P. 1
MAKALAH TINDAK PIDANA DI DALAM UNDANG-UNDANG NO. 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA

MAKALAH TINDAK PIDANA DI DALAM UNDANG-UNDANG NO. 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA

|Views: 3,291|Likes:
Published by sandmus
TINDAK PIDANA DI DALAM UNDANG-UNDANG NO. 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA
MAKALAH Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Kriteria Penilaian Dalam Mata Kuliah Tindak Pidana Narkotika

Nama NRP

: Sandy Muslim : 0910611047

Strata Satu Ilmu Hukum

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA 2012

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan. Adapun judul dari makalah ini adalah ”Tindak Pidana
TINDAK PIDANA DI DALAM UNDANG-UNDANG NO. 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA
MAKALAH Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Kriteria Penilaian Dalam Mata Kuliah Tindak Pidana Narkotika

Nama NRP

: Sandy Muslim : 0910611047

Strata Satu Ilmu Hukum

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA 2012

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan. Adapun judul dari makalah ini adalah ”Tindak Pidana

More info:

Published by: sandmus on May 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/16/2015

pdf

text

original

TINDAK PIDANA DI DALAM UNDANG-UNDANG NO.

35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA
MAKALAH Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Kriteria Penilaian Dalam Mata Kuliah Tindak Pidana Narkotika

Nama NRP

: Sandy Muslim : 0910611047

Strata Satu Ilmu Hukum

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA 2012

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan. Adapun judul dari makalah ini adalah ”Tindak Pidana Di Dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika”. Penyusunan makalah ini ditujukan intuk memenuhi salah satu kriteria penilaian dalam mata kuliah Tindak Pidana Narkotika semester genap di Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jakarta. Makalah ini tidak mungkin dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya dukungan moril dan materiil dari berbagai pihak. Karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Kedua orang tua, yang telah memberi dukungan dan membantu dalam pembuatan makalah ini. 2. Bapak Norman Syahdar Idrus, S.H, M.H, selaku dosen Tindak Pidana Narkotika. 3. Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini, yang namanya tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu. Penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Namun, makalah ini mungkin memiliki kekurangan. Karena itu, sangat diperlukannya kritik dan saran yang dapat membangun makalah ini sehingga menjadi lebih baik lagi. Akhir kata, penyusun mengucapkan maaf yang sebesarbesarnya atas segala kesalahan yang mungkin ada didalam makalah ini.

Jakarta, Mei 2012

Penyusun

i

................................................5.................................................................. 1................................ 35 Tahun 2009......................................................2................................................................ 2 Metode dan Teknik Penulisan..........1 Definisi Narkotika.......3........ 3 BAB II PEMBAHASAN 2....................................................................................... 1............. i DAFTAR ISI............................................ ii BAB I PENDAHULUAN 1...............................1................................................................. 13 Daftar Pustaka ................................1.............. ................... 2..1.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . 1....................................................................................................................... 2 Tujuan Penulisan..... 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.. 5 Tipologi Kejahatan Dalam UU No...... Latar Belakang ............................. 11 BAB III KESIMPULAN..................... Pasal Pengaturan Tindak Pidana Dalam UU No. 2....... 2.................................. Tinjauan Umum Mengenai Narkotika 2...............................................................2 Penggolongan Narkotika...................................................3..................2.........4........................................ 11 Rehabilitasi..................................................................4............................................ 7 Sanksi Bagi Pecandu Narkotika.... 17 ii ........... 4 2................. 5 2......... 1 Rumusan Masalah ...................... .................................................1..............

Latar Belakang Narkotika merupakan zat atau obat yang sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu. Berdasarkan hal tersebut guna meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Narkotika dibentuklah Undang-undang No.1.BAB I PENDAHULUAN 1. Karena dalam kenyataannya tindak pidana Narkotika didalam masyarakat menunjukkan kecenderungan yang semakin emningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan korban yang meluas. remaja. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sebagai pembaharuan atas Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. bahkan merupakan satu sindikat yang terorganisasi dengan jaringan yang luas yang bekerja secara rapi dan sangat rahasia baik ditingkat nasional maupun internasional. 1 . dan generasi muda pada umumnya. bangsa. Untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika yang sangat merugikan dan membahayakan kehidupan masyarakat. terutama di kalangan anak-anak. Hal ini akan lebih merugikan jika disertai dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika yang dapat mengakibatkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilainilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional. jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda. Namun. Tindak pidana Narkotika tidak lagi dilakukan secara bersama-sama. pada siding umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2002 melalui TAP MPR RI Nomor VI/MPR/2002 telah merekomendasikan kepada DPR RI dan Presiden RI untuk melakukan perubahan atas Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. dan Negara.

ukuran. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika”. Apakah yang dimaksud dengan Narkotika? 2. jenis. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang mengatur mengenai Tindak Pidana? 3. Selain itu. Bagaimanakah sanksi yang dikenakan bagi pecandu Narkotika? 5. diatur mengenai pemberatan sanksi pidana. dalam undang-undang ini diatur juga mengenai precursor Narkotika karena precursor Narkotika merupakan zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan Narkotika. Hal ini lah yang melatarbelakangi pemilihan judul “Tindak Pidana Di Dalam Undang-Undang No. 1. untuk melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan Narkotika dan mencegah serta memberantas peredaran gelap Narkotika. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika? 4. Rumusan Masalah Dari uraian di atas. Apakah perbuatan yang tergolong sebagai Tindak Pidana di dalam UU No. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk menimbulkan efek jera terhadap pelaku penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan precursor Narkotika. penyusun dapat mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1.1. dilakukan dengan mendasarkan pada golongan. Dengan melakukan penggolongan terhadap jenis-jenis precursor Narkotika. Untuk mengetahui pasal-pasal dalam UU No. Pasal berapakah dalam UU No. 35 Tahun 2009 yang memuat ketentuan mengenai tindak pidana. Apakah yang dimaksud dengan rehabilitasi medis dan rehabilitasi social bagi pecandu Narkotika? 1. Untuk mengetahui mengenai Narkotika 2. diatur pula mengenai sanksi pidana bagi penyalahgunaan precursor Narkotika. dan jumlah Narkotika.Selain itu.2. 2 .

Untuk mengetahui perihal sanksi yang dikenakan bagi pecandu Narkotika. Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang bersifat teoritis yang kemudian data tersebut akan dijadikan dasar atau pedoman untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan yang dibahas dalam karya tulis ini. 5. 35 Tahun 2009. 4. Untuk mengetahui mengenai rehabilitasi medis dengan rehabilitasi sosial. Metode dan Teknik Penulisan Metode dan teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode studi pustaka. Baik itu buku maupun situs – situs yang ada di internet.3. Sumber – sumber yang dijadikan sebagai rujukan untuk studi pustaka diperoleh dari berbagai sumber bacaan. 3 . 1. Untuk mengetahui perbuatan-perbuatan yang digolongkan sebagai tindak pidana di dalam UU No.4.

baik sintetis maupun semisintetis. sejenis tumbuh-tumbuhan yang mempunyai bunga yang dapat membuat orang menjadi tak sadar. adalah obat yang dapat menghilangkan (terutama) rasa nyeri yang berasal dari daerah visceral dan yang dapat menimbulkan efek stupor (bengong. yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Efek Narkotika disamping membius atau menurunkan kesadaran. menurut Ensiklopedia Indonesia IV.1. dalam pasal (1) angka 1 menyebutkan bahwa “ Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman. dan dapat menimbulkan ketergantungan. hilangnya rasa. 4 . yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-undang ini”.1. Definisi Narkotika Perkataan Narkotika berasal dari perkataan Yunani “narke” yang berarti terbius sehingga tidak merasakan apa-apa. serta menimbulkan daya rangsang/stimulant. Tinjauan Umum Mengenai Narkotika 2. Pengertian Narkotika secara farmakologis medis. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.BAB II PEMBAHASAN 2. dan ketergantungan. Pengertian yang paling umum dari Narkotika adalah zat-zat (obat) baik dari alam maupun sintetis atau semi sintetis yang dapat menimbulkan ketidaksadaran atau pembiusan. masih sadar tetapi harus digertak) serta adiksi.1. adalah mengakibatan daya khayal/halusinasi . Namun ada juga yang mengatakan bahwa Narkotika berasal dari kata “Narcissus”. Sedangkan menurut Undang-undang No.

perihal pengaturan perbuatan yang tergolong sebagai Tindak Pidana terdapat pada BAB XV mengenai Ketentuan Pidana.2.1. 12)  Narkotika Untuk Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Narkotika Golongan I adalah Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tuuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi.2. Narkotika Golongan II adalah Narkotika berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. 35 Tahun 2009 Di dalam struktur Bab-bab dalam Undang-undang No. 2. Dapat dilihat struktur dari Undang-undang pada tabel berikut : UU No. Dan Tujuan (Pasal 2 s/d 4) Ruang Lingkup (Pasal 4 s/d 8) PENGADAAN :  Rencana Kebutuhan Tahunan. Asas. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. pasal 111 sampai dengan pasal 148 Undang-undang ini. Pasal Pengaturan Tindak Pidana Dalam UU No. 35 Tahun 2009. (Pasal 9. Narkotika Golongan III adalah Narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. antara lain adalah sebagai berikut : 1. Narkotika digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan. Penggolongan Narkotika Dalam pasal 6 ayat (1) Undang-undang No. 10)  Produksi (Pasal 11. (Pasal 13)  Penyimpanan dan Pelaporan. 35 Tahun 2009 Bab I Bab II Bab III Bab IV     Ketentuan Umum ( Pasal 1) Dasar. 3.2. 2. (Pasal 14) Bagian Kesatu Bagian Kedua Bagian Ketiga Bagian Keempat 5 .

110) KETENTUAN PIDANA (Pasal 111 s/d 148) KETENTUAN PERALIHAN (Pasal 149 s/d 151) KETENTUAN PENUTUP (Pasal 152 s/d 155) 6 . DAN PEMERIKSAAN DI SIDANG PENGADILAN (Pasal 73 s/d 103) PERAN SERTA MASYARAKAT (Pasal 104 s/d 108) PENGHARGAAN (Pasal 109.Bab V      Bagian Kesatu Bagian Kedua Bagian Ketiga Bagian Keempat Bagian Kelima IMPOR DAN EKSPOR :  Izin Khusus dan Surat Persetujuan Impor (Pasal 15 s/d 17)  Izin Khusus dan Surat Persetujuan Ekspor (Pasal 18 s/d 22)  Pengangkutan (Pasal 23 s/d 28)  Transito (Pasal 29 s/d 32)  Pemeriksaan (Pasal 33. 44) LABEL DAN PUBLIKASI (Pasal 45 s/d 47) PREKURSOR NARKOTIKA  Tujuan Pengaturan (Pasal 48)  Penggolongan dan Jenis Prekursor Narkotika (Pasal 49)  Rencana Kebutuhan Tahunan (Pasal 50)  Pengadaan (Pasal 51 s/d 52) PENGOBATAN DAN REHABILITASI  Pengobatan (Pasal 53)  Rehabilitasi (Pasal 54 s/d 59) PEMBINAAN DAN PENGAWASAN (Pasal 60 s/d 63) PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN  Kedudukan dan tempat kedudukan (Pasal 64 s/d 67)  Pengangkatan dan Pemberhentian (Pasal 68. PENUNTUTAN.34) Bab VI  Bagian Kesatu  Bagian Kedua  Bagian Ketiga Bab VII Bab VIII  Bagian Kesatu  Bagian Kedua  Bagian Ketiga  Bagian Keempat Bab IX  Bagian Kesatu  Bagian Kedua Bab X Bab XI  Bagian Kesatu  Bagian Kedua  Bagian Ketiga Bab XII Bab XIII Bab XIV Bab XV Bab XVI Bab XVII PEREDARAN  Umum (Pasal 35 s/d 38)  Penyaluran (Pasal 39 s/d 42)  Penyerahan (Pasal 43.69)  Tugas dan Wewenang (Pasal 70 s/d 72) PENYIDIKAN.

 Lembaga ilmu pengetahuan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta yang kegiatannya secara khusus atau salah satu fungsinya melakukan kegiatan percobaan. tetapi dilakukan secara selektif dengan maksud agar pengendalian dan pengawasan Narkotika dapat lebih mudah dilakukan. Perbuatan yang diklasifikasikan sebagai tindak pidana. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Dari Bab-bab Undang-undang No. dan menghasilkan Narkotika secara langsung atau tidak langsung melalui ekstraksi atau nonekstraksi dari sumber alami atau sintetis kimia atau gabungannya. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.  Narkotika hanya dapat diproduksi oleh industry farmasi tertentu yang telah memperoleh ijin khusus dari Menteri Kesehatan. antara lain :  Tindak Pidana Narkotika a) Tindak Pidana menanam. Untuk memproduksi Narkotika dimungkinkan untuk memberikan izin kepada lebih dari satu industry farmasi. termasuk mengemas dan/atau mengubah bentuk Narkotika (Pasal 1 angka 3). dan 122) b) Tindak Pidana dibidang Produksi Narkotika serta ilmu pengetahuan. Tipologi Kejahatan Dalam UU No. 112. menguasai atau menyediakan Narkotika Golongan I. membuat. memiliki. memelihara. 113 ayat (1). Pasal 118 ayat (1) dan (2) untuk Narkotika golongan II. II. 7 . dan III baik berupa tanaman maupun bukan tanaman secara tanpa hak atau melawan hukum. Pengertian Produksi adalah kegiatan atau proses menyiapkan. Ancaman Pidana bagi mereka yang memproduksi Narkotika secara tanpa hak atau melawan hukum diatur dalam (Pasal 113 ayat (1) dan (2) untuk Narkotika golongan I. 117. Pasal 123 ayat (1) dan (2) Untuk Narkotika golongan III).3. terdapat perbuatan-perbuatan yang dianggap tindak pidana. mengolah.2. (Pasal 111. menyimpan.

selanjutnya diatur dalam Bab V bagian kesatu)  Pengangkutan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan memindahkan Narkotika dari satu tempat ke tempat lain dengan cara. menyimpan. dan apotek yang mengedarkan Narkotika golongan II dan III bukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan. Pimpinan pedagang besar farmasi yang mengedarkan Narkotika Golongan I yang bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan atau mengedarkan Narkotika Golongan II dan III bukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. moda. atau sarana angkutan apa 8 . Akan tetapi harus mendapat ijin terlebih dahulu dari menteri Kesehatan.  Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan Narkotika dan precursor Narkotika dari daerah pabean. pusat kesehatan masyarakat. 3. selanjutnya diatur dalam Bab V bagian kedua)  Impor adalah kegiatan memasukkan Narkotika dan precursor Narkotika ke dalam daerah pabean. menanam. 2. menyimpan dan menggunakan Narkotika dalam rangka kepentingan ilmu pengetahuan. (Pasal 1 angka 4. atau menguasai tanaman Narkotika bukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Pimpinan lembaga ilmu pengetahuan yang membeli. Pengangkutan dan Transito Narkotika. pimpinan rumah sakit. sarana penyimpanan sediaan farmasi milik pemerintah. Pimpinan industry farmasi tertentu yang memproduksi Narkotika Golongan I bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan 4. (Pasal 1 angka 5. dan pengembangan dapat memperoleh.penelitian. c) Tindak Pidana dibidang Ekspor. Ancaman pidana dalam ketentuan Pasal 147 dikenakan bagi : 1. Impor.

selanjutnya diatur dalam Bab V bagian ketiga)  Transito Narkotika adalah pengangkutan Narkotika dari satu Negara ke Negara lain dengan melalui dan singgah di wilayah Negara Republik Indonesia yang terdapat kantor pabean dengan atau tanpa berganti sarana angkutan. e) Tindak Pidana dibidang Labeling dan Publikasi Narkotika. kombinasi tulisan dan gambar atau 9 . Sedangkan pengertian peredaran gelap Narkotika dan precursor Narkotika adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan tanpa hak atau melawan hukum yang ditetapkan sebgaia tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika. meliputi bukan setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan penyaluran atau penyerahan Narkotika. 118 ayat (1) dan (2). baik perdagangan maupun pemindahtanganan. selanjutnya diatur dalam Bab V bagian keempat) Ketentuan pidana mengenai pelanggaran ketentuan dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut diatur dalam (Pasal 113 ayat (2).pun. Ketentuan pidana mengenai tindak pidana dibidang peredaran Narkotika diatur dalam pasal 114 ayat (1) dan (2). Industry farmasi wajib mencantumkan label pada kemasan Narkotika. label pada kemasan sebagaimana dimaksud dapat berbentuk tulisan. 119 ayat (1) dan (2). 115 ayat (1) dan (2). 120 ayat (1) dan (2). 125 ayat (1) dan (2). 123 ayat (1) dan (2). 147 huruf (a) dan (d). (Pasal 1 angka 12. gambar. Peredaran dalam rangka Narkotika perdagangan. untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peredaran Narkotika tersebut meliputi penyaluran. (Pasal 1 angka 9. d) Tindak Pidana dibidang Peredaran Narkotika. 124 ayat (1) dan (2). baik dalam bentuk obat jadi maupun bahan baku Narkotika. penyerahan.

mengimpor. (Pasal 134) g) Tindak Pidana berkaitan dengan penyalahgunaan Narkotika untuk diri sendiri maupun orang lain (116 ayat (1) dan (2). membeli. Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai labeling dan publikasi. atau merupakan bagian dari wadah. h) Tindak Pidana pelaporan penyalahguna narkotika (Pasal 128 ayat (1). Dengan klasifikasi tindak pidana sebagai berikut : a) Memiliki.(dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp.bentuk lain yang disertakan pada kemasan atau dimasukkan ke dalam kemasan. Narkotika hanya dapat dipublikasikan pada media cetak ilmiah kedokteran atau media cetak ilmiah farmasi.000. menyimpan. menguasai. ditempelkan. atau menyalurkan Prekursor untuk pembuatan Narkotika.000. b) Memproduksi.  Tindak Pidana Prekursor Narkotika Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 2. dan/atau kemasannya. d) Membawa. menerima. menjual. dan (4)). diancam dengan pidana sebagaimana diatur dalam (Pasal 135). atau menyerahkan Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narotika. Setiap keterangan yang dicantumkan dalam label harus lengkap dan tidak menyesatkan. (3). c) Menawarkan untuk dijual. (2). 121 ayat (1) dan (2).000. 5. f) Tindak Pidana dibidang pengobatan dan Rehabilitasi. mengekspor. mengangkut. menjadi perantara dalam jual beli. atau mneyediakan Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika. atau mentransito precursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika. 126 ayat (1) dan (2).00 (lima milyar rupiah). Pasal 127 ayat (1). menukar. mengirim. 10 .

menimbulkan gejala fisik dan psikis yang khas. 11 . Kewajiban bagi orang tua atau wali dari pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat.5.2. Lembaga rehabilitasi tertentu yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau masyarakat dapat melakukan rehabilitasi medis pecandu Narkotika setelah mendapat persetujuan Menteri. baik secara fisik maupun psikis.4. Merujuk kepada ketentuan Pasal 56. rumah sakit. dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi social yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi social. Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat. Telah jelas bahwa bagi pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkoba wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi social (lihat ketentuan Pasal 54 dan 55). Rehabilitasi  Rehabilitasi Medis Adalah suatu proses kegiatan pengobatan secara terpadu untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan Narkotika. rehabilitasi medis pecandu Narkotika dilakukan di rumah sakit yang ditunjuk oleh Menteri. 2. Ketergantungan Narkotika merupakan kondisi yang ditandai oleh dorongan untuk menggunakan Narkotika secara terus menerus dengan takaran yang meningkat agar menghasilkan efek yang sama dan apabila penggunaannya dikurangi dan/atau dihentikan secara tiba-tiba. dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi social yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi social. rumah sakit. Sanksi Bagi Pecandu Narkotika Yang dimaksud dengan pecandu Narkotika adalah orang yang menggunakan atau menyalahgunakan Narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada Narkotika.

mental. dan pendekatan alternative lainnya. Rehabilitasi social dalam hal ini termasuk melalui pendekatan keagamaan. mental.Ketentuan ini menegaskan bahwa rehabilitasi bagi Pecandu Narkotika dilakukan dengan maksud memulihakn dan/atau mengembangkan kemampuan fisik. social penderita yang bersangkutan. 12 . Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan “mantan pecandu Narkotika” adalah orang yang telah sembuh dari ketergantungan terhadap Narkotika secara fisik dan psikis. baik fisik. maupun social. Rehabilitasi baik social mantan pecandu Narkkotika oleh diselenggarakan oleh instansi pemerintah maupun masyarakat. tradisional. agar bekas pecandu Narkotika dapat kembali melakukan fungsi social dalam kehidupan masyarakat.  Rehabilitasi Sosial Rehabilitasi social adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu.

hilangnya rasa. 3. Narkotika Golongan II adalah Narkotika berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. perihal pengaturan perbuatan yang tergolong sebagai Tindak Pidana terdapat pada BAB XV mengenai Ketentuan Pidana. Dalam pasal 6 ayat (1) Undangundang No. 2. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 35 Tahun 2009.BAB III KESIMPULAN Berdasarkan Pembahasan yang telah diuraikan dalam bab 2 tersebut. yang dibedakan ke dalam golongan-golongan. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. 13 . Narkotika Golongan III adalah Narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Narkotika Golongan I adalah Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tuuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi. Di dalam struktur Bab-bab dalam Undang-undang No. pasal 111 sampai dengan pasal 148 Undang-undang ini. yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. baik sintetis maupun semisintetis. 2. dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman. maka ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik diantaranya : 1. Narkotika digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan. serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. antara lain adalah sebagai berikut : 1.

menjual. menerima. (2). c) Tindak Pidana dibidang Ekspor. atau mentransito precursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika. b) Memproduksi. atau menyerahkan Narkotika untuk pembuatan 14 . c) Menawarkan untuk dijual. mengangkut. mengimpor. antara lain :  Tindak Pidana Narkotika a) Tindak Pidana menanam. menguasai atau menyediakan Narkotika Golongan I. menyimpan. 4. Pengangkutan dan Transito Narkotika. dan III baik berupa tanaman maupun bukan tanaman secara tanpa hak atau melawan hukum.3. h) Tindak Pidana pelaporan penyalahguna narkotika (Pasal 128 ayat (1). 121 ayat (1) dan (2). menguasai. dan (4)). (Pasal 134) g) Tindak Pidana berkaitan dengan penyalahgunaan Narkotika untuk diri sendiri maupun orang lain (116 ayat (1) dan (2). Impor. Pasal 127 ayat (1). (3). b) Tindak Pidana dibidang Produksi Narkotika serta ilmu pengetahuan. menyimpan. menjadi Narotika. menukar. d) Tindak Pidana dibidang Peredaran Narkotika. mengirim. Perbuatan yang diklasifikasikan sebagai tindak pidana.  Tindak Pidana Prekursor Narkotika a) Memiliki. d) Membawa. e) Tindak Pidana dibidang Labeling dan Publikasi Narkotika. memelihara. memiliki. membeli. 126 ayat (1) dan (2). Sanksi Bagi Pecandu Narkotika perantara dalam Prekursor jual beli. atau mneyediakan Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika. mengekspor. atau menyalurkan Prekursor untuk pembuatan Narkotika. II. f) Tindak Pidana dibidang pengobatan dan Rehabilitasi.

Merujuk kepada ketentuan Pasal 56. Telah jelas bahwa bagi pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkoba wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi social (lihat ketentuan Pasal 54 dan 55). rehabilitasi medis pecandu Narkotika dilakukan di rumah sakit yang ditunjuk oleh Menteri. Lembaga rehabilitasi tertentu yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau masyarakat dapat melakukan rehabilitasi medis pecandu Narkotika setelah mendapat persetujuan Menteri. agar bekas pecandu Narkotika dapat kembali melakukan fungsi social dalam kehidupan masyarakat. rumah sakit. mental. maupun social. Rehabilitasi  Rehabilitasi Medis Adalah suatu proses kegiatan pengobatan secara terpadu untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan Narkotika. Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat. Rehabilitasi baik social mantan pecandu Narkkotika oleh 15 diselenggarakan oleh instansi pemerintah maupun . dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi social yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi social.  Rehabilitasi Sosial Rehabilitasi social adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu.Kewajiban bagi orang tua atau wali dari pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat. dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi social yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi social. baik fisik. Ketentuan ini menegaskan bahwa rehabilitasi bagi Pecandu Narkotika dilakukan dengan maksud memulihakn dan/atau mengembangkan kemampuan fisik. 5. rumah sakit. social penderita yang bersangkutan. mental.

dan pendekatan alternative lainnya. Rehabilitasi social dalam hal ini termasuk melalui pendekatan keagamaan. 16 . Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan “mantan pecandu Narkotika” adalah orang yang telah sembuh dari ketergantungan terhadap Narkotika secara fisik dan psikis. tradisional.masyarakat.

Lembar Negara Nomor 143. 2003.Daftar Pustaka Sasangka. Bandung : CV Mandar Maju. Hari. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Narkotika dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana. 17 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->