Pengembangan Pembelajaran Matematika

Oleh : Ali Mahmudi Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY A. Pendahuluan Disadari sepenuhnya bahwa bagi sebagian siswa sekolah dasar, matematika menjadi pelajaran yang tidak menyenangkan, bahkan dibenci. Tentu, hal ini akan berdampak pada hasil belajarnya. Ketidaksukaan siswa akan matematika dapat disebabkan banyak hal, seperti cara guru mengajar yang kurang tepat, metode pembelajaran yang kurang menarik, bahkan dapat juga disebabkan berbagai pandangan negatif akan kesulitan matematika yang sering siswa dengar dari orang lain, semisal orang tuanya. Sesungguhnya, memang matematika mempunyai faktor penyulit bagi yang ingin mempelajarinya, yakni karakteristik matematika yang abstrak sementara di sisi lain kemampuan abstraksi siswa, terutama siswa sekolah dasar, masih rendah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru agar menjadikan matematika yang abstrak itu menjadi “nyata” dalam benak siswa. Hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai media pembelajaran atau alat peraga yang sesuai. Selain itu guru perlu juga menjadikan pembelajarannya agar lebih menarik, misalnya melalui permainan, mengingat anak sekolah dasar, dalam tahap perkembangan psikologisnya masih menyukai permainan. B. Matematika dan Pembelajaran Matematika Sampai saat ini, tidak ada pendapat yang seragam mengenai pengertian matematika. Sebagian orang menganggap bahwa matematika tidak lebih dari sekedar berhitung dengan menggunakan rumus dan angka-angka. Namun, sebagaimana halnya musik bukan sekedar bernyanyi, matematika bukan pula sekedar berhitung atau berkutat dengan rumus-rumus dan angka-angka. Herman Hudojo (1979: 97) mengemukakan bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungannya yang diatur dengan konsep-konsep abstrak. Sementara Slamet Dajono (1976: 10) memberikan 3 macam pengertian elementer mengenai matematika sebagai berikut. 1. Matematika sebagai ilmu pengetahuan tentang bilangan dan ruang. 2. Matematika sebagai studi ilmu pengetahuan tentang klasifikasi dan konstruksi berbagai struktur dan pola yang dapat diimajinasikan. 3. Matematika sebagai kegiatan yang dilakukan oleh para matematisi.

1

Fakta Fakta adalah semua kesepakatan dalam matematika. memiliki simbol yang kosong arti. bertumpu pada kesepakatan. 4. dan konsisten dalam sistemnya. seperti simbol-simbol matematika. Mengingat begitu luasnya materi matematika. konsep. dan prinsip. Siswa dikatakan menguasai konsep apabila ia mampu mengidentifikasi contoh dan noncontoh konsep. dan menerapkan keterampilan tersebut ke dalam berbagai situasi. menentukan hubungan antarkonsep. Keterampilan Keterampilan adalah operasi atau prosedur yang diharapkan dapat dikuasai siswa secara cepat dan tepat. baik terapannya maupun pola pikirnya. Siswa dikatakan memahami fakta apabila ia telah dapat menyebutkan dan menggunakannya secara tepat. Menurut Soedjadi (1999:13).Lepas dari berbagai pendapat yang tampak berbeda mengenai pengertian matematika tersebut. Ini berarti sampai batas tertentu. maka perlu dipilih 2 . keterampilan. memperhatikan semesta pembicaraan. Siswa dikatakan menguasai keterampilan apabila ia dapat menunjukkan keterampilan tersebut secara tepat. Berikut adalah uraian mengenai objek-objek matematika tersebut. berpola pikir deduktif. Soedjadi (1999: 138) mengemukakan bahwa matematika adalah salah satu ilmu dasar. baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya mempunyai peranan yang penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. 3. Konsep Konsep adalah ide abstrak yang memungkinkan seseorang dapat menentukan apakah suatu objek atau kejadian merupakan contoh atau bukan contoh konsep. karakteristik matematika adalah: memiliki objek abstrak. 1. dapat menyelesaikan berbagai jenis masalah yang memerlukan keterampilan tersebut. Itulah alasan penting mengapa matematika perlu diajarkan di setiap jenjang sekolah. dan menerapkan prinsip tersebut ke dalam situasi tertentu. objek matematika terdiri atas fakta. matematika perlu dikuasai oleh segenap warga negara Indonesia. Prinsip Prinsip adalah rangkaian beberapa konsep secara bersama-sama beserta hubungan (keterkaitan) antarkonsep tersebut. Siswa dikatakan menguasai prinsip apabila ia dapat mengidentifikasi konsep-konsep yang terkandung di dalam prinsip tersebut. tetap dapat ditarik ciri-ciri atau karakteristik yang sama. Menurut Bell (1981: 108). 2.

atau dalam batas-batas tertentu menggunakan pola pikir induktif. Pembelajaran matematika di sekolah tidak hanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan matematika yang bersifat material. tetapi juga untuk mencapai tujuan dalam ranah afektif dan psikomotor. yakni untuk menata 3 . kritis. Dalam hal ini. misalnya dengan menurunkan tingkat keabstrakannya. pembelajaran matematika di sekolah lebih mengutamakan pencapaian tujuan pendidikan matematika yang bersifat material. yaitu untuk menata nalar siswa dan membentuk kepribadiannya. dan pribadi yang konsisten. sebab menurut Soedjadi (1999:173). Hal ini dapat dimengerti. yaitu untuk membekali siswa agar menguasai matematika dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran matematika hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga tidak hanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan dalam ranah kognitif. Materi matematika yang dipilih itu kemudian disebut matematika sekolah. pembelajaran matematika juga dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan matematika yang bersifat formal. tugas guru matematika sangat strategis. matematika sekolah tidak sama dengan matematika sebagai ilmu dalam hal penyajiannya. Selama ini. keterbatasan semestanya. Untuk mempermudah penyampaiannya. pola pikirnya. tetapi juga dimaksudkan untuk menghasilkan siswa yang berkepribadian baik. tidak semua siswa yang menerima pelajaran matematika pada akhirnya akan tetap menggunakan atau menerapkan matematika yang dipelajarinya. khususnya untuk siswa di sekolah tingkat rendah. kreatif. sehingga produk dari pembelajaran matematika tampak pada pola pikir yang sistematis. dan tingkat keabstrakannya. Namun lebih dari itu. Matematika sekolah adalah unsur-unsur atau bagian-bagian dari matematika yang dipilih berdasarkan atau berorientasi kepada kepentingan pendidikan dan perkembangan IPTEK. mengingat mereka belum dapat berpikir secara abstrak dan menggunakan pola pikir deduktif.materi-materi matematika tertentu yang akan diajarkan di jenjang sekolah. penyajian butir-butir matematika harus disesuaikan dengan perkiraan perkembangan intelektual siswa. Pembelajaran matematika yang baik tidak hanya dimaksudkan untuk mencerdaskan siswa. Padahal hampir semua siswa memerlukan penalaran dan kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Ia dituntut untuk dapat merancang pembelajaran matematika sedemikian rupa sehingga dapat membantu siswa dalam mengembangkan sikap dan kemampuan intelektualnya. tetapi kurang memperhatikan pencapaian tujuan pendidikan matematika yang bersifat formal. disiplin diri. Dengan demikian menurut Soedjadi (1999: 37).

cermat. dan berlatih mengemukakan pendapat dengan argumentasi yang kuat. cermat. logis. Guru secara sengaja mendesain pembelajaran matematika yang memungkinkan di dalamnya terdapat aktivitas-aktivitas yang dapat mendukung tumbuh kembangnya kepribadian siswa. Misalnya. tujuan pendidikan matematika yang bersifat formal. seiring perkembangan matematika yang begitu pesat serta diperlukannya matematika dan pola pikirnya dalam berbagai bidang. Perencanaan pembelajaran yang demikian menurut Soedjadi (1999: 66) disebut perencanaan pembelajaran by-design.nalar siswa dan membentuk kepribadiannya. melalui aktivitas diskusi. rasional. maka guru perlu secara sengaja merancang pembelajaran yang memungkinkan untuk membelajarkan nilai-nilai edukatif dalam matematika secara aktif kepada siswa. runtut. Nilai-nilai yang dibelajarkan kepada siswa di kelas sedapat mungkin juga mencakup nilai-nilai yang berkembang di masyarakat secara umum. Dalam pembelajaran matematika yang dikembangkan guru selama ini. analitis. mengingat tidak sedikit guru yang melaksanakan pembelajaran semata-mata untuk menyampaikan materi pelajaran atau transfer pengetahuan. siswa dilatih untuk menghargai dan mengkritisi pendapat orang lain. melalui rangkaian langkah-langkah pemecahan masalah dalam matematika. masih sedikit guru yang mengetahui bagaimana pengaruh pembelajaran yang telah dilaksanakan dan bagaimana merancang pembelajaran matematika sehingga dapat mengembangkan nilainilai matematika pada siswa. Hal ini dapat dipahami. Menurut Bishop (2000). Pembelajaran yang demikian tentu saja masih diperlukan. 4 . Nilai-nilai itu dapat dibelajarkan kepada siswa baik secara implisit maupun eksplisit dalam pembelajaran matematika di kelas. dapat berpikir kritis. diharapkan dapat tercapai dengan sendirinya. values in mathematics education is the deep affective qualities which education fosters through the school subject of mathematics. dan efisien. dan konsisten dalam bersikap. sistematis. menghargai kesepakatan. Misalnya. Nilai-nilai dalam pendidikan matematika merupakan komponen penting dalam pembelajaran matematika di kelas. Perencanaan pembelajaran matematika yang demikian menurut Soedjadi (1999: 66) disebut perencanaan pembelajaran by-chance. diharapkan siswa secara otomatis dapat tertata nalarnya. analitis. yaitu untuk membentuk nalar dan kepribadian siswa. Bahkan pada umumnya guru kurang mengetahui adanya nilai-nilai matematika. runtut. Menurut Bishop (2000). Namun. siswa dilatih untuk bersikap kritis. Melalui pembelajaran matematika.

dan program-program komputer. timbangan. (3) taraf operasional konkret. Teori Perkembangan Piaget Menurut Piaget (Suparno. Sedangkan menurut Briggs (Prastati. Pada umur 7-11 tahun yang disebut taraf operasioanal konkret. Komponen-komponen dimaksud adalah sumber informasi. penggaris. anak sudah mengembangkan pemikiran abstrak dan penalaran logis untuk berbagai persoalan. 2001) media pembelajaran diartikan sebagai sarana untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran. jangka. lembar tugas. dan penerima informasi.C. yaitu dibentuknya skema/skemata. skema berkembang seturut dengan perkembangan intelektual. media hanya akan bermakna apabila ketiga komponen lainnya ada. anak mengembangkan kemampuan menggunakan pemikiran logis dalam berhadapan dengan persoalan-persoalan konkret. Dengan demikian. Pada taraf operasional formal (11-15 tahun). yaitu: (1) taraf sensori-motor. Sarana dimaksud dapat berupa perangkat keras maupun perangkat lunak. informasi. petunjuk permainan matematika. 1997:34). 2001). D. Pada taraf ini. Sedangkan contoh sarana yang dikategorikan sebagai perangkat lunak antara lain adalah lembar kegiatan siswa (LKS). mulailah berkembang kemampuan berbahasa dan beberapa bentuk pengungkapan. penalaran pralogika juga mulai berkembang. meskipun perkembangan kognitif sudah mulai ada. maka proses komunikasi tidak mungkin terjadi. Pada taraf ini. media pembelajaran dapat diartikan sebagai teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. media dapat diartikan sebagai apa saja yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi ke penerima informasi. Taraf sensori-motor berkembang pada anak sejak lahir sampai sekitar umur 2 tahun. Pada taraf pra-operasional. 5 . Pengertian media pembelajaran tidak jauh berbeda dengan pengertian media dalam proses komunikasi. dan (4) taraf operasional formal. skema seseorang berkembang. dan kartu permainan bilangan. anak belum dapat berpikir dan menggambarkan suatu kejadian atau objek secara konseptual. Apabila salah satu dari keempat komponen ini tidak ada. (2) taraf pra-operasional. Media Pembelajaran Secara umum. Sarana pembelajaran yang berupa perangkat keras antara lain adalah papan tulis. Menurut Schramm (Prastati. Media merupakan salah satu komponen dalam proses komunikasi. yang berkembang pada umur 2-7 tahun. serta komponen keempat adalah media. Pada keempat taraf perkembangan kognitif di atas. Piaget membedakan empat taraf perkembangan kognitif seseorang.

audiotape. Metode pembelajaran adalah prosedur yang disengaja dirancang untuk membantu siswa belajar lebih baik dan untuk mencapai tujuan pembelajaran. foto. media yang dapat dilihat. Dari ketiga macam media pembelajaran tersebut yang paling lengkap adalah audio-visual gerak (ada gambar. misalkan guru melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas menggunakan OHP melalui aktivitas diskusi. cassete recorder. film. c. dan computer assisted instruction (CAI) Media pembelajaran dapat berfungsi sebagai alat bantu visual dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan Schramm (1977) membagi media menurut banyaknya audiens yang dilayani sebagai berikut. papan tulis. slide. seperti film suara. media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. Keterkaitan antara media pembelajaran dan metode pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran digambarkan sebagai berikut. dan gerak). video tape. seperti media cetak (hand-out). Metode pembelajaran Sumber informasi Penerima informasi Media Informasi Penerima informasi Sumber informasi Metode pembelajaran Sebagai contoh. b. Media untuk individu. Secara umum. dan media yang dapat bergerak. dan program/pesan yang ditampilkan melalui alat tersebut yang disebut perangkat lunak (software). Bletz (1971) membagi media pembelajaran menjadi tiga macam. yaitu alat-alat produk teknologi yang digunakan untuk menampilkan pesan/informasi yang disebut perangkat keras (hardware) seperti OHP. Media untuk audiens kecil. sedangkan diskusi adalah metode pembelajaran yang sengaja dirancang untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya. radio. audiodisc. televisi. suara. yaitu media yang dapat didengar. Terdapat berbagai cara untuk mengklasifikasikan media pembelajaran. yaitu berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada 6 . seperti slide.Penggunaan media pembelajaran tidak terlepas dari penggunaan metode pembelajaran. video cassete. maka OHP tersebut adalah media pembelajaran. Media untuk audiens besar. film bisu. seperti televisi. chart. dan internet. a. radio. dan OHP.

Anal : ya (anak memikirkan suatu bilangan) Guru : Apakah bilangan itu lebih besar dari 25? Siswa : Tidak. siswa dapat belajar sesuai kecepatan masing–masing. dan mempertinggi daya serap atau retensi belajar siswa. Mintalah siswa untuk memikirkan suatu bilangan. Guru : Apakah bilangan itu terletak antara 10 dan 20? Siswa : ya Guru : Apakah bilangan itu genap? Siswa : ya Dan seterusnya.. siswa menjadi aktif. film. yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intuisi anak. 1. Menurut Basuki Wibawa dan Farida Mukti (1993: 8-9). media pembelajaran dapat difungsikan sebagai berikut. serta dapat menyalurkan informasi secara terarah untuk mencapai tujuan tertentu. Berikan pertanyaanpertanyaan selidik untuk menebak bilangan yang dipikirkan anak tersebut. seperti berikut ini. dan transparansi. hingga guru dapat menebak bilangan yang dipikirkan anak..siswa antara lain untuk mendorong motivasi belajar. E. 7 . dan diproduksi secara sistematik. selanjutnya siswa diminta untuk menebak suatu bilangan yang dipikirkan guru dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan selidik serupa. Guru : Coba pikirkan suatu bilangan. televisi. misalnya: radio. misalnya gambar. dan video. Keuntungan model ini yaitu guru dapat memberikan waktu banyak bagi siswa yang benar-benar membutuhkan. 2. Sebagai alat bantu mengajar (dependent media) Efektivitas penggunaan media tergantung cara dan kemampuan guru dalam menggunakan. Contoh Pembelajaran Matematika Berikut diberikan contoh pembelajaran matematika. Sebagai media belajar mandiri (independent media) Media dirancang. pada topik bilangan. Setelah guru dapat menebak bilangan yang dipikirkan oleh anak. melalui permainan tebak angka. dikembangkan. memperjelas dan mempermudah penyampaian konsep yang abstrak.

o Siswa memperhatikan pola susunan gelas dan menjawab sebagai berikut.Guru dapat juga menggunakan media pembelajaran. Beberapa kemungkinan jawaban siswa adalah: o Siswa menghitung satu persatu semua gelas yang ada sehingga diperoleh hasil 24. misalnya satu ‘kotak’ teh botol (berisi 24 botol) yang tersusun empat-empat seperti berikut ini. Siswa diminta untuk menjelaskan alasan jawabannya. maka banyaknya semuan gelas adalah 4+4+4+4+4+4 yang sama dengan 24 atau karena ‘enamnya ada empat. siswa diminta untuk menghitung banyaknya gelas dalam kotak tersebut. maka banyaknya semua gelas adalah 6+6+6+6 yang sama dengan 24 juga. kepada siswa dapat dihadirkan beberapa benda real yang tersusun menurut aturan tertentu. seperti gambar berikut ini. Melalui aktivitas diskusi kelompok. meskipun dengan cara-cara yang mungkin berbeda. Untuk membelajarkan konsep perkalian. o Siswa langsung mengalikan: 6 x 4 = 24. Siswa diminta untuk menjelaskan cara mereka menjawab. Kemungkinan besar siswa akan menjawab 24. Karena ‘empatnya ada enam’. o dan lain sebagainya. 8 . Guru dapat menanyakan kepada siswa bagaimana cara menghitung gelas-gelas tersebut dengan cepat (tanpa menghitung satu-persatu). untuk membelajarkan matematika.

Pemanfaatan media pembelajaran tersebut dapat dikombinasikan dengan aktivitas permainan. Alan. Leshin. dkk. Jakarta: PT Radja Grafindo Persada.htm. Englewood Cliffs: Educational Technology Publications. 1982. Soedjadi. Bishop. 1985. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia (Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan).aare.au//99pap/bis99188. sehingga pembelajaran terasa lebih hidup.1999. Makalah disampaikan pada 3 Mei 1976. Herman Hudojo 1979. 2001. Pembelajaran yang demikian. 2000. 1981. Values in Mathematics Education: Making Values Teaching Explisit in the Mathematics Classroom. Kemp & Dayton. Untuk tujuan tersebut guru dapat menggunakan media pembelajaran. sehingga setahap demi setahap diharapkan akan menjadikan matematika sebagai pelajaran yang disenangi siswa. Media pembelajaran yang baik tidak identik dengan kemahalannya. Paul Suparno. Surabaya: Usaha Nasional. Slamet. Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di Depan Kelas. Publisher. 1976. Jakarta: DepDikBud. Basuki Wibowo dan Farida Mukti. Jakarta: Pusat Anta Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Dirjen Dikti Depdiknas. Pollock & Reigeluth. Daftar Pustaka Arsyad. Media Pengajaran.1997. 9 . C. Prasasti. New York: Harper & Row Publisher. Didownload pada 22 Maret Dajono. perlu terus menerus dikembangkan. Harapan Terhadap Pengarahan Pendidikan Matematika di Indonesia. 1993. Makalah pidato pengukuhan guru besar dalam pendidikan matematika pada Fakultas Ilmu Eksakta IKIP Surabaya. Azhar. Bell. Semoga.F. R. Teaching and Learning Mathematics (in Secondary School) IOWA : WnC Brown Comp. 2000. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius. Guru dapat menggunakan benda-benda sederhana yang mudah didapat sebagai media pembelajaran.M.B. Jakarta: Ditjen Dikti Depdikbud. Instructional Design Strategies and Tactics. G. Media Pengajaran.edu. Frederick H. Planning and Producing Instructional Media. Penutup Dibutuhkan kreativitas bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran matematika yang menarik dan dapat menumbuhkan kreativitas siswa. Trini & Irawan Prasetya. C. http://www. Media Sederhana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful