P. 1
Teori Hukum Responsif Adalah Teori

Teori Hukum Responsif Adalah Teori

|Views: 756|Likes:
Published by Avic I'aquila

More info:

Published by: Avic I'aquila on May 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2013

pdf

text

original

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. e./Modul/Fils. pikiran belaka. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. dan sebagainya. halaman 5. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. Narotama Surabaya/V/2005 4 c. Bandung. Penerbit PT. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. 6 . Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Hk.Doc./Univ. karena agama merupakan sesuatu yang ada. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. Lili Rasjidi. misalnya: Tuhan. d. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. Pada agama. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. filsafat berdasarkan pikiran belaka. kebajikan. Di sisi lain. etika. baik dan buruk. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. 1990. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. yaitu metafisika. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. agama. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. sedangkan agama berdasarkan wahyu. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. Di satu sisi. Dengan kata lain. Citra Aditya Bakti. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. dan antropologi. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya.

Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. Dalam realitas. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. maka harus diselidiki sifat-sifatnya./Univ. kemampuannya. Hk. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. dengan kata lain objek filsafat itu ada. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. Jadi. yaitu: a. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). yang lazim disebut sebagai Theodicea. misalnya sifat-sifatnya. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. Dengan demikian. yang hendak dicari . sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya./Modul/Fils. Oleh karena itu. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. terdapat bermacam-macam hal.Doc. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. Segala sesuatunya itu ada. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Berdasarkan Objek. Narotama Surabaya/V/2005 5 2.

karena ada-nya tidak dengan niscaya. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak./Univ. apakah kemampuan-kemampuannya./Modul/Fils. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. dan lain-lain. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. apa pendorong hidupnya. yaitu: manusia. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur . apakah isi alam pada umumnya.Doc. apakah hubungannya satu sama lain. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu. Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. Hk. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. apakah sebenarnya itu. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica.

yaitu manusia. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya.Doc. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. b. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. Hk. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. serta putusan-putusan. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. seperti: pengertian./Univ. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. dalam bekerjanya budi. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. Namun. jalan pikiran. dan itu dilakukan oleh subjeknya. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan./Modul/Fils. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya.

Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. Sehingga. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. tingkah laku (ethica) . Menurut Objek: Ada-umum (fils. ada-umum. Oleh karena itu. theodicea) Alam (filsafat alam. theodicea. Jadi. indah lawan jelek. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. dan sebagainya. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. secara garis besar. kosmologia) Fils. 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. baik lawan buruk. kosmologia.Doc./Univ. Hk. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia./Modul/Fils. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a. ontologia. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. dan anthropologia).

Yogyakarta. dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. halaman 5. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. kaedah kesusilaan. Filsafat Hukum. 7 . terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). dan kesejahteraan. Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. halaman 31. budi (logika mayor & minor) b. Penerbit Liberty.Doc. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. Penerbit PT. kaedah sopan santun (adat). Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. ketertiban. 1988. Apakah Hukum Itu?. Bandung. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. 8 Sudikno Mertokusumo. 1991. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. Suatu Pengantar. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. dan kaedah hukum. Remaja Rosdakarya./Univ. Hk./Modul/Fils. Mengenal Hukum.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut.

Hk. Tentu saja. Ketiga. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. membebani kewajiban dan memberikan hak. berasal dari masyarakat secara resmi. agar jangan sampai jatuh korban. Op. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. Lex Divina. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. Kedua.. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. yaitu:9 Lex Aeterna. . rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum.Doc. misalnya saja Thomas Aquino. Dari segi asal-usul./Univ. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. pada Zaman Pertengahan. pada zaman Romawi. Dari segi daya kerja. Lex Naturalis. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. halaman 29-30. Cit. d. b. Dari segi tujuan. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. termasuk mengatur pemerintahan. c. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. untuk ketertiban masyarakat. Sebagai contoh pertama. Dari segi isi. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi./Modul/Fils. Dari segi sanksi. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. e.

Op./Univ. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. Citra Aditya Bakti.10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. 3. 10 . Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Pada masa ini. 1988. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Jadi.Doc. Bandung. Dengan demikian. Cit. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. Di samping itu. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Hk.. halaman 4. halaman 10. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat./Modul/Fils. Penerbit PT. Rasionya. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Dengan kata lain. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. seperti Carl von Savigny dan Puchta. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya.

J. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. 11 . dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan.11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa.J. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. 1997. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Semarang. dan tata tertib dalam masyarakat. Sementara itu. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. Hk.H. Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. halaman 5.M. kebahagiaan. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil./Univ. Sedangkan D./Modul/Fils.Doc. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. J.

Jakarta. Mertokusumo. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Universitas Diponegoro. 1991. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Poedjawijatna. Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Darji & Shidarta. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Remaja Rosdakarya. Bandung. Jakarta.Doc. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Jujun S. Penerbit PT.R. 1998. Penerbit PT. . Suriasumantri. Lili. Semarang. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Penerbit PT. 1988. Mengenal Hukum. Hk. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Yogyakarta. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Sebuah Pengantar Populer. Bandung. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Citra Aditya Bakti. I. Penerbit Liberty.. ________________./Univ. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Jakarta. Rasjidi. Penerbit Rineka Cipta. 1990./Modul/Fils. Dengan kata lain. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Sastrosoehardjo. Filsafat Ilmu. Sudikno.. Gramedia Pustaka Utama. Suatu Pengantar. Soehardjo. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1995. 1990. Apakah Hukum Itu?. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. 1997.

sekarang. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. 4. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau.Doc. Plato. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. dan masa depan. 1995. antara lain: Anaximander. Socrates. 1 . halaman 70-71. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo./Univ. Jakarta. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). 3. 1. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Herakleitos. Gramedia Pustaka Utama. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno)./Modul/Fils. dan Aristoteles. Hk. Herakleitos (540-475 SM). Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. 2. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Parmenides. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern.

karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. Tetapi jelas baginya.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. 1993. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. Yogyakarta. Logos menciptakan bentuk . Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). 2 . Hk. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. Apabila hal ini terjadi. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. maka timbullah keadilan (dike). Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. halaman 20). Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Penerbit Kanisius. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme./Modul/Fils. Sementara itu. Dengan kata lain. ukuran.Doc. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis./Univ. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Dalam mempertahankan pendapatnya. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada.

Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. Dari gagasan Aristoteles ini. Hk. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. Oleh karena itu. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). Menurut Aristoteles. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa./Univ. Menurut Aristoteles./Modul/Fils. sehingga hukum tidak pernah berubah.Doc. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. yakni undang-undang negara. Aristoteles. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. karena hubungannya dengan aturan alam. Misalnya. . Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Oleh karena itu. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. yakni hukum alam dan hukum positif. Meskipun demikian.

yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). Dalam perkembangannya. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. Penerbit PT. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. 2. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. Dengan kata lain.Doc. halaman 13./Modul/Fils. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. bukan menurut hukum positif. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Hk. menurut Stoisisme.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Oleh karena itu. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. 3 . antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Bandung. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi./Univ. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. Citra Aditya Bakti. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). 1990.

Samuel Pufendorf (1632-1694). dan hukum positif (Lex Positivis).Doc. Hk. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. dan sebagainya. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. Rene Descartes (1596-1650). lahirnya segala macam ilmu baru. Thomas Hobbes (1588-1679). .J./Modul/Fils. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. George Berkeley (1685-1753). Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). 4. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. halaman 39. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. dan Immanuel Kant (1724-1804). Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. David Hume (17111776). Op.. Rousseau (17121778). Francis Bacon (1561-1626)./Univ. J. antara lain: William Occam (1290-1350). Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. Montesquieu (1689-1755). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). Wolf (1679-1754). Thomasius (1655-1728). berdirinya negara-negara baru. 3. perkembangan teknologi yang sangat pesat. John Locke (1632-1704). Cit. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). ditemukannya dunia-dunia baru.

. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya.F.W. . Hk. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Di samping Marx dan Engels. Namun. Fichte (1762-1814) dan F. yaitu akan menjadi. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme.J. halaman 37./Univ. seperti Hegel (1770-1831). Op. seperti Hobbes. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. Schelling (1775-1854).Doc. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. Karl Marx (18181883). Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Menurut Hegel. masih ada beberapa ahli pikir lain. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. Cit. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. Teorinya disebut Dialektika./Modul/Fils. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. seperti J. Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. Menurut teori dialektika Hagel. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat.

dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Berkeley D. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta.. Latihan Soal 1. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6. Herakleitos. Modern Z. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. Hk. Yunani (Kuno) Z. Rousseau Immanuel Kant 5. Descartes Fichte T.Doc. Bacon Wolf Montesquieu J./Univ. Occam Hegel R.J. Locke von Savigny G./Modul/Fils. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Pertengahan Z. Hobbes Schelling J.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. . Op. Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. halaman 82. Cit. Hume F. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4.

. Yogyakarta. Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo.Doc. Theo. 1990. Rasjidi. Bandung. Citra Aditya Bakti. Lili. Darji & Shidarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. Jakarta. Huijbers. Gramedia Pustaka Utama. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. Hk. Penerbit Kanisius. Penerbit PT./Univ./Modul/Fils. 1995. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.

Aliran Legal Realism. Aliran Utilitarianisme. Legal Positivism./Univ. yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana. Northrop dan Lili Rasjidi. Penerbit PT. d. 1. Lili Rasjidi. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. e. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Naturalistic Jurisprudence. 1 . d. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. antara lain F. g. Aliran Sociological Jurisprudence. b. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. f. yaitu: a. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1. Alian Positivisme. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. c. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence.G. c. 1990.S.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran. halaman 26-27. yaitu: a. 2. Hk. Aliran Sejarah./Modul/Fils. Pragmatic Legal Realism. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Aliran Hukum Alam. b. e.Doc. Citra Aditya Bakti Bandung. Aliran Hukum Positif.

d. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama. i. c. Aliran Sejarah. f. Semarang. g. Sociological Jurisprudence. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. Aliran Neo Kantianisme. 2 . h. c./Modul/Fils. Hk. b. 1997. Aliran Ajaran Hukum Umum. Pragmatic Legal Realism. e. e. yaitu:2 a. 2) Yang Rasional. Soehardjo Sastrosoehardjo./Univ. masing-masing: a. Aliran Realisme Hukum. Universitas Diponegoro. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. Aliran Sosiologi Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab.Doc. Aliran Positivisme. halaman 1. Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain. Aliran Hukum Bebas. d. Madzhab Sejarah. 2) Murni. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). f. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Aliran Utilitarianisme. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum. b.

Daante. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Jakarta. c) Lex Naaturalis. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini. bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. halaman 102. Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran./Modul/Fils. yaitu: a) Lex Aeterna. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. John Salisbury. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. 3 . Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). 1995. hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. d) Lex Posistivis. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino). Penerbit PT. seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran. b) Lex Divina. yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. Marsilius Padua. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua). Hk. dan John Wyclife. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Piere Dubois.Doc. Menurut Friedman./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia. dan Samuel Pufendorf.Doc./Univ. Hk. Penulis lain. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam./Modul/Fils. buruk atau jahat dan baik atau jujur. ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan. Immanuel Kant. manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. 1) Rasional: Sebaliknya. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. sehingga rasio . Tokoh-tokohnya. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal. sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil. b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. antara lain: Hugo de Groot (Grotius). sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius). Christian Thomasius. c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja.

Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. halaman 12.. . Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. and feeling). Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. volition. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. tidak dogmatis (trancendental). Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. yaitu cipta. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze).Doc.4 Metode kritis tidak skeptis. Op. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). lawan dari filsafat dogmatis. rasa. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant./Univ./Modul/Fils. Cit. Hk. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). dan karsa (thinking. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo.

yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. What is reasonable is real. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. berkembang bentuk yang agak lain. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu.Doc. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. Bagi Hegel./Univ. das ist wirklich ist. and what is real is reasonable). seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. Hk./Modul/Fils. das ist vernunftig. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. antitesa. . b. Di Inggris. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. Austin membagi hukum atas 2 hal. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. yaitu Analytical Jurisprudence. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Jadi. yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. demikan juga dengan hukum. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata.

Menurut Austin. Idealisme hukum ditolak sama sekali. dan sebagainya.Doc. Menurut ajaran tersebut. dan kedaulatan. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). dalam hukum yang nyata pada point pertama. di dalamnya terkandung perintah. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Hk. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. etika. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. sejarah. sosiologi. seperti: undang-undang. 2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. peraturan pemerintah. kewajiban. dan sebagainya./Modul/Fils. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. contoh hak wali terhadap perwaliannya. sanksi./Univ. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler.

d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. Hk. bukan masalah apa yang dikehendaki. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi.Doc. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus./Modul/Fils. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. bukan karsa dan rasa. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi.. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. etiika atau agama. masalah cipta. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. Cit./Univ. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). halaman 43. e) Teori hukum adalah formal. Op.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. seorang murid dari Rudolf von Jhering. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. c) Hukum adalah ilmu normatif. .

mengikat. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). hukum kodrat gaya baru. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit).q. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum./Univ. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. hubungan hukum. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi.q. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. Manusia selalu berusaha . Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. kekuasaan hukum. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). objek hukum. verbinden. yaitu: subjek hukum./Modul/Fils. dasar hukum. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. penundukan hukum. Hk.Doc. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). secara positif. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. dan melawan hukum. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. c. menurut hukum (rechtmatigeheid). John Stuart Mill (1806-1873).

ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham./Modul/Fils./Univ. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain.Doc. untuk memelihara kegunaan. Pada hakekatnya. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. jikas tidak demikian. d. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Mill. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Bagi Jhering. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Hk. ia mengikuti Bentham. Dalam mendefinisikan kepentingan. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. Oleh karena itu. dan positivisme hukum dari John Austin. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Dengan kata lain.

Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. 2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat./Univ. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. es wachst mit dem volke vort. . 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. bilden sich aus mit diesem. berkembang bersama dengan rakyat. Hk./Modul/Fils. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. namun ia akan mati. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis.Doc. Sedang Puchta. berupa adat-istiadat. Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat.

Hk. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. e. 6 . 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Di lain pihak. halaman 120-121. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. Yogyakarta. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Menurut Puchta. 1993. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara./Modul/Fils.Doc. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit Kanisius. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. Lebih lanjut.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa.

Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum.. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). halaman 47. Eugen Ehrlich. Benjamin Cardozo. . Kontorowics. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat.Doc. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya./Modul/Fils. Dengan rasio demikian. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence./Univ. Cit. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Op. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. antara lain: Roscoe Pound. Hk. Aliran ini berkembang di Amerika. Gurvitch dan lain-lain. Sociological jurisprudence. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat.

Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . Hk. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. William James dan sebagainya. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Sementara itu. Jerome Frank. kedua liran tersebut ada kebenarannya. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Gray./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. f. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence.Doc. Maksudnya. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah./Modul/Fils. Sebab. Oliver Wendell Holmes. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. private as well as public interest). maka tiap bagiannya harus . Karl Llewellyn.

Hk. 5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. Sesuai dengan keyakinan ini. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. 2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut.Doc./Modul/Fils. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. 3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan./Univ.

prasangka politis. Pradnya Paramita./Univ. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat.Doc. dan moril./Modul/Fils. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Jakarta. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. Penerbit PT. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. Bagian I. di samping faktor-faktor lain. 1997. 8 . hukum dapat dibagi menjadi dua. yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. yakni. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. yakni wawasan sosiologis. Bagi Frank.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. Filsafat Hukum. halaman 77. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. simpati maupun antipati pribadi (Frank). ekonomis. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. “The path of Law” berasal dari Holmes. Hk. hanyalah sebatas persamaan nama saja.

Lundstedt. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. yaitu Oliverscrona. Latihan Soal 9 Ibid. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. .Doc. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. 2. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa./Modul/Fils. halaman 86. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Menureut Friedman./Univ. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum..

Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! .! f. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4./Univ. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c.Doc. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 39 a. Hk. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e.

/Modul/Fils./Univ. Bagian I. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. Pradnya Paramita. Yogyakarta. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Semarang. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit PT. . 1993. Penerbit Kanisius. Universitas Diponegoro. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit PT. 1995. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Filsafat Hukum. Lili. Soehardjo Sastrosoehardjo. Citra Aditya Bakti Bandung. Rasjidi. Huijbers. Gramedia Pustaka Utama. Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. 1990. Hk. 1997. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT. 1997. Jakarta. Soetiksno.Doc. Jakarta. halaman.

Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound. 3. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat. Hk. karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu./Univ. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. Pengantar Filsafat Hukum. Tujuan Instruksional Khusus: 1. 2.Doc. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia. 1. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu. 1 . Jakarta. halaman 28-32.) Muhammad radjab. 1996. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. (Terj. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound./Modul/Fils. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern. maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Penerbit Bhratara. Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1.

Pertama. atau undang-undang Hammurabi. Sebab manusia primitif. . dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti. misalnya undang-undang Nabi Musa. Hk. mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Gagasan ini rapat dengan yang kedua. Narotama Surabaya/V/2005 42 a. c. boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. b. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif.Doc. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta. Jalan yang selamat. yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun. boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Bhrigu namanya. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi./Univ. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari./Modul/Fils.

Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini. Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. yang menyatakan sifat benda-benda. Demikianlah. gagasan sarjana hukum Romawi. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain.Doc. dan ditambah oleh yang tigta tadi. g. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. Narotama Surabaya/V/2005 43 d. harus diukur. Begitulah konsepsi Thomas . f. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik. yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. Sangat mungkin dengan teori serupa itu./Univ. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. e. ditafsirkan . yang berbeda dengan yang masih dilakukan./Modul/Fils. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. dibentuk. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. Hk. dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato.

i. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot.Doc. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik./Modul/Fils. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. Menurut anggapan pada masa itu. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya./Univ. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . Hk. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. h. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah.

Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. atau pada taraf lain./Modul/Fils. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. Hk. j. Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian./Univ. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. k. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu.Doc. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. Di dalam satu bentuk yang idealistis.

dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. dan bukan lagi dasar metafisik. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. halaman 129130. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. 2 . Gramedia Pustaka Utama. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi./Modul/Fils. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. Penerbit PT. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. 1995./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. Hk. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. yang ditemukan oleh pengamatan. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. l.Doc. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. Untuk itu. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest).

d) pencegahan pelanggaran hak. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum./Modul/Fils. sehingga membuat pembentuk undng-undang. b) kepentingan keluarga. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. dilihat dari hal tersebut. 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. hakim. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. c) pencegahan kemerosotan akhlak. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. Dengan kata lain. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. tujuan hukum yang demikian ini . Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum. pengacara. Kedua. a. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. c) kepentingan hak milik. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial./Univ. b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. Hk. yaitu: Pertama. Oleh karena itu. 2.Doc. e) kesejahteraan sosial.

yaitu: a. b. c. Oleh karena itu. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. antara orang-orang yang sekutu. dan penduduk yang bertambah banyak. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. Hk. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan./Modul/Fils./Univ. yang menilik niat bukan di tempatnya . Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. 3. hukum dibentuk. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang.Doc. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. b. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat.

/Modul/Fils. 3./Univ. Hk. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam.Doc. Latihan Soal a. Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. c. timbul pandangan hukum adalah keburukan.

(Terj. Hk. Penerbit PT./Modul/Fils. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Jakarta. 1996. Darmodiharjo. Pengantar Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. . Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound./Univ. Darji & Shidarta.) Muhammad radjab. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit Bhratara.Doc. 1995. Roscoe. Jakarta.

1 . Soetiksno. 1. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil.Doc. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. halaman 11. 2./Univ. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Filsafat Hukum. Pradnya Paramita. Jakarta. Hk. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Dengan perkataan lain. 2. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. 1997. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. Bagian I. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Penerbit PT. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. yaitu sifat baik./Modul/Fils. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Memahami bermacam-macam arti keadilan.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”.

Yogyakarta. 2 . b. c. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. Dalam menganalisis keadilan. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. Op.. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Keadilan distributif (Distributive Justice). Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. yaitu: 4 a./Modul/Fils. 1995. halaman 155. b. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. Cit. Hk. 3 Theo Huijbers. Gramedia Pustaka Utama. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Darji Darmodiharjo & Shidarta. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Sedang menurut Aristoteles. halaman 154.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Penerbit Kanisius. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Jakarta. halaman 29. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. 1993. Keadilan berada di tengah dua ekstrem./Univ.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak.Doc.

yaitu kepastian hukum. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. Keadialan Umum (Justitia Generali)./Modul/Fils. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun.Doc. Keadilan Khusus. 2) keadilan komutatif. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. b. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. summa lex. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. summa injuria. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. 3) keadilan vindikatif./Univ. adil atau tidak adil. Perbedaannya ialah. Selain membagi keadilan menjadi dua. yang dibedakan lagi menjadi 3. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. Hk. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. summa crux”. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. membagi keadilan menjadi 2. yaitu: a. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. Kontribusi Aristoteles berikutnya. Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). yaitu: 1) keadilan distributif. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan .

sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. b. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. Op./Modul/Fils. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. 3. Cit. . Kepastian hukum atau legalitas.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan.. Tujuan keadilan atau finalitas. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch.Doc. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. yaitu: a. Menurut Radbruch. c. aspek ini menentukan isi hukum. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. Hk. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. 5 Theo Huijbers. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. hukum diwujudkan dalam satu nilai. yaitu dasar hukum sebagai hukum. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek./Univ. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. karena ada dasar lain. Keadilan dalam arti sempit. halaman 162. yakni nilai keadilan. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati.

Latihan Soal a. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. Filsafat Hukum. 1995. Penerbit Kanisius. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. ./Modul/Fils. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. Bagaimana pendapat Sdr. Hk. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis).Doc. seperti politik. Yogyakarta. halaman 48. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers./Univ. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. 4.

Penerbit PT. Jakarta. Pradnya Paramita./Modul/Fils. Bagian I./Univ. Penerbit Kanisius. Jakarta. Penerbit PT. Penerbit Kanisius. _________________. Huijbers. Theo. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Soetiksno. Filsafat Hukum. Yogyakarta. Darji & Shidarta. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.Doc. Yogyakarta. 1995. 1997. 1993. 1993. Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. . Hk.

Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini./Modul/Fils. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. 1. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila./Univ. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. yaitu:1 a. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. b. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Menjelaskan falsafah hukum nasional. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. halaman 44. 1997. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. Semarang. Soehardjo Sastrosoehardjo.Doc. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 2. mahasiswa mampu: 1. Universitas Diponegoro. 1 . Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Hk.

kekuasaan. agama. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. dan sebagainya. Epistemologi. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. c./Univ. Hk. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan./Modul/Fils. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. sosial. Pancasila harus tetap terbuka . Ontologi. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. Untuk itu. Sehubungan dengan itu. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Aksiologi. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. apa hakekat kebenaran. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan.Doc. b. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. atau keturunan. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status.

2. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. halaman 106. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas./Modul/Fils. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. dan eksploratif. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. radikal. Penerbit Kanisius./Univ. 2 . kreatif.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Untuk itu. perlu dikembangkan critical mass. Hk. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. Yogyakarta. 1997. Dalam suasana yang demikian. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. 3 Theo Hujibers. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. Semarang. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. 1993. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.Doc.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. halaman 9. Universitas Diponegoro. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan.

yaitu: Pertama. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. dan sebagainya. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. kebudayaan. Causa Formalis Pancasila. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis./Modul/Fils. anti tesis./Univ. dan sintesis. berdasarkan teori causalis. sosial. menurut Notonegoro. ekonomi. dilihat dari causa materialis. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila.Doc. kewarganegaraan. Dalam Teorinya. tetapi juga dalam bidang realitas. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. Sebagai contoh. Causa Finalis. ialah anggota BPUPKI. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. Hk. Menurut Hegel pula. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. lebih lanjut dikemukakan pula. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. . teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag.

karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. Kecuali itu. berkerakyatan. Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Hk. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. Penjelasan selanjutnya. Sebaliknya. berpersatuan. dan berkeadilans osial. Selanjutnya. karena jika dilihat dari isinya. Demikian pula sebagai . Dengan demikian. kerakyatan. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. demikian seterusnya. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. dikatakan piramidal. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan.Doc. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya./Univ./Modul/Fils. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Persatuan Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup. dan Keadilan Sosial. dalam hal ini PPKI. Dikatakan hirarkis. keadilan sosial.

sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. 3. Dengan demikian. maupun penjelasannya. baik pembukaan. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. b. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. yaitu: Positivisme mementingkan logika. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Latihan Soal a./Modul/Fils. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. Kepentingan Umum. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. Kepentingan Individu. yaitu Sociological Jurisprudence. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara. Kepentingan Masyarakat. Pada aliran Positivisme Hukum. c./Univ. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. Hk. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. ideologi negara. dan dasar negara. yaitu: a. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! .Doc. batang tubuh. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b.

Penerbit Kanisius. Theo. Winandi. 1997 . Semarang. Hk. Semarang. Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Woro & Sri Hartini. Universitas Diponegoro. Soehardjo Sastrosoehardjo. 1993. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Penerbit Kanisius. Universitas Diponegoro. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.Doc./Modul/Fils. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Yogyakarta. 1993 Theo Hujibers. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Yogyakarta. 1997./Univ.

Hk. Narotama Surabaya/V/2005 64 ./Univ./Modul/Fils.Doc.

/Modul/Fils. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Mengetahui pengertian filsafat hukum. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat. 4 . tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Penerbit Rineka Cipta. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). halaman 1. Sehingga untuk dapat berfilsafat. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana. Jakarta. 6. istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani. yaitu: Filosofia. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. 4. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. 1990. Memahami pengertian filsafat. Hk. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat.Doc. 5. 7. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4.R. tetapi juga ada logika-logika yang lain. Poedjawijatna. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 8. Sesungguhnya. Memahami pengertian hukum./Univ.4 I. 6.

Gramedia Pustaka Utama. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek. Bijaksana inipun merupakan kata asing. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Menurut Poedjawijatna. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. sistematis. R. rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu. Poedjawijatna. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya. tetapi yang membedakan adalah objek formanya. objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. yang tercermin dalam berbagai pepatah. sehingga terdapat kebenaran. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. lalu berusaha mencapai yang diingini. 5 . metode. Jakarta. Penerbit PT. dan sistematika tertentu. yaitu ingin dan karena ingin itu. yakni: filo dan sofia./Univ.Doc. yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. terlebih-lebih bersifat universal. yaitu tentang hakikat Tuhan. 6 I. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. Dengan demikian. hakikat alam.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Barangkali. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. halaman 6-9. Jadi secara etimologis. Pokok-pokok Filsafat Hukum. halaman 4.. 1995. Cit./Modul/Fils. Hk. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. slogan.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. lambang dan sebagainya. Dari sudut isinya. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Op. dan hakikat manusia.

yaitu spekulatif./Univ. dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam. tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika.8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation). artinya cara berfikir filsafat tidak sempit. senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. ciri ketiga dari filsafat yang berperan. ekonomi. Jujun S. melainkan analisis nilai. etika. Mendasar. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Suriasumantri. Hk.. politik. jika yang dianalisis hanya fakta saja. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. halaman 7. yaitu: menyeluruh. dan estetika. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Sebuah Pengantar Populer. Untuk itu. Filsafat Ilmu. Cit. retorika. logika. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. Lain halnya. filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok. 7 . jika yang dianalisis nilai. ada ciri lain yang perlu ditambahkan. Op. dan spekulatif. mendasar. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas.7 Menyeluruh. maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Jakarta. g. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta.Doc. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. h. yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat. antara lain: f./Modul/Fils. 1998. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. i. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Sebab. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan.

Hk.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. misalnya: Tuhan. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan./Univ. agama. Di sisi lain.Doc. Penerbit PT. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. sedangkan agama berdasarkan wahyu. Pada agama. Bandung. dan sebagainya. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. 9 . baik dan buruk. 5. Dengan kata lain. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. filsafat berdasarkan pikiran belaka. 1990. kebajikan. pikiran belaka. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. etika. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. karena agama merupakan sesuatu yang ada. dan antropologi. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Di satu sisi. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. yaitu metafisika. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. dengan kata lain objek filsafat itu ada. Citra Aditya Bakti./Modul/Fils. halaman 5. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. Narotama Surabaya/V/2005 68 j.

ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. yaitu: b. Segala sesuatunya itu ada. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. Hk. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. yang lazim disebut sebagai Theodicea. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Oleh karena itu. Alam dicari ./Univ. Jadi./Modul/Fils. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. misalnya sifat-sifatnya. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. Dalam realitas. terdapat bermacam-macam hal. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. kemampuannya. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar.Doc. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. 4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Dengan demikian. Berdasarkan Objek.

apakah kemampuan-kemampuannya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. yaitu: manusia. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. apa pendorong hidupnya. apakah isi alam pada umumnya./Univ. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada.Doc. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. apakah sebenarnya itu. c)) Filsafat Budi (Logika): . 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. dan lain-lain. karena ada-nya tidak dengan niscaya./Modul/Fils. apakah hubungannya satu sama lain. Hk.

b. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. seperti: pengertian. jalan pikiran. Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja . Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. Hk. dalam bekerjanya budi. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada./Univ. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). dan itu dilakukan oleh subjeknya.Doc. serta putusan-putusan./Modul/Fils. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. yaitu manusia. Namun.

tingkah laku (ethica) Fils. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. Jadi. indah lawan jelek. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. kosmologia) Fils. Oleh karena itu. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g. dan anthropologia). secara garis besar. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica./Univ. baik lawan buruk. 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. ada-umum. 5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia./Modul/Fils. theodicea) Alam (filsafat alam. Sehingga. Menurut Subjek: . budi (logika mayor & minor) h. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. ontologia. dan sebagainya. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils.Doc. Hk. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. Menurut Objek: Ada-umum (fils. kosmologia. theodicea.

/Univ. halaman 5. Suatu Pengantar. Dari segi isi. g. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. 1988. Lili Rasjidi. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. Mengenal Hukum. Yogyakarta. Dari segi tujuan. 1991. dengan alasan sebagai berikut: f.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. kaedah kesusilaan. Bandung. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan.Doc. halaman 31. Remaja Rosdakarya. 11 Sudikno Mertokusumo. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. Hk. dan kaedah hukum. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. ketertiban./Modul/Fils. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. Filsafat Hukum. Penerbit PT. agar jangan sampai jatuh korban. Penerbit Liberty. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba.10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). dan kesejahteraan. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. Apakah Hukum Itu?. untuk ketertiban masyarakat. 10 . kaedah sopan santun (adat). karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian.

para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. membebani kewajiban dan memberikan hak.Doc. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Lex Naturalis. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. Dari segi daya kerja. 12 Lili Rasjidi. Sebagai contoh pertama. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. berasal dari masyarakat secara resmi. .. Ketiga./Univ. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. pada Zaman Pertengahan. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. Pada masa ini. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. Dari segi asal-usul. halaman 29-30. Op. Kedua. pada zaman Romawi. i. yaitu:12 Lex Aeterna. misalnya saja Thomas Aquino. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. Lex Divina. Tentu saja. Narotama Surabaya/V/2005 74 h./Modul/Fils. Cit. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. Hk. j. termasuk mengatur pemerintahan. Dari segi sanksi. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum.

Bandung./Univ. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. 1988. 6. Penerbit PT. Dengan kata lain. Jadi. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. 13 . Op. halaman 4. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Dengan demikian. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus.. Citra Aditya Bakti.Doc. Cit. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia./Modul/Fils. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi.13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Hk. Rasionya. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. halaman 10. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. seperti Carl von Savigny dan Puchta.

Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. Semarang. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum./Modul/Fils. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Narotama Surabaya/V/2005 76 J.Doc. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee).M./Univ. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. J. dan tata tertib dalam masyarakat. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara.14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo. 14 . halaman 5. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Hk. Sedangkan D. kebahagiaan.H. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil.J. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. 1997. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Sementara itu.

Gramedia Pustaka Utama. Mengenal Hukum. Sastrosoehardjo. 1991. . Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Filsafat Ilmu. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Universitas Diponegoro.R.. I./Univ. Suatu Pengantar. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. 1990. Dengan kata lain. 1990. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Sebuah Pengantar Populer. Jujun S. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Hk. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Yogyakarta. Penerbit Rineka Cipta. Penerbit PT. Suriasumantri. Lili. Bandung.Doc. Jakarta. Citra Aditya Bakti. Mertokusumo. Rasjidi. Penerbit PT. Soehardjo. Jakarta. Bandung. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Sudikno. Apakah Hukum Itu?. 1988. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Darji & Shidarta. Penerbit PT. 1998. Jakarta. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. 1997. Remaja Rosdakarya.. Penerbit Liberty. Filsafat Hukum. 1995./Modul/Fils. Poedjawijatna. ________________. Semarang.

1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). 1995. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani./Univ. Jakarta. sekarang. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. Plato. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Herakleitos (540-475 SM). 8. 7. 1 . Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. 6. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. halaman 70-71. Hk. Parmenides. Gramedia Pustaka Utama. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. antara lain: Anaximander. Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. 6. Herakleitos. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. dan Aristoteles. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Socrates. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. dan masa depan. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern.Doc. Penerbit PT./Modul/Fils. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini.

Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Penerbit Kanisius. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati./Univ. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. 1993. ukuran. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria).Doc. Dengan kata lain. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. 2 . yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. dan harmoni yang menghasilkan aturan. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. Hk. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). halaman 20). Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. Dalam mempertahankan pendapatnya. maka timbullah keadilan (dike). terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Logos menciptakan bentuk . Yogyakarta. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Tetapi jelas baginya. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Apabila hal ini terjadi. Sementara itu.

Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri./Univ.Doc. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Oleh karena itu. Menurut Aristoteles./Modul/Fils. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. sehingga hukum tidak pernah berubah. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Dari gagasan Aristoteles ini. karena hubungannya dengan aturan alam. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. . Meskipun demikian. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Misalnya. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. yakni undang-undang negara. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. Menurut Aristoteles. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. yakni hukum alam dan hukum positif. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Aristoteles. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Hk. Oleh karena itu. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum.

antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Oleh karena itu. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. 3 . Penerbit PT. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. 7. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya./Univ. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. menurut Stoisisme. halaman 13. Dengan kata lain. Hk./Modul/Fils. 1990. Bandung. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. Dalam perkembangannya.Doc. Citra Aditya Bakti.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. bukan menurut hukum positif. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic).

Samuel Pufendorf (1632-1694). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. Op. David Hume (17111776)./Modul/Fils. George Berkeley (1685-1753). yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. berdirinya negara-negara baru. perkembangan teknologi yang sangat pesat. Wolf (1679-1754). Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina).4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. Francis Bacon (1561-1626). Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna). Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini../Univ. dan sebagainya. halaman 39. 8. Thomasius (1655-1728). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. Rene Descartes (1596-1650). Hk. dan Immanuel Kant (1724-1804). Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. lahirnya segala macam ilmu baru. 9. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Thomas Hobbes (1588-1679). sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. ditemukannya dunia-dunia baru. Cit. antara lain: William Occam (1290-1350). dan hukum positif (Lex Positivis). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis).J. . Zaman modern ini juga disebut Renaissance.Doc. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. J. Montesquieu (1689-1755). Rousseau (17121778). John Locke (1632-1704).

aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Karl Marx (18181883). yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Namun. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. halaman 37. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Cit. Menurut teori dialektika Hagel. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman./Modul/Fils. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese.Doc.W. yaitu akan menjadi. Op. Schelling (1775-1854). artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern..5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Di samping Marx dan Engels. seperti Hobbes. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. ./Univ.F. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Teorinya disebut Dialektika. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. seperti Hegel (1770-1831). Fichte (1762-1814) dan F. Menurut Hegel. masih ada beberapa ahli pikir lain. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme.J. seperti J. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Hk.

Herakleitos. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9./Modul/Fils. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10.Doc. Hobbes Schelling J. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8. Op. Latihan Soal 7. Descartes Fichte T. . Cit. halaman 82. Yunani (Kuno) Z. Rousseau Immanuel Kant 10. Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Bacon Wolf Montesquieu J. Berkeley D. Pertengahan Z./Univ. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Modern Z. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Occam Hegel R. Locke von Savigny G. Hume F. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Hk.J. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah..

1995. Citra Aditya Bakti. Huijbers. 1990./Modul/Fils. Penerbit PT. Penerbit Kanisius. Darji & Shidarta. 1993.Doc. Gramedia Pustaka Utama. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo./Univ. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Jakarta. Rasjidi. Lili. Yogyakarta. . Bandung. Penerbit PT. Hk. Theo. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

Cit. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis./Modul/Fils. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. volition. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo.. lawan dari filsafat dogmatis.Doc. . Op. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. halaman 12. yaitu cipta. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). dan karsa (thinking./Univ. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). rasa.4 Metode kritis tidak skeptis. and feeling). beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). tidak dogmatis (trancendental). Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis.

Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir./Modul/Fils. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. b. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. demikan juga dengan hukum. das ist vernunftig. Jadi. Di Inggris. berkembang bentuk yang agak lain. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. das ist wirklich ist. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. and what is real is reasonable). What is reasonable is real. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. . Austin membagi hukum atas 2 hal. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. Bagi Hegel. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. 3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman./Univ. Hk. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. yaitu Analytical Jurisprudence. antitesa. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang.

sosiologi. di dalamnya terkandung perintah. dan sebagainya. dalam hukum yang nyata pada point pertama. dan sebagainya. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. kewajiban. Menurut Austin. etika. peraturan pemerintah. seperti: undang-undang. Hk. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. sanksi./Modul/Fils. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. contoh hak wali terhadap perwaliannya. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. sejarah. dan kedaulatan. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Menurut ajaran tersebut. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya./Univ. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Idealisme hukum ditolak sama sekali. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik.

Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas./Modul/Fils. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. halaman 43. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. Cit.Doc. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. bukan karsa dan rasa. etiika atau agama. Op./Univ. j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. seorang murid dari Rudolf von Jhering. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu. . Hk. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. k) Teori hukum adalah formal.. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. i) Hukum adalah ilmu normatif. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. bukan masalah apa yang dikehendaki. masalah cipta. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm.

John Stuart Mill (1806-1873). Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan.q. kekuasaan hukum. dan melawan hukum. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c.q. objek hukum. hukum kodrat gaya baru. mengikat. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif.Doc. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. i. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. Manusia selalu berusaha . selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c. hubungan hukum. penundukan hukum. menurut hukum (rechtmatigeheid). yaitu: subjek hukum. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. secara positif. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut./Modul/Fils. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”./Univ. Hk. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. dasar hukum. verbinden. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht).

j. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. dan positivisme hukum dari John Austin. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis.Doc. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Bagi Jhering. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. ia mengikuti Bentham. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain)./Univ. Mill. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). Dengan kata lain. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Pada hakekatnya. untuk memelihara kegunaan. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Hk. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial./Modul/Fils. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. jikas tidak demikian. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Dalam mendefinisikan kepentingan. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Oleh karena itu.

Doc. namun ia akan mati. 8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . . 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. Sedang Puchta. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. Hk. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman./Modul/Fils. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya./Univ. bilden sich aus mit diesem. Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung. es wachst mit dem volke vort. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. berkembang bersama dengan rakyat. berupa adat-istiadat. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman.

Doc. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. 6 . sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. 1993. Hk. Di lain pihak. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum./Modul/Fils. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Menurut Puchta. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. Lebih lanjut. halaman 120-121. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. k. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum./Univ. Penerbit Kanisius. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Yogyakarta.

sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Sociological jurisprudence. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Eugen Ehrlich. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). antara lain: Roscoe Pound. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum./Univ. Cit. Kontorowics. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Hk. halaman 47.. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum./Modul/Fils.Doc. Dengan rasio demikian. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Op. Aliran ini berkembang di Amerika. Gurvitch dan lain-lain. . Benjamin Cardozo. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya.

Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Sementara itu. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. private as well as public interest). Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Maksudnya. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Gray. Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. maka tiap bagiannya harus . Hk. Jerome Frank. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Karl Llewellyn. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. l. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Oliver Wendell Holmes. William James dan sebagainya. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman .Doc./Univ. Sebab. 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. kedua liran tersebut ada kebenarannya./Modul/Fils.

Doc./Univ. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. Sesuai dengan keyakinan ini. Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. Hk. 7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata./Modul/Fils. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- .

halaman 77. yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. yakni. 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia.Doc. Penerbit PT. dan moril. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. 8 . hanyalah sebatas persamaan nama saja. simpati maupun antipati pribadi (Frank). sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). Filsafat Hukum. di samping faktor-faktor lain. Jakarta./Univ. hukum dapat dibagi menjadi dua. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. prasangka politis. “The path of Law” berasal dari Holmes. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. Hk. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. yakni wawasan sosiologis.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. 1997. Bagian I. Pradnya Paramita./Modul/Fils. Bagi Frank. ekonomis.

Hk. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. . Menureut Friedman. yaitu Oliverscrona. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara./Modul/Fils.Doc. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu./Univ. 4. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. halaman 86. Latihan Soal 9 Ibid.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law).. Lundstedt.

Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e./Modul/Fils.! f.Doc. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . Narotama Surabaya/V/2005 103 a. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. Hk. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr./Univ.

Semarang. halaman. Soehardjo Sastrosoehardjo. Pradnya Paramita. Penerbit PT. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. . 1997. 1990. Citra Aditya Bakti Bandung. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. Soetiksno. Jakarta. Rasjidi. 1997. Lili. Universitas Diponegoro. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Bagian I. Huijbers.Doc. Penerbit PT. Filsafat Hukum. 1993. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Jakarta. Yogyakarta. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1995. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah./Modul/Fils./Univ. Penerbit Kanisius. Hk.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. Hk. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif.Doc. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan./Univ. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Menurut anggapan pada masa itu. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. h. i. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu.

yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. Hk. k. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. atau pada taraf lain. Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi. j./Modul/Fils.Doc. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. Di dalam satu bentuk yang idealistis. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan./Univ. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail.

mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. 2 . Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Hk. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. yang ditemukan oleh perenungan filsafat./Univ. l. halaman 129130. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Untuk itu. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest). Jakarta. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. yang ditemukan oleh pengamatan. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit PT. 1995. dan bukan lagi dasar metafisik. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat./Modul/Fils. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.Doc.

Dengan kata lain. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. f) kepentingan hak milik. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus.Doc. 2. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum. Hk. d. tujuan hukum yang demikian ini . i) pencegahan pelanggaran hak. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. g) perlindungan lembaga-lembaga sosial. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. yaitu: Pertama. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. Oleh karena itu. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham./Univ. hakim. j) kesejahteraan sosial. dilihat dari hal tersebut. Kedua. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. 5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. h) pencegahan kemerosotan akhlak. pengacara. e) kepentingan keluarga./Modul/Fils. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. sehingga membuat pembentuk undng-undang. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering.

hukum dibentuk. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. e./Modul/Fils. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. 3. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. f. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. yang menilik niat bukan di tempatnya . sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. antara orang-orang yang sekutu.Doc. yaitu: d. dan penduduk yang bertambah banyak. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. Hk. e. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan./Univ. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. Oleh karena itu. Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi.

Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . 3. f. Latihan Soal a. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Hk.Doc. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya./Univ. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam./Modul/Fils.

Hk. Penerbit PT. 1995. (Terj. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Roscoe. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. ./Univ. Penerbit Bhratara.) Muhammad radjab. Darji & Shidarta./Modul/Fils. 1996.Doc. Jakarta. Pengantar Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound. Darmodiharjo. Jakarta.

/Modul/Fils. 2./Univ.Doc. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. 4. 2. Pradnya Paramita. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Bagian I. Penerbit PT.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. 1997. Jakarta. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3. Hk. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. Soetiksno. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. 1 . Memahami bermacam-macam arti keadilan. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Dengan perkataan lain. yaitu sifat baik. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. halaman 11.

Yogyakarta. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. c. 3 Theo Huijbers. 1995. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Gramedia Pustaka Utama. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Hk. Dalam menganalisis keadilan.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. yaitu: 4 c. halaman 155. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem.. Sedang menurut Aristoteles.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Penerbit PT. Penerbit Kanisius. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. d. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Op. Keadilan distributif (Distributive Justice). Cit. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. 1993.Doc. halaman 29. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. halaman 154./Univ. b. Jakarta./Modul/Fils. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. 2 . Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta.

yang dibedakan lagi menjadi 3. yaitu kepastian hukum. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. membagi keadilan menjadi 2. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. Hk. Selain membagi keadilan menjadi dua./Univ./Modul/Fils. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. summa lex. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. yaitu: c. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. adil atau tidak adil. Kontribusi Aristoteles berikutnya. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. Keadilan Khusus. Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. d. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Keadialan Umum (Justitia Generali). dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. summa injuria. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. summa crux”. 6) keadilan vindikatif. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. yaitu: 4) keadilan distributif. 5) keadilan komutatif.Doc. Perbedaannya ialah.

aspek ini menentukan isi hukum.. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.Doc. b. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. hukum diwujudkan dalam satu nilai. halaman 162. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. Menurut Radbruch. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. Kepastian hukum atau legalitas. 3. Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. 5 Theo Huijbers.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. yakni nilai keadilan. . karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula./Univ. karena ada dasar lain. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. Hk. Cit. Op. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. yaitu: a. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Tujuan keadilan atau finalitas. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. yaitu dasar hukum sebagai hukum. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. Keadilan dalam arti sempit. c./Modul/Fils.

maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. 1995. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Yogyakarta. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. . tetapi karena faktor non hukum (non yuridis).Doc. Hk.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Bagaimana pendapat Sdr. halaman 48. seperti politik. Latihan Soal a. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers./Univ./Modul/Fils. Penerbit Kanisius. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. Filsafat Hukum. 4. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut.

1993. Penerbit PT. Hk. Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia./Modul/Fils. Huijbers. Jakarta. Jakarta. 1993. Yogyakarta. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. . Gramedia Pustaka Utama. Penerbit PT. Pradnya Paramita. 1997.Doc. Pokok-Pokok Filsafat Hukum./Univ. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. _________________. Soetiksno. Bagian I. Filsafat Hukum. Theo. 1995. Darji & Shidarta.

/Univ. Universitas Diponegoro. yaitu:1 a. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. 4. Semarang. Hk. 1 . Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. halaman 44. mahasiswa mampu: 1. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila./Modul/Fils. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Soehardjo Sastrosoehardjo. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Menjelaskan falsafah hukum nasional. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. b. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. 1997. 2. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini.Doc.

Narotama Surabaya/V/2005 122 c.Doc. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. Hk. Epistemologi. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. Pancasila harus tetap terbuka . Untuk itu. atau keturunan. c./Modul/Fils. Ontologi. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. sosial. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. dan sebagainya. Sehubungan dengan itu. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. b. Aksiologi. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. agama./Univ. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. apa hakekat kebenaran. kekuasaan.

Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Semarang. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila.Doc. 1993. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. 3 Theo Hujibers. halaman 9. Untuk itu. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. kreatif. Dalam suasana yang demikian. Yogyakarta. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern)./Modul/Fils./Univ. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Hk. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. perlu dikembangkan critical mass. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. Penerbit Kanisius. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. radikal. 2 . halaman 106. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Universitas Diponegoro. 5. 1997.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. dan eksploratif.

yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. dilihat dari causa materialis. . ekonomi. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. Menurut Hegel pula. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”./Univ. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. dan sintesis. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila.Doc. kebudayaan. sosial. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. Causa Finalis. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. menurut Notonegoro. Dalam Teorinya. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. Sebagai contoh. yaitu: Pertama. dan sebagainya. Pancasila berdasar adat kebiasaan. ialah anggota BPUPKI. anti tesis. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. lebih lanjut dikemukakan pula. berdasarkan teori causalis. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. Causa Formalis Pancasila. kewarganegaraan. tetapi juga dalam bidang realitas. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. Hk./Modul/Fils. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis.

Hk. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. kerakyatan. Dengan demikian. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. dalam hal ini PPKI. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Dikatakan hirarkis. Pancasila sebagai pandangan hidup. Demikian pula sebagai ./Modul/Fils.Doc. demikian seterusnya. Kecuali itu./Univ. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. dan Keadilan Sosial. berpersatuan. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. Penjelasan selanjutnya. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. karena jika dilihat dari isinya. Sebaliknya. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. dikatakan piramidal. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. berkerakyatan. Selanjutnya. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. dan berkeadilans osial. Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. keadilan sosial. Persatuan Indonesia.

yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah.Doc./Univ. maupun penjelasannya. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. yaitu Sociological Jurisprudence. batang tubuh. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. Kepentingan Umum. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Dengan demikian. ideologi negara. yaitu: d. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. baik pembukaan. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Hk. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara./Modul/Fils. Kepentingan Masyarakat. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. 6. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Pada aliran Positivisme Hukum. e. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Latihan Soal a. Kepentingan Individu. f. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. yaitu: Positivisme mementingkan logika. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. dan dasar negara.

Winandi. Program Pascasarjana Ilmu Hukum./Modul/Fils. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Theo.Doc. Hk. Yogyakarta. Semarang. Woro & Sri Hartini. Yogyakarta. Soehardjo Sastrosoehardjo. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers./Univ. Penerbit Kanisius. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Universitas Diponegoro. 1997 . Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. 1997. Universitas Diponegoro. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Semarang. 1993 Theo Hujibers. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit Kanisius.

Hk./Univ.Doc./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 128 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->