Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

Penerbit PT. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Dengan kata lain. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. d. pikiran belaka. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. Pada agama. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. filsafat berdasarkan pikiran belaka. karena agama merupakan sesuatu yang ada. Hk. Lili Rasjidi. e. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. dan sebagainya. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu./Modul/Fils. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Citra Aditya Bakti. Di satu sisi. agama. etika. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. 6 . karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. baik dan buruk. misalnya: Tuhan. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu.Doc. sedangkan agama berdasarkan wahyu. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. dan antropologi. halaman 5. yaitu metafisika. Narotama Surabaya/V/2005 4 c. Di sisi lain. 1990. kebajikan. Bandung./Univ.

Ada menjadi dasar dari segala yang ada. yaitu: a. yang lazim disebut sebagai Theodicea. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. terdapat bermacam-macam hal. kemampuannya. Jadi. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya./Univ. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. Hk. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. Oleh karena itu. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). dengan kata lain objek filsafat itu ada. Narotama Surabaya/V/2005 5 2. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Dalam realitas. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. Berdasarkan Objek./Modul/Fils. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. misalnya sifat-sifatnya.Doc. Dengan demikian. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. Segala sesuatunya itu ada. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. yang hendak dicari . terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum.

apa pendorong hidupnya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. apakah sebenarnya itu. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur . karena ada-nya tidak dengan niscaya. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. yaitu: manusia. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak.Doc. apakah hubungannya satu sama lain. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu./Univ. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. apakah isi alam pada umumnya./Modul/Fils. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. dan lain-lain. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. apakah kemampuan-kemampuannya. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya.

Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. Namun. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. yaitu manusia. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan./Univ. Hk./Modul/Fils.Doc. dalam bekerjanya budi. b. seperti: pengertian. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. dan itu dilakukan oleh subjeknya. serta putusan-putusan. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . jalan pikiran. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki.

indah lawan jelek. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). Menurut Objek: Ada-umum (fils. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. Sehingga. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. kosmologia. 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. kosmologia) Fils. ontologia. secara garis besar. Hk. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. Oleh karena itu. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. dan sebagainya. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. Jadi. ada-umum. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. tingkah laku (ethica) . Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. misalnya: ada yang tinggi dan rendah.Doc. theodicea) Alam (filsafat alam./Modul/Fils. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. theodicea. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. dan anthropologia)./Univ. baik lawan buruk. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a.

terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba.Doc. dan kesejahteraan. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi. Filsafat Hukum. Yogyakarta. Mengenal Hukum. dan kaedah hukum. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. 1991. Apakah Hukum Itu?. Penerbit Liberty. halaman 5. Hk. kaedah kesusilaan. Bandung. Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. halaman 31. 7 . Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya. 1988.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. Penerbit PT.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). kaedah sopan santun (adat). budi (logika mayor & minor) b. ketertiban./Modul/Fils. 8 Sudikno Mertokusumo.

Dari segi sanksi. . d. halaman 29-30. c. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir.Doc. untuk ketertiban masyarakat. agar jangan sampai jatuh korban. Op. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. e. b. Dari segi daya kerja. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. Ketiga. pada Zaman Pertengahan. Cit. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. termasuk mengatur pemerintahan. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. Dari segi tujuan. Tentu saja. Dari segi isi. yaitu:9 Lex Aeterna. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. berasal dari masyarakat secara resmi. Dari segi asal-usul. Kedua. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum.. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. Lex Divina. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. pada zaman Romawi. misalnya saja Thomas Aquino. membebani kewajiban dan memberikan hak. Hk. Lex Naturalis. Sebagai contoh pertama. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum./Univ. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum./Modul/Fils.

Jadi. Di samping itu. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Rasionya. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum. 1988. Pada masa ini. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain.10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus.. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. seperti Carl von Savigny dan Puchta. halaman 4. Cit. halaman 10. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Hk./Modul/Fils. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi.Doc. Citra Aditya Bakti./Univ. Penerbit PT. Bandung. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. Op. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. 3. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. 10 . Dengan demikian. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Dengan kata lain.

Sementara itu. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Sedangkan D. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). kebahagiaan. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Semarang. halaman 5. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum.M. J. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen./Modul/Fils.J.H. 11 . Hk. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum./Univ. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. dan tata tertib dalam masyarakat. Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum.Doc. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. J. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum.11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. 1997. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht).

________________. Suriasumantri. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Semarang. Penerbit PT. Mengenal Hukum. 1998. Sudikno. Apakah Hukum Itu?. Mertokusumo. Penerbit PT. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Poedjawijatna. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit Liberty. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1997. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Sastrosoehardjo. I. Jakarta. Rasjidi. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Citra Aditya Bakti.. 1988. . Jakarta./Modul/Fils. Bandung. Lili. Penerbit PT. 1991. Penerbit Rineka Cipta. Universitas Diponegoro. Yogyakarta.R. Jujun S. Filsafat Ilmu. Hk. Jakarta. Dengan kata lain. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar./Univ. 1990. Filsafat Hukum. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Darji & Shidarta. 1995. Soehardjo. Remaja Rosdakarya. Gramedia Pustaka Utama. Sebuah Pengantar Populer. Bandung.Doc. Suatu Pengantar. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. 1990. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum..

Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. sekarang. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Plato. Herakleitos. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). 1. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1995. 2. Jakarta. dan masa depan./Univ.Doc. Parmenides. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Herakleitos (540-475 SM). Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. dan Aristoteles. Hk. 1 . Gramedia Pustaka Utama.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Socrates. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 4. antara lain: Anaximander. Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini./Modul/Fils. Penerbit PT. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. halaman 70-71. 3. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu.

Hk. Yogyakarta. Tetapi jelas baginya.Doc. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. Dengan kata lain. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Dalam mempertahankan pendapatnya. Logos menciptakan bentuk . Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. 2 . Penerbit Kanisius. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Apabila hal ini terjadi. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah./Univ. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme./Modul/Fils. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. maka timbullah keadilan (dike). Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). ukuran. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Sementara itu. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. 1993. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. halaman 20).

Oleh karena itu. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa./Univ. Misalnya. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. Hk. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif./Modul/Fils. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. Dari gagasan Aristoteles ini.Doc. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). yakni hukum alam dan hukum positif. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. Aristoteles. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. sehingga hukum tidak pernah berubah. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. Meskipun demikian. . Menurut Aristoteles. Oleh karena itu. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. karena hubungannya dengan aturan alam. Menurut Aristoteles. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. yakni undang-undang negara. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato.

Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa.Doc. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Citra Aditya Bakti. Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. Dengan kata lain. 1990. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. 2. 3 . Bandung. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). yang selanjutnya diartikan sebagai rasio./Univ. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Oleh karena itu. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Dalam perkembangannya. menurut Stoisisme./Modul/Fils. bukan menurut hukum positif. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. halaman 13.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Penerbit PT. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). Hk. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos).

Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). Samuel Pufendorf (1632-1694). sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan./Modul/Fils. dan sebagainya. antara lain: William Occam (1290-1350). Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. . dan Immanuel Kant (1724-1804). Francis Bacon (1561-1626).Doc.J. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. lahirnya segala macam ilmu baru. J. perkembangan teknologi yang sangat pesat. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. Cit. Montesquieu (1689-1755)./Univ. Wolf (1679-1754). ditemukannya dunia-dunia baru. Hk. 3. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. berdirinya negara-negara baru. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan.. halaman 39. David Hume (17111776). Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. George Berkeley (1685-1753). Op. 4. Rene Descartes (1596-1650). Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. dan hukum positif (Lex Positivis). Thomas Hobbes (1588-1679). Rousseau (17121778). Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. John Locke (1632-1704). Thomasius (1655-1728). Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina).

/Modul/Fils. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. Namun. masih ada beberapa ahli pikir lain. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. halaman 37. seperti Hobbes. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Cit./Univ. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Karl Marx (18181883). Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat.W.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. . juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. Di samping Marx dan Engels. seperti J.Doc. Teorinya disebut Dialektika. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Menurut Hegel. Schelling (1775-1854). aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19.F. Hk. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme.J. Fichte (1762-1814) dan F. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. seperti Hegel (1770-1831). Op. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah.. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. yaitu akan menjadi. Menurut teori dialektika Hagel. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri.

Locke von Savigny G. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6. Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Modern Z. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Op.Doc.. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Cit./Univ. Herakleitos. halaman 82. Berkeley D. Hume F. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W./Modul/Fils. Pertengahan Z. Latihan Soal 1. .6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. Hobbes Schelling J. Descartes Fichte T. Hk. Yunani (Kuno) Z. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Occam Hegel R. Rousseau Immanuel Kant 5. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta.J. Bacon Wolf Montesquieu J. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4.

/Univ. Huijbers. Rasjidi. Gramedia Pustaka Utama. 1993. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.Doc. Jakarta. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT. Bandung./Modul/Fils. Citra Aditya Bakti. Penerbit Kanisius. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1990. Darji & Shidarta. Penerbit PT. Yogyakarta. Lili. . Hk. 1995. Theo.

Doc. Hk. Aliran Hukum Alam. Aliran Utilitarianisme. Northrop dan Lili Rasjidi. f.G. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. c. Lili Rasjidi. 1. Aliran Legal Realism. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. e. halaman 26-27. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. yaitu: a. Alian Positivisme. 1990. yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana. Citra Aditya Bakti Bandung. 1 . antara lain F. Aliran Hukum Positif./Modul/Fils. e. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum./Univ. d.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran. d. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Aliran Sejarah. b. yaitu: a. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1. Legal Positivism. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. g. c. 2. Aliran Sociological Jurisprudence. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. b. Naturalistic Jurisprudence.S. Penerbit PT. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Pragmatic Legal Realism.

g. Hk. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. h. b. Madzhab Sejarah. Aliran Positivisme. yaitu:2 a. c. masing-masing: a. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab. Aliran Realisme Hukum. c. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain. f. Aliran Hukum Bebas. halaman 1. i. 1997. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. Sociological Jurisprudence. Semarang./Univ. Pragmatic Legal Realism. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. f./Modul/Fils. Aliran Ajaran Hukum Umum. Aliran Sejarah. 2 . Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Universitas Diponegoro. e. Aliran Sosiologi Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum. 2) Yang Rasional.Doc. d. Aliran Neo Kantianisme. 2) Murni. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama. Aliran Utilitarianisme. e. b. Soehardjo Sastrosoehardjo. d.

Daante. John Salisbury. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi.Doc. b) Lex Divina. Hk.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran. seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua). Piere Dubois. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. halaman 102. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino). 3 ./Univ. Menurut Friedman. hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. c) Lex Naaturalis. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. Penerbit PT. sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. Gramedia Pustaka Utama. yaitu: a) Lex Aeterna. Marsilius Padua. hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. dan John Wyclife. bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. d) Lex Posistivis. 1995. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini./Modul/Fils. yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Jakarta.

Penulis lain. sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil. c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. buruk atau jahat dan baik atau jujur. sehingga rasio . William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. Christian Thomasius. sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. Immanuel Kant. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal. 1) Rasional: Sebaliknya. dan Samuel Pufendorf. ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan./Univ. antara lain: Hugo de Groot (Grotius). manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja. Hk. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius). Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut. Tokoh-tokohnya. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia.Doc. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam.

Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. rasa. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). tidak dogmatis (trancendental).4 Metode kritis tidak skeptis.Doc. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. halaman 12. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. and feeling)./Univ. Op. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. dan karsa (thinking. Cit. volition. Hk. lawan dari filsafat dogmatis.. yaitu cipta. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas)./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. . Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya.

san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. demikan juga dengan hukum. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. yaitu Analytical Jurisprudence. . seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa./Univ. berkembang bentuk yang agak lain. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. antitesa. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang.Doc. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya./Modul/Fils. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. das ist wirklich ist. Bagi Hegel. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. das ist vernunftig. Austin membagi hukum atas 2 hal. and what is real is reasonable). Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. What is reasonable is real. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. Jadi. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. b. Di Inggris. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan.

seperti: undang-undang. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. kewajiban. sejarah. Hk. dan kedaulatan. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. dan sebagainya. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. sosiologi. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Menurut ajaran tersebut. di dalamnya terkandung perintah. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Menurut Austin. 2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. sanksi. Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. etika./Univ. contoh hak wali terhadap perwaliannya. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . peraturan pemerintah. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). dalam hukum yang nyata pada point pertama. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Idealisme hukum ditolak sama sekali. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler./Modul/Fils. dan sebagainya.Doc. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan.

etiika atau agama. e) Teori hukum adalah formal. c) Hukum adalah ilmu normatif. . teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. halaman 43. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas.. Op./Modul/Fils. Cit. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. bukan karsa dan rasa. Hk. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. seorang murid dari Rudolf von Jhering. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan.Doc. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. bukan masalah apa yang dikehendaki. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal./Univ. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. masalah cipta.

penundukan hukum.q. John Stuart Mill (1806-1873). objek hukum. dasar hukum. c. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). yaitu: subjek hukum./Univ./Modul/Fils. verbinden. dan melawan hukum. Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. hubungan hukum. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. hukum kodrat gaya baru. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. menurut hukum (rechtmatigeheid). meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut.Doc. secara positif. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya.q. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Hk. mengikat. kekuasaan hukum. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). Manusia selalu berusaha . Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum.

Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial./Modul/Fils. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. dan positivisme hukum dari John Austin. jikas tidak demikian. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). ia mengikuti Bentham. Bagi Jhering. Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain./Univ. d. Hk. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Oleh karena itu. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Dengan kata lain.Doc. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Pada hakekatnya. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Dalam mendefinisikan kepentingan. untuk memelihara kegunaan. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Mill.

Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. berkembang bersama dengan rakyat. 2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. bilden sich aus mit diesem./Univ. Sedang Puchta. berupa adat-istiadat. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. . tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian.Doc. namun ia akan mati. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. es wachst mit dem volke vort. Hk./Modul/Fils. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah.

keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum.Doc. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya./Univ. Penerbit Kanisius. Lebih lanjut. Di lain pihak. Hk. Yogyakarta. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. e. 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis./Modul/Fils. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. 6 .6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Menurut Puchta. Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang. halaman 120-121. 1993. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka.

Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Aliran ini berkembang di Amerika. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Eugen Ehrlich. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan.Doc. Kontorowics.. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Sociological jurisprudence. halaman 47. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Dengan rasio demikian. Benjamin Cardozo. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat./Modul/Fils./Univ. Op. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. antara lain: Roscoe Pound. . Gurvitch dan lain-lain. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Cit.

Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Hk. Karl Llewellyn. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. kedua liran tersebut ada kebenarannya./Univ. f. private as well as public interest). William James dan sebagainya. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. maka tiap bagiannya harus . Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman ./Modul/Fils. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Jerome Frank.Doc. Sementara itu. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Maksudnya. Sebab. Gray. Oliver Wendell Holmes.

3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- ./Modul/Fils. Sesuai dengan keyakinan ini. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau./Univ. 2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. 5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya.Doc. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. Hk. 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata.

sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. Pradnya Paramita. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. ekonomis. halaman 77. Hk. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. Bagian I. di samping faktor-faktor lain./Modul/Fils. “The path of Law” berasal dari Holmes. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. 1997. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Jakarta. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. hukum dapat dibagi menjadi dua. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. Penerbit PT. 8 . Filsafat Hukum.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain./Univ. hanyalah sebatas persamaan nama saja. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law).8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. yakni wawasan sosiologis. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. dan moril. yakni. simpati maupun antipati pribadi (Frank). Bagi Frank. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. prasangka politis.

Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. yaitu Oliverscrona.. Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum.Doc. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. 2. halaman 86. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. Latihan Soal 9 Ibid./Univ. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. Menureut Friedman. Hk. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis./Modul/Fils. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. Lundstedt. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. . yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif.

/Modul/Fils. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! .! f. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Hk. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Narotama Surabaya/V/2005 39 a. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b.Doc./Univ.

Penerbit PT. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1990. 1997. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Hk. Pradnya Paramita. Soetiksno./Univ. Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Rasjidi. halaman. Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Semarang. Lili. Penerbit Kanisius. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Jakarta. 1993. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1997.Doc. Darji & Shidarta. Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta. Universitas Diponegoro. Citra Aditya Bakti Bandung. Huijbers. Bagian I. Jakarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 1995. Soehardjo Sastrosoehardjo./Modul/Fils. Penerbit PT. .

2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu. Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Hk./Univ. Tujuan Instruksional Khusus: 1./Modul/Fils.) Muhammad radjab. 2. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia. 1 . Jakarta. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. (Terj.Doc. halaman 28-32. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat. 1996. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. Pengantar Filsafat Hukum. memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. 1. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound. Penerbit Bhratara. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum. 3. maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu.

misalnya undang-undang Nabi Musa. Pertama. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif. boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat. Bhrigu namanya. Hk. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia. Narotama Surabaya/V/2005 42 a. yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Sebab manusia primitif.Doc. c. pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. . mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. atau undang-undang Hammurabi. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu./Modul/Fils. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta./Univ. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam. Gagasan ini rapat dengan yang kedua. b. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat. dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti.

Sangat mungkin dengan teori serupa itu. dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini. Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Hk./Univ. yang berbeda dengan yang masih dilakukan. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia.Doc./Modul/Fils. Begitulah konsepsi Thomas . Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik. harus diukur. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. Narotama Surabaya/V/2005 43 d. yang menyatakan sifat benda-benda. g. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain. ditafsirkan . Demikianlah. dan ditambah oleh yang tigta tadi. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. e. dibentuk. satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. gagasan sarjana hukum Romawi. f. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat.

rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. Hk. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula./Modul/Fils. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. i. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. h. Menurut anggapan pada masa itu. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu.Doc. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya./Univ.

dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. j. atau pada taraf lain. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan./Modul/Fils. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Di dalam satu bentuk yang idealistis. k. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. Hk./Univ. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas.Doc.

/Univ. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. l.Doc. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. Gramedia Pustaka Utama. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. dan bukan lagi dasar metafisik. halaman 129130. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. yang ditemukan oleh pengamatan. Penerbit PT. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest). Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. Untuk itu. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. 2 . 1995. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Hk. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. Jakarta. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis./Modul/Fils. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi.

/Univ. d) pencegahan pelanggaran hak. sehingga membuat pembentuk undng-undang. c) pencegahan kemerosotan akhlak. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum./Modul/Fils. dilihat dari hal tersebut. hakim.Doc. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. a. c) kepentingan hak milik. tujuan hukum yang demikian ini . b) kepentingan keluarga. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum. e) kesejahteraan sosial. pengacara. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Kedua. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. yaitu: Pertama. Hk. 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial. Oleh karena itu. Dengan kata lain. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. 2. b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham.

untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. antara orang-orang yang sekutu. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat. c. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. Hk. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. b. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas./Modul/Fils. Oleh karena itu. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan.Doc. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. 3. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. b. hukum dibentuk. yaitu: a. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. dan penduduk yang bertambah banyak. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif./Univ. yang menilik niat bukan di tempatnya .

Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. 3. Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. c. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Hk./Modul/Fils. Latihan Soal a.Doc. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b./Univ. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang.

Penerbit PT. Penerbit Bhratara. Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound. 1995. Darji & Shidarta./Modul/Fils./Univ. Roscoe. Pengantar Filsafat Hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1996. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.) Muhammad radjab. Darmodiharjo. Hk. Jakarta. (Terj. Jakarta.Doc. .

Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. halaman 11. 1997. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. 2. Dengan perkataan lain. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Penerbit PT. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. Hk. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. 2. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. 1 . Pradnya Paramita. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. 1./Modul/Fils.Doc. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Bagian I. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Filsafat Hukum. Soetiksno./Univ. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Jakarta. yaitu sifat baik.

Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. halaman 29. Cit. 1995. 2 . Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit PT. Dalam menganalisis keadilan. halaman 154. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. Gramedia Pustaka Utama. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. b. Yogyakarta. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. 3 Theo Huijbers.. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Penerbit Kanisius. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. 1993.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. b. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. c. yaitu: 4 a. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. Op./Univ. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu.Doc. halaman 155. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Keadilan distributif (Distributive Justice).2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus./Modul/Fils. Hk. Sedang menurut Aristoteles. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Jakarta.

Keadialan Umum (Justitia Generali). Kontribusi Aristoteles berikutnya.Doc. Hk. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum./Modul/Fils. yang dibedakan lagi menjadi 3. 2) keadilan komutatif. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. summa injuria. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. 3) keadilan vindikatif. summa crux”. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . Perbedaannya ialah. Keadilan Khusus. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. yaitu: a./Univ. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. adil atau tidak adil. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. yaitu kepastian hukum. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. summa lex. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. membagi keadilan menjadi 2. b. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. yaitu: 1) keadilan distributif. Selain membagi keadilan menjadi dua.

c. b./Modul/Fils. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. hukum diwujudkan dalam satu nilai.Doc. aspek ini menentukan isi hukum. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. yakni nilai keadilan. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. 3. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. karena ada dasar lain. Op. . halaman 162. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. Tujuan keadilan atau finalitas. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Cit. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. Hk./Univ. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati.. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. yaitu: a. Keadilan dalam arti sempit. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Kepastian hukum atau legalitas. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. Menurut Radbruch. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. yaitu dasar hukum sebagai hukum. 5 Theo Huijbers.

.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Filsafat Hukum. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. seperti politik. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. Latihan Soal a. Hk./Univ. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). 4. Yogyakarta. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. 1995./Modul/Fils. Penerbit Kanisius. Bagaimana pendapat Sdr. halaman 48.Doc.

Soetiksno. Penerbit PT. Jakarta. 1993. Darji & Shidarta. Huijbers. Filsafat Hukum./Univ. Yogyakarta. Hk. Theo. Jakarta. 1997. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama./Modul/Fils. 1993. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. _________________. Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Pradnya Paramita. 1995. Bagian I. Penerbit Kanisius.Doc. . Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Filsafat Hukum. Yogyakarta.

mahasiswa mampu: 1. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. Semarang. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. 1. halaman 44. Universitas Diponegoro. Menjelaskan falsafah hukum nasional./Modul/Fils. yaitu:1 a. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1 . Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini./Univ. 1997. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. Soehardjo Sastrosoehardjo. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. b. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. 2. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini.Doc.

apa hakekat kebenaran. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. Pancasila harus tetap terbuka . Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. Untuk itu. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. Epistemologi. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum./Univ. sosial. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. agama. Sehubungan dengan itu. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Hk. Ontologi. kekuasaan. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan./Modul/Fils. atau keturunan. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. b. dan sebagainya. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . Aksiologi. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan.Doc. c.

2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Untuk itu. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. Dalam suasana yang demikian. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional./Modul/Fils. halaman 9. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan.Doc. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. perlu dikembangkan critical mass. Hk.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini./Univ. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1993. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. 2. dan eksploratif. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. 1997. halaman 106. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. Semarang. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Penerbit Kanisius. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. kreatif. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Yogyakarta. 2 . Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. Universitas Diponegoro. 3 Theo Hujibers. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. radikal.

Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. lebih lanjut dikemukakan pula./Univ. tetapi juga dalam bidang realitas. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. dilihat dari causa materialis. sosial. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. dan sintesis. Hk. Causa Formalis Pancasila. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. kewarganegaraan. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis.Doc. menurut Notonegoro. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Dalam Teorinya. anti tesis. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. berdasarkan teori causalis. ./Modul/Fils. Sebagai contoh. Menurut Hegel pula. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. dan sebagainya. yaitu: Pertama. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. ialah anggota BPUPKI. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. Causa Finalis. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. Pancasila berdasar adat kebiasaan. ekonomi. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. kebudayaan. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik.

Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. kerakyatan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. Pancasila sebagai pandangan hidup. Sebaliknya. berpersatuan. karena jika dilihat dari isinya. dalam hal ini PPKI. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Persatuan Indonesia. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Demikian pula sebagai ./Modul/Fils. Dengan demikian. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Penjelasan selanjutnya. Dikatakan hirarkis. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. berkerakyatan. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. dan berkeadilans osial. dikatakan piramidal. keadilan sosial. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. Kecuali itu./Univ. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. dan Keadilan Sosial. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. demikian seterusnya.Doc. Selanjutnya. Hk. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia.

baik pembukaan. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Kepentingan Individu. b. Latihan Soal a. Dengan demikian. batang tubuh. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence.Doc. dan dasar negara. maupun penjelasannya. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. Hk. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. Kepentingan Masyarakat. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah./Modul/Fils. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. yaitu Sociological Jurisprudence. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. yaitu: a. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. 3. Kepentingan Umum. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara. yaitu: Positivisme mementingkan logika. c. ideologi negara. Pada aliran Positivisme Hukum. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b./Univ. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup.

Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Yogyakarta. Universitas Diponegoro. 1993 Theo Hujibers. 1997. Universitas Diponegoro. Soehardjo Sastrosoehardjo. Yogyakarta./Univ. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. 1993. Woro & Sri Hartini. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Theo./Modul/Fils. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Semarang. Penerbit Kanisius. Penerbit Kanisius. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Winandi. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1997 . Hk. Semarang. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila.Doc.

/Modul/Fils. Hk.Doc./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 64 .

Poedjawijatna. yaitu: Filosofia. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana.R. tetapi juga ada logika-logika yang lain. halaman 1. 7. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat. Memahami pengertian hukum./Modul/Fils. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup. 4 . Memahami pengertian filsafat. Jakarta. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama./Univ. 6. Sesungguhnya. 8. 1990. 4. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum. tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Mengetahui pengertian filsafat hukum. 6.Doc. Hk.4 I. terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat. Penerbit Rineka Cipta. istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana. 5. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis.

hakikat alam. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. yaitu tentang hakikat Tuhan. Op. halaman 6-9. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. lalu berusaha mencapai yang diingini. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas./Modul/Fils./Univ. R. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Bijaksana inipun merupakan kata asing. Penerbit PT. 1995.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dari sudut isinya. rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Gramedia Pustaka Utama. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 6 I. Dengan demikian. objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek.. sistematis. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Hk. terlebih-lebih bersifat universal. yang tercermin dalam berbagai pepatah. dan sistematika tertentu.Doc. metode. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. lambang dan sebagainya. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. dan hakikat manusia. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. yakni objek materia dan objek forma. Cit. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. yakni: filo dan sofia. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua. sehingga terdapat kebenaran. Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu. Jadi secara etimologis. Barangkali. halaman 4. Pokok-pokok Filsafat Hukum. slogan. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. yaitu ingin dan karena ingin itu. Jakarta.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. 5 . Poedjawijatna. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu. Menurut Poedjawijatna.

maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada.8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation).Doc. dan spekulatif./Univ. Cit. Filsafat Ilmu. jika yang dianalisis hanya fakta saja. ekonomi./Modul/Fils. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. Op. mendasar. jika yang dianalisis nilai. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Suriasumantri. melainkan analisis nilai. 7 . dan estetika. Sebab. antara lain: f. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam.. politik. logika. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Untuk itu. Lain halnya. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. i. retorika. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok. etika. ada ciri lain yang perlu ditambahkan. artinya cara berfikir filsafat tidak sempit. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Hk. tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. g. Mendasar.7 Menyeluruh. 1998. yaitu spekulatif. maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika. dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). halaman 7. yaitu: menyeluruh. ciri ketiga dari filsafat yang berperan. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat. Jujun S. h.

meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. dan sebagainya. karena agama merupakan sesuatu yang ada. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada agama. kebajikan. 1990. Penerbit PT. 5. Citra Aditya Bakti. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. misalnya: Tuhan. halaman 5. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. dengan kata lain objek filsafat itu ada.Doc. Bandung. etika. 9 . tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Dengan kata lain. filsafat berdasarkan pikiran belaka. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. baik dan buruk. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. agama. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. sedangkan agama berdasarkan wahyu. Di sisi lain./Univ. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. pikiran belaka. Di satu sisi. dan antropologi. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu./Modul/Fils. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi. Narotama Surabaya/V/2005 68 j. Hk. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. yaitu metafisika. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu.

sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. kemampuannya. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. Segala sesuatunya itu ada. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. Berdasarkan Objek. yaitu: b./Univ. Oleh karena itu. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Dengan demikian. Alam dicari . Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. Dalam realitas. yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. maka harus diselidiki sifat-sifatnya./Modul/Fils.Doc. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. Hk. d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. misalnya sifat-sifatnya. Jadi. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. yang lazim disebut sebagai Theodicea. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. terdapat bermacam-macam hal. 4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya.

c)) Filsafat Budi (Logika): . apakah sebenarnya itu. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica.Doc. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. karena ada-nya tidak dengan niscaya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. apakah kemampuan-kemampuannya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. apakah isi alam pada umumnya. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak./Univ. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. dan lain-lain. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. apakah hubungannya satu sama lain./Modul/Fils. Hk. yaitu: manusia. apa pendorong hidupnya.

Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. yaitu manusia. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. dalam bekerjanya budi. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. Hk./Univ. seperti: pengertian. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. b. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja ./Modul/Fils. Namun. dan itu dilakukan oleh subjeknya. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). serta putusan-putusan. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. jalan pikiran.Doc. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain.

kosmologia. ada-umum. theodicea) Alam (filsafat alam. secara garis besar. ontologia. 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. Menurut Objek: Ada-umum (fils. theodicea. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). baik lawan buruk. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. Menurut Subjek: . dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. indah lawan jelek. tingkah laku (ethica) Fils. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. Hk. dan sebagainya. kosmologia) Fils. 5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. Oleh karena itu. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. Sehingga. dan anthropologia). manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils./Univ. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g./Modul/Fils. Jadi.Doc. budi (logika mayor & minor) h.

Bandung. g. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. Dari segi tujuan. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. dan kaedah hukum. 1988. halaman 31. dengan alasan sebagai berikut: f. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. Lili Rasjidi. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. dan kesejahteraan. kaedah sopan santun (adat). 11 Sudikno Mertokusumo. untuk ketertiban masyarakat. halaman 5. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. kaedah kesusilaan.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. Yogyakarta. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). Penerbit Liberty. Mengenal Hukum. Suatu Pengantar. Filsafat Hukum. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya./Univ. Apakah Hukum Itu?. ketertiban.Doc. 10 . Hk. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan.10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. Dari segi isi./Modul/Fils. 1991. agar jangan sampai jatuh korban.

yaitu:12 Lex Aeterna. Sebagai contoh pertama. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. pada Zaman Pertengahan. i. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. .Doc. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. Lex Divina. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. Op. Narotama Surabaya/V/2005 74 h./Modul/Fils. misalnya saja Thomas Aquino./Univ. halaman 29-30. j. Tentu saja. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. Dari segi sanksi. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut.. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. Dari segi daya kerja. berasal dari masyarakat secara resmi. Lex Naturalis. membebani kewajiban dan memberikan hak. Dari segi asal-usul. pada zaman Romawi. Pada masa ini. Hk. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Cit. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum. termasuk mengatur pemerintahan. Kedua. Ketiga. 12 Lili Rasjidi.

Rasionya. Dengan demikian. halaman 10. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum.Doc. Bandung. Citra Aditya Bakti. 13 .. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. 6. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum.13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. halaman 4. Jadi./Univ. Op. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat./Modul/Fils. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Hk. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. Penerbit PT. Cit. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Dengan kata lain. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. seperti Carl von Savigny dan Puchta. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. 1988. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain.

Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht).J.M. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat./Modul/Fils. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. kebahagiaan. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Hk.H. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan.14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo. Semarang. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil./Univ. 14 . Sedangkan D. J. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). 1997. dan tata tertib dalam masyarakat. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. halaman 5.Doc. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. Narotama Surabaya/V/2005 76 J. Sementara itu.

Sastrosoehardjo.. Universitas Diponegoro. Darji & Shidarta. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Yogyakarta.. ________________. Sebuah Pengantar Populer. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Suriasumantri. Poedjawijatna./Univ./Modul/Fils. Bandung. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Dengan kata lain. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit Rineka Cipta. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Filsafat Hukum. 1988. Sudikno. Mengenal Hukum. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Citra Aditya Bakti. Remaja Rosdakarya. Penerbit PT. Penerbit Liberty. 1991. Mertokusumo. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit PT. 1990. Jakarta. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1997. Bandung.R. Hk. Jakarta. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Suatu Pengantar. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. . 1998. Filsafat Ilmu. Penerbit PT. Apakah Hukum Itu?. I. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Semarang. Lili. 1990. Soehardjo. Jujun S.Doc. Rasjidi. Jakarta. 1995. Pokok-Pokok Filsafat Hukum.

Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu./Modul/Fils. 7. Gramedia Pustaka Utama. Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). Hk. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang.Doc. halaman 70-71. dan Aristoteles. 8. sekarang. 1995. 6. Socrates. Herakleitos (540-475 SM)./Univ. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). dan masa depan. 6. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Parmenides. Jakarta. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Plato. Penerbit PT. 1 . Herakleitos. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. antara lain: Anaximander.

halaman 20). Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Sementara itu. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah.Doc. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Hk. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Dengan kata lain./Modul/Fils.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. Apabila hal ini terjadi. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Dalam mempertahankan pendapatnya. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. maka timbullah keadilan (dike). Tetapi jelas baginya. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. ukuran. 1993. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah./Univ. Yogyakarta. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. 2 . yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini. Penerbit Kanisius. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. Logos menciptakan bentuk .

pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Menurut Aristoteles. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda./Modul/Fils.Doc. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. yakni hukum alam dan hukum positif. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. Aristoteles. Hk. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. . hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. karena hubungannya dengan aturan alam./Univ. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Misalnya. Oleh karena itu. Menurut Aristoteles. Meskipun demikian. Oleh karena itu. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. Dari gagasan Aristoteles ini. sehingga hukum tidak pernah berubah. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. yakni undang-undang negara.

tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 1990. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. halaman 13. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275)./Univ.Doc. menurut Stoisisme. Citra Aditya Bakti. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. Dalam perkembangannya. bukan menurut hukum positif. Penerbit PT. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Dengan kata lain. Bandung. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). 7. 3 ./Modul/Fils. Hk. Oleh karena itu. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap.

Doc. David Hume (17111776). 9. Rene Descartes (1596-1650). perkembangan teknologi yang sangat pesat. Wolf (1679-1754). Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. Hk. dan sebagainya. Thomasius (1655-1728). Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. ditemukannya dunia-dunia baru.J. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). 8. Cit. J. John Locke (1632-1704). Samuel Pufendorf (1632-1694). Op. Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna). berdirinya negara-negara baru. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. dan hukum positif (Lex Positivis). lahirnya segala macam ilmu baru.. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. Francis Bacon (1561-1626). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). dan Immanuel Kant (1724-1804)./Univ. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. George Berkeley (1685-1753).4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. Thomas Hobbes (1588-1679). Rousseau (17121778). Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. Montesquieu (1689-1755). antara lain: William Occam (1290-1350). rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. . yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan./Modul/Fils. halaman 39.

Teorinya disebut Dialektika.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. . halaman 37. Menurut Hegel. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya./Univ. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Op. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme.W. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. Menurut teori dialektika Hagel. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. Namun. Hk. seperti Hegel (1770-1831). ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. Karl Marx (18181883)./Modul/Fils.. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. masih ada beberapa ahli pikir lain. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga.J.Doc. Schelling (1775-1854). Fichte (1762-1814) dan F. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19.F. seperti Hobbes. yaitu akan menjadi. Cit. Di samping Marx dan Engels. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. seperti J. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian.

Berkeley D. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8. Modern Z. Hk./Modul/Fils. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Op. Pertengahan Z. Herakleitos. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. . Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Hume F. Yunani (Kuno) Z.Doc. Descartes Fichte T. halaman 82. Bacon Wolf Montesquieu J.. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12. Locke von Savigny G.J. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Cit.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Rousseau Immanuel Kant 10./Univ. Occam Hegel R. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10. Latihan Soal 7. Hobbes Schelling J.

Huijbers. Penerbit PT. Penerbit Kanisius. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Darji & Shidarta. 1990. Jakarta. Penerbit PT.Doc. . Rasjidi. Gramedia Pustaka Utama. 1995. Lili. Citra Aditya Bakti. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Theo. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Yogyakarta. Bandung./Univ. 1993./Modul/Fils.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. volition. tidak dogmatis (trancendental). rasa. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan.. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. Hk. and feeling). halaman 12. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. dan karsa (thinking. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. . lawan dari filsafat dogmatis. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi)./Univ. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. Op. yaitu cipta. Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan./Modul/Fils. Cit.4 Metode kritis tidak skeptis. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar.Doc. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni).

telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. Hk. . yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. berkembang bentuk yang agak lain. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. das ist vernunftig. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. b. yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. Jadi. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. Bagi Hegel. and what is real is reasonable). seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. Austin membagi hukum atas 2 hal. What is reasonable is real. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas.Doc. antitesa./Univ. 3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. das ist wirklich ist./Modul/Fils. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. demikan juga dengan hukum. Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. yaitu Analytical Jurisprudence. Di Inggris.

Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. di dalamnya terkandung perintah. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. contoh hak wali terhadap perwaliannya. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Menurut ajaran tersebut. Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. dalam hukum yang nyata pada point pertama. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. etika. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. sosiologi. Hk. sanksi. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. dan sebagainya. dan sebagainya. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. dan kedaulatan. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. sejarah./Univ.Doc. kewajiban. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. peraturan pemerintah. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. Menurut Austin./Modul/Fils. 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. seperti: undang-undang. Idealisme hukum ditolak sama sekali. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam.

Cit. halaman 43. Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi.. i) Hukum adalah ilmu normatif. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. Op. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu.Doc. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. bukan masalah apa yang dikehendaki. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. etiika atau agama. l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. seorang murid dari Rudolf von Jhering. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi./Modul/Fils. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). masalah cipta. bukan karsa dan rasa. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi./Univ. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. . k) Teori hukum adalah formal. Hk.

kekuasaan hukum. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c.q. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. hubungan hukum. Hk. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. John Stuart Mill (1806-1873). meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. dan melawan hukum. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). penundukan hukum. hukum kodrat gaya baru. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. dasar hukum. mengikat. verbinden. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut./Modul/Fils.Doc. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. secara positif.q. menurut hukum (rechtmatigeheid). berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. objek hukum. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). Manusia selalu berusaha . yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). yaitu: subjek hukum. i./Univ. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum.

Pada hakekatnya. jikas tidak demikian. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. ia mengikuti Bentham. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial.Doc./Univ. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Bagi Jhering. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. Hk. Oleh karena itu. untuk memelihara kegunaan. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Mill. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Dengan kata lain. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. j. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain)./Modul/Fils. Dalam mendefinisikan kepentingan. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. dan positivisme hukum dari John Austin. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis.

Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . es wachst mit dem volke vort. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat.Doc. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. bilden sich aus mit diesem. berkembang bersama dengan rakyat. berupa adat-istiadat. . namun ia akan mati. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. 8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung. 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman./Modul/Fils. Hk. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. Sedang Puchta. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya.

Yogyakarta. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. Lebih lanjut. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. 6 . sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. 1993. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis.Doc. k. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. Penerbit Kanisius. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara./Univ. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah./Modul/Fils. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Di lain pihak. Menurut Puchta. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Hk. halaman 120-121. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis.

Benjamin Cardozo. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Eugen Ehrlich.Doc. Hk. Gurvitch dan lain-lain. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan.. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. antara lain: Roscoe Pound. halaman 47. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Op./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. . pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Dengan rasio demikian. Cit. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Kontorowics./Modul/Fils. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Sociological jurisprudence. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Aliran ini berkembang di Amerika.

Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum./Univ. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . l. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Gray. William James dan sebagainya. Jerome Frank. maka tiap bagiannya harus ./Modul/Fils. Hk. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Sementara itu. Maksudnya. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest.Doc. Sebab. private as well as public interest). Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Karl Llewellyn. Oliver Wendell Holmes. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence.

/Modul/Fils. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. Hk. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata.Doc. Sesuai dengan keyakinan ini. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot.

Filsafat Hukum. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. hanyalah sebatas persamaan nama saja. 1997. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain.Doc. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan./Univ. yakni wawasan sosiologis. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. dan moril. yakni. Hk. halaman 77. Penerbit PT. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. Bagian I. yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. Jakarta. prasangka politis. di samping faktor-faktor lain. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. “The path of Law” berasal dari Holmes. ekonomis.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut./Modul/Fils. 8 . simpati maupun antipati pribadi (Frank). 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. Pradnya Paramita. Bagi Frank. hukum dapat dibagi menjadi dua.

/Univ. Lundstedt. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. Latihan Soal 9 Ibid. Hk.Doc. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis./Modul/Fils. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. halaman 86. 4. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Menureut Friedman. .. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. yaitu Oliverscrona.

Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Hk. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b.! f.Doc./Univ. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Narotama Surabaya/V/2005 103 a. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! ./Modul/Fils. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e.

Darji & Shidarta. 1997. Rasjidi. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1997. Pradnya Paramita. halaman. Lili.Doc. Yogyakarta. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1995. 1990. Universitas Diponegoro. Bagian I. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit Kanisius. Semarang. Huijbers. Penerbit PT. Jakarta./Modul/Fils./Univ. Jakarta. Penerbit PT. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 1993. Hk. . Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. Soetiksno. Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Citra Aditya Bakti Bandung. Soehardjo Sastrosoehardjo.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. h./Modul/Fils. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17.Doc. Menurut anggapan pada masa itu. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. i. Hk. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika./Univ.

yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Hk. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. Di dalam satu bentuk yang idealistis. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar.Doc. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis./Modul/Fils. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. atau pada taraf lain. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. j. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain./Univ. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. k. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan.

dan bukan lagi dasar metafisik.Doc. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. yang ditemukan oleh pengamatan./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. Gramedia Pustaka Utama. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. Hk. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. 1995. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya./Modul/Fils. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest). l. Untuk itu. halaman 129130. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Jakarta. Penerbit PT. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. 2 . Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan.

yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. Oleh karena itu. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. dilihat dari hal tersebut.Doc. j) kesejahteraan sosial. 5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban./Univ. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. tujuan hukum yang demikian ini . hakim. i) pencegahan pelanggaran hak. Hk. Kedua. Dengan kata lain. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. sehingga membuat pembentuk undng-undang. d./Modul/Fils. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. f) kepentingan hak milik. 2. h) pencegahan kemerosotan akhlak. yaitu: Pertama. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. pengacara. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. e) kepentingan keluarga. g) perlindungan lembaga-lembaga sosial. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham.

Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. 3. yaitu: d. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. Hk. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi./Univ. antara orang-orang yang sekutu. Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan.Doc. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. hukum dibentuk. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. yang menilik niat bukan di tempatnya . f. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. e. e. Oleh karena itu./Modul/Fils. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. dan penduduk yang bertambah banyak. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul.

Hk. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Latihan Soal a. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. f. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya./Univ. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. timbul pandangan hukum adalah keburukan. 3. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya./Modul/Fils.

Pengantar Filsafat Hukum. 1996. 1995. Jakarta. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit Bhratara. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Roscoe.) Muhammad radjab. Darmodiharjo. Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound. . (Terj. Hk./Univ.Doc. Darji & Shidarta./Modul/Fils. Jakarta.

Pradnya Paramita. 1 . Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Jakarta. Memahami bermacam-macam arti keadilan. 4. Hk. Bagian I.Doc. Penerbit PT. 1997. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. yaitu sifat baik. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. 2. Soetiksno. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Filsafat Hukum./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Dengan perkataan lain.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. 2./Modul/Fils. halaman 11.

3 Theo Huijbers. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. 2 ./Modul/Fils. Gramedia Pustaka Utama. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Jakarta. b.Doc. d. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). yaitu: 4 c. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. 1995. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Penerbit PT. Yogyakarta. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. c. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. halaman 155. 1993. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Op. Penerbit Kanisius. halaman 154. Hk. Sedang menurut Aristoteles. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. halaman 29. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Keadilan distributif (Distributive Justice).. Dalam menganalisis keadilan./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato. Cit. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding.

/Univ. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. summa injuria. Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. summa crux”.Doc. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. d. yang dibedakan lagi menjadi 3. Hk. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. yaitu: 4) keadilan distributif. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. Keadilan Khusus. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. Keadialan Umum (Justitia Generali). summa lex. yaitu kepastian hukum. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. membagi keadilan menjadi 2./Modul/Fils. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. 6) keadilan vindikatif. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). Perbedaannya ialah. Kontribusi Aristoteles berikutnya. Selain membagi keadilan menjadi dua. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. 5) keadilan komutatif. yaitu: c. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. adil atau tidak adil. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan.

halaman 162. Kepastian hukum atau legalitas. yaitu: a. Hk. b. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. . Cit. karena ada dasar lain. 5 Theo Huijbers. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. yakni nilai keadilan. 3. Tujuan keadilan atau finalitas. Menurut Radbruch. aspek ini menentukan isi hukum. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan./Modul/Fils. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Keadilan dalam arti sempit. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. c. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. hukum diwujudkan dalam satu nilai. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek.Doc.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat./Univ. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. yaitu dasar hukum sebagai hukum. Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. Op.

Yogyakarta. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk./Modul/Fils. Bagaimana pendapat Sdr. Latihan Soal a. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. halaman 48. seperti politik. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers./Univ.Doc. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. Filsafat Hukum. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. 1995. 4. . Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Penerbit Kanisius. Hk.

1995. Theo. Gramedia Pustaka Utama. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Soetiksno. Jakarta. 1993. Penerbit Kanisius./Univ. Huijbers. 1997. 1993. Penerbit PT. Darji & Shidarta. . Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Bagian I. Filsafat Hukum.Doc. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit Kanisius. Hk. _________________. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Yogyakarta. Jakarta. Penerbit PT./Modul/Fils. Pradnya Paramita. Yogyakarta.

Universitas Diponegoro.Doc. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. 4. halaman 44. Semarang. Menjelaskan falsafah hukum nasional./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. 2./Modul/Fils. 1997. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. b. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Soehardjo Sastrosoehardjo. 1 . mahasiswa mampu: 1. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Hk. yaitu:1 a. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat.

Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. dan sebagainya. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. kekuasaan. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Ontologi. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. agama.Doc. Hk./Modul/Fils. sosial. b./Univ. Sehubungan dengan itu. Aksiologi. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. atau keturunan. Untuk itu. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. c. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. Narotama Surabaya/V/2005 122 c. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. Pancasila harus tetap terbuka . Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. apa hakekat kebenaran. Epistemologi. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan.

Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan./Modul/Fils. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila./Univ. Penerbit Kanisius. halaman 9. Universitas Diponegoro. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Yogyakarta. 5.Doc. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. 3 Theo Hujibers. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. halaman 106. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. perlu dikembangkan critical mass. 1993. kreatif. Semarang. dan eksploratif. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. radikal. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. 1997. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Untuk itu. Dalam suasana yang demikian. Hk. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. 2 .

/Modul/Fils. Menurut Hegel pula. kewarganegaraan. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. . dan sebagainya. Sebagai contoh. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. tetapi juga dalam bidang realitas. dan sintesis. sosial. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. ekonomi. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Hk. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. lebih lanjut dikemukakan pula. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. anti tesis. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. kebudayaan. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”. Causa Finalis.Doc. ialah anggota BPUPKI./Univ. menurut Notonegoro. Causa Formalis Pancasila. yaitu: Pertama. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. dilihat dari causa materialis. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. Dalam Teorinya. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. berdasarkan teori causalis.

dalam hal ini PPKI. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. Penjelasan selanjutnya.Doc. Sebaliknya. berkerakyatan. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. Pancasila sebagai pandangan hidup. Kecuali itu. dan Keadilan Sosial. Persatuan Indonesia. dikatakan piramidal. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia./Modul/Fils./Univ. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. karena jika dilihat dari isinya. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Dengan demikian. keadilan sosial. dan berkeadilans osial. Selanjutnya. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Dikatakan hirarkis. kerakyatan. Demikian pula sebagai . Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. demikian seterusnya. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. berpersatuan. Hk.

Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Kepentingan Individu.Doc. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. Kepentingan Masyarakat. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. e./Univ. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. Hk. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. baik pembukaan. maupun penjelasannya. ideologi negara./Modul/Fils. Pada aliran Positivisme Hukum. batang tubuh. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. yaitu: d. 6. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . yaitu: Positivisme mementingkan logika. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. Dengan demikian. dan dasar negara. Kepentingan Umum. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. Latihan Soal a. f. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. yaitu Sociological Jurisprudence. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat.

Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Semarang. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Universitas Diponegoro. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Hk. Penerbit Kanisius. Winandi. Woro & Sri Hartini. 1997 . Theo./Univ. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1997. Semarang. Universitas Diponegoro. 1993 Theo Hujibers. Soehardjo Sastrosoehardjo. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. 1993./Modul/Fils.Doc.

Doc./Univ./Modul/Fils. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 128 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful