P. 1
Modul Pelatihan Tanggap Bencana

Modul Pelatihan Tanggap Bencana

|Views: 629|Likes:
Published by delusio

More info:

Published by: delusio on May 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2013

pdf

text

original

Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu Negara yang sedang mencoba, untuk terus berbenah diri guna menyambut persaingan pasar bebas. Namun, dalam usahanya berbenah diri tersebut, Indonesia yang letak geografisnya diapit oleh dua benua dan dua samudra ini, sering kali terhambat, bahkan kembali mengalami penurunan akibat dampak langsung dari pasar bebas, ataupun bencana yang terjadi akibat fenomena alami, maupun yang disebabkan oleh keteledoran perangkat pemerintahan dan masyarakatnya sendiri. Ditilik dari letak geografisnya, Indonesia merupakan Negara kepulauan yang rentan terhadap potensi bencana alam geologi, seperti: gempa bumi, tanah longsor, banjir, angin topan, dan sebagainya. Hal ini dipertegas dengan bencanabencana alam yang sering kita temui sehari-hari. Banjir bandang di Lamongan dan di bandung atau di banyak daerah saat musim hujan, Gempa bumi di Padang dan sekitarnya, merupakan gambaran kecil dari kerentanan Indonesia terhadap potensi terjadinya bencana alam geologi. Terdapat tiga fase dalam upaya penanggulangan bencana, yaitu: fase prabencana, fase saat bencana terjadi, dan fase pasca-bencana. Hal yang sangat disayangkan adalah Indonesia lebih memberikan perhatian terhadap fase ketiga, dan terlihat sedikit meremehkan fase-fase penanggulangan yang lainnya. Sebagai contoh adalah bencana tsunami yang menimpa Aceh, bantuan terkait dengan bencana ini mulai muncul, setelah berjatuhan banyak korban dan menimbulkan kerugian yang besar. Terjadinya bencana dewasa ini telah sangat lekat dengan masyarakat. Bahkan, sejak tahun 1988 sampai pertengahan 2003 jumlah bencana di Indonesia mencapai 647 bencana alam, meliputi: banjir, longsor, gempa bumi, dan angin topan, dengan jumlah korban jiwa sebanyak 2022 dan jumlah kerugian mencapai ratusan milyar. Jumlah tersebut belum termasuk bencana yang terjadi pertengahan 1

Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto

tahun 2003 sampai pertengahan 2004 yang mencapai ratusan bencana dan mengakibatkan hampir 1000 korban jiwa. Dalam tahun 2002, tercatat bencana besar yang terjadi adalah kebakaran hutan di Pontianak, Jambi, Palembang, banjir di Jakarta, Jawa Tengah, Semarang, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan beberapa lokasi lainnya. Selain itu, banjir terjadi di Jawa Tengah bagian selatan, antara lain Banyumas, Cilacap, Kebumen, dan Purworejo. Tanggal 30 Oktober 2003, ribuan rumah dan ratusan hektar sawah di 12 desa di Kabupaten Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah, telah dilanda banjir. Di Banyumas dan Purworejo, banjir menggenangi ribuan hektar sawah, dan sekitar 3.000 keluarga di Desa Nusadadi, Kecamatan Tambak, terkurung air akibat luapan Sungai Ijo dan Sungai Kecepak. Sementara itu, banjir juga melanda Desa Karangsembung dan Nusawangkal, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap di mana air menggenangi 130 rumah dan 1.294 ha sawah. Sebanyak 360 ha dari 1.294 ha sawah yang tergenang berupa persemaian dengan kerugian diperkirakan Rp 28.800.000. Dan terjadi Banjir Bandang di Jawa Tengah, tanggal 1 November 2003, sedikitnya 119 rumah, satu sekolah, dan jalan di Kabupaten Kebumen, mengalami kerusakan akibat tanah longsor saat hujan mengguyur kawasan itu. Tanah longsor yang menimpa rumah penduduk itu terjadi di empat desa, yakni: Desa Kalibangkang (62 rumah rusak), Desa Watukelir (37), Desa Srati (11), dan Desa Jintung (5). Kerugian yang dialami diperkirakan tidak kurang dari Rp265, 3 juta. Masih banyak lagi bencana yang belum dilansir secara langsung oleh berbagai pihak terkait. Sebagai catattan, gempa bumi di Yogyakarta dan Padang, Banjir bandang yang melanda berbagai kawasan di Indonesia (Lamongan, Sidoarjo, dan sebagainya), serta bencana alam yang lainnya. Hal ini membuat perhatian pemerintah menjadi tidak fokus. Di satu sisi harus berbenah diri, mulai dari meningkatkan perekonomian, pemberantasan korupsi, mafia peradilan, upaya untuk tetap eksis di mata dunia terkait dengan hubungan diplomatik antar Negara, juga masih diberatkan oleh bencana yang sering memakan banyak korban dan kerugian. Dan pastinya, pemerintah tidak dapat

2

Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto

berpangku tangan melihat warganya terpuruk dalam bencana yang melanda warganya ini, sesuai dengan amanah yang tertuang dalam UUD’45. Dalam Environmental Outlook WALHI 2003, diungkapkan bahwa kita bangsa Indonesia tidak bisa lagi bangga dengan julukan Jamrud Khatulistiwa, karena pada kenyataannya, negeri kita adalah negeri sejuta bencana. Hal yang menjadi ironi bagi negeri ini adalah kondisi yang telah dipaparkan secara singkat di atas, makin diperparah dengan kepadatan penduduk yang tidak merata, dan banyaknya daerah terpencil yang jarang terjamah ataupun sukar dimasuki karena infrastruktur yang kurang tertata dengan rapi, dan sebagainya. Akibatnya, ketika bencana alam menimpa, yang mendapatkan pertolongan pertama adalah daerahdaerah yang letaknya strategis dan mudah untuk dijangkau oleh kendaraan, meskipun sebenarnya di daerah tersebut hanya atau relatif lebih sedikit yang membutuhkan pertolongan serius, jika dibandingkan dengan daerah yang masih terpencil dan sukar dimasuki. Terdapat tiga fase dalam langkah-langkah penanggulangan bencana, yaitu: fase pra-bencana, fase saat bencana terjadi, dan fase pasca-bencana. Dewasa ini telah banyak pengembangan berkaitan dengan tiga fase tersebut. Namun, hal yang kembali patut kita sayangkan adalah masih banyak daerah-daerah terpencil yang hanya memperoleh fase pasca-bencana, ataupun fase saat bencana terjadi, tanpa melewati fase pra-bencana. Mengapa lebih memilih mengobati daripada mencegah atau meminimalisir banyaknya korban yang berjatuhan? Hal ini patut kita cermati lebih seksama lagi. Oleh karena itu, dirasa penting untuk memberikan pelatihan terkait dengan penanggulangan bencana yang semakin akrab dan hampir menjadi bagian dari kehidupan kita. Kultur timur yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, yaitu: empati dan kebersamaan, selalu terlihat ketika bencana alam datang menimpa. Namun, hal yang sangat disayangkan adalah terjadinya penyelewengan, ataupun pemberian bantuan yang dirasa kurang tepat pada sasaran, bahkan terlihat berlebihan atau tidak

3

Pelatihan tanggap bencana ini tampaknya telah menjadi suatu hal yang dewasa ini makin sering terdengar. Namun demikian. Melainkan lebih semangat lagi dalam membantu sesamanya. Dan nantinya hal ini akan dapat digunakan untuk mengantisipasi beralihnya rasa empati dan kebersamaan masyarakat yang tidak sedang dirundung bencana (volunter). Koordinasi terlihat acak-acakan dan “semrawut”. dewasa ini mulai terlihat sikap antipati dan cenderung bersikap tidak peduli (apatis) pada masyarakat. LSM. (Zainal A.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto berguna pada suatu daerah tertentu yang mengalami dampak langsung dari bencana alam yang sedang terjadi didaerahnya. ataupun komunitas-komunitas pemerhati bangsa yang lainnya. menjadi antipati dan apatis. PMI. Memang hal ini sangatlah penting. Individu memberi makna pada dunianya. adalah banyaknya bantuan. kemampuan beradaptasi dan rasa empati yang mendalam. yang sebelumnya selalu aktif dalam kegiatan sosial ini. dan sebagainya. 4 . yang terdiri dari: tenaga volunteer. Diselenggarakan oleh instansi-instansi pemerintahan. serta sumbangan berupa uang ataupun bahan materiil untuk pembangunan. pakaian. Terkait dengan hal ini. terlebih didukung perasaan. seperti: koordinasi sesama sukarelawan dan dengan pemerintahan. bahwa diri seseorang sangatlah dibutuhkan kehadiran dan bantuannya bagi orang lain yang sedang mengalami bencana. tidak mampu disebarkan secara merata dan tepat sasaran. penulis tergerak untuk memformulasikan suatu program pelatihan yang nantinya mampu digunakan untuk membekali paduan kompetensi kepada para sukarelawan. Karena berbagai hal inilah. membuka ruas jalan. tanpa diberi makna oleh individu maka dunia tidak ada sebagai dunia. 2002:6) Karena perbagai permasalahan maupun keprihatinan yang telah dipaparkan secara singkat di atas. namun pada prakteknya dalam penanggulangan terhadap bencana yang dilakukan adalah penggabungan dari multi disiplin ilmu yang komprehensif. Hal yang lebih spesifik terkait dengan pemaparan di atas. pelatihan yang telah ada condong pada keahlian dengan spesifikasi bidang tertentu saja. bantuan logistik.

Dan terlihat terlalu mengutamakan kemampuan seseorang atau kelompok dalam upaya memberikan bantuan ketika bencana terjadi. terlebih pemberian ketrampilan ini diutamakan merata pada tiap kecamatan di seluruh Indonesia. ketika bencana alam datang pada waktu tertentu. outbound training. role play. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan akhirnya mampu meminimalisir jumlah korban dan terhindarnya sikap antipati dan apatis masyarakat yang lain terhadap kondisi sesamanya yang sedang mengalami musibah. tidak hanya mencangkup pemberian skill pada para sukarelawan yang telah bersedia. serta akses membuka ruas jalan tercepat menuju ke daerah tertimpa bencana. 2. Sehubungan dengan hal tersebut. guna mampu memberikan penanganan pertama bagi para korban.2. Sehingga.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto yang menjadi sorotan bersama adalah cara koordinasi para praktisi multi disiplin ilmu. Undang-undang Dasar 1945 pasal 29 dan pasal 31 . Akan tetapi juga harus memiliki keahlian dalam pemetaan ataupun persebaran luas bencana. games. secara horizontal ataupun secara vertikal dengan pemerintah. penanganan pertama dapat langsung dilakukan. materi-materi yang diberikan dalam pelatihan ini akan disesuaikan dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi. dan koordinasi antara para sukarelawan dapat terjalin dengan baik. diskusi. 1. materi yang diberikan dalam pelatihan ini berupa ceramah dan media pembelajaran. 5 . serta pemberian penugasan pada tiap waktu sesi makan dan sebelum tidur. Pada umumnya. serta kondisi lapangan dimana tempat pasca bencana terjadi. Maka. dialog interaktif. Padahal dalam berbagai hal. penduduk lokal ini lebih mampu untuk memprediksi daerah-daerah yang mengalami bencana dengan tingkat kerusakan yang tinggi. penulis mencoba menawarkan pelatihan yang diberikan. Dasar 1. serta mengabaikan potensi penduduk lokal tempat terjadinya bencana.

Minimal dalam satu kabupaten mengirimkan empat perwakilan sukarelawan. Undang-undang Nomor 39 Tahun 2003 tentang Hak Asasi Manusia . Hal ini dilakukan dengan pertimbangan pemberian informasi dari seseorang yang lebih dekat (bahasa. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara . Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 6. yang nantinya diwajibkan memberikan penyuluhan kepada para simpatisan yang lain. menjadi antipati dan apatis. dll) lebih mempermudah penyampaian materi. Nama Nama kegiatan adalah ”Pelatihan Tanggap Bencana Terpadu” disingkat "Pelatihan TANAPA" Tingkat Nasional dan Tingkat daerah. Pelatihan diberikan bagi para sukarelawan yang bersedia dan mempunyai waktu dalam mengikuti masa pelatihan. terlebih didukung perasaan. diderah tempatnya tinggal.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 3. 6 . bahwa diri seseorang sangatlah dibutuhkan kehadiran dan bantuannya bagi orang lain yang sedang mengalami bencana alam. 1. 5. Maka fokus pada pelatihan kali ini adalah: 1. suku. 2. 1. Fokus Pelatihan Berangkat dari keinginan Penulis untuk memformulasikan suatu program pelatihan yang nantinya mampu digunakan untuk mengantisipasi beralihnya rasa empati dan kebersamaan masyarakat yang tidak sedang dirundung bencana (volunter).3. Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2001 tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 111 Tahun 2001. Melainkan lebih semangat lagi dalam membantu sesamanya.4. 4.

Team Building Pemetaan persebaran luas bencana dan koordinasi bala bantuan yang ada. 7. serta mengeliminasi bibit-bibit sikap antipasti dan apatis para sukarelawan ataupun penyumbang.6. Keunikan pada program pelatihan tanggap bencana kali ini adalah lebih memfokuskan pada persebaran jumlah sukarelawan atau para simpatisan. yang menjadi antipati dan apatis. Keahlian dalam membuka ruas jalan sebagai akses masuknya bala bantuan. 4. Selain itu. 5. pelatihan kali ini. koordinasi bala bantuan. Dan nantinya mampu meringankan beban saudara kita yang sangat membutuhkan pertolongan. 1. diakibatkan pemetaan persebaran luas bencana. Tujuan Pelatihan 7 . bekerja secara tim dengan koordinasi yang terarah. Signifikansi dan Keunikan Pelatihan Pelatihan ini menjadi penting guna menanggapi fenomena semakin banyak beralihnya rasa empati dan kebersamaan masyarakat yang tidak sedang dirundung bencana (volunter). Memang telah banyak program pelatihan terkait dengan program tanggap bencana ini. dan kemampuan dalam memetakan persebaran luas bencana yang dapat dilakukan oleh para praktisi yang berada di daerah sekitar terjadinya bencana secara tepat dan akurat. 6. penulis berharap dukungan pemerintah pusat dalam menyelenggarakan pelatihan ini. Berkaitan dengan para sukarelawan. maupun penyelewangan yang terjadi dalam upaya pemberian bantuan.7. lebih menekankan pada kemampuan para simpatisan dalam beradaptasi.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 3. Kemampuan beradaptasi dan survive Dasar-dasar ataupun langkah utama dalam melakukan need assestment terhadap para korban. 1. serta partisipasi pemerintah daerah guna mengirimkan setidaknya empat perwakilan sukarelawan yang nantinya akan memberikan penyuluhan pada sukarelawan lainnya di daerah tempatnya tinggal.

dalam hal meminimalisir korban yang diakibatkan bencana alam. Para peserta memiliki keahlian dalam membuka ruas jalan sebagai akses masuknya bala bantuan.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto Penulis memformulasikan program ini. Para peserta yang telah mengikuti pelatihan mampu memberikan penyuluhan berkaitan dengan materi yang telah diperoleh selama proses pelatihan dilangsungkan. Para peserta mempunyai kemampuan beradaptasi dan survive terhadap lingkungan pasca bencana terjadi. 8 . maupun dengan pemerintahan. baik secara teoritis maupun praktis. 1. Maka penulis harus mampu memformulasikan program pelatihan yang berkaitan dengan beberapa hal yang telah ditetapkan penulis menjadi fokus kajian pelatihan. Para peserta yang berada di daerah sekitar terjadinya bencana. bertujuan untuk membantu proses berbenah dirinya Bangsa dan Negeri ini. sebagai berikut: 1. mampu memetakan persebaran luas bencana dan mengkoordinasi bala bantuan yang ada dengan para penyumbang (donatur). Para peserta mampu menguasai dan mengimplementasikan dasar-dasar ataupun langkah utama dalam melakukan need assestment terhadap para korban. 4. 1. Manfaat secara teoritis. Para peserta mampu bekerja dengan tim 6. Manfaat Pelatihan Dari hasil pelatihan ini. 3.8. antara lain: · Memberikan sumbangan kajian berbagai disiplin ilmu dalam membantu meringankan beban dan meminimalisir jatuhnya korban yang diakibatkan bencana alam. 5. · Memperkaya kajian psikologi sosial dalam proses pasca bencana alam dan saat memberikan bantuan kepada para korban. 2. diharapkan dapat memberi manfaat.

Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 2. terkoordinasi. yang mampu mensinergikan kecerdasan intelektual (IQ). 9 . · Para sukarelawan yang telah mengikuti pelatihan mampu memberikan penanganan bencana yang komprehensif. kecerdasan emosi (EI) dan kecerdasan spiritual (SI) dan kecerdasan fisik (PI). bermasyarakat serta bernegara. dapat dipercaya dan mentalitas yang bisa diandalkan dalam kehidupan berorganisasi. · Para sukarelawan memiliki kecerdasan hati (Heart Intellegence). · Adanya komitmen dan upaya yang sistematis. Manfaat secara praktis. dan efektif dari instansi / lembaga terkait tingkat nasional/daerah dalam upaya tanggap bencana. terarah. antara lain: · Tumbuhnya pada para sukarelawan sikap tanggungjawab.

Pengertian Pelatihan Sikula dalam Sumantri (2000: 2) mengartikan pelatihan sebagai: “proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan cara dan prosedur yang sistematis dan terorganisir. Pelatihan berkaitan dengan keahlian dan kemampuan pekerja dalam melaksanakan pekerjaan saat ini. hendaknya penyelenggaraannya mengikuti dasar-dasar umum pelatihan. menyebutkan sembilan dasar yang berlaku umum dalam 10 . Dengan demikian dapat simpulkan bahwa “pelatihan sebagai suatu kegiatan untuk meningkatkan kinerja saat ini dan kinerja mendatang” (Veithzal Rifai: 2004: 226).1. sehingga mampu meningkatkan kompetensi individu untuk menghadapi tugasnya di dalam organisasi sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Pelatihan memiliki orientasi saat ini dan membantu pegawai untuk mencapai keahlian dan kemampuan tertentu agar berhasil melaksanakan pekerjaan”.1. Dasar Pelatihan Dalam penyelenggaraan pelatihan. 2.1. Menurut Dale Yoder dalam bukunya Personal Principles and Policies. Veithzal Rivai (2004: 226) menegaskan bahwa “pelatihan adalah proses sistematis mengubah tingkah laku pekerja untuk mencapai tujuan organisasi. Para peserta pelatihan akan mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang sifatnya praktis untuk tujuan tertentu”. sikap dan keterampilan. Pengertian-pengertian di atas mengarahkan kepada penulis untuk menyimpulkan bahwa yang dimaksud pelatihan dalam hal ini adalah proses pendidikan yang di dalamnya ada proses pembelajaran dilaksanakan dalam jangka pendek. agar dapat bermanfaat bagi peserta dan dapat mencapai tujuan secara optimal.2.1. Pelatihan 2. bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.

dipahami dan diterapkan. pengorganisasian. 1983: 97). amanat hendaknya mudah diterima. (2) relation to job analysis. (7) trainer’s of training (8) training method’s dan (9) principles of learning (1962:235). Manajemen pelatihan secara konsep bisa diartikan “Proses perencanaan. (3) motivation (4) active participation. tepat menuju tujuan pada waktunya. Dalam pemilihan metode juga dapat mempertimbangkan beberapa faktor. Dalam konteks yang lain. (5) selection of trainees.3. yaitu: sesuai dengan keadaan dan jumlah sasaran. (6). Manajemen Pelatihan Manajemen pelatihan memiliki dimensi tentang bagaimana hal pengelolaan pelatihan.dicapai dalam proses penyampaian pesan atau bahan belajar. karakteristik metode yang akan digunakan dan sumber atau fasilitas yang tersedia untuk menunjang penggunaan metode tertentu yang hendak kita pilih (Direktorat Dikmas. Oleh karena itu daur Managing training dapat digambarkan sebagai berikut: 11 . Adapun demikian terdapat lima persyaratan minimal yang perlu diperhatikan pelatih dalam memilih metode pelatihan. keadaan warga belajar yang akan menerima pesan. dan biaya ringan (Depdikbud. Pelatihan yang berhasil adalah pelatihan yang menerapkan dasar-dasar pelatihan di atas dalam formulasi pelatihan yang akan diberikan pada peserta pelatihan. cukup dalam jumlah dan mutu materi. 1985 : 18).1. manajemen pelatihan atau pengelolaan pelatihan identik dengan manajemen proyek atau pada istilah lain sama dengan mengelola proyek. penggerakkan dan pengevaluasian terhadap kegiatan pelatihan dengan memanfaatkan aspek-aspek pelatihan untuk mencapai tujuan pelatihan secara efektif dan efisien”. Selection of trainers.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto kegiatan pelatihan yaitu (1) Individual differences. sebagai berikut: tujuan instruksional khusus yang hendak. Pengelolaan ini dilakukan agar pelatihan bisa berjalan dengan baik dan berhasil secara efektif dan efisien. 2.

tahap pelaksanaan pelatihan dan tahap evaluasi. Atau dengan istilah lain ada fase 12 . Secara umum ada tiga tahap pada pelatihan yaitu tahap penilaian kebutuhan. Kemudian diakhiri dengan evaluasi yaitu tahap untuk memberikan penilaian dan analisa pengembangan. Atau dengan istilah lain ada fase perencanaan pelatihan. kemudian dilanjutkan dengan desain program pelatihan. yaitu langkah mendesain program-program pelatihan. fase pelaksanaan pelatihan dan fase pasca pelatihan. Pada setiap tahapan tersebut akan ada proses umpan balik. yaitu proses pelaksanaan dan Penerapan programprogram pelatihan. yaitu analisis kebutuhan (need analysis) terhadap hal-hal yang akan menjadi objek pelatihan. Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan dan penerapan. tahap pelaksanaan pelatihan dan tahap evaluasi.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto ANALISIS EVALUASI UMPAN BALIK & REVISI DESAIN IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN Daur Managing Training Gambar di atas menjelaskan bahwa proses manajemen pelatihan dimulai dengan analisis. Perencanaan pelatihan pada hakekatnya adalah proses menyusun rancangan program pelatihan. yaitu proses menyiapkan berbagai hal mengenai persiapan pelatihan. Secara umum menurut Faustino Cardoso Gomes (2000:204) mengemukakan ada tiga tahap pada pelatihan yaitu tahap penilaian kebutuhan. yang bertujuan untuk mengontrol efektivitas pelaksanaan dan proses pelatihan.

Dalam penilaian kebutuhan dapat digunakan tiga tingkat analisis yaitu analisis pada tingkat organisasi. pengalihan. Langkah penilaian kebutuhan ini merupakan landasan yang sangat menentukan pada langkah-langkah berikutnya. Isi program ini berisi keahlian (keterampilan). analisis tugas maupun survey kebutuhan (need survey). reputasi. (6) Melaksanakan pelatihan. (3) Menyusun kriteria. Prinsip-prinsip belajar (learning principles) yang efektif adalah yang memiliki kesesuaian antara metode dengan gaya belajar peserta pelatihan dan tipetipe pekerjaan. (4) Pre tes terhadap para peserta (5) Memilih teknik pelatihan dan prinsip-prinsip proses belajar. Isi program (program content) merupakan perwujudan dari hasil penilaian kebutuhan dan materi atau bahan guna mencapai tujuan pelatihan. Langkah-langkah yang umum digunakan dalam program pelatihan. pengetahuan dan sikap yang merupakan pengalaman belajar pada pelatihan yang diharapkan dapat menciptakan perubahan tingkah laku. Penilaian kebutuhan (need assessment) pelatihan merupakan langkah yang paling penting dalam pengembangan program pelatihan. dan umpan balik (Sondang P. analisis kemampuan. (2) Mengidentifikasi sasaran-sasaran pelatihan. Pengalaman belajar dan atau materi pada pelatihan harus relevan dengan kebutuhan peserta maupun lembaga tempat kerja. 1994 :190). 13 . seperti dikemukakan oleh Simamora (1997: 360). yang menyebutkan delapan langkah pelatihan. analisis pada tingkat program atau operasi dan analisis pada tingkat individu. Pada dasarnya prinsip belajar yang layak dipertimbangkan untuk diterapkan berkisar lima hal yaitu partisipasi. yaitu: (1) Tahap penilaian kebutuhan dan sumber daya untuk pelatihan. (8) Membandingkan hasil pelatihan terhadap kriteria yang telah ditentukan. Sedangkan teknik penilaian kebutuhan dapat digunakan analisis kinerja. (7) Memantau pelatihan. fase pelaksanaan pelatihan dan fase pasca pelatihan.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto perencanaan pelatihan. relevansi. yang membutuhkan. Siagian.

desired program content. learning principles. Semuanya tergantung pada situasi kondisi kebutuhan.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto Pelaksanaan program (actual program) pelatihan pada prinsipnya sangat situasional sifatnya. Seperti dikemukakan William B. Artinya tidak ada satu teknik pelatihan yang paling baik. Metode pelatihan yang tepat adalah pelatihan yang dilaksanakan dengan mengkombinasikan metode indoor dan outdoor activity.1. Pelaksanaan program pelatihan dikatakan berhasil apabila dalam diri peserta pelatihan terjadi suatu proses transformasi pengalaman belajar pada bidang pekerjaan dengan materi yang telah diterimanya.4 Mekanisme Pelatihan Mekanisme pelatihan di sini diartikan sebagai cara atau metode yang digunakan dalam suatu kegiatan pelatihan. Dalam memilih metode dan teknik suatu pelatihan ditentukan oleh banyak hal. Siagian menegaskan proses transformasi dinyatakan berlangsung dengan baik apabila terjadi paling sedikit dua hal. metode dan teknik tertentu dalam pelaksanaan proses pelatihan. 2. prinsip-prinsip belajar. tidak ada satupun metode dan teknik pelatihan yang paling baik. Artinya dengan penekanan pada perhitungan kebutuhan organisasi dan peserta pelatihan. kemampuan dan preference peserta serta kemampuan dan preference pelatih. and trainer preferences and capabilities. isi program yang diinginkan. yaitu: peningkatan kemampuan dalam melaksanakan tugas dan perubahan perilaku yang tercermin pada sikap. Werther (1989 : 290) sebagai berikut : that is no simple technique is always best. fasilitas yang layak. sehingga tercermin pada penggunaan pendekatan. Dan langkah terakhir dari pengembangan program pelatihan adalah evaluasi (evaluation) pelatihan. serta disiplin dan etos kerja (1994: 202). metode yang paling baik tergantung pada efektivitas biaya. the best method depends on : cost effectiveness. Dalam penyelenggaraan pelatihan. trainee preference and capabilities. dengan dikemas berdasarkan prinsip: 14 . Sondang P. appropriateness of the facilities. penggunaan prinsip-prinsip belajar dapat berbeda intensitasnya.

Disini narasumber bukan sekedar bertindak sebagai penyaji materi. Yakni proses belajar bagi orang dewasa. 3. sehingga baru diperoleh informasi-informasi yang bersifat umum. Penerapan Hasil Pelatihan Berdasarkan tinjauan teoritis. mendengarkan musik. simulasi. 2. Dengan metode ini. dan kinestetik melalui games. Andragogi. pembahasan tentang pelatihan dapat dilihat dari berbagai sudut. melainkan sebagai fasilitator yang atraktif dan komunikatif. 15 . Menjelaskan mendramakan. visual. tujuan. outbound. efektivitas dan manajemen pelatihan. asas. tantangan. Yakni pendekatan penemuan. Informasi ini merupakan dasar rujukan dan pijakan dalam membahas dan menganalisis permasalahan pelatihan lebih jelas. menganalisa dan menyimpulkan. Discovery Approach. menonton film. mengamati. tetapi justru teori-teori tersebut muncul secara tidak disadari.1. 5. dsb. 2. pelatihan dilihat dari pengertian. peserta akan mendapatkan pengetahuan dan motivasi serta langsung dihantarkan pada aplikasi dan hikmahnya dalam aktivitas pekerjaan.5. Pembahasan tersebut masih dalam tataran teoritis. Pesertalah yang akan menemukan sendiri potensi dan kesimpulannya. peserta tidak dijejali dengan teori-teori yang rumit.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 1. Study Lapangan Role Play suatu permasalahan dengan mendemontrasikan atau Peserta akan diterjunkan langsung kelapangan untuk mempraktekan skill yang telah didapatkan selama pelatihan. Peserta mengalami sendiri proses belajar yang melibatkan auditory. Walaupun bersifat entertainment. 4. Experiental learning.

Tujuan Pelatihan Menurut Moekijat (1991:55) tujuan umum dari pada pelatihan adalah: a) Untuk mengembangkan keahlian sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif. menunjukkan bahwa kriteria yang efektif dalam mengevaluasi pelatihan. Dimensi-dimensi tersebut adalah: dimensi pengetahuan. perubahan perilaku akibat pelatihan dan hasil atau perbaikan yang dapat diukur. c) Untuk mengembangkan sikap. sehingga menimbulkan kerja sama dengan teman-teman pegawai dan pimpinan. b) Untuk mengembangkan pengetahuan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional. 2. Selanjutnya kriteria efektivitas evaluasi di atas dijadikan dimensi untuk mengukur tingkat Penerapan hasil pelatihan pada suatu lembaga. Kriteria tersebut dalam konteks yang lebih luas dapat dikembangkan untuk mengetahui dilaksanakan. dengan memperhatikan kriteria efektivitas evaluasi maka dalam penelitian ini akan diperluas pada Penerapan pelatihan. Beberapa kriteria yang digunakan dalam evaluasi pelatihan akan berfokus pada outcome (hasil akhir). pengetahuan atau proses belajar mengajar. Evaluasi ini akan memperlihatkan tingkat keberhasilan atau kegagalan suatu program.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto Apabila ditinjau dari segi evaluasinya pelatihan akan memiliki keberartian yang lebih mendalam. yaitu: dampak keberhasilan suatu program pelatihan yang sudah 16 . Pada umumnya disepakati paling tidak terdapat tiga bidang kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan proses manajemen Hersey dan Blanchart (1992: 5). Veitzal Rifai (2004) dan Henry Simamora (2004). Merujuk pada pendapat Veitzal dan Henry Simamora. dimensi sikap.6. yaitu: reaksi dari peserta. dimensi perilaku dan dimensi hasil.1.

menghilangkan harta benda dan jiwa manusia. gangguan ekologis. kerugian kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak luar. Kemampuan konseptual (conceptual skill) yaitu: kemampuan untuk memahami kompleksitas organisasi dan penyesuaian bidang gerak unit kerja masing-masing ke dalam bidang operasi secara menyeluruh. teknik.Bencana Alam 222222 Definisi Bencana Alam Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia definisi bencana adalah peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan ekologi. metode. merusak struktur sosial masyarakat.2. bencana ini bisa merubah pola kehidupan dari kondisi kehidupan masyarakat yang normal menjadi rusak. pendidikan dan training. c. dan peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas tertentu yang diperoleh dari pengalaman. 17 . Kemampuan ini memungkinkan seseorang bertindak selaras dengan tujuan organisasi secara menyeluruh dari pada hanya atas dasar obsesi ataupun tujuan kebutuhan keluarga sendiri. kemampuan dalam bekerja dengan melalui orang lain. Kemampuan sosial (human atau social skill). b. 2. yang mencakup pemahaman tentang motivasi dan penerapan kepemimpinan yang efektif. Bencana adalah situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto a. Kemampuan teknis (technical and skill). hilangnya nyawa manusia atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena. serta menimbulkan lonjakan kebutuhan dasar (BAKORNAS PBP). Sedangkan definisi bencana (disaster) menurut WHO adalah setiap kejadian yang menyebabkan kerusakan. Tergantung pada cakupannya. kemampuan menggunakan pengetahuan.

bahkan sampai kematian. seperti letusan gunung. misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. dan lingkungannya. korbannya berupa harta benda dan nyawa. Konsekuensinya. yang mengancam bangunan individual. Penderitanya (pada tahap pertama) justru alam. Derita yang dialami oleh alam kemudian. tanah longsor) dan aktivitas manusia. yang menyebabkan kerugian-kerugian besar terhadap jiwa (manusia). Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri. Karena ketidakberdayaan manusia. Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki 18 . pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. (Lokakarya Kepedulian Terhadap Kebencanaan Geologi dan Lingkungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Goelogi ITB. sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia. yaitu ‘bencana yang disebabkan oleh manusia’. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. dialami pula oleh manusia. gempa bumi. Ada definisi tambahan untuk bencana alam. harta-benda. aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia. pada gilirannya.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto Bencana adalah gangguan serius dari berfungsinya satu masyarakat. pengertian bencana alam tidak selalu seperti itu. 2004) Definisi konvensional dari frasa bencana alam ialah ‘bencana yang ditimbulkan oleh alam’. mulai dari kebakaran. Dengan demikian. Penderitanya manusia. sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural. yang melebihi kemampuan dari masyarakat yang tertimpa bencana untuk menanggulanginya dengan hanya menggunakan sumber-sumber daya masyarakat itu sendiri. Bencana alam adalah konsekwensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". korbannya berupa kerusakan ekosistem alam. Sekarang. akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat.

sabotase. ganguan komunikasi. 2. Bencana alam dimana faktor geologi sangat dominan biasa disebut sebagai bencana alam geologi. ledakan. 2. Bencana Lokal 19 . yaitu: 1.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). gangguan transportasi dan lainnya. 222222 Jenis Bencana Klasifikasi bencana biasanya didasarkan atas: 1. kebakaran. Sedangkan berdasarkan cakupan wilayah. Bencana ulah manusia (man made disaster) yaitu kejadian-kejadian karena perbuatan manusia seperti tabrakan pesawat udara atau kendaraan. mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Bencana alam (natural disaster) yaitu kejadian-kejadian alami seperti kejadian-kejadian alami seperti banjir. gunung meletus. Letusan gunung berapi (vulcano) 3. diantaranya: 1. Penurunan tanah (land subsidence) Usep Solehudin (2005) mengelompokkan bencana menjadi dua jenis. wabah. Gempa bumi (earthquake) dan tsunami 2. badai. Longsoran (landslide) 4. bencana terdiri dari: 1. genangan. Penyebab kejadian bencana (secara alami atau karena ulah manusia). Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup. serangga dan lainnya. huru-hara. gangguan listrik. Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi. gempa bumi. kekeringan. Cepat-lambatnya kejadian bencana (perlahan-lahan atau tiba-tiba).

1. Seharusnya pada fase inilah segala persiapan dilakukan baik oleh pemerintah. Manajemen Bencana Sesuai dengan pemaparan terkait dengan bencana di atas. Bencana Regional Jenis bencana ini memberikan dampak atau pengaruh pada area geografis yang cukup luas. Informasi didapat dari badan satelit dan meteorologi cuaca. banjir. depresi hingga penerimaan.3. untuk lebih jelasnya digambarkan sebagai berikut: 20 . Adapun demikian. 222222 Fase-fase Bencana Menurut Barbara Santamaria (1995). Fase postimpact adalah saat dimulainya perbaikan dan penyembuhan dari fase darurat. Secara umum dalam fase postimpact ini para korban akan mengalami tahap respon psikologis mulai penolakan. kebocoran bahan kimia dan lainnya. terorisme.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto Bencana ini biasanya memberikan dampak pada wilayah sekitarnya yang berdekatan. fase impact dan fase postimpact. Fase impact ini terus berlanjut hingga terjadi kerusakan dan bantuanbantuan darurat dilakukan. yaitu fase preimpact. dan warga masyarakat. dan biasanya disebabkan oleh faktor alam. letusan gunung. 2. ada 3 fase dalam terjadinya suatu bencana. juga tahap dimana masyarakat mulai berusaha kembali pada fungsi komunitas normal. tawar-menawar. dan berkelanjutan terkait dengan penanggulangan bencana. 3. lembaga. tornado dan lainnya. tahap awal dari bencana. 2. Bencana terjadi pada sebuah gedung atau bangunan-bangunan disekitarnya. ledakan. maka dibutuhkan suatu manajemen yang tepat. Biasanya adalah karena akibat faktor manusia seperti kebakaran. terpadu. Inilah saat-saat dimana manusia sekuat tenaga mencoba untuk bertahan hidup (survive). seperti badai. 2. Fase preimpact merupakan warning phase. Fase impact merupakan fase terjadinya klimaks dari bencana. dinamis. marah.

BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN 21 .Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto Mitigasi Kesiapan Bencana Bencana Terjadi Penyelamatan dan Bencana Rekonstruksi dan Penataan Kembali Rehabilitasi Alur Manajemen Bencana Keterangan: 1. serta sosialisasi kepada masyarakat. Kesiapan Bencana adalah upaya memprediksi ataupun pemantauan fenomena alam yang terjadi. berkaitan dengan sistem evakuasi. Mitigasi adalah proses pengumpulan dan analisa data bencana sebagai upaya untuk meminimalisir kerentanan dan bahaya terhadap negara. 2. guna persiapan tanda bahaya.

2. Dokter. Pemuda berusia 18-40 tahun 2.Sasaran Pelatihan 3. Tim Instruktur 22 .Narasumber / Pendamping / Instruktur / Fasilitator 3. b. 3. Psikolog.3. IOM. Bersedia meluangkan waktu dan terjun di lapangan saat dibutuhkan. 3. Memiliki pengalaman di bidang sosial 7. Pejabat Pemerintahan: BNPP.2. Pembicara tamu lainnya: IFRC. c. 3. Ditunjuk oleh Pemerintah Daerah sebanyak empat orang.2. 6. dll. 3.1. Akademisi / Praktisi: PMI. BAKOSURTANAL.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 3.2.2. yang nantinya akan menjadi fasilitator/pendamping pelatihan tanggap bencana terpadu di daerah/wilayah masing-masing.1. UNEP.1. Pendidikan minimal SLTA atau sederajat 3. BASARNAS.1. Tidak sedang terlibat dengan kriminalitas 5. Sehat jasmani rohani dan bebas dari NAPZA 4. Persyaratan Peserta Peserta Pelatihan Tanggap Bencana Terpadu tingkat nasional dimaksudkan sebagai Fasilitator TANAPA di daerah/wilayah masing-masing dengan jumlah peserta sebanyak empat orang yang merupakan perwakilan dari tiap Kabupaten berdasarkan kriteria sebagai berikut: 1. Unsur Peserta Pelatihan Tanggap Bencana Terpadu tingkat nasional diikuti oleh perwakilan sukarelawan ataupun praktisi dari tiap Kabupaten di seluruh Indonesia. Narasumber : a. Pendamping Pejabat Dinas Bidang Penanggulangan Bencana Daerah.2.1.

IOM. Discovery Approach. Peserta mengalami sendiri proses belajar yang melibatkan auditory. dan kinestetik melalui games.3. Narasumber bukan sekedar bertindak sebagai penyaji materi. peserta tidak dijejali dengan teori-teori yang rumit.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto PMI dan staff ahli dibidang penganggulangan bencana: IFRC. tetapi justru teori-teori tersebut muncul secara tidak disadari. BAKOSURTANAL. simulasi.Waktu dan Tempat Pelatihan Tanggap Bencana Terpadu tingkat nasional dilaksanakan di Jakarta selama tujuh hari dan akan dilaksanakan di seluruh Kabupaten/Kotamadya secara bertahap. Walaupun bersifat entertainment. 3. UNEP. 3. dengan dikemas berdasarkan prinsip: 1. outbound. Dengan metode ini. dan sebagainya. Menjelaskan mendramakan. visual. 3. Role Play suatu permasalahan dengan mendemontrasikan atau 23 .4. Pesertalah yang akan menemukan sendiri potensi dan kesimpulannya. sesuai dengan jadwal yang terlampir. melainkan sebagai fasilitator yang atraktif dan komunikatif. Experiental learning. menonton film. Fasilitator : Tim kreator Pelatihan tanggap bencana. Yakni proses belajar bagi orang dewasa.Metode Pembelajaran Pelatihan Tanggap Bencana Terpadu tingkat nasional ini akan dilaksanakan dengan mengkombinasikan metode indoor dan outdoor activity. BNPP.4. mendengarkan musik. 2. 4. tantangan. 3. Yakni pendekatan penemuan. peserta akan mendapatkan pengetahuan dan motivasi serta langsung dihantarkan pada aplikasi dan hikmahnya dalam aktivitas pekerjaan.2. Andragogi.

Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 5.1.2.3. Sarana Belajar Sarana belajar dalam ruang (indoor) yang digunakan antara lain : 1. Lembar Personality Style Assesment 4. Study Lapangan Peserta akan diterjunkan langsung kelapangan untuk mempraktekan skill yang telah didapatkan selama pelatihan. empati dan persepsi) Effective Communication Skill Personality Building Exercise 3. physical) 3. Screen ) 7. Konsep Pemahaman Bencana dengan Konteksnya 1. Character Building: a. Pentagon Capital (human. Makalah / buku panduan / Modul 2.5. menganalisa dan menyimpulkan. 3. Pengembangan Tim 1. social. b. Pengembangan Personal 1. natural. Personality (motivasi.5. Lembar evaluasi 6. c.6. Cara mengumpulkan data dan menganalisis data bencana (mitigasi) 2. mengamati. Sound System ( 1500 watt ) Perlengakapan peserta terdiri dari: 24 .5. Heart Intelligence Training 2. Lembar kasus 3. Study Lapangan 3. Team Building (Outbound Experiential Learning) 2. Diksusi & Workshop 3.Materi 3. Formulir / blanko / angket 5. Pemetaan kapasitas lokal 4. LCD. financial. Kondisi korban bencana yang dapat diselamatkan 3. Multimedia ( Laptop.5.

Sertifikat peserta BAB IV PENUTUP 4.1 Evaluasi 25 . Kaos Olahraga 2. Tas 3. Seminar Kit 4.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 1.

Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto Untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat keberhasilan pelatihan. Post Test Yaitu tes akhir yang dilakukan untuk mengetahui tingkat simulasi dan observasi. Penyelenggara berkewajiban menyusun laporan pelaksanaan kegiatan untuk selanjutnya diserahkan kepada penanggungjawab program. Evaluasi tingkat keterampilan dan partisipasi peserta melalui dan praktek Yaitu tes yang dilakukan untuk mengetahui tingkat keterampilan 3.Tindak Lanjut Program 26 . Pre Test Yaitu tes awal yang dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta terhadap materi-materi yang akan disampaikan. Evaluasi Penyelenggaraan Yaitu penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan kegiatan. Berupa partisipasi peserta dalam diskusi. Berupa angket. Persiapan b. serta kerja kelompok.3. Kendala yang dihadapi e. Berupa observasi. 4.2. 2. Sistematika pelaporan adalah sebagai berikut: a. Berupa angket. Hasil d. 4. 4.Pelaporan Setelah kegiatan dilaksanakan. Pelaksanaan c. perlu diadakan evaluasi sebagai berikut: 1. Rekomendasi penyempurnaan pelaksanaan pengetahuan peserta terhadap materi-materi pelatihan yang sudah diberikan.

3.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 1. Terlaksananya pembinaan lanjutan bagi daerah/kabupaten tempat peserta tinggal 2. 27 . Evaluasi perkembangan pelatihan yang diadakan di daerah tempat peserta pelatihan tinggal oleh Tim Pelatihan Tanggap Bencana Terpadu Tingkat Nasional. Pembinaan berkesinambungan kepada para sukarelawan.

h. j. Peserta diwajibkan melaksanakan ibadah sesuai dengan kewajiban agama dan kepercayaannya masing-masing. Peserta tidak dibenarkan menerima tamu kecuali dalam hal-hal yang sangat mendesak. k. apabila terjadi kehilangan menjadi tanggung jawab peserta.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto TATA TERTIB 1. dan kelengkapan lainnya. Wajib mengikuti semua materi pelatihan sesuai jadwal. peraturan. Umum a. Menempati kamar sesuai ketentuan yang telah ditentukan oleh penyelenggara.30 WIB. dan hadir 10 menit. Tata Cara Berpakaian: a. Para peserta wajib mengamankan barang bawaannya masing-masing. dan kebijakan yang telah ditetapkan akan diberikan sanksi berupa pemulangan ke tempat asal peserta dengan catatan biaya pemulangan ditanggung oleh peserta. f. Peserta tidak diperkenankan merokok dan mengaktifkan HP di dalam kelas pada saat sesi / materi berlangsung. 28 . i. 2. pada jam istirahat dan di tempat yang telah ditentukan. Peserta yang tidak memenuhi tata tertib. tempat tidur. Peserta turut memelihara kebersihan dan ketertiban. Selama pelatihan berlangsung peserta diwajibkan berpakaian sesuai dengan yang telah ditentukan. c. Peserta tidak diijinkan keluar / meninggalkan arena pelatihan kecuali dikarenakan sakit dan atas ijin penyelenggara.00 WIB dan bangun pagi pukul 04. Peserta diwajibkan istirahat/ tidur pada jam 23. e. sebelum kegiatan berlangsung. d. Setiap peserta mendaftarkan diri kepada Penyelenggara setelah tiba di tempat kegiatan dengan menyerahkan kelengkapan administrasi dan mengisi biodata. b. Merapikan kamar. ( tidak di perkenankan di dalam kamar ) g. l.

atau kegiatan lapangan peserta memakai seragam lapangan yang telah diberikan penyelenggara. Dalam kegiatan upacara pembukaan / penutupan dan kegiatan lapangan peserta memakai : . Dalam kegiatan pelatihan dalam kelas peserta memakai pakaian resmi.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto b. serta perangkat kelompok dirumuskan secara bersama.Seragam yang diberikan Penyelenggara . fungsi dan wewenang ketua. tidak diperkenankan memakai kaos / T-Shirt dan bersandal. peserta yang terlambat dianggap tidak hadir dalam sesi materi tersebut. Hal-hal yang belum diatur dalam tata tertib ini. akan diatur lebih lanjut sesuai dengan kebutuhannya. Tata tertib selama pelatihan : a. d. Tugas. b.Celana / rok berwarna hitam . 29 . outbond.Sabuk berwarna hitam . 3. Dalam kegiatan olahraga. Peserta memakai tanda pengenal / name tag yang telah disediakan Penyelenggara. f. Peserta wajib mengisi daftar hadir yang telah disiapkan sebelum sesi / materi dimulai.Topi dari penyelenggara c. c.Sepatu dan kaos kaki . Mentaati jadwal acara yang telah ditentukan. 4. e. d. Selama kegiatan pelatihan para peserta membentuk kepengurusan kelompok yang terdiri dari ketua beserta perangkatnya. Apabila narasumber / pemateri sudah masuk memberikan materi. Selama kegiatan pelatihan berlangsung di dalam kelas setiap peserta dilarang meninggalkan ruangan kecuali seijin Instruktur / Penyelenggara dengan frekuensi yang terbatas.

alat tulis.000 8.000 23.000. 11 x 7 x 300.. buku pelatihan.000 21. sertificat.000 825.000 4. 7.000 II Jadwal Acara Hari I 30 . transportasi dan akomodasi bagi instruktur.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto LAMPIRAN I Rincian Anggaran Anggaran pelatihan direncanakan sebesar Rp 224.325. kaos olahraga.400. tas.325.100. 3. 2. 5.000. 6.000 63.000 105.000 11 x 75.000 6 x 7 x 500.(Dua ratus dua puluh empat juta tiga ratus dua puluh lima ribu rupiah).000 3.000 224.000. uang lelah panitia. sewa penginapan. 8. kaos olahraga. Uang lelah tenaga instruktur Uang lelah tenaga panitia Materi pelatihan (hand out. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut: 1.000.000 180 x 350.000. penggandaan laporan. alat tulis. uang lelah instruktur. Biaya tersebut digunakan untuk biaya makalah/modul. dan sertifikat) Penginapan instruktur dan panitia Akomodasi Penggandaan laporan Perlengkapan pelatihan Jumlah 5 x 7 x 3000. tas.

00-09.00-17. 7.00-13.30 2.00-18. 6.00-12.00 15.00 Acara Presensi Pembukaan Pre-Test Sharing Experience ISHOMA Mitigasi Mitigasi ISHOMA Pembagian Kelompok Perkenalan dan penugasan kelompok Penanggung Jawab Panitia dan Pemerintah daerah Panitia Panitia Panitia Panitia BNPP Panitia dan IFRC Panitia Panitia Panitia Hari II No. IOM dan BNPP Panitia Panitia.00 Hari III Pukul 06.00-13.00 15.00-17. 3.00-17. 5.30-07.00 13.30-07. UNEP dan IFRC Panitia Panitia.00 17. 9. IOM dan BNPP Panitia Panitia.30 18. UNEP dan IFRC Panitia dan IOM .00 15.00 13. 8.30-19. 07.00-13. 3. 9. 1. 8. 5.30 18. IOM dan BNPP Panitia.00-12. 2.00 20.00 08. 6.00-23.00-15.00-12. 5.00-10.30 18. 2. 4.00 Acara Presensi dan Pengumpulan tugas kelompok Review Pentagon Capital Pemetaan Kapasitas Lokal Studi kasus ISHOMA Studi Kasus Penugasan Kelompok ISHOMA Pengumpulan dan Pembahasan Tugas 31 Penanggung Jawab Panitia Panitia dan UNEP IOM dan BNPP Panitia. Pukul 06.00 19. 9.30-20. 4.00 12.00 12.30-07. Pukul 1. 3. 10. 10. 1.00 09. 7. 6.00-15.00-18. 8. IOM dan BNPP Acara Presensi dan Pengumpulan tugas kelompok Review Mitigasi Pentagon Capital Studi kasus ISHOMA Studi Kasus Penugasan Kelompok ISHOMA Pengumpulan dan Pembahasan Tugas Kelompok Penugasan kelompok Penanggung Jawab Panitia Panitia dan IFRC UNEP Panitia dan UNEP Panitia IFRC Panitia.00 17.00 12. 4.30-20.00 10.00 10.30-08.30 07.00-23.30-08. 7.00-10.30 07.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto No. No.00 08.00-18.30-08.00 08. 06.00 17.00 13.00-15.

dokter. 4.30-07. dokter. BNPP. PMI Panitia.00-18. 7. PMI Panitia. IOM dan BNPP Panitia. dokter.30 07.00 10. dokter. 2. PMI Hari IV No.00 Kelompok Pembubaran. dokter. IFRC. UNEP PMI. PMI 32 . 3. Psikolog. dan pembentukan kelompok baru. PMI Panitia Panitia. 8.30-08. PMI Panitia.00-15. dokter. 10.00 08.00-23. Psikolog. Psikolog. dokter.00-12. 9.00 Acara Presensi dan Pengumpulan tugas kelompok Review kondisi korban yang dapat diselamatkan dan penanganan pertama pasca 3. Psikolog. BASARNAS Penanggung Jawab Panitia Panitia.00-17. Pukul 06.30-08. Pukul 06. Psikolog.30 07.00-13.00 Acara Presensi dan Pengumpulan tugas kelompok Review pemetaan kapasitas Lokal Kondisi korban yang dapat diselamatkan Penanganan pertama pasca bencana ISHOMA Studi Kasus Simulasi ISHOMA Simulasi Penugasan kelompok Penanggung Jawab Panitia Panitia. 4.00 15.00 20. Psikolog.30-07. 20.00 17. 08.00 13. 1. 1.30 18.30-20.00-10. dokter. 2.00 10. PMI Panitia Panitia.00-23. 5.00 bencana Halangan dan tantangan lapangan Halangan dan tantangan lapangan Panitia.00-12. PMI Hari V No. IOM. Psikolog.00 12.00-10. Psikolog. serta penugasan kelompok Panitia. 6.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 10.

00-15.30 3. IFRC.30 07.30 2. 1.00 22. 3.Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 5.00 15. 4.00-13.00-17.00 20. 2.00-18.30-07. 08.00-23. 12. 11.00 12.00 12.00-23. BASARNAS Panitia Hari VI No.30-21. BNPP.00 13. 5.00 15. IOM.30-20. UNEP Panitia PMI.00 10.00 10. BASARNAS PMI.30-10. IFRC.00-12. 6.30-08. 6. 10.00-15. 4.30-10.00 21.00-15. 8. BNPP. Pukul 1.00-12.00-13. BASARNAS Panitia PMI. IOM.00-18. BNPP.00-22. serta penugasan kelompok Panitia Panitia.00-17. Pukul 06. 7. 8. 5.00 15.30-07.00 17.00 Acara Presensi Simulasi Skill Berkomunikasi ISHOMA Sharing Experience Penutup Penanggung Jawab Panitia Panitia Panitia dan Psikolog Panitia Panitia Panitia 33 . 10.00-13.00 17. 7.30 18. BNPP. 9.00 ISHOMA Studi Kasus Simulasi ISHOMA Studi kasus Simulasi Pembubaran kelompok dan pembentukan kelompok baru.00 Acara Presensi Pengumpulan tugas kelompok Pembahasan Tugas kelompok Studi Kasus ISHOMA Studi Kasus Simulasi ISHOMA Sharing Experience Post-Test Penanggung Jawab Panitia Panitia Panitia PMI. BASARNAS PMI. 07.00 13. 06.00 13. BNPP. 9. 6.30 18. BASARNAS Panitia Panitia Panitia Hari VII No.00-17. UNEP Panitia.

Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto III 34 .

Modul Pelatihan Tanggap Bencana Johanes Catur Wahyu Putranto 35 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->