P. 1
Model Pembelajaran Inkuiri

Model Pembelajaran Inkuiri

|Views: 420|Likes:
Published by ferdynovrizal87

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: ferdynovrizal87 on May 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/02/2014

pdf

text

7

BAB II DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Deskripsi Teoretis 1. Pengertian Model Pembelajaran Model adalah deskripsi atau representasi fisik yang meningkatkan pemahaman tentang sesuatu yang tidak dapat secara langsung diamati.1 Atau penyerdehanaan dari sejumlah aspek dunia nyata. Model juga diartikan sebagai pola yang mewakili dunia nyata secara benar dan tepat. Suatu model dapat berbentuk tiruan mini dari dunia fisik yang nyata, atau juga hanya berbentuk suatu diagram, suatu konsep, ataupun suatu persamaan matematis atau rumus. Dalam pembelajaran, guru berperan sebagai orang yang mengajar siswa mengenai bahan pelajaran. Mengajar adalah membimbing kegiatan siswa belajar, meliputi mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa yang dapat mendorong siswa dalam melakukan kegiatan belajar.. Kunci proses mengajar terletak pada penataan dan perancangan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat berinteraktif. Siswa dapat berinteraktif aktif apabila telah mencapai perkembangan dan kematangan psikologisnya yang merupakan hasil dari kesadaran yang mereka lakukan atas kontak mereka dengan lingkungan dunia fisik dan sosialnya. Berdasarkan pengertian model dan mengajar, maka model mengajar diartiakn sebagai suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas, sehingg memudahkan siswa dalam memahami materi yang di ajarkan oleh guru. Menurut Weil Marsha, model pembelajaran adalah pedoman untuk membentuk aktivitas pembelajaran dan lingkungan.2 sedangkan menurut Syah model pembelajaran dapat dinyatakan sebagi blue print mengajar yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan- tujuan pengajaran dan
1 Alberta, Focus on Inquiry: A Teacher’s Guide to Implementing Inquiry-based Learning. (Alberta learning, Alberta, Canada. 2004) Chapter 2/7 2 Weil, Marsha. Personal Models of Teaching, (Prntice-Hall, inc., Englewood Cliffs, New Jersey) h. 2

8

dijadikan pedoman perencanaan dan pelaksanaan pengajaran serta evaluasi belajar.3 Trianto menyatakan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial.4 Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Joice dan Weil dalam Trianro menyatakan bahwa: ”Models of teaching are really models of learning. As we help student acquire information, ideas, skills, value, ways of thinking and means of expressing themselves, we are also teaching them how to learn”.5 Hal ini berarti bahwa model belajar merupakan model belajar dengan model tersebut guru dapat membantu siswa untuk mendapatkan atau memperoleh informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide sendiri. Selain itu mereka juga mengajarkan bagaimana mereka belajar. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku- buku, film, komputer, kurikulum, dan lain- lain. Selanjutnya mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian sehingga tujuan pembelajaran tercapai6. Model pembelajaran merupakan desain pembelajaran yang didalamnya terdapat proses perancangan metode pembelajaran yang paling optimal untuk menghasilkan perubahan perilaku yang diinginkan dalam menjalankan proses pembelajaran berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, materi yang disajikan, siswa yang belajar, dan situasi pembelajaran yang diciptakan Model pembelajaran adalah suatu rencana atau suatu pola pendekatan yang digunakan untuk mendesain pembelajaran. Dalam model mengajar terkandung
3 Muhaibin Syah, Psikologi Pendidikan , (Bandung:PT Remaja Rosdkarya, 1997) h.189 4 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek , (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), h.1 5 Trianto, Ibid, h.1 6 Bornok Sinaga.,Efektifitas Pembelajaran Berdasarkan Masalah (PBL) Pada Kelas 1 SMU Dengan Bahan Kajian Fungsi Kuadrat, (Jurnal FMIPA UNIMED) , hal.124

9

strategi mengajar, yaitu pola urutan kegiatan intruksional yang digunakan untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Didalam strategi mengajar guru menerapkan sejumlah teknik- teknik mengajar seperti bagaimana menata kelas, mengelompokan siswa, berinteraksi, dan menerapkan beraneka ragam pendekatan. Adapun Soekamto, dkk dalam Trianto mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengoganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar..7 Jadi model pembelajaran adalah suatu kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang dan para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Suatu model pembelajaran dikatakan baik jika memenuhi kriteria sebagai berikut8: a) Sahih (valid).Aspek validitas dikaitkan dengan dua hal yaitu: (1) apakah model yang dikembangkan didasarkan pada rasional teoritik yang kuat; dan (2) apakah terdapat konsintensi internal. b) Praktis. Aspek kepraktisan hanya dipenuhi jika: (1) para ahli dan praktisi menyatakan bahwa apa yang dikembangkan dapat diterapkan; dan (2) kenyataan menunjukan bahwa apa yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan. c) Efektif. Berkaitan dengan aspek efektivitas, Nieven memberikan parameter sebagai berikut: (1) ahli dan praktisi berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa model tersebut efektif; dan (2) secara operasional model tersebut memberikan hasil sesuai dengan yang

7 Trianto, Model- Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), h..5 8 Trianto,Ibid. ,h.8

10

diharapkan. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola pendekatan yang mempunyai ciri- ciri khusus yang direkayasa sedemikian rupa dalam mendesain pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang isinya mencangkup perencanaan/perancangan, pelaksanaan, serta evaluasi pembelajaran. 2. Model Pembelajaran Inkuiri a. Pengertian Inkuiri Inkuiri adalah sebuah model pembelajaran yang diambil dari konsep teori kontruktivisme.9 Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya. Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Schmidt, 2003)10. Inkuiri adalah sebuah ide kompleks yang mengaitkan berbagai hal pada tiap orang dalam berbagai kondisi.11 Inkuiri adalah istilah dalam bahasa inggris, ini merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar didepan kelas. Adapun pelaksanaannya, guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan. Kemudian mereka mempelajari, meneliti atau membahas tugasnya didalam kelompok. Setelah hasil kerja mereka
9 Susilo, Inquiry in English For Young Learners Class: Enhancing Children’s Creativity and Critical Thinking. (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, ISSN 0215 9341, Februari 2004) h. 35 10 Herfis, ”Pembelajaran Inkuiri,” artikel diakses pada tanggal 22 Oktober 2009 dari http://herfis.blogspot.com/2009/07/pembelajaran-inkuiri.html. 11 Alif Noor Hidayati, Upaya Meminimalkan Kesalahan Konsep dalam Pola Interaksi Organisme pada Siswa Kelas 1F MTsN 1 Semarang Melalui Metode Penemuan Bevisi sets (Widya Tama Vol.1 No 4. Desember 2004)

11

dalam kelompok didiskusikan, kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik12. Inkuiri adalah keyakinan dasar bahwa siswa harus belajar penuh dan aktif dalam proses penyelidikan, pemerosesan, mengumpulkan, memadukan, meyaring dan menyampaikan pengetahuan mereka pada sebuah topik.13 Alberta mendefinisikan inkuiri sebagai suatu proses dimana siswa terlibat dalam pembelajaran mereka, merumuskan pertanyaan, menyelidiki secara luas dan kemudian membangun pemahaman baru, makna dan pengetahuan yang baru bagi siswa dan dapat digunakan untk menjawab pertanyaan, untuk mengembangkan solusi atau untuk mendukung suatu posisi atau sudut pandang.14 National Science Education Standards menggunakan istilah inkuiri dalam dua hal berbeda. Pertama, inkuiri menunjukan pada kemampuan siswa mengembangkan kemampuan merancang dan melakukan investigasi ilmiah serta pemahaman siswa akan hakikat penemuan ilmiah. Kedua, inkuiri menunjukkan pada strategi belajar mengajar yang memungkinkan konsep ilmiah dikuasai melalui investigasi.15 Inkuiri adalah aktivitas beraneka segi yang meliputi observasi, membuat pertanyaan, memeriksa buku-buku atau sumber informasi lain untuk melihat apa yang telah diketahui, merencanakan investigasi, memeriksa kembali apa yang telah diketahui menurut bukti eksperimen, menggunakan alat untuk mengumpulkan, menganalisa, dan menginterpretasi data, mengajukan jawaban, penjelasan dan prediksi, serta mengkomunikasikan hasil. Inkuiri memerlukan identifikasi asumsi, berpikir kritis dan logis, dan pertimbangan keterangan atau penjelasan alternatif. Inkuiri menyediakan siswa beraneka ragam pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang mendorong dan memberikan ruang dan peluang kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam mengembang keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian sehingga memungkinkan mereka
12 Dra. Roestiyah N.K. Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), Cet. 7, h. 75 13 Jeni Wilson and kath Murdoch, artikel diakses dari http:// ss.uno.edu//SS/ TeachDevel/ Teachmethods/Inquirymethod. html 14 Alberta, Focus on Inquiry: A Teacher’s Guide to Implementing Inquiry-based Learning. (Alberta learning, Alberta, Canada. 2004) Chapter 1/1 15 Diane Jass Ketelhut, Inquiry Learning in Multi-User Virtual Environments, (Harvard Graduate school of Education) h.1

12

menjadi pebelajar sepanjang hayat. Dengan kata lain inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban dan memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan kemampuan berfikir logis dan kritis.. Inkuiri melibatkan komunikasi yang berarti tersedia suatu ruang, peluang, dan tenaga bagi siswa untuk mengajukan pertanyaan dan pandangan yang logis, obyektif, dan bermakna, dan untuk melaporkan hasil-hasil kerja mereka. Inkuiri memungkinkan guru belajar tentang siapakah siswa mereka, apa yang siswa ketahui, dan bagaimana pikiran siswa mereka bekerja, sehingga guru dapat menjadi fasilitator yang lebih efektif berkat adanya pemahaman guru mengenai siswa mereka. Kegiatan pembelajaran selama menggunakan model inkuiri ditentukan oleh keseluruhan aspek pengajaran di kelas, proses keterbukaan dan peran siswa aktif. Pada prinsipnya, keseluruhan proses pembelajaran membantu siswa menjadi mandiri, percaya diri dan yakin pada kemampuan intelektualnya sendiri untuk terlibat secara aktif. Peran guru bukan hanya membagikan pengetahuan dan kebenaran, namun juga berperan sebagai penuntun dan pemandu Peran guru adalah menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran. Bukan memberikan informasi atau ceramah kepada siswa. Guru juga harus memfokuskan pada tujuan pembelajaran, yaitu mengembangkan tingkat berpikir yang lebih tinggi dan keterampilan berpikir kritis siswa. Setiap pertanyaan yang diajukan siswa sebaiknya tidak langsung dijawab oleh guru, namun siswa diarahkan untuk berpikir tentang jawaban dari pertanyaan tersebut. Trowbridge dan Bybee dalam I Made Wirtha dan Ni Ketut Rapi menyatakan bahwa, dalam inkuiri pembelajaran menjadi lebih berpusat pada anak, proses belajar melalui inkuiri dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri pada diri siswa, tingkat pengharapan bertambah, pendekatan inkuiri dapat mengembangkan bakat pendekatan inkuiri, dapat menghindari siswa dari cara-cara belajar dengan menghafal, dan pendekatan inkuiri memberikan waktu pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. 16 pada perinsipnya proses inkuiri ini
16 I Made Wirtha dan Ni Ketut Rapi, Pengaruh Model pembelajaran dan Penalaran Formal terhadap Penguasaan konsep Fisika dan Sikap Imiah siswa SMA Negeri 4 Singaraja (Jurnal

13

adalah identifikasi dan pernyataan masalah, pengembangan hipotesis, pengumpulan data, pengujian hipotesis dan perumusan keterampilan.17

b. Pembagian Inkuiri Sunand dan Trownbridge (1973) dalam E. Mulyasa, mengemukakan bahwa Pelaksanaan model inkuiri ini mempunyai tiga macam cara, yaitu: 1) Inkuiri terpimpin (guide inquiry); yaitu peserta didik memperoleh pedoman sesuai yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang membimbing. Dalam pelaksanaannya, sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru, peserta didik tidak merumuskan permasalahan. Petunjuk mengenai cara penyusunan dan mencatat data dibuat oleh guru. 2) Inkuiri bebas (free inquiry); Dalam hal ini peserta didik melakukan penelitian bebas sebagaimana seorang ilmuan, metodenya adalah setiap peserta didik dilibatkan dalam kelompok tertentu, setiap kelompok mempunyai tugas yang sesuai. Misalnya ada koordinator kelompok, pembimbing tekhnis, pencatat dan pengevaluasi data. 3) Inkuiri bebas yang dimodipikasi (modified free inquiry); pada inkuiry jenis ini guru hanya sebagai pemberi masalah atau peroblem, kemudian peserta didikdiminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.18

c. Langkah-Langkah Pelaksanaan Inkuiri Menurut Gulo sebagai mana yang dikutip Trianto menyatakan bahwa
Penelitian dan Pengembangan Pendidikan) h.19 17 Budi Eko Soetjipto, Penggunaan pengajaran Inkuiri di Sebuah Sekolah Dasar di Victoria, Australia, (Jurnal Pendidikan MIPA, Vol 6 No 2 th 2005) hal. 107 18 E. Mulyasa, Menjadi Guru Professional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005). Cet. 3, h 108

14

kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran inkuiry adalah sebagai berikut19. a) Mengajukan Pertanyaan atau Permasalahan. Kegiatan inkuiri dilaksanakan ketika pertanyaan atau permaslahan diajukan. Untuk meyakinkan pertanyaan sudah jelas, pertanyaan tersebut dituliskan dipapan tulis, kemudian siswa diminta untuk merumuskan hipotesis. b) Merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data. Untuk memudahakan proses ini, guru menanyakan kepada siswa gagasan mengenai hipotesis yang mungkin. Dari semua gagasan yang ada, dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan permasalahan yang diberikan. c) Mengumpulkan Data Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dapat berupa tabel, matrik, atau grafik. d) Analisis Data Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh. Faktor penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran ‘benar’ atau ‘salah’. Setelah memperoleh kesimpulan, dari data percobaan, siswa dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan.Bila ternyata hipotesis itu salah atau ditolak, siswa dapat menjelaskan sesuai dengan proses inkuiri yang telah dilakukannya. e) Membuat Kesimpulan Langkah penutup dari pembelajaran inkuiry adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang dieroleh siswa. Tahapan-tahapan yang harus dilakukan pada model inkuiri ditunjukkan pada Tabel 2.1 berikut ini.20 Tabel 2.1 Tahapan Pembelajaran Berbasis Masalah
19 Trianto, Op. Cit, h. 135 20 Trianto Op. Cit, h. 141

15

Tahap Tahap 1 Menyajikan pertanyaan atau masalah Tahap 2 Membuat hipotesis

Tingkah Laku Guru Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah, dan masalah dituliskan di papan tulis. Guru membagi siswa dalam kelompok Guru memberikan kesempatan pada siswauntuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memperioritaskan hipotesis mana yang menjadi

Tahap 3 Merancang percobaan

prioritas penyelidikan Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan. Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan.

Tahap 4 Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi Tahap 5 Mengumpulkan dan menganalisis data Tahap 6 Membuat kesimpulan

Guru memberikan kesempatan pada tiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul. Guru membimbing kesimpulan siswa dalam membuat

Agar penerapan strategi inkuiri dapat berhasil dengan baik, maka guru perlu memahami beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan dalam merancang inkuiri seperti disarankan oleh Keffer (2000) sebagaimna yang dikutif herfis antara lain sebagai berikut:21 1) Siswa harus dihadapkan dengan masalah-masalah yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan dan sumbernya bisa dari siswa sendiri maupun dari guru. Pada tahap awal, masalah yang akan dipecahkan sebaiknya
21 Herfis, op. cit.

16

terstruktur, tidak open-ended (ujung terbuka) dan jawabannya tidak bias. 2) Siswa harus diberi keyakinan bahwa mereka dapat menyelesaikan masalahnya. Dalam hal ini guru harus dapat menjadi fasilitator dan motivator bagi siswa. Siswa mungkin akan merasa kesulitan dan berputus asa pada saat mengalami hambatan jika tidak dibantu oleh guru. 3) Siswa harus memiliki informasi awal tentang masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, guru harus berperan dalam memberikan informasi pendukung baik dengan cara melibatkan siswa bekerja bersama guru atau diberikan saran tentang sumber-sumber dan wujud informasi yang dibutuhkan dan dapat dicari dan diperolehnya sendiri. 4) Siswa harus diberikan kesempatan melakukan sendiri dan mengevaluasi hasil kegiatannya. Guru memonitor kegiatan siswa dan memberi bantuan jika siswa betul-betul sudah tidak mampu memecahkan masalahnya. 5) Siswa diberikan waktu cukup untuk bekerja berdasarkan pendekatan baru secara individual maupun berkelompok dan perlu diberikan contoh yang tepat dan agar dapat membedakan contoh salah yang berkaitan dengan masalah. Untuk meningkatkan teknik inkuiri dapat ditimbulkan dengan kegiatankegiatan sebagai berikut22: 1) Membimbing kegiatan laboratorium. Guru menyediakan petunjuk yang cukup luas kepada siswa, dan sebagian besar perencanaannya dibuat oleh guru. Dimana siswa melakukan kegiatan percobaan/ penyelidikan untuk menemukan konsep-konsep atau perinsipprinsip yang telah ditetapkan guru. 2) Modifikasi inkuiri Dalam hal ini guru hanya menyediakan masalah-masalah, dan menyediakan bahan / alat yang diperlukan untuk memecahkan masalah secara perseorangan atau kelompok. Bantuan yang diberikan harus berupa pertanyaan-pertanyaan,
22 Drs. Isjoni, M.Si, dkk. Pembelajaran Visioner: Perpaduan Indonesia Malaysia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), Cet. I, h. 143-145

17

yang memungkinkan siswa dapat berpikir dan menemukan cara-cara penelitian yang tepat. 3) Kebebasan inkuiri Setelah siswa mempelajari dan mengerti tentang bagaimana memecahkan suatu problema dan memperoleh pengetahuan cukup tentang mata pelajaran tertentu; serta telah melakukan ”modifikasi inkuiri”, maka siswa telah siap untuk melakukan kegiatan kebebasan inkuiri. Dimana guru dapat mengundang siswa untuk melibatkan diri dalam kegiatan ”kebebasan inkuiri”, dan siswa dapat mengidentifikasi dan merumuskan macam-macam masalah yang akan dipelajari. 4) Inkuiri pendekatan peranan Siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah, yang cara-caranya serupa dengan cara-cara yang biasanya diikuti oleh para ”ilmiawan”. Suatu undangan memberikan suatu masalah kepada siswa, dan dengan pertanyaan yang telah direncanakan dengan teliti, mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan seperti: merancang eksperimen, merumuskan hipotesa, menetapkan pengawasan dan seterusnya. 5) Mengundang kedalam inkuiri Merupakan kegiatan proses belajar yang melibatkan siswa dalam tim-tim yang masing-masing terdiri dari 4 anggota untuk memecahkan masalah, masingmasing anggota diberi tugas suatu peranan yang berbeda-beda seperti: koordinator tim, penasehat teknis, mereka data, proses penilaian. Anggota tim menggambarkan peranan-peranan diatas, bekerjasama untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan topik yang akan dipelajari. 6) Teka-teki bergambar Adalah salah satu teknik untuk mengembangkan motivasi dan perhatian siswa didalam diskusi kelompok kecil/besar. Gambar, peragaan atau situasi yang sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara berpikir kritis dan kreatif siswa. 7) Synectics leson Pendekatan ini untuk menstimulir bakat-bakat kreatif siswa. Misalnya science

18

dan ilmu-ilmu sastra lebih lanjut dikatakan bahwa emosi, efektif, dan komponen-komponen arasional kreatif pada permulaannya adalah lebih penting dibandingkan dengan pikiran-pikiran rasional. Pada dasarnya ”synectics” memusatkan pada keterlibatan siswa untuk membuat berbagai macam bentuk kiasan agar supaya dapat membukainteligensinya dan mengembangkan daya kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan karena ”kiasan” dapat membantu dalam melepaskan ”ikatan struktur mental” yang melekat kuat dalam memandang suatu masalah sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif. 8) Kejelasan nilai-nilai Perlu diadakan evaluasi lebih lanjur tentang keuntungan-keuntungan pendekatan ini, terutama yang menyangkut sikap, nilai-nilai dan pembentukan ”self-concept” siswa. Ternyata dengan teknik inkuiri siswa melakukan tugastugas kognitif lebih baik.

d. Keunggulan dan Kelemahan Inkuiri Menurut Amin (1987) sebagaimana yang dikutip Herfis, inkuiri sebagai model pembelajaran memiliki beberapa keuntungan seperti:23 (a) mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, (b) menciptakan suasana akademik yang mendukung berlang-sungnya pembelajaran yang berpusat pada siswa, (c) membantu siswa mengembangkan konsep diri yang positif, (d) meningkatkan pengharapan sehingga siswa mengembangkan ide untuk menyelesaikan tugas dengan caranya sendiri, (e) mengembangkan bakat individual secara optimal, (f) menghindarikan siswa dari cara belajar menghafal. Model pembelajaran inkuiri memiliki keunggulan sebagai berikut24: a) Dapat membentuk dan mengembangkan “self-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang
23 Herfis, op. cit. 24 Dra. Roestiyah N.K. Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), Cet. 7, h. 76-77

19

konsep dasar dan ide-ide lebih baik. b) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang seru. c) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atau inisiatifnya sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka. d) Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri. e) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik. f) Situasi proses belajar menjadi merangsang. g) Dapat mengembangakan bakat atau kecakapan individu. h) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri. i) Dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar yang tradisional. j) Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. Adapun kelemahan dari metode pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut a) Metode inkuiri memerlukan waktu yang banyak sehingga tidak cocok digunakan di sekolah dengan jadwal yang kaku. b) Metode inkuiri tidak bisa digunakan pada semua bidang mata pelajaran. c) Siswa lebih suka dengan metode tradisional. d) Siswa tidak ingin terlibat dalam proses berpikir.

3. Metode Pembelajaran Konvensional a. Pengertian Metode konvensional yang digunakan sebagai kontrol dalam penelitian ini adalah metode ceramah, yang diselingi tanya jawab antara guru dengan siswa atau

20

sebaliknya. Metode ceramah merupakan salah satu metode yang konvensional yang masihdipergunakan dalam strategi belajar mengajar. Dan untuk menmgoptimalkan penggunaan metode ini sebagai kontrol perlu dipelajari karakteristik, kelebihan dan kelemahannya. Hasibun dan moejiono mengemukakan bahwa metode ceramah adalah cara penyampaian bahan dengan komunikasi lisan serta ekonomis dan efektif untuk keperluan penyempaian indormasi dan pengertian.25Armai Arief mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan metode ceramah adalah cara menyampaikan sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak ramai.26 Menurut Usman, metode ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan secara lisan oleh guru dimuka kelas.27 metode ceramah merupakan teknik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim dipakai oleh guru disekolah. Peran murid pada metode ceramah adalah sebagai penerima pesan, mendengarkan, memperhatikan dan mencatat keterangan-keterangan guru bila diperlukan. Dari pendapat para ahli diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan metode ceramah yaitu suatu teknik mengajar atau cara penyampaian informasi yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materimateri pelajaran kepada siswa secara lisan.

b. Langkah-langkah Penerapan Metode Ceramah langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam mengaplikasikan metode ceramah adalah sebagai berikut: 28 1. Langkah Persiapan Persiapan yang dimaksud disini adalah menjelaskan kepada siswa tentang
25 Hasibuan dan Moejiono, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Remaja Rosda Karya, 2004), h. 13 26 Dr. Armai Arief, M.A. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002) h. 135 27 Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pres, 2002), h. 34 28 Dr. Armai Arief, M.A Op. Cit. h. 137-138

21

tujuan pelajaran dan pokok-pokok masalah yang akan dibahas dalam pelajaran tersebut. Disamping itu, guru memperbanyak bahan appersepsi untuk membantu mereka memahami pelajaran yang akan disajikan. 2. Langkah Penyajian Pada tahap ini guru menyajikan bahan yang berkenaan dengan pokok-pokok masalah. 3. Langkah Generalisasi Dalam hal ini unsur yang samadan berlainan dihimpun untuk mendapatkan kesimpulan-kesimpulan mengenai pokok-pokok masalah. 4. Langkah Aplikasi Penggunaan Pada langkah ini kesimpulan atau konklusi yang diperoleh digunakan dalam berbagai situasi sehingga nyata makna kesimpulan itu. Ceramah sebagai metode pengajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari metode ceramah antara lain:29 1) Penggunaan waktu yang efisien. 2) Organisasi kelas lebih sederhana. 3) Dapat memberikan motivasi dan dorongan terhadap siswa dalam belajar; 4) Apabila penceramahan berhasil baik,dapat menimbulkan semangat, kreasi yang konstuktif, dan merangsang; 5) Fleksibel dalam penggunaan waktu dan bahan Menurut Hisyam Zaini dkk, menyebutkan kelebihan dari metode ceramah sebagai berikut:30

29 Basyiruddin Usman, Op. Cit. h. 34-35 30 Hisyam Zaini dkk, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008) h. 91

7

1) Praktis dari sisi persiap an dan media yang digunak an 2) Efisien dari segi waktu dan biaya. 3) Dapat menya mpaika n materi yang banyak. 4) Mendor ong dosen

mengua sai materi. 5) Lebih mudah mengon trol kelas. Peserta didik tidak perlu persiap an. 6) Peserta didik dapat langsun g meneri ma ilmu pengeta huan

7

Kelemahan metode ceramah sebagai berikut:31 1) membosankan 2) peserta didik tidak aktif. 3) Informasi hanya satu arah. 4) Feed back relatif rendah. 5) Menggurui dan melelahkan 6) Kurang melekat pada ingatan peserta didik. 7) Kurang terkendali, baik waktu maupun materi 8) Menonton. 9) Tidak mengembangkan kreativitas peserta didik. 10) Menjadikan peserta didik hanya sebagai ojek didik. 11) Tidak merangsang peserta didik untuk membaca. Kelemahan metode ceramah menurut Basyirudin Usman adalah: 32 2) guru seringkali mengalami kesulitan dalam mengukur kemampuan siswa sampai sejauh mana pemahaman mereka tentang materi yang diceramahkan; 3) siswa cenderung pasif dan sering keliru dalam menyimpulkan penjelasan guru; 4) bilamana guru menyampaikan bahan sebanyak-banyaknya dalam tempo terbatas, menimbulkan kesan pemaksaan terhadap kemampuan siswa; 5) Cenderung membosankan dan perhatian siswa berkurang, karena kabur. 4. Hasil Belajar Fisika a. Pengertian Belajar Belajar atau juga yang disebut dengan learning, adalah perubahan yang secara
31 Hisyam Zaini dkk, Ibid, h. 93-94 32 Basyiruddin Usman, Op. Cit, h. 35

guru

kurang

memperhatikan

faktor-faktor

psikologis siswa, sehingga bahan yang dijelaskan menjadi

8

relatif berlangsung lama pada prilaku yang diperoleh dari pengalamanpengalaman.33 Belajar merupakan proses orang memperoleh kecakapan, keterampilan, dan sikap34. Jadi belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Menurut pengertian ini, belajar adalah merupakan suatu proses kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory seperti yang dikutif oleh Syah, berpendapat bahwa Learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behavior. Artinya, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Jadi menurut Hintzman perubahan tingkah laku yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut, baru dapat dikatakan belajar apabila dapat mempengaruhi organisme.35 Menurut Syah, belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai proses belajar. 36 Belajar merupakan proses aktif pelajar untuk mengkonstruksikan arti teks, dialog, pengalaman fisis dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannnya dikembangkan. Proses tersebut antara lain bercirikan sebagai berikut: 1) Belajar membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi itu
33 Zikri Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan lingkungan, (jakarta: Kizi Brother’s, 2006) h. 76 34 Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2005) h.97 35 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), cet. Ke-9 h. 92 36 Muhibbin Syah, Ibid, h. 92

9

dipengaruhi oleh pengertian yang telah dipunyai. 2) Konstruksi arti adalah proses secara terus-menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah. 3) Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan suatu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan, melainkan perkembangan itu sendiri, suatu perkembangan yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang. 4) Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Belajar menurut Iskandarwassid bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku pada peserta didik akibat adanya interaksi antara individu dan lingkungannya melalui pengalaman dan latihan.37. Disini terlihat bahwa orang yang belajar adalah orang yang mengalami sendiri proses belajar. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Slameto yang menyatakan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.38 Dalam pengertian yang umum atau populer, belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal dengan guru. Perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu usaha seseorang dengan menggunakan potensi yang dimilikinya untuk mengadakan perubahan fisik, mental juga tingkah laku yang harus didukung
37 Iskandarwassid, Mpd. Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008) h. 5 38 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1995),Cet. Ke-3, h. 2

10

oleh lingkungannya. Oleh karenanya belajar merupakan kegiatan manusia yang terpenting dan harus dilakukan selama hidup, karena melalui belajar dapat melakukan perbaikan dalam berbagai hal yang menyangkut kepentingan hidup. Dengan kata lain, melalui belajar dapat memperbaiki nasib dan mencapai cita-cita yang didambakan. b. Pengertian Hasil Belajar Fisika Hasil belajar adalah puncak hasil belajar yang dapat mencerminkan hasil keberhasilan belajar siswa terhadap tujuan belajar yang telah ditetapkan. Hasil belajar siswa dapat meliputi aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (tingkah laku). Salah satu tes yang dapat melihat pencapaian hasil belajar sisiwa adalah dengan melakukan tes prestasi belajar. Tes hasil belajar yang dilaksanakan oleh siswa memiliki peranan penting, baik bagi guru ataupun bagi siswa yang bersangkutan. Bagi guru, tes prestasi belajar dapat mencerminkan sejauh mana materi pelajaran dalam proses belajar dapat diikuti dan diserap oleh siswa sebagai tujuan instruksional. Bagi siswa tes prestasi belajar bermanfaat untuk mengetahui sebagai mana kelemahan-kelemahannya dalam mengikuti pelajaran. Hasil belajar merupakan peristiwa yang bersifat internal dalam arti sesuatu yang terjadi dalam diri seseorang. Peristiwa tersebut dimulai dari adanya perubahan kognitif atau pengetahuan untuk kemudian berpengaruh pada prilaku. Dan perilaku belajar seseorang didasarkan pada tingkat pengethuan terhadap suatu yang dipelajari dapat diketahui melalui tes yang pada akhirnya memunculkan skor atau nilai belajar dalam bentuk riil. Dari berbagai pengertian yang ada dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa, etelah mengalami proses belajar mengajar dan ditandai dengan adanya perubahan kepandaian, kecakapan, dan tingkah laku pada siswa itu sendiri. Klasifikasi hasil belajar menurut Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya ke dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotoris.39 Ketiga ranah tersebut masing-masing memiliki beberapa tingkatan atau jenjang39 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2008), Cet. XI, hal. 22

11

jenjang. Penjelasannya adalah sebagai berikut: a. Kognitif Hasil belajar penguasaan materi (kognitif) bertujuan untuk mengukur penguasaan dan pemilihan konsep dasar keilmuan berupa materi-materi esensial sebagai konsep kunci dan prinsip utama. Ranah kognitif ini merupakan ranah yang lebih banyak melibatkan kegiatan mental/otak.40 Pada tahun 2001 Rin W. Anderson dan David R. Krathwohl merevisi taksonomi Bloom menjadi (1) remember, (2) understand, (3) apply, (4) analyze, (5) evaluate, dan (6) create.41 Akan tetapi saat ini taksonomi Bloom yang belum direvisi ini masih banyak digunakan oleh Kemampuan-kemampuan yang termasuk ke dalam domain kognitif oleh Bloom dkk yang belum direvisi ini, dikategorikan lebih terinci secara hierarkis ke dalam enam jenjang kemampuan, mulai dari yang tingkat rendah sampai tinggi, yakni: (1) pengetahuan/ingatan-knowledge, (2) pemahaman-comprehension, (3) penerapan-aplication, (4) analisis-analysis, (5) sintesis-synthesis, dan (6) evaluasievaluation. Jenjang kemampuan yang lebih tinggi sifatnya lebih kompleks, dan merupakan peningkatan dari jenjang kemampuan yang lebih rendah, penjelasannya adalah sebagai berikut: 1) Jenjang kemampuan ingatan/hafalan (recall)/C1 Jenjang ini didefinisikan sebagai proses mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya, mencakup fakta, rumus, konsep, prinsip, dan prosedur yang telah dipelajari. Pada jenjang ini, siswa dapat menggunakan kata kerja khusus seperti mengemukakan arti atau definisi suatu konsep, menamakan sesuatu, membuat daftar, memberi nama, mencocokan, menentukan lokasi, mendeskripsikan suatu konsep, menceritakan apa yang terjadi, ataupun menguraikan apa yang terjadi. 2) Jenjang kemapuan pemahaman (comprehention)/C2. Pada jenjang ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi yang dipelajarinya, misalnya dapat menafsirkan bagan, diagram atau
40Ahmad Sofyan, dkk., Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), Cet. I, h. 14. 41Ahmad Sofyan, dkk., Ibid, h. 14.

masyarakat pendidikan di negara kita.

12

grafik, menerjemahkan suatu pernyataan verbal ke dalam rumusan matematis, meramalkan berdasarkan kecenderungan tertentu (ekstrapolasi dan interpolasi) menjelaskan informasi yang diterima dengan kata-kata sendiri. 3) Jenjang kemampuan penerapan/aplikasi (application)/C3. Jenjang ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi, prinsip, aturan, atau metode yang telah dipelajari dalam situasi konkrit yang baru, seperti melakukan percobaan, membuat peta, membuat model, menghitung kebutuhan, dan merancang strategi. Biasanya menggunakan kata kerja khusus seperti mengubah, menghitung, mendemonstrasikan, memecahkan masalah, meramalkan dan sebagainya. 4) Jenjang kemampuan analisis (analysis)/C4. Jenjang ini didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk menguraikan suatu materi ke dalam bagian-bagiannya, atau menguraikan suatu informasi yang dihadapi menjadi komponen-komponennya sehingga struktur informasi serta hubungan antara komponen informasi tersebut menjadi jelas. Misalnya siswa dapat menggunakan kata kerja khusus seperti menguraikan, menarik kesimpulan, mengkaji ulang, mengidentifikasi, membuat diagram, menghubungkan, dll. 5) Jenjang kemampuan sintesis (synthesis)/C5. Jenjang ini merupakan kemampuan untuk menggabungkan bagian-bagian yang terpisah menjadi suatu keseluruhan yang terpadu. Termasuk ke dalamnya kemampuan merencanakan eksperimen, menyusun karangan, menyusun cara baru untuk mengklasifikasikan objek-objek, peristiwa, dan informasi lainnya. Kata kerja khusus yang digunakan mencipta seperti menggolong-golongkan, suatu rencana), menggabungkan, menyususun, (memikirkan

menceritakan dan sebagainya. 6) Jenjang kemampuan evaluasi (evaluation)/C6. Jenjang ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempertimbangkan nilai suatu materi (pernyataan, uraian, pekerjaan) berdasarkan kriteria tertentu yang ditetapkan. Pada jenjang ini, kata kerja khusus yang digunakan umumnya

13

seperti memberi nilai, memperbandingkan, menyimpulkan, mengkritik, mempertentangkan, mempertimbangkan kebenaran dan sebagainya. Untuk menilai atau mengukur aspek penguasaan materi (kognitif) ini digunakan bentuk tes, yang dapat mengukur keenam tingkatan tersebut.42 b. Afektif Hasil belajar proses yang berkaitan dengan sikap dan nilai, berorientasi pada penguasaan dan pemilihan kecakapan proses atau metode. Tipe hasil belajar afektif akan tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku, seperti perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial.43 Meurut Moh. Uzer Usman, hasil belajar afektif terbagi dalam lima kategori yaitu:44 1) Penerimaan Mengacu kepada kesukarelaan dan kemampuan memperhatikan dan memberikan respons terhadap stimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif. 2) Pemberian respons Satu tingkat diatas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi tersangkut secara aktif, menjadi peserta, dan tertarik. 3) Penilaian Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak, atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi sikap dan apresiasi. 4) Pengorganisasian Mengacu kepada penyatuan nilai. Sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkahlaku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.
42 Ahmad Sofyan, dkk., Ibid, hal. 15 43 Nana Sudjana, Op. Cit, h. 30 44Drs. Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya). Hal. 35-36

14

5) Karakterisasi Mengacu lepada karakter dan gaya hidup seseorang. Nilai-nilai sangat berkembang dengan teratur sehingga tingkahlaku menjadi lebih konsisten dan lebimudadiperkirakan. Tujuan dalam kategori ini bisa ada hubungannya dengan ketentuan pribadi, sosial, dan emosi siswa. Untuk menilai aspek atau mengukur hasil belajar ini dapat digunakan instrumen evaluasi yang bersifat nontes, misalnya: kuesioner dan observasi. c. Psikomotor Hasil belajar ini merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar. Simpson dalam Sofyan, menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan bertindak individu.45

Terdapat enam tingkatan keterampilan (skill) yaitu: 1) Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar). 2) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar. 3) Kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motoris dan lain-lain. 4) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan ketepatan. 5) Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan yang sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks. 6) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.46 Selain itu Dave dalam Uzer Usman, mengklasifikasikan domain psikomotor ke dalam lima kategori, yaitu:47 1) Peniruan Terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa
45Ahmad Sofyan, dkk., Op. Cit, h. 23 46 Nana Sudjana, Op. Cit, h. 30-31 47Drs. Moh. Uzer Usman, Op. Cit. h. 35-36

15

dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot syaraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna. 2) Manipulasi Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkahlaku saja. 3) Ketetapan Memerlukan kecermatan, proporsi, dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respons-respons lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum. 4) Artikulasi Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepatdan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal diantara gerakangerakan yang berbeda. 5) Pengalamiahan Menuntut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik. Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penelitian ini yang dimaksud hasil belajar fisika siswa adalah pengetahuan yang dicapai siswa pada mata pelajaran fisika setelah mengalami proses pengajaran disekolah dari hasil tes atau ujian yang diberikan setelah melewati proses belajar pada akhir materi. Asumsinya adalah pengetahuan yang diajarkan oleh guru pada mata pelajaran fisika dapat diserap secara optimal oleh siswa sehingga hasil belajar siswa dapat menggambarkan hasil pengajaran. c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Aktivitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung wajar. Kadang-kadang lancar dan kadang-kadang tidak, kadang-kadang cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal

16

semangat kadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Demikian diantara kenyataan yang sering kita jumpa pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar mengajar. Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar dari dalam diri orang yang belajar dan ada pula dari luar dirinya. Zikri Neni dalam bukunya menjelaskan bahwa hasil belajar disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal.48 Hal tersebut serupa dengan Ngalim Purwanto pun membagi faktor yang mempengaruhi proses dan prestasi belajar menjadi dua, yaitu:49 1) Fakor yang ada pada diri organizme itu sendiri yang kita sebut faktor individual, dan 2) Faktor yang ada diluar individu yang kita sebut faktor sosial. Jadi, secara umum, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan prestasi belajar terbagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Berikut ini penulis akan menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan kedua faktor tersebut. 1) Faktor Internal Faktor Internal adalah faktor yang ada dalam diri seseorang dalam hal ini dalam diri siswa. Faktor ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu:50 a) Faktor Fisiologis Faktor ini ditinjau berdasarkan keadaan jasmani. Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusingpusing kepala misalnya, dapat menurunkan ranah cipta kognitif sehingga materi yang dipelajarinya kurang atau tidak berbekas. Jadi orang yang sehat akan berbeda dengan pengaruhnya terhadap belajar dibandingkan dengan jasmani yang kurang sehat. Kondisi fisiologi siswa terdiri atas
48 Zikri Neni Iska, Op. Cit, hal. 85 49 Nglim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bamdung: PT Remaja Rosdakarya, 1990), Cet. 5, hal. 102 50 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), Cet. 1, hal.131-138

17

kondisi kesehatan dan kebugaran fisik serta kondisi panca inderanya, terutama sekali indera penglihatan dan pendengaran. Apabila seseorang siswa memiliki kondisi fisiologi yang kurang baik seperti indera pendengaran dan penglihatannya kurang baik, maka hampir dapat dipastikan siswa tersebut akan mengalami kesulitan dalam belajar, sebagaimana telah disebutkan pada awal penulisan. Jika hal tersebut tidak segera di tindak lanjuti maka akan berpengaruh terhadap prestasi belajar yang akan diperoleh siswa tersebut. b) Faktor Psikologis Muhibbin Syah dalam bukunya Psikologi belajar menyebutkan, yang termasuk ke dalam faktor psikologis diantaranya adalah: motivasi, minat, dan bakat. Apabila seseorang memiliki motivasi, minat, dan bakat maka ia akan terpacu untuk terus belajar. Dengan kata lain ia memiliki semangat yang luar biasa untuk terus belajar. Akan tetapi sebaliknya apabila keadaan individunya seperti kurang sehat, gangguan pada inderanya, dan lain-lain, maka hal tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi kegiatan belajarnya. 2) Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor ini terdiri dari faktor-faktor lingkungan dan faktor-faktor Intsrumental.51 a) Faktor-Faktor Lingkungan Faktor lingkungan ini dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu : 52 1) Lingkungan Sosial Faktor linkingan sosial juga bisa berwujud manusia dan reprentasinya termasuk budayanya akan mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar siswa. Lingungan sekolah seperti guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukan sikap dan prilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan Selanjutnya juga yang termasuk lingkungan sosial siswa adalah masyarakat
51Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan berdasarkan Kurikulum Nasional, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet. 2, h. 59 52 Muhibbin Syah, op.cit, hal.138

berdiskusi, dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa.

18

dan tetangga serta teman-teman sepermainan disekitar perkampungan siswa tersebut. Kondisi masarakat dilingkungan kumuh yang serba kekurangan dan anakanak penganggur misalnya akan sangat mempengaruhi aktifitas belajar siswa. Paling tidak siswa tersebut akan menemukan kesulitan ketika memerlukan teman belajar atau berdiskusi atau meminjam alat- alat belajar tertentu yang kebetulan belum dimiliki. 2) Lingkungan Non Sosial Lingkungan non sosial yang dimaksud adalah hal-hal yang dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa yang tak terhitung jumlahnya misalnya: keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi, siang atau malam), gedung sekolah dan letaknya, alat-alat sekolah yang digunakan siswa untuk belajar, tempat tinggal siswa dan letak tempat tinggal tersebut.53 b) Faktor-Faktor Instrumental Faktor Instrumental ini terdiri dari gedung/sarana fisik kelas, sarana/alat pengajaran, guru, dan kurikulum/materi pelajaran serta strategi belajar mengajar yang digunakan akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.54 Banyak psikolog beranggapan bahwa belajar merupakan suatu proses yang asosiatif, yaitu asosiasi atau koneksi antara suatu rangsang tertentu. 5. Gerak Lurus a. Jarak Jarak merupakan panjang lintasan yang ditempuh oleh suatu benda dalam selang waktu tertentu. Jarak juga bisa menyatakan posisi suatu benda terhadap titik acuan tertentu. Contoh… Rumah seorang siswa berjarak 50 meter dari sekolah. Atau rumah saya berjarak 100 meter dari sekolah. Jarak termasuk besaran skalar, di mana tidak bergantung pada arah dan nilainya selalu positif. Sebagai contoh. dari rumah, saya mengendarai sepeda motor menuju utara sejauh 100 meter, lalu kembali ke selatan sejauh 50 meter menuju rumah teman. Jika dihitung maka jarak tempuh saya = 150 meter. Jika digambarkan dalam koordinat kartesius maka akan
53 Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2002), Cet. 11, h.232 54 Alisuf Sabri, op.cit., h. 59

19

tampak sebagai berikut :

b. Perpindahan Berbeda dengan jarak, perpindahan termasuk besaran vektor sehingga arah juga berpengaruh. Kita pakai contoh di atas saja ya…. dari rumah, saya mengendarai sepeda motor menuju utara sejauh 100 meter, lalu kembali ke selatan sejauh 50 meter menuju rumah teman. Berapa perpindahan saya ? Jika dihitung maka perpindahan saya = 50 meter. alasannya karena kedudukan saya hanya sebesar 50 meter jika diukur dari titik acuan (rumah). Untuk memperjelas, perhatikan gambar di bawah.

Kalau saya terus bergerak menuju ke rumah, maka perpindahan saya = 0, karena kedudukan saya tetap alias tidak berubah (kedudukan awal = kedudukan akhir) c. Kelajuan Kelajuan merupakan salah satu besaran turunan yang tidak bergantung pada arah, sehingga kelajuan termasuk skalar. Misalnya begini... ketika saya mengatakan ”sepeda motor yang saya kendarai bergerak 60 km/jam”, maka yang saya maksudkan di sini adalah kelajuan. Saya tidak perlu arah untuk menyatakan kelajuan. Kelajuan merupakan besaran skalar, sehingga arah tidak berpengaruh. Karena arah tidak berpengaruh maka kelajuan selalu bernilai positif. d. Kecepatan

20

Kecepatan merupakan besaran vektor, di mana arah turut mempengaruhi nilai kecepatan. Misalnya jika ditetapkan arah ke timur sebagai arah positif maka nilai kecepatan gerak benda ke arah timur ditambahkan tanda + di depannya. Apabila ke arah barat, nilai kecepatan gerak benda ditambah tanda ‐ . Sebagai contoh, sebuah mobil bergerak 60 km/jam ke timur, maka dalam penulisannya cukup ditulis 60 km/jam. Apabila mobil bergerak 60 km/jam ke arah barat, kecepatan mobil tersebut cukup ditulis ‐60 km/jam. e. Kecepatan Rata-rata Kecepatan rata-rata merupakan total perubahan kedudukan suatu benda selama selang waktu tertentu. Jika dinyatakan secara matematis, kecepatan rata-rata suatu benda yang bergerak didefinisikan sebagai perpindahan yang ditempuh benda dibagi waktu tempuh. Secara matematis ditulis : kecepa tan rata − rata = v= ∆s ∆t f. Percepatan Misalnya sebuah mobil sedang dalam keadaan diam. Ketika mobil yang pada mulanya diam mulai bergerak dengan kecepatan tertentu, maka mobil tadi dikatakan mengalami percepatan. Percepatan = perubahan kecepatan. Ketika masih diam, kecepatan mobil = 0. Ketika bergerak, mobil memiliki kecepatan tertentu. Karena kecepatan mobil berubah dari diam (kecepatan = 0) menjadi bergerak (mobil memiliki kecepatan), maka mobil tersebut dikatakan mengalami percepatan. Apabila kecepatan mobil ditambah (kecepatan bertambah), maka mobil tersebut juga mengalami percepatan. Percepatan bernilai positif jika kecepatan mobil bertambah. 1. Gerak Lurus Beraturan (GLB) Gerak lurus = gerakan pada lintasan lurus. Tapi jika ditambahkan kata “Beraturan”, maka maknanya sudah berbeda. Kalian mungkin bisa mengartikannya perpindahan waktutempuh

v = kecepatan, s = perpindahan dan t = waktu tempuh

21

sebagai gerak pada lintasan lurus yang terjadi secara teratur. Ingat bahwa ketika sebuah benda bergerak, benda tersebut pasti memiliki kelajuan atau kecepatan. Ketika sebuah benda bergerak lurus dengan laju atau kecepatan tetap, maka benda tersebut dikatakan melakukan Gerak Lurus Beraturan. Jadi yang dimaksudkan oleh kata “beraturan” adalah kecepatan atau kelajuan gerak benda. Yang teratur adalah kecepatannya. Karena pada Gerak Lurus Beraturan (GLB) kecepatan gerak benda tetap, maka kecepatan rata‐rata sama dengan kecepatan atau kelajuan sesaat. Ingat bahwa setiap saat kecepatan gerak benda tetap, baik kecepatan awal mapun kecepatan akhir. Karena kecepatan benda sama setiap saat, maka kecepatan awal juga sama dengan kecepatan akhir. Dengan demikian kecepatan rata‐rata benda juga sama dengan kecepatan sesaat. Pada GLB hanya ada rumus kecepatan. kecepa tan rata − rata = v= ∆s ∆t perpindahan waktutempuh

v = kecepatan, s = jarak dan t = waktu tempuh Konsep fisika bisa dinyatakan secara matematika melalui rumus. selain rumus, kita juga bisa menyatakan suatu konsep fisika melalui grafik (gambar). Hanya dengan membaca grafik, kita langsung paham maksudnya. Ada beberapa grafik dalam GLB, antara lain : Grafik Kecepatan terhadap Waktu (V-t)

Coba pahami konsep di atas, dan berusaha untuk baca grafik ini… kalau anda paham konsep, maka anda bisa membaca grafik ini dengan mudah. Grafik jarak atau perpindahan terhadap waktu (s-t)

22

Grafik ini hanya menunjukan hubungan antara besaran Kecepatan dan Jarak (atau perpindahan) dengan waktu tempuh.

2.2.Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) Setiap benda yang bergerak pasti memiliki kecepatan. Apabila kecepatan sebuah benda berubah secara teratur ketika bergerak pada lintasan lurus, maka benda tersebut dikatakan melakukan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB). Jadi yang berubah secara teratur di sini adalah kecepatan benda tersebut. Contohnya sebuah mobil pada mulanya diam. Setelah satu menit, mobil tersebut bergerak dengan kecepatan 10 km/jam. Setelah 2 menit, mobil bergerak dengan kecepatan 20 km/jam. Setelah 3 menit, mobil bergerak dengan kecepatan 30 km/jam. Kecepatan mobil menjadi 40 km/jam setelah 4 menit. Lalu 50 km/jam setelah 5 menit. Ingat bahwa setiap menit kecepatan mobil bertambah 10 km/jam. Jadi kecepatan mobil tersebut meningkat secara teratur. Dengan kata lain, mobil mengalami perubahan kecepatan secara teratur. Dalam ilmu fisika, perubahan kecepatan = percepatan. Ketika kecepatan mobil bertambah secara teratur, misalnya untuk contoh di atas kecepatan mobil bertambah 10 km/jam setiap 1 menit, maka mobil tersebut dikatakan memiliki percepatan tetap. Percepatan bernilai negatif jika mobil mengalami pengurangan kecepatan. Kadang, percepatan negatif disebut juga sebagai perlambatan. perlambatan = pengurangan kecepatan. Ketika kecepatan mobil berkurang secara teratur maka mobil tersebut dikatakan mengalami perlambatan tetap. Persamaan GLBB Persamaan 1 : Hubungan antara kecepatan awal (vt) dengan kecepatan awal (vo), percepatan (a) dan waktu (t). vt = vo + at

23

Persamaan 2 : Hubungan antara jarak tempuh dengan kecepatan awal (vo), waktu (t) dan percepatan (a) s = vot + ½ at2 Apabila benda mengalami pertambahan kecepatan maka percepatan bernilai positif (a). jika benda mengalami pengurangan kecepatan maka percepatannya bernilai negatif (‐a). disebut juga perlambatan. Apabila benda mengalami perlambatan, rumus di atas bisa ditulis menjadi : s = vot ‐ ½ at2 Persamaan 3 : Hubungan antara kecepatan akhir (vt) dengan kecepatan awal (vo), percepatan (a) dan jarak (t). vt2 = vo2 + 2as Keterangan : vt = kecepatan akhir, vo = kecepatan awal, a = percepatan, s = jarak Grafik Kecepatan dan Waktu (v-t) Grafik ini menjelaskan hubungan antara kecepatan benda dengan selang waktu tempuh. Ada dua bentuk umum grafik v‐t : Pertama, benda mengalami percepatan Grafik v‐t untuk kecepatan awal (vo) = 0 0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b02000 00000050000000c028a038806040000002e0118001c000000fb02100007000000000 0bc02000000000102022253797374656d0003880600004b810000ac5d110004ee833 91828b3020c020000040000002d0100000400ignoregroupLeft0groupTop0groupRig ht4005groupBottom2580fFlipH0fFlipV0fLockRotation0fLockAspectRatio1fLockP osition0lidRegroup0posh0posrelh3posv0posrelv3fLayoutInCell1fAllowOverlap15c 712b7ba04df0b87dfb367d0ce9ab5a70966fa07270c6aacb4f8855f010a052361a7d5e 0e95906cbc6a25f16e7da3db040ffc1b084ee7cf9f873f7cf8c31f7ef6d9679f7efa696c b88f3ffef8abafbeba67cf1eeed36398ad38b6beebf21bbadf03ad81075213b6dabd7bf7 3ef9e49308515ff8c217f0039e3b77ee5f568fe3c78f3356783f602028eb83adbadd1fd 5fc8535f5406be081d474f9f265be1a59e8dbdffef6534f3d75e6cc19fe3c75ead43df7d ca3c4b57fff7ec42a24256d59f9c83d30640fb4c62d886a01f5cfcecec23afefce73f3ffcf 0c33ffef18f9f79e699071e78e0a1871e42c3061ec85714e33c64a7e4c7730fd803ade1 1e6083e62238e1d600008f3cf2c8b7bef5ad0b172ec03ab4cca299a087c03d32ebc8c4 5d570fb4061e7c308e3fa87ff7eedd40e51bdff8c64f7ef293c3870fdf7befbd885b6006 2b16c000214628e623f7c0f03dd01ae18a4f45c1d0620baf00129ffffce7bff39defa094 a3887b9f9b06abe700f5e12923d7d0a3a8ce388cf910180b0c04a84484621e637a006

24

25

26

27

28

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->