P. 1
b. karet

b. karet

|Views: 144|Likes:
Published by Ayus Diningsih

More info:

Published by: Ayus Diningsih on May 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2015

pdf

text

original

Sections

  • 2.2. Pertumbuhan Ayam Broiler
  • 2.3. Ransum Ayam Broiler
  • 2.8. Kualitas Daging Ayam Broiler
  • 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
  • Ilustrasi 2. Proses Pembuatan Bungkil Biji Karet Secara Mekanik
  • Ilustrasi 3. Proses Pembuatan Tepung Bungkil Biji Karet Fermentasi (BBKF)
  • Tabel 2. Hasil Analisis Proksimat Bahan Pakan Penyusun Ransum
  • Tabe13. Komposisi Ransum Penelitian
  • Tabe14. Kandungan Nutrisi dan Energi Metabolis Ransum
  • 3.3. Prosedur Penelitian dan Pengumpulan Data
  • 4.1. Evaluasi Kualitas Bungkil Biji Karet Fermentasi
  • Tabe17. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Daging Ayam Broiler
  • 4.6. Pengaruh Perlakuan terhadap NiJaipHDagingAyam Broiler
  • Tabel 10. Pengaruh Perlakuan terhadap Nilai pHDaging Ayam Broiler
  • KESIMPULAN DAN SARAN
  • DAFTAR PUSTAKA

PENGARUH PENGGUNAAN BUNGKll...

BIJI KARET YANG DIFERMENTASI DENGAN RAGI TEMPE DAN ONCOM DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS DAGING AYAM BROll..ER

TESIS

Oleh MULYATI

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU TERNAK PROGRAM PASCA SARJANA-FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS DIPONEGORO .

2003

, ,
~\

]"1

.. ._ ,_,. ,._." ..... --,.'" ..

r" ,.' .:-~. __'.H_~ "--"r" _~'

7"":"'-----. '.."" ...._..

PENGARUH PENGGUNAAN BUNGKIL BIJI KARET YANG DIFERMENTASI DENGAN RAGI TEMPE DAN ONCOM DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS DAGING AYAM BROILER

Oleh MULYATI NIM : H4A 000 006

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Pertanian pada Program Studi Magister Ilmu Ternak, Program Pascasarjana Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU TERNAK PROGRAMPASCASARJANA-FAKULTASPETERNAKAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2003

. l: '~

Judul Tesis

PENGARUH PENGGUNAAN BUNGKIL BIll KARET YANG DIFERMENT ASI DENGAN RAGI TEMPE DAN ONCOM DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS DAGING A YAM BROll-ER

Nama Mahasiswa Nomor Induk Mahasiswa Progam Studi

MUL YATI H4A 000 006 MAGISTER ILMU TERNAK

Telah disidangkan di hadapan Tim Penguji dan dinyatakan lulus pada tanggal 24 Juni 2003

Pembimbing Anggota,

Dr.Ir. Dwi Sunarti, MS

Ketua Program Studi Magister Ilmu Ternak,

Ketua Jurusan Produksi Ternak,

V\MAAA~

7{~

.,.

I'J

and lighting. The house was divided into eighteen cages (100 x 100 x 60) em. tenderness and broiler meat cooking loss. tenderness (kg/cnr') and broiler meat cooking loss (%). Interactions between kinds of yeast and level of RSCF not affected on broiler meat quality all variables.ABSTRACT MUL VATI H4A 000 006. Open system house with litter floor was used in this experiments. nipple. (Advisor: SUNARTI and V. The material used in the experiment were breast muscle prepared from a sample of 36 male taken from a stock of 126 male broiler day old chick strain Lohmann (MB 202) Multibreeder Adirama Indonesia Production. fat content (%). pH. RCCF I' . The observed variables were water content (%). It has been concluded that both of RSCFT and RSCFO until 20% of could be used in rations. equipped with brooder. First factor (A) was rubber seed cake fermented (RSCF) with tempe yeast (AI) and oncom yeast (Al). Using RSCFT and RSCFO in ration could increased protein content of broiler meat. Furthermore all variables but protein content were not affected (p>0. feeder. pIL water binding capacity (%). The Effects of Fermented Rubber Seed Cake with Tempe and Oncom Yeast in Rations on Broiler Meat Quality. Key words: tempe and oncom yeast.05) between kinds of yeast and level of RSCF in all variables. broiler meat quality. PRIYO BINTORO). whereas second factor (B) 3 levels of RSCF. and 30% (B3) in rations. Using RSCFT and RSCFO in ration there were no influence water content. D'WI The objectives of this experiment was to know rubber seed cake level fermented with tempe and oncom yeast in rations on broiler meat quality. protein content (%). 20% (B2). Diponegoro University Semarang.05) by kinds of yeast andlevel ofRSCF in rations. Feeding trial was conducted at Guntur village. water binding capacity. The result showed that there was no interactions (P>O. namely 10% (BI). This experiment used Completely Randomised Design (CRD) with Factorial design 2x3 and 3 replication. The experiment was held for five months (from August to December 2001) at the Nutrition and Feed Laboratory and at the Poultry Laboratory of Animal Husbandry Faculty. fat content. Demak.

.T. dan lampu.. kadar lemak. Kata kunci: ragi tempe dan oncom._ '.~'·r·· . BBKF. Pengaruh Penggunaan Bungkil Biji Karet yang Difermentasi dengan Ragi Tempe dan Oneom dalam Ransum terhadap Kualitas Daging Ayam Broiler. Pemberian BBKFT dan BBKFO dalam ran sum tidak berpengaruh terhadap kadar air. Faktor A adalah bungkil biji karet fermentasi (BBKF) dengan ragi tempe (AI) dan ragi oneom (A2).. Pemberian BBKFT dan BBKFO dalam ransum dapat meningkatkan kadar protein daging ayam broiler. temp at pakan. tempat minum. Multibreeder Adirama Indonesia. keempukan (kg/ern") dan susut masak (%) daging ayam broiler. keeuali kadar protein tidak berpengaruh nyata (P>0. '1-· '1 . daya ikat air. · "_"'. Demak. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah pemberian BBKFT dan BBKFO. daya ikat air (%). "Feeding trial" dilaksanakan di Desa Guntur. faktor B adalah aras penggunaan BBKF 10% (BI). kualitas daging ayam broiler.05) oleh jenis ragi dan aras penggunaan BBKF dalam ransum. Peubah yang diamati meliputi kadar air (%). Rancangan pereobaan yang digunakan Raneangan Aeak Lengkap (RAL) dengan pola Faktorial 2 x 3 dengan 3 ulangan. Interaksi antara faktor A (jenis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) BBKF dalam ransum tidak berpengaruh terhadap kualitas daging ayam broiler pada semua peubah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui aras penggunaan bungkil biji karet yang difermentasi dengan ragi tempe dan oneom dalam ransum terhadap kualitas daging ayam broiler. .05). yang berasal dari Day Old Chick (DOC) ayam broiler jantan sebanyak 126 ekor strain Lohmann (MB 202) produksi P. keempukan dan susut masak daging ayam broiler. . pada semua peubah tidak berpengaruh nyata (P>0.. kadar lemak (%).ABSTRAK MULYATI H4A 000 006. . 30% (B3) dalam ransum. Kandang dibagi menjadi 18 petak dengan ukuran 100 x 100 x 60 em serta dilengkapi pemanas. pH. Kandang menggunakan sistem terbuka dengan alas litter. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Desember 200 I di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Temak dan lImu Temak Unggas Fakultas Petemakan Universitas Diponegoro Semarang. _. kadar protein (%). kedua-duanya dapat dipakai dalam ransum sampai aras penggunaan 20%. sedangkan .. 20% (B2). PRIYO BINTORO). Selanjutnya ditinjau dari masing-masing faktor menunjukkan bahwa pada semua peubah. HasiI penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis ragi (tempe dan oneom) dengan aras penggunaan BBKF dalam ransum terhadap kualitas daging ayam broiler. (Pembimbing : DWI SUNARTI dan V. nilai pH. Materi yang digunakan adalah daging dada ayam broiler jantan 36 ekor..

MS. MP yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan penelitian serta penulisan tesis ini. Dwi Sunarti. Kendala yang dihadapi adalah metode yang digunakan dalam pembuatan bungkil biji karet masih sangat sederhana dan belum menghasilkan bungkil biji karet yang berkualitas. Berdasarkan fenomena diatas maka penelitian dilakukan sehingga didapatkan aras penggunaan yang optimal terhadap kualitas daging ayam broiler. Ir. "I . pelaksanaan seminar sampai penulisan tesis ini. MP dan Ir. Ir. penelitian. V. usulan bimbingan dan pendampingan penelitian. salah satu cara yang dapat ditempuh Fermentasi merupakan kadar HCN dalam untuk menghilangkan bungkil biji karet. Isroli. Kesempatan yang sangat membahagiakan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada yang terhormat Ibu Dr. MP. Ir.KATA PENGANTAR Bungkil biji karet merupakan salah satu bahan pakan inkonvensional sumber protein.Ir. MS dan Bapak Dr. Ir. Kustiawan Nuswantara. Merry Ucapan terima kasih juga kami Christianto. Limbang ucapkan kepada Dr. MAgr selaku Pembimbing Utama dim Pembimbing Anggota yang telah sejak berkenan persiapan memberikan penyusunan pengarahan. namun mempunyai faktor pembatas HCN sehingga belum banyak digunakan dalam ransum ternak khususnya ayam broiler. Nurwantara. Priyo Bintoro. Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun tesis ini dengan baik dan lancar.

Ucapan terimakasih juga kami tujukan kepada semua pihak yang telah membantu penelitian sampai selesainya penulisan tesis ini. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis mengikuti pendidikan program Magister di Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. penulis ucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Slamet Rahardjo selaku Pimpinan Perkebunan Karet di Siluwok. SPt. SPt. Tidak lupa kepada rekan-rekan yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu namun tanpa mengurangi arti. Juni 2003 Penulis II . MP dan Bapak Arief Fachrudin Setiawan. Dekan Fakultas Petemakan beserta staf dan Ketua Jurusan Produksi Temak. Semarang. dan Ibu Hj. penulis ucapkan terimakasih. semoga setitik karya ilmiah ini bermanfaat bagi pengembangan petemakan dan pembaca yang membutuhkannya..Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ketua Program Studi Magister Ilmu Temak beserta staf. Penulis berharap. Kendal yang telah membantu menyediakan biji karet. anakku dan ibukku tercinta Bapak Supamo. atas kerjasama selama penelitian. Akhimya semoga amal dan budi baik kita semua mendapatkan limpahan dapat rahmat dari Allah SWT. Ucapan terimakasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada suamiku. Kepada rekan penelitian Sdri Dwi Agustiningsih. Reny Fatwa Kusumawati. Siswodarsono sekeluarga yang telah memberikan doa restu serta dorongan dan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. beserta staf.

..... BAB III. 6 8 8 10 11 15 25 25 25 30 . Tempat dan Waktu Penelitian 3.. 2.. . . .. 2. . . .2... .. . . .4. ... 4 4 5 '" . .... dan Kualitas Daging Ayam Broiler MATERI DAN METODE 3.. Prosedur Penelitian dan Pengumpulan Data 3. PENDAHULUAN TINJAUAN PUST AKA Ayam Broiler . 2. . ...6. Pertumbuhan Ayam Broiler Ransum Ayam Broiler Potensi BIJI Karet Senyawa Beracun Biji Karet dan Bungkil Biji Karet Kandungan Nutrisi dan Manfaat Bungkil Biji Karet dalam Ransum. 2. .. . 37 IV Vi VlIl IX X BAB II. Fennentasi Oncom Bungkil Biji Karet dengan Ragi Tempe . 2... ... . ....5.4.... 2. . 2.. . Materi dan Alat Penelitian 3.1. ...2.. ·_····"'T··'·--····· ...... ... .7. . 2.. Analisis Data VI . . . .3...DAFTAR lSI Halaman KATAPENGANTAR DAFTAR lSI DAFTAR TABEL DAFTAR ILUSTRASI DAFTAR LAMPIRAN BAB I...8. .1...3. . . .

KESIMPULAN DAN SARAN Ayam Daging Ayam DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP Vll I' . 4.. Pengaruh PerIakuan terhadap Kadar Lemak Daging Broiler ..••....' ...3...4 HASIL DAN PE1v1BAHASAN Evaluasi Kualitas Bungkil Biji Karet Fermentasi. Pengaruh Broiler. Pengaruh Perlakuan terhadap Keempukan Daging Broiler...8.. Perlakuan terhadap Kadar Air Daging . BAB V. " . .. Pengaruh Perlakuan terhadap Komposisi Kimia dan Mutu Fisik Daging Ayam Broiler Pengaruh Broiler.~ .... .1. 4. .-. Pengaruh Perlakuan terhadap Daya Ikat Air Daging Ayam Broiler. . 4. Pengaruh Perlakuan terhadap Susut Masak Broiler ..... ~~c~.. . .2.. ."'.. ~O :·----·--'~·t:~·· . 61 62 68 ......7.. Ayam 39 39 43 43 45 48 Ayam Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Protein Daging Ayam Broiler. ... terhadap Nilai . .. 76 4."' r"+ •. Ayam 4. _ •. 4... ..9. 4. pH Daging 51 53 56 58 . ..BAB IV.6.. . -~. ...5.. Perlakuan . . 4.~. 4..

...................... Kandungan Nutrisi Bungkil Biji Karet (BBK) dan Bungkil Biji Karet Fennentasi (BBKF) 2.. Komposisi Asam Amino Ransum Penelitian dan Kebutuhan Asam Amino Ayam Broiler 6. Pengaruh Perlakuan terhadap Nilai pH Daging Ayam Broiler 11. Hasil Analisis Proksimat Bahan Pakan Penyusun Ransum.. 3. _...•'.. ..DAFTAR TABEL Nomor 1. ' Pengaruh Perlakuan terhadap Keempukan Daging Ayam Broiler.. Pengaruh Perlakuan terhadap Daya Ikat Air Daging Ayam Broiler ...... Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Protein Daging Ayam Broiler.• :"..•.. ... 13... Komposisi Ransum Penelitian 4.• "" "-.. Kandungan Nurrisi dan Energi Metabolis Ransum 5...• :...._""...".... Pengaruh Perlakuan terhadap Susut Masak Daging Ayam Broiler.."~' -:-"''''>':r-~- ... 9......... .. Nilai nutrisi dan Senyawa Beraeun BungkiI Biji Karet dan Bungkil Biji Karet Fennentasi dengan Ragi Tempe serta Bungkil Biji Karet Fennentasi dengan Ragi Oneom 7.•....... Vlll . Halaman 11 28 29 29 30 39 44 46 49 51 54 56 58 10.... u. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Lemak Daging Ayam Broiler ......... Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Daging Ayam Broiler 8... •.... 12.

...... . 3. 1985 sertaMcMahon et aI.. ....... :-"'''''''"'_''........ .... Q........ .. '...... ..". . ... .. .'''~ .. ... . ........ .."" • ..... ....... ... Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Keempukan Daging Ayam Broiler 10.. ... .. ........ .... 8... .............. 9... . .DAFTAR ILUSTRASI Nomor 1. Halaman 10 26 27 45 48 50 52 55 57 59 5..... ..... . ..... . Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Nilai pH Daging Ayam Broiler.. . .. ........ ........ . . . ..~-:c-". . ......•....... . ...' 'TO '.. . Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Daya Ikat Air Daging Ayam Broiler . ..... .... .. Proses Pembuatan Tepung Bungkil Biji Karet Fermentasi Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Daging Ayam Broiler. ........ . 1995) . ....... ~". Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Lemak Daging Ayam Broiler 7...... 2.. . .. Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Protein Daging Ayam Broiler. .-". .. ..... .. 4. . ...... Proses Pembuatan Bungkil Biji Karet Secara Mekanik....... ." -~ .~' ... . Proses Terbentuknya HCN dari Glukosida (Cheeke dan Shul............ . Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Susut Masak Daging Ayam Broiler IX I"" • ".... . .... ..

4. Pengaruh Perlakuan terhadap Jumlah Trigliserida dalam Darah Ayam Broiler .. 7... 3.DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1. 8." •••• -.. 1'" .. . . 2.... 6. .. 5.. •• .. Hasil Analisis Varians Kadar Air Daging Ayam Broiler Hasil Analisis Varians Kadar Protein Daging Ayam Broiler HasiI Analisis Varians Kadar Lemak Daging Ayam Broiler Hasil Analisis Varians Nilai pH Daging Ayam Broiler Hasil Analisis Varians Daya Ikat Air Daging Ayam Broiler Hasil Analisis Varians Keempukan Daging Ayam Broiler Hasil Analisis Varians Susut Masak Daging Ayam Broiler Halaman 68 69 70 71 72 73 74 75 x •• 0"' _.

: •••••. .._······· ...UPI-PUSl AK-UND\P "1. _ •••.. asam amino metionin dan lisin rendah serta adanya senyawa beracun asam sianida (HCN) yang dapat menimbulkan keracunan akut bagi ternak yang mengkonsumsi bungkil tersebut. ••• C'" _ . sehingga limbah pertanian dan perkebunan Limbah pertanian dan perkebunan dapat dimanfaatkan sebagai bahan Salah satu limbah perkebunan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan temak.. Bungkil biji karet memiliki factor pembatas yaitu kandungan serat kasar yang tinggi.33%. Bungkil biji karet merupakan hasil ikutan pengambilan minyak biji karet. Teknologi fermentasi .. . r-··. r-' .. Untuk mencegah kerusakan dan perkembangan mikroorganisme.BAB I PENDAHULUAN Kualitas daging dipengaruhi oleh factor penanganan ternak sebelum dipotong. maupun perkebunan. memberikan daging dapat disimpan pada suhu dingin dan dapat pula dengan pengawet baik yang berasal dari zat kimia ataupun dari bahan bahan-bahan alami.. limbah ini dapat digunakan sebagai bahan pakan temak karena mengandung protein kasar sekitar 25 .•. saat dipotong dan setelah dipotong. Indonesia merupakan negara agraris memiliki potensi yang baik dibidang pertanian melimpah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan beracun HCN dengan memanfaatkan untuk menghilangkan senyawa teknologi fermentasi. bahan pakan temak sumber protein adalah bungkil biji karet. asam amino baik essensial maupun non essensial kecuali histidin dan triptophan. Daging memiliki daya simpan hanya sehari pada suhu kamar..• .

. karena mikroba bersifat katabolik yang memeeah komponen-komponen komplek menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dieema. BungkiI biji karet fermentasi memiliki zat-zat makanan yang lebih baik.2 banyak digunakan oleh masyarakat untuk menghilangkan senyawa beraeun seperti HCN. Meningkatnya nilai gizi bahan yang difermentasi. terutama dieerminkan dengan kandungan protein kasar dan nilai IDN yang eukup tinggi. karena hilangnya zat-zat makanan selama pemasakan daging sedikit. difermentasi Bungkil biji karet yang diharapkan dapat meningkatkan nilai keeernaan atau TDN. daya ikat air tinggi dan susut masak rendah. utamanya menghasilkan enzim J3-gIukosidaseyang terbukti dapat menghilangkan kadar HCN dari bungkil biji karet. Kedua ragi tersebut mengandung kapang Rhizopus oligosporus. Teknologi fermentasi memerlukan ragi yang mudah didapat oleh masyarakat yaitu ragi tempe dan oneom. Perbedaan karakteristik yang dimiliki ragi tempe dan oneom mengakibatkan hasil fermentasi yang berbeda. bakteri dan jamur. Pakan yang bergizi tinggi menyebabkan kandungan protein daging tinggi. pertumbuhan ayam broiler dan mutulkualitas karkas/daging ayam broiler. Daging seperti tersebut diatas dengan susut masak yang rendah berarti mutulkualitasnya tinggi. Selain itu dengan adanya teknologi fermentasi nilai gizi bungkil biji karet dapat meningkat. Ragi tempe dan oneom memiliki karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu perlu diteliti aras penggunaan bungkil biji karet fermentasi dengan ragi tempe dan oneom yang optimal dalam ransum dan pengaruhnya terhadap kualitas daging ayam broiler. sedangkan ragi oneom mengandung kapang. Ragi tempe mengandung kapang dan bakteri.

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada interaksi antara bungkil biji karet fennentasi yang menggunakan ragi tempe dan oncom dengan aras penggunaannya dalam ransum terhadap kualitas daging ayam broiler.3 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karet yang difennentasi aras penggunaan bungkil biji dengan ragi tempe dan oncom dalam rasum terhadap kualitas daging ayam broiler (mutu kimia dan fisik daging ayam broiler). r: .

Cobb-500.~. :'.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. bobot badan akhir yang dicapai pada Ayam broiler 1.1. Starbro.' c - r" 1 .. Strain rakyat melainkan berkembang menjadi industri petemakan yang Broiler yang beredar atau pernah beredar di Indonesia yaitu : Cobb-lOO.8. keuntungan utama memproduksi daging dari ayam broiler adalah karena ayam broiler sebagai pengubah makanan menjadi daging yang sangat efisien. Bromo. sangat Menurut Tony Unandar efisien dalam menghasilkan daging karena cepat tumbuh.'"•. Ayam Broiler Ayam broiler adalah ayam yang dipelihara khusus untuk dipotong.:~ •. memiliki sifat khusus yaitu berpotensi besar mengubah pakan menjadi daging secara efisien.. Avian. Hybro. Ditambahkan oleh Singh dan Moore (1982) serta Williamson dan Payne (1993) bahwa. 1981). Hubbard. -•. Arbor Arcres. ~ . Mahanan merupakan prospektif K dalam ASOHI 2001 menyatakan bahwa.~•. Berdasarkan teknologi. .• . di Indonesia ayam broiler dijuaI pada umur 5 -7 minggu (Siregar et al. ayam broiler salah satu sumber protein yang murah sekaligus usaha yang eukup bagi masyarakat. Dewasa ini ayam tidak hanya usaha petemakan modem dan maju..6 kg dengan konversi pakan 1.4 . "_ •• 'OJ'' "'. dalam ASOHI 2001 bahwa umur 35 hari tahun> 1990. ayam mengalami menjadi perkembangan yang demikian cepat.7 .1.

' ':"' . komposisi dan komponen kimia tubuh.-~ .-_. Meat Nick. pertambahan bobot badan merupakan gambaran dari pertumbuhan. Ross. pertumbuhan perubahan temak secara umum merupakan perubahan ukuran yang meliputi bobot badan..~ ••• r. ransum dikatakan berkualitas jika dapat memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan agar ayam dapat tumbuh dengan baik. (1998). Kimber. -c •• ':-. oleh faktor umur. sehingga nutrisi sianida dapat tidak mengandung mempengaruhi senyawa anti nutrisi. Pilch. " •• . pertumbuhan Senyawa anti ayam apabila kecepatan • • r __ • . Lohmann Broiler. lingkungan perlindungan terhadap penyakit dan juga dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas ransum. Shaver dan Tegel (Ditjen Peternakan dan Suroprawiro dalam ASOHI 2001). bentuk: tubuh. kecepatan pertumbuhan pada ayam mempunyai kelamin variasi yang cukup besar tergantung disarnping faktor pada tipe ayarn. Menumt Tillman et al. 1998). Isa Vedette.5 Indian River. Peterson. yang terdiri dati peningkatan kadar air. Dijelaskan oleh Washburn (1990). ':r' 7-"· . strain.". :-. Perbandingan komponen tersebut dipengaruhi pemberian pakan. jenis seperti suhu dan dan makanan. mingguan atau menurut peri ode waktu lainnya (Tillman et al. Pertumbuhan Ayam Broiler Menurut Soeparno (1998) bahwa..2. North and Bell 1990 menyatakan bahwa.~~ •• .. protein... . 2. jenis kelamin populasi dan cara Pertumbuhan unggas umumnya dapat diketahui dengan mengukur kenaikan bobot badan yang dilakukan melalui beberapa kali penimbangan dan dinyatakan sebagai pertambahan bobot badan harian.. ~ . lemak dan abu di dalam tubuh.

Scott et aL (1982) menyatakan bahwa.6 terkonsumsi dan terakumulasi di dalam tubuh (Mukodiningsih 1998 serta Wahyuni et al. Wahju. dan Tristiarti. bungkil kelapa. Kekurangan asam amino terutama asam amino esensial dalam ransum ditentukan oleh jumlah asam amino pembatas. 2001). kualitas ransum yang baik akan mempengaruhi pertumbuhan ayam broiler. dimana ransum yang sesuai akan memberikan pengaruh yang baik terhadap kecepatan pertumbuhan.' .. 2.. (1982) dan Wahju (1997) bahwa. 1'" ".3. 1997). Bahan-bahan pakan yang biasa digunakan dalam penyusunan ransum unggas di Indonesia adalah: jagung kuning. Pertumbuhan ayam broiler juga dipengaruhi oleh komposisi asam amino dalam ransum. dedak halus. Ayam jantan memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan ayam betina. 1982. bungkil . Ransum Ayam Broiler Ransum merupakan salah satu faktor yang menentukan bagi keberhasilan usaha petemakan unggas khususnya ayam broiler. sebab 70-80% dari biaya produksi dipergunakan untuk biaya ransum (Siregar et al. 1981). ransum yang kekurangan asam amino akan menyebabkan penurunan pertambahan bobot badan dan konsumsi ransum pada ayam periode pertumbuhan.. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Scott et at. ~'-T-:'··-~···--·-··'······:-·::7'"-· -". Hal tersebut karena tingkat konsumsi ransum ayam jantan lebih tinggi. konsumsi dan efisiensi penggunaan ransum serta komposisi tubuh. sehingga ayam jantan lebih efektif dalam menghasilkan daging (Scott et al.

7% dan energi . protein untuk pertumbuhan jaringan dan protein untuk pertumbuhan bulu (Wahju.2 .2 minggu adalah protein 23. Ditambahkan kualitas serta sifat bahan yang digunakan oleh Wahju (1997) bahwa. kebutuhan protein dan energi metabolisme untuk ayam broiler peri ode pre starter umur 0 . Protein merupakan dalam pakan merupakan komponen yang komplek sumber asam amino untuk membentuk jaringan tubuh yang telah rusak. sehingga ransum tersebut dapat menghasilkan yang baik. (1982).26.5% dan energi 2800 . 1995). Menurut Scott et al.5 .6 minggu protein 19. Protein bagi temak. hasil pertanian lainnya. Penyusunan ransum sebaiknya memperhatikan kecemaan.3200 kkal/kg sedangkan periode starter umur 2 . palatabilitas dan harga selain itu juga memperhatikan (Anggorodi. dalam penyusunan ransum selain memperhatikan kandungan zat-zat ransum yang dibutuhkan juga pertumbuhan harga yang murah. tulang. Wahju (1997) menyatakan bahwa. ransum ayam ras yang berkualitas baik selalu didukung oleh ransum yang sesuai dengan kebutuhan. bulu. tepung ikan. bahan-bahan berupa butir-butiran atau kacang-kacangan makanan yang dan hasil ikutan pabrik. dan daun-daunan sebangsa leguminosa (Wahju. pembentukan jaringan tubuh yang barn : kulit. vitamin. bungkil kacang kedele. energi. mineral dan air. produksi maksimal dan efisiensi dalam penggunaan ransum. paruh dan organ dalam tubuh unggas. 1997).7 kacang tanah.22. untuk pertumbuhan dan keperluan hidup ayam broiler membutuhkan unsur-nnsur yaitu protein. Kebutuhan protein per hari untuk ayam yang sedang tumbuh dibagi menjadi tiga bagian yaitu : protein untuk hidup pokok. 1997).

5.8 .8 2800 . . namun pada penggilingan biji karet sederhana dihasilkan 60% bungkil biji karet (Ong dan Yeong. Indonesia merupakan negara dengan luas tanaman karet yang menghasilkan terbesar sebanyak 1357.2 ton per tahun pada tanaman yang telah berumur lebih dari 10 tahun sehingga produksi biji karet Indonesia setiap tahun sebesar 2.4. Potensi Biji Karet Indonesia merupakan negara penghasil karet nomor tiga didunia setelah Thailand dan Malaysia.1. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (2000) luas tanaman karet yang menghasilkan sebesar 3.21.3300 kkal/kg.3300 kkallkg sedangkan umur 6 minggu keatas adalah protein 18. setiap hektar tanaman karet dapat menghasilkan biji karet antara 0. Produksi bungkil biji karet Indonesia dengan proses Namun produksi pengepresan mekanik adalah sekitar 0.56% dari daging biji karet. 1988). biji karet bersifat musiman dan pengumpulan biji karet di Indonesia kurang efisien karena sebagian besar perkebunan rakyat.93 .8 ribu ton (Atas. dengan persentase daging biji 57% dari bobot biji keseluruhan (Aritonang. 2.4309 juta hektar. Ditinjau dari luas tanaman.1. dengan persentase sebesar 55 . 1977).4. Bungkil biji karet merupakan limbah industri minyak biji karet. Hariyono (1996) menyatakan bahwa.7 .1. Senyawa Beracun Biji Karet dan Bungkil Biji Karet Biji karet terdiri atas kulit yang keras dan daging biji.2% dan energi metabolisme 2800 .1 juta ton.41 juta ton/tahun. 1997). 2.

72 ppm dan kandungan HCN biji karet setelah difennentasi Rhizopus oligosporus sebesar 30. Kakes. biji karet segar mengandung HCN sebesar 1200 ppm. Cheeke dan Shull. menghasilkan glukosa dan asam sianida (Liener. (1989) bahwa HCN dapat dihilangkan dengan biji karet dan air 1: 2-3. McMahon et al. 1985. (1984). Apabila biji karet dihancurkan. Ditambahkan oleh Wizna et at. sehingga terjadi kerusakan dinding sel jaringannya. Iarut dalam air dan mudah menguap Dijelaskan oleh Judoamidjojo et at. Proses terbentuknya HCN dari glukosida dapat dilihat pada Ilustrasi 1. HCN mudah Menurut Soejono dan Kamal bila dipanaskan. tonoplas pecah maka kedua enzim tersebut akan berhubungan dengan linamarin dan terjadi proses penguraian. 1990. 1995).9 Rachmawan (2001) menyatakan bahwa. (2000) bahwa. faktor racun dalam biji karet Linamarin selalu bersamaHeN yaitu enzim adalah "sianogenik glukosida" yang disebut linamarin.75 ppm Enzim linamarase (B-glukosidase) dan hidroksinitrilliase terletak di sitosol sedangkan Iinamarin berada di vakuola sehingga dalam keadaan normal proses penguraian tidak akan terjadi. 1969. cara merebus biji karet. diiris ataupun dikunyah. kandungan HCN biji karet dengan sekitar 573. sarna dengan dua enzim yang menguraikannya menjadi linamarase (f3-glukosidase) dan hidroksinitrilliase. yaitu dengan perbandingan sehingga kandungan HCN pada biji karet segar dapat turun sampai pada tingkat yang tidak membahayakan bagi ternak yang mengkonsumsinya. . Hariyono (1996) menyatakan bahwa.. sedangkan bungkil biji karet mengandung HCN sebesar 27 ppm.

Dijelaskan oleh Aritonang (1988) bahwa bungkil biji karet mengandung protein kasar sebesar 25 . .. Proses Terbentuknya HCN dari Glukosida (Cheeke dan Shul.. bahwa 2861 ± 158 kkal/kg. Kandungan Nutrisi dan Manfaat Bungkil Biji Karet dalam Ransum Hasil analisa proksimat dan komposisi asam amino bungkil biji karet serta bungkil biji karet fermentasi yang bervariasi dari beberapa penelitian tertera pada Tabell. bahwa bungkil biji karet tidak mengandung asam amino histidin dan triptophan.6. Bungkil biji karet juga mengandung asam amino baik esensial maupun non esensial namun tidak mengandung asam amino triptophan.. 1995) 2.10 Sianogenik glukosida B-glukosidase -----. energr yang didapatkan dengan pemerasan Menurut Atmoko mekanik sebesar (1992). variasi nilai energi metabolis bungkil biji karet tergantung dari metode yang digunakan dalam proses pemerasan biji karet (Toh dan Chi a. Nilai energi metabolis bungkil biji karet berkisar 2500 .17..33% dan serat kasar 4. 1977).2900 kkal/kg. glukosa + aglikon hidroksinitrilliase Aglikon HCN + aldehid atau keton Ilustrasi 1. 1985 serta McMahon et al.6% tergantung dari varietas.4 . tanah dan kondisi pengolahan. iklim. Menurut Toh dan Chi a (1977).

19 34.34 6.66 0.42 0.2 .49 0.40 14.17 11.3 0.70 1.4 0.57 BBK 3 90-95 25 -33 4.29 .40 0.00 25. oleh aktivitas enzim yang dihasilkan oleh mikrobia dengan tujuan meningkatkan nilai nutrisi atau ketersediaan nutrisi.3 0. 1""" . Rachmawan (2001) 2.57 Swnber: 1.2 4.40 11.70 4.5 5.63 2 2550.88 0.11 Tabel 1. Toh dan ehia (1977) 3.3 .1.70 12.65 3.7.20 4.30 0.98 1.11 26.29 0.60 4.9 0.30 0.0. (1985) 5. Ong dan Yeong (1977) 2.17.00 94.4 .6 8.0. Kandungan Nutrisi Bungkil Biji Karet (BBK) dan Bungkil Biji Karet Fermentasi (BBKF) Kandungan Komponen 1 EM (kkal/kg) BK (%) PK (%) SK (%) LK (%) Abu (%) BETN (%) Ca (%) P (%) Metionin Lisin Arginin Triptophan Leusin Sistin 92.9 0.5.7 1.18 1.6 4 91.10 15.39 33.14 2.90 0.6 4.94 BBKF 5 31. Aritonang (1988) 4.43 0.3 45.28 0.1. Fermentasi Bungkil Biji Karet dengan Ragi Tempe dan Oneom Fennentasi adalah suatu proses perubahan substrat baik secara fisik atau kimiawi pada kondisi aerob maupun anaerob.5 33.0.5 -6.2 .60 35.5 24-45 0.12 0. Karossi et al.49 4.0.0.09 0.8 .4 .30 8.

juga dijumpai beberapa bakteri diantaranya Klebsiella bacillus sp. .. ragi tempe sekurangkurangnya mengandung 2 dari 4 spesies kapang..•• ""..12 tekstur dan palatabilitas serta pereduksian faktor antinutrisi (Winamo et al. Disamping itu juga mengandung khamir Saccharomyces sp. dan bakteri Gram (+). Hasil mengandung penelitianYuniati kapang (1998) menunjukkan bahwa ragi oncom lebih Rhizopus sp... orizae.. Ii . . Pediococcus sp. dan beberapa genus bakteri yang memproduksi vitamin B 12. 1980 dan Wizna et al. .. 2000). "._ ••• . apabila nilai gizi merupakan tujuan produk yang dihasilkan.~.I_~.. '.:'~ . Dijelaskan oleh Rahman (1992) Rhizopus oligosporus dapat digunakan dalam ragi tempe lebih banyak. dan Penicillium sp. Streptococcus sp..... R. Rachmawan (2001) melaporkan bahwa dengan fermentasi tradisional disamping mampu meningkatkan sifat fisik dan kimia bahan substrat juga mampu menghilangkan racun dalam substrat tersebut dan meningkatkan nilai ekonomi bahan substrat yang digunakan. Suliantari dan Rahayu (1990) menyatakan bahwa ragi tempe selain mengandung kapang Rhizopus sp. arrhizus. memproduksi enzim-enzim yang mengubah tekstur dan penampilan oncom yang dihasilkan._. '. _ ••• 0 •• ". Menurut Arbianto yang disitasi oleh Rahman (1992).". R stolonifer._. R. Rhizopus sp..... Aspergillus sp. ••• _ . Namun apabila tujuan produk yang dihasilkan agar tampak kompak dan padat. yaitu Rhizopus oligosporus. sedangkan • __ _ __ .""". Rhizopus oligosporus dan R orizae memegang peranan utama dalam fermentasi tempe. Lactobacillius sp.. Rod dan Spherical. maka Rhizopus orizae digunakan dalam ragi lebih banyak. Geotricum sp.

Dijelaskan oleh Suliantari dan Rahayu (1990). Perlakuan pengukusan. aerasiltebal substrat. Hal tersebut menjadikan senyawa produk fermentasi lebih mudah dicema sehingga meningkatkan kegunaan pakan berserat yang difermentasi (Buckle. mengeleminir memperluas dan seperti bentuk perebusan mengubah dan mikroorganisme permukaan kontaminan penggilingan akan merasa sehingga mikroorganisme cocok untuk tumbuh berkembangbiak dengan sempurna.48 jam pada suhu 25 . pH. 1987). pengeringan. Besamya pH substrat padat perlu disesuaikan . sesuai pendapat Hardjo et al. Rahayu bahwa. kadar air substrat awal terhadap serta unsur kelumit bahan untuk substrat (makro dan mikro elemen). l"" . sehingga memperbaiki kecemaan bahan pangan dan mengurangi waktu memasak. (1989) menyatakan selama 36 . fisik bahan dan untuk pencucian.13 kandungan bakteri akan memproduksi vitamin yang dapat meningkatkan nilai gizi produk yang dihasilkan. Menurut Harris dan Karmas (1989) bahwa adanya enzim proteolitik dari Rhizopus menyebabkan proses hidrolisis protein menjadi asam amino cepat.5°C. selama fermentasi sebagian protein dan lemak dihidrolisa menjadi asam-asam amino dan asam-asam lemak oleh enzim yang dihasilkan oleh kapang Rhizopus oligosporus sehingga zat gizi tersebut mudah dicema dan diserap oleh tubuh.37. Haslina dan Pratiwi (1996) menyatakan bahwa. fermentasi Hal tersebut dapat dilakukan dengan et al. (1989) bahwa untuk dalam proses fermentasi pertumbuhan yang optimum dari suatu mikroorganisme perIu diperhatikan faktor-faktor perlakuan awal dari substrat. bahwa protein diuraikan oleh enzim proteolitik menjadi asam amino sehingga N terlarutnya akan mengalami peningkatan. suhu.

20°C untuk pertumbuhannya disebut kelonipok psikropilik. Suhu substrat selama proses fermentasi berlangsung cenderung meningkat karena metabolisme dari mikroorganisme akan menghasilkan energi.5.Zn++.Mg++. karena untuk pertumbuhan yang normal mikroorganisrne mernbutuhkan pH yang cocok. Hampir semua kapang membutuhkan unsur-unsur kelumit . metabolit yang mudah menguap (volatil) dan rnengatur suhu. Kadar air substrat memegang peranan penting dalam fermentasi substrat padat dan keberadaannya bergantung pada sifat alamiah substrat. baik turon maupun meningkat maka mikroorganisme tersebut akan mati.Na++dan K++.40°C disebut kelompok mesopilik dan yang menyukai suhu 45 . Apabila suhu pertumbuhan tersebut mengalami perubahan yang ekstrim. 8uhu substrat akan mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisrne.80% yang cukup untuk pertumbuhan mikroorganisme. P dan S maupun unsur mikro seperti Fe++. uap air. yang menyukai suhu 25 . jenis mikroorganisme yang digunakan serta jenis produk yang dihasilkan. mengusir CO2. Aerasi berguna untuk pemasok oksigen. Selanjutnya dikemukakan bahwa.60°C disebut kelompok therrnopilik. 1989). Kenaikan suhu ini erat hubungannya dengan ketebalan substrat dan aktivitas mikroorganisme (Hardjo et al.5 .14 dengan rnikroorganisme yang digunakan.". N. Secara umum mikroorganisme yang menyukai suhu 0 . Mikroorganisme dalam pertumbuhannya membutuhkan unsur kelumit baik unsur makro seperti C. pada fennentasi yang menggunakan mikroorganisme aerob diperlukan kondisi substrat yang porous agar terjadi aerasi atau pertukaran oksigen yang sempurna.5 (Muchtadi. 1989). Mn++.. c. pH substrat untuk pertumbuhan kapang yang optimum adalah 4. Fermentasi substrat padat secara alami mengandung kadar air 40 .

flavor. Fardiaz (1992) dan Judoamidjojo et al. .15 tersebut diatas walaupun dalam jumlah sedikit tapi hams ada dalam substrat agar dicapai pertumbuhan yang baik. 1998). (1992) menekankan bahwa pada proses fennentasi diperlukan kondisi aseptis artinya semua bahan dan peralatan yang digunakan bebas dari mikroorganisme pencemar atau kontaminan yang tidak dikehendaki agar proses fennentasi berlangsung secara sempuma. mineral). metode penyimpanan. antibiotik. genetik. keempukan. permintaan konsumen akan produk pangan misal daging unggas tentunya disertai dengan syarat yang harus dipenuhi oleh produsen seperti rasa. wama. bahan-bahan lain yang ditambahkan kedalam pakan seperti (hormon. antibiotik. Selanjutnya kualitas daging unggas dibagi dalam dua kelompok besar yaitu kelompok kualitas ·"["i ~. spesies. tekstur. Kualitas Daging Ayam Broiler Kualitas daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan sesudah pemotongan. Faktor setelah pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain bahan tambahan termasuk enzim pengempuk daging. lemak intramuskuler atau marbling. retensi cairan daging dan pH (Soepamo. penampakan Iuar. jenis kelamin dan stress. susut masak (cooking loss).8. sehat dan aman untuk konsumsi. hormon. 2. aroma termasuk bau dan cita rasa serta kesan jus (Juiceness) daging. keempukan. bangsa. Menurut Mead yang disitasi Erwanto (1998) bahwa. macam dan lokasi otot daging. mengandung nilai gizi serta terjangkau harganya. umur. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara Iain pakan baik jumlah maupun mutu.

konformasi. ~ ': n. Mutu kimiawi dari daging menurut Lawrie (1995) dicenninkan oleh 2.. air dan mineral. dan vitamin.- ":': •• t--~-. memar dan sebagainya.. L . protein 19%._ -. kadar lemak rendah (low fat). mempertahankan jaringan tubuh yang ada dan mengganti sel-sel tubuh yang telah rusak.3%.. H. namun ini terbatas pada negara tertentu. kesehatan mengandung unsur-unsur C.16 yang mempunyai konotasi positif dan kelompok kualitas yang bersifat negatif Secara umum kualitas positif adalah kualitas yang mengarah kepada karkas unggas yang memenuhi standar seperti ukuran. kandungan lemak. lemak. warna dan kesegaran. S. Ditambahkan disukai ada tulang yang patah. Winarno (1989) mendefinisikan protein yaitu sumber asam amino yang komposisi daging adalah bangsa. jumlah daging. sobek... bahwa.. ·. Protein berfungsi sebagai zat pembangun jaringan-jaringan tubuh bam. . 0. komposisi zat-zat makanannya yaitu kadar air 75%.. substansi non protein 2. Komposisi tersebut sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh mutu dan jumlah pakan. kualitas daging yang oleh Nugroho dan Pumomo (2000) yaitu berwarna tinggi. komposisi daging terdiri dari protein. Selain mutu dan jumlah pakan faktor lain yang mempengaruhi dan umur.. lemak karbohidrat 1.L. o . keempukan rendah.2%. Fe dan Cu. susut merah cerah.dan ada juga yang mengandung P. Protein dapat juga dijadikan sebagai sumber energi apabila dibutuhkan. masak konsumen daging pH rendah sekitar 5. Selanjutnya Levie yang disitasi oleh Hastono (1998) menyatakan bahwa..-. Kualitas karkas yang negatif lebih ditekankan kepada keadaan luar daging unggas yang banyak mengalami kerusakan atau tidak memenuhi syarat seperti kelumpuhan.1 . jenis kelamin.5%.1 ~ 6.~.... - ": . dan N.

Kadar lemak dalam daging berbeda-beda. sedangkan protein dan empat per gram .17 yaitu pada keadaan kebutuhan energi dari karbohidrat dan lemak tidak terpenuhi. umur. tekstur dan cita rasa. yang disitasi oleh Rachmawan (2001) menyatakan bahwa kandungan protein dalam daging sebenamya relatif konstan. Kalau jaringan miofibrilemya banyak berarti kadar proteinnya tinggi dan sebaliknya kalau j aringan ikatnya tinggi maka kadar proteinnya rendah. ini disebabkan oleh kadar lemak dalam daging yang juga berbeda-beda. (Winarno. sembi Ian kkal energi. Kadar lemak daging tinggi akan diikuti oleh kadar air dalam daging yang rendah. 1989). Kadar air dalam daging merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi kenampakan. Air dalam daging temak berfungsi sebagai pembawa zat-zat makanan dan sisa-sisa metabolisme (Winarno. merupakan sumber energi yang lebih efektif dibandingkan Setiap satu gram lemak karbohidrat menghasilkan kkal Lemak dengan protein dan karbohidrat. 1989) . apabila protein mengalami denaturasi seperti oleh adanya panas. 1989).. dan adanya variasi kadar protein Iebih banyak disebabkan oleh perbedaan struktur daging yang terdiri dari miofibriler dan jaringan ikat. basa maupun tekanan dari luar (Winarno. jenis kelamin serta mutu dan jumlah pakan yang diberikan.. Protein diserap oleh usus dan diedarkan keseluruh tubuh dalam bentuk asam-asam ammo. Kramlich et al. bangsa. Sifat istimewa dari protein daging adalah dapat mengikat air Kondisi tersebut terjadi (hidrofilik) dan ada juga yang tidak suka air (hidrofobik). Kadar air dalam daging berbedabeda. asam. I . tergantung dari jenis temaknya.

.jaringan ikat danjaringan lemak intramuskuler. rasa enak. cita rasa dan daya warna. 1989). .~. 1989).1.' - . mempunyai penggilingan .serta tekanan (Judge et ai... serta niIai nutrisi daging.:' :··~-·-7·· "~... Sifat-sifat fisik daging merupakan factor yang menentukan kualitas fisik dari daging (Lawrie. Daging yang tidak mengandung lernak banyak akan mengandung mineral relatif Iebih banyak (Winamo. Lemak yang dimaksud adalah lemak yang terdapat di daIam urat daging atau dikenal dengan lemak marbling. kesegaran 'dan keempukan daging yang oleh daya ikat air dari protein daging dan kehilangan air akan daging terdiri menurunkan berat.--'_--_.1'8 Rachmawan menentukan (2001) mengemukakan bahwa kehadiran lemak dalam tubuh akan mutulkualitas dari daging tersebut.. tekstur. Komponen darijaringan otot. lemak dan air.••• --" . . Daya Ikat Air' (DIA) Dagfng Daya Ikat Air (DIA) oleh protein daging atau Water Holding Capacity (WHC) adalah kemampuan daginguntuk mengikat airnya atau air yang ditambahkan selama ada pengaruh kekuatan dari luar seperti pemotongan daging. Kadar abu dalam daging relatif konstan yaitu sekitar 1%.S. Soepamo (1998) menyatakan bahwa.~" . 1995). daya ikat air (Water Holding Capacity).::r -r-' . pemanasan.--- . sifat fisik daging meliputi dipengaruhi tingkar keempukan daging. Kadar abu ini erat hubungannya dengan kadar protein.•. susut masak dan pH.. selanjutnya dinyatakan bahwa kualitas fisik daging dapat ditentukan antara lain berdasarkan peubah keempukan. Lemak marbling akan menentukan tarik daging (daging menarik).---. Protein otot hubungan yang erat dengan protein daging yaitu sifat hidrofiliknya ._ . 2.~-- c_ -.

2000). penyimpanan Nilai pH akhir yang tercapai karena terlalu lama. Menurut Buckle et at. berbagai reaksi yang dikatalisis oleh enzim-enzim akan mengubah glikogen dalam otot berubah menjadi asam laktat dalam keadaan anaerob dan akibatnya pH turon. Forrest et al. (1975) menyatakan bahwa setelah hewan dipotong. 1989). Bertambahnya jumlah protein sangat berpengaruh pada kemampuan DIA daging (Nugroho dan Pumomo. 1995).2 -7. akan menonaktifkan enzim-enzim glikolitik atau menjadikan glikogen tidak sensitif untuk dipecah akibatnya pH akhir daging masih tinggi sehingga titik isoelektrik dari protein daging (termasuk miofibril) tidak tercapai dan menjadikan DIA daging rendah (Lawrie. juiceness. Daya ikat air berhubungan dengan protein daging sehingga dengan meningkatnya kadar protein secara relatif akan meningkatkan DIA. . 2..4. Daya ikat air oleh protein ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap sifat fisik daging seperti wama. Nilai pH Daging Tinggi rendahnya nilai pH ini akan ikut menentukan kualitas dari daging (Lawrie. air daging serta bertanggung jawab terhadap DIA (Soepamo. Derajat keasaman atau pH digunakan sebagai penunjuk tingkat keasaman dan kebasaan suatu substansi (Romans dan Ziegler yang disitasi oleh Erwanto. Daya ikat air dipengaruhi oleh pH. 1998). tidak adanya glikogen. keempukan dan susut masak (Forrest et al. tekstur.19 dalam mengikat molekul-molekul 1998).. (1987) jaringan otot temak hidup dalam keadaan istirahat bersifat netral yaitu mempunyai pH antara 7. 1975~ Judge et al. pelayuan. pemasakan atau pemanasan.8. 1995).2.

4 . normalnya adalah antara 5. daging. Pada daging (sapi.20 selanjutnya Lawrie (1995) menjelaskan bahwa pH adalah penentu pertumbuhan bakteri yang penting.. Nilai pH atau derajat asam daging erat hubungannya dengan daya ikat air. sehingga terdapat . Hal ini pada saat pH rendah protein otot akan rusak.1) menyebabkan mempunyai flavor struktur terbuka yang sangat diinginkan untuk pengasinan disukai baik dalam lebih kondisi telah dimasak atau diasin dan mempunyai stabilitas yang lebih baik terhadap kerusakan oleh mikroorganisme (Buckle et al. Hampir semua bakteri tumbuh optimal pada pH sekitar 7 dan tidak akan tumbuh pada pH persis dibawah 4 atau diatas 9. keempukan daging. 1987).5.1 . (5.I . Dalam daging segar rangsangan pH akhir yang tinggi pada bakteri terutama dibagian karkas yang Iebih dalam menyebabkan yang mengalami proses pendinginan seeara lambat Ditambahkan dapat oleh kejadian bone taint (daging menjadi cacat). bahwa penurunan pH otot postmortem banyak ditentukan oleh laju glikolisis postmortem serta eadangan glikogen otot dan pH daging ultimat. (1971). bahwa dengan meningkatnya nilai pH akan meningkatkan dikarenakan jumlah air yang tertahan didalam otot meskipun keeil. Soepamo (1998). Dijelaskan oleh Bouton et al.8. susut masak dan wama daging (Soeparno.6. maka jelas bahwa pH akhir daging memang penting untuk ketahanan terhadap pembusukan. 1998). domba dan kambing) mempunyai pengaruh nilai pH akhir yang dicapai yang berarti terhadap kualitas daging yaitu pada pH rendah wama merah muda eerah yang disukai konsumen.

meskipun pada daging yang mengandung lemak marbling lebih tinggi akan kehilangan lemak lebih banyak tetapi nilai susut masak secara relatif Iebih kecil. Daging dengan susut masak yang lebih rendah mempunyai kualitas yang relatif . --. Penelitian tentang pengaruh radiasi terhadap nilai pH.. warna dan rasa pada daging babi yang bertujuan untuk meningkatkan masa simpannya dan membunuh bakteri patogennya tidak menyebabkan perubahan pada faktor tersebut penelitian temyata termasuk pH-nya (An-hungfu et al._ ..54. bagian terbesar yang mineral. Susut Masak (Cooking Loos) Daging Romans dan Ziegler yang disitasi Erwanto (1998) menyatakan bahwa.--. - -- ..21 kecenderungan terjadinya penurunan daya ikat arr oleh protein otot atau menurunnya nilai WHC.5%. 1995b). Soeparno (1998) menyatakan bahwa.8. hilang disamping sedikit protein. -. tetap Secara umum susut masak daging berkisar antara 1... ·T··~··e_-· __ ·. Air merupakan vitamin dan Proses terj adinya susut masak adalah akibat menurunnya kapasitas menahan air oleh protein daging. total barbituric acid.·-""~"·--~··--···F-'·--···· . 2. _.. .... susut masak mempunyai hubungan yang erat dengan perlemakan daging (marbling).. Demikian juga 9 hari yang sarna diakukan pada daging sapi sarnpai penyimpanan dari berbagai dosis radiasi juga tidak menyebabkan perubahan pada nilai pH (An-hungfu et al. susut masak adalah hilangnya berat atau cairan daging akibat pemasakan. .._ . kandungan lemak marbling yang tinggi akan mengharnbat atau mengurangi lepasnya cairan daging pada saat pemasakan.--- .-.. lemak.5% . 1995a)...-.3..

mudah atau tidaknya daging tersebut dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. dan faktor umur. pelayuan metode dan pembekuan pengolahan termasuk faktor lama dan temperatur pemasakan dan penyimpanan. refrigerasi. Kedua. 2. spesies dan fisiologis.22 lebih baik dari pada daging dengan susut masak yang lebih besar. tekstur secara umum melibatkan tiga aspek. bahan termasuk metode penambahan pengempuk. mudah atau tidaknya gigi awal kedalam daging. 1995). Faktor postmortem meliputi metode chiling. berpenetrasi Pertama. dan matrik) dari miofibril (aktin.8. miosin dan tropomiosin) dan yang dari sarkoplasma protein-protein sarkoplasmik retikulum (Lawrie. Derajat keempukan dapat dihubungkan dengan 3 katagori urat daging yaitu dari jaringan pengikat (kolagen. retikulin. Pengaruh pH terhadap keempukan daging bervariasi. keempukan dan tekstur daging kemungkinan daging. jenis kelamin. Keempukan Daging Menurut Soepamo (1998). Faktor yang 1). elastin. dan stres. keempukan Definisi keempukan tennasuk mempunyai kriteria utama kualitas daging unggas. tinggi mempunyai keempukan yang lebih tinggi Daging dengan pH daging dengan daripada . mukopolisakarida.4. 2). karena kehilangan nutrisi selama pemasakan akan lebih sedikit. Ketiga jumlah residu yang tertinggal setelah dikunyah. Faktor antemortem besar merupakan penentu yang paling penting pada kualitas mempengaruhi keempukan daging digolongkan menjadi seperti genetik termasuk bangsa. manajemen. Selanjutnya ditambahkan oleh Lawrie (1995) bahwa.

. biji karet dapat digunakan sebanyak 20% dalam ransum ayam petelur tanpa memperlihatkan gejala negatif terhadap produksi telur. berat telur dan keracunan HeN. Namun effisiensi ransum yang paling baik dicapai pada aras penggunaan 10% dalam ransum... - . sistin dan sistein.•.. -.--."". Menurut Susilowati (1992) penggunaan bungkil biji karet 9% dengan 0.. Peningkatan pH ultimat daging.. 1998)...-c~.. bungkil biji karet dapat digunakan dalam ransum ayam broiler sampai aras penggunaan 25%. pada umumnya meningkatkan keempukan dan hiasanya juga meningkatkan DIA atau jus daging (Bouton et al..'..--'-.. bungkil biji karet dapat digunakan sampai aras 50% dalam ransum ayam...-...T_-_ .._ . _. - .2% ferro sulfat temyata dapat menurunkan konsumsi ransum ayam broiler. 2. Ditambahkan oleh Soejono dan Kamal (1984) bahwa.• '.-' . .r-~. namun harus disuplementasi dengan asam amino yang mengandung sulfur seperti metionin... - • -- - .~.•... ---. Pengaruh Penggunaan Biji Ransum Ayam Karet dan Bungkil Biji Karet dalam Soejono dan Kamal (1984) menyatakan bahwa. .-.. sedangkan pada ayam petelur dapat digunakan sampai aras 55% dalam ransum.'.~-:-:. Selanjutnya dikatakan oleh Hariyono (1996) penggunaan bungkil biji karet dalam ransum ayam broiler sebesar 20%. '.9. Atmoko (1992) menyatakan bahwa. . 1971 dan Soeparno. Penelitian Ong danYeong (1977) melaporkan penggunaan bungkil biji karet sampai level 25% dalam ransum ayam broiler dengan tepung ikan sebagai sumber protein tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan..--.23 pH rendah. konsumsi ransum dan efisiensi ransum.--._.'-~ .' . ': ..._ .

Namun penggunaan bungkil biji karet sampai 18% dengan 0. pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Namun bungkil biji karet hanya dapat digunakan sebesar 10% dalam ransum ayam petelur tanpa mengganggu pertmbuhan dan mutu telur yang dihasilkan (Karossi et al.5%. Penggunaan bungkil bijikaret hingga 19% dalam ransum tidak akan mempengaruhi perfonnans ayam broiler.aras penggunaan 18% mulai mengakibatkan penurunan bobot badan.24. Selanjutnya dijeJaskan bahwa pengaruh negatif terlihat apabila penggunaan bungkil biji karet dinaikkan hingga 28. sedangkan pada pertambahan .. 1985).2% ferro sulfat dalam ransum tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum. '1'1 .

Proses Pembuatan bungkil biji karet secara mekanik @iT -PUST AK-UNDIPt 11 . tempat minum dan lampu. Tahap pertama pembuatan bungkil biji karet fermentasi di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Temak (Ruminologi) Fakultas Petemakan UNDIP. tempat pakan.1.2. Multibreeder Adirama Indonesia. 3. tahap kedua pemeliharaan ayam broiler selama 6 minggu di Desa Guntur. T.BAD m MATERI DAN METODE 3. Demak dan tahap ketiga prosessing diteruskan pengukuran pH daging di Laboratorium Ilmu Temak Unggas Fakultas Petemakan UNDIP. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggaI 13 Agustus sampai 5 Desember 2001. keempukan. Kendal. Materi dan AIat Penelitian Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging dada ayam broiler jantan 36 ekor yang berasal dari Day Old Chick (DOC) ayam broiler jantan Analisis Proksimat dan pengukuran DIA. dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak sebanyak 126 ekor strain Lohmann (tv1I3 202) produksi P. Biji karet yang digunakan dalam ransum penelitian berasaI dari perkebunan Siluwok. Kandang menggunakan system terbuka dengan alas litter. Kandang dibagi menjadi 18 petak dengan ukuran p x I x t sebesar 100 x 100 x 60 em serta dilengkapi pemanas. susut masak Fakultas Petemakan UGM.

Tahap ketiga daging biji karet dikukus dan minyak kacang tanah. yang dilanjutkan dengan pendinginan bungkil biji karet. daging biji karet sehingga didapatkan daging dan kulit biji karet. Tahap pertama mengeringkan dan mengupas biji karet. Biji karet dijemur dan dikupas Dagingbiji dan Kulit biji karet Daging biji dijemur . Tahap pertama perendaman dan pencucian bungkil biji karet. Proses Pembuatan Bungkil Biji Karet Secara Mekanik Proses pembuatan tepung bungkil biji karet fermentasi (BBKF) dapat dilihat pada Ilustrasi 3.I . sehingga dengan alat pembuat didapatkan minyak dan bungkil biji karet (Ilustrasi 2). Tahap kedua dikeringkan dilakukan kemudian pengepresan digiling. Tahap kedua pengukusan.26 terdiri dari tiga tahap. bungkil biji karet diinokulasi dengan ragi tempe dan oncom kemudian . digiling Diperas Secara mekanik Bungkil Biji Karet (BBK) dan Minyak biji karet Ilustrasi 2. Tahap ketiga.

"' ••• " ••• _"O_'~' 1'1 '-~--"'1"~"""-'" c .27 diperam. diiris dan dijemur TEPUNG BBKF Ilustrasi 3. - •• ". BBK direndam selama 12 jam kemudian dicuci sampai bersih Dikukus selama 30-40 menit Diinokulasi dengan ragi tempe dan oncom sebanyak 2g/kg BBK Diperam selama 36 jam pada suhu ruang Dipanen." __ ••••• __ .-:-_'. penjemuran dan penggilingan bungkil biji karet fermentasi. • ~. energi bruto yang diperoleh dan metabolis berdasarkan . _._'~_. __ - - •. _. pengirisan. Tahap keempat meliputi pemanenan. Energi bungkil kedelai. bungkil bij i karet fermentasi. •••• . Poultry Meat Meal (PMM) dan premix.~ __ . dihitung bekatul. Proses Pembuatan (BBKF) Tepung Bungkil Biji Karet Fermentasi Bahan penyusun ransum terdiri dari j agung kuning.

- . Jenis Sampel Air Abu Serat Lemak Kasar Kasar Protein Kasar Kalsium Fospor Energi Metabolis (kkal/kg) 29801 33501 29002 29002 22401 29501 ---------------- (%) .10 1. termometer dan timbangan.16 0.51 3. lampu.16 BBKFT BBKFO Bungkil Kedelai PMM 2 Menurut tabel NRC (1994) Menurut Toh dan Chia (1977) Alat-alat yang digunakan adalah tempat ransum.- 1.•. .-_ .._.60 14.65 55. Bekatul Jagung Giling 12..14 0..24 50. .70 13.16 0.46 5..-.33 13. 6.+... sedangkan komposisi ransum penelitian pada Tabel 3 dan nutrisi serta energi metabolis tercantum pada Tabel4 Tabel 2.7.20 3.~.03 6..31 0.-" .53 6. ~'.. . Air minum diberikan Ransum yang digunakan ad-libitum.. 2.10 7..81 23..39 1.. .'.52 3. 5..-...40 8. . .28 bom kalorimeter dicampur setiap sesuai metode dalam Wahju (1997). 4.19 0. tempat minum.50 20. Hasil analisis minggu.35 --.37 1.•~.19 0. _.84 23.81 3.40 6. ··'-··~'1·'~~~~~-~~" -~ ~:' ..00 21.~.28 3.20 0.38 3. 3..35 12. _.10 55.•.' ••• : ••• .50 42.96 1..91 8.97 0..03 0. Timbangan digital kapasitas 6000 g dengan kepekaan Ig untuk menimbang seluruh data kecuali untuk menimbang ransum dengan timbangan "Kitchen scales" kapasitas 2 kg dengan kepekaan 10 g._.61 7.99 0. proksimat bahan pakan tercantum pada Tabel 2... Hasil Analisis Proksimat Bahan Pakan Penyusun Ransum No.

<~--.5 100 AlB2 39.08 9..5 100 A2B3 34.38 22......0 5.4 7..80 22.76 2871.19 0.25 22.. Kandungan Nutrisi dan Energi Metabolis Ransum Analisis Kimia AIBI AIB2 AIB3 A2B1 A2B2 A2B3 .-" ' .60 0._ '.5 7.10 Berdasarkan (1994) Energi Metabolis dalam Toh dan Chia (1977) serta tabel NRC .79 2869.0 1..8 1.70 2865.5 20.-....77 2867..04 9.0 0 10..0 23.-~.0 4..0 0 30..0 10.59 0.64 0.08 4.'··T·~··~'··'···""'·~'·~ ..79 2872..0 7.'-".19 0..76 2864.04 0...04 0..- ~~ ~ . Komposisi Ransum Penelitian Jumlah Keterangan AlBl Jagung BBKFT BBKFO Bungkil Kedelai Bekatul PIvIM Premik 46. -.5 100 Tabe14.0 0 26.(0/0).0 1..5 100 Dalam A2Bl 46.70 22.~.-'~~-.0 0 23...5 100 (kg) AlB3 34.25 4.-----..5 6.--.2 5.0 0 20...0 30.68 0.03 19.~'- .•.66 22...0 1.~.0 30.0 0 30....27 4.5 5..--.68 0...64 0.29 Tabe13.5 7..40 4.•"-.5 100 ransum A2B2 40..12 0.11 19.--.36 4. ~.0 1..1 5..._..0 1.10 14.-- - .11 4.0 26.5 6.5 5..Protein Kasar LemakKasar SeratKasar P Ca Energi Metabolis (kkal/kg)" I) 22. .00 14....25 0.....

843 1.448 1.Perlakuan ransum dilakukan langsung pada saat DOC. selanjutnya dilakukan pengacakan menjadi 18 bagian secara merata.25 0.375 1.380 1.4481 .4281 2..9 0.35 0.432 1.414 1.176 1.697 1.384 1.4081 2.381 1.870 1.106 0.1..3.2.393 1.510 1. Komposisi Asam Amino Ransum Penelitian dan Kebutuhan Asam Amino Ayam Broiler AsamAmino Ransum Arginin Glisin Metionin Fenilalanin Treonin Triptophan Histidin Isoleusin Leusin Lisin Valin Sistin A1Bl AIB2 A1B3 A2Bl (%) A2B2 A2B3 ---------------------2..669 1.686 1.189 1.691 0.541 0.889 1.781 1..4 Kebutuhan Asam Amino " 2. Prosedur Penelitian dan Pengumpulan Data 3..2041 0.672 0..377 1. ..512 1.087 0.4441 1. .660 0.398 1.--.2 1.947 1.402 1.427 1.363 1.795 1..551 0.393 1.4241 2..350 1.675 0.3. Air minum pada hari pertama dicampur gula dengan konsentrasi 0.786 0.700 0.098 0.076 0.4051 I)Dihitung berdasarkan All National Grain dan Feed Assosiation Trade Rules Apply ~002) 2 Berdasarkan kering udara dari tabel NRC (1994) 3.8 0.466 1.636 1.8 1.086 0..319 1.2361 0..410 1..394 1. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Bobot awal ayam diperoleh dengan cara menimbang "Day Old Chick" (DOC) sesaat setelah datang.746 0.2331 0.094 0.30 Tabel 5.651 0.367 1.1 0.2091 0.25 1..-..834 0.377 1.480 1..662 1.415 1..417 1.72 0. .-..2641 0.2 0.640 1.04%.2661 0.658 0.5 0.371 1.394 1.

Vaksinasi Gumboro dilakukan pada saat ayam berumur 21 hari. memotong kepala. untuk tiap pengujian diambil dari bagian karkas yaitu otot ini merupakan otot unggas yang terbesar dan terdapat pada bagian dada. Penimbangan DOC sampai ayam dewasa dilakukan dengan timbangan digital kapasitas 6000 g dengan kepekaan 1 g. Pengumpulan Data Data diperoleh dengan melakukan pemotongan ayam pada umur 42 hari. kaki serta pengeluaran organ viscera.31 Penimbangan ayam dilakukan setiap mmggu. 3. 1998). . Ieher.2. Sampel pectoralis. dengan tujuan untuk memudahkan pengeluaran jeroan (evicerasi). disamping untuk mendapatkan persentase karkas yang Iebih tinggi dan memudahkan penanganan sehingga temak tidak terlalu stress dan daging tidak banyak terkontaminasi kotoran. Tiap unit percobaan sehingga diperoleh 36 sampel yang kemudian dianalisis. Karkas didapat dengan pencabutan bulu. Upaya pencegahan penyakit dilakukan dengan vaksinasi ND pacta waktu ayam berumur 4 hari melalui tetes mata dan melalui air minum waktu ayam berumur 28 hari. Sebelum dipotong biasanya temak dipuasakan. Setelah dipuasakan ditimbang bobot badannya dan kemudian dipotong.3. untuk mengurangi stress akibat penimbangan diberikan vitamin yang dicampur di dalam air minum. bobot otot ini kira-kira 8% dari bobot tubuh diambil 2 ekor ayam broiler jantan superfisialis atau pennukaan (Soeparno. Ransum ditimbang dengan timbangan "Kitchen scales" kapasitas 2 kg dengan kepekaan 10 g.

kemudian SampeI ditimbang sebanyak 2 g (WI).2% dalam alkohol dan 1 bagian biru metilin 0.WI adalah W 3 Persen kadar air 100% = x b. Peubah Yang Diamati dan Cara Mengukurnya a. dan tutup kembali.2 gram masukkan kedalam labu Kjeldahl.3. Kehilangan berat (gram) adalah selisih antara W 2 .2% dalam alkohol) . 40 mg HgO. tambahkan 1. dalam oven sampai diperoleh berat konstan (W2). keringkan lagi cawan ke desikator/dinginkan. 125 ml 6 kali dengan masing-masing Letakkan erlenmeyer pindahkan air cucian kedalam alat destilasi. Dinginkan. labu Pindahkan isi labu kedalam alat 2 ml air. Kadar Protein Penetapan kadar protein dengan metode Kjeldahl Sampel 0.9 g K2S04. Masukkan sampel kedalam cawan masukkan oven selama 6 jam. lalu timbang. Kadar Air Penetapan Kadar air dengan Metode Oven Cawan porselen dengan tutupnya dikeringkan dalam oven selama 15 menit. destilasi. tambahkan sedikit air perlahan-lahan.5 jam sampai cairan menjadi jernih.Ialu Masukkan ditimbang.32 3.3. dinginkan selama 20 menit dalam desikator. Tamhahkan beberapa butir batu didih. didihkan sampel selama 1. 2 ml H2S04. yang berisi 5 ml H2S04 dan 2 tetes indikator (campuran 2 bagian metil merah 0. cuci dan bilas lalu dinginkan.

Ujung tabung kondensor harus terendam di bawah 8 ml Iarutan NaOH . Distilasi pelarut yang ada di dalam Iabu lemak. Sebanyak 5 g sampel timbang langsung bersama saringan timbel.02 N sampai warna abu-abu.33 di bawah kondensor. Keringkan sampai berat tetap dan . kemudian Bilas Iarutan H3B03. Lakukan juga penetapan blanko. (ml HCl. Kemudian Iabu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 105°C. lalu pasang kondensor diatasnya dan labu lemak di bawahnya. kernudian titrasi dengan HCI 0. Kadar Lemak Penetapan kadar lernak (rnetode ekstraksi Soxhlet) Labu lemak yang ukurannya sesuai dengan ekstraksi Soxhlet dikeringkan dalam oven. Tambahkan lakukan destilasi sampai tertampung 15 ml destilat dalam erlenmeyer. Encerkan isi erlenmeyer sampai kira-kira 50 mI. tabung kondensor dengan air. Lakukan refluks selama 5 jam sampai pelarut yang turun kembali ke labu lemak berwama jernih. Pelarut dietil eter dituangkan ke dalam labu Iemak secukupnya. dan tampung bilasannya dalam erlenmeyer yang sarna. lalu dinginkan dan timbang. lalu tutup dengan kapas wool yang bebas Iemak (bisa juga ditutup dengan kertas saring). Taruh timber berisi sampel dalam ekstraksi Soxhlet.ml blanko) x normalitas x 14007 %N mgsarnple Persen protein kasar = % N x faktor konversi (6. x 100 c.Na2S203.25). tampung pelarutnya.

Sampel dipres dengan carper pres selama 5 menit dengan tekanan 35 kg/m''. timbang labu beserta Iemaknya. Bekas noda pengepresan ditandai lingkaran luar dan . Nilai pH Pengukuran pH daging dengan menggunakan pH meter merk Hanna Instrumen. Cara kerja I : sampel daging ditimbang sebanyak 0. lalu diblender selama 1 menit kemudian diukur dicatat. e. Daya lkat Air (DIA) Daya ikat air oleh protein daging ditentukan dengan metode Hamm dalam Soeparno (1998) yang dimodifikasi. Masukan elektrode kedalam larutan penyangga pH 4 dan tekan tombol ON serta tekan tombol cal 2 ditera sampai digit pada alat menunjukkan angka 4. masukan elektroda kedalam larutan penyangga pH 7 dan tekan tombol ON serta tekan cal 1 ditera sampai digit pada alat menunjukan angka 7. Alat pH meter dicek dan dikalibrasi yaitu : pH 7 elektroda dicuci dengan aquades (2x). 10 g sample daging yang sudah digiling campurkan dengan 100 ml pH-nya dan aquadest.34 dinginkan dalam desikator. Perhitungan : % Lemak Berat Lemak (g) Berat Sampel x 100% d. pH 4 elektrode dicuci dengan aquades lalu dikeringkan. dan berat lemak dapat dihitung.3 g simpan diantara kertas saring.

35 dalamnya dengan pensil agar dapat dibedakan denganjelas.85 x 6. dengan Planimeter. dan hitung selisihnya. selisih lingkaran Iuar dikurangi hasil selisih lingkaran dalam kemudian dibagi 100=a.85 0. Lakukan hal Hasil yang sarna pada lingkaran bagian dalamnya. Letakan planimeter diatas lingkaran bagian luar kertas saring tersebut dengan titik hitam pada kaca pembesarnya tepat ditanda awal dan akhir pengukuran. direkat agar tidak bergeser. Beri tanda pada lingkaran luar dan dalam sebagai tanda awal dan akhir pengukuran.0948 Contoh: hasil selisih = 85 : 100 = 0.83 0. Untuk mencari mg H20.digunakan rumus: (a) x 6.45 -8 0.8 = 49. dan hitungselisihnya.45 . catat angka yang tertera pada planimeter sebagai angka awal. Kemudian ikuti garis tersebut melingkar searah jarum jam dengan awal dan akhir yang sarna.0948 Untuk mencari persentase air bebas digunakan rumus : % air bebas x 100% . Catat angka yang tertera pada pengukuran akhir. Ukur lingkaran Cara kerja II : letakan sample yang sudah dipres dan ditandai diatas meja kayu.

lalu dilakukan pengukuran keempukan . . yaitu apabila sampel sudah mencapai berat tetap.83 % mg air bebas = x 100% 16. Keempukan Pengukuran keempukan daging Sampel daging 100 gram dengan potongan seperti kubus. g. setelah silinder dengan menggunakan COffer searah serat daging sebanyak 3 buah.61% 300 Jadi DIA (%) 49. tetap. baca angka pada alat terse but yang menunjukan daya putus atau keempukan. kemudian diulangi Setelah masak penimbangan ditiriskan. "'1'1 .22% f. lalu ditimbang terse but sampai mencapai berat Analisis ini dilakukan bersamaan dengan pengukuran keempukan.36 49. Simpan sampel daging yang sudah dicorrer dibagian alat pemotong pada Warner Bratzler.83 . direbus sampai suhu daging 82°C (pakai thermometer masak daging ditiriskan.61 = 33. Sampel daging dibentuk Sampel daging bimetal). Susut Masak (Cooking Loos) Pengukuran susut masak daging Sampel daging 100 gram direbus dengan suhu 82°C.16. kembali.

37 3. terdiri dari 7 ekor).2 1. Model matematis : Keterangan = Nilai pengamatan pada jenis ragi ke-i aras penggunaan BBKF ke-j dan ulangan ke-k Nilai tengah umum Ai Bj (AB)ij = Pengaruh dari jenis ragi ke-i Pengaruh aras penggunaan BBKF ke-j Pengaruh interaksi antara ragi ke-i dan aras penggunaan BBKF ke-j Eijk = Galat percobaan pada ragi ke-i.3 J k .3 1. Analisis Data Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) berpola Faktorial 2 x 3 dengan 3 ulangan (tiap unit percobaan BBKF dengan ragi tempe dan oncom.4. Faktor A adalah sedangkan faktor B adalah aras penggunaan BBKF (10%.2. aras penggunaan dan ulangan ke-k BBKF ke-j 1 = = 1.2. 20% dan 30%) dalam ransum berdasarkan bahan kering udara.

Ho = Tidak terdapat perbedaan pengaruh antara aras penggunaan BBKF dalam ransum terhadap kualitas daging ayam broiler. 1991). 2. perbedaan pengaruh jenis ragi tempe dan oncom HI Terdapat dalam ransum terhadap kualitas daging ayam broiler.38 Hipotesis yang diajukan adalah : 1. HI Terdapat interaksi antara j enis ragi tempe dan oncom dengan aras penggunaan BBKF dalam ransum terhadap kualitas daging ayam broiler. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varians. flo = Tidak terdapat dengan interaksi antara jenis ragi tempe dan oncom BBKF dalam ransum terhadap aras penggunaan kualitas daging ayam broiler. HI Terdapat perbedaan pengaruh antara aras penggunaan BBKF dalam ransum terhadap kualitas daging ayam broiler. Ho Tidak terdapat perbedaan pengaruh jenis ragi tempe dan oncom dalam ransum terhadap kualitas daging ayam broiler. I· . jika terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji beda nilai tengah Duncan menggunakan program komputer costat dengan tingkat signifikansi 0.05 (Steel dan Torrie. 3.

46 4. Hariyono (1996) menyatakan bahwa biji karet segar mengandung HeN sebesar 1200 ppm.1. (2000) menyatakan bahwa kandungan HeN biji karet sekitar 573. . 271 BBKFT 20 55.72 ppm dan kandungan HeN biji karet setelah difennentasi dengan Rhizopus oligosporus sebesar 30. Evaluasi Kualitas Bungkil Biji Karet Fermentasi Tabel 6.38 4. Wizna et al.27 ppm dan dengan ragi oncom sebesar 4. proses fennentasi BBK dapat menurunkan kandungan HeN BBK. Nilai Nutrisi dan Senyawa Beracun Bungkil Biji Karet dan Bungkil Biji Karet Fennentasi dengan Ragi Tempe serta Bungkil Biji Karet Fennentasi dengan Ragi Oncom Keterangan Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Senyawa Beracun HeN (ppm) BBK 17 1832 . 442 .27 BBKFO 21 55.44 ppm.75 ppm. sedangkan BBK mengandung HeN sebesar 27 ppm. Penurunan kandungan HeN disebabkan proses fennentasi Perendaman dan pemanasan selama Hal tersebut dengan ragi tempe dan oncom (Tabel 6).BAB IV BASIL DAN PEMBABASAN 4.44 I)Berdasarkan kandungan HeN bungkil biji karet dalam Hariyono (1996) 2)Berdasarkan hasil penelitian Aritonang (1988) Hasil difennentasi penelitian menunjukkan bahwa kandungan HeN BBK setelah dengan ragi tempe sebesar 4.20 3.10 3.

(1993). Hal tersebut disebabkan selama proses fermentasi .40 sesuai dengan pemyataan mempunyai Liener (1969) dan Winamo (1989) bahwa. substrat.I . berpengamh pada hasil fermentasi. Rhizopus oligosporus tidak mampu menghilangkan kadar HeN. Sumber energi yang yang mempengaruhi oksigen. Hal tersebut telah dibuktikan oleh enzim Namun Purawisastra dan Affandi (1998) bahwa Rhizopus oligosporus mengandung 13-glukosidase yang dapat menghilangkan pada fermentasi BBK dengan kapang HeN pada singkong pahit. lemak Substrat yang digunakan yang dalam fermentasi adalah banyak ini mengandung sehingga mikrobia dominan lipolitik. tetapi dapat menurunkan kadar HeN (Tabel 6). Ragi tempe dapat menurunkan dan oneom mengandung kapang Rhizopus oligosporus yang HeN pada bahan pakan. pada air yang mengalir karena dapat menurunkan BBK dapat dihilangkan dengan eara merendam HeN mempunyai sifat mudah larut sehingga kandungan HeN biji karet segar dapat turon pada tingkat yang tidak membahayakan temak yang mengkonsumsinya. mikroba yang digunakan dalam fermentasi. tersebut disebabkan Menurut Syarief pada proses fermentasi dan Nurwitri (1992) serta Susinggih et al. Hal dipengaruhi oleh beberapa faktor. aktifitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fermentasi mampu meningkatkan kadar protein kasar BBK dari 17% menjadi 20% pada BBKFT dan 21 % pada BBKFO (Tabel 6). faktor-faktor fermentasi antara lain adalah suhu. maltosa dan fruktosa. sianida sifat mudah larut dan menguap sehingga perendaman dan pemanasan kadar HeN bahan. pH substrat. digunakan mikrobia terutama berasal dari karbohidrat sederhana seperti glukosa. Dijelaskan oleh Rachmawan (2001) bahwa.

Pertumbuhan dan perkembangbiakan Rhizopus oligosporus membutuhkan sumber energi terutama senyawa karbon dan nitrogen.. karena proses fermentasi dilakukan secara aerob. Senyawa karbon diperoleh dari karbohidrat sederhana yang terdapat pada BBK. Peningkatan kadar protein kasar BBKF kemungkinan juga berasal dari penambahan rniselium sehingga senyawa N meningkat. Miselium Rhizopus oryzae lebih panjang dari pada miselium Rhizopus oligosporus. . miselium merupakan kumpulan hifa._. Biomassa sel yang bertambah tersebut berasal dari degradasi substrat BBK. "-:-:-" . sedangkan senyawa nitrogen diperoleh dari protein BBK.--. nitrat yang berasal dari HeN juga akan terdeteksi sebagai protein kasar. apabila jumlah Rhizopus oryzae dalam ragi lebih banyak proporsinya maka kadar protein kasar BBKF menjadi lebih tinggi (Rahman. Penentuan kadar protein kasar yang digunakan dalam penelitian adalah metode Kjeldhal yang berasumsi semua N akan terhitung sebagai protein kasar.:' .' . Menurut Rachmawan (2001). Hifa adalah thallus yang tersusun dari filamen yang bercabang. Drip yaitu cairan yang keluar akibat pemanasan dan terhidrolisis menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas.-: .. 1992).. Diduga selama fermentasi kadar lemak kasar pada BBKF meningkat.~~ >. Dijelaskan oleh Fardiaz (1989) serta Syarief dan Nurwitri (1992).'~'-' ~·":··-~r -. karena lemak mengalami drip. Disamping itu Rhizopus oligosporus diduga mampu mengikat senyawa N dari udara. pengolahan dengan panas selama proses fermentasi mengakibatkan kadar lemak BBK menurun. karena selama fermentasi terjadi pembentukan asam lemak I"l .--.-..41 terjadi pertumbuhan dan perkembangbiakan Rhizopus o/igosporus yang mengakibatkan biomassa sel bertambah.

Hal tersebut didukung oleh pendapat Bony dan Durand yang disitasi oleh Surono (1992).42 de novo. metabolisme Kekurangan asam amino metionin dalam ransum mengakibatkan konsumsi ransum menurun. Asam amino metionin dalam ransum yang menggunakan aras penggunaan BBKF 10%. Dijelaskan oleh yang disitasi oleh Yuniati (1998) bahwa mikrobia yang bersifat katabolik dapat memecah komponen kompleks menjadi zat yang lebih sed. Rendahnya asam amino metionin dalam ransum berpengaruh terhadap ketersediaan asam amino sistin.erhana pada substrat organik yang sesuai sehingga lebih mudah dicerna. (1998). 20% dan 30%. asam amino dalam ransum akan Dijelaskan oleh Anggorodi (1995) bahwa essensial dan pembatas pertama jaringan dan reproduksi. Hal tersebut disebabkan kegunaan asam amino dalam ransum ditentukan oleh asam amino pembatas. asam amino metionin merupakan asam amino yang diperlukan untuk pertumbuhan. Ketidakseimbangan mengakibatkan pertumbuhan terhambat. Penurunan kadar serat kasar BBKF (Tabel 6) disebabkan metabolisme oleh lemak selama proses fennentasi disebabkan Rhizopus oligosporus menghasilkan enzim yang mampu memotong rantai karbon seratlselulosa Steinkraus menjadi lebih pendek sehingga mudah dicema. bahwa asam amino metionin dibutuhkan untuk menyediakan belerang yang berguna dalam sintesis sistin. bahwa peningkatan terjadinya asam lemak de novo. dalam ransum belum mencukupi kebutuhan asam amino metionin ayam broiler. Tilman et Hal tersebut sesuai dengan pemyataan Anggorodi (1995) dan at. sehingga semakin rendah jumlah asam amino metionin dalam ransum mengakibatkan jumlah asam amino sistin juga rendah. .

. ! Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Daging Ayam Broiler Data hasil penelitian setelah dianalisis varians dan uji beda nilai tengah IDuncan dari kadar air daging disajikan pada Tabel 7. .. ! I i I ! Ransum yang digunakan dalam penelitian mempunyai perbandingan antara Menurut Scott et al. 4.. •••• ~I!".2 : 1. I ! Namun asam amino sistin tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar ayam broiler. • ••••. asam amino lisin dengan arginin 1 : 1.2._". Pengaruh Perlakuan Daging Ayam Broiler terhadap Komposisi Kimia dan Mutu Fisik Peubah yang diamati adalah komposisi kimia yang terdiri dari kadar air. tetapi juga digunakan untuk menetralisir I IHeN yang terkandung dalam ransum..(1982) dan Wahju (1997). perbandingan antara asam amino lisin dan arginin dalam i iransum tidak lebih besar dari 1. Kelebihan asam amino lisin akan menghalangi penggunaan asam i I amino arginin sehingga mengakibatkan pertumbuhan ayam broiler menurun._ •• _"_. Apabila perbandingan asam amino lisin dan I iarginin dalam ransum lebih besar atau lebih kecil.66._._ '".. pll..--. maka pertumbuhan ayam broiler !akan terhambat. __"_T~~_~"T'" - . Ayam i I :yang mempunyai I I kebutuhan asam amino arginin tinggi 1ebih toleran terhadap !kelebihan asam amino lis in dalam ransum.• .' . keempukan dan susut masak (cooking 100s). .5 sampai 1 : 1.43 Asam amino sistin dalam ransum sudah mencukupi kebutuhan asam amino bagi ayam broiler. __ . . kadar protein dan kadar lemak. I I I Sedangkan mutu fisik daging me1iputi daya ikat air I(DIA). ! .

167 77. -~--. perbedaan nilai kadar air pada daging ayam yang diberi ransum dengan aras penggunaan BBKF yang berbeda.215a : Superskrip huruf kecil sama pada kolom menunjukkanperbedaan tidak nyata (P>O. •.795a 78.05) ragi terhadap terhadap kadar air daging ayam broiler._.05) oleh jenis ragi dan aras penggunaan BBKF dalam ransum. ---".579 78.842% sedangkan daging ayam yang diberi ransum dengan inokulasi ragi tempe 78..": 1".05) dan baris Interaksi antara faktor A (jenis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) tidak berbeda. menunjukkan adanya perbedaan yang tidak nyata. .014 78. Secara statistik. demikian pula sebaliknya.835a 78..215%.842a Rerata 77.208 78.•• . • •• _ •• ~.• ~ ~n"._ ••••.~ __ . Selanjutnya ditinjau dari masing- masing faktor menunjukkan bahwa kadar air daging ayam broiler tidak dipengaruhi (P>0. Daging ayam yang diberi ransum dengan inokulasi ragi oncom mempunyai nilai kadar air 78. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Daging Ayam Broiler Kadar air Aras Al (BBKFT) A2 (BBKFO) 77..751 80.44 Interaksi antara faktor A Genis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) tidak berbeda pengaruh nyata jenis (P>0.468 79.528 rerata -------------------(%)--------------------Bl (10%) B2 (20%) B3 (30%) Rerata Keterangan 78."·_·····_···-T·_· .956a 78. sehingga tidak tergantung pada aras kadar air penggunaan BBKF. Tabe17.

ini sedikit lebih rendah dari kadar air daging ayam broiler penelitian karena daging ayam mempunyai kadar air lebih tinggi dibanding daging temak yang lain. 4.528% (Tabel 7).05) terhadap kadar protein daging ayam broiler.45 81 (10%) 82 (20%) 83 (30%) Aras Penggunaan ImA1 (BBKFT) iii A2 (BBKFO) DRERATA Ilustrasi 4.80%. Ini sesuai dengan pendapat Forrest et al.4. Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Daging Ayam Broiler Rerata hasil penelitian terhadap kadar air daging ayam broiler umur 6 minggu sebesar 78. (1975) b~hwa kadar air daging berada pada kisaran antara 65% . sehingga "'"'T'l . Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Protein Daging Ayam Broiler Data hasil penelitian setelah dianalisis varians dan uji beda nilai tengah Duncan dari kadar protein daging disajikan pada Tabel 8. Ditambahkan oleh Lawrie (1995) bahwa kadar air daging adalah 75%. Interaksi antara faktor A Genis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) tidak berbeda nyata (p>0.

terlihat bahwa faktor A Genis ragi) maupun faktor B (aras penggunaan) menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap kadar protein daging (P<O.310 Rerata 2I.448 21. pertumbuhan secara kimiawi pada hakekatnya adalah penambahan . Tabe18.056a 22.796 24. tetapi ke duanya lebih besar dan berbeda nyata (P<0.05).575%). Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Protein Daging Ayam Broiler Aras Al (BBKFT) Bl (10%) B2 (20%) B3 (30%) Rerata 20. Selanjutnya kadar protein daging ayam broiler yang diberi ransum dengan aras penggunaan BBKF 20% tidak berbeda nyata (P>O.05).189 23. Berdasarkan uji beda nilai tengah Duncan terlihat bahwa rata-rata kadar protein daging yang diberi ransum dengan inokulasi ragi oncom lebih besar (23.141 23. demikian pula sebaliknya. Hasil ini sejalan dengan pendapat Wahju (1997) bahwa.I22b 23.46 pengaruh jenis ragi terhadap kadar protein tidak tergantung pada aras penggunaan BBKF. Lebih lanjut ditinjau dari masing-masing faktor.042%) daripada yang diinokulasi dengan ragi tempe (21.5756 Kadar protein A2 (BBKFO) 21.748a -----------------(%)----------------- Keterangan : Superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom dan baris rerata menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0.05) dari yang diberi aras penggunaan BBKF 10%.355 21.05) dengan yang diberi aras 30%.924 22.042a 22.

._..47 jumlah protein dan mineral yang terakumulasi dalam tubuh. Ransum dengan inokulasi ragi oneom mempunyai jumlah asam amino yang Iebih besar dibandingkan deng:/ ransum yang diinokulasi ragi tempe. berarti kadar proteinnya tinggi dan sebaliknya kalau j aringan ikatnya tinggi maka kadar proteinnya rendah.. . Hal ini dapat dibuktikan bahwa kandungan asam amino ransum yang diinokulasi dengan ragi oneom pada aras penggunaan BBKF yang makin besar (30%). ~ .c_ -.•••. Kalau jaringan miofibrilnya banyak..~" . . Kramlich et al.' •. Pendapat tersebut juga ditunjang oleh Lawrie (1995). bahwa protein miofibril paling banyak mengandung miosin dan miosin ini mengandung asam amino aspartat dan glutamat paling tinggi.-:-~ . Didukung pula oleh Anggorodi (1984) bahwa. Perbedaan jenis ragi tempe dan oncom...--"~"-""-'-~"'-. dan adanya variasi kadar protein lebih banyak disebabkan oleh perbedaan struktur daging yang terdiri dari miofibril dan jaringan ikat. memberikan efek yang berarti terhadap kenaikan asam amino seeara umum (Tabel 5)..T"-'--'~'O' •. . .---. yang disitasi oleh Rachmawan (2001) menyatakan bahwa kandungan protein dalam daging sebenarnya relatif konstan. ... menyebabkan protein daging juga berbeda seeara nyata..."-- . Hal tersebut memberikan pengaruh seeara langsung terhadap kadar protein daging.-. dilihat secara kimiawi pertumbuhan murni merupakan suatu penambahan jumlah protein dan zat-zat mineral yang terakumulasi dalam tubuh.

05) terhadap kadar lemak daging ayam broiler.48 27 81 (10%) 82 (20%) 83 (30%) Aras Penggunaan IIIIA1 (BBKFT) I!IA2 (BBKFO) DRERATAI Ilustrasi 5. kadar protein daging ayam broiler meningkat dengan makin meningkatnya BBKF dalam ransum (Tabel 8). Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Lemak Daging Ayam Broiler Data hasil penelitian setelah dianalisis varians dan Duncan dari kadar lemak daging disajikan pada TabeI 9. Sedang menurut Lawrie (1995). sehingga pengaruh jenis ragi terhadap kadar lemak tidak tergantung aras penggunaan BBKF dalam ransum. Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Protein Daging Ayam Broiler Rerata hasil penelitihan terhadap kadar protein daging ayam broiler umur 6 minggu sebesar 22. Interaksi antara faktor A (jenis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) BBKF dalam ransum tidak berbeda nyata (P>0.5. kadar protein daging adalah 19%. demikian pula sebaliknya.310%. beda nilai tengah UJI . 4.

737 4. Demikian juga seeara statistik. perbedaan nilai kadar lemak pada daging ayam yang diberi ransum dengan aras penggunaan BBKF yang berbeda.6%.49 Tabe19. lemak daging ayam broiler tidak dipengaruhi (P>0.814a -----------------(%) ----------------B1 (10%) B2 (20%) B3 (30%) Rerata 3.049 Rerata 4. .748 4. Selanjutnya ditinjau dari masing-masing faktor menunjukkan bahwa kadar .499%. sedangkan daging ayam yang diberi ransum dengan inokulasi ragi tempe 5. menunjukkan adanya perbedaan yang tidak nyata.881 5. Pengaruh Broiler Aras Perlakuan terhadap Kadar Lemak Daging Ayam Kadarlemak Al (BBKFT) A2 (BBKFO) 4.05).832 6. Daging ayam yang diberi ransum dengan inokulasi ragi oneom mempunyai nilai kadar lemak 4.316 4.05) oleh jenis ragi dan aras penggunaan BBKF dalam ransum.074a 5.757 Keterangan Superskrip huruf keeil yang sarna pada kolom dan baris rerata rnenunjukkan perbedaan tidak nyata (P>0.600(1 5. Interaksi antara faktor A Genis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) tidak berbeda.

(1975).50 B1 (10%) 82 (20%) 83 (30%) Aras Penggunaan I. 1998). .13%. Kadar lemak dalam daging temak berbeda-beda tergantung spesies temaknya. Sesuai dengan pendapat Forrest et al. Namun meningkatnya lemak dalam ransum tidak berpengaruh terhadap kadar lemak ayam broiler (TabeI 9).5% . letakllokasi perdagingan serta pakan yang diberikan selama pemeliharaan (Soepamo. Kadar lemak dalam ransum penelitian meningkat semng dengan aras penggunaan BBKF dalam ransum (Tabel 4). umur.. Digram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Lemak Daging Ayam Broiler Rerata hasil penelitian terhadap kadar lemak daging ayam broiler umur 6 minggu sebesar 5. 1997).!II A 1 (BBKFT) IIIA2 (BBKFO) 0 RERATA Ilustrasi 5. Selanjutnya menurut Atmomarsono (1996) bahwa kadar lemak karkas ayam broiler tertinggi pada umur 6 minggu. Ayam broiler umur 6 minggu mengandung kurang lebih 4% lemak tubuh (Scoot et al. 1982 dan Wahju.049% (Tabel 9). bahwa kadar lemak daging ayam broiler penelitian berada pada kisaran kadar lemak yaitu 1.

_. . Pengaruh Perlakuan terhadap Nilai pH Daging Ayam Broiler Aras Al (BBKFT) Bl (10%) B2 (20%) B3 (30%) Rerata Keterangan 5.--' '-". pertumbuhan jaringan lemak merupakan akibat dari akumulasi trigliserida dalam adipose.35 542a . 53r .-.:«':'1-~.6.~ •.... Pengaruh Perlakuan terhadap NiJai pH Daging Ayam Broiler Data hasil penelitian setelah dianalisis varians dan uji beda nilai tengah Duncan dari pH daging disajikan pada TabellO. Penimbunan lemak pada ayam broiler juga dipengaruhi oleh lemak dalam ransum.46 5. 542a .45 5.05). Nilai pH Rerata A2 (BBKFO) 5. .28 5.48 5418 .. 4. -~-. 5.05) terhadap pH daging ayam broiler ~ 'Ii ...... Menurut Harden dan Oscar (1993).42 : Superskrip huruf kecil yang sarna pada kolom dan baris rerata menunjukkan perbedaan tidak nyata (P>O. Tabel 10.51 Data hasil analisis trigliserida menunjukkan bahwa aras penggunaan BBKFT dan BBKFO 10%.. . Dijelaskan oleh Banerjee (1978) bahwa sebagian besar lemak ransum berupa trigliserida. Interaksi antara faktor A Genis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) BBKF dalam ransum tidak berbeda nyata (P>O.45 5.. ..--. mengakibatkan semakin tinggi lemak tubuh ayam. 20% dan 30% daIam ransum tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap jumlah trigliserida dalam darah ayam broiler (Lampiran 1). 546a .--~ ..--:-... Akibatnya semakin tinggi jumlah trigliserida dalam tubuh ayam. ".

05)olehjenis ragi dan aras penggunaan BBKF dalam ransum. c.. demikian pula sebaliknya.42 sedangkan daging ayam yang diberi ransum dengan inokulasi ragi oncom 5.:.. Secara statistik. Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap pH daging Ayam Broiler . perbedaan nilai pH pada daging ayam yang diberi ransum dengan aras penggunaan BBKF yang berbeda.52 sehingga pengaruhjenis ragi terhadap pH tidak tergantung aras penggunaan BBKF. = 5 if... =3 2 1 o B1 (10%) B2 (20%) B3 (30%) ArasPenggunaan Ii!IA1 (BBKFT) Ii) A 2 (8 B K F 0 ) DRERATA Ilustrasi 7. s Ii. Interaksi antara faktor A (jenis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) tidak berbeda. menunjukkan adanya perbedaan yang tidak nyata. ~ .. Daging ayam yang diberi ransum dengan inokulasi ragi tempe mempunyai pH 5...41.. Selanjutnya ditinjau dari masing-masing faktor menunjukkan bahwa pH daging ayam broiler tidak dipengaruhi (P>O.

53

Rerata hasil penelitian terhadap pH daging ayam broiler umur 6 minggu sebesar 5,42 (Tabel 10). Ini sesuai dengan pendapat Soepamo (1998) bahwa

penurunan pH otot postmortem banyak ditentukan oleh laju glikolisis postmortem serta cadangan glikogen otot dan pH daging ultimat, normalnya adalah antara

5,4 - 5,8. Selanjutnya menurut Me Intyre yang disitasi oleh Erwanto (1998), bahwa kualitas daging akan turun apabila pH daging lebih tinggi dari 6,0 dengan kondisi daging gelap, mudah rusak dan mempunyai masa simpan yang rendah.

Ditambahkan oleh Sutardi (1988) dan Soepamo (1998), bahwa terdapat hubungan yang erat antara DIA, pH, keempukan dan susut masak. Cepat atau lambatnya

penurunan pH tergantung pada kondisi temak sebelum dipotong dan penanganan setelah dipotong. Temak yang sebelum dipotong cukup istirahat dapat mencapai

pH daging akhir 5,3 - 5,5 karena glikogen tersedia cukup banyak, sedangkan temak yang banyak bergerak sebelum dipotong atau tidak cukup istirahat akan

mengakibatkan

kandungan gIikogen berkurang dan pH akhir mencapai 6,0 - 6,6

dengan wama daging gelap dan kering. 'Penanganan daging setelah dipotong seperti pelayuan pada suhu rendah (aging) menyebabkan pH daging turun lamb at dengan daging berwama sedikit gelap.

4.7.

Pengaruh Perlakuan terhadap Daya lkat Air (DIA) Daging Ayam Broiler
Data hasil penelitian setelah dianalisis varians dan uji beda nilai tengah

Duncan dari DIA daging disajikan pada Tabeill.

54

Interaksi antara faktor A (jenis ragi)

dengan faktor

B (aras penggunaan)

BBKF dalam ransum tidak berbeda nyata (P>0,05) sehingga pengaruh jenis ragi terhadap DIA daging tidak tergantung sebaliknya. aras penggunaan BBKF, demikian pula faktor menunjukkan bahwa

Selanjutnya ditinjau dari masing-masing

DIA daging ayam broiler tidak dipengaruhi

(P>0,05) oleh jenis ragi dan aras

penggunaan BBKF dalam ransum. Ini berarti bahwa kemampuan mengikat air pada tiap perlakuan mempunyai peluang yang sarna. Tabel 11. Pengaruh Perlakuan terhadap Daya Ikat Air (DlA) Daging Ayam Broiler

Daya Ikat Air Aras Al (BBKFT) A2 (BBKFO) Rerata

-----------------------(%)------------------------BI (10%) B2 (20%) B3 (30%) Rerata 25,077 24,458 22,355 23,9628 24,858 26,727 30,065 27,2148 25,588 Keterangan : Superskrip huruf kecil yang sarna pada kolom dan baris rerata menunjukkan perbedaan tidak nyata (P>O,05). 24,9668 26,2088 25,5908

Interaksi antara faktor A (jenis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) tidak berbeda. Daging ayam yang diberi ransum dengan inokulasi ragi oncom

mempunyai

nilai DIA 27,214%

sedangkan

daging ayarn yang diberi ran sum

dengan inokulasi ragi tempe 23,962%.

Secara statistik, perbedaan nilai DIA pada

55

daging ayam yang diberi ransum dengan aras penggunaan BBKF yang berbeda, menunjukkan adanya perbedaan yang tidak nyata.

81 (10%)

82 (20%)

83 (30%)

Aras Penggunaan
mJA1 (BBKFT) 1.1 A2 (BBKFO)
DRERATA

Ilustrasi 7. Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Daya Ikat Air Daging Ayam Broiler Rerata hasil penelitian terhadap DIA daging ayam broiler umur 6 minggu sebesar 25,588% (Tabel 11). Hasil penelitian Herawati dan Mudawaroch (2002), bahwa DIA daging ayam broiler pada pengemasan vakum yang disimpan selama 21 hari adalah 31,67%. Daya ikat air dipengaruhi oIeh tinggi rendahnya pH daging. Forrest et at. (1975), Sutardi (1988) dan Soeparno (1998) mengemukakan bahwa pada kondisi proses gIikolisis anaerobik terjadi perombakan glikogen menjadi asam laktat yang mengakibatkan pH daging turun sampai pH isoelektrik dari protein daging. Selain itu juga terdapat hubungan yang erat antara DIA, pH, keempukan dan susut masak. Penurunan pH cenderung menurunkan DIA (Sulaksana, 1999). Cepat atau Iambatnya penurunan pH daging tergantung laju proses glikolisis

482 0.56 anaerob dan tinggi rendahnya kandungan glikogen dalam daging.624a 0. jus daging. Ditambahkan oleh Soepamo (1998) bahwa. Daging ayarn yang diberi .580 0.516 0.604 0. Tabel 12.522 0. tekstur.8.962%. 4.563a 0. Pengaruh Perlakuan terhadap Keempukan Daging Ayam Broiler Keempukan Al (BBKFT) A2(BBKFO) Rerata Aras ------------. Pengaruh Perlakuan terhadap Keempukan Daging Ayam Broiler Data hasil penelitian setelah dianalisis varians dan uji beda nilai tengah Duncan dari keempukan daging disajikan pada Tabe112.562 Superskrip huruf kecil yang sarna pada kolom dan baris rerata menunjukkan perbedaan tidak nyata (P>0. Interaksi antara faktor A Genis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) tidak berbeda.(kg/cm) -----------Bl (10%) B2 (20%) B3 (30%) Rerata Keterangan 0.214% sedangkan daging ayarn yang diberi ransum dengan inokulasi ragi tempe 23. daya ikat air besar pengaruhnya terhadap sifat fisik daging seperti wama. keempukan dan susut masak daging. Daging ayarn yang diberi ransum dengan inokulasi ragi oncom mempunyai nilai DIA 27.668 0.05).499a 0. Interaksi antara faktor A Genis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) tidak berbeda terhadap keempukan daging ayam broiler.

:.7 <. 0. Keempukan merupakan salah satu sifat fisik daging yang diukur setelah dimasak berdasarkan kemudahan waktu dikunyah tanpa kehilangan sifat jaringan yang Iayak (Herawati dan Mudawaroch.4 ~.·0..57 ransum dengan inokulasi ragi oncom.6 ~ .1:.1 •• s~. mempunyai nilai keempukan 0. Nilai keempukan daging ayam broiler tampak meningkat dengan meningkatnya aras penggunaan BBKF dalam ransum..::: .3 0. aktivitas ternak sebelum ...1 ~: o B1 (10%) 82 (20%) B3 (30%) Aras Penggunaan IilA1 (BBKFT) II!1!lA2(BBKFO) DRERATA Ilustrasi 9.. Dijelaskan oleh Winarno (1983) hahwa keempukan daging berbeda-beda tergantung pada ukuran serat daging. menunjukkan adanya perbedaan yang tidak nyata. Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Keempukan Daging Ayam Broiler Rerata hasil penelitihan terhadap keempukan daging ayam broiler umur 6 minggu adalah 0. 0. jumlah jaringan ikat. Secara statistik. ott'.528. 6:( 4. ..5 . 2002).I.2 0.562 (Tabel 12). 0.0. perbedaan nilai keempukan pada daging ayam yang diberi ransum dengan aras penggunaan BBKF yang berbeda.596 sedangkan daging ayam yang diberi ransum dengan inokulasi ragi tempe 0.

9.199 35.3818 .261 35. 1989).58 dipotong dan lama penggantungan karkas.0423 35. lemak marbling akan menentukan tinggi rendahnya mutwkualitas temak disembelih Tinggi rendahnya daging. 1988. Pengaruh Perlakuan terhadap Susut Masak (Cooking Loos) Daging Ayam Broiler Susut Masak Al (BBKFT) A2(BBKFO) Rerata Aras ----------------. 1995).831 35.( %) ----------------Bl (10%) B2 (20%) B3 (30%) Rerata 33. disebabkan menyebabkan Selanjutnya pada saat protein terhidrolisis daging dijelaskan menjadi empuk Rendahnya pH daging ion hidrogen yang Muchtadi.734 Keterangan Superskrip huruf kecil yang sarna pada kolom dan baris rerata menunjukkan perbedaan tidak nyata (P>0.249 29.573 32.2533 32.05). akan dilepaskan (Sutardi.312 33. Setelah glikogen terjadi proses glikolisis anaerob yaitu perombakan menjadi asam laktat yang menyebabkan pH daging turun. 4. bahwa keempukan mempunyai kriteria utama kualitas daging unggas (Lawrie. serta lemak marbling.4278 33. Pengaruh Perlakuan Ayam Broiler terhadap Susut Masak (Cooking Loos) Daging Data hasil penelitian setelah dianalisis varians dan uji beda nilai tengah Duncan dari susut masak (cooking 100s) daging disajikan pada Tabel13.5708 34. 34. TabeI 13.

59 Interaksi antara faktor A (jenis ragi) dengan faktor B (aras penggunaan) BBKF dalam ransum tidak berbeda nyata (P>0.042%. Secara statistik. 81 (10%) 82 (20%) 83 (30%) Aras Penggunaan I!lI A 1 (BBKFT) III A2 (BBKFO) DRERATA Ilustrasi 10. tidak demikian pula Interaksi antara faktor A (jenis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) berbeda. sebaliknya. Daging ayam yang diberi ran sum dengan inokulasi ragi oncom nilai susut masak 35.05) sehingga pengaruh jenis ragi terhadap susut masak daging tidak tergantung aras penggunaan.427% sedangkan daging ayam yang diberi ransum mempunyai dengan inokulasi ragi tempe 32. Diagram Batang Pengaruh Perlakuan terhadap Susut Masak (Cooking Loos) Daging Ayam Broiler Selanjutnya ditinjau dari masing-masing faktor menunjukkan bahwa susut masak daging ayam broiler tidak dipengaruhi (P>0.05) oleh jenis ragi dan aras penggunaan BBKF dalam ransum. perbedaan ransum dengan aras penggunaan nilai susut masak daging ayam yang diberi BBKF yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan yang tidak nyata. .

susut masak daging adalah umur ternak. yang berarti mutu dagingnya kurang baik.60 Rerata umur hasil penelitihan adalah terhadap susut masak daging ayam broiler 6 minggu 33. Selanjutnya Lawrie (1995) menyatakan bahwa daging yang dimasak secara cepat sampai mencapai suhu internal (60. 70 dan 80°C). bangs a. Dengan meningkatnya persentase dari tinggi rendahnya suhu dan waktu suhu dan waktu pemasakan akan diperoleh susut masak yang tinggi.54. Daging dengan susut masak yang rendah berarti mutunya tinggi. lemak marbling dan jumlah serta mutu pakan yang diberikan.5%. Ini sesuai dengan pendapat 1. mempunyai susut masak yang lebih rendah dan lebih bersifat JUIce dibanding yang dimasak secara perlahan sampai mencapai suhu yang sarna.. Susut masak daging tergantung pemasakan .5% . karena kehilangan nutrisi selarna pemasakan akan sedikit. . bergizi tinggi menyebabkan kandungan protein daging tinggi. Pakan yang Faktor lain yang mempengaruhi spesies.734% masak (Tabel 13). karena hilangnya zat-zat makanan selama pemasakan daging sedikit. DIA tinggi dan susut masak rendah. daging Soeparno (1998) bahwa susut berkisar antara dengan susut masak yang lebih rendah mempunyai kualitas yang relatif lebih baik daripada daging dengan susut masak yang lebih besar.

kadar SARAN Berdasarkan hasil penelitian ini. PerIu penelitian lebih lanjut sehingga penggunaan bungkil biji karet fermentasi dalam ransum dapat ditingkatkan. pH. protein. daya ikat air. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa BBKFT dan BBKFO. Pemberian BBKFT dan BBKFO dalam ransum dapat meningkatkan protein daging ayam broiler. bungkil bji karet fennentasi dapat digunakan dalam ransum sebesar 20%. pH. 3. lemak. keempukan dan susut masak). Pemberian BBKFT dan BBKFO dalam ransum tidak berpengaruh terhadap kadar air. keempukan dan susut masak daging ayam broiler. Interaksi antara faktor A (jenis ragi) dan faktor B (aras penggunaan) bungkil bji karet fennentasi dalam ransum tidak berpengaruh terhadap kualitas daging ayam broiler pada semua peubah yang diukur (kadar air.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN 1. Iemak. keduaduanya dapat dipakai dalam ransum sampai aras penggunaan 20%. daya ikat air. . 4. 2.

and Escherchia coli 0157: H7 and Quality Change After Irradiation of Beef Steaks and Ground Beef. Atmomarsono. Calcutta. 1992. Penelitian dan Pengembangan Pertanian.A. Food Scie. Survival of Listerya monocytogenes and Salmonella typhimurium and Quality Attributes of Cooked Pork.. Banerjee. Poultry meaL Igredients 10 1. 1996. Jakarta. Setengah Abad Ayam Ras Di Indonesia (1950-2000).. lImu Makanan Temak Umum. Biro Pusat Statistik.A Murano. Persentase protein dan lemak daging broiler yang mendapat pakan komersial dengan beberapa aras lisin dan kolin. J. An-hungfu. Gramedia Pustaka Utama. 2 : 16-23. G. 1995b. Pengaruh Penggunaan Bungkil Biji Karet dalam Ransum terhadap Persentase Karkas Ayam Broiler Jantan Umur 8 Minggu. PT. 60 (5) : 1001-1005. Pasar karet menjelang abad ke-21. 2002. . Media. 1995a.. (Skripsi Sarjana Petemakan). 5 (3): 73 ~ 78. Animal Nutrition. U. Jakarta. D. Sasaran. 1997. T. Murano. Oxford & ISH Publishing Co. com. 1995.. Chops and Cured Ham After Irradiation. Statistik Indonesia. and E. Atmoko.. 2000. . An-hungfu. H. Atas. R. J.. Jakarta. Ed. Anggorodi. Gramedia. Departemen Pertanian. Cetakan ke-3. Universitas Diponegoro. Food Scie.DAFTAR PUSTAKA All National Grain dan Feed Assosiation Trade Rules Apply. PT. Fakultas Petemakan. Survival of Listerya monocytogenes. R. Jakarta. Yersinia enterocolitica. Semarang. 60 (5) : 972-977. Nutrisi Aneka Temak Unggas. 2001. Biro Pusat Statistik. Sebranek. Sebranek. 1978. Bombay. G. Kemungkinan pemanfaatan biji karet dalam ransum makanan temak. Asom (Asosiasi Obat Hewan Indonesia).J. 1984.C. Aritonang. 1988. 1. Anggorodi.W.J.J. G. 41 (10) : 16 -18. and E.

1971. RA. Fleet dan M. 1996. Inc. Avi Publishing Company. Principles Of Meat Science.Y. Bogor. Harden.::__ 0••• ' • _. 1989. Hardjo. S. Malang.• r ••• or"t" L!-. Institut Pertanian Bogor. Pengaruh Iradiasi Gamma Terhadap Daya Tahan Bakteri Patogen Salmonella typhimurium. o •• . (Skripsi Sarjana Petemakan). dan T. Hariyono. Bogor. Connecticut. Cetakan ke-2. Poultry Sci. Hedrick. 36 : 435. J. 18-22. P. Merkel. dan Shull. W.. Dikti. M. L. 1989. Jumlah Total Mikroba dan Kualitas Fisik Daging Ayam Broiler.63 Bouton. G.E. Depdikbud. Evaluasi Gizi pada Pengolahan Bahan Pangan. Fardiaz.• . Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Teknologi Bandung. Prosiding Seminar Nasional "Agrotech Menjelang Abad 21" Batu. 1987. Pengaruh Penggunaan Dedak Fermentasi dan Penambahan Tepung Kelenjar Tiroid Sapi dalam Ransum terhadap Penampilan Produksi dan Kualitas Daging Ayam Kampung.. E. Westport. Pumomo dan Adiono). dan T... Depdikbud.. Haslina dan E. KA._ . •• '"':". 1996.R.- •••• or _ ..._".. Harris. Fakultas Petemakan Universitas Diponegoro. Hal. Pratiwi._ ••••• -r. Mikrobiologi Pengolahan Pangan Lanjut.D. Aberle.. Universitas Indonesia Press Jakarta.C. 1975. N. Sainteks. Rekayasa dan Teknologi Pengawetan Pakan Ternak. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. (Diterjemahkan oleh H. Universitas Gadjah Mada. Bandung. Natural Toxicants in Feeds and Poisonous Plants. Edward.H. S. Wooton.. RS. RL.R Shorthose. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Oscar. Erwanto. Escherichia coli. _-_ - r . San Francisco..B. H. D.. Indrasti. Judge dan RA.. Y..S. J. 3. Thyroid hormone and growth hormone regulation of broiler adipocyte lipolysis. Yogyakarta. Mikrobiologi Pangan.H Freeman and Company. Dirjen Dikti. P. M.R 1985. Effec of ultimate pH upon the water holding capacity and tenderness of mutton. Biokonversi: Pemanfaatan Limbah Industri Pertanian. Harris and W. Fardiaz.v. dan E. 1992. 1998.~_ .. P. 1998. Semarang. Forrest. (4) : 45-51. Hastono.D. ~~. __ . S. lImu Pangan. Karmas. 1993. (Tesis Magister Pertanian). Food Sci. Cheeke. Bantacut. Buckle. Manfaat tempe bagi gizi dan kesehatan manusia. 72 : 669-676.P. 1989.

46 (288) : 731-741. Toxic Constituents of Plant Foodstuffs.38 (Abstr). J. Jakarta. Cyanogenesis in cassava (Manihot esculenta Crantz). Ed. 1989. A Zulfikar dan R Budiastiti. Forrest. Ke 5.. Penggunaan bungkil biji karet untuk bahan pakan ayam. Teknologi Fermentasi. Hartoto. An Avi Book Published by Van Nostrand Reinhold. M. Bogor. 1995. Commercial Chicken Production Manual. 1990. Merkel. Pengembangan Petemakan Tropis. 27 (4): 160 .A 1995. Karossi. Amsterdam. R. Dept. Kakes. Petunjuk Laboratorium. Ilmu Daging. New York. Dhalika. Pengembangan Petemakan Tropis. Hedrick dan RA. North. B.. Bogor. W. M. J. White dan RT. York and London. 1989. Pusat Antar Universitas. T. R.G. T.. 1969. AA. . IE. 1998. 1992. Penerbit Universitas Indonesia (UIPress). Bogor. Liener. 1M.64 Herawati dan Mudawaroch. Sa'id.. (Diterjemahkan oleh A Parakasi). 24 (3) : 105-112. Darwis dan E. RM. Lawrie.D. of Ecology and Ecotoxicology.169. Judoamidjojo. Iowa. M. 1990. Judoamidjojo.e. Judge.D.D. Journal of Experimental Botany. 1985. P. dan Tristiarti. J. Aberle. 32 . KendaIlHunt Publishing Co.. 4th Edition. Prosiding Seminar Petemakan dan Forum Peternak Unggas dan Aneka Temak Ciawi. Gumbira-Sa'id dan 1. H Burhanudin.. Dirjen Dikti. Dubuque. Mukodiningsih. Bioteknologi Institit Pertanian Bogor. dan Bell. 2nd Ed. New McMahon. Pengaruh pemberian daun ubikayu dan limbah industri tapioca terfennentasi terhadap penampilan produksi ayam broiler. Muchtadi. S.1. Hal. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor. E. Biokonversi.E. 2002. AT. Diterbitkan Atas Kerjasama dengan Pusat Antar Universitas. HB. no. Sayre. Teknologi Proses Pengolahan Pangan. Academic Press.B. Depdikbud. Bogor.. Principle Of Meat Science. Bioteknologi Institut Pertanian Bogor. Properties and functions of the cyanogenic system in higher plants.R 1989. Pengaruh konsentrasi CO2 dalam pengemasan atmosfer termodifikasi dan lama penyimpanan terhadap kualitas daging ayam broiler.

Yogyakarta. 1994._r'":'"_ . dan E. Nugroho. 1998. 1977. Sudannadji.w •• " .~. and RI. Kuswanto dan S. Young. Pumomo. National Research Council. Sing. Hal. Gadjah Mada University.-_ . H. Nutrient Requirements of Poultry. Penggunaan Bungkil Biji Karet dalam Ransum Ayam Petelur. M.. M.K. Feedingstuffs for Livestock in South East Asia. Live Stock and Production 20th Ed. _'._. Teknologi Fermentasi. Soeparno. Bandung. _ ••. Sabrani dan S... Jakarta. 0.•• '.C.. 1984. Ilmu dan Teknologi Daging. 337-344 (Abstr). 1982. dalam : Devendra. 58-64. Washington. Teknik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia.. Gadjah Mada University Press.. Hal. AP. New York. M. Jakarta.C. 25 (2): 51-56.". _. Universitas Gadjah Mada. "0""- • ••••._" ". 1998. Bioteknologi Bungkil Biji Karet oleh Rhizopus Oligosporus serta Implikasi Efeknya terhadap Pertumbuhan dan Mutu Karkas atau Daging Domba Priangan Jantan. Rahayu. 6th Ed. Rahman.W. Mikrobiologi Pangan.2001. 1981.. Siregar. Ithaca. 1989. Nesheim dan RJ. M..65 NRC (National Research Council). Pengaruh injeksi hormon pertumbuhan hasil pemumian terhadap keempukan dan water holding capacity daging domba ekor gemuk.. J. dan Kamal. Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi. Prospect for the Use of Rubber Seed Meal for Feeding Pigs and Poultry. 2000.. S. Scott. C. Moore.. Pengujian kemampuan beberapa strain kapang Rhizopus untuk meningkatkan kandungan protein singkong pahit. Buletin Peternakan. Purawisastra. H." .. dan H. K. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Scott and Associates. •• . Malaysian Society of Animal Production. National Akademy of Science. '~... A 1992. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi.L. Yogyakarta. .· (Disertasi). Penerbit Arcan. dan E. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.••• '0" . H.. Rachmawan.. M._. Fakultas Petemakan. Cetakan ke-3. Philadelpia. Yeong. Affandi.N. Pramu. Pengembangan Peternakan Tropis. Nutrition of Chicken. __ . 1982._ •. Margie Group.. Soejono. Prosiding Seminar Pertemuan Ilmiah Tahunan. Hutagalung (Ed). Lea and Febiger. Lampung. Ong. Yogyakarta. 3nd Ed. Universitas Padjadjaran.. and S.

. (Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri). 2 (4): 29-39. dan J. Pengaruh Penggunaan Berbagai Tingkat Bungkil Biji Karet dalam Ransum terhadap Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler Jantan. R. Mikotoksin Bahan Pangan.S. 1997. (Skripsi Sarjana Peternakan). Yogyakarta. PT Gramedia Pustaka Utama. Edisi Kedua. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Intitut Pertanian Bogor. Peningkatan kualitas protein limbah industri pertanian sebagai bahan baku pakan. 1992.'t'T7-·-':'·······'- .. Cetakan ke-6. 1991. Sifat fisik daging sapi pada fase rigor mortis. Susilowati. . Tillman. Wahyuni. AD. J. Rahayu. _._ _-_.K. R G. Bogor. Yogyakarta. Cetakan ke-4. Malaysia.. and Rl Hutagalung.. Sulaksana. Wahju.. 1992._'--. Yogyakarta. Suliantari dan W.. Torrie. Jakarta. Bogor. Syarief. 1977. W. Sutardi. Pengaruh Amoniasi dan Lama Fennentasi dengan Bolus sebagai Sumber Mikrobia terhadap Nilai Gizi Pucuk Tebu. Prinsip dan Prosedur Statistika. Suthama. 1988. dan Happy Nursyam. Pusat Antar Universitas. HI. Lebdosoekojo. Hakim. H.~. I. 1993. L.".. Surono. J.. S. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro.66 Steel. dan Nurwitri. (Skripsi Sarjana Petemakan). IImu Makanan Temak Dasar. 1999. Devendra. dan S. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Teknologi Fennentasi Umbi-umbian dan Bijibijian.• _ -'--~"~-"-:-'~T-rc~·-. 1990. Hartadi. Ilmiah Ilmuilmu Peternakan. . 1998. Tristiarti dan N. dan S. C. Bahan Pengajaran Biokimia Pangan. Chia.. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press. Nutritional Value of Rubber Seed Meal in Livestock In : Feedingstuffs For Livestock In South East Asia. 1992.--. Susinggih. D. Bogor.'"':"'"•. Procedings Symposium Malaysian Society and Animal Production. Toh K. Reksohadiprodjo. H.. Utilitas energi biji karet dan durian yang diolah dengan pemanasan pada ayam kampung jantan periode .P. Institut Pertanian Bogor. Semarang. 2001. Semarang.. Eds. S_ Prawirokusumo. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian.. Gadjah Mada University Press. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Universitas Gadjah Mada.

Winarno. J. Gramedia. Gramedia. . (Diterjemahkan oleh Dannadja). Wizna . 1989. Pengantar Pangan. Jakarta. Hal. Yogyakarta. Gramedia Pustaka Utama. and the relationships between fatness and efficiency in broiler. Teknologi Yuniati. F. Bogor. dan Y Zuryani. Hal.67 pertumbuhan. PT. (Edisi Washburn. PT. Winarno. H. Payne. Fardiaz dan D.A. F.P. N. dan W. Poultry Sci. 1983. Jakarta. F.Cetakan ke-2. fermentasi biji karet (Hevea brasilliensisi dengan dalam ransum ayam broiler.G. Enzim Pangan. 1980. Pengantar Petemakan di Daerah Tropis. 1990. Mikroflora selama fermentasi oncom. Jamarun. Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi. efficiency.G. khusus). Pro siding Seminar dan Veteriner. 1993. Gadjah Mada University Press. Williamson. Winamo. J. Mirnawati. PT. K. Penelitian dan Pengembangan Temak Tropis.W. Pemanfaatan produk Rhizopus oligosporus Nasional Petemakan Pertanian. Kimia Pangan dan Gizi.. S. Fardiaz. Prosiding Seminar Pertemuan Ilmiah Tahunan. 69 : 502-508. 75-80. Effect of restricted feeding on fatness. Jakarta. 2000.299.G. Cetakan ke-2. Pusat Penelitian dan Pengembangan 296 . Lampung. 1998.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->