BERIKUT INI ADALAH CONTOH PENULISAN MAKALAH YANG BAIK DAN BENAR

"
Makalah ini berjudul: “Konsep Link and Match: Fungsi Pendidikan Sebagai Pemasok Tenaga Kerja Siap Pakai” yang ditulis oleh Nunung Isa Anshori

I.Pendahuluan A.Latar Belakang Masalah Dewasa ini banyak lontaran kritik terhadap sistem pendidikan yang pada dasarnya mengatakan bahwa perluasan kesempatan belajar cenderung telah menyebabkan bertambahnya pengangguran tenaga terdidik dari pada bertambahnya tenaga produktif yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Kritik ini tentu saja beralasan karena data sensus penduduk memperhatikan kecenderungan yang menarik bahwa proporsi jumlah tenaga penganggur lulusan pendidikan yang lebih tinggi ternyata lebih besar dibandingkan dengan proporsi penganggur dari lulusan yang lebih rendah (Ace Suryadi, 1993: 134). Dengan kata lain persentase jumlah penganggur tenaga sarjana lebih besar dibandingkan dengan persentase jumlah pengganggur lulusan SMA atau jenjang pendidikan yang lebih rendah. Namun, kritik tersebut juga belum benar seluruhnya karena cara berfikir yang digunakan dalam memberikan tafsiran terhadap data empiris tersebut cenderung menyesatkan. Cara berfikir yang sekarang berlaku seolah-olah hanya memperhatikan pendidikan sebagai satusatunya variabel yang menjelaskan masalah pengangguran. Cara berfikir seperti cukup berbahaya, bukan hanya berakibat pada penyudutan sistem pendidikan, tetapi juga cenderung menjadikan pengangguran sebagai masalah yang selamanya tidak dapat terpecahkan. Berdasarkan keadaan tersebut, penjelasan secara konseptual terhadap masalah-masalah pengangguran tenaga terdidik yang dewasa ini banyak disoroti oleh masyarakat, sangat diperlukan. Penjelasan yang bersifat konseptual diharapkan mampu mendudukkan permasalahan pada proporsi yang sebenarnya, khususnya tentang fungsi dan kedudukan sistem pendidikan dalam kaitannya dengan masalah ketenagakerjaan. Berangkat dari asumsi bahwa bertambahnya tingkat pengangguran disebabkan karena kegagalan sistem pendidikan, maka diperlukan adanya pendekatan-pendektan tertentu dalam pendidikan dan konsep Link and Match perlu dihidupkan kembali dalam sistem pendidikan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka ada beberapa pertanyaan terkait konsep link and macth dalam pendidikan, yaitu: 1. Bagaimana konsep dasar Link and Match dalam pendidikan? 2. Mengapa Link and Match itu diperlukan dalam pendidikan? 3. Pendekatan-pendekatan apa saja yang digunakan untuk mewujudkan Link and Match dalam pendidikan? 4. Bagaimana hubungan antara pendidikan dan ketenagakerjaan? C. Tujuan Penulisan Berangkat dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan penulisan ini adalah untuk: 1. Mengetahui konsep dasar Link and Match dalam pendidikan

Produk kepakaran yang sering dipakai adalah yang bersifat konsultatif. anak-anak nelayan langsung mempelajari kelautan dan perikanan langsung mengikuti orang dewasa menangkap ikan. Dilihat secara demikian. Perbaikan magang. Ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan suatu perguruan tinggi untuk menyukseskan program Link and Match. Mengetahui perlunya Link and Match dalam pendidikan 3. Menjalankan Link and Match bukanlah hal yang sederhana. Perguruan tinggi harus mau melakukan riset ke dunia kerja. Mengetahui Pendekatan-pendekatan apa saja yang digunakan untuk mewujudkan Link and Match dalam pendidikan 4. Jadi. produk dari Perguruan Tinggi menghasilkan sesuatu yang amat berharga dan bukan hanya sekedar kertas tanpa makna.2. Dengan kata lain. Konsep keterkaitan dan kesepadanan (Link and Match) antara dunia pendidikan dan dunia kerja yang dicetuskan mantan Mendiknas Prof. Kreativitas dan kecerdasan pengelola perguruan tinggi menjadi faktor penentu bagi sukses tidaknya program tersebut. maka pendidikan pada dasarnya merupakan sesuatu yang kongkret. Selanjutnya Soemarso. Menurut Soemarso. Dr. Selama ini ada kesan yang mendapatkan manfaat dari magang adalah perguruan tinggi dan mahasiswa. keahlian (kompentensi) yang paling banyak dibutuhkan dunia kerja adalah kemampuan . sedangkan industri kebagian repotnya. dan tidak direncanakan tetapi langsung berhubungan dengan keperluan hidup. produk pemikiran dan kerja laboratorium. Mengetahi hubungan pendidikan dan ketenagakerjaan II. mereka sekaligus juga belajar tentang nilai-nilai dan norma-norma yang berhubungan dengan pekerjaannya. Pembahasan A. Tujuannya adalah untuk mengetahui kompentensi (keahlian) apa yang paling dibutuhkan dunia kerja dan kompetensi apa yang paling banyak dibutuhkan dunia kerja. sifat pendidikan pada dasarnya sesalu bersifat linked and matched. Produk-produk ini masih sangat jarang dilirik oleh industri di Indonesia. idealnya. dengan adanya hubungan timbal balik membuat perguruan tinggi dapat menyusun kurikulum sesuai dengan kebutuhan kerja. spontan. Selagi mempelajari pekerjaan yang dilakukan. dalam situasi yang belum mengenal sistem sekolah. ada tiga komponen yang harus bergerak simultan untuk menyukseskan program Link and Match yaitu perguruan tinggi. Contoh nyata Link and Match dengan program magang. pendidikan dijalnkan secara spontan dan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu. Wardiman perlu dihidupkan lagi. Ketua Dewan Pembina Politeknik dan juga dosen UI mengatakan bahwa konsep Link and Match antara lembaga pendidikan dan dunia kerja dianggap ideal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan salah satu perguruan tinggi di Indonesia diketahui. ada keterkaitan antara pemasok tenaga kerja dengan penggunanya. Dari ketiga komponen tersebut. Di sisi lain. peran perguruan tinggi merupakan keharusan dan syarat terpenting. Konsep itu bisa menekan jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi yang dari ke hari makin bertambah. Konsep Link and Match Pada mulanya. Anak-anak petani langsung mempelajri pertanian dengan langsung bekerja di sawah. yaitu produk kepakaran. dimaksudkan agar industri juga mendapatkan manfaat. sebelum ada pendidikan melalui sekolah seperti sekarang. Tetapi produk hasil laboratorium belum di akomodasi dengan baik. dunia kerja (perusahaan) dan pemerintah.

2000: 130).komputasi (komputer). Seharusnya perguruan tinggi mulai menjadikan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja sebagai materi kuliah di kampusnya.W. Karena itu. Tujuan yang lebih berkaitan dengan proses menyadarkan orang bahwa kemampuan berfikir dan menentukan identitas diri sekarang ini jauh lebih penting. Jika program Link and Match berjalan baik. berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan kemampuan akuntansi. Pendekatan ini menitik beratkan pada tujuan pendidikan dan pada pemerataan kesempatan dalam mendapatkan pendidikan (Husaini Usman. Manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan Link and Match sangat besar. Seperti ditekankan oleh Paola friere. pemerintah juga diuntungkan dengan berkurangnya beban pengangguran (terdidik). Pendidikan dan pembelajaran adalah proses bukan produk akhir. diharapkan semua stake holders dunia pendidikan bersedia membuka mata dan diri dan mulai bersungguh-sungguh menjalankannya. diharapkan. minimal secara teori. Ivan Illich pernah mengatakan bahwa kita tidak boleh mengijinkan pendidikan formal mengganggu proses belajar terus menerus. Secara tradisional teori kependidikan menekankan tiga tujuan instruksional pokok: kognitif. tentang kompetensi apa yang dibutuhkan setelah mereka lulus. dimana otak manusia hanya seperti rekening bank tidak berlaku atau sesuai lagi. Pendekatan Sosial Pendekatan sosial merupakan pendekatan yang didasarkan atas keperluan masyarakat pada saat ini. seyogianya pemerintah secara serius menjaga iklim keterkaitan dan mekanisme implementasi ilmu dari perguruan tinggi ke dunia kerja sehingga diharapkan program Link and Match ini berjalan semakin baik dan semakin mampu membawa manfaat bagi semua pihak. Perguruan tinggi harus lapang dada menerima bidang keahlian (kompentensi) yang dibutuhkan dunia kerja sebagai materi kuliah utama. Sedangkan Pemerintah harus serius dan tidak semata memandang program Link and Match (keterkaitan dan kesepadanan) sebagai proyek belaka. Dengan magang langsung (on the spot) ke dunia kerja seperti itu. Banyak orang berpendapat bahwa sisi afektif dari pendidikan adalah yang paling penting. perguruan tinggi juga harus mampu memprediksi dan mengantisipasi keahlian (kompetensi) apa yang diperlukan dunia kerja dan teknologi sepuluh tahun ke depan. Dengan demikian. perguruan tinggi tidak harus menyesuaikan seluruh materi kuliahnya dengan kebutuhan dunia kerja. Pendekatan dalam Mewujudkan Link and Match 1. Langkah penting lainnya. Sebab. perguruan tinggi harus menjalin relasi dan menciptakan link dengan banyak perusahaan agar bersedia menjadi arena belajar kerja (magang) bagi mahasiswa yang akan lulus. lulusan tidak hanya siap secara teori tetapi juga siap secara praktik. Perusahaan juga harus membuka pintu selebar-lebarnya bagi mahasiswa perguruan tinggi yang ingin magang (bekerja) di perusahaan tersebut. harus ada materi kuliah yang berguna bagi mahasiswa yang termotivasi untuk melanjutkan studi ke jenjang strata yang lebih tinggi d. Tidak selayaknya orang berhenti dari proses belajar sesudah pendidikan formal selesai (Sindhunata. afektif dan psikomotorik. Meskipun demikian. lulusan perguruan tinggi sudah mengetahui. suatu konsep pendidikan. Karena itu. B. Menurut A. Gurugen pendekatan sosial merupakan pendekatan tradisional bagi pembangunan pendidikan dengan menyediakan lembaga-lembaga dan fasilitas demi memenuhi tekanan tekanan untuk memasukan sekolah serta memungkinkan pemberian kesempatan kepada . 2006: 56). Selain itu.

Ini berarti bahwa sektor pendidikan harus menyediakan lembaga-lembaga pendidikan serta fasilitas untuk menampuk seluuruh kelompok umur yang ingin menerima pendidikan. Dalam kebijakan pemerintah (sebut saja kebijakan lima tahunan). Dalam keadaan ini kebanyakan negara mengharapkan supaya pendidikan mempersiapkan dan menghasilkan tenaga kerja yang terampil untuk pembangunan. Pendekatan ini mengabaiakn kebutuhan ketenagakerjaan (man power planning) yang diperlukan dimasyarakat sehingga dapat menghasilkan lulusan yang sebenarnya kurang dibutuhkan masyarakat. dan kebudayaan yang ada pada waktu itu. Di dalam pendekatan ketenagakerjaan ini kegiatan-kegitan pendidikan diarahkan kepada usaha untuk memenuhi kebutuhan nasional akan tenaga kerja pada tahap permulaan pembangunan tentu saja memerlukan banyak tenaga kerja dari segala tingkatan dan dalam berbagai jenis keahlian. 2. baik dalam sektor . Selanjutnya dalam pendekatan ini ada beberapa kelemahan dalam pendekatan ini diantaranya adalah sebagai berikut: 1. dan secara samar tidak mempermasalahkan besarnya sumber daya pendidikan yang dibutuhkan arena beranggapan bahwa penggunaan sumberdaya pendidikan yang terbaik adalah untuk segenap rakyat Indonesia. Dengan kata lain kebutuhan akan pendidikan yang akan menjadi sasaran dalam perencanaan selalu dijadikan penuntun atau bisa dikatakan sebagai kebijakan awal perencanaan. politik. 1995: 30). 2. Pendekatan sosial dalam perencanaan pendidikan sebagaimana dimaksud diatas. Pendekatan yang dikemukakan Geruge ini bersifat tradisional dimana penekanan ini didasarkan kepada tujuan untuk memenuhi tuntutan atau permintaan seluruh individu terhadap pendidikan pada tempat dan waktu tertentu dalam situasi perekonomian. Pendekatan ini cenderung hanya menjawab pemerataan pendidikan saja sehingga kuantitas lebih diutamakan dari pada kualitanya (Syaefudin Sa’ud. pernah dituang secara tepat dalam Robbins Comunitte on Higher Education di Inggris pada tahun 1963 dengan alasan pemilihan pendektan ini bahwa: ”all young person qualified by ability and attaint ment to pursue a full time course in higher education should have the opportunity to do so” (Bohar Soeharto. 1991: 28). Karenanya wajar jikalau timbul pendekatan yang berbeda-beda antara beberapa negara dan juga terjadi perbedaan dalam pendekatan perencanaan antara berbagai periode pembangunan dalam satu negara. disana tergambar secara jelas harapan-harapan yang akan dan harus dipenuhi oleh sektor pendidikan. Pendekatan Ketenagakerjaan Pendekatan yang dipakai dalam penyusunan perencanaan pendidikan suatu negara sangat tergantung kepada kebijakan pemerintah yang sedang dilaksanakan. 1991: 28). 2006: 236). Sebagai contoh penerapan pendekatan ini adalah diterapkannya sistem ganda melalui kebijakan Link and Match. 3.murit dan orang tua secara bebas (Djumberansyah Indar. Menurut Bohar Soeharto perencanaan sosial adalah proses cara menjelaskan dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan masyarakat atau berhubungan dengan aspek sosial dari kehidupan individu untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Bohar Soeharto. Pendekatan ini mengabaiakan masalah alokasi dalam skala nasional.

am merencanakan keprluan tenaga kerja. perhitungan kebutuhan tenaga kerja dan perencanaan pendidikan yang ditujukan kearah pembetukan tenaga kerja dianggap sebagai prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang secara struktural seimbang dan sebagi prasyarat bagi sistem pendidikan yang fungsional. Dengan kata lain. dimana pembiayaan-pembiayaan pendidikan diperlakukan sebagai pengeluaran . industri dan sebagainya (Jusuf Enoch. Untuk itu perencana pendidikan harus mencoba membuat perkiraan jumlah dan kualitas tenaga kerja dibutuhkan oleh setiap kegiatan pembangunan nasional. jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dihitung dari jumlah pendapatan nasional yang direncanakan atau yang diperhitungkan akan dicapai. Salah satu metode misalnya bukan hanya sekedar memperhatikan kebutuhan saja tetapi perlu meneliti berbagai jenis tenaga yang telatih yang diperlukan oleh negara atas dasar perbandingan atau ratio yang seimbang. Negara-negara yang mempergunakan pendekatan ketenagakerjaan mengarahkan kegiatankegiatan pendidikannya secara teratur kepada usaha untuk memenuhi tuntutan dunia lapangan kerja dalam segala bidang. Kebutuhan akan tenaga kerja semat-mata dari pertumbuhan ekonomi di masa depan dianggap relevan bagi alokasi tenaga kerja yang efisien dan bagi penggunaan secara optimal sumber-sumber yang tersedia pada sistem pendidikan. Perencana pendidikan diminta untuk merencanakan kegiatan/usaha pendidikan sedemikian rupa sehingga menjamin setiap individu.pertanian. Akan tetapi metode-metode untuk memperkirakan kebutuhan tenaga kerja perlu ditetapkan terlebih dahulu sesuai dengan kepentingan dan kondisi negara yang bersangkutan. anak didik melalui sistem pendidikan harus disiapkan menjadi tenaga kerja. Ini berarti penyerapan tenaga kerja akan lebih banyak. Cara pendekatan persoalan pendidikan seperti ini dapatt dikatkan sebagai pendekatan ekonomi uni-dimensional atau pendekatan pendidikan yang ditujuakan kepada pasaran kerja. Dengan kata lain sistem pendidikannya harus menghasilkan lulusan dari berbagai tingkat dan jenis yang siap pakai. pendapatan nasional yang telah ditingkatkan akan memberi peluang untuk memperluas lapangan kerja. misalnya perbandingan antara insiyur dan teknisi ahli. dal. dimana setiap waktu diperlukan jenis keahlian yang baru. Dalam pendekatan keperluan akan tenaga kerja (manpower approach). 1992: 90). perdagangan. Ahli teknologi modern dengan menciptakan teori dan sistem yang baru dengan sendirinya mendorong teknologi untuk berkembang secara pesat dan hal ini menyebabkan pula timbulnya kebutuhan akan tenaga ahli dari jenis yang baru untuk menangani atau mengelolanya. Jadi. dan perencanaan mengenai keperluan akan tenaga kerja harus diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam perencanaan ekonomi. Penambahan lapangan kerja akan meningkatkan pendapatan nasional. perkembangan ekonomi dimasa depan dianggap sebagai variabel yang independen karena dianggap sebagai tujuan atau target yang ditetapkan secara tersendiri. Dalam hal ini perencana pendidikan dapat menyakinkan bahwa penyediaan fasilitas dan pengarahan arus murid benar-benar didasarkan atas perkiraan kebutuhan tenaga kerja tadi. tentunya seorang lulusan lembaga pendidikan dapat terjun ke masyarakat dengan suatu kemampuan untuk menjadi seorang pekerja yang produktif. Menurut pendekatan ini. Para ahli ekonomi mengharapkan agar ada keseimbangan antara penambahan lapangan kerja dengan peningkatan pendapatan nasionl. Pendidikan ketenagakerjaan ini sering dipergunakan oleh negara-negara yang sudah berkembang ataupun negara yang teknologinya sudah maju.

Walaupun sekiranya data dan informasi mengenai ketenagakerjaan tersedia secara memadai. Disadarai dengan benar bahwa tanpa tenaga pembangunan yang ahli.konsumsi dan bukan sebagai pengeluaran investasi (Sindhunata. juga masih diperlukan persyaratan yang jelas mengenai mutu tenaga yang dituntut oleh pasaran tenaga kerja atau kualifikasi lulusan lembaga pendidikan yang menjadi persyaratan untuk masing-masingjenis pekerjaaan. . b. khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Perencanaan pendidikan. pendekatan ini lebih mengutamakan sekolah menengah kejuruan untuk memenuhi kebutuhan kerja. 2001: 17). Perlu kita cermati sebenarnya peningkatan pengangguran bukan semata-mata kesalahan dunia pendidikan. Namun dalam kenyataannya masih banyak hambatan-hambatan dalam usaha menyusun perencanaan pendidikan dengan menggunakan pendekatan ketenagakerjaan ini. terampil dan sesuai dengan lapangan kerja tidak mungkin pembangunan nasional dapat berjalan dengan lancar. yaitu. Belum tersedianya data dan informasi yang memadai untuk dapat menjawab pertanyaan sehubungan dengan berapa banyak lapangan kerja yang ada menurut jenisnya. dimana ada tiga kelemahan yang paling utama. 2. 1992: 93-95). bila ingin menggunakan pendekatan ketenagakerjaan sangat memerlukan data dan proyeksi kebutuhan tenaga kerja di masa mendatang. bagaimana pengembangan usaha/lapangan kerja ini di masa mendatang dan bagaimana proyeksi tenaga kerja yang akan dibutuhkan. Perencanaan pendidikan di Indonesia selain menggunkan pendekatan sosial juga menggunakan pendekatan ketenagakerjaan. didalam pendekatan ini juga mempunyai kelemahan. Perbaikan sistem dan perencanaan pendidikan bukan berarti pendidikan harus melahirkan atau meluluskan lulusan yang siap pakai. disisi lain tuntutan dunia kerja berubah ubah sesuai dengan cepatnya perubahan zaman (Husaini Usman. Mempunyai peranan yang terbatas dalam perencanaan pendidikan. 1. Beberapa hambatan pokok antara lain sebagai berikut:16 a. 2006: 59). Tujuan dari pada pendekatan ini hanyalah untuk memenuhan kebutuhan tenaga kerja. Penyebab utama ialah ketidakmampuan sistem pendidikan nasional untuk mengadakan penyesuaian dengan berbagai ragam kebutuhan akan keahlian dan kemampuan lulusannya (Jusuf Enoch. namun hambatan itu akan tetap masih ada terutama dalam hal pengadaan tenaga kerja itu sendiri melalui pendidikan formal. Dalam teorinya pendekatan ini lebih mengutamakan keterkaitan lulusan sistem pendidikan dengan tuntutan akan kebutuhan tenaga kerja. karena pendekatan ini mengabaikan keberadaaan sekolah umum karena hanya akan menghasilkan pengangguran saja. dan sebagainya. berapa jumlah tenaga kerja menurut pendidikannya yang dapat diserap. Selain perkiraan akan kebutuhan tenaga kerja. c. maka bukan pada tempatnya hal itu dibelajarkan pada pendidikan formal yang ada sekarang ini. Blaug dan Faure menyimpulkan bahwa masalah pengangguran dikalangan terdidik dapat ditekan dengan memperbaiki sistem dan perencanaan pendidikan yang baik. peningkatan pengangguran di karenakan sempitnya lapangan kerja. Menggunakan klasifikasi rasio permintaan dan persediaan 3. Kalau yang dimaksud dengan siap pakai ialah kemampuan lulusan yang mengenali dan menguasai permasalahan rutin serta mampu mengaplikasikan ilmunya. sempitnya lapangan kerja disebabkan pemerintah yang kurang bisa membuka lapangan kerja yang baru.

misalnya dengan menggunakan teknik cost benefit analysis. yaitu bahwa pendidikan formal hanya memberikan kontribusi kecil terhadap status pekerjaan dan penghasilan lulusan pendidikan formal dibandingkan dengan faktorfaktor luar sekolah. Menurutnya. yaitu teori kredensialisme. kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Dimensi kuantitatif yang meliputi fungsi sistem pendidikan dalam pemasok tenaga kerja . Hal ini bukan disebabkan biaya yang tidak mendukung.Menurut teori ini perolehan pendidikan formal tidak lebih dari suatu lambang status (misalnya melalui perolehan ”ijazah” bukan karena produktivitas) yang mempengaruhi tingginya penghasilan. Teori Human Capital dianggap tidak berhasil. Teori Human Capital menerangkan bahwa pendidikan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi karena pendidikan berperan di dalam meningkatkan produktivitas kerja. dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan. Dua teori yang dikemukan diatas. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Putu Pendit bahwa "kurikulum harus memenuhi kebutuhan lapangan". maka muncullah teori baru sebagai koreksi terhadap teori sebelumya. Hal ini terbukti dari hasil penelitian Cummings bahwa di Indonesia ternyata menunjukkan kecenderungan yang tidak berbeda antara negara maju dan negara berkembang. Teori ini mengungkapkan bahwa strukrur masyarakat lebih ampuh dari pada individu dalam mendorong suatu pertumbuhan dan perkembangan. Kurikulum. bukan semata-mata memenuhi permintaan tenaga kerja di saat ini. Namun dalam kenyataannya. pengadaan lat dan ryang praktek yang memenuhi tuntutan lapangan kerja serta fasilitas lainnya sungguh memerlukan waktu untuk mewujudkannya. Pendidikan dan Ketenagakerjaan Apakah pendidikan formal merupakan penentu dalam menunjang pertumbuhan ekonomi?. Teori Human Capital ini menganggap bahwa pendidikan formal sebagai suatu investasi. Anggapan ini mengacu pada teori Human Capital. Disamping itu. Titik singgung antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi adalah produktivitas kerja.Pemerintah tidak mungkin secara cepat mempersiapkan berbagai kelembagaan pendidikan untuk mempersipakan lulusan yang siap pakai memasuki lapangan kerja yang sudah menunggu. C. sebagai bagian dari pendidikan. baik bagi individu maupun bagi masyarakat. model pendidikan tenaga kerja dan lain sebagainya. asumsi-asumsi yang digunakan oleh teori Human Capital tidak selalu benar. fungsi sistem pendidikan dalam kaitannya dengan ketenagakerjaan meliputi dua dimensi penting. yaitu: 1). Dari teori ini timbul beberapa model untuk mengukur keberhasilan pendidikan bagi pertumbuhan ekonomi. Kurikulum sebagai alat dari pendidikan harus mengandung di dalamnya upaya menyiapkan peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan yang berlaku jauh lebih lama daripada perkembangan terakhir atau peristiwa sesaat. Apakah pengembangan sumber daya manusia selalu dilakukan melalui pendidikan formal?. Pendidikan formal hanya dianggap sebagai alat untuk mempertahankan status quo dari para pemenang status sosial yang lebih tinggi. pertumbuhan msyarakat dapat ditunjang karenanya. semakin tinggi produktivitas kerja. tapi lebih dari itu pengadaan tenaga instruktur yang berkualifikasi baik. masing-masing memiliki kaitan erat dengan fungsi sistem pendidikan yang diungkap oleh Sayuti Hasibuan. semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat. Jika setiap individu memiliki penghasilan yang tinggi karena pendidikannya juga tinggi. Teori ini merasa yakin bahwa pertumbuhan suatu masyarakat harus dimulai dari prodiktivitas individu.

sementara sistem pendidikan formal secara maksimal harus mampu menghasilkan tenaga potensial atau yang memiliki kecakapan dasar yang dapat dikembangkan lebih jauh di dunia kerja. pelatihan dan tenaga kerja seperti yang kita alami dewasa ini. Teori Kredensialisme merasa yakin bahwa pelatihan kerja merupakan media yang strategis dalam menjembatani antara pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja. yaitu ketidaksesuaian tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh sistem pendidikan itu sendiri. Jika ketidaksesiaian anatra keterampilan kerja dengan kebutuhan dunia industri dianggap sebagai demand phenomina. Ketidaksesuain tersebut mungkin juga dapat dianggap sebagi gejala prmintaan (demand phenomina). Fungsi pendidikan sebagai penghasil tenaga penggerak pembangunan (driving force) cenderung lebih sesuai dengan teori Kredensialisme. Akan tetapi. Sistem pendidikan harus mampu membuka cakrawala yang lebih luas bagi tenaga yang dihasilkan. yang lebih penting ialah jenisjenis keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Jika ada masalah ketidaksesuaian. Sistem pendidikan memiliki arti penting dalam menjawab tuntutan lapangan kerja yang membutuhkan tenaga kerja terampil dalam berbagai jenis pekerjaan. tetapi sistem pendidikan sekolah dan luar sekolah harus . dunia industri akan berfungsi sebagai training ground. yaitu ketidaksesuaian antara pendidikan dan lapangan kerja yang diungkapkan sebagai gejala ketidakmampuan sistem pendidikan dalam menghasilkan lulusan yang mudah dilatih atau yang dapat membelajarkan diri agar menjadi tenaga terampil sesuai dengan kebutuhan pasar. Teori Human Capital percaya bahwa pendidikan memiliki anggapan lapangan kerja yang membutuhkan kecakapan dan keterampilan tersebut juga sudah tersedia. Penyediaan tenaga kerja terdidik tidak hanya harus memenuhi kebutuhan akan suatu jumlah yang dibutuhkan. Pendidikan harus dapat menghasilkan tenaga yang mampu mengembangkan potensi masyarakat dalam menghasilkan barang dan jasa termasuk caracara memasarkannya. lulusan sistem pendidikan tidak bergantung hanya kepada lapangan kerja yang telah ada yang pada dasarnya sangat terbatas. sitem pelatihan kerja juga harus merupakan bagian yang integral di dalam industri atau perusahaan. Dimensi kualitatif yang menyangkut fungsinya sebagai penghasil tenaga terdidik dan terlatih yang akan menjadi sumber penggerak pembangunan atau sebagai driving force (Sayuti Hasibuan. 1999: 178). Kemampuan ini amat penting dalam rangka memperluas lapangan kerja dan lapangan usaha. Diperlukan program yang terintegrasi antara dunia pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan oleh dunia industri (Tilaar. khususnya dalam membuka lapangan kerja baru. Dengan demikian. produktivitas tenaga kerja secara langsung merupakan kontrolnya. Sekat-sekat yang ada antara pendidikan. Sistem pendidikan sebagai suatu sistem pemasok tenaga kerja terdidik lebih banyak diilhami oleh teori Human Capital. Jika industri atau perusahaan sudah berfungsi sebagai training ground. akan tetapi mengembangkan kesempatan kerja yang masih potensial. Dalam hubungan dengan hal tersebut. 2). setidak-tidaknya secara konseptual tidak terjadi dalam masyarakat industri modern. 1987).terdidik dan terampil sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja yang tersedia. tetapi lapangan kerja juga belum memfungsikan sistem pelatihan kerja secara optimal. Program-program pelatihan tidak hanya dilaksanakan di dalam industri. Pelatihan dalam industri atau perusahaan ialah tempat yang paling tepat untuk dapat menghasilakn tenaga kerja yang siap pakai (ready trained). hal ini dianggap sebagai ”gejala persediaan” (supply phenomina).

Tamatan SLTA cenderung untuk menganggur dan jumlahnya semakin besar. 2). Sebaliknya kebutuhan akan tenaga kerja yang banyak ialah di bidang industri dan pertanian. dan yang menjadi akibatnya pengangguran tenaga terdidik atau lulusan Perguruan Tinggi akan terus bertambah setiap tahun. bukan berarti akan menghilangkan pengangguran. Angka partisipasi dan bertambahnya lulusan Perguruan Tinggi belum dengan sendirinya meningkatkan produktivitas kerja karena adanya pengangguran sarjana yang semakin meningkat. Ketiga faktor tersebut adalah. Untuk menguji kemampuan ini diperlukan perbandingan antara persediaan angkatan kerja yang dihasilkan oleh sistem pendidikan dan latihan dengan kebutuhan tenaga kerja dalam lapangan kerja yanga ada menurut kategori tingkat pendidikan pekerja. Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin besar kemungkinan terjadinya pengangguran. Mahasiswa lebih menyenangi program studi profesional seperti ahli hukum dan ekonomi dibanding dengan program teknologi maupun pertanian. Data pendidikan nasional kita menunjukkan kecenderungan sebagai berikut: 1). 40. Dengan sistem yang seperti itu. lapangan pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja umumnya tidak sesuai dengan tingkat pendidikan atau ketrampilan yang dimiliki. surplus lulusan Perguruan Tinggi cenderung berlipat ganda dari tahun ke tahun. 3). Pada tingkat pendidikan SLTP kebawah cenderung terdapat kekurangan tenaga kerja terdidik. Fungsi pendidikan sebagai pemasok tenaga kerja terdidik dan terlatih dapat diuji berdasarkan kemampuannya dalam memenuhi jumlah angkatan kerja yang dibutuhkan oleh lapangan kerja yang telah ada atau yang diperkirakan tersedia dalam suatu sitem ekonomi. Kekurangan ini masih dipersulit lagi dengan adanya ”mis-match” jenis keahlian yang diproduksi oleh pendidikan tinggi kita. ketidaksesuaian antara hasil yang dicapai antara pendidikan dengan lapangan kerja. Dalam kaitan ini perlu ada refungsionalisasi SISDIKNAS yang membuka diri terhadap keterlibatan penuh dari masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Keadaan ini didukung pila oleh kenyataan bahwa kelebihan persediaan tenaga kerja terjadi pada tingkat-tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Menurut Darlaini Nasution SE ada tiga faktor mendasar yang menjadi penyebab masih tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. ketidakseimbangan demand (permintaan) dan supply (penawaran) dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan masih rendah. namun dalam kenyataan tidak . Ia menjelaskan. Umumnya perusahaan atau penyedia lapangan kerja membutuhkan tenaga yang siap pakai. Gejala ini terjadi juga di negara industri maju dan sangat kuat di negara berkembang. karena sebenarnya kita masih kekurangan tenaga lulusan Perguruan Tinggi. tentu saja masalah pengangguran akan selalu ada karena berbagai sebab ekonomis ataupun nonekonomis namun masalah pengangguran setidaknya dapat diminimalisir.menyelenggarakan program pelatihan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Terjadinya kelebihan persediaan tenaga kerja berpendidikan dasar ini disebabkan oleh masih banyak tersedianya lapangan kerja pada sektor tradisional dan sektor informal pada saat truktur tenaga kerja telah mulai bergeser ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Gambaran mengenai kesenjangan supply dan demand lulusan pendidikan tinggi kita buka terletak pada angka absolutnya. Salah satu sebab kesenjangan supply dan demand pendidikan tinggi ialah kesenjangan antara keinginan mahasiswa (dan dorongan orang tua serta persepsi masyarakat) dengan kebutuhan akan tenaga kerja. artinya sesuai dengan pendidikan dan ketrampilannya.

Para penganggur terselubung ini adalah orang-orang yang bekerja di bawah 35 jam dalam satu minggunya. Pengangguran intelektual di Indonesia cenderung terus meningkat dan semakin mendekati titik yang mengkhawatirkan. Fenomena inilah yang sedang dihadapi oleh bangsa kita di mana . jumlah pengangguran di tahun 2000 ini sudah menurun dibanding tahun 1999.banyak tenaga kerja yang siap pakai tersebut.9 persen dibanding 2007 yang masih 9.97 juta orang yang diperkirakan bisa bertambah bila pemulihan ekonomi tidak segera berjalan dengan baik. maka tenaga kerja yang bisa diserap hanya sekitar 1. Berdasarkan pengalaman.8 persen.7 juta orang dari jumlah angkatan kerja 90. Berdasarkan data sepanjang di tahun 1996.5 sampai 4% belumlah memadai.87 juta orang.4 juta pengangguran terbuka baru akan terjadi. namun pemerintah masih memfokuskan penanggulangan pengangguran ini pada 16. Jumlah pengangguran saat ini mencapat sekitar 35. banyak tantangan yang dihadapi pemerintah dalam mengupayakan langkah tersebut. Jika persentase pengangguran total dengan melibatkan jumlah pengangguran terselubung dan terbuka hendak dilihat angkanya. Dengan perekonomian yang hanya tumbuh sekitar 3. Kalau kita flasback pada tahun-tahun yang lalu. Untuk mendukung pemberdayaan itu. Jumlah pengangguran pada tahun 2001 mencapai 35. jika kita mengacu pada data-data tahun 1996 maka pertumbuhan ekonomi sebesar 3. di mana sekitar 1. pada tahun 2008 ini jumlah pengangguran di Indonesia ditargetkan turun menjadi 8. Justru yang banyak adalah tenaga kerja yang tidak sesuai dengan job yang disediakan.1 juta orang pada tahun 2000.3 juta orang. ketika menginjak tahun 2000. Adapun pengangguran terselubung adalah orang-orang yang menganggur karena bekerja di bawah kapasitas optimalnya. dan jumlah inipun belum mencakup pengangguran terselubung.48 juta orang.01 juga turun menjadi 5. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2000 yang meningkat menjadi 4. karena pada tahun 2007 adalah awal mula terjadinya krisis moneter. Jika kita berasumsi bahwa krisis ekonomi hingga saat ini belum juga bisa terselesaikan maka angkaangka tadi dipastikan akan lebih melonjak. Berdasarkan data dari Departemen Tenaga Kerja pada tahun 1997 jumlah pengangguran terbuka sudah mencapai sekitar 10% dari sekitar 90 juta angkatan kerja yang ada di Indonesia. Sedang setengah pengangguran atau pengangguran terselubung juga menurun dari 31.98 persen. Pengangguran tahun 1999 yang semula 6.7 juta menjadi 30. Ledakan pengangguranpun berlanjut di tahun 1998. Total pengangguran jadinya akan melampauai 10 juta orang.5 persen. Namun. Sisanya menjadi tambahan pengangguran terbuka tadi.1 juta orang. pertumbuhan ekonomi dapat dipastikan tidak secerah tahun 1996. Tahun 1996 perekonomian mampu menyerap jumlah tenaga kerja dalam jumlah relatif besar karena ekonomi nasional tumbuh hingga 7. Dan kini. terutama karena keterbatasan dana. Pada tahun 2003 jumlah pengangguran intelektual diperkirakan mencapai 24.7 persen. pemerintah harus memfasilitasi dan menciptakan iklim yang kondusif.97 juta orang. maka angkanya sudah mencapai 40% dari 90 juta angkatan kerja yang berarti jumlah penganggur mencapai sekitar 36 juta orang. Untuk mengurangi jumlah pengangguran maupun kemiskinan. Tahun 1997 dan 1998. perekonomian hanya mampu menyerap 85. Pengangguran intelektual ini tidak terlepas dari persoalan dunia pendidikan yang tidak mampu menghasilkan tenaga kerja berkualitas sesuai tuntutan pasar kerja sehingga seringkali tenaga kerja terdidik kita kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. pemerintah perlu melakukan berbagai langkah strategis seperti pemberdayaan masyarakat.5 sampai 4%.

Sehingga karena hal inilah maka para tenaga kerja terdidik sulit bersaing dengan tenaga kerja asing dalam usaha untuk mencari pekerjaan. Karena itu maka salah satu kelemahan dari sistem pendidikan kita adalah sulitnya memberikan pendidikan yang benar-benar dapat memupuk profesionalisme seseorang dalam berkarier atau bekerja. Rendahnya kualitas tenaga kerja terdidik kita juga adalah karena kita terlampau melihat pada gelar tanpa secara serius membenahi kualitas dari kemampuan di bidang yang kita tekuni. Di negara kita. berbagai strategi dan kebijakan dapat ditempuh. mereka kelabakan dan tidak bisa berusaha untuk menciptakan pekerjaan sendiri di sektor informal. Contohnya seperti seseorang yang pandai dalam mengerjakan soal-soal matematika bukan karena kecerdikan dalam melakukan analisis terhadap soal atau kepandaian dalam membuat jalan perhitungan tetapi karena dia memang sudah hafal tipe soalnya. dan sejarah atau menerima saja berbagai teori namun sayangnya para siswa tidak memiliki kemampuan untuk menggali wawasan pandangan yang lebih luas serta cerdas dalam memahami dan mengkaji suatu masalah. dari sisi permintaan tenaga kerja. Sedangkan untuk ilmu pengetahuan alam para siswa cenderung hanya diberikan latihan soal-soal yang cenderung hanya melatih kecepatan dalam berpikir untuk menemukan jawaban dan bukannya mempertajam penalaran atau melatih kreativitas dalam berpikir. Kenyataan inilah yang menyebabkan sumber daya manusia kita ketinggalan jauh dengan sumber daya manusia yang ada di negara-negara maju. Akibatnya lulusan yang dihasilkanpun kualitasnya rendah sehingga tidak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Saat ini pendidikan kita terlalu menekankan pada segi teori dan bukannya praktek. misalnya setiap penganggur diupayakan memiliki pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan artinya . Pendidikan seringkali disampaikan dalam bentuk yang monoton sehingga membuat para siswa menjadi bosan. Akan tetapi pemerataan pendidikan itu harus dilakukan tanpa mengabaikan mutu pendidikan itu sendiri. pengangguran terdidik dapat dipandang sebagai ketidakmampuan ekonomi dan pasar kerja dalam menyerap tenaga terdidik yang muncul secara bersamaan dalam jumlah yang terus berakumulasi. Salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka pengangguran di negara kita adalah terlampau banyak tenaga kerja yang diarahkan ke sektor formal sehingga ketika mereka kehilangan pekerjaan di sektor formal. Sebagai solusi pengangguran. Salah satu penyebab pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi adalah karena kualitas pendidikan tinggi di Indonesia yang masih rendah. Namun bila dilihat lebih jauh. Pengangguran terdidik dapat saja dipandang sebagai rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan. Justru orang-orang yang kurang berpendidikan bisa melakukan inovasi menciptakan kerja. saat ini ada kecenderungan bahwa para siswa hanya mempunyai kebiasaan menghafal saja untuk pelajaran-pelajaran yang menyangkut ilmu sosial. entah sebagai joki yang menumpang di mobil atau joki payung kalau hujan.para tenaga kerja yang terdidik banyak yang menganggur walaupun mereka sebenarnya menyandang gelar. Meski ada kecenderungan pengangguran terdidik semakin meningkat namun upaya perluasan kesempatan pendidikan dari pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi tidak boleh berhenti. bahasa. Di negara-negara maju. Kita hanya pandai dalam teori tetapi gagal dalam praktek dan dalam profesionalisme pekerjaan tersebut. pendidikkan dalam wujud praktek lebih diberikan dalam porsi yang lebih besar.

produktif dan remuneratif sesuai Pasal 27 Ayat 2 UUD 1945 dengan partisipasi semua masyarakat Indonesia. setiap penganggur di Indonesia akan tercatat dengan baik dan mendapat perhatian khusus. pengendalian banjir. tulus. Kelima. Lembaga itu dapat di bawah lembaga jaminan sosial penganggur atau bekerja sama tergantung kondisinya. profesional dan bertanggung jawab. Ini akan membuka lapangan kerja bagi para penganggur di berbagai jenis maupun tingkatan. mengembangkan suatu lembaga antarkerja secara profesional. Untuk itu diperlukan dua kebijakan. Sampah sebagai bahan baku pupuk organik dapat diolah untuk menciptakan lapangan kerja dan pupuk organik itu dapat didistribusikan ke wilayah-wilayah tandus yang berdekatan untuk meningkatkan produksi lahan. Itu semua perlu segera dibahas dan disederhanakan sehingga merangsang pertumbuhan investasi untuk menciptakan lapangan kerja baru. berani mengambil tantangan serta mempunyai mindset yang benar. Kebijakan ini dapat diimplementasikan menjadi gerakan nasional melalui kerja sama dengan lembaga pelatihan yang kompeten untuk itu. Kepribadian yang matang. Kedua. yaitu kebijakan makro dan mikro (khusus). Keenam. terdiri dari bahan organik yang dapat dijadikan kompos dan bahan non-organik yang dapat didaur ulang. segera membangun lembaga sosial yang dapat menjamin kehidupan penganggur. manajemen dan keuangan. mengaitkan secara erat (sinergi) masalah pengangguran dengan masalah di wilayah perkotaan lainnya. menyeleksi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan dikirim ke luar negeri. Lembaga itu dapat disebutkan sebagai job center dan dibangun dan dikembangkan secara profesional sehingga dapat membimbing dan menyalurkan para pencari kerja. perangkat keras (hardware). Dengan demikian. bernilai dan berkualitas bagi dirinya sendiri maupun masyarakat luas. seperti sampah. antara lain sumber daya manusianya (brainware). Sampah. dan lingkungan yang tidak sehat. diharapkan setiap pribadi sanggup mengaktualisasikan potensi terbaiknya dan dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik. Semuanya mempunyai nilai ekonomis tinggi dan akan menciptakan lapangan kerja. misalnya. jujur matang. Perlu diyakini oleh setiap orang. Ketujuh. Itu merupakan tuntutan utama dan mendasar di era globalisasi dan informasi yang sangat kompetitif dewasa ini dan di masa-masa mendatang. Keempat. Kebijakan mikro (khusus) dapat dijabarkan dalam beberapa poin:27 Pertama. melakukan pengembangan kawasan-kawasan. khususnya yang tertinggal dan terpencil sebagai prioritas dengan membangun fasilitas transportasi dan komunikasi. Pengembangan lembaga itu mencakup. pengembangan mindset dan wawasan penganggur. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan investasi masyarakat secara perorangan maupun berkelompok. Perlu . perangkat lunak (software). menyederhanakan perizinan karena dewasa ini terlalu banyak jenis perizinan yang menghambat investasi baik Penanamaan Modal Asing (PMA). Dengan membangun lembaga itu. Ketiga. Hal itu dapat dilakukan serentak dengan pendirian Badan Jaminan Sosial Nasional dengan embrio mengubah PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PT Jamsostek) menjadi Badan Jaminan Sosial Nasional yang terdiri dari berbagai devisi menurut sasarannya. sepenuh hati. Lebih tegas lagi jadikan penanggulangan pengangguran menjadi komitmen nasional. berangkat dari kesadaran bahwa setiap manusia sesungguhnya memilki potensi dalam dirinya namun sering tidak menyadari dan mengembangkan secara optimal. kesuksesan yang hakiki berawal dari sikap mental kita untuk berani berpikir dan bertindak secara nyata. dinamis dan kreatif memiliki tujuan dan visi yang jauh ke depan.

III. Selain itu. justru sebaliknya bermuara pada PHK yang berarti menambah jumlah penganggur. perlu dibuat peraturan tersendiri tentang pengiriman TKI ke luar negeri seperti di Filipina. upayakan untuk mencegah perselisihan hubungan industrial (PHI) dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Pengembangan sistem pendidikan nasional perlu direstrukturisasi. Sistem pendidikan dan kurikulum sangat menentukan kualitas pendidikan. Pendekatan sosial merupakan . Bagi pemerintah Daerah yang memiliki lahan cukup. bukan hanya tidak mampu menciptakan lapangan kerja baru. PHI dewasa ini sangat banyak berperan terhadap penutupan perusahaan. Tentunya badan itu diperlengkapi dengan lembaga pelatihan (Training Center) yang kompeten untuk jenis-jenis keterampilan tertentu yang sangat banyak peluang di negara lain. Dengan link dan match ini suatu lembaga khususnya Perguruan Tinggi bisa mengadakan kerja sama dengan pihak lain khususnya dengan perusahaan atau industri agar mahasiswa bisa magang di perusahaan tersebut. penurunan produktivitas. gedung. Hal itu dapat dilakukan dan diprakarsai oleh Pemerintah Pusat dan Daerah. segera mengembangkan potensi kelautan kita. Dengan magang langsung (on the spot) ke dunia kerja seperti itu.seleksi lebih ketat terhadap pengiriman TKI ke luar negeri. Konsep Link and Match (keterkaitan dan kesepadanan) merupakan konsep keterkaitan antara lembaga pendidikan denagn dunia kerja. Dengan adanya keterkaitan ini maka pendidikan sebaagi pemasok tenaga kerja dapat mengadakan hubunga-hubungan dengan dunia usaha/industri. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mempunyai letak geografis yang strategis yang sebagian besar berupa lautan dan pulau-pulau yang sangat potensial sebagai negara maritim. perbankan. Denagn adanya Link and Match tersebut Perguruan Tinggi dapat mengetahui kompentensi (keahlian) apa yang paling dibutuhkan dunia kerja dan kompetensi apa yang paling banyak dibutuhkan dunia kerja. 3. lulusan tidak hanya siap secara teori tetapi juga siap secara praktik. Potensi kelautan Indonesia perlu dikelola lebih baik supaya dapat menciptakan lapangan kerja yang produktif dan remuneratif. Akibatnya. Perestroika sistem pendidikan tinggi meliputi berbagai aspek. Kesembilan. Dan yang lebih penting Perguruan Tinggi harus menjalin relasi dan menciptakan link dengan banyak perusahaan agar bersedia menjadi arena belajar kerja (magang) bagi mahasiswa yang akan lulus. Sisdiknas perlu reorientasi supaya dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Perguruan Tinggi juga akan dapat memprediksi dan mengantisipasi keahlian (kompetensi) apa yang diperlukan dunia kerja dan teknologi sepuluh tahun ke depan. Perguruan tinggi harus mau melakukan riset ke dunia kerja. atau denagn kata lain Link and Match ini adalah keterkaitan antara pemasok tenaga kerja dengan penggunanya. Sebaiknya diupayakan tenagatenaga terampil (skilled). Kesepuluh. antara lain keseimbangan program studi dan peningkatan mutu. penyempurnakan kurikulum dan sistem pendidikan nasional (Sisdiknas). Kedelapan. Di samping itu. 2. keuangan dan aset lainnya yang memadai dapat membangun Badan Usaha Milik Daerah Pengerahan Jasa Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri (BUMD-PJTKI). Kesimpulan 1. Karena itu. penurunan permintaan produksi industri tertentu dan seterusnya. Adapun pendekatan yang digunakan untuk mewujudkan Link and Match adalah pendekatan social dan pendekatan ketenagakerjaan.

Cet II Sindhunata (ed). Pendidikan formal dianggap sebagai penentu dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. DAFTAR PUSTAKA Cammings. semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat. Bohar. pendekatan sosial merupakan pendekatan tradisional bagi pembangunan pendidikan dengan menyediakan lembaga-lembaga dan fasilitas demi memenuhi tekanan tekanan untuk memasukan sekolah serta memungkinkan pemberian kesempatan kepada murit dan orang tua secara bebas. Anggapan ini mengacu pada teori Human Capital yang menerangkan bahwa pendidikan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi karena pendidikan berperan di dalam meningkatkan produktivitas kerja. Otonomi.pendekatan yang didasarkan atas keperluan masyarakat yang mana pendekatan ini menitik beratkan pada tujuan pendidikan dan pemerataan kesempatan dalam mendapatkan pendidikan. Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif .R. Sayuti. Analisis Kebijakan Pendidikan: Suatu Pengantar . Perencanaan Sosial Kasus Pendekatan. Jakarta: Bumi Aksara Hasibuan. Djumberansyah. Labor Force Growth and Fast Tehnological Change. Civil Society. Globalisasi. Ace dan H. Studi Pendidikan dan Tenaga Kerja pada Beberapa Industri Besar di Indonesia. Perencanaan Pendidikan Strategi dan Implementasinya. Williams. Yogyakarta:Kanisius Soeharto. Jakarta: Pusat Penelitian BP3K Enoch. Bandung: Armico Suryadi. Changing Manpower Requirements in The Face of Non-Oil Growth. 2006. Bandung: Remaja Rosdakarya. dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan. semakin tinggi produktivitas kerja. 1995. Dasar-Dasar Perencanaan. Masalah Pengangguran di Indonesia. Surabaya: Karya Aditama Limongan. dan titik temu antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi adalah produktivitas kerja. 1992. Menggegas Paradigma Baru Pendidikan: Demokrasi. 1987. Tilaar. Pendidikan Kegelisahan Sepanjang Zaman. 1993.A. Jakarta: Bappenas Indar. 2000. Pendekatan ketenagakerjaan merupakan pendekatan yang mengutamakan kepada keterkaitan luusan sistem pendidikan dengan tuntutan terhadap tenaga kerja pada berbagai sektor pembangunan dengan tujuan yang akan dicapai adalah bahwa pendidikan itu diperlukan untuk membantu lulusan memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik sehingga tingkat kehidupannya dapat diperbaiki. Andreas. Jusuf. 1991. Yogyakarta: Kanisius Sindhunata (ed). Udin Syaefudin dan Abin Syamsuddin Makmun. Diakses Tanggal 07 Januari 2008 Sa’ud. 2001. 4.

R. 2006. 1999.blogspot. dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara http://elementary-education-schools. Cet IV Usman. Asrori Ardiansyah. Manajemen Pendidikan Nasional. H.blogspot.html Dipublikasikan Oleh: M. Manajemen: Teori. Husaini. M.com/2011/08/all-about-elementaryeducation-in. Bandung: Rosdakarya.com 87N642HK6XQZ .Pd http://kabar-pendidikan.Bandung: Rosdakarya Tilaar. Praktik.A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful