P. 1
MALAM INI

MALAM INI

|Views: 39|Likes:
Published by POETRA.COM

More info:

Published by: POETRA.COM on May 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2012

pdf

text

original

Contoh: 1.

Tentikan nilai-nilai x agar kalimat ” 4 x = 2 2 jika dan hanya 2 log 1 = 0 “ menjadi biimplikasi yang bernilai benar. Jawab: 4x = 2 2
2x  2 =21 2

 2x = 1 x= 3 2

1 2

”2 log 1 = 0” adalah pernyataan yang benar. Agar kaliamat 4 x = 2 2 jika dan hanya jika 2 log 1 = 0 ” menjadi biimplikasi yang bernilai benar, maka haruslah x= 3 2

2. tentukan x agar ”2x + 3 = 13 <–> 5 adalah bilangan prima” bernilai salah. Jawab: Untuk p (x) → q bernilai salah. Sedangkan q bernilai benar, maka p (x) harus bernilai salah. Jadi, agar ”2x + 3 = 13 → 5 adalah bilangan prima” bernilai salah, maka nilai x ≠ 5. C. Sifat-Sifat Proposisi Majemuk. 1. Tautologi Tautologi adalah suatu proposisi majemuk yang selalu mempunyai nialia logika benar. Apabila dalam tabel fungsi kebenarannya sekurang-kurangnya terdapat suatu nilai logika yang salah, maka proposisi tersebut pasti bukan tautologi. Contoh: a. pν p

Tautologi b. p → p Tautologi

2. Kontrasdiksi Kontradiksi adalah suatu proposisi majemuk yang selalu mempunyai nilai logika yang salah. Apabila dalam tabel fungsi kebenarannya sekurang-kurangnya terdapat satu nilai logika yang benar, maka proposisi tersebut pasti bukan kontradiksi. Contoh: a. pν p Kontrasdiksi p pν p B S S S B S −   b. ( p ↔ q ) ∧  p ↔ q  kontradiksi   p B B S S 3. Kontingensi Kontingensi adalah proposisi bukan tautologi atau bukan kontradiksi Contoh: q B S B S p S S B B
− −

p

p↔q B S S B

p↔q S B B S

( p ↔ q) ∧  p ↔ q   

 S S S S

( pν ) ↔ q q
Bukan tautologi (kontigensi) p B B S S q B S B S pνq B B B S

( pν ) ↔q q
B S B B

4. Hukum Aljabar Logika a. Sifat idempoten p∨q ≡p 1)

2) 1) 2)

p∧q≡p

b. Sifat asosiatif

( p ∨ q) ∨ r ≡ p ∨ ( q ∨ r ) ( p ∧ q) ∧ r ≡ p ∧ ( q ∧ r )

c. Sifat komutatif p∨q ≡q∨ p 1) 2) 1) 2) p∧q ≡q∧ p p ∨ ( q ∧ r ) ≡ ( p ∨ q) ∧ ( p ∨ r ) p ∧ ( q ∨ r ) ≡ ( p ∧ q) ∨ ( p ∧ r ) 1) 2) 3) 4) p∨S ≡ p p∧B ≡ p p∨ B ≡ B p∧S ≡S p∨ ~ p ≡ B p∧ ~ p ≡ S ~ ( ~ p) ≡ p d. Sifat distributif

e. Sifat identitas

f. Sifat komplemen 1) 2) 3)

~ 4)
1) 2)

S ≡ Bdan ~ B ≡ S
~ ( p ∨ q ) ≡~ p ∧ ~ q ~ ( p ∧ q ) ≡~ p∨ ~ q p ∧ ( p ∨ q) ≡ p p ∨ ( p ∧ q) ≡ p

g. Sifat De’Morgan

h. Absorpsi 1) 2)

i. Kondisional p → q ≡~ p ∨ q 1) 2) p → q ≡~ ( p ∧ ~ q )

3) 4)

p → q ≡ ~ q →~ p ~ p →~ q ≡ q → q

5. Negasi dari pernyataan Majemuk a. Negasi dari konjungsi : ~ ( p ∧ q ≡ ~ p ∨ ~ q ) b. Negasi dari disjungsi : ~ ( p ∧ q ) ≡ ~ p ∧ ~ q c. Negasi dari implikasi : ~ ( p → q ) ≡ p ∧ ~ q d. Negasi dari biimplikasi : ~ ( p ↔ q ) ≡ p ↔ ~ q ≡~ p ↔ q Contoh: Tentukan nagasi dari pernyataan majemuk berikut. a. Dia berambut pirang tetapi tidak bermata biri b. Katak hidup di air atau di darat c. Jika 5 adalah faktor dari 15 maka 5 adalah bilangan prima d. Tujuh adalah bilangan prima jika dan hanya jika 2 = 5 > 7. Jawab: a. Dia tidak berambut pirang atau bermata biri b. Katak tidak hidup di air dan tidak di darat c. 5 adalah faktor dari 15 dan 5 bukan bilangan prima d. Tujuh adalah bilangan prima jika dan hanya jika 2 = 5 ≤ 7, atau. Tujuh bukan bilangan prima jika dan hanya jika 2 = 5 > 7. D. Kuantifikasi Suatu kalimat terbuka akan menjadi pernyataan jika kita mengganti peubah (variabel) dengan suatu konstanta. Cara lain untuk mengubah kalimat terbuka menjadi pernyataan adalah dengan meletekan sesuatu kuantor dimuka kalimat terbuka. Dengan demikian diperoleh kalimat deklaratif (pernyataan) yang berkuantor yaitu persyaratan yang menyatakan dengan pengertian ”berapa banyak”. 1. Kuantor Universal (pembilang menyeluruh) Kuantor ”semua” merupakan suatu pernyataan yang menggambarkan bahwa setiap objek atau masalah memenuhi syarat tertentu. Kuantor universal dilambangkan dengan ∀x dibaca ”untuk semua x atau untuk setiap x berlaku..... ”. Jika p(x). Adalah suatu kalimat terbuka, maka

( ∀x ) p( x )

Mempunyai arti ”untuk semua x berlaku p(x)” Contoh: Benar atau salahkah pernyataan berkuantor berikut.

( ∀x ) ( x ∈ R → x2 ≥ 0) ( ∀x ) ( x ∈ R → x2 ≥ 0)

Jawab:

mempunyai arti ”untuk semua x berlaku

x

2

≥ 0 ”. Ini

merupakan pernyataan yang benar, karena kuadrat semua bilangan real tidak ada yang < 0 (negatif), artinya ≥ 0. 2. Kuantor Eksistensi (pembilangan Sebagian) Kuantor sebagian (beberapa, ada) merupakan suatu persyaratan yang menggambarkan bahwa beberapa dan seharusnya setiap objek atau masalah memenuhi syarat tertentu. Kuantor eksistensial dilambangkan dengan ∃x dibaca ” ada suatu x sehingga berlaku.... ”. Jika p(x) adalah suatu kalimat terbuka, maka

( ∃x ) p( x )
Contoh:

Mempunyai arti ”ada x sedemikian sehingga berlaku p(x) ”

Benar atau salahkah pernyataan kuartor berikut

( ∃x ∋ R )( 2 x + 1 5).
Jawab:

( ∃x ) x( 2 x + 1 5)

Mempunyai arti ”ada suatu x sehingga berlaku 2 x 1 > 5 ”.

Jelas ini merupakan pernyataan yang benar, karena kita dapat memukan x yang memenuhi pertidaksamaan 2 x + 1 > 5, misalnya x = 3. 3. Negasi dari pernyataan berkuantor

( ∀x ) p( x ) ingkaranya = ( ∃x ). ~ p( x ) ( ∃x ) p( x ) ingkaranya = ( ∀x ). ~ p( x )
Contoh: Tentukan ingkaran dari pernyataan berkuantor berikut.

a. b.

( ∃x ∈ R ) ( ( 2 x + 1 > 5) ( ∀x ∈ R ) ( x2 > 0)

c. Semua bilangan genap habis dibagi 2. Jawab: a. b.

( ∀x ∈ R ) ( ( ∀x ∈ R + 1) ≤ 5) ( ∃x ∈ R ) ( x2 ≤ 0)

c. Terdapat bilangan genap yang tidak habis dibagi 2. F. Bukti dalam Matemaika Suatu bukti dalam matematika adalah suatu Argumentasi yang menunjukan bahwa suatu persyaratan p → q selalu benar (tautologi atau logis benar). Ada dua macam bukti dalam matematika, yaitu bukti langsung dan bukti tidak langsung. 1. Bukti Tak Langsung Metode bukti tak langsung dinamakan bukti dengan kemustahilan atau Recudes To Anabsurdity yang meliputi bukti tak langsung dengan kontradiksi dan kontraposisi. a. Bukti tak langsung dengan kontradiksi Contoh: Buktikan bahwa untuk semua bilangan bulat n, jiak n adalah bilangan ganjil, maka Jawab: Dalam bentuk p → q pernyataan diatas berbentuk ”jika n adalah bilangan ganjil, maka

n

2

adalah bilangan ganjil.

n

2

adalah bilangan ganjil”. Pernyataan terahir ini dibuktikan

sebagai berikut: Andaikan bahwa q salah, atau – q benar, yaitu maka

n

2

bukan bilangan ganjil,

n

2

adalah bilangan bulat genap. Misalnya
2

n

2

= 4 k , dengan k

2

adalah bilangan bulat, maka n = ± 4 k = ±2k = bilangan genap (-p).

Terjadilah suatu kontradiksi; karena diketahui p benar, sedangkan langkahlangkah logis diturunkan –p benar. Oleh karena kontradiksi tidak boleh terjadi, maka pengandian harus diingkar, yang berarti –q salah atau benar. (terbuktilah apa yang harus dibuktikan) . b. Bukti tak langsung dengan kontraposisi. Contoh: Buktikan ”untuk setiap n bulat, jika genap”. Jawab: Jika
2 2

n

bilangan genap maka n bilangan

n

bilangan genap, maka n bilangan genap = p → q

p = n2 bilangan genap. q = n bilangan genap (bilangan genap dengan bentuk umumnya 2 k) − ( p → q ) = p ∧ ~ q ≡ ~ q →~ p p ∧ ~ q = n2 bilangan genap dengan n bukan bilangan genap. Misalnya n = 2k maka n2 = 4k2 (genap) p ∧ ~ q = 4k2 bilangan genap dan 2k bukan bilangan genap (ini merupakan pernyataan yang salah) sebab 2k bilangan genap. p ∧ ~ q = ~ p → q pernyataan yang salah, maka p → q Karena pernyataan yang benar. Jadi, terbukti untuk setiap n bilangan bulat, jika n2 bilangan genap, maka n bilangan genap adalah benar. 2. Bukti Langsung Untuk membuktikan pernyatan matematika Induksi Matematika p → q benar, dimulai dengan menggunakan p untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, yaitu q . Yang termasuk dalam bukti langsung adalah modus ponens, silogisme, dan induksi matematika. Contoh: Buktikan bahwa untuk setiap n bilangan genap maka n2 adalah bilangan genap. Jawab: Bukti: p = n bilangan genap berarti n = 2k

q =n2 adalah bilangan genap. Jika n bilangan genap maka n2 = (2k)2 = 4k2 = 2 (2k2) = bilangan genap. Jadi terbukti apa yang harus dibuktikan. 3. induksi Matematika Induksi Matemaika adalah proses pembuktian teorema (pernyataan) dari kasuskasus Khusu yang harus berlaku untuk setiap bilangan asli. Langkah-langkah pembuktian bahwa sebagai berikut: Misalnya: F (n) adalah pernyataan yang berkaitan dengan bilangan asli n. a. Langkah 1 : Dibuktikan benar / berlaku untuk n = 1. b. Langkah 2 : - diandaikan benar / berlaku untuk n = k, k (A). - dibuktikan benar / berlaku untuk n = k + 1. c. Langkah 3 : - menyimpulkan hasil yang diperoleh dari langkah 1 dan 2 Contoh: Buktikan pernyataan atau rumus diatas yaitu : 1 + 3 + 5 + ...+ (2n – 1) = n 2 .jawab: a. Untuk n = 1, maka 1 = 12 , sehingga rumus tersebut benar untuk n = 1. b. Misalkan untuk rumus tersebut berlaku untuk n = k sedemikian sehingga 1 + 3 + 5 + 7 +...+ (2k – 1)+ (2(k + 1) – 1) = (k + 1)2 Langkah – langkahnya sebagai berikut : Kedua ruas pada persamaan (1) ditambah dengan 2 (k + 1) – 1 1 + 3 + 5 + ...+ (2k – 1) + (2 (k + 1) – 1) = k2 + 2 (k + 1) – 1 1 + 3 + 5 + ...+ (2k – 1) + (2 (k + 1) – 1) = k2 + 2k + 2 – 1 1 + 3 + 5 + ...+ (2k – 1) + (2 (k + 1) – 1) = k2 + 2k + 1 + 1 1 + 3 + 5 + ...+ (2k – 1) + (2 (k + 1) – 1) = k + 2 (k + 1)2 – 1 (terbukti). c. Untuk n = k + 1 rumus tersebut mempunyai pola yang sama dengan n = 1, jadi rumus tersebut berlaku untuk n = k + 1. Jadi, pernyataan tersebut benar untuk setiap n ∈ N .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->