ANALISIS DAMPAK PILKADA LANGSUNG TERHADAP PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBENTUK “SOCIAL CONTROL”

Oleh : PROF.DR. SADU WASISTIONO, MS

kabupaten/kota) sampai kepala desa. mulai dari presiden. Pemilihan Kepala Daerah secara langsung juga merupakan upaya membuat sistem pengisian jabatan politik menjadi konsisten. Pengisian jabatan presiden dan kepala desa sudah dilakukan melalui pemilihan secara langsung oleh rakyat.A. Pemilihan Kepala Daerah secara langsung merupakan wujud dari model pengisian pejabat publik oleh masyarakat. PENDAHULUAN    Pemilihan Kepala Daerah secara langsung merupakan bagian dari proses demokratisasi yang sedang bergulir di tanah air. kepala daerah (propinsi. . sebagai konsekuensi logis dari gerakan reformasi. sehingga akuntabilitasnya kepada pemilik kedaulatan menjadi lebih kongkret.

A. b. Dampak Proses Pilkada Secara Langsung Terhadap Aspek Politik & Pemerintahan. Pemerintahan adalah bisnis kepercayaan. karena prinsip kedaulatan di tangan rakyat dapat diwujudkan secara faktual. Apabila Pilkada secara langsung berjalan dengan sukses. maka kehidupan politik yang demokratis di Daerah akan dapat dibangun secara bertahap dan bersinambungan. Dampak Positif : a. Hukum serta Sosial-Ekonomi Dampak Pada Aspek Politik dan Pemerintahan : 1. dengan adanya kepercayaan dari masyarakat maka partisipasi akan lebih mudah digalang.B. Kepercayaan masyarakat pada pemerintah akan meningkat. . Hal tersebut akan memberi andil besar bagi terbangunnya sistem politis demokratis secara nasional.

Dengan pemerintahan yang stabil.c. d. Partai politik sebagai alat untuk mengembangkan demokrasi akan memperoleh simpati dari rakyat. e. Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang dipilih langsung oleh pemilih akan memiliki legitimasi yang kuat. yuridis. politis dan terutama moral akan disampaikan langsung kepada masyarakat. Dengan cara demikian ada dorongan yang kuat agar dana-dana publik yang dikelola oleh Pemerintah sebagian besar dialokasikan kembali untuk kepentingan publik. . bukan kepentingan birokrasi seperti yang selama ini terjadi. sehingga tidak mudah digoyahkan. baik administratif. Akuntabilitas Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. tujuan sosial-ekonomi dari desentralisasi yakni peningkatan kesejahteraan masyarakat akan dapat diwujudkan secara bertahap.

daya kritis masyarakat terhadap pemerintah daerah akan semakin meningkat. Kampus Kompetensi Jabatan (KKJ) serta Kamus Kompetensi Individu (KKI). Indikasi ke arah itu telah ada. antara lain dengan menempatkan Sekretaris Daerah sebagai pembina PNS di Daerahnya (pasal 122 ayat 4 UU Nomor 32 Tahun 2004) ataupun membangun organisasi fungsional bagi Satuan Polisi Pamong Praja (PP Nomor 32 Tahun 2004).f. g. menyusun Kamus Kompetensi Organisasi (KKO). karena merasa punya andil di dalam menentukan pemimpinnya sendiri. Pada sisi yang lain. sehingga makna pemerintahan demokratis – yakni dari rakyat – oleh rakyat – dan untuk rakyat betul-betul dapat diwujudkan. Apabila birokrasi pemerintahan bersifat netral – dalam arti tidak memihak atau terpaksa harus memihak salah satu kontestan pilkada – sehingga salah satu prinsip negara demokrasi yakni : “public service neutrality” dapat diwujudkan. maka secara bertahap kita dapat membangun birokrasi yang profesional. .

b. tidak jujur dan penuh kecurangan. tidak akan ada investasi. dan bahkan konflik antarpendukung. Legitimasi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih akan terbatas. Dampak negatif a. Tanpa pemerintahan yang stabil. Untuk memulihkan kembali kehidupan masyarakat yang harmonis akan memerlukan waktu. tenaga dan biaya yang cukup besar. sehingga stabilitas pemerintahan akan mudah terganggu. sehingga akan terbentuk sikap saling curiga. yang pada gilirannya tidak tercipta lapangan pekerjaan baru.2. Ini merupakan biaya sosial yang harus ditanggung oleh semua pihak apabila Pilkada dilaksanakan secara tidak benar. tidak percaya. . Apabila Pilkada secara langsung dilaksanakan secara tidak benar. maka rakyat tidak akan percaya pada sistem yang ada.

Kampanye negatif yang menyerang pribadi akan mengubah kompetisi perebutan jabatan kdh dan wakil kdh menjadi konflik yang terbuka. termasuk isyu tentang putra daerah. d. Partai politik maupun tokohnya yang bermain tidak jujur dalam Pilkada akan kehilangan dukungan dari konstituennya. karena hubungan emosional antara masyarakat dengan calon kepala daerah dan wakilnya sangatlah kuat dibanding hubungan emosional masyarakat dengan calon presiden dan wakil presiden.c. Hubungan emosional yang kuat antara calon kdh dan wakilnya akan memudahkan terjadinya konflik horisontal antarpendukung karena faktor primordial. maka Pilkada akan bersifat kontraproduktif terhadap pengembangan demokrasi. . Tanpa kebesaran jiwa dari semua pihak yang berkepentingan dengan kemajuan daerah.

antara lain pelayanan menjadi tidak egaliter. . f. Konflik pada tataran birokrasi secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada masyarakat. maupun sosial budaya. baik karena kemauan sendiri ataupun karena keadaan yang memaksa.e. masyarakat juga dengan mudah akan tersulut konflik oleh masalah yang sederhana. Kalau dalam masyarakat terus menerus terjadi konflik. yang membuat iklim dan budaya organisasi menjadi tidak sehat karena akan terbentuk kelompokkelompok yang berafiliasi pada partai politik tertentu. Apabila birokrasi bersifat tidak netral. politik. maka akan terjadi politisasi birokrasi. jangan berharap akan dapat diperoleh kemajuan baik secara ekonomi. Hal semacam itu akan membawa dampak pada penggunaan dana publik yang lebih banyak didasarkan pada perhitungan politik daripada kepentingan publik secara meluas. Pengisian jabatan lebih didasarkan pada kedekatan ideologi politiknya bukan karena kapasitas seseorang.

Dukungan partai politik yang tercermin melalui anggotanya di DPRD. yakni faktor yang berada diluar kendali manajemen. adapula faktor eksternal. DAMPAK HASIL PILKADA TERHADAP KEMAJUAN DAERAH  Banyak sekali faktor yang menentukan kemajuan suatu daerah. b. yakni : a. ada faktor internal yakni faktor yang berada di bawah kendali manajemen. Berkaitan dengan Pilkada.C. “Profesionalitas” birokrasi pemerintahan daerah. Kapabilitas Kepala Daerah terpilih.  . ada tiga faktor penting yang berdampak langsung terhadap kemajuan daerah. c.

3. sehingga memerlukan konsultansi pihak luar (2. Apabila DPRDnya High Profile. meskipun cenderung lambat (2.) SEDANG Tingkat kemajuan daerah tinggi apabila DPRD justru bersifat “Low Profile” (3. apabila didukung birokrasi profesional (2.1) TINGGI RENDAH RENDAH KAPABILITAS KEPEMIMPINAN .3) Tergantung Dinamika DPRD.2) Cenderung banyak konflik politik. bahkan kemunduran (1.PETA PRAKIRAAN HASIL PILKADA TERHADAP KEMAJUAN DAERAH (Berdasarkan Perpaduan antara Faktor Kapabilitas Kepemimpinan dengan Dukungan Politik dari Parpol Melalui DPRD) Kemajuan Daerah sangat tergantung pada Parpol pendukung (1.1) Tingkat kemajuan daerah moderat.1) SEDANG D U K U N G A N G P O L TINGGI Tingkat kemajuan daerah akan tinggi (3.2) Daerah akan cenderung mengalami kemandegan.2) Tingkat kemajuan daerah lambat.3) Tingkat kemajuan daerah moderat. daerah berpeluang untuk maju (1. membuat kemajuan daerah menjadi lambat (3.

sehingga memerlukan konsultansi pihak luar (2.PETA PRAKIRAAN HASIL PILKADA TERHADAP KEMAJUAN DAERAH (Berdasarkan Perpaduan antara Faktor Kapabilitas Kepemimpinan dengan “Profesionalitas” Birokrasi) P R O F B E I S R I O O K N R A A L S I I T A S TINGGI Kemajuan Daerah sangat tergantung pada ketulusan birokrasi. meskipun cenderung lambat (2. diperlukan banyak supervisi dari Pem tingkat atasnya dan bantuan pihak luar (1. bahkan kemunduran (1.2) Daerah akan cenderung mengalami kemandegan.1) TINGGI RENDAH RENDAH KAPABILITAS KEPEMIMPINAN .1) Tingkat kemajuan daerah moderat sampai tinggi apabila dilakukan banyak pendelegasian kew .2) Cenderung menggunakan gaya otoriter untuk membuat daerah maju (3. (3.3) SEDANG Tingkat kemajuan daerah dari moderat ke arah tinggi apabila ada cetak biru yang jelas.3) Tingkat kemajuan daerah moderat.(2.3) Untuk mencapai kemajuan.1) SEDANG Tingkat kemajuan daerah akan tinggi (3.2) Tingkat kemajuan daerah lambat. atau Justru terjadi biropatologi (1.

Melalui cara ini.Prospek “Social Control” Oleh Masyarakat   Karena merasa ikut memilih KDH dan Wakil KDH. akuntabilitas pemerintahan kepada publik diharapkan akan semakin meningkat. . Pada pasal 27 ayat (2) UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dikemukakan bahwa Kepala Daerah mempunyai kewajiban menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat. sehingga korupsi dapat dikurangi ( Lihat konsep Killgaard tentang korupsi  Corruption = Discretion + Monopoly – Accountability). melalui media setempat yang dapat diakses oleh masyarakat. diperkirakan kesadaran masyarakat untuk ikut mengawasi jalannya pemerintahan daerah akan semakin terbuka dan meluas.

. terutama dari segi penggunaan dana publik. termasuk hak memperoleh informasi mengenai penyelenggaraan institusi publik yang dibiayai oleh dana publik. bukan anggaran pendapatan dan belanja pemerintah pusat atau pemerintah daerah.  Adalah tugas para ilmuwan untuk ikut membelajarkan masyarakat sehingga mereka memahami hak dan kewajibannya sebagai warganegara maupun warga daerah. APBN maupun APBD adalah anggaran pendapatan dan belanja negara atau daerah. Peran “social control” dari masyarakat akan dapat berjalan lebih meluas apabila ada keterbukaan dari birokrasi yang selama ini cenderung tertutup dan menutupi kegiatannya. Anggaran pemerintah pada prinsipnya bersifat terbuka karena diatur dengan UU atau Perda. menunjukkan masih dipakainya paradigma lama dalam tubuh birokrasi. serta telah masuk ke dalam Lembaran Negara atau Lembaran Daerah. Ungkapan bahwa anggaran pemerintah adalah sesuatu yang bersifat rahasia.