P. 1
Pendekatan Komunikatif Dalam Pembelajaran

Pendekatan Komunikatif Dalam Pembelajaran

|Views: 383|Likes:
Published by sairani_saidol

More info:

Published by: sairani_saidol on May 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2014

pdf

text

original

PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN PROSA

Pendahuluan Pendidikan sebagai institusi formal merupakan lingkungan yang kondusif dalam menumbuhkembangkan potensi kreatif siswa. Agar dapat tercipta kondisi yang demikian, pelaksanaan proses belajar-mengajar sedapat mungkin dipusatkan pada aktivitas belajar siswa yang secara langsung mengalami keterlibatan internal dan emosional dalam proses belajar-mengajar. Pengajaran sastra berusaha mendekatkan siswa kepada sastra, berusaha menumbuhkan rasa peka dan rasa cinta kepada sastra sebagai suatu cipta seni. Dengan usaha ini, diharapkan pengajaran sastra dapat membantu menumbuhkan keseimbangan antara perkembangan kejiwaan anak, sehingga terbentuk suatu kebulatan pribadi yang utuh. Rahmanto mengemukakan bahwa “Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu: membantu keterampilan membaca, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak ((1998:16). Pernyataan di atas sejalan dengan GBPP bahasa Indonesia ada bertuliskan: “Siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan berbahasa”. Memaknai isi GBPP, cerpen adalah salah satu bentuk sastra yang perlu diapresiasi oleh siswa SMP. Apresiasi cerpen di kalangan terpelajar merupakan suatu yang kehadirannya tidak boleh diabaikan. Hal ini terlihat dalam buku ajar siswa SMP pada standar kompetensi siswa mampu mengapresiasi puisi, cerpen, dan karya sastra Melayu Klasik Pendekatan komunikatif perlu dipahami oleh setiap guru bahasa dan sastra Indonesia agar dapat menyusun perencanaan pengajaran, melaksanakan penyajian materi pelajaran, mengevaluasi hasil belajar dan proses pembelajaran dengan baik. Pendekatan komunikatif dipandang sebagai pendekatan yang unggul dalam pengajaran bahasa. Keunggulan ini antara lain karena berdasarkan pada pandangan ilmu bahasa dan teori belajar bahasa yang mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya. Di

melalui berbagai kegiatan pembelajaran diharapkan siswa menguasai kemampuan berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman maupun penggunaan. Artinya. direct method.samping itu. Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa muncul pada tahun 1970-an sebagai reaksi terhadap empat aliran pembelajaran bahasa yang dianut sebelumnya (grammar translation method. kemudian makna unsur-unsur tersebut. Berdasarkan teori tersebut. audiolingual method. . tujuan pengajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif adalah membentuk komunikatif siswa. struktur kalimat. Para pembelajar mula-mula diperkenalkan bunyi-bunyi. makalah ini akan memfokuskan uraian pada pendekatan komunikatif dengan judul Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Prosa (Cerita). Kelemahan pendekatan struktural ialah tidak pernah memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk berlatih menggunakan bahasa dalam situasi komunikasi yang nyata yang sesungguhnya lebih urgen dimiliki oleh para siswa ketimbang pengetahuan tentang kaidahkaidah bahasa. bnetuk-bentuk kata. Kajian Teori 1. Pendekatan struktural menitikberatkan pengajaran bahasa pada pengetahuan tentang kaidah bahasa (tatabahasa) yang biasanya disusun dari struktur yang sederhana ke struktur yang kompleks. Berdasarkan uraian tersebut. Hakikat Pendekatan Komunikatif Munculnya istilah pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat berkomunikasi. dan cognitive learning theory). B. maka tujuan pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes (11972) disebut kompetensi komunikatif. Keempat metode itu memiliki ciri yang sama iaitu pembelajaran bahasa dalam bidang struktur bahasa yang disebut pembelajaran bahasa struktural atau pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan struktural.

d. maka tujuan umum pembelajaran bahasa ialah mengembangkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi). Tipe Kegiatan . Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang diilih harus sesuai dengan kebutuhan siswa. b. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. Selanjutnya. c. Teori Bahasa Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. Silabus Silabus disusun searah dengan tujuan pembelajaran. Dengan kata lain. yang harus dipehatikan ialah kebutuhan para pembelajar. Oleh karena itu. bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi. menurut Syafi’ie (1998) ada delapan hal yang perlu diperhatikan. e.Kelemahan dari pendekatan struktural itulah mengilhami lahirnya pendekatan komunikatif yang menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi dan komunikasi bahasa. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini ialah teori pemerolehan bahasa kedua secara alami. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi semantik dan komunikatif. Teori Belajar Pembelajar dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. iaitu: a. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan siswa iaitu kebutuhan berkomunikasi. bukan pengetahuan tentang bahasa. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan secara informal melalui komunikasi langsung di dalam bahasa yang sedang dipelajari. untuk memahami hakikat pendekatan komunikatif.

Dengan demikian. pelatihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Di samping itu. konselor. kelompok kecil. Garis besar tersebut sebagai berikut. c. atau secara individu. menawarkan garis besar kegiatan pembelajaran untuk tingkat sekolah menengah pertama. dan manajer proses belajar. sebagai negosiator dan interaktor. Peranan Guru guru berperan sebagai fasilitator. negosiasi makna. b. Peranan Siswa Peranan siswa sebagai pemberi dan penerima. Para siswa mengulang contoh lisan gurunya. siswa tidak hanya menguasai struktur bahasa. baik secara bersama-sama. h. 1996).Tipe kegiatan komunikasi dapat berupa kegiatan tukar informasi. Prosedur Pembelajaran Komunikatif Berkenaan dengan prosedur pembelajaran dalam kelas bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif. Penyajian Dialog Singkat Penyajian ini didahului dengan pemberian motivasi dengan cara menghubungkan situasi dialog dengan pengalaman pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Tanya-Jawab . Peranan Materi Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata. atau kegiatan berinteraksi. g. f. tetapi menguasai pula bentuk dan maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya. a. 2. Finochiaro dan Brumfit (dalam Azies. setengah. Pelatihan Lisan Dialog yang Disajikan Pelatihan ini diawali dengan contoh yang dilakukan oleh guru.

Memperhatikan prosedur di atas. f. Kedua. Pemberian Tugas Memberikan tugas tertulis sebagai pekerjaan rumah i. Pada tahap ini peranan guru masih dominan. . 1991). tanya-jawab yang berdasarkan topik dan situasi dialog. Aktivitas Produksi Lisan Dimulai dari aktivitas komunikasi terbimbing sampai kepada aktivitas yang bebas. juga mereka tidak memiliki tujuan berkomunikasi. para pembelajar belum memiliki keinginan untuk berkomunikasi. Harmer (1998) mengemukakan bahwa tahap-tahap pembelajaran bahasa komunikatif harus dimulai dari aktivitas nonkomunikatif menuju aktivitas komunikatif. Penarikan Simpulan Siswa diarahkan untuk membuat simpulan tentang kaidah tata bahasa yang terkandung dalam dialog. Lain halnya yang disodorkan oleh Littlewood adalah prosedur metodologis yang terbagi atas kegiatan prakomunikatif dan kegiatan komunikatif. tanya-jawab tentang topik itu dikaitkan dengan pengalaman pribadi siswa. dapat dilihat adanya kesamaan antara prosedur pembelajaran yang berdasarkan prinsip pendekatan struktural. h. g. Aktivitas Interpretatif Siswa diarahkan untuk menafsirkan beberapa dialog yang dilisankan. Sejalan dengan itu. e. Pertama. Pengkajian Siswa diajak untuk mengkaji salah satu ungkapan yang terdapat dalam dialog. d. Evaluasi Evaluasi pembelajaran dilakukan secara lisan (Tarigan. Selanjutnya. Dalam fase kegiatan nonkomunikatif. para siswa diberi tugas untuk memberikan contoh ungkapan lain yang fungsi komunikatifnya sama.Hal ini dilakukan dua fase.

kegiatan saling membagi informasi dengan kerja sama yang tidak terbatas c. simulasi c. Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Apresiasi Prosa (Cerita) . 3. Dalam fase komunikatif. kegiatan mengolah informasi Kegiatan interaksi sosial dapat berupa a. berdebat. tetapi pada isi. dan f. dialog dan bermain peran b. improvisasi e. kegiatan saling membagi informasi dengan kerja sama yang terbatas b. pemebelajar sudah memiliki keinginan dan tujuan berkomunikasi. mengemukakan ada dua kegiatan komunikatif yang perlu dikenal. kegiatan saling membagi informasi dan mengolah informasi d. Berkenaan dengan penggunaan pendekatan komunikatif Littlewood. melaksanakan berbagai bentuk diskusi. Pembelajar tidak lagi menitikberatkan pada bentuk. Kegiatan interaksi sosial Kegiatan komunikasi fungsional dapat berupa kegiatan berbahasa untuk saling membagi informasi dan kegiatan berbahasa untuk mengolah informasi yang keduanya dapat dirinci menjadi: a. iaitu: 1. memerankan lakon pendek yang lucu d.guru masih sering melakukan intervensi. Kegiatan komunikasi fungsional 2.

maka pelaksanaannya berintegrasi dengan pembelajaran bahasa. dan mengarang prosa. dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian. Perbedaan tokoh itu ditandai dengan perbedaan nama. Dalam proses pembelajaran prosa ada berbagai kegiatan yang dapat dilaksanakan. tokoh yang satu berbeda dengan tokoh yang lainnya. memahami. Dalam kegiatan pembelajaran prosa. perbedaan fisik. serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Tujuan umum pengajaran sastra agar siswa mampu menikmati. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain ialah menyimak pembaca prosa. Tokohtokoh dalam cerita bersifat unik. Pemahaman Tokoh Cerita Tokoh termasuk unsur cerita yang sangat penting. siswa diarahkan untuk memahami prosa yang dibacanya. pembelajaran sastra dapat dengan mudah diintegrasikan dengan pembelajaran bahasa. dan latar cerita. memperluas wawasan kehidupan.dan sering menjadi idola pembacanya. dan watak setiap tokoh yang terdapat dalam cerita yang dibacanya. kondisi fisik. iaitu: tokoh. Tokoh antagonis dibenci pembaca karena hadir sebagai lawan dari tokoh pratagonis. Dalam pembelajarn prosa para siswa dibimbing untuk dapat mengidentifikasi perbedaan nama. Baik tokoh pratagonis maupun tokoh antagonis . Di samping itu. sesuai karakteristik pembelajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif. dan perbedaan watak masing-masing tokoh. Daya tarik sebuah cerita antara lain disebabkan oleh adanya pertentangan antara tokoh pratagonis dengan tokoh antagonis. a. Oleh karena itu. tentang prosa.Pembelajaran sastra merupakan bagian dari pembelajaran bahasa. diabadikan kepada kepentingan pengembangan kemampuan berkomunikasi. Sastra sendiri merupakan karya seni yang menggunakan bahasa. membaca prosa. alur. Tokoh pratagonis adalah tokoh yang mendapat simpati pembaca. Berkenaan dengan tokoh dalam cerita iaitu tokoh pratagonis dan tokoh antagonis. Membaca prosa termasuk kegiatan membaca pemahaman. karena memiliki watak tertentu. baik pemahaman (reseptif) maupun penggunaan (produktif). Hal apa saja yang harus dipahami siswa? Ada tiga hal yang penting untuk diperhatikan. Tidak ada cerita tanpa tokoh. baik lisan maupun tulisan. maka para pembaca berpihak kepadanya.

Di samping itu. Guru dalam hal ini membimbing siswa menemukan ketiga unsur yang terkandung dalam cerita yang dibacanya. dan latar merupakan unsur-unsur cerita yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Perilaku seorang tokoh dalam sebuah cerita sangat berkaitan dengan karakter para tokohnya. . Rangkaian kejadian itu dibangun berdasarkan hukum sebab akibat. Berdasarkan uraian tersebut. alur. Sebuah peristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita harus berdasarkan sebab yang masuk akal (logis). adat istiadat dan suasana tertentu. c. 1994).biasanya menjadi fokus cerita biasa disebut tokoh utama. dapat dilihat bahwa tokoh cerita. Media Pembelajaran Prosa (Cerita) Media pembelajaran merupaka salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan pembelajaran. kondisi. budaya. biasanya didukung oleh tokoh-tokoh yang lain yang biasa disbut tokoh pendukung. Dalam pembelajaran membaca prosa (cerita). Dengan demikian. dan b. dapat dikatakan bahwa latar sebuah cerita dapat berpengaruh terhadap karakter setiap tokoh yang ada dalam cerita yang bersangkutan. siswa dibimbing untuk menemukan tokoh utama dan tokoh pendukungnya. Pemahaman Alur Cerita Alur atau plot ialah rangkaian kejadian dalam cerita. mereka dibimbing pula untuk menemukan tokoh pratagonis dan antagonis. 4. b. Dapat membuat pendidikan (pembelajaran) lebih produktif. Pemahaman Latar Cerita Sebuah cerita terjadi di sebuah tempat dan pada waktu tertentu. Tempat dan waktu terjadinya sebuah peristiwa mempunyai iklim. Dapat membuat pendidikan (pembelajaran) lebih individual (Jobrohim. Tokoh utama baik yang berkarakter menyenangkan maupun yang berkarakter tidak menyenangkan (jahat). Penggunaan media dalam pembelajaran sedikitnya ada dua keuntungan iaitu: a. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi karakter setiap tokoh.

Para siswa lebih kuat daya ingat dan daya serapnya melalui kegiatan melihat. Dengan demikian. (Jobrohim. Penilaian dalam pembelajaran sastra ditujukan oleh dua hal yakni. Dengan adanya media. tidak hanya melibatkan satu alat indra saja. (Jobrohim. Untuk pelatihan deklamasi mungkin diperlukan model. Model deklamasi yang baik dapat diharapkan melalui rekaman vidio dan mungkin pula menghadirkan deklamator yang baik ke ruang belajar. 5. hasil belajar siswa dan proses pembelajaran itu sendiri. dan demikian pula siswa yang lebih kuat daya dengarnya. Alat penilaian sebenarnya dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran sastra. Cara yang lebih praktis tentu saja memilih siswa yang mahir berdeklamasi untuk tampil di muka kelas. Pembelajaran sastra sebaiknya menggunakan media yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Di samping itu. 1994). ranah psikomotor dan afektif kurang mendapat perhatian. juga membuat pembelajar lebih individual. Hal ini dapat meningkatkan kekuatan memori dan perhatian sehingga pembelajaran akan lebih produktif. penggunaan media pun dapat mewadahi potensi individual para siswa. Namun dalam kenyataannya di sekolah penilaian hasil belajr sastra lebih menekankan ranah kognitif.Penggunaan media dapat membuat pembelajar lebih produktif karena media menyuguhkan pengalaman belajar yang lebih kaya. iaitu: . Berkenaan dengan tes sastra. Hasil penilaian tersebut bermanfaat bagi siswa untuk mengukur kemajuan belajarnya dan bermanfaat pula bagi guru untuk menemukan kekurangan dan kelebihan yang selanjutnya dijadikan masukan bagi perbaikan bagi kegiatan pembelajaran berikutnya. penggunaan media. di samping dapat membuat pembelajaran lebih produktif. tetapi juga melalui kegiatan melihat dan mengamati. Dan saat yang biasanya dinantikan oleh para siswa adalah penampilan guru sebagai deklamator yang selalu mengesankan. Evaluasi Evaluasi atau penilaian dimaksudkan untuk mengetahui apakah program yang bersangkutan telah sesuai dengan perencanaan atau telah mencapai target atau belum. Hal ini dapat terjadi jika penilaian yang dilakukan lebih ditekankan pada kemampuan apresiasi siswa (secara langsung). para siswa tidak hanya dapat belajar melalui menyimak. 1994). Moody mengetengahkan adanya empat tingkatan tes sastra.

misalnya cerpen Kado Perkawinan karya Hamzat Rangkuti. analisis. 1988). dan sintesis. d.a. Ada baiknya guru menyampaikan pengantarnya terlebih dahulu tentang cerpen tersebut untuk menumbuhkan motivasi mereka. Di samping tingkatan tes tersebut. Kemampuan kognitif yang dituntut adalah tingkat aplikasi. dan kepraktisan. tetapi juga tingkat analisis dan sintesis. sintesis. a. perlu pula dipahami bahwa tes sastra harus memenuhi persyaratan tes yang baik seperti halnya tes-tes yang lain. Keterpercayaan (reabilitas). Tingkat Informasi Merupakan tes yang berkenaan dengan data dasar suatu karya sastra dan data yang menunjang dalam proses penafsiran karya sastra yang bersangkutan. C. Tingkat Konsep Tes ini berkaitan dengan persepsi tentang bagaimana unsur-unsur karya sastra diorganisasikan. Pembacaan oleh siswa dilakukan tanpa dibebani oleh tugas-tugas yang rumit. Dalam kegiatan ini guru telah memilih sebuah cerita yang telah dipertimbangkan dari segi bahasa. Tingkat Apresiasi Kemampuan kognitif yang dituntut oleh tes ini adalah aplikasi. Tingkat Perspektif Tes ini berkaitan dengan pandangan siswa mengenai karya sastra yang dibacanya. dan yang terutama adalah evalusi (Nurgiantoro. yakni kesahihan (validitas). Siswa membaca karya sastra sebagai kegiatan yang menyenangkan. Para siswa dipersilahkan membaca karya sastra yang telah dipilih itu. Aplikasi Pembelajaran Prosa (Cerita) Berikut ini akan disajikan langkah-langkah pembelajaran prosa (cerita). misalnya biografi pengarang. analisis. isi dan pertimbangan pedagogis. b. Mereka membaca sekedar kesenangan semata. Tes ini menuntut kemampuan kognitif siswa yang lebih tinggi tidak hanya tingkat pemahaman. c. . evaluasi. Tes ini pun menuntut kemampuan kognitif siswa pada tingkat tinggi.

para siswa diberi tugas untuk menyusun pertanyaan berkenaan dengan cerpen yang dibacanya. d. g. Bagaimana sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan! 3. pribadi. Tuliskan bagian permulaan konflik yang mendasari cerita ini. juga klimaks dan pengakhirannya . f. Siswa menganalisis dan mendiskusikan latar dan ciri khas latar cerpen Kado Perkawinan. Di bagian cerita manakah sesungguhnya cerita ini dimulai 4. 5. Siswa menganalisi dan mendiskusikan tema cerpen Kado Perkawinan. Siswa menganalisis dan mendiskusikan pengaruh psikologis tokoh dari latar terhadap setiap tokoh dalam cerpen Kado Perkawinan. e. j. Siswa mengidentifikasi dan mendiskusikan unsur intrinsik dan ekstrinsik yang mendukung cerpen Kado Perkawinan. Siswa menganalisis dan mendiskusikan motif psikologi dari perilaku setiap tokoh dalam cerpen Kado Perkawinan. Guru harus membimbing mereka agar sampai pada sebuah pertanyaan analisis yang tepat dan relevan. Siswa menganalisis dan mendiskusikan alur cerpen Kado Perkawinan. Siswa menganalisis dan mendiskusikan tokoh dan ciri khas tokoh cerpen Kado Perkawinan. Pertanyaan Apresiatif tentang Cerita 1. Pada langkah ini. i. c. Rumuskan masalah yang ingin diungkapkan pengarang! 2. h. Siswa menganalisis dan mendiskusikan nilai-nilai moral yang terdapat dalam cerpen Kado Perkawinan. Siapakah tokoh utama atau pratagonis cerita ini? Gambarkan keadaan fisik. dan latar sosialnya.b. Pertanyaan sebaiknya muncul pada bagian berikut di bawah subjudul Pertanyaan Apresiatif tentang Cerita. Menyusun pertanyaan.

peran materi. Dari manakah sumber suasana cerita itu muncul? Apakah dibangun oleh gaya penceritaan pengarang atau tokoh-tokohnya? D. silabus. agar siswa memahami prosa yang dibacanya iaitu: tokoh. peran siswa.com/tentang-kami/artikel-7/ . pengkajian. tanya jawab. Konsekuenkah pengarang dalam mengurutkan ceritanya sesuai dengan point of view yang dipilihnya? 9. Penutup 1. alur.wordpress. aktivitas interpretatif. dan evalusi. Suasana apakah yang terasa dalam cerita itu? 10. 5. tujuan. tipe kegiatan. yakni kesahihan (validitas). dan latar cerita. 3. Keterpercayaan (reabilitas). Apakah peristiwa-peristiwa dalam cerita ini diungkapkan pengarang secara jelas dan sederhana? 7. 2. peran guru. pelatihan lisan dialog yang disajikan. 4. aktivitas produksi lisan. Tes sastra harus memenuhi persyaratan tes yang baik seperti halnya tes-tes yang lain. teori bahasa. Ada tiga hal yang penting dalam kegiatan pembelajaran prosa. dan kepraktisan http://solehamin. Pembelajaran sastra sebaiknya menggunakan media yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan.6. Yang perlu diperhatiak untuk memahami pendekatan komunikatif iaitu: teori belajar. penarikan simpulan. pemberian tugas. Garis besar kegiatan pembelajaran tingkat sekolah lanjutan pertama dengan prosedur pembelajaran berdasarkan pendekatan komunikatif iaitu: penyajian dialog singkat. Bagaimana gambaran ciri-ciri jasmaniah tokoh pratagonis cerita ini? 8.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->