1. 2. 3. 4. 5. 6.

DEWI RAHAYU INTAN PERMATA SARI AZIS ROSIDIQ SITI NURAISAH TUTUR KURNIARAHMAH SANDY SEFRIYANTO PEDIDIKAN GEOGRAFI NONREG’2011 FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

I. PENDAHULUAN

menerapkan konsep pengelolaan sumberdaya wilayah terintegrasi secara fisik. ekonomi.1. dan mempolakan pembangunan spasial ekologikal dan sosio kultural pada kawasan . penghematan dan pelestarian sumberdaya alam beserta lingkungannya. pemantauan dan pengawasan. melindungi sumberdaya alam yang memberikan manfaat spasial ekologikal. Pembangunan berkelanjutan mengandung konsep tentang proses perubahan dimana eksploitasi sumber daya. arah investasi. dan teknologi (United Nations Documents. pengendalian dan pelestarian. merehabilitasi berbagai kerusakan sumberdaya alam dan ekosistem. menguatkan kelembagaan dan kerjasama kemitraan dalam pengelolaan. pengaturan. penataan dan penertiban. meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan. pemanfaatan. biotis. sosio kultural berbasis community based development. orientasi perkembangan teknologi dan perubahan kelembagaan selaras dalam meningkatkan potensi saat ini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia dan diarahkan untuk terjaminnya keberlanjutan ekologi. Strategi pengelolaan sumberdaya wilayah dan ruang mempertimbangkan aspek perencanaan. mereklamasi lahan yang rusak akibat kegiatan manusia. dicapai melalui pembangunan yang cepat sehingga berimplikasi pada penggunaan sumber daya alam yang berlebihan yang menyebabkan degradasi sumber daya alam. sumberdaya. mengelola sumberdaya alam berbasis spasial dan berwawasan lingkungan serta kebencanaan alam. Pembangunan wilayah ditujukan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur memiliki tingkat kesejahteraan yang dapat dipertahankan dari waktu ke waktu. 1987). Pada negara berkembang pembangunan untuk mengejar ketertinggalan dari negara maju setelah terbelenggu oleh kolonialisme dan imperalisme. sistem managemen.1 Latar Belakang Setiap negara mempunyai kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alamnya untuk pembangunan. penerapan dan pengembangan rencana penggunaan lahan dan penataan pembangunan wilayah. Langkah strategik dalam pengelolaan potensi geografis adalah mengutamakan pengelolaan sumberdaya yang dapat diperbaharui.

kualitas air. 1999).fungsional. meningkatnya pendapatan asli daerah. pengelolaan aset pembangunan efektif dan bencana lingkungan maupun kerusakan sumberdaya alam dapat diminimalisir (Worosoprodjo. Fungsi DAS hulu yang sangat strategis menyebabkan fokus perencanaan pada area tersebut mengingat kerusakan DAS pada bagian hulu berdampak pada pendangkalan sungai akibat meningkatnya sedimentasi.3 Tujuan II. Pembahasan . Penerapan kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan akan memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan. Pengelolaan DAS menjadi sangat sentral mengingat fungsinya dalam menjaga keseimbangan hidrologi DAS sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi. 2008). Penyelenggaraan kehutanan untuk kemakmuran rakyat adalah dengan meningkatkan daya dukung DAS dan mempertahankan kecukupan kawasan hutan minimal 30% dari luas DAS dengan sebaran proporsional (Pemerintah Republik Indonesia.2 Identifikasi Masalah 1. 1. daerah hilir merupakan daerah pemanfaatan dan daerah tengah merupakan area transisi. Hidrologi DAS mengkaji pengaruh pengelolaan vegetasi dan lahan di DTA bagian hulu (upper catchment) terhadap daur air termasuk pengaruhnya terhadap erosi. 1995).tengah dan hilir yang terkait dengan daur hidrologi dimana secara biogeofisik daerah hulu DAS merupakan daerah konservasi yang berfungsi melindungi seluruh bagian DAS. Pengelolaan DAS merupakan managemen terintegrasi dari sektor hulu. Kondisi ini berpotensi mengakibatkan banjir pada daerah tengah dan hilir DAS (Asdak. ekologi dan sosial. banjir dan iklim di daerah hulu dan hilir.

Daerah Aliran Sungai Batanghari terletak antara 0 43' sampai 3 46' LS 0 derajat dan 100 45' sampai 104 25' BT dengan luas total sekitar 4.426. Provinsi Sumatera Barat dan Jambi dengan DAS seluas 4.terutama di wilayah Sub-DAS Batang Sumai dan Sub-DAS Batang Tabir. sedangkan bentuk berombak dan berbukit umumnya terdapat pada bagian tengah. sedangkan sisanya sekitar 20% terletak pada wilayah Sumatera Barat. sedangkan daerah tengah dan hilir didominasi oleh bahan induk tersier dan kuarter. Bentuk datar pada umumnya dijumpai pada wilayah Sub-DAS Batanghari Hilir.• • Sungai Batanghari. . Sekitar 80% dari luasan DAS tersebut termasuk dalam wilayah Provinsi Jambi. serta di bagian hilirSub-DAS Batang Tebo dan bagian hilir Sub-DAS Batanghari Hulu.004 ha Secara gografis. DAS Batanghari khususnya daerah hulu didominasi daerah berbahan induk kuarter vulkanik dan tersier dengan bentang lahan berupa pegunungan dan vulkan. Sebagian besar topografi wilayah DAS Batanghari bervariasi mulai dari topografi datar hingga bergunung.9 juta ha. Subdasnya: • Batanghari Hulu. berupa daerah dataran yang sudah tertoreh dan daerah aluvial.

82 m3/detik. Karakteristrik morfometri seperti ini mempunyai frekuensi debit banjir yang sangat kecil tetapi jika terjadi banjir akan berlangsung lama.93 m3/detik dan Agustus sebesar 99.31-292. Berdasarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2009). pada periode 2002-2007 kejadian banjir di Jambi terjadi pada Kabupaten Muaro Jambi (11 kasus) dan Kerinci (9 kasus) yang menunjukkan bahwa kejadian banjir pada DAS hulu dan tengah yang dominasi kejadian pada DAS tengah yaitu wilayah Kabupaten Muaro Jambi. Batang Merangin Tembesi Batanghari Hilir Sub-DAS Batang Merangin Tembesi Menurut Tikno (2000). Maret sebesar 292. Kondisi ini menunjukkan bahwa kerentanan banjir pada Sub-DAS Batang Merangin Tembesi berkisar pada bulan Januari. Tetapi pada tahun 2010 dampak banjir terparah pada daerah DAS hulu dengan data pada .82 m3/detik dengan puncak debit rerata bulanan tertinggi pada bulan Januari sebesar 280. Debit rerata terendah pada bulan Juli sebesar 100. Sub-DAS Batang Merangin Tembesi mempunyai bentuk memanjang seperti bulu burung dengan anak-anak sungai berada di kiri dan kanan yang mengalir ke sungai utama yang berada dibagian tengahnya. dan Desember sebesar 243.• • • • • Batang Tebo. Batang Tabir Batang Sumai.31 m3/detik.53 m3/detik. Maret. dan Desember. Debit rerata dari tahun 1975-1995 berkisar antara 99.82 m3/detik.

No 1. erosi dan penyebaran tanah longsor pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau Sub-DAS Batang Tabir . 17 Marat 2010 18 Maret 2010 Kabupaten Merangin Kabupaten Sarolangun Sumber : Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2010 Tekanan dan ancaman dirasakan dari hulu hingga hilir DAS Batanghari yang berasal dari perambahan dan kerusakan hutan. 3. Tanggal 14 Maret 2010 Lokasi Kabupaten Kerinci Dampak 1 orang meninggal 8 orang luka 1. Tingkat kekritisan suatu DAS ditunjukkan oleh menurunnya penutupan vegetasi dan meluasnya lahan kritis yang berdampak meningkatnya frekuensi banjir. perubahan tutupan lahan serta kebijakan pengelolaan kawasan yang tumpang tindih dengan berbasis pada batasan administratif tanpa melihat aspek bioregion DAS sehingga kepentingan lingkungan selalu terpinggirkan oleh orientasi perekonomian sektoral.586 rumah terendam 2. konversi lahan.340 jiwa mengungsi 250 rumah rusak berat 500 rumah rusak ringan 3 sekolah rusak ringan 3 tempat ibadah rusak ringan 280 rumah terendam 2.

kemiringan dan ketinggian. yaitu zona resiko tinggi. maka disusunlah prinsip-prinsip pengendalian pemanfaatan pada tiap zona. Menurut Mulad. Kemudian Mulad melalui analisisnya menjelaskan. dan perlindungan terhadap sungai dan mata air. keadaan ini juga diperparah dengan teknik pengelolaan lahan yang tidak mendukung upaya konservasi. Instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengatur kegiatan budidaya sehingga mengurangi resiko dan dampak bencana dikemudian hari. kemudian merumuskan zona pengendaliannya melalui analisis keakurasi data yang didasarkan pada tingkat erosi. Diketahui saat ini kondisi Sub DAS Batang Tabir bagian hulu di kawasan Hutan adat terutama di Desa Lubuk Bedorong terjadi perubahan fungsi kawasan yang harusnya menjadi kawasan lindung atau konservasi malah menjadi kawasan budidaya. dan rendah. Prinsip pengendalian pemanfaatan lahan pada masing-masing zona adalah dengan mengatur jenis kegiatan budidaya yang diizinkan. pada zona resiko sedang pemanfaatannya sebagai kawasan budidaya sangat terbatas dan harus memenuhi syarat . vegetatif. DAS Jambi. arahan pengendalian pemanfaatan lahan Sub DAS Batang Tabir bagian hulu antara laian pada zona resiko tinggi dilarang dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya dan teknik konservasinya berupa teknik sipil. sedang. Dijelaskan Mulad BP. Sehingga dalam penelitian ini akan dirumuskan suatu upaya atau arahan pengendalian pemanfaatan lahan di Sub DAS Batang Tabir Bagian Hulu. mengatur intensitas pemanfaatan dan ketentuan teknik konservasi lahan serta prasarana minimum yang dibutuhkan.Pemanfaatan ruang di Daerah Aliran Sungai Batang Tabir bagian hulu membutuhkan instrumen pengendalian pemanfaatan ruang. Metode penelitian yang dilakukan untuk mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya penurunan fungsi hidrologi Sub DAS Batang Tabir bagian hulu adalah dengan teknik pemantapan. Berdasarkan pada hasil analisisa overlay. kedua. Dari pembahasan yang telah dilakukan. Berbagai upaya penyelamatan fungsi lindung Sub DAS Batang Tabir bagian hulu telah dilakukan namun tidak membuahkan hasil yang maksimal. didapatkan 3 zona pengendalian pemanfaatan lahan berdasarkan pada tingkat resiko bencana longsor.

Hasil analisis kurva duration debit untuk estimasi debit andalan (probability 80%) di beberapa Sub DAS adalah sebagai berikut: Batang Tebo sebesar 60 m3/det. Batang Merangin-Tembesi dan Batanghari Hilir dimana secara keseluruhan mempunyai potensi sumberdaya air yang cukup tinggi. Batang Tabir. yang terbagi menjadi 6 (enam) Sub DAS yaitu: Batanghari Hulu.537. Batang Tabir sebesar 27 m3/det. . Batang Sumai. Batang Tebo.konservasi dengan kombinasi antara teknik sipil dan vegetatif.881 Ha. Merangin Tembesi sebesar 53 m3/det dan Batanghari HilirMuara Tembesi sebesar 1000m3/det. Dalam analisis debit ini menggunakan dua pendekatan yaitu : analisis debit rerata bulanan dan analisis kurva duration debit (discharge duration curve). Ketersediaan data debit (aliran sungai) di setiap wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah sangat penting bagi kegiatan program perencanaan dan pengembangann sumberdaya air. pada zona resiko rendah kegiatan budidaya tetap diizinkan namun juga harus memenuhi syarat konservasi. dengan luas total 4. dan ketiga. DAS Batanghari yang yang terletak di Propinsi Jambi.

Erosi dan sedimentasi Wilayah DAS Batanghari di daerah hulu pada umumnya bertopografi berat. Tiga faktor ini merupakan unsur yang sangat berperanan terhadap erosi. Jumlah perkebunan kelapa sawit sampai tahun 2002 tercatat 13 buah dengan kapasitas 3. misalnya untuk perkebunan kelapa sawit. atau pembukaan lahan untuk areal transmigrasi. maka dapat diperkirakan . mempunyai curah hujan yang tinggi. pemberian konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH).217 ha.Kerusakan Daerah Aliran Sungai Batanghari Lahan Kritis Kerusakan kawasan hutan dan lahan kritis Kerusakan hutan akan menimbulkan lahan kritis yang untuk merehabilitasinya dibutuhkan biaya yang besar dalam jangka waktu yang lama. 2003). luas perkebunan kelapa sawit tercatat 119.000 ha dan pertumbuhan luas perkebunan ini hingga tahun 1999 di DAS Batanghari mencapai angka 34% pertahun. pembukaan kebun kelapa sawit ini juga mengancam masalah lingkungan DAS. misalnya akibat proses deforestasi.5 juta ton TBS setiap tahun (Mahendra Taher.80% dari luas lahan kritis di Propinsi Jambi terletak dalam kawasan DAS Batanghari. Pada Sub-DAS Batanghari Hulu yang termasuk wilayah propinsi Sumatera Barat. serta bentukan tanah yang berasal dari bahan induk vulkanis. Di samping memiliki efek menguntungkan ditinjau dari pergerakan ekonomi rakyat. Tabel 1.3 menyajikan luas lahan kritis yang terdapat di Propinsi Jambi untuk dalam kawasan hutan dan luar kawasan hutan. Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa sekitar 60. Berkurangnya kawasan hutan yang menjadi penyangga keseimbangan ekosistem pada wilayah DAS dapat disebabkan oleh berbagai sebab. Jika tutupan lahan terbuka. Luas areal perkebunan kelapa sawit pada tahun 1999 sekitar 300. antara lain konversi hutan menjadi lahan perkebunan.

94 hektar atau hanya tinggal 24. Hal ini karena ada TNKS.06 atau 40. dan banyaknya penebangan liar. terjadinya pembukaan lahan baru tanpa perlakuan konservasi tanah.42 persen. Sedimen yang terangkut dari kawasan ini akan bergabung dengan aliran Batang Tebo.91 ton/ha/tahun. .846.com/2009/06/menengok-sungai-batanghari.blogspot. Hasil perhitungan erosi oleh BPDAS Agam-Kuantan pada Sub Sub-DAS Gumanti yang terletak di wilayah hulu Sub-DAS Batanghari Hulu dalam data RTL-RLKT memberikan nilai erosi sebesar 54. dan Batang Tabir.07 persen. Lihat dan Download Informasi Selengkapnya Pada Link di Bawah ini di Sini http://nicemonkeyman.bahwa laju erosi yang terjadi akan besar. Syafrizaldi kepada koran ini akhir pekan lalu. Abdullah Khusairi—-Padang Hal ini dipaparkan oleh aktivis lingkungan.44 persen.88 hektar atau hanya sekitar 21.” ujarnya.html Luas Hutan Tak Lagi Sesuai UU Kehutanan Kondisi tutupan lahan di dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari terbaru berdasarkan citra landsat TM7 tahun 2005 tutupan lahan yang berupa hutan di DAS Batang Hari seluas 1. Kerusakan pada Sub-DAS Batanghari Hulu dengan jenis tanah ordo Andisols . “Tutupan lahan yang terjadi di Sumbar. terutama dari Kabupaten Solok sudah berjalan sangat intensif.898. Tingginya curah hujan mengakibatkan tingginya erosi dan sedimentasi yang masuk perairan sungai Batanghari. Padahal dalam UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan disebutkan minimal tutupan hutan dalam suatu DAS minimal 30 persen. Sedangkan wilayah Jambi tutupan hutan hanya 948. seluas 336. Batang Pelepat.285. semakin kritisnya lahan pada hulu sungai. Keruhnya air sungai diduga karena seringnya terjadi longsor pada hulu dan sisi sungai.744.

Bungo. Batang Sangir. Batang Gumanti.Minimal 30 persen untuk suatu wilayah dimaksudkan agar daya dukung lingkungannya stabil atau seimbang dengan luas wilayah. Dari tahun ke tahun semakin terasa bahwa daya dukung DAS ini terhadap kehidupan masyarakat semakin menurun dan jika tidak ada upaya serius dari semua pihak maka . Batang Hari Hulu. fragmentasi kawasan lindung dan kawasan konservasi lainnya. Batang Sangir. Penurunan tutupan hutan. Dimana terdapat Sub Das. Dampak dari kehancuran lahan ini terjadinya gangguan terhadap keanekaragaman hayati.104 hektar di daerah aliran sungai Batang Hari telah memberikan kontribusi besar terhadap kerusakan hutan di dalam daerah tangkapan air. maka kondisi suatu wilayah labil terhadap ancaman dan bahaya lingkungan. degradasi tanah. Tebo. Sebagian besar hulu sub DAS terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Batang Jujuhan. Rincian Sub DAS Batang Hari yang masuk wilayah Sumbar. Enam Sub DAS besar yaitu Sub-DAS Batang Hari Hulu. sekitar yang terpaksa menggunakan air yang tercemar tersebut.008.32 persen. keperluan air bersih dan berbagai proyek besar yang bersandar dengan DAS Batang Hari. Batang Pangian.” jelas Syafrizaldi. tutupan lahan TNKS masih mencapai 42 persen di Solok Selatan. Sawahlunto Sijunjung 27. Batang Tebo. masalah sedimentasi. “Dari analisa yang pernah dilakukan KKI Warsi mencatat pemberian konsesi kepada 16 HPH seluas 1. Akibat lemahnya pengawasan terbukti 10 HPH dengan luas areal 888.000 hektar (berdasarkan SK HPH lama yang telah dicabut) tidak bekerja menurut kaidah-kaidah konservasi. peningkatan frekuensi banjir tahunan dan sulitnya air bersih di musim kemarau kini menjadi salah satu ciri DAS Baranghari. Hal yang sama juga terjadi di Merangin. pembangunan pelabuhan Muara Sabak dan lain sebagainya. yang hanya tinggal 27. dan Batang Merangin-Tembesi. Kurang dari angka 30 persen. Sub DAS yang sudah diambang batas toleransi UU Kehutanan terdapat di Dharmasraya. 39 persen. sekaligus menandakan bahwa DAS Batang Hari telah masuk sebagai DAS sangat kritis di Indonesia. Pemanfaatan DAS Batang Hari mulai dari sebagai jalur transportasi. seperti pembangunan PLTA Merangin. terancamnya biota-biota air dan satwa pengguna air lainnya serta gangguan kesehatan bagi masyarakat. polusi air karena pemurnian hasil tambang mengakibatkan. Batang Tabir. keperluan irigasi.

Program transmigrasi diyakini ikut menyumbang tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata setahun sebesar 1. Disamping itu Jambi juga mengalami defisit bahan baku kayu bulat (logs) yang mencolok antara industri pengolahan kayu hulu dan jatah tebangan tahunan lestari sebesar 2. Kebijakan tersebut telah menyebabkan ratusan ribu hektar hutan telah beralih menjadi perkebunan sawit dan pemukiman. atau 36. Demikian juga dengan pemberian izin untuk perkebunan besar kelapa sawit dan program transmigrasi pada bagian hulu DAS Batang Hari bagian Utara yaitu Kabupaten Bungo. transmigrasi. saat ini hampir semua daerah memang telah mengeluhkan berbagai dampak tersebut. Disamping itu pemukiman akan berkembang mengikuti pola ketersediaan aksesibilitas seperti jalan dan sungai.000 hektar. Solok. karena konservasi lahan dalam skala besar menjadi perkebunan. turunnya kualitas air bersih. 3.dan maraknya illegal logging juga sebagai penyumbang terbesar semakin berkurangnya kemampuan DAS Batanghari. Tebo. Saat inipun di hulu Batang Hari sekitar bagian selatan kabupaten Solok sedang berlangsung konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit lebih kurang 25. Itu sama artinya dengan terjadinya penggundulan hutan 100 hektar perhari. Penurunan daya dukung DAS Batanghari ini. serta musibah banjir akan semakin parah melanda DAS ini. Defisit sebesar itu telah menambah tekanan terhadap daerah .sedimentasi.000 hektar per bulan. Pengelolaan HPH yang tidak sesuai aturan. Sebuah penggergajian kayu/sawmill ini memerlukan sedikitnya 10 meter kubik per hari. berarti secara keseluruhan diperlukan 3. Jika satu hektar hutan rata-rata menghasilkan 30 meter kubik. pertambangan. Kondisi dan prediksi penduduk ini memperlihatkan bahwa tekanan pertumbuhan penduduk pada sebagian besar Daerah Aliran Sungai Batang Hari dimasa datang akan semakin memberatkan bagi daya dukung Sumberdaya Alam pada Daerah Aliran Sungai Batang Hari.49.89 persen selama kurun waktu 1986-1996 dengan tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata nasional pada kurun waktu tersebut adalah 1. Hal ini disebabkan hutan sebagai pendukung utama sistim hidrologi suatu DAS terus mengalami kerusakan. Kerusakan hutan DAS Batang Hari juga disebabkan oleh maraknya illegal logging dan illegal sawmill.000 hektar pertahun.000 meter kubik per hari.7 juta meter kubik per tahun. Kenyataannya. dan Sawahlunto/Sijunjung dan beberapa daerah lainnya.

25 persen dari luas total wilayah kabupaten ini.899. Sedangkan perusahaan pertambangan umumnya melakukan penambangan batubara. Pada tahun 1994 adalah sebesar 31. tembaga. Merangin.com/2008/04/13/das-batang-hari-makin-kritis/ DAS Batanghari di Tengah Ancaman Pengerusakan dan Pencemaran Laporan: . batu tulis. dan Bungo) saat ini terdapat total areal Kuasa Pertambangan (KP) seluas 220.30 persen. Sementara pada tahun 2006 terjadi kerusakan hutan akibat konversi seluas +/. air raksa. perak. timah.750 ha.84 hektar. batubara. “Permasalahan-permasalahan yang melanda DAS batanghari ini perlu segera dicarikan solusinya. silika. Data dari Dinas dan perkebunan Kabupaten Dharmasraya tahun 2005 juga menyebutkan bahwa kerusakan hutan akibat konversi seluas +/. granit.362 hektar dan areal Kontrak Karya (KK) seluas 1. atau sekitar 3. *** http://meysanda. Aktifitas tambang rakyat biasanya terbatas pada mineral tertentu seperti emas. asbes.wordpress. kuarsit.55 persen dari luas total wilayah Kabupaten Dharmasraya sedangkan pada tahun 2002. dan beberapa jenis bahan tambang lainnya.lainnya karena bagaimanapun kenyataannya sampai saat ini industri-industri tersebut tetap berjalan. dari hasil analisis diketahui bahwa tutupan hutan di kabupaten ini adalah sebesar 28.026. marmer. Kerinci.” paparnya lagi. minyak bumi. kalsit.87 ha.88 persen. Swl/Sijunjung. besi.” jelas Syafrizal. sedangkan akibat illegal loging seluas +/. pasir kuarsa. Ia mengusulkan agar dua provinsi mengambil kebijakan tepat agar tidak jauh kerusakan terjadi. “Dalam kurun 8 tahun Dharmasraya tutpan hutan Dharmasraya hilang sebanyak 9. Pada 5 kabupaten di hulu DAS Batang Hari (Solok. batu kapur. porselen. Berdasarkan analisa peta citra lansat etm+7 yang terbaru tutupan hutan Dharmasraya pada 2005 tinggal 27. grafit. Aktifitas tambang baik yang dilakukan oleh rakyat maupun oleh perusahaan pertambangan juga memberikan tekanan tersendiri.225 ha.975 ha dan illegal loging seluas +/. Secara umum jenis-jenis bahan tambang yang terkandung di Daerah Aliran Sungai Batang Hari adalah emas.035 hektar.

Seperti bukti. kalau dilihat kondisinya sekarang ini terhadap sungai terbesar kedua dengan luas daerah tangkapan air (water catchment area) hampir mencapai 4. Dibidang transportasi.758 hektar sawah irigasi sederhana.173 ton gkg. DAS ini telah dikategorikan sebagai salah satu DAS kritis di Indonesia. beberapa indikator yang sudah terlihat adalah hilangnya kemampuan DAS menyimpan air di musim kemarau. yang kesemuanya itu menunjukkan bahwa sistem lingkungan yang mendukung proses daur hidrologi sedang mengalami kerusakan. hutan hujan pegunungan dengan vegetasi sub alpin dan alpin. transpotasi air merupakan pilihan utama.800 hektar sawah irigasi setengah teknis. mesti dapat diselamatkan dari ancaman pengerusakan dan pencemaran. DAS Batang Hari sangat penting karena meliputi berbagai type ekosistem alami (selain ekosistem sungainya sendiri) mulai dari ekosistem pesisir/muara. mesti dapat diselamatkan dari ancaman pengerusakan dan pencemaran. DAS Batanghari di Tengah Ancaman Pengerusakan dan Pencemaran DAERAH Aliran Sungai (DAS) Batanghari.9 juta hektar sudah berada di atas ambang toleransi. Batang Sangir. dan 26.108 hektar sawah irigasi swadaya memanfaatkan DAS Batang Hari sebagai sumber airnya. Secara administratif. masih terus dilakukannya pembuangan limbah karet dan pembangunan sejumlah gedung di pinggiran DAS tersebut. Ditinjau dari berbagai segi. hutan hujan dataran rendah. DAS Batang Hari memiliki peran sangat penting. Sebagian besar hulu sub DAS terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). 12. Secara ekologis. DAS ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat karena sekitar 2. Batang Tabir. tingginya sedimentasi. tidak memadai lagi akses pasokan air bersih dan irigasi untuk masyarakat. Total produksi padi sawah pada tahun 2003 mencapai 649. dan Batang Merangin-Tembesi. Saat ini di . pemanfaatan sungai Batang Hari sebagai prasarana transportasi oleh masyarakat telah berlangsung sejak puluhan bahkan ratusan tahun. DAS Batanghari meliputi Provinsi Sumatera Barat dan Jambi dan terbagi dalam enam Sub-DAS besar yaitu Sub-DAS Batang Hari Hulu. Namun saat ini kapasitas angkutan yang dapat melewati sungai semakin terbatas dan saat ini rata-rata hanya di bawah 3. 11. hutan hujan dataran tinggi. 2003). Sebab.DAERAH Aliran Sungai (DAS) Batanghari. Sebelum akhir 70-an (sebelum trans Lintas Sumatera dibuka). Sekitar 10.000 DWT karena dasar sungai semakin dangkal. Batang Tebo.8 juta jiwa hidup dalam wilayah ini (BPS. meningkatnya frekwensi banjir tahunan.388 hektar sawah irigasi teknis. lahan basah.

maka diperlukan pengerukan minimal 5.000 hektar. dan konversi untuk kebutuhan lainnya seperti transmigrasi diyakini merupakan penyebab utama penurunan debit tersebut. Selain itu diperlukan pula pemeliharaan alur . Nilai strategis lainnya adalah Pelabuhan Muara Sabak di hilir Sungai Batang Hari yang direncanakan sebagai pintu gerbang ekonomi kawasan ini umumnya dan Provinsi Jambi khususnya ke kawasan Segitiga Pertumbuhan Singapura-Batam-Johor (Sibajo). kelebihan arus juga direncanakan akan dijual ke Singapura.000 DWT.500 meter kubik deposit sepanjang alur sungai dengan lebar 100 meter untuk draught 9. irigasi SEDASI yang dibangun tahun 1982-1986 hanya mampu mengairi 39 persen lahan yang direncanakan. sedang dikerjakan Batang Hari Irrigation Project (BHIP) yang direncanakan mampu mengairi sawah seluas 18. Penurunan debit pada sungai Batang Siat selama 15 tahun terakhir ini telah mengakibatkan berkurangnya kapasitas maximum saluran dari 10. Konversi lahan secara besar-besaran di hulu Batang Siat menjadi perkebunan kelapa sawit oleh PT TKA. Proyek irigasi Batang Hari ini merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari proyek terdahulu yaitu Proyek Irigasi Sungai Dareh Sitiung (SEDASI) yang pada awalnya diharapkan mampu mengairi lahan sawah seluas 20. jika bobot kapal yang bersandar di Muara Sabak sekitar 15. Dengan proyek baru Irigasi Batang Hari ini tidak ada jaminan kasus irigasi SEDASI tidak terulang selama penanganan permasalahan tetap sektoral seperti selama ini.936 ha pada 35 Jorong/Nagari di Provinsi Sumatera Barat dan lima desa di Provinsi Jambi. DAS Batang Hari memiliki nilai lebih strategis lagi. Hal ini disebabkan oleh merosotnya debit andalan Sungai Palangko dan Batang Siat yang merupakan sungai utama dalam sistem irigasi SEDASI.5 meter karena saat ini hanya bisa untuk kapal berbobot 3. Sumatera Barat. Saat ini sedang direncanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Merangin pada sub DAS Merangin yang memiliki kapasitas terpasang 250 MW. Namun kenyataannya.000 DWT (kapal-kapal untuk ekspor-impor). dan pasar APEC.5 m3/detik (tahun 1986) menjadi 6.1 m3/detik (2001). Berdasarkan data Pemda Jambi. Bagi Provinsi Jambi.345. PT Famili Raya Group.salah satu ruas tengah Sungai Batang Hari di Sungai Dareh Sitiung. pelabuhan ini dihantam persoalan sedimentasi yang sangat tinggi. Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT). daerah kerjasama Indonesia-Malaysia-Singapura Growth Triangle (IMS-GT). Disamping untuk memenuhi kebutuhan listrik regional Provinsi Jambi. Namun akibat berbagai dampak pengelolaan sumberdaya alam di hulu dan tengah.

14 persen). Biaya besar yang harus dikeluarkan untuk pengerukan tersebut merupakan biaya tambahan yang sebenarnya tidak perlu dikeluarkan jika pengelolaan DAS Batang Hari ini terencana dari hulu sampai ke hilir. Substansi pendekatan bioregion yaitu suatu pendekatan pengelolaan wilayah/teritori tanah dan air yang cakupannya tidak ditentukan oleh batasan administrasi/politik. Pendekatan ini diupayakan karena kuatnya kecenderungan yang muncul pada sebagian pemerintah kabupaten sejak penerapan otonomi daerah.pelayaran sebanyak 298. yaitu melihat potensi sumberdaya alam (khususnya hutan) yang ada dalam wilayah administratifnya bebas dieksploitasi untuk kepentingan daerah. Sejak bulan September 2002.358 km2 (61. yang bukan lagi berupa hutan seluas 26.841.50 km2 (atau 33.683.732. WARSI telah memulai upaya mendorong pendekatan bioregion dalam pengelolaan DAS Batang Hari. Kenyataannya.196. Namun daya dukung DAS ini terhadap kehidupan masyarakat dari tahun ke tahun terus menurun karena belum adanya suatu rencana pemanfaatan yang berkelanjutan. yang berupa hutan hanya 14. Dari tahun ke tahun semakin terasa bahwa daya dukung DAS ini terhadap kehidupan masyarakat semakin menurun dan jika tidak ada upaya serius dari semua pihak maka sedimentasi. saat ini hampir semua daerah memang telah mengeluhkan berbagai dampak tersebut.98 km2 (5. dan tidak ada data 2.53 persen). turunnya kwalitas air bersih.00 km2. Bahkan jika perhitungan hanya dibatasi pada tutupan lahan dalam DAS Batang Hari serta kontribusi masing-masing kabupaten terhadap DAS juga memperlihatkan hasil yang memprihatinkan. Hasil analisa kondisi tutupan lahan di dalam DAS Batang Hari (berdasarkan citra landsat TM7 tahun 2002) diketahui bahwa luas tutupan hutan total DAS Batang Hari jika dilihat menurut luas kabupaten-kabupaten yang terkait di dalamnya hanya tinggal 26 persen saja atau hanya 32. Dengan berbagai bentuk pemanfaatan terhadap sumberdaya alam pada DAS Batang Hari di atas jelaslah bahwa keberadaannya memang sangat penting dan strategis.33 persen). Hutan hanya dilihat secara parsial sebagai sumber . kondisinya semakin mengenaskan. Bahkan menyangkut fungsi hidroorologi sebagai salah satu fungsi penting DAS. Kondisi di atas menjelaskan kenapa DAS ini memang layak dikategorikan sebagai DAS sangat kritis karena hutan merupakan pendukung utama sistem hidroorologis suatu DAS.540 meter kubik per tahun.33 km2. serta musibah banjir akan semakin parah melanda DAS ini. tetapi oleh batasan geografis komunitas manusia dan sistem ekologinya.285. Dari luas DAS 42.74 km2 dari total luas keseluruhan 10 kabupaten terkait yaitu 63.

pengelola kawasan konservasi. Bagi WARSI secara kelembagaan. DPRD. pemberian izin HPH dsb telah menimbulkan kerusakan hutan yang parah. Sejak tahun 1992 WARSI telah terlibat dalam upaya mengintegrasikan kegiatan konservasi dan peningkatan . jika selama ini pembangunan yang sangat sektoral teknis seperti pembukaan lahan untuk kebun kelapa sawit. BP DAS AgamKuantan di Sumatera Barat bahkan telah mengambil langkah maju dengan membentuk forum DAS Sumatera Barat. Akibatnya. Disamping itu pemahaman tentang DAS sendiri cenderung akan menggiring pembahasan lebih ke arah aspek fisik.PAD yang potensial dan cepat menghasilkan. dan salah kaprah menjadikan PAD sebagai indikator keberhasilan otonomi daerah. Itulah sebabnya pendekatan bioregion yang dijadikan pilihan. Dari rangkaian kegiatan awal ini dapat disepakati suatu Nota Kesepahaman Bersama para pihak yang diharapkan dapat menjadi landasan kedepan untuk meneruskan upaya pengelolaan sumberdaya alam DAS Batang Hari dengan pendekatan bioregion. Apalagi DAS ini meliputi dua provinsi yaitu Sumatera Barat dan Jambi. Akan tetapi mendorong DAS untuk dijadikan sebagai basis pengelolaan sumberdaya alam di masa datang juga berpotensi menimbulkan masalah baru. perkembangan ini sangat berarti karena dapat memperkuat berbagai upaya konservasi lainnya yang telah dan sedang dikerjakan. dan pihak-pihak lainnya. pertambangan. perguruan tinggi. Dengan pendekatan bioregion. WARSI telah mencoba melakukan penjajakan awal melalui kegiatan Membangun Kesepahaman Bersama. Tanggapan para pihak ternyata cukup positif. pembangunan yang berorientasi ekonomi sesaat. organisasi non pemerintah. sementara di Jambi telah muncul Pokja DAS Batanghari. kompleksnya persoalan. Pada tahap awal di tahun 2002. keberadaan DAS Batang Hari di kawasan ini mesti bisa dilihat sebagai celah untuk sebuah titik masuk pendekatan baru. Padahal persoalan dan ancaman utama terhadap hutan tersisa pada era otonomi daerah ini adalah paradigma dan fenomena kedaerahan yang semakin menguat. Hal ini disebabkan banyak aspek di antaranya pengertian dan batasan sebuah DAS yang beragam diantara berbagai pihak. Perkembangan terbaru. serta beragamnya pihak yang terlibat. Kegiatan awal ini diperlukan mengingat luasnya wilayah. maka dengan fenomena ini ancaman tersebut ditambah dengan adanya ego administratif. Disamping itu sangat perlu untuk mengetahui tanggapan berbagai pihak yang berkepentingan mulai dari masyarakat. pengusaha perkebunan dan kehutanan. sehingga dukungan politis dari pengambil kebijakan dari pusat dan daerah sangat diperlukan.

Di samping itu sejak tahun 2000 sampai saat ini WARSI sedang mengupayakan pengelolaan hutan berbasiskan masyarakat (community based forest management) yang lokasinya juga berada pada beberapa sub DAS Batang Hari yaitu sub DAS Pelepat dan sub DAS Merangin.48. sejak tahun 1996 sampai saat ini WARSI sedang terlibat upaya pengelolaan kawasan dengan melibatkan kelompok Orang Rimba. Kawasan taman nasional ini juga berada dalam DAS Batang Hari.92//artikel/65532.shtml http://www.id/cetakartikel.213. (nf) Sumber: http://116.pelita. Di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD).or.php?id=65532 .ekonomi masyarakat desa sekitar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan hulu DAS Batang Hari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful