5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pembangunan didefinisikan secara luas sebagai suatu proses perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih sejahtera. Bentuk nyata atau unsurunsur dari kehidupan serba lebih baik itu sendiri masih menjadi perdebatan. Namun menurut Todaro (2000), komponen dasar atau nilai inti yang harus dijadikan basis konseptual dan pedoman praktis untuk memahami kehidupan yang lebih baik atau lebih sejahtera terdiri atas tiga komponen dasar yaitu : 1. Kecukupan (sustenance) Kecukupan yaitu kemampuan untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dasar. Kebutuhan tersebut bukan hanya menyangkut makanan, melainkan mewakili semua hal yang merupakan kebutuhan dasar manusia secara fisik yang meliputi pangan, sandang, papan dan keamanan. 2. Jati diri (self esteem) Jati diri merupakan dorongan dari diri sendiri untuk maju, untuk merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu. Penyebaran nilai-nilai modern yang bersumber dari negara-negara maju telah mengakibatkan kejutan dan kebingungan budaya di banyak negara berkembang. Kontak dengan masyarakat lain yang secara ekonomis atau teknologis lebih maju acapkali mengakibatkan definisi dan batasan mengenai baik-buruk dan benar-salah menjadi kabur. Kemakmuran materil lambat laun dianggap sebagai suatu ukuran kelayakan yang universal dan dinobatkan menjadi landasan penilaian atas segala sesuatu.

3. Kebebasan (freedom) Kebebasan atau kemerdekaan di sini diartikan secara luas sebagai kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran

ukuran keluarga. 1993). Jika kita memiliki kebebasan. Faktor-faktor yang ikut menentukan pola konsumsi keluarga antara lain tingkat pendapatan keluarga. Kebebasan juga meliputi kemampuan individual atau masyarakat untuk memilih satu atau sebagian dari sekian banyak pilihan yang tersedia. pendidikan kepala keluarga dan status kerja wanita. Berdasarkan teori klasik ini. Manfaat inti yang terkandung dalam penguasaan yang lebih besar itu adalah kebebasan untuk memilih merasakan kenikmatan yang lebih besar dan bervariasi. 1993). telah banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan dan pola konsumsi keluarga. pikiran sehat dan hati nurani kita sendiri. semakin kecil pula bagian pendapatan untuk kebutuhan makanan (Sumarwan. Selebihnya.6 aspek materil semata-mata dalam kehidupan ini. Ini berarti semakin kecil jumlah anggota keluarga. itu berarti untuk selamanya kita mampu berpikir jernih dan menilai segala sesuatu atas dasar keyakinan. Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk pangan akan semakin kecil dengan bertambahnya pendapatan keluarga. keluarga akan mengalokasikan sisa pendapatannya . maka keluarga bisa dikatakan lebih sejahtera bila persentasi pengeluaran untuk makanan jauh lebih kecil dari persentasi pengeluaran untuk bukan makanan. Jumlah anggota keluarga atau ukuran keluarga juga mempengaruhi pola konsumsi. untuk memilih lebih banyak barang dan jasa. Kebebasan disini juga harus diartikan sebagai kebebasan terhadap ajaran-ajaran yang dogmatis. Hasil Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 1989 membuktikan bahwa semakin besar jumlah anggota keluarga semakin besar proporsi pengeluaran keluarga untuk makanan dari pada untuk bukan makanan. Untuk mendukung pernyataan tersebut. karena sebagian besar dari pendapatan tersebut dialokasikan pada kebutuhan non pangan. Teori Engel’s yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga semakin rendah persentasi pengeluaran untuk konsumsi makanan (Sumarwan.

Keluarga Sejahtera Strategi pengembangan kependudukan terus mengalami perluasan karena masalah kependudukan pun telah bertambah luas dengan berbagai tantangan yang semakin beragam. Menurut Selo Sumarjan dalam Hatmaji (1993). keluarga merupakan institusi perantara (mediator) antara individu dengan masyarakat. Pendidikan dapat merubah sikap dan prilaku seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. 10 tahun 1992 yang telah dirujuk menjadikan keluarga sebagai satuan sosial terkecil dalam masyarakat. perlengkapan alat-alat rumah tangga. Selain jumlah anggota keluarga. sekaligus sebagai suatu lembaga yang amat penting dalam kehidupan manusia. Perubahan karakteristik keluarga ini mempunyai dampak sangat penting pada perubahan pola kebutuhan atau konsumsi keluarga misalnya makanan. keluarga dengan jumlah anggota sedikit relatif lebih sejahtera dari keluarga dengan jumlah anggota besar. 1993). struktur dan komposisi penduduk yang tercermin dalam unit-unit keluarga akan mengalami perubahan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. maka ukuran. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin mudah ia dapat menerima informasi dan inovasi baru yang dapat merubah pola konsumsinya. afeksi. lembaga keluarga ini sarat dengan fungsi (Achir. rohani dan sosial yang mendasar dan mengakar dalam kehidupan. Sehubungan dengan itu. Lembaga keluarga dalam budaya masyarakat kita dianggap sebagai suatu jalinan jasmani. A. 1993). proteksi. Dengan telah ditekannya laju pertumbuhan penduduk. Undang-undang No. tingkat pendidikan formal kepala keluarga juga berpengaruh terhadap pola konsumsi keluarga. keluarga memiliki beberapa fungsi antara lain refroduksi. . sosialisasi dan keagamaan. pelayanan kesehatan. Dengan demikian.7 untuk konsumsi bukan makanan. ekonomi. Disamping itu makin tinggi tingkat pendidikan formal maka kemungkinannya akan mempunyai tingkat pendapatan yang relatif lebih tinggi (Sumarwan. perumahan dan pendidikan.

Pada tahun 1971 rata-rata jumlah anggota rumah tangga di Indonesia sebesar 5.9 orang dan kemudian pada tahun 2000 menjadi 4.3 orang. Propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1980 mempunyai rata-rata jumlah anggota rumah tangga sebanyak 5. misalnya pembagian peran di dalam keluarga. mengurus pendidikan anak dan mengurus penyediaan makanan untuk anggota keluarga mulai bergeser pada sebagian keluarga. Perubahan nilai yang ada dalam masyarakat membuat wanita memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjun ke lapangan kerja sehingga mempengaruhi pembagian peran antara suami dan isteri dalam suatu keluarga. 1996). struktur keluarga sudah berubah dari keluarga berukuran besar (jumlah anak banyak) ke keluarga berukuran kecil (sedikit anak). Namun pada tahun 2000 telah mengalami penurunan dimana rata-rata setiap rumah tangga hanya dihuni . Keberhasilan ini antara lain berdampak pada perubahan struktur keluarga (Hatmadji. Tugas-tugas yang secara tradisional dilakukan oleh isteri antara lain mengurus kebutuhan anak baik secara fisik maupun psikologis.8 Pada saat ini sedang terjadi pergeseran nilai di masyarakat. isteri dan 3 sampai 4 orang anak. 1993). Keberhasilan program pemerintah dalam bidang kependudukan khusunya penurunan fertilitas nampaknya sudah mulai nyata.6 orang (BPS. Dengan adanya pergeseran nilai dalam keluarga tersebut mengakibatkan juga terjadi perubahan pola konsumsi barang dan jasa dalam keluarga. Pada tahun 1980 rata-rata rumah tangga di huni oleh 5 sampai 6 orang anggota rumah tangga yang terdiri dari suami.2 pada tahun 1980 menjadi 4.5 o rang pada tahun 1990 (Kasto dan Sembiring. Si suami secara tradisional bertugas memberikan status sosial pada keluarga. mencari nafkah dan mewakili keluarga dengan pihak-pihak lain yang ada di dalam masyarakat mulai menerima limpahan tugas dari sang isteri. Lebih lanjut ia mengatakan. termasuk nilainilai yang berlaku dalam keluarga.2 orang kemudian pada tahun 1990 penurunannya cukup berarti yakni dari 5. tahun 1980 mengalami penurunan menjadi 5.3 orang. 2001). tahun 1990 mengalami penurunan menjadi 4.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa. Lebih lanjut ia katakan bahwa kesejahteraan itu haruslah bersifat komprehensif. Hal lain yang dapat diungkap dari menurunnya rata-rata anggota rumah tangga ini adalah menunjukkan adanya perubahan struktur dalam keluarga. Masing-masing anggota keluarga karena hubungannya dengan masyakat lingkungannya akan mengembangkan perannya sesuai dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan tersebut. menurut Selo Sumardjan dalam Hatmadji (1993). Salah satu fenomena yang terjadi adalah masuknya wanita dalam pasar kerja. Konsep keluarga sejahtera sangat beragam. yakni perubahan dari struktur keluarga luas (extended family) ke arah keluarga batih (nuclear family). Bahkan adanya perubahan dalam struktur keluarga batih sendiri juga telah terjadi. Bersamaan dengan perubahan struktur kelurga. sejahtera hanya dilihat dari sisi pencapaian finansial. . isteri dan anak. Pada gilirannya akan memberikan dampak psikologis. Penurunan rata-rata anggota rumah tangga tersebut menunjukkan diterimanya norma keluarga kecil dan menunjukkan kecenderungan pembentukan keluarga batih atau inti (nuclear family). sosial dan budaya baik pada keluarga itu sendiri maupun pada masyarakat lainnya. karena kesejahteraan berkaitan erat dengan tujuan hidup masingmasing keluarga. yang terdiri dari suami.9 oleh 4 sampai 5 orang anggota rumah tangga. maka terjadi pula perubahan fungsi dalam kelurga. yang mau tidak mau akan menyebabkan terjadinya perubahan status dan peran yang mereka mainkan sebelumnya (BKKBN. tingkat pencapaian kesejahteraan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya tidak dapat diperbandingkan. berarti akan memberikan peranan ekonomi yang lebih besar terhadap keluarga terutama dalam membantu meningkatkan pendapatan keluarga. isteri dan 2 sampai 3 orang anak. sedangkan kondisi ideal yang dari sisi psikologis diartikan sebagai bahagia. dengan masuknya wanita dalam angkatan kerja. yakni perubahan dari jumlah anak banyak ke arah jumlah anak yang lebih sedikit. keluarga yang terdiri dari suami. 1992).

Kebutuhan tersebut di atas merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk dapat hidup wajar. Kebutuhan pendidikan untuk menjadi manusia bermoral dan berbudaya. alat-alat dapur dan lain sebagainya. Dua strategi pokok yang dapat dilakukan keluarga yang bekerja agar kesejahteraan keluarga dapat tercapai adalah membeli waktu dan menghemat waktu. Kebutuhan papan atau tempat berteduh. alat-alat dapur. Kebutuhan sandang atau pakaian. (household appliances) seperti mesin cuci. Tanpa penghasilan kita tak mungkin dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan hidup secara wajar. 3. televisi dan aneka kebutuhan lainnya. kursi. 4. lemari. 2.10 B. Tanpa bekerja kita tak mungkin mendapatkan penghasilan. untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Semakin banyaknya isteri atau ibu rumah tangga yang masuk dalam dunia kerja mengakibatkan terjadinya perubahan dalam keluarga. Lebih lanjut dijelaskan bahwa. disebut sebagai kebutuhan sekunder atau kebutuhan pelengkap yang ditambahkan sesuai dengan peningkatan pendapatan. Perubahan Pola Konsumsi Dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa ekonomi merupakan asumsi dalam teori ekonomi seseorang bertindak secara rasional dalam mencapai tujuannya dan kemudian mengambil keputusan yang konsisten dengan tujuan tersebut. radio. Kebutuhan lain seperti : kebutuhan akan perabot rumah tangga. yaitu : 1. Haris dan Andika (2002) mengemukakan beberapa macam kebutuhan pokok manusia untuk bisa hidup secara wajar. Dalam menghadapi perubahan ini maka keluarga harus mempunyai beberapa strategi untuk mengatasi kendala waktu yang dihadapinya. kita membutuhkan uang atau penghasilan. Kebutuhan pangan atau kebutuhan akan makanan. kulkas. Membeli waktu merupakan usaha yang dilakukan keluarga untuk membeli alat-alat rumah tangga. serta menggunakan jasa-jasa pelayanan. Bila kebutuhan itu kurang dapat dipenuhi secara memuaskan maka hal itu merupakan suatu indikasi bahwa kita masih hidup di bawah garis kemiskinan. Strategi . meja.

1998). Hal ini didukung oleh industri makanan yang memproduksi berbagai jenis makanan jadi. industri restoran dan fast food yang tumbuh pesat (Wilopo. Jumlah rumah tangga atau keluarga yang menerapkan strategi membeli waktu semakin banyak. Strategi menghemat waktu. Strategi menghemat waktu termasuk pula pengurangan kuantitas dan kualitas pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan. Di pihak lain makanan jadi yang tersedia di pasar belum tentu memberikan jaminan gizi yang baik. baik secara langsung ataupun tidak langsung. Kurangnya nilai gizi dari makanan tersebut membawa dampak negatif terhadap kesehatan keluarga. yang mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit. Perubahan pola konsumsi terhadap aneka barang dan jasa diperkirakan akan meningkat dengan pesat di masa mendatang sejalan dengan perubahan struktur . Kendala waktu yang dihadapi keluarga masa depan dan strategi untuk mengatasinya akan mempengaruhi pola konsumsi keluarga tersebut. maka semua itu akan berakibat pada peningkatan permintaan alatalat rumah tangga. sering makan di rumah makan atau membeli makanan yang siap dihidangkan. Dengan demikian strategi menghemat waktu tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh akan membawa dampak negatif pada kesehatan keluarga. pengeluaran konsumsi untuk makanan jadi dan alat-alat rumah tangga akan semakin besar. keluarga dapat menggunakan jasa orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. merupakan usaha yang dilakukan oleh keluarga untuk mengalokasikan pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh isteri/ibu kepada suami/ayah atau anak-anak. misalnya mengurangi waktu santai dan kegiatan sosial. misalnya menggunakan jasa binatu. Oleh sebab itu.11 semacam ini membuat keluarga lebih mengandalkan alat-alat listrik dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. jasa penitipan dan pengasuhan anak. Selain itu. membayar pembantu rumah tangga. Kondisi semacam ini mempengaruhi pengeluaran keluarga untuk konsumsi jasa kesehatan dan obat-obatan.

Fungsi Permintaan Permintaan merupakan jumlah barang dan jasa yang diminta pada berbagai tingkat harga dalam waktu tertentu. serta semakin banyaknya keluarga yang menerapkan strategi membeli waktu. Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang Hubungan antara tingkat harga dan jumlah barang yang diminta dapat disajikan dalam kurva permintaan. Sukirno (1985) menyatakan permintaan seseorang atas sesuatu barang ditentukan oleh banyak faktor. Corak ditribusi pendapatan dalam masyarakat 5. perbaikan tingkat pendapatan. Citarasa masyarakat 6. 1. Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat 4. Lebih lanjut ia katakan bahwa timbulnya perilaku konsumen karena adanya keinginan memperoleh kepuasan yang maksimal dengan berusaha mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak-banyaknya. Harga barang-barang lain yang mempunyai kaitan erat dengan barang tersebut 3. C. kebutuhan manusia relatif tidak terbatas sementara sumber daya yang tersedia sangat terbatas. diantaranya yang terpenting adalah: 1. hal ini mengakibatkan manusia dalam memenuhi setiap kebutuhannya akan berusaha memilih alternatif yang paling menguntungkan bagi dirinya. Harga barang itu sediri 2. Jumlah penduduk 7.12 keluarga. Perilaku Konsumen Menurut Joesron dan Fathorrozi (2003). . Kurva permintaan menunjukkan tempat titik-titik yang mengambarkan maksimum pembelian pada harga tertentu dengan anggapan ceteris paribus (hal-hal lain dianggap tetap). tetapi mempunyai keterbatasan pendapatan.

Secara matematis hal itu dapat dirumuskan dalam formula sebagai berikut: D x = f ( Y. harga barang lain dan masih banyak faktor lainnya yang dapat diidentifikasi sebagai faktor yang mempengaruhi permintaan. T. sedangkan hal-hal lain dianggap tetap (Joesron dan Fathorrozi. 2003).13 Gambar 1 memperlihatkan bahwa kurva permintaan berbentuk garis lurus yang miring dari atas ke kanan bawah. selera. Miringnya kurva permintaan tersebut menunjukkan adanya hukum permintaan dan lurusnya kurva menunjukkan adanya anggapan bahwa yang berpengaruh terhadap jumlah yang diminta hanyalah tingkat harga. P D 0 Q Gambar 1. Hubungan inilah disebut hukum permintaan. P y. Kurva Fungsi Permintaan Hubungan antara harga dan permintaan yang berbanding terbalik (negatif) menimbulkan konsekwensi bahwa apabila harga naik maka permintaan turun dan apabila harga turun maka permintaan akan naik. Permintaan suatu barang bukan hanya dipengaruhi oleh harga barang tersebut. u ) Keterangan : Dx = Jumlah barang yang diminta Y = Pendapatan konsumen (1) Py = Harga barang lain . melainkan juga dipengaruhi oleh pendapatan konsumen.

dalam suatu kurva yang sama akan terdapat gerakan dari suatu titik ke titik lainnya apabila harga suatu barang mengalami perubahan. Akibatnya harga mengalami penurunan dari P1 ke P2. selain harga mengalami perubahan maka fungsi permintaan akan ikut berubah pula. menimbulkan akibat jumlah yang diminta naik dari Q1 menjadi Q2. Dengan kata lain. Jadi perubahan jumlah yang diminta terjadi pada sepanjang kurva permintaan. begitu pula sebaliknya bila pendapatan konsumen berkurang maka fungsi permintaan bergeser ke kiri (bawah). Misalkan pendapatan konsumen meningkat maka fungsi permintaan akan bergeser ke kanan (atas). perubahan permintaan oleh konsumen dapat dibedakan dalam dua pengertian yatu: . Apabila faktor lain. yaitu faktor lain selain harga dianggap tetap. maka sepanjang fungsi permintaan individu akan dapat dijumpai adanya perubahan jumlah yang diminta sebagai akibat perubahan harga.14 T u = Selera = Faktor-faktor lainnya Adanya asumsi ceteris paribus. P P3 P1 P2 0 Q3 C A B Q1 Q2 Q Gambar 2. Kurva Perubahan Jumlah yang Diminta Gambar 2 menunjukkan adanya perubahan jumlah yang diminta sebagai akibat perubahan harga. Dengan demikian.

Terlihat adanya perubahan dari titik A ke B. Pada gambar 2. maka timbullah perilaku konsumen. Pada gambar 3. Beberapa Pendekatan Perilaku Konsumen Akibat adanya kendala keterbatasan pendapatan di satu sisi dan adanya keinginan untuk mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak-banyaknya agar diperoleh kepuasan yang maksimal di sisi lainnya. Terlihat kurva DD bergeser menjadi D1D1. misalnya pendapatan. Pergeseran DD menjadi D1D1 menunjukkan pertambahan permintaan sedangkan pergeseran DD menjadi D2D2 menunjukkan berkurangnya permintaan pada harga yang sama. Kurva permintaan akan bergeser ke kiri atau ke kanan disebabkan oleh perubahan faktor-faktor lain yang mempengaruhi permintaan selain harga. . Hal itu disebabkan oleh kenaikan pendapatan konsumen.15 1. yaitu perubahan permintaan barang disebabkan perubahan harga.Q2 Pergeseran Kurva Permintaan Q0 Q1 2. Gerakan sepajang kurva permintaan. P P0 D1D1 D2D2 DD Q Gambar 3. Pada saat harga barang turun jumlah barang yang diminta meningkat. sedangkan pergeseran kurva permintaan dari DD menjadi D2D2 disebabkan oleh berkurangnya pendapatan konsumen. 2.

16 Ada beberapa pendekatan yang sering digunakan untuk menjelaskan terbentuknya fungsi permintaan konsumen. Total utility adalah additive dan independent. Konsumen rasional 2. 3. Pendekatan yang dipakai dalam teori ordinal adalah indefference curve. artinya konsumen bertujuan memaksimalkan kepuasannya dengan batasan pendapatannya. Konsumen rasional. daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau utilitas. b. 2. dan tinggi rendahnya nilai atau daya guna tergantung kepada subyek yang menilai. Sedangkan independent berarti bahwa daya guna X1 tidak dipengaruhi oleh tindakan mengkonsumsi barang X2. Asumsi dari pendekatan ini adalah: 1. Pendapatan konsumen tetap 4. 5. X4 …. X3. Pendekatan ini juga mengandung anggapan bahwa semakin berguna suatu barang bagi seseorang. yaitu: a. cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok barang. maka akan semakin diminati. Xn dan sebaliknya. yaitu kurva yang menunjukkan kombinasi 2 (dua) macam barang konsumsi yang memberikan tingkat kepuasan sama. Pendekatan Kardinal (Cardinal Approach). Asumsi dari pendekatan ini adalah: 1. Additive artinya daya guna dari sekumpulan barang adalah fungsi dari kuantitas masing-masing barang yang dikonsumsi. Diminishing marginal utility. Pendekatan Ordinal. Dalam pendekatan ini daya guna suatu barang tidak perlu diukur. Uang mempunyai nilai subyektif yang tetap. Menurut pendekatan ini. artinya tambahan utilitas yang diperleh konsumen makin menurun dengan bertambanya konsumsi dari komoditas tersebut. Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang yang disusun berdasarkan urutan besar kecilnya daya guna .

yang merupakan asumsi dari pendekatan sebelumnya. yaitu konsumen adalah rasional. Ada beberapa keunggulan pendekatan atribut antara lain : 1. Preferensi Nyata (Revealed Preference Hypothesis). tetapi karena karakteristik atau atribut-atribut yang disediakan oleh produk tersebut. artinya bila konsumen menyatakan A lebih disukai dari pada B dan B lebih disukai daripada C. Konsumen konsisten. Asumsi yang menjadi dasar berlakunya teori ini antara lain adalah: 1. maka A lebih disukai daripada C c. 2. Konsisten artinya seperti biasanya apabila konsumen telah menentukan A lebih disukai daripada B maka dia tidak sekali-kali mengatakan bahwa B lebih disukai dari pada A. Kombinasi barang X dan Y yang sesungguhnya dibeli di pasar merupakan preferensi atas kombinasi barang tersebut. Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu 4. Kombinasi yang dibeli ini akan memberikan dayaguna yang tertinggi. juga mengandung pengertian bahwa jumlah barang banyak lebih disukai daripada barang sedikit. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum 5. artinya bila A lebih disukai daripada B dan B lebih disukai daripada C. Pendekatan ini mempunyai pandangan bahwa konsumen dalam memberi produk tidak hanya karena daya guna dari produk tersebut. Asas transitif. Berlaku hukum transitif. Kurva permintaan dapat disusun secara langsung berdasarkan perilaku konsumen di pasar.17 3. artinya bila barang A lebih dipilih daripada B karena A lebih disukai daripada B. . 3. Rasionalisasi. maka ia akan menyatakan juga bahwa A lebih disukai daripada C. 4. Pendekatan Atribut. Kita akan terlepas dari diskusi mengenai bagaimana mengukur daya guna suatu barang. Jumlah ini merupakan anggaran yang dapat dipergunakannya. d. Konsumen akan menyisihkan sejumlah uang untuk pengeluarannya. tidak berlaku sebaliknya 6.

Menurut Sediaoetama (1985). sehingga bersifat praktis dan lebih mendekati kenyataan. atau orang yang ditunjuk dan dituakan sebagai kepala rumah tangga. Besarnya rumah tangga menyatakan jumlah seluruh anggota yang menjadi tanggungan dalam rumah tangga tersebut. sehingga lebih dapat dijelaskan tentang pilihan konsumen terhadap produk. yaitu orang dianggap paling bertanggungjawab atas kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga tersebut. Dalam suatu rumah tangga biasanya dikepalai oleh seorang kepala rumah tangga. Dapat digunakan untuk banyak barang. Besaran rumah tangga dapat memberikan indikasi beban rumah tangga. artinya setiap anggota keluarga tersebut mendapat jumlah makanan yang sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Kebutuhan anggota keluarga akan makanan berbeda-beda tergantung dari struktur umur. 2001). Semakin tinggi besaran rumah tangga berarti semakin banyak anggota rumah tangga yang selanjutnya semakin berat beban rumah tangga tersebut untuk memenuhi kebutuhannya. mertua. D. serta operasionalisasinya lebih mudah. Zat gizi yang diperlukan oleh anak-anak dan anggota keluarga yang masih muda pada umumnya lebih tinggi dari kebutuhan orang dewasa. famili dan lain-lain. cucu. orang tua. terutama untuk rumah tangga dengan tingkat pendapatan rendah (BPS. tetapi kalau dinyatakan dalam kuantum absolut. melainkan atribut yang melekat pada barang tersebut. Selain kepala rumah tangga terdapat pula anggota rumah tangga yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan kepala rumah tangga seperti isteri. menantu. menurut umur dan keadaan fisiknya.18 2. distribusi kebutuhan pangan dalam keluarga tidak merata. anak-anak tentu membutuhkan kuantum makanan . Ukuran Keluarga Keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rumah tangga. Pendekatan ini memandang suatu barang diminta konsumen bukan jumlahnya. anak. 3.

Lebih lanjut dikatakan bahwa keluarga yang mengalami kemajuan dalam ekonominya. Energi tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar menurut penggunaannya yaitu untuk kebutuhan metabolisme tubuh dan energi yang digunakan untuk melakukan pekerjaan luar (Sediaoetama. Menurut Sediaoetama (1989). lemak dan protein. Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal dari karbohidrat. tetap menggunakan energi. Lebih jauh ia katakan. Di Indonesia sekitar 70 – 80 % dari seluruh energi untuk keperluan tubuh berasal dari karbohidrat. sebagian besar energi. E. karena energi dari karbohidrat termasuk yang paling murah. semakin rendah tingkat ekonomi suatu keluarga maka semakin tinggi persentasi energi tersebut berasal dari karbohidrat. Energi tersebut dipergunakan metabolisme sel dalam tubuh. Walaupun tubuh tidak melakukan pekerjaan atau aktifitas luar seperti tidur. Di negara yang mata pencaharian masyarakatnya terutama beternak. 1994). terutama bila kondisi negaranya memungkinkan adanya pertanian maka karbohidrat umumnya didapat dari padi-padian. Misalnya orang yang pekerja sebagai buruh bangunan. melaksanakan hayat hidup biologis. tukang becak. energi dalam jumlah besar terutama diperlukan untuk kerja otot yang melakukan pekerjaan luar.19 yang lebih kecil dibandingkan dengan kuantum makanan yang diperlukan oleh orang dewasa. untuk kebutuhan Energi tersebut diperlukan minimal untuk . energi tersebut berasal dari makanan yang dikonsumsi (Sukarni. Dalam melakukan suatu pekerjaan atau aktifitas sangat membutuhkan energi atau tenaga. petani. yang hanya mengandalkan fisik atau kekuatan otot. Jenis Pekerjaan Di negara-negara miskin sebagian besar energi di dalam hidangan berasal dari korbohidrat. bahkan seluruh energi berasal dari protein hewani dan lemak. 1985). terlihat adanya pergeseran sumber energi dari karbohidrat ke protein dan lemak.

tetapi juga pendidikan berkelanjutan seperti kursus-kursus. Hal tersebut merupakan landasan yang kuat bagi pemerintah untuk mencanangkan program wajib belajar. di antara berbagai bentuk investasi sumber daya manusia tersebut. 1986). 1997). 1984). Program pendidikan tidak selamanya harus terselenggara di lingkungan sekolah. Namun demikian. program kependudukan dan lain-lain. kesehatan. pendidikan dalam jabatan dan sejenisnya (Suryadi. setengah terampil dan tidak terampil. Untuk melakukan kegiatan fisik yang sama. Program wajib belajar tersebut dimaksudkan untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan. Akan tetapi. F.20 akan memerlukan makanan dalam jumlah relatif lebih besar untuk sanggup melakukan pekerjaan tersebut . karena untuk menggerakkan tubuh yang lebih besar diperlukan enegi yang lebih banyak. pendidikan dapat dikatakan sebagai katalisator utama pengembangan sumber daya manusia. . semakin tinggi pula kesadarannya terhadap pembentukan keluarga sejahtera. orang dengan ukuran tubuh besar menggunakan lebih banyak energi dari pada ukuran tubuh kecil. Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat yang telah dituangkan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Pendidikan Investasi sumber daya manusia bukan merupakan tanggung jawab salah satu sektor pembangunan tetapi bersifat multisektor seperti pendidikan. Klasifikasi pekerja menurut status pekerjaan dapat dibagi atas dua kelompok yaitu sektor informal dan formal (Bakir dan Manning. kegiatan fisik mempengaruhi lebih banyak pengeluaran energi dari pada pengaruh ukuran tubuh (Suhardjo. dengan asumsi bahwa semakin terdidik seseorang. Klasifikasi tenaga kerja menurut jenis pekerjaan utama dapat dibagi atas tiga jenis yaitu kelompok terampil. pelatihan kerja.

Titik singgung antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi adalah produktivitas tenaga kerja.21 Pendidikan berorientasi pada penyiapan tenaga kerja terdidik. 2000). semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga.1993). Hasil Survei Biaya Hidup tahun 1989 mendukung keterkaitan tersebut. Pendidikan diharapkan dapat mengatasi keterbelakangan ekonomi lewat efeknya pada peningkatan kemampuan manusia dan motivasi manusia untuk berprestasi. . dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula produktivitasnya. yaitu tenaga kerja. agar dapat bekerja dengan produktif karena kwalitasnya. Hal ini akan mendorong peningkatan out put yang diharapkan pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. jenis pekerjaan dan ukuran keluarga) mempengaruhi pola konsumsi keluarga. Hipotesis tersebut dapat diperinci menjadi hipotesis kerja sebagai berikut 1. maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Tingkat pendidikan kepala keluarga juga berpengaruh terhadap pola konsumsi keluarga. terampil dan terlatih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Hasil survei membuktikan bahwa. tujuan dan manfaat penelitian yang telah dikemukakan. dan semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga (Ananta. Pendidikan berfungsi menyiapkan salah satu input dalam proses produksi. Hipotesis Berdasarkan rumusan masalah. Kondisi sosial ekonomi keluarga (pendapatan. semakin kecil persentasi pengeluaran untuk konsumsi pangan (Sumarwan 1993). Pendidikan dalam kaitannya dengan penyiapan tenaga kerja harus selalu lentur dan berwawasan lingkungan agar pendidikan keterampilan dan keahlian dapat disesuaikan dengan kebutuhan akan jenis-jenis keterampilan serta keahlian profesi yang selalu berubah (Mantra. Semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga semakin rendah persentasi pengeluaran untuk konsumsi pangan. G. pendidikan.

semakin banyak pengeluaran untuk konsumsi pangan. . Semakin besar kekuatan otot yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga.22 2. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak pula pengeluaran untuk konsumsi pangan. semakin kecil persentasi pengeluaran untuk konsumsi pangan. . 4. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful