Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

karena agama merupakan sesuatu yang ada. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Dengan kata lain. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Modul/Fils. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. kebajikan. dan sebagainya. Di satu sisi. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. misalnya: Tuhan.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. baik dan buruk. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama.Doc. 1990. d. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. Citra Aditya Bakti. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. Narotama Surabaya/V/2005 4 c. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. Bandung. pikiran belaka. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. halaman 5. dan antropologi. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat./Univ. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. Penerbit PT. Pada agama. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. filsafat berdasarkan pikiran belaka. agama. etika. e. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. sedangkan agama berdasarkan wahyu. Lili Rasjidi. yaitu metafisika. Hk. 6 . Di sisi lain.

Hk. yaitu: a. Narotama Surabaya/V/2005 5 2. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. Dengan demikian. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Oleh karena itu. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. yang lazim disebut sebagai Theodicea. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. kemampuannya. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. yang hendak dicari ./Modul/Fils. Dalam realitas. Berdasarkan Objek. dengan kata lain objek filsafat itu ada. terdapat bermacam-macam hal. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. Segala sesuatunya itu ada. Jadi.Doc./Univ. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). misalnya sifat-sifatnya. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak.

namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu./Modul/Fils. apakah isi alam pada umumnya. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada.Doc. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. apa pendorong hidupnya. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu. Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. dan lain-lain. apakah sebenarnya itu. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. apakah kemampuan-kemampuannya. Hk. apakah hubungannya satu sama lain./Univ. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur . yaitu: manusia. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. karena ada-nya tidak dengan niscaya.

Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. jalan pikiran. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). yaitu manusia. serta putusan-putusan. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal./Modul/Fils. Hk. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. dalam bekerjanya budi. Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. dan itu dilakukan oleh subjeknya. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek./Univ. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu.Doc. b. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. Namun. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. seperti: pengertian.

pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a. ontologia. kosmologia) Fils. dan sebagainya. 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada.Doc. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. theodicea. ada-umum. Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. dan anthropologia). sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia./Univ. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. baik lawan buruk. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). Oleh karena itu. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. Sehingga. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. theodicea) Alam (filsafat alam. tingkah laku (ethica) . manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. indah lawan jelek./Modul/Fils. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. Hk. secara garis besar. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. Jadi. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. kosmologia. Menurut Objek: Ada-umum (fils.

Hk. Remaja Rosdakarya./Modul/Fils. Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. 7 . 1991. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. 8 Sudikno Mertokusumo. Mengenal Hukum.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. Bandung. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan)./Univ. budi (logika mayor & minor) b.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. Suatu Pengantar. kaedah sopan santun (adat). dan kesejahteraan. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. Yogyakarta.Doc. halaman 5. kaedah kesusilaan. dan kaedah hukum. dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi. 1988. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. Apakah Hukum Itu?. ketertiban. halaman 31. Penerbit PT. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. Filsafat Hukum. Penerbit Liberty.

Kedua. Dari segi asal-usul. Dari segi tujuan. untuk ketertiban masyarakat. . misalnya saja Thomas Aquino. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. Dari segi isi. agar jangan sampai jatuh korban. termasuk mengatur pemerintahan. e. pada zaman Romawi. Cit. Sebagai contoh pertama. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. yaitu:9 Lex Aeterna. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir./Univ. membebani kewajiban dan memberikan hak. Tentu saja. Hk. Lex Naturalis. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi.. Dari segi daya kerja. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. Dari segi sanksi. berasal dari masyarakat secara resmi. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. pada Zaman Pertengahan./Modul/Fils. halaman 29-30. b. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. d. Op. Lex Divina. c.Doc. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. Ketiga. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum.

Jadi. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya.10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. Bandung.. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Penerbit PT. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. 10 . juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. Dengan kata lain. Cit. halaman 10. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi./Univ. Op. seperti Carl von Savigny dan Puchta.Doc. halaman 4. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Hk. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat./Modul/Fils. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Dengan demikian. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. Di samping itu. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. Citra Aditya Bakti. 1988. 3. Pada masa ini. Rasionya.

over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum.M. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. J. dan tata tertib dalam masyarakat. Sementara itu.J./Univ. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Semarang.Doc. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Sedangkan D. halaman 5.H. 11 . kebahagiaan.11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo. 1997. J. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro./Modul/Fils. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. Hk. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini.

dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Sastrosoehardjo. Jujun S. Remaja Rosdakarya. Penerbit PT. Semarang. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar.. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Gramedia Pustaka Utama. Hk./Modul/Fils.. Bandung. Suatu Pengantar. I. Penerbit PT. Dengan kata lain./Univ. 1990. Bandung. . Jakarta. ________________. 1990. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Poedjawijatna. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Filsafat Hukum. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Lili. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. 1997. 1998. Universitas Diponegoro. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Citra Aditya Bakti. Suriasumantri. Apakah Hukum Itu?. Yogyakarta. Filsafat Ilmu.R. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. 1995. Sudikno. Mertokusumo. Sebuah Pengantar Populer. Penerbit PT. Soehardjo. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Jakarta.Doc. Penerbit Liberty. 1991. 1988. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Jakarta. Darji & Shidarta. Penerbit Rineka Cipta. Rasjidi. Mengenal Hukum.

Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. 1995. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. halaman 70-71. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo./Modul/Fils. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. 2./Univ. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. 1. Herakleitos (540-475 SM). Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). Herakleitos. Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. 4. 1 . sekarang. Parmenides. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Socrates. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani.Doc. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. Penerbit PT. dan Aristoteles. Hk. Gramedia Pustaka Utama. Plato. antara lain: Anaximander. dan masa depan. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Jakarta.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 3. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini.

tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Hk. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. maka timbullah keadilan (dike). Penerbit Kanisius. Tetapi jelas baginya. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Dengan kata lain.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. dan harmoni yang menghasilkan aturan. ukuran. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. halaman 20). 2 . 1993.Doc. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Dalam mempertahankan pendapatnya. Logos menciptakan bentuk . bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. Sementara itu./Modul/Fils./Univ. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Apabila hal ini terjadi.

murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. yakni hukum alam dan hukum positif. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Meskipun demikian. Aristoteles. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. yakni undang-undang negara. Oleh karena itu. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. sehingga hukum tidak pernah berubah. Hk. Menurut Aristoteles. . Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. Misalnya. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri./Univ. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Dari gagasan Aristoteles ini. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis.Doc. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya./Modul/Fils. Oleh karena itu. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. karena hubungannya dengan aturan alam. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. Menurut Aristoteles. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul.

/Modul/Fils. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Oleh karena itu. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275)./Univ. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. Dengan kata lain. Dalam perkembangannya. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. halaman 13.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Citra Aditya Bakti. menurut Stoisisme. 3 . 2. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. bukan menurut hukum positif. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. 1990. Penerbit PT. Bandung. Hk. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic).

Francis Bacon (1561-1626).J. Op. Montesquieu (1689-1755). David Hume (17111776). rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. dan sebagainya. Thomas Hobbes (1588-1679). Samuel Pufendorf (1632-1694). halaman 39. Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. John Locke (1632-1704). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri./Modul/Fils. dan hukum positif (Lex Positivis). Wolf (1679-1754). sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Rene Descartes (1596-1650). George Berkeley (1685-1753). Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. J. berdirinya negara-negara baru. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. antara lain: William Occam (1290-1350). perkembangan teknologi yang sangat pesat. hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). ditemukannya dunia-dunia baru. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. lahirnya segala macam ilmu baru. Thomasius (1655-1728). Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum.Doc. dan Immanuel Kant (1724-1804). Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. 4. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. 3. ../Univ. Cit. Hk. Rousseau (17121778).

Hk. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. masih ada beberapa ahli pikir lain.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. seperti Hobbes.. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. Menurut teori dialektika Hagel. Schelling (1775-1854). ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Di samping Marx dan Engels. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19.W. yaitu akan menjadi. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya./Univ. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. ./Modul/Fils. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Cit. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Namun. Karl Marx (18181883). Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Teorinya disebut Dialektika. halaman 37.F.J. Op. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. Fichte (1762-1814) dan F. Menurut Hegel.Doc. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. seperti J. seperti Hegel (1770-1831).

Doc. Descartes Fichte T. Herakleitos./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Rousseau Immanuel Kant 5. Cit. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4. Latihan Soal 1. Hume F. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Occam Hegel R.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Hobbes Schelling J. Yunani (Kuno) Z. halaman 82. Mengapa kaum Sofis (Anaximander.J. Berkeley D. Modern Z. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Locke von Savigny G. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. Pertengahan Z./Univ.. . Op. Hk. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3. Bacon Wolf Montesquieu J.

Penerbit PT. Darji & Shidarta. Bandung. 1990./Modul/Fils. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Lili. Penerbit Kanisius.Doc. . Gramedia Pustaka Utama. Penerbit PT. Theo. Yogyakarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Huijbers. Jakarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Citra Aditya Bakti. Rasjidi./Univ. 1993. 1995. Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Hk.

Pragmatic Legal Realism. yaitu: a. 1990. d. Aliran Utilitarianisme. Hk. Tujuan Instruksional Khusus: 1.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran. antara lain F. 1 .S. Northrop dan Lili Rasjidi. c. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. b. halaman 26-27. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. Legal Positivism. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Modul/Fils. e. Aliran Hukum Alam. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. c. Citra Aditya Bakti Bandung. Alian Positivisme. e. yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana. Penerbit PT./Univ.Doc. yaitu: a. 2. 1. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. Naturalistic Jurisprudence. f. g. Aliran Sejarah. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. b. d. Aliran Sociological Jurisprudence.G. Aliran Legal Realism. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. Aliran Hukum Positif. Lili Rasjidi. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1.

2) Murni. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab. Aliran Utilitarianisme. Aliran Sosiologi Hukum./Modul/Fils. Aliran Sejarah. f. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum. Semarang. Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. g. Aliran Realisme Hukum. c. Aliran Positivisme. i./Univ. b. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar. e. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). b. Hk. Aliran Hukum Bebas. yaitu:2 a. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama. Madzhab Sejarah. d. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. Soehardjo Sastrosoehardjo. c. Aliran Ajaran Hukum Umum. Aliran Neo Kantianisme. Sociological Jurisprudence. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. masing-masing: a. halaman 1.Doc. e. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain. f. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. d. h. 2) Yang Rasional. Universitas Diponegoro. Pragmatic Legal Realism. 2 . 1997.

bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. Marsilius Padua. John Salisbury. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. halaman 102. Menurut Friedman.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran. Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi. d) Lex Posistivis. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino). Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). b) Lex Divina. 1995. Jakarta. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini. c) Lex Naaturalis. seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran./Univ. Gramedia Pustaka Utama. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. 3 . dan John Wyclife. hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. yaitu: a) Lex Aeterna./Modul/Fils.Doc. Piere Dubois. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua). yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. Daante.

Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius). manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Christian Thomasius. William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Hk. Tokoh-tokohnya. 1) Rasional: Sebaliknya. antara lain: Hugo de Groot (Grotius).Doc. Immanuel Kant. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. buruk atau jahat dan baik atau jujur. Penulis lain. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam./Modul/Fils. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut./Univ. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. dan Samuel Pufendorf. sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal. b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia. ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan. sehingga rasio .

yaitu cipta. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant.Doc. volition. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya./Modul/Fils. tidak dogmatis (trancendental). Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. dan karsa (thinking. Hk. Op. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. halaman 12. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni).4 Metode kritis tidak skeptis.. Cit. rasa./Univ. lawan dari filsafat dogmatis. Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). and feeling). Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). . Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo.

penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. yaitu Analytical Jurisprudence. Jadi. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. das ist vernunftig. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. Bagi Hegel. What is reasonable is real. b. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin./Univ. Di Inggris. antitesa. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. Hk. berkembang bentuk yang agak lain. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia./Modul/Fils. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. . das ist wirklich ist. and what is real is reasonable). yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak.Doc. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. Austin membagi hukum atas 2 hal. demikan juga dengan hukum.

2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. dan sebagainya. dan sebagainya. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. dalam hukum yang nyata pada point pertama. peraturan pemerintah. Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. Menurut Austin. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. seperti: undang-undang. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. sosiologi. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. dan kedaulatan. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. kewajiban.Doc./Univ. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. etika. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. contoh hak wali terhadap perwaliannya. Menurut ajaran tersebut. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. sanksi. Idealisme hukum ditolak sama sekali. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . di dalamnya terkandung perintah. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. sejarah. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina)./Modul/Fils. Hk.

bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. e) Teori hukum adalah formal. Op. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm.. bukan masalah apa yang dikehendaki. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). Hk. d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. bukan karsa dan rasa. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. halaman 43. masalah cipta. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. ./Univ. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus.Doc. f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. c) Hukum adalah ilmu normatif. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. etiika atau agama. Cit./Modul/Fils.

Manusia selalu berusaha . hubungan hukum. Hk.Doc. hukum kodrat gaya baru. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen).q. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. kekuasaan hukum. objek hukum. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. c. dasar hukum. yaitu: subjek hukum. John Stuart Mill (1806-1873). maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. dan Rudolf von Jhering (1818-1889)./Modul/Fils. menurut hukum (rechtmatigeheid). berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. verbinden. secara positif. dan melawan hukum. penundukan hukum. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832).q. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum./Univ. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. mengikat. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji.

Doc. Oleh karena itu. jikas tidak demikian. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Dalam mendefinisikan kepentingan. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Hk. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. Bagi Jhering. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. d./Modul/Fils. Dengan kata lain. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). untuk memelihara kegunaan. Mill. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. dan positivisme hukum dari John Austin. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. ia mengikuti Bentham. Pada hakekatnya./Univ. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya.

2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. Sedang Puchta. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. bilden sich aus mit diesem. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. berupa adat-istiadat. . di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata./Modul/Fils. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. namun ia akan mati. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat. es wachst mit dem volke vort./Univ.Doc. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. Hk. berkembang bersama dengan rakyat.

pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. Menurut Puchta. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Penerbit Kanisius. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. e. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. 1993.Doc. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). 6 . Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang./Univ. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Lebih lanjut. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Hk. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. halaman 120-121. Yogyakarta. Di lain pihak.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht./Modul/Fils. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini.

Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Dengan rasio demikian. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. . Op. Sociological jurisprudence./Modul/Fils./Univ. Eugen Ehrlich. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Kontorowics. antara lain: Roscoe Pound. Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Benjamin Cardozo. Cit.. Aliran ini berkembang di Amerika. halaman 47. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Gurvitch dan lain-lain. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Hk.Doc. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat.

Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. private as well as public interest). Oliver Wendell Holmes. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . Sebab. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman./Univ. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial.Doc. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. f. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Gray. maka tiap bagiannya harus . Maksudnya. William James dan sebagainya. Jerome Frank. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering./Modul/Fils. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Karl Llewellyn. Hk. kedua liran tersebut ada kebenarannya. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Sementara itu.

Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot./Univ./Modul/Fils. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. 3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. Sesuai dengan keyakinan ini. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya.Doc. 2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. Hk. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- .

prasangka politis. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. Filsafat Hukum./Univ. yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. Jakarta. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. hukum dapat dibagi menjadi dua. hanyalah sebatas persamaan nama saja. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. di samping faktor-faktor lain. Hk. ekonomis./Modul/Fils. 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. yakni wawasan sosiologis. “The path of Law” berasal dari Holmes. Pradnya Paramita. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. yakni. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. Bagian I. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. halaman 77.Doc. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). 8 . dan moril. simpati maupun antipati pribadi (Frank). Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). Penerbit PT. Bagi Frank. 1997.

dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat./Univ. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. yaitu Oliverscrona. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak.Doc. halaman 86.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Latihan Soal 9 Ibid. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. 2. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. Lundstedt. Menureut Friedman. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. Hk. ./Modul/Fils.. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross.

Doc. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c./Univ.! f. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Narotama Surabaya/V/2005 39 a. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! ./Modul/Fils. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Hk.

Semarang. Pradnya Paramita. 1997. Penerbit PT./Modul/Fils. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Soetiksno. Penerbit Kanisius. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Jakarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. . 1993. Yogyakarta. Rasjidi. 1995. Universitas Diponegoro. Citra Aditya Bakti Bandung. Lili.Doc. Gramedia Pustaka Utama. 1997. Darji & Shidarta. Huijbers. Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit PT. Jakarta. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Filsafat Hukum. Soehardjo Sastrosoehardjo. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Bagian I./Univ. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1990. Penerbit PT. Hk. halaman.

Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 3. Hk. Pengantar Filsafat Hukum. 2. (Terj./Univ. Penerbit Bhratara. Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu. memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. 1996. Jakarta. halaman 28-32. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu. maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat.Doc. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia. karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1./Modul/Fils. 2. 1 . Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis.) Muhammad radjab.

Gagasan ini rapat dengan yang kedua. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. b. dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan. Pertama. Hk. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta. c. . boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Narotama Surabaya/V/2005 42 a. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya./Univ. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam. boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia. mungkin dia akan dianggap sebagai hukum.Doc. atau undang-undang Hammurabi. Bhrigu namanya. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif. Sebab manusia primitif. misalnya undang-undang Nabi Musa. Jalan yang selamat. pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan./Modul/Fils.

ditafsirkan . dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. Hk. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. gagasan sarjana hukum Romawi. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. dibentuk. Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. g. satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Sangat mungkin dengan teori serupa itu. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik. yang berbeda dengan yang masih dilakukan./Univ./Modul/Fils. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain. dan ditambah oleh yang tigta tadi. dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. e. f. Begitulah konsepsi Thomas .Doc. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. harus diukur. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Demikianlah. yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini. Narotama Surabaya/V/2005 43 d. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum. yang menyatakan sifat benda-benda.

/Modul/Fils. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya.Doc. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. Menurut anggapan pada masa itu. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. h. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif./Univ. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. i. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. Hk. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang.

Semua bentuk ini terdapat dalam masa . satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. Di dalam satu bentuk yang idealistis. Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan./Univ. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. atau pada taraf lain. j. k./Modul/Fils. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri.Doc. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. Hk. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail.

Untuk itu. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest)./Univ. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. halaman 129130. yang ditemukan oleh pengamatan.Doc. Hk. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Gramedia Pustaka Utama. 2 . Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat./Modul/Fils. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. dan bukan lagi dasar metafisik. Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. l. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. Jakarta. 1995. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. Penerbit PT. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika.

Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. hakim. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. Dengan kata lain. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. 2. c) kepentingan hak milik. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. d) pencegahan pelanggaran hak. yaitu: Pertama. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. c) pencegahan kemerosotan akhlak. Oleh karena itu. b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat./Univ. Kedua. a. dilihat dari hal tersebut. Hk. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. e) kesejahteraan sosial. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial. pengacara. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. tujuan hukum yang demikian ini . 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban.Doc./Modul/Fils. sehingga membuat pembentuk undng-undang. b) kepentingan keluarga.

Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. yaitu: a./Modul/Fils. b. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan.Doc. yang menilik niat bukan di tempatnya . Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. b. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. 3. c./Univ. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. Oleh karena itu. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. hukum dibentuk. Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat. Hk. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . antara orang-orang yang sekutu. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. dan penduduk yang bertambah banyak.

Latihan Soal a. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya. Hk./Univ. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. c.Doc. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. 3. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c.

Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound. Hk./Univ./Modul/Fils. Penerbit Bhratara.Doc. Darji & Shidarta. 1995. (Terj. Jakarta.) Muhammad radjab. Pengantar Filsafat Hukum. 1996. Darmodiharjo. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. . Roscoe.

1997.Doc. 2. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Soetiksno. Penerbit PT. 2.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. 1. Dengan perkataan lain. Memahami bermacam-macam arti keadilan. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Jakarta. yaitu sifat baik./Modul/Fils. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Bagian I./Univ. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Filsafat Hukum. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. 1 . Pradnya Paramita. halaman 11. Hk. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran.

Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Op. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. yaitu: 4 a. c. Hk. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. halaman 155. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. Sedang menurut Aristoteles. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. Yogyakarta. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. Jakarta. b. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. halaman 154. Keadilan distributif (Distributive Justice). Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice)./Modul/Fils. Cit. 2 . 1993. Penerbit PT. b. 3 Theo Huijbers. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Penerbit Kanisius. Dalam menganalisis keadilan. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum./Univ.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus.. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal.Doc. 1995. Darji Darmodiharjo & Shidarta. halaman 29. Gramedia Pustaka Utama. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem.

/Univ. 3) keadilan vindikatif. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. yaitu: a. adil atau tidak adil. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. yaitu kepastian hukum. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. Hk. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. Selain membagi keadilan menjadi dua. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . membagi keadilan menjadi 2./Modul/Fils. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum.Doc. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. 2) keadilan komutatif. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. b. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. yang dibedakan lagi menjadi 3. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. summa injuria. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). Kontribusi Aristoteles berikutnya. summa crux”. yaitu: 1) keadilan distributif. summa lex. Perbedaannya ialah. Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. Keadilan Khusus. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. Keadialan Umum (Justitia Generali). karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum.

Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek.Doc. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. Keadilan dalam arti sempit. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. yaitu: a. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. c. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. karena ada dasar lain. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. ./Univ. b. Cit. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. Kepastian hukum atau legalitas. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. yakni nilai keadilan. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. 3. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. 5 Theo Huijbers. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. aspek ini menentukan isi hukum. Tujuan keadilan atau finalitas. hukum diwujudkan dalam satu nilai. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. halaman 162. Menurut Radbruch./Modul/Fils. yaitu dasar hukum sebagai hukum. Op. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Hk..

seperti politik. halaman 48. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. Latihan Soal a. 1995. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers./Modul/Fils. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya.Doc. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. 4. Yogyakarta. Filsafat Hukum. Bagaimana pendapat Sdr. . Penerbit Kanisius. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b./Univ.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Hk.

Gramedia Pustaka Utama. . Yogyakarta./Univ. Jakarta./Modul/Fils. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit PT. Huijbers. Pradnya Paramita. Jakarta. Filsafat Hukum. Theo. 1995. 1997. Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Hk. Penerbit Kanisius. Penerbit Kanisius. 1993.Doc. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Bagian I. _________________. 1993. Penerbit PT. Yogyakarta. Soetiksno. Pokok-Pokok Filsafat Hukum.

Semarang. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. b. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. 1997. Menjelaskan falsafah hukum nasional. halaman 44. yaitu:1 a. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Universitas Diponegoro. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. mahasiswa mampu: 1. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Soehardjo Sastrosoehardjo. 1. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila./Univ. Hk. 2./Modul/Fils. 1 .Doc. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat.

apa hakekat kebenaran. sosial. Ontologi. atau keturunan. Aksiologi./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. kekuasaan. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status.Doc. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . agama. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan./Univ. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. Hk. Sehubungan dengan itu. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. c. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. Untuk itu. dan sebagainya. b. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Epistemologi. Pancasila harus tetap terbuka .

2 . Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. radikal./Modul/Fils. Penerbit Kanisius. dan eksploratif. 2. perlu dikembangkan critical mass. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. 3 Theo Hujibers. 1993./Univ. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. Dalam suasana yang demikian. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. Hk. Untuk itu. Program Pascasarjana Ilmu Hukum.Doc. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. halaman 9. Universitas Diponegoro.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. 1997. Semarang. kreatif. Yogyakarta. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. halaman 106.

Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara./Modul/Fils.Doc. tetapi juga dalam bidang realitas. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. anti tesis./Univ. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Dalam Teorinya. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. Causa Formalis Pancasila. dan sintesis. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. Hk. Menurut Hegel pula. . Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. sosial. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. kebudayaan. Sebagai contoh. Causa Finalis. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. berdasarkan teori causalis. kewarganegaraan. yaitu: Pertama. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. dan sebagainya. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. ialah anggota BPUPKI. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. lebih lanjut dikemukakan pula. menurut Notonegoro. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. dilihat dari causa materialis. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. ekonomi. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis.

keadilan sosial. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. demikian seterusnya. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. dikatakan piramidal. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. Demikian pula sebagai . Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. berpersatuan. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. Selanjutnya./Modul/Fils. Dengan demikian. karena jika dilihat dari isinya. Kecuali itu. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. dalam hal ini PPKI.Doc. Persatuan Indonesia. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. dan berkeadilans osial. dan Keadilan Sosial. berkerakyatan. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. Pancasila sebagai pandangan hidup. kerakyatan. Dikatakan hirarkis. Hk. Sebaliknya. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya./Univ. Penjelasan selanjutnya.

Latihan Soal a. Dengan demikian. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. batang tubuh. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. yaitu: a. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. yaitu: Positivisme mementingkan logika. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. Hk. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila./Modul/Fils. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. yaitu Sociological Jurisprudence. ideologi negara. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Pada aliran Positivisme Hukum. Kepentingan Masyarakat. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. 3. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat./Univ. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara. Kepentingan Umum. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah.Doc. dan dasar negara. Kepentingan Individu. baik pembukaan. b. c. maupun penjelasannya.

Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. 1997. Semarang./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Yogyakarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Semarang. 1997 . 1993. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Universitas Diponegoro. Soehardjo Sastrosoehardjo. 1993 Theo Hujibers./Modul/Fils. Yogyakarta. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Penerbit Kanisius. Woro & Sri Hartini.Doc. Universitas Diponegoro. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Hk. Theo. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Winandi. Penerbit Kanisius.

Hk.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 64 ./Modul/Fils./Univ.

halaman 1. Sesungguhnya. tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. 4. Sehingga untuk dapat berfilsafat. Penerbit Rineka Cipta.Doc. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat.4 I. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). 6. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. yaitu: Filosofia. Jakarta. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup. terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat. 6./Univ. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana. Poedjawijatna. istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani. 1990. Hk. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. 5. tetapi juga ada logika-logika yang lain./Modul/Fils. Mengetahui pengertian filsafat hukum. 7. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 8. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4. 4 . Memahami pengertian filsafat.R. Memahami pengertian hukum.

Dari sudut isinya. sistematis. R. Bijaksana inipun merupakan kata asing. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. dan hakikat manusia.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. Op. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu.Doc. sehingga terdapat kebenaran./Univ. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. yaitu ingin dan karena ingin itu. tetapi yang membedakan adalah objek formanya. yakni: filo dan sofia. slogan. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Penerbit PT. Barangkali. 5 . objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Jadi secara etimologis. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya. 6 I. Cit. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. terlebih-lebih bersifat universal. Gramedia Pustaka Utama. Menurut Poedjawijatna. halaman 4. lambang dan sebagainya. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu. Pokok-pokok Filsafat Hukum./Modul/Fils. metode. hakikat alam. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua.. yakni objek materia dan objek forma. yang tercermin dalam berbagai pepatah. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek. Dengan demikian. dan sistematika tertentu. Poedjawijatna. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. Hk. 1995. lalu berusaha mencapai yang diingini. yaitu tentang hakikat Tuhan. halaman 6-9. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.

maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. politik. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika. Sebuah Pengantar Populer. dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). jika yang dianalisis hanya fakta saja. Hk. ada ciri lain yang perlu ditambahkan. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas. Mendasar. Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam. yaitu spekulatif. senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. jika yang dianalisis nilai. Suriasumantri. Untuk itu. 1998. Jakarta. filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok. halaman 7.. h. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. etika. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan. logika. melainkan analisis nilai./Univ. Op.8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation). Filsafat Ilmu. yaitu: menyeluruh. artinya cara berfikir filsafat tidak sempit. ciri ketiga dari filsafat yang berperan. Sebab. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. mendasar. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”.7 Menyeluruh. 7 . Cit. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. dan spekulatif.Doc. dan estetika. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. g./Modul/Fils. Jujun S. ekonomi. Lain halnya. antara lain: f. retorika. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. i.

agama. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. dan sebagainya. 9 .Doc. Di sisi lain. karena agama merupakan sesuatu yang ada. Pada agama. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. 1990. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. filsafat berdasarkan pikiran belaka. Di satu sisi. dan antropologi. sedangkan agama berdasarkan wahyu. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. baik dan buruk. halaman 5./Univ. 5. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. etika. Narotama Surabaya/V/2005 68 j. yaitu metafisika. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. pikiran belaka. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. Dengan kata lain. Citra Aditya Bakti. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Bandung. dengan kata lain objek filsafat itu ada./Modul/Fils. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. misalnya: Tuhan. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. Penerbit PT. Hk. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi. kebajikan.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu.

Doc. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak./Univ. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. yang lazim disebut sebagai Theodicea. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. Dengan demikian. kemampuannya. terdapat bermacam-macam hal. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. Dalam realitas. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. yaitu: b. Berdasarkan Objek. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Segala sesuatunya itu ada. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. misalnya sifat-sifatnya. Jadi. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak./Modul/Fils. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. Alam dicari . d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. Oleh karena itu. 4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya.

apakah hubungannya satu sama lain. apa pendorong hidupnya.Doc. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. apakah kemampuan-kemampuannya. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. dan lain-lain. yaitu: manusia. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. apakah isi alam pada umumnya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu./Modul/Fils./Univ. Hk. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. apakah sebenarnya itu. c)) Filsafat Budi (Logika): . dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. karena ada-nya tidak dengan niscaya. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada.

Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. yaitu manusia. Hk. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). seperti: pengertian.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor./Univ. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. serta putusan-putusan. Namun. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja . jalan pikiran. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang./Modul/Fils. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. b. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. dalam bekerjanya budi. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. dan itu dilakukan oleh subjeknya.

5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia.Doc. Hk. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. ada-umum. indah lawan jelek. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). misalnya: ada yang tinggi dan rendah. Oleh karena itu. Menurut Objek: Ada-umum (fils. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia./Modul/Fils. baik lawan buruk. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. dan anthropologia)./Univ. Jadi. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. dan sebagainya. Menurut Subjek: . theodicea. ontologia. secara garis besar. 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. budi (logika mayor & minor) h. tingkah laku (ethica) Fils. theodicea) Alam (filsafat alam. Sehingga. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. kosmologia) Fils. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. kosmologia.

Dari segi tujuan. 11 Sudikno Mertokusumo.10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). dan kesejahteraan. Penerbit Liberty. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. agar jangan sampai jatuh korban. 10 . untuk ketertiban masyarakat. dan kaedah hukum. Suatu Pengantar. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. 1991. Apakah Hukum Itu?. Lili Rasjidi. 1988. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. Remaja Rosdakarya./Univ. kaedah kesusilaan. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. Dari segi isi. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. dengan alasan sebagai berikut: f. halaman 5. Yogyakarta. Mengenal Hukum. Penerbit PT. Hk. kaedah sopan santun (adat). Bandung. halaman 31. ketertiban. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan.Doc. g. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. Filsafat Hukum./Modul/Fils.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma.

Doc. misalnya saja Thomas Aquino. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. membebani kewajiban dan memberikan hak. ./Univ. Op. Sebagai contoh pertama. Cit.. Dari segi asal-usul. termasuk mengatur pemerintahan. yaitu:12 Lex Aeterna. Narotama Surabaya/V/2005 74 h. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum. i. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. j. 12 Lili Rasjidi. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. Lex Naturalis. Hk. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. Dari segi daya kerja. Tentu saja. pada Zaman Pertengahan./Modul/Fils. berasal dari masyarakat secara resmi. Lex Divina. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. Ketiga. Pada masa ini. halaman 29-30. pada zaman Romawi. Dari segi sanksi. Kedua.

13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Hk. seperti Carl von Savigny dan Puchta. 6. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. halaman 4. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. 1988. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum. Penerbit PT. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum./Univ.. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. 13 . Jadi. Op. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Rasionya. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies./Modul/Fils. Bandung. Dengan kata lain. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Dengan demikian. Citra Aditya Bakti. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. halaman 10. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.Doc. Cit.

/Univ.Doc. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. J./Modul/Fils. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum.M. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Semarang. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. 14 . Sedangkan D. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Hk.H.14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil.J. kebahagiaan. Narotama Surabaya/V/2005 76 J. 1997. halaman 5. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Sementara itu. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. dan tata tertib dalam masyarakat.

1995. Hk. ________________. 1988. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Suatu Pengantar. Yogyakarta.. . Filsafat Ilmu. Penerbit Rineka Cipta./Modul/Fils. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 1990. Jakarta. Semarang. Rasjidi. Soehardjo. Citra Aditya Bakti. 1990. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit PT. Lili. Poedjawijatna. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut./Univ. Darji & Shidarta. Mengenal Hukum.R. Remaja Rosdakarya. Dengan kata lain. Sastrosoehardjo. 1997.. Filsafat Hukum. 1991. Penerbit Liberty. Jakarta. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Jujun S. 1998.Doc. Apakah Hukum Itu?. Mertokusumo. Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Penerbit PT. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Suriasumantri. Bandung. Sudikno. I. Bandung. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Universitas Diponegoro.

dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. 8. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang./Univ. Plato. Jakarta.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. 7. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Socrates. halaman 70-71. Penerbit PT. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah.Doc. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. 1995. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. Hk. dan masa depan. Gramedia Pustaka Utama. 6. antara lain: Anaximander. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Herakleitos (540-475 SM). 1 . Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani./Modul/Fils. dan Aristoteles. Parmenides. Herakleitos. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. sekarang. 6.

Doc. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. halaman 20). Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. ukuran. Dalam mempertahankan pendapatnya. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. 2 . Tetapi jelas baginya. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. maka timbullah keadilan (dike). Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati./Modul/Fils. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. Apabila hal ini terjadi. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Yogyakarta. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Logos menciptakan bentuk . Penerbit Kanisius. 1993. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Sementara itu. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Dengan kata lain.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. Hk./Univ. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum.

Hk./Univ. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Menurut Aristoteles. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. yakni undang-undang negara. yakni hukum alam dan hukum positif. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda./Modul/Fils. Oleh karena itu. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. Misalnya. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya.Doc. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). lenyap dan berlaku dengan sendirinya. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. . Meskipun demikian. Menurut Aristoteles. Dari gagasan Aristoteles ini. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. sehingga hukum tidak pernah berubah. karena hubungannya dengan aturan alam. Oleh karena itu. Aristoteles.

1990. Citra Aditya Bakti. Dengan kata lain. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. menurut Stoisisme. 3 . Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. bukan menurut hukum positif. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. Penerbit PT. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. halaman 13. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. Hk. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. Oleh karena itu./Modul/Fils.Doc.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Dalam perkembangannya. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. 7./Univ. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). Bandung. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam.

antara lain: William Occam (1290-1350). Rousseau (17121778). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. John Locke (1632-1704). Montesquieu (1689-1755). Thomasius (1655-1728). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. J. Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna). Wolf (1679-1754)./Univ. dan Immanuel Kant (1724-1804). dan hukum positif (Lex Positivis).J. Samuel Pufendorf (1632-1694). Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. lahirnya segala macam ilmu baru. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. George Berkeley (1685-1753). Thomas Hobbes (1588-1679).. perkembangan teknologi yang sangat pesat.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. David Hume (17111776). ditemukannya dunia-dunia baru. dan sebagainya. Cit. Francis Bacon (1561-1626). Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. 9. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. Op. .Doc. berdirinya negara-negara baru. Rene Descartes (1596-1650)./Modul/Fils. 8. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Hk. halaman 39. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum.

/Modul/Fils. Di samping Marx dan Engels. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. seperti J. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. Namun. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi.F. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Teorinya disebut Dialektika. yaitu akan menjadi. Schelling (1775-1854). Cit.Doc.J.W. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Op. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. seperti Hegel (1770-1831)./Univ. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. Menurut Hegel.. seperti Hobbes. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. .5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. Karl Marx (18181883). Menurut teori dialektika Hagel. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Fichte (1762-1814) dan F. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. Hk. halaman 37. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. masih ada beberapa ahli pikir lain. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah.

/Modul/Fils. Descartes Fichte T. Modern Z.Doc. Occam Hegel R. Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. . Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10. Hume F. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Hk. Op. Berkeley D. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Yunani (Kuno) Z. Hobbes Schelling J. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9.J./Univ. Latihan Soal 7. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11. halaman 82. Pertengahan Z.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Cit. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8. Locke von Savigny G. Herakleitos. Bacon Wolf Montesquieu J. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12.. Rousseau Immanuel Kant 10.

Penerbit PT. 1993. Hk. Yogyakarta. Jakarta. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Huijbers. 1995. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1990. Penerbit Kanisius. Gramedia Pustaka Utama. Theo. Lili./Univ. Bandung.Doc. Rasjidi./Modul/Fils. Darji & Shidarta. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Citra Aditya Bakti. .

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

Cit. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Hk. tidak dogmatis (trancendental). yaitu cipta. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut.4 Metode kritis tidak skeptis. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). and feeling).. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis./Modul/Fils. rasa. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya./Univ. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. dan karsa (thinking. halaman 12. volition. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. lawan dari filsafat dogmatis. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Op. . beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze).Doc.

3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman./Univ. Hk. Bagi Hegel. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. das ist wirklich ist. . san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. demikan juga dengan hukum. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara./Modul/Fils. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. das ist vernunftig. Di Inggris. b. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Austin membagi hukum atas 2 hal. yaitu Analytical Jurisprudence. Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. What is reasonable is real. antitesa. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. berkembang bentuk yang agak lain. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika.Doc. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. and what is real is reasonable). Jadi. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas.

Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. kewajiban. dan sebagainya. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. Idealisme hukum ditolak sama sekali. Menurut Austin. contoh hak wali terhadap perwaliannya. etika. Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . Hk. sejarah. peraturan pemerintah. Menurut ajaran tersebut. sanksi. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya./Modul/Fils. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. seperti: undang-undang. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. dalam hukum yang nyata pada point pertama. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa.Doc. Hans Kelsen seorang Neo Kantian./Univ. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. di dalamnya terkandung perintah. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. dan kedaulatan. sosiologi. dan sebagainya. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya.

tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. bukan karsa dan rasa. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. halaman 43. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896).Doc. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu. Op./Univ. i) Hukum adalah ilmu normatif. . j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. Cit. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. masalah cipta.. etiika atau agama. bukan masalah apa yang dikehendaki. k) Teori hukum adalah formal. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas./Modul/Fils. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Hk. l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum.

Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji.Doc. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. kekuasaan hukum. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. verbinden. John Stuart Mill (1806-1873)./Modul/Fils. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. dan melawan hukum. mengikat. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. dasar hukum. Hk./Univ. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. menurut hukum (rechtmatigeheid). Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. Manusia selalu berusaha .q. objek hukum. Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa.q. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). yaitu: subjek hukum. hubungan hukum. i. penundukan hukum. secara positif. hukum kodrat gaya baru. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c.

Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . jikas tidak demikian. ia mengikuti Bentham. Bagi Jhering. Pada hakekatnya.Doc. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Oleh karena itu. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. Hk. Mill. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. dan positivisme hukum dari John Austin. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial./Modul/Fils. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. untuk memelihara kegunaan./Univ. j. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. Dalam mendefinisikan kepentingan. Dengan kata lain. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain).

Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . Hk. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. Sedang Puchta. berkembang bersama dengan rakyat. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian./Modul/Fils. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). namun ia akan mati./Univ. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. . Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. 8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. bilden sich aus mit diesem. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata.Doc. es wachst mit dem volke vort. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. berupa adat-istiadat.

Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. Lebih lanjut. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang.Doc. 1993. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Yogyakarta. 6 . Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Menurut Puchta. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). halaman 120-121. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris./Modul/Fils. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. k. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Penerbit Kanisius. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Di lain pihak. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat./Univ. Hk.

Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. Benjamin Cardozo. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Dengan rasio demikian./Univ. Sociological jurisprudence. Op. Hk. . Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Kontorowics.Doc. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. antara lain: Roscoe Pound. Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya./Modul/Fils. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum.. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Aliran ini berkembang di Amerika. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Gurvitch dan lain-lain. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Eugen Ehrlich. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. halaman 47. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Cit.

Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. private as well as public interest). Oliver Wendell Holmes. Sementara itu. Maksudnya. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . Karl Llewellyn. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Gray. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. kedua liran tersebut ada kebenarannya.Doc. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Hk. l. Sebab./Modul/Fils. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Jerome Frank. maka tiap bagiannya harus . Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum./Univ. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. William James dan sebagainya. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum.

Doc. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan./Univ./Modul/Fils. 7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. Hk. Sesuai dengan keyakinan ini. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya.

ekonomis. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. prasangka politis. 8 . Filsafat Hukum. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. Bagi Frank. hukum dapat dibagi menjadi dua. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. 1997. di samping faktor-faktor lain. Penerbit PT. Pradnya Paramita.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain./Modul/Fils. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). Bagian I. yakni. yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. Jakarta. 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. hanyalah sebatas persamaan nama saja. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. yakni wawasan sosiologis. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. halaman 77. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. simpati maupun antipati pribadi (Frank)./Univ. Hk. dan moril. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). “The path of Law” berasal dari Holmes. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan.

4. . Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law)../Modul/Fils. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. Lundstedt. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Latihan Soal 9 Ibid. halaman 86. Hk.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. Menureut Friedman.Doc. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. yaitu Oliverscrona./Univ. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross.

Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b./Modul/Fils./Univ. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d.Doc.! f. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Narotama Surabaya/V/2005 103 a. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Hk.

Penerbit PT. Lili. 1995. . Citra Aditya Bakti Bandung. Penerbit PT. Pradnya Paramita. Huijbers./Univ. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit PT. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Semarang. Penerbit Kanisius. Jakarta. Yogyakarta. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Hk. Gramedia Pustaka Utama. Soetiksno. Darji & Shidarta. Bagian I. 1993. Soehardjo Sastrosoehardjo. Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Jakarta. Universitas Diponegoro. 1997. 1990./Modul/Fils. Rasjidi. halaman. 1997.Doc. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah.Doc. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Menurut anggapan pada masa itu. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . h. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda./Modul/Fils. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain./Univ. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. Hk. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. i. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot.

Di dalam satu bentuk yang idealistis. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis./Modul/Fils. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu.Doc. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . atau pada taraf lain. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. k. Di dalam betuk Positivistis-Analistis./Univ. Hk. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. j. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad.

yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu./Univ. yang ditemukan oleh pengamatan. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. halaman 129130. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Untuk itu. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. Jakarta. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. l. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest). 2 . dan bukan lagi dasar metafisik. 1995./Modul/Fils. Gramedia Pustaka Utama. Hk.Doc.

5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. dilihat dari hal tersebut. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. hakim. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering./Modul/Fils. e) kepentingan keluarga. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu.Doc. f) kepentingan hak milik. Dengan kata lain. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum. Oleh karena itu. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. j) kesejahteraan sosial. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. tujuan hukum yang demikian ini . kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Hk. sehingga membuat pembentuk undng-undang. pengacara. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham./Univ. Kedua. h) pencegahan kemerosotan akhlak. i) pencegahan pelanggaran hak. 2. yaitu: Pertama. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. g) perlindungan lembaga-lembaga sosial. d. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat.

sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. dan penduduk yang bertambah banyak. 3. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. yaitu: d. e. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan./Modul/Fils. Oleh karena itu. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. antara orang-orang yang sekutu./Univ. e. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. Hk. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. yang menilik niat bukan di tempatnya . yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . f. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. hukum dibentuk.

Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya. Hk. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya./Univ. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. timbul pandangan hukum adalah keburukan. f./Modul/Fils. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum.Doc. 3. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Latihan Soal a.

1996. Penerbit Bhratara. Roscoe. Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound.Doc. Gramedia Pustaka Utama. 1995. Jakarta. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. . Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia./Modul/Fils. Darmodiharjo. Darji & Shidarta./Univ. Pengantar Filsafat Hukum.) Muhammad radjab. Hk. (Terj. Jakarta.

1 . Jakarta. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. yaitu sifat baik. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. 2. 4. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. Pradnya Paramita. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3. Penerbit PT. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan.Doc. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu./Univ. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. Soetiksno. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. 2./Modul/Fils. Filsafat Hukum. halaman 11. 1997. Dengan perkataan lain. Bagian I. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Hk. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya.

Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Op. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu.Doc. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. b. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. c. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding.. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. Jakarta. 1993.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. 1995. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Sedang menurut Aristoteles. yaitu: 4 c. halaman 29. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem./Modul/Fils. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. Keadilan distributif (Distributive Justice). Yogyakarta. 3 Theo Huijbers. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. d. halaman 155. Dalam menganalisis keadilan. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato. 2 . Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice).2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus./Univ. Hk. halaman 154. Cit. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Penerbit Kanisius.

yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. summa lex. Keadialan Umum (Justitia Generali). membagi keadilan menjadi 2. Keadilan Khusus. Hk. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. yaitu kepastian hukum. adil atau tidak adil. 5) keadilan komutatif. Perbedaannya ialah. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. 6) keadilan vindikatif. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. Selain membagi keadilan menjadi dua. Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. Kontribusi Aristoteles berikutnya. yaitu: c. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. yang dibedakan lagi menjadi 3. summa injuria. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. summa crux”. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. yaitu: 4) keadilan distributif. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif./Univ./Modul/Fils. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun.Doc. d. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif.

.Doc. 5 Theo Huijbers./Univ. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. yaitu: a. Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. c. hukum diwujudkan dalam satu nilai. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. Tujuan keadilan atau finalitas. Cit. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman./Modul/Fils. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. Keadilan dalam arti sempit. Menurut Radbruch. karena ada dasar lain. yaitu dasar hukum sebagai hukum. aspek ini menentukan isi hukum. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Kepastian hukum atau legalitas. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. yakni nilai keadilan. Hk. halaman 162. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. Op. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. . Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. b.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. 3.

/Univ./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. 1995. 4. . maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers.Doc. Latihan Soal a. halaman 48.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Hk. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Bagaimana pendapat Sdr. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). Penerbit Kanisius. Yogyakarta. seperti politik. Filsafat Hukum. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No.

./Univ. Darji & Shidarta. 1997. Penerbit PT. Jakarta. Bagian I./Modul/Fils. Pradnya Paramita. Penerbit Kanisius. Jakarta. Filsafat Hukum.Doc. Huijbers. 1995. Filsafat Hukum. Yogyakarta. _________________. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 1993. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Hk. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Theo. 1993. Soetiksno. Penerbit PT.

Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa./Univ. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. 1 . 2. b. Menjelaskan falsafah hukum nasional. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. 4. Hk. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. Soehardjo Sastrosoehardjo. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu./Modul/Fils. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. mahasiswa mampu: 1.Doc. yaitu:1 a. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Universitas Diponegoro. Semarang. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. 1997. halaman 44.

/Modul/Fils./Univ. atau keturunan. Hk. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. kekuasaan. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. apa hakekat kebenaran. c. sosial. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. Pancasila harus tetap terbuka .Doc. Ontologi. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. b. Epistemologi. Aksiologi. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. Sehubungan dengan itu. Narotama Surabaya/V/2005 122 c. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. dan sebagainya. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. agama. Untuk itu.

Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. 3 Theo Hujibers. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Dalam suasana yang demikian. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum./Modul/Fils. perlu dikembangkan critical mass. halaman 9. Yogyakarta. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Semarang. Untuk itu. dapat dipergunakan pendekatan filosofis./Univ. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Universitas Diponegoro. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. kreatif. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Penerbit Kanisius. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. 2 . sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. 1997. dan eksploratif. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. 1993. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. radikal. halaman 106.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). Hk. 5.Doc. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan.

menurut Notonegoro. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. dan sintesis. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. ekonomi. Causa Finalis. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis./Modul/Fils. Menurut Hegel pula. kebudayaan. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Dalam Teorinya. tetapi juga dalam bidang realitas. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. berdasarkan teori causalis. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”. dilihat dari causa materialis. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. anti tesis. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. Hk. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. . Sebagai contoh. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. ialah anggota BPUPKI. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. sosial./Univ.Doc. dan sebagainya. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. Causa Formalis Pancasila. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. kewarganegaraan. lebih lanjut dikemukakan pula. yaitu: Pertama. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik.

/Univ. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. Kecuali itu. dan berkeadilans osial. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Pancasila sebagai pandangan hidup. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. dalam hal ini PPKI. Sebaliknya. Dengan demikian. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. Hk. keadilan sosial. kerakyatan. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. Dikatakan hirarkis. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. dan Keadilan Sosial. dikatakan piramidal.Doc. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Penjelasan selanjutnya. berkerakyatan. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. berpersatuan. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Persatuan Indonesia. Selanjutnya. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. demikian seterusnya. Demikian pula sebagai . sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. karena jika dilihat dari isinya. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia.

terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara. yaitu: Positivisme mementingkan logika./Modul/Fils. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Dengan demikian. e. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. batang tubuh. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur.Doc. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. baik pembukaan. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. yaitu Sociological Jurisprudence. Kepentingan Umum. yaitu: d. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Pada aliran Positivisme Hukum. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. dan dasar negara. Hk. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. maupun penjelasannya. f./Univ. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. ideologi negara. Kepentingan Individu. 6. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Latihan Soal a. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. Kepentingan Masyarakat.

Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Theo. Semarang. Yogyakarta. Semarang. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Winandi. 1997. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Hk. 1993. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Yogyakarta. 1997 . Universitas Diponegoro./Modul/Fils. Soehardjo Sastrosoehardjo. Penerbit Kanisius. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1993 Theo Hujibers./Univ. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum.Doc. Universitas Diponegoro. Woro & Sri Hartini. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.

Hk./Modul/Fils./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 128 .Doc.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful