P. 1
an Pisang Cavendish Secara Kultur Jaringan

an Pisang Cavendish Secara Kultur Jaringan

|Views: 343|Likes:
Published by Andina Bramunditaa

More info:

Published by: Andina Bramunditaa on May 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/02/2015

pdf

text

original

Sections

  • I. PENDAHULUAN
  • A. Latar Belakang
  • B. Tujuan
  • C. Sasaran
  • II. TINJAUAN PUSTAKA
  • A. Sejarah Singkat
  • B. Manfaat Pisang
  • C. Ciri-Ciri Pisang Cavendish
  • D. Cara Perbanyakan Tanaman Pisang Cavendish
  • 1. Pembibitan
  • Tahap 0: persiapan (preparasi), seleksi dan persiapan pohon induk
  • Tahap 1 : tahap awal atau induksi (inisiasi)
  • Tahap 2: tahap perbanyakan (multiplikasi)
  • Tahap 3: persiapan plantlet sebelum aklimatisasi (tahapan penangkaran)
  • Tahap 4 : aklimatisasi
  • III. METODE PELAKSANAAN PKL
  • A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan PKL
  • B. Metode Kegiatan PKL
  • 1. Orientasi
  • 2. Observasi
  • 3. Adaptasi
  • 4. Praktik Langsung
  • IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
  • A. Gambaran Umum Perusahaan
  • 1. Sejarah Umum Perusahaan
  • 2. Visi dan Misi SEAMEO BITROP
  • 3. Struktur Organisasi Perusahaan
  • 4. Fasilitas Services Laboratory SEAMEO BIOTROP
  • B. Hasil Kegiatan PKL
  • 1. Sterilisasi Alat dan Bahan
  • 2. Pembuatan Media
  • a. Pembuatan Larutan Stok
  • Tabel 1. Komposisi unsur hara Makro
  • Makro( 10x )
  • Tabel 2. Komposisi Unsur Hara Mikro
  • Mikro( 100 x )
  • Tabel 3. Komposisi FeEDTA
  • MS (mg/l) (mg/l) media (ml)
  • Fe ( 100 x )
  • Tabel 4. Komposisi Vitamin
  • Vitamin ( 1000 x )
  • Tabel 5. Komposisi media 0(Inisiasi) /1 liter
  • Tabel 6. Komposisi Media Cair/1 liter
  • Bahan Konsentrasi
  • Tabel 8. Komposisi media 2 N(Elongasi) /1 liter
  • Gambar 5. Diagram Penggunaan Media Kultur Untuk Pisang Cavendish
  • 3. Inisiasi Eksplan Pisang Cavendish
  • Gambar 6. Penyiapan eksplan dan sterilisasi
  • 4. Multiplikasi Pisang Cavendish
  • Gambar 7. Multiplikasi Pisang Cavendish
  • Gambar 8. Elongasi Pisang Cavendish
  • 6. Induksi Perakaran Pisang Cavendish
  • 7. Aklimatisasi Pisang Cavendish
  • Gambar 9. Aklimatisasi Pisang Cavendish
  • 8. Penanaman di Polybag
  • Gambar10. Penanaman ke Polybag
  • C. Pembahasan Kegiatan PKL
  • 1. Pembuatan Media
  • 2. Inisiasi Eksplan Pisang Cavendish
  • 3. Multiplikasi Pisang Cavendish
  • 4. Elongasi Pisang Cavendish
  • 5. Induksi Perakaran Pisang Cavendish
  • 6. Aklimatisasi Pisang Cavendish
  • 7. Pembesaran Bibit di Polybag
  • V. PENUTUP
  • A. Simpulan
  • C. Saran
  • Saran Untuk Perusahaan
  • Saran Untuk Kampus
  • DAFTAR PUSTAKA

Perbanyakan Pisang Cavendish Secara Kultur Jaringan

“ Perbanyakan Tanaman Pisang Cavendish Melalui Teknik Kultur Jaringan “. Oleh Zaki Thahir Abdul Mudzakir K 4030726 Jurusan Manajemen Agribisnis, Program Studi Manajemen Agroindustri, Konsentrasi Kultur Jaringan Tanaman email : zacky_zone07@yahoo.co.id

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM),/ merupakan hal yang sangat penting dalam menyongsong era globalisasi. Salah satu upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan faktor utama yang secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan suatu bangsa baik langsung maupun tidak langsung. Penyelenggaraan pendidikan formal sebagian dari tahapan rencana strategis pendidikan nasional dan pengembangan Sumber Daya Manusia dalam rangka mempersiapkan pemenuhan kebutuhan permintaan tenaga kerja professional. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) pertanian Cianjur mempunyai tugas dan fungsi di bidang pertanian melalui program pendidikan dan pelatihan. Untuk program pendidikan saat ini PPPPTK Pertanian Cianjur menyelenggarakan Pendidikan Diploma 4 Managemant Agroindustri yang bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jember. Diharapkan lulusan pendidikan ini dapat memenuhi kebutuhan tenaga ahli didaerah maupun instansi lain di daerah masing-masing. Untuk mengenal lingkungan kerja dan untuk menambah kompetensi, maka mahasiswa harus melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan di industri/instansi yang relevan. Disamping itu, Praktik Kerja Lapangan merupakan bagian dari program pendidikan D4 di PPPPTK Pertanian Cianjur, Untuk memenuhi SKS yang telah ditentukan.
Pisang tidak mengenal musim panen, dapat berbuah setiap saat. Hasilnya dapat mencapai 1 - 17 sisir setiap tandan atau 4 - 40 Kg per tandan, tergantung jenisnya. Dalam satu tandan pisang Tanduk terdapat 1 - 7 sisir, sedangkan pada pisang Ambon 7 - 17 sisir. Buahnya dapat dimakan langsung atau diolah terlebih dahulu.

Permintaan pisang di dalam negeri sangat baik karena hampir semua masyarakat kita mengonsumsi pisang. Umumnya masyarakat menginginkan pisang yang rasanya manis atau manis sedikit asam, serta beraroma harum. Di pasaran, pisang dijual dengan berbagai tingkatan mutu, dengan harga yang sangat bervariasi satu sama lain. Selain buahnya, tanaman pisang juga dapat dimanfaatkan dari bagian bonggol hingga daunnya. Bonggol tanaman pisang (berupa umbi batang) dan batang muda dapat diolah menjadi sayuran. Bunga pisang (dikenal sebagai jantung pisang) dapat digunakan untuk sayur, manisan, acar, maupun lalapan. Daunnya lazim digunakan untuk pembungkus makanan, yang dapat memberikan rasa harum spesifik pada nasi yang dibungkus dalam keadaan panas. Salah satu tanaman buah-buahan yang diperbanyak secara komersial dengan teknik kultur jaringan adalah pisang (iptek.net.id. 2007). Pisang biasanya diperbanyak secara vegetatif menggunakan anakan atau bonggolnya. Ukuran anakan yang cukup besar menyulitkan transportasi bibit dari satu tempat ke tempat penanamannya. Anakan yang diproduksi oleh satu induk pisang ukuran dan umurnya beragam, sehingga sangat sulit untuk memperoleh anakan berukuran seragam dalam jumlah memadai untuk perkebunan pisang secara komersial. Perbanyakan klonal pisang dengan teknik kultur jaringan dapat mengatasi kendala-kendala tersebut.

Berbagai jenis bibit pisang lokal dan import telah diperbanyak dengan teknik kultur jaringan ini, misalnya pisang barangan, mas, ambon hijau, kepok kuning dan cavendish. Bibit pisang produksi kultur jaringan tersebut dewasa ini telah dijual secara komersial dan dapat diperoleh dengan mudah. Bibit pisang kultur jaringan adalah bibit yang dihasilkan melalui biakan jaringan meristem (sel meristem) pada media buatan dalam kondiosi aseptik. Keunggulan bibit pisang hasil kultur jaringan dibandingkan dengan anakan antara lain: 1. Bibit kultur jaringan terbebas dari virus mozaik, bakteri layu moko dan layu panama 2. Bibit yang dihasilkan memiliki pertumbuhan dan kualitasnya genetiknya seragam.
B. Tujuan

1. Memperoleh ilmu dan pengalaman mengenai perbanyakan pisang secara kultur jaringan dari industri 2. Mengetahui kondisi yang objektif di lapangan kerja 3. Mengetahui metode perbanyakan bibit pisang Cavendish melalui teknik kultur jaringan. 4. Memenuhi persyaratan akademik

C. Sasaran

1. Dapat kompeten dalam kegiatan kultur jaringan di industri khususnya cara perbanyakan tanaman pisang Cavendish secara kultur jaringan 2. Dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang didapat
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sejarah Singkat Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Beberapa jenisnya (Musa acuminata, M. balbisiana, dan M. ×paradisiaca) menghasilkan buah konsumsi yang dinamakan sama. Buah ini tersusun dalamtandan dengan kelompokkelompok tersusun menjari, yang disebut sisir. Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, ungu, atau bahkan hampir hitam. Buah pisang sebagai bahan pangan merupakan sumber energi (karbohidrat) dan mineral, terutama kalium. Klasifikasi botani tanaman pisang adalah sebagai berikut:
     

Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Keluarga : Musaceae Genus : Musa Spesies : Musa paradisiaca L. atau Musa cavendishii

Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang. Pusat keragaman utama pisang terletak di daerah Malesia (Asia Tenggara, Papua dan Australia tropika). Pusat keragaman minor juga terdapat di Afrika tropis. Tumbuhan ini menyukai iklim tropis panas dan lembab, terutama di dataran rendah. Di daerah dengan hujan merata sepanjang tahun, produksi pisang dapat berlangsung tanpa mengenal musim. Indonesia,Kepulauan Pasifik, negara-negara Amerika Tengah, dan Brasil dikenal sebagai negara utama pengekspor pisang. Masyarakat di negaranegara Afrika dan Amerika Latin dikenal sangat tinggi mengonsumsi pisang setiap tahunnya (http://wapedia.mobi/id/Pisang . 2008).

Pisang telah lama akrab dengan masyarakat Indonesia, terbukti dari seringnya pohon pisang digunakan sebagai perlambang dalam berbagai upacara adat. Pohon pisang selalu melakukan regenerasi sebelum berbuah dan mati, yaitu melalui tunas-tunas yang tumbuh pada bonggolnya. Dengan cara itulah pohon pisang mempertahankan eksistensinya untuk memberikan manfaatkan kepada manusia. Filosofi tersebutlah yang mendasari penggunaan pohon pisang sebagai simbol niat luhur pada upacara pernikahan. Iklim tropis yang sesuai serta kondisi tanah yang banyak mengandung humus memungkinkan tanaman pisang tersebar luas di Indonesia. Saat ini, hampir seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah penghasil pisang (www.kompas.com. 2008). B. Manfaat Pisang Pasar pisang di dalam negeri sangat baik karena hampir semua masyarakat kita mengonsumsi pisang. Umumnya masyarakat menginginkan pisang yang rasanya manis atau manis sedikit asam, serta beraroma harum. Di pasaran, pisang dijual dengan berbagai tingkatan mutu, dengan harga yang sangat bervariasi satu sama lain. Selain buahnya, tanaman pisang juga dapat dimanfaatkan dari bagian bonggol hingga daunnya. Bonggol tanaman pisang (berupa umbi batang) dan batang muda dapat diolah menjadi sayuran. Bunga pisang (dikenal sebagai jantung pisang) dapat digunakan untuk sayur, manisan, acar, maupun lalapan. Daunnya lazim digunakan untuk pembungkus makanan, yang dapat memberikan rasa harum spesifik pada nasi yang dibungkus dalam keadaan panas. Berdasarkan manfaatnya bagi kepentingan manusia, pohon pisang dibedakan atas tiga macam, yaitu pisang serat, pisang hias dan pisang buah. Pada pisang serat (Musa textilis), yang dimanfaatkan bukan buahnya, tetapi serat batangnya untuk pembuatan tekstil. Pisang hias umumnya ditanam bukan untuk diambil buahnya tetapi sebagai hiasan yang cantik, contohnya adalah pisang kipas dan pisang-pisangan. Pisang buah (Musa paradisiaca) ditanam dengan tujuan untuk dimanfaatkan buahnya. Pisang buah dapat dibedakan atas empat golongan. Golongan pertama adalah yang dapat dimakan langsung setelah matang (disebut juga pisang meja), contohnya adalah: pisang kepok, susu, hijau, mas, raja, ambon kuning, ambon lumut, barangan, serta pisang cavendish. Golongan kedua adalah yang dapat dimakan setelah diolah terlebih dahulu, contohnya pisang tanduk, oli, kapas, dan pisang bangkahulu. Golongan ketiga adalah pisang yang dapat dimakan langsung setelah masak maupun setelah diolah terlebih dahulu, contohnya pisang kepok dan pisang raja.Golongan keempat adalah pisang yang dapat dimakan sewaktu masih mentah, misalnya pisang klutuk (pisang batu) yang berasa sepat dan enak untuk dibuat rujak. Pisang klutuk beserta kulitnya sering ditambahkan ke dalam rujak untuk mencegah sakit perut atau mules setelah makan rujak. Di Indonesia, terdapat lebih dari 230 jenis pisang, tetapi yang umum dijual di pasaran dan umum dikonsumsi adalah: pisang barangan, raja, raja sereh, raja uli, raja jambe, raja molo, raja kul, raja tahun, raja

Buah pisang mentah dapat diolah menjadi gaplek. tanduk. ledre. ambon lumut. kolak. maupun dimasak. lampung. Bagian-bagian vegetatif beserta buah-buah yang tidak termanfaatkan digunakan sebagai pakan ternak. Buah pisang matang merupakan buah yang mudah busuk. Pisang dimanfaatkan baik dalam keadaan mentah. dodol. dan keripik. dan sebagai pembungkus berbagai makanan. untuk upacara pernikahan. nangka. atau diolah menurut cara-cara tertentu. pisang epe. sirop glukosa. Untuk memperpanjang daya awet dan daya gunanya. kepok. Air yang keluar dari pangkal batang yang ditusuk digunakan untuk disuntikkan ke dalam saluran kencing untuk mengobati penyakit raja singa.) merupakan komoditas buah tropis yang sangat popular di dunia. Dalam pengobatan. misalnya di Indonesia. saos. kapas. gizinya tinggi.dagdigdug. C. pisang bersifat antisariawan usus. Cairan yang keluar dari akar bersifat anti-demam dan memiliki daya pemulihan kembali. dan harganya relatif murah. selai. pure. 2008). daun pisang yang masih tergulung digunakan sebagai obat sakit dada dan sebagai tapal dingin untuk kulit yang bengkak atau lecet. bagian-bagian vegetatif itu khusus dimanfaatkan jika pakan ternak dan air sulit diperoleh (batang semu itu banyak mengandung air). air ini juga digunakan untuk menyetop rontoknya rambut dan merangsang pertumbuhan rambut. pisang goreng. Pisang dapat diproses menjadi tepung. Hal ini dikarenakan rasanya lezat. tape. tepung. ambon kuning. nectar. Banyak jenis tanaman pisang komersial yang telah dibudidayakan di Indonesia. sebagai alas 'kastrol' tempat membuat nasi 'liwet'. Produk utama pisang adalah buahnya. Dalam bentuk tepung. ketika mendirikan rumah. pisang digunakan dalam kasus anemia dan casa letih pada umumnya. . serta untuk yang kekurangan gizi. Pisang merupakan salah satu tanaman yang mempunyai prospek cerah di masa datang karena di seluruh dunia hampir setiap orang gemar mengkonsumsi buah pisang. getuk. Buah yang matang sempurna merupakan makanan mewah jika dimakan pagi-pagi sekali. 2008). sari buah.com. Daun pisang digunakan untuk menggosok lantai. Ciri-Ciri Pisang Cavendish Pisang (Musa sp.com/2008/04/26/pisang/. pisang rebus. bir.bulu. pati. dan diare. Serat untuk membuat kain dapat diperoleh dari batang semunya. Tepung yang dibuat dari pisang digunakan untuk gangguan pencernaan yang disertai perut kembung dan kelebihan asam. salah satunya adalah Pisang Cavendish. Selain itu tanaman pisang sangat mudah dibudidayakan dan cepat menghasilkan sehingga lebih disukai petani untuk dibudidayakan. atau didehidrasi. Buah pisang matang dapat diolah menjadi sale. anggur. serta aneka kue lainnya (www. (http://dapurmlandhing. dan pisang tongkat langit. 'puree'.kompas. pisang panggang keju. Tanaman pisang (atau daun dan buahnya) juga memegang peranan dalam upacara-upacara adat. buah pisang dapat diolah menjadi berbagai produk. kidang. Buah yang belum matang merupakan sebagian dari diet bagi orang yang menderita penyakit batuk darah (haemoptysis) dan kencing manis. kripik. cuka. disentri. mas. karena kadar airnya yang cukup tinggi. Dalam keadaan kering. dan upacara keagamaan setempat.

Jantung pisang Cavendish akan tumbuh pada saat pohon pisang berumur 9 bulan. tetapi adanya mutasi yang tidak dikehendaki menimbulkan kekhawatiran.22 buah. Pisang Tanduk. Services Laboratory . sehingga panen pisang Cavendish rata-rata pada umur 12 bulan setelah tanam.3. Meningkatnya permintaan buah pisang untuk kebutuhan lokal maupun untuk ekspor. Daging buah putih kekuningan. D. Cara Perbanyakan Tanaman Pisang Cavendish 1. Laboratorium Kultur Jaringan. Setiap tandan terdiri dari 8 . Varietas yang dikembangkan di SEAMEO BIOTROP adalah jenis Pisang Cavendish Grand Naim yang banyak dijual di supermarket sebagai pisang meja yaitu pisang yang dihidangkan langsung untuk dikonsumsi. Pematangan buah memerlukan waktu 3-3. Pisang Raja Bulu. diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan bibit Pisang Cavendish yang berkualitas. 2008). Daunnya berwarna hijau tua. Cara ini telah dilaksanakan dalam skala komersial. Anakan yang berdaun pedang-lah yang lebih disenangi petani. Selain Pisang Cavendish. dan lunak.3 m dengan warna hijau kehitaman. Keunggulan bibit pisang hasil kultur jaringan dibandingkan dengan bibit dari anakan adalah bibit kultur jaringan terbebas dari penyakit seperti Bakteri Layu Moko (Pseudomonas solanacearum) dan Layu Panama (Fusarium oxysporum cubense).5 bulan. Keunggulan lain adalah bibit yang dihasilkan pertumbuhan dan kualitas genetiknya seragam. Penyakit ini sangat ditakuti oleh petani pisang. Kini telah dikembangkan kultur jaringan untuk perbanyakan secara cepat.5 bulan sejak keluar jantung. Umur panen 3 . Bonggol atau potongan bonggol juga digunakan sebagai bahan perbanyakan. SEAMEO BIOTROP telah memproduksi bibit Pisang Cavendish melalui teknik kultur jaringan. sebab pohon pisang yang berasal dari anakan demikian akan menghasilkan tandan yang lebih besar pada panen pertamanya (tanaman induk).100 cm dengan berat 15 . melalui ujung pucuk yang bebas-penyakit.SEAMEO BIOTROP juga memproduksi bibit Pisang Barangan. Pisang Cavendish juga banyak dijadikan sebagai konsumsi pabrik puree. rasanya manis agak asam. Pisang Kepok Kuning dan Pisang Abaka (http://brmc.5 .org/web/. .30 kg. Laboratorium Kultur Jaringan. Panjang Tandan 60 . Bonggol ini biasanya dibelah dua dan direndam dalam air panas (52° C) atau dalam larutan pestisida untuk membunuh nematoda dan penggerek penggerek sebelum ditanamkan. tepung pisang sebagai bahan makanan bayi. Pohon Pisang Cavendish mempunyai tinggi batang 2. Kulit buah agak tebal berwarna hijau kekuningan sampai kuning muda halus.13 sisiran dan setiap sisiran ada 12 . Pisang Ambon Kuning. Pembibitan Pisang umumnya diperbanyak dengan anakan.Pisang Cavendish di Indonesia lebih dikenal dengan Pisang Ambon Putih.biotrop. Oleh karena itu.

Perbanyakan Secara Kultur Jaringan . Persyaratan Bibit : Tinggi anakan yang dijadikan bibit adalah 1-1. Tinggi bibit akan berpengaruh terhadap produksi pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Pisang biasanya ditanam sebagai tanaman perawat (nurse drop) untuk tanaman muda coklat. Pisang dapat dijadikan tanaman utama atau tanaman pencampur pada sistem tumpang sari. Pisang diperbanyak dengan cara vegetatif berupa tunas-tunas (anakan).5–1% selama 10 menit. Penyiapan Bibit : Bibit dapat dibeli dari daerah/tempat lain atau disediakan di kebun sendiri. dilakukan pemotongan/penjarangan tunas. Juga dapat digunakan sebagai tanaman sela pada perkebunan karet atau kelapa sawit yang baru dibangun. Anakan dewasa lebih baik digunakan karena sudah mempunyai bakal bunga dan persediaan makanan di dalam bonggol sudah banyak. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat. 3) Rendam umbi bibit sebatas leher batang di dalam insektisida 0. rendam umbi bibit di dalam air panas beberapa menit. a. sebelum ditanam bibit diberi perlakuan sebagai berikut: 1) Setelah dipotong. Untuk menghindari terlalu banyaknya jumlah tunas anakan. bersihkan tanah yang menempel di akar.Penanaman pada umumnya dilakukan pada awal musim hujan. kopi. 2) Simpan bibit di tempat teduh 1-2 hari sebelum tanam agar luka pada umbi mengering. dan sebagainya. rendam umbi bibit di air mengalir selama 48 jam. 4) Jika tidak ada insektisida. pisang biasanya ditumpangsarikan dengan tanaman semusim. Jika ditanam sebagai tanaman utama. 2. Tanaman untuk bibit ditanam dengan jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m. lada. helai daun sempit) lebih diutamakan daripada bibit dengan daun yang lebar. Lalu bibit dikeringanginkan. c. 5) Jika di areal tanam sudah ada hama nematoda. atau ditanam di bawah pohon-pohon kelapa yang telah dewasa.5 m dengan lebar potongan umbi 15-20 cm. Sanitasi Bibit Sebelum Ditanam : Untuk menghindari penyebaran hama/penyakit. Satu pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7-9. Bahan perbanyakan biasanya ditanamkan sedalam 30 cm. Penggunaan bibit yang berbentuk tombak (daun masih berbentuk seperti pedang. Bibit anakan ada dua jenis: anakan muda dan dewasa. b. Buang daun-daun yang lebar.

Teknik Kultur Jaringan adalah mengisolasi bagian tanaman seperti daun. Teknik terakhir juga dikenal dengan istilah invitro layering. Untuk mengenal lebih jauh tentang mikropropagasi akan dibahas tentang: . Keuntungan Kultur Jaringan adalah : a) Menghasilkan bibit dalam jumlah banyak. Teknik ini juga dikenal dengan upaya clonning untuk memproduksi klon tanaman dari jaringan vegetatif. seragam dalam waktu singkat b) Sifat tanaman sama dengan induknya c) Kesehatan bibit lebih terjamin d) Kecepatan tumbuh lebih cepat dibanding konvensional Langkah-langkah dalam proses Kultur Jaringan meliputi : a) Pembuatan media b) Inisiasi c) Sterilisasi d) Multiplikasi e) Pengakaran f) Aklimatisasi Seiring dengan perkembangan pemahaman dan kemajuan kultur jaringan maka dewasa ini teknik-teknik kultur jaringan telah digunakan untuk berbagai tujuan termasuk industri bibit tanaman. Teknik ini dilakukan dengan cara menanam eksplan berupa pucuk beserta jaringan meristemnya yang dikenal sebagai teknik kultur pucuk (shoot tip culture) atau menanam tunas lateral dengan satu atau lebih buku (single node and multiple node culture). Oleh karena itu tanaman yang dihasilkan melalui upaya clonning ini adalah identik atau serupa dengan induknya. mata tunas serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Perbanyakan mikro secara umum dapat diartikan sebagai usaha menumbuhkan bagian tanaman dalam media aseptis kemudian memperbanyak bagian tanaman tersebut sehingga dihasilkan tanaman sempurna dalam jumlah banyak. Tujuan utamanya adalah memproduksi tanaman dalam jumlah besar dan waktu yang singkat. bermutu. Teknik perbanyakan mikro (mikropropagasi) telah lama digunakan dan merupakan salah satu contoh menarik dan klasik dari penerapan teknik kultur jaringan.

Perlakuan-perlakuan tersebut antara lain: 1) Penanaman di green house atau pot untuk mengurangi sumber kontaminan . Pada perbanyakan vegetatif secara invitro umumnya digunakan tidak hanya untuk merangsang terbentuknya organ tanaman (akar. Pohon induk yang akan digunakan sebagai sumber eksplan harus dipilih secara hati-hati. batang dan daun) namun juga memperbanyaknya sebelum tanaman kecil (plantlet) ini dipindahkan dari tabung kultur ke lapangan. Tahapan-tahapan ini bukan hanya menjelaskan prosedur mikropropagasi. namun juga menjelaskan saat perubahan pada lingkungan kultur misalnya perubahan komposisi dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan dalam media. Tujuan perbanyakan konvensional. akar dan tunas pada stek daun dan stek akar) pada bahan stek dan jumlah bibit yang diperoleh dari satu bahan stek umumnya hanya satu. misalnya stek. mempunyai vigor yang sehat dan bebas dari gejala serangan hama atau penyakit. Pohon ini adalah pohon dari spesies atau verietas yang akan diperbanyak. layering dan cangkok. Tahap 0: persiapan (preparasi). yaitu: Tahap 0: tahap persiapan (preparasi) Tahap 1: tahap induksi (pemacuan) Tahap 2: tahap multiplikasi (perbanyakan) Tahap 3: tahap pengakaran Tahap 4: tahap transplantasi (pemindahahan) ke media terrestrial. Ada lima tahapan dalam mikropropagasi. Pohon induk atau bagian tanaman yang akan diambil sebagai eksplan perlu diperlakukan khusus agar mikropropagasi berhasil. adalah merangsang terbentuknya organ adventif (akar pada stek batang.Metode perbanyakan vegetatif tanaman secara invitro adalah merupakan pengembangan dari teknik-teknik perbanyakan vegetatif yang telah dilakukan secara konvensional seperti stek. seleksi dan persiapan pohon induk Tahapan ini dilakukan sebelum eksplan diambil untuk perbanyakan. Metode yang dapat dilakukan dalam mikropropagasi tanaman dilakukan secara bertahap sejak tahap persiapan dan perlakukan stok tanaman (tahap 0) sampai tahap aklimatisasi (tahap IV). Di atas telah dijelaskan bahwa mikropropagasi dilakukan dalam beberapa tahapan.

Tempat pengambilan eksplan sangat berpengaruh terhadap besarnya resiko kontaminasi oleh infeksi jamur. Untuk eksplan yang mengalami kontaminasi berat atau yang sulit untuk disterilisasi maka eksplan terlebih dahulu dapat ditanam pada media inkubasi atau establishment yaitu media yang hanya mengandung gula dan agar saja dengan tujuan untuk isolasi eskplan yang tidak terkontaminasi sebelum diinisiasi pada tahap 1 mikropropagasi. karena sering sulit untuk membedakan apakah kontaminasi tersebut berasal dari bakteri endogin atau eksogin. Pada tahap 0 termasuk juga beberapa intervensi yang dapat membuat eksplan lebih sesuai atau lebih siap sebagai material awal. Tahap ini selesai dan kultur bisa dipindahkan ke tahap berikutnya bila eksplan yang tidak terkontaminasi telah tumbuh sesuai dengan harapan (misalnya tunas lateral atau tunas adventif tumbuh). Keberhasilan tahap ini pertama kali terlihat dari keberhasilan penanaman eksplan pada kondisi aseptis (bebas dari segala kontaminan) dan harus diikuti dengan pertumbuhan awal eksplan sesuai tujuan penanamannya (misalnya: perpanjangan pucuk. atau pertumbuhan kalus pada eksplan). Eksplan yang diambil dari rumah kaca yang terjamin kondisi kehegienisannya akan jauh dapat mengurangi resiko terkontaminasi oleh infeksi jamur dibanding bila eksplan diambil dari lapangan.2) Pemberian lingkungan yang sesuai atau perlakuan kimia untuk meningkatkan kecepatan multiplikasi dalam kondisi invitro 3) Indexing atau prosedur lain untuk mengetahui adanya penyakit sistemik oleh virus atau bakteri 4) Perangsangan pertumbuhan tunas-tunas dorman. Namun ada yang lebih sulit untuk menghindari kontaminasi terhadap bakteri. kultur yang terkontaminasi oleh bakteri atau jamur (baik pada media maupun eksplannya) dibuang. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam tanaman induk yang dimikropropagasi adalah cahaya. Setelah 1–2 minggu inkubasi. pertumbuhan awal tunas. Tahap 1 : tahap awal atau induksi (inisiasi) Tahap awal ini sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan mikropropagasi. temperatur dan zat pengatur tumbuh. Pada permulaan pengerjaan kultur jaringan problem terbesar yang dihadapi adalah mengatasi kontaminasi. Ini tidak hanya dapat mereduksi populasi jumlah mikroorganisme yang hidup di permukaan tanaman. Idealnya tanaman induk yang akan dijadikan sebagai eksplan sebaiknya ditanam di dalam rumah kaca yang terjaga kehegienisannya. . tetapi juga membantu untuk memproduksi tanaman berkualitas.

Pembentukan monomer fenolik di dalam jaringan dapat memacu untuk mengakumulasi sejumlah besar produk. yaitu: 1) Oksidasi dari terbentuknya fenolik komplek (munculnya senyawa quinon dan material polymerisasi) 2) Pembentukan turunan monomerik 3) Pembentukan turunan polimer fenolik. seperti:Melepaskan isi sel-sel yang rusak. Faktor-faktor yang berpengaruh pada keberhasilan pada tahap ini adalah: 1) Umur tanaman induk 2) Umur fisiologis dari eksplan 3) Tahap perkembangan dari eksplan 4) Ukuran dari eksplan. atau munculnya produk baru yang berperan dalam mekanisme proteksi dari jaringan yang luka. Senyawa fenol adalah produk yang labil dan sangat mudah teroksidasi dan fenol teroksidasi dapat menjadi fitotoksit. atau senyawa inhibitor dari pertumbuhan mikrobia (seperti quinon atau fitoalexin). Umumnya. eksplan yang dipilih adalah tunas aksilar atau terminal. . maka jaringan tersebut sulit untuk dikulturkan. reaksi-reaksi di dalam sel-sel tetangganya tetapi tanpa menunjukkan gejala adanya luka itu sendiri dan/atau mati prematur dari sel-sel yang spesifik dalam lingkungan luka atau tempat infeksi. metabolisme fenolik komplek terstimulasi. Peranan dari pruduk ini dapat membentuk pembatas fisik melawan invasi (seperti lignin). Intervensi ini menyebabkan reaksi hipersensitif. Pada umumnya metabolisme fenolik komplek mempunyai 3 tipe reaksi dalam merespon stress atau luka. Untuk kebanyakan pekerjaan mikropropagasi. Reaksi hipersensitif Ketika jaringan tanaman diekspos pada situasi stress seperti luka mekanikal.Tujuan dari tahap ini adalah memproduksi kultur axenic. jaringan mengandung senyawa fenolik komplek berkonsentrasi tinggi.

eksplan dapat juga membentuk kalus (callogenesis) atau membentuk tunas (caulogenesis).Strategi untuk mereduksi atau menghilangkan senyawa fenolik komplek tersebut adalah: 1) Mencuci atau membersihkan produk senyawa fenolik komplek dengan membersihkannya dengan merendam kedalam air pada jangka yang panjang atau mengabsorbsinya dengan arang aktif atau senyawa polyvinylpyrrolidone) 2) Menghambat kerja enzim fenolase menggunakan agen khelat 3) Mereduksi aktifitas fenolase dan kemampuan substrat dengan menggunakan pH rendah. Pada pertumbuhan kalus sering dihasilkan embrioid dan setiap embrioid nantinya akan membentuk individu tanaman baru (somatic embriogenesis). Kultur axenik yang telah dihasilkan pada tahap 1 dan pada tahap 2 dipindahkan pada media yang kaya akan sitokinin agar eksplan dapat menghasilkan tunas yang banyak yang selanjutnya pada tahap 3 nanti tunas-tunas tersebut dipindahkan pada media pengakaran untuk memacu pertumbuhan akar. Oleh karena itu untuk jaringan yang menghasilkan fenolik komplek berlebihan disarankan untuk mengurangi konsentrasi atau tidak menggunakan unsur tersebut dalam media. sehingga tanaman yang dihasilkan tidak identik dengan tanaman induknya. Tahap 2: tahap perbanyakan (multiplikasi) Tujuan dari tahapan ini adalah untuk memperoleh dan memperbanyak tunas. dengan penambahan senyawa antioksidan seperti: asam askorbat. . terutama pada waktu sterilisasi atau penanaman. atau kadang memproduksi meristemoid yang akan tumbuh menjadi tunas (organogenesis). Pada tahap ini. seperti Mn2+ (berperan sebagai cofactor peroksidasi) dan Cu2+ (merupakan bagian dari enzim fenolase komplek). 6) Menginkubasikan kultur dalam ruangan yang bersuhu rendah 7) Sebaiknya sebelum eksplan ditanam pada media perlakuan ditempatkan pada media tanpa zat pengatur tumbuh untuk mengurangi terjadinya pencoklatan atau penghitaman pada eksplan. induk tanaman yang higienis dapat mengurangi stress 5) Penggunaan mikroelemen tertentu dapat menstimulasi terbentuknya senyawa fenol. asam sitrat atau menginkubasikan kultur di dalam ruang gelap 4) Mereduksi terjadinya stress pada eksplan.Callogenesis sering menimbulkan terjadinya aberasi genetik yang dikenal dengan istilahvariasi somaklonal.

adalah: 1) Media untuk pengakaran dan perpanjangan tunas. semi padat maupun media padat. Bahan tersebut kemudian ditanam pada media baru yang umumnya mengandung sitokinin pada konsentrasi yang lebih tinggi dari auksin. tetapi pertumbuhan akar dapat dihambat oleh keberadaan auksin dalam media). Pada tahapan ini. Tunas tersebut selanjutnya dibesarkan atau diakarkan pada tahap mikropropagasi berikutnya. Media perakaran yang digunakan tanpa penambahan zat pengatur tumbuh. pengakaran dan perangsangan aktifitas fotosintesisnya. Oleh karena itu.Pada tahap ini dapat digunakan media cair (media tanpa agar). tunas-tunas baru akan tumbuh dari potongan eksplan. Atau propagul dicelupkan dalam larutan pangakaran (auksin) sebentar dan selanjutnya ditanam dalam medium tanpa auksin 3) Tahapan pemanjangan ini dapat ditempuh dengan cara meletakkan propagul pada medium agar tanpa sitokinin atau dengan konsentrasi yang sangat rendah selamas 2-4 minggu.Tunas yang diperoleh pada tahapan ini digunakan sebagai bahan perbanyakan berikutnya. Kluster tunas yang dihasilkan pada tahap 2 disimpan pada media tanpa ZPT dengan kelembaban yang sangat tinggi 2) Individu tunas (propagul) disubkultur ke media dengan mengurangi konsentrasi atau tanpa penambahan sitokinin dan menambah konsentrasi auksin serta kadang dengan mengurangi konsentrasi senyawa anorganik. Tahap 3: persiapan plantlet sebelum aklimatisasi (tahapan penangkaran) Tunas atau plantlet yang dihasilkan dari tahapan ke 2 tersebut umumnya masih sangat kecil atau tunas yang belum dilengkapi dengan akar sehingga belum mampu untuk mendukung pertumbuhannya dalam kondisi invivo. dalam tahap ini masing-masing plantlet yang dihasilkan ditumbuhkan untuk pembesaran. Selanjutnya propagul dipindahkan ke media lainnya seperti teknik sebelumnya . kemudian disubkultur lagi ke media tanpa auksin (induksi akar dipacu oleh adanya auksin. tunas yang dihasilkan dipotong-potong dengan teknik single-node/multiple node culture maupun dengan mengambil pucuknya sebagai eksplan untuk perbanyakan. Dengan modifikasi media yang sesuai. Atau dengan cara memindahkan propagul ke media yang berisi auksin selama 1-2 hari. Teknik untuk mendapatkan plantula yang siap untuk di pindahkan ke media terrestrial pada tahap 4 antara lain. Pada beberapa tanaman menggunakan penambahan GA3 dalam medium. oleh karena itu pada tahapan ini dilakukan banyak sub kultur untuk melipatgandakan jumlah plantlet yang dihasilkan. Tahapan ini umumnya dilakukan sebanyak 8–10 kali sehingga akan dapat dihasilkan sejumlah besar tunas (ribuan tunas) dari satu eksplan pada tahapan inisiasi. Pada beberapa jenis tanaman pengakaran dapat dilakukan dengan cara menempakan tunas hasil tahap 2 (propagul) diletakkan pada aerasi media cair lebih baik dari pada pada media padat.

Indonesia. PO BOX 116. Letak pendirian perusahaan serta kegiatan produksi secara langsung maupun studi pustaka mengenai perusahaan bertujuan agar mengetahui secara luas dan riil manajemen serta kinerja maupun hasil produksi perusahaan. SEAMEO BIOTROP yang terletak di Jl. Raya Tajur KM 6. karena jika tidak dilakukan dengan baik maka sebagian besar plantet yang dihasilkan dapat mati/musnah. melakukan observasi baik secara langsung maupun tidak langsung. 2. . B. penambahan intensitas cahaya. III. dan perlakuan dengan carbon dioksida.4) Penggunaan media praaklimatisasi dan lingkungan kultur dengan penyinaran yang lebih intensitas cahayanya untuk perangsangan aktifitas fotosintesis misalnya penggunaan media dengan konsentrasi gula rendah/tanpa gula. Kegiatan observasi dilakukan mulai dari pertama melakukan peraktik keja lapangan sampai selesai melakukan kegiatan PKL di perusahaan. Observasi berupa pengamatan terhadap kondisi perusahaan. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan PKL Kegaiatan praktek kerja lapangan dilaksanakan selama ± 2 bulan terhitung mulai dari tanggal 01 Desember s/d 13 Februari 2009 di Services Laboratory. Metode Kegiatan PKL 1. METODE PELAKSANAAN PKL A. (0251) 8357 175. Tahap 4 : aklimatisasi Tahapan aklimatisasi ini adalah tahap pemindahan plantet dari kondisi invitro ke kondisi invivo. Fax 062 – 0251 357 175. Telp. Observasi Mahasiswa yang melakukan kegiatan PKL. Tahap ini sangat penting dan harus dilakukan secara hati-hati. Bogor Jawa Barat. Selain itu mahasiswa juga diberikan pengarahan mengenai sekilas tentang profil usaha yang dikembangkan di laboratorium. mahasiswa melakukan pelaporan kepada pimpinan industri dan berdiskusi mengenai kegiatan yang akan dilakukan di perusahaan dan diberikan pengarahan mengenai struktur organisasi laboratoriumserta peraturan yang harus diikuti oleh mahasiswa selama melakukan PKL di Services Laboratory. Orientasi Sebelum melaksanakan kegiatan PKL.

Filipina. Adaptasi ini berupa pendekatan terhadap para karyawan. Laguna Filipina. dan Pembesaran bibit dalam polybag. Penyiapan Laboratorium. Kegiatan–kegiatan yang dilaksanakan mulai dari Sterilisasi Alat dan Bahan. dengan hubungan yang baik maka proses kegiatan PKL yang dilakukan berjalan nyaman dan dapat dimanfaatkan sebaikbaiknya untuk mengumpulkan informasi mengenai kegiatan produksi di perusahaan. Aklimatisasi. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Semenjak tahun 1965 organisasi SEAMEO telah berkembang pesat. ilmu pengetahuan. 4. Praktik Langsung Pelaksanaan PKL di Services laboratory dilaksanakan berdasarkan surat tugas yang diberikan kepada mahasiswa dari politeknik Vedca untuk melakukan kegiatan PKL di perusaan. SEAMEO (The Southeast Asian Minister Of Education Organization) adalah sebuah organisasi yang dibentuk dengan tujuan untuk memajukan kerjasama antara negara-negara di Asia Tenggara dalam bidang pendidikan. Proses adaptasi yang dilakukan tidak mengalami kesulitan antara mahasiswa dengan staf dan masyarakat sekitar perusahaan sehingga tercipta hubungan yang baik. Sterilisasi eksplan. Induksi perakaran. SEAMEO-SEARCA (Regional Center for Graduated Study and Research in Agriculture) didirikan pada tahun 1967 di Los Banos. Pembuatan dan sterilisasi media. Pembuatan larutan stok. Penyiapan eksplan. dan Thailand pada tanggal 30 November 1965 di Bangkok. staf maupun masyarakat yang tinggal di area sekitar berdirinya perusaahan. . Kegiatan PKL dimulai dengan pelaporan kepada pimpinan industri dan dilanjutkan dengan proses pembuatan rencana program produksi di perusahaan.3. Gambaran Umum Perusahaan 1. Setelah itu mahasiswa terjun langsung dalam kegiatan produksi kultur jaringan tanaman pisang yang merupakan komoditi utama yang diproduksi secara kultur di services laboratory. Penanaman eksplan. mahasiswa dituntut untuk melakukan adptasi terhadap lingkungan perusaan agar tercipta hubungan baik antara mahasiswa dengan lingkungan sekitar perusahaan. selama kurun waktu 36 tahun organisasi ini telah mempunyai 12 pusat wilayah (Regional Centre) yaitu mempunyai berbagai aktivitas dan berlokasi di beberapa negara anggotanya. yaitu : a. Sejarah Umum Perusahaan Gagasan atau ide berdirinya SEAMEO untuk pertama kalinya muncul dari 5 negara. Malaysia. IV. Subkultur (multiplikasi tunas). Adaptasi Dalam pelaksanaan kegiatan PKL. yaitu Indonesia. Singapura. dan kebudayaan.

e. Regional Centre for Tropical Medicine didirikan di Thailand. Metro Manila. Thailand. Regional Centre for Community Nutrition didirikan di Indonesia. 4. SEAMEO-RECSAM (Regional Centre for Education in Science and Mathematics) didirikan pada tahun 1967 di Penang. j. Parasitology. k. SEAMEO-INNOTECH (Regional Center for Education Innovation and Technology) didirikan pada tahun 1970 di Quezon city. SEAMEO-SPAFA (Regional Centre for Archeology and Fine Arts) didirikan pada tahun 1971 di Bangkok. . Regional Centre for Public Health didirikan di Filipina. Indonesia.b. Thailand sebgai dewan pusat koordinasi di Indonesia. Thailand. Malaysia. and Entomology didirikan di Malaysia. SEAMEO-RELC (Regional Language Centre) didirikan pada tahun 1968 di Singapura. g. l. SEAMEO-CHAT (Regional Centre for History and tradition) didirikan pada tahun 2001 di Yangon. Regional Centre for Microbiology. SEAMEO-BIOTROP (Regional Center for Tropical Biology) didirikan pada tahun 1968 di Bogor. Filipina. SEAMEO-RIHED (Regional Centre for Higher Education) didirikan pada tahun 1993 di Bangkok. SEAMEO-TROPMED (Regional Centre for Higher Education for Tropical Medicine and Public Health Project) di Bangkok. c. 2. f. Filipina. sebagai pusat wilayah nasional yaitu: 1. Myanmar. d. Vietnam. i. h. Brunei Darussalam. 3. Indonesia. SEAMEO-RETRAC (Regional Training Centre) didirikan di Ho Chi Minh City. Malaysia. SEAMEO-SEAMOLEC (Regional Open Learning) didirikan di Jakarta. SEAMEO-VOCTECH (Regional Centre for Vocational and Technical Education) didirikan pada tahun 1989 di Bandar Seri Begawan.

Induk bibit jati emas yang diperbanyak berasal dari Myanmar. semula bernama SEAMEO Regional Centre for Training. Jawa Barat Service Laboratory SEAMEO-BIOTROP diresmikan pada tahun 2001. . yaitu Perancis (1973). dan sekarang sedang mencoba perbanyakan tanaman gaharu. kemudian sejak tanggal 5 juni 1972 SEAMEO-BIOTROP telah menempati gedung tersendiri milik LBN (terpisah secara administrasi).000 bibit/bulan.Dalam keanggotaan SEAMEO selain negara anggota terdapat juga 6 (enam) ASSOCIATE MEMBERS atau negara peserta yang bekerja sama dalam bantuan teknis. laboraturium ini melakukan beberapa usaha antara lain. 1978 SEAMEO-BIOTROP menempati gedung baru di jalan raya Tajur Km. Laboraturium Kultur Jaringan adalah laboratorium yang terkenal karena dapat menghasilkan pendapatan bagi SEAMEO-BIOTROP. Service Laboratory menghasilkan pendapatan bagi SEAMEO-BIOTROP karena ia mampu memproduksi dan menjual hasil produksinya. Laboratorium Kultur Jaringan diresmikan pada tahun 1998. Pada periode 1969-1972 SEAMEO-BIOTROP bernaung dibawah lembaga Biologi Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LBN LIPI) yang berlokasi di kebun raya Bogor. serta Laboraturium DNA Sequencing. talas jepang (sotoimo).6 Bogor. Res earce and Post Graduated Study in Tropical Biology. Selain tanaman jati. rumah kaca dan lahan pembibitan yang memadai untuk memproduksi bibit jati dengan kapasitas 20. Jerman (1990). Australia dan Selandia Baru (1974). dan Belanda (1993). Services Laboratory bagian Kultur Jaringan telah mengembangkan bibit jati melalui kultur jaringan secara komersial. Service Laboratory adalah bagian dari SEAMEO-BIOTROP yang dapat berdiri sendiri. Dalam rangka meningkatkan produksi tanaman agar mampu menjalankan beberapa ragam kegiatan usaha. Service Laboratory terbagi menjadi 5 bagian yaitu: Laboraturium Analisia Tanaman dan Tanah. Laboraturium Analisis Makanan. SEAMEO-BIOTROP merupakan salah satu regional yang berkedudukan di Indonesia yang didirikan pada tanggal 6 Februari 1968 di Singapura. Berdasarkan hasil keputusan konferensi SEAMEC ke III pada tanggal 6-9 Februari 1968. laboraturium Kultur Jaringan ini telah dilengkapi dengan peralatan laboratorium. kemudian namanya diubah menjadi SEAMEO REGIONAL CENTRE FOR TROPYCAL BIOLOGY (Pusat Wilayah Untuk Biology Tropika) berdasarkan hasil keputusan konferensi SEAMEC ke IV tanggal 7-10 Januari 1969 di Jakarta. Hingga saat ini produksi yang dihasilkan laboraturium ini mengalami kemajuan dengan meningkatnya target produksi dan mutu yang baik dari tahun ke tahun. Kanada (1988). Laboraturium Kultur Jaringan. laboratorium ini memproduksi tanaman lainnya seperti pisang cavendish. Laboraturium Analisis Air dan Udara.

c. Misi kebijakan dan sasaran. Dalam penetapan sasaran. b. Visi SEAMEO BIOTROP adalah sebagai berikut: Menjadi pusat unggulan dalam penelitian. Menyediakan informasi yang relevan untuk penelitian dan pembangunan dalam bidang biologi tropika. Meningkatkan kinerja system management mutu secara berkesinambungan. Visi. Mendukung konservasi keanekaragaman hayati. d. pembibitan.. Misi SEAMEO BIOTROP adalah sebagai berikut: a. pelatihan. e. mengembangkan tanaman-tanaman kehutanan. berusaha dalam bidang jasa. . kebijakan dan sasaran SEAMEO BIOTROP tercantum dalam Five Years Master Plan pada 44 th Governing Board Meeting yang diadakan pada tanggal 13-15 September 2006 di Myanmar dan disahkan pada 42 nd SEAMEO Council Conference yang diadakan pada tanggal 13-15 Maret 2007 di Bali. konsultasi dan manajemen yang berhubungan dengan usaha-usaha tersebut serta memperdagangkan hasil-hasil usaha tersebut. Kebijakan SEAMEO BIOTROP sebagai berikut: a.Mendukung pembangunan berkelanjutan. b. Meningkatkan kemampuan dan keteranpilan SDM untuk mengelola biologi tropika secara bijaksana guna mencapai pembangunan berkelanjutan. dan penyediaan informasi dibidang biologi tropik. mengadakan percobaan untuk mendapatkan varietas baru.mengadakan penelitian. Visi dan Misi SEAMEO BITROP Manajement SEAMEO BIOTROP menetapkan Visi. 2. Turut serta dalam program-program pembangunan masyarakat. Memberikan pelayanan prima untuk mencapai kepuasan pelanggan. misi. SEAMEO BIOTROP memperhatikan kebijakan SEAMEO BIOTROP atau pemangku kepentingan. kompetensi dan sumberdaya yang dimiliki. perkembangan iptek.

Fasilitas Services Laboratory SEAMEO BIOTROP Laboratorium kultur jaringan yang terdapat di Bioresource Management Centre memiliki beberapa ruangan yang memiliki fungsi masing . Struktur Organisasi Services Laboratory SEAMEO BIOTROP 4. ruang ini berfungsi sebagai ruang untuk melakukan sterlisas alat dan bahan. Berikut struktur Organisasi Perusahaan Services Laboratory SEAMEO BIOTROP. Ruang sterilisasi. Menghasilkan temuan penelitian yang berkualitas dalam bidang biologi tropika dan yang terkait. data dan informasi dalam bidang biologi tropika yang terkait. Diantaranya adalah: a. Mempublikasikan dan menyebar publikasi ilmiah. Struktur Organisasi Perusahaan Setiap perusahaan memilki karyawan yang memilki keahlian yang ber beda untuk itu perusahaan membagi pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimilki. Gambar 4. ruang ini memilki fungsi sebagai ruang penyimpanan bahan kimia dan ruang sebagai pembuatan media. b.Sasaran SEAMEO BIOTROP sebagai berikut: a. Ruang transfer dan culture room. Menyediakan program-program pelatihan tentang isu-isu terkait dengan bidang biologi tropika. . c. Ruang pembuatan media. yang berfungsi untuk melakukan perbanyakan tanaman secara in vitro b. c. 3.masing.

autoclave (manual. pipet tetes. bak sampah. pH meter. Peralatan diseksi ( pinset dan scalpel ). timbangan analitik. sabun tanaman (tween). batang pengaduk. gembor. Hasil Kegiatan PKL 1. Lemari Es. unsur hara mikro. gelas beker. aquadest. karena kesterilan . bayclean. kertas Wrave. teko ukur. pulpen. panci. Peralatan di ruang aklimatisasi terdiri dari bak aklimatisasi. gula pasir. rak tanaman. vitamin. spidol board marker. Bahan bahan yang digunakan pada proses produksi pisang Cavendish di service laboratory adalah unsur hara makro. B. Sedangkan peralatan yang digunakan di ruang persiapan bahan dan media adalah Hot Plate Magnetic Stirer. papan perata media. Sedangkan peralatan yang digunakan di lahan meliputi Polybag (ukuran besar dan kecil). alcohol. kantor. Peralatan yang berada di ruang pembuatan media berupa kompor gas. Alat-alat yang digunakan dalam kegiatan produksi pisang secara kultur jaringanadalah berupa Laminar Air Flow Cabinet (LAFC). Selain itu terdapat ruangan lain yaitu ruang rapat. lap. gelas ukur. karet dan spidol serta solatif besar. dan pakaian lab (Jas lab dan masker ). ruang ini adalah ruang yang digunakan untuk menyimpan tanaman yang telah di tanam pada botol. semi otomatis maupun otomatis). botol dan tutup botol kultur dan destilator. f. Ruang kultur. lampu Bunsen. dan rak bahan kimia. sendok.d. Erlenmeyer. rak kultur. spidol. laboratorium ini dilengkapi dengan peralatan dan bahan yang menunjang untuk kegiatan produksi. agar. e. Petri. eksplan pisang dan planlet pisang. plastic sungkup. Ruang aklim yang berfungsi sebagai tempat dilakukannya proses aklimatisasi. AC. raptor (pupuk organik). rapid roots. oven. Botol kultur dan tutupnya. labu ukur. Ruang penyimpanan media. dan memiliki gudang sebagai tempat penyimpanan barang. fungisida (benstar). ruangan ini berfungsi sebagai ruang untuk menyimpan media yang sudah dilakukan sterilisasi. Sterilisasi Alat dan Bahan Sterilisasi alat dan bahan merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan sebelum menggunakan peralatan dan bahan pada proses kultur jaringan pisang. plastik sungkup. bakterisida (agrept). zat pengatur tumbuh. roda pengangkut tanaman. handsprayer.

kain lap. lap. tissue. Selain unsure hara. 2. petridish. media merupakan penyedia karbohidrat bagi tanaman dan penyedia unsur lain yang diperlukan bagi tanaman. Memasukan air destilasi yang akan disterilisasi kedalam botol dengan volume tidak lebih dari ½ bagiannya atau 50 % dari wadah. cawan petri. Pembuatan larutan stok perlu dilakukan agar dapat menghemat pekerjaan menimbang bahan. Sedangkan bahan yang harus di sterilisasi adalah aquadest dan media. Pembuatan Larutan Stok Dalam pembuatan media hal yang perlu dilakukan pertama adalah membuat larutan stok. Peralatan yang disterilisasi adalah alat diseksi (pinset dan pisau scalpel). Peralatan dan bahan disterilisasi menggunakan autoklaf. e. kemudian membungkusnya dengan menggunakan kertas. FeEDTA. Langkah – langkah dalam sterilisasi alat dan bahan adalah : a. Memasukan alat dan bahan yang akan disterilisasi kedalam autoklaf. Untuk aquades disimpan di ruang media. botol kultur. Pembuatan Media Keberhasilan dalam penggunaan metode kultur jaringan bergantung pada media yang digunakan. kemudian membungkusnya dengan d. botol steril.alat dan bahan merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam kultur jaringan tanaman pisang. Mencuci dengan sabun terlebih dahulu peralatan diseksi. c. dan glassware yang akan disterilisasi hingga bersih. Vitamin dan ZPT 1) Pembuatan Larutan Stok Makro . Media merupakan penyedia unsure hara bagi tanaman. b. Memotong tissue yang akan disterilisasi menggunakan plastik bening tahan panas. kemudian ditutup rapat. a. Alat dan bahan yang telah disterilisasi kemudian disimpan didalam oven bersuhu 80o C hingga akan digunakan. Sterilisasi dilakukan pada tekanan 1 atm dengan suhu 121o C selama 15 – 20 menit ( kecuali aquades yang dsterilisasi selama 30 menit ). Bahan-bahan yang dibuat larutan stok yaitu unsur hara makro dan mikro. dan tutup botol.

00 3.500 19.900 KNO3 370 MgSO4. c) Seluruh komponen untuk stok makro sesuai yang tertera dalam table ditimbang dan dimasukan satu persatu kedalam labu ukur.700 4400 100 Prosedur kerja pembuatan larutan stok Makro a) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b) Menyiapkan labu ukur yang bervolume 1 liter dan diisi aquades sebanyak 500 ml. 2) Pembuatan Larutan Stok Mikro Tabel 2.650 NH4NO3 1.Tabel 1. kemudian menambahkan aquadest hingga volume akhir menjadi 1 liter. d) Setelah semua komponen larut. Komposisi Unsur Hara Mikro Senyawa Konsentrasi Konsentrasi Volume Yang . e) Stok makro dibuat memiliki kepekata 10 kali sehingga untuk membuat 1 liter media hanya dibutuhkan 100 ml larutan stok. Larutan stok disimpan di refrigera.700 1.7H2O 170 KH2PO4 440 CaCl2.2H2O (Sumber: Services Laboratory) 16. Komposisi unsur hara Makro Konsentrasi dalam media MS (mg/l) Konsentrasi Larutan stok (mg/l) Volume Yang dibutuhkan untuk 1 L media (ml) Senyawa Makro( 10x ) 1.

e) Stok makro dibuat memiliki kepekatan 100 kali sehingga untuk membuat 1 liter media hanya dibutuhkan 10 ml larutan stok. Komposisi FeEDTA Konsentrasi dalam media Konsentrasi Larutan stok Volume Yang dibutuhkan untuk 1 L Senyawa .6 H2O (Sumber: Services Laboratory) Prosedur kerja pembuatan larutan stok Mikro a) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b) Menyiapkan labu ukur yang bervolume 1 liter dan dan Mengisinya dengan aquades sebanyak 500 ml.25 Na2MoO4. kemudian menambahkan aquadest hingga volume akhir menjadi 1 liter.9 1.dalam media MS (mg/l) Mikro( 100 x ) Larutan stok (mg/l) dibutuhkan untuk 1 L media (ml) 10 6. H2O ZnSO4.2 620 10 16. 3) Pembuatan Larutan Stok FeEDTA Tabel 3. c) Menimbang seluruh komponen untuk stok mikro sesuai yang tertera dalam table dan memasukannya satu persatu kedalam labu ukur. d) Setelah semua komponen larut.025 CuSO4. Larutan stok disimpan di refrigerator. 7H2O 0.6 860 830 250 25 25 H3BO3 MNSO4.5H2O 0.025 CoCl2.83 KI 0.690 10 8.7H2O 0.

7H2O 37. c) Mencampur kedua komponen dalam labu ukur.5 Pyridoxin 1000 1000 1000 1000 0. Pelarutan Na2EDTA dibantu dengan pemanasan larutan menggunakan Hot Plate agar cepat larut.0 0.5 0.3 Na2EDTA (Sumber: Services Laboratory) 2.8 FeSO4. e) Stok makro dibuat memiliki kepekatan 100 kali sehingga untuk membuat 1 liter media hanya dibutuhkan 10 ml larutan stok.MS (mg/l) Fe ( 100 x ) (mg/l) media (ml) 27.0 Glycine 0.780 10 3.5 . Larutan stok disimpan di refrigerator. kemudian menambahkan aquadest hingga volume akhir menjadi 1 liter.730 Prosedur kerja pembuatan larutan stok Mikro a) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b) Menimbang seluruh komponen untuk stok FeEDTA sesuai yang tertera dalam table dan melarutkanya secara terpisah dalam 400 ml aquadest.4 Thyamine-HCl 2. 4) Pembuatan Larutan Stok Vitamin Tabel 4. sedikit demi sedikit hingga homogen d) Setelah semua komponen larut.4 2.5 Nicotic Acid 0. Komposisi Vitamin Konsentrasi dalam media MS (mg/l) Konsentrasi Larutan stok (mg/l) Volume Yang dibutuhkan untuk 1 L media (ml) Senyawa Vitamin ( 1000 x ) 0.

Pembuatan Media 0. Media 2. dan media R sebagai media untuk induksi perakaran.5 HCl 0. c) Menimbang seluruh komponen untuk stok Vitamin sesuai yang tertera dalam tabel ditimbang dan memasukan satu persatu kedalam labu ukur. Media 2N dan Media R Dalam produksi bibit tanaman pisang Cavendish media yang di gunakan adalah media 0 + cair. Larutan stok disimpan di refregerator. Tabel 5. kemudian aduk dengan magnetic stirrer hingga larut.5 N kemudian mengaduknya dengan magnetic stirer hingga larut. 6) Pembuatan Larutan Stok Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Auxin Prosedur kerja : Menimbang ZPT dan memasukannya kedalam labu ukur.5 M. kemudian menambahkan aquadest hingga volume akhir menjadi 1 liter. Larutan stok disimpan di refrigerator 5) Pembuatan Larutan Stok Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Sitokinin Prosedur kerja : Menimbang ZPT dan memasukannya kedalam labu ukur. media 2N. b. menambahkan 25 ml KOH 0. Menambahkan 2. Media Cair. Komposisi media 0(Inisiasi) /1 liter Bahan Konsentrasi . e) Stok makro dibuat memiliki kepekatan 1000 kali sehingga untuk membuat 1 liter media pengambilannya dapat dilihat pada tabel. d) Setelah semua komponen larut.Prosedur kerja pembuatan larutan stok Vitamin a) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b) Menyiapkan Labu ukur yang bervolume 1 liter dan mengisinya dengan aquades sebanyak 500 ml. Setelah itu menambahkan air aquades hingga mencapai volume yang diinginkan. media 2. Setelah itu tambahkan air aquades hingga mencapai volume yang diinginkan.

7 Tabel 6. Komposisi Media Cair/1 liter Bahan Konsentrasi Makro Mikro FeEDTA Myoinositol Vitamin Thiamin Gula BAP 10-3 pH (Sumber: Services Laboratory) 100 ml 10 ml 10 ml 100 mg 1 ml 1 ml 30 gr 5 ml 5. Komposisi Media 2 (Multiplikasi) / 1 liter .7 Tabel 7.Makro Mikro MS 6 FeEDTA Myoinositol Vitamin Thiamin Gula Agar pH (Sumber: Services Laboratory) 100 ml 10 ml 10 ml 10 ml 100 mg 1 ml 1 ml 30 gr 7 gr 5.

4 ml 30 gr 7 gr 5.Bahan Konsentrasi Makro Mikro MS 6 FeEDTA Myoinositol Vitamin Thiamin Gula Agar pH BAP 10-3 (Sumber: Services Laboratory) 100 ml 10 ml 10 ml 10 ml 100 mg 1 ml 0.4 ml Tabel 9.7 2 ml Tabel 8. Komposisi media 2 N(Elongasi) /1 liter Bahan Konsentrasi Makro Mikro MS 6 FeEDTA Myoinositol Vitamin Thiamin Gula Agar pH BAP 10-3 NAA 100 ml 10 ml 10 ml 10 ml 100 mg 1 ml 0.4 ml 30 gr 7 gr 5.7 2 ml 0. Komposisi Media R(Perakaran)/1 liter .

d) Melakukan pengukuran pH dengan menggunakan pH meter. Apabila pH kurang dari 5. c) Mengaduk dengan menggunakan magnetic stirer diatas hotplate sampai seluruh komponen terlarut ( homogen ). kemudian tera hingga volume 1 liter.7 maka berikan penambahan HCl 1 N hingga pH sesuai. Apabila pH lebih dari 5. . b) Memasukan/mencampurkan seluruh komponen penyusun media (kecuali pemadat / agar) kedalam labu ukur sesuai volume / takaran yang diperlukan. kemudian menambahkan pemadat / agar kedalam media kemudian aduk hingga merata. e) Setelah pengukuran pH selesai.7 maka berikan penambahan NaOH 1 N hingga pH sesuai. Diagram Penggunaan Media Kultur Untuk Pisang Cavendish Prosedur kerja pembuatan media: a) Menyiapkan labu ukur yang telah diisi aquades sebanyak 1 / 3 dari volume labu ukur tersebut dan meletakannya diatas hotplate.Bahan Konsentrasi Makro Mikro FeEDTA Myoinositol Vitamin Thiamin Gula Agar pH (Sumber: Services Laboratory) 50 ml 10 ml 10 ml 100 mg 1 ml 1 ml 20 gr 7 gr 5.8 Media 0 + Cair Media 2 Media 2 N Media R Gambar 5.

pisau cutter. desinfektan (NaOCl atau kaporit). 3. 3) Merendam dalam larutan bakterisida agrept 0. air steril. Kemudian bilas 3 kali menggunakan aquadest steril. botol. g) Menuangkan media kedalam botol kultur sebanyak 25 – 30 ml. petridish / kaca dan wadah alat diseksi. Kemudian bilas 3 kali menggunakan aquadest steril.2 gr/100 ml air selama 1 jam. h) Memasukkan media kedalam autoklaf untuk disterilisasi pada tekanan 1 atm dan suhu 121o C selama 15 – 30 menit. Lampu Bunsen. Alat dan Bahan Alat yang digunakan untuk proses inisiasi eksplan pisang cavendish adalah Laminar Air Flow Cabinet. lap. 2) Menambahkan larutan tween 80 sebanyak 10 tetes dalam 50 ml air aquadest steril selama 20 menit bilas 3 kali dengan aquadest steril. i) Media hasil sterilisasi disimpan di ruang penyimpanan media dan dibiarkan hingga dingin terlebih dahulu sebelum digunakan.  Di dalam Laminar Air Flow Cabinet . dan alat-alat yang sudah disterilisasi dengan menggunakan autoklaf seperti alat-alat diseksi. b.f) Memanaskan media diatas kompor gas dengan api kcil hingga mendidih. dikupas dibawah air mengalir dan masukan kedalam botol steril yang berisi air aquadest steril. fungisida (benstar). 4) Merendam dalam larutan fungisida benstar 0. Prosedur Inisiasi Eksplan Pisang Cavendish  Di luar Laminar Air Flow Cabinet 1) Mengmbil eksplan dibagian bonggol tanaman tanaman pisang. Inisiasi Eksplan Pisang Cavendish a.2 gr/100 ml air selama 1 jam. alkohol. bakterisida (agrept). tissue steril dan media inisiasi tunas pisang. Bahan yang digunakan dalam proses inisiasi eksplan pisang adalah tween 80. kemudian tutup botol serta beri label.

Multiplikasi Pisang Cavendish Multiplikasi atau perbanyakan propagul bertujuan umtuk menggandakan propagul atau bahan tanam yang diperbanyak seperti tunas atau embrio. Prosedur Kerja Multiplikasi Pisang Cavendish 1) Kegiatan penggandaan tunas seluruhnya dilakukan dalam Laminar Air Flow Cabinet . Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam proses penggandaan tunas adalah Laminar Air Flow Cabinet. b. petridish / kaca dan wadah alat diseksi. lampu Bunsen. 5) Eksplan yang bersih ditanam di media 0 + media cair (dalam 1 botol diisi 1 eksplan). media induksi penggandaan tunas. Serta memeliharanya dalam keadaaan tertentu sehingga sewaktu-waktu bias dilanjutkan ke tahap selanjutnya. tunas yang terbentuk biasanya berupa sekumpulan tunas yang letaknya berdekatan dan bergerombol. botol. Penyiapan eksplan dan sterilisasi 4. alkohol 70 % dan 96% dan tissue steril. 6) Menulis nama klon dan tanggal tanam pada botol yang telah berisi eksplan 7) Botol kultur yang telah berisi eksplan disimpan di ruang kultur Gambar 6. Bahan yang digunakan dalam proses multiplikasi tunas adalah kultur tunas in vitro.1) Merendam dalam larutan alkohol 70 % selama 1 menit kemudian bilas 3 kali menggunakan aquadest steril 2) Merendam dalam larutan bayclean 30% selama 30 menit kemudian bilas 3 kali menggunakan air aquadest steril. 3) Merendam dalam larutan bayclean 20% selama 20 menit kemudian bilas 3 kali menggunakan air aquadest steril. multiplikasi bertujuan untuk memperbanyak tunas tanaman. dan alat-alat yang telah disterilisasi dengan autoklaf yaitu: alat-alat diseksi. 4) Mengupasnya dan mengambil bagian dalamnya kemudian dibelah dua dan dilap menggunakan tissue steril sampai kering. lap. a.

3) Menyiapkan alkohol 96 % dalam botol dan nyalakan lampu Bunsen. kemudian ditempatka pada Petridish / kaca. botol. tissue. Multiplikasi Pisang Cavendish 5.2) Memasukan alat-alat yang telah disterilisasi dengan menggunakan autoklaf yaitu alat-alat diseksi beserta wadahnya. 7) Membersihkan akar-akar pada tunas kemudian tunas dilap menggunakan tissue steril 8) Setiap kali selesai digunakan alat-alat diseksi di bakar dengan cara menyelupkan kedalam alkohol 96 % dan membakarnya dengan api pada lampu Bunsen. 9) Tunas-tunas tersebut kemudian ditanam pada media penggandaan tunas yaitu media 2 10) Botol kultur yang telah berisi tunas-tunas di beri label (nama klon dan tanggal tanam) 11) Botol kultur yang telah diberi label disimpan di ruang kultur. 6) Memisahkan tunas-tunas yang bergerombol dengan menggunakan scalpel dan pinset. 4) Menyiapkan botol kultur berisi tunas-tunas yang akan diperbanyak dan botol kultur yang berisi media untuk multiplikasi tunas pisang 5) Mengeluarkan tunas in vitro dari dalam botol. kemudian bakar alat – alat diseksi dan biarkan hingga dingin. lap petridish. Elongasi Pisang Cavendish . / kaca kedalam laminar air flow. Gambar 7.

Setelah dilakukan tahap multiplikasi kemudian di pisahkan dan dilakukan tahap pemanjangan tunas yaitu tahap elongasi. 9) Menanam tunas-tunas tersebut pada media penggandaan tunas yaitu media 2 N . Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam proses penggandaan tunas adalah Laminar Air Flow. media ini juga berperan untuk multiplikasi pisang. petridish / kaca dan wadah alat diseksi. alkohol 70 % dan 96% dan tissue steril. Prosedur Kerja Elongasi Pisang Cavendish 1) Kegiatan penggandaan tunas seluruhnya dlakukan dalam Laminar Air Flow Cabinet 2) Memasukan alat-alat yang telah disterilisasi dengan menggunakan autoklaf yaitu alat-alat diseksi beserta wadahnya. botol. media induksi penggandaan tunas. lap. Tahap ini bertujuan agar propagul bertambah panjang sebelum di pindahkan ke media perakaran. b. kemudian ditempatkan pada Petridish / kaca. tissue. dan alat-alat yang telah disterilisasi dengan autoklaf yaitu: alat-alat diseksi. Bahan yang digunakan dalam proses multiplikasi tunas adalah kultur tunas in vitro. / kaca kedalam laminar air flow. 7) Memotong akar-akar pada tunas agar tidak terlalu panjang kemudian tunas dilap menggunakan tissue steril 8) Setiap kali selesai digunakan alat-alat diseksi di bakar dengan cara menyelupkan kedalam alcohol 96 % dan membakarnya dengan api pada lampu Bunsen. kemudian bakar alat – alat diseksi dan biarkan hingga dingin. Media yang digunakan untuk tahap elongasi ini adalah menggunakan media 2 N selain untuk pemanjangan tunas. 6) Memisahkan tunas-tunas yang bergerombol dengan menggunakan scalpel dan pinset. 3) Menyiapkan alcohol 96 % dalam botol dan nyalakan lampu Bunsen. a. lap petridish. botol. lampu Bunsen. 4) Menyiapkan botol kultur berisi tunas-tunas yang akan diperbanyak dan botol kultur yang berisi media unruk multiplikasi tunas pisang 5) Mengeluarkan tunas in vitro dari dalam botol.

10) Botol kultur yang telah berisi tunas-tunas di beri label (nama klon dan tanggal tanam) 11) Botol kultur yang telah diberi label disimpan di ruang kultur. Elongasi Pisang Cavendish 6. . b. lampu Bunsen. botol. kemudian ditempatka pada Petridish / kaca. media induksi penggandaan tunas. Bahan yang digunakan dalam proses multiplikasi tunas adalah kultur tunas in vitro. tissue. Gambar 8. 4) Menyiapkan botol kultur berisi tunas-tunas yang akan diperbanyak dan botol kultur yang berisi media unruk multiplikasi tunas pisang 5) Mengeluarkan tunas in vitro dari dalam botol. lap petridish. Pada tahap elongasi sebenarnya akar telah muncul namun sebelum dilakukan tahap aklimatisasi akar-akar tersebut harus diperpanjang agar pertumbuhan pada saat aklimatisasi berjalan baik dan tidak menghambat pertumbuhan . lap. petridish / kaca dan wadah alat diseksi. a. dan alat-alat yang telah disterilisasi dengan autoklaf yaitu: alat-alat diseksi. Prosedur Induksi Perakaran Pisang Cavendish 1) Kegiatan penggandaan tunas seluruhnya dlakukan dalam Laminar Air Flow Cabinet 2) Memasukan alat-alat yang telah disterilisasi dengan menggunakan autoklaf yaitu alat-alat diseksi beserta wadahnya. Induksi Perakaran Pisang Cavendish Tunas-tunas yang telah diperpanjang melalui tahap elongasi kemudian dipindahkan ke media perakaran. / kaca kedalam laminar air flow. botol. kemudian bakar alat – alat diseksi dan biarkan hingga dingin. alcohol 70 % dan 96% dan tissue steril. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam proses penggandaan tunas adalah Laminar Air Flow. 3) Menyiapkan alkohol 96 % dalam botol dan nyalakan lampu Bunsen.

rapid roots.6) Memisanhkan tunas-tunas yang bergerombol dengan menggunakan scalpel dan pinset. plastik transparan. gembor. media yang telah disterilisasi. dan spidol Bahan yang digunakan adalah planlet siap aklim. handsprayer. b. Pindahkan ( pisahkan ) terlebih dahulu botol yang terkontaminasi jamur atau bakteri. 7) Memotong akar-akar pada tunas agar tidak terlalu panjang kemudian tunas dilap menggunakan tissue steril 8) Setiap kali selesai digunakan alat-alat diseksi di bakar dengan cara menyelupkan kedalam alcohol 96 % dan membakarnya dengan api pada lampu Bunsen. 9) Menanam tunas-tunas tersebut pada media penggandaan tunas yaitu media R 10) Botol kultur yang telah berisi tunas-tunas di beri label (nama klon dan tanggal tanam) 11) Botol kultur yang telah diberi label disimpan di ruang kultur 7. Prosedur Kerja Aklimatisasi: 1) Menyiapkan plantlet dalam botol kultur yang akan diaklimatisasi. Tanaman pisang yang telah berbentuk planlet yang telah ddiinduksi perakarannya kemudian dilakukab proses aklimatisasi untuk memperkuat kondisinya agar dapat bertahan di lingkungan luar. a. dan raptor. media tersebut disterilisasi terlebih dahulu dengan cara dikukus didalam drum bekas berisi air yang dipanaskan diatas kompor gas selama 6 jam. media ditempatkan pada bak media sebanyak 1/3 volumenya kemudian disemprot menggunakan bakterisida dan didiamkan selama 1 hari sebelumnya. Aklimatisasi Pisang Cavendish Aklimatisasi merupakan kegiatan pengkondisian planlet dari dari dalam botol ke lingkungan di luar botol. Setelah disterilisasi. . Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam proses aklimatisasi tanaman pisang adalah bak semai. Media yang digunakan dalam kegiatan aklimatisasi ini adalah campuran antara pasir dengan media eceng gondok dengan perbandingan 3 : 4. solatip.

. Aklimatisasi Pisang Cavendish 8.2) Menyiapkan bak yang berisi media kemudian aduk sambil disemprot dengan menggunakan air hingga lembab merata. 5) Menanam planlet pada media aklim yang telah disiapkan dengan terlebih dahulu mencelupkan bagian akar kedalam larutan hormon penumbuh akar ( Rapid Roots ). Gambar 9. 7) Bak kemudian ditutup plastik bening dan diikat dengan karet. Polibag yang digunakan berukuran 10 x 15 cm. kemdian direndam dalam larutan fungisida benstarselama 1 menit. 9) Menyimpan bak pada sungkup yang dinaungi paranet dengan intensitas cahaya 55 % . Penanaman di Polybag Kegiatan yang dilakukan setelah proses aklimatisasi adalah penanaman di polybag untuk pembesaran bibit dilapangan. 3) Mengeluarkan planlet yang akan diaklimatisasi dari dalam botol kultur.75 % selama + 3 – 4 minggu. 4) Memisahkan planlet yang masih bergerombol. Sedangkan komposisi media polibag adalah tanah dan arang sekam dengan perbandingan 3 : 1. Penanaman sekaligus pembesaran di polibag merupakan kegiatan yang dilakukan pasca aklimatisasi. 8) Beri label ( jenis tanaman dan tanggal aklimatisasi ) pada bagian atas plastik. kemudian dicuci dibawah air mengalir untuk menghilangkan media yang masih menempel pada planlet. Usahakan agar penanamannya seragam 6) Bak yang telah terisi penuh kemudian disemprot kembali dengan menggunakan air agar lembab dan diberi tambahan semprotan pupuk organik ( Raptor ). Penyemprotan dengan menggunakan bakterisida ( orthocide ) dan fungisida ( agrept ) dilakukan minimal satu hari sebelum media digunakan.

sehingga dapat mengurangi persentase terjadinya kontaminasi yang disebabkan oleh mikroorganisme dan dapat meningkatkan keberhasilan dari penanaman kultur. . Pembahasan Kegiatan PKL 1. Sedangkan bahan yang disterilkan adalah aquadest. Sterilisasi alat dan bahan dilakukan agar alat-alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan menanam kultur dapat terjaga aseptisitasnya. Sterilisasi alat dan bahan dilakukan pada autoklaf dengan suhu 1210C untuk peralatan sekitar 15-20 menit dan untuk bahan atau media selama 30 menit. 4) melakukan penyiraman setiap hari dengan menggunakan gembor. Alat yang digunakan untuk sterilisasi adalah autoklaf.dan media tanah + arang sekam. b. Penanaman ke Polybag C. dan tissue. Pada dasarnya alat-alat diperlukan untuk memenuhi pekerjaan-pekerjaan pada setiap tahap perbanyakan tanaman dalam teknik kultur jaringan tanaman. Sedangkan bahan yang digunakan adalah tanaman yang akan dipindah ke polybag. Prosedur Kerja Penanaman: 1) Mencabut Planlet dari media aklim dengan hati-hati secara perlahan-lahan sehingga tidak mematahkan bagian perakaran. sedangkang untuk media dan aquadest disimpan pada ruang kultur.a. 3) Menyimpan / susun bibit Pisang yang telah ditanam dipolibag pada sungkup. petridish/kaca. Sterilisasi Alat dan Bahan Sterilisasi alat dan bahan merupakan hal yang sangat berperan penting dalam keberhasilan proses Kultur Jaringan Tanaman. alat-alat diseksi (scalpel. 2) Melubangi media pada polibag lalu masukkan / tanam planlet pada lubang tersebut.dan pisau) dan tutup botol. Usahakan bagian akar tidak terlipat supaya perakaran bisa tumbuh optimal. Di laboratoriun SEAMEO BIOTROP memiliki berbagai jenis autoklaf yaitu autoklaf manual. Peralatan yang telah dilakukan sterilisasi disimpan pada oven kecuali botol kultur. lap. oleh karena itu peralatan dan bahan yang digunakan harus dalam keadaan steril. Peralatan yang disterilisasikan adalah seperti botol kultur. media. autoklaf semi otomatis dan autoklaf elektrik. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam pembesaran bibit ini adalah poly bag dan gembor. Gambar10.

Media yang digunakan di services laboratory menggunakan media sesuai dengan keperluan seperti media untuk inisiasi digunakan media MS 0 + media Cair. sedangkan aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Dalam pembuatan media ini agar mempermudah dalam penimbangan bahan maka dilakukan pembuatan larutan stok. media merupakan penyedia karbohidrat bagi tanaman dan penyedia unsur lain yang diperlukan bagi tanaman. karena dapat membuat pengendapan pada tempat penyimpanan sehingga jika terjadi pengendapan akan mengurangi konsentrasi larutan stok tersebut. umur dan digunakan sebagai eksplan. Aseptik berarti bebas dari mikroorganisme. Pembuatan larutan stok tidak diperkenankan dengan kepekatan yang tinggi. Selain faktor genetis eksplan eksplan yang mempengaruhi adalah jenis eksplan. Seperti larutan stok makro. Upaya mendapatkan kultur yang bersih dari kontaminasi. eksplan harus disterilisasi. larutan stok mikro. bakteri. Pembuatan larutan stok dibuat dengan kepekatan tertentu. Pertumbuhan dan morfogenesis dalam mikropropagasi sangat tanaman yang digunakan sebagai yang telah disebutkan di atas. Pembuatan Media Keberhasilan dalam penggunaan metode kultur jaringan bergantung pada media yang digunakan. dan alcohol 70%. bakterisida (agrept) dan fungisida (benstar) . Media 2. larutan bayclean. larutan stok FeEDTA. Sterilisasi merupakan upaya untuk menghilangkan kontaminan mikroorganisme yang menempel dipermukaan eksplan. Yaitu media MS 0 + Media Cair. ukuran. Inisiasi eksplan pisang Cavendish yang dilakukan di SEAMEO BIOTROP dilakukan menggunakan bahan-bahan seperti larutan tween. Media 2N dan media R . Inisiasi Eksplan Pisang Cavendish Inisiasi kultur bertujuan mengusahakan kultur yang aseptik atau aksenik. media2N digunakan untuk tahap elongasi dan media R digunakan untuk proses induksi perakaran. 2.setelah pembuatan larutan stok dilakukan stok larutan disimpan pada lemari es dan dapat digunakan sesuai dengan keperluan. Media merupakan penyedia unsur hara bagi tanaman. Pada perbanyakan tanaman pisang secara kultur jaringan yang dilakukan di laboratorium SEAMEO BIOTROP menggunakan media dasar MS.1. maupun mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan pertumbuhan eksplan terganggu sehingga eksplan tidak dapat tumbuh dengan baik bahkan mati. Selain unsur hara. . Kontaminan dapat berupa jamur. media 2 digunakan untuk tahap multiplikasi. dan larutan stok ZPT. larutan stok Vitamin. kondisi keberhasilan teknik mikropropagasi fase fisiologis jaringan yang dipengaruhi oleh keadaan jaringan eksplan.

rejuvenilisasi tanaman induk melalui pemangkasan atau pemupukan dapat membantu untuk memperoleh eksplan muda agar kultur lebih berhasil. tahap ini bertujuan untuk menggandakan diperbanyak seperti tunas atau propagul atau bahan tanaman yang . membutuhkan ruang dan media kultur yang lebih banyak. Oleh karena itu. dan penggunaan media cair saja lebih rentan terjadi browning sehingga dapat menimbulkan terjadinya kegagalan dalam penanaman. 3. dll. Eksplan dengan ukuran kecil lebih mudah disterilisasi dan tidak membutuhkan ruang serta media yang banyak. inisiasi kultur biasanya dilakukan dengan menggunakan pucuk-pucuk muda. Sebaliknya semakin besar eksplan. inflorescence yang belum dewasa. Sedangkan jika hanya menggunakan media cair saja terdapat beberapa kendala seperti diperlukan alat khusus untuk megocok media yaitu seker. Ukuran eksplan juga mempengaruhi keberhasilan kultur. Pada pembuatan media disesuaikan dengan kebutuhan media yang akan digunakan Media 0 merupakan media semi padat yang terdiri dari unsur hara makro. Dengan kata lain penggunaan media O + Media cair lebih efektif dalam penumbuhan eksplan pada tahap inisiasi pisang Cavendish. Jika eksplan diambil dari tanaman dewasa. Ukuran eskplan yang sesuai sangat tergantung dari jenis tanaman yang dikulturkan. Jaringan muda umumnya memiliki sel-sel yang aktif membelah dengan dinding sel yang belum kompleks sehingga lebih mudah dimodifikasi dalam kultur dibandingkan jaringan tua. teknik dan tujuan pengkulturannya. namun masing-masing jaringan memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk tumbuh dan beregenerasi dalam kultur jaringan. Tetapi menggunakan ZPT BAP 10-3 sebanyak 1 ml. Myoinositol vitamin gula dan agar sebagai pemadat media O ini merupakan media dasar tanpa menggunakan ZPT dengan pH 5. namun kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil sehingga dibutuhkan media yang lebih kompleks untuk pertumbuhan dan regenerasinya. jenis eksplan yang digunakan untuk masing-masing kultur berbeda-beda tergantung tujuan pengkulturannya. penggunaan media cair dimaksudkan untuk mengkondisikan eksplan pisang yang banyak mengandung getah sehingga jika menggunakan media padat saja dapat menghambat pertumbhan dan dapat mengakibatkan penyerapan unsurhara dan zat lain terhambat. Umur eksplan sangat berpengaruh terhadap kemampuan eksplan tersebut untuk tumbuh dan beregenerasi.7. hipokotil. Penyediaan ZPT digunakan pada media cair dengan komposisi seperti media O hanya tidak menggunakan larutan MS 6 dan gula. Multiplikasi Pisang Cavendish Pada prinsipnya. MS 6. Umumnya eksplan yang berasal dari jaringan tanaman yang masih muda (juvenil) lebih mudah tumbuh dan beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut.Meskipun masing-masing sel tanaman memiliki kemampuan totipotensi. kuncup-kuncup muda. FeEDTA. mikro. maka semakin besar kemungkinannya untuk membawa penyakit dan makin sulit untuk disterilkan. Oleh karena itu.

Pemanjangan tunas dan pengakaran dapat dilakukan sekaligus atau secara bertahap. oleh karena itu pada tahapan ini dilakukan banyak sub kultur untuk melipatgandakan jumlah plantlet yang dihasilkan. Pada tahap ini media yang digunakan adalah media 2 yang mengandung ZPT BAP untuk pertumbuhan tunas. 5. agar pertumbuhan akar lebih sempurna. 4. Bahan tersebut kemudian ditanam pada media baru yang umumnya mengandung sitokinin pada konsentrasi yang lebih tinggi dari auksin. tunas yang dihasilkan dipotong-potong dengan teknik single-node/multiple node culture maupun dengan mengambil pucuknya sebagai eksplan untuk perbanyakan. Pada tahapan ini. Subkultur dapat dilakukan beberapa kali sampai jumlah tunas yang dihasilkan sesuai dengan yang kita harapkan dan tidak menurunkan mutu tunas. Pemanjangan tunas secara berkelompok lebih ekonomis daripada secara individu. Elongasi Pisang Cavendish Tunas-tunas yang dihasilkan pada tahap multiplikasi dipindahkan ke media lain yang mengandung sitokinin yang sangat rendah untuk pemanjangan tunas baik secara individu maupun secara berkelompok. umumnya dengan mendorong percabangan tunas lateral atau merangsang pertumbuhan tunas adventif. setelah itu. Kondisi ini memerlukan sitokinin seperti BAP. Tunas yang diperoleh pada tahapan ini digunakan sebagai bahan perbanyakan berikutnya. tahap pemanjangan tunas dan pengakaran disatukan dalam satu tahap. Tetapi setelah dilakukan tahap elongasi ini. propagul yang dihasilkan dalam jumlah berlipat disub kultur secara berulang-ulang sampai mencapai jumlah propagul yang diharapkan. Dibuang agar tunas baru cepat tumbuh dan unsur ZPT yang tersedia tidak diserap oleh akar. Pada tahap ini perbanyakan tunas dirangsang. tunas mikro yang dihasilkan dapat diaklimatisasi. Seperti yang dilakukan di lakukan di service laboratory. Media yang digunakan adalah media 2N yang mengandung ZPT sitokinin BAP dan ZPT auxin NAA.embrio. Ketika melakukan multiplikasi ini propagul yang tumbuh di bersihkan dari agar yang menempel sehingga tidak terbawa ke media multiplikasi. Induksi Perakaran Pisang Cavendish Tunas-tunas yang telah diperpanjang melalui tahap . media ini digunakan setelah eksplan yang telah tumbuh pada media inisiasi. Eksplan yang hidup dari hasil inisiasi disubkultur ke media yang mengandung sitokoinin. Dan tanaman yang terdapat akar. serta memeliharanya dalam keadaan tertentu sehingga sewaktu-waktu bisa dilanjutkan untuk tahap berikutnya. di laboratorium SEAMEO BIOTROP di lakukan kembali induksi perakaran.

kemudian diletakkan di dalam net house dan diberi sungkup. Aklimatisasi merupakan kegiatan pengkondisian planlet luar botol. Setelah disterilisasi. Penyemprotan dengan menggunakan bakterisida (orthocide) dan fungisida (agrept) dilakukan minimal satu hari sebelum media digunakan. Pada tahap ini yang dilakukan di perusahaan menggunakan media R yang dapat membantu pertumbuhan akar agar siap dilakukan proses aklimatisasi. Polibag yang digunakan berukuran 10 x 15 cm.elongasi kemudian dipindahkan ke media perakaran. 7. Oleh karena itu. Kemudian minimal dua minggu atau maksimal satu bulan tanaman jati sudah dapat dikeluarkan ke . media tersebut disterilisasi terlebih dahulu dengan cara dikukus didalam drum bekas berisi air yang dipanaskan diatas kompor gas selama 6 jam. Penanaman sekaligus pembesaran di polibag merupakan kegiatan yang dilakukan pasca aklimatisasi. dalam tahap ini masing-masing plantlet yang dihasilkan ditumbuhkan untuk pembesaran. karena jika tidak dilakukan dengan baik maka sebagian besar plantet yang dihasilkan dapat mati/musnah. Tahap ini sangat penting dan harus dilakukan secara hati-hati. Aklimatisasi Pisang Cavendish Tahapan aklimatisasi ini adalah tahap pemindahan plantet dari kondisi invitro ke kondisiinvivo. Media yang digunakan dalam kegiatan aklimatisasi ini adalah campuran antara pasir dengan media eceng gondok dengan perbandingan 3 : 4. media ditempatkan pada bak media sebanyak 1/3 volumenya kemudian disemprot menggunakan bakterisida dan didiamkan selama 1 hari sebelumnya. Pembesaran Bibit di Polybag Kegiatan yang dilakukan setelah proses aklimatisasi adalah penanaman di polybag untuk pembesaran bibit dilapangan. Pada tahap elongasi sebenarnya akar telah muncul namun sebelum dilakukan tahap aklimatisasi akar-akar tersebut harus diperpanjang agar pertumbuhan pada saat aklimatisasi berjalan baik dan tidak menghambat pertumbuhan. 6. Tanaman pisang telah ddiinduksi perakarannya dari dari dalam botol ke lingkungan di yang telah berbentuk planlet yang kemudian dilakukab proses aklimatisasi untuk memperkuat kondisinya agar dapat bertahan di lingkungan luar. pengakaran dan perangsangan aktifitas fotosintesisnya. setelah satu minggu tanaman jati sudah dapat dikeluarkan dari dalam sungkup dan diletakkan di bawah paranet (net house). Tanaman pisang yang sudah diaklimatisasi setelah satu bulan akan dibibitkan atau dipindahkan ke dalam polybag. Tunas atau plantlet yang dihasilkan dari tahapan sebelumnya tersebut umumnya masih sangat kecil atau tunas yang belum dilengkapi dengan akar sehingga belum mampu untuk mendukung pertumbuhannya dalam kondisi invivo. Sedangkan komposisi media polibag adalah tanah dan arang sekam dengan perbandingan 3 : 1.

pengkondisian seperti ini bertujuan agar tanaman dapat beradaptasi dengan tempat atau lingkungan yang berintensitas cahaya tinggi. induksi perakaran. Sterilisasi media dilakukan pada suhu 1210 C dengan menggunakan autoklaf. inisiasi eksplan pisang. aklimatisasi dan pembesaran bibit. . Pemeliharaan juga dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Elongasi pisang. Pemeliharaan dapat berupa pemberian pupuk. penyemprotan pencegah hama dan penyakit serta penyiangan gulma. 3. Simpulan Dari hasil kegiatan praktek keja lapangan di industri Services Laboratory SEAMEO BIOTROP dapat diambil simpulan bahwa: 1. Dengan adanya PKL ini maka mahasiswa mengetahui teknik perbanyakan tanaman pisang cavendish melalui teknik kultur jaringan. 4. PENUTUP A. Pada proses aklimatisasi media yang digunakan adalah media eceng gondok + pasir dengan perbandingan 4 : 3. 2. media yang digunakan untuk multiplikasi adalah menggunakan media 2 yang mengandung ZPT BAP. serta mampu menyelesaikan program akademik kampus. mengetahui kondisi perusahaan kultur jaringan. Sedangkan untuk induksi perakaran media yang digunakan adalah media R. Penulis mengetahui kondisi lingkungan industri dalam bidang produksi bibit pisang cavendish secara kultur jaringan. Kegiatan yang dilakukan dalam proses perbanyakan tanaman pisang Cavendish secara kultur jaringan adalah pembuatan media. V. 5. bakterisida (agrept) dan fungisida (benstar) serta larutan bayclean 30 % dan 20 % serta alkohol 70%.lapangan. 7. multiplikasi propagul pisang. 6. sedangkan media yang digunakan untuk elongasi tunas adalah menggunakan media 2N yang mengandung ZPT BAP dan NAA. memperoleh pengalaman dilapangan mengenai produksi bibit pisang. Media yang digunakan dalam proses inisiasi adalah media O + media Cair. Media yang digunakan adalah media MS (Murashige dan Skoog). Untuk sterilisasi eksplan digunakan beberapa bahan yaitu larutan tween. sehingga bebas dari serangan hama serta mikroorganisme penyebab penyakit (pathogen).

28/11/2008 . 29/11/2008 http://atar.s. Bahan Kuliah Kultur jaringan tanaman. 2008. Ilmu Pertanian. Cara Perbanyakan Tanaman Secara Efisiensi. Mikropropagasi Pisang Melalui Teknik Kultur Jaringan Tanaman.mobi/id/Pisang. 2007. Cianjur: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian Sugito. 2004. Cianjur: PPPPTK Pertanian. Kultur Jaringan. 2004. Cianjur: PPPPTK Pertanian. 2008. Yusnita. Modul PJJ Mikropropagasi Tanaman Hortikultura.wordpress.s dan Ikrawati. Panduan PKL Mahasiswa Program Pendidikan Diploma IV VEDCA Agribisnis Pertanian Manajemen Agrondustri.H. 2.wikipedia. Agro Media: Jakarta http://id. DAFTAR PUSTAKA Avivi. 29/11/2008 http://wapedia. Diharapkan peralatan yang digunakan untuk proses perbanyakan tanaman secara kultur jaringan khususnya dalam proses inisiasi diperlengkap. Saran Saran Untuk Perusahaan 1. 11:27-34 PPPPTK Pertanian.C.H. Diharapkan perusahaan melakukan evaluasi kinerja dari mahasiswa PKL Saran Untuk Kampus Diharapkan dilakukan monitoring tepat pada waktunya.com/2007/06/20/perbanyakan-tanaman-melalui-kultur-jaringan/.org/wiki/Pisang. Tidak dipublikasikan Sugito.

28/11/2008 Diposkan oleh zacky di 01:51 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda .iptek.php?mnu=2&id=136.id/ind/teknologi_pangan/index.net.dagdigdug. 28/11/2008 http://www.http://dapurmlandhing.com/2008/04/26/pisang-kepok-kuning/.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->