P. 1
tugas Ilmu negara

tugas Ilmu negara

|Views: 171|Likes:
Published by Si Chebet Aganis

More info:

Published by: Si Chebet Aganis on May 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2015

pdf

text

original

BAB I

PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG MASALAHAN Untuk menambah ilmu pengetahuan mahasiswa tentang adanya pemberlakuan perpajakan khususnya mafia pajak dalam suatu sistem di Indonesia yang menimbulkan suatu dampak negatife terhadap kehidupan sosial di negara Indonesia 2. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan permasalahan dalam makalah ini adalah sebagai berikut : a. apa arti dari mafia pajak itu tersebut ?

b. pandangan masalah mafia pajak dari segi politik , hukum dan ekonomi
c. kasus – kasus tentang mafia pajak yang ada di Indonesia. d. apakah dampak dari mafia pajak terhadap negara Indonesia ? e. bagaimana upaya penanggulangan tentang mafia pajak tersebut ? 3. TUJUAN Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut : a. Diharapkan mahasiswa dapat mengerti tentang mafia pajak . b. Diharpkan mahasiswa dapat menelaah beberapa kasus tentang mafia

pajak dari beberapa kasus yang di angkat dalam makalah ini.
c. Diharapkan mahasiswa dapat ikut berfikir dalam upaya mengatasi mafia pajak di Indonesia . 4. MANFAAT

Yang menjadi manfaat yang akan di capai dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut : a. Mahasiswa mampu menjadi penengah di tengah masyarakat dalam mengurangi kesalahpahaman dan salah tafsir masyarakat dalam kasus mafia pajak b. Mahasiswa diharapkan dapat ikut berperan serta dalam mencari solusi mafia pajak

BAB II

MAFIA PAJAK DI INDONESIA
Definisi Mafia Pajak Terbagi atas dua kata MAFIA DAN PAJAK

Mafia merupakan suatu istilah dari orang Sicilia untuk segala organisasi rahasia yang mengendalikan kehidupan masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Pada abad ke-19, para pemilik tanah feodal dan di Sicilia membentuk kelompok para pengikut yang harus menjaga tanah mereka dari ancaman pemberontakan petani. Organisasi-organisasi ini, yang disebut Mafia, menjadi suatu organisasi yang sejajar dengan dengan badan-badan pemerintah resmi. Pada masa itu, organisasi mafia bertujuan untuk mengendalikan segala kegiatan politik dan ekonomi di daerah pedesaan dengan segala cara. Setelah perang Dunia II terjadi pemisahan antara Mafia “tua” dan “muda”, yang terakhir ini terutama berpusat di kota-kota besar dan mengikuti cara-cara Mafia Amerika. Di Amerika, istilah Mafia digunakan untuk bentuk-bentuk tertentu yang terorganisasi. Sedangkan, Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang
sehingga dapat dipaksakan- dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.

Lembaga Pemerintah yang mengelola perpajakan negara di Indonesia adalah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang merupakan salah satu direktorat jenderal yang ada di bawah naungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Jadi bisa di artikan MAFIA PAJAK adalah organisasi organisasi tidak resmi yang ikut campur dalam pengelolaan iuran rakyat di negara Indonesia . Selama ini kita mengenal adanya berbagai Mafia di negeri kita. Beberapa kelompok yang kita kenal dan familiar dalam pendengaran kita antara lain adalah : · Mafia Kayu. Untuk memberi lebel atau prediket kepada para pelaku kejahatan di bidang kayu dan perusak hutan ilegal loging atau pelaku ilegal logging. · Mafia Bandar Psikotropika. Untuk memberi prediket kepada pelaku kejahatan dalam perederan ganja, heroin, shabu-shabu, mariyuana, opium dan sebagainya. · Mafia Pajak. Untuk memberi prediket kepada para pelaku kejahatan di bidang penggelapan pajak. · Mafia Peradilan. Untuk memberi prediket kepada para pelaku kejahatan di bidang proses di pengadilan. · Mafia Hukum. Untuk memberi prediket kepada para pelaku kejahatan di bidang penegakan hukum. · Mafia PNS. Untuk memberi prediket kepada calo penerimaan Pegawai Negeri Sipil. · Mafia Sex. Untuk memberi prediket kepada penyedia birahi dan pemuas syahwat. · Mafia Tanah atau rumah. Untuk memberi prediket kepada agen atau calo jual beli rumah, bangunan atau tanah bodong alias bermasalah.

Mafia Senjata, Mafia Impor barang, Mafia Minyak Tanah, Mafia Tabung Elpiji, Mafia Sepakbola, Mafia bandit pembunuh dan sebagainya. Yang terkini kita temukan dengan nyata adanya mafia atau calo pembuat Paspor. Sebetulnya ini bukan temuan baru karena calo yang membantu pembuatan paspor memang sudah ada sejak dulu kala. Mereka malah bekerja secara terbuka untuk membantu calonnya yang mengatakan keinginannya untuk disiapkan paspor dengan cara cepat, mudah walau sedikit mahal. Dan dalam kamus “Oxford Advance Learner Dictionary” adalah a secret organization
·

of criminal. Memang mafia di negeri asalnya adalah organisasi yang bersifat rahasia dari para kriminalis. Tetapi kata mafia sekarang sudah berubah maknanya. Bukan hanya sekedar organisasi yang menghimpun para kriminalis, akan tetapi juga mereka yang menggunakan mafia kerah putih. Jika mafia dahulu selalu dikaitkan dengan kriminalis hitam, seperti perampokan, penjarahan, kekerasan actual dan sebagainya, akan tetapi sekarang mafia sudah memasuki dunia lain, yaitu tindakan koruptif, nepotisme dan kolusi. Dewasa ini yang ramai dibicarakan adalah mafia hukum atau yang lebih spesifik mafia pajak. Tentu saja hal ini dikaitkan dengan kasus Gayus Tambunan yang melakukan tindakan koruptif dan kolutif terkait dengan pembayaran pajak. Pegawai yang hanya bergolongan III ini ternyata memiliki property yang jauh di atas rata-rata PNS. Dan melalui tindakannya yang melawan hukum tersebut, maka kasus mafia pajak terkuak secara transparan. Sebagai kesimpulan bahwa mafia pajak dapat didefinisikan sebagai semua tindakan oleh prorangan atau kelompok yang terencana untuk kepentingan tertentu yang mempengaruhi penegak hukum dan pejabat publik yang menyimpang dari ketentuan hukum yang ada.

PANDANGAN MASALAH MAFIA PAJAK DARI SEGI POLITIK , HUKUM DAN EKONOMI

a. Masalah Mafia Pajak dipandang dari Segi Politik Sekarang ini, ada kecenderungan gagalnya sistem birokrasi di Indonesia yang disebabkan oleh berbagai masalah politik, terutama kegagalan terciptanya konsolidasi elite politik di Indonesia. Sebenarnya, konsolidasi politik dapat dikatakan elit jika memiliki resource yang berkualitas, seperti para pemimpin dan anggota partai yang berkualitas. Tetapi, seperti yang kita lihat belakangan ini, banyak ‘elit’ politik yang dapat mencapai posisinya bukan karena kualitas mereka, tetapi karena hal-hal lain. Akibatnya, konsolidasi elit politik gagal dan menyebabkan munculnya politik yang profit-oriented. Politik yang profit-oriented akan menyebabkan kegagalan birokrasi, terutama di negara yang bersistem politik seperti di Indonesia. Birokrasi di Indonesia amat terpengaruh oleh politik. Parlemen (dan berarti partai politik) dapat ikut campur di berbagai urusan birokrasi. Padahal seharusnya birokrasi yang ideal bebas dari kepentingan politik. Akibat usaha mengambil keuntungan di dalam birokrasi (yang disebakan kuatnya kepentingan politik), kita mengenal berbagai masalah, termasuk yang sedang kita bicarakan sekarang ini, yakni mafia pajak. Mengingat pentingnya kesehatan birokasi, sekarang ini pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan reformasi. Reformasi yang perlu kita perhatikan adalah reformasi di Departemen Keuangan yang sudah dimulai sejak masa Menteri Keuangan Sri Mulyani. Public Accountability adalah focus dari reformasi di Departemen Keuangangan. Reformasi di departemen ini amat penting mengingat posisi Departemen Keuangan yang amat strategis karena 1) mempunyai lebih dari 60.000 PNS di seluruh Indonesia dan 2) mempunyai incomegenerating organizations yang amat penting, seperti Dirjen Pajak. Reformasi di Departemen Keuangan diarahkan kepada:

• •

Desain etik dan kognisi yang pantas dan appropriate. Penataan birokrasi yang berkorelasi dan bertanggungjawab, dapat menimbulkan kompetisi individu-individu yang ada di dalamnya. Penataan renumerasi birokrasi. Departemen keuangan menyadari betul bahwa mereka adalah income-generating. Sehingga remunerasi berusaha dilakukan untuk memuaskan para karyawan untuk tidak melakukan berbagai tindakan illegal untuk menambah keuntungan

Penegakan kontrol dan pengawasan birokrasi.Desain pertanggungjawaban birokrasi. Dilihat dari system operasi manajemen memang tidak ada mafia pajak, namun terdapat power relation dalam institusi negara. Lingkungan politik tidak cukup kondusif untuk menjalankan sistem birokrasi.

Jika dilihat sekilas, birokrasi di Departemen Keuangan sudah amat terstruktur sehingga seharusnya tidak muncul mafia pajak. Masalahnya, Departemen Keuangan adalah sebuah institusi negara. Akibatnya, birokrasi di departemen ini pada akhirnya juga akan terpengaruh oleh kepentingan politik. Hal ini disebabkan karena lingkungan politik kita tidak sehat untuk kepentingan birokrasi. Seharusnya, lingkungan birokrasi bebas dari kepentingan politik. Tetapi, seperti yang kita lihat dalam politik kita, ketika sebuah partai menang dalam pemilu, deal politik dan berbagai kepentingan mereka pada akhirnya mengatur-ngatur masalah birokrasi yang seharusnya bekerja secara independen. Para politisi akan berusaha untuk mengintervensi kegiatan birokrasi untuk mendukung kepentingan mereka. Kuatnya peran politik di dalam birokrasi juga menyebabkan terjadinya diskresi. Diskresi berarti menerjemahkan aturan sesuai dengan kepentingannya. Semakin kuatnya kepentingan politik di dalam birokrasi, semakin banyak terjadi transaksi politik, yang akhirnya menyebabkan diskresi tak terkendali yang dilakukan oleh para pelaku transaksi itu, seperti :

Birokrasi sebagai sumber keuntungan tertentu, yang acap kali dijadikan sebagai mesin politik dalam sejumlah kampanye politik,, yaitu adanya street level, middle, dan top level. Sumber patronase, artinya untuk keuntungan politik dalam menginisiasi kepentingan. Sebagai sumber loyalitas politik

• •

Kuatnya pengaruh politik menyebabkan terjadinya dilema birokrasi, seperti dilema kompetensi dan otoritas. Maksudnya, birokrasi pastinya memiliki akses yang baik di berbagai bidang, seperti memiliki pekerja yang kompeten dan sumber dana. Kuatnya kepentingan politik di dalam birokrasi menyebabkan berbagai akses dan sumber daya yang dimiliki birokrasi tidak lagi digunakan untuk kepentingan publik, melainkan untuk kepentingan otonom kelompok tertentu yang sering berbeda dengan kepentingan publik. Dilema bagi birokrasi Indonesia juga muncul dalam interaksi politik. Aturan di Indonesia-lah yang menyebabkan dilema tersebut. Contohnya, 1) birokrasi diharapkan bebas dari intervensi politik tetapi juga harus diawasi oleh politik, seperti munculnya fit and proper test yang dilakukan oleh DPR, dan 2) kegiatan birokrasi merupakan tanggung jawab kementerian tetapi mereka juga harus mempertanggungjawabkan diri sendiri. Contoh terbaik dari hal ini mungkin adalah ancaman masalah reshuffle cabinet. Dengan sistem

presidensiil yang kita anut, seharusnya tugas para menteri lepas dari kepentingan partai. Seharusnya mereka murni dipilih sesuai kemampuan dan bekerja sesuai tugas dan bidangnya. Tetapi, pada kenyataannya, seperti yang kita lihat, dalam pemilihannya, para menteri amat terikat dengan partai, dan ketika terjadi gonjang-ganjing politik di parlemen, mereka juga terkena getahnya. Nah, jika sekarang kita kembali ke masalah mafia pajak, mungkin kita sudah memahami masalah ini lebih jauh sekarang. Mafia pajak adalah sebuah kejahatan terstruktur, yang disebabkan oleh politik profit-oriented yang dilakukan oleh berbagai pejabat birokrasi. Berbagai posisi dalam birokrasi (contohnya, Dirjen Pajak) amat mungkin terisi melalui berbagai deal-deal politik. Akibat kuatnya berbagai pengaruh dan kepentingan, ditambah dengan keinginan untuk mendapat keuntungan, bermunculan-lah berbagai mafia pajak. Lalu, bagaimana menghilangkan masalah mafia pajak ini? Hal penting yang perlu dilakukan adalah melenyapkan politik profit oriented ini. Politik ini tercipta karena politik high-cost di Indonesia. Partai ataupun calon harus mengeluarkan biaya yang tinggi untuk memenangi pemilihan. Akibatnya, hal pertama yang terpikir oleh mereka ketika menang adalah mengembalikan biaya tersebut. Menghilangkan politik high-cost di Indonesia dapat secara drastis menurunkan keinginan mencari untung di politik (dan brokrasi), termasuk di Dirjen Pajak. b. Masalah Mafia Pajak dipandang dari Segi Hukum Hal utama yang harus diperhatikan dan diketahui dalam memandang masalah mafia pajak dari segi hukum adalah perbedaan antara hukum pidana umum dengan hukum pajak (termasuk hukum pidana pajak). Hukum pidana bersifat represif sedangkan hukum pajak bersifat persuasif. Berarti, hukum pajak berbeda dengan hukum pidana umum dimana pelanggarnya akan langsung dihukum. Pada hukum pajak, jika seorang warga negara melakukan pelanggaran (seperti tidak membayar pajak) maka si pelanggar harus dibujuk untuk mebayar pajak dahulu. Jika semua cara persuasif gagal, baru hukum pidana pajak digunakan. Hukum pidana pajak adalah hukum tertua paling khusus yang digunakan bila semua pendekatan lain tak dapat digunakan. Tetapi, hukum ini tetap menganut sifat persuasif. Artinya, bila di tengah proses hukum si pelanggar bersedia membayar pajak maka proses hukum harus dihentikan. Perbedaan metode persuasi dan represif inilah yang perlu dimengerti dalam pembahasan kasus mafia pajak. Perbedaan antara hukum pidana pajak dengan hukum pidana umum ini-lah yang menimbulkan masalah, seperti perbedaan cara berpikir dan sudut pandang dalam penegakannya. Contohnya, aturan pajak negara kita mengenal self assessment (penghitungan pajak sendiri). Ketika terjadi perbedaan besarnya pajak dari self assessment dengan tagihan, wajib pajak berhak melakukan keberatan. Tetapi, ia harus membayar dahulu sesuai SPT (tagihan pajak). Jika keberatan itu dikabulkan, negara harus mengembalikan kelebihannya sebagai restitusi ditambah bunga 5 %. Pengembalian kembali ini memang merugikan negara. Akibatnya, orang-orang dituntut tindak pidana korupsi karena merugikan keuangan negara, padahal seperti itulah aturan perpajakan!

Inilah mengapa pelanggaran di sektor pajak hanya dapat disadari oleh orang-orang pajak dan tidak dapat ditentukan dengan hukum pidana umum. Selain itu, jika kita bicara tentang korupsi kita tidak hanya berbicara tentang korupsi dalam penerapan aturan. Sebenarnya, korupsi sudah dimulai sejak masa pembuatan aturan. Dalam pembuatan aturan, korupsi sudah terjadi saat terjadinya berbagai deal-deal politik yang menguntungkan suatu kelompok tertentu. Jadi, bagaimana mungkin aturan hukum dapat digunakan untuk memberantas korupsi jika dalam proses pembuatannya sudah mengakomodir kepentingan kelompok tertentu. Bagaimana cara mengatasi masalah mafia pajak? Pembenahan aturan perpajakan. 1) pembinaan karakter dari para pengurus pajak sendiri 2) masalah transparansi dan akuntabilitas di sektor perpajakan 3) pengadaan sistem penyidikan dengan aturan dan mindset sesuai aturan perpajakan yang berbeda dengan aturan tindak pidana korupsi, karena seperti yang telah dijabarkan tadi, sifat kedua hukum tersebut berbeda. Jadi, dalam penyidikan dan pengadilan tindak pidana pajak, harus digunakan aturan terpisah dan tidak dikait-kaitkan dengan aturan pada tindak pidana korupsi. c. Masalah Mafia Pajak Dipandang dari Segi Ekonomi Korupsi di Indonesia memang telah memasuki level ‘expert’. Kita hampir selalu menemukan tindak korupsi di setiap kegiatan yang menggunakan dana, baik dalam jumlah besar ataupun kecil. Ada istilah yang menyatakan bahwa kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan. Korupsi merajalela di negara kita karena banyaknya kesempatan yang tersedia. Pertama adalah masalah dokumentasi yang berantakan. Seberapa baiknya dokumentasi menentukan seberapa baiknya kualitas data yang dimiliki. Jika dokumentasi tidak jelas akan menyebabkan bias data. Padahal data-data kependudukan ini-lah yang digunakan sebagai dasar berbagai kebijakan, seperti BLT, pembagian raskin, sampai yang akan dilakukan yakni pembatasan BBM bersubsidi. Pada data yang bias inilah para koruptor bermain, termasuk para mafia pajak. Kedua, masalah insentif di negara kita yang berantakan. Sistem insentif di negara kita sebenarnya merupakan peninggalan masa kolonial, dimana para penjajah beranggapan bahwa untuk mendorong semangat kerja diperlukan pemberian insentif untuk setiap kegiatan yang dilakukan. Sistem insentif sekarang juga masih sama. Dalam berbagai slip gaji kita dapat melihat dua poin utama; gaji pokok dan penghasilan bersih. Gaji pokok seorang PNS golongan IIIA mungkin relative sama, tetapi dapat sangat berbeda dengan adanya berbagai tunjangan. Plus, berbagai insentif lain seperti uang rapat, uang lembur, uang perjalanan, dll. Hal ini mengakibatkan perbedaan besar antara gaji dan take-home pay (penghasilan yang dinikmati). Gaji pokok yang kecil menuntut pegawai untuk mencari tambahan penghasilan dari berbagai tunjangan. Gaji kecil menyebabkan orang-orang melakukan assessment yang sesuai dengan apa yang mereka anggap haknya. Di sini lah korupsi dapat (dan paling mungkin) terjadi.

Jika kita ingin mengetahui apakah sistem insentif di negara kita berjalan baik atau tidak, kita harus menilik berbagai lembaga pemerintah. Di antara semua lembaga pemerintah, hanya Bank Indonesia yang terbuka tentang penghasilan orang-orangnya. Ini karena gaji yang mereka dapatkan memang setara dengan take-home pay nya. Cara untuk mengatasi ini adalah perombakan pada sistem insentif kita. Seorang pegawai seharusnya mendapat gaji saja, tanpa embel-embel tunjangan lain. Tentu, besarnya gaji itu harus sepadan (tidak terlalu rendah seperti yang kita alami sekarang). Gaji itu sudah termasuk berbagai insentif dari tugas-tugas dan kegiatan yang ia lakukan sebagai tugasnya. Dengan begitu, gaji = take-home pay. Ini akan semakin memperkecil peluang korupsi. Jadi, dapat dikatakan bahwa masalah mafia pajak sebenarnya merupakan ‘puncak gunung es’ dari rapuh dan berantakannya sistem kita yang sialnya sudah kita terapkan sejak zaman penjajahan dan tak ada niat dari kita untuk mengubahnya. Contohnya saja, jika sistem pengadministrasian berjalan rapi dan tak dapat dimanipulasi, para mafia pajak tentunya tak dapat berbuat apa-apa untuk memanipulasi. Begitu pula dengan sistem insentif. Seandainya tidak ada berbagai tunjangan, dengan kata lain besarnya penghasilan sudah dipatok, maka tak akan muncul berbagai tindak pidana korupsi. Kegiatan illegal itu akan langsung tercium karena si pelaku mendapat penghasilan yang jauh lebih besar daripada seharusnya, padahal bayaran sudah dipatok sehingga setiap orang tidak mungkin mendapat penghasilan lebih dari itu. Masalah lain adalah pada aturan yang menyarankan koruptor untuk korupsi sebesar-besarnya. Penjabaran ini mungkin memang agak ekstrem. Tetapi, jika ingin mengetahuinya kita tilik kembali undang-undang yang mengatur hukuman bagi para koruptor. Jika kita perhatikan, tampak dengan begitu harfiahnya bahwa semakin besar jumlah uang yang dikorupsi, semakin besar pula keuntungannya. Hal ini dihitung dari denda yang harus dibayar. Jadi, dapat dikatakan bahwa aturan negara kita ‘menyarankan’ untuk melakukan korupsi secara ‘profesional’ dan jangan setengah-setengah.

Contoh Kasus-Kasus Mafia Pajak di Indonesia

Dari sekian kasus yang membelit negeri ini, kasus pajak menduduki peringkat kedua setelah kasus korupsi yang sedang mewabah di semua kalangan saat ini. Dari sejak dahulu, Departemen yang satu ini memang terkenal sarat dengan permainan antara para pegawai yang terkait dengan para wajib pajak sehingga menyebabkan berkurangnya rasa percaya masyarakat terhadap departemen ini atau bahkan sudah menjalar ke rasa tidak percaya kepada pemerintah. Hal ini membuat masyarakat enggan untuk taat membayar pajak walaupun itu merupakan kewajiban sebagai warga negara yang baik.Berikut ini adalah contoh beberapa kasus pajak yang sering terjadi di sekitar kita :
a. Pengacara senior, Adnan Buyung Nasution menilai, kasus penegakan hukum yang tak berjalan di Indonesia pada kasus mafia pajak Gayus Tambunan harus dijadikan contoh bagaimana menangani kasus Nazarudin. "Kayak Gayus itukan merasa dikorbankan, makanya dia menarik kembali semua keterangannya, dan membuat saya kehilangan pegangan. Jadi kasus Gayus harus jadi contoh bagaimana memperbaiki kasusnya Nazarudin nanti," kata Buyung di Jakarta, Kamis 7 Juli 2011. Adnan mengisahkan, saat dia menjadi kuasa hukum Gayus Tambunan dalam kasus mafia pajak, dia membujuk kliennya agar membongkar semua kebobrokan yang terjadi pada saat itu. Namun, upaya ini tak membuat hukum berjalan dengan baik. "Saya kecewa sama satgas, pemerintah dan polisi, sehingga saya merasa seolah-olah saya mengorbankan klien saya, saya janji untuk tegakkan hukum, ternyata hukumnya nggak jalan" kata dia. Hal ini, kata Adnan jangan terualang kalau Nazarudin kembali. Pemerintah, polisi, dan jaksa yang membawa kasus ini harus terikat. Tak satupun yang disembunyikan saat di pengadilan nanti sehingga tersangka merasa mendapat perlindungan. "Kalau betul-betul pemerintah mau bawa dia pulang, harus ada jaminan proses yang jujur bersih dan tidak dipengaruhi apapun

b. Harus diakui bahwa banyak orang asing yang mempunyai properti di Bali. Baik itu berupa hotel, home stay, villa, dll. Untuk menghindari besarnya pajak yang harus mereka bayar, tidak sedikit para pemilik yang warga negara asing tersebut melakukan transaksi di luar negeri untuk para tamu yang akan menginap. Jadi setelah terjadi kesepakatan rates kamar, para calon tamu akan melakukan pembayaran berupa transfer ke rekening bank di luar negeri milik owner dari tempat mereka akan menginap, Jadi pada saat mereka sampai di Bali tidak terjadi lagi transaksi pembayaran sehingga para pemilik tidak mempunyai bukti transaksi untuk diperlihatkan kepada petugas pajak. Hal ini bisa mengurangi jumlah pajak pendapatan yang harus mereka bayar kepada pemerintah. c. Pada tahun 2008 yang lalu pemerintah mempunyai program sunset policy bagi para wajib pajak.Sunset Policy bisa dibilang sebagai pengampunan dari pemerintah terhadap para wajib pajak yang dianggap kurang taat. Pengampunan itu bisa berupa penghapusan sanksi administrasi yang berupa bunga dan sanksi administrasi atas pajak yang kurang atau tidak dibayar. Tidak sedikit pengusaha yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan pengampunan dari pemerintah. Seperti kasus Gayus, wajib pajak bekerjasama dengan pegawai pajak untuk membuat laporan fiktif atas besarnya pajak yang belum dibayar. Bagi perusahaan besar dengan asset yang besar pula tentu mempunyai kewajiban membayar pajak yang tidak bisa dibilang sedikit. Sehingga besarnya "pengampunan" yang mereka terima dari

pemerintah juga jumlahnya besar. Hal ini tidak bisa dibenarkan karena telah menyalahi fungsi dari sunset policy itu sendiri. d. Bila kita pernah bekerja di perusahaan perseorangan yang dikelola dengan manajemen yang kurang baik, pembuatan laporan keuangan ganda sudah merupakan hal yang biasa terutama pada perusahaan dagang. Jadi, pegawai bagian accounting / keuangan dituntut untuk membuat laporan keuangan ganda yang bertujuan untuk menghindari atau memperkecil besarnya nilai pajak yang harus dibayar. Laporan keuangan yang sesungguhnya disimpan oleh pemilik untuk kepentingan pribadi dan laporan keuangan yang fiktif disiapkan sedemikian rupa untuk laporan pajak. Hal ini berlaku juga untuk semua data penjualan yang berada di komputer kantor. Biasanya para pemilik akan kelabakan bila petugas pajak melakukan verifikasi / pengecekan di lapangan. Hal seperti ini sangatlah tidak terpuji mengingat slogan pemerintah "orang bijak taat pajak".

Faktor Maraknya Mafia Pajak di Indonesia

Perkembangan mafia pajak di Indonesia di sebabkan oleh beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap maraknya mafia pajak di Indonesia, yaitu sbagai berikut :
a.

Pertama sekali sebabnya tidak lain adalah karena lemahnya pemahaman tentang pemahaman mafia. Mafia lebih didiskripsikan kepada yang hanya bersifat ekonomi. Kita jarang terpancing dengan mengaggap sangat reaktif jika ada pelanggaran secara kolektif dan terorganisir kepada hal-hal di luar persoalan ekonomi. Padahal sebagaimana disebut di atas, banyak bidang yang menjadi sasaran kerja para mafia, sehingga apapun hal-hal yang merugikan masyarakat secara simultan dan sistematis serta terus menerus menimbulkan kerugian moral dan meterial masyarakat pantas dan layak disebut MAFIA, walaupun pengeertian Mafia itu sendiri ternyata sangat menarik (maka perlu diberi pengertian yang leboh buruk harusnya). Lemahnya ketegasan pihak yang seharusnya memberi perlindungan kepada obyek dan subyek eksploitasi para mafia itu sendiri. Lemahnya posisi dan perhatian para pelindung dan pengayom ini diketahui dan dipelajari dengan baik sekali oleh para mafia. Mereka bersedia melakukan apa saja untuk menyenangkan hati para penentu kebijakan dan kondisi agar tugas dan program para mafia dapat berjalan dengan normal bahkan berjalan seolah-olah dengan benar karena telah dikondisikan benar oleh pemilik kekuasaan dan eksekutor. Tidak ada upaya menangkap dan memberangus mafia yang telah melakukan kejahatan di bidang apapun. Meskipun telah terlihat dengan nyata dan terang benderang bahwa kelompok atau individu tersebut memang melakukan pelanggaran yang merugikan negara dan bangsa secara sistematis. Adanya perlindungan di balik layar kepada para mafioso (Mafia) oleh penguasa yang merasa mampu melidungi mafia dan organisasinya (The Goodfather). Ini terjadi karena ada kesepakatan yang menggiurkan antara ke dua belah dalam menjalan simbiosis mutualisme untuk mendukung dan menjaga kebutuhan masing-masing. Terjadinya proses demoralisasi mental dan integritas petugas yang seharusnya menegakkan peraturan dan perundangan secara murni dan konsekwen. Jika dikembangkan masalah ini dari sisi finansial, penyebab lanjutnya adalah masalah pendapatan yang rendah atau tidak mencukupi kebutuhan petugas itu sendiri.

b.

c.

d.

e.

Dampak Mafia Pajak Terhadap Perekonomian Indonesia

Jangan harap negara akan maju dan diuntungkan selama konsep mafia ini masih dengan mudah diadopsi oleh petugas maupun sebagian warga masyarakat yang terlanjur terjebak dalam konsep atau oranisasi berorientasi kepada sistem mafia. Konsekwensi logisnya adalah terjadi dekadensi moral dan kepercayaan terhadap produk hukum apapun yang ada di dalam negara. Hukum dan Undang-undang hanya hisapan jempol belaka. Proses sidang hanya dianggap lelucon biasa. Ancaman maysarakat pecinta idealisme dalam menegakkan hukum hanya dianggap guyonan belaka. Bahkan ketukan palu di pengadilan pun dianggap sandiwara biasa. Selanjutnya tentu berdampak kepada melunturnya integritas bangsa. Lunturnya nilai-nilai ini adalah sebuah era malapetaka yang amat berbahaya dalam menentukan jati diri bangsa di masa yang akan datang. Semua generasi bangsa seolah-olah lucu dan asing jika ada yang masih ada meneriakkan penegakan hukum. Kebenaran menjadi nisbi. Kesalahan menjadi hal yang biasa. Perbuatan melanggar hukum dianggap jagoan. Apalagi yang terjadi setelah ini? Tidak ada lagi…Tidak ada lagi yang dapat dikatakan selain siap-siap kembalinya sejarah perjalanan negara dan bangsa ini mundur beberapa langkah atau beberapa dekade menjadi negeri Rimba alias tak memiliki kemampuan melindungi dan menjalankan produk hukumnya. Negara dan bangsa akan dililit oleh masalah demi masalah, problem demi problem akibat pihak idelisme beradu pendapat dengan kelompok foluntir dan melidungi mafia dan organisasinya.

Strategi Mengatasi Mafia Pajak di Indonesia

Tekad Komisi pemerintah, dan seluruh pihak untuk mencegah dan memberantas mafia pajak harus dilakukan dengan strategi implementasi yang baik,teratur,dan terukur. Jika dilakukan dengan publikasi bombastis untuk menyudutkan kelompok politik tertentu,yang akan terjadi adalah seperti sekarang, penyidikan tak kunjung menyentuh kasus pokok, sedangkan data dan fakta mafia hukum diduga telah disembunyikan atau dihilangkan pihak-pihak terkait.Yang mengemuka malah terkesan pertengkaran yang tidak perlu,yang ironisnya bisa jadi disengaja untuk memperkeruh proses investigasi. Strategi yang baik itu sangat penting disusun karena mafia pajak telah menggurita terlalu luas ke segala sektor, termasuk aparat birokrasi.Terkait hal ini, Kapolri Jenderal Timur Pradopo patut diapresiasi karena jujur mengakui keberadaan mafia hukum pada institusi yang dipimpinnya. Pengakuan Kapolri pada rapat kerja (raker) Komisi III DPR itu adalah titik terang untuk keberhasilan penegakan hukum pada kasus-kasus perpajakan,korupsi,rekayasakasus, dan sebagainya. Kejahatan mafia pajak memang sudah menjadi terlalu besar karena diduga mengakibatkan hilangnya potensi penerimaan negara sekurang-kurangnya Rp200- 300 triliun/tahun. Perkiraan konservatif ini masih mengasumsikan pembayaran pajak dengan metode self-assessment (menghitung sendiri), dan belum didasari prediksi jika negara telah memiliki basis data pembayar pajak dan potensi penerimaan negara secara lengkap, rinci,dan akurat. Namun, niat mulia penegakan hukum perlu dibarengi dengan ikhtiar menjaga perekonomian negara, iklim investasi, dan pertumbuhan ekonomi untuk membuka lebih banyak lapangan kerja. Bagaimanapun pajak adalah sumber penerimaan negara terbesar sehingga penegakan hukum di bidang pajak harus seelok mungkin. Seperti terlihat dari Undang- Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang APBN Tahun Anggaran 2011, dari total penerimaan negara lebih dari Rp1.104,9 triliun, sebanyak Rp850,255 triliun berasal dari penerimaan pajak atau sekitar 77%. Selain itu, kegiatan ekonomi yang menghasilkan penerimaan pajak terbesar juga merupakan sumber penerimaan negara dari pos penerimaan negara bukan pajak (PNBP),terutama pertambangan migas, emas, perak, tembaga, nikel, batubara, dan sebagainya. Total PNBP pada APBN Tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp250,9 triliun atau hampir 23%. Sisanya, 0,3% dari hibah. Kepercayaan Jika penegakan hukum berlangsung dengan adil dan baik,potensi penerimaan negara akan meningkat antara Rp200-300 triliun per tahun.Jumlah ini jauh lebih besar dari belanja pemerintah pusat pada Kementerian Pendidikan Nasional, apalagi jika dibanding kementerian/ lembaga lain seperti TNI,Polri, bahkan DPR RI se-kalipun. Mengapa penerimaan negara justru meningkat jika peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan hukum ditegakkan? Selama ini patut diduga sebagian dari potensi penerimaan negara telah dikeluarkan oleh para pembayar pajak, namun tidak disetorkan kepada negara.Sebagian yang lain memang secara sengaja tidak dibayarkan dengan benar dengan berbagai modus seperti transfer pricing, pelaporan keuangan yang tidak menggambarkan kondisi riil, selisih kurs dengan kurs yang sebenarnya, hingga rekayasa dalam klaim kelebihan pembayaran dan restitusi pajak.Karena aturan perpajakan cukup rumit dan menyulitkan banyak orang, patut diduga pegawai pajak (fiscus) berperan besar dalam melakukan rekayasa. Selain itu, penegakan hukum perpajakan juga akan membuat kepercayaan publik dan dunia usaha meningkat kepada pemerintah dan aturan hukum di Indonesia. Sepanjang penegakan hukum itu tidak tebang pilih, menerapkan asas kesamaan di mata hukum, dijalankan sesuai prosedur dan hukum acara yang berlaku,semua pelaku usaha akan memilih menaati aturan hukum. Bagaimanapun kesengajaan membayar pajak dengan tidak benar akan merusak reputasi

bisnis, padahal kepercayaan adalah modal pertama dan modal utama dalam berusaha.Masalahnya,ketika mereka dipersulit dalam proses pembayaran pajak, atau malah didorong membayar dengan tidak benar, dan itu berlaku umum, sangat wajar mereka akan “bermain aman”. Para pembayar pajak sebenarnya pasti senang jika metode pembayaran mudah, dihitung dengan tepat dan dibayarkan kepada negara untuk mengatasi masalah-masalah pelik kita, mulai dari kemiskinan, pengangguran, ketertinggalan infrastruktur, pelayanan kesehatan, pendidikan, bantuan hukum bagi yang tidak mampu,hingga peningkatan kemampuan menjaga kedaulatan dan keamanan dalam negeri. Penegakan hukum yang baik justru menciptakan kepastian hukum. Padahal, kepastian hukum inilah yang selalu dikeluhkan investor, bahkan menjadi kendala utama pembukaan investasi baru atau peningkatan investasi lama di Indonesia.Karena itu,publik harus yakin penegakan hukum di bidang pajak tidak akan mengguncang republik ini,alih-alih justru kegiatan ekonomi dan investasi akan meningkat, sekaligus mendongkrak penerimaan negara. Jebakan Retorika Ironisnya, kita tidak hidup di dunia retorika dan wacana.Pidato, penerbitan inpres pemberantasan mafia dan sejenisnya, penyelidikan dan penyidikan, baik pada penyidik pegawai negeri sipil perpajakan maupun penyidik kepolisian, kejaksaan dan nanti KPK, hingga proses pengadilan, baik pengadilan pajak maupun pengadilan di bawah lingkungan Mahkamah Agung, dan berbagai langkah konvensional lainnya,telah dikeluhkan tidak berhasil melemahkan mafia perpajakan. Hukum baru berhasil menyentuh pelaku lapangan. Itu pun bukan pada kasus-kasus utama yang menjadi sumber kerugian negara terbesar dan meresahkan masyarakat. Penegakan hukum belum menyentuh para penyelenggara negara dan para pengambil keputusan. Karena itu, proses penegakan hukum harus dibarengi dengan langkah-langkah luar biasa. Dalam hal ini,Komisi III dan Komisi XI DPR RI telah menjalankan fungsi pengawasannya. Jika kedua komisi ini dapat bersinergi,apalagi bila DPR RI dapat menyetujui pembentukan panitia khusus untuk penyelidikan (angket) kasus-kasus perpajakan dan pemberantasan mafia perpajakan, dapat diyakini akan mendorong seluruh institusi hukum dan instansi perpajakan bekerja dengan baik dan profesional. Penggunaan hak angket yang dilandasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR,DPR, DPD, dan DPRD tidak perlu dicurigai berkepentingan politik praktis, dalam arti pergantian kekuasaan negara, tapi harus diarahkan untuk dapat menyelidiki jaringan kejahatan perpajakan, bahkan dapat membongkar beberapa bos dari segala bos mafia perpajakan. Soalnya,Pasal 77 ayat 3 UU No 27/2009 menegaskan hak angket adalah untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang,yang dalam kasus ini antara lain pelaksanaan paket UU Perpajakan, UU Pengadilan Pajak,UU KUHAP, UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan sebagainya. Sementara objek pemeriksaan tidak sematamata atau tidak mengharuskan pada presiden,tapi bisa saja cukup untuk wakil presiden, para menteri, dan para penyelenggara negara yang dimaksud dalam Pasal 2 UU No 28/1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,Kolusi, dan Nepotisme. Dalam konteks penyelidikan mafia perpajakan,itu berarti dapat memanggil pejabat eselon I perpajakan. Mafia perpajakan tidak akan mungkin dihadapi oleh prosedur hukum formil yang biasa, tapi harus didukung oleh kekuasaan negara. Bayangkan,sekurang-kurangnya ada 12 titik rawan penyalahgunaan kewenangan di bidang perpajakan seperti temuan rekanrekan Komisi XI DPR.Titik-titik rawan tersebut adalah proses pemeriksaan, penuntutan di kejaksaan, oknum pengadilan pajak,keberatan pajak, persidangan

di pengadilan negeri,rekayasa akuntansi, banding pajak, komunikasi antara wajib pajak dan konsultan pajak, pemanfaatan berbagai fasilitas pajak dan pembebasan pajak (tax holiday), pemeriksaan bukti permulaan dan penyidikan pajak,permainan oknum pegawai dan pejabat pajak, serta pemanfaatan aturan-aturan perpajakan. Titik rawan lain yang dapat ditambahkan adalah kerumitan pengurusan besar pajak dan metode penghitungan, ambiguitas kewenangan pengadilan perpajakan antarapengadilanpajakdanbadanbadan peradilan di lingkungan Mahkamah Agung, ketiadaan kontrol melekat atau supervisi rutin terhadap pekerjaan aparat pajak, kelemahan basis data pemerintah, ketiadaan nomor induk kependudukan tunggal, dan sebagainya. Lemahnya pengawasan internal dan ketiadaan pengawasan eksternal perpajakan juga menjadi sumber masalah sehingga perlu dipikirkan perubahan undang-undang dan sistem negara untuk memisahkan lembaga yang mengurusi penerimaan negara dengan bendahara negara yang merangkap kasir penggunaan anggaran negara. Namun, semua persoalan dan kerangka solusi di atas akan mandek manakala persoalan luar biasa ini dicoba diselesaikan dengan cara-cara biasa, apalagi berbau politis dan sentimen pribadi. Sekaranglah waktunya bagi semua pihak untuk bersikap negarawan dengan meletakkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN Berdasarkan referensi yang kami gunakan dalam menyusun makalah ini, dapat kami simpulkan bahwa : a. Mafia pajak mempunyai peranan negatife di negara Indonesia dalam segala bidang . b. Sangat cepat pertumbuhan mafia pajak dalam negara Indonesia c. Masih kurang pengetahuan masyarakat tentang arti sebenarnya mafia pajak d. Kekuatan hukum di Indonesia masih terhitung lemah dalam menanggapi kasuskasus mafia pajak. B. SARAN Semoga makalah ini dapat menambahkan ilmu bagi pembaca tentang mafia pajak dan semoga dengan membaca makalah ini pembaca sadar akan pengaruh mafia pajak di Indonesia dan membudayakan diri untuk bersama – sama mencari jalan keluar untuk memberantas mafia pajak yang sedang berkembang di negara Indonesia .

DAFTAR PUSTAKA :

-

Google,Mozilla. Google,Mozilla. dan Ekonomi “ Google,Mozilla. Google,Mozilla Google,Mozilla

“ Pengertian Mafia Pajak” “ Pandangan Masalah Mafia Pajak Dari Degi Politik , Hukum “ Kasus – Kasus Tentang Mafia Pajak di Indonesia.” “ Dampak Mafia Pajak Terhadap negara Indonesia “ “Upaya Penanggulangan Tentang Mafia Pajak “

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Bab I Pendahuluan a. Latar Belakang b. Rumusan Masalah c. Tujuan d. Manfaat Bab II Mafia Pajak di Indonesia a. Definisi Mafia Pajak. b. Pandangan Masalah Mafia Pajak Dari Segi Politik,Hukum,Ekonomi. c. Kasus – Kasus Mafia Pajak di Indonesia d. Faktor Maraknya Mafia Pajak di Indonesia e. Dampak Mafia Hukum Terhadap perekonomi di Indonesia f. Strategi Mengatasi Mafia Pajak di Indonesia Bab III Penutup a. Kesimpulan b. Penutup Daftar Pustaka

i ii

1 1 1 1

2-3 4-8 9 – 10 11 12 12 – 15

16 16 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas rahmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Mafia Pajak Di Indonesia” Yang merupakan salah satu tugas kelompok yang di berikan dosen Ilmu Negara untuk Melengkapi Nilai Ujian Tengah Semester II Dalam Makalah ini kami membahas tentang mafia pajak di Indonesia yang menjadi salah satu pembahasan yang sangat menarik untuk di bahas. Dalam menyelesaikan makalah ini. Saya banyak mendapat bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada : 1. Dosen mata kuliah Ilmu Negara yang telah memberikan tugas mengenai “Mafia Pajak Di Indonesia” sehingga pengetahuan kami makin bertambah dan hal ini sangat bermanfaat bagi kami di kemudian hari. 2. Pihak-pihak yag tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah turut membantu sehingga makalah ini dapat dislesaikan dengan baik dan tepat pada waktuya. Saya menyadari bahwa penyusunan makalah ini sangat jauh dari kesampurnaan, namun demikian telah memberikan manfaat bagi penulis. Akhir kata berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan saran yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati.

TUGAS ILMU NEGARA

Nama NPM Mata Kuliah Kelas

: : : :

Santo Vans Jefry Sinaga 3011210003 Ilmu Negara G

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->