P. 1
artikelLila2

artikelLila2

|Views: 147|Likes:
Published by Lilacita Pratiwi

More info:

Published by: Lilacita Pratiwi on May 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2013

pdf

text

original

ADHESI Porphyromonas gingivalis PADA NEUTROFIL YANG DIINKUBASI EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.

)
Oleh : Lila Cita Pratiwi NIM 081610101025

Abstract The initial phase of the inflammatory response against bacterial infection is the process of bacterial adhesion on neutrophil inflammatory cells. One of the bacteria that most common found in cases of chronic periodontitis is Porphyromonas gingivalis. The more bacteria attached the more inflammatory response occured, which caused periodontal tissue’s destruction. Roselle (Hibiscus sabdariffa L.) known to have many benefits in health. Flavonoid content in Roselle suspected of having many anti-inflammatory effects. One of them, probably is the inhibitory action of bacterial adhesion on neutrophils. The aim of this research was to analyze the effect of Roselle’s extract in decreasing adhesion index of P. gingivalis on neutrophils. In this research, neutrophils were incubated by Roselle extract with various concentration ( 50% and 100%) and exposed with P.gingivalis, compared to neutrophils that exposed with P.gingivalis but not given the extract (control). The result showed that neutrophils that incubated by Roselle extract had fewer bacterial adhesion compared to neutrophils that not incubated by Roselle extract. Roselle extract with 100% concentration had more power to inhibit the bacterial adhesion compared to another concentration. It can be concluded that the extract of Roselle decrease adhesion index of P. gingivalis on neutrophils. Keywords: Adhesion, Neutrophils, Roselle, P.gingivalis

1

Tanpa Tahun). Salah satu bakteri penyebab inflamasi di jaringan periodontal. Perlekatan ini sangat tergantung dari sifat-sifat permukaan bakteri yang akan difagositosis. 2003). bisa berlanjut hingga terjadinya penurunan fungsi jaringan periodontal. termasuk P. 1995. proses perlekatan ini dapat dipermudah oleh proses opsonisasi yaitu proses pelapisan partikel antigen oleh antibodi yang terdapat di dalam serum darah. misalnya hidrofobisitas dan tegangan permukaan (Bellanti. Bakteri ini dapat memetabolisme asam amino dan menghasilkan sejumlah metabolit yang bersifat racun terhadap jaringan gingiva pada manusia (MicrobeWiki. maupun melalui interaksi hidrofobik antara partikel hidrofob pada membran sel bakteri dan membran sel neutrofil (BSN Medical. bakteri dapat melekat pada sel neutrofil melalui reseptor yang terdapat pada membran neutrofil. Sehingga inflamasi harus dikontrol. Penelitian .gingivalis. Pada keadaan lain. 2008). pepsin. yang akhirnya menimbulkan reaksi inflamasi yang pada awalnya diperankan oleh sel inflamatori neutrofil. Perusakan neutrofil juga menyebabkan terjadinya pelepasan mediator inflamasi serta enzim proteolitik. yang mengakibatkan lisisnya jaringan (Grossman. 1995). apabila respon berlangsung terusmenerus. dan banyak ditemukan pada kasus periodontitis kronis adalah Porphyromonas gingivalis. Berdasarkan uraian di atas. dan cathepsin. Rosella banyak diketahui bersifat sebagai anti inflamasi untuk mencegah peradangan dan mengurangi rasa nyeri pada saat infeksi terjadi. Sebuah sel neutrofil biasanya dapat memfagositosis 3 sampai 20 bakteri sebelum sel itu menjadi inaktif dan mati. Proses ini mengakibatkan terjadinya respon inflamasi. Setelah melekat.2 PENDAHULUAN Tahap awal dari respon inflamasi terhadap infeksi bakteri adalah proses adhesi berupa perlekatan bakteri pada sel-sel inflamatori neutrofil. neutrofil akan membunuh bakteri dengan mekanisme bakterisidal. Susanti dan Rahayuningsih. salah satunya dapat melalui pengendalian aktifitas sel inflamatori neutrofil. Neutrofil berperan penting pada respon radang akut. 1993). sehingga menyebabkan bakteri dapat melekat dengan mudah pada reseptornya yang terdapat di membran neutrofil (Robbins dan Kumar.

Penelitian diawali dengan pengekstrakan kelopak bunga Rosella.. Rancangan penelitian menggunakan post test only control group design yaitu dilakukan pengukuran terhadap variabel yang diteliti setelah diberikan suatu perlakuan. kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol. 2006). gingivalis galur murni ATCC strain 33277 dengan medium kulturnya yaitu medium BHI diperkaya dengan hemin dan vitamin K1. Alkohol. gingivalis pada neutrofil. heparin. aquadest steril. dan RPMI. darah vena perifer. kandungan flavonoid pada kelopak bunga Rosella dapat menurunkan daya adhesi bakteri pada membran neutrofil.3 membuktikan bahwa kelopak bunga Rosella mengandung berbagai macam zat aktif yang salah satunya adalah antosianin yang telah diteliti memiliki efek antioksidan yang kuat dan antiinflamasi. Untuk membuat sediaan ekstrak kelopak bunga Rosella konsentrasi 50% dibuat dengan cara mengambil 1 ml . Kelopak kering Rosella yang telah dihaluskan dimaserasi dengan etanol 97% selama 24 jam di dalam shaker bath. Pembuatan ekstrak dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas MIPA Universitas Jember. kemudian diuapkan dengan rotary evaporator sampai didapatkan ekstrak dengan konsentrasi 100%.2010. BAHAN DAN METODE Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris in vitro. Flavonoid juga mampu menghambat perlekatan bakteri dengan cara mengikat protein permukaan bakteri dan menurunkan hidrofobisitas reseptor pada membran sel fagosit (Hamsafir. isolat neutrofil yang didapatkan dari darah vena perifer orang sehat yang diisolasi dengan teknik gradient density menggunakan Ficoll Hypaque Centrifugation. Bahanbahan yang diperlukan antara lain : ekstrak kelopak Bunga Rosella. Oleh karena itu patut diduga bahwa. Variabel terikat pada penelitian ini ialah indeks adhesi P. Ficoll Hypaque 1077. dan 100%. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2011 di Laboratorium Biomedik Bagian Mikrobiologi dan Laboratorium Bio Science Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Variabel bebas pada penelitian ini adalah ekstrak kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa) konsentrasi 50%. HBSS. Septiana et al. P. dextran.

Setelah itu. menyisakan lapisan terbawah yang mengandung neutrofil. Di akhir pengamatan chamber dicuci dengan HBSS. diinkubasi dalam shaker incubator selama 16 jam. 5% CO2. Supranatan diaspirasi dan diresuspensi dengan RPMI sampai dengan 500 µl. Kemudian dilanjutkan dengan kultur P. P. kemudian dikultur pada atmosfir anaerob (menggunakan anaerobic gas kit) selama 2x24 jam.4 sediaan 100% dicampur dengan 1 ml aquadest steril. masing-masing 50 µl dan diinkubasi selama 15 menit. pada chamber 1-6 masing-masing ditambahkan suspensi P. gingivalis. Tiga lapisan teratas dibuang. diinkubasikan selama 3 jam dalam suhu 370C. Dua sisanya diberi 50 μl RPMI yang berfungsi sebagai kontrol. Konsentrasi Porphyromonas gingivalis dibuat menjadi 3x106 sel/ml. 370C dan 5% CO2. 370C dan 5% CO2. dengan dua kali pengulangan. dan dicentrifuge 1350 RPM selama 30 menit hingga terbentuk 4 lapisan. Hasil preparat yang sudah dicat dengan pewarnaan Giemsa. Setelah itu indeks adhesi bakteri dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut. kemudian diresuspensi dengan 6 cc HBSS. . gingivalis 200µl. Darah vena perifer pasien diambil sebanyak 9cc dan langsung dicampur dengan antikoagulan. kemudian difiksasi dan dilakukan pewarnaan Giemsa. kemudian dilakukan pembuatan hapusan dan pewarnaan. Selanjutnya proses isolasi neutrofil. diamati dengan mikroskop inverted. Dua petridish diberikan ekstrak dengan kosentrasi 50%. Darah dialirkan ke tabung falcon lain yang telah berisi 3cc larutan Ficoll. Neutrofil yang sudah diresuspensi tersebut ditambahkan 1 cc dextran 6% dan didiamkan selama 90 menit. Serum diambil dengan pipet mikro dan diencerkan dengan 6 cc HBSS. gingivalis dikultur dalam medium BHI yang diperkaya dengan vitamin K1 dan hemin. Darah dibagi menjadi 3 tabung falcon dan dicentrifuge 650 rpm selama 10 menit hingga terbentuk 2 lapisan (sel darah dan serum). serta dua petridish selanjutnya diberikan ekstrak dengan konsentrasi 100%. Perhitungan dilakukan dengan cara menghitung jumlah bakteri yang menempel per neutrofil sampai jumlah neutrofil keseluruhan . Ekstrak kelopak bunga Rosella diberikan terhadap 4 dari 6 petridish masing-masing 50 μl. Secara perlahan. Uji indeks adhesi dilakukan dengan cara melapiskan isolat neutrofil pada 6 coverslip dalam 6 petridish.

29 ± 1. seperti dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 1.59 Kelompok perlakuan 1 (+ekstrak Rosella 50%) 5.54 ± 1.40 ± 1.rata adhesi P.03 . Tabel 1. HASIL Hasil penelitian adhesi P. Rata.gingivalis pada neutrofil antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan Adhesi P.5 Indeks adhesi = Jumlah bakteri yang melekat per neutrofil Jumlah neutrofil yang dihitung Data hasil penelitian ini diuji secara parametrik dengan One Way Anova untuk mengetahui adanya perbedaan antar kelompok.gingivalis pada Neutrofil Kelompok kontrol (+ RPMI ) X ± SD 8.gingivalis pada neutrofil kelompok perlakuan 2 lebih sedikit daripada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan 1.00 Kelompok perlakuan 2 (+ekstrak Rosella 100%) 3. Sedangkan rata-rata jumlah adhesi P. gingivalis pada neutrofil yang diinkubasi oleh ekstrak kelopak bunga Rosella menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol (diinkubasi RPMI) adhesi bakteri lebih tinggi daripada kelompok perlakuan 1 (diinkubasi ekstrak Rosella 50%) dan kelompok perlakuan 2 (diinkubasi esktrak Rosella 100%). kemudian dilanjutkan dengan uji LSD untuk mengetahui besarnya perbedaan antar kelompok. Hal ini menunjukkan adanya penurunan indeks adhesi pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Pada kelompok kontrol (Gambar 2) adhesi bakteri P.54 5 0 Kelompok Kelompok Kelompok Kontrol Perlakuan Perlakuan 1 2 3. gingivalis pada neutrofil Keterangan : Kelompok kontrol Kelompok Perlakuan 1 Kelompok Perlakuan 2 : Neutrofil diinkubasi RPMI : Neutrofil diinkubasi ekstrak kelopak Rosella konsentrasi 50% : Neutrofil diinkubasi ekstrak kelopak Rosella konsentrasi 100% * : Terdapat perbedaan yang signifikan Secara mikroskopis. Neutrofil diinkubasi RPMI (kelompok kontrol) mengadhesi P. gambaran adhesi bakteri P. gingivalis pada Neutrofil * 10 Rata-rata adhesi P. Sedangkan pada kelompok perlakuan 1 (Gambar 3) dan kelompok perlakuan 2 (Gambar 4) terjadi penurunan adhesi bakteri pada neutrofil.40 Gambar 1. gingivalis 8.gingivalis terhadap sel neutrofil pada ketiga kelompok perlakuan dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 2.gingivalis (tanda panah) dalam jumlah banyak ( > 7 bakteri / sel) sehingga menyebabkan neutrofil lisis (pembesaran 1000x) .6 Adhesi P. Sehingga menyebabkan neutrofil mengalami lisis. Diagram batang rata-rata adhesi P.gingivalis tampak sangat tinggi.29 * * 5.

Neutrofil diinkubasi ekstrak Rosella 100% (kelompok perlakuan 2) menunjukkan adhesi P. Uji selanjutnya adalah uji homogenitas dengan menggunakan uji Levene test dengan p>0.076 (p>0.05). Berdasarkan uji Levene test diketahui bahwa nilai signifikansinya sebesar 0. yang menunjukkan bahwa data terdistribusi normal. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data hasil penelitian ini memiliki nilai p>0. hal ini membuktikan bahwa data yang didapat dari penelitian tersebut homogen.05. .rata 5 bakteri/ sel (pembesaran 1000x) Gambar 4.05.gingivalis (tanda panah) dalam jumlah sedikit dengan jumlah rata-rata 3 bakteri/ sel (pembesaran 1000x) Analisa data pada penelitian ini diawali dengan uji normalitas dan dilanjutkan dengan uji homogenitas sebagai syarat sebelum melakukan uji beda One Way ANOVA.7 Gambar 3. Neutrofil diinkubasi ekstrak Rosella 50% (kelompok perlakuan 1) menunjukkan penurunan adhesi P.gingivalis (tanda panah) dengan jumlah rata.

Data indeks adhesi yang terlalu menyimpang (± 25%) dari total 600 sel yang didapatkan. dan kelompok perlakuan 2 sebanyak 150 sel.05) artinya terdapat perbedaan yang signifikan rerata adhesi P. tidak digunakan dalam analisa. Ringkasan hasil uji lanjut Post Hoc LSD Kelompok Kontrol Rosella 50% Rosella 100% Kontrol 0.000* 0.05) PEMBAHASAN Analisa data indeks adhesi dilakukan pada 450 sel neutrofil yang terdiri dari kelompok kontrol sebanyak 150 sel.8 Data diketahui berdistribusi normal dan homogen. perlakuan 1. .000* 0. pada kelompok perlakuan 1 antara 4-7 bakteri/ sel.000* Rosella 100% 0. kelompok perlakuan 1 sebanyak 150 sel. maka selanjutnya data diuji secara parametrik menggunakan uji One Way ANOVA.000* Rosella 50% 0. pada kelompok kontrol modus yang didapatkan yaitu antara 7-11 bakteri/ sel. Selanjutnya untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki perbedaan bermakna. Hal ini menunjukkan adanya penurunan adhesi P. Seleksi data dilakukan berdasarkan modus (frekuensi data yang paling sering muncul). Berdasarkan hasil uji One Way Anova didapatkan bahwa rata-rata adhesi P.05).gingivalis pada neutrofil yang diinkubasi oleh ekstrak kelopak bunga Rosella.gingivalis pada neutrofil kelompok kontrol . Sebagai contoh. Hasil uji Post Hoc LSD (Tabel 2) antar kelompok perlakuan menunjukkan probabilitas sebesar 0. dan perlakuan 2 adalah berbeda secara signifikan. sedangkan pada kelompok perlakuan 2 modus yang didapatkan adalah antara 2-5 bakteri/ sel.000* 0. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan kualitas data yang memadai (quality control).000 (p<0.gingivalis.000* - Keterangan : * = Ada perbedaan yang bermakna (p<0. Tabel 2. dilakukan uji lanjut Post Hoc LSD dengan tingkat kemaknaan 95% (p<0.

Pada penelitian kali ini perlu ditekankan bahwa. Mekanisme ekstrak kelopak bunga Rosella dalam menurunkan indeks adhesi P. 2010). konsentrasi ekstrak kelopak bunga Rosella yang diberikan pada kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2. maka semakin tinggi pula kandungan antosianin di dalamnya (Usman. Kandungan flavonoid yang tinggi inilah yang diduga mampu menghambat perlekatan bakteri (Hamsafir. didapatkan konsentrasi ± 3. hal ini dikarenakan flavonoid memberikan perlindungan pada membran sel neutrofil dengan cara menyelimuti seluruh permukaan pada . serta sel neutrofil mayoritas dalam keadaan masih utuh.gingivalis pada neutrofil diduga melalui peran flavonoid yang terkandung di didalamnya.gingivalis. yaitu masing-masing 50% dan 100% adalah konsentrasi saat pemberian pertama kali pada plastic plate chamber. Hal tersebut telah dapat dibuktikan melalui penelitian ini. dan ± 6.25% untuk kelompok perlakuan 2. Kelopak bunga Rosella yang dikeringkan lalu diencerkan dalam 300 ml air.9 Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan indeks adhesi P. maka akan terkandung dalam larutan itu 51% antosianin (Muardi.2009). dan kelompok perlakuan 2 (neutrofil diinkubasi ekstrak dengan konsentrasi 100%) terjadi penurunan indeks adhesi dari P. Kandungan penting yang terdapat pada kelopak bunga Rosella adalah pigmen antosianin yang membentuk flavonoid yang berperan sebagai antioksidan.2010). Pigmen antosianin ini membentuk warna ungu kemerahan di kelopak bunga Rosella. Indeks adhesi yang paling rendah tampak pada kelompok dengan inkubasi ekstrak konsentrasi 100%.gingivalis pada neutrofil yang diinkubasi oleh ekstrak kelopak bunga Rosella.gingivalis. gingivalis menunjukkan adanya penurunan adhesi. Pada kelompok perlakuan 1 (neutrofil diinkubasi ekstrak dengan konsentrasi 50%).12% untuk kelompok perlakuan 1. Neutrofil yang memfagosit banyak bakteri akan mengalami lisis dan menyebabkan tumpahnya cairan intrasel ke lingkungan ekstrasel. Semakin pekat warna kemerahan pada bunga Rosella. Pada sel neutrofil yang diberikan ekstrak kelopak bunga Rosella konsentrasi 50% dan 100% dan kemudian dipapar dengan P. Sedangkan konsentrasi final setelah dilakukan penambahan media dan suspensi bakteri P. Pada kelompok kontrol (neutrofil diinkubasi RPMI) indeks adhesi P.gingivalis terhadap sel neutrofil sangat tinggi.

dan melindungi pembuluh darah (Sabir. antialergi. 2003). Rosella dimasyarakat telah banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional. flavonoid berperan dalam regenerasi pulpa gigi melalui kemampuannya menginduksi terbentuknya jembatan dentin pada perawatan direct pulp capping (Sabir. gingivalis pada sel neutrofil menurun dibandingkan pada neutrofil yang tidak diinkubasi oleh ekstrak kelopak bunga Rosella. antara lain bersifat antibakteri. flavonoid berperan dalam proses penyembuhan luka pasca pencabutan gigi dengan cara meningkatkan atau mempercepat proliferasi sel fibroblas dan produksi serabut kolagen. antiinflamasi. 2003). yaitu pada pengobatan periodontitis. antikarsinogen. dan lisosom (Bryan dan Wilson dalam Sabir. 3) Bidang konservasi gigi. Selain itu aplikasi flavonoid juga dapat mengurangi rasa sakit yang timbul pasca ekstraksi. Flavonoid bersifat antibakteri karena mampu berinteraksi dengan DNA bakteri. Hasil interaksi ini menyebabkan perubahan permeabilitas dinding sel bakteri. mikrosom. Kandungan flavonoid dalam kelopak bunga Rosella memiliki banyak manfaat lain dalam bidang kedokteran gigi antara lain sebagai berikut. 1995). Sifat antiinflamasi dapat meringankan proses fagositosis dan bahan yang memiliki sifat anti bakteri dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen sehingga dapat meminimalisir infeksi sekunder yang menghambat penyembuhan luka (Robbins & Kumar.10 membran sel neutrofil kemudian menurunkan hidrofobisitas membran sel neutrofil sehingga adhesi bakteri P. selain itu flavonoid juga berperan menekan sintesis prostaglandin dan menstimulasi hidroksiprolin sehingga jaringan gingiva kembali normal. 2003). Penggunaan bahan yang memiliki efek antiinflamasi dan antibakteri sekaligus dalam satu formulasi efektif dalam mempercepat proses penyembuhan luka. antioksidan. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan pengolahan Rosella . 2) Bidang bedah mulut. 1) Bidang periodontologi. Flavonoid juga memiliki aktivitas biologis maupun farmakologis. Flavonoid berperan dalam memperkuat dinding pembuluh darah kapiler sehingga perdarahan yang timbul dapat terhenti.

Hal:18-39 BSN Medical. M. MD.cutimedsorbact. http://www. gingivalis bisa dibunuh dengan mekanisme bakterisidal. DAFTAR PUSTAKA Bellanti.11 sebagai obat topical yang sekaligus berperan sebagai antibiotik untuk penderita periodontitis. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberian ekstrak kelopak bunga Rosella dapat menurunkan indeks adhesi Porphyromonas gingivalis pada neutrofil.1993. Tanpa Tahun. Cutimed Sorbact. [online]. namun kerusakan jaringan yang terjadi akibat proses inflamasi bisa lebih terkendali. atas bimbingan dan fasilitas yang diberikan selama penelitian. SARAN Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek pemberian ekstrak kelopak bunga Rosella terhadap adhesi mikroflora lain yang bersifat patogen di rongga mulut pada sel neutrofil. Dengan demikian diharapkan bakteri P. IDA Susilawati. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. serta perlu adanya penelitian mengenai aplikasi ekstrak kelopak bunga Rosella sebagai obat topikal pada penderita penyakit periodontal. melalui pengendalian aktifitas neutrofil.Hal: 128 . Ilmu Endodontik dalam Praktik. Ed.gingivalis dan konsentrasi ekstrak Rosella yang terlalu tinggi.Kes melalui proyek RISBIN IPTEKDOK serta drg.htm [ 18 Mei 2011] Grossman IL.Sc selaku Dosen Pembimbing Anggota. Oliet S. JA. Terjemahan oleh A. Samik Wahab. Imunologi III.drg. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Selain itu diperlukan pula perbaikan pada penelitian lebih lanjut tentang konsentrasi suspensi P.com/Indonesia/faq. 1995. Desi Sandra Sari. Jakarta : EGC. Rio CED.11.

V.)”. 2009. S.html. Surabaya: Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur.php/Porphyromonas. Tidak Diterbitkan. [11 Januari 2012] online].XVII (3) : 221-226 Susanti. E.infogigi. Robbins. D. Berkas Penelitian Hayati Usman. [1 Juni 2011] McGaw. Vol. Zakaria. Skripsi. Dwiyanti.edu/index.38:135-141 Septiana.com/kesehatan-gigi/teh-dapat-menghambatpembentukan-karies-gigi. Maj. [Online] Porphyromonas. 2010.KG Dental Journal Edisi Khusus Temu Ilmiah Nasional III. Buku ajar patologi I (4th ed. ”Karakteristik Dan Aktivitas Antioksidan Bunga Rosella Kering (Hibiscus sabdariffa L. Teh Dapat Menghambat Pembentukan Karies Gigi. M.http://www. Pemanfaatan flavonoid di Bidang Kedokteran Gigi. Penghambatan Oksidasi LDL dan Akumulasi Kolesterol Pada Makrofag oleh Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb). 2010. .ummi-online.) (Staf pengajar laboratorium patologi anatomik FK UI. Jakarta: EGC Sabir. D.. 2008.12 Hamsafir.com/artikel-19-rosella-cantik-penuhmanfaat. T. Surabaya : Airlangga University Pers. 2003. 1995. Rosella. 2006. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan.L. Muchtadi.http://microbewiki. R. 2002. Vol. Cantik Penuh Manfaat.kenyon. 2003.A. Aktivitas Fagositosis Neutrofil Terhadap Staphylococcus aureus Isolat Sapi di Jawa Tengah dengan Teknik Acridine Orange Fluorescence. [serial http://www. Vol.html. dan Kumar.. [ 27 April 2011 ] Muardi. penerjemah). [serial online]. J Can Dent Assoc. 68(3) : 165-9 MicrobeWiki. dan Rahayuningsih. Periodontal Disease and Preterm Delivery of Low Birth Weight Infants.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->