a.

Peran Sosiologi dalam pendidikan Sebelum melihat apa peran sosiologi dalam pendidikan, kita perlu mengetahui terlebih dahulu ilmu-ilmu yang mendasari ilmu pendidikan. Menurut Vaizey (1987:8) ada dua ilmu utama yang mendasari ilmu pendidikan yaitu psikologi dan sosiologi. Psikologi telah menambah pengetahuan tentang proses pendidikan dengan jalan membedakan antara hasil yang dicapai, yang diukur dengan penyelesaian suatu tugas, dan kemampuan sebagai suatu kekuatan potensiil yang ada. Sedangkan Sosiologi merupakan ilmu yang masih muda. Kajiannya sangat luas, akan tetapi dalam pendidikanlah para tokoh sosiologi memberikan apa yang mungkin merupakan sumbangannya yang terbesar terhadap pengetahuan dan garis kebijaksanaan. Kedua ilmu di atas, sama-sama merupakan ilmu yang mempunyai peran penting dalam pendidikan. Namun, dalam pembahasan ini hanya akan difokuskan pada ilmu sosiologi dan bidang kajiannya. Sosiologi merupakan ilmu sosial yang mempelajari hubungan antara manusia dengan manusia atau manusia sebagai individu dengan anggota masyarakat. Sedangkan menurut Munib (2007:58) pendidikan tidak berjalan dengan vakum sosial. Hal ini dikarenakan antara bidang kajian sosiologi dan pendidikan saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Bidang kajian sosiologi yang berkaitan langsung dengan pendidikan dapat dibedakan menjadi dua yaitu (1) Pendidikan dan masyarakat dan (2) Pendidikan dan perubahan sosial. (1)Pendidikan dan masyarakat. Dilihat dari sudut masyarakat secara keseluruhan, fungsi pendidikan adalah untuk memelihara kebudayaan. Kebudayaan berhubungan dengan nilai-nilai, kepercayaan, norma-norma yang turun temurun dari generasi dan generasi yang selalui mengalami perubahan. (2)Pendidikan dan perubahan sosial Sekolah dan masyarakat saling mempengaruhi dalam berbagai cara. Beberapa di antara perubahan tersebut adalah: a.Perubahan teknologi Dilihat dari sudut pandang sekolah, perubahan teknologi mempunyai tiga dampak penting, yaitu ŏ Perubahan teknologi dapat menciptakan suatu tuntutan bagi individu untuk memiliki keterampilan baru. ŏ Perubahan teknologi menuntut agar sekolah dapat mempersiapkan lulusannya untuk dapat menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi. ŏ Pengaruh teknologi terhadap sekolah yang terutama adalah pada penggunaan media pembelajaran, komunikasi, transformasi, dan revolusi bioteknologi. b. Perubahan demografi Perubahan yang terjadi sehubungan dengan ukuran, penyaluran, dan komposisi penduduk. Pengaruhnya terhadap pendidikan antara lain: ŏ Pengembangan kebijakan pendidikan. ŏ Pembatasan secara ketat penerimaan siswa baru. ŏ Ketidakseimbangan antara pertambahan penduduk dengan fasilitas pendidikan. c.Urbanisasi dan sub-urbanisasi ŏ Tanggung jawab sekolah membantu penyesuaian diri dari berbagai macam kelompok yang

sebagian besar merupakan penduduk perkotaan. ŏ Sekolah mempunyai peranan yang penting dalam membantu mekanisme kontrol sosial di masyarakat. ŏ Sekolah menentukan pengalaman pendidikan khususnya dalam mempersiapkan peserta didik secara tepat untuk hidup diperkotaan. d. Perubahan politik masyarakat, bangsa, dan negara Dua perubahan utama telah dan akan terus berlangsung yang memiliki dampak terhadap pendidikan, terjadi di dalam struktur pemerintahan dan di dalam masyarakat, yaitu: ŏ Meningkatnya keterlibatan pemerintahan di dalam kegiatan-kegiatan anggota masyarakat. ŏ Berkembangnya saling ketergantungan antara pemerintah negara yang satu dengan pemerintah negara yang lain, tidak hanya di lingkungan masyarakatnya, tetapi juga antar bangsa. Asumsi-asumsi mengenai peran sosiologi dalam pendidikan tersebut di atas kemudian memunculkan beranekaragam teori-teori sosiologi. Teori-teori Sosiologi ini menurut Wuradji (1988:9) juga digunakan atau diterapkan dalam bidang pendidikan oleh para ahli Sosiologi Pendidikan. Banyak teori-teori sosiologi dan juga telah diterapkan di bidang pendidikan, akan tetapi teori-teori yang cukup dominan dan yang telah bertahan cukup lama adalah teori “Struktural Fungsional” dan teori “Konflik”. Namun semenjak tahun 1970-an telah ramai diperdebatkan munculnya pandangan baru, yang oleh para pencetusnya dinamakan “the new sociology of education” yang menggunakan pendekatan teori interaksional dan teori etnometodologi. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan karena sosiologi mempelajari dan mengatur hubungan manusia dengan manusia, baik manusia sebagai individu dengan individu, maupun individu dengan masyarakat bahkan dengan pemerintah. Hubungan manusia dengan manusia itu juga merupakan substansi penting dalam lingkup pendidikan. Bahkan dengan munculnya sosiologi sebagai disiplin ilmu yang baru menyebabkan munculnya teori-teori sosiologi bahkan muncul teori sosiologi yang khusus menyoroti masalah pendidikan. Teori tersebut dikenal dengan istilah teori sosiologi pendidikan. b. Teori Sosiologi Karl Marx dan Implikasinya terhadap Praksis Pendidikan Sekarang ۵ Teori Sosiologi karl Marx Karl marx merupakan salah satu penganut aliran marxisme. Ia adalah keturunan Yahudi yang dilahirkan di Jerman pada tahun 1818 dan meninggal dunia pada tahun 1883. ۵ Karl marx mengemukakan pendapatnya tentang manusia, bahwa manusia baginya adalah seseorang yang tidak berarti apa-apa. Arti manusia dikaitkan dengan masyarakat. Masyarakat harus berkembang, dan perkembangan masyarakat disebut sebagai sejarah. Menurut Marx yang menjadi dorongan perkembangan masyarakat adalah yang menjadi dorongan jalan sejarah yaitu kekuatan materia yang ada di dalam masyarakat itu. Konsep ini juga memperjelas bahwa Marx sangat membedakan antara manusia dengan binatang. Perbedaan ini terletak pada cara atau usaha dalam mencapai keperluan hidupnya. Manusia dalam mencapai keperluan hidupnya harus mencari dan menggunakan alat (Poedjawijatna, 1983:168). Asumsi dasar pemikiran Karl Marx adalah bahwa kepentingan manusia adalah untuk mempertahankan materi. Pandangan Marx yang agak ekstrem determinase sosial atas tingkah

laku individu, bahwa manusia pada hakekatnya mengejar kepentingannya sendiri. Marx percaya bahwa manusia memiliki potensi untuk menjadi egois atau tidak egois bergantung dari sifat hubungan-hubungan tempat ia lahir atau dimana ia berada (Mof, 1997:1). Menurut Marx (dalam Lawang, 1986:120) kehidupan individu dan masyarakat kita didasarkan pada asas ekonomi. Antara lain berarti bahwa institusi-instritusi politik, pendidikan, agama, ilmu pengetahuan, seni, keluarga, dan sebagainya, bergantung pada tersedianya sumber-sumber ekonomi. Hal ini berarti juga bahwa institusi-institusi ini tidak dapat berkembang dengan tuntutan-tuntutan sistem ekonomi. Pendirian dan pemeliharaan perpustakaan dan museum sebagai tempat menyimpan ciptaan-ciptaan budaya, berhasilnya suatu tim atletik, terwujudnya suatu kebijakan politik, kesenangan keluarga dalam suatu perjalanan liburan, suatu penelitian seorang ilmuwan, semua ini dan kegiatan lain yang tidak terbilang jumlahnya tidak dapat dilaksanakan tanpa sumber materiil yang diperoleh lewat kegiatan ekonomi. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa teori sosiologi Karl Marx berorientasi pada materi. Karl marx tidak mengakui adanya kebebasan individu, tetapi kebebasan pribadi dibatasi oleh kelompok elite yang menngatas namakan rakyat banyak. Paham ini menurt saya kurang cocok apabila dimplikasikan pada pendidikan di Indoneia karena paham yang dianut Karl Marx berbeda dengan paham yang dianut Indonesia yaitu pancasila. Oleh karena itu, pandangan Karl Marx tidak sesuai apabila diterapkan di Indonesia, karena Indonesia menganut filosofi manusia yang memandang manusia secara utuh. Bahkan Indonesia telah jelas-jelas menolak pandangan atau pendirian materialisme. Hal tersebut tertuang dalam pandangan hidup Pancasila yang dijabarkan lebih lanjut dalam UUD 1945, dan GBHN yang dituangkan dalam Tap. No. IV/MPR/1973 dan IV/MPR/1978 dengan poin-poin pendirian sebagai berikut: ۵ Kita menolak pendirian materialisme, yang menganggap manusia sebagai materi semata-mata. ۵ Kita juga tidak dapat menerima visi Plato dengan dualismenya. ۵ Pendapat Aristoteles bahwa jiwa manusia akan musnah pada saat kematian manusia tidak sesuai dengan pendapat kita. Kita menegaskan bahwa manusia itu makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial, manusia itu makhluk jasmani maupun rohani (Budiman, dkk. 1986:124). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia sangat menentang pendapat Karl Marx. Bahkan pendapat Karl Marx apabila diterapkan pada pendidikan di Indonesia tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang di dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab II pasal 3. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan un tuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teori sosiologi Karl Marx sangat tidak cocok diterapkan di Indonesia, khususnya dibidang pendidikan. Sebab, tujuan pendidikan di Indonesia bukan untuk memperoleh material belaka tetapi untuk membentuk manusia seutuhnya yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. DAFTAR PUSTAKA

Robert M. Jakarta: Gramedia. John. Mencari Konsep Manusia Indonesia Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta: Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Program Pascasarjana IKIP Yogyakarta. Munib. Yahya. Mof. Jakarta: Binaprinindo Aksara. Arief. Wuradji. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. 1986.Budiman. Makalah. 2007. dkk. 1997. Semarang: UPT MKK Unnes. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas. Pendidikan Dunia Modern. Jakarta: Depdikbud. 2003. 1987. Achmad. Lawang. . Jakarta: Erlangga. Z. Pengantar Ilmu Pendidikan. Sosiologi Pendidikan Sebuah Pendekatan Sosio-Antropologi. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 1986. Hasil Analisis terhadap Teori Konflik (Karl Marx). Vaizey. 1988.

Di dalam pendidikan inklusi. Hal ini sesuai dengan UUD 1945 (amandemen) pasal 31 ayat 1. Oleh karena itu kami mengangkat permasalahan ABK dalam pendidikan inklusi sebagai bahan makalah ini. jenis dan jenjang pendidikan (Pasal 6 ayat 1). Indonesia Menuju Pendidikan inklusi Secara formal dideklarasikan pada tanggal 11 agustus 2004 di Bandung. tenaga pendidik khususnya guru pendamping bagi ABK sangat dibutuhkan untuk kelancaran dalam kegiatan belajar mengajar karena anak ABK membutuhkan pelayanan khusus. yaitu “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Setiap penyandang cacat memiliki hak yang sama untuk menumbuh kembangkan bakat. jalur. Namun dalam pelaksanaannya pendidikan inklusi mengalami beberapa permasalahan yang berasal dari faktor internal maupun eksternal. pemerintah dan badan-badan swasta menyelenggarakan pendidikan atau sekolah khusus yang biasa disebut Sekolah Luar Biasa (SLB) . contohnya program dana BOS dan sekolah gratis. Disamping pendidikan atau sekolah reguler. terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat (Pasal 6 ayat 6 UU RI No. Setiap penyandang cacat berhak memperolah pendidikan pada semua sektor.PERANAN SOSIOLOGI DALAM PENDIDIKAN ABK PERMASALAHAN ABK DALAM PENDIDIKAN INKLUSI Di Indonesia pemerintah sedang berupaya meningkatkan mutu pendidikan yang diwujudkan dalam pembuatan program – program baru. 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat). Salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah untuk pendidikan ABK adalah pendidikan inklusi. dengan harapan dapat menggalang sekolah reguler untuk mempersiapkan pendidikan bagi semua anak termasuk penyandang cacat anak. kemampuan dan kehidupan sosialnya. Salah satu contoh faktor eksternal adalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya pendidikan ABK. Salah satu contoh dari faktor internal adalah kurangnya tenaga pendidik yang berkompeten dalam bidang ABK. Pendidikan bagi ABK pun tidak luput dari perhatian pemerintah. Sehingga pemerintah mulai mengupayakan program – program baru dalam rangka meningkatkan potensi ABK dalam bidang akademik maupun non akademik. Padahal tenaga pendidik merupakan faktor utama dalam dunia pendidikan. Karena kurangnya pengetahuan tersebut maka masyarakat cenderung menganggap remeh dan mengabaikan kehadiran mereka.

Penyandang cacat anak untuk menjangkau SLB atau SDLB relatif sangat jauh hingga memakan biaya cukup tinggi yang tidak terjangkau penyandang cacat anak dari pedesaan. evaluasi disesuaikan dengan kemampuan mereka. di samping memecahkan masalah golongan penyandang cacat yang merata karena diskriminasi sosial.20 tahun 2003tentang system pendidikan nasional dinyatakan bahwa setiap warga Negara mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Pada sekolah sekolah reguler yang dijadikan perintis itu memang diuntukkan anak-anak lambat belajar dan anak-anak sulit belajar sehingga perlu mendapat pelayanan khusus. Tidak seperti sekolah reguler yang tersebar luas baik di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan. Karena masih dalam tahap rintisan sampai sekarang belum ada informasi yang berarti dari sekolah-sekolah tersebut. . Sejak tahun 2001.untuk melayani beberapa jenis kecacatan. bahkan ia menyukai tari dan suka musik. Hal ini menunjukkan bahwa anak berkelainan berhak pula memperoleh kesempatan yang sama dengan anak yang lainnya (anak normal) dalam pendidikan. berorientasi dengan yang lain. Dalam undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-undang No. Gurunya menyukai mereka. informasi tentang pendidikan inklusi tidak muncul kepada publik. Ini pula masalah yang dapat diselesaikan oleh pendidikan atau sekolah inklusi. secara formal pendidikan inklusi dideklarasikan di Bandung tahun 2004 dengan beberapa sekolah reguler yang mempersiapkan diri untuk implementasi pendidikan inklusi. karena dari sejak dini tidak bersama. sedang satu lagi tampak ceria dan gembira. juga ia ramah dan bermain dengan teman sekolahnya yang tidak cacat. Di Indonesia telah dilakukan Uji coba dibeberapa daerah sejak tahun 2001. mengajar dan mendidik mereka dengan mengunakan modifikasi kurikulum untuk matematika dan mata pelajaran lainnya. Perasaan mereka sangat bahagia dan bangga bahwa kenyataannya anak mereka diterima sekolah. pemerintah mulai uji coba perintisan sekolah inklusi seperti di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan 12 sekolah didaerah Gunung Kidul dan di Provinsi daerah Khusus Ibukota Jogyakarta dengan 35 sekolah. isu ini tenggelam ketika isu menarik lainnya seperti biaya operasional sekolah. SLB dan SDLB sebagian besar berlokasi di perkotaan dan sebagian kecil sekali yang berlokasi di pedesaan. Satu anak tampak berdiam diri dan cuek. sistem SKS SMA dan lain-lain. Awal tahun 2006 ini tidak ada tanda-tanda untuk itu.

akan tetapi lebih banyak keuntungannya tidak hanya memenuhi hak-hak asasi manusia dan hak-hak anak tetapi lebih penting lagi bagi kesejahteraan anak.D. Menurut Permendiknas No. with the needed supplemental aids and support service. Pada keluarga. equitable opportunities to receive effective educational services. karena tipe pendidikan ini . disayangi. dilindungi. 70 tahun 2009 pendidikan inklusi didefinisikan sebagai sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiiki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. in other to prepare students for productive lives as full member of society. Sedangkan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. in age-appropriate classes in their neighborhood. diantaranya adalah : a) Stainback dan stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah inklusi adalah sekolah reguler yang mengkoordinasi dan mengintegrasikan siswa reguler dan siswa penyandang cacat dalam program yang sama. pada kelompok teman sebaya. dari satu jalan untuk menyiapkan pendidikan bagi anak penyandang cacat adalah pentingnya pendidikan inklusi. Sebuah masyarakat yang melaksanakan pendidikan inklusi berkeyakinan bahwa hidup dan belajar bersama adalah cara hidup (way of life) yang terbaik. pada sekolah. sedang dan berat secara penuh di kelas regular.K. including those with significant disabilities. di kelas regular bersama-sama teman seusianya. dengan demikian penyandang cacat anak akan merasa tenang. yang menguntungkan semua orang. b) Staub dan Peck (1995) mengemukakan bahwa pendidikan inklusi adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan.D Gartner (2000) mengatakan bahwa : “Inclusive education as : Providing to all students. tidak hanya memenuhi target pendidikan untuk semua dan pendidikan dasar 9 tahun. karena pendidikan inklusi mulai dengan merealisasikan perubahan keyakinan masyarakat yang terkandung di mana akan menjadi bagian dari keseluruhan. bahagia dan bertanggung jawab.Lipsky dan A. c) Sapon – Shevin (O Neil 1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusi sebagai system layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat. merasa dihargai. pada institusi-institusi kemasyarakatan lainnya. percaya diri. Inklusi terjadi pada semua lingkungan sosial anak.

Guru dituntut melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses pendidikan. f. sedang dalam belajar mengajar. dan masalah lainnya terhadap akses dan pembelajaran. pendekatan guru berpusat pada anak. Dengan demikian sekolah atau pendidikan menjadi suatu lingkungan belajar yang ramah anak-anak. Sekolah harus siap mengelola kelas yang heterogen dengan menerapkan kurikulum dan pembelajaran yang bersifat individual. Kepala sekolah dan guru (yang nantinya akan menjadi GPK = Guru Pembimbing Khusus) harus mendapatkan pelatihan bagaimana menjalankan sekolah inklusi. Disamping itu pendidikan inklusi juga melibatkan orang tua dalam cara yang berarti dalam berbagi kegiatan pendidikan. menerima keanekaragaman. Tenaga pendidik 1) kurang seimbangnya tenaga pendidik yang memiliki kriteria khusus yang diharapkan mampu membina ABK dengan jumlah ABK itu sendiri 2) paradigma pemikiran tenaga pendidik yang masih konfensional . Pendidikan inklusi adalah sebuah sistem pendidikan yang memungkinkan setiap anak penuh berpartisipasi dalam kegiatan kelas reguler tanpa mempertimbangkan kecacatan atau karakteristik lainnya. Guru dituntut melakukan kolaborasi dengan profesi atau sumber daya lain dalam perencanaan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi : a. dan evaluasi. e. h. GPK mendapatkan pelatihan teknis memfasilitasi ABK. terutama dalam proses perencanaaan. Mengadakan bimbingan khusus atas kesepahaman dan kesepakatan dengan orang tua ABK. 1. Sekolah harus menyediakan kondisi kelas yang hangat. Mengidentifikasi hambatan yang berkaitan dengan kelainan fisik. g. pelaksanaan. c.1 PERMASALAHAN YANG MUNCUL a. d. Guru harus menerapkan pembelajaran yang interaktif.dapat menerima dan merespon setiap kebutuhan individual anak. Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan monitoring mutu pendidikan bagi semua anak. dan menghargai perbedaan. ramah. Asesmen di sekolah dilakukan untuk mengetahui ABK dan tindakan yang diperlukan. b. sosial.

Sekolah 1) kurangnya fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan ABK 2) sistem kurikulum pendidikan umum yang ada sekarang memang belum mengakomodasi keberadaan anak – anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel). Masyarakat 1) cemoohan siswa yang lain pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) 2) masyarakat beranggapan bahwa ABK adalah anak cacat yang selalu merepotkan 3) kurangnya pengertian masyarakat terhadap makna ABK 1. hilangnya rasa takut pada anak berkebutuhan khusus akibat sering berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus.3) tenaga pendidik mengeluh dengan merasakan terbebani mengajarkan pada anak berkebutuhan khusus 4) terbatasnya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para pendidik sekolah inklusi b. . c. Disamping itu bukti lain yang ada mereka yang tanpa berkebutuhan khusus memiliki prestasi yag baik tanpa merasa terganggu sedikitpun. mereka dapat belajar dari interaksi spontan temanteman sebayanya terutama dari aspek social dan emosional. namun dilihat dari sisi idealnya sekolah inklusi merupakan sekolah yang ideal baik bagi anak dengan dan tanpa berkebutuhan khusus.2 LINGKUNGAN PENDIDIKAN INKLUSI Meski sampai saat ini sekolah inklusi masih terus melakukan perbaikan dalam berbagai aspek. Orang tua ABK 1) Kurang kesadaran untuk mengembangkan kemampuan ABK 2) kurangnya pengertian orang tua terhadap makna ABK 3) orangtua enggan mengirim anak yang berkebutuhan khusus ke sekolah biasa karena khawatir akan mendapat penolakan atau diskriminasi d. Berdasarkan hasil wawancara dengan anak non ABK di sekolah menengah. Menurut Staub dan Peck (1994/1995) ada lima manfaat atau kelebihan program inklusi yaitu: 1. Sedangkan bagi anak yang tidak berkebutuhan khusus memberi peluang kepada mereka untuk belajar berempati. Sehingga sepertinya program pendidikan inklusi hanya terkesan program eksperimental. bersikap membantu dan memiliki kepedulian. Lingkungan yang tercipta sangat mendukung terhadap anak dengan berkebutuhan khusus.

2. alokasi waktu. Banyak anak non ABK yang mengakui peningkatan selfesteem sebagai akibat pergaulannya dengan ABK. 3. proses belajar-mengajar. 2) Pengembang Kurikulum Modifikasi/pengembangan kurikulum pendidikan inklusi dapat dilakukan oleh Tim Pengembang Kurikulum yang terdiri atas guru-guru yang mengajar di kelas inklusi bekerja sama dengan berbagai pihak yang terkait. Modifikasi kurikulum dilakukan terhadap: 1. 4. 5. terutama guru pembimbing khusus (guru Pendidikan Luar Biasa) yang sudah berpengalaman mengajar di Sekolah Luar Biasa. yang dipimpin oleh Kepala Sekolah Dasar Inklusi (Kepala SD Inklusi) dan sudah dikoordinir oleh Dinas Pendidikan. Anak non ABK mengalami perkembangan dan komitmen pada moral pribadi dan prinsip-prinsip etika. 1. dan 6.2. 3. dan ahli Pendidikan Luar Biasa (Orthopaedagog). isi/materi kurikulum. Anak non ABK yang tidak menolak ABK mengatakan bahwa mereka merasa bahagia bersahabat dengan ABK Dengan demikian orang tua murid tidak lagi khawatir bahwa pendidikan inklusi dapat merugikan pendidikan anaknya justru malah akan menguntungkan. Anak non ABK menjadi semakin toleran pada orang lain setelah memahami kebutuhan individu teman ABK. pengelolaan kelas. 3) Pelaksanaan Pengembangan Kurikulum Pengembangan kurikulum dilaksanakan dengan: . yaitu dapat meningkatkan status mereka di kelas dan di sekolah. 4. 5.3 PENGEMBANGAN KURIKULUM 1) Lingkup Pengembangan Kurikulum Kurikulum pendidikan inklusi menggunakan kurikulum sekolah reguler (kurikulum nasional) yang dimodofikasi (diimprovisasi) sesuai dengan tahap perkembangan anak berkebutuhan khusus. lingkungan belajar. sarana prasarana. dengan mempertimbangkan karakteristik (ciri-ciri) dan tingkat kecerdasannya.

evaluasi. b) Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi relatif normal materi dalam kurikulum sekolah reguler dapat tetap dipertahankan. .1. c) Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi di bawah normal (anak lamban belajar/tunagrahita) materi dalam kurikulum sekolah reguler dapat dikurangi atau diturunkan tingkat kesulitannya seperlunya. atau lebih. atau lebih. sintesis. Modifikasi isi/materi a) Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi di atas normal. atau tingkat kesulitannya diturunkan sedikit. Misalnya materi pelajaran (pokok bahasan) tertentu dalam kurikulum reguler (Kurikulum Sekolah Dasar) diperkirakan alokasi waktunya selama 6 jam. karena kemampuan siswa di dalam kelas heterogen. dari satu kelompok ke kelompok lain. dan seterusnya. b) Menggunakan pendekatan student centerred. c) Lebih terbuka (divergent). c) Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi di bawah normal (anak lamban belajar) dapat dimodifikasi menjadi 10 jam. Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi di atas normal (anak berbakat) dapat dimodifikasi menjadi 4 jam. dan untuk anak tunagrahita menjadi 18 jam. b) Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi relatif normal dapat dimodifikasi menjadi sekitar 8 jam. 3. Modifikasi alokasi waktu a) Modifikasi alokasi waktu disesuaikan dengan mengacu pada kecepatan belajar siswa. tetapi materi tersebut dianggap penting untuk anak berbakat. atau bahkan dihilangkan bagian tertentu. sehingga mungkin ada anak yang saling bergerak kesana-kemari. materi dalam kurikulum sekolah reguler dapat digemukkan (diperluas dan diperdalam) dan/atau ditambah materi baru yang tidak ada di dalam kurikulum sekolah reguler. d) Memberikan kesempatan mobilitas tinggi. dan problem solving. yang menekankan perbedaan individual setiap anak. untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi di atas normal. yang meliputi analisis. Modifikasi proses belajar-mengajar a) Mengembangkan proses berfikir tingkat tinggi. 2.

Untuk menghindari hal ini. Melalui pendekatan pembelajaran kooperatif. Penekanannya adalah kerjasama dalam kelompok. Dengan demikian. Tipe visual. yaitu lebih mudah menyerap informasi melalui indera pendengaran. ada pula yang bertipe kinestetis). Kondisi ini jelas menambah beban tugas yang harus diemban para guru yang berhadapan langsung dengan persoalan teknis di lapangan. “aku-lah sang juara”! Namun. dengan pendekatan pembelajaran kompetitif ini. terbatasnya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para guru sekolah inklusi menunjukkan betapa sistem pendidikan inklusi belum benar – benar dipersiapkan dengan baik. yaitu lebih mudah menyerap informasi melalui indera perabaan/gerakan. Dengan cara ini sosialisasi anak dan jiwa kerjasama serta saling tolong menolong akan berkembang dengan baik. maka pendekatan pembelajaran kompetitif ini perlu diimbangi dengan pendekatan pembelajaran kooperatif.Tipe kinestetis. Anak dapat menjadi egois.Guru hendaknya tidak monoton dalam mengajar sehingga hanya akan menguntungkan anak yang memiliki tipe belajar tertentu saja Minimnya sarana penunjang sistem pendidikan inklusi. f) Disesuaikan dengan berbagai tipe belajar siswa (ada yang bertipe visual.Tipe auditoris. Mereka diberi tugas dalam kelompok. sementara di sisi lain para guru tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang difabel. Melalui kompetisi. anak akan berusaha seoptimal mungkin untuk berprestasi yang terbaik.e) Menerapkan pendekatan pembelajaran kompetitif seimbang dengan pendekatan pembelajaran kooperatif. jiwa kompetisi dan jiwa kerjasama anak akan berkembang harmonis. Di satu sisi para guru harus berjuang keras memenuhi tuntutan hati nuraninya untuk mencerdaskan seluruh siswanya. setiap anak dikembangkan jiwa kerjasama dan kebersamaannya. Sehingga sepertinya program pendidikan inklusi hanya terkesan program eksperimental. ada dampak negatifnya. secara bersama mengerjakan tugas dan mendiskusikannya. ada yang bertipe auditoris. Apalagi sistem kurikulum pendidikan umum yang ada sekarang memang belum mengakomodasi keberadaan anak – anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel). yakni mungkin “ego”-nya akan berkembang kurang baik. yaitu lebih mudah menyerap informasi melalui indera penglihatan. Melalui pendekatan pembelajaran kompetitif anak dirangsang untuk berprestasi setinggi mungkin dengan cara berkompetisi secara fair. . dan kerjasama dalam kelompok ini yang dinilai.

blogspot. Jelas ini menjadi dilema tersendiri bagi para guru yang di dalam kelasnya ada siswa difabel.html . Pada akhirnya suasana belajar cooperative ini diharapkan bukan hanya menciptakan kecerdasan otak secara individual. Dengan demikian maka sistem belajar ini akan menggeser sistem belajar persaingan (competitive learning) yang selama ini diterapkan di dunia pendidikan kita. namun juga mengasah kecerdasan dan kepekaan sosial para siswa. Dalam waktu yang bersamaan competitive learning dapat menjadi solusi efektif bagi persoalan yang dihadapi oleh para guru dalam menjalankan pendidikan inklusi.com/2012/04/peranan-sosiologi-dalam-pendidikan-abk.Alih – alih situasi kelas yang seperti ini bukannya menciptakan sistem belajar yang inklusi. http://yudew-mymemo. justeru menciptakan kondisi eksklusifisme bagi siswa difabel dalam lingkungan kelas reguler. Cooperative Learning akan mengajarkan para siswa untuk dapat saling memahami (mutual understanding) kekurangan masing – masing temannya dan peduli (care) terhadap kelemahan yang dimiliki teman sekelasnya.

jika perhatian kita tertuju pada lembaran sejarah perkembangan pendidikan masyarakat Indonesia. kehidupan sosio-kultur masyarakat maupun pada taraf konstelasi di tingkat nasional. beberapa kendala yang melingkari dunia pendidikan dalam kaitan dengan menurunnya kualitas output pendidikan kita menjadi bukti bahwa wajah persekolahan kita memerlukan banyak perbaikan.Dalam pengertian sederhana. Sedangkan pada sub judul yang ketiga. sosiologi pendidikan memuat analisis-analisis ilmiah tentang proses interaksi sosial yang terkait dengan aktivitas pendidikan baik dari lingkup keluarga. Di sini kriteria sekolah sebagai salah satu wujud organisasi formal ditinjau dari kaitan unsur-unsur sosial pendukungnya dalam proses mencapai tujuan pendidikan. Hal ini ditekankan. Sampai pada pemahaman tersebut segala bentuk wawasan dan pengetahuan sosiologis guna membedah tubuh pendidikan kita menjadi perlu untuk dibahas agar proses-proses pengajaran tidak bias ke arah yang kurang relevan dengan kebutuhan bangsa. Pada sub judul kedua lebih menyoroti konteks transaksi pendidikan di ruang kelas. Tiga sub-judul berikutnya akan menindaklanjuti fokus pembahasan dengan titik tekan yang lebih spesifik. sebab ruang kelas merupakan representasi dari proses-proses pendidikan yang sesungguhnya. Akan tetapi. Di sisi lain. karena di dalamnya telah melibatkan komponen-komponen belajar mengajar secara langsung. Pada sub-judul pertama. Sehingga dari sini bisa di dapat sebuah gambaran objektif tentang relasi-relasi sosial yang menyusun konstruksi total realitas pendidikan di negara kita. Kondisi sosio-kultur masyarakat tidak bisa tidak merupakan . meningkatnya taraf hidup rakyat. produk kemajuan sosial. Melihat keberadaan sekolah begitu penting bagi eksistensi dan keberlangsungan pendidikan di negara kita maka topik ini akan mengarahkan lingkup kajian sosiologisnya kepada hakikat peran dan fungsi lembaga sekolah sebagai lembaga pendidikan. akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan dan penerapan inovasi teknologi merupakan bagian dari prestasi gemilang hasil jerih payah lembaga pendidikan kita dalam upaya memajukan kehidupan bangsa Indonesia. Meningkatnya jumlah kaum terpelajar telah menjadi bahan bakar lajunya lokomotif kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. banyak digali tentang hubungan-hubungan sosial di dunia pendidikan dalam wadah organisasi formal. tinjauannya bertolak dari kenyataan bahwa sekolah tidak bisa lepas dari hubungan wadah eksternalnya.

salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap proses-proses pendidikan di sekolah.shvoong. Sumber: http://id. Tiga batasan tinjauan di atas akan dipaparkan sebagai upaya untuk menyajikan beberapa manfaat analisis sosiologis terhadap dunia pendidikan.com/social-sciences/education/2156070-peranan-sosiologi-terhadap-duniapendidikan/#ixzz1w7mmXavz .

dinamika. Misalnya: sosiologi masayarakat desa. sistem kebudayaan. 5. Sedangkan Sosiologi khusus.P. Sedangkan dinamika yakni proses sosial dan kultural. Beberapa defenisi sosiologi pendidikan menurut beberapa ahli: 1.dan hubungan kesemuanya dengan proses pendidikan. Fairchild dalam bukunya ”Dictionary of Sociology” dikatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalahmasalah pendidikan yang fundamental. Menurut F. Sosiologi Pendidikan ialah studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan. sosiologi dapat dibedakan menjadi dua. 3. masalah-masalah . proses perkembangan kepribadian. Ary H. DR S. 6. Menurut Drs. sosiolog hukum. sosiologi pendidikan dan sebagainya.A. baik itu struktur. Struktur mengandung pengertian teori dan filsafat pendidikan. Robbins.M. dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan. Sosiologi Pendidikana dalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.G Payne. yaitu menyelidiki suatu aspek kehidupan sosio kultural secara mendalam.G. Gunawan.Jadi sosiologi pendidikan merupakan salah satu sosiologi khusus. Sosiologi Pendidikan ialah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalaman. Jadi ia tergolong applied sociology. Sosiologi Pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis. sosiologi agama.Pada dasarnya. sosiologi masyarakat kota. Dari beberapa defenisi di atas. yaitu sosiologi umum dan sosiologi khusus. Menurut Prof. Menurut F. yaitu pengkhususan dari sosiologi umum. Nasution.. Menurut E. 2. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya. Menurut H. sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan.G Robbins dan Brown. Sosiologi umum menyelidiki gejala sosio-kultural secara umum. 4. struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya dengantata sosial masyarakat.

Gunawan.com.fatamorghana. diakses 20 Maret 2008). Defenisi Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. . Hartoto. 2006. DAFTAR PUSTAKA H. wordpress. Online (http://www. ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.pendidikan. 2008. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Ary.

Di sini criteria sekolah sebagai salah satu wujud organisasi formal ditinjau dari kaitan unsur-unsur sosial pendukungnya dalam proses mencapai tujuan pendidikan. meningkatnya taraf hidup rakyat. Sampai pada pemahaman tersebut segala bentuk wawasan dan pengetahuan sosiologis guna membedah tubuh pendidikan kita menjadi perlu untuk dibahas agar proses-proses pengajaran tidak bias ke arah yang kurang relevan dengan kebutuhan bangsa.alam pengertian sederhana. jika perhatian kita tertuju pada lembaran sejarah perkembangan pendidikan masyarakat Indonesia. Tiga sub-judul berikutnya akan menindaklanjuti fokus pembahasan dengan titik tekan yang lebih spesifik. Hal ini ditekankan. Sedangkan pada sub judul yang ketiga. kehidupansosio-kultur masyarakat maupun pada taraf konstelasi ditingkat nasional. Meningkatnya jumlah kaum terpelajar telah menjadi bahan bakar lajunya lokomotif kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Pada sub judul kedua lebih menyoroti konteks transaksi pendidikan di ruang kelas. Akan tetapi. Pada sub-judul pertama. tinjauannya bertolak dari kenyataan . beberapa kendala yang melingkari dunia pendidikan dalam kaitan dengan menurunnya kualitas output pendidikan kita menjadi bukti bahwa wajah persekolahan kita memerlukan banyak perbaikan. akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan dan penerapan inovasi teknologi merupakan bagian dari prestasi gemilang hasil jerih payah lembaga pendidikan kita dalam upaya memajukan kehidupan bangsa Indonesia. produk kemajuan sosial. Sehingga dari sini bisa di dapat sebuah gambaran objektif tentang relasi-relasi sosial yang menyusun konstruksi total realitas pendidikan di negara kita. Di sisi lain. banyak digali tentang hubungan-hubungan sosial di dunia pendidikan dalam wadah organisasi formal. sebab ruang kelas merupakan representasi dari proses-proses pendidikan yang sesungguhnya. karena di dalamnya telah melibatkan komponen-komponen belajar mengajar secara langsung. sosiologi pendidikan memuat analisis-analisis ilmiah tentang proses interaksi sosial yang terkait dengan aktivitas pendidikan baik dari lingkup keluarga. Melihat keberadaan sekolah begitu penting bagi eksistensi dan keberlangsungan pendidikan di negara kita maka topik ini akan mengarahkan lingkup kajian sosiologisnya kepada hakikat peran dan fungsi lembaga sekolah sebagai lembaga pendidikan.

1999: 333). Beberapa faktor telah melatar belakangi terbentuknya lembaga-lembaga tertentu untuk mengelola alokasi pemenuhan kebutuhan di antaranya. Bagi mereka. sehingga pada fase inilah konsep pengetahuan dan kemampuan– kemampuan gemilangnya telah menjadi penentu arah kehidupan di masa yang akan datang. Seiring dengan bergulirnya roda sejarah kehidupan. Tiga batasan tinjauan di atas akan dipaparkan sebagai upaya untuk menyajikan beberapa manfaat analisis sosiologis terhadap dunia pendidikan. cukup dengan uluran tangan dari para ayah dan saudara tuanya maka bisa dipastikan hampir seluruh remaja-remaja muda mampu menguasai teknik memanah dari tingkat dasar sampai kategori mahir (Horton dan Hunt. Sekolah sebagai Organisasi Tempo dulu masyarakat sederhana belum mengenal lembagalembaga resmi yang mengatur penyaluran kebutuhankebutuhan hidup mereka. maka prestasi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh manusia menjadi sedemikian kompleks. Kondisi sosio-kultur masyarakat tidak bisa tidak merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap proses-proses pendidikan di sekolah. A. Contohnya masyarakat Indian yang tidak perlu meminta bantuan lembaga sekolah untuk mengajarkan kepandaian memanah kepada generasi penerusnya.bahwa sekolah tidak bisa lepas dari hubungan wadah eksternalnya. (1) pertumbuhan .

keberadaan sekolah merupakan salah satu indikasi terwujudnya masyarakat modern. Perlunya pihak lain yang secara khusus mengurusi organisasi dan apresiasi pengetahuan serta mengupayakan untuk ditransformasikan kepada para generasi muda agar terjamin kelestariaannya merupakan cetak biru kekuatan yang melatarbelakangi berdirinya sekolah sebagai lembaga pendidikan. terbentuknya lembaga pendidikan merupakan konsekuensi logis dari taraf perkembangan masyarakat yang sudah kompleks. (2) kompleksnya pranata kebudayaan dan mekanisme pengetahuan beserta teknologi terapan. dan (3) implikasi tingkat akal budi dan mentalitas manusia yang kian rasional. Secara singkat. Beliau menekankan hukum perkembangan masyarakat yang terdiri dari tiga jenjang. Sehingga untuk mengorganisasikan perangkatperangkat pengetahuan dan keterampilan tidak memungkinkan ditangani secara langsung oleh masing-masing keluarga. Dimulai dari Auguste Comte (1798-1857) dengan karyanya yang berjudul Course de philosophie Positive (1844). Walaupun wujudnya berbeda-beda dalam tiap-tiap negara. yaitu jenjang teologi di mana manusia mencoba menjelaskan gejala di sekitarnya dengan mengacu . Dalam hal ini para sosiolog telah melakukan ikhtiar ilmiah untuk menentukan taraf evolusi perkembangan masyarakat manusia.jumlah populasi manusia yang mempengaruhi tingkat penguasaan dan ketersediaan sumber daya alam.

1986 : 181-184). Taraf perkembangan selanjutnya disusul pencapaian manifestasi kemampuan manusia untuk menangkap fenomena lingkungan dengan menyandarkan pada kekuatan-kekuatan metafisik atau abstrak. Sekali lagi ilustrasi di atas hanya dapat tercermin pada konteks organisasi lembaga pendidikan yang telah mampu memproduk manusia profesional dengan spesifikasi keahlian. Iklim kehidupan demikian ditandai dengan prestasi kemampuan manusia untuk menjelaskan gejala alam maupun sosial berdasar pada deskripsi ilmiah melalui pemahaman kekuasaan hukum objektif (Sunarto. tak kalah pentingnya buah pikiran Emile Durkheim (1858-1912) berupa buku yang berjudul The Division of Labour in Society (1968) juga menganalisis kecenderungan masyarakat maju yang di dalamnya terdapat pembagian kerja dalam pemetaan bidang-bidang ekonomi. taraf positif.pada hal yang bersifat adikodrati. kesenian dan bahkan keluarga. Sedangkan untuk mewujudkan figur-figur manusia itu . Dari pengertian tersebut perwujudan manusia positivis hanya mampu ditopang oleh orientasi pendidikan yang sudah terlembaga secara mantap melalui aplikasi fungsi sekolah-sekolah modern. Hingga pada level tertinggi. politik pendidikan. Di lain pihak. hukum. 2000 : 3). Gejala tersebut merupakan dampak dari penerapan sistem ekonomi industri yang di dalamnya memerlukan memerlukan spesialisasi peran untuk mengusung keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup para anggotanya (Johson.

Dari kedua pernyataan ilmiah para tokoh sosiologi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa keberadaan sekolah yang mewarnai dunia kehidupan manusia saat ini merupakan sebuah keniscayaan peradaban modern yang lekat dengan renik-renik pergulatan ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi mutakhir. . 4. Pengembangan hubungan yang bersifa formal dan impersonal (Robinson. 2.hanya mampu dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan modern. Aturan dan prosedur yang ketat melalui birokrasi. Pelaksanaan adminstrasi secara professional. Beberapa prinsip penerapan birokrasi juga terdapat dalam lembaga sekolah antara lain: 1. dan 6. Mekanisme perekrutan staf dan pembinaan secara bertanggung jawab. Struktur karier yang dapat diidentifikasikan. 5. 3. 1981: 241). Sementara melihat konteks sosial yang terbentuk dapat dijawab pula sekolah juga masuk dalam kategori-kategori organisasi pada umumnya yang mengemban konsekuensi-konsekuensi organisatoris. Memiliki hierarki jabatan dengan struktur pimpinan yang mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda. Oleh karena itu keberadaan sekolah patut dimasukkan sebagai salah satu organisasi yang memanfaatkan mekanisme birokratis dalam mengelola kerja-kerja institusinya.

walaupun perangkat-perangkat materinya telah ditentukan oleh kurikulum di atasnya Masih dalam lingkup sekolah sebagai organisasi formal. dan . 1981). Yang dimaksud dengan kelonggaran struktural oleh Bidwell adalah prasyaratprasyarat mutlak dari kekuatan-kekuatan struktural tidak harus dilaksanakan sepenuhnya oleh guru dalam menerapkan metode belajar-mengajar kepada para siswanya. penerapan kriteria tunggal bagi sekolah demi mencapai maksimalisasi hasil-hasil belajar secara efisien dan .Menganalisis dan membandingkan proses-proses yang telah dicapai. 1. beberapa ahli telah menyajikan pranata-pranata manajemen yang berbeda-beda dalam menerapkan fungsi manajemen di sekolah (Robinson.Menggunakan alat ukur dan perbandingan yang jelas dan tepat. Di antaranya adalah sebagai berikut. 1981). berpendapat bahwa sekolah mempunyai ciri “struktur yang longgar”.Sekolah memang tidak menggunakan semua ketentuanketentuan di atas secara ketat dan linear. . Bidwell . Tiap guru mempunyai kebebasan tertentu untuk menentukan bagaimana ia mengajar di kelas. Manajemen Ilmiah Pokok-pokok dari manajemen ilimiah antara lain: .Menerima hipotesis terkuat yang lulus dari verifikasi serta menggunakannya sebagai kriteria tunggal Implikasinya jelas.1965 (dalam Robinson. Kaitan dengan hal tersebut.

Implikasi lain. mengutamakan hasil kuantitatif. . Tampak jelas jenis manajemen ini berkarakter mekanistis. Pendekatan Sistemik Model pengelolaan yang paling banyak digunakan adalah bentuk teori sistem. 2. Sampai di sini definisi sosio-teknis memberikan titik tekan pada pengamatan dan pengelompokan jenis-jenis masukan dalam sekolah lalu ditindaklanjuti dengan cara-cara yang relevan dengan “bahan mentah” tersebut. serta cenderung mengesampingkan unsur-unsur manusiawi di dalam prosesnya. ketat. Dengan begitu sekolah dapat menentukan instrumen-instrumen pengolahan demi menjamin hasil yang optimal. Manajemen sosio-teknis masih menggunakan prinsip manajemen formal. batas-batas antarbagian harus diketahui dengan tegas dalam mengidentifikasi komponen-komponen lembaga sekolah . 3. sekolah mencakup banyak hal yang menjadi input organisasi. Hubungan timbal balik itu mengisyaratkan detail bagian yang cukup kompleks dan proses interaksi secara keseluruhan dalam sebuah organisasi. Sistem Sosio-teknis Sebagai sistem sosio-teknis. namun stafnya akan “mengetahui” sifat input-inputnya. sehingga beberapa unsur yang melekat pada prinsip manajemen ilmiah juga dimiliki oleh sistem sosio-teknis.efektif. Ciri kahs pendekatan ini adalah pengakuan adanya bagian-bagian suatu sistem yang terkait erat pada keseluruhan.

4. proporsi organisasi sekolah yang cenderung mekanistis harus dipola menjadi flksibel agar para anggotanya bisa berekspresi dengan optimal (Robinson. Tiap sekolah berusaha pula menampung tuntutan-tuntutan dari para orang tua siswa. maka pendekatan individual mengakomodasi nilainilai kemanusiaan dalam organisasi. Di mana sudut terpenting yang harus diperhatikan oleh sekolah adalah proses kematangan pribadi para siswa yang harus difasilitasi. Akan tetapi pendekatan ini juga memperhatikan sistem sosial yang bekerja di luar sekolah.Secara internal model teori sistem. Pendekatan Individual Baik pendekatan manajemen maupun pendekatan sistem cenderung “membendakan” organisasi. pendapat profesional dan kebijaksanaan pendidikan. Oleh karena itu. Teori Pasif Pandangan yang menekankan pengamatan input pendidikan secara kolektif. . mengadopsi penanganan lembaga formal pada umumnya untuk menggerakkan roda organisasi. Sebagai antitesisnya. diakomodasi kebutuhannya dan dibimbing menuju kedewasaan. industri setempat. 1981: 252). Organisasi dipandang seakan-akan seperti makhluk besar yang mengatasi dan mengecilkan peran anggota-anggotanya (terutama para murid). Akan tetapi pada perkembangannya pendekatan individual memiliki dua keompok pandangan yakni: a.

Pada kenyataannya seluruh konsep manajemen yang ditekankan oleh masing-masing ahli tersebut selalu tercantum di dalam sekolah. maka tipe ideal pendekatan . Berbeda pada dimensi yang lebih mikro. Tentunya fungsionalisasi masing-masing model manajemen di atas tergantung pada konteks pandangan manusia yang mengamatinya. Teori Aktif Konstruksi pendekatan yang mengutamakan kemampuan aktif para siswa untuk menginterpretasikan makna-makna normatif dan tindakan-tindakan yang diharapkan berdasarkan iklim kesadaran mereka.b. 1981 : 254). Pendekatan ini sangat kental dengan pengaruh aliran fenomenologis dalam sosiologi. Oleh karena itu teori aktif bermaksud menekankan makna-makna tafsiran budaya yang didapat oleh individu-individu di dalam mempersepsikan fungsi sekolah bagi mereka (Robinson. sosio-teknis dan ilmiah lebih berperan penting dalam membantu kerja penglihatan intelektual kita. Apabila pada aspek makro maka dominasi gabungan fungsi manajemen sistem. Menurut Silverman (1970) proses sosialisasi di sekolah bukanlah imperatif-imperatif moral yang memaksa akan tetapi justru sekolah menjadi “pembantu” para siswa dalam mendokumentasi dan memantapkan makna-makna kehidupan yang didapat oleh mereka sendiri. Berbagai pandangan di atas telah menandaskan aspek-aspek penting yang berperan dan berinteraksi di dalam sekolah.

Analisis sosial yang muncul seputar sekolah banyak mengupas konflik-konflik antar peranan yang terjadi di lembaga sekolah. Berbeda dengan organisasi pada umumnya. 1973 ( dalam Robinson. Dalam hal ini kita akan lebih condong mengamati organisasi sekolah dalam skala makronya. staf birokrat. Seperti yang diungkapkan oleh Davies. khususnya dari objek yang menjadi tujuannya.individual adalah aspek yang harus diperhatikan dalam menelah unsur-unsur yang bermain di dalam sekolah. orang tua. maupun pihak aparat pimpinan sekolah. sekolah memiliki ciri khas yang agak unik. tentunya . Dari sini analisis yang bisa disajikan untuk mengamati keberadaan sekolah sebagai lembaga formal dalam aktivitas pendidikannya terbagi menjadi dua lahan persoalan yakni: 1. Dengan menetapkan posisi peran kelembagaan yang bertugas untuk membekali peserta didik seperangkat pengetahuan dan keterampilan maka sekolah telah mengumandangkan jenis tujuan yang bersifat abstrak. Penafisiran multi-konsep tentang tujuan organisasi beserta alokasi peran yang sinergis Sudah menjadi konsekuensi bagi setiap organisasi untuk menetapkan tujuan lembaga. Hal ini tentu saja berbeda dengan lembaga lain yang jelas-jelas memiliki objek tujuan konkrit. 1981 : 250) bahwa lembaga pendidikan sering dirasuki oleh nilai-nilai yang terkadang bertentangan antarpihak baik dari para guru. Contohnya lembaga perusahaan. siswa.

dimensi abstrak yang menjadi titik tolak penafsiran para praktisi sekolah dapat memunculkan hambatan besar untuk menyatukan pemahaman makna tujuan pendidikan antar posisi. maka sebuah sekolah akan berhadapan langsung dengan komponen nilai-nilai lain di luar lingkungannya.bagi siapa saja akan jelas memahami arti “mencari keuntungan maksimal” bagi perusahaan. Sudah tentu kompleksitas peranan menimbulkan nilai sosial yang berbeda-beda dan apabila ditarik dalam suatu prospek tujuan maka akan melibatkan bermacam-macam penafsiran. Spesifikasi tujuan yang telah ditetapkan oleh sekolah ternyata harus bersinggungan erat dengan alokasi peran pendidikan di luar sekolah. Berkaitan dengan . sampai tenaga administrasi akan jelas mengartikan definisi tujuan tersebut. sopir. buruh angkutan. Selain itu. terutama keluarga. guru bertugas sebagai pelaksana pengajaran kepada siswa. supervisor berfungsi membina para guru dan tugas formal administratur sekolah ialah untuk mengkoordinasikan dan memadukan berbagai ragam aktivitas dalam lingkungan sekolah. direktur pabrik. Sementara sekolah memiliki tujuan yang bersifat multi-penafsiran dan agak kabur. Berdasarkan struktur organisasi yang terbentuk. Selain objek tujuan yang sarat nilai. Baik itu manajer pemasaran. posisi-posisi peran yang cukup kompleks di lingkup internal. Masing-masing pemegang posisi mempunyai hak dan kewajiban tertentu dalam hubungan dengan posisi lain.

Setelah diteliti. Kompleks permasalahan di sekitar orientasi lintas posisi dalam koridor efisiensi dan efektivitas Kompleks pertentangan tersebut merupakan derivasi dari perangkat-perangkat manusia yang memiliki peran-peran spesifik di lembaga sekolah. Padahal kenyataan membuktikan. 2. Telaah sosiologis telah memberikan sumbangan konseptual untuk membedah objek tujuan sekolah dalam pola pola hubungannya dengan pihak internal maupun luar lembaga sekolah. 1985: 69). Banyak buku teks yang mengemukakan tentang peranan guru dan adminsitratur pendidikan seolah-olah harmonis dan serba sinergis. . Dipandang dari sudut tujuannya ternyata lembaga sekolah harus melakukan bermacam-macam proses penyatuan pandangan baik dari wilayah internal maupun asumsi-asumsi publik di lingkup eksternal. selain itu indikasi serupa ditunjukkan perbedaan nilai antar administratur dengan Badan Pertimbangan Sekolah. begitu juga antar guru dengan kepala sekolahnya. suatu observasi ilmiah yang dilakukan oleh Universitas Havard telah menunjukkan hasil yang cukup dramatis. Lebih jauh bukti penelitian juga menunjukkan sumber utama yang melahirkan konflik di kalangan praktisi sosial tentang tujuan dan program-program sekolah (Faisal. para guru di sekolah-sekolah New England memiliki pandangan yang berbeda tentang tujuan pendidikan.hal tersebut.

Hal tersebut tentunya semakin menjauhkan kesadaran warga . Hal ini tentu bertentangan dengan asumsi umum para siswa yang jelas-jelas berharap agar para guru tidak terlalu banyak menyodorkan materi yang harus mereka hafalkan. hampir semua tanggung jawab dan tugas sekolah yang berhubungan dengan siswa selalu dilimpahkan kepada seorang guru. serta peran penegak ketertiban dan kedisplinan tidak pernah tersiar secara utuh kepada para siswa. Sementara guru sendiri selalu berkeinginan memberikan ragam materi yang selengkap-lengkapnya kepada para siswa.salah satu faktor yang memberatkan kerja organisasi adalah gejala kesalahpahaman untuk memahami kawan sekerja berkenaan dengan hak dan kewajiban yang berbeda sesuai dengan status pekerjaannya. pelayanan birokrasi dan keuangan. Kecenderungan yang terjadi. Sedangkan pemberitaan fungsifungsi peran yang berbeda baik dari aspek bimbingan konseling. Ruangruang kesadaran peran tersebut telah terpecah belah pada akumulasi integrasi yang terkotak-kotak pada masing-masing kelompok pekerjaan. konflik peranan di lingkup internal sekolah disebabkan pada rangkaian hak dan kewajiban yang mempengaruhi harapan para pemegang status pekerjaan. Dalam waktu yang sama kepala sekolah mengharapkan para guru selalu tertib dalam melaksanakan pengajaran. Dalam analisis sosiologis.

para praktisi pendidikan diharapkan memiliki bahan mentah yang lengkap mengenai polapola sosial yang tersusun di dunia pendidikan formal beserta varian-varian permasalahannya. Kelas sebagai Suatu Sistem Sosial Pada dasarnya. Dari sudut sosiologi beberapa pendekatan telah digunakan sebagai alat analisis untuk mengamati proses-proses yang terjadi di ruang kelas. Dengan begitu. B. Tentu saja dalam hal ini sumbangsih teori sosiologi cukup strategis guna memberikan gambaran komperhensif tentang gurita konflik yang terbentuk di lingkungan sekolah dalam kaitan pertentangan antarperan. Mereka semakin jauh terjerumus pada labirin-labirin pertentangan seputar ritual-ritual teknis pemenuhan kebutuhan organisasional. Untuk keperluan tersebut pembahasan mengenai kegiatan kelas menempati sub-topik tersendiri dalam susunan kajian topik ini. proses-proses pendidikan yang sesungguhnya adalah interaksi kegiatan yang berlangsung di ruang kelas. Berkaitan dengan fungsi sekolah maka kelas merupakan kepanjangan .sekolah mengenai hakikat mendasar dari fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan. Dimulai dari pengamatan Parson yang mengetengahkan argumentasi ilmiahnya tentang kelas sebagai suatu sistem sosial. Dari sini tujuan awal penerapan adminstrasi pendidikan untuk mempermudah lembaga sekolah dalam menjalankan fungsi-fungsi edukatif beralih menjadi raksasa permasalahan yang selalu menggelayuti mentalitas warganya.

pendekatan interaksionis cenderung menekankan analisis sosio-psikologis untuk melihat ruang kelas.1967 memperkuat studi tentang interaksi di kelas. Di sisi lain. 1981 : 129).H. Withall. semakin besar ketergantungan murid kepada guru. Lewin. yang memanfaatkan karya-karya pendahulunya mencoba menemukan pengaruh situasi sosial emosional dalam ruang kelas. 1981 : 130). Inti dari penerapan analisis interaksi adalah menganalisis seluruh proses interaksi edukatif di kelas dan pengaruh-pengaruh psikologisnya kepada para siswa. semakin kurang siswa tersebut mengembangkan strategi-strategi belajarnya sendiri (Robinson. Menurut pendapatnya. Ia membedakan antara metode pengajaran yang cenderung teacher-centred dengan tipologi pembelajaran Learner-centred. Selaras dengan hal tersebut. 1949. Hal ini terkait erat dengan .dari proses sosialisasi anak di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Sejumlah tokoh seperti Delamont. dengan beranggapan bahwa tipe yang kedua merupakan cara yang paling efektif untuk kegiatan pembelajaran di kelas (Robinson. Anderson adalah figur-figur yang mengeksplorasi aspek interaksi antarguru dan murid. Kiprah interaksi di kelas secara khusus berusaha untuk memantapkan penanaman nilai-nilai dari masyarakat (Robinson. 1981 : 127). White dan H. Lippit. Dalam satu rangkaian penelitian Flanders.

Inti dari studi tersebut mencoba menerangkan tentang fungsi sekolah yang mempengaruhi alam kesadaran para siswa untuk selalu konsekuen mengamalkan kriteria-kriteria penafsiran nilai yang ditekankan oleh sekolah. Sebagai bawahan kepala sekolah seorang guru harus menerapkan ketentuan administratif sekolah secara ketat kepada murid-murid. Dengan demikian sekolah merupakan satu alat ampuh untuk melakukan kontrol sosial (Robinson. pendidikan merupakan seni menanamkan definisi-definisi situasi yang berlaku pada kaum muda dan sudah diterima oleh golongan penyelenggara. namun di lain pihak tanggung jawab moral sebagai pendidik yang sarat dengan kebijaksanaan akan menghalanghalangi penerapan sanksi kepada siswa tersebut. Model pendekatan interpretatif juga bermanfaat untuk menangkap segala hal yang terpola di dalam aktivitas ruang kelas. Sebagai sistem sosial tentunya di dalam kelas telah terbentuk konfigurasi sosial di dunia pergaulan siswa. 1981: 135).metode pendekatan yang diterapkan oleh guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Dari sini tampak konsep diferensiasi mengacu pada praktik organisasi penentuan penghuni . Analisis lain juga mengungkap bahwa sumber ketegangan antarguru dan siswa berasal dari dualisme ketegangan peran guru di dalam kelas. Bagi Waller. Yang termasuk hasil penelitian di lingkup kategori interpretatif adalah analisis Waller.

Patut ditambahkan. si kaya. C. 1985 : 76).kelas berdasarkan prestasi-prestasi siswa. dan si pemalu. Kelompok-kelompok atau aspirasi-aspirasi acuan merupakan tempat berlabuh yang harus diperhitungkan di dalam upaya pembinaan tingkah laku siswa. dapat memberikan wawasan sosiologi kelas kepada pengajar agar proses pendidikan dan pembinaan siswa lebih efektif (Faisal dan Yasik. Apabila guru mengetahui fakta tersebut dan mampu mengelola interaksi antarkelompok maka proses penangkapan pengetahuan menjadi semakin dinamis dan cukup kaya. Sekali lagi jika hal terakhir yang terjadi maka kecemburuan sosial malah menjadi iklim pergulatan sosial di lingkungan kelas. analisis sosiologis juga mengungkapkan betapa eratnya kaitan antara tingkah laku dan sikap-sikap seseorang dengan latar belakang kelompok aspirasi yang digandrunginya. Pada umumnya guru secara gegabah juga dengan mudah menuruti subjektifitas perasaannya untuk menuruti kelompok-kelompok siswa yang menyenangkan perasaannya. Baik itu kelompok si bodoh. Lingkungan Eksternal Sekolah Kita tahu bahwa sekolah bernaung dalam suatu wilayah eksternal . Konsekuensi pentingnya dari hasil analisis di atas. si pandai. Sebaliknya apabila guru cenderung masa bodoh dengan keadaan demikian justru semakin mempertegas potensi disintegrasi antarsiswa. Tentunya implikasi dari pengelompokan ini akan berakibat terbentuknya polarisasi antarkelompok.

Kontribusi berikutnya adalah benturan konflik antarperan tenaga kependidikan dengan posisi-posisi lain di masyarakat. Selain itu mobilitas aspirasi siswa. partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler. Hasil sebuah pengamatan ilmiah menegaskan ada hubungan kuat antara status orang tua siswa dengan prestasi akademis. Getzel dan Guba menemukan bahwa banyak harapan-harapan yang terkait dengan posisi guru. kecenderungan putus sekolah. Baik dari segi kuantitas peserta didik. 1985 : 77). Keberadaan sekolah di lingkungan masyarakat kota akan jelas mempengaruhi orientasi pendidikan tersebut dibanding dengan sekolah yang terletak di lereng gunung. tingkah laku pacaran siswa serta pola persahabatan di kalanngan siswa tampaknya juga dipengaruhi oleh karakter sosial ekonomis orang tua siswa (Faisal dan Yasik. Gejala timbal balik baik dari sekolah kepada masyarakat maupun sebaliknya merupakan realitas keseharian yang akan selalu terjadi. Selain itu aspek kelas sosial juga memberikan pengaruh evaluasi belajar yang dilakukan oleh seorang guru. Tentunya tidak mungkin.yang dihuni oleh kumpulan manusia bernama masyarakat. sekolah ”lereng gunung” mengembangkan ekstrakulikuler yang luar biasa padat dan wajib diikuti oleh seluruh siswa. maupun kompleksitas kegiatan yang terjadwal pada kegiatan-kegiatan akademik di sekolah. pada kenyataannya telah berbenturan .

dengan harapan posisi lain di luar persekolahan (Faisal danYasik. Akan tetapi dua hari yang lalu sang guru tersebut baru saja mendapat himbauan keras dari kepala sekolah agar berhati-hati dalam menjaga perlengkapan olah raga milik sekolah. para praktisi pendidikan bisa secara realistis peka mengkaji kekuatan-kekuatan majemuk yang berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pendidikan. Dengan kekuatan analisis-analisis sosiologis para praktisi pendidikan bisa lebih jeli memperhitungkan faktor-faktor organisasi.com/profile . akan tetapi didukung sebuah fakta tentang peristiwa kehilangan beberapa peralatan seminggu yang lalu. dan personal dilingkungan kerjanya masingmasing http://zanikhan. budaya. Melalaui analisis sosiologis. 1985 : 79). Seorang guru olah raga yang sedang menjadi wasit pertandingan sepak bola antar-kecamatan tentunya akan menghadapi tuntutan masyarakat mengenai kemungkinan diizinkannya penggunaan fasilitas sekolah. khususnya guru.multiply. Peringatan tersebut bukan tak beralasan. Fenomena tersebut jelas menyokong suatu posisi bahwa konflik antarperanan di dalam sekolah dengan lingkungan eksternal merupakan sumber potensial utama dari lahirnya ketegangan di kalangan praktisi pendidikan. Dampak dari konflik ini kadang mengganggu stabilitas individu atau bisa jadi dapat meluas pada segi-segi materiil di lingkungan sekolah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful