Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. e. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. baik dan buruk. dan antropologi. Hk.Doc. yaitu metafisika. filsafat berdasarkan pikiran belaka. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Dengan kata lain. Di sisi lain. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. Citra Aditya Bakti. 6 . sedangkan agama berdasarkan wahyu.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. dan sebagainya./Univ. etika. pikiran belaka. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. kebajikan. Pada agama. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama./Modul/Fils. Penerbit PT. Bandung. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. karena agama merupakan sesuatu yang ada. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Lili Rasjidi. d. Di satu sisi. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. 1990. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. Narotama Surabaya/V/2005 4 c. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. halaman 5. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. agama. misalnya: Tuhan.

Dalam realitas. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Narotama Surabaya/V/2005 5 2. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula./Modul/Fils. dengan kata lain objek filsafat itu ada. Segala sesuatunya itu ada. Ada menjadi dasar dari segala yang ada.Doc. misalnya sifat-sifatnya. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. yang hendak dicari . yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. yaitu: a. Berdasarkan Objek. Hk. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Dengan demikian. terdapat bermacam-macam hal. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. yang lazim disebut sebagai Theodicea. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. kemampuannya. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. Jadi. Oleh karena itu. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. maka harus diselidiki sifat-sifatnya./Univ.

namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. apakah sebenarnya itu.Doc. apa pendorong hidupnya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. dan lain-lain. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. apakah hubungannya satu sama lain. yaitu: manusia. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. apakah kemampuan-kemampuannya. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya./Univ. seperti: apakah manusia itu sebenarnya./Modul/Fils. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. karena ada-nya tidak dengan niscaya. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. apakah isi alam pada umumnya. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur . b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia.

dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. Hk. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. dan itu dilakukan oleh subjeknya. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. b. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam.Doc. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. yaitu manusia. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal./Univ. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . serta putusan-putusan./Modul/Fils. jalan pikiran. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. Namun. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). dalam bekerjanya budi. Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. seperti: pengertian.

setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. Sehingga. Menurut Objek: Ada-umum (fils. Jadi. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. kosmologia./Univ. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a. theodicea) Alam (filsafat alam. secara garis besar. tingkah laku (ethica) . 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. Hk. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. dan sebagainya. Oleh karena itu. ada-umum. dan anthropologia). 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. indah lawan jelek. Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. theodicea. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria).Doc. kosmologia) Fils. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak./Modul/Fils. ontologia. baik lawan buruk.

ketertiban. 1988. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. budi (logika mayor & minor) b. Hk. Penerbit Liberty. Suatu Pengantar.Doc. 7 . terciptalah 4 (empat) kaedah/norma.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. Remaja Rosdakarya./Modul/Fils. Bandung. Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. kaedah sopan santun (adat). Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. Penerbit PT. Apakah Hukum Itu?. halaman 5.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. kaedah kesusilaan. dan kesejahteraan. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan./Univ. 1991. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. dan kaedah hukum. Yogyakarta. 8 Sudikno Mertokusumo. halaman 31. Mengenal Hukum. Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3.

berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. b. berasal dari masyarakat secara resmi./Modul/Fils. c. termasuk mengatur pemerintahan. Dari segi daya kerja. Sebagai contoh pertama. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. Op. e. Kedua. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. pada Zaman Pertengahan. pada zaman Romawi. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. Hk. agar jangan sampai jatuh korban.. halaman 29-30.Doc. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. . yaitu:9 Lex Aeterna. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. misalnya saja Thomas Aquino. Dari segi tujuan. Dari segi sanksi. Lex Naturalis. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan./Univ. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. Lex Divina. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. Dari segi asal-usul. Tentu saja. Ketiga. d. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. membebani kewajiban dan memberikan hak. Cit. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. Dari segi isi. untuk ketertiban masyarakat.

Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. 1988. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. Cit. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum.. Rasionya. Dengan kata lain. 10 . Bandung. halaman 10. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. halaman 4. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Pada masa ini. Citra Aditya Bakti. Di samping itu. Hk./Univ. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Jadi. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. Penerbit PT. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. seperti Carl von Savigny dan Puchta. Dengan demikian. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat./Modul/Fils.10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Op. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. 3. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.

J. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan.M. Sedangkan D./Modul/Fils. halaman 5. Sementara itu./Univ.H. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. kebahagiaan. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat.Doc. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Semarang. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. J. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). 1997. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen.11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. dan tata tertib dalam masyarakat. Hk. 11 . Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. J.

Jakarta. Jakarta. Lili. Yogyakarta. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Poedjawijatna.R. I. 1990.. Darji & Shidarta. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Bandung. Mertokusumo. Sastrosoehardjo. Jujun S. Penerbit PT. Penerbit PT. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Suriasumantri. Universitas Diponegoro. Gramedia Pustaka Utama. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Apakah Hukum Itu?. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Hk. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit Liberty. Semarang. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.. 1998. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum.Doc. Sebuah Pengantar Populer. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Penerbit PT. Sudikno. Filsafat Ilmu./Univ. 1990. 1991. Penerbit Rineka Cipta. . ________________. 1997. Soehardjo. Jakarta. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Citra Aditya Bakti. Filsafat Hukum. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1988./Modul/Fils. 1995. Dengan kata lain. Suatu Pengantar. Bandung. Mengenal Hukum. Remaja Rosdakarya. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Rasjidi.

Plato. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Gramedia Pustaka Utama. sekarang. Parmenides. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). antara lain: Anaximander. 1. Jakarta. 3. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Socrates. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. halaman 70-71. Hk. dan masa depan. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. 1995. dan Aristoteles. Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. 1 . dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. 2.Doc. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Penerbit PT./Modul/Fils. 4./Univ. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Herakleitos. Herakleitos (540-475 SM).

terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Dalam mempertahankan pendapatnya. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang.Doc. ukuran. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. Yogyakarta. Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Logos menciptakan bentuk . tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Dengan kata lain. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. 2 ./Univ. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. maka timbullah keadilan (dike). bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Sementara itu. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. Penerbit Kanisius. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. Hk. halaman 20). sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati./Modul/Fils.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Apabila hal ini terjadi. Tetapi jelas baginya. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya.

kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. . Meskipun demikian. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. karena hubungannya dengan aturan alam. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno)./Modul/Fils. yakni hukum alam dan hukum positif. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Oleh karena itu. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Misalnya. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Aristoteles. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Menurut Aristoteles. yakni undang-undang negara. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum.Doc. Hk. sehingga hukum tidak pernah berubah./Univ. Oleh karena itu. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Menurut Aristoteles. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. Dari gagasan Aristoteles ini.

yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. Penerbit PT. Hk. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. 3 . Dengan kata lain. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini.Doc. 2. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. bukan menurut hukum positif. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Bandung. halaman 13. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Dalam perkembangannya. Citra Aditya Bakti. menurut Stoisisme. 1990. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum./Univ. Oleh karena itu. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania./Modul/Fils.

/Modul/Fils. Cit. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). . Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. John Locke (1632-1704). 3. lahirnya segala macam ilmu baru..J. Wolf (1679-1754). yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. 4. berdirinya negara-negara baru. Hk.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. dan hukum positif (Lex Positivis). Samuel Pufendorf (1632-1694).Doc. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. Francis Bacon (1561-1626). sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. Rousseau (17121778)./Univ. perkembangan teknologi yang sangat pesat. Montesquieu (1689-1755). dan sebagainya. ditemukannya dunia-dunia baru. Thomas Hobbes (1588-1679). Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. Rene Descartes (1596-1650). Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). halaman 39. J. Thomasius (1655-1728). antara lain: William Occam (1290-1350). Op. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. George Berkeley (1685-1753). David Hume (17111776). dan Immanuel Kant (1724-1804). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina).

artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. halaman 37. Di samping Marx dan Engels. seperti J. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel./Univ. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Karl Marx (18181883). Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Menurut Hegel. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian.. Menurut teori dialektika Hagel.J. masih ada beberapa ahli pikir lain. seperti Hobbes.F./Modul/Fils.W. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat.Doc. Fichte (1762-1814) dan F. Hk. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. . Teorinya disebut Dialektika. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. yaitu akan menjadi. Op. Schelling (1775-1854). Namun. seperti Hegel (1770-1831). ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Cit.

dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Modern Z. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta./Modul/Fils. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4. Occam Hegel R. Op. Bacon Wolf Montesquieu J. Pertengahan Z.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Hk.J./Univ. halaman 82. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6. Hume F. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah.Doc. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3. . Yunani (Kuno) Z. Herakleitos. Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Hobbes Schelling J. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. Latihan Soal 1. Descartes Fichte T. Cit.. Rousseau Immanuel Kant 5. Berkeley D. Locke von Savigny G. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W.

Bandung. Hk. 1993. Citra Aditya Bakti. Jakarta.Doc. . Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Gramedia Pustaka Utama. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Modul/Fils. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Huijbers. Rasjidi. Penerbit Kanisius. Penerbit PT. Penerbit PT. Yogyakarta. Theo. 1995./Univ. 1990. Darji & Shidarta. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Lili.

1990.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran. Alian Positivisme. Aliran Legal Realism. Northrop dan Lili Rasjidi. antara lain F.Doc. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. d. b. c. d. Pragmatic Legal Realism. e. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 1 . Penerbit PT. Legal Positivism. halaman 26-27. f. yaitu: a./Univ. yaitu: a./Modul/Fils. Aliran Hukum Positif. yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana. Lili Rasjidi. 1. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. Aliran Utilitarianisme. g. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Naturalistic Jurisprudence. Hk.G.S. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. 2. e. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. b. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Citra Aditya Bakti Bandung. c. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1. Aliran Sociological Jurisprudence. Aliran Sejarah. Aliran Hukum Alam.

Semarang. Aliran Ajaran Hukum Umum. Aliran Neo Kantianisme./Modul/Fils. Aliran Realisme Hukum. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama./Univ. f. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). 2) Yang Rasional. c. f. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab. Aliran Sosiologi Hukum. halaman 1. Aliran Utilitarianisme. Aliran Positivisme. d. Aliran Hukum Bebas. masing-masing: a. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1997. Aliran Sejarah. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. i. d. Sociological Jurisprudence. e. Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. Madzhab Sejarah. g. b. c. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. Hk.Doc. yaitu:2 a. e. 2 . 2) Murni. Universitas Diponegoro. h. Soehardjo Sastrosoehardjo. b. Pragmatic Legal Realism. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Penerbit PT. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran. seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran. hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta. 1995. halaman 102.Doc. sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino). bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. yaitu: a) Lex Aeterna. Piere Dubois. 3 . Hk. Jakarta. Menurut Friedman. yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. dan John Wyclife. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. Marsilius Padua. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia./Univ. John Salisbury. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua). b) Lex Divina. hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia./Modul/Fils. d) Lex Posistivis. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. Daante. Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Gramedia Pustaka Utama. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. c) Lex Naaturalis. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.

c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. dan Samuel Pufendorf. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja. b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. 1) Rasional: Sebaliknya. sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil./Modul/Fils. buruk atau jahat dan baik atau jujur. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia. manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal. William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. Christian Thomasius. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius). sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. Hk. Immanuel Kant. ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut.Doc. antara lain: Hugo de Groot (Grotius)./Univ. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. sehingga rasio . Penulis lain.

Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). Op. rasa. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan.4 Metode kritis tidak skeptis.Doc. yaitu cipta. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia.. . Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). and feeling). volition. lawan dari filsafat dogmatis. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. tidak dogmatis (trancendental). Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). halaman 12. Cit. Hk. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum./Modul/Fils. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi)./Univ. dan karsa (thinking. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya.

Bagi Hegel. antitesa. . Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. What is reasonable is real. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang./Modul/Fils. b. Di Inggris. yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. and what is real is reasonable). Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. demikan juga dengan hukum. yaitu Analytical Jurisprudence. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. das ist vernunftig. Jadi. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. Hk. berkembang bentuk yang agak lain. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara.Doc./Univ. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. das ist wirklich ist. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. Austin membagi hukum atas 2 hal.

Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. seperti: undang-undang. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. sejarah. etika. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya./Modul/Fils. dan sebagainya. contoh hak wali terhadap perwaliannya. 2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . Menurut ajaran tersebut. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. Hk. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). sosiologi. di dalamnya terkandung perintah. dan kedaulatan. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. sanksi. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. dalam hukum yang nyata pada point pertama. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum.Doc. peraturan pemerintah. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. Idealisme hukum ditolak sama sekali. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. dan sebagainya. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. kewajiban. Menurut Austin./Univ.

halaman 43. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi..Doc. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Hk. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. . f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. etiika atau agama. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. Op. bukan karsa dan rasa. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896)./Univ. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. e) Teori hukum adalah formal. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. bukan masalah apa yang dikehendaki. c) Hukum adalah ilmu normatif. masalah cipta. Cit. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum./Modul/Fils. d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal.

q. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. Hk. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. hubungan hukum. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). objek hukum. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. menurut hukum (rechtmatigeheid). Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. secara positif. verbinden.Doc. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. dan melawan hukum./Univ. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). c. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. hukum kodrat gaya baru. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. kekuasaan hukum. penundukan hukum. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. John Stuart Mill (1806-1873). yaitu: subjek hukum. mengikat. Manusia selalu berusaha . dan Rudolf von Jhering (1818-1889). yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen).q. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. dasar hukum. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum./Modul/Fils.

Oleh karena itu. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan./Univ. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. d. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Dengan kata lain. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya./Modul/Fils. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. Pada hakekatnya. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. jikas tidak demikian. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. untuk memelihara kegunaan. Hk. dan positivisme hukum dari John Austin. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. Mill. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Bagi Jhering. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846).Doc. Dalam mendefinisikan kepentingan. ia mengikuti Bentham.

namun ia akan mati. Hk. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. berkembang bersama dengan rakyat. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat. 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. bilden sich aus mit diesem. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis./Modul/Fils.Doc. 2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. Sedang Puchta. . es wachst mit dem volke vort. berupa adat-istiadat. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat.

1993. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Di lain pihak. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. halaman 120-121.Doc. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. e. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Penerbit Kanisius. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara./Modul/Fils.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. 6 . Lebih lanjut. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. Hk. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. Menurut Puchta. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. Yogyakarta. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun./Univ. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum.

cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. Sociological jurisprudence./Univ. Eugen Ehrlich. Hk. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Benjamin Cardozo. . Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. halaman 47. antara lain: Roscoe Pound. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Kontorowics. Aliran ini berkembang di Amerika. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi.. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Op. Cit. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Gurvitch dan lain-lain. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial.Doc. Dengan rasio demikian.

f. Hk. Karl Llewellyn. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. kedua liran tersebut ada kebenarannya. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Oliver Wendell Holmes./Modul/Fils. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Sebab. private as well as public interest). Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. maka tiap bagiannya harus . Sementara itu. Jerome Frank. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. William James dan sebagainya. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman ./Univ.Doc. Gray. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Maksudnya. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman.

2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan./Univ. 3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. Sesuai dengan keyakinan ini. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau.Doc. 5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. Hk./Modul/Fils. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya.

Bagi Frank. prasangka politis. simpati maupun antipati pribadi (Frank). Jakarta. dan moril. yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. 8 . yakni. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat./Univ. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. hukum dapat dibagi menjadi dua. Filsafat Hukum. halaman 77. hanyalah sebatas persamaan nama saja. Bagian I. Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. 1997. Penerbit PT. 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat./Modul/Fils. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. ekonomis. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). Pradnya Paramita.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. di samping faktor-faktor lain. Hk. yakni wawasan sosiologis. “The path of Law” berasal dari Holmes. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut.Doc.

yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Hk. .. 2. yaitu Oliverscrona./Modul/Fils. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. Lundstedt. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat./Univ.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. Latihan Soal 9 Ibid. Menureut Friedman. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah.Doc. halaman 86. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah.

Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Hk.Doc./Univ. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr.! f. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. Narotama Surabaya/V/2005 39 a./Modul/Fils. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4.

Jakarta./Univ. . 1993./Modul/Fils. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. 1997. Pradnya Paramita. Rasjidi. Hk. 1995. Darji & Shidarta. Penerbit PT. 1997. Yogyakarta. Penerbit PT. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Citra Aditya Bakti Bandung. 1990. Penerbit PT. Penerbit Kanisius. Bagian I. Soehardjo Sastrosoehardjo. Universitas Diponegoro. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Jakarta. halaman. Huijbers. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Semarang. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.Doc. Gramedia Pustaka Utama. Filsafat Hukum. Lili. Soetiksno.

) Muhammad radjab. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. Jakarta. Pengantar Filsafat Hukum. karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu./Modul/Fils. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 1996. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat./Univ. 1. Penerbit Bhratara. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. 1 . 2. Hk. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia. 3. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. (Terj. halaman 28-32. memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu.Doc. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum. 2. maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis.

Hk. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. atau undang-undang Hammurabi. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu. b. dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti. c. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia. Gagasan ini rapat dengan yang kedua. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari.Doc. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya./Modul/Fils. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan. Narotama Surabaya/V/2005 42 a. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Sebab manusia primitif. Jalan yang selamat. misalnya undang-undang Nabi Musa. boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. Bhrigu namanya. yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun. Pertama. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat. . pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan./Univ. mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan.

dibentuk./Modul/Fils. Demikianlah. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain. yang berbeda dengan yang masih dilakukan. dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini. yang menyatakan sifat benda-benda. harus diukur. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. Sangat mungkin dengan teori serupa itu. yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. ditafsirkan . Begitulah konsepsi Thomas . e./Univ. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. f. g.Doc. dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. Narotama Surabaya/V/2005 43 d. gagasan sarjana hukum Romawi. Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Hk. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini.

Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. Hk. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik.Doc. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17./Modul/Fils. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Menurut anggapan pada masa itu. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot./Univ. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . h. i.

k.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. j. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Hk./Univ. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan./Modul/Fils. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. atau pada taraf lain. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. Di dalam satu bentuk yang idealistis. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar.

/Modul/Fils. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Penerbit PT. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. l. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. 2 . Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. yang dapat ditemukan oleh pengamatan./Univ. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. dan bukan lagi dasar metafisik. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. Untuk itu. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest). terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta.Doc. yang ditemukan oleh pengamatan. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. halaman 129130. Hk. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. 1995. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. sehingga membuat pembentuk undng-undang. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial. 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum. Oleh karena itu. tujuan hukum yang demikian ini . Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. Dengan kata lain. c) pencegahan kemerosotan akhlak./Univ. dilihat dari hal tersebut. d) pencegahan pelanggaran hak. hakim. c) kepentingan hak milik. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. e) kesejahteraan sosial./Modul/Fils. pengacara. Hk. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. b) kepentingan keluarga. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. Kedua.Doc. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. a. 2. yaitu: Pertama.

Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat. b. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. yang menilik niat bukan di tempatnya . Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. b./Modul/Fils. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. Oleh karena itu. Hk. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. yaitu: a. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . c. hukum dibentuk. 3. dan penduduk yang bertambah banyak. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan.Doc. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. antara orang-orang yang sekutu. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa./Univ. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya.

Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. 3. c. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Hk. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum./Univ. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b./Modul/Fils.Doc. Latihan Soal a. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam.

/Modul/Fils. (Terj. Jakarta. Penerbit Bhratara. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound./Univ. .) Muhammad radjab. Penerbit PT.Doc. Darji & Shidarta. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1995. Darmodiharjo. 1996. Roscoe. Pengantar Filsafat Hukum. Hk. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.

sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. yaitu sifat baik. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. 2. Penerbit PT. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. 2./Modul/Fils. Pradnya Paramita. Jakarta. 1. 1997. Dengan perkataan lain. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. Soetiksno. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. 1 .Doc. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Hk. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Bagian I. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. halaman 11./Univ.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. Filsafat Hukum.

Keadilan berada di tengah dua ekstrem. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Dalam menganalisis keadilan.. Gramedia Pustaka Utama.Doc. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice)./Univ. halaman 29. Cit. Jakarta. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. c. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Penerbit Kanisius. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Hk. 1995. 3 Theo Huijbers.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Op. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Yogyakarta. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. 1993. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Penerbit PT. halaman 155. halaman 154. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta./Modul/Fils. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 2 . Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. b. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. b. Sedang menurut Aristoteles. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Keadilan distributif (Distributive Justice). Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. yaitu: 4 a.

Kontribusi Aristoteles berikutnya. Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. Keadilan Khusus. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. yaitu: a. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. summa injuria. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). membagi keadilan menjadi 2. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. 3) keadilan vindikatif. b. yang dibedakan lagi menjadi 3. summa lex./Univ. Perbedaannya ialah. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. 2) keadilan komutatif. Selain membagi keadilan menjadi dua. yaitu: 1) keadilan distributif. adil atau tidak adil. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. Keadialan Umum (Justitia Generali). memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. Hk. summa crux”. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan./Modul/Fils. yaitu kepastian hukum.Doc. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum.

dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum./Modul/Fils. Tujuan keadilan atau finalitas. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch.Doc. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. 3. aspek ini menentukan isi hukum. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. Cit. b. . Kepastian hukum atau legalitas. Keadilan dalam arti sempit. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. karena ada dasar lain./Univ.. Menurut Radbruch.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. Op. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. Hk. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. yaitu dasar hukum sebagai hukum. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. halaman 162. c. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. yaitu: a. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. 5 Theo Huijbers. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. yakni nilai keadilan. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. hukum diwujudkan dalam satu nilai.

1995. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. Filsafat Hukum. Hk. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. . Bagaimana pendapat Sdr. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. halaman 48./Univ./Modul/Fils. Yogyakarta. seperti politik. Latihan Soal a. 4. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum.Doc. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Penerbit Kanisius. Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis).

Bagian I. Penerbit Kanisius./Modul/Fils. Jakarta. Yogyakarta. Jakarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Huijbers. Pradnya Paramita. Theo. Filsafat Hukum. 1993. 1997. Penerbit PT.Doc. Hk. 1995. . Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Darji & Shidarta. Filsafat Hukum. 1993. _________________. Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Soetiksno. Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit Kanisius./Univ.

/Univ. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. mahasiswa mampu: 1. halaman 44. 1 ./Modul/Fils. Hk. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Soehardjo Sastrosoehardjo. b. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Semarang. 2. Universitas Diponegoro. 1. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. 1997. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila.Doc. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. yaitu:1 a. Menjelaskan falsafah hukum nasional. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum.

Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. Aksiologi. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . meliputi permasalahan apa hakekat ilmu./Univ. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. Untuk itu. b.Doc. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. apa hakekat kebenaran. sosial. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. c./Modul/Fils. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. Epistemologi. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Hk. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. agama. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. Ontologi. kekuasaan. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. dan sebagainya. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. Pancasila harus tetap terbuka . Sehubungan dengan itu. atau keturunan. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan.

Dalam suasana yang demikian. 1997. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Semarang. 2 . dapat dipergunakan pendekatan filosofis. perlu dikembangkan critical mass. kreatif. radikal. Penerbit Kanisius. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. 1993. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. dan eksploratif. 2./Modul/Fils. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). 3 Theo Hujibers. Universitas Diponegoro.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Yogyakarta. Untuk itu. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan.Doc. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. halaman 9. Hk. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan./Univ. halaman 106. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional.

sosial. Sebagai contoh. Hk. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. dilihat dari causa materialis. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. ialah anggota BPUPKI. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. berdasarkan teori causalis. Pancasila berdasar adat kebiasaan. tetapi juga dalam bidang realitas. kewarganegaraan. menurut Notonegoro. Causa Formalis Pancasila. ./Univ. anti tesis. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. Menurut Hegel pula. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Dalam Teorinya. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. Causa Finalis. yaitu: Pertama. dan sintesis.Doc. lebih lanjut dikemukakan pula. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. kebudayaan. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. dan sebagainya. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara./Modul/Fils. ekonomi. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945.

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. dikatakan piramidal. karena jika dilihat dari isinya. Kecuali itu. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. berkerakyatan. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. dan Keadilan Sosial. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Hk. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. dalam hal ini PPKI. Demikian pula sebagai ./Univ. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Dikatakan hirarkis./Modul/Fils. Dengan demikian. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. Selanjutnya. keadilan sosial. Penjelasan selanjutnya. berpersatuan.Doc. Sebaliknya. kerakyatan. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. dan berkeadilans osial. Persatuan Indonesia. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. demikian seterusnya. Pancasila sebagai pandangan hidup.

Doc. Hk. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. yaitu Sociological Jurisprudence. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara. ideologi negara. Kepentingan Individu. Kepentingan Masyarakat. dan dasar negara. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! ./Modul/Fils. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. Kepentingan Umum. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. maupun penjelasannya. Pada aliran Positivisme Hukum./Univ. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. batang tubuh. yaitu: a. Dengan demikian. yaitu: Positivisme mementingkan logika. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. 3. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Latihan Soal a. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. c. b. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. baik pembukaan. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa.

Hk. Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. 1997 . Penerbit Kanisius. Universitas Diponegoro. Semarang. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Theo. Yogyakarta. Woro & Sri Hartini. Semarang. Yogyakarta./Univ. Winandi. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993 Theo Hujibers. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Penerbit Kanisius. Universitas Diponegoro. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1993./Modul/Fils.Doc. 1997. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Soehardjo Sastrosoehardjo.

Doc. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 64 ./Modul/Fils.

Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. Jakarta. Sesungguhnya./Modul/Fils. Sehingga untuk dapat berfilsafat. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Mengetahui pengertian filsafat hukum. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). 6. 6. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.R. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. 4 . halaman 1. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. 7. Hk. 1990. tetapi juga ada logika-logika yang lain. Poedjawijatna. 5. 8. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana.Doc.4 I. 4./Univ. terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat. istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani. Memahami pengertian hukum. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum. Memahami pengertian filsafat. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4. yaitu: Filosofia. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Penerbit Rineka Cipta.

sehingga terdapat kebenaran. dan hakikat manusia. Menurut Poedjawijatna. Op./Modul/Fils. Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Dengan demikian. Jadi secara etimologis. yakni: filo dan sofia. Cit. metode. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu. objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. Barangkali. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. 1995. Pokok-pokok Filsafat Hukum. Bijaksana inipun merupakan kata asing. yaitu ingin dan karena ingin itu. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. halaman 6-9.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. Poedjawijatna. 5 . sistematis. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. 6 I. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. hakikat alam./Univ. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. lalu berusaha mencapai yang diingini. dan sistematika tertentu. terlebih-lebih bersifat universal. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. yaitu tentang hakikat Tuhan. R. halaman 4. Hk.. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. yang tercermin dalam berbagai pepatah. yakni objek materia dan objek forma. Jakarta. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. lambang dan sebagainya. Dari sudut isinya.Doc. slogan. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit PT. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk. tetapi yang membedakan adalah objek formanya. rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.

maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Sebab. mendasar. Op. jika yang dianalisis hanya fakta saja. dan spekulatif.8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation). yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat. politik. artinya cara berfikir filsafat tidak sempit. Untuk itu. 1998. Suriasumantri. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam. dan estetika. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan. filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok. tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Filsafat Ilmu. Jujun S. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas. Hk. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Jakarta./Univ. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya./Modul/Fils. logika. 7 . halaman 7. i. ekonomi.. Sebuah Pengantar Populer. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Mendasar. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. jika yang dianalisis nilai. senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata.7 Menyeluruh. etika. g. dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). antara lain: f. ciri ketiga dari filsafat yang berperan.Doc. retorika. yaitu spekulatif. yaitu: menyeluruh. Lain halnya. melainkan analisis nilai. h. maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. ada ciri lain yang perlu ditambahkan. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. Cit.

agama. Di satu sisi. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada./Univ. karena agama merupakan sesuatu yang ada. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. misalnya: Tuhan. 5. kebajikan. Di sisi lain. 1990. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. Penerbit PT. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. Citra Aditya Bakti. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. pikiran belaka. dengan kata lain objek filsafat itu ada. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. Bandung. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. dan sebagainya. halaman 5. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. filsafat berdasarkan pikiran belaka. yaitu metafisika. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. Dengan kata lain. baik dan buruk. Narotama Surabaya/V/2005 68 j. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. sedangkan agama berdasarkan wahyu. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. 9 . oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. dan antropologi. Pada agama.Doc. etika.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi. Hk./Modul/Fils.

misalnya sifat-sifatnya. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. Dalam realitas. terdapat bermacam-macam hal. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. kemampuannya. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. Jadi. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar.Doc./Modul/Fils. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. 4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya./Univ. Dengan demikian. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. Hk. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. Alam dicari . Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. yaitu: b. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Oleh karena itu. Berdasarkan Objek. Segala sesuatunya itu ada. yang lazim disebut sebagai Theodicea. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak.

kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. apa pendorong hidupnya. c)) Filsafat Budi (Logika): . apakah isi alam pada umumnya. apakah kemampuan-kemampuannya. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. apakah hubungannya satu sama lain./Univ. yaitu: manusia. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. apakah sebenarnya itu. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. Hk. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya./Modul/Fils. seperti: apakah manusia itu sebenarnya.Doc. dan lain-lain. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. karena ada-nya tidak dengan niscaya. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia.

ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). serta putusan-putusan. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. dan itu dilakukan oleh subjeknya. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. jalan pikiran. b. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi./Modul/Fils. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. Namun. seperti: pengertian. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. yaitu manusia. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja . manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. Hk./Univ.Doc. dalam bekerjanya budi.

Menurut Subjek: . 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. Hk. dan sebagainya./Univ. dan anthropologia). theodicea. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g. kosmologia) Fils. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. Sehingga. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. tingkah laku (ethica) Fils. Menurut Objek: Ada-umum (fils. Oleh karena itu. baik lawan buruk./Modul/Fils. Jadi.Doc. secara garis besar. 5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). kosmologia. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. budi (logika mayor & minor) h. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. theodicea) Alam (filsafat alam. ada-umum. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. indah lawan jelek. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. ontologia.

agar jangan sampai jatuh korban.10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. dan kesejahteraan. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. dan kaedah hukum. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. ketertiban. kaedah sopan santun (adat). Filsafat Hukum. g. Apakah Hukum Itu?. kaedah kesusilaan. Suatu Pengantar. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. Hk. 1991. dengan alasan sebagai berikut: f./Univ. 11 Sudikno Mertokusumo. halaman 5. Remaja Rosdakarya. Penerbit PT. Dari segi tujuan. Bandung. 10 . Penerbit Liberty. 1988. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. halaman 31. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). Lili Rasjidi. untuk ketertiban masyarakat./Modul/Fils.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut.Doc. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. Dari segi isi. Yogyakarta. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. Mengenal Hukum.

Dari segi asal-usul. yaitu:12 Lex Aeterna. pada Zaman Pertengahan. membebani kewajiban dan memberikan hak. Lex Divina. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Kedua. . para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. halaman 29-30. Op.. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. 12 Lili Rasjidi. Narotama Surabaya/V/2005 74 h. pada zaman Romawi. Dari segi sanksi. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa.Doc. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. misalnya saja Thomas Aquino. Pada masa ini. Dari segi daya kerja. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum./Modul/Fils. i. Hk. Ketiga. Tentu saja. Sebagai contoh pertama. j. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. Lex Naturalis./Univ. Cit. termasuk mengatur pemerintahan. berasal dari masyarakat secara resmi.

Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum./Modul/Fils. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Bandung. 1988. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. Dengan demikian. Penerbit PT. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat.Doc. Rasionya. Citra Aditya Bakti. 13 . Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum. Cit. Op. Jadi. halaman 4.. halaman 10. Dengan kata lain. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat.13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. Hk. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. 6. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini./Univ. seperti Carl von Savigny dan Puchta. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta.

H. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. Sementara itu.14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo. Sedangkan D. halaman 5. kebahagiaan. Semarang. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). J. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan./Modul/Fils. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Hk. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa.M. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. dan tata tertib dalam masyarakat. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Narotama Surabaya/V/2005 76 J. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil.Doc. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat.J. 14 ./Univ. 1997.

Penerbit PT. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Bandung. Penerbit PT. 1998. . 1995. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Sudikno. Gramedia Pustaka Utama. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.. 1991. Suatu Pengantar. Bandung. Jujun S. Rasjidi. 1997. Filsafat Hukum. Yogyakarta.R. Sastrosoehardjo. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit Liberty./Modul/Fils. Mengenal Hukum. Semarang. Mertokusumo. Universitas Diponegoro. 1988. Darji & Shidarta. Lili. 1990. 1990. Soehardjo. Hk. Citra Aditya Bakti. Penerbit PT. Sebuah Pengantar Populer.. ________________. Suriasumantri. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum.Doc. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Filsafat Ilmu. Remaja Rosdakarya./Univ. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Dengan kata lain. Apakah Hukum Itu?. I. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Jakarta. Poedjawijatna. Jakarta. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Jakarta. Penerbit Rineka Cipta.

Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu./Modul/Fils. 1 . 1995. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. 6. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. Plato. Parmenides. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan.Doc. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. antara lain: Anaximander. 7. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. 6. Herakleitos (540-475 SM). 8. Hk. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. sekarang. Herakleitos.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). dan masa depan./Univ. halaman 70-71. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Socrates. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). dan Aristoteles.

Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. halaman 20). Apabila hal ini terjadi. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. dan harmoni yang menghasilkan aturan. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio).Doc. Penerbit Kanisius./Univ. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Dalam mempertahankan pendapatnya. Yogyakarta. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. Hk. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos./Modul/Fils. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. ukuran. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. 2 . maka timbullah keadilan (dike). Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini. Logos menciptakan bentuk . Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Dengan kata lain. Sementara itu. Tetapi jelas baginya. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. 1993. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati.

Dari gagasan Aristoteles ini./Modul/Fils. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. Menurut Aristoteles. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. yakni undang-undang negara. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Misalnya. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Menurut Aristoteles. Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Meskipun demikian./Univ.Doc. Hk. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. karena hubungannya dengan aturan alam. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Aristoteles. . yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). sehingga hukum tidak pernah berubah. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. yakni hukum alam dan hukum positif. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. lenyap dan berlaku dengan sendirinya.

Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos)./Univ. menurut Stoisisme.Doc. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. 7. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Dalam perkembangannya. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. bukan menurut hukum positif. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. Citra Aditya Bakti. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Oleh karena itu. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. 1990. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. Dengan kata lain./Modul/Fils. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. Penerbit PT. 3 . Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). Hk. Bandung. halaman 13.

dan hukum positif (Lex Positivis). Cit. Rene Descartes (1596-1650). Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. Op. hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. 8. berdirinya negara-negara baru. halaman 39. antara lain: William Occam (1290-1350).Doc. Samuel Pufendorf (1632-1694). David Hume (17111776). dan Immanuel Kant (1724-1804)./Univ. . Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. lahirnya segala macam ilmu baru. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina)./Modul/Fils. J.J. Hk. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. John Locke (1632-1704). Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. George Berkeley (1685-1753). Thomas Hobbes (1588-1679). dan sebagainya. 9. ditemukannya dunia-dunia baru.. Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna). Wolf (1679-1754). Francis Bacon (1561-1626). Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. Montesquieu (1689-1755). perkembangan teknologi yang sangat pesat. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. Rousseau (17121778). Thomasius (1655-1728).

J. seperti Hegel (1770-1831). Di samping Marx dan Engels./Univ.Doc. Namun. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Karl Marx (18181883). yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman.W. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. Menurut teori dialektika Hagel.. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. masih ada beberapa ahli pikir lain. Teorinya disebut Dialektika. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Cit.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Fichte (1762-1814) dan F. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Schelling (1775-1854). yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. seperti Hobbes./Modul/Fils.F. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. halaman 37. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Op. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. Menurut Hegel. Hk. seperti J. . juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. yaitu akan menjadi. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern.

halaman 82. Locke von Savigny G. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9./Modul/Fils. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hume F. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Latihan Soal 7. Descartes Fichte T.J./Univ. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Bacon Wolf Montesquieu J. Hobbes Schelling J. Cit..Doc. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8. Rousseau Immanuel Kant 10. . Op. Yunani (Kuno) Z. Herakleitos. Occam Hegel R. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10. Hk. Modern Z. Pertengahan Z. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11. Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Berkeley D.

Theo. Yogyakarta. Penerbit PT. 1993. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Modul/Fils. Lili. Gramedia Pustaka Utama. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT. Penerbit Kanisius. .Doc. Huijbers. Bandung./Univ. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Jakarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1990. 1995. Darji & Shidarta. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Citra Aditya Bakti. Rasjidi. Hk.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Op./Univ. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. tidak dogmatis (trancendental). Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. rasa. volition.Doc. lawan dari filsafat dogmatis. and feeling). halaman 12. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. . Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Hk../Modul/Fils. Cit. dan karsa (thinking. yaitu cipta. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis.4 Metode kritis tidak skeptis. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze).

Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. antitesa. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. 3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. . Hk. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. berkembang bentuk yang agak lain. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. das ist wirklich ist. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. b. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. What is reasonable is real. and what is real is reasonable). Di Inggris. Jadi. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. das ist vernunftig. Bagi Hegel. Austin membagi hukum atas 2 hal. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus./Modul/Fils.Doc. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. demikan juga dengan hukum./Univ. yaitu Analytical Jurisprudence.

walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . di dalamnya terkandung perintah. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. dalam hukum yang nyata pada point pertama. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. sejarah. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. Hk./Univ. Menurut ajaran tersebut. dan sebagainya. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. peraturan pemerintah. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. sosiologi.Doc. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. dan kedaulatan. kewajiban. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Menurut Austin. Idealisme hukum ditolak sama sekali. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. dan sebagainya. Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. contoh hak wali terhadap perwaliannya. sanksi. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. etika. seperti: undang-undang./Modul/Fils.

Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi./Univ. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum../Modul/Fils. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. . tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. etiika atau agama. j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. halaman 43. Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. masalah cipta. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. i) Hukum adalah ilmu normatif. bukan masalah apa yang dikehendaki. Hk. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. Op. bukan karsa dan rasa. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. seorang murid dari Rudolf von Jhering. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus.Doc. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). Cit.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. k) Teori hukum adalah formal. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas.

tidak semata-mata pada bentuk hukumnya./Univ. verbinden. Hk. hubungan hukum. objek hukum. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. kekuasaan hukum. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum.q. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. dan melawan hukum. penundukan hukum. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit)./Modul/Fils. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. mengikat. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. dasar hukum. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. Manusia selalu berusaha . Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum.q. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). secara positif. John Stuart Mill (1806-1873). Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c. i. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. yaitu: subjek hukum. menurut hukum (rechtmatigeheid). maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. hukum kodrat gaya baru. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum.Doc.

maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). Hk. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Bagi Jhering. untuk memelihara kegunaan. Pada hakekatnya. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. ia mengikuti Bentham. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum./Modul/Fils. j. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Mill. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Oleh karena itu. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. Dalam mendefinisikan kepentingan. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. dan positivisme hukum dari John Austin. jikas tidak demikian. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Dengan kata lain. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya./Univ.

Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. 8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. berkembang bersama dengan rakyat. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. . es wachst mit dem volke vort.Doc. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat./Modul/Fils. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya./Univ. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . berupa adat-istiadat. bilden sich aus mit diesem. 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. Sedang Puchta. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. Hk. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung. namun ia akan mati. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya.

Penerbit Kanisius. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. halaman 120-121. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Yogyakarta.Doc. 6 . keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Lebih lanjut. k. 1993. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis./Modul/Fils. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris./Univ. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Menurut Puchta. Hk. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. Di lain pihak.

antara lain: Roscoe Pound. Gurvitch dan lain-lain. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya./Modul/Fils. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Benjamin Cardozo. Aliran ini berkembang di Amerika. Kontorowics. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya.. Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Sociological jurisprudence. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Hk. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Eugen Ehrlich. Dengan rasio demikian. halaman 47. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan.Doc. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat./Univ. Cit. Op. .

Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Jerome Frank. maka tiap bagiannya harus . l. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Maksudnya./Univ. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Karl Llewellyn. Gray. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Sementara itu. private as well as public interest). Oliver Wendell Holmes. 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Sebab. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Hk.Doc. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman ./Modul/Fils. William James dan sebagainya. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum.

Doc. Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya./Univ. 7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. Hk. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya./Modul/Fils. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. Sesuai dengan keyakinan ini.

Filsafat Hukum. Bagian I. Penerbit PT. hanyalah sebatas persamaan nama saja. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. Pradnya Paramita. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). hukum dapat dibagi menjadi dua. 1997./Modul/Fils. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. ekonomis. yakni wawasan sosiologis./Univ. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat.Doc. di samping faktor-faktor lain. Bagi Frank. 8 . para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. yakni. Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. Jakarta. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. prasangka politis. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. simpati maupun antipati pribadi (Frank). 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. dan moril.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. “The path of Law” berasal dari Holmes. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. halaman 77. Hk. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank.

/Modul/Fils. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. Menureut Friedman. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. halaman 86. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. . Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. Lundstedt.Doc. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Latihan Soal 9 Ibid.. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. 4. yaitu Oliverscrona./Univ. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. Hk.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat.

! f.Doc. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Hk. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. Narotama Surabaya/V/2005 103 a. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d./Modul/Fils./Univ.

Soetiksno. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Bagian I. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Soehardjo Sastrosoehardjo. Lili. 1997./Univ. Huijbers. Citra Aditya Bakti Bandung. Semarang. Pradnya Paramita. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1997. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit PT. 1995. Universitas Diponegoro./Modul/Fils. Yogyakarta. Gramedia Pustaka Utama. 1993. halaman. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.Doc. Hk. Rasjidi. . Filsafat Hukum. Jakarta. Penerbit PT. Penerbit Kanisius. 1990. Jakarta. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit PT. Darji & Shidarta.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara ./Modul/Fils. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. i. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. Hk. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Menurut anggapan pada masa itu. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik.Doc. h./Univ.

Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Di dalam satu bentuk yang idealistis. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. Hk. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar./Modul/Fils. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. atau pada taraf lain. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan.Doc. j. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. k. Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Di dalam betuk Positivistis-Analistis./Univ. Semua bentuk ini terdapat dalam masa .

Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest). Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19./Univ. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. l. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. halaman 129130. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum./Modul/Fils. Penerbit PT.Doc. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Untuk itu. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. Gramedia Pustaka Utama. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. Hk. 2 . Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. 1995. Jakarta. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. dan bukan lagi dasar metafisik. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. yang ditemukan oleh pengamatan.

e) kepentingan keluarga. g) perlindungan lembaga-lembaga sosial. h) pencegahan kemerosotan akhlak. Dengan kata lain. j) kesejahteraan sosial. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. Oleh karena itu. hakim. pengacara. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. Kedua. dilihat dari hal tersebut. i) pencegahan pelanggaran hak. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum. sehingga membuat pembentuk undng-undang. tujuan hukum yang demikian ini . klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. yaitu: Pertama.Doc. 5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban./Univ. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. d. f) kepentingan hak milik. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. 2. Hk. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham./Modul/Fils.

yang menilik niat bukan di tempatnya . dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. f. 3. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja./Modul/Fils. Oleh karena itu. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. hukum dibentuk. dan penduduk yang bertambah banyak. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. yaitu: d. antara orang-orang yang sekutu. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. Hk. e. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul./Univ. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. e. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa.Doc.

karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. timbul pandangan hukum adalah keburukan. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. 3. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya. Latihan Soal a. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. f. Hk. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam./Modul/Fils.Doc. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya./Univ. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b.

/Univ. Penerbit PT. . Darmodiharjo. Jakarta. Pengantar Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. (Terj. 1995. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Roscoe.Doc. 1996./Modul/Fils. Penerbit Bhratara. Hk.) Muhammad radjab. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound.

halaman 11. 2. Hk. 1 .Doc. 4. Filsafat Hukum. Dengan perkataan lain. 1997. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Soetiksno. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue./Modul/Fils. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Penerbit PT. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Jakarta. Bagian I. 2. Pradnya Paramita. yaitu sifat baik./Univ. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum.

Keadilan distributif (Distributive Justice). Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Op. Penerbit PT. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Dalam menganalisis keadilan. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. c. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Penerbit Kanisius. halaman 29. b. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. Jakarta. Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Hk. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. 1993./Univ./Modul/Fils. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. d. 1995. Gramedia Pustaka Utama. 3 Theo Huijbers.Doc. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. Cit. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice).2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. halaman 154. halaman 155. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Sedang menurut Aristoteles. Yogyakarta. 2 . yaitu: 4 c. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris..

adil atau tidak adil. yang dibedakan lagi menjadi 3. yaitu kepastian hukum. Keadialan Umum (Justitia Generali). yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. 5) keadilan komutatif. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. summa injuria. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. membagi keadilan menjadi 2. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. summa lex. Hk. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan.Doc. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . d. summa crux”. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. Kontribusi Aristoteles berikutnya. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. 6) keadilan vindikatif. Selain membagi keadilan menjadi dua. Perbedaannya ialah. yaitu: c./Modul/Fils. yaitu: 4) keadilan distributif. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. Keadilan Khusus. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain./Univ. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang.

bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. Menurut Radbruch. yaitu: a. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum.. 5 Theo Huijbers. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. halaman 162. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. Cit. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. Keadilan dalam arti sempit.Doc. yakni nilai keadilan. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. Hk./Univ. yaitu dasar hukum sebagai hukum. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. b. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. hukum diwujudkan dalam satu nilai. Op.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. Kepastian hukum atau legalitas. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. c. Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. Tujuan keadilan atau finalitas./Modul/Fils. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. karena ada dasar lain. . namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. 3. aspek ini menentukan isi hukum.

Bagaimana pendapat Sdr. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. Latihan Soal a. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya./Univ. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. 1995. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Penerbit Kanisius. seperti politik. . maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b.Doc. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. Filsafat Hukum. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. Hk. Yogyakarta. 4./Modul/Fils. halaman 48.

Penerbit Kanisius. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius. 1993./Modul/Fils. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta./Univ. Theo. 1993. _________________. Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Filsafat Hukum. Soetiksno. . Pradnya Paramita. Jakarta. 1997. Jakarta. Bagian I. Hk. Penerbit PT.Doc. Gramedia Pustaka Utama. 1995. Darji & Shidarta. Penerbit PT. Huijbers. Yogyakarta. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo.

tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. Menjelaskan falsafah hukum nasional. Hk. b. 4. 1 . serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar.Doc. yaitu:1 a. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. 1997. mahasiswa mampu: 1. 2. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini./Univ. Universitas Diponegoro. Soehardjo Sastrosoehardjo. halaman 44. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Semarang./Modul/Fils.

Aksiologi. Pancasila harus tetap terbuka .Doc. Untuk itu. b. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. Epistemologi. Sehubungan dengan itu./Univ. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. Ontologi. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . Hk. atau keturunan. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 122 c. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. apa hakekat kebenaran. dan sebagainya. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. c. agama. sosial. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. kekuasaan.

Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. Hk.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. Dalam suasana yang demikian. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. kreatif./Modul/Fils. halaman 106. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan./Univ. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. 1993. dan eksploratif. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. Semarang. Universitas Diponegoro. 5. perlu dikembangkan critical mass. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Untuk itu. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. 1997. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. radikal. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. 3 Theo Hujibers.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. halaman 9. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. 2 .2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya.

Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Causa Finalis. dilihat dari causa materialis. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara.Doc. yaitu: Pertama. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. lebih lanjut dikemukakan pula. tetapi juga dalam bidang realitas. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. Dalam Teorinya. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. . sosial. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. ialah anggota BPUPKI. ekonomi. Causa Formalis Pancasila. kebudayaan. Menurut Hegel pula. anti tesis. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. Pancasila berdasar adat kebiasaan. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945./Univ. dan sebagainya. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. dan sintesis. menurut Notonegoro. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. kewarganegaraan. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. Hk. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”./Modul/Fils. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. berdasarkan teori causalis. Sebagai contoh.

berpersatuan. demikian seterusnya. Kecuali itu. Sebaliknya. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. berkerakyatan. Dikatakan hirarkis. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. dan berkeadilans osial. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. dalam hal ini PPKI./Modul/Fils. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya.Doc. Penjelasan selanjutnya./Univ. dan Keadilan Sosial. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. kerakyatan. dikatakan piramidal. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. Demikian pula sebagai . Selanjutnya. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. Pancasila sebagai pandangan hidup. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Dengan demikian. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. keadilan sosial. karena jika dilihat dari isinya. Hk. Persatuan Indonesia. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya.

/Univ. Kepentingan Individu. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. Kepentingan Masyarakat./Modul/Fils. yaitu Sociological Jurisprudence. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. batang tubuh. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. baik pembukaan. Hk. yaitu: d. ideologi negara. maupun penjelasannya. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Dengan demikian. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara. Kepentingan Umum. 6. yaitu: Positivisme mementingkan logika. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. e. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. dan dasar negara. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya.Doc. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Pada aliran Positivisme Hukum. f. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. Latihan Soal a.

Woro & Sri Hartini. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius. 1997 . Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.Doc./Univ. Universitas Diponegoro. Semarang. Hk. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Yogyakarta. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Winandi. Penerbit Kanisius. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Soehardjo Sastrosoehardjo. Universitas Diponegoro. 1997. 1993./Modul/Fils. Theo. Semarang. 1993 Theo Hujibers. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta.

Hk. Narotama Surabaya/V/2005 128 .Doc./Modul/Fils./Univ.