P. 1
Mengutip Pelajaran Pertama Dari 7 Falsafah Ajaran Dahlan

Mengutip Pelajaran Pertama Dari 7 Falsafah Ajaran Dahlan

|Views: 16|Likes:

More info:

Published by: Nurul Azizatus Solehah on May 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2012

pdf

text

original

memaknai Pertama

Pelajaran

dari 7 Falsafah Ajaran KHA Dahlan
Bismillahirrahmaanirrakhim...... Kawan, pernahkan terbersit dalam hati kita sedikit rasa ingin dipuji ketika beramal? Ingin didengar dalam setiap pembicaraan? Atau ingin disanjung saat berbuat kebaikan? Mungkin sebagian orang menganggapnya lumrah dan biasa – biasa saja. Tapi tidak, itu sebagai tanda bahwa kita sedang terjangkit penyakit hati yang disebut Riya’. Mengutip 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an yang dijadikan pegangan KHA Dahlan dalam menghidupkan Muhammadiyah, maka akan ada sebuah kutipan perkataan ulama : “Manusia itu semuanya akan mati (mati perasaanya) kecuali para Ulama, yaitu orang – orang yang berilmu. Dan Ulamaulama itu dalam kebingungan, kecuali mereka yang beramal. Dan mereka yang beramalpun semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas atau bersih”. Ketika merenungkan kutipan itu, kita akan tahu solusi dari penyakit hati (riya’) yang seringkali hinggap dalam diri kita. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat yang paling mujarab hanyalah Ikhlas. Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya,

amal yang dilakukan dengan riya’ akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa. Sebagai mahasiswa aktivis pergerakan, jangan sampai kita mengharapkan imbalan materi dari “rumah” yang menaungi kita. Jangan pernah bertanya apa yang akan saya dapatkan?, tapi tanyakan apa yang sudah saya berikan untuk ikatan kita. Ini tak jauh beda dengan yang dikatakan KHA Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Sungguh imbalan berupa materi, pujian dan sanjungan dari manusia tidaklah ada artinya, maka jangan sampai kita terlena dan mengharapkan semua itu. Mari niatkan semua yang kita lakukan hanyalah karena Allah semata. Mari kita renungkan detik-detik hidup kita. Bertafakkur atas kelemahan diri. Karena setiap helaan nafas kita, setiap langkah kaki kita tidak selalu berarti kebaikan. Suatu saat akan menyisipkan kata sia- sia. Maka ketika ada kesempatan untuk berbuat kebaikan mari kita niatkan dengan ikhlas. Jangan biarkan sifat riya’ menghampiri diri kita lagi. Tutup rapat setiap celah yang mungkin mendorong kita untuk sedikit pamer dan ingin dipuji orang lain. Ingatlah kawan, bahwa akhirat berjalan maju dan dunia berjalan mundur. Sekaranglah saatnya untuk kita berlomba menjadi generasi akhirat, bukan budak – budak dunia. Karena saat ini adalah masanya beramal, mari niatkan setiap langkah kaki untuk berbuat kebaikan. Wallahu ‘alam bis shawab. Billahi Fii Sabililhaaq Fastabiqul Khairat. > Rhilz_thy@

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->