P. 1
Pengelolaan Sumber Daya Alam Dan Lingkungan Berbasis Pengetahuan Dan Kearifan Lokal

Pengelolaan Sumber Daya Alam Dan Lingkungan Berbasis Pengetahuan Dan Kearifan Lokal

|Views: 236|Likes:

More info:

Published by: Ryo Paidjo Royo-royo on May 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/27/2015

pdf

text

original

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN BERBASIS PENGETAHUAN DAN KEARIFAN LOKAL (LOCAL WISDOM ) DI KALIMANTAN 8

Oleh: Said Fadhil
9

Abstract Improper management of natural resources all this time has caused bad impact towards human beings, such as floods, landslide, forest fire, air contamination and other concerning condition. One of the triggers of these impacts is that management of natural resources done by the government has been conducted without involving the people around the resources itself. This article will portray the practices of local wisdom on how people in Kalimantan manage the natural resources. The identification of the local wisdom is expected to stimulate the government to change the paradigm of natural resources management by using a continuing development concept with regard to continuity, balance and preservation principles supported by applying traditional knowledge and wisdom of local society. Key Word: Sumber Daya Alam, Kearifan Lokal

Latar Belakang
Bumi beserta isinya yang berupa Sumber Daya Alam (SDA) merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia untuk dapat dimanfaatkan dan dikelola secara arif dan bijaksana guna menopang kehidupan manusia sehingga perlu dipelihara dan dilestarikan. Dalam pemanfaatan SDA tentunya diperlukan pengelolaan yang baik agar kelangsungan sumber daya alam tersebut dapat menjadi koeksistensi secara suistainable dan saling menguntungkan (mutualisme) antara sumber daya alam tersebut dapat lestari dan manusia sebagai pengguna dapat memperoleh manfaat tanpa harus merusak alam sekitarnya. Namun dalam prakteknya berbagai fakta dan data menunjukkan bahwa keberlangsungan dan kelestarian sumber daya alam dewasa ini sangat memprihatinkan. Banjir dan longsor kini telah rutin dan menyebar di seluruh Indonesia. Dalam tahun 2003 saja, telah terjadi 236 kali banjir di 136 kabupaten dan 26 propinsi, disamping itu juga terjadi 111 kejadian longsor di 48 kabupaten dan 13 propinsi. Dalam tahun yang sama tercatat 78 kejadian kekeringan yang tersebar di 11 Propinsi dan 36 Kabupaten (KLH, 2004). Dalam periode itu juga, 19 propinsi lahan sawahnya terendam banjir, 263.071 Ha sawah terendam dan gagal panen, serta 66.838 Ha sawah puso. Data lain menunjukan bahwa Indonesia tergolong negara yang kawasan hutan tropisnya hilang dalam waktu tercepat di dunia. Laju deforestasi terus meningkat
8

Tulisan ini merupakan saduran dari hasil penelitian PKP2A III LAN dengan tema “Pola Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Berbasis Kearifan Local (Local Wisdom) di Kalimantan” dimana dalam kegiatan penelitian tersebut penulis adalah sebagai anggota tim Peneliti. Said Fadhil, SIP, adalah Staf Peneliti Pada PKP2A III LAN Samarinda dan Dosen Luar Biasa Pada Universitas Widyagama Mahakam Samarinda

9

72

mencapai rata-rata 2 juta ha per tahun. Tipe hutan tropis ini dalam waktu dekat dipastikan hampir seluruhnya lenyap di Sulawesi dan Sumatera, dan di Kalimantan diperkirakan akan lenyap pada tahun 2010, jika laju deforestari tersebut terus berlangsung. Disamping itu hampir setengah dari luas hutan di Indonesia sudah terfragmentasi oleh jaringan jalan, jalur akses lainnya, dan berbagai kegiatan pembangunan, seperti pembangunan perkebunan dan hutan tanaman industri. Akibat lanjutannya dari kerusakan lingkungan (SDA) adalah fungsi lingkungan hutan yang mendukung kehidupan manusia terabaikan, beragam kehidupan flora dan fauna yang membentuk mata rantai kehidupan yang bermanfaat bagi manusia menjadi rusak dan hilang. Semua ini mengakibatkan timbulnya ketidakadilan dan kesenjangan mengakses manfaat pembangunan bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan. Jika kita melihat kembali kepada pengelolaan sumber daya alam yang telah dilakukan selama ini, sistem pengelolaan sumber daya alam yang diterapkan di Indonesia pada umumnya dan Kalimantan khususnya, lebih kepada pendekatan dimana negara ataupun daerah dalam hal ini pemerintah lah yang mempunyai kewenangan dalam pengelolaan sumber daya alam tanpa mempertimbangkan dan melibatkan masyarakat sekitarnya sehingga pada saat terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di lapangan, masyarakat disekitarnya tidak akan peduli dan tidak akan bertindak untuk menjaga kelestariannya bahkan malah akan turut terlibat dalam perusakannya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada tanpa memperhatikan kelestariannya. Kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang diterapkan oleh pemerintah dengan pendekatan top down dan struktural tersebut, dengan sendirinya terkadang mengabaikan kepentingan masyarakat yang tinggal disekitarnya dan kurang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi langsung dalam proses pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan tersebut. Di lain pihak, lemahnya dan makin lunturnya kepedulian masyarakat (community awareness) untuk mengelola sumber daya alam dan lingkungan secara lestari dan memecahkan persoalan-persoalan bersama yang ada terkait dengan permasalahan sumber daya alam dan lingkungan. Dengan kata lain, kebijakan pemerintah dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan selama ini belum mampu menumbuhkan rasa memiliki dan keinginan dari masyarakat disekitar lingkungan tersebut untuk turut menjaganya. Itulah sebabnya, implementasi suatu kebijakan yang penerapannya berhubungan langsung dengan sumber daya alam dan kehidupan masyarakat, justru sering ditolak dan menimbulkan konflik vertikal yang kontra-produktif. Hal seperti ini sungguh sangat ironis di era otonomi luas seperti saat ini. Sedangkan penerapan desentralisasi yang banyak dilakukan pada era otonomi saat ini hanya merupakan penyerahan wewenang yang semu dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, sedangkan dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, pemerintah daerah tidak melibatkan masyarakat sekitar, kalaupun ada hanya kegiatan dengan skala kecil dan untuk daerah tertentu saja. Bahkan kebijakan desentralisasi (otonomi) yang diharapkan mempercepat lajut pembangunan dan peningkatan perekonomian secara merata di seluruh daerah, secara tidak langsung justru turut juga mempercepat kerusakan sumber daya alam dan lingkungan karena adanya pemegang wewenang baru didaerah-daerah yang berkeinginan membangun daerahnya masing-masing dengan segera sehingga melakukan eksploitasi secara besar-besaran terhadap sumber daya alam tanpa

73

Dengan metode baru ini. Pertama. yaitu. Oleh karena itu. sumber daya alam harus dimanfaatkan secara hati-hati karena 10 Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi. peran pemerintah dapat dikurangi secara signifikan. Jakarta. pandangan konservatif atau sering disebut sebagai pandangan pesimis atau perspektif Malthusian. Akhmad Fauzi membagi pemahaman terhadap sumber daya alam. upaya ini juga dapat menumbuhkan rasa saling percaya (trust) diantara masyarakat dengan pemerintah. Dalam pandangan ini. Dalam pandangan ini. Dengan model “kerjasama” tersebut. Ini berarti pula bahwa kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan yang besar namun dalam tempo waktu yang tidak lama kemudian habis dan meninggalkan permasalahan yang mengancam kelangsungan kehidupan sendiri. Konsepsi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Dalam bukunya 10 . Ini berarti pula bahwa kebijakan Pemerintah lebih mampu “memanusiakan” kelompok-kelompok marginal masyarakat yang berada di sekitar sumber daya alam tersebut. kedalam dua pandangan yang berbeda. Pendekatan kebijakan yang sifatnya sentralistik dari pemerintah sebagai pemegang kewenangan kepada masyarakat perlu direvisi dengan metode yang lebih kolaboratif dan melibatkan peran langsung warga. langkah terpenting yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan partisipasi masyarakat setempat.memperhatikan kelangsungan sumber daya alam dan lingkungan serta masyarakat disekitarnya. perlu dibentuk kelompok-kelompok masyarakat di sekitar sumber daya alam yang kemudian seharusnya menjadi mitra atau “rekanan” Pemerintah dalam pengelolaan dan penjagaan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan tersebut. Dengan demikian. 2004. diharapkan dapat menghasilkan output berupa tetap terjaganya sumber daya alam dan lingkungan tersebut. Pada saat yang bersamaan. Dengan pola pengelolaan seperti ini. Dengan kata lain. PT Gramedia Pustaka Utama. kebijakan yang partisipatif dan memperhatikan normanorma sosial budaya yang berlaku pada masyarakat akan mengantarkan pada menguatnya kepedulian dan kontrol sosial masyarakat untuk mengatasi masalahmasalah pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. resiko akan terkurasnya sumber daya alam menjadi perhatian utama. tetapi harus pula mengacu pada pengelolaan sumber daya dan lingkungan secara berkelanjutan (suistainable) dan lestari. 74 . sekaligus mengembangkan jaringan kerja (network) yang harmonis serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat. perlu adanya upaya untuk mendeteksi hal-hal yang ada dan berkembang di masyarakat mengenai pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan berbasis pengetahuan dan kearifan local (local wisdom) dimasing-masing daerah untuk kemudian dikembangkan sehingga hal tersebut dapat diterima oleh masyarakat dan akan dapat menunjang program pemerintah dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan secara baik dan lestari. sehingga sumber daya aparatur yang ada dapat dimanfaatkan secara lebih produktif untuk sektor-sektor yang lebih membutuhkan. dan terberdayakannya masyarakat yang bertempat tinggal disekitarnya sehingga kehidupan sosial ekonomi masyarakat juga meningkat. serta berkurangnya beban pengawasan oleh pemerintah untuk secara langsung di lapangan dalam kegiatan penjagaan yang sesungguhnya bisa diserahkan kepada masyarakat sendiri.

hutan. Hal ini terbukti dari alokasi berbagai potensi sumber daya alam seperti pertambangan. Konsekuensi atas konsepsi ini adalah bahwa akses untuk mendapatkannya harus terbuka untuk sebanyak mungkin pelaku ekonomi dan masyarakat luas. maka kemanfaatannya menjadi sangat terbatas pula. Namun. Dalam pandangan ini dikemukakan antara lain: SDA dianggap sebagai mesin pertumbuhan (engine of growth) yang mentransformasikan sumber daya ke dalam man-made capital yang pada gilirannya akan menghasilkan produktifitas yang lebih tinggi di masa datang. Pengalaman Indonesia selama ini memperlihatkan bahwa kontrol pemerintah pusat sangat kuat sehingga kemanfaatannya pun terbatas pada kalangan dekat birokrasi pusat tersebut. yaitu pertama. Pola pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Jenis public goods seperti ini harus dikelola secara transparan dan diawasi secara terbuka. dan peningkatan teknologi daur ulang sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap pengurasan sumber daya alam. Di sisi lain. jika kendali pengelolaannya dilakukan pemerintah saja tanpa kontrol yang memadai dari pihak masyarakat. hal ini akan tercermin dalam dua indikator ekonomi. yakni meningkatnya baik itu harga output maupun biaya ekstraksi per satuan output. Meningkatnya harga output akibat meningkatnya biaya per satuan output akan menurunkan permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan sumber daya alam. sedangkan pendekatan yang kedua. ketika proses diminishing return ini terjadi. Dengan demikian. Jika sumber daya menjadi langka. untuk mengembangkan inovasi-inovasi seperti pencarian deposit baru. sumber daya alam merupakan barang publik (public goods). Dalam perspektif Malthus. Sementara produksi dari sumber daya alam akan mengalami apa yang disebut dalam teori konvensional sebagai diminishing return dimana output perkapita akan mengalami kecenderungan yang menurun sepanjang waktu. kombinasi dampak harga dan biaya akan menimbulkan insentif untuk mencari sumber daya substitusi dan peningkatan daur ulang. Selain itu. Pandangan kedua. standar hidup juga akan menurun sampai ke tingkat subsisten yang pada gilirannya akan mempengaruhi reproduksi manusia. peningkatan harga output menimbulkan insentif kepada produsen sumber daya alam untuk berusaha meningkatkan supply. melalui kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kemudian diterapkan dilapangan dengan disertai aturan-aturan dan konsekuensi dalam pelaksanaannya sehingga pemerintah beserta aparat akan berperan sebagai subjek sedangkan sumber daya alam dan masyarakat akan menjadi objek yang hanya mengikuti ketetapan pemerintah. pada umumnya dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Principle of Population diterbitkan. sumber daya alam yang jumlahnya terbatas ini tidak akan mampu mendukung pertumbuhan penduduk yang cenderung tumbuh secara eksponensial.karena ada faktor ketidakpastian terhadap apa apa yang akan terjadi terhadap sumber daya alam untuk generasi yang akan datang. Menurut Malthus. karena ketersediaan sumber daya alam sangat terbatas. peningkatan efisiensi produksi. adalah pandangan eksploitatif atau sering juga disebut sebagai perspektif Ricardian. Pandangan ini berakar pada pemikiran Malthus yang dikemukakan sejak tahun 1879 ketika bukunya yang tersohor itu. perikanan dan sebagainya (Rachbini: 2003). Keterbatasan supply dari sumber daya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dapat disubstitusikan dengan cara intensifikasi (eksploitasi sumber daya secara intensif) atau dengan cara ekstensifikasi (memanfaatkan sumber daya yang belum dieksploitasi). 75 . Kemudian dalam hirarki konseptual.

dan terjadinya kekeringan adalah akibat dari pola-pola pengelolaan lingkungan atas dasar kepentingan sesaat yang tidak berorientasi kedepan. maka sumber daya alam (hutan) termasuk sumber daya alam yang ‘dikuasai’ oleh pemerintah pusat yang dikelola secara sentralistis. sementara daerah mendapat bagian yang sangat kecil bahkan untuk daerah penghasil khususnya masyarakat hanya menjadi penonton dan penerima dampak langsung yang ditimbulkan oleh pengusahaan hutan.mulai dari pusat hingga daerah -. Akibat cara pandang yang cenderung eksploitatif tersebut. perubahan paradigma pembangunan khususnya pola pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan dan berkesinambungan dengan mengacu kepada prinsip kesinambungan. Masyarakat seperti terhipnotis oleh lakon pejabat -. Pada era tersebut para penyelenggara negara selalu memandang sumber daya alam. Praktek pola pengelolaan SDA secara sentralistik mewarnai perjalanan sejarah pembangunan di Indonesia dan telah memberikan dampak yang cukup luas. Bukti-bukti empiris seperti yang terjadi saat ini seperti banjir bandang di berbagai pelosok republik yang terjadi secara terus menerus. peristiwa tanah longsor. keseimbangan dan kelestarian merupakan pilihan yang harus dipilih oleh pemerintah. World Commission on Environment and Development (WCED) atau Brundtland Commission memberikan definisi pada prinsip pembangunan berkelanjutan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan 76 . Salah satu dampak yang sangat dahsyat akibat sentralisasi pemerintahan dan manajemen pemerintahan Orde Baru adalah hilangnya inisiatif lokal dan masyarakat dalam mengcreate dan mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya seperti potensi hutan yang dimilikinya. Artinya penerima manfaat yang besar adalah pemerintah pusat dan pengusaha. termasuk hutan sebagai sumber daya sebagai engine of growth atau sebagaimana pandangan yang dianut oleh ilmuwan ekonomi konvensional seperti Adam Smith dan David Ricardo.adalah dilakukan desentralisasi pengelolaan SDA oleh pemerintah kepada masyarakat. sehingga masyarakat akan turut berperan secara langsung dan turut menjadi subjek dalam pengelolaannya sehingga akan tumbuh rasa memiliki dan keinginan turut menjaga kelestariannya. dimana hutan sebagai potensi ekonomi yang dilihat sebagai potensi kayu yang memiliki nilai ekspor tinggi. Kebijakan pemerintah untuk mengelola hutan secara legal mendorong praktek ekstraksi sumber daya hutan. Akan tetapi masyarakat menilai berbagai potensi yang ada dalam hutan akan menyelamatkan generasi masa mendatang karena hutan masyarakat bisa hidup dan menyelamatkan generasi yang akan datang. Bahkan masyarakat seringkali menjadi kambing hitam sebagai penyebab dampak negatif yang ditimbulkan oleh praktek-praktek swasta (pengusaha hutan) dan kebijakan pemerintah Praktek sentralisme dan ketertutupan birokrasi tersebut juga berdampak buruk pada pola pengelolaan sumber-sumber potensi ekonomi yang cenderung mengabaikan kepentingan masyarakat banyak dan tidak memperhitungkan dampak yang ditimbulkan akibat rusaknya ekosistem yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di masa datang. Memperhatikan kondisi tersebut. pengelolaan sumber daya alam khususnya sumber daya hutan sangat ditentukan oleh pemerintah pusat.yang secara semena-mena dan tanpa mempertimbangkan ekosistem dan nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang sejak turun-temurun dimiliki masyarakat dan telah berinteraksi dengan ekosistem hutan yang menurut mereka sebagai bagian dari matapencaharian lestari. Dengan sistem pemerintahan yang sentralistik. Padahal disisi lain masyarakat tidak memandang hutan sebagaimana cara pandang pengusaha dan pemerintah pusat pada saat itu.

Kedua. khususnya bahan berbahaya dan beracun. sumber alam genetik akan menjadi sumber daya alam yang amat menentukan pembangunan yang akan datang (Salim. Forum diskusi sepakat untuk menerapkan prinsip keterbukaan. pengembangan kualitas penduduk. keserasian kualitatif dan keserasian wawasan. sebagai berikut: Pertama.sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi-generasi mendatang memenuhi kebutuhan sendiri”. melainkan juga sumber genetik tersebut. Hal ini penting karena pada awal abad 21. gerakan reformasi di sektor kehutanan telah merubah paradigma maupun konstelasi pelaku pengelolaan hutan yang teraktualisasi melalui kebijakan desentralisasi pengelolaan sumber daya hutan berbasis masyarakat dengan instrumen pendukung berupa sistem pendekatan partisipatif yang bersifat bawah atas (bottom up). sehingga pengelolaan hutan itu tidak hanya memperhatikan kayu-kayunya. tingkat kematian. yang merupakan sumber alam genetik (genetic resource). 1992 dan Rachbini. tanah dan air. yang mencakup pengendalian jumlah penduduk atau kualitasnya (tingkat kelahiran. partisipasi dan akuntabilitas publik dalam penetapan setiap kebijakan pengelolaan hutan serta menerapkannya secara konsisten dan non diskriminasi. baik oleh masyarakat asli (indigenous people) ataupun pendatang (migrants).id/artikel_34. Salah satu persoalan yang paling menonjol dalam manajemen kehutanan adalah terjadinya kebakaran hutan. di wilayah pantai (coastal zone) 11 Dikutip dari http://www. serta pengembangan keserasian kuantitatif. dari pola sentralistis kearah yang lebih desentralistik dengan mengedepankan otonomi masyarakat adat. sebagai implikasi kebijakan yang penting untuk dipikirkan para pengambil keputusan pembangunan.goodgovernance-bappenas. Sektor Kehutanan Secara umum dapat dikemukakan adanya pergeseran paradigma dalam manajemen kehutanan. penyeragaman dan paternalistik dengan paradigma pengelolaan hutan yang berorientasi pada hasil hutan berupa kayu semata (timber extraction) telah memarginalkan peran dan keberadaan masyarakat adat. dan tingkat kesakitan). Pengelolaan SDA Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Berau. terdapat tiga langkah. pengelolaan mobilitas perpindahan penduduk kedaerah dan ke kota. Namun. berkenaan dengan pengelolaan dampak pembangunan terhadap lingkungan yang mencakup penerapan analisis dampak pembangunan terhadap lingkungan. Kalimantan Timur 1. baik secra fisik maupun non fisik yang menyangkut kualitas pribadi maupun kualitas bermasyarakat. 2001). Kasus ini sebagian besar disebabkan oleh praktek tebas bakar (slash and burn agriculture) dalam berbagai bentuk. menurut Emil Salim. Pengelolaan hutan harus mencakup sumber hayati plasma nuftah. berkenaan dengan pembangunan sumberdaya manusia (human resources development). mengakui kemajemukan (pluralism) dan bersifat sejajar (equality). Selama masa Orde Baru. pengendalian pencemaran. Ketiga. berkenaan dengan pengelolaan sumber daya alam (resource management) dengan tekanan pada pengelolaan hutan. maupun pengelolaan lingkungan binaan manusia (man made environment) seperti kota. kebijakan pembangunan kehutanan yang berlandaskan faham sentralistik.go. definisi tersebut tercantum dalam Laporan Brundtland Commission Our Common Future yang diterbitkan pada tahun 1987 11 . waduk dan lain sebagainya.htm 77 . Terlepas dari perdebatan interpretasi pendefinisian pembangunan berkelanjutan tersebut.

Cara pewarisannya secara umum melalui cerita. Kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari sangat tergantung pada hutan yaitu sebagai salah satu sumber penghidupan sehingga sangat dijaga kelestariannya. Meskipun demikian pada saat ini muncul kendala yang mengakibatkan proses pewarisan teknologi tersebut tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar. tanah merupakan bagian dari suatu lingkungan yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Hutan. Alasan utama masih digunakannya api pada saat pembukaan ladang terutama pada aspek kemudahan pengerjaan dan pembiayaan bila dibandingkan dengan cara lainnya. Dalam kegiatan membakar ladang api sangat diperlukan terutama sekali untuk membersihkan sisa-sisa dari kegiatan merintis/menebas ladang. emlalui implementasi pengetahuan tradisional (traditional knowledge) atau kearifan lokal (local genius). dilakukan dengan mengikuti aturan adat yang berlaku. Penggunaan api dipergunakan juga untuk kegiatan berburu. pengokot. baik dari gangguan pihak luar maupun terhadap ancaman kebakaran. Beberapa peralatan yang dipergunakan oleh masyarakat lokal seperti suku Dayak Benuaq diantaranya. Dalam kegiatan perladangan. tetapi sebagai subyek bagi adaptasi manusia untuk berakar pada adaptasi kehidupan yang selaras dengan kosmos. terutama yang berhubungan dengan penggunaan api pada saat pembakaran lahan. Bagi masyarakat lokal khususnya suku dayak. pembakaran ladang maupun saat berburu. Peralatan ini pada umumnya hanya digunakan untuk mengendalikan api yang kecil terutama sekali mencegah menjalarnya api pada saat pembakaran ladang. Suku lokal ini telah mempraktekkan pengetahuan yang dimilikinya dalam pengendalian api selama kegiatan perladangan. terdapat nilai budaya yang harus ditaati saat akan membuat ladang. Teknologi penggunaan api (Marepm Api dalam bahasa Dayak Benuaq) di masyarakat lokal telah dikenal lama dan diaplikasikan dari generasi ke generasi. kiba. sehingga resiko kebakaran saat ini terdapat dimana-mana. dan dengan demikian teknologi pengendalian api telah dikenal secara baik. serta dipergunakan secara efektif dalam mencegah kebakaran. pemberian contoh secara langsung dan pelibatan generasi muda oleh generasi yang lebih tua. dan kegiatan lainnya dalam tatacara membuka ladang. pocet. kegiatan membakar yang merupakan bagian dari sistem perladangan telah dipraktekkan/dilakukan oleh masyarakat secara turuntemurun. termasuk suku Berau di Berau. agit. gawaakng. Bila terjadi kebakaran hutan pada saat pembukaan ladang biasanya ada unsur kesengajaan dan 78 . hutan memiliki nilai yang sangat sakral selain sebagai sumber penghidupan. Alat tradisional yang selama ini digunakan untuk pengendalian api dalam kegiatan pembukaan ladang tidak memadai untuk digunakan dalam pemadaman kebakaran hutan yang besar. Kendala yang dihadapi masyarakat lokal secara umum dalam kegiatan pemadaman kebakaran hutan yang besar adalah minimnya peralatan. Beberapa pengalaman yang terjadi diungkapkan dibeberapa kelompok masyarakat lokal yang ada di Kaltim. api digunakan untuk memudahkan pembersihan lahan yang secara khusus dilakukan pada tahap-tahap awal kegiatan perladangan. memancing. dan suku Dayak Blusu di Bulungan yang secara geografis berdekatan dengan masyarakat Berau. topoq. dan memukat. Oleh karena itu perladangan yang merupakan salah satu aktivitas yang memanfaatkan lahan hutan. Selain itu. mandau. dalam penggunaan api. beliung. Sumber daya sekitar hutan tidaklah dipandang sebagai obyek yang harus dieksploitasi. pemupar apuy.ataupun pedalaman (remote areas) yang ada di Kaltim.

Berau juga merupakan satu dari tempat peneluran penyu hijau dan sisik terbesar di Asia Tenggara. dan bagian dalam NEBFS (North East Borneo Functional Seascape). Beberapa permasalahan yang sering ditemui antara lain adalah. disamping memiliki Danau Laut yang unik dengan Ubur-ubur endemik. Dalam konteks internasional. Artinya. Meningkatkan produksi pertanian. Sektor Kelautan. Ketersediaan bahan pangan hewani maupun nabati. Mengantisipasi terjadinya kebakaran. memberikan perhatian terhadap kualitas hasil penelitian. Salah satu prinsip utama dari pengembangan MF ini adalah menghargai nilainilai pengetahuan masyarakat setempat. Total spesies ikan laut sebanyak 1051 spesies. Berau memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang luarbiasa sebagai bagian dari SSME (Sulu-Sulawesi Marine Ecoregion). diantaranya Ikan Karang sebanyak 832 species. sehingga mereka bisa memainkan peranan penting dalam memberikan kontribusi kearah kelestarian sumber daya dan kesejahteraan masyarakat. 2. Selain itu. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Berau merupakan salah satu daerah yang sangat kaya dengan potensi perikanan (baik darat maupun laut). Model Forest adalah konsep pengelolaan hutan berbasis lahan. Tujuan yang ingin dicapai dari konsep MF ini antara lain adalah terwujudnya kelestarian sumber daya hutan. dan membaginya dengan para anggota dan mitra dari jaringan model forest. Terjaminnya keberlanjutan mata pencaharian masyarakat. Aturan adat ini pada dasarnya tidak tertulis dan berasal dari aturan kegiatan pengendalian api pada masyarakat saat proses pembakaran ladang. peningkatan keuntungan ekonomi dan jasa lingkungan. kesemuanya akan dikenakan sanksi dari hasil keputusan adat dan berlaku untuk semua masyarakat baik di kampung maupun orang luar termasuk perusahaan. ada beberapa hal yang terkait dengan aturan adat yang ada pada masyarakat tradisional di Kaltim. namun cukup banyak persoalan yang dihadapi oleh Pemkab Berau. Pengambilan penyu dewasa dan eksploitasi telur penyu. dimana hutan sebagai salah satu sumberdaya atau nilai utamanya.kelalaian. Peta potensi sumber daya kelautan di Berau ini dapat dilihat dalam Gambar dibawah ini. Terpeliharanya sistem tata air / sumber air bagi masyarakat. aturan adat dalam pengendalian api biasanya sangat ditaati masyarakat mengingat aturan tersebut dibuat untuk dilaksanakan. Meskipun potensi sumber daya lautnya sangat melimpah. kemitraan MF dan program-programnya menghargai nilai-nilai pengetahuan yang dipunyai oleh masyarakat setempat termasuk wanita dan penduduk asli. dan Perubahan penggunaan 79 . dan Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam berorganisasi serta dalam memenuhi kebutuhan sosial ekonomi. melalui suatu bentuk kemitraan sukarela dari berbagai pihak yang mempunyai kepentingan dalam pengelolan hutan lestari. baik disengaja maupun tidak. walaupun sudah menurun. wanita dan penduduk asli. berjalannya proses pendidikan publik/masyarakat. maka program MF diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat berupa. Dengan pola partisipatif dan penghargaan terhadap nilainilai tradisional ini. Salah satu langkah penting dalam perlindungan dan sekaligus pemanfaatan hutan secara lestari adalah diperkenalkannya konsep Model Forest (MF). Berkaitan dengan kebakaran hutan maupun lahan. serta menemukan keseimbangan antara keuntungan ekonomis dengan kebutuhan lingkungan. Perikanan ilegal dan merusak. Tersedianya bahan obat-obatan alami.

35/2001 dan No. Sebagai akibat dari berbagai persoalan diatas. melalui program seperti rehabilitasi terumbu karang dan kebersihan lingkungan laut.60/2346-Um/XII/2001. maupun milik pribadi. serta penjabaran SK Mentan No. Meskipun demikian. • Open access dan shared resource. pesisir laut. didefinisikan sebagai kumpulan pulaupulau kecil yang terletak di sepanjang kawasan pesisir dan lautan Kabupaten Berau. didefinisikan sebagai wilayah perairan yang berupa laut lepas dan perairan pantai • Zona Kepulauan dan Pulau-Pulau Kecil. 604/Kpts/Um/8/1982 tentang Kawasan Konservasi Pulau Semama (Cagar Alam) dan Pulau Sangalaki (Taman Wisata Laut) di Berau. salah satu upaya yang telah dilakukan oleh Pemkab Berau yakni dengan mengeluarkan SK Bupati No. Berbagai kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari program nasional tentang KKL (Konservasi Kawasan Laut). telah diterbitkan pula SK Bupati No. Hal ini bersesuaian dengan tujuan jangka panjang pembangunan kawasan konservasi laut Kabupaten Berau yang berbasis masyarakat (community-based conservation program). yakni suatu prinsip bahwa kekayaan sumber daya kelautan terbuka untuk siapa saja dan tidak dapat dibagi-bagi (indivisible) diantara segmen masyarakat.36/2002 tentang Konservasi Penyu untuk Pulau Derawan dan Sangalaki. Problema illegal fishing (penangkapan ikan dengan cara merusak atau oleh pihak asing yang tidak memiliki ijin) dan over fishing (penangkapan ikan secara berlebihan) sendiri antara lain disebabkan oleh faktor-faktor berikut: • Peningkatan jumlah penduduk (alami maupun migrasi). 80 . Beberapa saat sebelumnya. hanya saja masih belum optimal. • Gagalnya manajemen konvensional. Dalam kaitan ini.70/2004 tentang Penetapan Pulau Kakaban sebagai Kawasan Konservasi. pola pengelolaannya sudah mengakomodir kemungkinan hak milik baik bagi kelompok adat. beberapa hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam mendukung program KKL/KPL sebagai wujud implementasi local wisdom (kearifan lokal) antara lain adalah: • Peningkatan kepedulian penduduk sekitar dan pendatang. Baik pesisir daratan. pemerintah tetap memiliki fungsi regulasi dalam hal pemanfaatan sumber daya kelautan. dan Tanpa milik. No./ peruntukan lahan serta pembangunan wilayah pesisir dan obyek wisata secara massal. terdapat 4 (empat) pola kepemilikan lahan / wilayah / sumber daya alam sebagai berikut: Kelompok milik negara. telah mengakibatkan kebutuhan terhadap konsumsi ikan menjadi naik secara signifikan. pemanfaatan dan pengembangan kawasan pesisir dibagi menjadi 3 (tiga) zonasi. didefinisikan dan didelineasi sebagai kumpulan kelurahan/desa pesisir • Zona Pesisir Laut. Sementara itu dari sektor pesisir. Milik pribadi / swasta. Milik bersama. atau sering dikenal dengan istilah Large Scale Marine Protected Area (LS-MPA). maupun wilayah kepulauan dan pulau-pulau kecil. Untuk mengatasi kondisi tersebut. Penerapan KKL atau KPL (Kawasan Perlindungan Laut) tersebut hanya dapat berhasil jika mengikutsertakan masyarakat selaku subyek utama. Dalam kaitan ini. • Menciptakan apresiasi publik terhadap kekayaan alam laut (terumbu karang). dimana fungsi monitoring dan pengendalian oleh pemerintah masih lemah. maka kelestarian dan keberlangsungan fungsi keanekaragaman hayati kelautan menjadi terancam. yaitu: • Zona Pesisir Daratan.

Pulau Samama. kima. matinya biota renik dan lunak di karang ataupun danau akibat aktivitas mereka. Selain Pulau Derawan. Pulau Sangalaki. lumba-lumba. Kepulauan Derawan terletak di semenanjung utara perairan laut Kabupaten Berau. Kakaban tergolong langka. Pulau Kakaban yang telah ditemukan suku Bajau sejak dulu. dan Pulau Maratua. yang terdiri dari beberapa pulau yaitu Pulau Panjang. di Mikronesia. kima. matinya tumbuhan. duyung. Berau juga memiliki Pulau Kakaban yang tidak kalah atraktif dan spektakuler. Selain itu. Ikan puntang. Gangguan yang terus-menerus apalagi dalam jumlah besar akan membuat kerusakan di kawasan itu bersifat permanen. Memasuki Danau Kakaban bagaikan terlontar ke jaman purba. Dengan demikian jelaslah bahwa pengelolaan pulau-pulau kecil sangat penting dilakukan untuk tujuan-tujuan sosial budaya (seperti pendidikan dan penelitian). Pulau Raburabu. Sebagai satu kesatuan ekosistem Kepulauan Derawan. Di Kepulauan Derawan terdapat beberapa ekosistem pesisir dan pulau kecil yang sangat penting yaitu terumbu karang. paus. Secara geografis. Bentuk pengelolaan kawasan ini adalah berbasiskan masyarakat sehingga menjamin pemanfaatan sumber daya yang ada dan sekaligus dengan adanya kawasan-kawasan yang dilindungi oleh masyarakat sendiri. tak dapat pulih kembali. Sebagai pulau atol yang memiliki laguna berair payau di dalamnya. spons dan tunikata yang berwarna cerah yang melekat di akar-akar bakau adalah penghuni Danau Kakaban yang bersifat endemik. konservasi (melindungi populasi telur dan tukik. ketam kelapa. kehadiran manusia dalam lingkungan yang masih alami itu sedikit banyak menimbulkan kerusakan karena terinjaknya karang. kayu gagil (sejenis meranti) untuk dibuat perahu dan rumah. Sebab. saat ini boleh dibilang merupakan benteng terakhir tempat biota laut di kawasan berlindung dari serbuan manusia yang populasinya sudah kian meningkat. dan hutan mangrove. penyu sisik. Ditumbuhi hutan mangrove yang lebat. banyak spesies yang dilindungi berada di Kepulauan Derawan seperti penyu hijau. terumbu karang dan lamun). Tersembunyi dibalik dinding karang atol setinggi 60 meter. padang lamun.Berau sangat terkenal dengan Kepulauan Derawan yang mencakup wilayah Kecamatan Pulau Derawan dan Maratua. yang berjarak 1.000 kilometer dari Filipina. Pulau Kakaban. danau ini menyimpan rahasia kenekaragaman hayati yang sangat unik dan indah. Buliulin. Sayangnya. lainnya adalah Pulau Palau. serta beberapa gosong karang seperti gosong Muaras. dan penyu sisik untuk dibesarkan. dan beberapa spesies lainnya. 81 . di enam danau kecil yang juga terdapat di pulau Kakaban. serinding kaca. di dunia ini diketahui hanya ada dua yang memiliki kondisi serupa. Pinaka. dan Tababinga. Di wilayah ini terdapat Danau Kakaban yang bagaikan kolam raksasa di tengah laut. menghiasi hamparan ‘karpet hijau’ alga Halimeda. Namun kegiatan masyarakat ini masih relatif kecil menimbulkan gangguan keseimbangan ekosistem kawasan itu karena dilakukan dengan alat sederhana dan dalam skala terbatas. dengan ribuan ubur-ubur memenuhi kolom air dan dasar danau. Terkadang mereka mengambil kepiting kenari. habitat sarang. Masimbung. Sementara itu. anemon pemakan ubur-ubur. masyarakat menebarkan ikan belanak.

Hutan ini merupakan ekosistem daratan yang paling beragam di dunia. misalnya dalam bentuk program-program sebagai berikut: • Pengembangan sistem penyimpanan ikan yang memproduksi lebih banyak ikan yang besar yang mampu menghasilkan anak ikan lebih banyak untuk mensuplai sumberdaya perikanan. juga melestarikan hutan dataran rendah yang merupakan bagian DAS Kelay. diantaranya adalah sebagai berikut: • Penangkapan populasi sumberdaya ikan yang berlebihan (overexploitation of fisheries resources). Sementara habitat alami orangutan yang lain di Kalimantan Timur terus mengalami degradasi. Dengan melestarikan habitat orangutan berarti juga melestarikan jenis-jenis satwa lainnya. dan pada akhirnya melestarikan sumber daya alam dan daya dukung bagi masyarakat setempat maupun masyarakat yang lebih luas. Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Kemungkinan terjadinya degradasi sendiri bersumber dari beberapa faktor. yang diharapkan dapat menumbuhkan dan menggairahkan perekonomian masyarakat setempat. yang secara konkrit diwujudkan dalam bentuk pelarangan penangkapan ikan menggunakan alat-alat moder atau semi modern. Local wisdom yang dikembangkan adalah bahwa penangkapan ikan hanya diperkenankan dengan menggunakan alat tradisional seperti tombak. reklamasi. Sayangnya. Sektor Sektor Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Kelay adalah sungai yang terpanjang di Kabupaten Berau. Di DAS Kelay terdapat 11 jenis primata termasuk orangutan dan bekantan yang terancam punah. Dalam konteks pengembangan dan pengakuan kearifan lokal. pelestarian hutan ini juga berdampak positip bagi upaya pelestarian daerah pesisir dan terumbu karang di sekitar kepulauan Derawan. Namun 82 . • Program sitem proteksi koridor untuk perlindungan migrasi paus dan mamalia laut dunia dari Samudera India ke Samudera Pasifik dan Pengembangan program coastal tourist attraction.3. sepanjang 254 kilometer sampai pada pertemuan dengan Sungai Segah membentuk Sungai Berau di Tanjung Redeb. • Kerusakan fisik dan habitat pesisir dan laut (Kerusakan karang. hulu sungai berada di sekitar Gunung Kundas. Sungai Segah panjangnya sekitar 152 kilometer. dengan ditemukannya populasi alami yang cukup tinggi dan kondisi habitat yang masih baik. • Kerusakan karena sebab alamiah (coral bleaching dan kerusakan karena predator). • Kawasan konservasi laut dapat melindungi habitat dan biodiversitas biota. maka ditempuh upaya-upaya yang menerapkan pendekatan kelestarian ekosistem (Ecosystem-Based Management). sehingga fungsi dan struktur ekosistem terjaga dari dampak kegiatan penangkapan ikan. penangkapan ikan yang merusak). masyarakat telah turut serta menjaga DAS di Berau. • Memberikan kontribusi kepada nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat serta mengikut sertakan masyarakat secara aktif. Mengalir dari pegunungan sekitar Gunung Mantam. aktivitas ekonomi manusia cenderung membawa dampak kurang baik terhadap kelestarian lingkungan dan DAS di Kabupaten Berau. dan yang tersisa di Kalimantan. Di DAS dan hulu-hulu Sungai Kelay terdapat hutan primer dataran rendah yang luas. Tampaknya Kabupaten Berau berpotensi bagi pelestarian habitat orangutan. Dalam konteks bentang alam.

Hal ini penting karena tumbuh-tumbuhan yang ditebas nantinya akan ikut membantu pembakaran pohon-pohon besar. sehingga mereka bisa bekerja menebang pohon-pohon besar dengan aman. diantaranya adalah hutan keramat (tempat penadaran atau upacara adat). durian. dan Sumber Barito. Bahkan. masih dibiarkan begitu saja terbenam di Murung Raya. karena potensi sumber daya alam yang begitu melimpah namun belum bisa dimanfaatkan optimal untuk kesejahteraan masyarakat. tengkawang dan tumbuhan lainnya. Dalam hal penentuan lahan perladangan ada halhal yang menjadi larangan atau pantangan untuk dijadikan ladang. Lahan yang dipilih untuk pembukaan ladang adalah semak belukar. Sekali membuka hutan dapat dimanfaatkan 3-5 kali berladang dan kemudian dilanjutkan dengan cara berkebun tanam tumbuh. Areal yang dipilih merupakan hak milik peladang itu sendiri baik itu berasal dari warisan keluarga atau tanah yang dipinjam dari peladang lain. andesit. tersedia di empat kecamatan dengan deposit yang melimpah. Tanah Siang. Begitu pun bahan galian golongan C seperti batu. Syarat lainnya adalah dekat dengan mata air atau sungai. Permata Intan. Pengelolaan SDA Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Murung Raya. kebun karet yang sudah mati atau tidak produktif lagi. sehingga tumbuh-tumbuhan tersebut kering. 2. hutan.000 hektar kawasan Pegunungan Muller yang disebut kawasan konservasi dunia karena keanekaragaman flora dan faunanya sebagian merupakan wilayah Murung Raya. masyarakat memiliki kearifan dalam mengolah tanah yang dinamakan tradisi berladang olah ulang. potensi sumber daya alam tersebut. 83 . Potensi tambang ini belum digarap serius. rotan. sekitar 800. kapur. Selain kaya bahan tambang. seperti. Emas serta intan tersedia di Kecamatan Murung. sehingga memudahkan pembakaran lahan.sayangnya. Potensi batu bara. Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Lingkungan oleh Masyarakat a. misalnya. Tujuan lainnya adalah untuk mempersiapkan tempat yang terbuka dan bebas dari semak belukar. minum dan MCK.23 juta hektar. Masyarakat dayak dalam menentukan dan melaksanakan pembuatan ladang ada beberapa tahapan yang dilakukan yaitu: 1) Pemilihan Lahan Perladang Tahapan yang paling awal dalam pemilihan ladang adalah survey areal. Padahal. dan hasil tambang lainnya. 2) Penebasan Tujuan utama tahap ini adalah untuk mematikan tumbuh-tumbuhan. Kalimantan Tengah 1. karet. hal ini belum dapat diterapkan untuk seluruh wilayah Berau atau DAS yang ada. kopi. dengan asumsi tanahnya lebih subur dan memudahkan mereka dalam kegiatan rumah tangga sehari-hari seperti masak. selain melimpah. fospat. Perladangan Dalam melakukan perladangan. kecuali digarap tradisional oleh masyarakat sekitar dengan peralatan sederhana. juga bentuknya sangat beragam. kawasan hutan di kabupaten ini masih terhampar seluas 1. granit. Potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan Lingkungan Murung Raya mendapat julukan “surganya” Kalimantan Tengah atau Bumi Tambun Bungai.

karena dapat dipakai sebagai sumber gizi bagi tanaman yang sedang tumbuh. Gunung Baruh. sedemikian kuat pula keinginan masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian alam dengan kearifan alamiah yang mereka miliki secara turun temurun. masyarakat setempat memotong semua pohon besar di ladang. karet. adalah kisah turun temurun dari 84 . ialah untuk memungkinkan matahari bisa menyinari permukaan ladang. kopi. Abu ini merupakan faktor penting bagi keberhasilan ladang.3) Menebang Kayu Setelah dilakukan penebasan baru dilaksanakan penebangan kayu-kayu besar. Tujuan kedua. rotan. dan pohon buah-buahan lainnya yang sudah ada. yang belum dipotong pada tahap menebas sebelumnya. seperti durian. dan Pokahan Luning. Proses perabuan ini melepaskan zat-zat gizi yang terdapat di batang pohon. Gunung Batu Ponyang. Tujuan terakhir dari pembakaran adalah untuk mematikan tumbuh-tumbuhan hidup yang masih ada diladang termasuk pohon-pohon yang terlalu sulit untuk ditebang pada tahap menebang. memberi jaminan pemenuhan kebutuhan hidup bagi generasi sekarang dan yang akan datang. nyatu. Setelah proses ini selesai. pohon-pohon tersebut akan terbakar dengan baik dan menghasilkan banyak abu. Pada tahap menebang. Kemudian ketika ladang dibakar. Sedemikian besar ketergantungan masyarakat pada tanah. Tanah tersebut secara adat menjadi milik seseorang jika di dalam areal tanah tersebut telah ada kebun/tanam tumbuh. Sistem Kepemilikan Tanah Kepemilikan wilayah tanah adat berdasarkan keberadaan turun temurun dengan ditandai dengan tanaman buah-buahan sebagai batasan sepanjang waktu. 4) Penebangan Tambahan Kegiatan penebangan tambahan yaitu memotong cabang-cabang besar pada pohon sehingga jatuh ketanah. tengkawang. baik yang sudah ratusan tahun digarap turun temurun. dahan-dahan. Proses pembakaran ini merupakan tahap terakhir dalam penyediaan lahan untuk berladang. Kawasan Keramat Beberapa gunung dianggap sebagai tempat keramat bagi masyarakat seperti Gunung Kambang. pohon-pohon perlu ditebang agar supaya mati dan kering. Jika satu pohon dibiarkan berdiri. Pertama. kayu-kayuan akan terbakar dengan baik. demikian pula tanah. Batu Ponyang. maka lahan tersebut siap untuk dijadikan ladang. Ada hubungan timbal balik antara masyarakat dan alam sekitar. b. maupun yang baru digarap dalam satu atau dua tahun. c. yang kemudian apabila ladang dibakar. daun-daun dan humus. Tanah sebagai tempat hidup dan sumber kehidupan masyarakat memiliki nilai spiritual bagi masyarakat. puncaknya akan menghalangi sinar matahari yang kemudian akan merintangi tumbuhnya tanaman padi yang ditanam di ladang tersebut. Tujuan dari menebang pohon-pohon ada dua. Pokahan Lumpung. 5) Pembakaran Tujuan yang paling penting dari pembakaran ialah untuk mengubah tumbuhtumbuhan yang telah ditebas dan ditebang dan juga lapisan humus diatas tanah hutan tersebut menjadi abu. demikian pula untuk mencegah tumbuhnya pohon-pohon yang baru. Tanah sebagai tempat berpijak dan tumbuhnya sumber kehidupan. Potongan cabang-cabang tersebut akan lebih memadatkan tumpukan kayu yang telah ditebang.

Dimana sejak saat itu masyarakat berbondong-bondong dari berbagai desa seperti. Lokasi mesin tumbuk pertama dibangun pada tahun 1981 oleh masyarakat. Juking Sopan. Dari segi kemasyarakatan. Mangkoloesoe. Lobang Emas Timbul/Juta. terjadi peningkatan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan peningkatan kemampuan masyarakat untuk memberikan pendidikan pada anak-anaknya. Dirung Lingking. berdatangan penduduk dari berbagai desa sekitar sehingga lokasi tambang rakyat ini semakin berkembang. Bantian. Sebagai masyarakat penemu lokasi tambang dan bahan galian urat emas. Tobuno Ontu Bahandang. Namun sejak diketahuinya keberadaan emas di daerah masyarakat adat tidak lagi menempati daerah tersebut yang merupakan cikal bakal berdirinya PT Indo Muro Kencana (PT IMK) yaitu perusahaan penambangan emas. masyarakat Dayak Siang Murung memperoleh tambahan penghasilan dari usaha mendulang emas. Olong Hanangan. Serujan). amatlah wajar jika terdapat ikatan emosi antara masyarakat dengan tambang. frekuensi eksplorasi yang dilakukan-pun relatif kecil skalanya sehingga dampak yang ditimbulkan sangat rendah karena masyarakat adat memiliki kearifan tradisional dalam mengelola sumber daya alam yang ada. Tanah-tanah disekitar gunung Muro adalah tanah pusaka yang turun temurun ditempati rakyat beberapa desa di tiga kecamatan untuk hidup dan tumbuh berkembang dengan segenap generasinya. Secara turun temurun masyarakat mengolah daerah tersebut sebagai lahan pertanian. bukit Jalan Muro Nanep. dimana pada tahun 1978/1979 masuk pula PT. Datah Kuto. Penambangan Masyarakat Sejak pertama kali ditemukannya lokasi urat emas. Baratu dan Pantai Laga yang merupakan kecamatan Permata Intan untuk menambang urat yang pertama kali ditemukan di wilayah Murung Raya yang kemudian berkembang atas inisiatif masyarakat di bukit-bukit lainnya (Bukit Elpi. Kolon. Kalangkalo. Tambilum. Batu Badinding. d. maka terbukalah urat emas di permukaan tanah oleh dorongan traktor di Bukit Arong dan bukit Tengkamong (Luit Raya). Dengan teknologi sederhana yang mereka gunakan. Gunung Baruh. Kerikil. Dengan adanya tambang rakyat tersebut. dengan adanya tambang rakyat ini. perkebunan yang kemudian berkembang sebagai areal tambang tradisional.nenek moyang sebelum penjajahan Belanda. Tumbang Lahong. Djayanti Jaya (HPH) masuk ke daerah tersebut untuk produksi kayu/hutan. dan Apak sebagai desa di sekitar sungai Babuat kecamatan Permata Intan ditambah dengan desa Muara Babuat. Kesadaran masyarakat dalam pengelolaan tambang tradisional diikuti dengan kesadaran untuk membangun sebuah organisasi yang dapat mengatur dan mengetahui pelaksanaan kegiatan penambangan tradisional sehingga terbentuklah kelompok Gunung Batu Ponyang. Perkembangan tersebut diiringi dengan pertumbuhan fasilitas umum baik itu sarana transportasi berupa jalan ke lokasi tambang dengan lebih mudah. Marindu. Bersamaan dengan dibukanya jalan HPH tersebut. Muro dan Oreng yang masuk Kecamatan Tanah Siang serta desa Batu Mirau. Kerali. Banyak sekali pemuda-pemudi daerah ini menempuh pendidikan hingga sarjana dari hasil menambang. Sejak tahun 1971 orang Bakumpai dari desa Muara Babuat datang berladang di Sei Luit hingga tahun 1979. juga dibangunnya sarana umum berupa 85 . desa Belawan.

8 jenis palem-paleman. Mushola. piring. Jembatan dan pos Kamling. cangkul. 12 ”Kajian Biodiversitas Bersama Masyarakat Di Kawasan Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan” 86 . Kebiasaan masyarakat Dayak dalam melunas/menambang emas tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan serba sederhana. termasuk 59 jenis diantaranya hanya dapat diidentifikasi sampai tingkat marga). parang. kapak/beliung untuk penebasan. termasuk 6 jenis hanya dapat diidentifikasi sampai tingkat marga dan 2 jenis sama sekali tidak teridentifikasi. dan memotong alat. lihat MacKinnon. menuruh hasil kajian Yayasan Cakrawala Hijau Indonesia (YCHI) 12 kawasan pegunungan meratus dihuni oleh berbagai jenis satwa satwa yaitu. pangudam. Gereja. 17 jenis rotan.27% dari jumlah jenis burung di pulau Kalimantan. namun hanya nama lokal). kawasan ini menjadi tempat penting terakhir (refuge) bagi satwa endemik di Kalimantan. pahat untuk memahat dan memecahkan batuan urat. dan jumlah jenis satwa yang dilindungi baik nasional mupun internasional adalah lebih dari 120 jenis. ikan (65 jenis dari 25 suku. sak-sak atau karung goni sebagai tempat menyimpan batuan urat. yaitu 358 jenis. Gedung Sekolah Dasar. palu. Disamping itu. Avifauna (316 jenis burung dari 47 suku atau sekitar 88. yakni dengan menggunakan linggis. lampu-lampu dari lilin-lilin kecil untuk penerangan. Herpetofauna (130 jenis dan 20 suku. diamana dikawasan tersebut tercatat 141 jenis pohon. karena akan terjadi kerusakan pada garis sempadan sungai sehingga berpotensi terjadi bencana banjir maupun penggurangan fungsi sungai sebagai sumber air bagi kehidupan masyarakat. diantaranya adalah adanya Peratuan Daerah Kabupaten HST tentang Pengelolaan Pengusahaan Pertambangan yang dimaksudkan untuk mengendalikan kegiatan penambangan termasuk yang berada di kawasan pegunungan meratus. diantaranya 19 jenis mamalia endemik dan 25 jenis burung (dari total 37 jenis burung endemik Kalimantan). dan insekta 408 jenis dari 54 suku dan masih banyak yang belum teridentifikasi sampai tingkat species). Dari kajian status satwa. tangguk (angkatan). Peran/Program Pemerintah dalam Pengelolaan SDA Komitmen dan kesadaran Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) terhadap pengelolaan Sumber Daya Alam dapat dilihat dari beberapa kebijakan yang diambil oleh pemerintah. dimana semua itu termasuk dalam 41 famili.Mesjid. Terkait dengan keaneka ragaman hayati yang dikandung oleh Kawasan Hutan Lindung Meratus. Madrasah. 2. dkk. Sebagian dari jenis diatas adalah flora endemik Pulau Kalimantan. Potensi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Kawasan Hutan Lindung Meratus juga menyimpan Potensi Biotik yang sangat beragam. Pengelolaan SDA Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. dimana yang terbanyak adalah famili dipterocarpaceae. mamalia (78 jenis dari 21 suku). HST juga telah mengeluarkan surat edaran penghentian kegian penambangan bahan galian golongan C yang selama ini dilakukan disepanjang garis sempadan sungai baik yang menggunakan teknologi tinggi maupun secara manual. jumah/linggis kayu untuk menggali tanah. 1998). gergaji. keranjang rotan untuk memuat batuan urat. handuk/karpet serta dulang untuk proses pengeluaran bijih emasnya. Pemerintah Kab. tali/rotan untuk menderek keranjang. sekop. Kalimantan Selatan 1. kemudian famili graminea (rotan).

dapat disimpulkan bahwa bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam sudah terintegrasi kedalam sistem sosial. HST jumlahnya sangat kecil. Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan SDA Berdasarkan hasil penelitian di daerah Hulu Sungai Tengah. kampanye hidup bersih dan sehat. Selain CU. Disamping itu juga ada Lembaga Bina Potensia (LBP) yang melakukan pembinaan terhadap masyarakat melalui program penyadaran terhadap masyarakat Dayak Meratus yang masih sangat kental dengan budaya tradisional. adalah juga merupakan salah satu kebijakan (langkah) yang diambil oleh pemerintah setempat untuk menjaga kelestarian kawasan pegunungan meratus dari kegiatan eksploitasi hutan yang tidak terkendali.Kegiatan penebangan liar (illegal logging) di kawasan Pegunungan Meratus khususnya yang berada dalam wilayah administratif pemerintah Kab. pendampingan dilakukan dengan mengajarkan budidaya ternak (unggas). perwasisan. Disamping itu juga telah terbentuk Organisasi Masyarakat Adat Gunung Kelawan (OEMA GK) yang didirikan sebagai wadah bagi petani madu untuk meningkatkan kesejahteraan petani madu. pemeliharaan jenis-jenis flora dan fauna. Terbatasnya akses jalan tersebut. perselisihan. Hal ini disebabkan karena terbatasnya akses jalan (hanya bisa di tempuh dengan kendaraan roda dua) sehingga menyulitkan cukong-cukong kayu untuk mengangkut hasil penebangan tesebut. yaitu: 1. Hal itu terefleksikan kedalam hukum adat didalam masyarakat Dayak Kawasan Meratus. diantaranya melalui penyadaran terhadap masyarakat dalam melakukan pelestarian sumber daya hutan seperti yang dilakukan oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat (LPMA) melalui perumusan peraturan desa tentang pemanfaatan dan perlindungan terhadap sumber daya hutan di beberapa desa di kawasan Pegununan Meratus. bentuk-bentuk kearifan lokal yang selama ini hanya menjadi hukum adat di dalam masyarakat setempat telah diakomodir kedalam tata urutan hukum positif formal yang tertulis. Dengan adanya peraturan desa tersebut. Peran Lembaga Swadaya Masyarakat Dalam Pendampingan Masyarakat dan Pengelolaan SDA Diantara LSM yang melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat setempat yaitu Lembaga Pembinaan Masyarakat Adat (LPMA) diantaranya melakukan pendampingan terhadap masyarakat setempat untuk mendirikan koperasi. menebang pohon. Aturan yang mengatur hubungan dengan alam seperti perburuan. LBP juga menggulirkan program agro-forestry sejak tahun 1987 untuk mengoptimalkan produk non hutan.perkelahian. kekerabatan. Secara umum hukum adat dikelompokkan kedalam 3 (tiga) klasifikasi. 3. Di sektor ekonomi. budaya dan religus masyarakat setempat (masyarakat di kawasan pegunungan meratus). Budaya masyarakat di kawasan Meratus pada dasarnya sangat menjungjung tinggi keberadaan potensi sumber daya alam (hutan) sebagai nafas kehidupan mereka maupun dalam kontek spiritual kepercayaan mereka yang sangat terkait dengan hutan. mengelola air. LSM di Kalimantan Selatan juga berperan dalam pemantauan pengelolaan SDA. yang diberi nama Credit Union (CU). Beberapa pendekatan dan pendampingan yang telah dilakukan oleh LBP diantaranya melalui pendidikan. 87 . Hukum adat yang mengatur hubungan antar sesama manusia. juga terdapat koperasi kelompokkelompok tani. 4. 2.

3. hak-hak atas hutan. dan merupakan daerah perlindungan selain bagi tumbuhan dan hewan di dalamnya juga sebagai daerah penyedia sumber air bagi masyarakat setempat. dan sistem sewa. ‘Tanah’ dalam adat Dayak Meratus adalah asal mula manusia. jual beli. Katuan larangan merupakan kawasan hutan yang sama sekali tidak boleh ditebang. Kearifan Masyarakat Dayak Meratus Dalam Pengelolaam SDH Hutan adalah satu bagian dari lingkaran kehidupan komunitas Dayak Meratus. Keberadaan hukum adat tentang pengelolaan hutan tersebut yang tidak tertulis dan tidak termasuk dalam urutan tata perundang-undangan telah mendorong masyarakat untuk menuangkan aturan-atruran adat tersebut kedalam bentuk peraturan desa. Peraturan desa tersebut hampir semuanya memuat tentang hukum-hukum adat yang berlaku didalam masyarakat setempat yang mengatur tentang pengklasifikasian jenis-jenis hutan. Disamping itu peraturan desa juga mengakomodir mekanisme sanksi bagi yang melakukan pelanggaran/pengrusakan terhadap kawasan hutan. 88 . palawija. Hubungan ini menciptakan tatacara tertentu untuk mencapai keseimbangan hidup dalam interaksi manusia dengan alamnya. Sebagian besar dari kawasan adat merupakan katuan (hutan) larangan yang tidak boleh digunakan untuk bahuma (bertanam) karena dipercayai sebagai kediaman leluhur masyarakat Balai. 5. dan tentu saja jika tanah tersebut dijual. yang oleh masyarakat Dayak disebut sebagai Aruh. terutama berkaitan dengan pembagian peruntukan pengelolaan lahan. cara-cara pengelolaan dan pemanfaatan hutan. Aturan yang mengatur hubungan dengan yang maha kuasa dan para leluhur. sehingga ia mendapatkan penghormatan yang sangat tinggi dan merupakan harta kekayaan yang tidak bisa diperlakukan secara sembarangan. dimana dalam pengambilan keputusan terhadap pemberian sanksi tersebut dilakukan oleh lembaga adat dengan diketahui oleh kepala desa setempat. Hutan ini letaknya di gunung-gunung pada ketinggian di atas 700 meter dari permukaan laut. Masyarakat Dayak Meratus mengenal pembedaan bentuk permukaan bumi. dan makhluk hidup di sekitarnya. yang merupakan salah satu urutan tata perundang-udanangan yang terendah yang berlaku. Seperti peribadatan. Berdasarkan pewarisan. pembagian tanah yang dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya lebih melihat pada seberapa besar kemampuan masing-masing anak mampu mengelola lahan. perkawinan. ladang. seperti juga tanah. wilayah adat dalam satu balai dibagi menjadi beberapa kelompok penggunaan lahan. namun apabila tidak dicapai kesepakatan dengan mekanisme hukum adat. persembahan/pengorbanan. Berdasarkan kesepakatan masyarakat dalam satu balai. tetapi hasil hutan selain kayu masih bisa diambil oleh masyarakat. Kepemilikan tanah bisa menjadi hilang apabila si pemilik tanah meninggal dunia. tanah dihumai oleh orang lain karena si pemilik lama meninggalkan balai dan lahannya tidak ditanami tanaman keras. Secara garis besar sistem kepemilikan tanah digolongkan berdasarkan pewarisan. Dimana beberapa desa di kawasan pegunungan meratus telah melahirkan peraturan desa terkait dengan pengelolaan hutan. Membicarakan hutan dan sumber daya alam lain dalam konteks masyarakat Dayak tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan tentang ‘tanah’. Peraturan desa tersebut juga tetap mengakui keberadaan struktur dan lembaga adat setempat. tanpa membedakan jenis kelamin. maka perkara tersebut akan dilimpahkan kepada aparat hukum negara yang terkait. air.

Disamping hutan larangan. Ketika proses pengolahan tanah terlambat sampai memasuki musim hujan perladangan akan mengalami kegagalan sebab proses pembakaran tidak dapat dilakukan. Setelah membuka payah (ladang) dengan menebang dan membakar. Disamping pengetahuan tentang musim. mentimun. hal lain yang juga tidak kalah penting dalam kegiatan perladangan adalah penentuan tingkat kesuburan tanah. Masyarakat Dayak Meratus mengatasi hambatan alam dalam berladang sekaligus menjaga katuan adat mereka dengan mengembangkan pola perladangan “gilir balik” atau yang biasa dikenal sebagai perladangan berpindah. Kalau lahan tidak bisa terbakar berarti mereka tidak bisa manunggal. masyarakat Dayak Meratus biasa menggunakan beberapa indikator seperti: Perubahan terhadap posisi matahari dan bintang tertentu. seluas kurang dari 2 hektar. Kawasan ini juga bisa ditanami tanaman perkebunan atau kayu keras oleh semua warga masyarakat di dalam balai tersebut setelah mereka tidak bahuma (berladang) di situ. Irama kehidupan orang dayak terus bergerak mengikuti perubahan musim. Pengatahuan tersebut sangat penting karena sangat menentukan sekali terhadap irama kehidupan. termasuk di dalamnya Balai Adat. Kala musim kemarau beralih ke musim hujan proses pengolahan tanah sudah harus selesai karena mereka sudah harus memulai menanam padi. Ketergantungan pertanian terhadap musim yang sangat tinggi inilah yang membuat mereka berhati-hati sekali dalam membaca perubahan musim. Ladang biasanya dibuka di daerah taniti atau datar. Kawasan ini merupakan tempat pemakaman bagi leluhur dan sama sekali tidak bisa dimanfaatkan untuk apa pun selain sebagai makam. mereka menanaminya dengan padi dan palawija satu kali hingga tiga kali tanam untuk mengatasi ketidaksuburan tanah dan menghindari erosi. Hutan ini milik adat yang sebagian bisa dibuka untuk pahumaan dan masyarakat boleh memanfaatkan kayu di dalamnya untuk memenuhi kebutuhan membangun rumah dan kayu bakar. Indikator Flora dan Indikator Fauna. Untuk menentukan perpindahan musim. Seperti menetapkan lahan. Bagian katuan adat yang semacam ini disebut dengan jurungan atau wilayah bekas pahumaan yang ditinggalkan dan suatu waktu akan dibuka kembali. Pembagian lainnya adalah kawasan kebun gatah (karet) dan ladang. Mereka kemudian akan berpindah 89 . menebas dan menebang pohon. Hanya sebagian kecil wilayah adat berupa kampung yang merupakan daerah pemukiman. Kebun gatah adalah kawasan yang khusus ditanami karet untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat setempat sedangkan ladang adalah kawasan yang ditanami dengan tanaman jangka pendek (padi. Kawasan hutan. palawija. selain katuan larangan dan katuan adat terdapat juga katuan keramat. dsb). cabe. Katuan keramat ini biasanya terletak di gunung atau munjal. Sebagai masyarakat peladang orang dayak yang sudah sangat lama mendiami kawasan pegunungan Meratus mereka sangat kaya dengan pengatahuan lokal terutama yang menyangkut dengan musim baik musim kemarau maupun musim hujan. Kampung biasanya terletak di datar (lembah) ataupun taniti (perbukitan) yang merupakan daerah yang relatif landai. kawasan hutan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak Meratus adalah katuan adat. Ketika musim memasuki kemarau aktivitas masyarakat mulai disibukkan dengan kegiatan pengolahan tanah. Berdasarkan pengatahuan lokal yang berkembang dimasyarakat indikator-indikator yang berhubungan dengan tingkat kesuburan tanah bisa digolongkan kedalam beberapa bagian seperti indikator fisik tanah dan indikator Flora.

Mereka percaya bawa Jubata. antara lain: Menebang pohon buah-buahan didenda oleh adat dan dibayarkan kepada yang bersangkutan. Kedudukan hutan sebagai nafas kehidupan masyarakat Dayak Meratus.beberapa kali hingga kembali ke payah (ladang) yang dibuka pertama kali untuk memberi waktu pemulihan kesuburan dan tumbuhnya pepohonan setelah 10 hingga 15 tahun. keanekaragaman hayati. (3) Patilah. subsisten. bertimbal balik dengan kesadaran mereka menjaga dan memelihara hutan dengan baik. yaitu: keberlanjutan. (1 tahil = 1 piring kaca. Terdapat lima prinsip dasar pengelolaan sumber daya alam yang bisa dicermati dalam budaya Dayak. sehingga dalam kehidupan Dayak Meratus manusia dan hutan adalah satu kesatuan yang saling memberikan perlindungan. Saat panen raya adalah aruh yang paling besar yaitu aruh wanang atau sering disebut sebagai aruh ganal (aruh besar). yaitu menegakkan tangkai padi yang berbuah. dituntut oleh hak waris dan denda diserahkan kepada adat. Duwata (Tuhan) dalam sistem kepercayaan masyarakat Dayak Meratus akan mengutuk mereka yang menghancurkan hutan. sosial dan sekaligus sumber penunjang perekonomian mereka. dan denda diserahkan ke adat (Kepala Adat). diwujudkan dengan Aruh. diminta ganti rugi jika pohon menimpa rumah orang lain. (8) Bawanang. Menebang pohon madu didenda 10-15 tahil. yaitu merobohkan balai Diyang Sanyawa. Tiga aruh pertama dilakukan oleh umbun yang bersangkutan. (4) Katuan atau Marandahka Balai Diyang Sanyawa. dan kepatuhan kepada hukum adat. Pemanfaatan hutan dan isinya diatur dalam hukum adat yang mereka sepakati. antara lain: (1) Mamuja Tampa. yaitu memperoleh wanang. sedangkan aruh-aruh lainnya dilakukan oleh beberapa umbun dalam bubuhan (lingkungan) yang bersangkutan. Aturan ini tergambar dalam sanksi adat bagi mereka yag menebang pohon dengan sembarangan atau melakukan perbuatan yang merugikan orang lain di seluruh wilayah adat di pegunungan Meratus. (6) Basambu Umang. Secara tidak langsung. kebersamaan. Membakar ladang/sawah dan apinya merambat ke kebun orang lain didenda sesuai kerugian atas kebun tersebut. (2) Aruh mencari daerah tabasan (ladang baru). Menebang pohon lalu menimpa rumah/pondok orang lain. Menebang pohon damar didenda oleh semua masyarakat yang termasuk wilayahnya. atau memuja alat-alat pertanian. (7) Menyindat padi. Menebang pohon yang menjadi keramat. yaitu memasukkan padi ke dalam lumbung. Ada sembilan aruh yang dilakukan masyarakat Dayak Meratus sejak persiapan membuka ladang hingga setelah panen. aruh menebang rumpun bambu bila di bakal ladang itu ditumbuhi rumpun bambu. Bila 90 . denda diserahkan ke adat. Menebang pohon lalu menimpa pohon buahbuahan sendiri/orang lain dikenakan denda yang dibayarkan sesuai kerugian atas robohnya pohon buah tersebut. Hutan menjadi landasan ideologi. aruh merupakan pesan kepada warga balai untuk tetap menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam dan rohroh pemeliharanya. (5) Bamula. yaitu upacara untuk memulai menanam padi. Ikatan yang kuat antara masyarakat Dayak Meratus dengan alam yang memberikan segala kekayaan hidup. dan (9) Mamisit padi. jika dirupiahkan dihitung berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat). bisa dituntut oleh hak waris. yaitu menyembuhkan atau merawat umang. yaitu mengikat rumput dan tangkai padi dan Manatapakan Tihang Babuah. bahkan diberlakukan sanksi adat bagi pelanggarnya yang diputuskan oleh Kepala Adat atau Damang.

sebagai upaya menemukan jalan keluar atas krisis hutan selama ini. tt. dengan tetap mempertimbangkan aspek-aspek pengelolaan sumber daya manusia di sisi yang lain. Strategi Pengembangan Pesisir. Jakarta. Akhmad. bahan presentasi. tanah longsor dan bencana lain yang akhir-akhir ini terjadi. PT Gramedia Pustaka Utama. Bappeda Kab. baik itu pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. bahan presentasi. Daftar Pustaka Badan Kelola Masyarakat Kepulauan Derawan dan Maratua (Yayasan BESTARI. Yayasan KEHATI). Berau.kelima prinsip ini dilaksanakan secara konsisten maka akan menghasilkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan yang mencakup secara ekonomis bermanfaat. Kakaban. Beragamnya suku. Berbagai model atau pola praktis atas pendekatan pembangunan berkelanjutan pun banyak dikembangkan oleh berbagai pihak. sungguh diakibatkan oleh deforestasi hutan tersebut. Merintis Konservasi Pulau Kakaban: Kerangka Pengembangan Model Pengelolaan Kolaboratif Kepulauan Derawan Berbasis Masyarakat. Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Christien. http://www. Yayasan KEHATI. Konservasi dan Pemanfaatan SDA Lestari yang Berbasis Masyarakat di Kepulauan Derawan tahun 2003-2005.htm 91 . 2004: 2. Januari 2004. Fauzi. secara ekologis tidak merusak dan secara budaya tidak menghancurkan. Kebijakan Pengembangan Kawasan Konservasi Laut di Kabupaten Berau. Hasil Perencanaan Kampung 22 –23 September 2003. Yayasan KALBU. Pandangan terhadap pengelolaan sumber daya hutan pun harus berubah. Berbagai bencana banjir. Dampak yang ditimbulkannya pun sudah didepan mata. Berau. kultur daerah serta berbagai pranata sosial dan kearifan lokal yang dimiliki menjadikan sebuah pola pengelolaan sumber daya hutan hanya bisa diimplementasikan di wilayah tertentu. Penutup Upaya mencari pola pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang lebih baik menjadi sangat penting dilakukan. Ismuranty. 16 Juni 2004. Benteng Terakhir Kepulauan Derawan. tt. Dan tentu. Kompas. Ekonomi Sumber daya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi. tetapi hutan sebagai sumber ekonomi dan sebagai sumber-sumber alam genetik (genetic resources) yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.kompas. Jan Henning Steffen. Sebuah angka yang tentu mengejutkan banyak kalangan. tidak ada satupun model yang bersifat general yang bisa diterapkan ke seantero Indonesia karena kebinekaan Indonesia yang memungkinkan pola tersebut tidak isa diterapkan. deforestasi hutan mencapai 2 juta hektar pertahun. Tawaran terhadap konsep pembangunan berkelanjutan menjadi sesuatu keniscayaan karena konsep ini menawarkan sebuah model keseimbangan antara pengelolaan sumber daya alam yang mempertimbangkan aspek jangka panjang (generasi masa depan) di satu sisi. Ani Mardiastuti. Menurut Menteri Lingkungan Hidup (2006).com/kompas-cetak/0406/16/bahari/1065450. bukan lagi hutan dipandang sebagai sumber ekonomi potensial saja. Upaya ini makin terasa justru pada saat ancaman deforestasi hutan terjadi dengan angka yang sangat mengerikan.

Simon. Proyek Pesisir. Mitra Pesisir/CRMP II USAID. 2006. Samarinda: PKP2A III LAN. Yayasan Kehati. Pembangunan Berkelanjutan: Mencari Format Politik. Dalam Sudjatmoko. The Nature Conservancy. Martinus dan Devung. IGES. Berau.. Yayasan Bestari. Sertifikasi Sumber daya Alam dalam Perspektif Ekonomi Politik Global. Tri Widodo W. Yayasan Cakrawala Hijau Indonesia (YCHI). PT Gramedia Pustaka Utama bekerjasama dengan Yayasan Spes.. Kanagawa. 92 . Kabupaten Kutai Barat: Panduan Pengembangan Peran dan Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan. Rachbini J. et. 2005. Sekretariat Bersama Kelautan. Yayasan Kalbu. tt. Grasindo. Didik.Nanang. Jakarta. 1992: 3. Profil Kepulauan Derawan. P2O-LIPI. Emil. WWF Indonesia. Politik Ekonomi Baru Menuju Demokrasi Ekonomi. ----------. ”Kajian Biodiversitas Bersama Masyarakat Di Kawasan Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan”. Yayasan Kehati. Jepang. Departeman Kelautan dan Perikanan (DKP). Kalbu. Jakarta. WWF Indonesia. 2004. Pembangunan Berkelanjutan: Keperluan Penerapannya di Indonesia. Banjarmasin. Bestari. 2001 Salim. G. Pengembangan Konservasi Kawasan Laut. “Kajian Tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Berbasis Kearifan Local (Local Wisdom) di Kalimantan”.al. Utomo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->