LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI REPRODUKSI TERNAK “ EVALUASI SEMEN, PENGENCERAN SEMEN, PEMBEKUAN SEMEN, DAN EVALUASI SEMEN BEKU”

Disusun Oleh: NAMA NPM : MARLIS NAWAWI : 200110097001

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN SUMEDANG 2012

I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Kebutuhan masyarakat akan daging hewan semakin meningkat seiring dengan

kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asupan gizi yang baik untuk tubuh. Daging mengandung banyak zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh seperti karbohidrat, lemak protein, vitamin dan mineral. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut maka perlu adanya upaya pengembangan peternakan di Indonesia dengan meningkatkan populasi ternak yang memiliki kualitas yang baik, sehingga mayarakat dapat terpenuhi kebutuhannya. Peningkatan mutu ternak merupakan salah satu aspek utama dalam pengembangan peternakan di Indonesia karena usaha peternakan merupakan sektor ekonomi yang penting baik di negara yang beriklim sedang maupun di negara-negara tropis seperti negara kita. Perkembangan teknologi semakin berkembang pesat dewasa ini, tidak ketinggalan perjalanan bioteknologi yang semakin berkembang pesat pula. Salah satunya yaitu teknologi Inseminasi Buatan (IB). Teknologi Inseminasi Buatan (IB) merupakan teknologi yang sering digunakan dalam oleh para peternak untuk memperbanyak ternak tanpa menggunakan pejantan langsung. Teknik ini adalah dengan mendeposisikan semen yang berisi spermatozoa ke dalam alat reproduksi betina sehingga akan terjadi fertilisasi antara spermatozoa dengan sel telur yang ada dalam alat reproduksi betina dan menghasilkan kebuntingan Namun untuk mendukung keberhasilan IB maka kita harus mengetahui kualitas dari semen tersebut baik sebelum pembekuan maupun sesudah pembekuan, sehingga diperlukan adanya evaluasi semen, pengenceran semen, pembekuan semen dan evaluasi semen beku pada semen yang akan kita jadikan untuk IB ternak.

1.2.

Maksud dan Tujuan

a) Mengetahui cara melakukan evaluasi semen b) Dapat melakukan proses pengenceran semen c) Dapat melakukan proses pembekuan semen d) Mengetahui kondisi dan kualitas semen hasil pembekuan

1.3.

Identifikasi masalah a) Bagaimana cara melakukan evaluasi semen? b) Bagaimana cara mengencerkan semen? c) Bagaimana cara melakukan pembekuan semen? d) Bagaimana kondisi semen setelah mengalami pembekuan?

1.4.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Hari/Tanggal : Selasa, 3, 17 April dan 1,8 Mei 2012 Pukul Tempat : 07.30-09.30 : Laboratorium Reproduksi ternak

Evaluasi Makroskopis 2. volume semen juga dipengaruhi oleh bangsa. Evaluasi semen meliputi dua kategori : 1.5 ml. semen domba antara 0. pakan dan frekwensi penampungan.8 . babi. Konsistensi atau derajat kekentalan dapat dilihat dengan cara menggoyangkan tabung penampung berisi semen . yang diakibatkan karena kandungan bakteri tertentu seperti Pseudomonas aeruginosa sehingga menyebabkan warna semen sapi menajdi hijau kekuning-kuningan. Volume semen tergantung pada spesies ternak. Dari jenis ternak tersebut. Derajat kekeruhan tergantung atas konsentrasi spermatozoa yang dikandung.5 – 1. kambing antara 0.1.1. Semakin kental semen maka dapat diartikan semakin tinggi konsentrasi sperma. kuda 60 – 100 ml dan ayam antara 0. 150 – 200 ml. Evaluasi Mikroskopis A. sapi dan domba umumnya mempunyai volume ejakulat rendah.2 – 0. Tujuan dilakukan evaluasi semen adalah untuk menentukan kualitas semen dan tingkat reproduksi pejantan. ukuran badan. Volume semen sapi bervariasi antara 1-15 ml. sedangkan semen babi dan kuda mempunyai volume ejakulat yang lebih tinggi. Evaluasi Makroskopis 1) Volume Dapat dilihat langsung pada skala tabung penampung segera setelah semen ditampung.II TINJAUAN PUSTAKA 2. umur. 3) Konsistensi Konsistensi atau kekentalan atau viscositas merupakan salah satu sifat semen yang erat kaitannya dengan kepadatan atau konsentrasi sperma di dalamnya. Adanya ketidak normalan dari warna semen.5 ml. 2) Warna Warna semen sapi yang normal adalah seperti susu atau krem keputih-putihan dan keruh.2 ml. Evaluasi Semen Evaluasi semen dilakukan segera setelah penampunan semen. Selain itu warna kecoklatan karena adanya darah yang telah mengalami dekomposisi.

. Bau busuk bisa terjadi apabila semen mengandung nanah yang disebabkan oleh adanya infeksi organ atau saluran reproduksi hewan jantan 5) PH (Derajat keasaman) Keasaman atau pH semen perlu diukur untuk memastikan bahwa cairan semen hasil penampungan memiliki karakteristik yang normal. dibandingkan dengan semen dengan konsistensi encer.dan ini apat dijadikan sebagai indikator tingkat atau presentase sperma hidup danaktif dalam semen. B. Gerakan masa spermatersebut dapat dilihat dengan bantuan mikroskop dengan pembesaran 10 x 10. maka proses kembalinya larutan semen tersebut ke posisi tegak akan lama.segar secara perlahan. Semen dengan konsistensi kental akan terlihat pada saat memiringkan tabung gelas penampung dan selanjutnya kembali pada posisi normal. Gerakan masa spermatozoa dalam suatu kelompok dapat dievaluasi dengan adanyakecenderungan bergerak bersama-sama ke satu arah dan membentuk gelombanggelombang yang tebal dan tipis. Penilaian motilitas digunakan sebagai ukuran kesanggupan spermatozoa dalam membuahi sel telur atau ovum. sedangkan semen kuda dan babi mempunyai konsistensi encer. Motilitas spermatozoa dipengaruhi antara lain oleh penurunan suhu yang mendadak (cold shock) atau peningkatan suhu yang berlebihan. 2) Gerakan Masa Gerakan massa spermatozoa merupakan petunjuk derajat keaktifan bergerak sperma. Untuk memperoleh hasil yang lebih tepat. bergerak cepat atau lamban tergantung dari konsentrasi sperma hidup yang terkandung di dalamnya. sebaiknya semen dievaluasi pada suhu antara 37o – 40oC dengan meletakkan gelas objek di atas meja pemanas (heating table) atau menggunakan mikroskop yang dilengkapi pemanas elektrik. Evaluasi Mikroskopis 1) Motilitas Motilitas merupakan daya gerak spermatozoa yang dinilai segera setelah penampungan semen. 4) Bau Semen yang normal umumnya memiliki bau amis khas disertai bau dari hewan itu sendiri. Semen sapi dan domba mempunyai konsistensi kental berwarna krem dengan konsentrasi 1000 juta hingga 2000 juta sel spermatozoa per ml semen.

Dengan meneteskan satu tetes ke atas permukaan gelas objek dan selanjutnya dilihat di bawah mikroskop. 7. Kemudian isap larutan NaCl 3 %sampai tanda 101. Dengan volume setiap ruangan kecil adalah 0. tidak terlihat adanya spermatozoa yang bergerak 4 Baik 3 Cukup 2 Buruk 1 Sangat buruk 0 Mati 3) Penghitungan dengan Hemocytometer dan kamar hitung Neubauer Metode ini dilakukan dengan menggunakan Metode ini dilakukan dengan menggunakan alat Hemocytometer.5. Isap semen dengan pipet erythrocyt yang belum diencerkan sampai tanda 0. Hitunglah jumlah sel spermatozoa dalam 5 kamar dihitung menurut arah diagonal. gelombang yang terbentuk besar-besar dan bergerak sangat cepat. maka dapat dihitung . Beberapa tetesan pertama di buang dan dikocok lagi 5. Tidak tampak sperma secara individual. Contoh semen tersebut mengandung 90% atau lebih spermatozoa aktif Gelombang yan terbentuk hampir sama dengan semen yang memiliki skor 5. Contoh semen tersebut mengandung 70 0 85% atau lebih spermatozoa aktif Gelombang yang terbentuk berukuran kecil-kecil yang bergerak atau berpindah tempat dengan lambat.1 mm3 dan pengenceran 200 kali. 3. 2. Contoh semen tersebut diperkirakan mengandung 20 – 40% atau lebih spermatozoa aktif Hanya sedikit (sekitar 10%) sel spermatozoa yang memperlihatkan tanda-tanda hidup yang bergerak sangat lamban Seluruh spermatozoa mati. Contoh semen tersebut diperkirakan mengandung 45 65% atau lebih spermatozoa aktif Tidak ditemukannya adanya gelombang tetapi terlihat gerakan spermatozoa secara individual. maka di dalam 5 kamar terdapat 80 ruanagn kecil. Siapkan kamar hitung Neubauer dan tutup dengan gelas penutup. Seluruh gelas hemocytometer memiliki 400 ruangan kecil. tetapi gerakannya sedikit lebih lambat. Dikocok hati-hati dengan gerakan membentuk angka 8 selama 2 – 3 menit 4. Penilaian yang diperoleh didasarkan atas skor yang tertera pada tabel 1 dibawah: Skore 5 Kelas Sangat Bagus Keterangan Padat. Cara penghitungan adalah sebagai berikut : 1. Teteskan satu tetes semen pada sisi gelas penutup. 6. Stiap kamar mempunyai 16 ruangan kecil.

Bila dalam 5 kamar atau 80 ruangan kecil terdapat X spermatozoa. sel-sel spermatozoa yang hidup tidak atau sedikit sekali menghisap warna (berwarna putih). sedangkan sel-sel yang mati akan mengisap warna (merah) karena permeabilitas dinding sel meningkat saat mati.01 juta spermatozoa per mm3 atau X x 10 juta spermatozoa per ml. Kemudian satu tetes semen segar ditambahkan dan dicampurkan dengan merata.konsentrasi.000 = X x 0. Misalkan spermatozoa yang berwarna putih sebanyak p sel dan yang berwarna merah sebanyak q sel. Maka motilitas spermatozoa dapat dihitung berdasarkan rumus: Motilitas spermatozoa = p x 100 % p+q Semen yang memiliki motilitas spermatozoa kurang dari 60 % tidak dianjurkan untuk digunakan dalam program inseminasi buatan . 4) Konsentrasi Spermatozoa hidup (Motilitas spermatozoa) Semen yang berkualitas baik adalah semen yang memiliki kandungan sperma hidup dan bergerak maju ke depan dalam jumlah yang banyak. Satu tetes zat warna ditempatkan pada gelas objek yang bersih. Kemudian dilihat di bawah mikroskop. Keringkan beberapa saat dengan bantuan nyala api bunsen. Adapun cara penentuan motilitas spermatozoa dalam suatu contoh semen dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu : a) Pewarnaan Diferensial Penilaan ini bertujuan untuk menghitung jumlah spermatozoa yang hidup dan mati. Pada waktu semen segar bercampur dengan zat warna. Dari sejumlah sel spermatozoa yang dihitung tersebut. didasarkan pada prinsip perbedaan afinitas zat warna antara sel-sel spermatozoa yang hidup dan yang mati. Dalam pengamatan di bawah mikroskop. Zat warna yang digunakan adalah eosin atau eosin-negrosin. Perbandingan spermatozoa hidup dan bergerak ke depan (motil progresif) dengan konsentrasi spermatozoa total dalam suatu contoh semen dikenal dengan istilah motilitas spermatozoa. lakukan penghitungan kurang lebih 200 sel sperma. maka konsentrasi spermatozoa adalah : X x x 10 x 200 = 10. berapa banyak sperma yang berwarna putih (hidup) an berapa banyak yang berwarna merah (mati).

Abnormalitas sekunder terjadi selama proses pembentukan sperma di dalam testes (spermatogenesis). terpilin atau tertekuk Salah satu penyebab terbesar tingginya jumlah sel spermatozoa yang mengalami kerusakan sehingga abnormalitas spermatozoa meningkat adalah cekaman panas (heat . bukan NaCl 3%. maka spermatozoa yang masih hidup akan tetap hidup dan terus bergerak. Dengan diketahuinya konsentrasi spermatozoa total sebesar Xx107. Misalkan dari lima kotak terdapat Y sel sperma mati. bergerak mundur. ini berarti bahwa dalam setiap mililiter contoh semen tersebut terdapat Y x 107 sel spermatozoa yang mati. Bentuk-bentuk abnormalitas primer meliputi :  Ukuran kepala lebih besar (macrocephalic) atau lebih kecil (microcephalic) dari ukuran normal  Kepala ganda atau ekor ganda  Bentuk kepala tidak normal (penyok. Dengan menggunakan larutan NaCl fisiologis sebagai pengencer. Abnormalitas spermatozoa terdiri dari dua kelompok. sedangkan sebaliknya spermatozoa mati akan diam. benjol. dimana pada penentuan konsentrasi sperma hidup digunakan larutan NaCl Fisiologis. yaitu abnormalitas primer dan abnormalitas sekunder. sedangkan abnormalitas sekunder terjadi setelah pembentukan spermatozoa.b) Penghitungan motilitas spermatozoa menggunakan pipet Haemocytometer dan kamar hitung Neubauer Penentuan konsentrasi sperma hidup dalam semen sama dengan prosedur pada penentuan konsentrasi spermatozoa total. bergerak melingkar dan sperma yang tidak bergerak sama sekali. Spermatozoa yang mati dan berada dalam bidang hitung kamar Neubauer dapat dihitung. Perbedaannya terletak pada cairan pengencer yang digunakan. e) Abnormalitas Spermatozoa Ketidaknormalan bentuk spermatozoa dalam suatu contoh semen perlu diketahui karena tingkat abnormalitas tersebut berkaitan erat dengan tingkat kesuburan (fertilitas) dari pejantan yang ditampung semennya. pipih atau tidak beraturan) Bentuk-bentuk abnormalitas sekunder meliputi :  Kepala pecah  Ekor putus (pada bagian leher atau bagian tengah)  Ekor melipat. setelah keluar dari tubuh ternak serta akibat pengolahan semen. Metode ini menggolongkan sperma yang bergerak ditempat.

Maka tingkat abnormalitas spermatozoa dalam contoh semen dapat diketahui dengan rumus : Abnormalitas spermatozoa = B x 100 % A+B Semen sapi umumnya mengandung sperma abnormal sekitar 5 – 35%. Semen untuk program inseminasi buatan sebaiknya tidak mengandung spermatozoa abnormal lebih dari 20%. Dengan demikian akan dicapainya tujuan program inseminasi buatan yaitu akan meningkatkan jumlah ternak betina yang dapat dikawini oleh seekor pejantan unggul karena setiap ejakulat mampu menginseminasi sejumlah besar betina. penempatan pejantan pada tempat terlindung serta memandikan pejantan dengan air dingin sedikitnya akan mengurangi efek cekaman panas. misalkan A sel dan yang berbentuk abnormal. Ini terbukti dari banyaknya jumlah spermatozoa abnormal dalam ejakulat semen yang dikoleksi selama periode tersebut di atas. Cara penentuan abnormalitas spermatozoa dengan metode pewarnaan diferensial dengan meneteskan satu tetes contoh semen di atas gelas objek. Babi 10 – 30 %. Amati sebanyak kurang lebih 200 sel spermatozoa. maka semen dapat diencerkan dan dipreservasi untuk dapat disimpan beberapa lama. Kemudian ditetesi dengan larutan warna eosin-negrosin.stress). . Lakukan pencampuran dan lakukan prosedur seperti pada gambar 3. 2. Adapun tujuan dilakukannya pengenceran semen adalah dalam rangka untuk memperbesar volume semen serta menurunkan kandungan spermatozoa dalam volume tertentu sehingga akan lebih banyak dosis inseminasi yang dapat dibuat. yaitu melalui preparat pewarnaan diferensial yang telah diuraikan pada bagian penentuan motilitas spermatozoa. misalkan B sel. Selanjutnya dilakukan pengamatan di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 x 40 atau 10 x 100. Pengenceran Untuk mencapai tujuan program inseminasi buatan. Adapun cara untuk evaluasi abnormalitas spermatozoa dapat dilakukan dengan cara konvensional teknik staining (staining techniques) untuk mengukur jumlah sperma abnormal. Kuda 10 – 40 % dan Ayam 5 – 15 %. Hitunglah jumlah spermatozoa yang bentuknya normal. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa periode temperatur lingkungan yang tinggi yang dikombinasikan dengan kelembaban lingkungan tinggi akan menyebabkan pejantan steril dalam waktu 6 minggu. Domba 5 – 20%.2. Untuk mengurangi problem cekaman panas.

Mengandung unsur-unsur yang hampir sama sifat fisik dan kimiawi dengan semen 3. Adapun syaratsyarat Pengencer adalah : 1. dapat dipakai sebagai sumber energi bagi sperma. Mempertahankan tekanan osmotik dan keseimbangan elektrolit yang sesuai 5. Melindungi spermatozoa terhadap cold shock 3. Selain itu Kuning telur dan air susu yang mengandung lipoprotein dan lecithin dapat melindungi sperma terhadap cold shock. Pengencer merupakan suatu bahan pelindung sperma yang mengandung beberapa zat hidrat arang sederhana yang berfungsi melindungi spermatozoa dari cekaman dingin atau cold shock yang tiba-tiba. Murah. Memberikan kemungkinan penilaian sperma setelah pengenceran . Untuk memperpanjang daya hidup dan daya fertlilitas spermatozoa maka dapat dilakukan pengawetan atau preservasi semen. Secara umum fungsi pengencer adalah : 1. Menyediakan zat-zat makanan sebagai sunber energi bagi spermatozoa 2. Mempertahankan dan tidak membatasi daya fertilitas spermatozoa 5. dan mampu memelihara spermatozoa dari cekaman dingin (cold shock). Pengawetan semen pada temperatur dibawah titik beku air memerlukan bahan lain yang mampu melindungi spermatozoa karena cekaman akibat perubahan tekanan osmotik larutan (hypertonic stress) dan melindungi sperma akibat pembentukan kristal es pada saat pembekuan. sehingga semen dapat dipakai dalam waktu yang lebih lama. Semen sapi yang fertil dan tidak diencerkan dapat dipakai untuk keperluan IB dalam kurun waktu 24 – 36 jam setelah penampungan. Memperbanyak volume semen Beberapa zat hidrat arang sederhana seperti glukosa. bahan nutrisi bagi kelangsungan hidup sperma. Tidak mengandung bahan toksik (racun) 4. sederhana dan mudah dibuat 2. Menyediakan suatu penyanggah untuk mencegah perubahan pH sebagai akibat pembentukan asam laktat dari hasil metabolisme spermatooa 4. Pengawetan semen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pertama untuk penyimpanan singkat pada tempeartur 5oC dan cara kedua untuk penyimpanan semen dalam jangka waktu tidak terbatas yaitu pada temperatur -196oC.Pengencer semen merupakan larutan isotonis (memiliki tekanan osmotik yang sama dengan plasma darah) yang mengandung bahan-bahan yang bersifat buffer (memelihara larutan dari perubahan pH).

harus ditingkatkan a. Efisiensi penggunaan semen pajantan-pejantan unggul baik yang masih sehat maupun cacat sepanjang tahun b. Selain itu terbentuk pula bahan terlarut yang tidak bersatu dengan kristalkristal es tersebut melainkan berakumulasi dan menjadi pekat. Dihasilkannya semen yang tidak tahan terhadap pembekuan (10-20 %) b.3. Problema Pembekuan Semen Dalam pelaksanaan pembekuan semen terdapat dua problema yang menyebabkan penurunan kualitas spermatozoa segera setelah dibekukan. Kedua problema tersebut adalah : a. Memungkinkan perkawinan pejantan-pejantan unggul untuk daerah luas d. Kesehatan pejantan tidak dipertahankan b. Dengan terbentuknya kristalkristal es maka akan berakibat terjadinya penumpukan elektrolit dan bahan terlarut lainnya di dalam larutan atau di dalam sel. Biaya transportasi relatif murah Sedangkan kerugian dilakukannya pembekuan semen adalah : a. Perubahan intraseluler akibat pengeluaran air akibat adanya pembentukan kristalkristal es Pengaruh cold shock terjadi pada sel yang dibekukan. Biaya produksi relatif mahal c. Kristal-kristal es intraseluler tersebut . Cold shock b. Hal ini akan berakibat larutan yang dibekukan dalam hal ini air akan membeku dan membentuk kristalkristal es. Keuntungan dan Kerugian Semen Beku Ada beberapa keuntungan dengan dilakukannya pembekuan semen. Membatasi pemakaian jumlah pejantan c. yaitu : a. sehingga dosis IB b. Mengatasi hambatan jarak dan waktu c.2. Rata-rata 50 % spermatozoa mati pada proses pembekuan. Memungkinkan dipersempitnya dasar genetik suatu bangsa tertentu B. sebagai akibat adanya penurunan temperatur saat proses pembekuan berlangsung. Sedangkan adanya pembentukan kristal-kristal es adalah disebabkan dengan adanya proses pembekuan tersebut maka akan terjadi fenomena pengeringan fisik. Pembekuan Semen A.

Keuntungan lain. sperma Sapi banyak mengalami kerusakan pada suhu kristis antara . dinding sel sangat permeabel terhadap grycerol.ternyata dapat merusak spermatozoa secara mekanik. Pada saat pencampuran. Dengan demikian secara tidak langsung dapat menghambat pengrusakan sel secara mekanik.5oC dan – 30oC (rataan pada suhu -17oC).0 – 7.6 % Volume. sebaiknya pada temperatur 4 – 5oC. dengan cara meneteskan tetes demi tetes ke dalam larutan semen tersebut. telah dikenal dengan cara proses Gliserolisasi. Secara fisiologik. Berdasarkan berbagai penelitian. sedangkan dalam pengencer air susu adalah 10%. Setelah itu dapat dikocok dengan hati-hati. menurunkan konsentrasi elektrolit intraseluler dan mengurangi daya kerusakan terhadap spermatozoa. Dosis penggunaan glycerol sebagai bahan aditive terhadap pengencer berbedabeda tergantung jenis pengencer. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan glycerol dapat memodifisir kristal kristal es yang terbentuk di dalam medium sewaktu pembekuan. Dosis glycerol untuk pengencer sitrat kuning telur berkisar antara 7. Pemecahan problem pembekuan Untuk mengurangi ataupun memecahkan problem dalam proses pembekuan.1. Proses penambahan pengencer ke dalam larutan semen juga memberikan efek negatif. Glycerol yang memasuki sel akan menggantikan sebagian air yang bebas dan mendesak keluar elektrolit-elektrolit. Pada proses penambahan glycerol sebaiknya dicampurkan dahulu dengan setengah volume pengencer sampai mencapai konsentrasi dua kali konsentrasi akhir. dan selanjutnya ditambahkan ke dalam larutan semen yang sebelumnya telah dilarutkan ke dalam setengah volume larutan pengencer. karena itu diperlukan waktu yang disebut Equilibrasi. dimana glycerol berdifusi. menembus spermatozoa. hal ini disebabkan spermatozoa belum dapat menyesuaikan diri dengan pengencer. C. Selain itu konsentrasi elektrolit yang berlebihan akan dapat menyebabkan larutnya selubung lipoprotein dinding sel sperma dan apabila saat pencairan kembali semen beku (Thawing) untuk proses inseminasi maka permeabilitas membran sel akan berubah dan menyebabkan kematian sel spermtozoa. Penambahan Glycerol atau glycerin ke dalam medium dapat mengatasi sebagian besar problem pembekuan tersebut. ternyata bahwa glycerol jugadapat digunakan oleh spermatozoa untuk aktivitas metabolisme oksidatif. Waktu Equilibrasi .

Perhitungan kandungan sperma motil (KSM) dalam setiap dosis inseminasi harus digandakan atau dua kali lipat karena untuk mengantisipasi kematian atau kerusakan spermatozoa selama proses pembekuan dan pencairan kembali (thawing) semen beku tersebut sebelum diinseminasikan. Penurunan suhu di dalam methanol diatur melalui thermoelemen. Pembekuan Semen di dalam Straw Semen yang diawetkan dalam bentuk Straw dan disimpan dalam gas Nitrogen cair (N2 cair) memiliki ketahanan tak terbatas. bangsa. . E. semen ditampung melalui prosedur standart dengan menggunakan Vagina Buatan. Selanjutnya bejana ditempatkan dibawah mesin pembeku dan dilakukan pengaliran Nitrogen cair ke dalam bejana tersebut. D. Jumlah spermatozoa per dosis antara 40 – 60 Juta sel. 2. Pembekuan Semen di dalam Ampul Dalam proses pembekuan semen di dalam Ampul. semen tersebut diisikan ke dalam ampul-ampul. Pada proses pembekuan semen tersebut merupakan kelanjutan dari pembuatan semen cair dengan modifikasi pada saat persiapannya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa semen harus berada di dalam pengencer dengan atau tanpa glycerol selama kurang lebih 4 Jam pada suhu 5oC. dan individu pejantan. yaitu : 1. dengan kadar glycerol dalam pengencer semen adalah 7%. Di Pusat Inseminasi Buatan di Neustadt an der Aisch Jerman terdapat mesin khusus pengisian semen ke dalam ampul. Dan selanjutnya ampul disimpan dalam container penyimpanan sebelum didistribusikan. Pengencer harus ditambahkan agen krioprotektan untuk mengurangi kerusakan sperma pada saat proses penurunan suhu.adalah waktu yang diperlukan spermatozoa sebelum permbekuan untuk menyesuaikan diri dengan pengencer sehingga saat pembekuan kematian spermatozoa yang berlebihan dapat dihindari. Waktu equilibrasi berbeda-beda tergantung jenis. Setelah dilakukan pengencer. Selanjutnya diencerkan dengan pengencer TRIS kuning telur dan ditambahkan antibiotik dan 6% Glycerol. Prosedur selanjutnya adalah tahap pembekuan yakni ampul-ampul disimpan pada suhu 5oC dalam proses ekuilibrasi selama 8 – 18 Jam. Kemudian dimasukkan ke dalam bejana berisi methanol pada suhu 5oC. Bila telah dicapai suhu -50oC methanol dihisap ke dalam bejana penampung. Agen krioprotektan yang umum digunakan adalah Glycerol.

Kemudian sambungkan ujung straw yang memiliki sumbat kapas dengan selang plastik penghisap. Proses adaptasi tersebut disebut Equilibrasi. Sebelum memasuki proses pembekuan (penurunan suhu ke – 196oC) spermatozoa harus menjalani proses adaptasi untuk memasuki suhu yang lebih dingin. Proses Equilibrasi dilakukan pada suhu 5 C selama 2 – 4 Jam Langkah-langkah pembuatan semen beku adalah sebagai berikut : 1. yakni: a) Ukuran straw lebih pendek tetapi volume lebih besar (0. Pengemasan Semen (Filling and Sealing) Kemasan Straw untuk semen beku yang selama ini banyak digunakan adalah model IMV Perancis dengan volume tiap straw sebesar 0. d) Celupkan ujung straw yang bebas ke dalam cawan plastik yang berisi semen cair dan biarkan cairan semen memasuki straw sampai penuh e) Tutup ujung bebas straw dengan tepung polyvinyl alcohol atau dijepit dengan menggunakan plastic sealer (alat khusus untuk merekat plastik) Selain kemasan model Perancis.3.25 ml. Jerman. c) Hidupkan pompa penghisap. Metode Mini Tub memiliki perbedaan yang mendasar dibandingkan dengan model Perancis.50 ml) b) Straw ditutup dengan bola metal pada kedua ujungnya c) Pencampuran semen dengan pengencer dilakukan satu tahap d) Gliserolisasi dan pengemasan dilakukan pada suhu kamar e) Proses equilibrasi dilakukan setelah pengemasan . Pengemasan semen ke dalam straw dilakukan di dalam lemari es agar temperaturnya tetap pada 5oC. Kemasan model ini memerlukan perlengkapan yang lebih sederhana.50 ml/straw dari Mini Tub. Pengenceran Semen 2. atau di atas meja khusus (cool top) yang suhunya diatur pada 5oC. Ujung selang plastik yang lain disambungkan dengan pompa penghisap b) Tuangkan semen dari beaker glass ke dalam cawan plastik khusus untuk pengisiam straw. praktis dan juga lebih murah. akhir-akhir ini mulai banyak digunakan kemasan straw model Landshut dengan volume 0. a) Susun straw dalam rak straw.

Ulangi penambahan ¼ volume pengencer dari Beaker glass B setiap 15 menit sampai seluruh pengencer dalam Beaker glass B habis. tempatkan kotak logam pada bagian dasarnya. a) Siapkan kotak styrofoam. Aduk perlahan-lahan hingga homogen.1 ml dan diganti dengan 19. 4.3. Set elah itu dicelupkan (direndam) dalam gas Nitrogen cair di dalam Container. Pindahkan semen yang telah tercampur tersebut ke dalam Beaker glass A dan tutup kembali dengan aluminium foil e) Masukkan Beaker glass A dan B ke dalam lemari es yang bersuhu 5oC.1 ml Glycerol (sama dengan 7 % dari 17 ml) d) Campurkan sedikit demi sedikit pengencer dalam Beaker glass A dengan 3 ml semen. biarkan selama 2 – 4 Jam pada suhu tersebut. Selama periode tersebut spermatozoa di dalam Beaker glass A mengalami proses equilibrasi g) Setelah melewati proses equilibrasi. Proses Gliserolisasi memerluka waktu selama 45 menit. Persiapan Pengencer dan Pengenceran a) Siapkan dua buah Beaker glass (50 ml) b) Siapkan 17 ml larutan pengencer (Natrium Sitrat Kuning telur atau Tris Kuning telur). Tahap pertama melalui penguapan semen oleh uap nitrogen cair. Tutup kedua Beaker glass dengan aluminium foil c) Pengencer dalam Beaker glass B diambil sebanyak 19. Pembekuan Semen Penurunan suhu semen dari 5oC ke – 196oC dilakukan secara bertahap. Pengencer tersebut dibagi menjadi dua bagian masingmasing 8. Atur agar jangan sampai bertumpuk c) Tuangkan 2.5 ml dan dimasukkan ke dalam Beaker glass yang terpisah (Beaker glass A dan B). Kemudian rak besi diberdirikan di atas kotak logam b) Susun straw di atas rak besi.5 liter gas Nitrogen cair ke dalam kotak logam secara hatihati menggunakan corong plastik besar yang disambung dengan selang plastik. Proses penambahan pengencer dalam Beaker glass B (mengandung Glycerol) ke dalam larutan semen dalam Beaker glass A disebut proses Gliserolisasi. . f) Setelah suhu larutan semen mencapai 5oC. tambahkan ¼ volume pengencer dari beaker glass B ke dalam Beaker glass A.

Dalam setiap goblet dimasukkan 15 buah mini goblet yang masing-masing memuat 14 buah straw. Container tersebut diisi dengan larutan Nitrogen cair (N2) dengan temperatur . dan amati daya hidupnya. Penyimpanan dan Pengangkutan semen Untuk penyimpanan semen beku straw.000 semen beku ampul atau straw. yang berjarak sekitar 3 – 5 cm dari permukaan cairan. Goblet adalah suatu silinder atau tabung plastik yang mempunyai dasar yang tidak tembus cairan dengan ukuran kurang lebih setengah panjang canister. Kadang-kadang tidak digunakan mini goblet. Container merupakan bejana vakum yang umumnya terdiri dari bahan baja atau aluminium dengan dinding berisi ruang vakum dan isolasi yang ketat dengan ukuran yang berbagai ukuran sesuai dengan kebutuhan. Rendam dalam air hangat (38oC) selama 30 detik. Gunting bagian ujung straw dan teteskan isinya pada gelas objek yang bersih. Pada salah satu sisi canister diberi gagang pengait yang berfungsi sebagai pegangan dan memungkinkan identifikasi semen serta pengeluaran dan penyimpanan melalui mulut container.000 – 100. 5. Canister merupakan suatu silinder logam dengan bagian bawah atau alasnya tertutup berfungsi untuk menempatkan goblet yang berisi semen beku straw. straw ditempatkan di dalam tabungtabung plastik (goblet) dan kemudian beberapa goblet ditempatkan di dalam canister dan disimpan di dalam container berisi larutan N2 Cair.Penuangan gas Nitrogen dilakukan melalui sisi dalam kotak styrofoam agar gas cair tersebut tidak mengenai straw d) Biarkan gas Nitrogen menguapi straw. Suhu uap Nitrogen saat itu antara -80oC sampai -100oC e) Masukkan straw-straw yang telah membeku ke dalam goblet dengan menggunakan pinset. Dan kemudian goblet-goblet tersebut ditempatkan di dalam canister f) Masukkan canister ke dalam container yang sudah berisi Nitrogen cair. selama 7 – 8 menit. Satu container di Pusat IB degan ukuran besar dapat memuat 45. maka satu goblet dapat menampung sekitar 100 straw. ambil satu straw dengan menggunakan pinset. Tutup container tersebut g) Setelah semen terrendam selama 30 menit.

dikeluarkan dari dalam container dan haruskan dicairkan kembali sebelum didesposisikan ke dalam organ reproduksi betina pada saat inseminasi. Metode Pencairan kembali semen beku (Thawing) Semen beku yang akan dipakai. maka dapat disimpan dalam waktu lama bahkan hingga bertahun-tahun sebelum didistribusikan ke peternak atau ke daerah-daerah. Kemudian straw dikeluarkan dari dalam bejana.196oC.. 6. Proses pencairan kembali biasa disebut thawing dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan memasukkan ke dalam bejana berisi air dengan temperatur 40 C selama 35 – 40 detik. dikeringkan dan digenggam selama 35-40 detik. Bila semen beku telah disimpan dalam container tersebut. .

Kertas Saring 5.III ALAT. Evaluasi semen 1. Mikroskop 7. 2. Mikroskop C. Kamar Thoma [Neuebauer] B. Kertas Saring 5. Gelas Objek (Object glass) 2. Pembakar Bunsen 6. Tabung penampung 3. 1. Bahan Semen Domba Bahan Pengencer (TRIS. Tabung penampung 3.2. Mikroskop 6. Batang Pengaduk 4. Kuning Telur.1. Alat A. 3. Gelas Beker (Becker glass) 2. Gelas Penutup (cover glass) 3. Pengencer Semen 1. Pembekuan Semen 1. Citrat. Spuit 4. BAHAN DAN PROSEDUR KERJA 3. Gelas Beker (Becker glass) 2. Susu) Gliserol (Bahan Cryoprtectant) . Spuit 4. Pipet 5. Straw/Tabung plastik (5 ml) 3. Mesin Pembeku Fujihira 7.

seperti warna merah akibat kontaminasi darah.3. atau hijau akibat kontaminasi feces atau nanah 2. Pengamatan makroskopis a) Volume semen = dengan melihat skala pada ampul semen b) pH = pH semen diukur dengan menggunakan kertas lakmus atau digital pHmeter dengan cara memasukan kertas lakmus / probe digital pH-meter ke dalam semen c) Konsistensi semen = diamati dengan cara memiringkan ampul semen lalu dengan segera menegakkannya kembali. Pengamatan Mikroskopis a) Motilitas merupakan daya gerak spermatozoa yang dinilai segera setelah penampungan semen b) Gerakan Masa : Gerakan masa spermatozoa dalam suatu kelompok dapat dievaluasi dengan adanya kecenderungan bergerak bersama-sama ke satu arah dan membentuk gelombang-gelombang yang tebal dan tipis. . Timbang 2. bergerak cepat atau lamban tergantung dari konsentrasi sperma hidup yang terkandung di dalamnya. 5. B. Pengenceran Bahan Pengener dan Cara Pembuatan Semen Cair 1. Apabila sebaliknya maka konsistensinya rendah (encer) d) Warna = Tidak terdapat kelainan warna pada semen.9 gram Natriumsitratdihidrat dan 0. maka konsistensinya tinggi.4.8 gram kristal Glukos. Evaluasi Semen 1. NaCl Fisiologis Antibiotika [Streptomycin dan Penicillin] 3. Penyanggah Kuning telur (Egg Yolk Sodium Citrat Glucose/EYSCG) a) Cara pembuatan Buffer   Sediakan labu erlenmeyer (100 ml). Apabila jatuhan semennya lambat. Prosedur Kerja A.

Pecahkan telur tersebut dengan jalan memotong kulitnya menjadi dua bagian. 0. Simpan larutan tersebut untuk digunakan. Kocok sampai semua kristal Natriumsitrat larut. b) Cara menyediakan Egg Yolk     Telur ayam dicuci sampai bersih dari kotoran Keringkan dengan tissue Bilas dengan kapas yang telah dibasahi alkohol 70%. Pengadukan lakukan dengan hati-hati agar tidak terbentuk busa yang berlebihan 4) Tambahkan 100. Masukkan ketiga bahan . Pindahkan larutan ke dalam labu erlenmeyer dan tutup mulut labu dengan aluminium foil atau parafin film. Masukkan ke dalam labu ukur 100 ml.634 gram kristal Tris (hydroxymethyl) aminomethane.     Egg yolk dipindahkan ke atas kertas isap steril Egg yolk diguling-gulingkan sehingga selaput vitelinnya bersih dari albumin Pindahkan Egg yolk ke kertas isap yang lain yang steril Pecahkan selaput vitelinnya dan bagian egg yolk dialirkan pada beker gelas yang kecil (20 ml)  Egg yolk siap digunakan c) Cara membuat extender (pengencer) EYSCG 1) Siapkan 80 ml larutan buffer (Natrium sitrat glukosa) dalam Beaker glass 100 ml 2) Tuangkan 20 ml kuning telur ke dalam beaker glass berisi Natrium sitrat tersebut.99 gram Asam Sitra monohidrat. 6) Periksa pH 7) Pengencer Egg Yolk Sitrat siap digunakan d) Pembuatan pengencer Tris – Kuning Telur 1) Timbanglah 3. 3) Aduk hingga merata dengan menggunakan batang pengaduk gelas. Tambahkan aqubidestilata sampai mencapai volume 100 ml.50 gram kristal Glucosa dan 1.000 internasional unit (IU) Penicillin dan 100 mg Streptomycin ke dalam larutan Natrium sitrat Kuning Telur (1000 IU Penicillin dan 1 mg Streptomycin untuk setiap milliliter pengencer) 5) Tutup mulut beaker glass dengan aluminium foil. Tahan kuning telurnya pada salah satu potongan sedangkan putih telurnya (albumen) ditampung ditempat lain atau dibuang.

 Larutan pengencer Tris – kuning telur siap digunakan e) Cara pembuatan Semen Cair (Chilled Semen)  Lakukan pemeriksaan semen sampai diketahui :    Volume semen (V). kemudian aduk secara perlahan-lahan hingga homogen 4) Tambahkan 100. Simpan larutan tersebut dengan baik. Pindahkan larutan ke dalam labu Erlenmeyer 100 ml. 2) Siapkan 20 ml kuning telur 3) Siapkan 80 ml larutan Tris – fruktosa – asam sitrat dalam Beaker glass 100 ml.90 = 100 x 106 = 81 dosis Perhitumgan Volume pengencer dan Semen = Jumlah dosis x Volume inseminasi = 81 dosis x 0. untuk digunakan kemudian bila dipelrukan.u Penicillin dan 100 mg Streptomycin ke dalam larutan Narium sitrat kuning telur (1000 i. Tambahkan aquabidestilata steril sampai mencapai 100 ml. Tutup dengan aluminium foil atau paraffin film.50 ml . missal : 3 milyar sel/ml Motilitas semen (M).000 i. missal : 90 %  Tentukan Kandungan Sperma Motil (KSM) dalam setiap dosis inseminasi. missal : 0.00 x 3000 x 106 x 0. missal : 3 ml Konsentrasi Sperma Total (KT). Penicillin dan 1 mg Streptomycin untuk setiap milliliter pengencer) 5) Tutup Beaker glass menggunakan aluminium foil atau paraffin film.tersebut ke dalam labu ukur 100 ml yang bersih. Campurkan 20 ml kuning telur. missal : 100 juta sel  Tentukan volume inseminasi (volume semen untuk setiap dosis inseminasi.50 ml) V x KT x M Perhitungan Jumlah Dosis = KSM 3.u.

= 40. Pengenceran Semen 2. dan pindahkan hasil bilasan tersebut ke dalam labu Erlenmeyer yang telah berisi semen o Periksa daya hidup spermatozoa dala semen hasil pengencenran dengan cara menyiapkan satu buag gelas objek bersih. kemudian amati di bawah mikroskop. Pengemasan Semen (Filling and Sealing) . o Periksa setiap hari. Teteskan satu tetes semen cair di atasnya.50 ml Perhitungan Volume Pengencer yang harus ditambahkan : = Volume Pengencer dan Semen) – (Volume Semen) = 40. tutup dengan cover glass (kaca penutup). karena kapasitas tabung penampung semen hanya o Pindahkan larutan semen dari tabung penampung semen ke dalam labu Erlenmeyer bersih dengan hati-hati o Bilas beberapa kali tabung penampung semen menggunakan sisa pengencer. o o Tutup labu Erlenmeyer tersebut dengan aluminium foil atau paraffin film Simpan semen cair dalam lemari es dengan temperatur 5C. Semen cair tersebut dapat tahan sampai waktu 72 Jam.50 ml – 3. Aduk perlahanlahan dan hati-hati hingga homogen. pH dan gerakan individu (%) Pembekuan Semen C. sekitar 12 – 15 ml Lakukan penambahan pengencer sampai volume 10 ml.00 ml = 37. Langkah-langkah pembuatan semen beku adalah sebagai berikut : 1.50 ml  Cara pencampuran Semen dan Pengencer adalah sebagai berikut : o Siapkan larutan pengencer yang akan digunakan dengan volume yang telah ditentukan berdasarkan perhitungan di atas o o Siapkan labu Erlenmeyer 100 ml Tambahkan sedikit demi sedikit pengencer semen dengan menggunakan pipet tetes ke dalam tabung semen melalui dinding tabung.

Pengemasan semen ke dalam straw dilakukan di dalam lemari es agar temperaturnya tetap pada 5C.25 ml. Kemasan model ini memerlukan perlengkapan yang lebih sederhana.50 ml/straw dari Mini Tub. Ujung selang plastik yang lain disambungkan dengan pompa penghisap     Tuangkan semen dari beaker glass ke dalam cawan plastik khusus untuk pengisiam straw Hidupkan pompa penghisap Celupkan ujung straw yang bebas ke dalam cawan plastik yang berisi semen cair dan biarkan cairan semen memasuki straw sampai penuh Tutup ujung bebas straw dengan tepung polyvinyl alcohol atau dijepit dengan menggunakan plastic sealer (alat khusus untuk merekat plastik) Selain kemasan model Perancis. atau di atas meja khusus (cool top) yang suhunya diatur pada 5C.5 ml dan dimasukkan ke dalam Beaker glass yang terpisah (Beaker glass A dan B). Jerman. akhir-akhir ini mulai banyak digunakan kemasan straw model Landshut dengan volume 0. Pengencer tersebut dibagi menjadi dua bagian masing-masing 8. praktis dan juga lebih murah. Tutup kedua Beaker glass dengan aluminium foil . Metode Mini Tub memiliki perbedaan yang mendasar dibandingkan dengan model Perancis.  Susun straw dalam rak straw. Kemudian sambungkan ujung straw yang memiliki sumbat kapas dengan selang plastik penghisap.Kemasan Straw untuk semen beku yang selama ini banyak digunakan adalah model IMV Perancis dengan volume tiap straw sebesar 0. yakni: o Ukuran straw lebih pendek tetapi volume lebih besar (0.50 ml) o Straw ditutup dengan bola metal pada kedua ujungnya o Pencampuran semen dengan pengencer dilakukan satu tahap o Gliserolisasi dan pengemasan dilakukan pada suhu kamar o Proses equilibrasi dilakukan setelah pengemasan 3. Persiapan Pengencer dan Pengenceran   Siapkan dua buah Beaker glass (50 ml) Siapkan 17 ml larutan pengencer (Natrium Sitrat Kuning telur atau Tris Kuning telur).

tempatkan kotak logam pada bagian dasarnya. Setelah suhu larutan semen mencapai 5C.19 ml dan diganti dengan 1. Dan kemudian goblet-goblet tersebut ditempatkan di dalam canister . Setelah itu dicelupkan (direndam) dalam gas Nitrogen cair di dalam Container. Ulangi penambahan ¼ volume pengencer dari Beaker glass B setiap 15 menit sampai seluruh pengencer dalam Beaker glass B habis.5 liter gas Nitrogen cair ke dalam kotak logam secara hati-hati menggunakan corong plastik besar yang disambung dengan selang plastik. Pembekuan Semen Penurunan suhu semen dari 5C ke . biarkan selama 2 – 4 Jam pada suhu tersebut. Tahap pertama melalui penguapan semen oleh uap nitrogen cair. Proses Gliserolisasi memerluka waktu selama 45 menit.196C dilakukan secara bertahap. tambahkan ¼ volume pengencer dari Beaker glass B ke dalam Beaker glass A.  Pengencer dalam Beaker glass B diambil sebanyak 1. Aduk perlahan-lahan hingga homogen. Pindahkan semen yang telah tercampur tersebut ke dalam Beaker glass A dan tutup kembali dengan aluminium foil  Masukkan Beaker glass A dan B ke dalam lemari es yang bersuhu 5C. 4. Selama periode tersebut spermatozoa di dalam Beaker glass A mengalami proses equilibrasi  Setelah melewati proses equilibrasi. Suhu uap Nitrogen saat itu antara -80C sampai -100C  Masukkan straw-straw yang telah membeku ke dalam goblet dengan menggunakan pinset. Proses penambahan pengencer dalam Beaker glass B (mengandung Glycerol) ke dalam larutan semen dalam Beaker glass A disebut proses Gliserolisasi.19 ml Glycerol (sama dengan 7 % dari 17 ml) Campurkan sedikit demi sedikit pengencer dalam Beaker glass A dengan 3 ml semen. Atur agar jangan sampai bertumpuk Tuangkan 2. Penuangan gas Nitrogen dilakukan melalui sisi dalam kotak styrofoam agar gas cair tersebut tidak mengenai straw  Biarkan gas Nitrogen menguapi straw. yang berjarak sekitar 3 – 5 cm dari permukaan cairan.    Siapkan kotak styrofoam. Kemudian rak besi diberdirikan di atas kotak logam Susun straw di atas rak besi. selama 7 – 8 menit.

dan amati daya hidupnya. Masukkan canister ke dalam container yang sudah berisi Nitrogen cair. Rendam dalam air hangat (38C) selama 30 detik. . Gunting bagian ujung straw dan teteskan isinya pada gelas objek yang bersih. ambil satu straw dengan menggunakan pinset. Tutup container tersebut  Setelah semen terrendam selama 30 menit.

Warna 3) 3. Pengamatan Makroskopis 1) 1. Bau 4) 4. Ph : 0. Kekentalan 5) 5. Volume semen 2) 2. Hasil A.1. Pengamatan Mikroskopis 1) Gerakan Massa Gerakan massa bernilai 3 (Cukup) 2) Gerakan Individu Pergerakan individu ke depan (progresif 3) Konsentrasi Sperma hidup .IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Evaluasi Semen A.4 ml : Putih susu : Anyir+bau domba : cukup (3) : 7 (netral) B.

85 Ph pengencer 11 Tidak ada gerakan massa Gerakan individu secera progresif Mortalitas semen beku sendiri 90% Mortalilas semen BIB 60 % Semen BIB AI 008 190505 . Pengenceran Jumlah dosis 9 dosis Volume pengencer yang ditambahkan 1.85 Ph pengencer 11 Semua spermatozoa mati C.Sperma mati = 12 Sperma hidup = 25+ 37 Persentase sperma mati Peraentase sperma hidup = 12/37 x 100% = 32. Pembekuan Semen dan Evaluasi Semen Beku Jumlah dosis 9 dosis Volume pengencer yang ditambahkan 1.4% = 32/37 x 100% B.

Warna coklat muda atau kehijauan menunjukan kemungkina terkontaminasi dengan feces. Bau Bau semen tercium bau anyir dan seperti bau domba itu sendiri karena memang karakteristik dari dari bau semen adalah seperti hewan yang menghasilkan semen itu sendiri. Semen yang berwarna merah gelap sampai merah muda menandakan adanya darah segar dalam jumlah yang berbeda dan berasal dari saluran kelamin urethra atau penis. Warna kecoklat-coklatan menandakan adanya darah yang telah terdekomposisi. Volume dari semen tersebut sebannyak 0. jika kita miringkan kemudian kita kembalikan pada posisi semula maka pergerakannya akan lambat untuk kembali pada posisi sebelumnya.4. 4.2. 3. Warna terseebut merupakan warna yang normal karena jika berwarna berwarna hijau kekuningan semen tersebut diindikasikan mengandung Pseudomonas aeruginosa. Volume Dari hasil pengamatan maka kita bisa melihat volume dari semen yang akan menjadi bahan untuk praktikum kali ini. bekuan dan kepingan-kepingan di dalam semen menunjukkan adanya nanah yang umumnya berasal dari kelenjar-kelenjar pelengkapatau atau dari ampulae. 2. Berbeda dengan semen yang kental.2 ml.4 ml. Semen yang didapat ini bukan merupakan hasil penampungan sendiri yang dilakukan mahasiswa tetapi hasil penampungan oleh teknisi lab. Semen domba mempunyai volume yang rendah jika dibandingkan babi dan kuda tetapi mempunyai konsentrasi tinggi sehingga memperlihatkan warna putih susu. Pembahasan Evaluasi Semen A. Reproduksi Ternak sehingga kita tidak tahu berapa volume yang dihasilkan oleh domba tersebut dalam sekali ejakulasi. Volume semen dari domba berkisar 0. Gumpalan-gumpalan.8-1. Kekentalan (Viskositas) Semen yang kita nilai atau periksa mempunyai viskositas atau kekentalan yang kurang karena pada saat dimiringkan. Warna Warna dari semen yang kelompok saya amati berna putih susu. . dan kita kembalikan pada posisi semula semen tersebut kembali seperti pada keadaan semula dengan pergerakan sedikit cepat. Evaluasi Makroskopis 1.

4 ml . Pengenceran Vsemen = 0. Dari hasil pengamatan secara mikroskopis gerakan massa dari sperma bernilai 3 atau cukup (50-80% sperma terlihat bergerak progresif dan menghasilkan gerakan massa. B. Gerakan Individu Gerakan individu pada sperma yang diamati adalah gerakan progresif atau gerakan maju ke depan. 5. dan kita kembalikan pada posisi semula semen tersebut kembali seperti pada keadaan semula dengan pergerakan sedikit cepat sehingga dapat duga bahwa konsentrasi dari sperma tersebut kurang. PH Setelah kertas lakmus dimasukkan ke dalam semen kemudian warnanya dibandingkan dengan deretan warna yang ada pada index PH didapat pada angka 7 yang berarti PH dari semen tersebut netral berbeda katika ada perubahan warna dari kertas lakmus yang dimasukkan ke dalam semen maka PH dapat asam atau basa. Konsentrasi ini merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas dari semen tersebut. bergerak cepat atau lambat tergantung dari konsentrasi dari sperma tersebut.Viskositas ini berhubungan dengan konsentrasi sperma yang ada dalam semen tersebut. Pada umumnya gerakan yang terbaik adalah gerakan progresif atau gerakan maju ke depan. Semakin kental maka konsentrasi sperma yang terkadung dalam semen semakin banyak dan kualitas semen tersebut semakin baik pula. ketika dimiringkan. dari penilaian makroskopis semen tersebut viskositasnya kurang. Namun ada juga gerakan yang lain yaitu gerakan melingkar dan gerakan mmundur. Gerakan Massa Spermatozoa dalam suatu kelompok mempunyai kecenderungan untuk bergerak bersama-sama ke suatu arah dengan yang membentuk gelombang-gelombang tebaltipis. Evaluasi Mikroskopis 1. Gerakan maju ke depan ini akan membantu sperma untuk mencapai sel telur yang ada di tuba fallopi sehingga ketika sperma yang melingkar dan bergerak mundur tidak akan sampai ketempat sel telur yang siap dibuahi dan akan mati sehingga tidak dapat berkompetisi dalam membuahi sel telur. Sesuai dengan penilaian kekentalan yang merupakan manifestasi dari konsentrasi sperma yang hidup tersebut. 2.

25 Volume pengencer yang ditambahkan = 2.288 dosis = 9 dosis Perhitumgan Volume pengencer dan Semen = Jumlah dosis x Volume inseminasi = 9 dosis x 0.13 .25 – 0.37 = 2.Mortalitas = 72% KT = 1.25 V x KT x M Perhitungan Jumlah Dosis = KSM 0.85 1.50 ml = 2.4 = 1.4 x 3 x 109 x 0.25 Volume pengencer yang ditambahkan = 2.85 = Buffer – 1.4 = 1.50 ml = 2.72 = 50 x 106 x 2 = 9.6 milyar/sel KSM = 50 juta Dosis = 0.48 =10 ml KT – 0.6 x 109 x 0.5 ml Setelah diamati di mikroskop tidak ada sperma yang hidup hal ini dikarenakan PH dari pengencer yang terlalu basa dengan PH 11 Pembekuan Perhitungan Jumlah Dosis 0.85 Kebutuhan Glyserol 7/100 x 1.288 dosis = 9 dosis Perhitumgan Volume pengencer dan Semen = Jumlah dosis x Volume inseminasi = 9 dosis x 0.25 – 0.85 = 0.72 = 50 x 106 = 9.4 x 1.1295 = 0.

Gerakan massa dari BIB lembang sedikit terlihat jika dibandingkan denga semen beku yang dibuat oleh sendiri 2. Gerakan individu Progresif dan gerakan mmundur 3. Semen Domba BIB Lembang AI 008190505 AI = Produksi tahun 2008 008 = produksi yang ke-8 19 = Bangsa domba 05 = tahun kelhiran 2005 05 = Kedatangan domba ke-5 Evaluasi 1. Jaltersebut dilakuakan untuk mengantisipasi spermatozoa tetap ada karena 50% spermatozoa alkan mati pada proses pembekuan semen.C. Mortalitas dari semen sebelum melakuakn pembekuan sebesar 90% namun setelah dilakukan pembekuan mortalitasnya menjadi 10% hal tersebut dikarenakan waktu equlibrasi yang terlalu singkat sehingga sperma mati ketika dimasukkan ke dalam N2 cair dengan suhu-192. Gerakan massa Tidak ada gerakan massa 2. Mortalitas Diperkirakan 90% Dalam melakukan pengenceran untuk pembekuan semen KSM dilipatgandakan. Gerakan individu yang tampak bergerak maju dan mundur dengan tingkat mortalitas 40% Dari hasil pengamatan semen beku yang dibuat sendiri mempunyai mortalitas lebih tinggi dibandingkan dengan semen yang berasal dari BIB lembang Hal tersebut dikarenakan penanganan semen dari BIBI lembang lebih baik dibandingkan dengan . Evaluasi Semen Beku Semen buatan sendiri 1. Abnormalitas = ada 23 bentuk abnormalitas yang terlihat yaitu ekor yang melilit dan benhkok serta ekor yang menyilang 4.

.buatan sendiri selain itu peralatan yang digunakan di laboratorium sangat sederhana waktu yang kurang memungkinkan.

sedangkan secara mikroskopis dengan melihat gerakan massa dan gerakan individu sperma tersebut 2. Secara Makroskopis seperti warna. PH dan volume semen. kekentalan. Evaluasi semen dapat dilakuakn secara makroskopis maupun mikroskopis. Dalam melakukan pengenceran dapat menggunakan bahan Natrium sitrat kuning telur maupun menggunakan Tris yang sudah ditambahkan penicillin dan streptomycin yang untuk mencegah kontaminasi bakteri 3. Kualitas dari semen beku BIB lebih baik dari pada semen buatan sendiri dikarenakan tingkat mortalitas semen buatan sendiri lebih besar dibandingkan mortalitas semen dari BIB . Pembekuan semen dilakuakan untuk mengawetkan semen yang mempunyai kualitas yang baik sehingga semen dapat disimpan dalam waktu yang lama untuk digunakan untuk Inseminasi buatan 4.V KESIMPULAN Dari hasil Pembahasan maka dapat disimpulkan 1. bau.

R. 1993.pdf?sequence=1 diakses pada tanggal 13 Mei 2012 jam 21.37 http://pustaka.15 diakses pada .unpad.ac.ub.ac. Penerbit Angkasa.pdf diakses pada tanggal 13 Mei 2012 jam 20.id/wpcontent/uploads/2009/03/pengaruh_jenis_pengencer_terha dap_motilitas. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak.deptan.go.id/fullteks/jitv/jitv141-6.ac.litbang.46 http://repository.DAFTAR PUSTAKA Toelihere.15 http://peternakan.ac.pdf diakses pada tanggal 29 April 2012 jam 17.ipb.pdf tanggal 13 Mei 2012 jam 20.id/daatje/files/2011/03/BAB-II-IB4.15 http://lppm.pdf diakses pada tanggal 13 April 2012 jam 20.id/bitstream/handle/123456789/45176/Jurnal%20Sains%20dan %20Teknologi%20Indonesia_Full%20text. M.unpad.id/wrp-con/uploads/2012/03/GATOT-CIPTADI. Bandung http://blogs.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful