P. 1
MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA

MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA

|Views: 1,044|Likes:
Published by Ady Sofan

More info:

Published by: Ady Sofan on May 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Latar Belakang
  • 1.2. Rumusan Masalah
  • 1.3. Tujuan
  • 2.1. Problema dan Jiwa Kegamaan
  • 2.2. Sikap Keagamaan dan Pola Tingkah Laku
  • 2.3. Sikap Keagamaan yang Menyimpang
  • 2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Keagamaan yang Menyimpang
  • 3.1. Kesimpulan
  • 3.2. Saran
  • 4. Apa pengaruh pendidikan kelembagaan terhadap jiwa keagamaan?
  • 5. Apa pengaruh pendidikan dimasayarakat terhadap jiwa keagamaan?

MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Psikologi agama merupakan cabang dari psikologi. Sebelum menjadi ilmu yang
otonom, psikologi agama memiliki latar belakang sejarah perkembangan yang cukup lama.
Karena itu psikologi agama dinilai sebagai cabang psikologi yang relative masih muda.
Perbedaan pendapat yang belatar belakangi perbedaan sudut pandang antara
agamawan dan para psikolog agama sempat menunda munculnya psikologi agama sebagai
disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Sehingga psikologi agama sebagai cabang psikologi baru
tumbuh sekitar penghujung abad ke-19, setelah sejumlah tulisan dan buku-buku yang menjadi
pendukungnya diterbitkan dan beredar.
Dalam usianya yang menjelang seabad ini tampaknya psikologi agama kian diterima
oleh berbagai kalangan termasuk para agamawan yang semula menggugat keabsahannya
sebagai disiplin ilmu yang otonom. Sejalan dengan hal itu, maka kemajuan dan
pengembangan psikologi agama di lapangan dinilai banyak membantu pemahaman terhadap
permasalahan keagamaan dalam kaitannya dengan tugas-tugas kependidikan.

Maka penulisan makalah ini membahas psikologi agama selain sebagai tugas
pendidikan juga untuk mempelajari sejarah perkembangan psikologi agama lebih jauh.

2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas timbul beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1) Bagaimana sejarah perkembangan psikologi agama?
2) Bagaimana metode dalam psikologi agama?
3) Bagaimana psikologi agama dalam Islam

3. Tujuan

Dari rumusan masalah tersebut bertujuan untuk:
1) Mengetahui sejarah perkembangan psikologi agama.
2) Mengetahui metode dalam psikologi agama.
3) Mengetahui psikologi agama dalam Islam.

PEMBAHASAN

1) Sejarah Perkembangan Psikologi Agama

Untuk mengetahui secara pasti kapan agama diteliti secara psikologi memang agak

sulit, sebab dalam agama itu sendiri telah terkandung didalamnya pengaruh agama terhadap

jiwa. Bahkan dalam kitab- kitab suci setiap agama banyak menerangkan tentang proses jiwa

atau keadaan jiwa seseorang karena pengaruh agama. Dalam Al Qur’an misalnya, terdapat

ayat- ayat yang menunjukkan keadaan jiwa orang- orang yang beriman atau sebaliknya,

orang- orang kafir, sikap, tingkah laku dan doa- doa. Disamping itu juga terdapat ayat- ayat

yang berbicara tentang kesehatan mental, penyakit dan gangguan kejiwaan serta kelainan

sifat dan sikap yang terjadi karena kegoncangan kejiwaan sekaligus tentang perawatan jiwa.

Perjalanan hidup Sidharta Gautama dari seorang putera raja Kapilawastu yang

bersedia mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang pertapa

menunjukkan bagaimana kehidupan batin yang dialaminya dalam kaitan dengan keyakinan

agama yang dianutnya. Proses perubahan arah keyakinan agama ini mengungkapkan

pengalaman keagamaan yang mempengaruhi diri tikih agama Budha ini. Sidharta Gautama

mengalami konversi agama, dari pemeluk agama Hindu menjadi pendakwah agama baru,

yaitu agama Budha. Ia kemudian dikenal Badha Gautama.Proses yang hampir serupa

dilukiskan pula dalam Al-Qur’an tentang cara Ibrahim as, memimpin ummatnya untuk

bertauhid kepada Allah. (QS 6:76-78). Hal ini juga dapat dijumpai dalam pendewasaan

bangsa Jepang terhadap Kaisar mereka, Mitos agama Shinto yang menempatkan Kaisar

Jepang sebagai keturunan Dewa Matahari (Amiterasu Omi Kami) telah pula mempengaruhi

sikap keberagamaan yang khas pada bangsa Jepang.

Psikologi sebagai ilmu baru lahir pada abad 18 Masehi meski akarnya

menhunjam jauh ke zaman purba. Dalam sejarah keilmuan Islam, kajian

tentang jiwa tidak seperti psikologi yang menekankan pada perilaku,

tetapi jiwa dibahas dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan, oleh

karena itu yang muncul bukan Ilmu Jiwa (`ilm an nafs), tetapi ilmu

Akhlak dan Tasauf. Meneliti keberagamaan seorang muslim dengan

pendekatan psikosufistik akan lebih mendekati realitas keberagamaan

kaum muslimin dibanding dengan paradigma Psikologi Barat.

Berdasarkan sumber Barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai

psikologi agama mulai populer sekitar akhir abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang

semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat

membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir dan mengemukakan perasaan

keagamaan (Robert H. Thouless: 1).

Menurut Thouless, sejak terbitnya buku The Varieties of Religius Experience tahun

1903, sebagai kumpulan dari materi kuliah William James di empat Universitas di

Skotlandia, maka langkah awal dari kajian psikologi agama mulai diakui para ahli psikologi.

Maka dalam jangka waktu tiga puluh tahun kemudian banyak buku-buku lain diterbitkan

sejalan dengan konsep-konsep yang serupa.

Di antara buku-buku tersebut adalah The Psychology of Religion karangan E.D

Starbuck yang mendahului karangan William James. Buku E.D. Starbuck yang terbit tahun

1899 ini kemudian disusul sejumlah buku lainnya seperti The Spiritual Life oleh George

Albert Coe, tahun 1900, kemudian The Belief in God and Immortality (1921) oleh J.H.

Leuba, dan oleh Robert H.Thouless dengan judul An Introduction to the Psycology of

Religion, tahun 1923, serta R.A. Nicholson yang khusus mempelajari mengenai aliran

Sufisme dalam Islam dengan bukunya Studies in Islamic Mysticism, tahun 1921.

Sejak itu kajian-kajian tentang psikologi agama tampaknya tidak terbatas pada

masalah-masalah yang menyangkut kehidupan keagamaan secara umum, melainkan pula juga

masalah-masalah khusus. Pembahasan tentang kesadaran beragama misalnya, dikupas oleh B.

Pratt dalam bukunya theReligious Consciousness, sedangkan Rudolf Otto membahas

sembahyang. Perkembangan beragama pun tidak luput dari kajian para ahli psikologi agama.

Piere Binet adalah salah satu tokoh psikologi agama awal yang membahas tentang

perkembangan jiwa keberagamaan. Menurut Binet, agama pada anak- anak tidak beada

dengan agama pada orang dewasa. Pada anak- anak dimana mungkin dialami oleh orang

dewasa, seperti merasa kagum dalam menyaksikan alam ini, adanya kebaikanyang tak

terlihat, kepercayaan akan kesalahan dan sebagian dari pengalaman itu merupakan fakta-

fakta asli yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan.

2) Metode dalam Psikologi Agama

Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode

penelitian ilmiah. Kajian dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan data yang

terkumpul dan dianalisis secara obyektif.

Dalam meneliti ilmu jiwa dalam agama menggunakan sejumlah metode, yang antara

lain dapat dikemukakan sebagai berikut :

Dokumen pribadi (personal document)

Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan

kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh informasi

mengenai hal dimaksud maka cara yang ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi

orang seorang. Dokumen tersebut mungkin berupa autobiografi, tulisan ataupun catatan-

catatan yang dibuatnya.

Dalam penerapannya dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau

teknik-teknik tertentu. Di antara yang digunakan adalah :

a) Teknik nomotatik

Nomotatik merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami tabiat atau

sifat-sifat dasar manusia dengan cara mencoba menetapkan ketentuan umum dan hubungan

antara sikap dan kondisi-kondisi yang dianggap sebagai penyebab terjadinya sikap tersebut.

Sedangkan sikap yang terlihat sebagai kecenderungan sikap umum itu dinilai sebagai

gabungan sikap yang terbentuk dari sikap-sikap indifidu yang ada di dalamnya (Philip G.

Ziambardo, 1979:294).

Pendekatan ini digunakan untuk mempelajari pebedaan-perbedaan indifidu. Dalam

penerapannya nomatik ini mengansumsikan bahwa pada diri manusia terdapat suatu lapisan

dasar dalam struktur kepribadian manusia sebagai sifat yang merupakan ciri umum

kepribadian manusia. Dalam kajian ini ditemukann bahwa individu memiliki sifat dasar yang

secara umum sama, perbedaan masing-masing hanya dalam derajat atau tingkatan saja.

Nomatik yang digunakan dalam studi kepribadian adalah mengukur perangkat sifat seperti

kejujuran, ketekunan dan kepasrahan sejumlah individu dalam suatu kelompok. Ternyata

ditemukan bahwa sifat-sifat itu ada pada setiap individu, namun jadi berbeda oleh hubungan

antara sifat itu ditampilkan dalam sikap sangat tergantung dari situasi yang ada. Jadi dapat

ditarik suatu ketetapan bahwa sikap individu tergantung dari situasi yang dihadapinya, namun

dalam sikap yang ditampilkan terlihat adanya sifat-sifat dasar manusia secara umum.

b) Teknik analisis nilai (value analysis)

Teknik ini digunakan dengan dukunagan analisis statistic. Data yang terkumpul

diklafikasikan menurut statistic dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu

yang diteliti. Teknik statistic digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa ada sejumlah

pengalaman keagamaan yang dapat dibahas dengan menggunakan bantuan ilmu eksakta,

terutama dalam mencari mecari hubungan dengan sejumlah varibel. Carlson misalnya

menemukan dalam penelitiannya bahwa, terdapat hubungan bahwa kepercayaan dengani

bahwa tingkat kecerdasan. Didapatnya korelasi antara agama dan kecerdasan (-0,19) yang

berarti bahwa anak-anak yang kurang cerdas cenderung berpegang erat pada kepercayaan

agama, sedangkan pada anak-anak yang cerdas kecenderungan itu lebih kecil.

c) Teknik idiography

Teknik ini juga merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami sifat-

sifat dasar (tabiat) manusia. Berbeda dengan nomatik, maka idiografi lebih dipusatkan pada

hubungan antara sifat-sifat yang dimaksud dengan keadaan tertentu dan aspek-aspak

kpribadian yang menjadi cirri khas masing-masing individu dalam upaya untuk memahami

seseorang (Philip G. Zimbardo:295-296).

Idiografi sebagai pelengkap dari teknik nomotatik untuk mempelajari sifat-sifat dasar

manusia secara individu yang berbeda dalam suatu kelompok. Teknik ini banyak digunakan

oleh Gordon Allport dalam penelitiannya. Malahan Allport telah telah menyumbangkan 13

ciri-ciri tentang sikap manusia.

d) Teknik penilaian terhadap sikap (evaluation attitudes technique)

Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan, atau dokumen yang ada

hubungannya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen tersebut kemudian

ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap persoalan-persoalan yang

dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman dan kesadaran agama.

Kuesioner dan wawancara

Metode kuesioner maupun wawancara digunakan mengumpulkan data dan informasi

yang lebih banyak dan mendalam secara langsung kepada responden.

Metode ini dinilai memiliki beberapa kelebihan antara lain :

Dapat memberi kemungkinan utuk memperoleh jawaban yang tepat dan segera.
Hasilnya dapat dijadikan dokumen pribadi tentang seseorang serta dapat pula dijadikan data

nomatik.

Selain pertimbangan tersebut, metode ini juga mempunyai kelemahan-kelemahan,

seperti:

Jawaban yang diberikan terikat oleh pertanyaan hingga responden tidak dapat memberikan

jawaban secara lebih bebas.

Sulit untuk menyusun pertanyaan yang mengundang tingkat relevansi yang tinggi, karena itu

diperlukan keterampilan yang khusus untuk itu.

Kadang-kadang sering terjadi salah penafsiran terhadap pertanyaan yang kurang tepat, dan

tidak semua pertanyaan sesuai untuk setiap orang.

Untuk memperoleh jawaban yang tepat, dibutuhkan adanya jalinan kerjasama yang baik

antara penanya dan responden. Dan kerja sama seperti itu memerlukan pendekatan yang baik

dari si penanya.

Dalam penerapannya metode kuesioner dan wawancara dilakukan dalam berbagai

bentuk. di antara cara yang digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui:

a) Pengumpulan pendapat masyarakat (public opinion polls)

Teknik ini merupakan gabungan antara kuesioner dan wawancara. Cara mendapatkan data

adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai. Data tersebut selanjutnya

dikelompokkan sesufikasi yang sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian. Teknik ini

banyak digunakan oleh E.B taylor dalam penelitiannya.

b) Skala penilaian (rating scale)

Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang factor-faktor yang menyebabkan

perbedaan yang khas dalam diri seseoranng berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok,

misalnya : Dengan adanya penyebab yang khas ini peneliti dapat memahami latar belakang

timbulnya perbedaan antar penganut suatu keyakinan agama. Misalnya sikap liberal lebih

banyak dijumpai dikalangan penganut protestan, dan sifat konservatif lebih banyak dijumpai

dikalangan penganut agama katolik, dan sebagainya.

c) Tes (Test)

Tes digunakan dalam upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam

kondisi tertentu. Untuk memperoleh gambaran yang diinginkan, biasanya diperlukan bentuk

tes yang sudah disusun secara sistematis.

d) Eksperimen

Teknik eksperimen digunkan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keaagamaan

seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat. Teknik ini sering digunakan oleh

J.B Cock dalam melakukan penelitiannya.

e) Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi (sociological and antropological

observation)

Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat

manusiawi orang per orang atau kelompok. Selain itu juga menjadikan unsur-unsur budaya

yang bersifat materi (benda budaya) dan yang bersifat spiritual (mantra, ritus) yang dinilai

ada hubungannya dengan agama.

f) Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya

Cara ini digunakan dengan membandingkan antara tindak keagamaan (upacara, ritus) dengan

menggunakan pendekatan psikologi melalui pengukuran statistic kemudian dibuat tolok ukur

berdasarkan pendekatan psikologi yang dihubungkan dengan kebudayaan. Berdasarkan

pendekatan tersebut misalnya ditentukan kategori hubungan menjadi :

Adanya persaudaraan antara sesama orang yang ber-Tuhan.
Masalah ke-Tuhanan dan agama.
Adanya kebenaran keyakinan yang terlihat dalam bentuk formalitas.

Bentuk-bentuk praktek keagamaan.

g) Pendekatan terhadap perkembangan (development approacb)

Teknik ini digunakan untuk meneliti mengenai asal-usul dan perkembangan aspek psikologi

manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianutnya. Cara yang digunakan antara lain

melalui pengumpulan dokumen, catatan-catatan, riwayat hidup dan data antropologi. Cara ini

digunakan oleh Sigmund Freud E.B Taylor dan juga Frans Boas.

h) Metode klinis dan proyektifitas (clinical metbod and projectivity technique)

Dalam pelaksanaanya metode ini memanfaatkan cara kerja klinis. Penyembuhan dilakukan

dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dan agama. Usaha penyembuhan di titik

beratkan pada kepentingan manusia (penderita), kenudian untuk kepentingan penelitian

digunakan teknik proyektivitas melalui riset dan pengumpulan data tertulis dilakukan

mengenai penderiata, sebagai bahan diagnosa. Pengumpulan data dilakukan melalui

wawancara, pengamatan terhadap penderita.

i) Metode umum proyektivitas

Berupa penelitian dengan cara menyadarkan sejumlah masalah yang mengandung makna

tertentu. Selanjutnya peneliti memperhatikan reaksi yang muncul dari responden. Dengan

membiarkan reaksi secara tak sengaja itu, maka pernyataan yang muncul dari reaksi tadi

dijadikan dasar penafsiran terhadap gejala yang diteliti. Reaksi merupakan kunci pembuka

rahasia.

j) Apersepsi nomatik (nomothatic apperception)

Caranya dengan menggunakan gambar-gambar yang samar. Melalui gambar-gambar yang

diberikan diharapkan mereka yang diteliti dapat mengenal dirinya. Selain dari gambar khusus

untuk anak-anak biasanya diberikan boneka untuk membantu ia mengenal anggota

keluarganya. Pemberian gambar atau boneka diharapkan orang coba membentuk ide baru

yang dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi penelitian.

k) Studi kasus (case study)

Studi kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil wawancara atau

lainnya untuk kasus-kasus tertentu. Jadi studi kasus merupakan cara pengumpulan data

melalui berbagai teknik.

l) Survei

Metode ini dapat digunakan untuk tujuan penggolongan manusia dalam hubungannya dengan

pembentukan organisasi dalam masyarakat.

Metode kuesioner dan wawancara dengan berbagai tekniknya bertujuan untuk :

Untuk mengetahui latar belakang keyakinan agama.

Untuk mengetahui hubungan manusia dengan tuhannya.
Serta untuk mengetahui dampak dari perubahan-perubahan yang terjadi.

Tujuan-tujuan lain misalnya:

Untuk kepentingan pembahasan mengenai hubungan antara penyakit mental dengan

keyakinan beragama.

Untuk dijadikan bahan guna untuk membentuk kerjasama antara ahli psikologi dengan ahli

agama.

Untuk kepentingan meneliti dan mempelajari kejiwaan para tokoh agama, termasuk para

pembawa ajaran agama itu sendiri seperti para nabi.

3) Psikologi Agama dalam Islam

Secara terminologis memang psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan

Islam klasik, karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari literature Barat.

Dan dikalangan barat yang mula-mula menggunakan sebutan Psikologi Agama adalah Edwin

Diller Starbuck melalui karangannya Psycology of Religion yang terbit tahun 1899. Namun

hal ini tidak berarti bahwa diluar itu studi yang berkaitan dengan psikologi agama belum

pernah dilakukan oleh para ilmuan non-Barat.

Di kalangan muslim kajian-kajian dalam psikologi agama mulai dilakukan sekitar

pertengahan abad-20, permasalahan yang ada sangkut pautnya dengan bidang kajian ini

sudah berlangsung sejak awal-awal perkembangan Islam. Kenyataan ini dapat dilihat dari

berbagai konsep ajaran Islam yang dapat dijadikan acuan dalam studi psikologi agama ini.

Manusia menurut terminology Al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

Manusia disebut al-basyar berdasarkan pendekatan aspek biologisnya. Dari sudut pandang ini

manusia dilihat sebagai makhluk biologis yang memiliki dorongan primer (makan, minum,

hubungan seksual) dan makhluk generatif (berketurunan). Sedangkan dilihat dari fungsi dan

potensi yang dimiliknya manusia disebut al-insan. Kemudian manusia disebut Al- Anas, yang

umumnya dilihat dari sudut pandang hubungan social yang dilakukan. Tetapi yang jelas

unsure-unsur psikis manusia itu menurut konsep Islam senantiasa dihubungkan dengan nilai-

nilai agama. Nafs terbagi menjadi tiga, nafs muthmainah, yang memberi ketenangan batin.

Nafs ammarah, yang mendorong ketindakan negative. Dan nafs lawwamah yang

menyadarkan manusia dari kesalahan hingga timbul penyesalan.

Dalam pengertian umum Al-Qur’an menyebut manusia sebagai Bani Adam. Konsep

ini untuk mennggambarkan nilai-nilai Unifersal yang ada pada diri setiap manusia tanpa

melihat latar belakang perbedaan jenis kelamin, ras dan suku bangsa atau aliran kepercayaan

masing-maasing. Bani Adam menggambarkan kesamaan dan persamaan manusia, dan

tampaknya lebih ditekankan pada aspek fisik. Walaupun tidak sama persis dengan konsep

Homo (makhluk manusia), namun dari sudut pandang ini pemahaman konsep Barat tentang

konsep Bani Adam ini. Bedanya tentang kemakhlukannya.

PENUTUP

Kesimpulan

1) Sejarah Perkembangan Psikologi Agama

Psikologi sebagai ilmu baru lahir pada abad 18 Masehi meski akarnya

menhunjam jauh ke zaman purba. Berdasarkan sumber Barat, para ahli psikologi agama

menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai populer sekitar akhir abad ke-19.

Sekitar masa itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian

agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku,

berpikir dan mengemukakan perasaan keagamaan (Robert H. Thouless: 1).

2) Metode dalam Psikologi Agama

Dalam meneliti ilmu jiwa dalam agama menggunakan sejumlah metode, yang antara

lain dapat dikemukakan sebagai berikut :

Dokumen pribadi (personal document)

a) Teknik nomotatik

b) Teknik analisis nilai (value analysis)

c) Teknik idiography

d) Teknik penilaian terhadap sikap (evaluation attitudes technique)

Kuesioner dan Wawancara

a) Pengumpulan pendapat masyarakat (public opinion polls)

b) Skala penilaian (rating scale)

c) Tes (test)

d) Eksperimen

e) Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi (sociological and antropological

observation)

f) Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya

g) Pendekatan terhadap perkembangan (development approacb)

h) Metode klinis dan proyektifitas, (clinical metbot and projektivity tehnique)

i) Metode umum proyektivitas

j) Apresiasi nomotatik (nomothatic apperception)

k) Study kasus (case study)

l) Survai

3) Psikologi Agama dalam Islam

Secara terminologis memang psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan

Islam klasik, karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari literature Barat.

Dan dikalangan barat yang mula-mula menggunakan sebutan Psikologi Agama adalah Edwin

Diller Starbuck melalui karangannya Psycology of Religion yang terbit tahun 1899. Namun

hal ini tidak berarti bahwa diluar itu studi yang berkaitan dengan psikologi agama belum

pernah dilakukan oleh para ilmuan non-Barat.

Di kalangan muslim kajian-kajian dalam psikologi agama mulai dilakukan sekitar

pertengahan abad-20, permasalahan yang ada sangkut pautnya dengan bidang kajian ini

sudah berlangsung sejak awal-awal perkembangan Islam. Kenyataan ini dapat dilihat dari

berbagai konsep ajaran Islam yang dapat dijadikan acuan dalam studi psikologi agama ini.

DAFTAR PUSTAKA

Hafidzan.2010. http : // writen by Hafidzan.blogspot.com. 3 Maret 2011

Jalaluddin. 2002. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Syafi’I, Agus. 2006. http://mubarok-institute.blogspot.com. 3 Maret 2011

PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebudayaan yang hidup pada suatu masyarakat, pada dasarnya merupakan gambaran

dari pola pikir, tingkah laku, dan nilai yang dianut oleh masyarakat. Dari sudut pandang ini,

agama disatu sisi memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai budaya yang ada, sehingga

agama pun bisa berjalan dengan nilai-nilai budaya yang sedang dianutnya. Pada sisi lain,

karena agama sebagai wahyu dan memiliki kebenaran yang mutlak, maka agama tidak bisa

disejajarkan dengan nilai-nilai budaya, bahkan agama harus menjadi sumber nilai bagi

kelangsungan nilai-nilai budaya itu. Disinilah terjadi hubungan timbal balik antara agama

dengan budaya. Dalam hal ini ada persoalan yang membahas tentang apakah agama lebih

dominan mempengaruhi terhadap budaya, atau sebaliknya apakah budaya lebih dominan

mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat. Dalam

kajian sosiologi, baik agama maupun budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Maka dari itu segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan

yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.

B. Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang di atas maka dapat di ambil rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana relasi antara kebudayaan dan tradisi keagamaan?

2. Bagaimana hubungan antara tradisi keagamaan dan sikap keagamaan?

3. Bagaimana pengaruh kebudayaan dalam era global terhadap jiwa keagamaan?

C. Tujuan Masalah

Dari rumusan masalah diatas dapat diambil tujuan masalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui relasi antara kebudayaan dan tradisi keagamaan

2. Untuk mengetahui hubungan antara tradisi keagamaan dan sikap keagamaan

3. Untuk mengetahui pengaruh kebudayaan dalam era global terhadap jiwa keagamaan

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kebudayaan dan tradisi keagamaan

Herskouits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu

generasi ke generasi yang lain. Sementara, menurut Andreas Eppink kebudayaan

mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan

struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain. Sementara itu Corel R. E dan Melvin E.

(seorang ahli antropologi – budaya) memberikan konsep kebudayaan umumnya mencakup

cara berpikir dan cara berlaku yang selah merupakan ciri khas suatu bangsa atau masyarakat

tertentu (yang meliputi) hal – hal seperti bahasa, ilmu pengetahuan, hukum-hukum,

kepercayaan, agama, kegemaran makanan tertentu, musik, kebiasaan, pekerjaan, larangan-

larangan dan sebagainya.

Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan

dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Di dalam kebudayaan tersebut

terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat sebaga aspek – aspek dar

kebudayaan itu sendiri yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam

melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, kebudayaan dalam suatu

masyarakat merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh warga yang

mendukung kebudayaan tersebut. Karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan

bertingkah laku, maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat.

Tradisi menurut Parsudi Suparlan, merupakan unsur sosial budaya yang telah

mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah. Umumnya tradisi erat kaitannya

dengan mitos dan agama. Mitos lahir dari tradisi yang sudah mengakar kuat disuatu

masyarakat, sementara agama dipahami berdasarkan kultus setempat sehingga mempengaruhi

tradisi.

Dari sudut pandang sosiologi, tradisi merupakan suatu pranata sosial, karena tradisi

dijadikan kerangka acuan norma ini ada yang bersifat sekunder dan primer. Pranata sekunder

ini bersifat fleksibel mudah berubah sesuai dengan situasi yang diinginkan, sedangkan

pranata primaer berhubungan dengan kehormatan dan harga diri, serta kelestarian

masyarakatnya, karena pranata ini merupakan kerangka acuan norma yang mendasar dan

hakiki dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu pranata ini tidak dengan mudah dapat

berubah begitu saja.

Mengacu pada penjelasan di atas, tradisi keagamaan termasuk ke dalam pranata

primer, karena tradisi keagamaan ini mengadung unsur-unsur yang berkaitan dengan

ketuhanan atau keyakinan, tindakan keagamaan, perasaan – perasaan yang bersifat mistik,

penyembahan kepada yang suci, dan keyakinan terhadap nilai – nilai yang hakiki. Dengan

demikian, tradisi keagamaan sulit berubah, karena selain didukung oleh masyarakat juga

memuat sejumlah unsur – unsur yang memiliki nilai – nilai luhur yang berkaitan dengan

keyakinan masyarakat. Tradisi keagamaan mengadung nilai-nilai yang sangat penting yang

berkaitan erat dengan agama yang dianut masyarakat, atau pribadi – pribadi pemeluk agama

tersebut.

Dalam suatu masyarakat yang warganya terdiri atas pemeluk agama, maka secara

umum pranata keagamaan menjadi salah satu pranata kebudayaan yang ada di masyarakat

tersebut. Dalam konteks seperti ini terlihat hubungan antara tradisi keagamaan dengan

kebudayaan masyarakat tersebut. Bila kebudayaan sebagai pedoman bagi kehidupan

masyarakat, maka dalam masyarakat pemeluk agama perangkat – perangkat yang berlaku

umum dan menyeluruh sebagai norma – norma kehidupan akan cenderung mengandung

muatan keagamaan.

Dengan demikian dapat disimpulkan, hubungan antara kegamaan dengan kebudayaan

terjalin sebagai hubungan timbal balik. Makin kuat tradisi keagamaan dalam suatu

masyarakat akan makin terlihat peran akan makin dominan pengaruhnya dalam kebudayaan.

B. Hubungan tradisi keagamaan dan sikap keagamaan

Tradisi keagamaan dan sikap keagamaan saling mempengaruhi, sikap keagamaan

mendukung terbentuknya tradisi keagamaan, sedangkan tradisi keagamaan sebagai

lingkungan kehidupan turut memberi nilai-nilai, norma-norma pola tingkah laku keagamaan

kepada seseorang. Dengan demikian, tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam

membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga terbentuk dalam sikap keagamaan

pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan tradisi keagamaan tertentu.

Sikap keagamaan yang terbentuk oleh tradisi keagamaan merupakan bagian dari

pernyataan jati diri seseorang dalam kaitan dengan agama yang dianutnya. Sikap keagamaan

ini akan ikut mempengaruhi cara berpikir, cita rasa, ataupun penilaian seseorang terhadap

segala sesuatu yang berkaitan dengan agama, tradisi keagamaan dalam pandangan Robert C.

Monk memiliki dua fungsi utama yang mempunyai peran ganda. Yaitu bagi masyarakat

maupun individu. Fungsi yang pertama adalah sebagai kekuatan yang mampu membuat

kestabilan dan keterpaduan masyarakat maupun individu. Sedangkan fungsi yang kedua yaitu

tradisi keagamaan berfungsi sebagai agen perubahan dalam masyarakat atau diri individu,

bahkan dalam situasi terjadinya konfilik sekalipun.

Sikap dan keberagamaan seseorang atau sekelompok orang bisa berubah dan

berkembang sejalan dengan perkembangan budaya dimana agama itu hidup dan berkembang.

Demikian pula budaya mengalami perkembangan dan tranformasi. Transformasi budaya

merupakan perubahan yang menyangkut nilai-nilai dan struktural sosial. Proses perubahan

sturuktur sosial akan menyangkut masalah-masalah disiplin sosial, solidaritas sosial, keadilan

sosial, system sosial, mobilitas sosial dan tindakan-tindakan keagamaan. Tranformasi budaya

yang tidak berakar pada nilai budya bangsa yang beragam akan mengendorkan disiplin sosial

dan solidaritas sosial, dan pada gilirannya unsur keadilan sosial akan sukar diwujudkan.

C. Pengaruh kebudayaan dalam era global terhadap jiwa keagamaan

Era global ditandai oleh proses kehidupan mendunia, kamajuan IPTEK terutama

dalam bidang transportasi dan komunikasi serta terjadinya lintas budaya. Kondisi ini

mendukung terciptanya berbagai kemudahan dalam hidup manusia, menjadikan dunia

semakin transparan. Pengaruh ini ikut melahirkan pandangan yang serba boleh

(permissiveness). Apa yang sebelumnya dianggap sebagai tabu, selanjutnya dapat diterima

dan dianggap biasa. Sementara itu, nilai-nilai tradisional mengalami proses perubahan sistem

nilai. Bahkan mulai kehilangan pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakatnya.

Termasuk ke dalamnya sistem nilai yang bersumber dari ajaran agama.

Dalam kaitannya dengan jiwa keagamaan, barang kali dampak globalisasi itu dapat

dilihat melalui hubungannya dengan perubahan sikap. Menurut teori yang dikemukakan oleh

Osgood dan Tannenbaum, perubahan sikap akan terjadi jika terjadi persamaan persepsi pada

diri seseorang atau masyarakat terhadap sesuatu. Hal ini berarti bahwa apabila pengaruh

globalisasi dengan segala muatannya di nilai baik oleh individu maupun masyarakat, maka

mereka akan menerimanya.

Tetapi, menurut David C.Korten, ada tiga krisis yang bakal dihadapi manusia secara

global. Kesadaran akan krisis ini sudah muncul sekitar tahun 1980an, yaitu : kemiskinan,

penanganan lingkungan yang salah serta kekerasan sosial. Gejala terseabut akan menjadi

mimpi buruk kemanusiaan di abad ke 21 ini. Selanjutnya ia menginventarisasi ada 21

permasalahan yang secra global akan di hadapi oleh manusia, yaitu:

1. Pemulian lahan yang kritis.

2. Mengkonservasi dan mengalokasi sumber-sumber air yang langka.

3. Mengurangi polusi udara.

4. memperkuat dan memelihara lahan pertanian kecil.

5. Mengurangi tingkat pengangguran yang kronis.

6. Jaminan terhadap pemeliharaan hak asasi manusia.

7. Penyediaan kredit bagi kegiatan ekonomi bersekala kecil.

8. Usaha pengurangan persenjataan dan militerisasi.

9. Pengawasan terhadap suhu secara global.

10. Penyediaan tempat tinggal bagi tunawisma.

11. Pertemuan yang membutuhkan pendidikan dua bahasa.

12. Pengurangan tingkat kelaparan, tuna aksara, dan tingkat kematian bayi untuk menambah

jumlah penduduk.

13. Mengurangi tingkat kehamilanremaja.

14. Mengatur pertumbuhan penduduk dan pengaturan perimbangannya.

15. Meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap permasalahan yang menyangkut

perkembangan global.

16. Peningkatan kewaspadaan terhadap pengrusakan alam.

17. Menyediakan fasilitas bagi kesepakatan untuk mengurangi berbagai ketegangan regional

yang di sebabkan perbedaan rasial,etnis dan agama.

18. Menghilangkan atau membersihkan hujan asam.

19. Penyembuhan terhadap korban penyakit AIDS serta mengawasi penyebaran berjngkitnya

wabah tersebut.

20. Menempatkan kembali atau memulangkan para pengungsi.

21. Pengawasan terhadap lalu lintasperdagangan alkohol dan penyalah gunaan obat bius.

Keseluruan permasalahan itu menurut David C.Korten merupakan contoh ilustrasi yang

harus dihadapi bersama oleh seluruh negara di Dunia ini tanpa memandang letak geografis

maupun tingakat perkembangannya. David melihat gejala-gejala dimaksud akan dialami oleh

masyarakat dunia secara menyeluruh sebagai dampak globalisasi.

Secara fenomina, kebudayaan dalam era global mengarah kepada nilai-nilai sekuler

yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan. Meskipun dalam sisi-sisi

tertentu kehidupan tradisi keagamaan tampak meningkat dalam kesemarakannya. Namun

dalam kehidupan masyarakat global yang cenderung sekuler barangkali akan ada

pengaruhnya terhadap pertumbungan jiwa keagamaannya.

Dalam situasi seperti itu, bisa saja terjadi berbagai kemungkinan. Pertama, mereka

yang tidak ikut larut dalam pengaguman yang berlebihan terhadap rekayasa teknologi dan

tetap berpegang teguh pada nilai – nilai keagamaan, kemungkinan akan lebih meyakini

kebenaran agama. Kedua, golongan yang longgar dari nilai-nilai ajaran agama akan

mengalami kekosongan jiwa, golongan ini sulit menentukan pilihan guna menentramkan

gejolak dalam jiwanya.

BAB III

KESIMPULAN

Kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia yang di dalamnya terdapat pengetahuan,

keyakinan, seni, moral, adat istiadat sebagai aspek dari kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan

cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat karena kebudayaan merupakan sistem

nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat.

Tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran

agama sehingga terbentuk dalam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam

lingkungan tradisi keagamaan tertentu.

Secara fenomena, kebudayaan dalam era global mengarah kepada nilai-nilai sekuler

yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan. Dalam kaitannya dengan

jiwa keagamaan dampak globalisasi dapat dilihat melalui hubungan dengan perubahan sikap,

seperti hilangnya pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakat dan bersumber dari

ajaran agama.

DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996

Http://amgy.wodpress.com/2008/02/09/budaya-dan-spiritualitas-keagamaan

PROBLEMA DAN JIWA KEAGAMAAN

BAB I

PENDAHULUAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->