P. 1
makalah

makalah

|Views: 1,287|Likes:
Published by imapurple

More info:

Published by: imapurple on May 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keragaman yang terjadi pada diri setiap manusia adalah suatu kenyataan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk individu atau pribadi yang memiliki perbedaan satu sama lain. Adanya perbedaan itulah yang melahirkan keragaman. Selain sebagai makhluk individu, manusia juga makhluk social. Dengan demikian, keragaman terjadi tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat social atau kelompok. Masyarakat beragam berdasarkan pengelompokan tertentu, misalnya suku, ras, golongan, afiliasi politik, umur, wilayah, jenis kelamin, profesi, dan lain- lain. Keragaman bukan berarti tidak setara dan sederajat. Keragaman tetaplah menyimpan makna perlunya kesetaraan atau kesederajatan antarmanusia atau kelompok yang beragama tersebut. Pandangan bahwa manusia diciptakan sederajat dengan manusia lain. Kesetaraan dan kesederajatan ini berimplikasi pada pengakuan dan jaminan yang sama dari manusia atau kelompok dalam memenuhi hak dan kebutuhan hidupnya. Demikan pula adanya kewajiban dan tuntutantuntutan yang sama untuk mengikuti norma dan tertib social maupun hokum yang berlaku. Meskipun keragaman dan kesetaraan dialami dan diinginkan manusia, namun dalam dinamikanya, keragaman dan kesetaraan dapat menciptakan problema kehidupan yang berimplikasi secara langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan. Problema yang muncul dari keragaman dan kesetaraan sedapat mungkin
1

dikelola dan dicari solusi penyelesaiannya agar tetap menghasilkan kebahagiaan hidup dari manusia itu sendiri. Negara Indonesia yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, agama, dapatd i s e b u t s e b a g a i m a s y a r a k a t m u l t i k u l t u r a l . B e r b a g a i k e r a g a m a n m a s y a r a k a t I n d o n e s i a terwadahi dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terbentuk dengankarakter utama mengakui pluralitas dan kesetaraan warga bangsa. Hal inilah yang menjadi latar belakang kami membuat makalah I l m u S o s i a l d a n Budaya Dasar ini agar menambah pengetahuan mengenai kemajemukan, keragaman, dankesetaraan dlam masyarakat supaya tidak bertindak diskriminatif antar sesama sehinggadengan makalah ini tercipta kehidupan yang harmonis dan damai dalam masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1 2 Keragaman dan kesetaraan adalah hal yang saling berkaitan satu sama lain Keragaman dan kesetaraan adalah sifa dasar dari manusia dasar dan

bangsa Indonesia dan

menjadikannya sebahai

bingkai

Negara

Kesatuan Republik Indonesia 3 Mengetahui dan mengenali bagaimana masyarakat Indonesia, mengenali dan mengeola keragaman dan kesetaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”

2

4

Pengaruh keragaman dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, bernegara dan kehidupan global

5

Problematika Diskriminasi

1.3Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan di Bidang Ilmu Sosial dan Budaya Dasar dan menambah pengetahuan tentang kemajemukan, kesetaraan dan keragaman manusia yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kita semua

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keragaman
4

Keragaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat dimana terdapat perbedaanperbedaan dalam berbagai bidang terutama suku bangsa, ras, agama, ideology, budaya (masyarakat yang majemuk). Keragaman dalam masyarakat adalah sebuah keadaan yang menunjukan perbedaan yang cukup banyak macam atau jenisnya dalam masyarakat. Ada tiga macam istilah yang digunakan untuk menggambarkan masyarakat yang majemuk yang terdiri dari ras, agama,bahasa, dan budaya yang berbeda yaitu: a. b. c. Pluralitas, Keragaman, dan Multicultural

Pluralitas: mengandaikan adanya hal-hal yang lebih dari satu (many) Keragaman: menunjukan bahwa keberadaan yang lebih dari satu itu berbeda-beda, heterogen dan bahkan tidak dapat disamakan. Multikultural: inti dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan tanpa memperdulikanperbedaan budaya, etnik, jender, bahasa ataupun agama. Multikulturalisme memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaanya itu mereka adalah sama di ruang publik, menekankan pengakuan, dan penghargaan pada perbedaan

2.2 Unsur unsur keragaman di Indonesia Pada hakikatnya unsure keragaman dalam masyarakat itu ada 2 yaitu:

5

a. Keragaman yang bersifat vertical ( stratifikasi social) keragaman yang mengacu kepada urutan hirarkis seperti tinggi rendah. Perbedaan itu mencerminkan pola masyarakat yang mengatur kedudukan dan peranan perilaku sosial. Keragaman ini memunculkan pelapisan social/stratifikasi sosial dalam masyarakat. Masyarakat dibagi atas masyarakat kelas atas (upper class), kelas menengah (middle class), kelas bawah (lower class). Stratifikasi dalam masyarakat ada yang bersifat: 1) Terbuka: dimana setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau bagi mereka yasng tidak beruntung bias jatuh dari lapisan atas ke bawah. 2) Tertutup: system ini membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan lainnya baik gerak ke atas atau ke bawah. Dalam system ini satu-satunya jalan untuk menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah dengan kelahiran, seperti: system kasta di agama hindu india, system apartheid yang pernah berlaku di afrika selatan. Dasar pelapisan dalam masyarakat: Ukuran atau criteria yang biasanya dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan adalah: 1) Ukuran kekayaan 2) Ukuran kekuasaan 3) Ukuran kehormatan 4) Ukuran ilmu pengetahuan b. Keragaman yang bersifat horizontal (diferensiasi social) perbedaan dari sesuatu yang berbentuk fisik seperti (ras, warna kulit, bentuk muka, warna rambut )
6

ataupun non fisik seperti ( suku, agama, budaya, system kekerabatan, cara berfikir dan bersikap) yang terdapat dalam masyarakat Latar belakang kemajemukan/keragaman di Indonesia disebabkan oleh factor historis terbentuknya Negara Indonesia. Bahwa Negara Indonesia terbentuk karena latar belakang sejarah yang sama yaitu sama-sama bangsa yang dijajah (belanda dan jepang) sehingga terjalin keinginan yang kuat untuk bersatu menjadi sebuah Negara merdeka lepas dari penjajahan tanpa melihat latar belakang mereka yang berbeda suku, budaya dan agama sehingga terbentuklah Negara dan bangsa Indonesia dengan struktur masyarakatnya yang heterogen/majemuk. Disatu sisi keragaman merupakan asset kekayaan budaya yang membanggakan tetapi pada sisi lain mengandung potensi konflik. Disinilah keragaman tersebut haruslah dicari solusinya dengan semangat multikulturalisme, keterbukaan dan mengembangkan kesederajatan. Faktor-faktor yang menyebabkan adanya keragaman di Indonesia a. Keadaan geografis Indonesia Kedatangan nenek moyang masyarakat Indonesia menurut sejarah dari yunan wilayah tiongkok bagian selatan yang dating bergelombang menyebar dan mendiami sekitar 13.600 pulau. Keadaan geografis yang terpisah-pisah mengakibatkan mereka mengembangkan pola perilaku, bahasa, dan ikatanikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya. b. Pengaruh budaya asing Masuknya kebudayaan hindu dan budha dari cina dan india, pengaruh islam dari pedagang Gujarat dan arab terjadi percampuran lewat perkawinan, asimilasi akulturasi sehingga membentuk ras, sub ras agama, dan kepercayaan yang berbeda.
7

c. Iklim yang berbeda Iklim yang berbeda antara daerah satu dan daerah lainnya membentuk pola-pola rilaku dan system mata pencaharian yang berbeda. d. Perbedaan latar belakang pendidikan e. Adanya kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk menciptakan criteria-kriteria yang mengakibatkan keragaman.

Unsur-Unsur Keragaman dalam Masyarakat Indonesia 1. Suku bangsa dan ras Suku sangat beragam, perbedaan ras muncul karena adanya pengelompokan besar manusia yang memiliki ciri-ciri biologis lahiriah yang sama (rambut, warna kulit, ukuran tubuh, mata, ukuran kepala dan lain-lain). 2. Agama dan keyakinan Merupakan unsur penting dalam keragaman bangsa Indonesia (dilihat dari banyaknya agama yang diakui di Indonesia). 3. Ideologi dan politik Ideologi adalah suatu istilah umum bagi sebuah gagasan yang berpengaruh kuat terhadap tingkah laku dalam situasi khusus karena merupakan kaitan antara tindakan dan kepercayaan yang fundamental. Politik adalah usaha untuk menegakkan ketertiban sosial. Keragaman ini dapat dilihat dari banyaknya partai politk sejak berakhirnya Orde Lama meskipun pada dasarnya Indonesia hanya mengakui satu ideologi yaitu Pancasila yang benar-benar mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia.
8

4. Tata karma - Dari bahasa Jawa, "adat, sopan santun, basa basi" adalah segala tindakan, perilaku, adat istiadat, tegur sapa, ucap dan cakap sesuai keadaan atau norma tertentu. - Dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat dan terdiri dari aturanaturan yang kalau dipatuhi diharapkan akan tercipta interaksi sosial yang tertib dan efektif di dalam masyarakat yang bersangkutan. 5. Kesenjangan ekonomi Masyarakat kita berada di golongan tingkat ekonomi menengah ke bawah. 6. Kesenjangan social Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dengan bermacam-macam tingkat, pangkat dan strata sosial yang hierarkis (penggolongan orang berdasarkan kasta).

2.3 Akibat dari keragaman Perbedaan menciptakan ketegangan hubungan antar anggota masyarakat. Hal ini disebabkan oleh sifat dasar masyarakat yang beragam menurut van d berghe: a. Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang seringkali memiliki kebudayaan yang berbeda b. Memiliki struktur sosial yang terbagi kedalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer c. Kurang mengembangkan konsesus diantara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai social yang bersifat dasar d. Secara relatif seringkali terjadi konflik diantara kelompok satu dengan yang lainnya
9

e. Secara relatif integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan di bidang ekonomi f. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain Realitas di atas harus diakui dengan sikap terbuka, logis dan dewasa. Jika keterbukaan dan kedewasaan sikap dikesampingkan besar kemungkinan tercipta masalah-masalah yang menggoyahkan persatuan dan kesatuan bangsa. Seperti: a. Disharmoni, adalah tidak adanya penyesuaian atas keragaman antara manusia dengan lingkungannya b. Perilaku diskriminatif terhadap etnis atau kelompok masyarakat tertentu akan memunculkan kesenjangan dalam berbagai bidang c. Eksklusive, rasialis, chauvinis bersumber dari superioritas diri yang merasa suku/ras/kelompoknya lebih tinggi dari yang lain Pengaruh keragaman terhadap kehidupan bermasyarakat: a. Perpecahan persatuan dan kesatuan bangsa b. Mudahnya proses penghasutan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab c. Peniruan budaya oleh pihak asing d. Sulit menyamakan persepsi satu sama lainnya
e. Adanya kesulitan untuk menyamakan kebutuhan pembangunan dikarenakan

keragaman yang ada maka kebutuhan pembangunan juga berbeda.

2.4 Upaya meminimalisir dampak negatif keragaman
10

Realitas keragaman budaya bangsa ini membawa konsekuensi munculnya gesekan antarbudaya yang mempengaruhi dinamika kehidupan masyarakat, oleh karena itu sebagai manusia yang beradab harus bersifat terbuka dalam melihat semua perbedaan dalam keragaman yang ada, menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan tidak menjadikan keragaman sebagai suatu ancaman konflik tetapi menjadikan keragaman sebagai asset kekayaan bangsa dan alat pengikat persatuan dan kesatuan bangsa. Kita tidak dapat mengingkari kemajemukan/keragaman bangsa kita yang bias saja mengancam persatuan dan kesatuan maka diperlukan usaha-usaha untuk meminimalisir akibat dari keragaman seperti menumbuhkan: a. b. c. d. e.
f.

Semangat religious Semangat nasionalisme Semangat pluralisme Semangat humanisme Dialog antar umat beragama Membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi Modal bagi terwujudnya bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika, keterbukaan,

hubungan antar agama, media masa dan harmonisasi dunia. kedewasaan sikap, pemikiran global yang bersifat inklusif serta kesadaran, kebersamaan dalam mengarungi sejarah. Itulah yang membuat mereka menyatu dalam keragaman dan beragam dalam kesatuan.

2.5 Problematika keragaman dan kesetaraan serta solusinya dalam kehidupan 2.5.1 Problema Keragaman Serta Solusinya Dalam Kehidupan
11

Keragaman masyarakat adalah suatu kenyataan sekaligus kekayaan dari bangsa. Keragaman masyarakat Indonesia merupakan ciri khas yang membanggakan kita. Akan tetapi,keragaman tidak serta merta menciptakan keunikan, keindahan, kebanggaan, dan hal-hal yang baik lainnya. Namun, keragaman masyarakat masyarakat itu juga memiliki ciri khas yang suatu saat berpotensi negatif bagi kehidupan manusia. Van de Berghe sebagaimana dikutip oleh Elly M. Setiadi (200^) menjelaskan bahwa masyarakat yang beragam selalu memiliki sifat-sifat dasar sebagai berikut : a) Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang seing kali memiliki memiliki kebudayaan yang berbeda. b) Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer. c) Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar. d) Secara relatif, sering terjadi konflik di antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya. e) Secara relatif, integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan didalam bidang ekonomi. f) Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok uang lain. Menyimak ciri-ciri diatas maka keragaman manusia tentu saja memiliki potensi yang akan melemahkan gerak kehidupan itu sendiri. Keragaman adalah modal, tetapi sekaligus potensi koflik. Keragaman budaya daerah memang memperkaya khazanah budaya dan menjadi modal yang berharga untuk membangun Indonesia yang multikultural. Namun, kondisi aneka budaya
12

tersebut sangat berpotensi memecah belah dan menjadi lahan subur bagi konflik dan kecemburuan sosial. Efek-efek negatif demikian muncul ditingkat permukaan dalam bentuk gesekan-gesekan, pertentangan, dan konflik terbuka antar kelompok masyarakat. Pertikaian antar kelompok masyarakat Indonesia sering sekali terjadi. Konflik ini bisa terjadi antar kelompok, agama, suku, daerah, bahkan antar golongan politik. Beberapa contoh misalnya konflik di Ambon pada tahun 1990, pertikaian di Sambas tahun 2000, dan konflik Poso tahun 2002 Konflik antar pertentangan sebenarnya terdiri atas dua fase, yaitu :
1. Fase disharmoni  menunjuk pada adanya perbedaan pandangan-pandangan

tehadap tujuan, nilai, norma, dan tindakan antar kelompok.
2. Disintegrasi  merupakan fase dimana sudah tidak dapat lagi disatukannya

pandangan, nilai, norma, dan tinndakan kelompok yang menyebabkan pertentangan anatar kelompok. Konflik horizontal yang terjadi di masyarakat Indonesia bukan disebabkan oleh keragaman itu sendiri melainkan karena tidak adanya komunikasi serta pemahaman antar budaya daerah. Yang dibutuhkan adalah adanya kesadaran untuk menghargai, menghormati, serta menegakkan prinsip kesetaraaan atau kesederajatan antar masyarakat tersebut. Masing-masing warga daerah bisa saling mengenal, memahami, menghayati, dan bisa saling berkomunikasi. Salah satu hal penting dalam meningkatkan pemahaman antar budaya dan masyarakat ini adalah sedapat mungkin dihilangkannya penyakit-penyakit budaya. Penyakit-penyakit budaya inilah yang ditengarai bisa memicu konflik antar kelompok masyarakat di Indonesia. Penyakit-penyakit budaya tersebut adalah :

13

Etnosentrisme / sikap etnosentris

 suatu kecendrungan yang melihat

nilai atau norma kebudayaannya sendiri sebagai sesuatu yang mutlak serta menggunakannya sebagai tolak ukur kebudayaan lain.

Strereotip  pemberian sifat tertentu teradap seseorang berdasarkan kategori yang bersifat subjektif, hanya karena dia berasal dari kelompok lain. Pemberian sifat itu bisa berupa positif maupun negatif.

Prasangka  merupakan pernyataan yang hanya berdasarkan pada pengalaman dan keputusan yang tidak teruji sebelumnya. Prasangka ini mengarah paada pandangan negatidf yang bersifat emosional.

• •

Rasisme  anti terhadap ras lain atau ras tertentu di luar ras sendiri. Diskriminasi  merupakan tindakan yang membeda-bedakan dan kurang bersahabat dari kelompok dominan terhadap kelompok subordinasinya. Antara prasangka dan diskriminasi ada hubungan yang saling menguatkan. Selama ada prasangka, disana ada diskriminasi. Jika prasangka dipandang sebagai keyakinan atau suatu ideology, maka diskriminasi adalah terapan keyakinan atau ideology. Jika prasangka mencakup sikap maka diskriminasi merngarah pada tindakan.

Scape goating  pengkambinghitaman. Teori kambing hitam adalah mengemukakan jika seorang individu tidak bisa menerima perlakuan tertentu yang tidak adil, maka ia akan melimpahkan perlakuan itu terhadap orang lain.

Selain menghilangkan penyakit-penyakit budaya diatas, terdapat bentuk solusi lain yang dapat dilakukan. Elly M. Setiadi dkk (2006) mwngemukakan ada hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk memperkecil masalah yang diakibatkan oleh pengaruh negative dari keragaman, yaitu :
14

1. Semangat religious 2. Semangat nasionalisme 3. Semangat pluralisme
4. Semangat humanism

5. Dialog antar umat beragama 6. Membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi hubungan antar agama, media massa, dan harmonisasi media. Keterbukaan, kedewasaan sikap, pemikiran global yang bersifat inklusif, serta kesadaran kebersamaan dalam mengarungi sejarah, merupakan modal yang sangat menentukan bagi terwujudnya sebuah bangsa Indonesia yang menyatu dalam keragaman, dan beragam dalam kesatuan. Segala bentuk kesenjangan didekatkan, segala keanekaragaman dipandang sebagai kekayaan bangsa milik bersama. Sikap mitulah yang perlu dikembangkan dalam pola pikir masyarakat kita. 2.5.2 Problem Kesetaraan Serta Solusinya Dalam Kehidupan Kesetaraan dan kesederajatan bermakna adanya persamaan kedudukan manusia. Kesederajatan adalah suatu sikap untuk mengakui adanya persamaan derajat, hak, dan kewajiban sesame manusia. Oleh karena itu, prinsip kesetaraan atau kesederajatan mensyaratkan jaminan akan persamaan derajat, hak, dan kewajiban. Indicator kesederajatan adalah sebagai berikut :  Adanya persamaan derajat dilihat dari agama, suku bangsa, ras, gender, dan golongan.  Adanya persamaan hak dari segi pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang layak.

15

 Adanya persamaan kewajiban sebagai hamba Tuhan, individu, dan anggota masyarakat. Problema yang terjadi dalam kehidupan umumnya adalah munculnya sikap dan perilaku untuk tidak mengakui adanya persamaan derajat, hak, dan kewajiban antar manusia atau antar masyarakat. Perilaku yang membeda-bedakan orang disebut diskriminasi. Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya diatas. Sedangkan dalam Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang HAM menyatakan bahwa diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, pengucilan yang langsung maupun tak secara langsung yang didasarkan pada pembedaan atas dasar agama, ras, suku, etnik, kelompok, golongan, status social, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, dan keyakinan politik, yang mengakibatkan pengurangan hingga penghapusan HAM dan kebebasan dasar dalam kehidupan. Baik kehidupan individu maupun kelompok. Dan solusi yang dilakukan dalam penghapusan diskriminasi adalah dengan memasukan kegiatan penghapusan diskriminasi tersebut ke dalam Program Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Berkaitan dengan ini, arah kebijakan yang diambil adalah sebagai berikut :  Meningkatkan upaya penghapusan segala bentuk diskriminasi termasuk ketidak adilan gender, bahwa setiap warga Negara memiliki kedudukan yang sama dihadapan hukum tanpa terkecuali.  Menerapkan hukum dengan adil melalui perbaikan system hukum yang professional, bersih, dan berwibawa. Penghapusan diskriminasi dilakukam melalui pembuatan peraturan perundangundangan yang anti diskriminatif serta pengimplementasiannya dilapangan. Contohnya adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi atas Konvensi

16

Internasional tentang penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (international convention on the elimination of all farms of discrimination against women / CEDAW). Contoh lain adalah dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1999 yang merupakan Ratifikasi atas konvensi internasional tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi Rasial. Sebagai contoh penghapusan diskriminasi rasial adalah dengan ditetapkannya Imlek sebagai hari libur nasional, hal ini menunjukan perkembangan upaya penghapusan diskriminasi rasial telah berada pada arah yang tepat.

2.6 Studi Kasus

Diskriminasi Terhadap Warga Tionghoa Keberadaan kalangan Tionghoa Indonesia tersebut adalah khas, meskipun struktur yang sama juga dapat ditemui dalam komunitas yang hampir berkemiripan di kalangan Baba dan Peranakan Tionghoa di Singapura, Siam, Brunei, Filipina dan Malaysia. Sampai dengan tahun 1960-an, keadaan kalangan Tionghoa Indonesia dengan negara-negara bertetangga tersebut hampir sama dan mengalami pasang surut serta dilema yang hampir sama juga.

Namun sejak terjadinya stigmatisasi salah alamat kepada kalangan Tionghoa Indonesia setelah tahun 1965 yang akhirnya menyebabkan diskriminasi luar biasa dalam kalangan ini, perkembangan yang dialami kalangan Tionghoa Indonesia itu menjadi agak berbeda dengan negara-negara tetangganya. Saat di mana kalangan
17

Tionghoa di Malaysia, Singapura, Laos, Kamboja, Myanmar dan Brunei mengukuhkan identitasnya sebagai entitas budaya sekaligus warga negara, saat di mana kalangan Tionghoa di Siam dan Filipina membentuk hubungan asimilatif damai, di Indonesia justru terjadi pengekangan luar biasa yang memiliki buntut sangat hebat kepada kekayaan kebudayaan dan tradisi yang berabad-abad dijalani kalangan Tionghoa tersebut. Dan jumlah mereka yang mengalami diskriminasi itu sangat signifikan! Persentase Kalangan Tionghoa dalam Penduduk Indonesia Semenjak berabadabad yang lampau, kalangan Tionghoa yang berada di Indonesia berjumlah cukup besar. Tetapi, karena persoalan etnis seringkali dianggap peka, dalam era orde baru sampai dengan sebelum tahun 2000, jumlah suku bangsa/etnis dan agamanya di Indonesia tidak pernah dimasukkan ke dalam sensus penduduk Republik Indonesia. Perhitungan jumlah etnik Tionghoa berdasarkan sensus tahun 1930 ditaksir sekitar 1,2 juta, kira-kira 2% dari total jumlah penduduk Indonesia. Ada juga pendapat lain bahwa jumlah etnik Tionghoa Indonesia berada di antara angka 2,5% dan 3% atau bahkan lebih besar, yaitu berkisar antara 4–5%. Penulis sendiri malah menduga angka tersebut sebenarnya dapat mencapai 8% apabila sensus diadakan dengan cara yang lebih akurat dan stigmatisasi sudah benar-benar dihilangkan.

Sensus penduduk tahun 2000 yang dilansir Leo Suryadinata dalam buku yang diterbitkan LP3ES pun tidak memberikan jumlah etnik Tionghoa yang lengkap, bahkan diperkirakan keliru baik dalam metodologi maupun proses penyaringannya. Hasil perhitungan Leo menunjukkan angka 1,7 juta, atau kira-kira 0,86%. Jumlahnya lebih besar daripada hasil sensus 1930, namun persentasenya jelas jauh lebih rendah (menurun secara persentase sebesar 60%!!!). Menurunnya persentasi etnik Tionghoa dalam versi Leo mungkin disebabkan oleh tiga faktor utama: angka kelahiran yang menurun seiring dengan kesadaran Keluarga Berencana dalam keluarga modern,

18

imigrasi ke luar negeri akibat gejolak politik dan sosial, dan kebijakan asimilasi terpaksa selama Orde Baru. Dalam keadaan demikian, identitas sejumlah orang Tionghoa telah dibaurkan melalui politik pemerintah dan karenanya tidak merasa sebagai Tionghoa lagi. Sebenarnya ada kesalahan siginifikan di dalam metode sensus yang kemudian dilansir Leo tadi, yaitu masih adanya kolom sensus perdaerah yang tidak mencantumkan pilihan suku bangsa Tionghoa, namun tergabung dalam "lain-lain" yang justru terbukti cukup besar jumlahnya (lihat misalnya hasil sensus di Medan dan Menado sebagai sample kasar untuk membuktikan cara pembacaan semacam itu agak riskan). Selain itu patut juga diperhitungkan masih adanya keraguan untuk menjawab pertanyaan petugas sensus seiring dengan suasana curiga yang masih sangat melekat. Tentunya tidak heran apabila kalangan Tionghoa yang belajar dari traumatik sejarah lebih suka untuk menjawab suku daerah tempatnya tinggal misalnya Menado atau "suku bangsa: Indonesia"(?) ketimbang untuk menyebut dirinya Tionghoa, sementara sensus itu dilakukan pada masa transisi yang memiliki suasana traumatik setelah peristiwa Mei 1998 di berbagai daerah Indonesia. Sejak jatuhnya rezim Soeharto yang terbilang diskriminatif pada tahun 1998 dan pelajaran yang dapat diambil dari Peristiwa Mei 1998, berubahnya kebijakan pemerintah sehingga menjadi lebih akomodatif, menjadikan kebangkitan identitas diri kalangan Tionghoa dalam bidang kebudayaan, adat istiadat dan agama bukan hal yang tidak mungkin. Media massa berbahasa Mandarin dapat kembali beroperasi dengan leluasa, hal mana meningkatkan juga jumlah kursus bahasa Mandarin. Media televisi pun mulai menyediakan berita mandarin atau film berbahasa mandarin tanpa dubbing. Belakangan ini dapat disaksikan semakin meriahnya perayaan-perayaan tradisional kalangan Tionghoa, termasuk di antaranya yang memiliki aspek keagamaan khas Tionghoa seperti misalnya Tahun Baru Imlek dengan perayaan Cap Go Meh-nya,
19

ziarah Kubur Cheng Beng, perayaan Perahu Peh Cun, sembahyang arwah Cio Ko dan festival onde Tang Ce. Barong dan Liong mulai menari kembali dengan semarak. Yang paling mengharukan tentu saja Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang praktis mencabut Inpresd Nomor 14 Tahun 1967 yang sebelumnya melarang berbagai adat, budaya, kesenian dan agama kalangan Tionghoa.

Kehadiran Abdurrahman Wahid sebagai simbol pengukuh pluralisme melalui Keppres tadi dalam perayaan Imlek Nasional yang dilakukan pertama kali pada tahun 2000 oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) setidaknya mengukuhkan semangat kebersamaan dan persaudaraan yang praktis mencoba menghapuskan persoalan diskriminasi yang selama itu melekat. Selanjutnya setelah Gus Dur dijatuhkan, Presiden barunya, Megawati pun mencoba merangkul kalangan Tionghoa dengan kehadirannya dalam perayaan-perayaan Imlek yang dilakukan berturut-turut sejak tahun 2001 sampai dengan terakhir hasil penelitian ini dibuat bulan September 2004, termasuk dalam kegiatan peringatan Hari Lahir Nabi Khonghucu yang diselenggarakan oleh lembaga yang sama yang selama masa orde baru praktis ditekan habis-habisan sehingga mengalami penurunan umat yang sangat signifikan.

Selain itu, sebenarnya aspek keseharian kalangan Tionghoa pun telah sangat lama memberi warna tersendiri kepada kazanah bangsa Indonesia, seperti misalnya sumbangan teknik pertanian seperti kapak, bajak, sosoh dan waluku, lalu pemakaian uang kepeng dan sulaman, kemudian juga cara berpakaian yang diserap oleh misalnya kalangan petani dengan celana komprang hitam dan baju tanpa kerah dan bahkan kebiasaan menyetrika (utau dari kata Hokkian yuntou).

Kemudian dikenal juga bahan pangan seperti kedelai (lihat istilah tahu, taoco), padi

20

sawah, kacang hijau (coba saja istilah tauge), kacang tanah, tomat dan kapas, lalu kemudian makanan-makanan sehari- hari seperti mie, bihun, tahu, pia, silat, kuaci, hunkue, siomai, pisau, kemoceng, juhi, caysim, lobak, capcay, kuluyuk, cakue, bacang, soto, baso, bahkan kecap (manis).

Juga jangan dilupakan peran mengolah tebu menjadi gula, arsitektur (coba lihat Mesjid Demak atau Kraton Solo) sampai sejumlah praktek yang kemudian dianggap khas Indonesia yaitu bedug dan pesantren yang berasal dari kebiasaan memainkan tambur dan padepokan khas shaolin. Bahkan ada indikasi kebiasaan main petasan saat Lebaran juga diwariskan dari kebudayaan Tionghoa untuk menyambut perayaan. Pemakaian bahasa lainnya juga patut diperhitungkan, mulai dari loteng, bakiak, cingcong, kongkow, cukong, giok, cepe, gope, gocap, ceban, lihai, licik, teko, tauke, lu, gua, engkong, encang, encing, cengli, dan sebagainya ragam melayu pasar. Juga patut diperhatikan karya-karya sastra yang dipergunakan baik dari cerita silat, sampai kepada cerita rakyat seperti kisah tujuh bidadari, cerita wayang (dalam berbagai bentuk dan bahan), , Lalu mengapa perjalanan sejarah yang damai antara kedua pendukung kebudayaan ini kemudian bisa berubah menjadi pertentangan hebat bahkan kerusuhan?

21

PENUTUP BAB III

KESIMPULAN Keragaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat dimana terdapat perbedaanperbedaan dalam berbagai bidang terutama suku bangsa, ras, agama, ideology, budaya (masyarakat yang majemuk). Keragaman dalam masyarakat adalah sebuah keadaan yang menunjukan perbedaan yang cukup banyak macam atau jenisnya dalam masyarakat. Meskipun keragaman dan kesetaraan dialami dan diinginkan manusia, namun dalam dinamikanya, keragaman dan kesetaraan dapat menciptakan problema

22

kehidupan yang berimplikasi secara langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan. Problema yang muncul dari keragaman dan kesetaraan sedapat mungkin dikelola dan dicari solusi penyelesaiannya agar tetap menghasilkan kebahagiaan hidup dari manusia itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA Juanda, dkk. 2011 Bahan Ajar ilmu Sosial Budaya dasar. Jakarta : UNJ Setiadi, Elly M, Ilmu Sosial Budaya dasar, Jakarta, kencana. 2006

23

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->