Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

dan antropologi. dan sebagainya. baik dan buruk. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. karena agama merupakan sesuatu yang ada. yaitu metafisika. pikiran belaka. kebajikan. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. 6 . kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. filsafat berdasarkan pikiran belaka. etika. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. Hk. Citra Aditya Bakti.Doc. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. e. Narotama Surabaya/V/2005 4 c. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. agama. 1990. Pada agama. misalnya: Tuhan. Penerbit PT. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu./Univ. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Di satu sisi. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. sedangkan agama berdasarkan wahyu. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. halaman 5. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. Bandung. Di sisi lain. d. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. Lili Rasjidi./Modul/Fils. Dengan kata lain.

Dalam realitas. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). yaitu: a. misalnya sifat-sifatnya. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Hk. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. Segala sesuatunya itu ada. Berdasarkan Objek. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. dengan kata lain objek filsafat itu ada.Doc. Dengan demikian. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. terdapat bermacam-macam hal. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Oleh karena itu. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum./Modul/Fils. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. kemampuannya. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. yang lazim disebut sebagai Theodicea./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 5 2. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Jadi. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. yang hendak dicari .

apakah hubungannya satu sama lain. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia.Doc. apakah sebenarnya itu. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. Hk. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur . yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. dan lain-lain. apa pendorong hidupnya. apakah kemampuan-kemampuannya. karena ada-nya tidak dengan niscaya. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. yaitu: manusia. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. apakah isi alam pada umumnya. Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya./Modul/Fils. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica./Univ. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya.

/Modul/Fils. seperti: pengertian. c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. Hk. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada.Doc. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. serta putusan-putusan. yaitu manusia. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . jalan pikiran. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. Namun. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor./Univ. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). dan itu dilakukan oleh subjeknya. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. b. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. dalam bekerjanya budi.

dan anthropologia). Sehingga. tingkah laku (ethica) . 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. dan sebagainya. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). baik lawan buruk. kosmologia. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan./Univ. ontologia. secara garis besar. ada-umum. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. indah lawan jelek. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. theodicea. kosmologia) Fils.Doc. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. theodicea) Alam (filsafat alam. Hk. Jadi. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. Menurut Objek: Ada-umum (fils. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. Oleh karena itu.

Penerbit Liberty. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. Apakah Hukum Itu?. halaman 5. Hk. dan kesejahteraan. Bandung. ketertiban. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. Yogyakarta. kaedah sopan santun (adat). 8 Sudikno Mertokusumo. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. halaman 31. Mengenal Hukum. dan kaedah hukum. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. Filsafat Hukum. 1991. Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. kaedah kesusilaan.Doc. Remaja Rosdakarya. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat./Modul/Fils. budi (logika mayor & minor) b. Suatu Pengantar. 1988. dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. Penerbit PT.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. 7 . yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan)./Univ.

rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. Sebagai contoh pertama. misalnya saja Thomas Aquino./Univ. berasal dari masyarakat secara resmi. Ketiga. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. Kedua. halaman 29-30. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. Lex Naturalis. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. Dari segi daya kerja. membebani kewajiban dan memberikan hak. c. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. Op. pada zaman Romawi. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja./Modul/Fils. untuk ketertiban masyarakat. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. Dari segi isi.Doc. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. yaitu:9 Lex Aeterna. . Tentu saja. d. Dari segi asal-usul. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. Hk. Dari segi sanksi. e. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. b. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. Cit. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. Lex Divina. Dari segi tujuan. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. pada Zaman Pertengahan. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. termasuk mengatur pemerintahan. agar jangan sampai jatuh korban..

10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Pada masa ini. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. 1988. Op. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. Bandung. Cit. Dengan kata lain./Modul/Fils. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. Jadi. seperti Carl von Savigny dan Puchta. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Hk. halaman 4. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. 10 . etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. halaman 10. Rasionya. Citra Aditya Bakti. Penerbit PT. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. Di samping itu. Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum./Univ. Dengan demikian.. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 3.Doc. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum.

over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). 1997. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. halaman 5. J. Sementara itu. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu.11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo./Modul/Fils.H.M. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum.Doc. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen.J. Semarang. dan tata tertib dalam masyarakat. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. J. kebahagiaan. Sedangkan D. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan./Univ. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. 11 . Hk. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa.

Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Filsafat Ilmu./Univ. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Sebuah Pengantar Populer. Yogyakarta. Mengenal Hukum. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Darji & Shidarta.. Penerbit PT. Jakarta. Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bandung./Modul/Fils. 1991. Suriasumantri. Dengan kata lain. Rasjidi. Poedjawijatna. I. Gramedia Pustaka Utama. 1998. Soehardjo. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Citra Aditya Bakti. Lili. Penerbit PT. 1990. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum.R. Jakarta. 1995.Doc. 1997. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya. Universitas Diponegoro. Bandung. . Hk. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. 1988. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Penerbit Liberty.. Mertokusumo. ________________. 1990. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Sudikno. Suatu Pengantar. Semarang. Sastrosoehardjo. Penerbit Rineka Cipta. Apakah Hukum Itu?. Jujun S. Jakarta. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat.

Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). 1. 4. Penerbit PT. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. Herakleitos. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. sekarang./Univ. 1 . Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. Hk. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. 3. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. Parmenides. 1995. antara lain: Anaximander. dan Aristoteles.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1.Doc./Modul/Fils. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Jakarta. halaman 70-71. Gramedia Pustaka Utama. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Herakleitos (540-475 SM). Socrates. Plato. dan masa depan. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 2. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno).

Hk. Dengan kata lain. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. halaman 20). Sementara itu. Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Penerbit Kanisius. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. maka timbullah keadilan (dike)./Univ. Dalam mempertahankan pendapatnya. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Tetapi jelas baginya. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Apabila hal ini terjadi. Yogyakarta. Logos menciptakan bentuk . Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam.Doc. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. 2 . Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak./Modul/Fils. dan harmoni yang menghasilkan aturan. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. 1993. ukuran. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada.

manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. Menurut Aristoteles. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Misalnya. yakni undang-undang negara. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia./Univ. Hk. Dari gagasan Aristoteles ini. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu.Doc. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. yakni hukum alam dan hukum positif. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. sehingga hukum tidak pernah berubah. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa./Modul/Fils. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. Aristoteles. . Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Oleh karena itu. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. Oleh karena itu. Menurut Aristoteles. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. karena hubungannya dengan aturan alam. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Meskipun demikian. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno).

Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. Dengan kata lain. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Penerbit PT. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Citra Aditya Bakti. 3 . Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. Dalam perkembangannya. Oleh karena itu. halaman 13. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. menurut Stoisisme. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia./Univ.Doc. Hk. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. 1990. 2. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat./Modul/Fils. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Bandung. bukan menurut hukum positif. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic).3 dan mulai berkembangnya agama Islam. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio.

ditemukannya dunia-dunia baru. antara lain: William Occam (1290-1350). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini./Modul/Fils. Thomas Hobbes (1588-1679). J. 3. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. John Locke (1632-1704). . halaman 39. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. Samuel Pufendorf (1632-1694). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). Cit./Univ. Rene Descartes (1596-1650). Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia.. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. 4.Doc.J. Francis Bacon (1561-1626). Wolf (1679-1754). perkembangan teknologi yang sangat pesat. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). dan hukum positif (Lex Positivis). dan Immanuel Kant (1724-1804). Zaman modern ini juga disebut Renaissance. Op. dan sebagainya. Thomasius (1655-1728). Montesquieu (1689-1755). berdirinya negara-negara baru. George Berkeley (1685-1753). Rousseau (17121778). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. lahirnya segala macam ilmu baru. Hk. David Hume (17111776).4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum.

Karl Marx (18181883). Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. Fichte (1762-1814) dan F. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. seperti Hegel (1770-1831).W. Hk. Cit. .. seperti J. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme./Univ.F. Namun. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. Schelling (1775-1854).5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. halaman 37. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat.J. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Di samping Marx dan Engels. yaitu akan menjadi. Menurut teori dialektika Hagel. Op. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. seperti Hobbes. Teorinya disebut Dialektika. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. masih ada beberapa ahli pikir lain. Menurut Hegel. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi.Doc./Modul/Fils.

/Univ.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Modern Z. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Op. Bacon Wolf Montesquieu J. Locke von Savigny G. Yunani (Kuno) Z. Occam Hegel R. Hobbes Schelling J. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. halaman 82. Rousseau Immanuel Kant 5. Herakleitos. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Berkeley D. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah.Doc. Pertengahan Z. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3. Hk. Latihan Soal 1. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6. Descartes Fichte T.J./Modul/Fils. . Hume F. Cit..

/Univ. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.Doc. Bandung./Modul/Fils. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit PT. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Lili. Yogyakarta. 1995. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. 1990. Hk. . Penerbit Kanisius. Rasjidi. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Theo. Citra Aditya Bakti. Huijbers. Jakarta.

Alian Positivisme. Aliran Utilitarianisme. Aliran Sejarah. g. Legal Positivism. Aliran Legal Realism. c. Naturalistic Jurisprudence.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran. Aliran Hukum Positif. 2. Aliran Sociological Jurisprudence. Penerbit PT. c. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. b.S. yaitu: a. 1. 1990. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. d. e./Modul/Fils. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Hk. antara lain F. Northrop dan Lili Rasjidi. f.Doc. yaitu: a. 1 . Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. d. e. Pragmatic Legal Realism.G. b./Univ. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. Aliran Hukum Alam. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1. Lili Rasjidi. halaman 26-27. Citra Aditya Bakti Bandung.

masing-masing: a. e. d. f. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Aliran Hukum Bebas. halaman 1. Aliran Ajaran Hukum Umum. Pragmatic Legal Realism. i. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. Madzhab Sejarah. Semarang. c. b.Doc. Hk. Aliran Sosiologi Hukum. Sociological Jurisprudence. Aliran Realisme Hukum. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. c./Modul/Fils. g. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama. Soehardjo Sastrosoehardjo. 2 ./Univ. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum. Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. Aliran Neo Kantianisme. 2) Murni. h. f. Aliran Positivisme. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). d. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab. Universitas Diponegoro. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain. Aliran Utilitarianisme. b. 2) Yang Rasional. e. yaitu:2 a. Aliran Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar. 1997.

Hk. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino). Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. Jakarta. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. 3 . Gramedia Pustaka Utama. Menurut Friedman./Univ. Piere Dubois. Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. d) Lex Posistivis. hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta.Doc. Marsilius Padua. bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. John Salisbury. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. b) Lex Divina. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua). Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. 1995. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini. yaitu: a) Lex Aeterna. dan John Wyclife. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum).3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran. Penerbit PT./Modul/Fils. yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi. Daante. hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. c) Lex Naaturalis. halaman 102.

Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius). sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil.Doc. William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. dan Samuel Pufendorf. Hk. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia. b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. antara lain: Hugo de Groot (Grotius). ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan. buruk atau jahat dan baik atau jujur. sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 1) Rasional: Sebaliknya. manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Immanuel Kant. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. Tokoh-tokohnya. Christian Thomasius. Penulis lain./Modul/Fils. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. sehingga rasio . Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia.

Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Cit. and feeling). Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. yaitu cipta. volition. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). . Op. halaman 12. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya.Doc. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. tidak dogmatis (trancendental). rasa. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Hk./Modul/Fils.. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. lawan dari filsafat dogmatis. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze)./Univ.4 Metode kritis tidak skeptis. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. dan karsa (thinking. Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan.

Hk. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa./Modul/Fils. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. b. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. Di Inggris. yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. yaitu Analytical Jurisprudence. berkembang bentuk yang agak lain. What is reasonable is real. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya.Doc. demikan juga dengan hukum. and what is real is reasonable). Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia./Univ. Bagi Hegel. . telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. Austin membagi hukum atas 2 hal. das ist vernunftig. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. antitesa. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. das ist wirklich ist. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. Jadi. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara.

Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. sosiologi. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Hk. Idealisme hukum ditolak sama sekali. dan kedaulatan. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Menurut ajaran tersebut. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. kewajiban. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. dalam hukum yang nyata pada point pertama. Menurut Austin./Modul/Fils. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. dan sebagainya. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. sejarah. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. peraturan pemerintah. sanksi./Univ.Doc. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. dan sebagainya. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . contoh hak wali terhadap perwaliannya. di dalamnya terkandung perintah. etika. seperti: undang-undang. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. 2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme.

tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal.. seorang murid dari Rudolf von Jhering. e) Teori hukum adalah formal. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896).Doc. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas./Modul/Fils. Cit. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. bukan karsa dan rasa. Hk. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu. halaman 43. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. c) Hukum adalah ilmu normatif. masalah cipta. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. . bukan masalah apa yang dikehendaki. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi./Univ. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. Op. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. etiika atau agama. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus.

Manusia selalu berusaha . Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. dan melawan hukum. kekuasaan hukum. dasar hukum. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. verbinden. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. c. hukum kodrat gaya baru. menurut hukum (rechtmatigeheid). yaitu: subjek hukum. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. hubungan hukum. John Stuart Mill (1806-1873). maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. secara positif. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). mengikat./Modul/Fils. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). penundukan hukum. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. objek hukum.q./Univ.Doc. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht).q. Hk. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit).

karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Oleh karena itu. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. ia mengikuti Bentham. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. untuk memelihara kegunaan. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. d. Mill. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Hk. jikas tidak demikian. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Dalam mendefinisikan kepentingan. Pada hakekatnya.Doc. Dengan kata lain./Univ. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. dan positivisme hukum dari John Austin. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). Bagi Jhering. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya.

2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja./Univ. . Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. berupa adat-istiadat. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. bilden sich aus mit diesem. es wachst mit dem volke vort./Modul/Fils. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. namun ia akan mati. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. berkembang bersama dengan rakyat. 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah.Doc. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. Sedang Puchta. Hk. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert).

Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Lebih lanjut. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara.Doc. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. 1993. e. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. halaman 120-121. Yogyakarta. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. 6 . pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. Penerbit Kanisius./Modul/Fils. Menurut Puchta. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris./Univ. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Di lain pihak. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Hk. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.

Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. Op. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. Gurvitch dan lain-lain. Kontorowics. Sociological jurisprudence. Benjamin Cardozo.Doc. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat./Modul/Fils.. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Aliran ini berkembang di Amerika. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Eugen Ehrlich. . pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Dengan rasio demikian. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi./Univ. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Cit. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. halaman 47. Hk. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. antara lain: Roscoe Pound. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini.

private as well as public interest). Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. William James dan sebagainya. Oliver Wendell Holmes./Univ. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. f. Karl Llewellyn. Jerome Frank.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Maksudnya. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Sementara itu. maka tiap bagiannya harus . Hk. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . Sebab. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Gray. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu./Modul/Fils. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal.

Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. Hk. 3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. 5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. Sesuai dengan keyakinan ini. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau./Univ. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan./Modul/Fils. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. 2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- .Doc.

prasangka politis. 8 ./Modul/Fils. Bagian I. Bagi Frank. dan moril. simpati maupun antipati pribadi (Frank). 1997. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). hukum dapat dibagi menjadi dua. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. halaman 77. hanyalah sebatas persamaan nama saja. di samping faktor-faktor lain. yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam.Doc. Jakarta. yakni. Pradnya Paramita. Filsafat Hukum. Hk. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. Penerbit PT. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. ekonomis. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. “The path of Law” berasal dari Holmes. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. yakni wawasan sosiologis.

Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. yaitu Oliverscrona. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. halaman 86. Menureut Friedman. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. Latihan Soal 9 Ibid. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. 2. Lundstedt.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. . Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law)./Univ.. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara./Modul/Fils.Doc. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. Hk.

Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4.! f. Narotama Surabaya/V/2005 39 a./Modul/Fils./Univ.Doc. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Hk. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c.

Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1997. 1990. Soetiksno. Yogyakarta. Bagian I. Universitas Diponegoro. Semarang. Huijbers. Hk. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 1993. Soehardjo Sastrosoehardjo. Penerbit Kanisius. halaman. . Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Gramedia Pustaka Utama. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Jakarta. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Rasjidi. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. Darji & Shidarta./Modul/Fils./Univ. Filsafat Hukum. Penerbit PT. 1995. Lili. Penerbit PT. 1997.Doc. Pradnya Paramita.

Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis.) Muhammad radjab./Modul/Fils. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu. Hk. 1 . karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis.Doc. Penerbit Bhratara. halaman 28-32. 3. 2. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Jakarta. 1. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Pengantar Filsafat Hukum. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern. 1996. maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. 2. (Terj.

mungkin dia akan dianggap sebagai hukum./Modul/Fils. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam. Hk. Sebab manusia primitif. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Gagasan ini rapat dengan yang kedua. Pertama. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. misalnya undang-undang Nabi Musa. Bhrigu namanya./Univ. pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. b. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu. atau undang-undang Hammurabi. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan. Narotama Surabaya/V/2005 42 a. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. . dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi. Jalan yang selamat. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik.Doc. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. c. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta. boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat.

satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. yang menyatakan sifat benda-benda. dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini. yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. dibentuk. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 43 d. Demikianlah. yang berbeda dengan yang masih dilakukan. Sangat mungkin dengan teori serupa itu. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. dan ditambah oleh yang tigta tadi. g. Begitulah konsepsi Thomas . Hk. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. gagasan sarjana hukum Romawi. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. e./Modul/Fils. f. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini. harus diukur.Doc. ditafsirkan .

Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot.Doc. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. h. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. Hk. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. i./Modul/Fils. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika./Univ. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. Menurut anggapan pada masa itu. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya.

satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis./Univ. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . Di dalam satu bentuk yang idealistis. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. j. atau pada taraf lain. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi. k. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian.Doc. Hk. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu.

Gramedia Pustaka Utama. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Penerbit PT. dan bukan lagi dasar metafisik. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. yang ditemukan oleh pengamatan. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. l. Jakarta. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest). 2 . dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. Hk. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. yang ditemukan oleh perenungan filsafat./Univ. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum.Doc. 1995. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. halaman 129130./Modul/Fils. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. Untuk itu. yang dapat ditemukan oleh pengamatan.

Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. e) kesejahteraan sosial. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. 2.Doc. sehingga membuat pembentuk undng-undang. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. c) pencegahan kemerosotan akhlak. a. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. c) kepentingan hak milik. d) pencegahan pelanggaran hak./Univ. yaitu: Pertama. Oleh karena itu. pengacara. dilihat dari hal tersebut. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum. b) kepentingan keluarga. hakim. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. tujuan hukum yang demikian ini . klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. Kedua./Modul/Fils. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. Dengan kata lain. b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum.

Hk. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat. 3. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan.Doc. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. yang menilik niat bukan di tempatnya . Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. antara orang-orang yang sekutu. dan penduduk yang bertambah banyak. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis./Univ. b. Oleh karena itu. hukum dibentuk. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . b. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat./Modul/Fils. yaitu: a. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. c.

Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. Latihan Soal a. Hk. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c./Univ. 3. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b.Doc./Modul/Fils. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. c. timbul pandangan hukum adalah keburukan. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d.

) Muhammad radjab. Darmodiharjo. Darji & Shidarta. Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound. Jakarta. Pengantar Filsafat Hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum.Doc./Univ. Penerbit Bhratara. Hk. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Roscoe. Jakarta. Penerbit PT. (Terj./Modul/Fils. 1995. . 1996.

/Modul/Fils. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. Hk.Doc. Pradnya Paramita. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1./Univ. Filsafat Hukum.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. halaman 11. Dengan perkataan lain. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. 1. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. 1997. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Soetiksno. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. 2. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. 1 . yaitu sifat baik. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Jakarta. Penerbit PT. 2. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Bagian I.

. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. halaman 29. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. 3 Theo Huijbers. Cit. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Hk. 1995. halaman 154. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Dalam menganalisis keadilan.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. Keadilan distributif (Distributive Justice). Yogyakarta. Sedang menurut Aristoteles. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. halaman 155. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato. Penerbit PT. 2 . Op. c. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Gramedia Pustaka Utama./Univ. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a./Modul/Fils. b. Penerbit Kanisius. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. b. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya.Doc. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. yaitu: 4 a. 1993. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Jakarta. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Darji Darmodiharjo & Shidarta.

hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. Kontribusi Aristoteles berikutnya. Keadialan Umum (Justitia Generali)./Univ. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. yang dibedakan lagi menjadi 3. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. yaitu kepastian hukum. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. membagi keadilan menjadi 2. 2) keadilan komutatif. yaitu: 1) keadilan distributif. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. summa lex. adil atau tidak adil. Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. summa injuria. Hk. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . Selain membagi keadilan menjadi dua. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain./Modul/Fils. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. yaitu: a. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. Keadilan Khusus. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity).Doc. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. Perbedaannya ialah. b. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. 3) keadilan vindikatif. summa crux”.

Kepastian hukum atau legalitas. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. halaman 162. c. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. yaitu: a. aspek ini menentukan isi hukum. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. Menurut Radbruch. Op. yakni nilai keadilan. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. b. Hk. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. yaitu dasar hukum sebagai hukum. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. 5 Theo Huijbers. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. hukum diwujudkan dalam satu nilai. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. Keadilan dalam arti sempit. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. karena ada dasar lain.. Cit./Modul/Fils. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. .Doc. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. Tujuan keadilan atau finalitas. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. 3.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan./Univ.

23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. seperti politik. 4. Latihan Soal a. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Penerbit Kanisius.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Bagaimana pendapat Sdr. halaman 48./Modul/Fils. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. 1995. Hk. . maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk./Univ. Yogyakarta. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum.Doc. Filsafat Hukum. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No.

Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Huijbers. Penerbit Kanisius./Univ. Penerbit Kanisius. Gramedia Pustaka Utama./Modul/Fils. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Bagian I. Filsafat Hukum. Pradnya Paramita. Filsafat Hukum. Jakarta. Theo. 1993. Hk. _________________. Yogyakarta. .Doc. Penerbit PT. Soetiksno. 1997. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. Yogyakarta. Penerbit PT. 1993. 1995. Darji & Shidarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.

serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. yaitu:1 a. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar./Modul/Fils. 1997. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. halaman 44. b.Doc. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Semarang. 1 . Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. 1. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Soehardjo Sastrosoehardjo. Universitas Diponegoro. Menjelaskan falsafah hukum nasional. mahasiswa mampu: 1./Univ. 2. Hk. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila.

atau keturunan. Hk. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. Sehubungan dengan itu. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. sosial. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. dan sebagainya. Epistemologi. apa hakekat kebenaran. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu.Doc. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . kekuasaan. c. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Untuk itu. Ontologi. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. agama. b. Pancasila harus tetap terbuka ./Univ. Aksiologi. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik./Modul/Fils. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila.

perlu dikembangkan critical mass. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Semarang. Universitas Diponegoro. Yogyakarta. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. radikal. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. kreatif. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. halaman 106. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya./Modul/Fils. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. Penerbit Kanisius. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. halaman 9. Untuk itu. Hk. dan eksploratif. 2 . Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. 1993. Program Pascasarjana Ilmu Hukum.Doc. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern)./Univ. 3 Theo Hujibers. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. 2. Dalam suasana yang demikian. 1997.

yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. berdasarkan teori causalis.Doc. dan sintesis. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. Dalam Teorinya. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara./Modul/Fils. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. lebih lanjut dikemukakan pula. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. menurut Notonegoro. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Causa Finalis./Univ. Sebagai contoh. . teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. yaitu: Pertama. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. ialah anggota BPUPKI. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. ekonomi. dilihat dari causa materialis. Hk. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. sosial. kebudayaan. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. anti tesis. tetapi juga dalam bidang realitas. Menurut Hegel pula. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. Causa Formalis Pancasila. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. kewarganegaraan. dan sebagainya.

berpersatuan. dan Keadilan Sosial. Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. kerakyatan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan.Doc. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. Selanjutnya. Sebaliknya. karena jika dilihat dari isinya. keadilan sosial. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Demikian pula sebagai . Penjelasan selanjutnya./Modul/Fils. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. Dengan demikian. Hk. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. berkerakyatan. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Persatuan Indonesia. dan berkeadilans osial. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. dalam hal ini PPKI./Univ. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Kecuali itu. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Dikatakan hirarkis. Pancasila sebagai pandangan hidup. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. dikatakan piramidal. demikian seterusnya.

Pada aliran Positivisme Hukum. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. maupun penjelasannya. c. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. dan dasar negara. yaitu Sociological Jurisprudence./Univ. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara. Latihan Soal a. baik pembukaan. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Hk. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. ideologi negara. yaitu: a.Doc. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence./Modul/Fils. Kepentingan Umum. 3. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. b. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. Kepentingan Masyarakat. Dengan demikian. yaitu: Positivisme mementingkan logika. Kepentingan Individu. batang tubuh.

Semarang. Theo. 1993 Theo Hujibers. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah./Univ. Yogyakarta. Winandi. Soehardjo Sastrosoehardjo. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. 1997 . Yogyakarta. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit Kanisius. 1993. Woro & Sri Hartini. Universitas Diponegoro./Modul/Fils.Doc. Hk. 1997. Penerbit Kanisius. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Semarang. Universitas Diponegoro.

Narotama Surabaya/V/2005 64 ./Modul/Fils.Doc./Univ. Hk.

6.R.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4./Modul/Fils. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. 1990. 5. Memahami pengertian filsafat. Sesungguhnya. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. 4./Univ. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum. Mengetahui pengertian filsafat hukum. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup.Doc. yaitu: Filosofia. 6. halaman 1.4 I. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). 8. Jakarta. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Sehingga untuk dapat berfilsafat. terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat. 4 . 7. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Hk. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. tetapi juga ada logika-logika yang lain. tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Memahami pengertian hukum. Poedjawijatna. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. Penerbit Rineka Cipta. istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani.

yaitu ingin dan karena ingin itu. rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu. 5 . tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Barangkali. Op. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada./Modul/Fils. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. Menurut Poedjawijatna. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. R. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu. yakni objek materia dan objek forma. metode. yakni: filo dan sofia. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Jadi secara etimologis. terlebih-lebih bersifat universal. lalu berusaha mencapai yang diingini. Pokok-pokok Filsafat Hukum. Hk. sehingga terdapat kebenaran. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. Bijaksana inipun merupakan kata asing. yang tercermin dalam berbagai pepatah. halaman 4. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua. dan hakikat manusia..Doc. 1995./Univ. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Penerbit PT. yaitu tentang hakikat Tuhan.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. hakikat alam. Jakarta. lambang dan sebagainya. 6 I.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. sistematis. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Cit. Dengan demikian. Gramedia Pustaka Utama. Dari sudut isinya. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. dan sistematika tertentu. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk. Poedjawijatna. slogan. halaman 6-9. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.

tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. politik. dan estetika. maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. Penerbit Pustaka Sinar Harapan./Modul/Fils. Suriasumantri. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. retorika. ciri ketiga dari filsafat yang berperan. mendasar. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. logika. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Mendasar. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta..8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation). g. dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). Sebab. Jujun S. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Filsafat Ilmu.7 Menyeluruh. Lain halnya. h. Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. antara lain: f. ekonomi. Op. Hk. Sebuah Pengantar Populer. 7 . ada ciri lain yang perlu ditambahkan. Untuk itu. Jakarta. jika yang dianalisis hanya fakta saja. artinya cara berfikir filsafat tidak sempit. dan spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan. melainkan analisis nilai. filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok. halaman 7.Doc. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. 1998. maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. etika. senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. yaitu spekulatif. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Cit. i. jika yang dianalisis nilai. yaitu: menyeluruh. yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat./Univ. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.

Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Di satu sisi. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. yaitu metafisika. 1990. karena agama merupakan sesuatu yang ada. Bandung.Doc. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. 9 . dan sebagainya. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. Narotama Surabaya/V/2005 68 j. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda./Modul/Fils. kebajikan. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. Pada agama. Penerbit PT. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. filsafat berdasarkan pikiran belaka./Univ. agama. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. 5. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi. sedangkan agama berdasarkan wahyu.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. Citra Aditya Bakti. misalnya: Tuhan. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. pikiran belaka. baik dan buruk. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. halaman 5. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. etika. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. Hk. Di sisi lain. Dengan kata lain. dan antropologi. dengan kata lain objek filsafat itu ada.

Segala sesuatunya itu ada. Dalam realitas. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Hk. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. yaitu: b. misalnya sifat-sifatnya. Berdasarkan Objek. yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. Oleh karena itu. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. yang lazim disebut sebagai Theodicea. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. Jadi. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. Alam dicari . terdapat bermacam-macam hal. d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak./Modul/Fils.Doc. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. 4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). Dengan demikian. kemampuannya. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak./Univ. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum.

yaitu: manusia./Modul/Fils. apakah isi alam pada umumnya. dan lain-lain. apakah hubungannya satu sama lain. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. apakah kemampuan-kemampuannya. karena ada-nya tidak dengan niscaya. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. apa sifat-sifat pendorong hidup itu.Doc. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. apa pendorong hidupnya. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. c)) Filsafat Budi (Logika): . Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. Hk. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. apakah sebenarnya itu.

/Modul/Fils./Univ. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. dan itu dilakukan oleh subjeknya. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. b. Hk. dalam bekerjanya budi. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. serta putusan-putusan. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. jalan pikiran. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja . Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. seperti: pengertian. yaitu manusia. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain.Doc. Namun. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek.

Oleh karena itu. tingkah laku (ethica) Fils. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g. theodicea. Menurut Subjek: . indah lawan jelek. budi (logika mayor & minor) h. ontologia. Sehingga. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. theodicea) Alam (filsafat alam. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. secara garis besar. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. kosmologia. dan anthropologia). 5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. Jadi. ada-umum.Doc. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. baik lawan buruk. Hk. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. Menurut Objek: Ada-umum (fils. dan sebagainya. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. misalnya: ada yang tinggi dan rendah./Modul/Fils. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica./Univ. kosmologia) Fils.

dengan alasan sebagai berikut: f. Suatu Pengantar. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. kaedah sopan santun (adat). Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. 10 . halaman 31. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). Yogyakarta. halaman 5. 11 Sudikno Mertokusumo. Dari segi tujuan./Modul/Fils. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan.10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. Filsafat Hukum. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. Penerbit PT. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. dan kaedah hukum. Apakah Hukum Itu?. 1988. Remaja Rosdakarya./Univ. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. dan kesejahteraan. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. Hk. kaedah kesusilaan. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. Mengenal Hukum. ketertiban. Lili Rasjidi.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. Bandung. Penerbit Liberty. Dari segi isi. agar jangan sampai jatuh korban. g. untuk ketertiban masyarakat. 1991.Doc. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma.

Pada masa ini. pada zaman Romawi. Tentu saja. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. Lex Naturalis. berasal dari masyarakat secara resmi. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum. Ketiga. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya./Univ. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. Cit. yaitu:12 Lex Aeterna. . pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. termasuk mengatur pemerintahan. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. halaman 29-30. Dari segi asal-usul. Dari segi sanksi.Doc. Op. i. Dari segi daya kerja. membebani kewajiban dan memberikan hak. Sebagai contoh pertama. pada Zaman Pertengahan. j. Kedua. 12 Lili Rasjidi. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. Narotama Surabaya/V/2005 74 h. misalnya saja Thomas Aquino. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi./Modul/Fils. Hk. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan.. Lex Divina.

masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. 13 . Cit. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies.13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta./Univ. 1988.Doc. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti./Modul/Fils. 6. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Dengan kata lain. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. halaman 4. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. halaman 10. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Jadi. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum. Rasionya. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi.. Bandung. Op. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. seperti Carl von Savigny dan Puchta. Dengan demikian. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. Hk.

1997. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. kebahagiaan. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. 14 . Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Hk. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen.H. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara./Modul/Fils. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). J. dan tata tertib dalam masyarakat. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu./Univ. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. Narotama Surabaya/V/2005 76 J. Semarang. Sedangkan D.J. halaman 5.14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo.Doc.M. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Sementara itu. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat.

Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Mengenal Hukum. Sudikno. Filsafat Ilmu. Sastrosoehardjo. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Darji & Shidarta. Jakarta. Mertokusumo. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.Doc. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Semarang. Jakarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum./Univ. 1988. Bandung. Citra Aditya Bakti. I. Apakah Hukum Itu?. ________________. Penerbit PT. Rasjidi. . Jujun S. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat.. Gramedia Pustaka Utama. 1990. Yogyakarta. 1998. Suriasumantri. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Penerbit Rineka Cipta. Penerbit Liberty. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Remaja Rosdakarya. Jakarta. 1991. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit PT.. 1995./Modul/Fils. 1990. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. 1997.R. Filsafat Hukum. Suatu Pengantar. Bandung. Dengan kata lain. Hk. Lili. Penerbit PT. Sebuah Pengantar Populer. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Poedjawijatna. Universitas Diponegoro. Soehardjo. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum.

Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. Jakarta. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). Pokok-Pokok Filsafat Hukum. halaman 70-71. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). 8. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. 1 . 6. 7. Socrates. Herakleitos (540-475 SM)./Modul/Fils.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Hk. antara lain: Anaximander. Penerbit PT. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. sekarang. Plato. dan masa depan. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Herakleitos.Doc. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. 1995. Parmenides. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Gramedia Pustaka Utama. 6. dan Aristoteles. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu./Univ.

Dalam mempertahankan pendapatnya. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. halaman 20). karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Apabila hal ini terjadi. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum./Modul/Fils. 2 . maka timbullah keadilan (dike). Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini./Univ. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. Sementara itu. Tetapi jelas baginya. 1993. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. Yogyakarta. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. Logos menciptakan bentuk . Dengan kata lain. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. ukuran. Penerbit Kanisius. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Hk. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme.

Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. Misalnya./Modul/Fils. Aristoteles. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. yakni hukum alam dan hukum positif. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Meskipun demikian. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato./Univ. . Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon).Doc. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Oleh karena itu. karena hubungannya dengan aturan alam. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. yakni undang-undang negara. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Dari gagasan Aristoteles ini. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. sehingga hukum tidak pernah berubah. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. Oleh karena itu. Menurut Aristoteles. Menurut Aristoteles. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. Hk.

Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. menurut Stoisisme./Univ. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 3 . 1990. 7. Citra Aditya Bakti. Dalam perkembangannya. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Penerbit PT. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. bukan menurut hukum positif. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa.Doc. Bandung./Modul/Fils. Oleh karena itu. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Hk. Dengan kata lain. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275).3 dan mulai berkembangnya agama Islam. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. halaman 13. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos.

Cit. Rene Descartes (1596-1650). dan sebagainya. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. J. Wolf (1679-1754). lahirnya segala macam ilmu baru. 8. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. George Berkeley (1685-1753). halaman 39.. dan Immanuel Kant (1724-1804). Francis Bacon (1561-1626). Op. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. Thomasius (1655-1728). Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. John Locke (1632-1704). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis).4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna)./Modul/Fils. Thomas Hobbes (1588-1679). antara lain: William Occam (1290-1350). perkembangan teknologi yang sangat pesat. Montesquieu (1689-1755). David Hume (17111776). Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. Rousseau (17121778). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). 9. Samuel Pufendorf (1632-1694). berdirinya negara-negara baru./Univ. ditemukannya dunia-dunia baru.Doc. . yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. Hk. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. dan hukum positif (Lex Positivis).J.

Op. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19.Doc. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. Cit. yaitu akan menjadi. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern.. Teorinya disebut Dialektika. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. masih ada beberapa ahli pikir lain. Menurut Hegel. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat./Modul/Fils.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. seperti Hobbes.W.J. Fichte (1762-1814) dan F. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. ./Univ. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. Di samping Marx dan Engels. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. halaman 37. seperti Hegel (1770-1831). Schelling (1775-1854). Hk. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Namun. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. Menurut teori dialektika Hagel. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. seperti J. Karl Marx (18181883).F. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah.

Descartes Fichte T. Modern Z. halaman 82. Hk. Latihan Soal 7. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8. Op. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9. Locke von Savigny G.Doc. Hobbes Schelling J. Hume F. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Herakleitos. . Rousseau Immanuel Kant 10. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Yunani (Kuno) Z. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12./Univ./Modul/Fils. Cit.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Bacon Wolf Montesquieu J. Berkeley D. Occam Hegel R. Pertengahan Z.. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10.J.

Yogyakarta./Modul/Fils. Huijbers. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit PT.Doc. Penerbit Kanisius. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Lili. 1995. . Bandung. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1993. Hk. Darji & Shidarta. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1990. Citra Aditya Bakti. Rasjidi. Penerbit PT. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama./Univ. Theo.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

. . Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). tidak dogmatis (trancendental). Cit. rasa. lawan dari filsafat dogmatis. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar./Modul/Fils. Op.4 Metode kritis tidak skeptis. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. halaman 12. volition.Doc. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. and feeling). tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Hk. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. yaitu cipta./Univ. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). dan karsa (thinking.

Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. Austin membagi hukum atas 2 hal. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. 3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. yaitu Analytical Jurisprudence. das ist vernunftig. demikan juga dengan hukum. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. berkembang bentuk yang agak lain. . dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. antitesa. Bagi Hegel. Hk. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. das ist wirklich ist. Jadi.Doc./Univ. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. b. Di Inggris. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. What is reasonable is real./Modul/Fils. and what is real is reasonable). yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia.

karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. sejarah. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. sanksi.Doc. kewajiban. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. dan kedaulatan. di dalamnya terkandung perintah. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Menurut Austin. Idealisme hukum ditolak sama sekali. dan sebagainya. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. peraturan pemerintah. dalam hukum yang nyata pada point pertama. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. contoh hak wali terhadap perwaliannya. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. seperti: undang-undang. Hk. sosiologi. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). Hans Kelsen seorang Neo Kantian./Univ. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. Menurut ajaran tersebut. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . etika. dan sebagainya.

Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat.Doc. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. bukan masalah apa yang dikehendaki. bukan karsa dan rasa. . Cit. etiika atau agama. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak./Modul/Fils. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. Hk. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu. Op. masalah cipta./Univ. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). k) Teori hukum adalah formal. halaman 43. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm.. i) Hukum adalah ilmu normatif.

tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). secara positif.Doc. Manusia selalu berusaha . Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. hukum kodrat gaya baru. John Stuart Mill (1806-1873).q. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). dasar hukum. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. menurut hukum (rechtmatigeheid). yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). Hk. penundukan hukum. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. kekuasaan hukum./Univ. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan.q. hubungan hukum. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. yaitu: subjek hukum. i. mengikat. objek hukum. verbinden. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya./Modul/Fils. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. dan melawan hukum. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut.

dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. dan positivisme hukum dari John Austin. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Dengan kata lain. ia mengikuti Bentham. j. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. Oleh karena itu. Pada hakekatnya. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Bagi Jhering. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. jikas tidak demikian. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. untuk memelihara kegunaan./Modul/Fils./Univ. Mill. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Dalam mendefinisikan kepentingan.Doc. Hk. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya.

Hk. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. 8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat. es wachst mit dem volke vort. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya./Univ. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. . bilden sich aus mit diesem. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman.Doc. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. berupa adat-istiadat. namun ia akan mati. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya./Modul/Fils. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. berkembang bersama dengan rakyat. 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. Sedang Puchta. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata.

Doc. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun./Modul/Fils. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. Yogyakarta. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. Penerbit Kanisius. 1993. Di lain pihak. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. halaman 120-121. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Lebih lanjut. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. Hk. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. 6 ./Univ. k. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Menurut Puchta. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan.

/Modul/Fils. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat.. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Dengan rasio demikian. Benjamin Cardozo. Eugen Ehrlich. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. antara lain: Roscoe Pound. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini.Doc. Kontorowics./Univ. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. Cit. Aliran ini berkembang di Amerika. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. halaman 47. Gurvitch dan lain-lain. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Sociological jurisprudence. . Op. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum.

/Univ. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Sebab. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . Gray. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Oliver Wendell Holmes. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. William James dan sebagainya. private as well as public interest). maka tiap bagiannya harus . pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum./Modul/Fils. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. l. Hk. 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Maksudnya. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Jerome Frank. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Sementara itu. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal.Doc. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Karl Llewellyn.

7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. Hk. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya./Modul/Fils. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan./Univ. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum.Doc. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. Sesuai dengan keyakinan ini.

1997.Doc. Jakarta./Modul/Fils. hukum dapat dibagi menjadi dua. halaman 77. 8 . Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. ekonomis./Univ. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. Pradnya Paramita. yakni. Hk. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. di samping faktor-faktor lain. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). simpati maupun antipati pribadi (Frank). Bagian I. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. prasangka politis. 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. dan moril. Bagi Frank. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. yakni wawasan sosiologis. “The path of Law” berasal dari Holmes. Penerbit PT.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. Filsafat Hukum. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. hanyalah sebatas persamaan nama saja.

Hk. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. .. halaman 86. Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. 4. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. Latihan Soal 9 Ibid. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. yaitu Oliverscrona. Menureut Friedman./Modul/Fils. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. Lundstedt. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah.Doc. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak./Univ.

Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d./Univ./Modul/Fils. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b.! f. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . Narotama Surabaya/V/2005 103 a. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr.Doc. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Hk.

1997. Penerbit PT. Darji & Shidarta. Penerbit Kanisius. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Univ. Gramedia Pustaka Utama. Huijbers. Jakarta. Program Pascasarjana Ilmu Hukum.Doc. Soehardjo Sastrosoehardjo. Yogyakarta. Citra Aditya Bakti Bandung./Modul/Fils. 1990. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Soetiksno. Universitas Diponegoro. Rasjidi. Filsafat Hukum. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. . 1997. Jakarta. Penerbit PT. Lili. Penerbit PT. 1993. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Bagian I. 1995. Hk. Pradnya Paramita. Semarang. halaman.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

Hk./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. i. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. h. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. Menurut anggapan pada masa itu. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu./Univ. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis.Doc.

yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . Di dalam betuk Positivistis-Analistis. j. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. k./Modul/Fils. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Hk. Di dalam satu bentuk yang idealistis. atau pada taraf lain.Doc./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian.

Untuk itu. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. dan bukan lagi dasar metafisik. Jakarta. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. l. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. 1995. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest). yang ditemukan oleh pengamatan. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Hk. 2 . yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika.Doc. halaman 129130./Modul/Fils. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”./Univ. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. Gramedia Pustaka Utama.

yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. pengacara. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum. 2. 5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. dilihat dari hal tersebut. d. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu./Univ./Modul/Fils. Oleh karena itu. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. Kedua. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. g) perlindungan lembaga-lembaga sosial. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. hakim. Dengan kata lain. tujuan hukum yang demikian ini . e) kepentingan keluarga. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. f) kepentingan hak milik. Hk. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. j) kesejahteraan sosial. i) pencegahan pelanggaran hak. h) pencegahan kemerosotan akhlak. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. sehingga membuat pembentuk undng-undang.Doc. yaitu: Pertama.

Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. e. yang menilik niat bukan di tempatnya ./Modul/Fils. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. f. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. e. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. hukum dibentuk. Oleh karena itu. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. Hk. 3. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja./Univ. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis.Doc. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. antara orang-orang yang sekutu. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. dan penduduk yang bertambah banyak. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. yaitu: d.

Latihan Soal a. f. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c./Univ. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. Hk. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya. 3. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum./Modul/Fils.Doc. timbul pandangan hukum adalah keburukan.

Darmodiharjo.) Muhammad radjab. Hk. 1996. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. 1995. Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound. Roscoe./Univ. Pengantar Filsafat Hukum. (Terj. Penerbit Bhratara.Doc. ./Modul/Fils. Jakarta. Darji & Shidarta. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.

Bagian I. Jakarta. Memahami bermacam-macam arti keadilan. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue./Univ./Modul/Fils. 1997. Penerbit PT.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. halaman 11. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. 4. 2. Soetiksno. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno.Doc. Filsafat Hukum. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. yaitu sifat baik. 1 . Hk. Pradnya Paramita. Dengan perkataan lain. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. 2. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan.

yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Hk. 2 . Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. halaman 155. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. halaman 29. Op. d. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal.. c. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Gramedia Pustaka Utama. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. yaitu: 4 c.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. b.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus.Doc. halaman 154. 3 Theo Huijbers. Penerbit Kanisius. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. 1993. Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. Cit. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Yogyakarta. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum./Univ. Sedang menurut Aristoteles. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1995./Modul/Fils. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Penerbit PT. Dalam menganalisis keadilan. Jakarta. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. Keadilan distributif (Distributive Justice).

5) keadilan komutatif. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. Selain membagi keadilan menjadi dua. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Keadialan Umum (Justitia Generali). Aristoteles juga memberikan kontribusi lain.Doc. d. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. 6) keadilan vindikatif. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. adil atau tidak adil. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. membagi keadilan menjadi 2. summa lex. Perbedaannya ialah. yaitu: 4) keadilan distributif./Modul/Fils. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. summa crux”. Kontribusi Aristoteles berikutnya. yaitu: c. Hk. summa injuria. Keadilan Khusus. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity)./Univ. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. yaitu kepastian hukum. yang dibedakan lagi menjadi 3.

Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Keadilan dalam arti sempit. yakni nilai keadilan. halaman 162. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini.Doc. Cit. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. 5 Theo Huijbers. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. yaitu: a. hukum diwujudkan dalam satu nilai.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. yaitu dasar hukum sebagai hukum.. b. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. Op. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. karena ada dasar lain. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. Kepastian hukum atau legalitas. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. Menurut Radbruch. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. aspek ini menentukan isi hukum./Modul/Fils. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. Tujuan keadilan atau finalitas. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. c. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. Hk./Univ. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. 3. .

Latihan Soal a. 1995. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. Filsafat Hukum. Yogyakarta. Hk./Modul/Fils. 4. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Penerbit Kanisius. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Bagaimana pendapat Sdr.Doc. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya./Univ. . halaman 48. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. seperti politik. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No.

Yogyakarta. Pradnya Paramita. Penerbit Kanisius. 1997. Gramedia Pustaka Utama. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. . Huijbers. Darji & Shidarta. 1993./Modul/Fils. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Hk. 1993. Bagian I. Filsafat Hukum.Doc. Soetiksno. Jakarta. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Theo. Yogyakarta. Jakarta. Penerbit PT. _________________./Univ. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1995. Filsafat Hukum.

4. 1997. mahasiswa mampu: 1. Hk. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila.Doc. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. Menjelaskan falsafah hukum nasional. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. 2. b. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. Soehardjo Sastrosoehardjo. 1 . tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. yaitu:1 a. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Semarang./Modul/Fils. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Universitas Diponegoro. halaman 44./Univ.

agama. Aksiologi. Hk. Ontologi. Untuk itu. apa hakekat kebenaran. Sehubungan dengan itu./Univ. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita.Doc./Modul/Fils. Pancasila harus tetap terbuka . kekuasaan. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. b. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. dan sebagainya. atau keturunan. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Epistemologi. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. c. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Narotama Surabaya/V/2005 122 c. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . sosial. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan.

1997. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. 1993. 5. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. Dalam suasana yang demikian. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. perlu dikembangkan critical mass. Yogyakarta. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan.Doc. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional./Modul/Fils. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. Semarang. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). 2 . Penerbit Kanisius. Universitas Diponegoro. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. Hk. halaman 106. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. 3 Theo Hujibers. dan eksploratif./Univ. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. kreatif. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Untuk itu. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. radikal. halaman 9.

dan sintesis. menurut Notonegoro. sosial. ialah anggota BPUPKI. Causa Finalis. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. yaitu: Pertama. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. Pancasila berdasar adat kebiasaan. berdasarkan teori causalis. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. kebudayaan.Doc. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. ekonomi./Modul/Fils. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. . yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. Dalam Teorinya. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Sebagai contoh. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. tetapi juga dalam bidang realitas. Hk. dilihat dari causa materialis. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. anti tesis. Menurut Hegel pula./Univ. Causa Formalis Pancasila. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. kewarganegaraan. lebih lanjut dikemukakan pula. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. dan sebagainya. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik.

dalam hal ini PPKI. demikian seterusnya. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. dikatakan piramidal. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. berpersatuan./Modul/Fils. Pancasila sebagai pandangan hidup. Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. keadilan sosial. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. Kecuali itu. Demikian pula sebagai . Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. dan berkeadilans osial. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. kerakyatan. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan.Doc. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. karena jika dilihat dari isinya. Hk. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Penjelasan selanjutnya. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya./Univ. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Dikatakan hirarkis. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Sebaliknya. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Persatuan Indonesia. dan Keadilan Sosial. Selanjutnya. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. berkerakyatan. Dengan demikian.

dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. batang tubuh. f. e. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. yaitu Sociological Jurisprudence. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. Hk. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. yaitu: Positivisme mementingkan logika. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. maupun penjelasannya. yaitu: d. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. Kepentingan Masyarakat. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman./Modul/Fils. Kepentingan Umum. ideologi negara. Latihan Soal a./Univ. Dengan demikian. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . dan dasar negara.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara. baik pembukaan. Pada aliran Positivisme Hukum. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. 6. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Kepentingan Individu.

Hk. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. 1997. Universitas Diponegoro./Modul/Fils. Winandi. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Woro & Sri Hartini. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta. 1997 .Doc. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Penerbit Kanisius. Theo. Soehardjo Sastrosoehardjo. Universitas Diponegoro. Yogyakarta. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Semarang. Program Pascasarjana Ilmu Hukum./Univ. Penerbit Kanisius. Semarang. 1993 Theo Hujibers. 1993.

Narotama Surabaya/V/2005 128 ./Modul/Fils.Doc./Univ. Hk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful