BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Peningkatan kualitas sumber daya manusia sudah merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia apalagi pada era globalisasi yang menuntut kesiapan setiap bangsa untuk bersaing secara bebas. Pada era globalisasi hanya bangsa-bangsa yang berkualitas tinggi yang mampu bersaing atau berkompetisi di pasar bebas. Dalam hubungannya dengan budaya kompetisi tersebut, bidang pendidikan memegang peranan yang sangat penting dan strategis karena merupakan salah satu wahana untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia, oleh karena itu sudah semestinya kalau pembangunan sektor pendidikan menjadi prioritas utama yang harus dilakukan pemerintah. Inovasi dan upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Berbagai inovasi dan program pendidikan juga telah dilaksanakan, antara lain penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku ajar, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui pelatihan dan peningkatan kualitas pendidikan mereka, peningkatan manajemen pendidikan dan pengadaan fasilitas lainnya. Semuanya itu belum menampakkan hasil yang menggembirakan. Di samping itu juga banyak pendekatan pembangunan dalam pendidikan hanya memfokuskan pada masalah kuantitas, sehingga usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa cenderung dipersempit dalam lingkup pendidikan formal dan pembelajaran yang terbatas pada perhitungan kuantifikasi dengan mengabaikan kualitas. Implikasi dari kebijakan tersebut, walaupun sekarang ini telah dilancarkan pengembangan pendidikan yang menyangkut kualitas, produktivitas dan relevansi, namun masalah pendidikan terus berkembang makin rumit. Salah satu indikator pendidikan berkualitas adalah perolehan hasil belajar yang maksimal oleh siswa, baik itu hasil belajar dalam bentuk kognitif, afektif maupun psikomotor. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kegiatan proses belajar mengajar yang didalamnya terdapat beberap faktor yang merupakan penentu lancar atau tidaknya kegiatan proses belajar mengajar. Faktor-faktor itu antara lain : 1. Instrumen Input yaitu ; kurikulum, perpustakaan, guru dan sebagainya. 2. Raw input yaitu ; siswa, motivasi, cara belajar dan sebagainya. 3. Environmental input yaitu ; lingkungan fisik dan sosial budaya. (Subagia dan Sudiana, 2002).6t Dari ketiga faktor utama yang mempengaruhi lancar tidaknya proses pembelajaran tersebut di atas, dalam penelitian ini difokuskan pada usaha siswa meningkatkan motivasi belajarnya untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik dan memuaskan yang sekaligus akan berpengaruh pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 1991 dalam (http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/27) pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya. Sedangkan menurut Mortimer J. Adler dalam (http://sobatbaru.blogspot.com/2008/08/) ―Pendidikan adalah dengan mana semua kemampuan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistic dibuat dan dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik‖ Dari kedua pendapat di atas, maka sudah jelas terlihat bahwa hanya dengan proses pendidikan yang baik, akan melahirkan manusia-manusia yang berkualitas yang sangat berguna bagi keberhasilan pembangunan. John C. Bock (dalam Zamroni, 2000 : 2), mengidentifikasi peranan pendidikan sebagai berikut : (a) memasyarakatkan idiologi dan nilai-nilai sosio kultural bangsa, (b) mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan mendorong perubahan sosial dan (c) untuk meratakan kesempatan dan pendapatan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3, dirumuskan bahwa pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berorientasi pada fungsi dan tujuan pendidikan Nasional tersebut, maka sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan (formal), mempunyai misi dan tugas yang cukup berat. Selanjutnya dikatakan bahwa sekolah berperan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam arti menumbuhkan, memotivasi dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang mencakup etika, logika, estetika, dan praktika, sehingga tercipta manusia yang utuh dan berakar pada budaya bangsa (Sumidjo, 1999 : 71). Tercapainya tujuan pendidikan tadi, akan ditentukan oleh berbagai unsur yang menunjangnya. Makmun (1996 : 3-4) menyatakan tentang unsur-unsur yang terdapat dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) yaitu :‖(1) Siswa, dengan segala karakteristiknya yang berusaha untuk mengembangkan dirinya seoptimal mungkin melalui kegiatan belajar, (2) tujuan, ialah sesuatu yang diharapkan setelah adanya kegiatan belajar mengajar, (3) guru, selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat (mengajar) sehingga memungkinkan bagi terjadinya proses belajar.‖ Dari pendapat tersebut tersirat bahwa dalam meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari peran guru sebagai pihak yang mengajar dan membimbing siswa. Hal ini mengimplikasikan bahwa Proses Belajar Mengajar (PBM) merupakan suatu proses interaksi

antara guru dan siswa yang didasari oleh hubungan yang bersifat mendidik dalam rangka pencapaian tujuan (Surakhmad, 1994 : 52). Dalam proses belajar mengajar, motivasi merupakan salah satu faktor yang diduga besar pengaruhnya terhadap hasil belajar. Siswa yang motivasinya tinggi diduga akan memperoleh hasil belajar yang baik. Pentingnya motivasi belajar siswa terbentuk antara lain agar terjadi perubahan belajar ke arah yang lebih positif. Pandangan ini sesuai dengan Pendapat Hawley (Prayitno, 1989:3) : ―Siswa yang termotivasi dengan baik dalam belajar melakukan kegiatan lebih banyak dan lebih cepat, dibandingkan dengan siswa yang kurang termotivasi dalam belajar. Prestasi yang diraih akan lebih baik apabila mempunyai motivasi yang tinggi.‖ Begitu pula halnya bila kita lihat dalam proses belajar mengajar geografi. Siswa yang memiliki motivasi yang tinggi dalam mempelajari geografi akan melakukan kegiatan lebih cepat dibandingkan dengan siswa yang kurang termotivasi dalam mempelajari geografi. Siswa yang yang memiliki motivasi yang tinggi dalam mempelajari geografi maka prestasi yang diraih juga akan lebih baik. Berdasarkan uraian tersebut menjadi landasan bagi penulis untuk mengadakan penelitian dengan judul‖ Hubungan Antara Motivasi dengan Prestasi Belajar Geografi Siswa Studi Kasus Pada Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Singaraja.”

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1.1.1 Seberapa besarkah motivasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Singaraja? 1.1.2 Seberapa besarkah tingkat prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Singaraja? 1.1.3 Apakah terdapat hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi di Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Untuk mengetahui besarnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Singaraja . 1.3.2. Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Singaraja. 1.3.3. Untuk mengetahui hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi di Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1.4.1 Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan yang positif bagi pelaksanaan proses pembelajaran, dikaitkan dengan hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa di SMA. 1.4.2 Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi peneliti sendiri guna meningkatkan profesionalisme di bidang penelitian dan pengajaran. 1.4.3 Hasil penelitian ini berguna untuk memenuhi tugas dan persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Motivasi Belajar Siswa 2.1.1.1 Pengertian Motivasi Belajar Siswa
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan antusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain : (1) Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan); (2) Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi); (3) Teori Clyton Alderfer (Teori ERG); (4) teori Herzberg (Teori Dua Faktor); (5) teori Keadilan; (6) Teori penetapan tujuan; (7) Teori Victor H. Vroom (teori Harapan); (8) teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku; dan (9) Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. (Sondang P.

Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono,183-190, Fred Luthan,140-167). Diambil dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ 2008/02/06/teori-teori-motivasi/ 1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan) Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : (1) kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; (2) kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; (3) kebutuhan akan kasih sayang (love needs); (4) kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata. Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat psikologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual. Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori ―klasik‖ Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami ―koreksi‖. Penyempurnaan atau ―koreksi‖ tersebut terutama diarahkan pada konsep ―hierarki kebutuhan ― yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah ―hierarki‖ dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya. Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan ―koreksi‖ dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa : (a) Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang; (b) Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan

―Existence‖ dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi) Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N. semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar. 3. semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :― Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. mencapai performa puncak untuk diri sendiri. seperti kemujuran misalnya. 2. dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan). mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Pertama. Akronim ―ERG‖ dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi).fisik. Menguasai. ― Relatedness‖ senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan ―Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow. . (c) Sebaliknya. atau mengorganisasi obyek-obyek fisik. atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin. namun telah memberikan fondasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif. (b) Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang ―lebih tinggi‖ semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan. teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. (c) Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai ―titik jenuh‖ dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa : (a) Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu. dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah. dan bukan karena faktor-faktor lain. manusia. Kedua. Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. R = Relatedness (kebutuhan untuk berhubungan dengan pihak lain. Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis. memanipulasi. sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. makin besar pula keinginan untuk memuaskannya. bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.‖ Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat. mencapai standar tinggi.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda. Mengatasi kendala-kendala. sesuai kondisi yang berlaku. Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG) Teori Alderfer dikenal dengan akronim ―ERG‖ . serta meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil. dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka. (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri.

Teori Keadilan Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. 5. hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya. apalagi meluas di kalangan para pegawai. sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor) Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi ialah Herzberg. seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan salah satunya memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya. keberhasilan yang diraih. seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding. yaitu : (a) Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi. artinya apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai. yaitu : (a) Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi.Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. atau (b) Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. dua kemungkinan dapat terjadi. kesempatan bertumbuh. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan ― Model Dua Faktor‖ dari motivasi. Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik. artinya karena menyadari keterbatasannya. 4. seperti ketidakpuasan. yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau ―pemeliharaan‖. apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik. kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. (d) Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai. sifat pekerjaan dan pengalamannya. (b) Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri. Menurut Herzberg. (c) Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis. seperti pendidikan. Dalam menumbuhkan persepsi tertentu. hubungan seorang individu dengan atasannya. Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang. keterampilan. tingkat kemangkiran yang tinggi. yang berarti bersumber dalam diri seseorang. Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul. sering . yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang.

Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi eksternal dari perilaku dan tindakannya. dan (d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Teori Victor H. (b) tujuan-tujuan mengatur upaya. 6. 7. Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan caracara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Menurut teori ini. Vroom. Dalam hal ini berlakulah apa yang dikenal dengan ―hukum pengaruh‖ yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan. Artinya. 8. motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah. Hal ini bermaksud apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu. motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. dalam bukunya yang berjudul ―Work And Motivation‖ mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai ― Teori Harapan‖. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Teori penetapan tujuan (goal setting theory) Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya. Vroom (Teori Harapan ) Victor H. . yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana. teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar. apalagi cara untuk memperolehnya. dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya. pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain. jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut. Sebaliknya. seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing. yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya. (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi. dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas.

cara-cara tersebut ditempuh dengan ―gaya‖ yang manusiawi pula. 9. antara lain ialah : (a) jenis dan sifat pekerjaan. (f) kepuasan kerja. (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung. Sedangkan motivasi adalah ”pendorongan” suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. (f) kepuasan kerja. antara lain: (a) jenis dan sifat pekerjaan. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. (d) kebutuhaan. (e) keinginan. (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya. (c) organisasi tempat bekerja. baik yang bersifat internal maupun eksternal. (c) harapan pribadi. (c) organisasi tempat bekerja. (b) harga diri. (d) kebutuhaan. yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari. Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang. Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya. dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Juru ketik tersebut mendapat pujian dari atasannya. (d) situasi lingkungan pada umumnya. mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. (g) prestasi kerja yang dihasilkan. (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagai konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya. misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah. para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik. (c) harapan pribadi. 2002: 71). dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tampaknya terdapat kesepakatan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu . (Purwanto. Karena juru ketik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu. Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang. Dijelaskan bahwa motif menunjukan suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut mau bertindak melakukan sesuatu. ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti.Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru ketik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna. Istilah ‖motif‖ dan ‖motivasi‖ keduanya sukar dibedakan secara tegas. motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Termasuk pada faktor internal adalah : (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya. (g) prestasi kerja yang dihasilkan. Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati. Berdasarkan hal tersebut di atas motivasi dapat diartikan sebagai sesuatu dorongan yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu (tujuan) yang terdiri dari faktor internal seperti: (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri. yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas. (d) . Menurut model ini. (b) harga diri. (e) keinginan.

Motivasi berfungsi dalam menyeleksi jenis-jenis perbuatan dan aktivitas seseorang. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. Diambil dari http://akhmadsudrajat. Prayitno (dalam Sardiman. karena siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan tekun dalam belajar dan terus belajar secara kontinyu tanpa mengenal putus asa serta dapat mengesampingkan hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar yang dilakukannya. Sardiman (1988 : 84) mengemukakan ada tiga fungsi motivasi. belajarnya lebih baik dibandingkan dengan siswa yang motivasi belajarnya rendah. Menguatkan semangat belajar siswa. 2.situasi lingkungan pada umumnya.2 Fungsi Motivasi Motivasi mempunyai fungsi yang penting dalam belajar. Hamalik (2000 : 175) menyatakan fungsi motivasi adalah : 1. dengan demikian motivasi dapat memberi arah. (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya. 1988) mengatakan bahwa fungsi dari motivasi dalam Proses Belajar Mengajar adalah : 1. 2. artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan. yaitu : 1. Menyeleksi perbuatan. 3. 2005 : 200) menyatakan fungsi dari motivasi adalah: 1. Mendorong anak dalam melaksanakan sesuatu aktivitas dan tindakan 2.wordpress.1. Menyediakan kondisi yang optimal bagi terjadinya belajar.1. 2. Menuntun arah perbuatan. 3. dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Mendorong manusia untuk berbuat.com/ 2008/02/06/teori-teori-motivasi/ 2. Menimbulkan atau menggugah minat siswa agar mau belajar. Dapat menentukan arah perbuatan seseorang 3. Sebagai pengarah. Syaodih (dalam Riduwan. Hal ini dapat dipahami. Mengikat perhatian siswa agar mau dan menemukan serta memilih jalan/ tingkah laku yang sesuai untuk mencapai tujuan belajar maupun tujuan hidup jangka panjang. dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya. . yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan. 4. yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar. karena motivasi akan menentukan intensitas usaha belajar yang dilakukan siswa. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Hawley (Yusuf 1993 : 14) menyatakan bahwa para siswa yang memiliki motivasi tinggi.

Demikian pengajaran yang berasaskan motivasi adalah sangat penting dalam proses belajar dan mengajar.4 Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Mengingat demikian pentingnya peranan motivasi bagi siswa dalam belajar. 2.1. Dengan demikian siswa yang bersangkutan dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Ketidakberhasilan dalam hal ini mengakibatkan timbulnya masalah disiplin dalam kelas. Disimpulkan bahwa motivasi menentukan tingkat berrhasil tidaknya kegiatan belajar siswa.plasa. Siswa yang memiliki motivasi rendah dalam belajarnya menampakkan keengganan. 3. perhatian. konsentrasi. 5. Azas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral dari asas-asas mengajar. Guru senantiasa berusaha agar siswa-siswa pada akhirnya memiliki (self motivation) yang baik. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau kegagalan perbuatan belajar siswa.blog2. dan ketekunan. Berdasarkan pernyataan tersebut.3 Peranan Motivasi dalam Belajar Motivasi adalah dorongan yang menyebabkan terjadinya suatu perbuatan atau tindakan. artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Motivasi menjadi salah satu faktor yang menentukan belajar yang efektif. Sebagai pengerak.1. 2. cepat bosan. dan berusaha menghindar dari kegiatan belajar. 4. Kuat lemahnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan seseorang. dorongan.(http://pakdesofa.1. 2. motif.3. karena motivasi dapat mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang berhubungan dengan kegiatan belajar. maka siswa harus memiliki motivasi belajar . Penggunaan motivasi dalam mengajar bukan saja melengkapi prosedur mengajar. maka harus dilakukan suatu upaya agar siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Pengajaran yang bermotivasi membentuk aktivitas dan imaginitas pada guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang sesuai dan serasi guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa. Motivasi dapat memberikan semangat kepada siswa dalam kegiatan-kegiatan belajarnya dan memberi petunjuk atas perbuatan yang dilakukannya. Motivasi dipandang berperan dalam belajar karena motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut : 1. maka guru diharapkan dapat membangkitkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa-siswanya.1. Pengajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Aspek motivasi dalam keseluruhan proses belajar mengajar sangat penting. minat yang dimiliki oleh siswa. Perbuatan belajar pada siswa terjadi karena adanya motivasi untuk melakukan perbuatan belajar.com/archives/50) Siswa dalam belajar hendaknya merasakan adanya kebutuhan psikologis yang normatif. tetapi juga menjadi faktor yang menentukan pengajaran yang efektif. ketajaman. Agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Belajar tanpa motivasi kiranya sulit untuk berhasil. Siswa yang termotivasi dalam belajarnya dapat dilihat dari karakteristik tingkah laku yang menyangkut minat. Berhasil atau tidak berhasilnya dalam membangkitkan penggunaan motivasi dalam pengajaran sangat erat hubungan dengan aturan disiplin dalam kelas.

Guru pada prinsipnya harus memandang bahwa dengan kehadiran siswa di kelas merupakan suatu motivasi belajar yang datang dari siswa. namun pada kenyataannya tidak semua siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi dalam belajar. Dalam proses belajar. seorang siswa terkadang dapat terhambat oleh adanya berbagai permasalahan. Hal ini dapat disebabkan oleh karena kelelahan jasmani ataupun mental siswa. meminta kesempatan kepada orang tua siswa agar memberikan kesempatan kepada siswa untuk beraktualisasi diri dalam belajar. guru mengajak serta siswa mengalami dan mengatasi kesukaran. 2. Dalam rangka mengupayakan agar motivasi belajar siswa tinggi. 3. 1. guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mampu memecahkan masalah dan mungkin akan membantu rekannya yang mengalami kesulitan. merangsang siswa dengan penguat memberi rasa percaya diri bahwa ia dapat mengatasi segala hambatan dan pasti berhasil. Untuk itu upaya yang dapat dilakukan seorang guru (Dimyati. 4. Untuk itu. Untuk membantu siswa yang memiliki motivasi belajar rendah perlu dilakukan suatu upaya dari guru agar siswa yang bersangkutan untuk dapat meningkatkan motivasi belajarnya. maka pengalaman yang diberikan oleh guru terhadap siswa dalam meningkatkan motivasi belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (1994) adalah dengan cara . guru mengajarkan cara memecahkan dan mendidik keberanian kepada siswa dalam mengatasi kesukaran. (3) Guru mengoptimalisasikan pemanfataan pengalaman dan kemampuan siswa. tiap membaca hal-hal penting dari bahan tersebut dicatat. Di sekolah tidak sedikit siswa yang memiliki motivasi belajar rendah. penguat dan suasana gembira terpusat pada perilaku belajar. siswa tentunya akan mampu memberi makna terhadap pelajaran yang dihadapinya. (2) Guru hendaknya mampu mengoptimalisasikan unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran. memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan belajar yang di alaminya. 3. seorang guru menurut Winkel (1991 ) hendaknya selalu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : (1) Seorang guru hendaknya mampu mengoptimalisasikan penerapan prinsip belajar. guru memecahkan hal yang sukar bagi siswa dengan cara memecahkannya. . guru memberi penguatan kepada siswa yang berhasil mengatasi kesulitan belajarnya sendiri. 6. 1994 : 95) adalah dengan cara . 5. 2. Sehingga dengan adanya prinsip seperti itu. 1. menggunakan waktu secara tertib. ia akan menganggap siswa sebagai seorang yang harus dihormati dan dihargai. memanfaatkan unsur-unsur lingkungan yang mendorong belajar.yang tinggi. siswa ditugasi membaca bahan belajar sebelumnya. Pada tingkat ini guru memperlakukan upaya belajar merupakan aktualisasi diri siswa. Dengan perlakuan semacam itu. 4. 5. Perilaku belajar yang ditunjukkan siswa merupakan suatu rangkaian perilaku yang ditunjukkan pada kesehariannya.

com) secara psikologis adalah ‖Suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya atau belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.2.1 Hakekat Belajar Belajar menurut Slameto dalam (http://www. setelah melaui proses membaca. Sementara menurut Wittig (dalam Syah. Jadi belajar itu ditunjukan oleh adanya perubahan tingkah laku atau penampilan. 2000:12) mengemukakan bahwa learning is shown by change in behaviour as a result of experience (belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman). Yusuf (1992 : 25) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan motivasi siswa. mengamati. 2003 : 65-66). Dengan adanya perlakuan semacam itu dari guru diharapkan siswa mampu membangkitkan motivasi belajarnya dan tentunya harapan yang paling utama adalah siswa mendapatkan hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuannya.infoskripsi.1. mendengarkan. 2. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang dialami oleh individu yang diperoleh melalui latihan dan pengalaman. 2.2 Prestasi Belajar SMA 2. Memberi reinforcement bagi tingkah laku yang menunjukkan motif. Hasil belajar dari kegiatan belajar disebut juga dengan prestasi belajar. Menciptakan lingkungan kelas yang dapat mengembangkan curiosity dan kegemaran siswa belajar. meniru dan mengalami langsung.1. Menciptakan lingkungan belajar yang merangsang anak untuk belajar. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya‖.2 Hakikat Pretasi Belajar Pengertian belajar dari Cronbach (dalam Djamarah. 3. Belajar lebih ditekankan pada proses kegiatannya dan proses belajar lebih ditekankan pada hasil belajar yang dicapai oleh subjek belajar atau siswa. guru mempunyai peranan sebagai berikut : 1.1. Tentunya untuk mencapai prestasi belajar tersebut tidak akan terlepas dari upaya yang dilakukan oleh guru dalam memberikan motivasi atau dorongan kepada siswa agar dapat meningkatkan motivasi belajarnya. 2. belajar sebagai any relatively permanen change in an organism behavioral repertoire that accurs as a result of experience (belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/ keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman). guru menghargai pengalaman dan kemampuan siswa agar belajar secara mandiri.2.7. Hasil atau prestasi belajar subjek belajar atau peserta didik dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui sejauh mana peserta didik dapat menguasai bahan pelajaran .

keterampilan. Hasil pengukuran tersebut masih berupa skor mentah yang belum dapat memberikan informasi kemampuan siswa. 1986: 2). 2004 : 43) prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes. Dalam kegiatan pengukuran hasil belajar. Berdasarkan pengertian di atas maka yang dimaksudkan dengan prestasi belajar adalah hasil belajar/ nilai pelajaran sekolah yang dicapai oleh siswa berdasarkan kemampuannya/usahanya dalam belajar. serta untuk dapat memperoleh nilai digunakan tes terhadap mata pelajaran terlebih dahulu. 2. Prestasi belajar menurut Hamalik (1994: 45) adalah prestasi belajar yang berupa adanya perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu. Dalam penelitian ini yang ditinjau adalah aspek kognitif yang meliputi: pengetahuan. Sedangkan menurut Kamus bahasa Indonesia Millenium (2002: 444) ‖prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau dikerjakan‖.1. dan penerapan. Prestasi belajar merupakan hasil yang telah dicapai dari suatu proses belajar yang telah dilakukan. pertanyaan atau persoalan yang harus dipecahkan/dijawab. wali murid dan sekolah. Prestasi belajar merupakan kemampuan . Prestasi belajar sebagai hasil dari proses belajar siswa biasanya pada setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran yang disajikan dalam buku laporan prestasi belajar siswa atau raport. pemahaman. Prestasi belajar ditunjukkan dengan skor atau angka yang menunjukkan nilai-nilai dari sejumlah mata pelajaran yang menggambarkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa. Agar dapat memberikan informasi yang diharapkan tentang kemampuan siswa maka diadakan penilaian terhadap keseluruhan proses belajar mengajar sehingga akan memperlihatkan banyak hal yang dicapai selama proses belajar mengajar. sikap. Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan kemampuan aktual yang dapat diukur dan berwujud penguasaan ilmu pengetahuan. pendidik.3 Prestasi Belajar Menurut Djalal (1986: 4) bahwa ―prestasi belajar siswa adalah gambaran kemampuan siswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses belajar siswa dalam mencapai tujuan pengajaran‖. karena nilai atau angka yang diberikan merupakan manifestasi dari prestasi belajar siswa dan berguna dalam pengambilan keputusan atau kebijakan terhadap siswa yang bersangkutan maupun sekolah. Misalnya pencapaian aspek kognitif. prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai siswa dari perbuatan dan usaha belajar dan merupakan ukuran sejauh mana siswa telah menguasai bahan yang dipelajari atau diajarkan. aspek afektif dan aspek psikomotorik. Dengan kata lain. Menurut Woodworth dan Marquis (dalam Sri. Raport merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau prestasi belajar (Suryabrata. afektif dan psikomotorik‖. Prestasi belajar mempunyai arti dan manfaat yang sangat penting bagi anak didik. Ada banyak pengertian tentang prestasi belajar. dan nilai-nilai yang dicapai oleh siswa sebagai hasil dari proses belajar mengajar di sekolah. 1984).yang sudah dipelajari. Hasil tes inilah yang menunjukkan keadaan tinggi rendahnya prestasi yang dicapai oleh siswa. Prestasi belajar menurut Bloom meliputi 3 aspek yaitu ‖kognitif. siswa dihadapkan pada tugas. sehingga untuk mengetahui sesuatu pekerjaan berhasil atau tidak diperlukan suatu pengukuran.2. ―Pengukuran adalah proses penentuan luas/kuantitas sesuatu‖ (Nurkancana.

2006 : 37) mengatakan bahwa prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah yaitu: kognitif. sikap dan nilai yang dapat diukur secara aktual sebagai hasil dari proses belajar. Bila angka yang diberikan guru rendah. selalu diikuti oleh pengukuran dan penilaian. Menurut Wirawan seperti dikutip Supartha (2004 : 34) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam usaha belajar yang dilakukan dalam periode tertentu. Dalam setiap perbuatan manusia untuk mencapai tujuan. dan evaluasi. dengan melihat hasil tes atau hasil ujiannya siswa dapat menyadari kelemahan dan kelebihannya sehingga dapat mengevaluasi dan bagaimana caranya belajar selama ini. Saifudin Azwar (1996 :44) prestasi belajar merupakan dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai raport. Prestasi belajar dapat dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui materi pelajaran yang telah diajarkan atau dipelajari. maka prestasi seseorang dianggap rendah. analisis. pemahaman. sintesis. sikap dan keterampilan yang dicapai siswa dalam kegiatan belajar mengajar. dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang berwujud perubahan ilmu pengetahuan. dapat diketahui kedudukan anak di dalam kelas. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut. apakah anak termasuk kelompok pandai. prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah kognitif terdiri atas : pengetahuan. Melihat dari pengertian prestasi atau hasil belajar di atas. indeks prestasi studi. Bloom (dalam Nurman. aplikasi. (2) untuk menyadarkan siswa terhadap tingkat kemampuannya. huruf maupun simbol pada periode tertentu. Melihat dari pengertian prestasi atau hasil belajar di atas. Prestasi belajar adalah hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar (Tirtonegoro. keterampilan motorik. keterampilan motorik. 1984 : 43). Benyamin S.siswa yang dapat diukur. sikap dan nilai yang dapat diukur secara aktual sebagai hasil dari proses belajar. dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang berwujud perubahan ilmu pengetahuan. hal senada diungkapkan oleh Woodworth dan Marquis (dalam Supartha. misalnya tiap caturwulan atau semester. Sehubungan dengan itu. Dengan mengetahui prestasi belajar. prestasi belajar dalam penelitian ini secara konseptual diartikan sebagai hasil kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk angka yang . Prestasi belajar ini dinyatakan dalam bentuk angka. berupa pengetahuan. Bila angka yang diberikan guru tinggi. Masrun dan Martaniah (dalam Supartha. 2004 : 34) menyatakan bahwa kegunaan prestasi belajar diantaranya adalah : (1) untuk mengetahui efisiensi hasil belajar yang dalam hal ini diharapkan mendorong siswa untuk belajar lebih giat. Bloom (dalam Nurman. 2006 : 36). (3) untuk petunjuk usaha belajar siswa. 2004 : 33) bahwa prestasi belajar adalah kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan menggunakan tes. sedang atau kurang. afektif dan psikomotor. yang lazim diperoleh dari nilai tes atau angka yang diberikan guru. maka prestasi seorang siswa dianggap tinggi sekaligus dianggap sebagai siswa yang sukses dalam belajar. Nasution (2001 : 439) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah penguasaan seseorang terhadap pengetahuan atau keterampilan tertentu dalam suatu mata pelajaran. demikian pula halnya dengan proses pembelajaran. angka kelulusan dan predikat keberhasilan. dan (4) untuk dijadikan dasar untuk memberikan penghargaan. Ini berarti prestasi belajar menuju kepada optimal dari kegiatan belajar.

keterampilan. dan dorongan peningkatan kehidupan.1. Geografi mengkaji tentang aspek ruang dan tempat pada berbagai skala di muka bumi. geografi memadukan dimensidimensi alam dan manusia di dunia. sehingga siswa dapat bertindak secara sosial. Penekanan bahan kajiannya adalah gejala-gejala alam dan kehidupan yang membentuk lingkungan dunia dan tempat-tempat. siswa dimotivasi secara aktif untuk menelaah bahwa kebudayaan dan pengalaman mempengaruhi persepsi manusia tentang tempat-tempat dan wilayah. dan lingkungan pada muka bumi. atau sebagai kegiatan yang dapat member dampak kepada mahluk hidup yang tinggal di atas permukaan bumi. Sebagai suatu disiplin integratif. Lingkup bidang kajiannya memungkinkan manusia memperoleh jawaban atas pertanyaan dunia sekelilingnya yang menekankan pada aspek-aspek spasial eksistensi manusia. Mata pelajaran Geografi mengembangkan pemahaman siswa tentang organisasi spasial. Dengan demikian siswa diharapkan bangga akan warisan budaya dengan memiliki kepedulian kepada keadilan sosial. Pengetahuan. agar manusia memahami karakteristik dunianya dan tempat hidupnya. proses-proses demokratis dan kelestarian ekologis. Untuk menjelaskan pola-pola gejala geografis yang terbentuk. Bidang kajian geografi meliputi muka bumi dan proses-proses yang membentuknya.2. afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) siswa yang tampak pada : (a) adanya kesadaran untuk membangun dan mengembangkan pemahaman tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat. dapat di ukur dari segi kognitif (pengetahuan). karakteristik dan persebaran spasial ekologis di muka bumi. dan bertanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial. Pengetahuan. maupun psikomotor yang dapat diukur dari tes atau hasil ujian siswa. (b). serta pertalian antara manusia dengan tempat-tempat. dan lingkungannya. dan mempertajam maknanya. sebagai bekal hidupnya di masyarakat dalam menghadapi fenomena lingkungan yang makin terancam dan perekonomian global yang semakin kompetitif serta saling bertautan. tempat dan lingkungan pada muka bumi. disajikan dalam bentuk deskripsi. 2. arif. peta dan tampilan geografis lainnya. 2003 : 5-6) Terkait dengan hasil (prestasi) belajar geografi siswa. Dalam kaitannya . afektif. hubungan antara manusia dengan lingkungan. keterampilan. (depdiknas. dan ekologis. ekonomi. bertindak cerdas. tempat-tempat. sehingga diharapkan siswa dapat memahami bahwa manusia menciptakan wilayah (region) untuk menyederhanakan kompleksitas muka bumi.4 Prestasi Belajar Geografi Geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan dalam segala perwujudan makna: hidup sepanjang hayat. dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi. yang pada gilirannya dapat mendorong siswa untuk meningkatkan kualitas kehidupan di lingkungannya pada masa kini dan masa depan. masyarakat. Gejala alam dan kehidupan itu dapat dipandang sebagai hasil dari proses alam yang terjadi di bumi. dalam menelaah manusia. dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap. tempat-tempat.mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak baik berupa kemampuan kognitif. diharapkan membentuk siswa yang mampu mengembangkan darma baktinya untuk menjalin kerjasama dan mengurangi konflik. spasial dan ekologis serta bertanggung jawab. Selain itu. Siswa didorong untuk memahami proses-proses fisik yang membentuk pola-pola muka bumi.

guru/dosen.2.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Perubahan tingkah laku sebagai hasil yang dicapai yang berwujud prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menjelaskan pengertian fenomena biosfer 1. Faktor internal adalah kondisi belajar yang mempengaruhi perbuatan belajar berasal dari diri anak itu sendiri Natawijaya. bakat. instrumental (kurikulum. Adapun yang menjadi acuan dalam pembuatan tes prestasi belajar siswa adalah berdasarkan materi yang di bahas pada semester yang tengah berlangsung dimana tes prestasi belajar siswa dilaksanakan. sarana dan guru).3 Menjelaskan pemanfaatan sumber daya alam secara arif (Depdiknas. motivasi. kondisi panca indera dan faktor psikologis (minat. Terkait dengan hal tersebut untuk lebih memperjelasnya dapat dilihat pada tabel standar kompetensi dan kompetensi dasar kelas XI IPS semester 1 berikut : Standar Kompetensi Menganalisis fenomena biosfer dan antroposfer Kompetensi Dasar 1.2.1.4. minat dan . 1987: 233). Dari pengertian di atas jelaslah bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada dua macam yaitu faktor internal dan faktor eksternal. motivasi dan kemampuan kognitif).2. Menjelaskan pengertian fenomena antroposfer 1.1. faktor internal ini biasanya berupa minat.1. kondisi jasmani. kematangan. Menjelaskan pengertian sumber daya alam alam 2. dan Purwanto (2000) membagi kondisi belajar atas kondisi belajar interen dan kondisi belajar eksteren.3. Mengidentifikasi jenis-jenis sumber daya alam 2. (2) faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar faktor fisiologis (kondisi fisik secara umum. (Suryabrata. 1979 : 30) . Menganalisis sebaran flora dan fauna 1. biasanya berupa : hadiah. kecerdasan.dengan penelitian ini maka untuk mengukur hasil (prestasi) belajar geografi siswa. 2007) 2. Menganalisis aspek kependudukan Memahami sumber daya 2. digunakan analisis hasil belajar siswa yang terdapat pada nilai hasil dari jawaban siswa terhadap sejumlah pertanyaan yang diberikan oleh peneliti untuk mengukur prestasi belajar siswa. program. keluarga. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat berupa : (1) faktor belajar yang berasal dari luar diri si pelajar yaitu lingkungan (lingkungan alami dan lingkungan sosial). keadaan alat indera. kondisi fisik sedangkan faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal). Sardiman AM (1999) . ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu : faktor yang berasal dari dalam siswa (internal). yang antara lain adalah: motif.

Muhammad Surya (1979). maka kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran sangat menentukan prestasi belajar siswa. meliputi situasi lingkungan keluarga. Sedangkan situasi belajar siswa. mampu mengelola kelas dengan baik dan memiliki kemampuan untuk menumbuh kembangkan motivasi belajar siswa untuk belajar. sekolah dan masyarakat sekitar. menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat. cuaca. akan memberi pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar siswa untuk belajar. Cahaya dapat diperoleh baik dari sebelah kiri maupun sebelah kanan (Nasution. 1974 : 87).kemampuan. Sedangkan yang bersumber dari proses belajar. Belajar akan lebih berhasil bila individu yang belajar diberikan hadiah yang dapat memperkuat stimulus dan respon. penyesuaian diri serta kemampuan berinteraksi siswa. Guru yang menguasai materi pelajaran dengan baik. Disamping itu cahaya juga penting sekali bagi anak-anak yang berjam-jam lamanya harus menulis dan membaca dengan penuh konsentrasi. minat dan motivasi. Dari sudut si pembelajar (siswa). Soeitoe (1987 :105) mengatakan suatu tingkah laku dalam situasi tertentu memberikan kepuasan selalu akan diasosiasikan. menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat digambarkan sebagai berikut: . Keadaan udara. antara lain dari sudut si pembelajar. dan tempat belajar perlu diatur jangan terlalu dingin dan jangan terlalu panas. maupun hukuman. Secara skematis. Faktor eksternal dalam belajar adalah faktor yang berasal dari luar diri pelajar seperti penghargaan. proses belajar dan dapat pula dari sudut situasi belajar. Ruangan yang tenang memberikan suasana yang gembira dari pada ruangan yang gelap. hadiah. kecerdasan. bakat. Suasana dan tempat belajar juga mempengaruhi individu dalam berlajar baik di sekolah dan di luar sekolah. prestasi belajar seseorang dipengaruhi antara lain oleh kondisi kesehatan jasmani siswa.

dan (3) dengan mengetahui kesalahan dan kekurangan yang terdapat dalam evaluasi selanjutnya dapat diusahakan perbaikan. lingkungan. kecerdasan. (Harahap dalam Supartha. Penilaian pendidikan adalah penilaian tentang perkembangan dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum. Fungsi penilaian dapat dikatakan sebagai suatu evaluasi yang dilakukan sekolah mempunyai tiga fungsi pokok yang penting. penguasaan seseorang tentang pengetahuan keterampilan dan nilai-nilai. kondisi fisik. Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi terhadap perkembangan dan kemajuan. dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum. Pendapat lain menyatakan bahwa fungsi penilaian dalam proses belajar mengajar antara lain: (1) untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar serta memperbaiki belajar bagi murid. motivasi. 2004:36). dalam rangka waktu tertentu. yaitu: (1) untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan. guru/dosen. Sumber : Djamarah. dan lain-lain). (2) untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari murid. (3) untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki oleh murid. keluarga.Dari skema tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor internal (minat. Dengan penilaian dapat diketahui kemampuan. Purwanto (2000 : 10). kesanggupan.6 Penilaian Prestasi Belajar Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar perlu dilakukan penilaian (evaluasi). kurikulum. 2002 : 143 2. dan lain-lain) dan faktor eksternal (hadiah.1. (2) untuk mengetahui sampai di mana perbaikan suatu metode yang digunakan guru dalam mendidik dan mengajar. sarana.2. dan (4) untuk .

status sosial ekonomi keluarga dengan jenis kelamin. atau unit dalam catur wulan atau semester yang bersangkutan dalam kelas yang sama. 2004:37). Namun ketika dikomparasikan status sosial ekonomi keluarga dengan kemandirian siswa. Di samping itu. Menunjukkan bahwa variabel status sosial ekonomi keluarga dan jenis kelamin menunjukkan nilai signifikansi 0.05 yang berarti ada perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar matematika.05 atau H0 ditolak yang berarti ada pengaruh yang signifikan.00 < 0. (2) ulangan umum merupakan ulangan yang mencakup seluruh pokok bahasan. konsep. 2000 : 4).05 atau H0 diterima yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan.05 atau H0 ditolak yang berarti ada pengaruh yang signifikan. dan tes perbuatan. tinggi dengan rendah menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0. ada yang bersifat regional. ujian akhir ada yang bersifat nasional.2 Penelitian Yang Relevan. tes lisan.1 Penelitian yang Relevan Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah. dapat juga dikatakan bahwa jenis-jenis penilaian sebagai berikut: (1) ulangan harian mencakup bahan kajian satu pokok bahasan atau beberapa pokok bahasan untuk memperoleh umpan balik bagi guru.013 < 0.93 dan 0. (Harahap dalam Supartha. bentuk alat penilaiannya adalah berupa pilihan ganda dan sering dilakukan secara bersama-sama pada suatu wilayah maupun wilayah tingkat I.2. Hasil ulangan umum selain untuk mengetahui pencapain siswa juga digunakan untuk keperluan laporan kepada orang tua siswa dan keperluan administrasi lain. (2) teknik non tes yang dilaksanakan melalui observasi maupun pengamatan (Depdiknas. 1997 : 7). penempatan. variabel kemandirian siswa menunjukan nilai signifikansi 0.003.697 > 0. rendah dengan tinggi. 2.05 atau H0 diterima yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan. skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hasil penilaian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan kelulusan siswa dan digunakan untuk pemberian surat tanda tamat belajar (Depdikbud. terdiri dari tes tertulis.05 yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan. sedang dengan rendah. 2) hasil komparasi ganda antar status sosial ekonomi keluarga rendah dengan sedang.003 < taraf signifikansi 0. 1) Penelitian yang dilakukan oleh Yuyun (2008).401 > 0. Teknik dan alat penilaian yang sering digunakan kepala sekolah adalah: (1) teknik tes. dan kemandirian siswa dengan jenis kelamin menunjukan nilai signifikansi 0.009. Dengan judul ―Pengaruh Status Sosial Ekonomi Keluarga Dan Kemandirian Siswa Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau Dari Jenis Kelamin Siswa‖. (3) ujian akhir. 0. Dan jika ketiga variabel tersebut dikomparasikan menunjukan nilai signifikansi 0. (Harahap dalam Supartha. yaitu penilaian formatif. namun untuk status sosial ekonomi sedang dengan tinggi. tema. Dan untuk hasil komparasi ganda antar kemandirian . sumatif. 2004:37). Kerangka Berpikir dan Hipotesis Tindakan 2.999 > 0. tinggi dengan sedang menunjukan nilai signifikasi sebesar 0. yaitu: tes objektif dan tes uraian. dan diagnostik.mengenal latar belakang murid yang mengalami kesulitan belajar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk memecahkan kesulitan itu.009. 0. dan ada yang bersifat lokal. 0. Penilaian dalam pendidikan ada beberapa jenis.

000 < 0.Besar R squareadalah 0.05 maka faktor internal berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar ekonomi.2 Kerangka Berpikir .000 < 0.2.364) > ttabel (1.364 dan ttabel 1. Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi. Nilai thitung (7.000 < 0.991. Hasil penelitian di SMA Negeri 1 Turen menunjukkan bahwa analisis penagruh faktor internal terhadap prestasi belajar ekonomi diperoleh thitung 7. Analisis pengaruh sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar ekonomi diperoleh thitung 4. yaitu diambil 20% untuk masing-masing kelas. Nilai Fhitung (46. Besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 48 siswa dan teknik pengambilan sampelnya menggunakan Proportional Random Sampling. Fakultas Ekonomi. 2007. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimanakah kondisi sosial ekonomi orang tua siswa kelas VIII SMP N 1 Randudongkal dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar Geografi dan untuk mengetahui besarnya pengaruh latar belakang sosial ekonomi orang tua siswa yang berbeda terhadap prestasi belajar Geografi.000 < 0.171 dan Ftabel 3. bagaimanakah pengaruhnya kondisi sosial ekonomi orang tua siswa yang berbeda terhadap prestasi belajar Geografi dan seberapa besar pengaruh kondisi sosial ekonomi siswa terhadap prestasi belajar Geografi. nilai thitung (4. Eka Yudha.8% disebabkan oleh faktor lain. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel bebas (kondisi sosial ekonomi orang tua) dan satu variabel terikat (Prestasi belajar geografi).552 ini berarti prestasi belajar ekonomi (Y) dapat dipengaruhi oleh faktor internal (X1) dan sosial ekonomi orang tua (X2) sebesar 55. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua siswa kelas VIII SMP N 1 Randudongkal tahun pelajaran 2006/2007 yang terdiri dari dari 6 kelas dengan jumlah 240 orang tua siswa.2% sedangkan sisanya 44. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Kristian. dengan judul ―Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Geografi Siswa Kelas VIII SMP N 1 Randudongkal Kabupaten Pemalang Tahun 2006/2007‖.119.05 yang berarti nampak ada perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar matematika.siswa menunjukkan nilai signifikansi 0. Pengaruh antara kondisi sosial ekonomi orang tua siswa SMP N 1 Randudongkal terhadap prestasi belajar geografi sebesar sebesar 55. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 54% responden memiliki kondisi sosial ekonomi orang tua yang tergolong tinggi (baik).066.991) dengan sig 0.Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimakah gambaran tentang keadaan sosial ekonomi orang tua siswa kelas VIII SMP N 1 Randudongkal Kabupaten Pemalang. Universitas Negeri Malang.991) dengan sig 0. Analisi pengaruh faktor internal dan sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar ekonomi diperoleh nilai Fhitung46.119) dengan sig 0.991. Dengan judul ―Pengaruh Faktor Internal dan Sosial Ekonomi Orang tua Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Turen‖. Jurusan Ekonomi Pembangunan. 2) penelitian yang dilakukan oleh Maftukhah. 2.711 dan ttabel 1.711) > ttabel (1.171) > Ftabel (3.05 maka faktor internal dan sosial ekonomi orang tua secara bersama-sama (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar ekonomi. Metode pengambilan data digunakan metode angket dan metode dokumentasi.05 maka faktor sosial ekonomi orang tua berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar ekonomi.

1. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi. baik di kelas maupun di luar kelas.2. tidak menaruh perhatian terhadap pelajaran yang dipelajari.1 Jenis Penelitian Adapun jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian ex post facto dengan pendekatan korelasional. Motivasi belajar sangat penting peranannya bagi siswa dalam usaha mencapai prestasi belajar yang tinggi. 2. mereka biasanya kelihatan lebih menaruh perhatian bersungguh-sungguh dalam belajar dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan kerangka berpikir tersebut di atas. Metode ini digunakan karena peneliti berusaha mengetahui variable terikat (Prestasi Belajar) pada siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja. maka jawaban sementara yang akan dibuktikan kebenarannya adalah: ― Apakah Terdapat hubungan signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi di kelas IX IPS SMA Negeri 2 Singaraja.Hubungan Antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Motivasi belajar adalah dorongan yang ada pada seseorang untuk melakukan kegiatan belajar. Mereka yang tidak memiliki motivasi belajar akan kelihatan kurang atau tidak bergairah dalam belajar maupun mengikuti pembelajaran di kelas. lebih tahan dan memiliki ambisi yang lebih tinggi dalam mencapai prestasi belajar yang lebih baik. bersemangat. Kondisi siswa yang kurang memiliki motivasi belajar sudah tentu tidak mampu menghasilkan prestasi yang memuaskan. apatis dan tidak berpartisipasi aktif dalam belajar. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan lebih tekun. selama ini siswa cenderung tidak memiliki minat untuk mempelajarinya. maka dapat diduga adanya hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar geografi siswa.2 Hipotesis Penelitian Untuk menjawab permasalahan yang diajukan. cenderung menunjukkan semangat dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran. Dalam kaitannya dengan materi pelajaran geografi. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. dibandingkan dengan siswa yang kurang atau tidak memiliki motivasi belajar. 3.1 Rancangan Penelitian . Hal ini tidak terlepas dari kurangnya motivasi yang diberikan oleh pengajar dalam proses belajar mengajar.

maka secara operasional motivasi belajar dalam penelitian ini adalah respon siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja tahun pelajaran 2008/2009 terhadap sejumlah pernyataan mengenai keseluruhan usaha yang timbul dari dalam diri siswa agar tumbuh dorongan untuk belajar dan tujuan yang dikehendaki oleh siswa tercapai.1. dan 3.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian 3. 2. . Kehadiran di kelas. Berdasarkan pengertian di atas.2. meliputi: Sikap terhadap kesulitan dan Usaha mengatasi kesulitan.1. meliputi : 1. yaitu: 1) Ketekunan dalam belajar.2.1. yang diungkap melalui instrumen angket.2 Identifikasi Variabel 3.Adapun rancangan penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : (Dimodifikasi dari Arikunto. Sedangkan belajar dalam penelitian ini merupakan suatu proses yang dilakukan siswa untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang lebih baik dan sebelumnya sebagai hasil pengalaman siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya.2. Mengikuti proses belajar mengajar di kelas.2 Variabel terikat : prestasi belajar siswa 3.1 Motivasi Belajar Siswa Motivasi dalam penelitian ini merupakan suatu daya atau kekuatan yang timbul dari dalam diri siswa untuk memberikan kesiapan agar tujuan yang telah ditetapkan tercapai.1 Variabel bebas : motivasi belajar siswa 3. Belajar di rumah 2) a) b) Ulet dalam menghadapi kesulitan belajar. 1996 : 31) Keterangan : X Y = Motivasi belajar siswa = Prestasi belajar siswa = Menyatakan hubungan 3.

3. Keinginan untuk berprestasi. dan 2. 5) Mandiri dalam belajar.3. Menggunakan kesempatan diluar jam pelajaran 3. Populasi dari penelitian ini adalah semua siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja yang tersebar pada 2 kelas dengan rata-rata siswa per kelas = 40 orang.2. sehingga populasinya berjumlah 80 orang siswa. Kualifikasi hasil. meliputi: 1.4 Metode Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode Kuesioner dan tes. jumlah skor tes hasil belajar bidang studi geografi yang diperoleh melalui tes (dalam hal ini tes yang disusun oleh peneliti) pada semester I kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja.2 Sampel Sampel penelitian ini ditentukan sebanyak 80 siswa atau seluruh siswa dari 2 kelas IPS yang ada. 3.3) Minat dan ketajaman perhatian dalam belajar.1 Populasi Populasi adalah himpunan subjek penelitian (Arikunto. Penyelesaian tugas-tugas/PR. 4) Prestasi dalam belajar. dan 2. sampel di ambil dari keseluruhan populasi yang ada sehingga disebut penelitian populasi. 3.2 Prestasi Belajar Siswa Prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah. Semangat dalam mengikuti proses belajar mengajar. Instrument (alat) yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner atau daftar pernyataan yang disusun sendiri oleh peneliti dan sudah barang tentu . Kebiasaan dalam mengikuti pelajaran dan 2. meliputi : 1. dengan alasan karena populasinya di bawah 100. 1) Kuesioner Kuesioner adalah pengambilan data melalui pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan diri informan (responden). meliputi: 1. 2000 : 125).3.3 Populasi dan Sampel 3.

Penggunaan kedua teknik tersebut sangat penting.1 : Ringkasan Hasil Uji Validitas Butir Tes Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja.4. 1) Validitas Butir Tes Untuk validitas butir soal (tes) digunakan rumus korelasi point biserial. 3.materi pertanyaan akan disesuaikan dengan kondisi siswa berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan pada bab II. Instrumen yang digunakan adalah tes yaitu tes pilihan ganda (multiple choice) dengan 5 (lima) pilihan jawaban. dengan rumusan : Keterangan: pbis r = koefisien korelasi point biserial Mp Mt = rata-rata skor dari subjek yang menjawab benar = rata-rata skor total SD = Standar Deviasi p q = proporsi siswa yang menjawab benar = proporsi jawaban salah (q = 1 – p) Perhitungan validitas butir soal hasil belajar siswa ini menggunakan bantuan program Mikrosoft Excel. dimana kedua teknik ini dilakukan secara bersama-sama untuk mendapatkan data yang akurat dan sarat makna. 2) Tes Metode tes adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan tingkat pengetahuan siswa terhadap materi pembelajaran setelah mengalami proses pembelajaran di kelas.1 Validitas Instrumen Tes dan Non Tes Uji validitas dilakukan berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur sehingga benar-benar dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk menghitung validitas alat ukur dalam penelitian ini digunakan dua rumus matematika yaitu: 1) rumus korelasi point biserial untuk menghitung validitas butir tes dan 2) rumus korelasi product moment untuk menghitung validitas butir non tes. (Langkah perhitungan terlampir) Tabel 3. . Tes ini disusun oleh peneliti berdasarkan standar isi dan standar kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa pada materi pelajaran Geografi semester ganjil.

491 0.375 0.271 0.575 0.271 0.027 29.638 0.813 Mt SD rpbis rtabel 0.271 0.588 0.342 0.613 0.450 0.388 0.388 0.022 28.575 0.490 30.068 0.438 0.607 29.202 0.271 0.290 26.338 0.244 0.738 10.271 0.271 0.059 30.386 0.251 .550 0.182 28.271 Keterangan DROP VALID DROP VALID VALID VALID VALID DROP DROP DROP DROP DROP DROP DROP VALID VALID DROP DROP DROP VALID VALID VALID DROP VALID VALID VALID VALID DROP VALID DROP VALID VALID VALID DROP DROP VALID VALID VALID VALID VALID VALID DROP VALID DROP 25.551 0.450 0.363 0.525 0.271 0.491 0.513 0.325 0.450 0.638 0.271 0.613 0.702 28.490 27.550 0.151 29.854 28.475 0.674 0.425 0.600 q 0.271 0.151 29.538 0.235 34.538 0.271 0.388 0.610 0.231 0.551 0.271 0.290 27.450 0.436 26.271 0.271 0.271 0.609 32.352 31.393 0.271 0.610 0.087 0.212 0.613 0.271 0.111 31.490 27.625 0.488 0.953 27.114 27.550 0.106 0.610 0.663 0.214 0.663 0.413 0.490 28.363 0.271 0.762 26.575 0.609 32.405 0.338 0.438 0.550 0.370 34.425 0.638 0.290 30.388 0.809 29.271 0.311 0.538 0.271 0.609 33.027 0.363 0.588 0.271 0.575 0.271 0.672 0.032 0.015 0.144 0.179 30.271 0.245 30.271 0.271 0.491 0.550 0.613 0.350 0.638 0.638 0.478 0.271 0.271 0.143 0.491 0.413 0.674 0.338 0.190 31.338 0.438 0.271 0.575 0.563 0.672 0.413 0.271 0.488 0.187 0.525 0.271 0.588 0.413 0.663 0.271 0.400 Mp 25.463 0.054 26.271 0.271 0.538 0.463 0.450 0.260 0.226 27.271 0.463 0.425 0.271 0.151 29.271 0.636 26.588 0.563 0.860 30.591 27.157 0.205 31.271 0.271 0.056 30.575 0.425 0.172 27.513 0.271 0.663 0.271 0.639 26.425 0.663 0.488 0.363 0.271 0.475 0.Nomor Butir 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 Jumlah p 56 51 49 53 51 36 35 36 42 53 47 33 39 50 53 51 41 37 34 37 36 29 47 39 46 34 31 28 44 42 46 34 31 33 54 46 27 31 53 51 44 45 43 48 0.563 0.271 0.672 0.338 0.259 0.130 -0.151 0.334 0.143 28.650 0.384 0.271 0.675 0.425 0.363 0.271 0.513 0.301 0.235 34.674 0.

388 0.672 0. 30. 35.271 VALID VALID VALID VALID VALID VALID Dari tabel 3. dapat diketahui bahwa butir soal yang termasuk ke dalam kategori ―Valid‖ adalah sebanyak 31 butir soal yaitu butir nomor : 2. 26. 3.672 0. 17.674 0.1 di atas.287 keterangan DROP VALID . 24.217 0.271 0. 27. 32. 34.466 rtabel 0. 18. 40.425 0. 28.313 0. 39. 31.425 0. (Hasil perhitungan terlampir). Perhitungannya menggunakan bantuan program Mikrosoft Excel. 33. 19. 4. 49. 14. 11. Tabel 3. 25. 45. 37. maka statistik korelasi yang digunakan adalah statistik korelasi product moment (Guilford. 15. 46.613 31.271 0. 42.235 34. 48.425 0.520 34.575 0. 7.575 0. 41.613 0. 47.290 31.388 0. 20.518 0. dan 44. 21. 29. 16. 22.551 0.609 32. 23. dan 50. 36.575 0. Mengingat kuesioner motivasi belajar bersifat non tes. 5. 9. 12.271 0.688 0. Adapun butir soal yang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan perbaikan adalah sebanyak 19 butir soal yaitu butir soal yang dikategorikan―Tidak Valid/Drop‖ seperti butir soal nomor: 1. 2) Validitas Butir Non Tes Validitas butir kuesioner motivasi belajar siswa dipertimbangkan berdasarkan koefisien korelasi antara skor total dengan skor item.609 33.674 0. dengan ketentuan rxy dikatakan valid apabila rhit > rtabel pada taraf signifikansi 5%. 13. 8. Kuesioner motivasi belajar siswa ini diujicobakan terhadap 80 orang siswa yaitu SMA Muhammadiyah 2 Singaraja sebanyak 40 orang dan SMAN 2 Singaraja sebanyak 40 orang siswa.271 0.45 46 47 48 49 50 46 34 31 46 25 31 0. 6.287 0.271 0. 38.2 : Ringkasan Hasil Uji Validitas Butir Soal Kuesioner Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja. 1973:85) sebagai berikut: rhitung = Dimana : rhitung = Koefisien korelasi åXi = Jumlah skor item åYi = Jumlah skor total (seluruh item) n = Jumlah responden Kriteria yang digunakan adalah dengan membandingkan harga rxy ke tabel r product moment. No Butir 1 2 rhitung 0.290 0. 43. 10.

287 0.287 0.287 0.251 0.287 0.287 0.621 0.513 0.511 0.355 0.287 0.287 0.287 0.287 0.3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 0.430 0.287 0.491 0.554 0.287 0.287 0.479 0.287 0.287 0.578 0.702 0.574 0.287 0.467 0.640 0.287 0.287 0.287 0.609 0.528 0.365 0.287 0.287 0.287 0.287 0.287 0.287 0.285 0.390 0.287 0.287 0.097 0.605 0.310 0.467 0.633 0.287 0.287 0.417 0.287 0.287 0.505 0.597 0.356 0.179 0.287 0.655 0.503 0.287 0.287 0.287 VALID VALID DROP VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID DROP VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID DROP VALID VALID VALID VALID VALID VALID DROP DROP VALID VALID VALID DROP VALID VALID VALID VALID VALID .287 0.554 0.287 0.511 0.287 0.310 0.604 0.572 0.287 0.495 0.516 0.657 0.287 0.201 0.287 0.391 0.230 0.287 0.610 0.287 0.287 0.636 0.287 0.

4. 10. yaitu butir soal nomor: 1. 30.40 derajat reliabilitas Rendah 0. 22. 8.40 £ r11 £ 0. 13. dan 46. yakni dengan membuang butir/item yang tidak valid (drop). 23. 4. 29. 25.20 derajat reliabilitas Sangat Rendah 0. Guilford (1973).60 ≤ r11£ 0. 1) Reliabilitas Instrumen Tes Hasil Belajar Untuk menghitung derajat reliabilitas tes hasil belajar siswa digunakan rumus Kuder-Richardson (KR-20) dengan rumus: Keterangan: k p q = banyak butir soal = proporsi peserta tes yang menjawab benar butir soal. 20. =1–p Vt = Varian Total Kriteria derajat reliabilitas alat ukur yang digunakan yaitu: kriteria yang dibuat oleh J. 15. 27. 9.00 derajat reliabilitas Sangat Tinggi Dari hasil perhitungan terhadap tingkat reliabilitas tes hasil belajar Geografi siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja diperoleh hasil sebagaimana dituangkan dalam table ringkasan berikut: Tabel 3. 44.Dari tabel 3.2 Reliabilitas Instrumen Tes dan Non Tes Uji reliabilitas dilakukan untuk mendapatkan tingkat ketepatan (keterandalan atau keajegan) alat pengumpul data (instrumen) yang digunakan. sebagai berikut: r 11 £ 0.80 £ r11 £ 1.dan 41. 35. 33.80 derajat reliabilitas Tinggi 0. 40. 18. 43. 21. 28. 38.3 : Tabel Ringkasan Hasil Uji Reliabilitas Tes Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XI di SMAN 2 Singaraja .2 di atas. diperoleh 39 butir soal yang termasuk ke dalam kategori ―Valid‖ adalah yaitu butir nomor : 2. 6. 17. 3. 11. 45. 26. 32. 42. 37. 19. 5. 36. 12. 31. 16.20 ≤ r11 ≤ 0. 14. 3. 34. 7. 39. 24. Adapun butir soal yang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan perbaikan atau termasuk dalam kategori drop adalah sebanyak 7 (tujuh) butir.60 derajat reliabilitas Sedang 0.

96 .450 0.237 0.k 31 p 0.575 0.244 0.425 0.231 0.450 0.425 0.450 0.231 0.390 Hasil di atas dimasukkan ke dalam rumus KR-20: KR-20 = 0.244 0.425 0.338 0.538 0.388 0.575 0.244 0.237 ∑ pq 7.224 0.550 0. didapatkan hasil perhitungan sebagai berikut: k = 31 Vt = 102.626 pq = 7.638 0.450 0.363 0.550 0.3 di atas.575 0.538 0.244 0.550 0.638 0.338 0.513 0.688 0.613 0.425 0.244 0.250 0.463 0.224 0.663 0.248 0.231 0.638 0.224 0.363 0.425 0.249 0.663 0.244 0.959 Berdasarkan nilai pada tabel 3.638 0.249 0.663 0.575 0.388 q 0.237 0.626 0.390 Vt r11 102.313 0.244 0.246 0.388 0.425 0.248 0.231 0.575 0.215 0.575 0.463 0.388 0.550 0.488 0.237 0.575 0.425 0.575 0.338 0.663 0.363 0.338 0.244 0.563 0.613 0.224 0.388 0.613 0.248 0.248 0.363 0.237 0.438 0.613 pq 0.231 0.613 0.638 0.425 0.363 0.

4: Ringkasan Hasil Uji Reliabilitas Motivasi Belajar Geografi Siswa Kelas XI di SMAN 2 Singaraja.661 0. 1996:104) sebagai berikut: Keterangan: k = banyaknya butir tes SDt = Varian skor total SDi = Varian skor butir ke-i Perhitungannya dengan menggunakan bantuan program Mikrosoft Excel. No Butir 2 3 4 6 7 8 k 39 k-1 38 Varbutir 0. dapat diinterpretasikan bahwa tingkat atau derajat reliabilitas tes hasil belajar siswa yang digunakan dalam penelitian ini termasuk ke dalam kategori SANGAT TINGGI 2) Reliabilitas Instrumen Non Tes Untuk mengetahui tingkat keajegan (reliabilitas) kuesioner motivasi belajar siswa dilakukan dengan membuang item yang tidak valid.592 0.80 £ r11 £ 1.402 Sigvarbutir Vartotal 32.Dari hasil perhitungan di atas didapat r11 = 0.20 derajat reliabilitas Sangat Rendah 0.20 ≤ r11 ≤ 0.80 derajat reliabilitas Tinggi 0. selanjutnya ditentukan dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach (Suharsimi.40 £ r11 £ 0.304 0.024 338.96 dengan menggunakan kriteria derajat reliabilitas alat ukur yang digunakan yaitu: kriteria yang dibuat oleh J.449 0.60 ≤ r11£ 0. dapat dibuat sebuah ringkasan sebagaimana dijabarkan dalam table berikut: Tabel 3. Guilford (1973). sebagai berikut: r 11 £ 0.60 derajat reliabilitas Sedang 0. (Hasil perhitungan terlampir) Dari hasil perhitungan terhadap data penelitian yang diperoleh.895 0.40 derajat reliabilitas Rendah 0.00 derajat reliabilitas Sangat Tinggi Dengan demikian.651 .

dengan menggunakan kriteria derajat reliabilitas alat ukur yang digunakan yaitu: kriteria yang dibuat oleh J.93 Dari hasil perhitungan di atas.008 0.20 ≤ r11 ≤ 0.9 10 11 12 13 14 15 16 17 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 30 31 32 33 34 35 38 39 40 42 43 44 45 46 0.727 1.599 0.024 0.20 derajat reliabilitas Sangat Rendah 0.451 0.920 0.4 di atas diperoleh nilai dimasukkan ke dalam rumus Alpha Cronbach: r11= 0. diperoleh r11= 0.587 0.488 0.134 0. Guilford (1973).216 0.538 1.073 1.93.364 0.112 0.589 0.40 derajat reliabilitas Rendah .666 1.957 0.953 0.800 1.456 Dari table 3.679 0.031 0.929 0.134 1.283 1.992 0.144 0. sebagai berikut: r 11 £ 0.668 1.521 1.720 1.735 1.641 1.583 0.

Rumus yang digunakan untuk mencari rata-rata ideal (Mi) adalah ½ (Skor maksimal ideal + skor minimal ideal) dan untuk mencari Standar Deviasi Ideal digunakan rumus 1/6 (skor maksimal ideal – skor minimal ideal). range.00 derajat reliabilitas Sangat Tinggi Dengan demikian. dan standar deviasi. Mi + 1.60 derajat reliabilitas Sedang 0. median.5 SDi à Tinggi Pernyataan Negatif Sangat Setuju Setuju Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju (SS) (S) (R) =5 =4 =3 (SS) (S) (R) =1 =2 =3 (TS) = 2 (STS) = 1 (TS) = 4 (STS) = 5 .5 SDi – Mi + 1. Skor Minimal Ideal.80 £ r11 £ 1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Pernyataan Positif Sangat Setuju Setuju Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju (Riduwan.60 ≤ r11£ 0. Cara permberian skor untuk mengungkap variabel motivasi belajar siswa digunakan skala Likert dengan pemberian skor berdasarkan pernyataan positif dan pernyataan negatif. Mean Ideal (Mi) dan Standar Deviasi Ideal (SDi).40 £ r11 £ 0.5 SDi – Mi + 3.80 derajat reliabilitas Tinggi 0.5 Metode Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis statistik deskriptif dan analisis korelasi untuk menguji hipotesis penelitian. Selanjutnya nilai standar deviasi ideal (SDi) dan rata-rata/mean ideal (Mi) dikonversikan ke dalam 5 (lima) kategori nilai kecenderungan dengan kriteria sebagai berikut. dapat diinterpretasikan bahwa tingkat atau derajat reliabilitas motivasi belajar siswa yang digunakan dalam penelitian ini termasuk ke dalam kategori SANGAT TINGGI 3. 2005 : 87) Untuk statistik deskriptif masing-masing variabel diukur nilai pemusatannya dengan mencari nilai Skor Maksimal ideal.0 SDi à Sangat Tinggi Mi + 0. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui nilai kecenderungan data hasil penelitian yaitu dengan jalan menguraikan atau menjabarkan data-data variabel penelitian (motivasi dan prestasi belajar) seperti: mean.0.

5 SDi à Sangat Rendah Keterangan: Mi = Rata-rata ideal SDi = Standar Deviasi Ideal.5 SDi – Mi + 0.Mi – 0. Sebelum dilakukan analisis data.5 SDi à Sedang Mi – 1. Teknik analisis Korelasi PPM termasuk teknik statistik parametrik yang mengunakan data interval dan ratio dengan persyaratan tertentu. Kalau salah satu tidak terpenuhi persyaratan tersebut analisis korelasi tidak dapat dilakukan. maka terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis yang terdiri dari: 1) Uji normalitas data. 1996 : 31) Analisis korelasi yang digunakan adalah (PPM) Pearson Product Moment. Apabila nilai r = – 1 artinya korelasinya negatif sempurna. datanya berdistribusi normal. dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat.5 SDi à Rendah Mi – 3. 2000 : 425-426) Keterangan : rXY = koefisien korelasi yang dicari n X Y = banyaknya subjek pemilik nilai = nilai variabel X = nilai variabel Y Korelasi PPM dilambangkan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 < r < + 1). Misalnya: data dipilih secara acak (random). Selanjutnya.5 SDi – Mi – 0. dan 2) Uji Linieritas (Candiasa. r = 0 artinya tidak ada korelasi. dan data yang dihubungkan mempunyai pasangan yang sama sesuai dengan subjek yang sama. data yang dihubungkan berpola linier.0 SDi – Mi – 1. Rumus korelasi PPM sebagai berikut: rXY = (Arikunto. Desain Penelitian X dan Y (Dimodifikasi dari Arikunto. Menjawab rumusan masalah yaitu seberapa besar hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa di SMA Negeri 2 Singaraja yang didesain sebagai berikut: Gambar 01. analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui kuat lemahnya hubungan antar variabel yang dianalisis. 2007:1-8) .

dan Q-Q plots. Hipotesis yang diuji adalah: Ho : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : Sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal Aturan Pengambilan Keputusan: Normalitas dipenuhi jika hasil uji tidak signifikan untuk suatu taraf signifikansi (α) tertentu (biasanya α=0. digunakan bantuan program SPSS10 for Windows. (Candiasa. Sumber Variasi Total Koefisien (a) Koefisien (b) Sisa Tuna Cocok Galat Dk N 1 1 (n-2) k-2 n-k JK JK (a) JK (b/a) JK (S) JK (TC) JK (G) KT JK (a) = F s s Untuk melakukan uji linieritas data.) untuk menetapkan kenormalan. 2007: 16-18) 2) Uji Linieritas Uji linearitas dilakukan dengan mencari persamaan garis regresi variabel bebas x terhadap variabel terikat y.05 atau α=0. jika hasil uji signifikan maka normalitas data tidak terpenuhi.1) Uji Normalitas Data Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS10 for Windows. Cara mengetahui signifikan atau tidak signifikan hasil uji normalitas adalah dengan memperhatikan bilangan pada kolom signifikansi (Sig. dengan menggunakan tabel sebagai berikut. Descriptives. . Sebaliknya. Untuk tujuan uji normalitas data dalam penelitian ini digunakan teknik uji Kolmogorov-Smirnov. kriteria yang berlaku adalah sebagai berikut.     Tetapkan taraf signifikansi uji misalnya α = 0.01). maka sampel bukan berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Jika signifikansi yang diperoleh < α. Berdasarkan garis regresi yang telah dibuat. Tes of Normality. maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. selanjutnya diuji keterkaitan koefisien garis regresi serta linearitas garis regresi. Hasil keluaran SPSS10 for Windows terdiri dari tiga jenis keluaran yaitu: Processing Summary.05 Bandingkan p dengan taraf signifikansi yang diperoleh Jika signifikansi yang diperoleh > α.

Setelah persyaratan analisis data sebagaimana diuraikan di atas dipenuhi. Dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel X (motivasi) mempunyai kontribusi atau ikut menentukan variabel Y (prestasi belajar siswa). 2000 : 425-426) Keterangan : Rxly = koefisien korelasi yang dicari N X Y 2) = banyaknya subjek pemilik nilai = nilai variabel X = nilai variabel Y Melakukan uji signifikansi koefisien korelasi variabel X dengan variabel Y. langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap data penelitian. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: 1) Mencari koefisien korelasi variabel X dengan variabel Y dengan menggunakan rumus korelasi product moment angka kasar.Aturan pengambilan keputusan: Jika hasil analisis menunjukkan harga F tuna cocok (penyimpangan regresi) dan signifikansi > α = 0.6 Koefisien Diterminan Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap Y dapat ditentukan dengan rumus koefisien diterminan. Jika rtab < rhit.05. Kriteria : Ha : Ho : terdapat hubungan positif signifikan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa. Koefisien determinasi adalah kuadrat dari koefisien korelasi PPM yang dikalikan dengan 100%. Derajat koefisien determinasi dicari dengan menggunakan rumus : . tidak terdapat hubungan positif signifikan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa. Berarti model regresi linear. maka Ha diterima dan Ho ditolak. rxly = (Arikunto. 3. Artinya terdapat hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa.

80 korelasi Tinggi 0. dan 4) Pembahasan hasil.1: Deskripsi data motivasi belajar siswa Statistic Std. nilai rata-rata (mean) sama dengan 144.1. Pemaparan dijabarkan dari: 1) Deskripsi data hasil penelitian.40 £ r11 £ 0. sebagai berikut: r 11 £ 0. 4.80 £ r11 £ 1. 2) Uji persyaratan analisis. Error 144.47. dan standar deviasi sama dengan 15. Untuk lebih ringkasnya. dapat dilihat pada tabel berikut. Variabel X (Motivasi Belajar Siswa) Berdasarkan pada hasil angket yang disampaikan kepada 80 orang responden (sampel penelitian) dengan kuesioner yang terdiri atas 39 butir pertanyaan diperoleh skor tertinggi adalah 188 dari skor maksimal yang bisa dicapai oleh siswa yaitu 195.40 korelasi Rendah 0.4000 1.40. Tabel 4. Hasil penelitian yang dimaksudkan di atas adalah menyangkut beberapa masalah pokok yang tertuang dalam rumusan masalah yaitu deskripsi tentang motivasi belajar dan prestasi belajar Geografi siswa.20 korelasi Sangat Rendah 0.Dimana: KP KP = r 2 x 100% r = Koefisien Diterminasi = Nilai Koefisien Korelasi Kriteria derajat korelasi yang digunakan yaitu: kriteria yang dibuat oleh J.60 korelasi Sedang 0.20 ≤ r11 ≤ 0. Guilford (1973).73009 Motivasi Belajar Mean .60 ≤ r11£ 0.1. 1 Deskripsi Data Hasil Penelitian 4. skor terendah adalah 105 dari nilai terendah yang bisa dicapai yaitu 39. 3) Uji hipotesis .00 korelasi Sangat Tinggi BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini disajikan hasil penelitian yang mencakup penggambaran (deskripsi) tentang karakteristik masing-masing variable penelitian dan deskripsi tentang hasil pengujian hipotesis.

varian dan sebagainya.2: Frekuensi skor Motivasi Belajar Siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja Interval 105 116 127 138 149 160 171 JUMLAH Batas Bawah 104. mean.5 148.269 Kurtosis 0.8437 5% Trimmed Mean 144. standar deviasi.3889 Median 143.9563 Interval for Mean Upper Bound 147. Deviation 15. dapat diketahui gambaran data secara umum mengenai nilai maksimum.00 Range 83. nilai minimum. sedang dan rendah.00 Maximum 188.101 0. dan 5) membuat distribusi frekuensi sebagaimana berikut. range.5 115.5 126.5 137.123 0.5 159.0000 Variance 239.95% Confidence Lower Bound 140.5%) dan interval 171 – 181 . Dalam artian bahwa data tersebut perlu diurai kembali menjadi bagian yang lebih rinci ke dalam tabel frekuensi dan histogram. median.3 Log n. 3) mencari banyaknya kelas dengan rumus sturgess yaitu BK = 1 + 3.532 Dari tabel di atas. Sebagaimana yang telah dijabarkan pada bab III tentang analisis deskriptif terhadap data penelitian. 2) mencari range dengan mengurangi skor maksimal dengan skor minimal. standar error.75%. Akan tetapi secara khusus tabel tersebut belum memberikan jawaban terhadap pertanyaan berapa banyak siswa yang memiliki motivasi tinggi. 4) menentukan panjang kelas dengan membagi range dengan banyaknya kelas. sebaliknya sebaran skor motivasi belajar siswa yang paling sedikit terdapat pada interval 105 – 115 sebanyak 2 orang (2. Tabel 4.47444 Minimum 105. sehingga dapat dipahami dengan lebih mudah oleh orang lain.5 Frekuensi Nilai Tengah 2 110 8 121 13 132 27 143 15 154 12 165 3 176 80 115 126 137 148 159 170 181 Dengan melihat tabel tersebut dapat diketahui skor motivasi siswa terbanyak pada interval 138 – 148 yaitu sebanyak 27 orang atau 33.5 170. Guna keperluan penyusunan interval dan pembuatan grafik tingkat kecenderungan motivasi belajar siswa dilakukan beberapa langkah yaitu: 1) mengurutkan/merangking skor motivasi belajar dari yang skor terendah sampai kepada skor tertinggi.458 Std.00 Skewness 0.00 Interquartile Range 17.

5 (26) – 117 + 3.Tinggi Mi – 0. Gambar 4.5 SDi 117 – 1.5 (26) 39 – < 78 ———————————. sedangkan SDi = 1/6 (skor maksimal – skor minimal = 1/6 (195 – 39) = 26. dapat dilakukan dengan mencari mean ideal dan standar deviasi ideal sebagai berikut: 1) skor maksimal ideal 195 dan minimal 39.5 SDi – Mi + 1.Sangat Rendah Rata-rata (mean) skor motivasi belajar siswa sebesar 144.0 SDi 117 + 1.5 SDi 117 + 0.0 (26) – 117 – 1.5 SDi – Mi – 0.5 (26) 130 – < 156 ——————————.0 (26) 156 – 195 ——————————— Sangat Tinggi Mi + 0.5 SDi – Mi + 3.0 SDi – Mi – 1.5 (26) 78 – < 104 ——————————– Rendah Mi – 3.5 SDi 117 – 3.40 terletak pada rentangan 130 — < 156 yaitu termasuk ke dalam kategori Tinggi. .1: Grafik Tingkat Kecenderungan Motivasi Belajar Siswa Histogram Frekuensi Motivasi Belajar Sedangkan untuk mengetahui tingkat kecenderungan skor motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja.5 SDi 117 – 0.5 (26) – 117 – 0.5 (26) – 117 + 1.5 (26) 104 — < 130 ——————————.Sedang Mi – 1. Apabila frekuensi skor perolehan motivasi belajar tersebut dimasukkan ke dalam grafik (histogram).5 (26) – 117 + 0. diperoleh mean ideal (Mi) = ½ (Skor maksimal + skor minimal) sehingga diperoleh Mi = ½ (195 + 39) =117.5 SDi – Mi + 0. Mi + 1. Nilai SDi dan Mi kemudian dikonversikan ke dalam tabel kecenderungan dengan 5 (lima) kategori sebagaimana berikut.75%).sebanyak 3 orang (3. maka akan tampak grafik sebagai berikut.

5 Frekuensi 2 5 12 Nilai Tengah 62 67 72 64 69 74 . 3) mencari banyaknya kelas dengan rumus sturgess yaitu BK = 1 + 3.86.1.00 dan skor minimum sama dengan 60.9858 80.3: Deskripsi data prestasi belajar siswa Statistic Prestasi Belajar Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std. 2) mencari range dengan mengurangi skor maksimal dengan skor minimal. skor terendah adalah 70 dari nilai terendah yang bisa dicapai yaitu 0.00 9.6250 78.5 64.51.86026. nilai rata-rata (mean) sama dengan 78. 4) menentukan panjang kelas dengan membagi range dengan banyaknya kelas.3 Log n. Untuk lebih ringkasnya. Varian sama dengan 47.5 69.00. Sama dengan langkah yang dilakukan pada penyusunan interval dan pembuatan grafik motivasi belajar.4.063 dengan standar deviasi sama dengan 6. Tabel 4.76700 0.00 94. Error 0. dan 5) membuat distribusi frekuensi sebagaimana berikut Tabel 4.86026 60. dapat diketahui gambaran data penelitian mengenai prestasi belajar. dapat dilihat pada tabel berikut.2 Variabel Y (Hasil Belajar Siswa) Dari 31 butir tes hasil belajar yang disampaikan kepada 80 orang responden (sampel penelitian) diperoleh skor tertinggi adalah 88 dari skor maksimal yang bisa dicapai oleh siswa yaitu 100.0000 47.269 0.532 Dari tabel di atas.00 -0. dan standar deviasi sama dengan 6. di mana mean (rata-rata) skor perolehan siswa adalah 78.00 34.51.063 6.4: Frekuensi skor Prestasi Belajar Siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja Interval 60 65 70 Batas Bawah 59. Skor maksimal peroleh siswa adalah 94.0392 78. Penyusunan interval dan pembuatan grafik tingkat kecenderungan prestasi belajar siswa juga dilakukan dengan beberapa langkah yaitu: 1) mengurutkan/merangking skor motivasi belajar dari yang skor terendah sampai kepada skor tertinggi. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound 78.5125 76.104 -0.015 Std.

33 – < 75 ——————————.25%) dan interval 90 – 94 sebanyak 5 orang (6.0 (16.5 (16.67 — < 58.5 (16. diperoleh mean ideal (Mi) = ½ (Skor maksimal + skor minimal) sehingga diperoleh Mi = ½ (100 + 0) = 50.67) 75 – 100 ——————————— Sangat Tinggi Mi + 0.5 89.5 (16.5 SDi 50 + 0.25%).Sedang Mi – 1.33 ——————————.5 79.5 (16.67) 41.67.Tinggi Mi – 0.67) – 50 + 1.5 (16.5 SDi 50 – 1.5 SDi – Mi + 1. maka akan tampak grafik sebagaimana berikut. Nilai SDi dan Mi kemudian dikonversikan ke dalam tabel kecenderungan dengan 5 (lima) kategori sebagaimana berikut.67) 58. sebaliknya sebaran skor prestasi belajar siswa yang paling sedikit terdapat pada interval 60 – 64 sebanyak 2 orang (2.5 (16.67) .5 27 16 13 5 80 77 82 87 92 Dengan melihat tabel tersebut dapat diketahui skor prestasi belajar siswa terbanyak pada interval 75 –79 yaitu sebanyak 27 orang atau 33.5 SDi – Mi – 0.2: Grafik Kecenderungan Prestasi Belajar Siswa Histogram Frekuensi Prestasi Belajar Sedangkan untuk mengetahui tingkat kecenderungan skor prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja.75%. dapat dilakukan dengan mencari mean ideal dan standar deviasi ideal sebagai berikut: 1) skor maksimal ideal 100 dan minimal 0. Mi + 1.5 SDi – Mi + 0. sedangkan SDi = 1/6 (skor maksimal – skor minimal = 1/6 (100 – 0) = 16.5%).67) – 50 + 0.0 SDi 50 + 1.75 80 85 90 JUMLAH 79 84 89 94 74. Gambar 4.5 (16.5 84. interval 65 – 69 sebanyak 5 orang (6.5 SDi 50 – 0. Apabila frekuensi skor perolehan prestasi belajar tersebut dimasukkan ke dalam grafik (histogram).67) – 50 – 0.0.5 SDi – Mi + 3.67) – 50 + 3.

200 > 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa sebaran data motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja Berdistribusi Normal.200.67) 0 – < 25 ———————————.51 terletak pada rentangan 75 –100 yaitu termasuk ke dalam kategori Sangat Tinggi.2 Uji Persyaratan Analisis Statistik Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.25 – < 41. 4.67) – 50 – 1.5 SDi 50 – 3. Sesuai dengan aturan pengambilan keputusan yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu :   Jika signifikansi yang diperoleh > α. Tabel 4. Ternyata nilai signifikansi yang diperileh > α atau 0. nilai signifikansi yang diperoleh dengan teknik Kolmogorof-Smirnov adalah 0.67 ——————————– Rendah Mi – 3.0 SDi – Mi – 1.5 (16.6 Hasil Uji Normalitas Sebaran Data Prestasi Belajar Siswa dengan teknik Kolmogorof-Smirnov . maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.Sangat Rendah Rata-rata (mean) skor prestasi belajar siswa sebesar 78. 4. maka sebelumnya harus dilakukan uji persyaratan analisis guna memastikan apakah data penelitian dapat dianalisis dengan menggunakan statistic ataukah tidak. Jika signifikansi yang diperoleh < α. bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tujuan untuk menguji hipotesis statistik tentang ada tidaknya hubungan dan seberapa besar pengaruh motivasi terhadap prestasi belajar.0 (16.5 Hasil Uji Normalitas Sebaran Data Motivasi Belajar Siswa dengan teknik Kolmogorof-Smirnov Dari tabel di atas.2. Tabel 4.1 Uji Normalitas Normalitas sebaran data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik Kolmogorof-Smirnov. Sedangkan sebaran data prestasi belajar siswa dengan menggunakan teknik yang sama dapat dilihat pada table berikut ini. Perhitungannya menggunakan bantuan program SPSS10 for Windows. Ringkasan hasil uji normalitas data dapat dilihat pada table berikut. Agar dapat melakukan uji statistic terhadap data penelitian. maka sampel bukan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Tabel 4.409 dengan signifikansi 0. 4. Ringkasan hasil uji linieritas data diberikan pada table berikut.89 > 0. sebagaimana tertera pada table berikut: Tabel 4.3 Uji Hipotesis Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi product moment (r).Dari tabel di atas. nilai signifikansi yang diperoleh dengan teknik Kolmogorof-Smirnov adalah 0.796.9: Koefisien Korelasi variable motivasi (X) dan prestasi Belajar (Y) Hipotesis penelitian yang diuji: . Ternyata nilai signifikansi yang diperoleh > α atau 0. dalam penelitian ini digunakan bantuan program SPSS10 for windows.7: Ringkasan hasil uji linieritas data motivasi dan prestasi belajar dengan menggunakan table Anova Berdasarkan tabel Anova di atas.2 Uji Linieritas Untuk mengetahui hubungan variable motivasi belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Geografi memiliki hubungan yang linier. Berarti model regresi linear. dapat dilihat bahwa nilai F pada Deviation from Linierity adalah 1. Dengan rumus : Dimana : r n X Y = Korelasi X dengan Y = Jumlah responden = Motivasi belajar = Prestasi belajar siswa Dari hasil perhitungan dengan program Excel dan SPSS diperoleh hasil koefisien korelasi sebagaiman tercantum pada table berikut. Selanjutnya dilakukan pengujian keberartian koefisian korelasi.05. 4.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa sebaran data prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja Berdistribusi Normal.2.89.8: Ringkasan hasil analisis korelasi antara variable motivasi (X) dan prestasi belajar (Y) Dari table di atas diketahui bahwa koefisien korelasi motivasi dan prestasi belajar sebesar 0.149 > 0. Tabel 4.

hasil penelitian . sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar dapat tercapai secara maksimal. Karena dari hasil kajian beberapa penelitian tentang prestasi belajar ternyata juga membuktikan bahwa status sosial ekonomi dan jenis kelamin juga sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Pengaruh antara kondisi sosial ekonomi orang tua siswa SMP N 1 Randudongkal terhadap prestasi belajar geografi sebesar sebesar 55.9 diatas dapat dilihat bahwa harga koefisien korelasi sebesar 0.05. Yang berarti bahwa Ho ditolak dan Ha diterima atau ―Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi (X) dan prestasi belajar (Y) siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja. dan lain sebagainya. Tabel 4.796 dan thitung sebesar 11. ―Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Geografi Siswa Kelas VIII SMP N 1 Randudongkal Kabupaten Pemalang Tahun 2006/2007‖ menunjukkan bahwa dari 54% responden memiliki kondisi sosial ekonomi orang tua yang tergolong tinggi (baik). jenis kelamin tidak diperhitungkan sehingga nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 63. IQ. sisanya sebesar 36. hasil penelitian ini tentunya bukan berarti bahwa pengaruh faktor lain seperti faktor sosial ekonomi.Ho : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan prestasi belajar pada siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja.40% oleh variable motivasi belajar. (Sardiman. tingkat IQ.40%. Dari hasil penelitian ini diperoleh koefsien determinasi (r2) sebagaimana diberikan pada table berikut.60% merupakan kontribusi factor lain yang tidak diteliti. Secara lebih ringkas. dan lain sebagainya dapat diabaikan begitu saja.40%. jenis kelamin.000 < 0.40%. metode pembelajaran. variabel status sosial ekonomi siswa.10: Koefisien Determinasi korelasi motivasi (Y) dengan prestasi belajar (Y) R Square pada table di atas menunjukkan nilai koefisien determinasi korelasi motivasi dan prestasi belajar sebesar 0. Dikarenakan motivasi menjadi penggerak sekaligus pemberi arah kegiatan belajar. 1988: 75). Ini artinya bahwa. Walaupun demikian. Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan prestasi belajar pada siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja Dari table 4. Hal ini berarti bahwa motivasi belajar merupakan salah satu factor penentu keberhasilan belajar siswa yang paling menentukan dibandingkan dengan factor lainnya seperti ketersediaan sarana-prasarana. Selanjutnya.4 Pembahasan Hasil Penelitian Motivasi belajar dari hasil penelitian ini telah dibuktikan mampu memprediksi prestasi belajar siswa sebesar 63. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Maftukhah (2007).066%.634 atau sebesar 63. 4.623 > ttabel = dengan nilai signifikansi 0. akan diukur besarnya kontribusi variable motivasi (X) terhadap variable (Y) dalam artian dianalisis kemampuan variable predictor (X) dalam memprediksi variable kriteriumnya. Yang berarti bahwa prestasi belajar siswa dapat diprediksi sebesar 63.

pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar tentunya tidak sebesar itu.ini mengungkapkan bahwa dengan mengontrol pengaruh variabel di luar variabel penelitian ternyata motivasi belajar dapat mempengaruhi prestasi belajar sebesar 63. Seseorang yang memiliki motivasi tinggi akan lebih keras berusaha daripada seseorang yang memiliki motivasi rendah. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh (Robbins. Kekurangan ini akan menimbulkan ketegangan (tension) yang mendorong seseorang untuk . sarana-prasarana. Kebutuhan-kebutuhan. Tetapi motivasi bukanlah perilaku. Kekurangan-kekurangan ini bukan saja dalam aspek fisiologis melainkan juga dalam aspek psikologis (Robbins 1984. antusias. kasih sayang. melainkan bisa dipahami melalui kerasnya usaha seseorang dalam mengerjakan sesuatu. motivasi merupakan bagian dalam (innerstate) pribadi seseorang yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan tertentu dengan cara tertentu. makanan. dan perhatiannya terbagi kemana-mana di saat proses belajar sedang berlangsung. ternyata motivasi belajar yang berasal dari dalam diri siswa sendiri seperti: ketekunan dalam belajar. 1984. aktif dalam pembelajaran. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas terlihat penuh semangat. baik fisiologis maupun psikologis. 1987). Sprinthall dan Sprinthall 1987 dalam Depdiknas 2007: 56-57). Kebutuhan-kebutuhan psikologi antara lain berupa air. dan aktualisasi diri. Siswa yang motivasinya tergolong rendah ini biasanya menunjukkan sikap bermalasan. dan seks. Semuanya didasarkan pada kekurangan fisikal dalam tubuh manusia. Kebutuhan-kebutuhan psikologis ini seringkali tampak lebih samar (subtle) dan lebih sulit diidentifikasi. Huse dan Bowditch 1973. pengakuan. Kemauan tersebut tampak pada usaha seseorang untuk mengerjakan sesuatu. mengantuk. Dari hasil observasi dan kuesioner yang diberikan kepada responden. dalam Depdiknas 2007: 53-54) motivasi merupakan kemauan (willingness) untuk mengerjakan sesuatu. menimbulkan dorongan-dorongan (drives) untuk bertindak memenuhinya. Akan tetapi kalau variabel lainnya seperti yang telah diungkap diatas tidak dikontrol maka. dibandingkan dengan siswa yang kurang memiliki motivasi. proses dasar motivasional seseorang berawal dari adanya kekurangan dalam diri seseorang (innerdeficiencies) atau kebutuhan yang belum terpenuhi (unsatisfied needs). dan sebagainya. bisa jadi lebih rendah dari hasil penelitian ini. tidur. Kebutuhan merupakan kekurangan-kekurangan (deficiency) yang dimiliki oleh seseorang. perhatian orang tua. sedangkan kebutuhan-kebutuhan psikologis. ulet dalam menghadapi kesulitan belajar. kemandirian dalam belajar.3 : Proses Motivasional Secara teknis. hadiah dan hukuman. antara lain berupa harga diri. minat dan perhatian terhadap materi pelajaran lebih berpengaruh dibandingkan dengan motivasi yang berasal dari luar diri siswa seperti lingkungan. Gambar 4. rajin dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.40%. Ia merupakan proses internal yang kompleks yang tidak bisa diamati secara langsung. Para teoritisi psikologi yang telah menganalisis proses motivasional dalam diri seseorang menemukan bahwa motivasi itu memiliki dua unsur. memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. sehingga mereka memiliki daya tahan yang cukup lama dalam menyelesaikan studi. Menurut Certo (1985 dalam Depdiknas 2007: 55). yaitu kebutuhan dan dorongan (Sprinthall dan Sprinthall. kurikulum.

00.4 berikut. status sosial ekonomi. Kebutuhan ini membuat orang berperilaku atau bertindak untuk memenuhinya. Dengan demikian. yakni dengan menggabungkan motivasi dengan IQ. Sebaliknya. berangkat dari adanya kebutuhan dalam dirinya. B (1969 dalam Depdiknas 2007). Introduction to Behavioral Science in Bussiness.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya. Sehingga diperlukan penelitian lanjutan mengenai hasil penelitian ini.bertindak (drive). Gambar 4. New York. karena faktor-faktor lain yang tidak diteliti juga memiliki dampak atau pengaruh yang sama besar bahkan mungkin lebih besar dari motivasi belajar. jenis kelamin atau variabel lainnya. BAB V PENUTUP 5. Apabila tujuan ini tercapai berarti kekurangan atau kebutuhannya terpenuhi (satisfied need) dan sekaligus menghilangkan ketegangan. secara rinci menjelaskan proses motivasional dalam diri seseorang. sehingga diketahui sumbangan masing-masing variabel secara jelas. John Wiley & Sons. maka akan timbul perilaku yang tidak tepat (inappropriate) dalam bentuk penyerangan (aggression) atau ketidakhadiran (absenteeism). sangat keliru jika hasil penelitian ini dianggap sebagai hasil yang mutlak keberterimaannya dalam proses pembelajaran.40 dengan nilai tertinggi 188. Itulah sebabnya. Gambar 4. Termasuk kedalam kategori TINGGI. halaman 256. para teoritisi psikologi pendidikan yang membahas tentang motivasi selalu memasukkan teori-teori kebutuhan sebagai salah satu bagian dari pembahasannya. Selanjutnya dorongan ini membangkitkan seseorang untuk bertindak (behavior) untuk mencapai tujuan tertentu. misalnya siswa dalam sekolah sebagai pelajar. berarti kebutuhannya belum juga terpenuhi.00 dan nilai terendah yang diperoleh adalah sebesar 105. Rata-rata motivasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Singaraja adalah sebesar 144. dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. sebenarnya motivasi seseorang dalam organisasi.4 : Proses Motivasional Perilaku Siswa Sumber: Kolasa. Namun. . Dengan perkataan lain. yaitu upaya memenuhi kebutuhan dirinya. apabila tujuan ini belum tercapai. bahwa seseorang itu melakukan aktivitas tertentu selalu didorong oleh motif tertentu.

Undiksha Singaraja. di samping melaksanakan tugas-tugas mengajarnya hendaknya juga memberikan motivasi belajar terhadap siswa yang diajarnya. 2002. Penyusunan Butir Soal dan Instrumen Penilaian. 2007. Psikologi Belajar. 2. Penilaian Dalam Pengajaran Bahasa Asing. Termasuk kedalam kategori SANGAT TINGGI. Jakarta Dimyati & Mudjiono.2. Termasuk kedalam kategori TINGGI. 2003. Pihak sekolah hendaknya menanamkan motivasi belajar kepada siswa. Dan khusus untuk guru. Manajemen Penelitian. Depdiknas. Depdikbud.00. Syaiful Bahri. 2007. Bahan Penataran Pengujian Pendidikan. 1996. Rata-rata prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Singaraja adalah sebesar 78.51 dengan nilai tertinggi 94. Bahan Ajar. Jakarta ——. M. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi di Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja dengan koefisien korelasi sebesar 0.F. 3. 5. Djamarah. Jakarta : Rineka Cipta Candiasa.796. 2000. Jakarta : Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Kependidikan. DIKSH . Malang: P3T IKIP Malang . 1986. 2000. Pendidikan dan Pelatihan Supervisi Akademik dalam Peningkatan Profesionalisme Guru. Demikian juga halnya dengan para siswa harus memiliki motivasi tinggi untuk selalu belajar agar menjadi generasi muda yang tangguh dan mampu bersaing dalam menjalani hidupnya kelak di kemudian hari. Belajar dan Pembelajaran. 3. 1994. 00 dan nilai terendahnya adalah 60. Statistik Multivariat. Jakarta : Rineka Cipta ——-. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Geografi SMA/MA. 1997. Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta : Rineka Cipta Djalal.2 Saran Dengan memperhatikan pada kesimpulan tersebut di atas maka penulis mengajukan saran sebagai berikut : Dalam penelitian ini motivasi belajar berperan signifikan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. maka: 1. Jakarta ——. Jakarta : Puslitbang Sisjian Balitbang Depdikbud. Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Nasution.com/2008/11/27/pengertian-pendidikan/ (online) di akses tgl 1 Januari 2009 http://sobatbaru. Nomor 1.html (online) di akses tgl 21 desember 2008 http://akhmadsudrajat.com/archives/50 (online) di akses tanggal 29 Desember 2009 http://www. Psikologi Pendidikan. Inc Hamalik. Noehi. 1994.dagdigdug. Metode Belajar dan kesulitan-Kesulitan Belajar. Allyn Bacon. Moeliono. 2000. Rahman. Surabaya: Usaha Nasional . 1988. Jilid 8. Psikologi Belajar dan Manager. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sarana Belajar dan Lingkungan Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa. 1973. dkk. Oemar. http://duniapsikologi. ——-.blog2.html (online) diakses tanggal 1 Januari 2009 http://pakdesofa. 1986. Peranan Guru dalam Bimbingan. Jakarta : Depdikbud. Keterampilan Belajar. Bandung : Rosdakarya. Psikologi Pendidikan. Psikologi Pendidikan. Nurkancana. Natawijaya.com/2008/08/pengertian-pendidikan-agama-islam. 2006. Bandung : Abardin. Jurnal Ilmu Pendidikan. Pshycological Testing. Hubungan Metode Mengajar Dosen. Abin Syamsudin. Edisi Ketiga.com/Proposal/Proposal-Skripsi-Pengaruh-Cara-Belajar.plasa.wordpress. 1996. 1974. Bandung : Sinar Baru Algessindo ——.Guilford. Jakarta : CV.com/ 2008/02/06/teori-teori-motivasi/ (online) di akses tanggal 22 Oktober 2009 Makmun. 1987. 2002. Farid. Nurman. Evaluasi Pendidikan. Muhammad. 1992.infoskripsi. 2001. Mutiara Natawidjaja. Anton. Wayan dan Sunartana. Jakarta : Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Dan Universitas Terbuka. Jakarta : Balai Pustaka. Psikologi Pedidikan. Surabaya: Usaha Nasional.blogspot. Nasution.‖Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran Inkuiri dan Ekspositori Terhadap Sikap Politik Berdemokrasi dan Prestasi belajar Siswa Pada Pembelajaran PPKn di SMA (Studi Eksperimen tentang Pengaruh Metode Pembelajaran Terhadap Sikap Politik Berdemokrasi dan Prestasi Belajar PPKn Siswa di SMA NW Pancor – Lombok Timur) Tesis (tidak diterbitkan) Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja.

Psikologi Pendidikan. Saifudin Azwar. Ketut. Sri Swastiningsih. Edisi ke 3. 2002. Pengantar Psikologi Intelegensi. Raja Grafindo Persada. 1996.‖ Validitas Prediktif Nilai Tes Kemampuan Awal Akademik Terhadap Prestasi Belajar Siswa di SMA Unggulan Se-Kota Denpasar‖. Majalah Gerbang.2005. Remaja Rosdakarya. Bandung : Alfabeta. Psikologi Pendidikan. 1994.Wahjo. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. 2003. M. Bandung : Jurusan PPB FIB IKIP Bandung. I Wayan & Sudiana. Samuel. Jakarta : PT. Jakarta : PPLPTK Depdikbud. Raya Grafindo Persada. I Wayan. Jakarta : Bina Aksara. Sumidjo. Psikologi Belajar. 1984. Jakarta : Raja Grafindo Persada ——-. 1996. ——-. 2001. Surachmad. PT. Jakarta. 2001. Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Guru Sebagai Perekat Bangsa. Winarno. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Psikologi Pendidikan. Bandung : Rosdakarya. 1987. S. Sardiman. Jogyakarta : Pustaka Pelajar. Elida. 1987. Tirtonegoro. Purwanto. 2004. Psikologi Pendidikan. Soeitoe. ―Pengaruh Umpan Balik Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Dalam Pembelajaran Statistik (Suatu Eksperimen di Universitas Warmadewa Denpasar)‖ Tesis (Tidak diterbitkan) Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja. 1989. Rajawali Surya. Bandung : Tarsito. Motivasi dalam Belajar. I Ketut.M. Supartha. 2002. Muhammad. Materi Kuliah Strategi Belajar Mengajar (KIMP 401). Jakarta : CV. 2004. . Psikologi Pendidikan. 1996.1999. Bandung : Remaja Rosdakarya. Riduwan.Prayitno. Anak Supernormal dan Program Pendidikannya. Muhibbin. Syah. Sutratina. Pengantar Penelitian Ilmiah. Tesis (tidak diterbitkan) Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja. Bandung: PT. Ngalim. 2000. A. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI. Singaraja : IKIP Suryabrata. ——. Subagia. Kepemimpinan Kepala Sekolah.

W. Yogyakarta : Bigraf Publising. 1987. Zamroni. Yusuf. . 1993. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Bandung : CV. Andria. 2000.Winkel. Jakarta : Gramedia. Dasar-dasar Pembinaan Kemampuan Proses Belajar Mengajar.S. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Syamsu.