan analgesik (Kisker. keluarga. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. Pendidikan dan Pelatihan. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. dan segitiga emas (Kamboja. rematik. tidak menyalahkan pihak luar. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. Vietnam. Thailand). 1977). 1977). dan analgesik (Martin. Pasca RSKO. dan Amerika Selatan. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. Konseling Keluarga. Martin. Pendahuluan 1.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. Turki. 22-5-2001). Opium banyak pula ditemukan di Cina. pecandu narkoba. *) Sofyan S. Australia. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. Cina. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . 1977. Bagaimana di Eropa. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. terutama remaja. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. Kunjungan. Konseling Agama. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. obat lemah badan. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Mesir. Kata Kunci: Konseling Terpadu. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. malaria. Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. dan Partisipasi Sosial. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. Konseling Kelompok.

000 = Rp. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. Minnesota. 1995). Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. Artinya. 25-52001). Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. maka AMK pun menirunya.800 miliar. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). (c) mencintai keluarga. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. suatu angka yang fantastis. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. Masalahnya.Willis. dan film-film. 2001). Ulwan. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. Minneapolis. 1. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. konsumtif. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. 72 . Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. 1. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. 1993). Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara.000. 1978).bulan. 1989). Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya.200. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. sehingga narkoba mudah beredar. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. melalui metode Konseling Terpadu. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. Willis. khususnya generasi muda. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St.200. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. namun terbentur pada lemahnya hukum. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. VCD. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. kolusi. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. 1979). Sebagai perbandingan. Hal ini berarti. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. 1979). Sedangkan. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal.

guru-guru BK di sekolah.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. 2. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. taat ibadah. Sebagai seorang dokter medis. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. institute nutrition and vitamin therapy. Selanjutnya. sarjana. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. menerima cobaan hidup dengan tawakal. spiritual. memahami. 1977). 2. 1980). dsb). akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis.―There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. dijauhi orang-orang yang dicintai. ibu-ibu pengajian. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. dan berbuat baik terhadap sesama. sosial. para siswa. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. Hal ini disebabkan oleh sikap empati.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. dan asli (genuine) dari konselor. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. akan tumbuh 73 . Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. or back on the job. intelektual. and back to destructive drinking‖. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. Jika konselor tidak menguasai soal agama. back home. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. Willis 1995). Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. kehilangan pekerjaan. bermoral. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. dan fisik. tokoh-tokoh masyarakat. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. and than put the patient back on the street. Melalui interpersonal relation. anggota DPR. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. dan sebagainya. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. Mann memuji pendekatan Panti St. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. terbuka. prescribe mood-controlling medications. terapi nutrisi/vitamin. 2. hangat. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. (3) menerima realita hidup dengan jujur. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien.

konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. istri. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. dan masyarakat. 2. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. serta penyesalan terhadap masa lalu. orang tua. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. mencemarkan nama keluarga. Selanjutnya. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. keluarga. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. Di samping itu. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam.. 4. merusak diri. Kemudian. pacar. 2. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. 3. 1985). dan masyarakat. ibu. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. sedangkan pesertanya adalah klien. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. dan keluarga dekat lainnya. saudara. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. Selanjutnya. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. Demikian juga. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. kritikan-kritikan. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. 1982). ada kesempatan untuk memberi saran-saran. saudara. Selanjutnya. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. pesan. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. suami/istri. Di samping itu. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. keluarga. 5. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga.kepercayaan diri klien (Yalom. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. 74 . percaya diri. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. dan sebagainya. marah. suami.

Okun (Sofyan S. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. sedang) Memelihara kontak mata yang baik Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat Tidak efektif Berbicara terlalu cepat atau terlalu pelan Duduk menjauh dari klien Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut 75 . 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1.go. bimbingan kelompok. Willis. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau ―Anda‖ Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya ―mengapa‖ Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. Sumber : http://depdiknas. dan konseling keluarga. Perilaku Non Verbal: Efektif Nada suara disesuaikan dengan klien (tenang. baik perilaku verbal maupun non verbal. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Barbara F. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. 2008 Dalam proses konseling.id. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling.

Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . 2004. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. Sebagai lembaga pendidikan. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Oleh karena itu. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Secara visual. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. Willis. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Kendati demikian. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah.tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. harus diingat sekolah bukan ―lembaga hukum‖ yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku.

Dalam hal ini. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Masalah (kasus) ringan. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. keinginan untuk melanjutkan sekolah. Lebih jauh. Sebagai ilustrasi. berpacaran. minum minuman keras tahap awal. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Oleh karena itu. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. 77 . Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. mencuri kelas ringan. seperti: membolos. Sofyan S. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. bertengkar. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.Dengan melihat gambar di atas. berkelahi dengan teman sekolah. serta hal-hal positif lainnya. malas. Dalam hal ini. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. Perlu digarisbawahi. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling.

perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. percobaan bunuh diri. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. agar 78 . 3. pelaku kriminalitas. berkelahi antar sekolah. guru dan sebagainya. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. ahli/profesional. polisi. kecanduan alkohol dan narkotika. siswa hamil. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. mencuri kelas sedang. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). polisi. berpacaran. dengan perbuatan menyimpang. kesulitan belajar.2. melakukan gangguan sosial dan asusila. karena gangguan di keluarga. dokter. seperti: gangguan emosional berat. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. seperti: gangguan emosional. Secara visual. Masalah (kasus) sedang. minum minuman keras tahap pertengahan. Masalah (kasus) berat.

(c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. individualitas. kebebasan memilih. sosial. jenjang. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. keagamaan. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. 4. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. dan berpotensi. 1. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. 2008 A. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. C. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. non formal. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. dan informal. dasar dan menengah. dan khusus. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. 3.C. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. dan (f) ersikap demokratis B. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan 79 . (e) toleran terhadap permsalahan konseli. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. kejuruan. individual. bermoral.

2008 Dalam Permendiknas No. Oleh karena itu. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. 5. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. (b) melakukan penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. proses dan program bimbingan dan konseling. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. tujuan. pimpinan sekolah/madrasah. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. orang tua. 3. 2007. karier. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. akademik. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. personal. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. tujuan. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai 80 . (b) mengkomunikasikan dasar. 6. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran.dan profesi. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling.dan profesi. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru. wali kelas. Sumber : ABKIN. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja.2. (c) memfasilitasi perkembangan. Namun. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. dan sosial konseli. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. konseling. tenaga administrasi) Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. 4. tujuan. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja.

yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (6) Kesadaran gender. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).oleh peserta didik. dalam bentuk naskah akademik. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (7) Pengembangan diri. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (4) Kematangan intelektual. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (3) Kematangan emosi. (2) Landasan perilaku etis. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (9) Wawasan dan kesiapan karier. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 Aspek Perkembangan Landasan religius hidup Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Mengenal bentukbentuk dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baik-buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri sendiri dan orang lain Mengenal konsepkonsep dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturanaturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi aktifitas belajar berbagai perilaku Tindakan Melakukan bentukbentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan 2 Landasan perilaku etis 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual Kesadaran tanggung jawab sosial 5 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam 81 . sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis).

(2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan 82 . (6) Kesadaran gender. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (9) Wawasan dan kesiapan karier. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dekatnya Mengenal ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam kehidupan Mengenal norma berinteraksi teman sebaya normadalam dengan lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan Menerima keadaan diri sebagai bagian dari lingkungan Memahami perilaku hemat. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. (4) Kematangan intelektual. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT).lingkungan kehidupan sehari-hari 6 Kesadaran gender Mengenal diri sebagai laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri dalam lingkungan dekatnya Mengenal perilaku hemat. Namun. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (3) Kematangan emosi. dalam bentuk naskah akademik. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.Jakarta. Oleh karena itu. (7) Pengembangan diri. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dekatnya Menghargai ragam pekerjaan dan aktivitas sebagai hal yang saling bergantung Menghargai normanorma yang dijunjung tinggi dalam menjalin persahabatan dengan teman sebaya Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan seharihari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan kesiapan karier dan 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya Sumber : Depdiknas. 2008 Dalam Permendiknas No.2007. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (2) Landasan perilaku etis. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.

Berinteraksi dengan lain jenis secara kolaboratif dalam memerankan peran jenis Meyakini keunikan diri sebagai aset yang harus dikembangkan secara harmonis dalam kehidupan Membiasakan diri hidup hemat. Berinteraksi dengan orang lain atas dasar nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan hidup. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari. 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender Mengenal peranperan sosial sebagai laki-laki atau perempuan 7 Pengembangan diri Mengenal kemampuan dan keinginan diri Menerima keadaan diri secara positif 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) Mengenal nilainilai perilaku hemat. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Landasan hidup religius Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Mengenal arti dan tujuan ibadah Berminat mempelajari arti dan tujuan ibadah Memahami keragaman aturan/patokan dalam berperilaku dalam konteks budaya Memahami keragaman ekspresi perasaan diri dan perasaan orasaan orang lain Menyadari adanya resiko dari pengambilan keputusan Menghargai nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari Menghargai peranan diri dan orang lain sebagai lakilaki atau perempuan dalam kehidupan sehari-hari Tindakan Melakukan berbagai kegiatan ibadah dengan kemauan sendiri Bertindak atas pertimbangan diri terhadap norma yang berlaku 1 2 Landasan perilaku etis Mengenal alasan perlunya mentaati aturan/norma berperilaku 3 Kematangan emosi Mengenal caracara mengekspresikan perasaan secara wajar Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah Mempelajari cara-cara memperoleh hak dan memenuhi kewajiban dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan atas dasar pertimbangan kontekstual Mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan resiko yang mungkin terjadi. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari. Mengidentifikasi ragam alternatif pekerjaan. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari. Mengekspresikan ragam pekerjaan.sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. pendidikan dan 9 Wawasan dan kesiapan karier Menyadari manfaat perilaku hemat. Menyadari keragaman nilai dan 83 .

(4) Kematangan intelektual. 2008 Dalam Permendiknas No. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13. Oleh karena itu. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). dalam bentuk naskah akademik. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Namun. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (7) Pengembangan diri. (2) Landasan perilaku etis. (2) akomodasi 84 . Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis).Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (9) Wawasan dan kesiapan karier. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (6) Kesadaran gender.Jakarta. (3) Kematangan emosi.2007.aktivitas dalam dengan kemampuan diri 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya Mempelajari norma-norma pergaulan dengan teman sebaya yang beragam latar belakangnya persyaratan dan aktivitas yang menuntut pemenuhan kemampuan tertentu Menyadari keragaman latar belakang teman sebaya yang mendasari pergaulan pendidikan dan aktifitas yang mengandung relevansi dengn kemampuan diri Bekerja sama dengan teman sebaya yang beragam latar belakangnya Sumber : Depdiknas.

ulet sungguh-sungguh dan kompetitif sebagai aset untuk mencapai hidup mandiri Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek etis Mengekspresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas.terbuka dan tidak menimbulkan konflik Mengambil keputusan dan pemecahan masalah atas dasar informasi/data secara obyektif Berinteraksi dengan orang lain atas dasar kesamaan Berkolaborasi secara harmonis dengan lain jenis dalam keragaman peran Menampilkan keunikan diri secara harmonis dalam keragaman Menampilkan hidup hemat. dan aktifitas yang terfokus pada pengembangan alternatif karir yang lebih terarah Mempelajari cara-cara membina dan kerjasama dan toleransi dalam pergaulan dengan teman sebaya Mengenal normaAkomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lain Menyadari akan keragaman alternatif keputusan dan konsekuensi yang dihadapinya Menyadari nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman peraan laki-laki atau perempuan sebagai aset kolaborasi dan keharmonisan hidup Menerima keunikan diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya Menerima nilai-nilai hidup hemat.(memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. peluang dan ragam karir Mempererat jalinan persahabatan yang lebih akrab dengan memperhatikan norma yang berlaku Mengekspresikan 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya Kesiapan diri untuk 11 Menghargai nilai-nilai kerjasama dan toleransi sebagai dasar untuk menjalin persahabatan dengan teman sebaya Mengharagai norma- 85 . Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Landasan religius Landasan etis hidup Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan 1 Mempelajari hal ihwal ibadah Mengenal keragaman sumber norma yang berlaku di masyaraakat Mempelajari cara-cara menghindari konflik dengan orang lain Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah secara objektif Mempelajari keragaman interaksi sosial Mempelajari perilaku kolaborasi antar jenis dalam ragam kehidupan Mempelajari keunikan diri dalam konteks kehidupan sosial Mempelajari strategi dan peluang untuk berperilaku hemat. sengguh-sungguh dan kompetitif dalam keragaman kehidupan Mempelajari kemampuan diri. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. sungguhsungguh dan kompetitif atas dasar kesadaran sendiri 2 perilaku 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan kesiapan karier dan Internalisasi nilai-niolai yang melandasi pertimbangan pemilihan alternatif karir Mengembangkan alternatif perencanaan karir dengan mempertimbangkan kemampuan. pendidikan. peluang dan ragam pekerjaan. ulet.ulet.

Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.ulet sungguh-sungguh dan kompetitif sebagai aset untuk mencapai hidup Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek etis Mengekspresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas.2007. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).Jakarta.ulet. ulet. sengguh-sungguh dan kompetitif dalam 2 perilaku 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 8 86 . Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13. sungguhsungguh dan kompetitif atas dasar kesadaran sendiri 1 Mempelajari hal ihwal ibadah Mengenal keragaman sumber norma yang berlaku di masyaraakat Mempelajari cara-cara menghindari konflik dengan orang lain Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah secara objektif Mempelajari keragaman interaksi sosial Mempelajari perilaku kolaborasi antar jenis dalam ragam kehidupan Mempelajari keunikan diri dalam konteks kehidupan sosial Mempelajari strategi dan peluang untuk berperilaku hemat. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi No Aspek Perkembangan Landasan religius Landasan etis hidup Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lain Menyadari akan keragaman alternatif keputusan dan konsekuensi yang dihadapinya Menyadari nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman peraan laki-laki atau perempuan sebagai aset kolaborasi dan keharmonisan hidup Menerima keunikan diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya Menerima nilai-nilai hidup hemat.terbuka dan tidak menimbulkan konflik Mengambil keputusan dan pemecahan masalah atas dasar informasi/data secara obyektif Berinteraksi dengan orang lain atas dasar kesamaan Berkolaborasi secara harmonis dengan lain jenis dalam keragaman peran Menampilkan keunikan diri secara harmonis dalam keragaman Menampilkan hidup hemat.menikah berkeluarga dan norma pernikahan dan berkeluarga norma pernikahan dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga Sumber : Depdiknas. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No.

9 Wawasan kesiapan karier dan 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya keragaman kehidupan Mempelajari kemampuan diri. dan aktifitas yang terfokus pada pengembangan alternatif karir yang lebih terarah Mempelajari cara-cara membina dan kerjasama dan toleransi dalam pergaulan dengan teman sebaya mandiri Mengembangkan alternatif perencanaan karir dengan mempertimbangkan kemampuan. peluang dan ragam pekerjaan.Jakarta. 87 . peluang dan ragam karir Mempererat jalinan persahabatan yang lebih akrab dengan memperhatikan norma yang berlaku Mengekspresikan keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga Internalisasi nilai-niolai yang melandasi pertimbangan pemilihan alternatif karir 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Mengenal normanorma pernikahan dan berkeluarga Menghargai nilai-nilai kerjasama dan toleransi sebagai dasar untuk menjalin persahabatan dengan teman sebaya Mengharagai normanorma pernikahan dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis Simber: Depdiknas.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. pendidikan.2007.

yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. 88 . Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. 3. yaitu: 1. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi 2. 4. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. Program Tahunan. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. Program Semesteran. 2008 A. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. sasaran pelayanan (4) . Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. Dilihat dari jenisnya. Program Harian. 5. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. Program Bulanan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. yaitu : (1) perencanaan. dan (5) volume/beban tugas konselor. seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. (3) format kegiatan. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. dan (3)penilaian 1. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. B. Program Mingguan. bulanan serta mingguan. (2) pelaksanaan. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama.

Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. bimbingan kelompok. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. dan (e) waktu dan tempat. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas. jenis kegiatan. himpunan data.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. konseling perorangan. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. penempatan dan penyaluran. dan pihak-pihak yang terkait. penguasaan konten. dan mediasi. untuk menyelenggarakan layanan orientasi. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan 89 . Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. dan alih tangan kasus. insidental dan keteladanan. kegiatan instrumentasi. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. tempat. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. dan (2) kegiatan non tatap muka. konseling kelompok. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. kunjungan rumah. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka dengan peserta didik. waktu. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. pemanfaatan kepustakaan. serta alat bantu yang digunakan. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. kegiatan konferensi kasus.Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. B.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. substansi.

guru. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. bakat. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). dan pengembangan karir konseli. 90 . dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. Penilaian segera (LAISEG). belajar. 2. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani.Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. 3. dan (2) penilaian proses. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor.. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. C. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial.

Dengan demikian 91 . melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. 3. Gambar 1. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. 2. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. 1. responsif. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. rancangan. mengandung arti bahwa bentuk. Namun.Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi.

Hurlock. Judy L. Patricia A. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (1956). D. R. 92 .edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Depdiknas. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. New York: David Mckay. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Bandung: ABKIN Bandura. Ellis. BSNP dan PUSBANGKURANDIK.W dan J. Dameron. (Ed. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Depdiknas.J. Child Development. Handbook of School Counseling. Merrill Prentice Hall Corey. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Comm. (1990). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Departemen Pendidikan Nasional. Herr Edwin L. Belomont.I. Draft. Development Taks and Education. Houston : Shell Com.pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Engels. (2003). (2006).D. (2003). (2003).H. Havighurts. Alexandria. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. DAFTAR RUJUKAN AACE. (Eds). Browers. Jakarta: Puskur Balitbang. & Mitchel M. UK: Cambridge University Press. Guidance and Counseling in the Schools. G. Self-Efficacy in Changing Soceties. (2005). Adolescence. CA: Brooks/Cole. Cobia. (1986). Columbia: The Educational Resources Information Center.L. (2001). Introduction to Counseling and Guidance. (2005). (2006). (2003). (2002). California : Myfield Publishing Company. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Gibson R. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (2005). & Hatch. A. (1995). Cambridge. VA: AACD. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. 2006). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. New York : MacMillan Publishing Company. (2007).ncat. Donna A. Depdiknas. J. New Jersey. Balitbang Diknas. The Art of Integrative Counseling. New York : McGraw Hill Book Company Inc. T. Depdiknas. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). (1979). & Henderson. (1953). Penataan Pendidikan Profesional Konselor.).Nancy. The National Model for School Counseling Programs. http://aace. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Debra C. ASCA (American School Counselor Association). Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Depsiknas. (1992). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Alizabeth B.

& Kottman. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Boston : Allyn & Bacon. 2006.N. M. Jakarta : Balitbang Depdiknas. (2005). Human Development. Uman Suherman. Pikunas. 3 July’96. (1996). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Stoner. LIPI. Akhmad Sudrajat. (1976). 1995. Sunaryo Kartadinata. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. ——–.Pd. 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : CV Bani Qureys. Madison : Brown & Benchmark. Remaja Rosda Karya. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. (1995). BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. (2005). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Anita E. (2003). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2008 Oleh : Drs. Educational Psychology. Muro.dan Juntika N. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. (2003). dkk. Landasan Bimbingan dan Konseling. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. 2004. Michigan School Counselor Association. Syamsu Yusuf L. (1987). ——–. (2005). Bandung : Remaja Rosda Karya. Vol 24 No. ―Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Woolfolk.Ltd. James A. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. M.Menteri Pendidikan Nasional. Pusat Kurikulum. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. James J. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Management. Bandung : PT.Pd. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. 93 . pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Balitbang Depdiknas. Lustin. London : Prentice-Hall International Inc. Terry. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling.

masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. Akibatnya. Oleh karena itu. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. melalui berbagai bentuk aturan. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 1. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. Maka. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. tulisan ini. Konselor 94 . Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. Dalam hal ini. petunjuk pelaksanaan. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. ketentuan. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Sesungguhnya. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. seperti : malas. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. Oleh karena itu. petunjuk teknis dan sebagainya. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional.Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata.

Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. Dengan kata lain. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. baik secara langsung maupun tidak langsung. Sementara. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. Bahkan. Bagaimanapun. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. Misalkan. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs dalam internet. konselor dituntut bekerja secara profesional. untuk menguasai teknik- 95 . Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. Secara tidak langsung. seperti : seminar. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. Sehingga pada gilirannya. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. Dari sini. Sedangkan secara langsung. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini.didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. penataran dan pelatihan.

tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang mewakili pihak pemerintah.teknik konseling. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. 2.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. Walaupun demikian perlu dicatat. Dengan adanya akuntabilitas ini. Bagaimanapun masyarakat. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. Artinya. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. Jadi wajar sekali. Kemudian. Berbekal kesabaran dan ketekunan. terutama masyarakat dan orang tua siswa. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. Sekalipun ada. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. dengan bercermin dari kekurangan. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para 96 . Namun pada kenyataannya. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara.

konselor seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. Oleh karena itu. Dengan sendirinya. Dr. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. Karena.siswa. kapan saja diperlukan. seperti kepala sekolah. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai ―orang yang paling banyak tahu‖ tentang keadaan siswanya secara personal. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. Hal yang perlu dicermati. Dalam hal ini. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. yang berhubungan dengan data siswa. Tentu saja. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). Dengan kata lain. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. Dan pada gilirannya. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. Oleh sebab itu. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. khususnya kepada bimbingan dan konseling. Atau secara kreatif. dewan sekolah atau siapa pun. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak 97 . yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. Prayitno. Bahkan bila perlu. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan.

(1994). Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung 98 . akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Demikianlah. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan.. (1997). khususnya dalam forum Komite Sekolah. (1995). konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut.tidak boleh untuk disampaikan. informasi-informasi yang berkenaan dengan ― prinsip kerahasiaan klien ― harus tetap dijaga sebaik mungkin. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Tentu saja. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. Makalah . Departemen Pendidikan Nasional. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Prof. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997.(1995). Dr. Untuk itulah. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. (2001). Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas.

S. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. (2) evaluasi program. dan (3) evaluasi hasil. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. orang tua dan masyarakat Didukung dan dimiliki oleh seluruh komunitas Mengukur dampak yang dikaitkan dengan tujuan Berurusan dengan pencapain tujuan. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. Counselors Role in a Changing Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil.Winkel. W. Sementara itu. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. (1991). 1. sasaran dan hasil Memfokuskan pada pencapaian (accomplisment) Responsif dan beradaptasi dengan 99 . 2008 Pola Lama Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Disampaikan dan dilaksanakan hanya oleh konselor Dimiliki hanya oleh staf konseling (konselor) Mengukur jumlah usaha yang dilakukan Berurusan dengan proses melaksanakan pekerjaan Memfokuskan pada tujuan dan yang dianggap baik Bekerja untuk memelihara sistem yang Pola Baru Melayani seluruh siswa (guidance for all) Dilaksanakan berdasarkan kurikulum Terjadwal (kalender) Kolaboratif antara konselor. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. guru. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul ―Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris.

berbentuk : 1. Teori dan Praktek. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Daftar konseli 100 . guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan.ada Membicarakan tentang bagaimana bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Melihat kelemahan klien Berorientasi pemecahan masalah klien (siswa) Konselor serius Dialog menekan perasaan klien dan klien (siswa) sering tertutup Klien sebagai obyek Konselor dominan dan bertindak sebagai problem solver Sumber : perubahan Membicarakan tentang efektivitas kerja Bersifat pedagogis Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pengembangan potensi positif klien (siswa) Menggembirakan klien (siswa) Dialog konselor menyentuh klien (siswa). yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. klien (siswa) terbuka Klien (siswa) sebagai subyek Konselor hanya membantu dan memberi alternatif-alternatif Gary L. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling.gov/sspw/counsl1.wisconsin. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Bandung : Alfabeta. 2. Konseling Individual. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal.dpi. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. (d) strategi pelayanan. Kendati demikian. 2004.html Sofyan S. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. (c) pemilihan instrumen/media. Willis. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6.

konselor. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. buku saku) 7. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. Laporan 6. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis .3. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. media cetak : liflet. Laporan hasil evaluasi program. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. catatan anekdot. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. konseling kelompok. kotak masalah. Sementara itu. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Laporan 5. bimbingan kelompok. kunjungan rumah. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling :    permasalahan konseli bulanan semesteran/tahunan Pemahaman : (antara lain : sosiometri. audio. Demikian pula. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. konsultasi. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. proses. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. 101 . bibliokonseling. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. Data kebutuhan dan 4. audio visual. bimbingan klasikal. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. Sebaliknya. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. Dalam hal ini. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru.

keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. sosial. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Utama Pilihan Strategis Minim dalam Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. Tujuan Umum 3. belajar. sosial.Selengkapnya. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan pengembangan diri ditetapkan dalam proses transaksional oleh konseli. Konteks Tugas Guru Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pembelajaran yang mendidik melalui mata pelajaran dengan skenario guru-murid Pengembangan kemampuan penguasaan bidang studi dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Konselor Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pelayanan yang memandirikan dengan skenario konseli-konselor Pengembangan potensi diri bidang pribadi. Wilayah Gerak 2. karier. Jakarta 102 . belajar dan karier. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Pencapaian Standar Kemandirian Kompetensi Lulusan kehidupan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Pemanfaatan Instructional Effects & Nurturant Effects melalui pembelajaran yang mendidik Perencanaan intervensi tindak Kebutuhan belajar ditetapkan terlebih dahulu untuk ditawarkan kepada peserta didik Pelaksanaan intervensi tindak Penyesuaian berdasarkan ideosinkretik didik yang terstruktur proses respons peserta lebih Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pengenalan diri dan lingkungan oleh konseli dalam rangka pengentasan masalah pribadi. 2007. difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses berdasarkan respons ideosinkretik konseli dalam transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK.

tapi siswa tetap yang harus memikirkan. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : 103 .. Prof. H. Karenanya. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. Menurut dia. katanya. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. Menurut Sofyan. Karenanya. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri. Saat melakukan konseling. 6 September 2006. Supaya konseling cukup efektif. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. Selain terlalu sering memberikan nasihat.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. Sofyan S.com/cetak/2006/042006/07/0702.‖ ungkapnya. ia mengungkapkan. mengatakan hal itu kepada ‖PR‖ di sela-sela lokakarya ―Konselor Sekolah‖ di SMAN 5 Bandung. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. hal. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. Belitung. Willis. Berkaitan dengan peran sekolah. Dr.Pd. Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. bukan yang memiliki masalah saja. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. M. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). alternatif juga dari dia (siswa-red). Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. ―Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. 20 dengan judul tulisan ―Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai‖.‖ ujarnya. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof.Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17.pikiran-rakyat. ―Alternatif bisa diusulkan guru. Sunaryo Kartadinata. Terutama. Jl. Padahal. Menurut dia. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. Sumber : http://www. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat. Yang baik. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. Dr.

baik terkait dengan pendidikan maupun karier.. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. dan bukan layanan bebas nilai. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. dan karier. Misalnya. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum.Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. Menurutnya. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi.melalui pendidikan. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. menggunakan penyikapan yang empatik. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. akademik. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. pribadi-sosial. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). layanan etis normatif. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. misalnya melalui asesmen psikologis. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. nilai. (5) yang dilandasi sikap. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu 104 . baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler.

Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. Sumber : Sunayo Kartadinata. hal.―Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai‖. Dalam hal ini. serta berguna untuk manusia lain. melalui direct behavioral consultation. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. 105 . Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier.Pikiran Rakyat. sejahtera. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. seni dan sebagainya Atas semua itu. Pada jenjang SMP dan SMA. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. Selain itu. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan.. BSNP. M. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. seperti dalam olah raga.Pd. Ditjen PMPTK.guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. terutama guru pendidikan khusus. 6 September 2006.

penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. Empat tahun kemudian. walaupun pada saat itu penulis merupakan ―orang yang bermasalah‖. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. penulis hanya memilih satu jurusan saja. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. 106 . pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. Selanjutnya. Akhirnya. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa‘i Dayari.. Jawaban singkatnya. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. sekitar 32 tahun yang lalu. Setelah keluar dari ruangan BP. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang ―mengerikan‖ dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. Hanya selang satu tahun setelah lulus.Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. Beliau memberikan analisis panjang lebar.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. jika penulis kelak menjadi guru BP. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan.singkatnya pertanyaan itu. yang mengakibatkan penulis ―terpaksa‖ harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi.

Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. sedangkan guru pembimbing terpaksa harus gigit jari. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). Hanya sangat disesalkan. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar.Pada awal menjadi Guru BP. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. tempat kelahiran penulis. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. 107 .Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang ―degradasi‖.. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. menggantikan sebutan Guru BP. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK.Begitu juga. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. Sebaliknya. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu ―mengejar-ngejar kasus‖ semata. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). Pada tahun 2003. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional.

baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat.Pd. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. meski secara formal istilah ini belum digunakan. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. Kelangkaan Tenaga Konselor 108 . Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. konseling sebagai ―polisi sekolah―pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling.Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. yaitu : 1. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. M. Kesan lama. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan.mata pelajaran di sekolah. sampai dengan sekarang. Menurut pandangan penulis. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. Dalam tataran teoritis. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. Sayangnya. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. khususnya di kalangan siswa. Di sisi lain. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak.SMA pada saat itu.

Jadi. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. Meminjam bahasa ekonomi. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. dalam kebijakan sertifikasi guru. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. kualitas dan distribusinya. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. Sehingga. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. baik secara personal maupun lembaga. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan.Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. Dalam dokumen KTSP. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya.. Begitu juga. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. Contoh kasus terbaru. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya dilaksanakan. Contoh kasus. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. 2. dengan memperhitungkan segi kuantitas. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang 109 . Oleh karena itu. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jika ke depannya. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling.

Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di 110 . Jika tidak. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. M. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil.Pd. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. M. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. dengan menghadirkan pembicara Dr. oleh siswa. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. mengusung tema ‖ Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia―. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. Misalnya. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang ―Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia‖ yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Uman Suherman. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. guru mata pelajaran. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. *)) Akhmad Sudrajat. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat.menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. kepala sekolah. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya.Pd.

sosio-personal. Untuk itu. Bapak Drs. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. maupun bidang karier.sekolah hanya makan gaji buta. 4. atau tahunan. 6. tidak jelas kerjanya. 1. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. Bertindak layaknya seorang ‖politisi‖ yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. Rachmat Setiawan. 3. bulanan. 2. saya memilih topik pembicaraan: ―Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. M. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan.Pd.M. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). H. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. Pada saat sedang mengikuti rapat. baik laporan harian. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). baik dalam bidang akademik. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. Tema pelatihan kali ini adalah ― Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan‖ dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. (2) peran 111 . bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah.

dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah.guru dalam layanan konseling di sekolah. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. Dalam jadwal resmi. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. Tentunya saya berharap. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. 2008 112 . maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. maka atas seijin panitia setempat. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi.

Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. (7) Agama. Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. dkk. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. pengembangan maupun kuratif. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. baik yang bersifat preventif. Nilai dan Moral (ANM). Melalui analisis data berbasis komputer ini. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. 113 . ( Hubungan Muda Mudi (HMM). mudah dan akurat. Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. Tentunya. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung ―over protection‖. Anda dapat men-download materi tersebut. Sayangnya. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. (2) Diri Pribadi (DPI). Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). Kendati demikian. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. Untuk kepentingan analisis data. (3) Hubungan Sosial (HSO). Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. dan (10) Waktu Senggang (WSG). efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah.

114 . (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. Sadar Diri. Individualistik. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. 6. seperti keadilan sosial. Impulsif. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. Seksama.Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. Berdasarkan hasil pengukuran ini. Otonomi. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (g) mengenal kompleksitas diri. (e) peduli akan self fulfillment. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. (c) peduli akan aturan eksternal. (e) memikirkan cara hidup. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. motif. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. dan perspektif diri. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. (c) mampu melihat keragaman emosi. 2. dkk. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. (d) peduli akan hubungan mutualistik. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. (d) bertindak dengan motif dangkal. (f) kurang introspeksi. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. Dengan alat ITP. 7. (b) bergantung pada lingkungan. Perlindungan Diri. (c) peduli akan paham abstrak. Konformistik. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. (g) takut tidak diterima kelompok. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1.. (b) berfikir sterotip dan klise. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. (d) melihat kehidupan sebagai ―zero-sum game‖. (c) beorientasi hari ini. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. 3. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. 4. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. (e) memiliki tujuan jangka panjang. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. (d orientasi pemecahan masalah.

sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. Proses penyekoran. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. Yang diskor 40 soal. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. cepat dan menyenangkan. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. cara ini akan memakan waktu. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. (3) kematangan emosional. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: 115 . untuk jumlah siswa yang besar. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. Hasil duplikasi diletakkan di bagian akhir angket. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP.Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. Namun. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. ( kemandirian perilaku ekonomi. Yang diskor 66 soal. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. penghitungan skor konsistensi. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. (9) wawasan dan persiapan karir. (4) kematangan intelektual. (2) landasaan perilaku etis.Yang diskor 40 soal. (5) kesadaran tanggung jawab. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. Semakin tinggi skor konsistensi. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). Dengan ATP. Yang diskor 66 soal.

Expor hasil pengolahan Impor data dari file Microsoft Excel. grafik distribusi frekuensi konsistensi. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. dan penggabungan kelompok.Analisis per individu. Manual Guide ATP Versi 3. distribusi frekuensi nilai.Pengolahan data mentah secara cepat. Manajemen data. delapan butir tertinggi dan terendah. dkk .Analisis kelompok. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu.5 116 . Sumber : Sunaryo. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. yang terdiri atas: profil kelompok. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. yang terdiri atas: profil individual. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. data ke Microsoft Excel®. Multi window.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->