MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Psikologi agama merupakan cabang dari psikologi. Sebelum menjadi ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki latar belakang sejarah perkembangan yang cukup lama. Karena itu psikologi agama dinilai sebagai cabang psikologi yang relative masih muda. Perbedaan pendapat yang belatar belakangi perbedaan sudut pandang antara agamawan dan para psikolog agama sempat menunda munculnya psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Sehingga psikologi agama sebagai cabang psikologi baru tumbuh sekitar penghujung abad ke-19, setelah sejumlah tulisan dan buku-buku yang menjadi pendukungnya diterbitkan dan beredar. Dalam usianya yang menjelang seabad ini tampaknya psikologi agama kian diterima oleh berbagai kalangan termasuk para agamawan yang semula menggugat keabsahannya sebagai disiplin ilmu yang otonom. Sejalan dengan hal itu, maka kemajuan dan pengembangan psikologi agama di lapangan dinilai banyak membantu pemahaman terhadap permasalahan keagamaan dalam kaitannya dengan tugas-tugas kependidikan. Maka penulisan makalah ini membahas psikologi agama selain sebagai tugas pendidikan juga untuk mempelajari sejarah perkembangan psikologi agama lebih jauh. 2. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas timbul beberapa rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimana sejarah perkembangan psikologi agama? 2) Bagaimana metode dalam psikologi agama? 3) Bagaimana psikologi agama dalam Islam 3. Tujuan Dari rumusan masalah tersebut bertujuan untuk: 1) Mengetahui sejarah perkembangan psikologi agama. 2) Mengetahui metode dalam psikologi agama. 3) Mengetahui psikologi agama dalam Islam.

PEMBAHASAN

1) Sejarah Perkembangan Psikologi Agama

Untuk mengetahui secara pasti kapan agama diteliti secara psikologi memang agak sulit, sebab dalam agama itu sendiri telah terkandung didalamnya pengaruh agama terhadap jiwa. Bahkan dalam kitab- kitab suci setiap agama banyak menerangkan tentang proses jiwa atau keadaan jiwa seseorang karena pengaruh agama. Dalam Al Qur’an misalnya, terdapat ayat- ayat yang menunjukkan keadaan jiwa orang- orang yang beriman atau sebaliknya, orang- orang kafir, sikap, tingkah laku dan doa- doa. Disamping itu juga terdapat ayat- ayat yang berbicara tentang kesehatan mental, penyakit dan gangguan kejiwaan serta kelainan sifat dan sikap yang terjadi karena kegoncangan kejiwaan sekaligus tentang perawatan jiwa. Perjalanan hidup Sidharta Gautama dari seorang putera raja Kapilawastu yang bersedia mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang pertapa menunjukkan bagaimana kehidupan batin yang dialaminya dalam kaitan dengan keyakinan agama yang dianutnya. Proses perubahan arah keyakinan agama ini mengungkapkan pengalaman keagamaan yang mempengaruhi diri tikih agama Budha ini. Sidharta Gautama mengalami konversi agama, dari pemeluk agama Hindu menjadi pendakwah agama baru, yaitu agama Budha. Ia kemudian dikenal Badha Gautama.Proses yang hampir serupa dilukiskan pula dalam Al-Qur’an tentang cara Ibrahim as, memimpin ummatnya untuk bertauhid kepada Allah. (QS 6:76-78). Hal ini juga dapat dijumpai dalam pendewasaan bangsa Jepang terhadap Kaisar mereka, Mitos agama Shinto yang menempatkan Kaisar Jepang sebagai keturunan Dewa Matahari (Amiterasu Omi Kami) telah pula mempengaruhi sikap keberagamaan yang khas pada bangsa Jepang. Psikologi sebagai ilmu baru lahir pada abad 18 Masehi meski akarnya menhunjam tentang tetapi karena Akhlak pendekatan jauh ke tidak dibahas yang zaman seperti dalam purba. Dalam sejarah keilmuan Islam, pada kajian perilaku, oleh ilmu dengan

jiwa jiwa itu dan

psikologi kontek

yang

menekankan manusia (`ilm an

hubungan Ilmu Jiwa

dengan nafs),

Tuhan, tetapi

muncul

bukan Meneliti akan

Tasauf. psikosufistik

keberagamaan lebih

seorang realitas

muslim

mendekati

keberagamaan

kaum muslimin dibanding dengan paradigma Psikologi Barat. Berdasarkan sumber Barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai populer sekitar akhir abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir dan mengemukakan perasaan keagamaan (Robert H. Thouless: 1).

Menurut Thouless, sejak terbitnya buku The Varieties of Religius Experience tahun 1903, sebagai kumpulan dari materi kuliah William James di empat Universitas di Skotlandia, maka langkah awal dari kajian psikologi agama mulai diakui para ahli psikologi. Maka dalam jangka waktu tiga puluh tahun kemudian banyak buku-buku lain diterbitkan sejalan dengan konsep-konsep yang serupa. Di antara buku-buku tersebut adalah The Psychology of Religion karangan E.D Starbuck yang mendahului karangan William James. Buku E.D. Starbuck yang terbit tahun 1899 ini kemudian disusul sejumlah buku lainnya seperti The Spiritual Life oleh George Albert Coe, tahun 1900, kemudian The Belief in God and Immortality (1921) oleh J.H. Leuba, dan oleh Robert H.Thouless dengan judul An Introduction to the Psycology of Religion, tahun 1923, serta R.A. Nicholson yang khusus mempelajari mengenai aliran Sufisme dalam Islam dengan bukunya Studies in Islamic Mysticism, tahun 1921. Sejak itu kajian-kajian tentang psikologi agama tampaknya tidak terbatas pada masalah-masalah yang menyangkut kehidupan keagamaan secara umum, melainkan pula juga masalah-masalah khusus. Pembahasan tentang kesadaran beragama misalnya, dikupas oleh B. Pratt dalam bukunya theReligious Consciousness, sedangkan Rudolf Otto membahas sembahyang. Perkembangan beragama pun tidak luput dari kajian para ahli psikologi agama. Piere Binet adalah salah satu tokoh psikologi agama awal yang membahas tentang perkembangan jiwa keberagamaan. Menurut Binet, agama pada anak- anak tidak beada dengan agama pada orang dewasa. Pada anak- anak dimana mungkin dialami oleh orang dewasa, seperti merasa kagum dalam menyaksikan alam ini, adanya kebaikanyang tak terlihat, kepercayaan akan kesalahan dan sebagian dari pengalaman itu merupakan faktafakta asli yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan.

2) Metode dalam Psikologi Agama

Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian ilmiah. Kajian dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara obyektif. Dalam meneliti ilmu jiwa dalam agama menggunakan sejumlah metode, yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :  Dokumen pribadi (personal document) Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh informasi

mengenai hal dimaksud maka cara yang ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi orang seorang. Dokumen tersebut mungkin berupa autobiografi, tulisan ataupun catatancatatan yang dibuatnya. Dalam penerapannya dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu. Di antara yang digunakan adalah : a) Teknik nomotatik Nomotatik merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami tabiat atau sifat-sifat dasar manusia dengan cara mencoba menetapkan ketentuan umum dan hubungan antara sikap dan kondisi-kondisi yang dianggap sebagai penyebab terjadinya sikap tersebut. Sedangkan sikap yang terlihat sebagai kecenderungan sikap umum itu dinilai sebagai gabungan sikap yang terbentuk dari sikap-sikap indifidu yang ada di dalamnya (Philip G. Ziambardo, 1979:294). Pendekatan ini digunakan untuk mempelajari pebedaan-perbedaan indifidu. Dalam penerapannya nomatik ini mengansumsikan bahwa pada diri manusia terdapat suatu lapisan dasar dalam struktur kepribadian manusia sebagai sifat yang merupakan ciri umum kepribadian manusia. Dalam kajian ini ditemukann bahwa individu memiliki sifat dasar yang secara umum sama, perbedaan masing-masing hanya dalam derajat atau tingkatan saja. Nomatik yang digunakan dalam studi kepribadian adalah mengukur perangkat sifat seperti kejujuran, ketekunan dan kepasrahan sejumlah individu dalam suatu kelompok. Ternyata ditemukan bahwa sifat-sifat itu ada pada setiap individu, namun jadi berbeda oleh hubungan antara sifat itu ditampilkan dalam sikap sangat tergantung dari situasi yang ada. Jadi dapat ditarik suatu ketetapan bahwa sikap individu tergantung dari situasi yang dihadapinya, namun dalam sikap yang ditampilkan terlihat adanya sifat-sifat dasar manusia secara umum. b) Teknik analisis nilai (value analysis) Teknik ini digunakan dengan dukunagan analisis statistic. Data yang terkumpul diklafikasikan menurut statistic dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti. Teknik statistic digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa ada sejumlah pengalaman keagamaan yang dapat dibahas dengan menggunakan bantuan ilmu eksakta, terutama dalam mencari mecari hubungan dengan sejumlah varibel. Carlson misalnya menemukan dalam penelitiannya bahwa, terdapat hubungan bahwa kepercayaan dengani bahwa tingkat kecerdasan. Didapatnya korelasi antara agama dan kecerdasan (-0,19) yang berarti bahwa anak-anak yang kurang cerdas cenderung berpegang erat pada kepercayaan agama, sedangkan pada anak-anak yang cerdas kecenderungan itu lebih kecil. c) Teknik idiography

Teknik ini banyak digunakan oleh Gordon Allport dalam penelitiannya.  Kuesioner dan wawancara Metode kuesioner maupun wawancara digunakan mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak dan mendalam secara langsung kepada responden. Malahan Allport telah telah menyumbangkan 13 ciri-ciri tentang sikap manusia. Zimbardo:295-296). tulisan. Metode ini dinilai memiliki beberapa kelebihan antara lain :  Dapat memberi kemungkinan utuk memperoleh jawaban yang tepat dan segera. dan tidak semua pertanyaan sesuai untuk setiap orang. seperti:  Jawaban yang diberikan terikat oleh pertanyaan hingga responden tidak dapat memberikan jawaban secara lebih bebas. di antara cara yang digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui: . Dalam penerapannya metode kuesioner dan wawancara dilakukan dalam berbagai bentuk. dibutuhkan adanya jalinan kerjasama yang baik antara penanya dan responden.  Kadang-kadang sering terjadi salah penafsiran terhadap pertanyaan yang kurang tepat. atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. karena itu diperlukan keterampilan yang khusus untuk itu. Dan kerja sama seperti itu memerlukan pendekatan yang baik dari si penanya. metode ini juga mempunyai kelemahan-kelemahan. Idiografi sebagai pelengkap dari teknik nomotatik untuk mempelajari sifat-sifat dasar manusia secara individu yang berbeda dalam suatu kelompok. maka idiografi lebih dipusatkan pada hubungan antara sifat-sifat yang dimaksud dengan keadaan tertentu dan aspek-aspak kpribadian yang menjadi cirri khas masing-masing individu dalam upaya untuk memahami seseorang (Philip G.Teknik ini juga merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami sifatsifat dasar (tabiat) manusia.  Untuk memperoleh jawaban yang tepat. Selain pertimbangan tersebut. bagaimana pendirian seseorang terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman dan kesadaran agama.  Sulit untuk menyusun pertanyaan yang mengundang tingkat relevansi yang tinggi.  Hasilnya dapat dijadikan dokumen pribadi tentang seseorang serta dapat pula dijadikan data nomatik. d) Teknik penilaian terhadap sikap (evaluation attitudes technique) Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi. Berbeda dengan nomatik. Berdasarkan dokumen tersebut kemudian ditarik kesimpulan.

Berdasarkan pendekatan tersebut misalnya ditentukan kategori hubungan menjadi :  Adanya persaudaraan antara sesama orang yang ber-Tuhan. Selain itu juga menjadikan unsur-unsur budaya yang bersifat materi (benda budaya) dan yang bersifat spiritual (mantra.B Cock dalam melakukan penelitiannya. ritus) dengan menggunakan pendekatan psikologi melalui pengukuran statistic kemudian dibuat tolok ukur berdasarkan pendekatan psikologi yang dihubungkan dengan kebudayaan. Teknik ini banyak digunakan oleh E. c) Tes (Test) Tes digunakan dalam upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu. Untuk memperoleh gambaran yang diinginkan.  Masalah ke-Tuhanan dan agama. f) Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya Cara ini digunakan dengan membandingkan antara tindak keagamaan (upacara. Data tersebut selanjutnya dikelompokkan sesufikasi yang sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian. dan sifat konservatif lebih banyak dijumpai dikalangan penganut agama katolik. Teknik ini sering digunakan oleh J. . Cara mendapatkan data adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai.a) Pengumpulan pendapat masyarakat (public opinion polls) Teknik ini merupakan gabungan antara kuesioner dan wawancara. d) Eksperimen Teknik eksperimen digunkan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keaagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat. Misalnya sikap liberal lebih banyak dijumpai dikalangan penganut protestan.B taylor dalam penelitiannya.  Adanya kebenaran keyakinan yang terlihat dalam bentuk formalitas. e) Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi (sociological and antropological observation) Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat manusiawi orang per orang atau kelompok. b) Skala penilaian (rating scale) Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang factor-faktor yang menyebabkan perbedaan yang khas dalam diri seseoranng berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok. biasanya diperlukan bentuk tes yang sudah disusun secara sistematis. misalnya : Dengan adanya penyebab yang khas ini peneliti dapat memahami latar belakang timbulnya perbedaan antar penganut suatu keyakinan agama. dan sebagainya. ritus) yang dinilai ada hubungannya dengan agama.

. hasil wawancara atau lainnya untuk kasus-kasus tertentu. Penyembuhan dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dan agama. Usaha penyembuhan di titik beratkan pada kepentingan manusia (penderita). pengamatan terhadap penderita. Metode kuesioner dan wawancara dengan berbagai tekniknya bertujuan untuk :  Untuk mengetahui latar belakang keyakinan agama. Dengan membiarkan reaksi secara tak sengaja itu. riwayat hidup dan data antropologi. h) Metode klinis dan proyektifitas (clinical metbod and projectivity technique) Dalam pelaksanaanya metode ini memanfaatkan cara kerja klinis. Jadi studi kasus merupakan cara pengumpulan data melalui berbagai teknik. maka pernyataan yang muncul dari reaksi tadi dijadikan dasar penafsiran terhadap gejala yang diteliti. Selanjutnya peneliti memperhatikan reaksi yang muncul dari responden. g) Pendekatan terhadap perkembangan (development approacb) Teknik ini digunakan untuk meneliti mengenai asal-usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianutnya. i) Metode umum proyektivitas Berupa penelitian dengan cara menyadarkan sejumlah masalah yang mengandung makna tertentu. Bentuk-bentuk praktek keagamaan. Selain dari gambar khusus untuk anak-anak biasanya diberikan boneka untuk membantu ia mengenal anggota keluarganya. k) Studi kasus (case study) Studi kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen. Cara ini digunakan oleh Sigmund Freud E. kenudian untuk kepentingan penelitian digunakan teknik proyektivitas melalui riset dan pengumpulan data tertulis dilakukan mengenai penderiata.B Taylor dan juga Frans Boas. sebagai bahan diagnosa. Melalui gambar-gambar yang diberikan diharapkan mereka yang diteliti dapat mengenal dirinya. l) Survei Metode ini dapat digunakan untuk tujuan penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi dalam masyarakat. Reaksi merupakan kunci pembuka rahasia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. j) Apersepsi nomatik (nomothatic apperception) Caranya dengan menggunakan gambar-gambar yang samar. catatan. Cara yang digunakan antara lain melalui pengumpulan dokumen. catatan-catatan. Pemberian gambar atau boneka diharapkan orang coba membentuk ide baru yang dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi penelitian.

Tujuan-tujuan lain misalnya:  Untuk kepentingan pembahasan mengenai hubungan antara penyakit mental dengan keyakinan beragama. 3) Psikologi Agama dalam Islam Secara terminologis memang psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan Islam klasik. Manusia menurut terminology Al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Kemudian manusia disebut Al. Nafs terbagi menjadi tiga. Manusia disebut al-basyar berdasarkan pendekatan aspek biologisnya. hubungan seksual) dan makhluk generatif (berketurunan). Tetapi yang jelas unsure-unsur psikis manusia itu menurut konsep Islam senantiasa dihubungkan dengan nilainilai agama.  Serta untuk mengetahui dampak dari perubahan-perubahan yang terjadi. minum. yang mendorong ketindakan negative. nafs muthmainah. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai konsep ajaran Islam yang dapat dijadikan acuan dalam studi psikologi agama ini. Nafs ammarah. Konsep ini untuk mennggambarkan nilai-nilai Unifersal yang ada pada diri setiap manusia tanpa . Dari sudut pandang ini manusia dilihat sebagai makhluk biologis yang memiliki dorongan primer (makan.Anas. Dan dikalangan barat yang mula-mula menggunakan sebutan Psikologi Agama adalah Edwin Diller Starbuck melalui karangannya Psycology of Religion yang terbit tahun 1899. karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari literature Barat. termasuk para pembawa ajaran agama itu sendiri seperti para nabi.  Untuk kepentingan meneliti dan mempelajari kejiwaan para tokoh agama. permasalahan yang ada sangkut pautnya dengan bidang kajian ini sudah berlangsung sejak awal-awal perkembangan Islam. Dan nafs lawwamah yang menyadarkan manusia dari kesalahan hingga timbul penyesalan. Di kalangan muslim kajian-kajian dalam psikologi agama mulai dilakukan sekitar pertengahan abad-20. Namun hal ini tidak berarti bahwa diluar itu studi yang berkaitan dengan psikologi agama belum pernah dilakukan oleh para ilmuan non-Barat. Sedangkan dilihat dari fungsi dan potensi yang dimiliknya manusia disebut al-insan.  Untuk dijadikan bahan guna untuk membentuk kerjasama antara ahli psikologi dengan ahli agama. yang umumnya dilihat dari sudut pandang hubungan social yang dilakukan. yang memberi ketenangan batin. Untuk mengetahui hubungan manusia dengan tuhannya. Dalam pengertian umum Al-Qur’an menyebut manusia sebagai Bani Adam.

berpikir dan mengemukakan perasaan keagamaan (Robert H. 2) Metode dalam Psikologi Agama Dalam meneliti ilmu jiwa dalam agama menggunakan sejumlah metode. ras dan suku bangsa atau aliran kepercayaan masing-maasing. namun dari sudut pandang ini pemahaman konsep Barat tentang konsep Bani Adam ini. para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai populer sekitar akhir abad ke-19. Bani Adam menggambarkan kesamaan dan persamaan manusia. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku. PENUTUP Kesimpulan 1) Sejarah Perkembangan Psikologi Agama Psikologi sebagai ilmu baru lahir pada abad 18 Masehi meski akarnya menhunjam jauh ke zaman purba.melihat latar belakang perbedaan jenis kelamin. Thouless: 1). Bedanya tentang kemakhlukannya. dan tampaknya lebih ditekankan pada aspek fisik. Walaupun tidak sama persis dengan konsep Homo (makhluk manusia). yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :  Dokumen pribadi (personal document) a) Teknik nomotatik b) Teknik analisis nilai (value analysis) c) Teknik idiography d) Teknik penilaian terhadap sikap (evaluation attitudes technique)  Kuesioner dan Wawancara a) Pengumpulan pendapat masyarakat (public opinion polls) b) Skala penilaian (rating scale) c) Tes (test) d) Eksperimen . Berdasarkan sumber Barat. Sekitar masa itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama.

permasalahan yang ada sangkut pautnya dengan bidang kajian ini sudah berlangsung sejak awal-awal perkembangan Islam. Dan dikalangan barat yang mula-mula menggunakan sebutan Psikologi Agama adalah Edwin Diller Starbuck melalui karangannya Psycology of Religion yang terbit tahun 1899. Psikologi Agama. Syafi’I. 2002. 3 Maret 2011 Jalaluddin. 3 Maret 2011 PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN BAB I .2010. http : // writen by Hafidzan.com. karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari literature Barat.blogspot.blogspot.e) Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi (sociological and antropological observation) f) Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya g) Pendekatan terhadap perkembangan (development approacb) h) Metode klinis dan proyektifitas. 2006. (clinical metbot and projektivity tehnique) i) j) Metode umum proyektivitas Apresiasi nomotatik (nomothatic apperception) k) Study kasus (case study) l) Survai 3) Psikologi Agama dalam Islam Secara terminologis memang psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan Islam klasik. Agus. Jakarta: Raja Grafindo Persada. http://mubarok-institute. DAFTAR PUSTAKA Hafidzan. Di kalangan muslim kajian-kajian dalam psikologi agama mulai dilakukan sekitar pertengahan abad-20. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai konsep ajaran Islam yang dapat dijadikan acuan dalam studi psikologi agama ini. Namun hal ini tidak berarti bahwa diluar itu studi yang berkaitan dengan psikologi agama belum pernah dilakukan oleh para ilmuan non-Barat.com.

dan nilai yang dianut oleh masyarakat. Pada sisi lain. Tujuan Masalah Dari rumusan masalah diatas dapat diambil tujuan masalah sebagai berikut : 1. Dari sudut pandang ini. atau sebaliknya apakah budaya lebih dominan mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian sosiologi. agama disatu sisi memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai budaya yang ada. B. Bagaimana relasi antara kebudayaan dan tradisi keagamaan? 2. Maka dari itu segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Disinilah terjadi hubungan timbal balik antara agama dengan budaya. baik agama maupun budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Rumusan Masalah Dari penjelasan latar belakang di atas maka dapat di ambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana hubungan antara tradisi keagamaan dan sikap keagamaan? 3. Latar Belakang Kebudayaan yang hidup pada suatu masyarakat. sehingga agama pun bisa berjalan dengan nilai-nilai budaya yang sedang dianutnya. tingkah laku. maka agama tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya. Untuk mengetahui hubungan antara tradisi keagamaan dan sikap keagamaan 3. Bagaimana pengaruh kebudayaan dalam era global terhadap jiwa keagamaan? C. Untuk mengetahui relasi antara kebudayaan dan tradisi keagamaan 2. karena agama sebagai wahyu dan memiliki kebenaran yang mutlak. Untuk mengetahui pengaruh kebudayaan dalam era global terhadap jiwa keagamaan BAB II PEMBAHASAN .PENDAHULUAN A. Dalam hal ini ada persoalan yang membahas tentang apakah agama lebih dominan mempengaruhi terhadap budaya. bahkan agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya itu. pada dasarnya merupakan gambaran dari pola pikir.

agama. Mitos lahir dari tradisi yang sudah mengakar kuat disuatu masyarakat. karena tradisi keagamaan ini mengadung unsur-unsur yang berkaitan dengan ketuhanan atau keyakinan. hukum-hukum. Dari sudut pandang sosiologi. kepercayaan. ilmu pengetahuan. E dan Melvin E. serta keseluruhan struktur-struktur sosial. adat istiadat sebaga aspek – aspek dar kebudayaan itu sendiri yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. norma. kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Dengan . kegemaran makanan tertentu. Sementara itu Corel R. penyembahan kepada yang suci. tradisi keagamaan termasuk ke dalam pranata primer. seni.A. karena pranata ini merupakan kerangka acuan norma yang mendasar dan hakiki dalam kehidupan manusia. Kebudayaan dan tradisi keagamaan Herskouits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. serta kelestarian masyarakatnya. kebiasaan. maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat. tradisi merupakan suatu pranata sosial. Sementara. dan keyakinan terhadap nilai – nilai yang hakiki. Karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku. merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah. moral. keyakinan. perasaan – perasaan yang bersifat mistik. ilmu pengetahuan. karena tradisi dijadikan kerangka acuan norma ini ada yang bersifat sekunder dan primer. pekerjaan. menurut Andreas Eppink kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai. Pranata sekunder ini bersifat fleksibel mudah berubah sesuai dengan situasi yang diinginkan. Umumnya tradisi erat kaitannya dengan mitos dan agama. musik. Oleh karena itu pranata ini tidak dengan mudah dapat berubah begitu saja. Dengan demikian. sementara agama dipahami berdasarkan kultus setempat sehingga mempengaruhi tradisi. Di dalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan. kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh warga yang mendukung kebudayaan tersebut. religius dan lain-lain. laranganlarangan dan sebagainya. (seorang ahli antropologi – budaya) memberikan konsep kebudayaan umumnya mencakup cara berpikir dan cara berlaku yang selah merupakan ciri khas suatu bangsa atau masyarakat tertentu (yang meliputi) hal – hal seperti bahasa. Dengan demikian. tindakan keagamaan. sedangkan pranata primaer berhubungan dengan kehormatan dan harga diri. Mengacu pada penjelasan di atas. Tradisi menurut Parsudi Suparlan.

Dalam konteks seperti ini terlihat hubungan antara tradisi keagamaan dengan kebudayaan masyarakat tersebut. ataupun penilaian seseorang terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan agama. tradisi keagamaan dalam pandangan Robert C. norma-norma pola tingkah laku keagamaan kepada seseorang. sikap keagamaan mendukung terbentuknya tradisi keagamaan. cita rasa. Monk memiliki dua fungsi utama yang mempunyai peran ganda. bahkan dalam situasi terjadinya konfilik sekalipun. Hubungan tradisi keagamaan dan sikap keagamaan Tradisi keagamaan dan sikap keagamaan saling mempengaruhi. Sikap keagamaan ini akan ikut mempengaruhi cara berpikir. B. Fungsi yang pertama adalah sebagai kekuatan yang mampu membuat kestabilan dan keterpaduan masyarakat maupun individu. maka secara umum pranata keagamaan menjadi salah satu pranata kebudayaan yang ada di masyarakat tersebut. Tradisi keagamaan mengadung nilai-nilai yang sangat penting yang berkaitan erat dengan agama yang dianut masyarakat.demikian. karena selain didukung oleh masyarakat juga memuat sejumlah unsur – unsur yang memiliki nilai – nilai luhur yang berkaitan dengan keyakinan masyarakat. Sedangkan fungsi yang kedua yaitu tradisi keagamaan berfungsi sebagai agen perubahan dalam masyarakat atau diri individu. tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga terbentuk dalam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan tradisi keagamaan tertentu. Sikap dan keberagamaan seseorang atau sekelompok orang bisa berubah dan berkembang sejalan dengan perkembangan budaya dimana agama itu hidup dan berkembang. Makin kuat tradisi keagamaan dalam suatu masyarakat akan makin terlihat peran akan makin dominan pengaruhnya dalam kebudayaan. . Dengan demikian. tradisi keagamaan sulit berubah. Yaitu bagi masyarakat maupun individu. Bila kebudayaan sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat. Sikap keagamaan yang terbentuk oleh tradisi keagamaan merupakan bagian dari pernyataan jati diri seseorang dalam kaitan dengan agama yang dianutnya. Dalam suatu masyarakat yang warganya terdiri atas pemeluk agama. Dengan demikian dapat disimpulkan. maka dalam masyarakat pemeluk agama perangkat – perangkat yang berlaku umum dan menyeluruh sebagai norma – norma kehidupan akan cenderung mengandung muatan keagamaan. hubungan antara kegamaan dengan kebudayaan terjalin sebagai hubungan timbal balik. atau pribadi – pribadi pemeluk agama tersebut. sedangkan tradisi keagamaan sebagai lingkungan kehidupan turut memberi nilai-nilai.

penanganan lingkungan yang salah serta kekerasan sosial. menjadikan dunia semakin transparan. Termasuk ke dalamnya sistem nilai yang bersumber dari ajaran agama. yaitu : kemiskinan. memperkuat dan memelihara lahan pertanian kecil.Korten. system sosial. Selanjutnya ia menginventarisasi ada 21 permasalahan yang secra global akan di hadapi oleh manusia. Hal ini berarti bahwa apabila pengaruh globalisasi dengan segala muatannya di nilai baik oleh individu maupun masyarakat. Kondisi ini mendukung terciptanya berbagai kemudahan dalam hidup manusia. barang kali dampak globalisasi itu dapat dilihat melalui hubungannya dengan perubahan sikap. 6. maka mereka akan menerimanya. 2. Pengaruh kebudayaan dalam era global terhadap jiwa keagamaan Era global ditandai oleh proses kehidupan mendunia. keadilan sosial. nilai-nilai tradisional mengalami proses perubahan sistem nilai. Jaminan terhadap pemeliharaan hak asasi manusia. C. selanjutnya dapat diterima dan dianggap biasa. ada tiga krisis yang bakal dihadapi manusia secara global.Demikian pula budaya mengalami perkembangan dan tranformasi. menurut David C. 4. yaitu: 1. . Gejala terseabut akan menjadi mimpi buruk kemanusiaan di abad ke 21 ini. solidaritas sosial. Sementara itu. kamajuan IPTEK terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi serta terjadinya lintas budaya. Dalam kaitannya dengan jiwa keagamaan. Mengurangi tingkat pengangguran yang kronis. Menurut teori yang dikemukakan oleh Osgood dan Tannenbaum. Pemulian lahan yang kritis. Mengurangi polusi udara. dan pada gilirannya unsur keadilan sosial akan sukar diwujudkan. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai tabu. Bahkan mulai kehilangan pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakatnya. mobilitas sosial dan tindakan-tindakan keagamaan. Pengaruh ini ikut melahirkan pandangan yang serba boleh (permissiveness). Tetapi. Mengkonservasi dan mengalokasi sumber-sumber air yang langka. Kesadaran akan krisis ini sudah muncul sekitar tahun 1980an. 3. Proses perubahan sturuktur sosial akan menyangkut masalah-masalah disiplin sosial. perubahan sikap akan terjadi jika terjadi persamaan persepsi pada diri seseorang atau masyarakat terhadap sesuatu. Tranformasi budaya yang tidak berakar pada nilai budya bangsa yang beragam akan mengendorkan disiplin sosial dan solidaritas sosial. Transformasi budaya merupakan perubahan yang menyangkut nilai-nilai dan struktural sosial. 5.

kebudayaan dalam era global mengarah kepada nilai-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan. 13. 10. Pertemuan yang membutuhkan pendidikan dua bahasa. 20. Menyediakan fasilitas bagi kesepakatan untuk mengurangi berbagai ketegangan regional yang di sebabkan perbedaan rasial. mereka yang tidak ikut larut dalam pengaguman yang berlebihan terhadap rekayasa teknologi dan tetap berpegang teguh pada nilai – nilai keagamaan. Secara fenomina. Meskipun dalam sisi-sisi tertentu kehidupan tradisi keagamaan tampak meningkat dalam kesemarakannya. Dalam situasi seperti itu. 9. 11. kemungkinan akan lebih meyakini kebenaran agama. Kedua. .etnis dan agama. Penyediaan kredit bagi kegiatan ekonomi bersekala kecil. golongan ini sulit menentukan pilihan guna menentramkan gejolak dalam jiwanya. Pertama. 21. 14. Pengurangan tingkat kelaparan. Penyediaan tempat tinggal bagi tunawisma.7. tuna aksara. golongan yang longgar dari nilai-nilai ajaran agama akan mengalami kekosongan jiwa. 8.Korten merupakan contoh ilustrasi yang harus dihadapi bersama oleh seluruh negara di Dunia ini tanpa memandang letak geografis maupun tingakat perkembangannya. Meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap permasalahan yang menyangkut perkembangan global. 16. Pengawasan terhadap lalu lintasperdagangan alkohol dan penyalah gunaan obat bius. 15. Namun dalam kehidupan masyarakat global yang cenderung sekuler barangkali akan ada pengaruhnya terhadap pertumbungan jiwa keagamaannya. Usaha pengurangan persenjataan dan militerisasi. 18. 12. Menghilangkan atau membersihkan hujan asam. Keseluruan permasalahan itu menurut David C. Peningkatan kewaspadaan terhadap pengrusakan alam. 17. bisa saja terjadi berbagai kemungkinan. Mengatur pertumbuhan penduduk dan pengaturan perimbangannya. Menempatkan kembali atau memulangkan para pengungsi. Penyembuhan terhadap korban penyakit AIDS serta mengawasi penyebaran berjngkitnya wabah tersebut. David melihat gejala-gejala dimaksud akan dialami oleh masyarakat dunia secara menyeluruh sebagai dampak globalisasi. dan tingkat kematian bayi untuk menambah jumlah penduduk. Pengawasan terhadap suhu secara global. 19. Mengurangi tingkat kehamilanremaja.

DAFTAR PUSTAKA Jalaluddin. Tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga terbentuk dalam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan tradisi keagamaan tertentu. perasaan terhadap agama sebagai unsure konatif. Kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat karena kebudayaan merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat. Latar Belakang Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama. moral. Psikologi Agama. adat istiadat sebagai aspek dari kebudayaan itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa sikap keagamaan menyangkut atau berhubungan erat dengan gejala kejiwaan. Dalam kaitannya dengan jiwa keagamaan dampak globalisasi dapat dilihat melalui hubungan dengan perubahan sikap. Jadi sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara pengetahuan agama. Sikap agama tersebut oleh adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsure kognitif. perasaan serta tindak keagamaan dalam diri seseorang. seperti hilangnya pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakat dan bersumber dari ajaran agama. Secara fenomena. 1996 Http://amgy.com/2008/02/09/budaya-dan-spiritualitas-keagamaan PROBLEMA DAN JIWA KEAGAMAAN BAB I PENDAHULUAN 1.BAB III KESIMPULAN Kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia yang di dalamnya terdapat pengetahuan. kebudayaan dalam era global mengarah kepada nilai-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan.1. . keyakinan.wodpress. seni. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

maka terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian mengenai sikap itu sendiri.2. Agama menyangkut kehidupan batin manusia. akal. Bagaimana sikap keagamaan dan pola tingkah laku diperoleh ? 2. Dalam pengertian umum. rasa ketergantungan ataupun rasa bersalah. Factor apa saja yang mempengaruhi sikap keagamaan yang menyimpang. Bagaimana sikap keagamaan yang menyimpang ? 3. Oleh karena itu kesadaran agama dan pengalaman agama seseorang lebih menggambarkan sisi-sisi batin dalam kehidupan yang ada kaitannya dengan sesuatu yang sacral dan dunia gaib. Teory kedua menyatakan bahwa jiwa keagamaan manusia bersumber dari factor ekstern manusia terdorong untuk beragama karena factor luar darinya seperti rasa takut.1.. Dari kesadaran agama dan pengalaman agama ini pula kemudian muncul sikap keagamaan yang ditampilkan seseorang. Untuk mengetahui apa saja yang mempengaruhi sikap keagamaan yang menyimpang BAB II Problema dan Jiwa Keagamaan 2. Tujuan Dari Rumusan masalah di atas maka dapat dicapai tujuan pokok yaitu: 1. Rumusan Masalah Dari pembahasan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1.? 1. reaksi-reaksi afektif terhadap objek tertentu berdasarkan . Sikap Keagamaan dan Pola Tingkah Laku Mengawali pembahasan mengenai sikap keagamaan. 2. perasaan maupun kehendak. Potensi tersebut bersumber dari factor interen manusia yang termuat dalam aspek kejiwaan manusia seperti naluri.3.1. Problema dan Jiwa Kegamaan . Untuk mengetahui sikap keagamaan yang menyimpang 3. Pada garis besarnya teori mengungkapkan bahwa sumber jiwa keagamaan berasal dari factor intern dan factor interen manusia Pendapat pertama menyatakan bahwa manusia adalah : Homo Kelegius (maklhuk agama) karena manusia sudah memiliki potensi untuk beragama. sikap dipandang sebagai seoerangkat..2. (Sense of guilty) factor-faktor inilah yang menurut pendukung teori tersebut mendorong manusia menciptkan suatu tata cara pemujaan yang kemudian di kenal dengan agama. Untuk mengetahui sikap keagamaan dan pola tingkah laku diperoleh 2.

Sikap merupakan peniiaian terhadap sesuatu yang mungkin rnern-punvai konsekuensi tertentu bagi seseorang atau vang bersang-kutan (attitudes are evaluations). sehingga dalam situasi cocok (attitudes have a time dimension). 6. Sikap merniliki tingkat intensitas terhadap objek tertentu yakni kuat atau lemah (attitudes are very intensive). 8. seseorang. Dengan demikian. sepeni yang tampak dalam menentukan pilihan apakah positif. 2. Sikap merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus-menerus dengan lingkungan (attitudes are learned). serta tergantung kepacia cbjek tertentu. pemahaman clan penghayatan individu (Mar'at. Objek sikap o eh Edwards disebut sebagai psychological object (Mar'at. Menurut Prof. tempat ibadat ataupun tempat lainnya melalui nasihat. negatif atau ragu (attitudes are affective). afeksi. . teladan atau percakapan (attitudes are social learnings). 3. wawasan. peristiwa ataupun ide (attitudes bare referenl). meskipun belum lengkap Allport telah menghimpun sebanyak 13 pengertian mengenai sikap. Sikap dapat bersifat relatif consistent dalam sejarah hidup individu (attitudes have duration factor). 9. sekolah. Mar'at. 11. Sikap sebagai wujud dari kesiapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap objek (attitudes have readiness to respond). Sikap merupakan penafsiran dan tingkah laku yang mungkin menjadi indikator yang sempurna atau bahkan tidak memadai (attitudes are infened). 10.hasi! penalaran. Dari 13 pengertian itu dapat dirangkum menjadi 11 rumusan mengenai sikap. Sikap dipercleh dalam berinteraksi dengan manusia lain baik di rumah. Sikap selalu dihubungkan dengan objek seperti manusia. 4. Sikap bergantung kepacia situasi dan waktu. 7. Dr. persepsi ataupun kognisi individu (attitudes are complex). 1982: 21). Rumusan tersebut menunjukkan ba'mva sikap merapakan predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap objek tertentu yang mencakup komponen kognisi. 1982: 19). Bagian yang dominan dari sikap adalah perasaan dan afektif. Rumusan umum tersebut adalah bahwa: 1. sikap terbentuk dari hasil belajar dan pengaiaman seseorang dan bukan sebagai pengaruh bawaan (faktor intern). Sikap merupakan bagian dari konteks. 5.

afeksi. dan konasi seseorang dengan masalah-masalah yang menyangkut agama. Merujuk kepada rumusan di atas. Dalam kaitan. dan faktor eksternal. Komponen afeksi dikaitkan dengan apa yang dirasakan terhadap objek (senang atau tidak senang). merasa. Hal ini mengisyaratkan ketiga faktor tersebut. Komponen kognisi akan menjawab tentang apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang objek. Motif sebagai tenaga pendorong arah sikap negatif atau positif akan terlihat dalam tingkah laku nyata (oven behaviour) pada diri seseorang atau kelompok Sedanngkan motif yang dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu dapai diperkuat oleh komponen afeksi biasanva akan menjadi lebih stabil. sebab. Dengan demikian sikap merupakan interaksi dari komponen-komponen tersebut secara kompleks. Mata rantai hubungan antara sikap dan tingkah laku terjalin dengan hubungan faktor penentu. Dan pembentukan sikap itu sendiri ternvata tidak semata-mata tergantung sepenuhnya kepada faktor eksternal melainkan juga dipengaruhi oleh kondisi faktor internal seseorang. 1982: 21). sikap iangditampilkan seseorang merupakan hasil dari proses berpikir. Dengan demikian. proses. Sedangkan. Motif menentukan tingkah laku nyata (overt behaviour) sedangkan. pembentukan sikap melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman. reaksi afektif bersifat tertutup / cover tulis Mar'at (Mar'at. . Pada tingkat tertentu motif akan berperan sebagai central attitude vang akhimya akan membentuk predisposisi. kepribadian. Reaksi yang timbul dari sikap tertentu terhadap objek ditentukan oleh pengaruh faal. 1982: 22). sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif sehingga menghasilkan motif. melainkan sebagai hubungan. Sedangkan rnenunjt pandangan psikologi. yaitu motif yang mendasari sikap. yaitu pengaruh faal. pengalaman dan harnbatan (Mar'at. baik yang berbentuk konkret maupun objek yang abstrak. ini sikap didasarkan atas konsep evaluasi berkenaan dengan objek tertentu. dan pemilihan motif-motif tenentu sebagai reaksi terhadap sesuatu objek. afeksi dan konasi yang bekerja secara kompleks merupakan bagian vang menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu objek. terlihat bagaimana hubungan sikap dengan pola tingkah laku seseorang. dan faktor eksternal: situasi. menggugah motif untuk bertingkah laku. 1982:17). komponen konasi berhubungan dengan kesediaan atau kesiapan untuk bertindak terhadap objek (Mar'at. Proses ini terjadi dalam diri seseonng terutama pada tingkat usia dini. Tiga komponen psikologis yaitu kognisi. Hubungan tersebut jelasnya tidak ditentukan oleh hubungan sesaat. kepribadian. Bagaimana bentuk sikap keagamaan seseorang dapat dilihat se-berapa jauh keterkaitan komponen kognisi.dan konasi.

Namun. Tetapi. Telaah psikologi dan psikologi agama tampaknya sudah mulai menyadari potensipotensi dan daya psikis manusia yang berkaitan dengan kehidupan spiritual. Menurut Gordon Allport. Zimbardo. 1982:18). Sifat-sifat dasar ini ditampilkan dalam sikap yang secara totalitas ternhat sebsgai ciri-ciri kepribadian individu dan kemudian terangkum dalam sikap kelompok. maka pembentukan sikap dan tingkah laku keagamaan dapat dilakukan sejaian dengan fitrah tersebut bila situasi lingkungan dibentuk sesuai dengan ketentuan ajaran agama yang prinsipil. 2. Selain itu. mengacu kepada pencapaian nilai-nilai luhur yang mengacu kepada pembentukan kepribadian dan keserasian hubungan sosial dalam upaya memenuhi ketaatan. mulai tumbuh suatu kesadaran bar. Adanya perbedaan individu pada dasarnya disebabkan oleh adanya perbedaan situasi ling-kungan yang dihadapi masing-masing (Philip G. Dalam hubungan ini tergambar bagaimana hubungan pembentukan sikap keagamaan sehingga dapat menghasilkan bentuk pola tingkah laku keagamaan dengan jiwa keagamaan.mengenai hubungan antara potensi dan daya psikis tersebut dengan sikap dan pola tingkah Iaku manusia.Predisposisi menurut Mar'at merupakan sesuatu yang telah dimiiiki seseorang semenjak kecil sebagai hasil rembentukan dirinya sendiri (Mar'at. jika hal ini dapat diterima. barangkali pemahaman sifat-sifat dasar yang merupakan ciri khas yang ada pada manusia dapat dikaitkan dengan konsep fitrah dalam pandangan Islam. Dengan demikian. dalam kenyataan hidup sehari-hari tak jarang dijumpai adanya penyimpangan yang terjadi. kepada Zat Yang Supernatural. Sikap Keagamaan yang Menyimpang Dalam pandangan psikologi agama. Merujuk kepada temuan ini.l979:296). Norma-norma tersebut. Pembentukan kesadaran agama pada diri seseorang pada hakikatnya tak lebih dari usaha untuk menum.huh dan mengembangkan potensi dan daya psikis. ajaran agama memuat norma norma yang dijaciikan pedoman oleh pemeluknya dalam bersikap dan bertingkah laku. bahwa memang manusia memiiiki sifat-sifat dasar atau tabiat yang sarna. yang menjadi permasalahan krusial adaiah bagaimana usaha yang dilakukan agar bimbingan yang diberikan sejalan dengan hakikat potensi yang luhur tersebut. Kemudian menempatkan potensi dan daya psikis tersebut sebagai sesuatu yang penting dalarn kehidupan manusia. yaitu ketauhidan. Berangkat dari telaah dan pandangan tersebut akan membawa pada kesimpu'an bahwa jiwa keagamaan sebenarnya merupakan bagian dari komponen intern psikis manusia. sikap keagamaan merupakan kecenderungan untuk memenuhi tuntutan dimaksud. .3.

Demikian pula. terjadi sikap fanatik yang menyebabkan seseorang atau kelompok beranggapan bahwa hanya agama yang dipeluknya ssia sebagai yang paling benar. Perseteruan antar agama yang teriadi seperti peristiwa Perang Salib. Sikap keagamaan yang menyimpang seperti itu merupakan masalah yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan tindakan yang negatif dari tingkat yang terendah hingga ke tingkat yang paling tinggi. sehubungan dengan perubahan sikap tidak selalu berkonotasi buruk Sikap keagamaan yang menyimpang dan tradisi keagamaan yang cenderung keliru mungkin akan menimbulkan suatu pemikiran dan gerakan pembaruan. fundamentals maupun sikap menentang merupakan sikap keagamaan yang rnenyimpang / Seseorang atau sekelompok penganut suatu agama mungkin saja bersikap kurang toleran terhadap agama lain ataupun aliran lain yang berbeda dari aliran agama yang dianutnya. Sikap kurang toleran. Keduanya merupakan contoh dari sekian banyak kasus sikap keagamaan yang menyimpang. dapat pula terjadi 1 sikap yang fundamentals berupa sikap menentang terhadap agama yang berbeda dengan agama yang mereka anut. seperti sikap regresif (menarik diri) hingga ke sikap yang demonsiratif (unjuk rasa). Seorang yang . Dengan demikian. Sidharta Gautama yang meninggalkan agama Hindu kemudian menjadi pelopor lahimya agama Budha. orang per orang (dalam diri individu) dan. Selain itu. Perubahan sikap seperti itu dapat terjadi pada. Selain dalam bentuk kelompok. fanatisme. Children of God di Amerika maupun sekte kiamat di Jepang yang menamakan kelompoknya Awn Sbimikyd (Kebenaran Tertinggi). Sedangkan perubahan sikap itu memiliki tingkat kualitas dan intensitas yang mungkin berbeda dan bergerak secara kontinyu dari positif melalui areal netral ke arah negatif (Mar'at. seperti halnya Martin Luther. sikap keagamaan yang menyimpang. misalnya.Sikap keagamaan yang menyimpang terjadi bila sikap seseorang terhadap kepercayaan dan keyakinan terhadap agama yang dianutnya mengalami perubahan.juga pada kelompok atau masyarakat. 1982:17). Selain itu. Dan biasanya sikap keagamaan yang menyimpang dalam bentuk kelompok aliran ataupun sekte berawal dari pengaruh sikap seorang tokoh. namun yang positif. Demikian pula. munculnya gerakan IRA di Inggris (Iriandia Utara). sikap keagamaan yang menyimpang juga dapat rerjadi pada orang per orang. tak kurang pula kasus-kasus negatif yang bersumber dari adanya sikap keagamaan yang menyimpang ini. hingga ke aliran-aliran keagamaan yang dianggap menyimpang misalnya. Sikap menyimpang seperti itu umumnya berpeluang untuk terjadi dalam diri seseorang maupun kelompok pada setiap agama.

sosialisme. dan kenyataan yang terdapat di luar jang-kauan pikir manusia. cinamisme. ada juga pengaruh terhadap tingkat pikir yang lain seperti totemisme. animisme. ma^erialisme. pengauh yang ditimbulkan terhadap seseorang cenderung berwujud pengaruh psikologis. Penyimpangan tersebut mungkin menyangkut bidang keyakinan. liberalisme. 1982: 105). 1982:18). S:ikap keagamaan yang menyimpang dapat terjadi. bila terjadi penyimp angan pada kedua tingkat pikir dimaksud. Bahkan bisa meningkat ke tindakan yang mengarah pada "per-mainan moral" (moralgames). 1982: 104). Sedangkan keyakinan adaiah suatu tingkat pikir yang dalam proses berpikir manusia telah menggunakan kepercayaan dan keyakinan ajaran agama sebagai penyempurnaan proses. sebagai bagian dan tingkat pikir yang transendental Religius (Kasmiran Wuryo. sehingga dapat memberi kepercayaan dan keyakinan baru pada seseorang atau kelompok. dan ke luar dari nilainilai dasar ajaran agama formal. politeisme maupun monoteisme. baik dalam diri orang per orang (individu) kelompok atau pun masyarakat. Sebab. Oleh karena itu. pencapaian kebenaran. Penyimpangan sepeni ini lazimnya akan berkembang ke bentuk gerakan keagamaan. Masalah yang menyangkut sikap keagamaan ini umumnya tergan-tung hubungan persepsi seseorang mengenal kepercayaan dan keyakinan. benar-salah. fasisme. Kepercayaan dan keyakinan merupakan hal yang abstrak sehingga. 1982: 104). Pengaruh tingkat pikir ini memang memiliki variasi yang luas misalnya aliran sepeni sekularisme.mempunyai pengaruh terhadap kepercayaan dan keyakinan orang lain. secara empirik sulit dibuktikan secara nyata mengenai kebenarannya. (Kasmiran Wuryo. doktrin. Kehadiran aliran ataupun sekte baru. magico. sikap keagamaan yang menyimpang juga bisa termanifestasikan dalam pelanggaran terhadap nilai-nilai moral ataupun norma-norma agama. Kecenderungan ini akan menggiring pada situasi imoralitas . pantas tidak pantas dibuat-jadi samar. ataupun perangkat keagamaan. 5ikap keagamaan yang menyimpang boleh dikatakan dapat terjadi pada hampir semua bidang kehidupan manusia dan kaitannya dengan nilai-nilai ajaran agama. Perilaku penyimpangan ini disebut sebagai tindakan amoral. ritual. Tetapi di luar itu. Apabila tingkat pikir tersebut mencapai tingkat kepercayaan serta keyakinan yang tidak sejalan dengan ajaran agama tertentu maka akan terjadi sikap keagamaan yang menyimpang. Kepercayaan adalah tingkat pikir manusia dalam mengalami proses berpikir yang telah dapat membebaskan manusia dari segaia unsur-unsur yang terdapat di luar pikirannya. religius (Kasmiran \Vuiyo. Di luar itu. Tingkat pikir yang kedua ini disebut dengan tingkat pikir atau tingkat berpikir transendental. yang di dalamnya batas baik-buruk. sikap mcmiliki sasaran tertentu baik konkret maupun abstrak (Mar`at. mistisisme. dapat dianggap sebagai sebuah penyimpangan. dan sebagainya.

hukum. yang pertama. 1990:462j. Kedua. penyimpangan diri kesucian (jut: Audi Hamzab. 2005:4). korupsi bisa didekati daiam berbagai kajian ilmu-ilmu sosiai sepeni sosiologi. Andi Hamzab-. kebiasaan dan kesusilaan Jur. termasuk psikologi agama. Dengan menggunakan pendekatan psikoanalisis. keburukan. atau pantas/tak pantas. dengan melakukan aneka tindakan \an. adat istiadat. Dalam Islam perbuatan ini tergolong sebagai fabsy (keji). politik. 1990: 98). Diiihat dari pendekatan normatif. tetapi juga orang lain (Alqur`an dan Terjemabannya. tindakan "mempermainkan" prinsip atau nilai-nilai moral itu sendiri (immorality. dalam diri manusia tersembunyi dorongan untuk berpegang kepada nilai-nilai moral. tidak bermoral. Hanya karena ingin memenuhi kenikmatan -hidup dan kesenangan pleasure principle). ncrma hukum. yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri pelakunya. tetapi juga norma-norma agama. Secara harfiah. Kompas. Dengan adanva dorongan ini maka manusia sejatinya memiliki kecenderungan untuk memanifestasikan nilai-nilai yang . agaknya pelaku tindak korupsi dapat digolongkan sebagai pribadi yang terjangkit moralitas minimalis. kebejatan. Korupsi didefinisikan sebagai Denyelewengan atau penggelapan (uang negara. Kompas. ketidakjujuran. antropologi. tak pantas atau tak arif. Menurut Murtadha Muthahhari. Dorongan yang termasuk nilai-nilai utama (sinnmum bonum) ini biasa disebut sebagai akhlak yang baik. dapat disuap. benar/salah. pelakunya bersedia mengorbankan unsur moral dan keadilan yang ada. 21 November 2005). Sebagai fenomena sosial. Indikatornya. dan ekonomi (AliefAulia Rezza. Kesadaran dirinya ditundukkan oleh dorongan naluriah. maupun agama:) dihancurkan oleh keserakahan yang bersumber dari dorongan nafsunya. 11 November 2005).(Yasrif Amir Piliang. dengan cara memutarbalikkan atau mempermainkan batas-batas moral antara baik/'jahat. psikologi. tindak korupsi bukan saja menyangkut pelanggaran. Tindak korupsi merupakan perbuatan yang akan menimbulkan dampak negatit bersifat ganda. korupsi berarti kebusukan.23). berupa tindakan melanggar atau melawan moral (amorality). Pada hakikatnya. Sistem nilai yang ada dalam dirinya (moral. Yasrif menyebutnya sebagai moralitas minimalis". Disebut menganiaya diri sendiri karena pelaku tindak korupsi adalah sosok yang telah kehilangan jati dirinya sebagai manusia yang beradab. perasahaan dan sebagainva) untuk keuntungan pribadi atau orang lain (KBBI. pelaku kompsi telah melakukan perbuatan nista yang menganiaya dirinya sendiri dan sekaligus menimpakan petaka bagi orang lain. Berangkat dari pemahaman ini. pelaku tindak korupsi adalah pribadi yang egonya dikalahkan oleh Id (Das Es).g jahat.

1991:142). seben-mva berisi khasanah yang cukup lengkap untuk mengantisipasi muncuir." sifat rakus yang apabila tidak dapat dibendung. "Hindarilah sifat rakus. tetap berpegang teguh Berusa tegak di atas keyakinan itu. Imsak bi berkaitan dengan upaya untuk menahan diri agar tidak melanggar ketentuan puasa itu sendiri. tindak korupsi dilakukan secara sadar. Dengan demikian tindak korupsi hanya mungkin terjadi. Agama sebagai sistem nilai.diri) dari pengaruh luar sebagai latihan dalarn rembentuk sikap lahir dan batin. menahan pendengaran. ini mengindikasikan adanya tindakan koruptif dengan kondisi psikologis pelakunya. Terlepas dari bagaimana bentuk dan caranya (modus operandi). maupun tingkah laku tertutup (coier behavior). kesucian dan kehajikan lainnya (Murtadha Muthahhari. lazimnya akan mendorong sese-orang untuk melakukan tindak korupsi. 1998: 52). Dalani nilai-nilai ajaran Islam tindakan antisipasi: itu termuat antara lain di ibadah puasa. Pesan Rasul Saw. menahan seluruh anggta.dimaksud dalam kehidupannya. Mungkin saja ada pengaruh luar (motif ekstririsik). 1986: 353). serta akan tetap mempertahankannya dengan seluruh hidupnya (Jalaiuddin Rahmat. Wujud konkritnya antara lain berupa kejujuran. "Di antara nikmat-nikmat itu ada yang binal bagaikan hewanbewan hutan yang liar. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Keagamaan yang Menyimpang Sikap berfungsi menggugah motif untuk bertingkah laku. sifat rakus dapat diantisipasi dengan bersukur. baik dalam bentuk tingkah laku nyata (overt behavior). Jalaluddin Rahmat menyebut enam tahapan dalam imsak 'an . amanah. Oleb sebab itu maka ikatlah nikmat itu dengan bersyukur kepada Allah. Dengan . Sumbernya adalah ada semacam perasaan ''tidak puas" terhadap kondisi yang ada. Meminjan konsep imam Ghazali. karena rakus itu merupakan kemiskinan yang nyata (Abdullah bin Nuh. Setidaknya ada dua target utami yang terangkum di dalamnya. Atas dasar keyakinan. bila nilai-nilai utama yang dimaksud dimanipulasi dengan mendesekralisasikannva. Mewujudkan rasa syukur teihadap nikmat Allah. ingin memiliki sesuatu yang belum dimiliki. Namun yang jelas dorongan intern pelaku (motif intrinsik) terkesan lebih dominan. Nilai-nilai utama ini merupakan bagian dari fitrah manusia. ketakwaan. Di balik itu semua. Dijelaskan selanjutnya.4. Kufur nikmat (tidak bersyukur) dan sifat rakus (tak pernah merasa cukup.va gejolak sifat rakus itu. menahan selera. menahan suasana hati antara harap dan cemas terhadap ganjaran Allah. Mulai dari menahan pandangan. Dorongan seperti ini akan "membenih. menjaga lidah (ucapan). Mewujudkan sosok pribadi takwa yang sejalan dengan capaian akhir dari ibadah puasa itu sendiri. bahwa imsak 'an (menahan. yakni imsak bi dan imsak 'an.

sehingga terdorong untuk mengetahuinya lebih jauh. sedangkan bagi yang menganggapnya tidak bermanfaat akan rnenolaknya. Objek itu sendiri menurut teori ini harus difungsikan sebagai stimulus agar dapat merespons perhatian. teori kedua yaitu teor pertimbangan sosial melihat . Menurut teori ini perubahan sikap ditentukan oleh faktor internal . teori pertimbangan sosial. perubahan sikap sepenuhnya bergantung pada kemampuan lingkungan untuk mendapatkan stimulus yang dapat menimbulkan reaksi dalam bentuk respons. 1982: 27). Misalnya saja di dalam suatu masyarakat muncul aliran-aliran keagamaan tertentu yang berbeda dengan tradisi keagamaan yang berjalan. Masing-masing teori didasarkan atas pendekatan aliran psikologis tersebut. maka akan terjadi perubahan sikap.demikian. mereka akan menerimanya. Menurut teori ini ada tiga variabel yangmempengaruhi terjadinya perubahan sikap. sikap mereka ini dapat dikelompokkan sebagai sikap keagamaan yang menyimpang. Dilihat dari sudut tradisi keagamaan yang berlaku. Hal ini menun. Teori stimulus dan repon yang memandang manusia sebagai organisme menyamakan perubahan sikap dengan proses belajar. Mengacu kepada teori ini. 1982: IS). yaitu pengertian dan penerimaan (Mar`at. sikap mempengaruhi dua bentuk reaksi seseorang terhadap objek. yaitu dalam bentuk nyata dan terselubung. Hasil dari proses itu kemungkinan dapat memberi pengertian baru bagi mereka yang terlibat. Kehadiran aliran tersebut kemudian menarik perhatian. walaupun sulit (Mar'at. pengertian serta penerimaan oleh seseorang atau kelompok. 19S2: 26-27). Karena sikap diperoleh dari hasil belajar atau pengaruh lingkungan maka sikap dapat diubah. teori konsistensi dan teori fungsi (Mar'at.jukkan untuk mengubah sikap diperlukan kemampuan untuk merekayasa objek sedemikian rupa hingga menarik perhatian memberi pengertian hingga dapat diterima. antara lain: teori stimulus dan respons. Beberapa teori psikologis mengungkapkan mengenai perubahan sikap tersebut. Terjadinya sikap keagamaan yang menyimpang berkaitan erat dengan perubahan sikap. Kelompok yang pertama biasanya akan melangkah ke tingkat penerimaan dan dengan demikian akan terjadi perubahan pada diri mereka dalam menyikapi aliran baru yang mereka terima itu. Bila ada di antara yang ikut terlibat mcmpelajari aliran tersebut maka ada manfaat bagi dirinya. jika seseorang atau sekelompok memiliki perhatian terhadap sesuatu objek dan memahami objek dimaksud serta menerimanya. Jadi.perubahan sikap dari pendekatan psikologi sosial. Dalam kaitannya dengan sikap keagamaan yang menyimpang maka pengaruh stimulus yang relevan adalah segala bentuk objek yang berhubungan dengan keagamaan. Selanjutnya.

. atas dasar pertimbangan untuk kepentingan masyarakat banyak. Sedangkan faktor eksternal terdiri atas 1) faktor penguatan (ret iforcement). . Berdasarkan berbagai pertimbangan. Oleh karena itu teori konsistensi ini oleh Fritz Heider disebut balance theory (Mar'at. 2) komunikasi persuasif. Para tokoh reformer (mujaddid) umumnya menampilkan sikap keagamaan yang menyimpang dari tradisi keagamaan yang berjalan di masyarakat. Festinger menyebutkan kan cognitive dissonance. Misalnva seseorang yang semula dihormati dalam rnasyarakat kemudian mendapat saingan dari tokoh lain. Beberapa contoh yang mengacu kepada kasus ini antara lain seperti yang dilakubn oleh Sidharta Gautama. Sikap keagamaan vang menyimpang seperti ini dalam sejarah keagamaan umumnya diakhiri dengan munculnya kelompok baru yang mampu mengubah tatanan tradisi keagamaan yang ada. namun intisari dari teori konsistensi ini adalah bahwa perubanan sikap merupakan proses yang terjadi pada diri seseorang dalam upaya untuk mendapatkan keseimbangan antara sikap dan perbuatan. Menurut teori ini perubahan sikap lebih ditentukan oleh faktor intern yang tujuannya untuk menyeimbangkan antara sikap dan perbuatan. serta Brohm menamakannya reactance (Mar'at. yaitu teori konsistensi. yaitu untuk mengisi kekosongan wibawa yang hilang.Osgood dan Tannenbaum menamakan conguity (keharmonisan). Teori yang ketiga. Sikap keagamaan yang menyimpang seperti ini terlihat daiam kasus pembaharuan pemikiran keagamaan.dari faktor eksternal faktor internal yang mempengaruhi perubahan sikap adalah: 1) persepsi sosial 2) posisi sosial dan proses belajar sosial. dan 3) harapan yang di inginkan. Penyimpangan sikap keagamaan yang dipengaruhi oleh status sosial ini cenderung dilatar belakangi harapan untuk mengembalikan kedudukan di dalam masyarakat. dan sejumlah tokoh pembaharuan dalam pemikiran keagamaan lainnya. Perubahan sikap menurut teori ini ditentukan oleh keputusan-keputusan sosiai sebagai hasil interaksi faktor internal dan eksternal (Mar'at. Maka untuk mengembalikan status yang pernah diperolehnya kemungkinan besar ia cenderung untuk melakukan suatu yang menyimpang guna menarik kembali perhatian masyarakat. Martin Luther. Karena kalah dalam persaingan tersebut pandangan masyarakat beralih kepada tokoh pendatang baru. Walaupun berbeda dalam penamaan. Perubahan sikap dalam kaitannya dengan sikap keagamaan yang menyimpang merujuk kepada teori pertimbangan sosial ini tampaknya menyangkut faktor status sosial seseorang dalam masyarakat. Kaisar Konstamin. 1982:37-47). 1982: 35-36. Di lain pihak kemungkinan pula sikap keagamaan yang menyimpang ditampilkan seseorang tokoh dalam masyarabt daiam bentuk positif. 1982:37).

maka seseorang kemudian memilih sikap tertentu sebagai dasar untuk bereaksi atau bertingkah laku. maka dilakukan pemilihan dari berbagai alternatif yang memungkinkan. Pemilihan alternatif dapat didasarkan atas pertimbangan aspek efektif maupun kognitif. Munculnya beberapa pengertian yang harus dipilih 3.: 1. Pertimbangan tersebut melalui proses dari munculnya persoalan hingga tercapainya suatu keseimbangan. Perubahan sikap yang dihubungkan dengan sikap keagamaan yang menyimpang menurut teori konsistensi ini terdapat dalam kasus-kasus konversi agama. Seseorang yang merasa bahwa apa yang dilakukan sebelumnya adalah keliru. siap memiliki suatu fungsi untuk menghadapi dunia luar agar individu senantiasa menyesuaikan dengan lingkungan menurut kebutuhannya (Mar'at. Pemilihan jalan ke luar vang cocok dan tepat biasanva adalah yang paling dapat memberikan ketenangan batin bagi yang bersangkutan. 2) fungsi penahanan diri. berupaya untuk mcmpertimbangkan sikapnya. Konflik tadi pada tingkat tertentu menimbulkan semacam kegelisahan batin sebagai persoalan yang harus mendapat pemecahan. 1982: 49). Festinger lebih menekankan pada peran kognitif seperti halnya Brohm. Dalam kehidupan keagamaan barangkali perubahan sikap ini berhubungan dengan konversi agama. Kondisi tersebut dapat menimbulkan keharmonisan dan keseimbangan. Terjadi keseimbangan. Mengacu kepada teori ini perubahan sikap yang menyangkut kehidupan beragama dapat terjadi oleh karena adanya pengaruh dalam diri seseorang. Untuk mengembalikan agar terjadi keseimbangan seperti semula. 3) fungsi penerima dan peniberi arti. Menurut Heider dilatarbelakangi oleh perasaan senang dan tidak senang. Keempat fase dalam proses terjadinya perubahan sikap itu adalah. Menurut teori fungsi perubahan sikap seseorang dipengaruhi oleh kebutuhan seseorang. sedangkan Osgood dan Tannenbaum menekankan pada penyamaan persepsi. Selanjutnya timbul beberapa kemungkinan untuk dijadikan pertimbangan dalam menemukan jalan ke luar. 2. Munculnya persoalan yang dihadapi. Pengaruh tersebut menimbulkan persoalan hingga terjadi ketidakseimbangan dalam batin-nya. 4. . Konversi pada dasarnya bersumber dari konflik yang terjadi dalam diri seseorang. 1) fungsi instrumental. dan 4) fungsi nilai ekspresif. Katz berpendapat bahwa sikap memiliki empat fungsi yaitu. Pcrubahan sikap seperti ini. Pilihan yang terbaik biasanya adalah yang paling cocok dan dapat memberi kestabilan pada diri seseorang. Mengambil keputusan berdasarkan salah satu pengertian yang dipilih.

manusia dapat membentuk sikap positif maupun negatif terhadap objek yang dihadapinya. Perubahan sikap seperti itu dapat terjadi pada. akal. Faktor internal yang mempengaruhi perubahan sikap. persepsi sosial. Potensi tersebut bersumber dari factor interen manusia yang termuat dalam aspek kejiwaan manusia seperti naluri. Kesimpulan Sikap keagamaan dan interen diperoleh dari dari faktor interen dan externmanusia. Keseimbangan tersebut merupakan penyesuaian diri dengan kebutuhan. orang per orang (dalam diri individu) dan. fundamentals maupun sikap mcnentang merupakan sikap keagamaan yang rnenyimpang Faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan yang menyimpang adalah faaktor internal dan faktor eksternal. Pendapat pertama menyatakan bahwa manusia adalah Homo Religius (maklhuk agama) karena manusia sudah memiliki potensi untuk beragama. Saran .juga pada kelompok atau masyarakat. melainkan melalui suatu proses penyeimbangan diri dengan lingkungan. fungsi nilai ekspresif terlihat dalam pernyataan sikap sehingga tergambar bagaimana sikap seseorang atau kelompok terhadap sesuatu (Mar'at. 1982: 48). Adapun fungsi pertahanan diri berperan untuk melindungi diri dari ancaman luar. Sikap kurang toleran. Selain itu. perasaan maupun kehendak. BAB III PENUTUP 3. posisi sosial danproses belajar sosial.2. tak kurang pula kasus-kasus negatif yang bersumber dari adanya sikap keagamaan yang menyimpang ini. fanatisme.1.Berdasarkan fungsi instrumental. Teori fungsi ini mengungkapkan bahwa terjadinya perubahan sikap tidak berlangsung secara serta merta. Selanjutnya. Sedangkan penguatan komunikasi persuasif harapan yang diinginkan 3. Sikap keagamaan yang menyimpang terjadi bila sikap seseorang terhadap kepercayaan dan keyakinan terhadap agama yang dianutnya mengalami perubahan. Kemudian fungsi penerima dan memberi arti berperan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.

1 Latar Belakang Peran pendidikan terhadap jiwa seseorang sangat besar.2 Rumusan Masalah . DAFTAR PUSATAKA Al – Maliky. Alawy. Kepribadian seseorang akan terbentuk dari pendidikakn yang diperolehnya. Mohammad Al. Al-Syaibany.Toomy.1994. Jakarta: Bulan Bintang . Pendidikan dimasyarakat.Dalam pembuatan makalah ini apabila ada keterangan yang kurang bisa dipahami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kami sangat berterima kasih apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun seebagai penyempurna. Jadi dalam membentuk jiwa keagamaan pendidiakkan sangatlah penting. Fikahati Aneska. Muhammad. Jakarta. 1. Terj: Indri Mahally Fikry. Omar. Macam – macam pendidikakn dapat diperoleh dari:    Pendidikan keluarga. Hasan Langgulung. Falsafah Pendidikan Islam Terj. Sebab tanpa pendidikan jiwa keagamaan tidak mungkin dapat terbentuk dengan baik. - PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN PENDAHULUAN 1. Pendidikan kelembagaan. Paham-Paham Yang Perlu Diluruskan.

Dapat memahami pengaruh pendidikan kluarga terhadap jiwa keagamaan. Apa pengertian dari jiwa agama? 3. Dapat memahami pengaruh pendidikan kelembagaan terhadap jiwa keagamaan. et al. yaitu kehidupan dan penghidupan anak-anak. Apa pengaruh pendidikan kluarga terhadap jiwa keagamaan? 4. 4. dewasa dan beradab. Apa pengertian dari pendidikan? 2. diantaranya sebagai berikut: 1. psikologi sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia. Maksudnya ialah supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup.2 Pengertian Jiwa Agama Jiwa agama biasa juga disebut dengan psikologi agama. selaras dengan alamnya dan masyarakatnya. Dapat mengetahui pengertian dari jiwa agama. Thouless. 2. Dapat memahami pengaruh pendidikan dimasayarakat terhadap jiwa keagamaan. Apa pengaruh pendidikan dimasayarakat terhadap jiwa keagamaan? 1.(Jalaluddin.1 Pengertian Pendidikan Pendidikan menurut ki hajar dewontoro”pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti” (kekuatan batin). 2. Apa pengaruh pendidikan kelembagaan terhadap jiwa keagamaan? 5. .dari latar belakang diatas dapat ditarik beberapa rmusan masalahl. diantaranya sebagai berikut: 1. Sedangkan secara umum psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal. PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN 2. Sedangkan menurut Robert H. pikiran (intelek) dan jasmani anakanak.3 Tujuan Dari beberapa rumusan masalah diatas dapat diperoleh beberapa tujuan. 5. 1979:77). 3. Dapat mengetahui apa pengertian dari pendidikan.

Karena anak memperoleh pendidikan dari keluarga mulai dari balita hingga dewasa. 2. Akan tetapi Harun Nasutiaon mengemukankan pendapat tentanf pengertian agama. Dengan demikian psikologi agama menurut Prof. Selain itu. 2. maka dibentuklah lembaga khusus yang menyelenggarakan tugas-tugas kependidikan. Yang tidak memperdulikakn agama. Demikian juga dengan pengaruh pendidikan keluarga terhadap jiwa keagamaan juga sangatlah besar. Adalah mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindak agama orang itu dalam hidupnya(Zakia Daradjat: 15). memang sulit diukur secara tepat dan rinci. agama juga menyangkut masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia.Selanjutnya. Dr.4 Pengaruh Pendidikan Kelembagaan Terhadap Jiwa Keagamaan Dimasayarakat primitif memang tidak ada pendidikan dari lembaga yang secara khusus. maka sekolah sebagai kelembagaan pendidikan adalah pelanjut dari pendidikan keluarga. Agama sebagai bentuk keyakinan. Tapi sebaliknya kini kita hidup di lingkungan yang modern. zakia daradjat. Sejalan dengan kepentingan itu. Apabila keluarga tersebut tidak mempunyai basic agama yang kuat dan tidak pernah menjalankan syariat agama islam srta tidak pernah memperhatikakn norma-norma agama pasti kondisi jiwa anak tersebut juga tidak jauh beda dengan keluarganya tersebut. 2.5 Pengaruh Pendidikan Di masyarakat Selain dari pendidikan keluarga dan sekolah ternyata pendidikan dari lingkungan masyarakat juga tidak kalah penting. waktu dewasa mulai ia dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi. secara kelembagaan maka sekolah-sekolah pada hakikatnya adalah merupakan lembaga penndidikan yang sengaja dibuat. Dimana perkembangan semakin maju dan canggih jadi pendidikan seperti dimasyarakat primitif tidak mungkin dipertahankan. sejalan dengan fungsi dan perannya. seseorang memerlukan pendidikan. Karena masyarakat merupakan lapangan pendidikan . Karena pada umunya pendidikan mereka diperoleh dari kluarga dan masyarakat lingkungannya. yaitu undang-undang atau hukum. Jadi keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan.3 Pengaruh Pendidikan Keluarga Terhadap Jiwa keagamaan Pengaruh keluarga terhadap pendidikan jiwa anak anak sangatlah besar. Denagn demikian. Jadi untuk menyeleraskan diri dari perkembangan kehidupan masyarakatnya. Jadi peran keluarga dalam pembentukan jiwa keagamaan sangatlah besar.

maka kondisi jiwa anak yang terbentuk juga jauh dari norma – norma agama. Yang berpengaruh pada jiwa keagamaan yang kedua adalah dari lembaga terkait atau lembaga pendidikan. Kelembagaan pendidikan dan 2. Keserasian antara ketiga lapangan pendidikan ini akan memberi dampak yang positif bagi perkembangan anak.1 Kesimpulan Dalam pembentukan jiwa keagamaan seseorang.yang ketiga. lembaga terkait. Dari ketiga lingkungan itulah jiwa keagamaan dapat terbentuk. Peran pendidik umumnya sependapat bahwa lapangan pendidikan yang ikut mempengaruhi perkembangan anak anak didik adalah: Keluarga 1. Dan sebaliknya. Bila ketiga faktor itu berbasic agama yang kuat maka jiwa anak tersebut juga akan terbentuk suatu jiwa agama yang kuat. termasuk dalam pembentukan jiwa keagamaan mereka. Jadi jelas pembentukan jiwa keagamaan itu tergantung pendidikan dari: keluarga. bila seorang anak terdidik di ketiga lingkungan tersebut tapi tanpa didasari atau berbasic agama. ada tiga faktor yang mempengaruhi: Pendidikan dari lingkungan keluarga Pendidikan dari kelembagaan terkait Pendidikan dari lingkungan masyarakat. PENUTUP 3. Keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan seorang anak. dan lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA . Dan yang ketiga adalah dari lingkungan masyarakat.

2008. 6 – 12 tahun (masa sekolah) Dalam mengawali penjelasan tentang perkembangan jiwa beragama pada masa anakanak. dan baru berfungsi kemudian setelah melalui bimbingan dan latihan sesuai dengan tahap perkembangan jiwanya. bukan seccaara kejiwaan. Raja Grafindo Persanda. bagaimanakah bentuk dan sifat agama yang ada pada anak-anak? Menurut beberapa ahli. Hurlock.blogspot. Jakarta: Aksara Baru. Clark mengajukan dua pertanyaan. Selain itu juga terdapat pendapat para ahli yang mengatakan bahwa anak di lahirkan telah membawa fitrah keagamaan. Jakarta: PT. seperti teori forwwishes yang dikemukakan oleh tomas.com/2010/06/pengaruh-pendidikan-terhadap-jiwa. yaitu : 1. Jika demikian. ia tak ubahnya seperti makhluk lainnya.html http://www.anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. bahwwa manusia dilahirkan ke dunia ini memiliki empat keinginan.kanak) 3. PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA ANAK-ANAK II.Anak Sebagaimana dijelaskan diatas.co. 1982.akalgi.cc/2009/08/pengaruh-pendidikan-terhadap. Psikologi Agama. 0 – 2 tahun (masa vital) 2.1 Perkembangan Jiwa Beragama pada Masa Anak-anak Agama Pada Masa Anak. anak dilahirkan bukan sebagai makhluk yang relijius.PEMBAHASAN 2. Jawaban atas permasalahan ini telah banyak dii bahas dalam teori tentang sumber jiwa beragama. Pendapat pertama lebih memandang manusia sebagai bentuk. 2 – 6 tahun (masa kanak.http://irfan-nurjaman. pertama. yang dimaksud dengan masa anak. Pengantar Umum Pendidikan. Suwarno.html Jalaluddin. darimanakah timbulnya agama pada diri anak. dan kedua. apakah sebenarnya yang merupakan faktoe esensial mempengaruhi perkembangan jiwa beragama tersebut. keinginan untuk selamat . dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan: 1.

Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata. diantarany adalah insthing keagamaan. ia akhirnya akan menjadi dewasa tanpa agama. setelah ia menyaksikan reaksi orangorang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas. jawaban atas permasalahan tersebut adalah dengan mengajukan hadist Rosulullah Saw.belum terlihaatnya tindak keagamaan pada diri anak karena beberapa fungdsi kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya insthink itu belum sempurna Pendapat ini mendapaat sanggahan dari beberapa ahli dengan mengemukakan argumentasi sebagi berikut : jika anak telah memiliki insthink keagamaan. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. mengapa terdapat perbedaan agam di dunia ini. persoalan bagaimanakah timbulnya kepercayaan pada anak dan apakah factor-faktor yang mempengaruhinya. yang pada awalnya diterima secara acuh. Namun.sementara woodwort berpendapat bahwa bayi dilahirkan telah memiliki bebepara insthink. keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru 3. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana. Permasalahannya berikut yang ingin dijawab adalah bagaimanakah pengembangan dari potensi tersebut? Dengan kata lain. mengapa orang tisdak terhayati secara otomatis. maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh. keinginan untuk mendapatkkan tanggapan baru dan 4. Fitrah dalam hadist tersebut tidak diartikan dengan insthing. . Di samping itu. maka sejak dilahirkan manusia hidup dalam ketergantungan.melalui pengalaman-pengalaman yang diterima dari lingkungan itu kemudian terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak.kata orang yang ada dalam lingkungannya. jika anak dibiarkan saja tanpa didikan agama dan hidup dalam tidak beraagama. keinginan untuk dikenal Berdasarkan pada kenyataan dan gabungan dari ke empat keinginan tersebut. bukankah cara berenang itik dan cara bergama membuat seseorang yang didasarkan pada tingkah laku insthingtif akan sama caraanya di setiap penjuru dunia? Menurut penulis. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. ketika mendengan lonceng gereja atau panggilan adzan.2. Sebab. tapi lebih diartikan sebagai potensi.

tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan. Ia merupakan campuran dari bermacam. akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya. bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga.masuk akal. pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual.2 TAHAP PERKEMBANGAN BERAGAMA PADA ANAK Sejalan dengan kecerdasannya. sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng) Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun. kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. 2.Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. konsep mengeanai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian: 1. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan) Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oelh dongeng. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. emosional dan spontan tapi penuh arti teologis. sehingga wajarlah bila anak harus .kanakannya.dongeng yang kurang . perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak.dongeng. Menurut Zakiah Daradjat. Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika. Pada usia ini. takut dan cinta padanya sekaligus. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik. butuh. tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya. 2.macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan.

Fase kanak. imam bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian. apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Fase dalam kandungan Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit. Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis. 2. Anak pada usia kanak. d. Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Masa anak sekolah . yaitu: a. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan: 1. Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. The Individual Stage (Tingkat Individu) Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Konsep ketuhanan yang lebih murni. c. 3. akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan. Berkaitan dengan masalah ini.kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam. sejalan dengan perkembangan usia mereka. sebagai mana hadis nabi: 3.kanak Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi.sebagai mana firman Allah: b. yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.ucapan orang disekelilingnya. dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya.diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya. seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak. Fase bayi Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.

Pada usia 7 – 9 tahun. sejalan dengan perkembangan moral.Pada Usia anak-anak adalah masa dimana segala sesuatu dengan mudah dibentuk dan akan sangat menentukan bagaimana selanjutnya dimasa yang akan datang. Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi 6 bagian: a.serta Dapat dikatakan bahwa sikap atau kepribadian seseorang ditentukan oleh pendidikan. Hal itulah yang mendasari betapa pentingnya penelaahan dan penelitian dilakukan sehingga kita tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan dalam membentuk karakter pada anak. pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun.maka kita perlu membekali dengan segala persiapan sedini mungkin terhadap anak. pengalaman dan latihan-latihan terhadap hal-hal yang religius. dan latihan-latihan yang dilalui pada masa kanakkanak. maka akan muncul pada dirinya yaitu merasakan pentingnya nilainilai agama baik didalam hidupnya dan kepribadian Pendidikan agama haruslah ditanam sejak dini. cukup sekedarnya saja. Egosentris Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun.gerik . Menurut penelitian. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik) Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam. 2. santun dan ringan tangan (suka membantu) terhadap sesama. doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak.Seiring dengan perkembangan aspek.3 SIFAT AGAMA PADA ANAK Agama pada anak membawa ciri tersendiri. berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa.kadang kurang masuk akal. pengalaman. Karena pendidikan agama sangat penting untuk tumbuh kembang jiwa anak Dengan agama yang berlandaskan akidah dan akhlaq dapat mengarahkan perilaku anak ke perilaku yang baik. empatik terhadap kesusahan dan segala masalah persoalan sosial di lingkungan sekitarnya. perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Seseorang yang pada masa kecilnya mendapatkan pendidikan. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang. Dalam hal ini. b.aspek jiwa lainnya. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang.

Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis. tetapi amat konkret dan pribadi. PENDAHULUAN 1. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja.kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran. rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. Imitatif Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru serta Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting. Anthromorphis Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Verbalis dan Ritualis Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Rasa heran Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak.1 LATAR BELAKANG . akan tetapi berupa teladan atau perangai yang baik. e. pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret (jelas). f. d. Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting dalam peranan kehidupan sehari-hari. 1.tertentu. c. Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung gerak dan biasa dilakukan suatu hal yang (tidak asing baginya). Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. Dikala ia berhubungan dengan orang lain. Mereka menghafal kalimat.

1.2 bagaimanakah tahap perkembangan beragama pada anaak-anak? 1.melalui proses atau tahapan pemahaman yang di awali denagan konsep tuhan yang sangat sederhana.2.3.2 Untuk mengetahui tahap perkembangan beragama paada anak-anak.3 TUJUAN PEMBAHASAN Berdasarkan rumusan masalah diatas maka dapat diambil sebuah kesimpulan sebagai berikut: 1.Keluarga merupakan pendidikan hanyalah sebagai pelanjut demi pendidikan rumah tangga. karena di masa ini anak yang secara pikiran belum terlalu kritis dalam arti setiap apa yang di berikan oleh orang tuanya akan di terimanya. PENUTUP KESIMPULAN Masa kanak-kanak adalah masa dimana serang individu mulai dapat berinteraksi dengan individu yang lainya. Namun keberagaman tersebut memerlukan tuntunan dan bimbingan sejalan dengan tahap perkembanganyang mereka alami.3. Dalam kaitan dengan kkepentingan ini pula terlihat pesan strategis dan peran sentral keluarga dalam meletakkan dasar-dasar keberagaman bagi anak-anak.dan kemudian akan berlanjut ke pada pemahaman yang lebih mendalam tentu saja hal ini sejalan dengan pertumbuhan fisik dan kejiwaanya. Dalam proses awal dimana perkembengan agama pada anak mulai terjadi disinilah faktor yang sangat membentuk jiwa ke agamaan pada anak yaitu faktor dari internal dan .3 bagaimanakah sifat agama pada anak? 1. pada masa inilah sebenarnya masa emas dimana seseorang di perkenalkan dengan agama.2 RUMUSAN MASALAH Dengan melihat latar belakang diatas maka dapat diambil rumusan masalah antara lain: 1.3. 1.2.3 Untuk mengetahui sifat agama pada anak.1 untuk mengetahui agama pada masa anak-anak. 1.Serta perkembangan agama pada anak.2. Tokoh yang paling menentukan daalam menumbuhkan rasa keberagaman itu adalah kedua orang tuanya.1Bagaimanakah Agama pada masa kanak-kanak? 1.

DAFTAR PUSTAKA Jalaludin. Ilmu Jiwa Agama. 2003 Daradjat Zakiah. Bulan Bintang. Psikologi Agama. Jakarta: PT.external seperti yang sudah di ulas di depan.dari pada itu saat perkembangan ini sangat di butuhkan tindakan yang tepat dan benar. Raja Grafindo Persada. PT. 2003 . Jakarta.H.