HAKIKAT DAN FUNGSI BAHASA Oleh: KHAIRIL 1. A.

Hakikat Bahasa

Tarigan (1990:2-3) mengemukakan adanya delapan prinsip dasar hakikat bahasa, yaitu (1) bahasa adalah suatu sistem, (2) bahasa adalah vokal, (3) bahasa tersusun daripada lambanglambang arbitrari, (4) setiap bahasa bersifat unik, (5) bahasa dibangun daripada kebiasaankebiasaan, (6) bahasa ialah alat komunikasi, (7) bahasa berhubungan erat dengan tempatnya berada, dan (8) bahasa itu berubah-ubah. Pendapat ini tidak berbeda dengan yang dikatakan Brown juga dalam Tarigan (1990:2-3) yang apabila dilihat banyak sekali persamaan gagasan mengenai bahasa itu walaupun dengan kata-kata yang sedikit berbeda. Berikut ini merupakan hakikat bahasa menurut pendapat Brown yang juga dikutip dari Tarigan (1990:4), iaitu (1) bahasa adalah suatu sistem yang sistematik, barang kali juga untuk sistem generatif, (2) bahasa adalah seperangkat lambanglambang arbitrari, (3) lambang-lambang tersebut, terutama sekali bersifat vokal tetapi mungkin juga bersifat visual, (4) lambang-lambang itu mengandung makna konvensional, (5) bahasa dipergunakan sebagai alat komunikasi, (6) bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat bahasa atau budaya, (7) bahasa pada hakikatnya bersifat kemanusiaan, walaupun mungkin tidak terbatas pada manusia sahaja, (8) bahasa diperoleh semua orang/bangsa dengan cara yang hampir/banyak persamaan dan (9) bahasa dan belajar bahasamempunyai ciri kesejagatan. Bahasa dapat dilihat daripada dua aspek, iaitu hakikat dan fungsinya (Nababan, 1991:46). Hakikat bahasa mengacu pada pembicaraan sistem/struktur atau Langue, sedangkan fungsi bahasa menyangkut pula pembicaraan proses atau parole (Saussure, 1993, Kleden, 1997:34). Hubungan kedekatan yang tidak dapat dipisahkan antara sistem dengan proses ini dilukiskan oleh Kleden dengan kalimat: ’Tanpa proses sebuah struktur (sistem) akan mati, tanpa struktur (sistem) proses akan kacau’. Jadi, antara hakikat bahasa dan fungsi bahasa itu sendiri merupakan suatu konsep dua fungsi bahasa

B. Fungsi Bahasa Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari. Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif.

Menurut Sunaryo (2000 : 6). kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas. tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. bagaimana pandainya orang-orang berpolitik melalui bahasa. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu. 1993. Setelah kita dewasa. dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf. 1995). Tanpa peran bahasa serupa itu. baik di bidang politik. 1. baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. yakni ayah-ibunya. Oleh karena itu. semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. 1997: 3). sebagai alat untuk berkomunikasi. seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Dengan demikian. ilmu pengetahuan dan teknologi. termasuk bahasa Indonesia. melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Agar dapat memanipulasi bahasa. Di dalam era globalisasi itu. ternyata memiliki kedudukan. bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang. kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa. dan peran ganda. maupun komunikasi. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. jika cermat dalam menggunakan bahasa. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. fungsi. yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri. Dalam perkembangannya. yang dalam itu. 1. sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo. ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Lihat saja. seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya. kita menggunakan bahasa. Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. sebuah karya ilmiah pun . Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya. ekonomi. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar. Sebenarnya. Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri Pada awalnya. menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Pada dasarnya. yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

pembacanya. Sebagai alat komunikasi. Akan tetapi. kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu. atau khalayak sasarannya. Kita ingin mempengaruhi orang lain. bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita. si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya. bahasa pada anak-anak sebagian berkembang sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan. bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Jadi. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. . kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya. Lebih jauh lagi. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita. Jadi. Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri. 2. kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita. Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri. 1997 : 4). melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita. keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi Pada taraf permulaan. serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita. kita sudah memiliki tujuan tertentu. 1997 :4). Kita ingin dipahami oleh orang lain. kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf.adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. merupakan hasil ekspresi diri kita. Bahasa sebagai Alat Komunikasi Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. pada saat kita menulis surat kepada orang lain. Pada saat kita menulis. Sebagai contoh lainnya. 1. tulisan kita dalam sebuah buku. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain : agar menarik perhatian orang lain terhadap kita.

Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Bahasa menjadi cermin diri kita. Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Sebaliknya. Bahasa sebagai alat komunikasi. pemahaman kita atas suatu hal. kata besar. 3. Melalui bahasa. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka. baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri. 1. wisma.Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Misalnya. lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. misalnya. atau nuansa tradisional. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf. kata manakah yang sopan dan tidak sopan. serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu. 1997 : 5). Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Dengan kata lain. serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggitingginya. rumah. nuansa intelektualitas. Pada saat kita mempelajari bahasa asing. asal usul bangsa dan negara kita. kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita. Misalnya. luas. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati. nuansa keilmuan. berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing. Kata griya. pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. kita dapat menunjukkan sudut pandang kita. misalnya. bahkan sifat kita. pendidikan kita. dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya. pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu. kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut. . kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa. Oleh karena itu. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu.

Dalam arti luas. Di samping itu. sikap baru. kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal. orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru. Berbagai penerangan. Menurut Tarigan (1987). 2008 at 11:33 pm 1. pada akhirnya. informasi. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Hakikat Bahasa In Bahasa on 12 Oktober. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. verbal maupun nonverbal. Biasanya. Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial Sebagai alat kontrol sosial. fungsi bahasa adalah sebagai sarana komunikasi. Sapir (1921) dalam A. 4. perilaku dan tindakan yang baik. by means of a system of voluntarily produced symbols. Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. komunikasi adalah proses transaksi dinamis yang memandatkan komunikator untuk (to code) berperilaku. Lebih jauh lagi. emotions. bahasa sangat efektif.1. rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah “A purely human and non-instinctive method of communicating ideas. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.” . and desires.

namun untuk komunikasi seperti ini tidak perlu kata-kata. dalam bahasa Perancis kata sifat diletakkan setelah kata benda seperti halnya bahasa Indonesia. Bagaimanapun primitifnya suatu masyarakat penutur bahasa. Dipelajari Manusia ketika lahir tidak langsung lalu mampu berbicara. Demikian pula kalimat berbeda dari satu bahasa ke bahasa lainnya. anak yang tidak mempunyai kontak dengan orang lain yang berbahasa seperti dirinya sendiri akan mengembangkan bahasanya sendiri untuk memenuhi hasrat komunikasinya. Betul bahwa hewan seperti binatang pun berkomunikasi. b. Manusia telah berbahasa sejak dini sejarahnya. Perangkat inilah yang menentukan struktur apa yang diucapkannya.Dalam batasan tersebut ada lima butir terpenting yaitu bahwa bahasa itu: a. Paling tidak haruslah ada dua orang. Dengan demikian mereka tidak memiliki bahasa. Dengan demikian kita menerjemahkan orang lain atas acuan . Dalam bahasa Latin kata kerja cenderung menempati posisi akhir. bahasanya itu sendiri bekerja menurut seperangkat aturan yang teratur. dan keinginan. Struktur ini disebut grammar. e. Namun bahasa tidaklah ada artinya bila hanya untuk diri sendiri. Manusiawi Hanya manusialah yang memiliki sistem simbol untuk berkomunikasi. tetapi sistem itu bukanlah kata-kata. Dan karena ada kesepakatan umum tentang aturan ini maka orang menggunakan bahasa dalam cara tertentu yang memiliki arti. misalnya kata kuda ditujukan hanyalah untuk binatang berkaki empat tertentu karena orang lain berbuat demikian. gagasan. Kenyataan bahwa bahasa sebagai sistem adalah persoalan pemakaian (usage). Betul bahwa seseorang bisa berkomunikasi pada dirinya. Orang-orang melambangkan satu kata saja untuk melambangkan satu benda. Dikarenakan ada kesepakatan inilah maka kita bisa mempelajari dan mangajarkan bahasa apa saja. supaya ada proses komunikasi. Aturan ini ada karena para penuturnya menggunakan bahasa dalam cara tertentu dan tidak dalam cara lain. dan mempunyai sistem bunyi. d. Kita bisa menggunakan simbol-simbol ini untuk berkomunikasi sesama manusia karena manusia sama-sama memiliki perasaan. c. Simbolik Bahasa terdiri atas rentetan simbol arbitrer yang memiliki arti. bukan ditentukan oleh panitia atau lembaga perumus. dan perkembangan bahasanya inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Ini adalah semua karena kebetulan saja. Arbitrer Bahwa bahasa mempergunakan bunyi-bunyi tertentu dan disusun dalam cara tertentu pula adalah secara kebetulan saja. Aturan ini dibuat dan diubah oleh cara orang-orang yang menggunakannya. hingga membuat dirinya mampu berpikir. Sistem Bahasa memiliki seperangkat aturan yang dikenal para penuturnya.

dan (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya. Ini pulalah yang memungkinkan manusia memiliki daya penalaran (reasoning). 3. (2) bahasa itu berwujud lambang. Sistem bahasa apapun memungkinkan kita membicarakan sesuatu walau tidak ada di lingkungan kita. Sebagian kosakata menjadi usang dan mati. Sebaliknya yang bunyinya tetap artinya berubah umpamanya budak yang dalam bahasa Melayu (dan Sunda) berarti anak-anak di dalam bahasa Indonesia berarti abid (abdi) atau budak belian. Sanskerta: bhasa) Kumpulan kata dan aturannya yang tetap di dalam menggabungkannya berupa kalimat. (6) bahasa itu bersifat konvensional. menggonggong sekarang di dalam bahasa Indonesia berarti menyalak. A. (11) bahasa itu bersifat dinamis. Pimred Umum: Hasan Shadily. 2. “Saya lapar”. Harimurti Kridalaksana (1983) Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama. Dari definisi tersebut dapat diuraikan beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa. Penerbit: PT Ichtiar Baruvan Hoeve Jakarta Bahasa (bah. tetapi secara kekeluruhan bahasa sebagai suatu sistem komunikasi . marapati menjadi merpati. berkomunikasi. Ensiklopedi Indonesia Volume 1. untuk membicarakan konsep apapun juga. Hornby (1996) Oxford Advanced Learner’s Dictionary Language: the system of sounds and word used by humans to express their thoughts and fillings. Demikianlah lima butir hakikat bahasa manusia sebagai alat untuk berkomunikasi dan mencirikan dirinya serta membedakannya dari makhluk lain. dan sebagainya sedangkan artinya tetap. (10) bahasa itu bervariasi. Kalau kita mengerti ujaran orang yang berkata. soldadu menjadi serdadu. 4. (7) bahasa itu bersifat unik. Kata-kata yang bunyi dan bentuknya berubah artinya tetap misalnya baharu menjadi baru. (8) bahasa itu bersifat universal.pada pengalaman diri sendiri. (4) bahasa itu bersifat arbitrer. dan mengidentifikaskan diri. Kita pun bisa membicarakan sesuatu peristiwa yang sudah terjadi atau yang akan terjadi. (5) bahasa itu bermakna. lainnya timbul menggantikan. ini karena kita pun biasa mengalami peristiwa lapar itu. Merupakan sistem bunyi yang melambangkan pengertian-pengertian tertentu. afsun(a) menjadi pesona. beberapa bentuk tatabahasa berubah. (9) bahasa itu bersifat produktif. (3) bahasa itu berupa bunyi. antara lain: (1) bahasa itu adalah sebuah sistem. Ini dimungkinkan karena bahasa memiliki daya simbolik. Nyonya dan nona yang dulu hanya dipakai untuk wanita-wanita Eropa dan Tionghoa sekarang secara umum digunakan untuk setiap wanita yang masing-masing telah dan belum kawin. S. (12) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial. Bahasa yang hidup senantiasa berkembang karena perubahan-perubahan bunyi dan bentuk kata serta makna-makna kata.

kasta militer. Perubahan bahasa selalu berlangsung dengan perlahan-lahan dan berangsur-angsur baik mengenai kosakata maupun tatabahasanya. ekonomi industrial dan kebudayaan kota. Kemana nilai jual bahasa Indonesia? Warta WASPADA ONLINE . Secara umum bahasa tidak bergantung kepada susunan masyarakat. Stephen Ullmam (1977) Semantics An Introduction to the Science of Meaning (1) Language is a vehicle of communication. Perubahan struktur sosial dan ekonomi sedikit saja pengaruhnya kepada perkembangan bahasa. (2) Language exists in a potential state. Bahasa Arab dari zaman jahilliyyah pra-Islam tak banyak berbeda dengan bahasa masyarakat Arab sekarang yang industri minyaknya sangat berkembang. 5. Language is code. (5) Language is slow moving. Umpamanya bahasa Jepang dari zaman Samurai yang berdasarkan kekuasaan feodal. (3) Language is a social institution (4) Language is fixed.sosial mempertahankan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. kebudayaan pedesaan. (6) Language is purely psychological. dan ekonomi pertanian tak seberapa berbeda dengan bahasa Jepang sekarang dengan kekuasaan kaum bangkir dan industrialis.

dan lambang Negara. bahasa. Padahal. bahasa Indonesia seperti ditinggalkan. seolah-olah kita tidak sedang berada di Indonesia. Balai Bahasa Sumut mensosialisasikan Undang-Undang No 24 tahun 2009 . mereka sangat mencintai dan mengagungkan bahasanya. Dia mengatakan rendahnya kesadaran masyarakat Sumut menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat dilihat dari plang perusahaan. menjamurnya produk-produk bertuliskan bahasa asing di Indonesia. “ tegasnya. memicu warga masyarakat harus belajar berbegai bahasa asing. tentu keutuhan dan penggunaan bahasa Indonesia tetap terjaga. Pasalnya. Amran Purba saat membuka acara sosialisasi Undang-Undang No 24 Tahun 2009 tentang bendera.(duni aand a. Seakan menggunakan bahasa Indonesia tidak memiliki nilai jual. spanduk. jika dipelajari secara baik. langsung diterjemahkan. serta lagu kebangsaan. Disamping. katanya.co m) ME DA NKesa dara an masy arak at Sum atera Utara (Sumut) menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan baik masih rendah. dan komplek perumahan didominasi bahasa asing. tadi malam. Kalau ada bahasa asing. Untuk itu. katanya. Penelitian Balai Bahasa Sumut tahun 2006. reklame. rumah makan. ”Kalau saja pemerintah bisa menerjemahkan semua bahasa di produk itu ke bahasa Indonesia atau melarang produk bertuliskan bahasa asing . Demikian disampaikan Koordiantor Pengembangan Balai Bahasa Sumut. bahasa Indonesia kaya arti melebihi bahasa asing. di negeri itu secara umum produk berbahasa Jepang. Dia mencontohkan Jepang. “Dilihat dari penggunaan bahasa itu. “ tegasnya. posisi Sumut berada di peringkat 19 dari 33 propinsi di Indonesia.

Pihaknya berharap dengan semakin intensnya sosialisasi dilakukan. Toba Samosir. Ia mengatakan. lanjutnya. Padahal. maka masyarakat terutama para pejabat pengambil keputusan didaerah dapat lebih mengutamakan pemakaian bahasa Indonesia dari pada bahasa lainnya terutama dilingkungan instansi pemerintah. Selain di Medan. Sebaliknya mereka justru terkesan enggan menggunakan bahasa Indonesia meski yang diucapkan itu sudah benar. melayu dan sedikit bahas asing. Bahasa." katanya." katanya. Kami berharap dengan seminar dan sosialisasi ini. tidak adanya sanksi diberikan bagi masyarakat yang melanggar UU No 24 Tahun 2009 yang secara utuh mengatur penggunaan bahasa Indonesia secara wajib dan mengikat semua komponen bangsa." kata Amran. "Jangan sampai sosialisasi ini hanya sekedar seremonial. "Bahasa Indonesia adalah bahasa yang indah dan berakar dari budaya Indonesia sendiri karena bahasa Indonesia berasal dari bahasa daerah. dan Lambang Negara.”Semua kewajiban yang diamanahkan UU itu seakan tidak berarti Karena tidak ada sanksi bagi yang melanggarnya. Menanggapi persoalan itu. UUsudah diundangkan sejak 9 Juli 2009. Persoalan yang mengemuka dalam sosialisasi itu adalah. Staf teknik Balai bahasa Sumut. siapa lagi. sosialisasi juga dilakukan di beberapa daerah lainnya seperti di Kabupaten Labuhan batu utara. Misalnya saat ini orang masing sering menyebutkan mokrofon untuk alat pengeras suara. dan Pangururan. Rosliani yang menjadi pemateri dalam seminar tersebut mengatakan. keberadaan dan penggunaan bahasa Indonesia sudah diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera. pihaknya sudah beberapa kali mengadakan sosialisasi kepada masyarakat. Amran Purba mengatakan UU No 24 Tahun 2009 ini bersifat norma atau kesadaraan sebagai warga negera yang baik dan bukan kriminal sepertu UU lalulintas atau lainnya. ”Prinsipnya kalau tidak kita yang menjunjung tinggi bahasa Indonesia .ini kepada berbagai kalangan di daerah itu guna menyamakan pemahaman terutama tentang bahasa. masyarakat dapat menggunakan bahasa indonesia yang baik terutama di tempattempat umum.“ kata salah seorang peserta." katanya. (dat03/waspada) . Untuk marilah kita gunakan bahasa Indonesia yang benar dan baik dan mengingatkan sekeliling kita bila mereka salah menggunakannya. serta Lagu Kebangsaan. dewasa ini masyarakat terutama kalangan generasi muda Indonesia terlalu bangga menggunakan bahasa inggris meski penggunaannya salah dan tidak sesuai. guru dan media. kalau bisa harus mempunyai efek positip dalam penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaedah yang ditentukan.“ katanya. "Kami sengaja menggelar sosialisasi ini karena sampai saat ini masih banyak masyarakat belum mengetahuinya. Sejak itu. "Kegiatan ini dihadiri berbagai kalangan dari berbagai instansi pemerintahan dan swasta. padahal dalam bahasa Indonesia disebut dengan pelantang.

Apabila perubahan itu tidak sampai membedakan makna atau mengubah identitas fonem. Lebih lanjut. Dengan kata lain. Dengan kata lain. lembaga pendidikan dan bahasa Indonesia wajib digunakan dalam forum nasional dan internasional. maka bunyi-bunyi tersebut merupakan alofon dari fonem yang berbeda. Karena itu Amran Purba berharap dengan adanya undang-undang kebahasaan ini. perubahan itu masih dalam lingkup perubahan fonetis.Asimilasi . semoga penggunaan bahasa Indonesia di masayarakat Kota Medan dapat diperbaiki menjadi lebih baik lagi kedepannya. diftongisasi. maka bunyi-bunyi tersebut masih merupakan alofon atau varian bunyi dari fonem yang sama. zeroisasi. Koordinator Balai Bahasa Medan. Amran Purba juga mengatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 2006 lalu. monoftongisasi. Guna memperbaiki penggunaan bahasa di masyarakat Kota Medan. Seperti pelafalan kata yang kerap tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang ada. apabila perubahan bunyi itu sudah sampai berdampak pada pembedaan makna atau mengubah identitas fonem. modifikasi vokal. Propinsi Sumatera Utara berada pada peringkat ke-19 dari penggunaan bahasa tulis yang baik dari 33 propnsi yang ada. perubahan bunyi tersebut bisa berdampak pada dua kemungkinan. A. apartemen. dikatakannya Kota Medan termasuk kota yang paling banyak menggunakan bahasa Indonesia jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya mapun propinsi lainnya. Jenis-jenis perubahan bunyi tersebut berupa asimilasi. disimilasi. dan anaptiksis. Balai Bahasa Medan mensosialisaikan undang-undang tentang kebahasaan. sebagaimana uraian berikut. metatesis. Namun meskipun begitu. perubahan itu disebut sebagai perubahan fonemis. bahasa indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan. Tetapi. (Mahbubah Lubis) PERUBAHAN BUNYI DALAM BAHASA INDONESIA Oleh Masnur Muslich Fakultas Sastra Unversitas Negeri Malang Dalam premis telah disebutkan bahwa bunyi-bunyi lingual condong berubah karena lingkungannya. Dengan demikian. netralisasi. merk dagang.Balai Bahasa Medan Sosialisasikan Undang-Undang Kebahasaan di Kota Medan. Amran Purba megatakan sosialisasi undang-undang tentang penggunaan bahasa ini sangat penting mengingat saat ini pengunaan bahasa di Kota Medan khususunya dinilai sudah banyak yang tidak menggunakan bahasa Indonesia yang sebeneranya. Dalam undang-undang tersebut diantaranya warga Indonesia wajib menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta.

Tetapi. asimilasi fonetis terjadi pada bunyi nasal pada kata tentang dan tendang. Jika kedua bunyi saling mengasimilasikan sehingga menimbulkan bunyi baru disebut asimilasi resiprokal. diucapkan [zagduk’]. Dalam bahasa Indonesia.Disimilasi Kebalikan dari asimilasi. Asimilasi pada contoh 2 juga tergolong asimilasi fonetis karena perubahan dari [k’] ke [g’] dalam posisi koda masih tergolong alofon dari fonem yang sama.Kata bahasa Inggris top diucapkan [tOp’] dengan [t] apiko-dental. Bunyi [n] pada holan dan bunyi [h] pada ho saling disesuaikan atau diasimilasikan menjadi [k]. juga apiko-dental. Kalimat bahasa Belanda Ik eet vis ‘saya makan ikan’. yaitu [d]. Hal ini terjadi karena bunyi-bunyi bahasa itu diucapkan secara berurutan sehingga berpotensi untuk saling mempengaruhi atau dipengaruhi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut. Perhatikan contoh berikut. Asimilasi fonemis terlihat pada contoh berikut. Sedangkan asimilasi pada pada contoh 3 tergolong asimilasi fonemis karena perubahan dari [n] ke [k] dan [h] ke [k] (pada holan ho > [holakko]).Asimilasi adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama atau yang hampir sama. bunyi [k] merupakan alofon dari fonem /k/. disimilasi adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang sama atau mirip menjadi . Perubahan atau penyesuaian dari [v] ke [f] merupakan lingkup dua fonem yang berbeda karena bunyi [v] merupakan alofon dari fonem /v/. juga apiko-alveolar. Perubahan bunyi nasal tersebut masih dalam lingkup alofon dari fonem yang yang sama. Begitu juga. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa [k] pada [zak’] disesuaikan atau diasimilasikan artikulasi dengan bunyi [d] yang mengikutinya sehingga sama-sama bersuara. dan bu-nyi [f] meru[akan alofon dari fonem /f/. yaitu [n] dan [h]. 1. setelah mendapatkan [s] lamino-palatal pada stop. Ketika kedua kata itu digabung. asimilasi pada contoh 1 tergolong asimilasi fonetis karena perubahannya masih dalam lingkup alofon dari satu fonem.Kata bahasa Belanda zak ‘kantong’ diucapkan [zak’] dengan [k] velar tidak bersuara. dan doek ‘kain’ diucapkan [duk’] dengan [d] apiko-dental bersuara. serta perubahan dari [n] ke [t] dan [h] ke [t] (pada suan hon > [su-atton]) sudah dalam lingkup antarfonem. Bunyi [n] merupakan alofon dari fo-nem /n/. kata tersebut diucapkan [stOp’] dengan [t] juga lamino-palatal. sedangkan [n] pada suan dan [h] pada hon saling disesuaikan atau diasimilasikan menjadi [t]. Bunyi [k] pada zak berubah menjadi [g] velar bersuara karena dipengaruhi oleh bunyi [d] yang mengikutinya. yaitu fonem /t/. 3. sehingga menjadi zakdoek ‘sapu tangan’. Dilihat dari lingkup perubahannya. suan hon diucapkan [suatton]. B. bunyi [h] merupakan alofon dari fonem /h/. dan bunyi [t] merupakan alofon dari fonem /t/. yaitu [t].Kata bahasa Batak Toba holan ho ‘hanya kau’ diucapkan [holakko]. Bunyi nasal pada tentang diucapkan apiko-dental karena bunyi yang mengikutinya. [n] dan [h] saling disesuaikan. Bunyi nasal pada tendang diucapkan apiko-alveolar karena bunyi yang mengikutinya. 2. Dengan demikian dapat disim-pulkan bahwa [t] pada [stOp’] disesuaikan atau diasimilaskan artikulasinya dengan [s] yang mendahuluinya sehingga sama-sama lamino-palatal. kata vis – yang biasa diucapkan [vis] – pada kalimat tersebut diucapkan [fis] dengan frikatif labio-dental tidak bersuara karena dipengaruhi oleh kata eet [i:t’] yang berakhir dengan bunyi stop apiko-alveolar tidak bersuara. Jika bunyi yang diasimilasikan terletak sesudah bunyi yang mengasimilasikan disebut asimilasi progresif. Jika bunyi yang diasimilasikan terletak sebelum bunyi yang mengasimilasikan disebut asimilasi regresif.

maka disebut disimilasi fonemis. maka perubahan itu disebut modifikasi vokal fonetis. Perubahan itu terjadi karena adanya bunyi [j] ganda. yaitu fonem /o/. sedangkan pada kata balikan. 2. Perubahan ini sebenarnya bisa dimasukkan ke dalam peristiwa asimilasi.Kata bahasa Indonesia belajar [bəlajar] berasal dari penggabungan prefiks ber [bər] dan bentuk dasar ajar [ajar]. kalau tidak ada perubahan menjadi berajar [bərajar] Tetapi. ia sebagai nuklus silaba yang tidak diikuti koda (li pada ba-li-kan). Karena perubahan dari [ī] ke [I] masih dalam lingkup alofon dari satu fonem. Karena perubahan tersebut sudah menembus batas fonem. kata tokoh. Bunyi [j] yang pertama diubah menjadi bunyi [r]: [sajjana] > [sarjana]. Bunyi vokal [O] pada silaba pertama pada kata kelompok dua dipengaruhi oleh bunyi vokal pada silaba yang mengikutinya. bunyi yang mengikutinya adalah dorso-velar [k].Kata sayur-mayur [sayUr mayUr] adalah hasil proses morfologis peng-ulangan bentuk dasar sayur [sayUr]. Selain kedua jenis perubahan vokal tersebut. 2. koko. [OtOt’]. sehingga menjadi baikan. bunyi [ī] berubah menjadi [i] tinggi: [balikan]. Modifikasi atau perubahan vokal dari rendah ke tinggi oleh para linguis disebut umlaut. Karena perubahan ini masih dalam lingkup alofon dari satu fonem. Perubahan vokal jenis ini biasa disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal. tetapi karena kasus ini tergolong khas. perubahan itu bisa juga karena perbedaan struktur silaba. oto masing-masing diucapkan [toko]. Pada bunyi [ī]. Pada kata balik. Tetapi ketika mendapatkan sufiks –an. maka perubahan itu juga disebut disimilasi fonemis. yaitu [s] merupakan alofon dari fonem /j/ dan [m] merupakan alofon dari fonem /m/. karena ada dua bunyi [r]. maka perubahan itu disebut modifikasi vokal fonetis. vokal i diucapkan [ī] rendah. [kOkOh]. yaitu [j] merupakan alofon dari fonem /j/ dan [r] merupakan alofon dari fonem /r/.bunyi yang tidak sama atau berbeda. yaitu [r] merupakan alofon dari fonem /r/ dan [l] merupakan alofon dari fonem /l/. Perhatkan contoh berikut! 1.Modifikasi Vokal Modifikasi vokal adalah perubahan bunyi vokal sebagai akibat dari pengaruh bunyi lain yang mengikutinya. sedangkan pada bunyi [i].Secara diakronis. Mestinya. kata sarjana [sarjana] berasal dari bahasa Sanskerta sajjana [sajjana]. [koko].Kata balik diucapkan [balī?]. Ada juga yang menyebut metafoni. perubahan vokal pada contoh 1 terjadi dari vokal rendah ke vokal yang lebih tinggi. ia sebagai nuklus silaba yang diikuti koda (lik pada ba-lik). Setelah diulang. Pola pikir ini juga bisa diterapkan ada bunyi [o] pada kata-kata kelompok satu. Sementara itu.Kata toko. C. Perhatikan contoh berikut! 1. [oto]. bunyi yang mengikutinya adalah glotal stop atau hamzah [?]. maka pada silaba pertama disesuaikan menjadi [O] juga. 3. [s] pada bentuk dasar [sayUr] mengalami perubahan menjadi [m] sehingga menjadi [sayUr mayUr]. kokoh. maka [r] yang pertama diperbedakan atau didisimilasikan menjadi [l] sehingga menjadi [bəlajar]. maka perubahan itu disebut disimilasi fonemis. Sebagai cacatan. otot diucapkan [tOkOh]. Sementara itu. Karena vokal pada silaba kedua adalah [O]. ada juga perubahan vokal yang disebut ablaut (Ada juga . (Coba jelaskan!) Kalau diamati. maka perlu disendirikan. perubahan vokal pada contoh 2 terjadi karena pengaruh dari vokal yang lain pada silaba yang mengikutinya. Perubahan ini akibat bunyi yang mengikutinya. Ka-rena perubahan itu sudah menembus batas fonem. Karena perubahan itu sudah menembus batas fonem.

termasuk bahasa Indonesia. Ketika dinetralisasilkan menjadi hambat-tidak bersuara.are not disingkat aren’t . beberapa ahli fonologi mengusulkan konsep arkifonem. Misalnya. Peristiwa ini terus berkembang karena secara diam-diam telah didukung dan disepakati oleh komunitas penuturnya. D. dalam pasangan minimal telah terbukti bahwa terdapat fonem /b/ dan /p/. Misalnya: . yang persis sama dengan pengucapan fonem /p/ pada atap dan usap: [atap’] dan [usap’]. Dengan cara pasangan minimal [baraŋ] ‘barang’– [paraŋ] ‘parang’ bisa disimpulkan bahwa dalam bahasa Indonesia ada fonem /b/ dan /p/. Perubahan vokal jenis ini bukan karena pengaruh struktur silaba atau bunyi vokal yang lain pada silaba yang mengikutinya. apokop. zeroisasi ini sudah merupakan pola sehingga ‘bernilai sama’ dengan struktur lengkapnya. tapi untuk tetapi. Apabila diklasifikasikan. perubahan vokal kata bahasa Inggris dari sing [sīŋ] ‘menyanyi’ menjadi sang [sєŋ]. 1. Dalam bahasa Inggris. Untuk menjelaskan kasus ini bisa dicermati ilustrasi berikut. gimana untuk bagaimana. upawasa menjadi puasa . tiada untuk tidak ada.will not disingkat won’t. fonem /b/ pada silaba akhir kata adab dan sebab diucapkan [p’]: [adap] dan [səbap’]. sama dengan realisasi yang biasa terdapat dalam fonem /p/.yang menyebut apofoni atau gradasi vokal). yaitu [p’]. Zeroisasi Zeroisasi adalah penghilangan bunyi fonemis sebagai akibat upaya penghematan atau ekonomisasi pengucapan. Mengapa terjadi demikian? Karena konsonan hambat-letup-bersuara [b] tidak mungkin terjadi pada posisi koda.is not disingkat isn’t . E. nama arkifonemnya adalah /B/ (huruf b kapital karena bunyi b yang paling sedikit dibatasi distribusinya). yaitu aferesis. Dalam bahasa Indonesia sering dijumpai pemakaian kata tak atau ndak untuk tidak. tetapi lebih terkait dengan unsur morfologis. Padahal. Misalnya: tetapi menjadi tapi. asal saja tidak mengganggu proses dan tujuan komunikasi. Tetapi. Zeroisasi dengan model penyingkatan ini biasa disebut kontraksi. karena demi kemudahan dan kehematan. peperment menjadi permen.shall not disingkat shan’t . Prinsip sekali fonem tetap fonem perlu diberlakukan. Tetapi dalam kondisi tertentu. fungsi pembeda antara /b/ dan /p/ bisa batal – setidak-tidaknya bermasalah – karena dijumpai bunyi yang sama. dan sinkop.Aferesis adalah proses penghilangan atau penanggalan satu atau lebih fonem pada awal kata. Perubahan vokal jenis ini juga bisa disebut modifikasi internal. Netralisasi Netralisasi adalah perubahan bunyi fonemis sebagai akibat pengaruh lingkungan. Peristiwa ini biasa terjadi pada penuturan bahasa-bahasa di dunia. Kalau begitu. gejala itu terus berlangsung. zeroisasi ini paling tidak ada tiga jenis. sung [sαŋ].it is atau it has disingkat it’s. yang anggotanya adalah fonem /b/ dan fonem /p/. Kalau toh ingin menyatukan. Misalnya. apakah kedua bunyi itu tidak merupakan alofon dari fonem yang sama? Tidak! Sebab. Untuk mewakili kedua fonem tersebut. penghilangan beberapa fonem tersebut dianggap tidak baku oleh tatabahasa baku bahasa Indonesia.

Misalnya: kerikil menjadi kelikir. kata-kata yang mengalami metatesis ini tidak banyak.satai [satai] menjadi [sate] .danau [danau] menjadi [dano] .Diftongisasi Diftongisasi adalah perubahan bunyi vokal tunggal (monoftong) menjadi dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) secara berurutan. tetapi tetap dalam pengucapan satu bunyi puncak. Perubahan ini terjadi pada bunyi vokal tunggal [o] ke vokal rangkap [au]. Penulisannya pun disesuaikan menjadi rame dan pete. Dalam bahasa Indonesia. Hanya beberapa kata saja. mpulaut menjadi pulau 3.kalau [kalau] menjadi [kalo] . Bahkan. petai [pətai] diucapkan [pəte]. Peristiwa penunggalan vokal ini banyak terjadi dalam bahasa Indonesia sebagai sikap pemudahan pengucapan terhadap bunyi-bunyi diftong. Misalnya: president menjadi presiden. Contoh lain: . dalam penulisannya pun disesuaikan dengan ucapannya. F. Rabu berasal dari bahasa Arab Arba. Perubahan ini terjadi pada bunyi vokal rangkap [ai] ke vokal tunggal [e].topan [tOpan] menjadi taufan[taufan] => vokal [O] menjadi [au] H.teladan [təladan] menjadi tauladan [tauladan]=> vokal [ə] menjadi [au] . G. Contoh lain: . Kata anggota [aŋgota] diucapkan [aŋgauta]. sentosa [səntosa] diucapkan [səntausa]. yaitu anggauta dan sentausa. pelangit menjadi pelangi. Hal ini terjadi karena adanya upaya analogi penutur dalam rangka pemurnian bunyi pada kata tersebut.Sinkop adalah proses penghilangan atau penanggalan satu atau lebih fonem pada tengah kata.2. dahulu menjadi dulu. Perubahan dari vokal tunggal ke vokal rangkap ini masih diucapkan dalam satu puncak kenya-ringan sehingga tetap dalam satu silaba.damai [damai] menjadi [dame] I. rebab berasal dari bahasa Arab arbab. jalur menjadi lajur. Misalnya: baharu menjadi baru. brantas menjadi bantras Metatesis ini juga bisa dilihat secara diakronis.Metatesis Metatesis adalah perubahan urutan bunyi fonemis pada suatu kata sehingga menjadi dua bentuk kata yang bersaing. utpatti menjadi upeti. Bunyi yang biasa ditambahkan adalah bunyi vokal .Apokop adalah proses penghilangan atau penanggalan satu atau lebih fonem pada akhir kata. Misalnya: lemari berasal dari bahasa Portugis almari. Kata ramai [ramai] diucapkan [rame]. Monoftongisasi Kebalikan dari diftongisasi adalah monoftongisasi. yaitu perubahan dua bunyi vokal atau vokal rangkap (difftong) menjadi vokal tunggal (monoftong).Anaptiksis Anaptiksis atau suara bakti adalah perubahan bunyi dengan jalan menambahkan bunyi vokal tertentu di antara dua konsoanan untuk memperlancar ucapan.

apa yang melatarbelakanginya? Jelaskan dan berikan contoh! 7.tik menjadi ketik 2. Dalam bahasa Indonesia.Berikan penjelasan tentang netralisasi atas fonem /g/ dan /k/ dalam bahasa Indonesia disertai contoh! 5. Misalnya: .Secara sinkronis. Pada peristiwa diftongisasi. dan paragog. berdampak pada penambahan jumlah silaba. Misalnya: . Apabila dikelompokkan. [tra] menjadi [tə+ra]. Apa maksudnya? Berikan ilustrasi yang jelas! 3.kapak menjadi kampak . Jadi.putri menjadi puteri .Epentesis adalah proses penambahan atau pembubuhan bunyi pada tengah kata.mas menjadi emas .srigala menjadi serigala . [tri] menjadi [tə+ri]. epentesis.putra menjadi putera . Misalnya: .mpu menjadi empu .Pada asimilasi progresif.Mengapa peristiwa labialisasi dan palatalisasi tidak dimasukkan dalam asimilasi ? 4. dari mana bisa diketahui bahwa suatu bunyi itu termasuk peristiwa zeroisasi? Buktikan! 6.lemah.Peristiwa monoftongisasi dilatarbelakangi oleh sikap pemudahan ucapan atas bunyi-bunyi diftong.ina menjadi inang Bahan Pendalaman: 1. Konsonan pertama dari kluster yang disisipi bunyi [ə] menjadi silaba baru dengan puncak silaba pada [ə].Paragog adalah proses penambahan atau pembubuhan bunyi pada akhir kata. [sri] menjadi [sə+ri].Protesis adalah proses penambahan atau pembubuhan bunyi pada awal kata.hulubala menjadi hulubalang .upama menjadi umpama 3. anaptiksis ini ada tiga jenis. yaitu protesis.Berikan komentar atas kasus-kasus berikut! (a) auto mobil hanya disebut mobil (b) bagai ini disebut begini (c) al salam menjadi assalam (d) mahardhika menjadi merdeka (e) in-port menjadi impor .bahtra menjadi bahtera . dari mana diketahui bahwa bunyi yang diasimilasi-kan terletak sesudah bunyi yang mengasimilasikan? Berikan alasan yang jelas beserta contohnya! 2. 1. Misalnya: . dan [slo] menjadi [sə+lo].sajak menjadi sanjak .sloka menjadi seloka Akibat penambahan [ə] tersebut.adi menjadi adik .Peristiwa asimilasi bisa dilihat secara sinkronis dan diakronis. penambahan bunyi vokal lemah ini biasa terdapat dalam kluster.

2008) .Uraian lebih lanjut silakan baca Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia oleh Masnur Muslich (Bumi Aksara.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.