ADHESI Porphyromonas gingivalis PADA NEUTROFIL YANG DIINKUBASI EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.

)
Oleh : Lila Cita Pratiwi NIM 081610101025

Abstract The initial phase of the inflammatory response against bacterial infection is the process of bacterial adhesion on neutrophil inflammatory cells. One of the bacteria that most common found in cases of chronic periodontitis is Porphyromonas gingivalis. The more bacteria attached the more inflammatory response occured, which caused periodontal tissue’s destruction. Roselle (Hibiscus sabdariffa L.) known to have many benefits in health. Flavonoid content in Roselle suspected of having many anti-inflammatory effects. One of them, probably is the inhibitory action of bacterial adhesion on neutrophils. The aim of this research was to analyze the effect of Roselle’s extract in decreasing adhesion index of P. gingivalis on neutrophils. In this research, neutrophils were incubated by Roselle extract with various concentration ( 50% and 100%) and exposed with P.gingivalis, compared to neutrophils that exposed with P.gingivalis but not given the extract (control). The result showed that neutrophils that incubated by Roselle extract had fewer bacterial adhesion compared to neutrophils that not incubated by Roselle extract. Roselle extract with 100% concentration had more power to inhibit the bacterial adhesion compared to another concentration. It can be concluded that the extract of Roselle decrease adhesion index of P. gingivalis on neutrophils. Keywords: Adhesion, Neutrophils, Roselle, P.gingivalis

1

Sebuah sel neutrofil biasanya dapat memfagositosis 3 sampai 20 bakteri sebelum sel itu menjadi inaktif dan mati. Perlekatan ini sangat tergantung dari sifat-sifat permukaan bakteri yang akan difagositosis. apabila respon berlangsung terusmenerus. Neutrofil berperan penting pada respon radang akut. Rosella banyak diketahui bersifat sebagai anti inflamasi untuk mencegah peradangan dan mengurangi rasa nyeri pada saat infeksi terjadi. Berdasarkan uraian di atas. bisa berlanjut hingga terjadinya penurunan fungsi jaringan periodontal. Pada keadaan lain. yang mengakibatkan lisisnya jaringan (Grossman. Penelitian . 1993). neutrofil akan membunuh bakteri dengan mekanisme bakterisidal. misalnya hidrofobisitas dan tegangan permukaan (Bellanti. maupun melalui interaksi hidrofobik antara partikel hidrofob pada membran sel bakteri dan membran sel neutrofil (BSN Medical. pepsin. yang akhirnya menimbulkan reaksi inflamasi yang pada awalnya diperankan oleh sel inflamatori neutrofil. sehingga menyebabkan bakteri dapat melekat dengan mudah pada reseptornya yang terdapat di membran neutrofil (Robbins dan Kumar. 2003).2 PENDAHULUAN Tahap awal dari respon inflamasi terhadap infeksi bakteri adalah proses adhesi berupa perlekatan bakteri pada sel-sel inflamatori neutrofil. termasuk P. Setelah melekat. Susanti dan Rahayuningsih. Perusakan neutrofil juga menyebabkan terjadinya pelepasan mediator inflamasi serta enzim proteolitik. Salah satu bakteri penyebab inflamasi di jaringan periodontal. dan cathepsin. Tanpa Tahun). salah satunya dapat melalui pengendalian aktifitas sel inflamatori neutrofil. dan banyak ditemukan pada kasus periodontitis kronis adalah Porphyromonas gingivalis. proses perlekatan ini dapat dipermudah oleh proses opsonisasi yaitu proses pelapisan partikel antigen oleh antibodi yang terdapat di dalam serum darah. 2008). Sehingga inflamasi harus dikontrol. 1995).gingivalis. bakteri dapat melekat pada sel neutrofil melalui reseptor yang terdapat pada membran neutrofil. 1995. Proses ini mengakibatkan terjadinya respon inflamasi. Bakteri ini dapat memetabolisme asam amino dan menghasilkan sejumlah metabolit yang bersifat racun terhadap jaringan gingiva pada manusia (MicrobeWiki.

2006). P. darah vena perifer.3 membuktikan bahwa kelopak bunga Rosella mengandung berbagai macam zat aktif yang salah satunya adalah antosianin yang telah diteliti memiliki efek antioksidan yang kuat dan antiinflamasi. isolat neutrofil yang didapatkan dari darah vena perifer orang sehat yang diisolasi dengan teknik gradient density menggunakan Ficoll Hypaque Centrifugation. kandungan flavonoid pada kelopak bunga Rosella dapat menurunkan daya adhesi bakteri pada membran neutrofil.2010. BAHAN DAN METODE Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris in vitro. Flavonoid juga mampu menghambat perlekatan bakteri dengan cara mengikat protein permukaan bakteri dan menurunkan hidrofobisitas reseptor pada membran sel fagosit (Hamsafir.. dextran. Variabel terikat pada penelitian ini ialah indeks adhesi P. Bahanbahan yang diperlukan antara lain : ekstrak kelopak Bunga Rosella. gingivalis galur murni ATCC strain 33277 dengan medium kulturnya yaitu medium BHI diperkaya dengan hemin dan vitamin K1. gingivalis pada neutrofil. Alkohol. aquadest steril. Pembuatan ekstrak dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas MIPA Universitas Jember. dan RPMI. Ficoll Hypaque 1077. Variabel bebas pada penelitian ini adalah ekstrak kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa) konsentrasi 50%. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2011 di Laboratorium Biomedik Bagian Mikrobiologi dan Laboratorium Bio Science Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. dan 100%. Oleh karena itu patut diduga bahwa. Rancangan penelitian menggunakan post test only control group design yaitu dilakukan pengukuran terhadap variabel yang diteliti setelah diberikan suatu perlakuan. heparin. kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol. HBSS. Kelopak kering Rosella yang telah dihaluskan dimaserasi dengan etanol 97% selama 24 jam di dalam shaker bath. Untuk membuat sediaan ekstrak kelopak bunga Rosella konsentrasi 50% dibuat dengan cara mengambil 1 ml . kemudian diuapkan dengan rotary evaporator sampai didapatkan ekstrak dengan konsentrasi 100%. Septiana et al. Penelitian diawali dengan pengekstrakan kelopak bunga Rosella.

Uji indeks adhesi dilakukan dengan cara melapiskan isolat neutrofil pada 6 coverslip dalam 6 petridish. Di akhir pengamatan chamber dicuci dengan HBSS. Darah vena perifer pasien diambil sebanyak 9cc dan langsung dicampur dengan antikoagulan. kemudian dikultur pada atmosfir anaerob (menggunakan anaerobic gas kit) selama 2x24 jam. dengan dua kali pengulangan. Secara perlahan. 370C dan 5% CO2. kemudian dilakukan pembuatan hapusan dan pewarnaan. P. kemudian diresuspensi dengan 6 cc HBSS. Setelah itu. Setelah itu indeks adhesi bakteri dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut. 5% CO2. serta dua petridish selanjutnya diberikan ekstrak dengan konsentrasi 100%. Perhitungan dilakukan dengan cara menghitung jumlah bakteri yang menempel per neutrofil sampai jumlah neutrofil keseluruhan . Dua petridish diberikan ekstrak dengan kosentrasi 50%. 370C dan 5% CO2. dan dicentrifuge 1350 RPM selama 30 menit hingga terbentuk 4 lapisan. Neutrofil yang sudah diresuspensi tersebut ditambahkan 1 cc dextran 6% dan didiamkan selama 90 menit.4 sediaan 100% dicampur dengan 1 ml aquadest steril. gingivalis dikultur dalam medium BHI yang diperkaya dengan vitamin K1 dan hemin. Hasil preparat yang sudah dicat dengan pewarnaan Giemsa. Serum diambil dengan pipet mikro dan diencerkan dengan 6 cc HBSS. diamati dengan mikroskop inverted. . Tiga lapisan teratas dibuang. Selanjutnya proses isolasi neutrofil. gingivalis 200µl. Darah dibagi menjadi 3 tabung falcon dan dicentrifuge 650 rpm selama 10 menit hingga terbentuk 2 lapisan (sel darah dan serum). Konsentrasi Porphyromonas gingivalis dibuat menjadi 3x106 sel/ml. Dua sisanya diberi 50 μl RPMI yang berfungsi sebagai kontrol. masing-masing 50 µl dan diinkubasi selama 15 menit. diinkubasikan selama 3 jam dalam suhu 370C. Supranatan diaspirasi dan diresuspensi dengan RPMI sampai dengan 500 µl. pada chamber 1-6 masing-masing ditambahkan suspensi P. Darah dialirkan ke tabung falcon lain yang telah berisi 3cc larutan Ficoll. kemudian difiksasi dan dilakukan pewarnaan Giemsa. Ekstrak kelopak bunga Rosella diberikan terhadap 4 dari 6 petridish masing-masing 50 μl. Kemudian dilanjutkan dengan kultur P. gingivalis. menyisakan lapisan terbawah yang mengandung neutrofil. diinkubasi dalam shaker incubator selama 16 jam.

Hal ini menunjukkan adanya penurunan indeks adhesi pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol.gingivalis pada neutrofil antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan Adhesi P.gingivalis pada neutrofil kelompok perlakuan 2 lebih sedikit daripada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan 1.29 ± 1.59 Kelompok perlakuan 1 (+ekstrak Rosella 50%) 5. Sedangkan rata-rata jumlah adhesi P.40 ± 1. kemudian dilanjutkan dengan uji LSD untuk mengetahui besarnya perbedaan antar kelompok.gingivalis pada Neutrofil Kelompok kontrol (+ RPMI ) X ± SD 8. HASIL Hasil penelitian adhesi P.rata adhesi P.54 ± 1.03 . Rata. seperti dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 1. Tabel 1.00 Kelompok perlakuan 2 (+ekstrak Rosella 100%) 3.5 Indeks adhesi = Jumlah bakteri yang melekat per neutrofil Jumlah neutrofil yang dihitung Data hasil penelitian ini diuji secara parametrik dengan One Way Anova untuk mengetahui adanya perbedaan antar kelompok. gingivalis pada neutrofil yang diinkubasi oleh ekstrak kelopak bunga Rosella menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol (diinkubasi RPMI) adhesi bakteri lebih tinggi daripada kelompok perlakuan 1 (diinkubasi ekstrak Rosella 50%) dan kelompok perlakuan 2 (diinkubasi esktrak Rosella 100%).

29 * * 5. Neutrofil diinkubasi RPMI (kelompok kontrol) mengadhesi P. Gambar 2. gambaran adhesi bakteri P. Pada kelompok kontrol (Gambar 2) adhesi bakteri P.gingivalis tampak sangat tinggi. gingivalis 8. gingivalis pada Neutrofil * 10 Rata-rata adhesi P. gingivalis pada neutrofil Keterangan : Kelompok kontrol Kelompok Perlakuan 1 Kelompok Perlakuan 2 : Neutrofil diinkubasi RPMI : Neutrofil diinkubasi ekstrak kelopak Rosella konsentrasi 50% : Neutrofil diinkubasi ekstrak kelopak Rosella konsentrasi 100% * : Terdapat perbedaan yang signifikan Secara mikroskopis. Sedangkan pada kelompok perlakuan 1 (Gambar 3) dan kelompok perlakuan 2 (Gambar 4) terjadi penurunan adhesi bakteri pada neutrofil.40 Gambar 1. Diagram batang rata-rata adhesi P.gingivalis terhadap sel neutrofil pada ketiga kelompok perlakuan dapat dilihat pada gambar berikut.6 Adhesi P.54 5 0 Kelompok Kelompok Kelompok Kontrol Perlakuan Perlakuan 1 2 3.gingivalis (tanda panah) dalam jumlah banyak ( > 7 bakteri / sel) sehingga menyebabkan neutrofil lisis (pembesaran 1000x) . Sehingga menyebabkan neutrofil mengalami lisis.

05. Uji selanjutnya adalah uji homogenitas dengan menggunakan uji Levene test dengan p>0. Neutrofil diinkubasi ekstrak Rosella 100% (kelompok perlakuan 2) menunjukkan adhesi P.rata 5 bakteri/ sel (pembesaran 1000x) Gambar 4.05).gingivalis (tanda panah) dalam jumlah sedikit dengan jumlah rata-rata 3 bakteri/ sel (pembesaran 1000x) Analisa data pada penelitian ini diawali dengan uji normalitas dan dilanjutkan dengan uji homogenitas sebagai syarat sebelum melakukan uji beda One Way ANOVA. Neutrofil diinkubasi ekstrak Rosella 50% (kelompok perlakuan 1) menunjukkan penurunan adhesi P. . hal ini membuktikan bahwa data yang didapat dari penelitian tersebut homogen.05. yang menunjukkan bahwa data terdistribusi normal.7 Gambar 3.076 (p>0.gingivalis (tanda panah) dengan jumlah rata. Berdasarkan uji Levene test diketahui bahwa nilai signifikansinya sebesar 0. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data hasil penelitian ini memiliki nilai p>0.

Seleksi data dilakukan berdasarkan modus (frekuensi data yang paling sering muncul).gingivalis pada neutrofil yang diinkubasi oleh ekstrak kelopak bunga Rosella. maka selanjutnya data diuji secara parametrik menggunakan uji One Way ANOVA. .05).05) artinya terdapat perbedaan yang signifikan rerata adhesi P. Hasil uji Post Hoc LSD (Tabel 2) antar kelompok perlakuan menunjukkan probabilitas sebesar 0. Sebagai contoh. Hal ini menunjukkan adanya penurunan adhesi P. dan perlakuan 2 adalah berbeda secara signifikan. Berdasarkan hasil uji One Way Anova didapatkan bahwa rata-rata adhesi P. Data indeks adhesi yang terlalu menyimpang (± 25%) dari total 600 sel yang didapatkan.000* 0. dilakukan uji lanjut Post Hoc LSD dengan tingkat kemaknaan 95% (p<0. Selanjutnya untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki perbedaan bermakna. kelompok perlakuan 1 sebanyak 150 sel.gingivalis. dan kelompok perlakuan 2 sebanyak 150 sel. sedangkan pada kelompok perlakuan 2 modus yang didapatkan adalah antara 2-5 bakteri/ sel.05) PEMBAHASAN Analisa data indeks adhesi dilakukan pada 450 sel neutrofil yang terdiri dari kelompok kontrol sebanyak 150 sel.000* Rosella 100% 0. Ringkasan hasil uji lanjut Post Hoc LSD Kelompok Kontrol Rosella 50% Rosella 100% Kontrol 0.000* 0. perlakuan 1. pada kelompok kontrol modus yang didapatkan yaitu antara 7-11 bakteri/ sel.000 (p<0. Tabel 2. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan kualitas data yang memadai (quality control).gingivalis pada neutrofil kelompok kontrol . tidak digunakan dalam analisa.000* - Keterangan : * = Ada perbedaan yang bermakna (p<0. pada kelompok perlakuan 1 antara 4-7 bakteri/ sel.000* 0.000* Rosella 50% 0.8 Data diketahui berdistribusi normal dan homogen.

2010). Pigmen antosianin ini membentuk warna ungu kemerahan di kelopak bunga Rosella. dan kelompok perlakuan 2 (neutrofil diinkubasi ekstrak dengan konsentrasi 100%) terjadi penurunan indeks adhesi dari P. dan ± 6. Mekanisme ekstrak kelopak bunga Rosella dalam menurunkan indeks adhesi P. maka akan terkandung dalam larutan itu 51% antosianin (Muardi. didapatkan konsentrasi ± 3. Kandungan flavonoid yang tinggi inilah yang diduga mampu menghambat perlekatan bakteri (Hamsafir. Indeks adhesi yang paling rendah tampak pada kelompok dengan inkubasi ekstrak konsentrasi 100%.gingivalis pada neutrofil diduga melalui peran flavonoid yang terkandung di didalamnya. Pada kelompok perlakuan 1 (neutrofil diinkubasi ekstrak dengan konsentrasi 50%). Kandungan penting yang terdapat pada kelopak bunga Rosella adalah pigmen antosianin yang membentuk flavonoid yang berperan sebagai antioksidan. yaitu masing-masing 50% dan 100% adalah konsentrasi saat pemberian pertama kali pada plastic plate chamber.gingivalis.2010).gingivalis. Pada penelitian kali ini perlu ditekankan bahwa. maka semakin tinggi pula kandungan antosianin di dalamnya (Usman. Neutrofil yang memfagosit banyak bakteri akan mengalami lisis dan menyebabkan tumpahnya cairan intrasel ke lingkungan ekstrasel. Semakin pekat warna kemerahan pada bunga Rosella.gingivalis terhadap sel neutrofil sangat tinggi.9 Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan indeks adhesi P.gingivalis pada neutrofil yang diinkubasi oleh ekstrak kelopak bunga Rosella. gingivalis menunjukkan adanya penurunan adhesi. Pada kelompok kontrol (neutrofil diinkubasi RPMI) indeks adhesi P.25% untuk kelompok perlakuan 2. Sedangkan konsentrasi final setelah dilakukan penambahan media dan suspensi bakteri P. serta sel neutrofil mayoritas dalam keadaan masih utuh.12% untuk kelompok perlakuan 1. konsentrasi ekstrak kelopak bunga Rosella yang diberikan pada kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2. Kelopak bunga Rosella yang dikeringkan lalu diencerkan dalam 300 ml air. Pada sel neutrofil yang diberikan ekstrak kelopak bunga Rosella konsentrasi 50% dan 100% dan kemudian dipapar dengan P. hal ini dikarenakan flavonoid memberikan perlindungan pada membran sel neutrofil dengan cara menyelimuti seluruh permukaan pada . Hal tersebut telah dapat dibuktikan melalui penelitian ini.2009).

mikrosom. 3) Bidang konservasi gigi. Flavonoid bersifat antibakteri karena mampu berinteraksi dengan DNA bakteri. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan pengolahan Rosella .10 membran sel neutrofil kemudian menurunkan hidrofobisitas membran sel neutrofil sehingga adhesi bakteri P. 2003). antialergi. flavonoid berperan dalam proses penyembuhan luka pasca pencabutan gigi dengan cara meningkatkan atau mempercepat proliferasi sel fibroblas dan produksi serabut kolagen. Hasil interaksi ini menyebabkan perubahan permeabilitas dinding sel bakteri. gingivalis pada sel neutrofil menurun dibandingkan pada neutrofil yang tidak diinkubasi oleh ekstrak kelopak bunga Rosella. dan melindungi pembuluh darah (Sabir. antiinflamasi. antikarsinogen. Rosella dimasyarakat telah banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional. selain itu flavonoid juga berperan menekan sintesis prostaglandin dan menstimulasi hidroksiprolin sehingga jaringan gingiva kembali normal. antara lain bersifat antibakteri. yaitu pada pengobatan periodontitis. 1995). Kandungan flavonoid dalam kelopak bunga Rosella memiliki banyak manfaat lain dalam bidang kedokteran gigi antara lain sebagai berikut. Flavonoid berperan dalam memperkuat dinding pembuluh darah kapiler sehingga perdarahan yang timbul dapat terhenti. Selain itu aplikasi flavonoid juga dapat mengurangi rasa sakit yang timbul pasca ekstraksi. antioksidan. flavonoid berperan dalam regenerasi pulpa gigi melalui kemampuannya menginduksi terbentuknya jembatan dentin pada perawatan direct pulp capping (Sabir. Flavonoid juga memiliki aktivitas biologis maupun farmakologis. Sifat antiinflamasi dapat meringankan proses fagositosis dan bahan yang memiliki sifat anti bakteri dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen sehingga dapat meminimalisir infeksi sekunder yang menghambat penyembuhan luka (Robbins & Kumar. Penggunaan bahan yang memiliki efek antiinflamasi dan antibakteri sekaligus dalam satu formulasi efektif dalam mempercepat proses penyembuhan luka. 2003). dan lisosom (Bryan dan Wilson dalam Sabir. 2) Bidang bedah mulut. 1) Bidang periodontologi. 2003).

gingivalis bisa dibunuh dengan mekanisme bakterisidal. Imunologi III. DAFTAR PUSTAKA Bellanti. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Desi Sandra Sari. Oliet S.gingivalis dan konsentrasi ekstrak Rosella yang terlalu tinggi. Ilmu Endodontik dalam Praktik. Jakarta : EGC. Hal:18-39 BSN Medical.Hal: 128 . MD. Rio CED.htm [ 18 Mei 2011] Grossman IL.11. Cutimed Sorbact. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. [online]. Tanpa Tahun. serta perlu adanya penelitian mengenai aplikasi ekstrak kelopak bunga Rosella sebagai obat topikal pada penderita penyakit periodontal. atas bimbingan dan fasilitas yang diberikan selama penelitian. Samik Wahab. IDA Susilawati. M.cutimedsorbact. Terjemahan oleh A.11 sebagai obat topical yang sekaligus berperan sebagai antibiotik untuk penderita periodontitis. Ed. http://www. SARAN Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek pemberian ekstrak kelopak bunga Rosella terhadap adhesi mikroflora lain yang bersifat patogen di rongga mulut pada sel neutrofil. Dengan demikian diharapkan bakteri P. melalui pengendalian aktifitas neutrofil. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.com/Indonesia/faq.Sc selaku Dosen Pembimbing Anggota. JA. namun kerusakan jaringan yang terjadi akibat proses inflamasi bisa lebih terkendali.Kes melalui proyek RISBIN IPTEKDOK serta drg. Selain itu diperlukan pula perbaikan pada penelitian lebih lanjut tentang konsentrasi suspensi P.1993.drg. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberian ekstrak kelopak bunga Rosella dapat menurunkan indeks adhesi Porphyromonas gingivalis pada neutrofil. 1995.

penerjemah). Vol.html.infogigi.) (Staf pengajar laboratorium patologi anatomik FK UI. E.38:135-141 Septiana. Jakarta: EGC Sabir. 1995. Vol. Vol. Muchtadi. [serial http://www. Teh Dapat Menghambat Pembentukan Karies Gigi.kenyon. ”Karakteristik Dan Aktivitas Antioksidan Bunga Rosella Kering (Hibiscus sabdariffa L. [1 Juni 2011] McGaw.. dan Kumar. 2003. 2003. Zakaria. Robbins.A.php/Porphyromonas. Tidak Diterbitkan.L.XVII (3) : 221-226 Susanti.http://microbewiki. dan Rahayuningsih. Surabaya : Airlangga University Pers. Maj. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. Dwiyanti. 2010. 2006. V.http://www. 2010. 68(3) : 165-9 MicrobeWiki. Pemanfaatan flavonoid di Bidang Kedokteran Gigi. [11 Januari 2012] online]. D. Aktivitas Fagositosis Neutrofil Terhadap Staphylococcus aureus Isolat Sapi di Jawa Tengah dengan Teknik Acridine Orange Fluorescence. S. 2008.html. Surabaya: Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur. Penghambatan Oksidasi LDL dan Akumulasi Kolesterol Pada Makrofag oleh Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb). Berkas Penelitian Hayati Usman. Periodontal Disease and Preterm Delivery of Low Birth Weight Infants.. Buku ajar patologi I (4th ed. J Can Dent Assoc. M. [serial online]. D. T.)”. 2009.edu/index.ummi-online.com/kesehatan-gigi/teh-dapat-menghambatpembentukan-karies-gigi. .com/artikel-19-rosella-cantik-penuhmanfaat.12 Hamsafir. Cantik Penuh Manfaat. Skripsi. [Online] Porphyromonas. 2002. [ 27 April 2011 ] Muardi. Rosella.KG Dental Journal Edisi Khusus Temu Ilmiah Nasional III. R.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful