P. 1
Program Kesehatan Ibu Dan Anak

Program Kesehatan Ibu Dan Anak

|Views: 2,037|Likes:
Published by rianiputri

More info:

Published by: rianiputri on May 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/23/2015

pdf

text

original

Riani Putri 1102009243 PBL 1

1. Memahami dan menjelaskan pelayanan antenatal care 1.1. Definisi Ante Natal Care adalah merupakan cara penting untuk memonitoring dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal, ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan dan asuhan antenatal. 1.2. Tujuan Menurut Saifuddin,dkk (2002), tujuan pelayanan antenatal adalah:  Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.  Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.  Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.  Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.  Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif.  Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. Salah satu upaya pokok puskesmas adalah program kesehatan ibu dan anak, di mana pelayanan antenatal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program tersebut. Pelayanan antenatal adalah pelayanan yang diberikan kepada ibu selama masa kehamilannya dengan baik dan melahirkan bayi yang sehat. 1.3. Pemeriksaan Pelayanan antenatal yang sesuai meliputi timbang berat badan, pengukuran tinggi badan, tekanan darah, nilai status gizi [ukur lingkar lengan atas], tinggi fundus uteri, menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin, skrining status imunisasi tetanus dan memberikan Tetanus Toksoid [TT] bila diperlukan, pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama selama kehamilan, tes laboratorium [rutin dan khusus], tatalaksana kasus, serta temu wicara [konseling], termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi [P3K], serta KB pasca persalinan. Pelayanan antenatal disebut lengkap jika dilakukan oleh tenaga kesehatan dan memenuhi standar tersebut. 1.4. Kunjungan Frekuensi minimal pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan, dengan ketentuan pemberian pelayanan yang dianjurkan yaitu : minimal 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua, dan 2 kali pada triwulan ke 3. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan penanganan komplikasi.  Kunjungan I (12-24 pekan)

Anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik dan obstetri, pemeriksaan lab, Antopometri, penilaian resiko kehamilan, KIE  Kunjungan II ( 28-32 pekan) Anamnesis, USG, penilaian resiko kehamilan,Nasehat perawatan payudara & senam hamil), TT I  Kunjungan III ( 34 pekan ) Anamnesis, pemeriksaan ulang lab, TT II  Kunjungan IV , V, VII & VIII ( 36-42 pekan ) Anamnesis, perwatan payudara & persiapan persalinan KECUALI jika ditemukan kelainan / faktor risiko yang memerlukan penatalaksanaan medik lain, pemeriksaan harus lebih sering dan intensif. 2. Memahami dan menjelaskan program kesehatan dasar 2.1. Definisi 2.2. Klasifikasi  Pelayanan puskesmas didalam gedung (rawat jalan) o Ruangan Kartu / Loket o Poli Umum o Poli Gigi o Poli KIA-KB o Pojok Gizi o Ruangan Tundakan / UGD o Apotek o Gudang Obat o Gudang Inventaris o Ruangan Tata Usaha o Ruangan Imunisasi o Ruangan Laboratorium Sederhana o Ruangan Kepala Puskesmas Puskesmas Rawat Inap, pada umumnya mempunyai ruangan khusus untuk Unit Gawat Darurat, perawatan umum dan ruang bersalin.  Pelayanan Puskesmas diluar gedung : o Posyandu Balita o Posyandu Lansia o Penyuluhan Kesehatan o Pelacakan Kasus o Survey PHBS o Rapat Koordinasi

2.3. Program  Promosi Kesehatan (Promkes) o Penyuluhan Kesehatan Masyarakat o Sosialisasi Program Kesehatan  Pencegahan Penyakit Menular (P2M) :

Surveilens Epidemiologi Pelacakan Kasus : TBC, Kusta, DBD, Malaria, Flu Burung, ISPA, Diare, PMS  Pengobatan : o Poli Umum o Poli Gigi o Unit Gawat Darurat o Puskesmas Keliling  Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) - KB o ANC (Antenatal Care), PNC (Post Natal Care), KB (Keluarga Berencana) o Persalinan, Rujukan Resti, Kemitraan Dukun  Upaya Peningkatan Gizi Penimbangan , Pelacakan Gizi Buruk, Penyuluhan Gizi  Kesehatan Lingkungan : o Pengawasan SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah), SAMI – JAGA (Sumber air minum-jamban keluarga), TTU (Tempat Umum), Institusi. o Survey Jentik Nyamuk  Pencatatan dan Pelaporan : Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) 3. Memahami dan menjelaskan imunisasi pada ibu dan anak 3.1. Definisi Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakittersebut tidak akan menderita penyakit tersebut.Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal untuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan.Imunisasi lanjutan adalah imunisasi ulangan untuk mempertahankan tingkat kekebalan di atas ambang perlindungan atau untuk memperpanjang masa perlindungan. 3.2. Imunisasi pada bayi  Imunisasi dasar o Hepatitis B Pencegahan dapat dilakukan dengan cara vaksin hepatitis B yang dipakai untuk program pemerintah di Indonesia adalah vaksin buatan Korean Green Cross yang dibuat dari plasmadarah penderita hepatitis B. Adapula vaksin yang dibuat secara sintetis. Vaksin ini dibuat dari selragi, misalnya H-B Vak II yang dikembangkan oleh MSD (Merck Sharp dan Dohme). Adapuncara pemakaiannya (vaksin dari Koerean Green Cross) sebagai berikut :  Imunisasi dasar dilakukan tiga kali. Dua kali pertama untuk merangsang tubuhmenghasilkan zat anti dan yang ketiga untuk meningkatkan jumlah zat anti yang sudahada  Jadwal imunisasi yang dianjurkan adalah untuk bayi baru lahir (0 – 11 bulan) dengan satukali suntikan dosis 0,5 ml satu bulan kemudian mendapat satu kali lagi. Setelah itu,imunisasi ketiga diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan, mengenai waktu pemberiansuntikan yang ketiga ada beberapa pendapat. Untuk pelaksanaan program diberikan 1 bulan setelah suntikan kedua.

o o

Hal ini semata-mata untuk kemudahan dalam pelaksanaan,tetapi kekebalan yang didapat tidaklah berbeda. Imunisasi hepatitis B ulangan dilakukansetiap 5 tahun sekali. BCG Di Indonesia pemberian imunisasi BCG tidak hanya terbatas pada mereka yang memiliki resikotinggi mengingat tingginya kemungkinan infeksi kuman TBC. Imunisasi BCG diberikan padasemua bayi baru lahir sampai usia kurang dari dua bulan. Penyuntikan biasanya dilakukandibagian atas lengan kanan (region deltoid) dengan dosis 0,05 ml reaksi yang mungkin timbulsetelah penyuntikan adalah :Kemerahmerahan disekitar suntikan, dapat timbul luka yang lama sembuh di daerah suntikan,dan terjadi pembengkakan di kelenjar sekitar daerah suntikan (biasanya di daerah ketiak).Bila terjadi hal tersebut di atas yang penting adalah menjaga kebersihan terutama daerah sekitar luka dan segera bawa ke dokter o Polio Penderita poliomyelitis apabila terhindar dari kematian banyak yang menderita kecacatansehingga imunisasi sebagai usaha pencegahan sangat dianjurkan.Imunisasi polio di Indonesia dilakukan dengan cara meneteskan vaksin sabin sebanyak 2 tetes dimulut. Pertama kali diberikan bersama BCG dan DPT pertama pada usia dua bulan. Kemudiandiulang dengan jarak 4 minggu sebanyak 4 kali. Imunisasi ulangan dilakukan satu tahun, setelahimunisasi dasar ke-4 dan saat masuk SD (6-7 tahun). Imunisasi tambahan dapat diberikan apabilaada resiko kontak dengan virus ganas. o DPT Penderita difteri, pertusis, dan tetanus ini bila tidak segera mendapat pertolongan yang memadaimaka berakibat fatal. Imunisasi DPT dimaksudkan untuk mencegah ketiga penyakit tersebut diatas. Imunisasi dasar diberikan tiga kali, pertama kali bersama dengan BCG dan polio, kemudian berturut-turut dua kali dengan jarak masing-masing 4 minggu (1 bulan). Imunisasi ulangan dapatdilakukan 1 tahun setelah imunisasi ketiga dan pada saat usia masuk sekolah dasar (5-6 tahun).Imunisasi selanjutnya dianjurkan tiap lima tahun dengan imunisasi DT (tanpa pertusis). o Campak Pencegahan penyakit campak dapat dilakukan melalui imunisasi. Imunisasi campak dilakukanketika bayi berumur sekitar 9 bulan. Imunisasi campak hanya dilakukan satu kali dankekebalannya bisa berlangsung seumur hidup. Imunisasi campak bisa diberikan sendiri atau bersama dalam imunisasi MMR Imunisasi tambahan o MMR Imunisasi ini berguna untuk mencegah penyakit MMR. Measles adalah penyakit campak, Mumps digenal sebagai gondongan yaitu infeksi virus o

yang menyebabkan rasa sakit karena peradangan pada kelenjer ludah, dengan komplikasi gangguan saraf dan radang selaput otak/meningitis. Sedangkan rubella (campak Jerman) adalah penyakit infeksi virus yang menimbulkan kemerahan pada kulit disertai demam, dan jika wanita hamil terinfeksi, maka dapat menyebabkan kelainan pada bayi yang dikandungnya. o HiB Imunisasi ini sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Hemophilus Influenza tipe B yang sangat berbahaya karena bisa mengakibatkan penyakit radang selaput otak/meningitis, infeksi paru-paru, dan infeksi organ tubuh lainnya. Penyakit ini sering mengenai anak dibawah usia 2 tahun. o PCV Imunisasi Pneumokokus (Pneumococcal Conjugate Vaccine/PCV) ditujukan untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh kuman pneumokokus. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak dibawah usia 2 tahun. Penyakit ini dapat menyebabkan radang selaput otak, pneumonia (infeksi paru-paru), bakterimia (infeksi dalam darah), dan infeksi telinga tengah. Imunisasi ini sring juga dikenal sebagai imunisasi IPD (Invasive Pneumoccocal Disease) o Influenza Berguna untuk mencegah penyakit influenza. Imunisasi ini aman diberikan untuk bayi diatas 6 bulan. Virus influenza selalu berubah setiap tahunnya sehingga dianjurkan untuk diberikan setiap tahun. o Hepatitis A Untuk mencegah penyakit hepatitis A. o Tifoid Berguna untuk mencegah penyakit tifoid atau tifus. o Varisela Adalah vaksin untuk mencegah penyakit cacar air. Suntikan diberikan satu kali dan dapat diberikan pada umur besapa saja, tapi kebanyakan dokter memberikannya pada saat setelah anak berumur 2 tahun. Imunisasi ini dapat memberikan kekebalan pada anak seumur hidup, walaupun anak dapat terinfeksi, biasanya penyakitnya ringan saja. 3.3. Jadwal imunisasi

3.4. Dosis dan cara pemberian  BCG Vaksin dilarutkan dulu dengan 4 cc pelarut, vaksin yang dilarutkan harus dibuang dalam 3 jam, dosis pada bayi < 1 tahun 0,05 ml sedangkan pada anak > 1 tahun 0,10 ml. Vaksin ini disuntikan secara intracutan pada daerah lengan kanan atas (insertio musculus deltoideus)  Hepatitis B Penyuntikan dilakukan secara intramuscular, didaerah deltoid atau paha anterior (jangan dilakukan didaerah bokong). Recombivax HB : 2,5 mcg/ml. Engerix B : 10mcg/ml.  DPT Dosis DPT adalah 0,5 ml. Dilakukan dengan penyuntikan secara intramuskular (IM) atau subkutan (SC) pada anterolateral paha atas.  Polio IPV : Pemberian dengan dosis 0,5 ml, SC 3x berturut-turut dengan jarak masingmasing dosis 2 bulan. OPV : Satu dosis sebanyak 2 tetes (0,1 ml) diberikan per oral pada umur 2-3 bulan dapat diberikan bersama-sama waktunya dengan suntikan vaksin DPT dan hepatitis B  Campak

Dosis minimal untuk vaksin yang dilemahkan adalah 0,5 ml secara subcutan atau intra muscular lengan atas. 3.5. Jadwal imunisasi pada ibu hamil Kepada ibu hamil, imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali, selang waktu minimal 1 bulan antara 2 pemberian tersebut, yaitu pada saat kehamilan berumur 7 bulan dan 8 bulan. 3.6. Dosis dan cara pemberian imunisasi pada ibu hamil Vaksin ini disuntikan pada otot paha atau lengan sebanyak 0,5 ml. Efek samping dari tetanus taksoid adalah reaksi lokal pada tempat penyuntikan , yaitu berupa kemerahan , pembengkakan dan rasa nyeri. 4. Memahami dan menjelaskan pendidikan kesehatan masyarakat 4.1. Prinsip  Pendidikan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas, tetapi merupakan kumpulan pengalaman dimana saja dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi pengetahuan sikap dan kebiasaan sasaran pendidikan.  Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada orang lain, karena pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri.  Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri.  Pendidikan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. 4.2. Ruang lingkup Ruang lingkup pendidikan kesehatan masyarakat dapat dilihat dari 3 dimensi :  Dimensi sasaran o Pendidikan kesehatan individu dengan sasaran individu o Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok masyarakat tertentu. o Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.  Dimensi tempat pelaksanaan o Pendidikan kesehatan di rumah sakit dengan sasaran pasien dan keluarga o Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran pelajar. o Pendidikan kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan sasaran masyarakat atau pekerja.  Dimensi tingkat pelayanan kesehatan o Pendidikan kesehatan promosi kesehatan (Health Promotion), misal : peningkatan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, gaya hidup dan sebagainya. o Pendidikan kesehatan untuk perlindungan khusus (Specific Protection) misal : imunisasi o Pendidikan kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan tepat (Early diagnostic and prompt treatment) misal : dengan pengobatan layak dan sempurna dapat menghindari dari resiko kecacatan.

o

Pendidikan kesehatan untuk rehabilitasi (Rehabilitation) misal : dengan memulihkan kondisi cacat melalui latihan-latihan tertentu.

4.3. Metode  Metode pendidikan Individual (perorangan) Bentuk dari metode individual ada 2 (dua) bentuk : o Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling), yaitu ;  Kontak antara klien dengan petugas lebih intensif  Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu penyelesaiannya.  Akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela dan berdasarkan kesadaran, penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku) o Interview (wawancara)  Merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan  Menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat, apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.  Metode pendidikan Kelompok Metode pendidikan Kelompok harus memperhatikan apakah kelompok itu besar atau kecil, karena metodenya akan lain. Efektifitas metodenya pun akan tergantung pada besarnya sasaran pendidikan. o Kelompok besar  Ceramah ; metode yang cocok untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah.  Seminar ; hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli atau beberapa ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di masyarakat. o Kelompok kecil  Diskusi kelompok ; Dibuat sedemikian rupa sehingga saling berhadapan, pimpinan diskusi/penyuluh duduk diantara peserta agar tidak ada kesan lebih tinggi, tiap kelompok punya kebebasan mengeluarkan pendapat, pimpinan diskusi memberikan pancingan, mengarahkan, dan mengatur sehingga diskusi berjalan hidup dan tak ada dominasi dari salah satu peserta.  Curah pendapat (Brain Storming) ; Merupakan modifikasi diskusi kelompok, dimulai dengan memberikan satu masalah, kemudian peserta memberikan jawaban/tanggapan, tanggapan/jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart/papan tulis, sebelum semuanya mencurahkan pendapat tidak boleh ada komentar dari siapa

pun, baru setelah semuanya mengemukaan pendapat, tiap anggota mengomentari, dan akhirnya terjadi diskusi.  Bola salju (Snow Balling) Tiap orang dibagi menjadi pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang). Kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5 menit tiap 2 pasang bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari kesimpulannya. Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.  Kelompok kecil-kecil (Buzz group)  Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil, kemudian dilontarkan suatu permasalahan sama/tidak sama dengan kelompok lain, dan masing-masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari tiap kelompok tersebut dan dicari kesimpulannya.  Memainkan peranan (Role Play) Beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peranan tertentu untuk memainkan peranan tertentu, misalnya sebagai dokter puskesmas, sebagai perawat atau bidan, dll, sedangkan anggota lainnya sebagai pasien/anggota masyarakat. Mereka memperagakan bagaimana interaksi/komunikasi seharihari dalam melaksanakan tugas.  Permainan simulasi (Simulation Game) Merupakan gambaran role play dan diskusi kelompok. Pesanpesan disajikan dalam bentuk permainan seperti permainan monopoli. Cara memainkannya persis seperti bermain monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (penunjuk arah), dan papan main. Beberapa orang menjadi pemain, dan sebagian lagi berperan sebagai nara sumber. Metode pendidikan Massa Pada umumnya bentuk pendekatan (cara) ini adalah tidak langsung. Biasanya menggunakan atau melalui media massa. Contoh : o Ceramah umum (public speaking) Dilakukan pada acara tertentu, misalnya Hari Kesehatan Nasional, misalnya oleh menteri atau pejabat kesehatan lain. o Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV maupun radio, pada hakikatnya adalah merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa. o Simulasi, dialog antar pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan melalui TV atau radio adalah juga merupakan pendidikan kesehatan massa. Contoh : ”Praktek Dokter Herman Susilo” di Televisi.

Sinetron ”Dokter Sartika” di dalam acara TV juga merupakan bentuk pendekatan kesehatan massa. Sinetron Jejak sang elang di Indosiar hari Sabtu siang (th 2006) o Tulisan-tulisan di majalah/koran, baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab /konsultasi tentang kesehatan antara penyakit juga merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa. o Bill Board, yang dipasang di pinggir jalan, spanduk poster dan sebagainya adalah juga bentuk pendidikan kesehatan massa. Contoh : Billboard ”Ayo ke Posyandu”. Andalah yang dapat mencegahnya (Pemberantasan Sarang Nyamuk). 4.4. Alat bantu dan media  Alat bantu (peraga) o Pengertian ; Alat-alat yang digunakan oleh peserta didik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran, sering disebut sebagai alat peraga. Elgar Dale membagi alat peraga tersebut menjadi 11 (sebelas) macam, dan sekaligus menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat bantu tersebut dalam suatu kerucut. Menempati dasar kerucut adalah benda asli yang mempunyai intensitas tertinggi disusul benda tiruan, sandiwara, demonstrasi, field trip/kunjungan lapangan, pameran, televisi, film, rekaman/radio, tulisan, kata-kata. Penyampaian bahan dengan kata-kata saja sangat kurang efektif/intensitasnya paling rendah. o Faedah alat bantu pendidikan  Menimbulkan minat sasaran pendidikan.  Mencapai sasaran yang lebih banyak.  Membantu mengatasi hambatan bahasa.  Merangsang sasaran pendidikan untuk melaksanakan pesanpesan kesehatan.  Membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan cepat.  Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesanpesan yang diterima kepada orang lain.  Mempermudah penyampaian bahan pendidikan/informasi oleh para pendidik/pelaku pendidikan.  Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan. Menurut penelitian ahli indra, yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke dalam otak adalah mata. Kurang lebih 75-87% pengetahuan manusia diperoleh/disalurkan melalui mata, sedangkan 13-25% lainnya tersalurkan melalui indra lain. Di sini dapat disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi atau bahan pendidikan.  Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih mendalami, dan akhirnya memberikan pengertian yang lebih baik.

o

o

o

o

o

 Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh. Macam-macam alat bantu pendidikan  Alat bantu lihat (visual aids) ; - alat yang diproyeksikan : slide, film, film strip dan sebagainya. - alat yang tidak diproyeksikan ; untuk dua dimensi misalnya gambar, peta, bagan ; untuk tiga dimensi misalnya bola dunia, boneka, dsb.  Alat bantu dengar (audio aids) ; piringan hitam, radio, pita suara, dsb.  Alat bantu lihat dengar (audio visual aids) ; televisi dan VCD. Sasaran yang dicapai alat bantu pendidikan  Individu atau kelompok  Kategori-kategori sasaran seperti ; kelompok umur, pendidikan, pekerjaan, dsb.  Bahasa yang mereka gunakan  Adat istiadat serta kebiasaan  Minat dan perhatian  Pengetahuan dan pengalaman mereka tentang pesan yang akan diterima. Merencanakan dan menggunakan alat peraga Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :  Tujuan pendidikan, tujuan ini dapat untuk : - Mengubah pengetahuan / pengertian, pendapat dan konsep-konsep. - Mengubah sikap dan persepsi. - Menanamkan tingkah laku/kebiasaan yang baru.  Tujuan penggunaan alat peraga - Sebagai alat bantu dalam latihan / penataran/pendidikan. - Untuk menimbulkan perhatian terhadap sesuatu masalah. - Untuk mengingatkan sesuatu pesan / informasi. - Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan. Persiapan penggunaan alat peraga Semua alat peraga yang dibuat berguna sebagai alat bantu belajar dan tetap harus diingat bahwa alat ini dapat berfungsi mengajar dengan sendirinya. Kita harus mengembangkan ketrampilan dalam memilih, mengadakan alat peraga secara tepat sehingga mempunyai hasil yang maksimal. Contoh : satu set flip chart tentang makanan sehat untuk bayi/anakanak harus diperlihatkan satu persatu secara berurutan sambil menerangkan tiap-tiap gambar beserta pesannya. Kemudian diadakan pembahasan sesuai dengan kebutuhan pendengarnya agar terjadi komunikasi dua arah. Apabila kita tidak mempersiapkan diri dan hanya

mempertunjukkan lembaran-lembaran flip chart satu demi satu tanpa menerangkan atau membahasnya maka penggunaan flip chart tersebut mungkin gagal. o Cara mengunakan alat peraga Cara mempergunakan alat peraga sangat tergantung dengan alatnya. Menggunakan gambar sudah barang tentu lain dengan menggunakan film slide. Faktor sasaran pendidikan juga harus diperhatikan, masyarakat buta huruf akan berbeda dengan masyarakat berpendidikan. Lebih penting lagi, alat yang digunakan juga harus menarik, sehingga menimbulkan minat para pesertanya. Ketika mempergunakan AVA, hendaknya memperhatikan :  Senyum adalah lebih baik, untuk mencari simpati.  Tunjukkan perhatian, bahwa hal yang akan dibicarakan/diperagakan itu, adalah penting.  Pandangan mata hendaknya ke seluruh pendengar, agar mereka tidak kehilangan kontrol dari pihak pendidik.  Nada suara hendaknya berubah-ubah, adalah agar pendengar tidak bosan dan tidak mengantuk.  Libatkan para peserta/pendengar, berikan kesempatan untuk memegang dan atau mencoba alat-alat tersebut.  Bila perlu berilah selingan humor, guna menghidupkan suasana dan sebagainya. Media pendidikan kesehatan Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan (audio visual aids/AVA). Disebut media pendidikan karena alat-alat tersebut merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan kesehatan karena alatalat tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau ”klien”. Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan (media), media ini dibagi menjadi 3 (tiga) : Cetak, elektronik, media papan (bill board) o Media cetak  Booklet : untuk menyampaikan pesan dalam bentuk buku, baik tulisan maupun gambar.  Leaflet : melalui lembar yang dilipat, isi pesan bisa gambar/tulisan atau keduanya.  Flyer (selebaran) ; seperti leaflet tetapi tidak dalam bentuk lipatan.  Flip chart (lembar Balik) ; pesan/informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik. Biasanya dalam bentuk buku, dimana tiap lembar (halaman) berisi gambar peragaan dan di baliknya berisi kalimat sebagai pesan/informasi berkaitan dengan gambar tersebut.  Rubrik/tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah, mengenai bahasan suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.

Poster ialah bentuk media cetak berisi pesan-pesan/informasi kesehatan, yang biasanya ditempel di tembok-tembok, di tempat-tempat umum, atau di kendaraan umum.  Foto, yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan. o Media elektronik  Televisi ; dapat dalam bentuk sinetron, sandiwara, forum diskusi/tanya jawab, pidato/ceramah, TV, Spot, quiz, atau cerdas cermat, dll.  Radio ; bisa dalam bentuk obrolan/tanya jawab, sandiwara radio, ceramah, radio spot, dll.  Video Compact Disc (VCD)  Slide : slide juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi kesehatan.  Film strip juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan. o Media papan (bill board) Papan/bill board yang dipasang di tempat-tempat umum dapat dipakai diisi dengan pesan-pesan atau informasi – informasi kesehatan. Media papan di sini juga mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada kendaraan umum (bus/taksi). 5. Memahami dan menjelaskan ilmu prilaku dan prilaku kesehatan 5.1. Konsep prilaku Skinner (1938) seorang ahli perilaku mengemukakan bahwa perilaku adalah merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respons). Ia membagi respons menjadi 2 :  Respondent respons/reflexive respons, ialah respons yang ditimbulkan oleh rangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut elicting stimuli, karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap, misalnya : makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, cahaya yang kuat akan menimbulkan mata tertutup, dll. Respondent respons (respondent behavior) ini mencakup juga emosi respons atau emotional behavior. Emotional respons ini timbul karena hal yang kurang mengenakkan organisme yang bersangkutan. Misalnya menangis karena sedih/sakit, muka merah (tekanan darah meningkat karena marah). Sebaliknya hal-hal yang mengenakkan pun dapat menimbulkan perilaku emosional misalnya tertawa, berjingkat-jingkat karena senang, dll.  Operant Respons atau instrumental respons, adalah respons yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsangan tertentu. Perangsang semacam ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, karena perangsangan-perangsangan tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme. Oleh karena itu, perangsang yang demikian itu mengikuti atau memperkuat sesuatu perilaku tertentu yang telah dilakukan. Contoh : Apabila seorang anak belajar atau telah melakukan suatu perbuatan, kemudian memperoleh hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, responsnya akan lebih intensif atau lebih kuat lagi. 5.2. Prilaku kesehatan

Yaitu suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Perilaku kesehatan mencakup 4 (empat) :  Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia merespons, baik pasif (mengetahui, mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya maupun di luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkatan-tingkatan pencegahan penyakit, misalnya : perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior), adalah respons untuk melakukan pencegahan penyakit, misalnya : tidur dengan kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasi,dll. Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indra.  Perilaku terhadap pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan tradisional maupun modern. Perilaku ini mencakup respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan, dan obat-obatan, yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan pengguanaan fasilitas, petugas dan obatobatan.  Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior), yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan, meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsurunsur yang terkandung di dalamnya/zat gizi, pengelolaan makanan, dll.  Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environmental health behavior) adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri (dengan air bersih, pembuangan air kotor, dengan limbah, dengan rumah yang sehat, dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk (vektor), dan sebagainya. Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan (health behavior) sebagai berikut :  Perilaku kesehatan (health behavior), yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih makanan, sanitasi, dan sebagainya. Perilaku sakit (illness behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang individu yang merasakan sakit, untuk merasakan merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit, termasuk kemampuan atau pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab penyakit, serta usaha-usaha mencegah penyakit tersebut. Perilaku peran sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakuakan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Perilaku ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan/kesakitannya sendiri, juga berpengaruh terhadap orang lain,

terutama anak-anak yang belum mempunyai kesadaran dan tanggung jawab terhadap kesehatannya. 5.3. Bentuk prilaku Secara lebih operasional, perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respons berbentuk 2 (dua) macam :  Bentuk pasif adalah respons internal, yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misal tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya ; seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu mencegah suatu penyakit tertentu, meski ia tak membawa anaknya ke puskesmas, seseorang yang menganjurkan orang lain untuk ber-KB, meski ia tidak ikut KB. Dari contoh di atas ibu itu telah tahu guna imunisasi dan orang tersebut punya sikap positif mendukung KB, meski mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behavior).  Bentuk aktif, yaitu perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada kedua contoh di atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas untuk imunisasi dan orang pada kasus kedua sudah ikut KB dalam arti sudah menjadi akseptor KB. Oleh karena itu perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata, maka disebut ”overt behavior”. 5.4. Faktor  Faktor Predisposing, berupa pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, nilai, dll.  Faktor Enabling/pemungkin, berupa ketersediaan sumber-sumber/fasilitas, peraturan-peraturan.  Faktor Reinforcing/mendorong/memperkuat, berupa tokoh agama, tokoh masyarakat. 5.5. Perubahan  Teori stimulus dan transformasi Teori stimulus - respon kurang memperhitungkan faktor internal, dan transformasi yang telah memperhitungkan faktor internal. Teori stimulus respon yang berpangkal pada psikologi asosiasi menyatakan bahwa apa yang terjadi pada diri subjek belajar adalah merupakan rahasia atau biasa dilihat sebagai kotak hitam ( black box). Belajar adalah mengambil tanggapan tanggapan dan menghubungkan tanggapan - tanggapan dengan mengulang ulang. Makin banyak diberi stimulus, makin memperkaya tanggapan pada subyek belajar. Teori transformasi yang berlandaskan psikologi kognitif, menyatakan bahwa belajar adalah merupakan proses yang bersifat internal di mana setiap proses tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, antara lain metode pengajaran. Faktor eksternal itu misalnya persentuhan, repetisi/pengulangan, penguat. Faktor internal misalnya fakta, informasi, ketrampilan, intelektual, strategi.  Teori-teori belajar sosial (social learning) o Teori belajar sosial dan tiruan dari Millers dan Dollard

Ada 3 macam mekanisme tingkah laku tiruan;  Tingkah laku sama (same behavior). Contoh : dua orang yang berbelanja di toko yang sama dan dengan barang yang sama.  Tingkah laku tergantung (macthed dependent behavior). Contoh : kakak-beradik yang menunggu ibunya pulang dari pasar. Biasanya ibu mereka membawa coklat (ganjaran). Adiknya juga mengikuti. Adiknya yang semula hanya meniru tingkah laku kakaknya, di lain waktu meski kakaknya tak ada, ia akan lari menjemput ibunya yang baru pulang dari pasar.  Tingkah laku salinan (copying behavior) Perbedaannya dengan tingkah laku bergantung adalah dalam tingkah laku bergantung ini si peniru hanya bertingkah laku terhadap isyarat yang diberikan oleh model pada saat itu saja. Sedangkan pada tingkah laku salinan, si peniru memperhatikan juga tingkah laku model di masa lalu dan masa yang akan datang. Tingkah laku model dalam kurun waktu relatif panjang ini akan dijadikan patokan si peniru untuk memperbaiki tingkah lakunya sendiri di masa yang akan datang, sehingga lebih mendekati tigkah laku model. o Teori belajar sosial dari Bandura dan Walter  Efek modeling (modelling effect), yaitu peniru melakukan tingkah laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.  Efek menghambat (inhibition) dan menghapus hambatan (disinhibition), dimana tingkah laku yang tidak sesuai dengan model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi nyata.  Efek kemudahan (facilitation effect), yaitu tingkah laku-tingkah laku yang sudah pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model. 6. Memahami dan menjelaskan etika komunikasi islam Keenam kaidah komunikasi dalam perspektif Islam itu Adalah : (1) Qaulan Sadida – perkataan yang benar alias tidak dusta Seorang muslim berkata harus benar ,jujur jangan berdusta. Karena sekali kita berkata dusta , selanjutnya kita akan berdusta untuk menutupi dusta kita yang pertama, begitu seterusnya , sehingga bibir kita pun selalu berbohong tanpa merasa berdosa.”Katakanlah kebenaran itu, meskipun sangat menyakitkan,” pesan Rosullulah ini, sejatinya menguatkan kita dalam menghadapi resiko yang apa pun yang akan kita hadapi dalam berdakwah. ”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.

Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaknya mereka mengucapkan Qaulan Sadida – perkataan yang benar” (QS. 4:9). (2) Qaulan Baligha – Ucapan yang , efektif dan tidak berbelit-belit ”Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka , dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha- perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.”(QS An-Nissa : 63). (3) Qaulan Ma’rufa – perkataan yang baik , santun, dan tidak kasar Sebagai muslim yang beriman lisan harus terjaga dari perkataan yang sia-sia, apapun yang diucapkannya harus selalu mengandung nasehat, menyejukan hati bagi orang-orang yang mendengarnya. Jangan biarkan lidah ini mencari-cari kejelekan orang lain. Hindari kata-kata yang hanya bisa mengkritik atau mencari kesalahan orang lain, memfitnah, menghasut. Sungguh, perbuatan yang sangat hina , hingga Allah berfirman dalam surat Al Hujarat ayat 12, seumpama orang yang memakan bangkai temannya sendiri. Sungguh sangat menjijikan. ”Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya[268], harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Ma’rufa – kata-kata yang baik.”(QS An-Nissa : 5 ). ”Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya ) dan ucapkanlah pada mereka Qaulan Ma’rufa – perkataan yang baik” (QS An-Nissa : 8 ). ”Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita- wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan ( keinginan mengawini meraka) dalam hatimu.Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (Kepada mereka) Qaulan Ma’rufa—perkataan yang baik ...’’(QS.AL-Baqarah ; 235) ’’Qulan Ma’rufa-perkataan yang baik - dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan ( perasaan si penerima) Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.’’(QS.AL-Bagarah;263) ’’Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehinggah berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.] dan ucapkanlah Qaulan Ma’rufa- perkataan yang baik.’’(QS. ALAhzab : 32) (4) Qaulan Karima- kata –kata yang mulia dan penuh penghormatan Sebagai muslim kita harus berkata dengan kata-kata yang mulia, hindarilah kata-kata yang hina, seperti mengejek, mengolok-ngolok hingga menyakiti perasaan orang lain. ”Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya . jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu. Sekali kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah”

dan kamu janganlah membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Karima – ucapan yang mulia ”(QS. Al-Isra : 23 ). (5) Qaulan Layinan – ucapan yang lemah lembut menyentuh hati Maksudnya tidak mengeraskan suara, membentak, meninggikan suara. Sipapun tidak suka bila berbicara dengan orang-orang yang kasar. Rosullulah selalu bertuturkata dengan lemah lembut, hingga setiap kata yang beliau ucapkan sangat menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Seperti ayat pembuka diatas Allah melarang bersikap keras dan kasar dalam berdakwah, karena kekerasan akan mengakibatkan dakwah tidak akan berhasil malah ummat akan menjauh. Dalam berdoa pun Allah memerintahkan agar kita memohon dengan lemah lembut, ”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lemah lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,”(Al A’raaf ayat 55 ) ”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan Qaulan Layina – kata-kata yang lemah lembut....”(QS. Thaha:44). (6) Qaulan Masyura – ucapan yang menyenangkan dan tidak menyinggung perasaan. ”Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Masyura – ucapan yang mudah dan menyenangkan”(QS. Al-Isra:28).

Daftar Pustaka Ali, Zaidin. 2000. Dasar-dasar pendidikan kesehatan masyarakat, ed. 1. Notoatmodjo, Soekidjo.2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat ; Prinsip-prinsip Dasar. Jakarta : Rineka Cipta Depkes RI. Tt. Buku pedoman kerja Puskesmas jilid III

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->