P. 1
makalah+jadi

makalah+jadi

|Views: 163|Likes:

More info:

Published by: Dhita Kartika Dewi Anggari on May 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2015

pdf

text

original

MAKALAH DIAGNOSTIK KLINIK

ABSES DAN PERITONITIS

Disusun oleh:
Caroline Furqoni C Muthia Rachma Oloan Rizki Reza M 030505011 030505028Y 0305050396 0304057087 0606070945

Wulan Yuliastuti 0606061046

Universitas Indonesia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Departemen Farmasi 2009

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bu Atiek selaku Dosen Diagnostik Klinik yang telah membimbing penulis dalam menyusun makalah ini. Penulis juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu demi terselesaikannya makalah ini. Melalui makalah ini, penulis bertujuan membahas mengenai abses, peritonitis dan hubungan keduanya. Penulis sadar makalah ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat. Depok, Mei 2009

Penulis

BAB I ABSES I.1 Abses Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah, yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas abses. Hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam, maka infeksi bisa menyebar di dalam tubuh maupun di bawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses. Penyebab Suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara: • • • bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain, bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika: • • • terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi, daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang, terdapat gangguan sistem kekebalan. yang tidak steril,

menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.

Abses tidak pecah dan bisa meninggalkan benjolan yang keras. Abses otak . abses pecah dengan sendirinya dan mengeluarkan isinya. Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan. dan demam. paru-paru.2 Abses Otak Abses otak adalah kumpulan nanah yang terbungkus oleh suatu kapsul dalam jaringan otak yang disebabkan karena infeksi bakteri atau jamur. pembengkakan. payudara. Untuk menentukan ukuran dan lokasi abses dalam. USG. serta organ-organ di abdomen khususnya hati. Diagnosis Abses di kulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali. Antibiotik juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi ke bagian tubuh lainnya Abses bisa terbentuk di seluruh bagian tubuh. I. Kadang abses menghilang secara perlahan karena tubuh menghancurkan infeksi yang terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi. Suatu abses yang terbentuk tepat di bawah kulit biasanya tampak sebagai suatu benjolan. Sedangkan. termasuk otak. maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis. Antibiotik bisa diberikan setelah suatu abses mengering dan hal ini dilakukan untuk mencegah kekambuhan. suatu abses bisa ditusuk dan dikeluarkan isinya. Gejalanya bisa berupa nyeri. Jika abses akan pecah. bisa dilakukan pemeriksaan rontgen. Pengobatan Suatu abses seringkali membaik tanpa pengobatan. suatu abses di dalam tubuh. kemerahan. Abses dalam lebih mungkin menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh. biasanya pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. sedangkan abses dalam seringkali sulit ditemukan. Pada penderita abses. CT scan atau MRI. sehingga pemberian antibiotik biasanya sia-sia. Suatu abses tidak memiliki aliran darah. Berikut ini akan diuraikan lebih jauh mengenai abses pada organ-organ tersebut.Gejala Gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ atau saraf. sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih dahulu tumbuh menjadi lebih besar. nyeri tekan. teraba hangat.

Walaupun jarang. jamur dan parasit. Lebih dari 75% penderita mengeluh sakit kepala dan merupakan gejala utama yang paling sering dikeluhkan. . Kira-kira 62% abses otak disebabkan oleh flora campuran. Gejala Gejala yang timbul bervariasi dari seorang dengan yang lain. Bila infeksi berasal dari sinus paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus aerob dan anaerob. Abses oleh Staphylococcus biasanya berkembang dari perjalanan otitis media atau fraktur kranii. Streptococcus anaerob. Cladosporium trichoides dan spesies Candida dan Aspergillus. Sakit kepala yang dirasakan terpusat pada daerah abses dan rasa sakit semakin hebat dan parah. Berbagai mikroorganisme dapat ditemukan pada abses otak. suatu parasit amuba usus dapat menimbulkan abses secara hematogen. Staphylococcus dan Haemophilus influenzae. trauma atau tindak pembedahan. Streptococcus alpha hemolyticus. Entamuba histolitica. Masuknya kuman penyakit ke dalam jaringan otak dapat terjadi secara langsung akibat trauma lesakkan (misalnya peluru yang menembus otak) sehingga terjadi pembentukkan abses. Penyebab Infeksi otak awalnya berasal dari penyebaran langsung bibit penyakit dari sumber infeksi di daerah lain yang berdekatan dengan otak (seperti infeksi pada telinga tengah.biasanya akibat komplikasi dari suatu infeksi. Jamur penyebab abses otak antara lain Nocardia asteroides. yaitu bakteri. kurang lebih 25% abses otak adalah kriptogenik (tidak diketahui sebabnya). Keadaan-keadaan ini jarang terjadi. Kuranglebih separuh dari penderita mengalami demam tetapi tidak tinggi. Bakteri yang tersering adalah Staphylococcus aureus. Abses oleh Streptococcus dan Pneumococcus sering merupakan komplikasi infeksi paru. Abses otak juga dapat disebabkan karena tindakan pembedahan pada otak dan trauma di daerah wajah. coli dan Bacteroides. Abses pada penderita jantung bawaan sianotik umumnya oleh Streptococcus anaerob. Aspirin atau obat lainnya tidak akan menolong menyembuhkan sakit kepala tersebut. namun demikian insiden terjadinya abses otak sangat tinggi pada penderita yang mengalami gangguan kekebalan tubuh (seperti penderita HIV positif atau orang yang menerima transplantasi organ). tergantung pada ukuran dan lokasi abses pada otak. E. infeksi sinus. abses pada gigi) atau melalui peredaran darah yang berasal dari sumber infeksi di seluruh tubuh. Streptococcusbeta hemolyticus.

terus menerus sakit kepala dan semakin parah. dan jelas terlihat sekitar dua minggu. pencegahan yang terbaik adalah menjaga dan membersihkan rongga mulut dan gigi dengan baik serta secara teratur mengunjungi dokter gigi. gangguan kepribadian dan kelemahan otot pada salah satu sisi bagian tubuh. Diagnosis Gejala awal abses otak tidak jelas karena tidak spesifik. Infeksi sinus diobati dengan dekongestan dan antibiotika yang tepat. Terapi yang cepat dan tepat merupakan kunci utama dalam mengatasi dan mengobati gejala dengan cepat. Jika diagnosis masih belum dapat ditegakkan. yaitu: . perjalanan penyakit dan apakah baru-baru ini pernah mengalami infeksi. Abses otak akan memburuk dengan cepat. maka dokter segera mengobatinya. Infeksi HIV dicegah dengan tidak melakukan hubungan seks yang tidak aman. Pencegahan dan Pengobatan Kebanyakkan abses otak berhubungan dengan higiene mulut yang buruk. kaku kuduk. kejang atau defisit neurologik (misalnya otot pada salah satu sisi bagian tubuh melemah). Harus diketahui kapan keluhan pertama kali timbul. Oleh karena itu. Jika diagnosis telah ditegakkan. Kultur darah dan cairan tubuh lainnya akan menemukan sumber infeksi tersebut. kejang. Dokter harus mengumpulkan riwayat medis dan perjalanan penyakit penderita serta keluhan-keluhan yang diderita oleh pasien.Gejala-gejala lainnya adalah mual dan mintah. maka sampel dari bercak/noktah tersebut diambil dengan jarum halus yang dilakukan oleh ahli bedah saraf. penderita yang berobat dalam keadaan distress. Ada 2 pendekatan yang dilakukan dalam terapi abses otak. Abses terlihat sebagai bercak/ noktah pada jaringan otak. Pengobatan dan tindakan lanjut dilakukan selama dua atau beberapa bulan. infeksi sinus yang kompleks atau gangguan sistem kekebalan tubuh. Untuk mendiagnosis abses otak dilakukan pemeriksaan CT scan (computed tomography) atau MRI scan (magnetic resonance imaging) yang secara mendetil memperlihatkan gambaran potongan tiap inci jaringan otak. Pada beberapa kasus.

Paling sedikit antibiotika yang diberikan selama 6 hingga 8 minggu untuk menyakinkan bahwa infeksi telah terkontrol. Jaringan abses diangkat atau cairan nanah dialirkan keluar tergantung pada ukuran dan lokasi abses tersebut. abses dialirkan keluar baik dengan insisi (irisan) langsung atau dengan pembedahan yaitu memasukkan jarum ke lokasi abses dan cairan nanah diaspirasi (disedot) keluar. Pada kasus lainnya. Antibiotika untuk mengobati infeksi jika diketahui infeksi yang terjadi disebabkan oleh bakteri yang spesifik. 2. Penyebab . Keberhasilan pengobatan dilakukan dengan menggunakan MRI sken atau CT sken untuk menilai keadaan otak dan abses tersebut. Tanpa pengobatan yang adekuat. Saat ini. masalah-masalah neurologis jangka lama sering terjadi setelah abses diangkat dan infeksi telah diobati. Antikonvulsan diberikan untuk mengatasi kejang dan penggunaanya dapat diteruskan hingga abses telah berhasil diobati. Misalnya. Jarum ditempatkan pada daerah abses oleh ahli bedah saraf dengan bantuan neurografi stereotaktik.1. gejala-gejala sisa yang menyangkut fungsi tubuh. abses otak berakibatkan fatal. paling tidak antibiotika berspektrum luas untuk membunuh lebih banyak kuman penyakit. maka diberikan antibiotika yang sensitif terhadap bakteri tersebut.3 Abses Paru Abses paru diartikan sebagai kematian jaringan paru-paru dan pembentukan rongga yang berisi sel-sel mati atau cairan akibat infeksi bakteri. banyak penderita abses otak terobati dengan sangat baik. Sayangnya. I. dengan pemeriksaan diagnostik dan antibiotika yang canggih. Jika lokasi abses mudah dicapai dan kerusakkan saraf yang ditimbulkan tidak terlalu membahayakan maka abses diangkat dengan tindakan pembedahan. Aspirasi atau pembedahan untuk mengangkat jaringan abses. perubahan kepribadian atau kejang akibat jaringan parut atau kerusakan lain yang terbentuk pada jaringan otak. yaitu suatu tehnik pencitraan radiologi untuk melihat jarum yang disuntikkan ke dalam jaringan abses melalui suatu monitor.

berkeringat. sehingga infeksi hanya terjadi jika sistem pertahanan tubuh sedang menurun. Bacteroides. Streptococcus pyogenes. Fusobacterium dan Microaerophilic Coccidioides) Mycobacteria . Dahaknya bisa mengandung darah. Tubuh memiliki sistem pertahanan terhadap infeksi semacam ini. maka akan terjadi pneumonia aspirasi dan dalam waktu 7-14 hari kemudian berkembang menjadi nekrosis (kematian jaringan). Dahak seringkali berbau busuk karena bakteri dari mulut Parasit (Paragonimus. Streptococcus pneumonia. dan batuk berdahak.Kebanyakan abses paru muncul sebagai komplikasi dari pneumonia aspirasi akibat bakteri anaerob di mulut. Histoplasma. Klebsiella pneumonia. serta Basil gram negatif. Penderita abses paru biasanya memiliki masalah periodontal (jaringan di sekitar gigi). penyebabnya adalah bakteri anaerob. diantaranya: • • • Gejala Gejala awalnya menyerupai pneumonia yaitu kelelahan. streptococcus. Blastomyces. Entamoeba) Jamur (Aspergillus. Haemophilus influenza. berat badan menurun. demam. yang berakhir dengan pembentukan abses. Cryptococcus. hilang nafsu makan. • tubuh. Yang paling sering adalah Peptostreptococcus. Penyebab non-bakteri juga bisa menyebabkan abses paru. spesies Actinomyces dan Nocardia. akibat emboli septik pada paru-paru. Organisme lainnya yang tidak terlalu sering menyebabkan abses paru adalah Staphylococcus aureus. seperti yang ditemukan pada: • seseorang yang berada dalam keadaan tidak sadar atau sangat mengantuk penderita penyakit sistem saraf. Mekanisme pembentukan abses paru lainnya adalah bakteremia atau endokarditis katup trikuspidalis. Sejumlah bakteri yang berasal dari celah gusi sampai ke saluran pernafasan bawah dan menimbulkan infeksi. obat bius atau penyalahgunaan alkohol. Pada 89% kasus. Jika bakteri tersebut tidak dapat dimusnahkan oleh mekanisme pertahanan karena pengaruh obat penenang.

. baik intravena (melalui pembuluh darah) maupun per-oral (melalui mulut). Jika dalam waktu 7-10 hari setelah pemberian antibiotik demam tidak juga turun. Pengobatan ini dilanjutkan sampai gejalanya hilang dan rontgen dada menunjukkan bahwa abses telah sembuh. Ketika bernafas. Rontgen dada seringkali bisa menunjukkan adanya abses paru. Pada rongga yang berukuran besar (diameter lebih dari 6 cm). Gambaran yang lebih jelas bisa terlihat pada CT scan. Ketebalan dinding abses paru bervariasi. bisa tipis ataupun tebal. penyalahgunaan alkohol atau obat lainnya. Untuk mencapai perbaikan seperti ini. penderita juga bisa merasakan nyeri dada. biasanya terjadi dalam waktu 3-4 hari setelah pemberian antibiotik. penurunan kesadaran karena berbagai sebab. Perbaikan klinis. Biakan dahak dari paru-paru bisa membantu menentukan organisme penyebab terjadinya abses. Pengobatan Untuk penyembuhan sempurna diperlukan antibiotik. batasnya bisa jelas maupun samar-samar. biasanya antibiotik diberikan selama 4-6 minggu. biasanya perlu dilakukan terapi jangka panjang. Abses paru akibat aspirasi paling sering menyerang segmen posterior paru lobus atas atau segmen superior paru lobus bawah. terutama jika telah terjadi peradangan pada pleura. Diduga suatu abses paru jika gejala yang menyerupai pneumonia terjadi pada keadaan-keadaan berikut: • • • kelainan sistem saraf. Dindingnya mungkin licin atau kasar. Abses paru tampak sebagai rongga dengan bentuk yang tidak beraturan dan di dalamnya tampak perbatasan udara dan cairan. yaitu penurunan suhu tubuh.atau tenggorokan cenderung menghasilkan bau busuk. berarti telah terjadi kegagalan terapi dan sebaiknya dilakukan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut untuk menentukan penyebab dari kegagalan tersebut. Diagnosis Diagnosis abses paru tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejalanya yang menyerupai pneumonia maupun hasil pemeriksaan fisik saja.

kecurigaan adanya tumor atau kelainan bentuk paru-paru bawaan. atau infeksi oleh bakteri. Indikasi pembedahan biasanya adalah kegagalan terhadap terapi medis. mikobakteri maupun jamur yang resisten. Pada infeksi yang berat atau tidak diobati. Pada wanita pasca menopause. Penyebab Infeksi payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan pada kulit yang normal (Staphylococcus aureus). I. Angka ini lebih tinggi jika penderita memiliki gangguan sistem kekebalan. Bakteri seringkali berasal dari mulut bayi dan masuk ke dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan di kulit (biasanya pada puting susu). Pada abses paru tanpa komplikasi sangat jarang dilakukan pembedahan. Sekitar 1-3% wanita menyusui mengalami mastitis pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan. infeksi payudara berhubungan dengan peradangan menahun dari saluran air susu yang terletak di bawah puting susu. bisa terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di dalam payudara). Gejala Gejalanya berupa: .Hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada penderita yang memberikan respon yang buruk terhadap pemberian antibiotik adalah penyumbatan bronkial oleh benda asing atau tumor. Mastitis biasanya terjadi pada wanita yang menyusui dan paling sering terjadi dalam waktu 1-3 bulan setelah melahirkan. kanker paru-paru atau abses yang sangat besar. Saluran yang tersumbat ini menyebabkan payudara lebih mudah mengalami infeksi. Prosedur yang dilakukan adalah lobektomi atau pneumonektomi.4 Infeksi dan Abses Payudara Infeksi payudara (Mastitis) adalah suatu infeksi pada jaringan payudara. Angka kematian karena abses paru mencapai 5%. Perubahan hormonal di dalam tubuh wanita menyebabkan penyumbatan saluran air susu oleh sel-sel kulit yang mati.

pembengkakan salah satu payudara. nyeri bila ditekan. bisa dilakukan mammografi atau biopsi payudara. Pengobatan Dilakukan pengompresan hangat pada payudara selama 15-20 menit. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri (misalnya acetaminophen atau ibuprofen).• • • • • nyeri payudara. kemerahan dan teraba nipple discharge (keluar cairan dari puting susu. pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama dengan demam. untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran. robekan/luka pada puting susu. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pencegahan Untuk mencegah terjadinya mastitis bisa dilakukan beberapa tindakan berikut: • • • Menyusui secara bergantian payudara kiri dan kanan. Kedua obat tersebut aman untuk ibu menyusui dan bayinya. gatal-gatal. Diberikan antibiotik dan untuk mencegah pembengkakan. Jika terjadi abses. Jika tidak sedang menyusui. jaringan payudara membengkak. kosongkan gunakan teknik menyusui yang baik dan benar untuk mencegah payudara dengan cara memompanya. • • • payudara yang terkena. hangat. sebaiknya dilakukan pemijatan dan pemompaan air susu pada payudara yang terkena. 4 kali/hari. bisa mengandung nanah). serta dianjurkan untuk berhenti menyusui. benjolan pada payudara. . biasanya dilakukan penyayatan dan pembuangan nanah.

Penyebab .• • • minum banyak cairan. dan infeksi organ perut lainnya. mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui. Penyebab terjadinya abses panggul sama dengan penyebab terjadinya abses • Biasanya timbul nyeri di daerah terbentuknya abses. di rongga panggul atau di belakang rongga perut. Abses di pertengahan perut bisa terjadi akibat: • • • pecahnya usus buntu.5 Abses Abdomen Abses Abdomen (abses perut) bisa terbentuk di bawah diafragma. Gejala Abses di bawah diafragma terjadi jika cairan yang terinfeksi (misalnya karena pecahnya usus buntu) naik ke atas akibat tekanan perut atau organ perut dan akibat tarikan ketika diafragma bergerak selama proses pernafasan. infeksi atau perforasi usus. nyeri yang timbul ketika menghirup nafas. Abses retroperitoneal (abses di belakang rongga perut) terletak di belakang peritoneum (selaput tipis yang melapisi rongga dan organ perut). dan desakan berkemih atau sering berkemih akibat iritasi kandung kemih. limpa. atau di dalam kelenjar prostat. dan nyeri di bahu (referred pain. diare akibat iritasi usus. menjaga kebersihan puting susu. Gejalanya berupa batuk. I. penyakit divertikulum. di pertengahan perut ditambah dengan infeksi ginekologis (kandungan). Abses juga bisa terbentuk di dalam atau di sekitar organ perut. misalnya ginjal. karena diafragma dan bahu memiliki saraf yang sama dan otak salah mengartikan sumber nyerinya). penyakit peradangan usus. perforasi usus besar. Gejalanya berupa nyeri perut. Penyebab Abses abdomen seringkali terjadi akibat cedera. di pertengahan perut. pankreas atau hati.

yang menyebarkan infeksi ke permukaan dan jaringan di sekitarnya. di punggung atau di bahu sebelah kiri. Nyeri bisa dirasakan di perut sebelah kiri. Kadang penderita merasakan nyeri dalam di pangkal penis dan air kemihnya mengandung darah atau nanah. mual dan muntah. menggigil. Untuk menentukan lokasi yang pasti. air kemih mengandung darah (kadang-kadang). Abses limpa bisa disebabkan oleh suatu infeksi yang terbawa oleh aliran • darah ke limpa. Abses prostat biasanya terjadi akibat suatu infeksi saluran pencernaan yang menyebabkan prostatitis (infeksi kelenjar prostat). Gejala dari abses ginjal adalah: • • • demam. dilakukan pemeriksaan CT scan atau USG. dan penyebaran infeksi dari abses di dekat limpa (misalnya abses dibawah diafragma). Abses hati nanti akan dibahas lagi lebih jauh. Abses prostat paling sering terjadi pada usia 40-60 tahun. Diagnosis Diagnosis abses abdomen ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. nyeri perut. Abses di dalam pankreas biasanya terbentuk setelah suatu serangan pankreatitis akut.terjadinya abses retroperitoneal adalah perdangan usus buntu (apendisitis) dan peradangan pankreas (pankreatitis). . Amuba dari suatu infeksi usus sampai ke hati melalui pembuluh getah bening. Gejalanya berupa demam. cedera pada limpa. nyeri di punggung sebelah bawah. Penderita merasakan nyeri ketika berkemih. Nyeri biasanya dirasakan di punggung sebelah bawah dan semakin memburuk jika penderita menggerakkan tungkainya ke arah pinggul. nyeri ketika berkemih. Abses ginjal bisa disebabkan oleh bakteri yang berasal dari suatu infeksi yang terbawa ke ginjal melalui aliran darah atau akibat suatu infeksi saluran kemih yang terbawa ke ginjal dan menyebar ke dalam jaringan ginjal. sering berkemih atau sulit untuk berkemih. yang seringkali timbul 1 minggu atau lebih setelah penderita sembuh dari pankreatitis. Abses di permukaan ginjal (abses perinefrik) hampir selalu disebabkan oleh pecahnya suatu abses di dalam ginjal. Abses hati bisa disebabkan oleh bakteri atau amuba (parasit bersel tunggal).

Abses ini jarang berasal dari komplikasi amubiasis gastrointestinal. sub tropis dan negara berkembang. Nama lain abses hepar amuba antara lain hepatic amebiasis. Lebar prevalensi infeksi abses hepar amuba sangat bervariasi. Abses Hepar Amuba Abses hepar amuba adalah infeksi hati akibat Entamoeba hystolitica atau akibat komplikasi ekstraintestinal Entamoeba hystolitica yang menghasilkan bentuk pus. nanah harus dibuang. abses hepar piogenik dan abses hepar fungal. parasit (amuba). status sosial ekonomi yang rendah dan status gizi yang kurang baik serta . Berdasarkan penyebabnya diatas. Selain bakteri dan parasit jenis amuba. Biasanya paling sering terjadi pada daerah yang beriklim tropis. extraintestinal amebiasis. sehingga bisa diberikan antibiotik yang paling efektif untuk organisme yang bersangkutan. Tulisan ini hanya akan membahas abses hepar amuba dan abses hepar piogenik. cacing pita Echinococcus merupakan penyebab utama abses hepar. Etiologi dan Faktor Resiko Abses hepar amuba disebabkan infeksi Entamoeba histolytica. I. Entamoeba hystolitica merupakan parasit usus atau protozoa saluran cerna yang juga menyebabkan amebiasis atau disentri amuba. Dilakukan analisa nanah di laboratorium guna menentukan organisme penyebab infeksi. jamur maupun nekrosis steril yang bersumber dari sistem gastrointestinal yang ditandai dengan adanya proses supurasi dengan pembentukan pus (nanah) didalam parenkim hati.6 Abses Hati Abses hepar adalah jenis abses abdomen berupa infeksi pada hati akibat bakteri. Wilayah yang penduduknya padat dan memiliki sanitasi yang buruk. abses hepar terbagi atas abses hepar amuba. abscessamebic liver. Amuba merupakan parasit bersel tunggal.Pengobatan Pada hampir semua kasus abses abdomen. baik melalui pembedahan maupun dengan bantuan sebuah jarum yang dimasukkan melalui kulit. Tropozoid Amuba dengan Pseudopodia.

Dispnue 9. 4. Menggigil 6. kehamilan. penggunaan steroid. Batuk 8. Peninggian diafragma kanan pada foto dada. Hepatomegali yang nyeri spontan atau nyeri tekan 4. Sherlock mengajukan kriteria diagnostik abses hati amuba antara lain: 1. immunosupresi. Diare 10. 5. 7. kadar kolesterol tinggi dan pascatrauma hepar. Gejala abses hepar amuba yang dapat ditemukan antara lain: 1. Demam intermitten 2. Faktor resiko lainnya antara lain malnutrisi. Lekositosis dengan atau tanpa anemia. Malaise 12. Keringat malam 5. usia tua. Gelisah 11. 3. 6. Penurunan berat badan .tempat dimana strain virulen E. Respon baik terhadap metronidasol. uji serologik dan gambaran radiologi. 2. Juga termasuk adanya riwayat menderita infeksi amuba. Tinggal / pernah bepergian di daerah endemik. alkoholisme. Tes hemaglutinasi amuba positip. Gejala dan Diagnosis Diagnosa abses hepar amuba ditegakkan berdasarkan gejala klinik. Mual & muntah 7. Pemeriksaan ultra sonografi sesuai dengan abses. Hepatomegali yang nyeri tekan. Jaundice 13. Nyeri perut kanan atas 3. riwayat mengunjungi wilayah beriklim tropis dan homoseksual. Penurunan nafsu makan 14. hystolitica yang masih tinggi merupakan faktor predisposisi utama atau prevalensi tertinggi. kanker.

Sebanyak 35. Foto rontgen dada 2. tetapi mungkin juga tak ada riwayat pernah menderita dysentri amoeba. leukositosis dan pada tinja dapat ditemukan amuba baik kista maupun tropozoid. Complement fixation test lebih dapat dipercaya dibanding riwayat diare.Keluhan pasien abses hepar amuba terutama demam. Dilain pihak bila hasilnya negatif abses hati amuba dapat disingkirkan. Cairan abses hasil aspirasi berwarna coklat kemerahan (achovy paste atau chocolate syrup) sebagai akibat jaringan nekrotik hepar serta sel darah merah yang dicerna atau mencair. fluktuasi tekan di hati. Umumnya. Beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan untuk diagnosis abses hepar amuba yaitu: 1. Cairan tersebut tidak berbau dan di dalamnya dapat ditemukan bentuk trofozoit E. dan ikterus. nyeri tekan di hati. Prosentase demam sekitar 74%-97%. Demam intermitten merupakan keluhan paling awal dari penderita abses hepar menahun. USG abdomen 3. timbul pelan-pelan atau asimptomatis. Pemeriksaan fisik terutama hepatomegali. juga ada sarjana yang mengatakan kuman penyebab dapat ditemukan pada bahan kerokan dinding abses. pasien pernah berak lendir/darah. Hasilnya akan lebih tinggi jika yang diperiksa bahan kerokan dari dinding abses. pada abses hati amuba dapat dilakukan pemeriksaan serologi (seramuba). Kadang gejalanya tidak khas.50% penderita karena infeksi usus besar seringkali telah mereda saat penderita mengalami abses hepar. demam. pasien merupakan penduduk di daerah endemik atau pernah mengunjungi tempat tersebut meskipun tanpa riwayat diare. dan proktoskopi. sakit di hipokondrium kanan. Kista dan tropozoit pada kotoran hanya teridentifikasi pada 15% . Pemeriksaan laboratorium terutama anemia (Hb kurang 10 gr %). CT scan abdomen 4. hasil uji serologi positip dijumpai pada 85-98 % kasus abses hati amuba. Selain pemeriksaan kuman yang terdapat dalam cairan abses. dan pernah buang air besar lendir darah. pemeriksaan kotoran. MRI abdomen . dan hal ini memberi nilai diagnostik.71%. Histolytica pada 40-50 % kasus. Penderita dengan abses hepar amuba biasanya juga menderita dysentri amoeba atau ada riwayat pernah menderita dysentri amoeba.

Anaerobic streptococci. bacterial liver abscess. Enterococcus. merupakan prosedur yang dilakukan oleh dokter untuk mengangkat atau mengeluarkan kumpulan cairan infeksi (abses) dari bagian tubuh seperti dada. Kebanyakan sumbernya berasal dari feses dengan infeksi Escherichia coli. Drainase juga berguna untuk mengurangi nyeri abdomen. jarum halus dimasukkan ke dalam cairan abses dibawah panduan radiologis seperti CT-Scan. Klebsiella dan pneumoniae. streptococci. Juga diindikasikan untuk perdarahan yang mengancam jiwa penderita. terdapat kontraindikasi pada penggunaan metronidazol seperti kehamilan. tindakan ini dianjurkan bila pengobatan kemoterapi tidak berhasil dalam 3-5 hari. Biopsi hati 7. Abses Hepar Piogenik Nama lain abses hepar piogenik yaitu hepatic abscess. Chloroquin. abdomen.5. Bacteroides. Hitung darah lengkap 6. Kemoterapi menggunakan antiamuba yang kemudian dilanjutkan oleh pemberian Metronidazole. Pembedahan diindikasikan untuk penanganan abses yang tidak berhasil membaik dengan pengobatan. Aspirasi. Haemolytic streptococci. Microaerophilic Staphylococcus. Drainase perkutan. . dan Streptococcus milleri sebagai sumber infeksi primer dari endokarditis bakterial atau sepsis dental. disertai atau tanpa ruptur abses. Uji serologi amuba Pengobatan Pengobatan terhadap penderita abses hepar terdiri dari: 1. Drainase bedah dilakukan pada kasus komplikasi termasuk ruptur abses. bacterial hepatic abscess. Selama prosedur. 3. atau abses yang beresiko mengalami ruptur. atau bacterial abscess of the liver. 2. 4. Tes fungsi hati 8. Etiologi dan Faktor Resiko Kebanyakan pasien abses hati piogenik disebabkan oleh infeksi polimikroba gram negatif aerobik dan anaerobik. atau panggul. dan Dehydroemetine (DHE) dengan dosis yang sesuai.

Kolangitis yang berhubungan dengan batu atau striktur adalah penyebab terbanyak. Pada era pre-antibotik. dan pemeriksaan laboratorium. Apabila abses hepar piogenik letaknya dekat diafragma. Staphylococcus merupakan coccus gram negatif. Anamnesis Dicurigai adanya abses hepar piogenik apabila ditemukan sindrom klinis klasik berupa nyeri spontan pada daerah perut kanan atas. Staphylococcus aureus. Eikenella corrodens. abses hepar piogenik paling banyak berasal dari gangguan saluran empedu. demam / panas tinggi merupakan keluhan yang paling utama. batuk ataupun terjadi atelektesis. 1. Klebsiella pneumoniae dan Streptococcus faecalis merupakan bakteri usus sebagai kuman piogenik. penyebab abses hepar. Selain keluhan nyeri pada kuadran kanan atas abdomen dan disertai syok. yang di tandai oleh pasien berjalan membungkuk ke depan dengan kedua tangan diletakkan di atas daerah tersebut. Abses ini dapat juga berhubungan dengan trauma atau komplikasi prosedur bedah. maka akan terjadi iritasi diafragma sehingga terjadi nyeri pada bahu sebelah kanan. Yersinia enterolitica. Salmonella typhi.Penyebab lainnya adalah Enterobacteriaceae. frekuensi timbulnya abses hepar menurun hingga mencapai 10%. coli. pemeriksaan fisik. Gejala klasik abses hepar piogenik berupa nyeri . diikuti oleh infeksi abdomen yang berhubungan dengan divertikulitis atau apendisitis. Sekarang. Fusobacterium. Aspergillus. Bacteroides dan Clostridium merupakan bakteri anaerob. berkurangnya nafsu makan. Actinomyses. atau usus. Staphylococcus milleri. Diagnosis Penegakan diagnosis abses hepar piogenik dapat ditegakkan melalui anamnesis. Kebanyakan abses hepar piogenik merupakan infeksi sekunder yang berasal dari infeksi abdomen pada apendiks. Brucella melitensis dan fungal. Setelah kemajuan cara diagnosa dan penanganan tercapai. Sekitar 15% kasus abses hepar tidak dapat ditemukan penyebabnya (abses kriptogenik). Candida albicans. rasa mual dan muntah. E. kandung empedu. abses hepar piogenik terjadi akibat komplikasi appendisitis bersamaan dengan pylephlebitis. terjadi penurunan berat badan. dan pemeriksaan radiologi.

anemia. Abses tunggal cenderung mengawali penyakit secara berangsur-angsur dan seringkali bersifat kriptogenik. Pada pemeriksaan USG. 2. Pemeriksaan Fisik Hepatomegali terdapat pada semua penderita. laju endap darah dan percobaan fungsi hati. muntah. peningkatan enzim transaminase dan serum bilirubin. hipoalbuminemia. Peningkatan jumlah sel darah putih dan sedimen eritrosit dengan anemia ringan. Dua pertiga pasien mengalami leukositosis. 4. Infeksi primer (seperti divertikulitis atau apendisitis) dapat berkembang menjadi abses hepar. anoreksia.2% pasien. dan kadang bersepta. Abses multipel dihubungkan dengan ciri-ciri sistemik akut dan lebih mudah teridentifikasi. berkurangnya kadar albumin serum dan waktu protrombin yang memanjang menunjukan bahwa terdapat kegagalan fungsi hati yang disebabkan AHP. dan didalamnya dapat ditemukan kuman penyebabnya pada 30-50 % kasus. USG merupakan alat pemeriksaan penunjang utama pada 92. warnanya tidak terlalu khas. Pengobatan .4%. dan aktivitas transaminase serum dapat abnormal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis yang tinggi dengan pergeseran ke kiri. peningkatan laju endap darah. Pemeriksaan Radiologi Hemidiafragma kanan terangkat pada radiografi dada. termasuk kadar bilirubin total. Sensitifitas USG lebih besar dari 89. Cairan abses hasil aspirasi berbau busuk. malaise dan kehilangan berat badan. demam & keringat malam hari. Tampak bayangan cairan dan udara dengan akustik shadow. jumlah leukosit darah. total protein dan kadar albumin dan globulim dalam darah. bulat atau oval.abdomen. abses hati piogenik tampak sebagai lesi hipoekoik multipel atau soliter. yang teraba sebesar tiga jari sampai enam jari 3. Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan laboratorium yang di periksa adalah darah rutin termasuk kadar Hb darah. USG memperlihatkan abses hati pada 95. tepi tidak rata.9% pasien. seringkali diikuti oleh anemia akibat infeksi kronik dan peningkatan rata-rata sedimen eritrosit. Peningkatan aktivitas alkali phosphatase. peningkatan alkalin fosfatase.

drainase kateter perkutaneus dan aspirasi perkutaneus (percutaneous aspiration).7% kasus menggunakan terapi kombinasi antara antibiotik dan drainase kateter perkutaneus.Abses hepar piogenik dapat diatasi dengan terapi antibiotik atau kombinasi antara antibiotik dengan drainase berupa drainase bedah terbuka (open surgical drainage). BAB II PERITONITIS .3% kasus menggunakan terapi non bedah (drainase aspirasi perkutaneus dan antibiotik) dan 54.1% kasus menggunakan terapi drainase bedah. Kira-kira 69.2% kasus menggunakan terapi konservatif yaitu antibiotik dan 30. Kira-kira 39.

misalnya asam lambung dari perforasi ulkus gastrikum atau kandung empedu dari kantong yang pecah atau hepar yang mengalami laserasi. Hernia inkarserata. Peritonitis bisa terjadi karena proses infeksi atau proses steril dalam abdomen melalui perforasi dinding perut. di antaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Trauma. misalnya pada ruptur apendiks atau divertikulum colon. Penyakit Crohn. limfoma. Apendisitis. Keganasan.1 Pengertian dan Pembagian Peritonitis Dalam istilah peritonitis meliputi kumpulan tanda dan gejala. Keganasan (mis. atau penyakit berat dan sistemik dengan syok sepsis. Trauma. Divertikulum Meckel. . Perforasi batu dari kandung empedu. Divertikulitis.Peritonitis merupakan peradangan membran serosa rongga abdomen dan organ-organ yang terkandung di dalamnya. Trauma Kolon desendens dan apendiks Iskemia kolon. Iatrogenik Iskemia kolon. Iatrogenik Perforasi ulkus peptikum. tergantung penyakit yang mendasarinya. dan tanda-tanda umum inflamasi. Sindrom Boerhaave Perforasi ulkus peptikum. tumor stroma Duodenum Traktus bilier gastrointestinal). Obstruksi loop. Pada wanita. Peritoneum bereaksi terhadap stimulus patologik dengan respon inflamasi bervariasi. Tabel: Penyebab Peritonitis Area Sumber Esofagus Lambung Penyebab Keganasan. Iatrogenik Kolesistitis. batu empedu). II. Iatrogenik Pankreatitis (mis. Keganasan. obat-obatan. Trauma (tumpul dan penetrasi). Adenokarsinoma. Keganasan. defans muskular. peritonitis juga terjadi terutama karena terdapat infeksi tuba falopii atau ruptur kista ovarium. Kista duktus koledokus Pankreas Kolon asendens Trauma. Penyakit ini bisa juga terjadi karena adanya iritasi bahan kimia. Kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Alkohol. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. penyakit ringan dan terbatas. Trauma. Iatrogenik.

peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. II. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh. Trauma Ket: Penyebab iatrogenik umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen. Kadang bisa juga berasal dari trauma endoskopi. Yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen.Volvulus kolon. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang steril. akibat kandidosis tersebut. Isolasi peritoneum pada pasien peritonitis menunjukkan jumlah Candida albicans yang relatif tinggi. Iatrogenik Salping uterus dan ovarium Pelvic inflammatory disease. dan kolon. dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak di antara matriks fibrin. 52%. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi Bacteroides fragilis dan bakteri gram negatif. termasuk pankreas. Saat ini peritonitis juga diteliti lebih lanjut karena melibatkan mediasi respon imun tubuh hingga mengaktifkan systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dan multiple organ failure (MOF). Keganasan. sehingga dengan menggunakan skor APACHE II (acute physiology and cronic health evaluation) diperoleh mortalitas tinggi. Trauma. coli. terutama E. tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen-kompartemen yang kita kenal sebagai abses. saluran empedu. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber. Jahitan operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis.2 Patofisiologi Peritonitis Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intraabdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. .

4 Epidemiologi Sindrom dari peritonitis bakterial spontan umumnya terjadi pada peritonitis akut pada pasien dengan dasar sirosis. II. atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia. penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma kranial.II. (misalnya diabetes berat. Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini bisa saja jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi. Sirosis mempengaruhi 3. nyeri abdomennya berlangsung luas di berbagai lokasi. namun pemeriksaan ini jarang dilakukan pada keadaan peritonitis yang akut. penderita dengan paraplegia. atau kadang samar juga dengan nyeri akibat abses yang terlokalisasi dengan baik. Nyeri ini kadang samar dengan nyeri akibat apendisitis yang biasanya di bagian kanan perut. atau bisa juga memang tegang karena iritasi peritoneum. hingga menjadi hipotensi. atau iskemia usus.6 dari 1000 orang dewasa di Amerika Serikat dan bertanggungjawab terhadap 26000 kematian per tahun. misalnya perforasi lambung. atau HIV). Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. ensefalopati toksik. Penderita tersebut sering merasakan nyeri yang hebat di perut meskipun tidak terdapat infeksi di perutnya. Dinding perut akan terasa tegang. pankreatitis akut yang berat. penggunaan steroid. takikardi. pascatransplantasi. yakni demam tinggi. Perdarahan variseal akut dan peritonitis bakterial spontan merupakan beberapa komplikasi dari sirosis yang mengancam jiwa. Kondisi yang berkaitan yang menyebabkan abnormalitas yang signifikan mencakup ascites dan enselofati . biasanya karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasi yang menyakitkan. syok sepsis. atau penggunaan analgesik). dan penderita geriatri. Tanda-tanda peritonitis relatif sama dengan infeksi berat lainnya. Pada penderita wanita diperlukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatory disease. dehidrasi. Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu. duodenum.3 Tanda dan Gejala Klinis Diagnosis peritonitis biasanya ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum viseral) kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal).

Klebsiella pneumoniae [7%]. spesies Proteus. terutama bakteri gram-negatif (seperti Escherichia coli [40%]. II. Mikroorganisme anaerob ditemukan kurang dari 5% kasus. Kontaminasi dari rongga perut merupakan hasil dari translokasi bakteri melewati dinding usus atau limpa mesenteric dan frekuensi yang lebih kecil terjadi melalui bibit hematogen denan adanya bakteremia. dan spesies gram-negatif lainnya [20%]) dan organisme gram-positif (seperti Streptococcus pneumoniae [15%]. spesies Staphylococcus [3%]) (lihat tabel 1). Lebih dari 90% kasus peritonitis disebabkan oleh infeksi monomikroba. Sekitar 50% pasien dengan sirosis yang menimbulkan ascites meninggal dalam 2 tahun setelah diagnosis. Peritonitis (Tipe) Kelas Bakteri Tipe Organisme E coli (40%) K pneumoniae (7%) spesies Pseudomonas(5%) Primer Gram-negatif spesies Proteus (5%) spesies Streptococcus(15%) spesiesStaphylococcus(3%) Sekunder Gram-negatif spesies Anaerob ( <5%) E coli spesies Enterobacter spesies Klebsiella spesies Proteus spesies Streptococcus spesies Enterococcus Cephalosporin generasi ke-2 Cephalosporin generasi ke-3 Penisilin dengan aktivitas anaerob Quinolon dengan aktivitas anaerob Cephalosporin generasi ke-3 Terapi Antibiotik (yang disarankan) Gram-positif . sekunder. spesies Streptococcus lainnya [15%]. dan tersier. sekunder (berhubungan dengan proses patologis di organ dalam). Peritonitis terjadi karena adanya infeksi intraabdominal yang nyata dan dan hampir kebanyakan terjadi dengan pembentukan ascites dari penyakit kronik hati. tersier (infeksi yang persisten atau berulang setelah terapi yang cukup). spesies Pseudomonas.5 Etiologi Peritonitis Peritonitis diklasifkasian menjadi primer (spontan). Tabel: Mikrobiologi dari peritonitis primer.hepatik.

Organisme gram-positif menonjol di saluran gastrointestinal bagian atas. gejala klinik tidak cukup sensitif atau spesifik untuk membedakan kedanya. Pada pasien tersebut. Kontaminasi dari lengkus distal atau kolon awalnya merupakan hasil dari pelepasan beberapa spesies bakteri (dan jamur). dimana host mengeliminasi dengan cepat kebanyakan organisme tersebut sebagai mekanisme pertahanan tubuh. dimana peritonitis yang disebabkan oleh bakteri gram-negatif dicatat banyak terjadi pada terapi yang lama dari penekanan asam lambung. Dibutuhkan evalusasi cairan peritoneal . Peritonitis hampir selalu disebabkan oleh polimikroba. Spektrum patogen tergantung dari dimana penyakit tersebut berasal. Sebanyak 15% pasien yang memiliki sirosis dan ascites diduga awalnya memiliki peritoitis sekunder. Ini disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) dari organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal.Bacteroides fragilis spesies Bacteroides lainnya Anaerob spesies Eubacterium spesies Clostridium Quinolon dan metronidazol Aminoglikosida dan metronidazol spesies anaerob Streptococcus spesies Enterobacter Cephalosporin generasi ke-2 Gram-negatif spesies Pseudomonas Gram-positif spesies Enterococcus Spesies Staphylococcus Cephalosporin generasi ke-3 Penisilin dengan aktvitas anaerob Quinolon dengan aktifitas anaerob Tersier Fungi spesies Candida Quinolon dan metronidazol Aminoglikosia dan metronidazol Carbapenem Triazol atau amfoterisin (berdasarkan etiologi fungi) (Perubahan terapi berdasarkan pada hasil pembiakan) Peritonitis sekunder sejauh ini adalah bentuk terbanyak peritonitis yang ditemua di klinik. yang terdiri dari campuran bakteri aerob dan anaeron dengan organisme gram-negatif yang menonjol.

dan uji diagnostik untuk menentukan diagnosis dan penanganan yang tepat pada pasien tersebut. dan pengaturan imunosupresan. Misalnya. Pada umumnya. Staphylococcus. and Pseudomonas) ditemukan pada peritonitis tersier. Abses peritoneal menunjukkan pembentukan cairan infeksi melalui eksudat fibrinous. setengah pasien yang lain berkembang menjadi abses sekunder yang kompleks. ischema. Semua dari kasus tersebut. Pasien dengan peritonitis terseir biasanya terjadi dengan abses atau dahak. kontaminasi feses yang signifikan. pembentukan abses sudah pasti menyebabkan infeksi yang persisten (terus menerus) dan berkembang menjadi peritonitis tersier. Peritonitis berkembang lebih sering pada pasien dengan adanya kondisi comorbid yang signifikan dan terjadi juga pada pasien immunocompromised. bahkan ketika operasi ditujukan untuk proses inflamasi akut. Enterobacter. dan atau organ dalam yang berdekatan. tetapi ini juga terjadi di daerah perisplenic. dan di usus besar. pelvis. dan usus parakolik. Terapi antibitotik kurang efektif diberikan pada peritonitis tersier dibandingkan dengan bentuk peritonitis yang lain. resiko pembentukan abses sekitar 10-30%. . diagnosis dan terapi awal peritonitis yang terlambat. Hampir setengah dari pesien peritonitis sekunder berkembang menjadi abses yang masih sederhana tanpa loculation. Selain itu. dengan atau tanpa fistulization. Pasien yang berkembang menjadi peritonitis tersier secara signifikan membutuhkan perawatan ICU. Candida. Meskipun jarang terjadi pada infeksi peritoneal tanpa komplikasi. kejadian peritonitis tersier pada pasien yang membutuhkan perawatan ACU untuk beberapa infeksi sekunder mungkin sekitar 50-74%. Mayoritas yang paling besar dan abses terjadi setelah peritonitis sekunder. Pembentukan abses terjadi lebih sering di daerah subhepatik. banyak organ yang mengalami disfungsi. kebutuhan untuk reoperasi. Kebanyakn pasien dengan peritonitis terseier berkembang menjadi abses yang kompleks. Organisme yang resisten dan luar biasa (seperti spesies Enterococcus. Peritonitis tersier menggambarkan keadaan persisten dari infeksi peritoneal dimana terapi yang cukup untuk SBP dan SP sering tidak disertai dengan patologi organ dalam. dan laju kematian sekitar 50-70%. omentum. Kejadian ini meningkat dengan pembedahan hollow viscus. kejadian pembentuk abses setelah operasi andominal kurang dari 1-2%.

BAB III HUBUNGAN PERITONITIS DAN ABSES Tanda-tanda dan gejala yang mengikuti tumpahan isi usus yang akut ke dalam abdomen cenderung mengalami 2 fase. yakni peritonitis steril atau kimiawi. III. ini terjadi selama 1-2 hari pertama dan jika tidak diobati mengakibatkan angka kematian yang tinggi. misalnya cairan empedu. terdapat pula bentuk peritonitis lain. Fase pertama adalah stadium peritonitis. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia.1 Pengobatan Peritonitis dan Abses Tiga cara utama yang dilakukan untuk perawatan dari infeksi/peradangan intra-abdominal adalah promp drainage. dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (mis.Selain tiga bentuk di atas. dengan nyeri akut yang berkaitan dengan infeksi E coli dan bakteri anaerob fakultatif lainnya. barium. mendukung fungsi-fungsi penting. Jadi abses merupakan tahapan selanjutnya dari peritonitis. Tanda dan gejala klinis serta metode diagnostik dan pendekatan ke pasien peritonitis steril tidak berbeda dengan peritonitis infektif lainnya. Tahap kedua adalah pembentukan abses yang disebabkan oleh B fragilis dan bakteri anaerob obligat lainnya. dan pemilihan anti mikroba yang sesuai untuk infeksi/peradangan tidak yang hilang oleh perawatan. Penyakit Crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen. .

penggunaan aminoglikosida sebaiknya dihindari karena berisiko nefrotoksisitas. • Pada pasien yang kehilangan darah cukup banyak (hematokrit > 25%). output urin yang adekuat dan menghentikan asidosis. pemberian antibiotik selama 5 hari sudah mencukupi untuk sebagian besar kasus. • Manajemen dan Aggressive fluid repletion dibutuhkan untuk mempartahankan dan mengotrol volume intravascular. • Pada beberapa jam di awal terapi. durasi terapi yang optimal belum diketahui. • Satu antimikroba harus dipilih ketika dicurigai adanya infeksi/peradangan intra-abdominal yang mungkin disebabkan oleh mikroba patogen-patogen yang beragam. • Untuk peritonitis primer atau spontaneous bacterial peritonitis (SBP). sebuah studi terbaru menunjukkan. perlu ditransfusikan darah yang berisi sel darah merah Terapi Farmakologi Peritonitis dan Abses Farmakologi • Tujuan terapi antimikroba adalah untuk mengontrol jumlah bakteri dan mencegah perkembangan infeksi. bisa dimulai dengan pemberian sefalosporin generasi ketiga. Meski demikian.Terapi Peritoniotis dan Abses Nonfarmakologi • Peritonitis sekunder membutuhkan operasi correction of the underlying pathology. merupakan element yang paling penting dalam penanganan abses intra-abdominal. pemberian antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur. Setelah itu. tapi dengan catatan penurunan peritoneal fluid WBC hingga µ250 cells/L . mengurangi komplikasi akibat kontaminasi bakteri serta mencegah penyebaran infeksi. Pada SBP. Drainase material yang purulent baik secara operasi maupun disedot melalui subkutan. tapi biasanya direkomendasikan sekitar 10 hari. perlu ditambahkan sejumlah besar infuse sebesar 1 L/jam selama beberapa jam untuk mengembalikan volume intramuskular dan kesesimbangan cairan. Untuk pasien dengan penyakit hati kronis.

pemberian sefalosporin generasi dua atau tiga atau kuinolon. clinafloxacin) juga menunjukkan efek yang baik. Langkah ini sangat penting dilakukan dan cukup membantu untuk mengatasi organisme yang tidak biasa seperti jamur dan organisme yang resisten ( Enterococcus. Golongan penisilin yang berspektrum luas dengan aktivitas anaerob (ampicillin/sulbactam) atau kuinolon yang lebih baru (trovafloxacin. dan kombinasi dari aminoglikosida dan metromidazole seringkali efektif mengatasi infeksi peritonitis. Terapi awal untuk peritonitis sekunder terutama adalah antibiotik yang melawan organisme gram negatif (seperti E coli dan spesies Enterobacteriaceae) dan bakteri anaerob (seperti B fragilis). • Pada infeksi yang didapat dari komunitas. • Untuk kasus-kasus infeksi persisten (peritonitis tersier) dan sakit kritis yang lama terkadang dibutuhkan tindakan lain untuk eradikasi kuman. Namun beberapa studi menunjukkan. bila diberikan pada infeksi tahap akhir. Salah satunya adalah dengan pengambilan cairan peritoneal dan atau abscess cultures. Sedangkan untuk kasus infeksi intra-abdominal parah dan didapat dari rumah sakit (nosokomial).• Sementara untuk peritonitis sekunder dan tersier. antibiotik harus diberikan sesegera mungkin saat diagnosis mengarah pada infeksi peritonitis. dan penggunaan antibiotik yang belum begitu lama. resistant Bacteroides. terapi penekanan asam lambung. Staphylococcus. piperacillin/tazobactam. terapi antibiotik sistemik merupakan terapi utama kedua. yang akhirnya bisa mempengaruhi spektrum mikroorganisme. Kehadiran organisme tak biasa ini diduga karena kondisi sebelum peritonitis. Dengan atau tanpa metronidazole bisa mengatasi infeksi secara adekuat. pemberian imipenem. pemberian antibiotik tidak begitu efektif lagi. dan spesies Candida). imunokompetensi. Oleh karena itu. . Pseudomonas. Pemberian terapi antibiotik sistemik awal (praoperatif) bisa menurunkan secara signifikan konsentrasi dan tingkat pertumbuhan bakteri patogen dalam cairan peritoneal.

Pada uncomplicated peritonitis dengan kontrol awal sumber infeksi yang adekuat. pemberian 5-7 hari sudah cukup untuk sebagian besar kasus. dan respon pasien terhadap terapi. Sedangkan pada kasus ringan semisal early appendicitis. cholecystitis. kecepatan dan keefektifan kontrol sumber infeksi. nilai WBC kembali pada range normal). Menurut hasil sebagian besar studi. Terapi antibiotik harus diberikan untuk jangka panjang pada pasien infeksi peritonitis persisten yang kompleks. pemberian terapi lebih dari 24-72 jam pasca operasi. maka lama pemberian antibiotik yang optimal harus diindividualisasikan dan tergantung pada patologi yang mendasari. Satu hal . terapi antibiotik tunggal sama efektif dengan terapi kombinasi pada infeksi abdominal sedang sampai berat Individualiasasi Lama Terapi Agar memperoleh hasil terapi yang optimal.• Pemberian antibiotik pada peritonitis bisa dilakukan secara tunggal maupun kombinasi. Pada kasus ini. lama seseorang mendapat terapi bervariasi dan sering dikaitkan dengan tanda proses inflamasi (panas badan berkurang selama 24-48 jam.keparahan infeksi.

penting yang harus dilakukan adalah. • • Jangan menahan-nahan untuk buang air.baik penyebab utama maupun penyebab sekundernya. • • • Mengurangi minum alkohol dan obat yang dapat menyebabkan sirosis. . dll. upaya untuk terus mencari dan mengobati dengan agresif semua sumber ekstraperitoneal baru dan sumber intra abdominal menetap. Pencegahan Cara mencegah utamanya adalah menghindari semua penyebabnya. karena padatnya feses dapat Menghindari peritonitis dan abses yang disebabkan pasca operasi dengan menyebabkan appendicitis dan diverticulitis. memakai alat-alat operasi yang bersih dan aseptis. tidak meninggalkan “sisa” pada operasi. Menghindari appendicitis dan diverticulitis dengan memakan banyak serat Menghindari salpingitis dengan cara berhubungan badan yang sehat Karena sirosis dapat menimbulkan PBS (Peritonial Bakteri Spontan) dan makan-makanan yang bersih sehingga terhindar dari penyakit-penyakit kelamin yang akan menimbulkan salpingitis.

2006.. 30 April 2009 15:40: http://emedicine. et al.com http://www.klinikindonesia.Talbert. Joseph Marr. dkk. Boston. sixth edition.net http://medicastore.id .org http://www. Barbara G.com www.DAFTAR PUSTAKA Boyd. Pharmacotherapy: A PAthophysiologic Approach.kalbe. George K. dan J.mamashealth. 2005.co. Robert L.). USA: McGraw-Hill Medical Publishing Division.medscape. Peritonitis and Abdominal Sepsis.com www. Pharmacotherapy Handbook Sixth Edition. Medical Microbiology.conectique. Wells. Ruben. Peritonitis and Drainage A Pathological and Clinical Study. 1980.majalah-farmacia. USA: McGraw-Hill http://ilmukedokteran.warmasif. 1934. USA: Little. Joseph T. Agustus 2006. dan John Fernald. first edition. New York. Gary C. Yee. Brown and Company (Inc. California.id http://www. Robert F. Peralta.co. DiPiro.com http://tbmcalcaneus.com/article/192329-overview Rhodes.com http://www.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->