P. 1
Keputusan Menteri Perhubungan No. 3 Tahun 1994 Ttg Alat Pengendali Dan Pengaman Pemakai Jalan

Keputusan Menteri Perhubungan No. 3 Tahun 1994 Ttg Alat Pengendali Dan Pengaman Pemakai Jalan

|Views: 501|Likes:
Published by Siwas Polres Ciamis
Alat Pengendali Dan Pengaman Pemakai Jalan
Alat Pengendali Dan Pengaman Pemakai Jalan

More info:

Published by: Siwas Polres Ciamis on May 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2014

pdf

text

original

MENTER I PERHUnUNGAN

REPURI,IK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR = KM. 3 TAHUN 1994 TENTANG ALAT PENGENDAlI DAN PENGAMAN PEMAKAI JALAN

MENTERI PERHUBUNGAN,

Menimbang

a.

bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, telah diatur ketentuan mengenai alat pengendali dan pengaman pemakai jalan;

b. bahwa ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Perhubungan;

Mengingat

1. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3186); 2. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lernbaran Negara Tahun1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480) jo. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1992 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1992 tentang Penangguhan Mulai Berlakunya Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebaqai Undangundang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3494);

1

BAB.
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. Rambu-rambu lalu lintas di [alan yang selaniutnya disebut rambu adalah bag ian dari perlengkapan jalan, berupa lambanq, huruf, angka, kalimat dan/atau perpaduan di aqtaranya sebagai peringatan, larangan, perintah atau petunjuk bagi pemakai jalan; Marka jalan adalah suatu tanda yang berada d.i permukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis melintang, garis serong serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu Iintas dan membatasi daerah kepentingan latu lintas; Jalur adalah bagian jalan yang dipergunakan kendaraan; untuk lalu !intas

2.

3.

4.

Lajur adalah bagian jalur yang memanjang, dengan atau tanpa marka jalan, yang memiliki lebar cukup untuk satu kendaraan bermotor sedang berjalan, selain sepeda motor; Direktur Jenderal, adalah Direktur Jenderal Perhubungan Darat.

5.

BAS II JENIS ALAT PENGENDALI DAN PENGAMAN PEMAKAI JALAN Pasal 2 (1) Alat pengendaJi pemakai jalan yang digunakan untuk pengendalian atau pembatasan terhadapkecepatan, ukuran muatan kendaraan pada ruas-ruas jalan tertentu terdiri dari :a. alat pembatas kecepatan; b. alat pembatas tinggi dan lebar. (2) Alat pengaman pemakai jalan yang digunakan untuk pengaman terhadap pemakai [alar, terdiri dari : a. c. pagar pengaman; delinator; b. cermin tikungan; d. pulau-pulau talu lintas; e. pita penggaduh,

3

(2)

Penempatan alat pembatas kecepatan pada jalur lalu !intas harus diberi tanda berupa garis serong dari cat berwarna putih. Pemasangan rambu dan pemberian tanda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), digunakan untuk memberi peringatan kepada pengemudi kendaraan bermotor tentang adanya alat pembatas kecepatan di depannya.

(3)

Pasal 6 (1) Bentuk penampang melintang alat pembatas keeepatan menyerupai trapesium dan bagian yang menonjo/ di atas badan jalan maksimum 12 em. Penampang sebagaimana dimaksud dalamayat (1). kedua sisi miringnya mempunyal kelandaian yang sama maksimum 15%. Lebar mendatar bag ian atas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), proporsional dengan bagian menonjol di atas badan jalan dan minimum 15 em. Sentuk dan ukuran alat pembatas keeepatan sebagaimana dalam Lampiran gam bar 1 Keputusan ini.

(2)

(3)

(4)

Pasal 7 (1) Alai pembatas kecepatan dapat dibuat dengan menggunakan bahan yang sesuai dengan bahan dari badan [alan, karet, atau bahan lainnya yang mempunyai pengaruh serupa. Pemilihan bahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memperhatikan keselamatan pemakai jalan.

(2)

8agian Kedua Alat Pembatas Tinggi dan Lebar Kendaraan Pasal 8 (1) A/at Pembatas tinggi dan lebar adalah kelengkapan tambahan ' pad a ja/an yang berfungsi untuk membatasan tinggi dan lebar

5

(3)

Lokasi pemasangan alat pembatas tinggi dan Jebar kendaraan, harus didahului dengan Rambu sebagaimanadaJam Lampiran I Tabel1 No. 21 a dan 21 b Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 61 Tahun 1993 tentang Rambu-rambu Lalu Lintas di Jalan.

Pasal 12 (1) Penempatan alat pembatas tinggi sebagaimana yang dimaksud dalam dengan rambu lalu llntas sebagaimana No. 21 a dan 21 b Keputusan Menteri 61 Tahun 1993 tentang Hambu-rambu dan lebar kendaraan Pasal 8 harus dilengkapi dalam Lampiran I Tabell Perhubungan Nomor KM Lalu Lintas di Jalan.

(2)
(

Pemasangan rambu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), digunakan untuk memberi peringatan kepada pengemudi kendaraan bermotor tentang ruang bebas pad a bagian [alan di depannya.

Pasal 13 Pembuatan alat pembatas tinggi dan lebar kendaraan dapa\ menggunakan bahan dari besi, kayu, atau bahan lain dengan memperhatikan keselamatan pemakai jalan.

BAB IV ALAT PENGAMAN PEMAKAI JALAN Bagian Pertama Pagar Pengaman Pasal 14 (1) Pagar pengaman adalah kelengkapan tambahan pada [alan yang berfungsi sebagai pencegah pertama bagi kendaraan bermotor yang tidak dapat dikendalikan lag; agar tidak keluar dari jalur lalu lintas. Kelengkapan tarnbahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat berupa suatu unit konstruksi yang terdiri dari lempengan

(2)

7

Pasal 25 (1) Pipa plastik sebagaimana yang dimaksud Pasal 23, mempunyai panjanq 125 em dan penampang menyerupai segit;ga sarna sisi dengan panjang sisi 15 em. Pipa plastik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilengkapi dengan 2 macam reflektor berwarna putih dan merah. Pipa plastik sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1) harus dlcat dengan warna hitam dan putih bergantian, dan ujung paling atas berwarna hitam. Bentuk dan ukuran delinator dari pipa plastik sebagaimana dalam Lampiran gambar 5 Keputusan ini.

(2)

(3)

(4)

Pasal 26 (1) Delinator dipasang pada bagian sisi kiridan pada daerah-daerah yang berbahaya. kanan [alur [alan

(2)

Penempatan delinator sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilakukan sedemikian rupa sehingga reflektor berwarna merah akan kelihatan pada sebelah kiri dari arah lalu lintas dan yang berwama putih akan terlihat pada sebelah kanan arah lalu lintas. Delinator sebagaimana dimaksud daJam ayat (1) ditempatkan sekurang-kurangnya 60 em dar; tepl jalan. l.okasi serta jarak pengulangan penempatan delinator disesuaikan dengan hasil manajemen dan rekayasa JaJu!intas.

(3)

(4)

Bagian Keempat Pulau-putau Lalu Untas Pasal 27 Pulau la!u lintas adalah bagian jalan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor.

11

Bagian Kelima Pita Penggaduh Pasal 32
,

(1)

Pita penggaduh adalah kelengkapan tambahan pada jalan yang berfungsi untuk membuat pengemudi lebih meningkatkan kewaspadaan. Pita penggaduh sebagaimana dimaksud ayat (1), dapat berupa suatu marka jalan atau bahan lain yang dipasang melintang jalur lalu lintas dengan ketebalan maksimum 4 em.

(2)
•L

Pasal 33
(1) Pita Penggaduh dipasang pada bagian-bagian jalan di mana dipandang perlu untuk mengingatkan pengemudi agar lebih meningkatkan kewaspadaan. ; Pita penqqaduh dipasang melintang jalurlalu lintas.

(2) (3)

Lokasi dan pengulangan penernpatan pita penggaduh disesuaikan dengan hasil manajemen dan rekayasa lalu lintas.

Pasal 34
(1) Bagian pita penggaduh sebagaimana dimaksud Pasal 32 yang menonjol di atas badan jalan maksimum 4 em. Jumlah pita dalam satu kelompok dan [arak pengulangan kelompok pita penggaduh disesuaikan dsnqan hasil manajemen dan rekayasa lalu lintas. Bentuk dan ukuran pita penggaduh sebaqairriana dalam Lampiran gam bar 7 Keputusan ini.

(2)

(3)

13

3) jalan nasional yang berada dalam Kotamadya Daerah Tingkat II dengan persetujuan Direktur Jenderal. ,

Pasal 37 Penyelenggara jalan toldapat melakukan perencanaan, pengadaan, . pemasangan dan pemeJiharaan alat penqendali dan pengaman pemakai jalan di jalan tal setelah mendengar pendapat Direktur Jenderal. '

Pasal 38 Instansi, badan usaha atau warga negara Indonesia dapat melakukan pengadaan, pemasangan dan pemeliharaan alat pengendali dan pengaman pemakai jalan dengan ketentuan : a. penentuan lokasi dan penempatannya mendapat persetujuan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36; memenuhi persyaratan Keputusan ini. teknis sebagaimana ditetapkan dalam

b.

BAS VI PEMSINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 39 (1) Direktur Jenderal melaksanakan pembinaan dan pengawasan teknis terhadap penyelenggaraan alat pengendali dan pengaman pemakai jalan. Pembinaan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi: a. penentuan persyaratan teknis alat pengendali dan pengaman pemakai [alan: TEKNIS

(2)

15

(2)

Penyelenqqara alat pengendali dan pengaman pemakai jalan, wajib menjaga dan memelihara kondisi alat pengendali dan pengaman pemakai [alan, agar dapat berlungsi sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan ini. Penyelenggara alat pengendali dan pengaman pemakai [alan, wajib mencabut alat pengendali dan pengaman pemakai jalan yang tidak berfungsi lagi.

(3)

BAS IX KETENTUAN PENUTUP . Pasal 42
Ketentuan ini mulai bsrlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Pad a Tanggal

: J A K ART

A

:' 17 Januari 1994

SALINAN Keputusan in; disampaikan kepada: 1. Para Menteri Kabinet Pembangunan VI; 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia; Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal dan para Kepala Badan di lingkungan Departemen Perhubungan; Direktur Jenderal Perhubungan Darat; Direktur Jenderal Sina Marga; Para Gubernur Daerah Tingkat I; Para Kepala Kepolisian Daerah; Para Kepala Kantor Wilayah Departemen Perhubungan; Para Kepala Dinas LLAJ. 17

LAMPIRAN

KEPUTUSAN NOMOR

MENTERI :

PERHUBUNGAN

TANGGAL

:

J<H3 Tahun 1994 17 Januari 1994

t,.AMPIRAN

. GAMBAR 1

ALAT

PEMBATAS

.C.ONTOH

KECEPATAN

I

Oise 5 ua ikon

-+<

_--'--'-~='-C!.--_"""~

Min. 15Cm

.

I

1

I

I

,

, ,

_:

I I

,
J
I

I I I
I.

,
I

I
I

I I

:

,

,
I

!

I

,
I

I 1

t I

I
I

I

I

:
I

,
I

I

, ,

, •

I I I

,

I

!
I

, ,

I

t

I

,

t

,

I I
I

I

.

I I I
I

I

.

, ,
I

I
I

l

0:

t

I

;.:;

t

g

,
~ ~

....... ........ 'Ij I!-.

i'""t --~----..;":
T

,

-c

,

[

T-- - ..
I
&L

11"..,I .

- - -,~- - '!._I I
~

.~
i
Vi

!>

a

~

~

ofF~r:rolri-~.-~

,-r-----------~
-e

---;,.---1);".1

, ,

, , "6;
I :

lJ
!
~it

.-:

3
0..

'.- --,
t

! ...
J

tl'I N

o

v;

c

CI

W . c: 10 0.

"" ..
E

.'!!

Oz u~

z o~ t-- zl:t:=>
Ct: W

t!)

«

z

lImurn SvS!O

.I

U

~.I

m
A

g

o ""

C)

tn
c:(

;::
e,

~

c:

_.

5 _.

u "" ti.

V)

w m

f

0..

-

U')

::r:

z
_J

;::;

t--_J

0:::>

0-1


_J

u:=>

«

CL

::>

W)':h

1

Z
un C9

0
l

<

:::>
~

Z

.. 1

:::>
et::
111)

::r:
ttl 0..

Ott 1

W)

C': 1

.I.! 5t, .:.::

c:

tg
:;,

IIJ)\! L

1
~ ~

.~

e ....

W)(;:'

1
.'r.r--..
0 -.!

un (l9

1
.-:
N

II
I.Uwm
Z ~~

55

\til09 l
..-::-

Vi
W)

<0

09

1

uno; 1
:1l)('~

= ...-... $?
C>

N

I

:P. ~
->:

~3!=
~~~~

"-'

'll

)(lS "

Wle';
I.U)

1
1 1 1

..... a ~ tb
~Vl

m

~~

+i

('IJ

oW~Wo.. _V) Vl
... .. flo ... ••

~Ul.i!

~~~:r
V)

til

§
,",ow

'JDC')
IJJ)

IJD Of

f'c. '}

~

$(J')
lA

'"
~
-.!)

! 11 t It t

§

0

E .~

c

OJO

i

\!)

R

,_J

~~
Vl

~

.~

~

.....-1,0..:;5::
_NM"-'"

~ w ~2!(r ~«:{
1:..0

_.J~~..;(z

~~«

IJ)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->