REKONSTRUKSI TEORI KEMASLAHATAN

DALAM WACANA PEMBARUAN HUKUM ISLAM

Telaah Kritis Pemikiran Najm Din Thufi Oleh : DR. EFRINALDI, M.Ag.
(Dosen Fakultas Syari'ah IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, Indonesia) Alamat Korespondensi: Jln. Gelugur Blok L No. 8 Wisma Indah II Lapai, Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Phone: +628158917774 / +6281266616174 / (+62751) 447891. E-mail: Efrinaldi_74@yahoo.co.id.

A. PENDAHULUAN Dewasa ini masyarakat tengah mengalami perubahan sosial yang sangat cepat. Suatu perubahan masyarakat yang ber-mega trend, ber-mega mesin, atau yang disebut oleh para ahli sebagai perubahan kinetik (kinetic image). Hubungan interaksi sosial sudah semakin kompleks. Hubungan itu cenderung berbentuk pola gabungan info, otak, dan mesin. Hubungan yang kian kompleks itu merupakan refleksi dari dinamika perubahan sosial (social change), sains dan teknologi. Selaras dengan hal itu, permasalahan kehidupan manusia semakin cepat berkembang dan makin kompleks. Permasalahan itu makin dihadapi umat Islam dan menuntut adanya jawaban penyelesaian (way out) dari segi hukum. Semua persoalan tersebut tidak akan dapat dihadapi kalau hanya semata mengandalkan pendekatan dengan cara atau metode konvensional yang digunakan para fuqaha’ terdahulu. Padahal tujuan syara’ secara substansial ialah terciptanya kemaslahatan umum (public interest) dalam kehidupan manusia. Kemaslahatan umum itu bersifat dinamis dan fleksibel yang seiring dengan lajunya perkembangan zaman. Nilai-nilai dan tujuan syara’ dengan pertimbangan kemaslahatan umum menjadi solusi alternatif terhadap kompleksitas permasalahan kehidupan manusia. Kemaslahatan umum dalam perspektif hukum Islam adalah sesuatu yang prinsip. Prinsip maslahat sebagai dasar orientasi perkembangan hukum Islam telah disepakati oleh para ahli. Namun, para ulama cukup berpolemik dalam menentukan kriteria kemaslahatan umum tersebut. Di antara gagasan yang mengemuka dan cukup kontroversial dalam teori kemaslahatan dalam visi pembaruan hukum Islam ini

Lisan al-Arab. berupa kehendak (tuntutan). fiqh 1[1] Muhammad Ali Ibn Muhammad al-Syaukani.t. Pemikirannya yang mengundang polemik adalah teori kemaslahatan sebagai fokus kajian dalam tulisan ini.17 . Metode kebebasan berpikir yang dicanangkan alThufi menyebabkan ia berbeda dengan para ulama semasanya. syari’ah berarti suatu jalan yang harus dilalui. Ketentuan syara’ itu terbatas dalam firman Allah dan sabda Rasul. Dalam berbagai literatur. h. HUKUM ISLAM DAN TEORI KEMASLAHATAN Kajian terhadap hukum Islam. Para ahli ushul fiqh secara mayoritas mengemukakan definisi hukum syar’i itu sebagai “Tuntutan (khitab) Allah SWT yang berhubungan dengan perbuatan orang dewasa (mukallaf). 1990). Mengacu pada pengertian secara lughawy tersebut. 33. (Mesir: Al-Mathba’ah al-Amiriyah.). sah.2[2] Dalam pengertian terminologis. baik sebagai sebab. term syari’ah berarti “jalan ke sumber mata air” dan “tempat orang-orang pada minum”. Najm al-Din al-Thufi adalah seorang ilmuwan dalam bidang fiqh dan ushul fiqh yang berkebangsaan Irak. B. pilihan. 1328 H) h. (Beirut: Dar al-Fikr. 2[2] Abu Fadhl Jamaluddin. 6 dan Ibn al-Hajib. Mukhtashar al-Muntaha. atau hubungan antara sesuatu dengan yang lain (al-wadh’i). tidak dapat ditemukan dalam al-Qur’an. dalam mencapai kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. term yang biasanya muncul adalah syari’at Islam. 3[3] Amir Syarifuddin. Dalam konteks ini.dikemukakan oleh Najm al-Din al-Thufi. penghalang (mani’). Irsyad al-Fuhul.3[3] Term fiqh berarti al-fahm (paham yang mendalam).1[1] Secara leksikal. 1975-1976. Dalam melakukan eksplorasi keilmuan. syari’ah dimaksudkan sebagai ketentuan yang ditetapkan Allah dan yang dijelaskan oleh Rasul-Nya tentang tindak-tanduk manusia. al-Thufi tidak terikat dengan suatu aliran pemikiran atau mazhab manapun. ia berupaya mengembangkan pemikiran secara liberal dan mengajak para ulama di zamannya untuk komitmen pada al-Qur’an dan Sunnah secara radikal dalam mencari kebenaran. jilid III. t. syarat. Pembaharuan Pemikiran dalam Hukum Islam. term ini sebenarnya secara tegas. rukhshah. Kalimat ini digunakan secara khas dalam bahasa Arab dengan pengertian “jalan setapak menuju sumber mata air yang tetap dan diberi tanda yang jelas sehingga tampak oleh mata”. fiqh atau hukum syar’i. h. atau ‘azimah”. batal. Dengan segenap ilmu yang dikuasainya. (Padang: Angkasa Raya.

(Edinburg Press. Secara sederhana. An Introduction to Islamic law. 1980).8[8] Atas dasar itu. (London: The Macmillan Press Ltd.”4[4] Hukum Islam. 9[9] Amir Syariduddin. 5 [5] JND Anderson6[6]. fiqh dimaksudkan “mengkaji hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliah (practical) yang digali dari dalil-dalil yang terperinci. term hukum Islam mencakup pengertian hukum syara’ dan hukum fiqh. Dengan demikian. Hasyiyah al-Bannany ‘ala Syarh alMahally ‘ala Matn Jam’ al-Jawami’ (Beirut: Dar al-Fikr. 24. Islamic Environmetal Systems Engineering. defenisi yang sering mencuat adalah “keseluruhan khitab Allah yang mengatur kehidupan setiap muslim dalam segala aspeknya. History of Islamic Law. dalam pandangan para ahli di barat seperti Noel J. Istilah hukum dalam hukum Islam itu sendiri secara umum dapat berdiri sendiri. Coulson.9[9] karena arti syara’ dan fiqh itu tercakup di dalamnya. Jika term hukum itu dihubungkan dengan Islam atau syara’. maka hukum Islam akan berarti “seperangkat peraturan berdasarkan wahyu Allah dan Sunnah rasul tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini berlaku dan mengikat untuk semua yang beragama Islam”. Secara khas. terlihat bahwa term yang dimaksud lebih mangacu kepada fiqh yang telah dikembangkan oleh para fuqaha dalam situasi dan kondisi tertentu. Hukum Islam bersifat elastis.Waqar Ahmed Husaini. h. Tetapi penjelasan terhadap Islamic law sendiri. mencuat dengan term Islamic law. maka hal ini berarti menuntut ilmu itu merupakan penyebab 4[4] Ditransliterasi dari : Al-Allamah al-Bannany. Secara leksikal. 31. Joseph Schacht7[7]. hukum diartikan sebagai “seperangkat peraturan tentang tindak-tanduk. jilid I.Cit. 7[7] Joseph Schacht. Islamic Law in the Modern World. 1967). yang diakui oleh suatu negara atau masyarakat. atau tingkah laku. Elastisitas hukum Islam sangat adaptatif dengan dinamika perubahan sosial dan kemajuan zaman. . Sifat multidimensional dalam ruang lingkup hukum Islam meliputi semua aspek kehidupan manusia. (Oxford: Oxford university Press. term Islamic law memuat arti antara syari’ah dan fiqh. Secara sederhana maslahat (al-mashlahah) diartikan sebagai sesuatu yang baik atau sesuatu yang bermanfaat. 25 5[5] Noel J. Coulson. 1992). 8[8] Diadaptasi dari S.. 1967) 6[6] JND Anderson. h. (New York: 1959). berlaku dan mengikat seluruh anggotanya”. Loc. Tujuan dari penetapan hukum Islam tersebut adalah mewujudkan kemaslahatan bagi umat manusia.berarti interpretasi para fuqaha’ terhadap syari’at. menuntut ilmu itu mengandung suatu kemaslahatan. Berbagai studi tentang dinamisasi dan implementasi hukum Islam dalam dimensi sejarah (Islamic law history).

1973). Kemaslahatan ini berkaitan dengan lima kebutuhan pokok. 139. (Kairo: Dar alNahdhah al-Arabiyah. Ketiga.”11[11] Suatu kemaslahatan. Mukhtashar al-Muntaha’. h. dan mencuri atau merampok dilarang untuk memelihara kepemilikan terhadap harta.diperolehnya manfaat secara lahir dan batin. mashlahah tahsiniyyah. 3-4. Kedua. berniaga untuk mendapatkan harta. 1971). rukhshah berupa kebolehan berbuka puasa bagi orang yang sedang musafir. (2) memelihara jiwa.. meskipun bertentangan dengan tujuan-tujuan manusia. Mengacu kepada kepentingan dan kualitas kemaslahatan itu. dianjurkan memakan yang bergizi. para ahli mengklasifikasikan 10[10] Husain Hamid Hasan. 1328 H). kebutuhan terhadap makan untuk mempertahankan kelangsungan hidup. (Beirut: Dar al-Kutub alIlmiyah. berpakaian yang rapi. dan lain sebagainya. 11[11] Abu Hamid al-Ghazali. berzina diharamkan untuk memelihara keturunan. Umpamanya. 1983). h. 12[12] Abu Ishaq al-Syathibi. 286. yaitu (1) memelihara agama. Ditinjau dari dimensi cakupan kemaslahatan.12[12] Pertama. Al-Mustashfa fi ‘Ilm al-Ushul.cit. minum-minuman keras dilarang untuk memelihara akal sehat. Tujuan syara’ dalam menetapkan hukum itu pada prinsipnya mengacu pada aspek perwujudan kemaslahatan dalam kehidupan manusia. Ibn al-Hajib. menuntut ilmu untuk mengasah otak dan akal. tindakan tersebut dilarang tegas dalam agama. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah. 8-12. (3) memelihara akal. op. melaksanakan ibadah-ibadah sunat. . kemaslahatan bukan hanya didasarkan pada pertimbangan akal dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu itu baik atau buruk. Allah melarang murtad demi untuk memelihara agama. bukan didasarkan pada kehendak hawa nafsu manusia. Muatan maslahat itu mencakup kemaslahatan hidup di dunia maupun kemaslahatan hidup di akhirat.10[10] Al-Ghazali memformulasikan teori kemaslahatan dalam kerangka “mengambil manfaat dan menolak kemudaratan untuk memelihara tujuan-tujuan syara’. Jilid I. Kebutuhan dalam konteks ini perlu dipenuhi dalam rangka memberi kesempurnaan dan keindahan bagi hidup manusia. Karena itu. Atas dasar ini. h. Jilid II. para ahli mengklasifikasikan teori al-mashlahah kepada tiga jenis. (4) memelihara keturunan. 240 dan Abu Hamid al-Ghazali. tetapi lebih jauh dari itu ialah sesuatu yang baik secara rasional juga harus sesuai dengan tujuan syara’. yang menjadi tolok ukur dari maslahat itu adalah tujuan dan kehendak syara’. yaitu kemaslahatan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. membunuh dilarang untuk memelihara jiwa. h. yaitu kemaslahatan yang bersifat pelengkap (komplementer) berupa keleluasaan yang dapat memberikan nilai plus bagi kemaslahatan sebelumnya. mashlahah dharuriyah. Atas dasar ini. (Mesir: Al-Mathba’ah al-Amiriyah.jilid II. yaitu kemaslahatan yang keberadaannya dibutuhkan dalam menyempurnakan lima kemaslahatan pokok tersebut yang berupa keringanan demi untuk mempertahankan dan memelihara kebutuhan dasar (basic need) manusia. Semua ini disyari’atkan untuk mendukung pelaksanaan kebutuhan lima pokok tersebut. yang disebut dengan al-mashalih al-khamsah. h. Nadzariyah al-Mashlahah fi al-Fiqh al-Islamy. Segala sesutu yang tidak sesuai dengan kelima unsur pokok di atas adalah bertentangan dengan tujuan syara’. Misalnya. harus seiring dengan tujuan syara’. mashlahah hajiyah. dan (5) memelihara harta. (Beirut: Dar al-Ma’rifah. menurut al-Ghazali.

Dalam hal ini. baik secara langsung ada indikator dalam syara’ (munasib mu’atstsir) ataupun secara tidak langsung ada indikatornya (munasib mulaim). Misalnya. Misalnya. teori ini diklasifikasikan kepada tiga hal.13[13] Pertama. yang secara khusus tidak ada indikator dari syara’ untuk menolak ataupun mengakui keberadaannya. atau dalam beberapa literartur disebut juga dengan al-istishlah. Misalnya. mendahulukan kemaslahatan umum dari kemaslahatan pribadi menjadi suatu keniscayaan. Pertama. Selain itu. mashlahah mulghah. Cit. apabila masih utuh atau mengganti dengan sesuatu yang sama nilainya. secara rasional dapat diterima kedudukan yang sama antara hak perempuan dan laki-laki dalam memperoleh harta warisan. Dalam aspek keberadaan mashlahah dalam perspektif syara’ dan adanya keselarasan antara anggapan baik secara rasional dengan tujuan syara’. mashlahah mu’tabarah. klasifikasi teori mashlahah seperti di atas adalah sesuatu yang tidak urgen. Tetapi berdasarkan ketentuan syara’. karena bertentangan dengan ketentuan syara’. Rumusan teori yang dikemukakan oleh 13[13] Abu Ishaq al-Syathibi. mashlahah mursalah. Dalam konteks ini. Sesuatu yang baik menurut rasio akan selaras dengan tujuan syara’ dalam penetapan hukum. 14[14] Lihat: QS. ulama membolehkan membunuh penyebar bid’ah dan dhalalah karena dapat merusak aqidah mayoritas umat. sesuatu itu dalam anggapan baik secara rasio dengan pertimbangan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi manusia. Meskipun sesuatu itu secara rasio dianggap baik. hak waris anak lakilaki tetap dua kali lipat hak anak perempuan. Yaitu kemaslahatan yang eksistensinya tidak didukung syara’ dan esensinya tidak pula ditolak melalui dalil yang terperinci. mashlahah muthlaqah. Hukuman ini dianalogikan kepada ketentuan hukuman ghashab (orang yang mengambil harta orang lain tanpa izin) sebagai suatu keharusan mengambil barang orang lain tanpa izin pemiliknya. mashlahah khasshah. yaitu bentuk kemaslahatan yang ditolak. mashlahah mursalah juga digunakan kalangan ulama non-Maliki sebagaimana dinukilkan oleh alSyathibi. Urgensi dari pengklasifikasian kedua jenis kemaslahatan ini berkaitan dengan skala prioritas manakala antara teori kemaslahatan umum dengan kemaslahatan individual terjadi perbenturan. yaitu kemaslahatan umum yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat banyak atau mayoritas umat. kemaslahatan yang berkenaan dengan pemutusan hubungan status perkawinan terhadap seseorang yang dinyatakan hilang (mafqud). Loc. Dalam hal ini ada dalil yang secara khusus menjadi dasar dari bentuk kemaslahatan itu. tetapi syara’ menetapkan hukum yang berbeda karena muatan maslahat itu.14[14] Ketiga. Dalam perspektif pemikiran Najm al-Din al-Thufi.teori ini kepada dua hal. Mashahah mursalah dalam kedudukan sebagai metode ijtihad secara jelas digunakan oleh Imam Malik beserta penganut mazhab Maliki. salah satu bentuk hukuman bagi pencuri adalah keharusan mengembalikan barang curian kepada pemiliknya. dewasa ini dengan alasan gender dan emansipasi wanita. Misalnya. yaitu kemaslahatan khusus yang berhubungan dengan kemalahatan individual. Kedua. mashlahah ‘ammah. . Al-Nisa’ (4): 11 dan 176. tetapi cakupan makna nash terkandung dalam substansinya. Kedua. yaitu kemaslahatan yang berada dalam kalkulasi syara’. atau munasib mursal.

16[16] Telaah : Mustafa zaid. 70. Dalam pengembangan potensi intelektualitas al-Thufi mendalami berbagai disiplin ilmu pengetahuan. jilid V. ilmu kalam. Kitab fiqh rujukan mazhab Hanbali.15[15] C. Dalam pemikiran al-Thufi. terlihat bahwa asumsi mashlahah ditempatkan sebagai dalil yang bersifat mandiri dan dominan dalam penetapan hukum.18[18] Kebanyakan guru-guru al-Thufi adalah ulamaulama Hanbali yang besar pada zamannya. h.). tradisi kebebasan berpikir dalam . Syazarat al-Zahab fi Akhbar Man Zahab.Jumhur ulama tersebut tidak dapat diterima oleh al-Thufi. al-Thufi berupaya mengajak para ulama ketika itu untuk tetap komitmen pada al-Qur’an dan Sunnah dalam mencari 15[15] Al-Thufi berbeda dengan persepsi Jumhur ulama yang menyatakan bahwa bila terdapat pertentangan antara nash dengan mashlahah . Mashadir alTasyri’ fima La Nashsha Fih. 1959). maka yang harus diprioritaskan adalah pertimbangan kemaslahatan. Dengan sekelumit ilmu yang dipelajarinya. al-Thufi juga menggali literaturliteratur Syi’ah yang ketika itu dinilai sangat tabu dan kontroversial dalam masyarakat yang mayoritas Sunni. Kekhasan corak pemikirannya.t. (Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi. Meskipun al-Thufi berada dalam komunitas mazhab Hanbali dan menekuni studi tentang Syi’ah. 1972). 68 dan Abd al-Wahhab al-Khallaf. ilmu mantiq. meskipun nash maupun ijma’ menyalahi pertimbangan maslahat. Sharshar. al-Muharrar fi al-Fiqh al-Hanbali dikuasaiya dalam usia yang relatif muda. namun pengembaraan intelektualnya tetap terus melaju. bahasa Arab dan sejarah. hadits. Al-Mashlahah fi al-Tasyri’ al-Islami wa Najm al-Din al-Thufi. maka nash harus didahulukan. 39 18[18] Mustafa Zaid. Demikian juga dengan kitab Mukhtashar alKhiraqi karya Umar Ibn al-Husain Ibn Abdullah Ibn Ahmad al-Khiraqi dalam bidang fiqh juga sangat digandrunginya. (Beirut: al-Maktab al-Tijari. selain fiqh dan ushul fiqh ialah tafsir. 17[17] Ibn al-Imad. h. 105. (Kuwait: Dar al-Qalam. op. Nama lengkapnya adalah Najm al-Din Abu al-Rabi’ Sulaiman Ibn Abd al-Qawi Ibn Abd al-Karim Ibn Sa’id al-Thufi al-Sharshari alBaghdadi al-Hanbali. baik secara substansial kemaslahatan itu sendiri didukung oleh syara’ ataupun tidak.716 H/ 1316 M)16[16] dilahirkan di desa Thufi. h. KONDISI SOSIOHISTORIS DAN DINAMIKA PERKEMBANGAN INTELEKTUAL NAJM DIN THUFI Najm al-Din al-Thufi (675 H/ 1276 M . h. Dalam melakukan eksplorasi keilmuan. Studi fiqh makin didalami al-Thufi pada Syekh Zain al-Din Ali Ibn Muhammad al-Sharshari atau yang lebih dikenal di kalangan mazhab Hanbali sebagai Ibn al-Bauqi. Irak17[17]. t.cit. Ia adalah seorang ilmuwan yang terkenal dalam bidang fiqh dan ushul fiqh yang pada dasarnya menganut mazhab Hanbali.

Integritas politik dunia Islam betul-betul menjadi berantakan. aplikasi. Seruan al-Thufi ini mencuat dalam karyanya.kebenaran secara radikal. al-Thufi tidak terikat dengan suatu pendapat.20[20] Didasarkan atas kekhawatiran yang lebih besar terhadap munculnya perpecahan dan perselisihan dalam masyarakat Islam. 70-72. muncul pendapat bahwa hanya ulama masa lampau yang mempunyai otoritas untuk berijtihad. (New Delhi: Kitab Bhavan.Cit. al-Akbar fi Qawaid al-Tafsir. Berbagai masalah makin bermunculan. 37-38. Sosok al-Thufi memang pribadi yang berbeda pada zamannya. Pemikiran Politik Ibn Taimiyah. kitab tentang kaidah-kaidah tafsir. Persoalan-persoalan 19[19] Joseph Schacht. Op. malahan terjadi kristalisasi mazhab-mazhab. Anas Mahyuddin. h. Kejumudan pemikiran tengah merajalela. Terlihat adanya semacam konsensus secara gradual bahwa tidak seorang pun memiliki otoritas untuk melaksanakan ijtihad secara mutlak dan bahwa aktifitas di masa mendatang harus dibatasi pada penjelasan. dan penafsiran dari doktrin yang telah diformulasikan. Pencaplokan yang dilakukan Hulagu Khan terjadi pada 1258 M. suatu term yang secara umum diartikan sebagai penerimaaan secara pasrah terhadap doktrin-doktrin dan otoritas-otoritas mazhab yang telah mapan. sementara solusi terhadap masalah-masalah yang cukup pelik itu tidak mencuat.21[21] Perkembangan hukum Islam makin tidak dinamis dan terisolasi dari berbagai persoalan kehidupan baru. 21[21] Muhammad Iqbal. (Bandung: Pustaka. Invasi yang dilakukan Kaisar Tartar ini mengakibatkan jatuhnya kekuatan politik Islam yang kian parah. aliran pemikiran atau mazhab manapun. Penutupan pintu ijitihad itu menggiring pada munculnya kondisi taqlid buta. h. 149-151 . Mulai pertengahan abad ke-9 M. h.19[19] Puncak dari iklim ini adalah runtuhnya Bagdad sebagai mercu suar dan pusat perkembangan aktifitas intelektual Islam. 1983). Pendapat ini makin mendapat tempat dengan didukung oleh sejumlah opini bahwa seluruh permasalahan secara esensial telah dibahas tuntas. The Reconstructon of Religious Thought in Islam. Hak dan kebebasan berijtihad dibatasi dan bahkan pintu ijtihad mulai dinyatakan tertutup. terj. 1981).. 20[20] Qamaruddin Khan. para fuqaha’ Sunni menyerukan pada keseragaman kehidupan sosial umat Islam dengan mencegah adanya pembaruan substantif dalam hukum Islam. Secara Stagnasi pemikiran mulai melanda masyarakat dan dunia Islam. situasional ketika itu. Dalam mengembangkan dan memelihara tradisi kebebasan berpikir.

dalam gagasan al-Thufi. . TEORI KEMASLAHATAN DALAM KONSTRUKSI PEMIKIRAN NAJM DIN THUFI Teori kemaslahatan dalam pemikiran Najm al-Din al-Thufi bercorak sangat khas. Kondisi ini makin merajalela dan memicu bagi munculnya iklim taqlid. Memang pada fase ini para ulama tidak cukup berani berinisiatif untuk mecapai tingkatan mujtahid mutlak. . Pemikiran al-Thufi tertuang dalam segenap karyanya. Almashlahah. Masa itu merupakan fase kemunduran hukum Islam yang cukup menyejarah. al-Baihaqi. Di antara gagasan al-Thufi yang berbeda dengan mayoritas ilmuwan ketika itu dan cukup mengundang polemik ialah tentang al-mashlahah. Syarh Nishf Mukhtashar al-Khiraqi dan lain sebagainya. Pemikirannya jauh berbeda dengan arus umum mayoritas ulama yang hidup sezaman dengannya. al-Zari’ah ila Ma’rifah Asrar al-Syari’ah. Mukhtashar al-Hashil. Dalam bidang ilmu fiqh. menggali hukum-hukum Islam dari sumbernya secara langsung. Dalam kondisi stagnan ini. atau mencari ketentuan hukum baru terhadap suatu persoalan. merupakan dalil yang bersifat mandiri dan paling 22[22] HR. Hukum Islam secara praksis tidak dapat merespon kasus-kasus baru dalam kehidupan manusia. Kondisi ini berlangsung cukup lama. versi al-Thufi. Dalam pemikiran Najm al-Din al-Thufi. Atas dasar itu. alQawaid al-Shughra. Ibn Majah. dan Ahmad Ibn Hanbal. al-Daruquthni. ia menulis kitab al-Qawaid al-Kubra. seperti kitab Mukhtashar al-Raudah al-Qudamiyah. Formulasi teori al-mashlahah dalam pemikiran al-Thufi bertitik tolak dari hadis “La dharara wa la dhirar fi al-Islam” 22[22] (Tidak boleh memudaratkan dan tidak boleh pula dimudaratkan orang lain dalam Islam).hukum dicukupkan pada hasil-hasil ijtihad masa lalu. al-Hakim. Najm al-Din al-Thufi muncul dengan gagasangagasannya yang berbeda dengan para pemikir di zamannya. intisari dari keseluruhan ajaran Islam yang termuat dalam nash ialah kemaslahatan bagi manusia secara universal. yaitu dari pertengahan abad IV H sampai akhir abad XIII H. D. antara lain dalam bidang ushul fiqh. Al-Riyad al-Nawazir fi al-Asybah wa al-Nadzair. seluruh ragam dan bentuk kemaslahatan disyari’atkan dan keberadaan maslahat itu tidak perlu mendapatkan konfirmasi dari nash.

Al-mashlahah merupakan dalil yang bersifat mandiri dan menempati posisi 23[23] Mushthafa Zaid. dan Husain Hamid Hasan. membawa nuansa lain terhadap umum para ulama. Akal dapat secara bebas menentukan kemaslahatan dan kemudaratan. Nadzariyah al-Mashlahah fi al-Fiqh al-Islamy. merumuskan al-mashlahah sebagai “suatu al-mashlahah dalam arti syara’ dipandang ungkapan dari sebab yang membawa kepada tujuan syara’ dalam bentuk ibadah atau sebagai sesuatu yang dapat membawa kepada tujuan syara’. 1971). Loc. Dalam persepsi kemaslahatan itu harus mendapatkan dukungan dari syara’. baik melalui nash tertentu maupun cakupan makna dari sejumlah nash. al-mashlahah merupakan hujjah yang mandiri dan paling dominan sebagai landasan penetapan hukum. 529-568 .Cit. Di sinilah letak perbedaan yang cukup serius antara al-Thufi dengan Jumhur ulama. Menurut Jumhur. (Kairo: Dar al-Nahdhah al-Arabiyah. apakah ada nash yang mendukungnya atau ada cakupan makna dari sejumlah nash. h. kemaslahatan itu tidak perlu mendapatkan justifikasi dari nash. namun harus mendapatkan konfirmasi dari nash atau ijma’. al-Thufi adat kebiasaan”. Menurut al-Thufi. Dengan demikian. khususnya dalam bidang mu’amalah dan adat. Teori kemaslahatan dalam rumusan al-Thufi memuat empat prinsip. meskipun kemaslahatan itu dapat dicapai dengan akal. 2. Dalam konteks ini.dominan dalam penetapan hukum. Secara terminologis. ataupun nash menolak keberadaannya sama sekali. Pemikiran al-Thufi yang tidak sejalan dengan para ulama semasanya menyebabkan ia terisolasi. Kemampuan akal untuk mengetahui sesuatu itu baik atau buruk tanpa harus melalui wahyu menjadi fondasi pertama dalam piramida pemikiran al-Thufi. Pemikiran al-Thufi tentang al-mashlahah pendapat mayoritas ulama semasanya. Dalam hal ini pemikirannya terlihat sangat berbeda dengan mayoritas ulama. tetapi substansi pemikirannya kemudian mendapat perhatian para ahli sesudahnya. Dalam teori Najm al-Din al-Thufi. Untuk menilai dan menentukan sesuatu itu maslahat atau mudarat cukup dengan akal (rasio). al-mashlahah tidak diklasifikasikan kepada berbagai ragam bentuk. Keempat prinsip itu adalah :23[23] 1. sebagaimana yang diformulasikan oleh kalangan Jumhur ulama.

Masalah-masalah ini merupakan hak dan otoritas Tuhan secara penuh. seperti shalat maghrib tiga rakaat. Al-mashlahah hanya berlaku dalam masalah mu’amalah dan adat kebiasaan. Berbagai kasus dan masalah-masalah baru yang muncul ditinjau dari perspektif hukum Islam dengan menjadikan acuan utamanya adalah dasar kemaslahatan umum bagi kehidupan manusia secara universal. Kemaslahatan cukup didasarkan kepada kekuatan penilaian rasio tanpa perlu melalui wahyu. Atas dasar ini. 3. 4. Paradigma ini mengacu pada realitas perubahan sosial. TEORI KEMASLAHATAN NAJM DIN THUFI DALAM KERANGKA PEMBARUAN HUKUM ISLAM Gagasan pembaruan pemikiran dalam hukum Islam tetap selalu mendapat perhatian berbagai kalangan. maka kemaslahatan diprioritaskan dengan metode takhshish nash (pengkhususan hukum) dan bayan (perincian). Dalam konteks ini. kehujjahan al- mashlahah tidak diperlukan adanya dalil pendukung. versi al-Thufi. jika pengamalan makna nash . jika nash atau ijma’ bertentangan dengan al-mashlahah. Banyak ahli yang concern dengan tema-tema ini. Sedangkan dalam masalah ibadah . Nash atau dalil-dalil syara’ lain merupakan metode untuk merealisasikan tujuan pencapaian kemaslahatan itu. tidak termasuk kategori objek mashlahah. Teori kemaslahatan dalam pemikiran Najm al-Din al-Thufi mengemuka secara substantif dalam kerangka kajian legislasi Islam. Teori kemaslahatan umum (public interest) sebagai kerangka dasar dari ide pembaruan hukum Islam tetap menjadi sorotan yang secara gradual terus melaju. Para penulis kontemporer dalam bidang hukum Islam atau secara khusus bidang ushul fiqh turut menjadikan teori tentang kemaslahatan sebagai kerangka referensinya. dan tawaf dilakukan sebanyak tujuh kali. Al-mashlahah merupakan dalil syara’ yang paling dominan.paling kuat dalam penetapan hukum. Gagasan ini kian urgen karena selaras dengan dinamika perubahan sosial dan mobilitas kemajuan zaman. Kemaslahatan umum sebagai shariah based merupakan tujuan penetapan hukum Islam. E. puasa selama sebulan penuh pada bulan Ramadhan.

KESIMPULAN Kekhasan corak pemikiran Najm al-Din al-Thufi terlihat bahwa mashlahah ditempatkan sebagai dalil yang bersifat mandiri dan paling dominan dalam legislasi 24[24] Substansi dari gagasan al-Thufi ini misalnya dalam teori al-mashlahah dalam kerangka legislasi Islam. loc. Corak pemikiran al-Thufi dalam teori maslahat ini. F. dalam kerangka pembaruan pemikiran hukum Islam. semangat. Kemashlahatan umum dalam hal ini tetap menjadi tujuan syara’. Atau juga dengan menggali yang terkandung dalam suatu nash untuk diterapkan secara lebih luas dalam masalah lain yang diharapkan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. Sedangkan dalam lapangan ibadah adalah semata hak prerogatif Tuhan.cit. Mas’udi. waktu dan tempat. Pendekatan transformatif mengemuka sebagai suatu pendekatan alternatif dari pendekatan realis-positivistik yang melihat perubahan (change) sebagai suatu sarana untuk menggapai cita kemaslahatan kualitatif dalam visi Ilahiyyah. Karena. tidak mungkin diketahui kecuali hanya ditentukan dalam syara’. 180. transformatif. 1988). h. tujuan dan prinsip umum. memang bidang-bidang ini yang rentan terhadap berbagai dinamika perubahan. Esensi kemaslahatan dalam syara’ bukan hanya berfungsi sekadar sistem legitimasi tetapi melainkan sebagai pemenuhan terhadap sesuatu yang mendasar mengenai makna dari apa yang tengah terjadi.cit. baik kualitas maupun kuantitas.25[25] Dalam wacana pembaruan pemikiran dalam hukum Islam. loc. Pemikiran al-Thufi juga menyiratkan adanya suatu upaya untuk memperoleh suatu hukum fiqh melalui perluasan makna suatu teks syari’ah yang bersifat eksplisit dengan mengungkap pengertian-pengertian implisitnya. (Jakarta: Pustaka Panjimas. 25[25] Masdar F. teori kemaslahatan dalam pandangan al-Thufi mencakup lapangan mu’amalah dan adat kebiasaan.. Hakekat yang terkandung dalam ibadah . Memahami Ajaran Suci dengan Pendekatan Transformasi dalam Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam.sesuai dengan zhahirnya secara probabilitas akan membawa kesenjangan dan kurang menampung rasa keadilan dan muatan kemaslahatan. Lihat: Musthafa Zaid. terlihat dengan pendekatan . maka dalam hal ini makna nash itu dipalingkan kepada makna lain yang lebih mengacu kepada rasa keadilan dan mengandung kemaslahatan umum.24[24] Ini dilakukan dengan menggali causalegis (illat) suatu nash untuk diterapkan pada kasus-kasus serupa yang secara ekplisit tidak termasuk ke dalamnya. dan Husain Hamid Hasan.

Diskursus teori kemaslahatan umum (public interest) sebagai kerangka dasar dari ide pembaruan hukum Islam tersebut selalu menjadi perhatian banyak kalangan yang secara gradual terus melaju. (Dosen Fakultas Syari'ah IAIN Imam Bonjol Padang) . Teori kemaslahatan dalam pemikiran Najm al-Din al-Thufi ini mengemuka secara esensial dalam kerangka kajian legislasi Islam. kemaslahatan itu tidak perlu mendapatkan justifikasi dari nash.Islam. Corak pemikiran al-Thufi dalam teori maslahat ini.Ag. baik secara substansial kemaslahatan itu sendiri mendapat konfirmasi dari syara’ ataupun sebaliknya. TEORI KEMASLAHATAN DALAM WACANA PEMBARUAN HUKUM ISLAM Telaah Kritis Pemikiran Najm Din Thufi Oleh : DR. ataupun tidak ada pengakuan dari nash mengenai keberadaannya. Menurut al-Thufi. M. al-mashlahah merupakan hujjah yang mandiri dan menempati posisi paling kuat sebagai landasan penetapan hukum. terlihat dalam nuansa pembaruan pemikiran dalam hukum Islam. apakah ada nash yang mendukungnya atau ada cakupan makna dari sejumlah nash. Berbagai kasus dan masalah-masalah baru yang muncul ditinjau dari perspektif hukum Islam menjadikan acuan utamanya adalah dasar kemaslahatan umum bagi kehidupan manusia secara universal Teori kemaslahatan dalam pemikiran Najm al-Din al-Thufi memang berbeda dengan arus umum mayoritas ulama. Dalam konteks ini.EFRINALDI.

IAN IMAM BONJOL PADANG 2008 Kata kunci: hukum islam Sebelumnya: DEKONSTRUKSI HUKUM ISLAM Selanjutnya : USHUL FIQH II .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful