Tinjauan Pustaka Divisi Alergi Imunologi

TRANSPLANTASI

Rizki Aliana Agustina

Pembimbing:

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I ILMU PENYAKIT DALAM FK UNSRI / RSMH PALEMBANG 2012

....DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL………………………………...... Pendahuluan………………........ DAFTAR PUSTAKA .............................………………………………………... BAB 2....………………………………….. 2......... Penatalaksanaan Syok Kardiogenik......... BAB 1.................………………………………………............................ 2.…………………………......... I ii 1 3 . BAB 4..........3...... DAFTAR ISI…………………………………...……………………………………………..3 ………………………… BAB 3.3...3.. Diagnosis syok kardiogenik 3. Syok Kardiogenik 2....3 Patogenesis syok kardiogenik ………………..1 …………………………………………………………… 2.2 …………………….........2 Etiologi dan epidemiologi syok kardiogenik……….…………………… 2...................1 Definisi syok kardiogenik………........ 2.....

jumlah transplantasi keseluruhan organ di China memang meningkat drastis. sehingga menimbulkan pengertian bahwa transplantasi adalah pemindahan seluruh atau sebagian organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain atau dari satu tempat ke tempat yang lain di tubuh yang sama. Jumlah tersebut semakin meningkat pada tahun 2004 yaitu 507 kali transplantasi. Tidak hanya hati. Sebagai contoh di Cina. Sedangkan peraturan pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. Transplantasi ini ditujukan untuk mengganti organ yang rusak atau tak berfungsi pada penerima. 18 Tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat atau Jaringan Tubuh Manusia. pada tahun 1999 tercatat hanya 24 transplantasi hati. Ketidakseimbangan antara jumlah pemberi organ dengan penerima organ hampir terjadi di seluruh dunia. namun tahun 2000 jumlahnya mencapai 78 angka. Transplantasi organ merupakan suatu teknologi medis untuk penggantian organ tubuh pasien yang tidak berfungsi dengan organ dari individu yang lain. perkembangan di bidang transplantasi maju dengan pesat. transplantasi organ ataupun jaringan diatur dalam UU No. Salah satunya adalah kemajuan di bidang kesehatan yaitu teknik transplantasi organ. Permintaan untuk transplantasi organ terus mengalami peningkatan melebihi ketersediaan donor yang ada. matching genetik antara donor dan penjamu dan pengertian proses imun mengenai . Sampai sekarang penelitian tentang transplantasi organ masih terus dilakukan Sejak kesuksesan transplantasi yang pertama kali berupa ginjal dari donor kepada pasien gagal ginjal pada tahun 1954. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Transplantasi organ yang lazim dikerjakan di Indonesia adalah pemindahan suatu jaringan atau organ antar manusia. dunia juga mengalami perkembangannya di berbagai bidang. Diantara hambatan-hambatan yang memerlukan penanganan antara lain adalah mengontrol infeksi. bukan antara hewan ke manusia. Saat ini di Indonesia.BAB 1 PENDAHULUAN Seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman. Sedangkan tahun 2003 angkanya bertambah 356. Setidaknya telah terjadi 3 kali lipat melebihi Amerika Serikat.

Kemajuan dalam teknik antiseptik dan antibiotik. telah dapat mengurangi resiko infeksi. Transplantasi melibatkan ketentuan-ketentuan yang kadang menimbulkan persoalan etis pada beberapa individu. .perkembangan bahan yang dapt mencegah sistem imun. Kadang kebiasaan agama dan kultural melarang untuk menjadi donor atau resipien dan bahkan kadang transfusi darah. . sedang typing jaringan dan obat imunosupresif telah dapt meningkatkan keberhasilan transplantasi. sehingga kebutuhan untuk donasi organ jauh melebihi persediaan. Tinjauan pustaka ini akan membahas mengenai transplantasi sehingga diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita.

Tabel 1. Istilah transplantasi .1 Istilah khusus Istilah khusus pada transplantasi disebut menurut alat jaringan tubuh yang dicangkokkan dari donor ke resipien. Hal tersebut merupakan tindakan pilihan bila suatu alat atau jaringan tubuh yang vital rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi akibat proses penyakit. sedang allograft sering ditolak. Hokum transplantasi adalah bahwa tandur akan diterima bila resipien dan donor memiliki gen histokompatibilitas tertentu yang sama. atau bahkan seluruh bagian tubuh. 2.1. merupakan impian dari para dokter. Transplantasi adalah memindahkan alat atau jaringan tubuh dari satu orang ke orang lain.BAB 2 DASAR-DASAR TRANSPLANTASI Kemampuan untuk mengganti atau memperbaiki jaringan yang rusak. Autograft dan isograft biasanya memberikan hasil yang baik.1 DASAR-DASAR TRANSPLANTASI 2.

Istilah transplantasi menurut alat jaringan 2. Jaringan yang menunjukkan perbedaan antigenic bermakna.Gambar 1. tidak menginduksi respons imun dan menimbulkan penolakan tandur (Gambar 2). . disebut histoinkompatibel dan menginduksi penolakan tandur.1. Histokompatibel dan histoinkompatibel Jaringan dengan sifat antigenik sama disebut histokompatibel.2 Dasar genetik 1.

tetapi yang terpenting adalah gen MHC. Dengan kekecualian beberapa lokus yang ekspresinya kurang diketahui. Antigen histokompatibel 2. Banyak lokus gen yang dapt menolak tandur.Gambar 2. Jadi individu heterozigot pada lokus MHC tertentu (mis. produk gen MHC diekspresikan dalam kopi tunggal (heterozigot atau hemizigot) atau 2 kopi (homozigot). Antigen histokompatibel mayor Gen histokompatibel adalah gen yang menentukan apakah tandur dapat diterima. H1a/H1b) akan secara simultan mengekpresikan kedua molekul H1a dan H1b .

Gambar 3. Antigen histokompatibel minor Antigen histokompatibel minor biasanya lebih lemah disbanding antigen MHC dan diduga merupakan antigen yang dijadikan sasaran pada penolakan dengan awitan lambat. Contohnya antara lain golongan nonABO dan antigen yang berhubungan dengan kromosom seks. H2b.pada permukaan sel yang sama. . Hal yang sama terjadi untuk lokus histokompatibilitas laim misalnya H2a. Antigen isokompatibel 3. H3b (Gambar 3). H3a.

Fragmen demikian dapat berasal dari protein sitosolik atau dari debris sel yang dimakan atau dirusak fagosit. Hal tersebut disebabkan karena jaringan hati hanya sedikit mengekspresikan molekul MHC. Jaringan Khusus 1.4. 2. Contoh Sequestered antigen lainnya adalah testis dan selaput otak. Antigen histokompatibel nonMHC Antigen histokompatibel non-MHC tidak banyak diketahui. kecuali bahwa hal itu meliputi molekul yang disandi oleh sejumlah besar gen yang tersebar di antara kromosom (termasuk X dan Y). Sequestered antigen Kornea dan lensa mata tidak memperoleh pasokan aliran limfe sehingga tidak terjadi proses pengenalan dan penolakan. C. BAB 3 . Jaringan yang sedikit mengepresikan MHC Beberapa jaringan tandur alogenik seperti hati. Yang penting adalah bahwa molekul disandi dalam sel donor dan tidak berasala dari bahan infeksi. hanya menimbulkan reaksi lemah. Pada prinsipnya setiap fragmen peptida yang dibawa ke permukaan sel dan dipresentasikan atau ke MHC-1 atau MHC-H dapat berperan sebagai antigen histokompatibel.

Tandur yang berasal dari donor alogeneik akan diterima untuk sementara dan mendapat vaskularisasi. sel B. 2.7 dan 20. Gejala timbul sesudah terjadi vaskularisasi. Namun pada hewan utuh. Pada umumnya. sel NK dan makrofag yang semuanya mempunyai potensi dan peran dalam proses penolakan. Reaksi penolakan ditimbulkan oleh sel Th resipien yang mengenal antigen MHC alogenik dan memacu imunitas humoral (antibodi). 20.4. allograft dapat diterima Memang penolakan dapat diperantai sel CD4 tanpa adanya sel CD8. Peran antibody . B. Reaksi inflamasi ini segera menimbulkan kerusakan pembuluh darah yang diikuti nekrosis jaringan tandur (Gambar 20. Selanjutnya IFN-y yang dilepas makrofag meningkatkan ekspresi antigen pada sel tandur sasaran sehingga juga meningkatkan sitotoksitas CD8. Peran selular Reaksi penolakan pada umunya berlangsung sesuai respons CMI. tandur kulit ditolak lebih cepat disbanding jaringan lain seperti ginjal dan jantung. Spesifisitas dan memori Penolakan allograft terjadi dengan spesifisitas dan memori dan kecepatan penolakannya bervariasi menurut jaringan terlibat. Sel CTL/Tc juga mengenal antigen MHC alogenik dan membunuh sel sasaran melalui imunitas selular.6. Peran sel T pada penolakan allograft terlihat pada Gambar 20. mula-mula terjadi invasi tandur oleh sel limfosit dan monosit melalui pembuluh darah. Tandur dari donor singeneik dengan cepat diterima resipien dan mendapat vaskularisasi dan berfungsi normal. tetapi selanjutnya akan terjadi penolakan yang lamanya tergantung dari derajat inkompatibilitas. 1. Proses keberhasilan atau kegagalan tandur dapat dilihat pada Gambar 20. mungkin karena sel CD4 kadang potensial sitotoksit untuk sasaran MHC-II. Namun sejumlah studi pada mencit menunjukkan bahwa bila tidak ada sel CD4+. serupa dengan yang terjadi pada reaksi hipersensitivitas tipe IV dan Gell dan Coombs/DTH.8. akan menimbulkan kerusakan.PENOLAKAN DAN REAKSI ALLOGRAFT A. sekresi sitokin asal CD4 akan dikerahkan dan mengaktifkan CD8. Makrofag yang dikerahkan ketempat tandur atas pengaruh limfokin asal sel Th. Mekanisme Sistem imun yang berperan pada proses penolakan adalah sistem imun yang juga berperan terhadap mikroba.5).

a. Jenis Penolakan 1. penurunan fungsi dan aliran darah serta sel darah dan protein dalam urin. akibat transplantasi atau transfusi darah atau kehamilan sebelumnya. 2. karena antibody sudah ada dalam resipien. antibody akan menimbulkan reaksi hipersensitivitas Tipe 2. ditandai oleh lambatnya gerakan SDM dan timbulnya mikrotrombi dalam glomerulus yang disebabkan oleh inkompatibilitas darah. ginjal mengekspresikan antigen ABO pada endotel pembuluh darahnya. Hal ini merupakan penolakan umum yang sering dialami resipien yang menerima tandur yang mismatch atau allograft dan pengobatan imunosupresif yang kurang. ditandai oleh inflitrasi pada selular dan rupture kapiler peritubular. Penolakan akut dapat dihambat melalui imunosupresi misalnya serum antilimfosir. Sel alogenik dapat dihancurkan oleh hipersensitivitas tipe II yang melibatkan antibody humoral. Antibodi tidak berperan dalam proses penolakan disini. steroid dan lainnya. mengaktifkan komplemen yang menimbulkan edem dan pendarahan interstisial dalam jaringan tandur sehingga mengurangi aliran darah keseluruh jaringan (Tabel 20. C. Penolakan akut dini Penolakan terjadi dalam 10 hari atau lebih. Nampaknya terjadi melalui hipersensitivitas selular terutama melibatkan CD8+ yang menyerang sel tandur yang ekspresi MHC-nya ditingkatkan oleh IFN. Bila resipien sebelumnya sudah disensitasi antigen donor. Penolakan akut Penolakan akut terlihat pada resipien yang sebelumnya tidak disensitasi terhadap tandur. reaksi dapat terjadi dalam 2-5 hari. Dewasa ini belum ada penolakan hiperakut. Tdth dan monosit/makrofag.9. Hal itu terjadi pada individu yang sudah mengandung antibody terhadap tandur/antigen donor. . menunjukkan leukositosis dan memproduksi sedikit urin dengan berbagai elemen selular seperti eritrosit atau tidak sama sekali. Tahapan penolakan hiperakut terlihat pada Gambar 20. Penolakan akut disertai pembesaran ginjal yang disertai rasa sakit. antibody berperan.Sel alogenik dapat dihancurkan melalui hipersensitivitas Tipe II yang melibatkan antibody humoral. Resipien menderita demam. Jadi bila donor mempunyai golongan darah lain dari resipien. Pemeriksaan histologist menunjukkan inflitrasi limfosit dan monosit tang diaktifkan. Tidak seperti tandur lain. Penolakan biasanya terjadi sekitar 10 hari setelah transplantasi. tetapi juga sel CTL/Tc.2). Reaksi akut terjadi melalui aktivasi dan proliferasi sel T. Penolakan hiperakut Penolakan hiperakut terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam sesudah tranplantasi.

Kadang timbul sesudah pemberian imunosupresan dihentikan.10). Antigen transplantasi minor juga dapat memacu respons imun yang cukup berarti dan menimbulkan penolakan. Ringkasan mekanisme postulat terlihat pada Tabel 20.b. Penolakan tersembunyi dan lambat Penolakan tersembunyi atau lambat disertai endapan Ig dan C3 subendotel di membrane basal glomerulus. perlu pula dipertimbangkan. Infeksi yang ada akan mempermudah timbulnya penolakan yang kronik (Gambar 20. Mekanismenya mungkin terjadi melalui hilangnya imunosupresi oleh respons imun atau ditimbulkan oleh ikatan Ig (diduga spesifik untuk tandur) terhadap arteriol dan kapilar glomerulus dan komplemen yang dapat dilihat dengan IFT. terjadi terjadi sesudah transplantasi.3. respons memori (dan primer) yang menimbulkan produksi antibody dan imunitas selular terhadap HLA yang memerlukan waktu lama dapat berperan. pengobatan dengan imunosupresi saat ini tidak banyak berguna. Kerusakan yang terjadi oleh antibody melalui ADCC. 3. Penolakan kronis Penolakan kronis menimbulkan hilangnya fungsi organ yang dicangkokkan secara perlahan dalam beberapa bulan-tahun sesudah organ berfungsi normal. Pemeriksaan histologik menunjukkan proliferasi sejumlah besar sel mononuclear yang memacu teruama sel T. Gejala gagal ginjal terjadi perlahan dan progresif. Penolakan akut lambat Penolakan terjadi mulai hari ke 11 pada penderita yang ditekan dengan prednisone dan azathioprin. Endapan Ig didinding vaskular menginduksi agregasi trombosit dalam kapilar glomerulus yang menimbulkan gagal ginjal akut. D. Efek dan interaksi antara faktor selular dan humoral pada penolakan tandur adalah cukup kompleks. Hal ini disebabkan oleh sensitivitas yang timbul terhadap antigen tandur atau oleh timbulnya intoleransi terhadap sel T. mungkin ditimbulkan oleh kompleks imun atau pembentukan kompleks dengan antigen larut asal ginjal yang dicangkokkan. Oleh karena kerusakan sudah terjadi. 4. Sel leukosit donor yang terdapat dalam jaringan tandur dan dapat bermigrasi ke luar dari tandur dan masuk ke dalam sistem limfoid resipien disebut sel passenger. Penyakit Graft versus Host dan Host versus Graft Penyakit Graft versus Host ialah keadaan yang terjadi bila sel yang imunokompeten asal donor (pada transplantasi sumsum tulang) ditransfusikan kepada resipien dengan supresi sistem imun atau bila transfusi darah segar diberikan kepada anak atau neonates yang imunokompromais dan menimbulkan reaksi selular (CMI) diberbagai tempat. Mekanisme penolakan tidak jelas. .

III. Allograft kulit pada manusia biasanya ditolak dalam 10-14 hari. Pemeriksaan kompatibilitas golongan darah ABO merupakan hal yang pertama harus dilakukan. golongan O mempunyai antibodi terhadap A dan B sedang golongan AB tidak mempunyai antibodi terhadap A atau B. Cross-matching dan Tissue Typing 1. tissue typing dan obat imunosupresi. Reaksi imun yang menimbulkan penolakan tandur bersifat spesifik yang disertai memori. Oleh karena antigen ABO juga diekspresikan pada endotel vaskular.4).6 dan 20.5).7).Tanda dari respon GvH adalah pembesaran kelenjar getah bening. biasanya dalam 5-7 hari. diare. resipien akan membentuk antibodi (isohemaglutin) yang akan bereaksi dengan endotel donor. Hukum untuk transfusi dan transplantasi darah dalam sistem ABO adalah sama (Tabel 20. A. hati. Seseorang dengan SDM Rhyang terpajan dengan SDM Rh+ akan memproduksi antibody yang beberapa diantaranya adalah isotip IgG. Respons GvH ini lebih mudah terjadi bila sebelumnya transplantasi atau transfusi tidak diusahakan untuk menyingkirkan semua sel T matang yang imunokompeten (Tabel 20. Antigen rhesus Antigen Rhesus pada permukaan SDM berupa protein. berat badan menurun dan akhirnya meninggal. Subyek dengan golongan A mempunyai antibodi terhadap B. ABO Typing Antigen golongan darah ABO diekspresikan pada SDM. sel epitel dan sel endotel. resipien akan menolaknya lebih cepat. rambut rontok. B.dengan darah Rh+ (Tabel 20. limpa. Transfusi golongan darah yang tidak sama/cocok akan ditolak. golongan darah B mempunyai antibodi terhadap A. Kematian diduga terjadi karena destruksi sel penjamu dan jaringan akibat respons CMI yang berlebihan terhadap banyak sel sasaran pada penjamu yang memiliki antigen MHC-I. Antibodi yang diproduksi resipien terhadap slah satu antigen tersebut dapt ditemukan di jaringan tandur. sehingga akan dapat menimbulkan lisis sel donor inkompatibel dengan bantuan komplemen. tetapi billa allograft kedua dari individu yang sama dicangkokkan lagi. Reaksi penolakan dapat dikurangin dengan menggunakan anggota keluarga sebagai donor. PENCEGAHAN PENOLAKAN TANDUR Golongan darah dan molekul MHC di antara berbagai individu berbeda. kemerahan di kulit. Hal ini akan menimbulkan koagulasi vaskular dan kegagalan tandur yang segera. Cross-matching . maka bila organ padat ditransplantasikan ke resipien yang ABO inkompatibel. Tipe antigen Rh yang ditentukan sebelum transfusi dan reaksi transfusi yang berhubungan dengan Rh dapt mencegah reaksi transfusi resipien Rh. C.

infeksi kronis dan diabetes. HL-B dan HL-C) yang diekspresikan pada semua sel dengan nucleus tubuh. Kusus untuk donor hidup harus dilakukan evaluasi penyakit jantung. Hal ini berarti kotraindikasi untuk menggunakan kombinasi donor-resipien tersebut. Walau sudah meninggal tetap harus dilakukan typing ABO dan HLA dengan mengambil specimen dari KGB atau limpa sebagai sumber limfosit. Adanya sel mati atau positif fluoresen berarti ada antibodi antidonor yang dapat menimbulkan penolakan hiperakut.Cross matching serum penderita harus dilakukan untuk menyakinkan tidak mengandung antibodi yang preformed terhadap antigen/HLA donor yang dapat memacu penolakan hiperakut.8). MHC-II diekspresikan pada segolongan sel yang lebih terbatas seperti APC. sebaiknya tidak menggunakan mereka yang menderita infeksi penyakit menular. sepsis berat. Kemungkinan antigen HLA dari 2 individu akan sama adalah sangat kecil (1 dalam 10 juta) (Gambar 20. 2. Usia lanjut. Seleksi penderita Kriteria seleksi penderita untuk transplantasi bervariasi di antara berbagai senter. keganasan atau penyakit sistemik yang dapat menggangu fungsi ginjal. MHC merupakan induktor terkuat dari reaksi penolakan yang terjadi melaui sel T. osteoporosis. MHC-II merupakan antigen yang mengaktifkan sel Th dan antigen terpenting pada penolakan tandur. Tissue Typing Tissue Typing adalah identifikasi antigen MHC. keganasa. . MHC-I menetukan antigen permukaan semua sel dalam tubuh yang memiliki nucleus yang dapat menjadi sasaran peolakan pada transplantasi atas pengaruh sel CTL/Tc. Pada umumnya tandur tidak akan hidup bila donor dan resipien tidak memiliki satu haplotip DR pun yang sama. Jika menggunakan donor yang sudah meninggal. MHC-1 (HL-A.11). Masa hidup tandur ditentukan oleh banyaknya spesifisitas yang dimiliki bersama oleh donor dan resipien (Tabel 20. antibodi dan komplemen. sel B dan sel T yang diaktifkan. Reaksi tersebut dapat menetukan tipe serologi dari setiap antigen transplantasi pada sel. D. Serum asal resipien potensial dicampur dengan limfosit donor dan dievaluasi untuk lisis dengan bantuan komplemen atau teknik pewarnaan imunofluoresen atau flow cytometry. Limfosit dari donor dan resipien yang tergolong antigen kelas I dan II direaksikan dengan satu seri antibodi.9). Antibodi monoklonal sudah dapat digunakan untuk menemukan antigen yang secara serologis sudah dapat ditentukan. penyakit ginjal. Sel Th resipien akan memberikan respons terhadapa antigen donor sedang sel Th donor akan memberikan respons yang sama terhadap antigen resipien dengan akibat matinya tandur. kecenderungan pendarahan atau kotraindikasi lainnya terhadapa dosis tinggi steroid menjadikan penderita sulit diterima sebagai resipien potensial (Tabel 20.

IL-2 dalam serum dapat pula digunakan sebagai petanda dari penolakan. Transplantasi hati telah menunjukkan kemajuan pada 10 tahun terakhir. tetapi anti-HLA pada resipien dapat menimbulkan kerusakan saluran empedu. tetapi kemudian mengandungnya. diperoleh dari donor hidup voluntir atau dari cadaver. Mereka yang sebelum transplantasi tidak mengandung anti-HLA. Matching lokus HLA-B dan HLA-DR sangat penting. Di samping itu kombinasi organ tertentu seperti jantung dan paru atau ginjal dan pancreas dapat ditransplantasikan secara simulan. Tergantung dari sifat jaringan.IV. mempunyai masa hidup tinggi (100 %). Sebaliknya. Izin biasanya harus diperoleh melaui izin tertulis donor sebelum meninggal atau melalui persetujuan keluarga. C. sedang matching lokus HLA-A tidak memberikan keuntungan yang lebih bila resipien mendapat pengobatan dengan imunosupresan seperti siklosporin.ebihi 80 %. sel yang diberikan kadang dapat disimpan atau diubah in vitro sebelum tindakan.12. Penolakan dini jantung yang menunjukkan adanya peningkatan ekspresi MHC-I dapat diukur dari perubahan elektrokardiogram dan biopsy miokard. Jantung dan paru Meskipun HLA matching dapat menguntungkan pada transplantasi jantung dan paru. Hati Hati merupakan imunogen yang lemah dan masa hidup satu tahun me. mereka yang sebelumnya menunjukkan anti-HLA dan kemudian tidak menunjukkannya lagi. Mismatch HLA sering tidak praktis dan tidak menunjukkan keuntungan pula. transplantasi merupakan satu-satunya cara pengobatan. Biasanya. namun hal tersebut sering tidak sempat dilakukan. Jaringan yang tersedia untuk transplantasi dapat berasala dari berbagai sumber. menunjukkan masa hidup yang rendah (12 %). Organ-organ utama dan tandur sel yang dapat diransplantasikan dewasa ini terlihat pada Gamabar 20. ORGAN/SEL YANG DAPAT DITRANSPLANTASIKAN Untuk sejumlah penyakit. Masa hidup satu tahun mencapai 80 % pada penderita yang ditangai dengan baik. A. B. Hal tersebut misalnya terjadi akibat transplantasi terdahulu yang menimbulkan antibodi anti-HLA. Ginjal Transplantasi ginjal dilakukan pada gagal ginjal tingkat akhir dengan menggunakan ginjal asal anggota keluarga atau mayat sebagai donor. Ahli bedah hati menghadapi persoalan khusus seperti kecenderungan pendarahan resipien dengan gagal hati dan kesulitan teknik bedah yang diperlukan untuk resurkulasi hati . Adanya perubahan tersebut menunjukkan diperlukannya dosis imunosupresan yang lebih tinggi. Antibodi anti-HLA juga dapat digunakan sebagai indikator dari adanya reaksi penolakan. Adanya sensitasi terhadap antigen donor yang sudah terjadi sebelum transplantasi juga penting diketahui oleh karena dapat merugikan.

Sumsum tulang Hal yang ideal adalah donor dan resipien ABO kompatibel dan MHC identik. Tandur kulit alogenik murni menggunakan kulit yang hidup dari donor hidup. Bila terjadi vaskularisasi (misalnya akibat trauma) maka risiko penolakan bertmbah. Sumsum tulang sangat imunogenik dan donor terbaik adalah saudara kembar yang HLA identik. oleh karena sel darah merah sudah disingkirkan dari sumsum tulang dan sel asal tidak menunjukkan antigen ABO. Resipien sudah mendapat iradiasi total dan atau dosis tinggi imunosupresan sebelum . D. fungsi pankreas dapat kembali normal. E. Penolakan daoat dicegah dengan imunosupresan. Tempat kornea tersebut terlindung dari aliran limfe sehingga biasanya tidak mempunyai kapiler (sequestered antigen). Matching HLA-DR mempunyai keuntungan dan imunosupresan yang menggunakan tetes steroid juga diperlukan untuk mencegah penolakan. Prosedur yang digunakan untuk memanen dan implant sel pulau Langerhans terlihat pada Gambar 20. Namun dengan transplant organ lain.13. F. Pankreas Transplantasi pankreas menunjukkan keberhasilan yang pada penderita DM menormalkan ambang insulin. Transplantasi tidak perlu menggunakan seluruh pankreas. imunosuporesan yang diperlukan memberikan masa hidup yang lebih lama (Tabel 20. Kulit Transplantasi kulit terbanyak dilakukan dengan jaringan autologus. Kompatibilitas ABO tidaklah terlalu penting. Kornea Transplantasi kornea sangat efektif dan behasil untuk waktu yang lama. Hanya dengan mentransplantasikan pulau-pulaunya saja. hanya merupakan sebagai penutup biologis. Hal ini sebetulnya tidak diinginkan oleh karena korban dengan luka bakar berisiko tinggi mengalami infeksi dan pengurangan imunosupresan meningkatkan risiko tersebut. Resipien yang menerima donor kornea dari cadaver tidak memerlukan HLA typing atau imunosupresif sistemik karena penolakan kornea tidak terjadi kecuali bila tandur menjadi tervaskularisasi. Indikasi transplantasi sumsum tulang terlihat pada Tabel 20. Kornea diperoleh dari cadaver donor. Akhir-akhir ini tingkat keberhasilan 1 tahun transplantasi pankreas dilaporkan 55 %.11. Tandur ini tidak mengandung elemen selular hidup dan tidak tumbuh pada pejamu. G.10).transplantasikan. namun dalam keadaan luka bakar yang berat kadang digunakan tandur kulit asing yang disimpan dalam keadaan beku di bank organ/jaringan. tetapi kemungkinan bahwa 2 sibling akan memperoleh pasangan haplotip identik hanya terjadi pada 1 dari 4. Tandur ditingalkan untuk beberapa haru tetapi pada umumnya diganti.

cedera sumsum tulang dan berbagai penyakit lainnya (arthritis. penyakit kardiovaskular. diabetes. Hal ini merupakan terapi baru pada beberapa hal. biasanya menyusul GvHD akut responsive terhadap peningkatan dosis imunosupresan. H. Transplantasi pulau Langerhans telah digunakan untuk mengobati DM. Masa hidup berbeda yang tergantung dari berat dan jenis penyakit yaitu 70 % pada anemia aplastik dan 10-50 % pada leukemia.dilakukan transplantasi untuk mengurangi risiko penolakan GvHD. cedera korda spinalis) dan penyakit –penyakit seperti arthritis rheumatoid. darah perifer atau darah umbilicus merupakan satu-satunya cara untuk kemungkinan sembuh pada penderita . aplasia hematologis dan untuk mengganti sumsum tulang pada penderita yang mendapat pengobatan agresif seperti leukemia. Organ yang dijadikan sasaran adalah hati (terutama epitel bilier). 1. penyakit Alzheimer dan Parkinson. Sel punca embrionik memiliki kemampuan yang lebih luas untuk regenerasi yang terbukti pada eksperimen dengan hewan. DM. Transplantasi sel punca yang menjanjikan pengobatan cara baru menunjukkan harapan untuk memperoleh regenerasi jaringan yang rusak sehingga akan menguntungkan untuk berbagai cedera seperti luka bakar. Reaksi kronis dapat terjadi kemudian. Sel punca Transplantasi sel punca dilakukan pada difisiensi imun. luka bakar. Sel punca asal janin Kemampuan transfer sel punca yang sehat yang dapat self-renewing dan memproduksi sel baru dan/atau jaringan merupakan hal yang menguntungkan pada berbagai cedera (mis. Sel T yang aloreaksitf mengerahkan sel-sel efektor pejamu ketempat transplantasi yang biasanya terjadi dalam 4 minggu (GvHD akut). kulit dan saluran cerna. Oleh karena itu selalu diusahakan untuk menurunkan jumlah sel T tersebut (misalnya melalui biji besi magnetic yang dilapisi antibodi). Sel punca asal donor dewasa Transplantasi spunca hematopoietik asal sumsum tulang. akhirnya resipien sering menjadi sangat rentan terhadap infeksi/virus oportnistik. tetapi pada hal lain merupakan kelanjutan dari terapi sebelumnya. penyakit kardiovaskular dan saraf seperti Alzheimer dan Parkinson). tetapi sel yang ditransplantasikan menunjukkan umur terbatas. Transplantasi sel punca dapat memperbaharui sel-sel sehingga dapat merupakan terapi pengganti potensial yang permanen. mengingat sumsum tulang mengandung sel T matang. meskipun tindakan tersebut tidak selalu meningkatkan keberhasilan. 2. tetapi penggunaannya pada manusia masih terbatas oleh pertimbangan praktis dan etis. Pada transplantasi sumsum tulang selalu ada risiko terjadinya komplikasi berupa GvHD.

Aplikasi primernya sampai saat ini adalah pengguna sel punca hematopoietik pada transplantasi sumsyung tulang. misalnya bila tidak ada kelainan sel (anemia aplastik) dan keganasan atau defek fungsi. Sel punca embrionik memiliki kapasitas regenerasi yang lebih luas. VII. V. jantung dan sumsung tulang dari primata ke manusia. Di samping itu juga ada kekhawatiran terjadinya rekombinasi antara virus primate dengan varian manusia yang menimbulkan agens penyakit baru. Di samping itu ada kekhawatiran bahwa xenotransplantasi mempunyai isiko penyebaran pathogen dari donor ke resipien. Sesudah itu ada percobaan sporadic untuk mencangkokkan ginjal. namun kegunaanya pada manusia masih terbatas oleh pertimbangan praktis dan etis. XENOTRANSPLANTASI (NON-HUMAN) Kurangnya jumlah organ yang tersedia. Risiko transplantasi adalah tinggi dan keberhasilannya tergantung dari keseimbangan antara berat penyakit terhadap risiko prosedur. Mortalitasnya adalah 6 % pada mereka yang menunggu untuk transplantasi ginjal dan 14 % untuk transplantasi jantung. hati. Sejumlah besar primate bukan manusia (simpanse dan babon) dapat merupakan donor bagi manusia. dan HIV-2 dan herpes-B pada beberapa primata yang dapat menimbulkan kematian pada manusia. Pathogen potensial dapat menimbulkan penyakit yang disebut xenozoonosis yang fatal untuk manusia. Sebenarnya. MEMPERPANJANG MASA HIDUP ALLOGRAFT Upaya untuk memperpanjang masa hidup allograft kebanyakn dilakukan dengan menggunakan farmakoterapi. namun tidak ada yang berhasil dengan baik. Respons untama melibatkan antibodi dan komplemen yang menimbulkan reaksi penolakan hiperakut.dengan berbagai penyakit. berarti bahwa sejumlah penderita akan meninggal dalam proses menunggu organ donor. penolakan sering terjadi. misalnya virus tertentu seperti family HIV-1 yang ditemukan pada simpanse. Penelitian untuk menggunakan organ telah diperluas ke spesies lain dan penggunaan donor babi dilaporkan memberikan beberapa keuntungan. Seperti dengan transplantasi umumnya. Pada xenotransplantasi terjadi penolakan imun yang sangat kuat walau kepada resipien sudah diberikan imunosupresan poten. Sumber alternative untuk organ donor telah difokuskan pada xenotransplantasi. Transplantasi dini dari ginjal simpanse ke manusia sudah dilakukan pada tahun 1964. setiap kelainan sumsum tulang dapat dikoreksi dengan transplantasi sel punca sehat. tetapi transplantasi sel punca dapat menimbulkan komplikasi unik yang fatal karena sel imunokompeten sebagai tandur mengenal pejamu sebagai asing dan menimbulkan serangan imun. . meskipun masih terbatas dengan berbagai persoalan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful