makalah KMO analgesik

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian dan Mekanisme Nyeri dan Inflamasi Nyeri merupakan suatu keadaan tidak nyaman yang ditimbulkan oleh aktivasi dan sensitisasi sistem nosiseptif, baik perifer maupun sentral. Dalam keadaan normal, reseptor tersebut tidak aktif. Dalam keadaan patologis, misalnya inflamasi, nosiseptor menjadi sensitive bahkan hipersensitif. Adanya pencederaan jaringan akan membebaskan berbagai jenis mediator inflamasi, seperti prostaglandin, bradikinin, histamin dan sebagainya. Mediator inflamasi dapat mengaktivasi nosiseptor yang menyebabkan munculnya nyeri. Mekanisme nyeri berawal dari perubahan fosfolipid menjadi asam arakidonat yang merupakan substrat bagi enzim prostaglandin endoperoxide synthase (PGHS; COX, cyclooxygenase) menjadi PGG2, dan reduksi peroxidative PGG2 menjadi PGH2. Selanjutnya sebagai bahan baku prostaglandin, endoperoxide PGH2 dirubah menjadi berbagai prostaglandin. Saat ini dikenal dua iso-enzim COX, yaitu COX-1 dan COX-2. COX-1 sebagai enzim "constitutive" yang merubah PGH2 menjadi berbagai jenis prostaglandin (PGI2, PGE2) dan tromboxan (TXA2) yang dibutuhkan dalam fungsi homeostatis. COX-2 yang terdapat di dalam sel-sel imun (macrophage dll), sel endotel pembuluh darah dan fibroblast sinovial, sangat mudah diinduksi oleh berbagai mekanisme, akan merubah PGH2 menjadi PGE2 yang berperan dalam kejadian inflamasi, nyeri dan demam. Oleh karena itu COX-2 dikenal sebagai enzim "inducible". Pada kenyataannya, baik COX-1 dan COX-2 adalah isoenzim yang dapat diinduksi (Lelo et al, 2004). Sedangkan inflamasi atau radang merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang disebabkan adanya respons jaringan terhadap pengaruh-pengaruh merusak baik bersifat lokal maupun yang masuk ke dalam tubuh (Korolkovas, 1988). Pengaruh-pengaruh merusak (noksi) dapat berupa noksi fisika, kimia, bakteri. parasit dan sebagainya. Noksi fisika misalnya suhu tinggi, cahaya, sinar X dan radium, juga termasuk benda-benda asing yang tertanam pada jaringan atau sebab lain yang menimbulkan pengaruh merusak. Asam kuat, basa kuat dan racun 1

A. Reaksi radang dapat diamati dari gejala-gejala klinis. serangan jantung 2 . analgetika dibagi menjadi dua golongan yaitu analgetika narkotik dan analgetika non narkotik (Siswandono dan Bambang. bradikinin. Di sekitar jaringan terkena radang terjadi peningkatan panas (kalor). Di dalam jaringan. Kemungkinan disusul perubahan struktur jaringan yang dapat menimbulkan kehilangan fungsi (Mansjoer. 2. Berdasarkan mekanisme kerja pada tingkat molekul. prostaglandin. Staphylococcus dan Pneumococcus. merendahkan resistensi kapiler dan menurunkan tekanan darah sistemik. Substans tersebut merupakan mediator utusan pertama dari sedemikian banyak mediator lain. Pada reaksi radang permeabilitas kapiler meningkat karena dibebaskannya histamin (Mansjoer. berperan pada reaksi hipersensitif dan alergi. 2003). Analgetika narkotik Analgetika narkotik adalah senyawa yang dapat menekan fungsi saraf pusat secara selektif. dimulai dari kerusakan sel akibat adanya noksi akan membebaskan berbagai mediator atau substansi radang antara lain histamin. leukotrien dan sebagainya. yang moderat ataupun berat. Stimulasi pada kedua reseptor ini menyebabkan vasodilatasi pada arterial dan pembuluh darah koronaria. kalidin. Sedangkan untuk noksi bakteri seperti bakteri patogen Streptococcus. Histamin terdapat pada semua jaringan juga pada leukosit basofil. digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadaran.2 Penggolongan Obat Analgesik dan Anti-Inflamasi Analgetika merupakan senyawa yang dapat menekan fungsi saraf pusat secara selektif. 2008). timbul warna kemerah-merahan (rubor) dan pembengkakan (tumor). digunakan untuk mengurangi rasa sakit.termasuk noksi kimia. serotonin. histamin disimpan dalam sel mast dan dibebaskan sebagai hasil interaksi antigen dengan antibodi IgE pada permukaan sel mast. Untuk mekanisme inflamasi atau radang. segera muncul dalam beberapa detik. Reseptor-reseptor histamin adalah H1 dan H2. Analgesik bekerja dengan meningkatkan nilai ambang persepsi rasa sakit. seperti rasa sakit yang disebabkan oleh penyakit kanker. 2003).

fentanil dan sufentanil (Siswandono dan Bambang. untuk mengontrol sekresi. sehingga sering disebut juga analgetika kuat. 2009). sesudah operasi dan usus atau ginjal. bersama-sama dengan atropine. secara kimia adalah etil-1-metil-4fenilpiperidin-4-karboksilat (Dewoto. yaitu golongan fenantren. Analgetika narkotik sering pula digunakan untuk pramedikasi anestesi. Meskipun tidak mempunyai cincin piperidin. Turunan morfin Opium atau candu adalah getah papaver somniferum L yang telah dikeringkan. difenoksilat. misalnya noskapin dan papaverin (Dewoto. 2. efek analgesik dihasilkan oleh adanya pengikatan obat dengan sisi reseptor khas pada sel dalam otak dan spiral cord. 2008). 2008). dan golongan benzilisokinolin. Aktivitas analgetik narkotik jauh lebih besar dibandingkan golongan analgetik golongan analgetika non narkotik. gugus N-tersier dan cincin aromatic sehingga dapat berinteraksi dengan reseptor analgetik. Turunan difenilpropilamin (metadon) Turunan metadon bersifat optis aktif dan biasanya digunakan dalam bentuk garam HCl. 2008). Rangsangan reseptor juga menimbulkan efek euphoria dan rasa mengantuk (Siswandono dan Bambang. Golongan ini pada umumnya menimbulkan euphoria sehingga banyak disalahgunakan (Siswandono dan Bambang. seprti pada turunan morfin dan meperidin. Turunan fenilpiperidin (meperidin) Meperidin juga dikenal sebagai petidin. Hal ini disebabkan karena adanya gaya tarikmenarik dipol-dipol antara basa N dengan gugus karboksil. Alkaloid asal opium secara kimia dibagi dalam 2 golongan. Senyawa turunan fenilpiperidin antara lain : meperidin.akut. rantai etilen. 3. Meskipun struktur kimianya tidak berhubungan dengan struktur morfin tetapi masih menunjukkan kemiripan kerana mempunyai pusat atom C kuartener. 2009). Berdasarkan struktur kimianya analgetik narkotik dibagi menjadi : 1. misalnya morfin dan kodein. tetapi turunan metadon dapat membentuk cincin bila dalam larutan atau cairan tubuh. Mekanisme kerja analgetik narkotik yaitu. Senyawa turunan 3 . loperamid.

sehingga mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit seperti bradikinin. 2009). 4. dan turunan 5-pirazolon (Siswandono dan Bambang.2008). seperti siklooksigenase. 2008). ion-ion hydrogen dan kalium. 2008). Berdasarkan struktur kimianya analgetika non nrakotik dibagi menjadi dua kelompok yaitu analgetik-antipiretik dan obat antiradang bukan steroid (Non Steroidal Antiinflamatory Drugs = NSAID) (Siswandono dan Bambang. tidak menyembuhkan atau menghilangkan penyebab penyakit. Analgetika non narkotik bekerja pada perifer dan sentral sistem saraf pusat. serotonin. prostaglandin.difenilpropilamin antara lain : metadon dan propoksifen (Siswandono dan Bambang. Obat antiradang bukan steroid (Non Steroidal Antiinflamatory Drugs = NSAID) 4 . 2. yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi (Siswandono dan Bambang. Berdasarkan struktur kimianya obat analgetik-antipiretik dibagi menjadi dua kelompok yaitu turunan aniline dan para-aminofenol. keduanya bersifat agonis parsial (Dewoto. Analgetik-antipiretik Obat golongan ini digunakan untuk pengobatan simptomatik. 2008). Mekanisme kerja analgetik non narkotik : Analgetik non narkotik menimbulkan efek analgetik dengan cara menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat yang mengkatalisis biosintesis prostaglandin. Turunan lainnya Senyawa analgetik yang berasal dari turunan senyawa lainnya ialah Butorfanol dan Tramadol (Siswandono dan Bambang. juga untuk menurunkan suhu badan pada keadaan panas badan yang tinggi serta sebagai antiradang untuk pengobatan rematik. B. prostasiklin. Analgetika non narkotik Analgetika non narkotik digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang ringan sampai moderat. Obat golongan ini mengadakan potensiasi dengan obat-obat penekan sistem saraf pusat (Siswandono dan Bambang. yaitu hanya meringankan gejala penyakit. 1. 2008). sehingga sering disebut analgetika ringan. 2008). histamine.

Obat ini cenderung menghasilkan efek samping seperti ulserasi gastrointestinal dan penekanan fungsi ginjal karena penghambatan COX konstitutifl. hidrokortison. 2011). menurut Nugraha (2009) dibagi menjadi tiga macam obat berdasarakan mekanisme kerjanya. sebagian besar glukokortikoid diketahui bekerja melalui reseptor glukortikoid yang tersebar luas. dimana prostaglandin ini bertanggung jawab untuk gastroprotection dan homeostasis vaskuler (Narasimhan. sukar larut dalam air. Penggunaan obat ini jarang dikarenakan sifat-sifat toksiknya khususnya efek hematologi (termasuk anemia aplastik).3 Senyawa Turunan Indol Mayoritas saat ini dikenal obat anti-inflamasi dan analgesik non-steroid (NSAID). turunan asam N-arilantranilat. 2008). Sedangkan untuk obat anti-inflamasi. turunan oksikam dan turunan lain-lain (Siswandono dan Bambang. yang bekerja melalui mekanisme lain seperti inhibisi siklooksigenase yang berperan pada biosisntesis prostaglandin. 5 . yang bertanggung jawab untuk produksi prostaglandin. Golongan obat ini misalnya kortison. 2. prednisolon dan dexametason.5-dion dengan rumus molekul C19H20N202 berupa serbuk hablur. turunan asam arilasetat. turunan 5-pirazolidindion. putih atau putih kuning. prednisone. Obat anti inflamasi golongan non steroid Obat-obat ini merupakan analgetik lemah. yaitu: 1. Fenilbutazon Fenilbutazon merupakan turunan pirazolidin-3. 1. 3.Berdasarkan struktur kimianya NSAID dibagi menjadi tujuh kelompok yaitu turunan salisilat. turunan heteroarilasetat. Obat anti inflamasi golongan steroid Obat ini terutama bekerja dengan cara menghambat pelepasan prostaglandin dari sel-sel sumbernya. yang mencakup COX-1 dan COX-2. larut dalam etanol dan tidak berbau. Untuk mekanisme aksinya. yang bertindak pada perifer dengan menghalangi produksi prostaglandin melalui penghambatan enzim siklooksigenase (COX).

2009). pancreastitis.Indoles telah banyak diidentifikasi sebagai struktur yang istimewa atau merupakan pharmacophore. 1. depresi kadang juga psikosis dengan halusional. sulindak dan tenidap (Sujatha. Sedangkan efek buruk yang didapat dari konsumsi indometasin ialah nyeri abdominal. Aktivitas tenidap lebih unggul jika dibandingkan dengan indometasin (Badiger. osteoarthritis. trombositopeni. Sulindak diabsorpsi dengan baik dalam saluran cerna kemudian dimetabolisme menjadi bentuk sulfide aktif (Wilmana dan Sulistia. Efek antiinflamasi dan analgesic-antipiretik yang dimiliki oleh indometasin kira-kira sebanding dengan aspirin. 2009). kondisi. ibu hamil dan hati-hati pada pada penderita psikiatrik dan penyakit peotik. bentuk yang aktif adalah bentuk metabolit sulfidanya. Indometasin bekerja dengan menghambat produksi eicosanoid seperti prostasiklin. Sulindak adalah pra-obat. Indometasin pada prinsipnya tidak dipakai untuk anak. ankylosing spondilitis. inflamasi ekstra artikuler (perikarditis. Tenidap menghambat siklooksigenase enzim dan 5-lipoxygenase. Contoh dari turunan indol yang merupakan obat analgetik golongan NSAID ialah indometasin. konfusi. anemia aplastik (Wilmana dan Sulistia. Pada gambaran darah dapat diketahui terjadi agranulositosis. tromboksan dan prostaglandin dengan jalan penghambatan enzim siklooksigenase (cox). 2009). di alam telah terdapat lebih dari 3000 isolat alami yang diketahui memiliki perannan yang luas dalam bidang biologi dan farmasi. yang mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin dan leukotrienes. diare. nyeri kepala hebat dan kadand disertai dengan dizziness. Tenidap adalah inhibitor produksi prostaglandin-1interleukin dalam tubuh digunakan untuk pengobatan rheumatoid arthritis dan osteoarthritis. hemoragi gastrointestinal. pleuritis).anak. Indikasinya ialah untuk arthritis (gout) akut. Meskipun obat ini efektif namun karena bersifat toksik maka penggunaannya dibatasi. Sulindak mempunyai aktivitas antirematik yang kurang lebih sama dengan indometasin dan tidak menyebabkan nyeri kepala. 2009).4 HKSA Hansch 6 .

b.1) (Persamaan 1.2 berikut : BAB II. e = bilangan (tetapan) yang didapat dari perhitungan analisis regresi linier (Persamaan 1. 2008) : Log 1/C = a E π + b E σ + c E Es + d Log 1/C = a E π2 + b E π + c E σ + d Es + e Dengan : C= kadar untuk respon biologis baku E π.1) Atau persamaan parabolik (non linier) seperti pada persamaan 1.Hansch mengemukakan suatu konsep bahwa hubungan struktur kimia dengan aktivitas biologis (log 1/C) suatu turunan senyawa dapat dinyatakan secara kuantitatif melalkui parameter-parameter fisika kimia dari subtituen yaitu parameter hidrofobik (π).1 regresi linier berikut (Siswandono dan Bambang. dan sterik dari gugus-gugus terhadap sifat-sifat senyawa induk yang berhubungan dengan aktivitas biologis a. BAHAN DAN METODE 2. d. elektronik (σ) dan sterik (Es). Model pendekatan ini disebut pula model hubungan energi bebas linier (LFER= linier free energy relationships) yang dinyatakan melalui persamaan 1. elektronik. c. E Es = sumbangan sifat-sifat hidrofobik.1 Data set 7 . E σ.

Tabel 2. Aktivitas biologis dalam % penghambatan (anti inflamasi) dan % analgesik dikonversi ke nilai logaritmik (log BAai dan log BA) lebih cocok untuk studi HKSA.1 merupakan bentuk terpilih (Badiger et al.1. 8 .Satu set dari 26 senyawa karbonil 1-alkil/aril-3-etoksi karbonil-5-hidroksi2-metil indol pada tabel 2. Struktur kimia 1-alkil/aril-3-etoksi karbonil-5-hidroksi-2-metil indol Kemampuan analgesik dan anti-inflamasi pada substitusi 1-alkil/aril-3etoksi karbonil-5-hidroksi-2-metil indol. 2009).

9 .

10 .3 untuk windows.2.3.2) menggunakan software TSAR 3. Struktur substitusi 1-alkil/aril-3-etoksi karbonil-5-hidroksi-2-metil indol yang disketsa menggunakan DS penampil pro 6. Struktur energi diminimalkan untuk menghitung deskriptor molekul seperti karakter hidrofobik. Nilai-nilai deskriptor dipilih untuk model MLR pada Tabel 2. geometris.2 Deskripsi Generasi Langkah berikutnya dalam pengembangan model adalah generasi dari deskripsi numerik dari struktur molekul.0 dan energi diminimalkan. karakter elektronik dan topologi (Tabel 2.

Deskripsi QSAR yang digunakan 11 .Tabel 2.2.

4). Nilai parameter yang dipilih untuk analisis regresi 2.3 Analisis Korelasi Pearson Karena ada sejumlah besar deskriptor untuk masing-masing senyawa maka digunakan matriks korelasi Pearson sebagai model kualitatif (Tabel 2. untuk memilih deskriptor cocok untuk analisis MLR. yang dapat memprediksi aktivitas anti-inflamasi substitusi turunan indole.Tabel 2. Teknik ini dipakai untuk memilih satu set yang cocok dihasilkan deskriptor dalam mengembangkan model regresi linier berganda (MLR).3. 12 . Hasil model MLR terbaik digunakan untuk preparasi model kalibrasi.

1). 2. PRESS (jumlah prediksi-kuadrat) adalah jumlah dari kuadrat perbedaan antara 13 . MLR diterapkan dalam studi HKSA jika masalah utama dari pemilihan variabel telah dihadapi dan dipecahkan. Keterbatasan MLR adalah kepekaan untuk deskriptor berkorelasi. 2003). secara matematis independen (ortogonal). dan dilambangkan dengan e : Y = Xb + e (Persamaan 2. dengan koefisien b. Masingmasing senyawa yang tersisa dari penurunan model dan diprediksi secara bergantian.2. y. SD adalah jumlah deviasi kuadrat untuk setiap kegiatan dari tengah. dimana keterkaitan antara variabel biasanya turun. Penyimpangan antara data (y) dan model (Xb) disebut residual. sebagai kombinasi linier dari variabel X. yang didefinisikan sebagai (Persamaan 2. biasanya disebut X. Matematis independen berarti bahwa pangkat X adalah K (jumlah-variabel). 2) Dimana. Sebuah indikasi dari kinerja model diperoleh dari metode validasi silang (atau q2 prediktif).4 Regresi Linier Berganda (MLR) Teknik regresi linier berganda (MLR) dalam mengembangkan model HKSA digunakan untuk memprediksi potensi analgesik dan anti-inflamasi dari substitusi 1alkil/aril-3-etoksi karbonil-5-hidroksi-2-metil indol yang dipilih untuk penelitian ini. MLR adalah pendekatan klasik untuk masalah regresi dalam QSARs. regresi biasanya membentuk satu model untuk setiap M y-variabel yaitu M model terpisah (Eriksson et a. MLR biasanya digunakan agar sesuai dengan model regresi (Persamaan 2. yang merupakan model variabel respon. Telah direkomendasikan bahwa rasio senyawa untuk variabel harus minimal 5.1) Untuk variabel respon banyak (kolom dalam respon matriks Y). Salah satu solusi praktis adalah dengan menggunakan matriks data yang panjang dan ramping di mana jumlah senyawa substansial melebihi jumlah deskriptor kimia. MLR mengasumsikan variabel prediktor.5 Validasi Silang Model validasi silang oleh skema 'meninggalkan satu' di mana model dibangun dengan senyawa N-1 dan senyawa Nth yang telah diprediksi.2) : q2 = (SD – PRESS / SD) (Persamaan 2.

998) dan interrelationship yang rendah pada 2χv dan LUMO (r= -0. Korelasi matriks menunjukkan predominansi parameter elektronik LUMO dan parameter topologis κα1 turunan indol. BAB III.502).aktual dan bahwa nilai-nilai diprediksi ketika senyawa tersebut dihilangkan dari proses pas. Model dengan nilai q2 tinggi dikatakan memiliki prediktabilitas tinggi (Kumar et al. Koefisien linieritas yang tinggi (r>8) diteliti pada dua parameter yang berbeda. 14 . Korelasi matriks aktivitas analgesik dan antiinflamasi turunan indol ditunjukkan pada Tabel 3. interrelationship yang besar didapatkan pada paramaeter 0χv dan κα1 (r= 0.1.1. Analisis didasarkan pada analisis korelasi yang dihasilkan. PEMBAHASAN Analisis HKSA 26 senyawa turunan 1-alkil/aril-3-etoksi karbonil-5hidroksi-2-metil indol tersubstitusi dilakukan dengan menggunakan HKSA model LFER Hansch. Korelasi matriks aktivitas analgesik dan antiinflamasi turunan 1alkil/aril-3-etoksi karbonil-5-hidroksi-2-metil indol masing-masing terhadap aktivitas analgesik dan antiinflamasi Persamaan aktivitas antiinflamasi turunan indol terhadap parameter elektronik energy orbital molekuler kosong paling rendah/ lowest unoccupied moleculer orbital (LUMO). 2009). Tabel 3.

s=0. HOMO dan LUMO suatu molekul memegang peranan penting terhadap interaksi intermolekul. F= statistic Fischer.5 menunjukkan bahwa model HKSA yang digunakan valid (Wold et al.438 (persamaan 3. r2 = 0. Namun. 15 . Nilai q2 > 0.651.723. Sesuai dengan penjelasan konsep pengikatan obat terhadap sistem reseptor.220.237.0002 dengan n = jumlah data. r = 0.429 LUMO + 1. Penambahan parameter lipofilik. s= standar deviasi.1) n = 26. 2007). log P sebagai parameter kedua terhadap parameter elektronik LUMO memberikan nilai r yang diperoleh dari metode MLR sebesar 0. Berdasarkan konsep FMO. F = 12.872 LUMO + 0.2) yang dihasilkan saling mendekati satu sama lain maka model HKSA yang digunakan untuk aktivitas antiinflamasi merupakan model yang valid.423.002 Cross validasi persamaan tersebut dihasilkan dengan metode ‘‘leave one out’’ (LOO). p<0. 2009).5 sehingga metode yang digunakan tidak valid. kontribusi terbesar dipengaruhi oleh interaksi antara HOMO obat dengan LUMO reseptor dan antara antara LUMO obat dengan HOMO reseptor.523.723 dengan persamaan sebagai berikut : Log BAai = 0.344. q2 = 0. r = 0.761 (persamaan 3.62.2) n = 26. 1995).104 log P – 1. Luas dari interaksi stabilisasi berbanding terbalik terhadap gap energy antara orbital interaksi (Jesudason et al. Parameter elektronik LUMO menunjukkan energi terendah dari orbital molekuler kosong dan secara langsung berhubungan dengan afinitas elektron dan sifat susceptibilitas atau kerentanan molekul terhadap nukleofil (Ohlan et al.387. p < 0. F = 17. q2 = cross validasi r2 = didapatkan dengan menghilangkan 1 metode. Namun pada persamaan tersebut nilai q2 yang dihasilkan kurang dari 0. r= koefisien korelasi.62. Karena nilai aktivitas prediksi dan observasi (Tabel 3. s=0.Log BAai = – 1. q2 = 0. menurut Golbraikh and Tropsha (2002) menyatakan bahwa untuk estimasi prediksi potensiasi yang benar suatu model adalah dengan menguji kemampuannya dalam memprediksi secara akurat aktivitas biologis suatu senyawa. r2 = 0.651 – 0.

2. Propagasi residual kedua sisinya nol mengindikasikan bahwa pada model HKSA yang dikembangkan tidak ada sistemik eror.Tabel 3. Potensial aktivitas antiinflamasi dan analgesik observasi.3 Untuk menentukan adanya sistemik eror pada model yang dikembangkan dilakukan plot log BAai observasi dengan log BAai residual (Gambar 3. prediksi dan residual turunan 1-alkil/aril-3-etoksi karbonil-5-hidroksi-2-metil indol.1). 16 . *Angka yang dicetak tebal merupakan aktivitas analgesik prediksi yang digunakan pada persamaan 3.

3 digunakan untuk memprediksi aktivitas analgesik turunan 1alkyl/aryl-3-ethoxy carbonyl-5-hydroxy-2-methyl indoles menjelaskan aktivitas analgesik. Plot log BAai residual dengan log BAai observasi untuk regresi linier model yang dikembangkan Ketika persamaan aktivitas analgesik prediksi yang diperluas terhadap perhitungan aktivitas analgesik 17 senyawa turunan (nilai prediksi tabel 2 yang dicetak tebal) digunakan pada aktivitas antiinflamasi menunjukkan bahwa senyawa 4.3) n = 9.1. 26 memilki aktivitas analgesik yang lebih tinggi daripada obat standar 17 . Selanjutnya perbandingan antara aktivitas analgesik observasi dan prediksi juga menyokong model HKSA yang dikembangkan seperti kedekatan nilai aktivitas yang positif palsu yang dibuktikan dengan nilai residual yang rendah (Tabel 3. F = 38.2).471 (Persamaan 3. 7. Kiers first order alpha shape index (κα1) dalam Gambar 3.845. s = 0.214.Persamaan 3.09. p < 0.3 didapatkan q2 yang tinggi ( q2>5) sehingga model HKSA yang dikembangkan merupakan model yang valid. 14.358 κα1 – 5. yang menunjukkan pengaruh prameter topologis.919.761. r = 0. q2 = 0. r2 = 0.0002 Pada persamaan 3. LR-QSAR model untuk analgesic activity log BA = 0.

energi terendah orbital molekul kosong (LUMO) dalam menggambarkan aktivitas anti-inflamasi dan pentingnya parameter topologi. koefisien partisi log oktanol / air (log P) dan parameter elektronik. Penting untuk dicatat ketika memprediksi persamaan analgesik menjadi perhitungan aktivitas analgesik yang tersisa 17 senyawa digunakan dalam aktivitas antiinflamasi mengungkapkan bahwa empat senyawa yang mempunyai aktivitas analgesik lebih dari obat standar diklofenak yang dapat dipelajari lebih lanjut secara klinis untuk mengembangkan entitas kimia baru untuk pengobatan rasa sakit. KESIMPULAN Kesimpulannya.84) sehingga dapat memungkinkan uji klinik untuk pengembangan obat baru anti nyeri. studi HKSA memberikan kejelasan untuk pertama kalinya pada korelasi aktivitas antiinflamasi dan analgesik 1-alkil/aril-3-etoksi diganti karbonil-5-hidroksi 2. 18 . bentuk alfa Kier indeks dari orde pertama (κα1) dalam menggambarkan aktivitas analgesik. Selanjutnya. prediksi kekuatan persamaan tersebut divalidasi dengan penentuan kros validasi r2 (q2) menggunakan metode Leave One Out (LOO). BAB IV. Model HKSA yang dikembangkan menunjukkan pentingnya parameter lipofilik.metil indoles dengan parameter fisika kimia mereka.diklofenak (logBA=1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful