BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG Setiap tahun di seluruh dunia, kasus autisme mengalami peningkatan. Dalam penelitian yang dirangkum Synopsis of Psychiatry awal 1990-an, kasus autisme masih berkisar pada perbandingan 1 : 2.000. Angka ini meningkat di tahun 2000 dalam catatan Autism Research Institute di Amerika Serikat sebanyak 1 dari 150 anak punya kecenderungan menderita autis. Di Inggris, datanya lebih mengkhawatirkan. Di sana berdasarkan data International Congress on Autism tahun 2006 tercatat 1 dari 130 anak punya kecenderungan autis. Di Indonesia sering kali cukup sulit mendapatkan data penderita autis, ini karena orangtua anak yang dicurigai mengidap autisme seringkali tidak menyadari gejala-gejala autisme pada anak. Akibatnya, mereka merujuknya ke pintu lain di RS. Misalnya ke bagian THT karena menduga anaknya mengalami gangguan pendengaran dan ke Poli Tumbuh Kembang Anak karena mengira anaknya mengalami masalah dengan perkembangan fisik. Tidak bisa dijelaskan apa penyebab makin banyaknya kasus autisme di Indonesia. Yang bisa dilacak adalah faktor yang terkait dengan autisme, misalnya genetis dan biologis. Secara biologis, ada kemungkinan autisme berkaitan dengan gangguan pencernaan, alergi, gangguan kandungan, maupun polusi.(edy).( suarasurabaya.net. 13 desember 2008) 2. TUJUAN Tujuan Instruksional Umum Mampu menerapkan konsep keperawatan pada anak dengan autisme Tujuan Instruksional Khusus

c. Orang tua dengan gangguan jiwa (psikopat). dll sering tertinggal. seperti: a. Trauma lahir atau hipoksia yang berdampak injury pada lobus frontalis di otak. 2. c. perdarahan antepartum. Banyak bicara. Sulit menyelesaikan tugas atau pekerjaan sekolah. Pengurangan volume serebrum. d. b. dan alkohol. e. ibu merokok saat hamil. Anak yang diasuh di penitipan anak. c. Gambaran Klinis 1. Sering membuat kesalahan. Faktor genetik Terdapat mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin (D2 dan D4) pada kromosom 11p. 3. Riwayat kehamilan dengan eklampsia. Mudah beralih perhatian (terutama oleh rangsang suara). Gangguan pemusatan perhatian (inattention) a. b. c. fetal distress. bayi lahir dengan berat badan lahir rendah. Pengertian Gangguan perkembangan mental (developmental disorder) yang ditandai dengan adanya gangguan pemusatan perhatian dan tingkah laku yang hiperaktif. d. f. e. 2. . b. Sosial ekonomi keluarga yang tidak memadai. Tidak dapat tenang/diam. b. Gangguan otak dan metabolisme a. Gangguan fungsi astrosit dalam pembentukan dan penyediaan laktat serta gangguan fungsi oligodendrosit. Sering membuat gaduh suasana. g. Mainan. Etiologi 1. Hiperaktivitas a. Orang tua terkena kasus kriminal. mempunyai kebutuhan untuk selalu bergerak. Faktor lingkungan/psikososial. Konflik keluarga.TINJAUAN PUSTAKA Definisi penyakit Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Jumlah keluarga yang terlalu besar. Jarang menyelesaikan perintah sampai tuntas.

Problem sosial a. d. b. b. Offord. 4. e. Sikap menentang a. dan Boyle (dalam Grainger 2003) menyebutkan sebanyak 20-40% anak penderita ADHD juga didiagnosis mengalami gangguan . Tidak sabaran. mudah marah (dibandingkan dengan mereka yang seusia). pada sebagian anak yang mengalami gangguan perilaku. academic underachievement. hyperactivity. f. b. Hanya memiliki sedikit teman. 1.d. 5. Cenderung emosional. Banyak mengalami rasa khawatir dan takut. Impulsivity a. * Pada anak berusia 6-12 tahun dengan: 2. 3. d. 5. 2005) 5. Lebih gelisah dan impulsif dibandingkan dengan mereka yang seusia. Selalu memegang apa yang dilihat. c. Cemas a. Mengalami kecemasan pada situasi yang baru atau yang tidak familiar. Sulit untuk duduk diam. 6. b. Terlihat sangat pemalu dan menarik diri. impulsivity. c. Reaktif. e. 4. inattention. Sering bertindak tanpa dipikir dahulu. Sekadar tambahan. Bermasalah dengan orang-orang yang memiliki otoritas. Gambaran klinis di atas senada dengan rekomendasi dari AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRICS (2000) tentang ADHD adalah sbb: 1. 4. Komorbiditas biasanya juga terjadi dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders). 3. Sangat sensitif terhadap kritikan. terdapat komorbid atau tumpang tindih dengan gangguan lainnya (Desvi Yanti. Sering melanggar peraturan. c. 3. 2. Maka dokter sebaiknya menyiapkan evaluasi untuk ADHD. Sering memiliki rasa rendah diri dan tidak percaya diri. Lebih mudah merasa terganggu. Szatmari. Sering mengambil mainan teman dengan paksa. behavior problems.

Tidak bisa diam .Sulit beradaptasi dengan lingkungan 3.Sulit memfokuskan perhatian .perilaku.Tidak dapat tenang . dan 2 dari 3 anak hiperaktif juga mengalami gangguan perilaku.Serakah . Secara akademis.Sulit berkonsentrasi . 2002).Tidak ada nafsu makan 2. anak yang mengalami masalah dengan perilaku biasanya mengalami kesulitan untuk dididik di lingkungan kelas yang "tradisional" sehingga prestasi akademiknya rendah dan mereka seringkali didiagnosis mengalami kesulitan belajar.Sulit tenang . Pemoline e. Cummings. Usia sekolah . Masa prasekolah . Adolescent .Terlalu aktif . Sejalan hal ini.Suka menjengkelkan .Sulit untuk berkonsentrasi dan mengingat . Stewart.Tidak konsisten dalam sikap dan penampilan Penatalaksanaan 1. Masa baby – infant ..Tidak pernah merasa puas . Amphetamine c. Riwayat yang Diduga ADHD: 1. Singer. dan DeBlois (dalam Grainger.Anak serba sulit . Riset juga menunjukkan gangguan perilaku berhubungan dengan tingkat membolos dan drop out (DO) dari sekolah (Jimerson. et.Impulsif 4.al. Methylphenidate b.Sulit tidur .Menjengkelkan . 7.Keras kepala . Nortriptyline . 2003) menemukan bahwa 3 dari 4 anak dengan gangguan perilaku agresif ternyata juga hiperaktif. 6. Atomoxetine d. Farmakoterapi a.

(Behrman. yang terlihat sebelum usia 3 tahun. Kombinasi 1 dan 2 4. R. Rutin komunitas care Autism Definisi Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan).2. R. Suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks. aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan. Definisi Autisme adalah kelainan neuropsikiatrik yang menyebabkan kurangnya kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi. Terapi behaviour Terapi cognitive behaviour untruk membantu anak dengan ADHD untuk beradaptasi skill dan memperbaiki kemampuan untuk memecahkan masalah. 3. dimana kelainan ini muncul sebelum anak berusia 3 tahun (Teramihardja. A (2005) autisme merupakan gangguan perkembangan pervasive dengan masalah awal tiga area perkembangan utama yaitu perilaku. 1996: 305) Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. (Sacharin. M. 1999: 120) Menurut Isaac. dan minat yang terbatas. keluarga dan masyarakat sekitarnya. perkembangan bahasa. serta aktivitas dan minat yang terbatas. hambatan dalam pembicaraan. minat yang terbatas. Kadang keadaan ini membuat kebingungan dan sangat menyakitkan hati orang tua penderita. . M. J. kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik. 1996 : 305) Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal. 2007). disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Gangguan ini dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi.(Sacharin. perilaku tidak wajar dan adanya gerakan stereotipik. yang secara klinis ditandai oleh adanya 3 gejala utama berupa : kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional. interaksi sosial dan komunikasi. fenomena ritualistik dan konvulsif. perilaku tak wajar. Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik. Autisme adalah kelainan yang mempunyai dampak besar terhadap kehidupan penderita.

dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun. Menurut Dewo (2006) gangguan perkembangan pervasive autisme dapat disebabkan karena beberapa hal antara lain: 1. atau nutrisi tidak trpenuhi karena faktor ekonomi 4. Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks. dendrit. Akson dibungkus selaput bernama mielin. gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus (Suriviana. Genetis. Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak.ETIOLOGI Sepuluh tahun yang lalu penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada faktor psikologis saja. Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak. Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Keracunan logam berat seperti mercury yang banyak terdapat dalam vaksin imunisasi atau pada makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang hamil. keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan. PATOFISIOLOGI Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). . ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya. antara lain. Pada penelitian diketahui dalam tubuh anak-anak penderita autis terkandung timah hitam dan merkuri dalam kadar yang relatif tinggi. Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh. abnormalitas genetik dapat menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel – sel saraf dan sel otak 2. Imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri pembawa penyakit. gangguan imunologis. misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang tinggi. penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat. 3. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps. terletak di bagian otak berwarna putih. trauma. 2005). Sedangkan autoimun adalah kekebalan yang dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri yang justru kebal terhadap zat – zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya. Pada trimester ketiga. Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan tubuhnya sendiri karena zat – zat yang bermanfaat justru dihancurkan oleh tubuhnya sendiri.

dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya. berkurangnya akson. proses mengingat. dendrit. terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson. migrasi. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak. calcitonin-related gene peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf. Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir. kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Bila autisme disebabkan faktor genetik. dan sinaps. diferensiasi.Setelah anak lahir. Pembentukan akson. neurotrophin-4. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak. Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. dendrit. dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel. Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth without guidance. Yang jelas. serta kegiatan bahasa. pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye. otak kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik. dendrit. anak makin cerdas. dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses – proses tersebut. dendrit. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson. Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang. dan perkembangan jalinan sel saraf. belajar sensori-motor. dan sinaps. Kelainan genetis. Makin banyak sinaps terbentuk. keracunan logam berat. Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. glia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat). Penelitian dengan MRI menunjukkan. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan. atensi. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat. diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor. di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide. . vasoactive intestinal peptide. dan sinaps. pertumbuhan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf.

energi. Tidak bermain dengan teman seumurnya. muncul sebelum umur 3 tahun. 2. keracunan timah hitam. serta kokain. Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain kecukupan oksigen. Diagnosis harus memenuhi kriteria DSM IV (Diagnostic And Statistical Of Manual Disorders 1992 Fourth Edition). 2. Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. 2. protein. ekspresi wajah. hormon tiroid. 3. infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan. 1. 3. Gangguan yang jelas dalam perilaku non – verbal (perilaku yang dilakukan tanpa bicara) misalnya kontak mata. Bahasa yang digunakan sebagai komunikasi sosial. Gangguan kualitatif komunikasi. Interaksi sosial. Diagnosis autisme bisa ditegakkan apabila terdapat enam atau lebih gejala dari (1). dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan. . asam lemak esensial. yodium. aluminium serta metilmerkuri. Bermain simbolik atau imajinatif. Tidak berbagi kesenangan. serta zat gizi mikro seperti zat besi. Keterlambatan atau belum dapat mengucapkan kata-kata berbicara. MANIFESTASI KLINIS Keterlambatan atau fungsi abnormal pada ketrampilan berikut. 2. dengan cara yang sesuai.kesulitan memproses persepsi atau membedakan target. 1. seng. Bila dapat berbicara. Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain alkohol. terlihat gangguan kesanggupan memulai atau mempertahankan komunikasi dengan orang lain. muncul paling sedikit 2 dari gejala berikut : 1. radiasi. minat atau kemampuan mencapai sesuatu hal dengan orang lain. tanpa disertai usaha kompensasi dengan cara lain. posisi tubuh dan mimik untuk mengatur interaksi sosial. overselektivitas. 4. Gangguan kualitatif interaksi sosial. (2) dan (3) dengan paling sedikit 2 dari (1) dan 1 dari masing-masing (2) dan (3). paling sedikit satu dari gejala berikut : 1. Kemper dan Bauman menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses memori). serta asam folat. Kurangnya interaksi sosial timbal balik.

stereotipik. gangguan penggunaan . gangguan reaksi afektual (alam perasaan). 3. yang ditunjukkan dengan adanya 2 dari gejala berikut : 1. olanzapine bisa mengurangi hiperaktivitas. 4. stereotipik dan meneetap dan abnormal dalam intensitas dan fokus. Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang. atau bahasa yang tidak dapat dimengerti. Olanzapine. gerakan tubuh yang kompleks. penarikan diri. Minat yang terbatas. 2. gangguan bersosialisasi. atau bermain menirukan secara sosial yang sesuai dengan umur perkembangannya. Keterikatan pada ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara kaku dan tidak fleksibel. Kadar norepinefrin. Pola perilaku. tetapi efektif mengurangi perilaku autistik seperti hiperaktivitas. hiperaktivitas. agresivitas dan gangguan tidur. dan serotonin 5-HT pada anak normal dalam keadaan stabil dan saling berhubungan. digunakan karena mampu menghambat secara luas pelbagai reseptor. Sekitar 30-50 persen penyandang autis mempunyai kadar serotonin tinggi dalam darah. 4. Antipsikotik generasi baru.3. Akan tetapi. merupakan antagonis kuat terhadap reseptor serotonin 5-HT dan dopamin tipe 2 (D2). minat dan aktivitas yang terbatas. yaitu neurotransmiter atau penghantar sinyal di sel-sel saraf. Risperidone bisa digunakan sebagai antagonis reseptor dopamin D2 dan serotonin 5-HT untuk mengurangi agresivitas. yaitu antipsikotik atipikal. dan tingkah laku menyakiti diri sendiri. gangguan respons sensori. PENATALAKSANAAN MEDIS Kimia otak yang kadarnya abnormal pada penyandang autis adalah serotonin 5hydroxytryptamine (5-HT). tidak demikian pada penyandang autis. misalnya flapping tangan dan jari. manipulasi terhadap sistem dopamin dan serotonin dapat bermanfaat bagi pasien autis. menyakiti diri sendiri. 3. Gerakan motorik yang stereotipik dan berulang. Terapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik. Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan. Sejumlah observasi menyatakan. dopamin. berulang dan tidak berubah (stereotipik). Preokupasi terhadap bagian dari benda.

Latihan dan pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant conditioning yaitu dukungan positif (hadiah) dan dukungan negatif (hukuman). Dengan pelbagai terapi itu. terapi wicara. serta keadaan cemas dan depresi. dilakukan terapi biomedis. Untuk meningkatkan keterampilan sosial serta kegiatan sehari-hari. 2. latihan integrasi pendengaran (AIT) untuk mengurangi hipersensitivitas terhadap suara. iritabilitas emosi atau kemarahan. penyandang autis perlu diterapi secara nonmedikamentosa yang melibatkan pelbagai disiplin ilmu. antara lain terapi edukasi untuk meningkatkan interaksi sosial dan komunikasi. Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan terutama bahasa. terapi perilaku untuk mengendalikan perilaku yang mengganggu/membahayakan. Terapi perilaku dengan memanfaatkan keadaan yang terjadi dapat meningkatkan kemahiran berbicara. Mengembangkan ketrampilan sosial dan ketrampilan praktis. menagement perilaku dapat mengubah perilaku destruktif dan agresif. dan sebagainya. . Terapi itu meliputi pengaturan diet dengan menghindari zat-zat yang menimbulkan alergi (kasein dan gluten). serta pengobatan terhadap jamur dan bakteri yang berada di dinding usus. perilaku menyakiti diri sendiri. Anak bisa mandiri dan bersosialisasi. sensori-integrasi yaitu pengorganisasian informasi lewat semua indera. Untuk memperbaiki gangguan saluran pencernaan yang bisa memperburuk kondisi dan gejala autis. 3. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN Penatalaksanaan pada autisme bertujuan untuk: 1. Menurut dr Ika Widyawati SpKJ dari Bagian Ilmu Penyakit Jiwa FKUI. terapi okupasi/fisik.bahasa. diharapkan penyandang autis bisa menjalani hidup sebagaimana anak-anak lain dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri dan berprestasi. pemberian suplemen vitamin dan mineral. agresi. intervensi keluarga. Mengurangi masalah perilaku.

M. ketidakmampuan untuk menggunakan batasan-batasan abstrak. A (2005) dan Townsend. ekolali. tidak adanya ekspresi nonverbal seperti kontak mata.C (1998) antara lain:            Tidak suka dipegang Rutinitas yang berulang Tangan digerak-gerakkan dan kepala diangguk-anggukan Terpaku pada benda mati Sulit berbahasa dan berbicara 50% diantaranya mengalami retardasi mental Ketidakmampuan untuk memisahkan kebutuhan fisiologis dan emosi diri sendiri dengan orang lain Tingkat ansietas yang bertambah akibat dari kontak dengan dengan orang lain Ketidakmampuan untuk membedakan batas-batas tubuh diri sendiri dengan orang lain Mengulangi kata-kata yang dia dengar dari yang diucapkan orang lain atau gerakkan-gerakkan mimik orang lain Penolakan atau ketidakmampuan berbicara yang ditandai dengan ketidakmatangan stuktur gramatis. Tugas-tugas perkembangan yang tidak terselesaikan dari rasa percaya terhadap rasa tidak percaya 2. sifat responsif pada wajah. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Townsend. Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan . pembalikan pengucapan.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN KEPERAWATAN DITINJAU DARI KEPERAWATAN ANAK Pengkajian data focus pada anak dengan gangguan perkembangan pervasive menurut Isaac.C (1998) diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada pasien/anak dengan gangguan perkembangan pervasive autisme antara lain:  Risiko tinggi terhadap mutilasi diri berhubungan dengan: 1. gerak isyarat. M. ketidakmampun untuk menamai benda-benda.

Tidak adanya orang terdekat 3. Tugas perkembangan tidak terselsaikan dari percaya versus tidak percaya 4. ensefalitis. ensefalitis. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisikondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu. Deprivasi ibu 6. fenilketonuria tidak teratasi. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisikondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi. Deprivasi ibu 5. tuberous sclerosis. anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X) 5. Perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi. Sejarah perilaku-perilaku mutilatif/melukai diri sebagai respons terhadap ansietas yang meningkat 7. Ketidakacuhan yang nyata terhadap lingkungan atau reaksi-reaksi yang histeris terhadap perubahan-perubahan pada lingkungan  Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan: 1. anoksia selama kelahiran dan sindroma fragilis X 4. Gangguan konsep diri 2. tuberous sclerosis. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai  Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan: 1. Ketidakmampuan untuk mempercayai 2. Penarikan diri dari diri 3.3. Stimulasi sensosrik yang tidak sesuai 6. anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X) 4. Deprivasi ibu 5. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai . ensefalitis. tuberkulosa sclerosis.

sarung tangan untuk mencegah menarik – narik rambut. Resiko terhadap mutilasi diri Tujuan: Pasien akan mendemonstrasikan perilaku-perilaku alternative (misalnya memulai interaksi antara diri dengan perawat) sebagai respons terhadap kecemasan dengan criteria hasil: 1. Gangguan identitas diri/pribadi berhubungan dengan: 1.C (1998) perencanaan dan rasionalisasi untuk mengatasi masalah keperawatan pada anak dengan gangguan perkembangan pervasife autisme antara lain: 1. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai PERENCANAAN DAN RASIONALISASI Menurut Townsend. pemberian bantal yang sesuai untuk mencegah luka pada ekstremitas saat gerakan-gerakan histeris . Rasa gelisah dipertahankan pada tingkat anak merasa tidak memerlukan perilaku-perilaku mutilatif diri 2. Deprivasi ihu 4. M. Pasien memulai interaksi antara diri dan perawat apabila merasa cemas Intervensi 1. Kaji dan tentukan penyebab perilaku – perilaku mutilatif sebagai respon terhadap kecemasan Rasional : pengkajian kemungkinan penyebab dapat memilih cara /alternative pemecahan yang tepat 3. Jamin keselamatan anak dengan memberi rasa aman. Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan 2. lingkungan yang kondusif untuk mencegah perilaku merusak diri Rasional: Perawat bertanggun jawab untuk menjamin keselamatan anak) 2. Tugas-tugas tidak terselesaikan dari rasa percaya versus rasa tidak percaya 3. Pakaikan helm pada anak untuk menghindari trauma saat anak memukulmukul kepala.

dan pelukan  Rasional : Pasien autisme dapat merasa terncam oleh suatu rangsangan yang gencar pada pasien yang tidak terbiasa o Dengan kehadiran anda beri dukungan pada pasien yang berusaha keras untuk membentuk hubungan dengan orang lain dilingkungannya  Rasional :Kehadiran seorang yang telah terbentuk hubungan saling percaya dapat memberikan rasa aman . Kerusakan interaksi sosial   Tujuan : Anak akan mendemonstrasikan kepercayaan pada seorang pemberi perawatan yang ditandai dengan sikap responsive pada wajah dan kontak mata dalam waktu yang ditentukan dengan criteria hasil: o Anak mulai berinteraksi dengan diri dan orang lain o Pasien menggunakan kontak mata. jangan memaksakan interaksi-interaksi. perkenalkan dengan berangsur-angsur dengan sentuhan. sifat responsive pada wajah dan perilaku-perilaku nonverbal lainnya dalam berinteraksi dengan orang lain o Pasien tidak menarik diri dari kontak fisik dengan orang lain Intervensi o Jalin hubungan satu – satu dengan anak untuk meningkatkan keper-cayaan  Rasional : Interaksi staf dengan pasien yang konsisten meningkatkan pembentukan kepercayaan o Berikan benda-benda yang dikenal (misalnya: mainan kesukaan. Untuk membentuk kepercayaan satu anak dirawat oleh satu perawat Rasional : Untuk dapat bisa lebih menjalin hubungan saling percaya dengan pasien 5. senyuman . mulai dengan penguatan yang positif pada kontak mata. dan kebersediaan ketika anak berusaha untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan dasarnya untuk meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya  Rasional: Karakteristik-karakteritik ini meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya o Lakukan dengan perlahan-lahan. selimut) untuk memberikan rasa aman dalam waktu-waktu tertentu agar anak tidak mengalami distress  Rasional : Benda-benda ini memberikan rasa aman dalam waktuwaktu aman bila anak merasa distres o Sampaikan sikap yang hangat.Rasional : Untuk menjaga bagian-bagian vital dari cidera 4. dukungan. Tawarkan pada anak untuk menemani selama waktu – waktu mening-katnya kecemasan agar tidak terjadi mutilasi Rasional alam upaya untuk menurunkan kebutuhan pada perilaku-perilaku mutilasi diri dan memberikan rasa aman 2.

?” )  Rasional: Teknik-teknik ini digunakan untuk memastikan akurasi dari pesan yang diterima. Kerusakan komunikasi verbal   Tujuan : Anak akan membentuk kepercayaan dengan seorang pemberi perawatan ditandai dengan sikap responsive dan kontak mata dalam waktu yang telah ditentukan dengan kriteria hasil: o Pasien mampu berkomunikasi dengan cara yang dimengerti oleh orang lain o Pesan-pesan nonverbal pasien sesuai dengan pengungkapan verbal o Pasien memulai berinteraksi verbal dan non verbal dengan orang lain Intervensi o Pertahankan konsistensi tugas staf untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi anak  Rasional: Hal ini memudahkan kepercayaan dan kemampuan untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi pasien o Antisipasi dan penuhi kebutuhan-kebutuhan anak sampai kepuasan pola komunikasi terbentuk  Rasional : Pemenuhan kebutuhan pasien akan dapat mengurangi kecemasan anak sehingga anak akan dapat mulai menjalin komunikasi dengan orang lain dengan asertif o Gunakan tehnik validasi konsensual dan klarifikasi untuk menguraikan kode pola komunikasi ( misalnya :” Apakah anda bermaksud untuk mengatakan bahwa…. Gangguan Indentitas Pribadi   Tujuan: Pasien akan menyebutkan bagian-bagian tubuh diri sendiri dan bagianbagian tubuh dari pemberi perawatan dalam waktu yang ditentukan untuk mengenali fisik dan emosi diri terpisah dari orang lain saat pulang dengan kriteria hasil: o Pasien mampu untuk membedakan bagian-bagian dari tubuhnya dengan bagian-bagian dari tubuh orang lain o Pasien menceritakan kemampuan untuk memisahkan diri dari lingkungannya dengan menghentikan ekolalia (mengulangi kata-kata yang di dengar) dan ekopraksia (meniru gerakan-gerakan yang dilihatnya) Intervensi: o Fungsi pada hubungan satu-satu dengan anak  Rasional : Interaksi pasien staf meningkatkan pembentukan data kepercayaan . Hati-hati untuk tidak “berbicara atas nama pasien tanpa seinzinnya” o Gunakan pendekatan tatap muka berhadapan untuk menyampaikan ekspresi-ekspresi nonverbal yang benar dengan menggunakan contoh  Rasional: Kontak mata mengekspresikan minat yang murni terhadap dan hormat kepada seseorang 4. menjelaskan pengertian-pengertian yang tersembunyi di dalam pesan.3..

o o o o Membantu anak untuk mengetahui hal-hal yang terpisah selama kegiatankegiatan perawatan diri. Berhati-hati dengans entuhan sampai kepercayaan anak telah terbentuk  Rasional: Bila gerak isyarat ini dapat diintepretasikan sebagai suatu ancaman oleh pasien Tingkatkan upaya anak untuk mempelajari bagian-bagian dari batas-batas tubuh dengan menggunakan cermin dan lukisan serta gambar-gambar dari anak  Rasional: Dapat memberikan gambaran tentang bentuk tubuh dan gambaran diri pada anak secara tepat . menggunakan sentuhan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan antara pasien dengan perawat. seperti berpakaian dan makan  Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anda terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain Jelaskan dan bantu anak dalam menyebutkan bagian-bagian tubuhnya  Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anak terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain Tingkatkan kontak fisik secara bertahap demi tahap.

perkembangan otak yang tidak normal atau tidak seperti biasanya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada neurotransmitter. Dalam kemampuan intelektual anak autis tidak mengalami keterbelakangan. disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik).BAB IV PENUTUP KESIMPULAN ADHD adalah gangguan perkembangan mental (developmental disorder) yang ditandai dengan adanya gangguan pemusatan perhatian dan tingkah laku yang hiperaktif Autis suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks. dan minat yang terbatas. Sampai saat ini penyebab pasti autis belum diketahui. dianggap sebagai faktor yang berhubungan dengan kejadian autis pada anak. kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik. tetapi pada hubungan sosial dan respon anak terhadap dunia luar. dan akhirnya dapat menyebabkan adanya perubahan perilaku pada penderita. Dan cenderung suka mengamati hal – hal kecil yang bagi orang lain tidak menarik. Anak cenderung asik dengan dunianya sendiri. Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik. tapi bagi anak autis menjadi sesuatu yang menarik. yang terlihat sebelum usia 3 tahun. tetapi beberapa hal yang dapat memicu adanya perubahan genetika dan kromosom. perilaku tak wajar. . yang secara klinis ditandai oleh gejala – gejala diantaranya kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional. anak sangat kurang.