LAPORAN PENELITIAN

KAJIAN DAMPAK PENAMBANGAN BATUBARA
TERHADAP PENGEMBANGAN SOSIAL EKONOMI
DAN LINGKUNGAN Dl KABUPATEN
KUTAIKARTANEGARA
TIM PENELITI
1. Dr. lr. lnce Raden, MP
2. M.Soleh Pulungan, S.Pd,MH
3. Moh. Dahlan, SE, M.Si
4. Dr. lr. Thamrin, MP
Dibiayai oleb Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam
negeri, sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan
Nomor: 15.21/PI-111112010
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
JAKARTA
NOVEMBER 2010
.......
HAJJAN l'J!iNriLlilAft UAll f!i11\ifi1Y1DA11UA11 UAI'JMn
Jln. Wolter .Kantor Bupatl Gedun\l Bappeda-Balitbangda Lt. 4
TENGGARONG
SURAT PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama
Jabatan
Tahun Anggaran
: DR.Ir. Ince Raden, MP
: Ketua Tim (Penelitian dampak penambangan batubara
terhadap pengembangan sosial ekonomi dan lingkungan
Di Kabupaten Kutai Kartanegara)
:2010
Dengan ini menyatakan bahwa hasil Laporan Akhir Penelitian Dampak penambangan
batubara terhadap peningkatan sosial ekonomi masyarakat dan lingkungan di Kabupaten Kutai
'
Kartanegara tahun 2010, telah diperbaiki/ disempurnakan sesuai dengan arahan nara sumber, ·
pada saat paparan Draft Laporan Akhir hasil penelitian dimaksud yang dilaksanakan di Jakarta
pada tanggal12 sf d 16 Nopember 2010.
Semoga kegiatan ini bermanfaat untuk berbagai pihak terkait khususnya diwilayah
Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur
Demikian Surat Pengesahan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya .
Mengetahui:
Kepala Balitbangda
Kutai Kartanegara
.1\': M.Hermawan, M.Si.
9630908 198902 1 002
Tenggarong, l Desember 2010
· Ketua Tim Peneliti,
R.Ir. Ince Raden MP
NIP. 196709081994 31005
........
...__.
..._
'-
-...J
~
PRAKATA
Puji dan syukur hanya kehadirat Allah SWT karena berkat petunjuk,
rahmat dan karuniah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kajian
Dampak Penambangan Batu Bara terhadap Perkembangan Sosial, Ekonomi dan
Lingkungan di Kabupaten Kutai Kartanegara. Laporan ini secara umum
menyajikan tentang dampak keberadaan usaha pertambangan batubara di 4
Kecamatan di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kegiatan penelitian ini didanai pada tahun 2010 oleh Badan Penelitian
dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia melalui
program lnsentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa di
Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah Tahun 201 o
yang diajukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda)
Kabupaten Kutai Kartanegara. Sehubungan dengan telah selesainya laporan
penelitian ini kami mengucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memb. 1tu kesuksesan kegiatan ini.
• .•himya semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak
Tenggarong, November 2010
Tim Peneliti
.......,
RINGKASAN
Kutai Kartanegara merupakan salah satu Kabupaten di Kalimantan Timur
yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah, salah satu diantaranya adalah
penambangan batubara. Dalam proses eksploitasinya menimbulkan dampak
terhadap sosial ekonomi dan lingkungan.
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah memperoleh informasi
tentang dampak sosial ekonomi dan lingkungan fisik, kimia dan biologi terkait
dengan penambangan batubara di Kutai Kartanegara serta merekomendasikan
strategi penanggulangan dampak pertambangan batubara yang perly
dilaksanakan guna untuk mengantisipasi dan mencegah dampak negatif dan
mengoptimalkan dampak positif akibat pertambangan batubara di Kabupaten
Kutai Kartanegara. Diharapkan dari penelitian ini menemukan kondisi riil sosial
ekonomi dan kondisi kerusakan lingkungan serta tindakan preventif dan
pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan pertambangan sehingga
menjadi salah satu bahan masukan bagi pihak Pemerintah Daerah (terutama
bagi stakeholders seperti, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pertambangan dan
Energi, dan Badan Pengelola ljin Terpadu) untuk menilai dampak penambangan
batubara terhadap pengembangan sosial ekonomi masyarakat dan kualitas
lingkungan yang pada akhirnya dapat menjadi pertimbangan dalam
pengawasan dan pemantauan penambangan batubara.
Strategi untuk mencapai tujuan di atas dilakukan pendekatan Penelitian
dari aspek ekonomi, sosial budaya dan aspek ekologi (lingkungan) dan
mengevaluasi program-program CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan
batubara baik berdasarkan data primer maupun data sekunder melalui quisioner,
indepth interview, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka (literatur).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertambangan batubara
memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di sekitar
perusahaan, yaitu meningkatkan pendapatan per bulan, memberikan peluang
kerja dan peluang usaha sehingga dapat memberbaiki ekonomi masyarakat.
Disisi lain, kegiatan usaha pertambangan batubara memberikan dampak negatif
dan positif terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar perusahaan. Dampak
negatifnya adalah Kehadiran usaha pertambangan meningkatkan konflik antara
masyarakat, antara masyarakat dan perusahaan yang dipicu oleh masalah
limbah, penerimaan tenaga kerja, masalah tumpangtindih lahan, dan tidak
--
" ..J
optimalnya perusahaan dalam melaksanakan program pemberdayaan
masyarakat (Comdev). Selain itu, keberadaan perusahaan batubara memberikan
dampak terhadap menurunnya aktifitas keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan
gotong royong terutama kerja bakti dan kegiatan-kegiatan keagamaan, tetapi
memberikan dampak positif terhadap kepedulian pemberian bantuan dana untuk
kegiatan-kegiatan sosial. Selanjutnya dari penelitian ini ditemukan pula bahwa
kegiatan usaha pertambangan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan
fisik, kimia dan biologi. Kerusakan-kerusakan tersebut diantaranya kerusakan
bentang alam, penurunan kesuburan tanah, rusaknya flora dan fauna endemik,
meningkatnya polusi udara dan debu, erosi dan sedimen yang memicu banjir,
kebisingan, rusaknya jalanan umum yang digunakan untuk memuat alat-alat
berat perusahaan, dan adanya limbah yang dapat masuk ke lahan-lahan
pertanian dan sungai sehingga merusak biota perairan dan sumber air yang
digunakan untuk air bersih (minum) dan mencuci.
Program pengembangan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh
perusahaan pertambangan batubara didominasi olef1 pembangunan infrastruktur,
pemberian beasiswa dan bantuan di bidang kesehatan dan strategi untuk meng
eliminir dampak negatif akibat aktifrtas pertambangan batubara di Kutai
Kartanegara maka perlu dilakukan evaluasi kinerja pertambangan batubara mu!ai
tahan Pra konstruksi , konstruk, operasi dan pasca operasi penambangan
batubara dan Selanjutnya memberikan sanksi yang tegas kepada perusahaan-
perusahaan yang tidak memenuhi kewajibannya dalam melakukan reklamasi dan
revegetasi lahan bekas tambang yang selama ini jarang/tidak pernah dilakukan.
---
._,
..........
DAFTAR lSI
Halaman
PRAKATA .. .. ....... .. ...... .. .................... . ...... .. ... . ...... ........................ .
RINGKASAN.......... ... .. .... .. ................ .. .... .... . .. ... .................. . ... ....... ii
DAFTAR lSI. .. .... ........ ................. . ......... .. ...... . ........ . ........... ... ......... iv
DAFTAR TABEL... ... ... ... ... ... ...... ...... ..... . ..... . ..... . ... .. . ... ... ... ... .. . ... .... . v
DAFTAR GAMBAR... ...... ....... .. ......... ..... . ... ... .................................. viii
BAB 1. PENDAHULUAN.... .. ... .... .... ...... .. .. .... .. ..... . ... .. ..... .. ... .. .. .. .. .. ... 1
1.1 Latar Belakang.. .. .. . .. ... ... ... .. . ... ... .. . ... ... ... ... ... ... ... . .. .. . .. . ... 1
1.2 Rumusan Masalah.. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
BAB II . TINJUAN PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
2.1. Dampak pertambangan batubara........................................ 5
2.2. Potensi Pertambangan Batubara di Kabupaten Kutai
Kartanegara.. .... ... .......... ..... ... ..... . .... .. ....... ..... ..... . .... ...... 9
2.3. Metode dan Tahap Penambangan batubara.... .. ... ... ... .. . .... ... . 10
2.4. Kebijakan Pengelolaan Pertambangan Batubara di Indonesia... 13
BAB Ill. TUJUAN DAN MANFAAT. .. ... ...... ..... . .. . ... ... ... ...... ... ... ... ... .... .. 17
3.1. iujuan Penelitian...... .... ... .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 17
3.2. Manfaat Penelitian... ............ ...... .................. ............ ........ 17
BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN .. .. .. . .. .. .. .. .. . ... .. . .. .. .. .. .. .. .. . .. .. . .. . .. 18
4.1. Tempat dan Waktu Penelitian... ... .. . ... ... ... ... ... ... ... .. . ... .. . .. .... 18
4.2. Ruang Lingkup Kajian... ... .. . .. . ... .. .. .. ...... ... ... ... ... ...... ...... ... 19
4.3. Kerangkan Pemikiran..... .. .. ... ... .. . ... ... ... ... ... ... ... .... .. ... .. . .. .. 19
4.4. Rancangan Penelitian.. . ... .... .. ... ... .... .. .... .. ... ... ... ... ... .... ... .. 21
4.5. Pendekatan Penelitian..... . .. .... ...... ... ... ............ ..... . .... ... ..... 21
4.6. Populasi dan Sampel ....... .......... . ... .... ... ... .. .... ... .. ... .. . .. .... . 23
4. 7 .Variabel Penelitian... ...... ... ...... ... ... .. .. ... ...... .. ..... ... .. ...... .. . . . 24
4.8. Metode Anal isis Data........................................................ 26
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN.... .......... ..................................... 33
5.1. Dampak Kegiatan Pertambangan terhadap Ekonomi
Masyarakat.. . .. . . . . . . . . . . . . . . .. . .. .. . . . . .. . .. . . . . .. . .. . .. . .. . . . . .. . . .. . . . . . . . 33
5.2. Dampak Kegiatan Pertambangan Terhadap Kehidupan Sosial
Masyarakat. .. .. . .. . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . .. .. . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . 38
5.3. Dampak Kegiatan Pertambangan Terhadap Lingkungan. .. ... ... 40
5.4. Community Development dan Corporate Sosial Responsibility.. 65
5.5. Strategi Pengelolaan dampak Pertambangan Batubara di
Kabupaten Kutai Kartanegara..................................................... 66
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN................................................ 70
6.1. Kesimpulan.. .. ..... .. .. ..... .. . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . 70
6.2. Saran... .... ... ... .......... . ..... ..... ... .. ..... .... ........ . ........ .. ... .. ... 71
DAFTAR PUSTAKA...................................... ................................... 72
v
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Teks
1. Metode Pengumpulan data, analisis data social dan ekonomi. ..... .
2. Daftar parameter fisik dan kimia lingkungan perairan ................... .
3. Metode Pengumpulan Data, Analisis Data, dan Parameter
Komponen Kualitas Udara dan Kebisingan .................................... .
4. Jadwal Kegiatan Penelitian ............ .. ........ .. ... ........ ... ...... .. .. ... .
5. Pendapatan per bulan sebelum dan sesudah ada perusahaan
tambang batubara .. ................... .... .. ......... ..... .. ... .... . ......... .. .
6. Pengeluaran setiap bulan sebelum dan sesudah ada
perusahaan ... ....... .. ...... ...... ... ...... .............. ....... ........ .... ... .. .
7. Kebutuhan Tenaga Kerja PT. Anggana Coal untuk Operasional
Tam bang Batubara di Kecamatan Loa Kulu ................................... .
8. Peluang usaha yang dapat dikembangkan masyarakat akibat
adanya perusahaan ............................................................ .
9. Kondisi ekonomi masyarakat akibat adanya perusahaan
batubara ....... ...... ... .. ..... ....... ...... .... .. ..... . ........ .. ... ... ........... .
10. Pengaruh kehadiran perusahaan batubara terhadap konflik .... .... .
11 . Penyebab terjadinya konflik antara masyarakat-peruahaan .... ..... .
12. Perubahan prilaku gotong royong akibat kehadiran pertambangan
batubara ........ ...... . .... .. .... ..... ..... .... ...... ..... ................ ........ .
13. Perubahan kondisi sosial masyarakat .................................... .
14. Kerusakan lingkungan akibat adanya aktifrtas pertambangan
batubara ..... .................... .......... . ....... ... ......... ... ........... .... .. .
15. Cadangan Batubara dan Rencana Bukaan Tanah (Overburden)
PT. Anggana Coal di Kecamatan Loa Kulu dan Kecamatan
Sebulu ............................ ...... ... ........ .. . ........ ..... .... ............ .
16. Hasil Analisis Kualitas Air di Sekitar Lokasi Tambang PT. Arzara
Barain .............................................................................................. .
17. Jumlah Kendaraan dan Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM)
PT. Putra Dewa Jaya ........................ .. ........ .............. .. ..... ..... ..... ..... .
18. Kualitas Udara Ambien di Sekitar Lokasi Pertambangan Batubara
PT. Putra Dewa Jay a di Kutai Kartanegara .................................... .
29
29
30
32
33
34
34
37
38
38
39
39
40
40
44
46
50
52
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
Teks
1. Dampak yang Timbuk akibat Aktivitas Pembangunan .... ... ..... .. ...... .
2. Peta Lokasi Penelitian Dampak Pertambangan Batubara di
Kabupaten Kutai Kartanegara .................. .. ...... ..................... .
3. Kerangka Pikir Kajian Dampak Pertambangan Batubara terhadap
Pengembangan Ekonomi , Sosial, dan Lingkungan .................... .
4. Rangkaian Kegiatan Penambangan Batubara di Kabupaten Kutai
Kartanegara ...................................................... ................ .
5. Kondisi Bentang Lahan setelah Dilakukan Penambangan
Batubara .. ................ ........................................................ .
6. Pematangan Bentang Lahan pada Lahan eks tambang
batubara .......................................................................................... .
7. Salah satu Lubang Besar Bekas Penambangan Batubara yang
belum Direklamasi di Kabupaten Kutai Kartanegara .... ............... .
8. Kegiatan Reklamasi dan Revegetasi Lahan Pasca Tambang di
Kabupaten Kutai Kartanegara ........................................................ .
9. Pemanfaatan Lubang Bekas Tambang Batubara sebagai Sarana
lrigasi di Kecamatan Tenggarong Seberang ... ... .. ..... ... ......... .... .
10. Pemanfaatan Lubang Bekas Tambang untuk Budidaya Tambak
lkan di Kecamatan Tenggarong Seberang ............................... .
11. Grafik Analisis SWOT dalam Menentukan Grand Strategy. ............. .
5
18
20
42
43
43
45
60
66
66
72
1.1. Latar Belakang
BABI
PENDAHULUAN
Memasuki abad XXI, dalam konteks pembangunan daerah terdapat 2
(dua} aspek mendasar yang akan mewarnai tatanan kehidupan dan
pemerintahan di daerah. Pertama adalah pengaruh globalisasi yang ditandai
dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi yang makin nyata dan
terasa dalam setiap sendi kehidupan masyarakat. Kedua, berkembangnya era
otonomi daerah yang ditandai dengan diundangkannya undang-undang nomor
32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33
Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah. Dari dua aspek tersebut peranan data dan informasi baik dalam
penyajian, keakuratan, dan aktualisasi dan kecepatan penyampaian informasi
akan sangat menentukan keberhasilan kebijakan dan tujuan pembangunan yang
dilaksanakan.
Secara geografis Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan salah satu
dari 13 kabupaten/kota yang terdapat di Propinsi Kalimantan Timur. Dari ibukota
Propinsi Kalimantan Timur (Samarinda) ke Tenggarong (lbukota Kabupaten Kutai
Kartanegara), cukup ditempuh dengan p e ~ a l a n a n darat selama 30- 45 menit
(sekitar 25 km). Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah sekitar
27.263,10 km
2
terletak antara 115°26' Bujur Timur sampai dengan 117°36' Bujur
Timur dan 1°28' Lintang Utara sampai dengan 1°08' Lintang Selatan. Kabupaten
Kutai Kartanegara merupakan wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten
Malinau, Kutai Timur dan Kota Bontang pada sisi sebelah utara. Pada sisi
sebelah timur berbatasan dengan Selat Makasar, sebelah selatan berbatasan
dengan Kota Balikpapan dan juga Kabupaten Penajam Paser Utara, dan sisi
sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kutai Barat. Sedangkan wilayah
Kota Samarinda dikelilingi oleh seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kabupaten Kutai Kartanegara kini terdiri dari 18 Kecamatan dan 226
desa/ kelurahan (termasuk desa persiapan). Jumlah desa/kelurahan ini
meningkat bila dibandingkan dari tahun 1999 ketika awal pemekaran wilayah
Kutai menjadi 3 kabupaten dan 1 kota. Pada tahun tersebut jumlah
desa/kelurahan tercatat 186 desa/kelurahan. Dengan demikian ada pertambahan
34 desa/kelurahan atau 18,28 persen dari tahun 1999. Bila diamati dari letak
_,
'--'
'-'
geografisnya, dari 226 desa/kelurahan tersebut sebanyak 28 desa/kelurahan
atau 12,38 persen merupakan daerah pesisir yang langsung berbatasan dengan
laut (selat Makasar).
Kegiatan pertambangan di Kutai Kartanegara mencakup pertambangan
migas dan non migas. Dari kegiatan tersebut minyak bumi dan gas alam
merupakan hasil tambang yang sangat besar pengaruhnya terhadap
perekonomian Kabupaten Kutai Kartanegara khususnya dan Provinsi Kalimantan
Timur umumnya karena hingga kini kedua hasil tambang tersebut merupakan
komoditi ekspor utama. Perkembangan produksi batubara misalnya pada tahun
2006 mencapai 467.275,07 metrik ton dari empat perusahaan tambang yang
memasukkan data pada dinas pertambangan.
Kutai Kartanegara merupakan salah satu Kabupaten yang cukup kaya
dengan sumber daya alamnya, potensi sumber daya alam yang sudah dikelola
secara besar besaran adalah potensi pertambangan batubara, banyak investor
yang terlibat dibidang pertambangan batu bara baik investor dari dalam negeri
maupun dari luar negeri , tentunya dengan banyaknya investor yang
menanamkan modalnya di kabupaten Kutai Kartanegara akan membawa
dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya adalah bahwa
kesejahteraan masyarakat di wilayah pertambangan secara umum terlihat
meningkat karena efek domino dari keberadaan perusahaan telah mampu
mendorong dan menggerakkan sendi-sendi ekonomi masyarakat, Struktur sosial
di masyarakat juga mengalami perubahan karena masyarakat sekitar
pertambangan termotivasi untuk mampu menyesuaian perubahan struktur sosial
yang disebabkan banyaknya masyarakat pendatang yang menjadi karyawan di
perusahaan tambang batubara maupun masyarakat pendatang berusaha di
sekitar perusahaan batubara.
Banyaknya investasi di bidang pertambangan batubara tidak hanya
membawa dampak positif akan tetapi juga membawa dampak negatif, baik pada
perubahan struktur sosial , budaya, ekonomi masyarakat maupun pada kualitas
lingkungan. Pengaruh negatif struktur sosial masyarakat di sekitar perusahaan
pertambangan yang mungkin bisa adalah perilaku dan atau kebiasaan
yang bersifat negatif seperti kebiasaan minum-minuman keras dan
pola hidup konsumtif para karyawan yang bisa mendorong perubahan
masyarakat lokal menjadi lebih konsumtif dan bila hal tersebut tidak didukung
oleh perubahan kemampuan daya beli masyarakat lokal akan menyebabkan
'---'
-
kecemburuan sosial yang pada akhirnya bisa menyebabkan ketidak harmonisan
(konflik sosial) antara warga di sekitar perusahaan pertambangan.
Hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah dampak negatif terhadap
kualitas lingkungan. Tidak dapat di pungkiri bahwa aktivitas pertambangan dapat
dipastikan menyebabkan rendahnya kualitas lingkungan. Untuk mengendalikan
kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan tambang
batubara tersebut maka diperlukan kontrol yang kuat dari seluruh steakeho/der
(perusahaan, pemerintah dan seluruh masyarakat). Mengingat besarnya potensi
negatif atas pertambangan batubara maka tanggung jawab perusahaan untuk
meminimalkan dampak negatif tersebut adalah dengan menyusun dokumen
analisis dampak lingkungan, menyusun rencana pengelolaan lingkungan dan
rencana pemantauan lingkungan yang juga di dalamnya terdapat program-
program kepedulian bagi masyarakat sekitar tambang agar tidak hanya
merasakan dampak negatif saja akan tetapi juga merasakan manfaat atas
aktivitas pertambangan disekitarnya. Bentuk kepedulian perusahaan tambang
batubara adalah dengan mengembangkan Corporate Social Responcibility yang
dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat untuk meningkatkan
kualitas hidupnya seperti penanggulangan kemiskinan, membantu dalam
menyediaan fasilitas kesehatan, pendidikan, beasiswa, peningkatkan skill,
peningkatan daya beli masyarakat sekitar tambang, memberikan pelatihan agar
masyarakat sekitar tambang mempunyai daya saing, dan membantu
membangun infrastruktur yang sangat diperlukan oleh masyarakat termasuk di
dalamnya fasilitas air bersih. Berdasarkan uraian di atas, maka akan dikaji
berbagai dampak dari kegiatan pertambangan batubara di Kabupaten Kutai
Kartanegara. Dampak yang dimaksud dalam kajian ini tidak dibatasi pada
dampak negatif saja tetapi juga dampak positif yang timbul oleh aktivitas
pertambangan batubara.
1.2. Rumusan Masalah
Dari Jatar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah
sebagai berikut:
1 . Bagaimana dampak pertambangan batubara terhadap aktifitas sosial dan
ekonomi masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara ?
2. Bagaimana dampak pertambangan batubara terhadap kualitas lingkungan di
Kabupaten Kutai Kartanegara ?
'---'
,,
3. Bagaimana strategi yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dan
menanggulangi dampak pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kutai
Kartanegara ?
· ~
--J
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Dampak Pertambangan Batubara
2.1.1. Pengertian Dampak
Dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, dampak lingkungan didefinisikan sebagai suatu
perubahan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu dan atau kegiatan.
Sementara itu, Soemarwoto (2005) mendefinisikan dampak sebagai suatu
perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas di mana aktivitas tersebut
dapat bersifat alamiah, baik kimia, fisik, dan biologi. Lebih lanjut didefinisikan
dampak pembangunan terhadap lingkungan adalah perbedaan antara kondisi
lingkungan sebelum ada pembangunan dan yang diperkirakan akan ada setelah
ada pembangunan. Pembangunan yang dimaksud termasuk kegiatan
penambangan batubara yang dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan
secara umum.
Dampak
Sosial,
ekonomi dan
Budaya
Dampak
Biofisik
Kegiatan
Pembangunan
Tujuan
Dampak
Biofisik
Dampak
Sosial,
ekonomi dan
Budaya
Dampak
Primer
Dampak
Sekunder
Gambar 1. Dampak yang Timbuk akibat Aktivitas Pembangunan
Dampak penambangan batubara berarti perubahan lingkungan yang
disebabkan oleh kegiatan usaha eksploitasi batubara baik perubahan sosial,
ekonomi, budaya, kesehatan maupun lingkungan alam. Dampak penambangan
·--.
batu bara bisa positif bila perubahan yang ditimbulkannya menguntungkan dan
negatif, jika merugikan, mencemari, dan merusak lingkungan hidup. Dampak
yang diakibatkan oleh penambangan batubara menjadi penting bila terjadi
perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar. Adapun kriteria dampak
penting, yaitu : (1) jumlah manusia yang akan kena dampak, (2) luas wilayah
penyebaran dampak, (3) intensitas dan lamanya dampak berlangsung, (4)
banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak, (5) sifat komulatif
dampak, dan (6) berbalik (reversible) atau tidak berbalik (ireversible) dampak.
2.1.2. Dampak Penambangan Batubara terhadap Lingkungan
Konsekuensi dari sebuah pembangunan akan dapat membawa dampak
terhadap lingkungan baik dampak positif maupun negatif. Semua manusia
berkeinginan bahwa adanya sebuah kegiatan (usaha) atau pembangunan akan
dapat meningkatkan kesejateraan masyarakat dan mengelolah dampak negatif
dengan sebaik-baiknya sehingga dapat dieliminir sehingga kehadiran usaha atau
pembangunan tersebut dapat berhasil guna bagi semua mahluk hidup (manusia,
flora dan fauna, air, tanah dan ekosistem lainnya).
Konsep dasar pengelolaan pertambangan bahan galian berharga dari
lapisan bumi hingga saat ini tidak banyak beruba, yang berubah hanyalah skala
kegiatannya hal ini juga terjadi di Kutai Kartanegara. Kondisi riil di lapangan
menunjukkan bahwa perkembangan teknologi mekanisasi pengelolaan
pertambangan menyebabkan semakin luas dan semakin dalam pencapaian
lapisan bumi jauh di bawah permukaan tanah sehingga membawa dampak
terhadap pencemaran air permukaan dan air tanah.
Kegiatan pertambangan merupakan kegiatan usaha yang kompleks dan
sangat rum it, sarat risiko, merupakan kegiatan usaha jangka panjang, melibatkan
teknologi tinggi, padat modal, dan membutuhkan aturan regulasi yang
dikeluarkan oleh beberapa sektor. Selain itu, kegiatan pertambangan mempunyai
daya ubah lingkungan yang besar sehingga memerlukan perencanaan total yang
matang sejak tahap awal sampai pasca tambang. Seharusnya pada saat
membuka tambang, sudah harus difahami bagaimana menutup tambang yang
menyesuaikan dengan tata guna lahan pasca tambang sehingga proses
rehabilitasi/reklamasi tambang bersifat progresif, sesuai rencana tata guna lahan
pasca tambang. Dasar rencana dan implementasi seperti ini, harus dilakukan di
-'
.......
.......
._;
'-'
__,
.......,
-...J
._,
.__.
menghentikannya karena sifat alamiah dari reaksi yang terjadi pada batuan.
Sebagai contoh, pertambangan timbal pada era kerajaan Romawi masih
memproduksi air asam tambang 2000 tahun setelahnya. Air asam tambang
baru terbentuk bertahun-tahun kemudian sehingga perusahaan
pertambangan yang tidak melakukan monitoring jangka panjang bisa salah
menganggap bahwa batuan limbahnya tidak menimbulkan air asam tambang .
Air asam tambang berpotensi mencemari air permukaan dan air tanah. Sekali
terkontaminasi terhadap air akan sulit melakukan tindakan penanganannya.
Zulkiflimansyah (2007) menambahkan bahwa terdapat dampak negatif
lain selain lubang tambang dan air asam tambang yang langsung timbul dari
kegiatan pertambangan seperti berkurangnya debit air sungai dan tanah,
pencemaran air, kerusakan hutan hingga erosi dan sedimentasi tanah, dimana
dampak ini masih menjadi masalah yang belum terpecahkan secara tuntas
dalam kegiatan pertambangan di Indonesia.
Studi yang dilakukan oleh Suhala et a/. (1995) misalnya, menjelaskan
bahwa penambangan batubara di Bukit Asam (Sumatera Selatan) dan Ombilin
(Sumatera Barat) selain berdampak positif terhadap pemenuhan kebutuhan
sumber energi, juga berdampak negatif terhadap lingkungan, yaitu terjadinya
perubahan topografi karena terbentuknya lubang-lubang besar bekas galian
tambang, gangguan hidrologi , perubahan aliran permukaan, penurunan mutu
udara dengan meningkatnya debu di udara, penurunan kesuburan tanah,
berkurangnya keanekaragaman flora dan fauna serta timbulnya masalah sosial di
masyarakat sekitar lokasi penambangan.
2.1.3. Dampak Penambangan Batubara terhadap Sosial dan Ekonomi
6erbagai dampak potensial di sektor sosial dan ekonomi dapat terjadi
akibat adanya penambangan batubara di suatu wilayah, baik dampak positif
maupun dampak negatif. Berbagai dampak positif diantaranya tersedianya
fasilitas sosial qan fasilitas umum, kesempatan kerja karena adanya penerimaan
tenaga kerja, meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat sekitar tambang,dan
adanya kesempatan berusaha. Di samping itu dapat pula terjadi dampak negatif
diantaranya munculnya berbagai jenis penyakit akibat menurunnya kualitas
udara, meningkatnya kecelakaan lalu lintas, dan terjadinya konflik sosial saat
pembebasan lahan.
Melihat pertumbuhan produksi' batu bara dari tahun ke tahun yang
semakin besar, maka diperkirakan dalam jangka waktu 10 sampai 20 tahun ke
-
.._,
........
-
·-
~
.._...
~ . ;
depan deposit batubara ini akan habis yang dapat berdampak negatif terhadap
kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar terutama masyarakat yang
menggantungkan kehidupannya pada kegiatan pertambangan, di mana mereka
akan kehilangan mata pencaharian sebagai akibat dari berhentinya beroperasi
kegiatan pertambangan.
2.2. Potensi Pertambangan Batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara
Keberadaan potensi sumberdaya mineral Kabupaten Kutai Kartanegara
sangat dirasakan dalam pemanfaatannya sebagai sumber devisa negara
disamping sumberdaya alam lainnya. Secara geografis, Kutai Kartanegara
memiliki sumberdaya alam yang beraneka ragam baik yang terbarukan
(renewable resourcer) maupun sumberdaya alam yang tak terbarukan (non
renewable resources) misalnya batubara dan migas, sehingga dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan disegala bidang kehidupan
dituntut kearah yang demokratis termasuk hak mengelola sumberdaya mineral
(batubara) bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat di daerah sejalan
dengan perlindungan hukum dan legitimasi yang wajar.
Dari data Direktorat Batubara Departemen Energi dan Sumberdaya
Mineral telah mengidentifikasi cadangan batubara tertunjuk sebanyak 38.768 juta
MT. Dari jumlah tersebut, sekitar 11.484 juta MT merupakan cadangan terukur
dan 27.284 juta MT cadangan terindikasi, dan sekitar 5.362 juta MT yang
diklasifikasikan sebagai cadangan yang terekploitasi. Sumberdaya ini sebagian
besar berada di Kalimantan yang menyimpan deposit sebesar 61 % (21 .088 juta
MT), di Sumatera 38 % (17.464 juta MT) dan sisanya tersebar di wilayah lain.
sumber batubara (resources) sebanyak 57,8 milliar ton. Dari jumlah itu Widodo
(2005) melaporkan bahwa cadangan batubara terbesar hanya tersebar di tiga
provinsi di Indonesia yaitu Provinsi Sumatera Selatan (38 %}, Kalimantan Timur
(35 %), dan Kalimantan Selatan (26 %), (Widodo, 2005). Usaha pertambangan
batubara mempunyai prospek sebagai sektor andalan pengganti migas dalam
membangun perekonomian Kalimantan Timur di masa mendatang. Hal ini
didasarkan pada ketersecliaan sumberdaya batubara, prospek pemasaran, dan
dukungan kebijakan pemerintah daerah,
Kabupaten Kutai Kartanegara adalah salah satu kabupaten di Provinsi
Kalimantan Timur yang mempunyai potensi sumberdaya alam cukup besar
termasuk batubara. Besarnya sumberdaya alam yang dimiliki oleh Kutai
.._
•-"
....__,
'-'
'-'
._,
._.,
Kartanegara, menjadikan Kabupaten ini sebagai kabupaten terkaya di Indonesia.
Terkait dengan sumberdaya alam berupa batubara, Kabupaten Kutai
Kartanegara memiliki cadangan batubara yang cukup besar. Hal tersebut
ditunjukkan oleh perkembangan produksi batubara, dimana pada tahun 2002
produksinya mencapai 7,37 juta MT dan pada tahun 2006 produksinya
meningkat dan mencapai sekitar 13,21 juta MT dan pada tahun 2007
produksinya mencapai 69,22 juta MT (Bappeda Kab. Kutai Kartanegara, 2008).
Mengingat keberadaan sumberdaya batubara sebagai sumber
keuangan negara, maka ada tuntutan dalam mewajibkan untuk dimanfaatkan
secara optimal dan diamankan dari berbagai dampak negatif seperti kerusakan
dan pencemaran lingkungan agar pembangunan dapat terus berjalan secara
berkelanjutan (Sustainable development). Oleh karena itu di dalam pelaksanaan
kegiatan pertambangan batubara atau kegiatan sektor lainnya harus dilakukan
berbagai tahapan kegiatan pengelolaan lingkungan dalam berbagai tingkatan
kegiatan aktifrtas penambangan, sehingga berbagai kemungkinan dampak-
dampak negatif tersebut dapat diminimalkan (walaupun tidak akan 100 %
menghilangkan dampak) dan meningkatkan/mengoptimalkan berbagai dampak
positif dalam menunjang kesejahteraan kehidupan msyarakat.
2.3. Metode dan Tahap Penambangan Batubara
2.3.1. Metode Penambangan Batubara
Kegiatan pertambangan batubara merupakan kegiatan eksploitasi
sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui dan umumnya membutuhkan
investasi yang besar terutama untuk membangun fasilitas infrastruktur.
Karakteristik yang penting dalam pertambangan batubara ini adalah bahwa pasar
dan harga sumberdaya batubara ini yang sangat prospektif menyebabkan
industri pertambangan batubara dioperasikan pada tingkat resiko yang tinggi baik
dari segi aspek fisik, perdagangan, sosial ekonomi maupun aspek politik.
Kegiatan penambangan batubara dapat dilakukan dengan menggunakan dua
metode yaitu (Sitorus, 2000) :
1. Penambangan permukaan (surface/ shallow mining) , meliputi tambang
terbuka, penambangan dalam jalur dan penambangan hidrolik.
2. Penambangan dalam (subsurfarcel deep mining).
Kegiatan penambangan terbuka (open mining) dapat mengakibatkan
gangguan seperti :
._.1

-
.......

a. Menimbulkan lubang besar pada tanah.
b. Penurunan muka tanah atau terbentuknya cekungan pada sisa bahan
galian yang dikembalikan ke dalam lubang galian.
c. Bahan galian tambang apabila di tumpuk atau disimpan pada stock fliling
dapat mengakibatkan bahaya longsor dan senyawa beracun dapat tercuci
ke daerah hilir.
d. Mengganggu proses penanaman kembali reklamasi pada galian tambang
yang ditutupi kembali atau yang ditelantarkan terutama bila terdapat
bahan beracun, kurang bahan organiklhumus atau unsur hara telah
tercuci .
Sistem penambangan batubara yang diterapkan oleh perusahaan-
perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Kutai Kartanegara adalah sistem
tambang terbuka (Open Cut Mining) . Penambangan batubara dengan sistem
tambang terbuka dilakukan dengan membuat jenjang (Bench) sehingga
terbentuk lokasi penambangan yang sesuai dengan kebutuhan penambangan.
Metode penggalian dilakukan dengan cara membuat jenjang serta membuang
dan menimbun kembali lapisan penutup dengan cara back filling per blok
penambangan serta menyesuaikan kondisi penyebaran deposit sumberdaya
mineral, (Suhala eta/., 1995).
2.3.2. Tahap Persiapan Penambangan Batubara
Beberapa tahap persiapan penambangan batubara khususnya pada
penambangan terbuka (open cut mining) adalah kegiatan yang dilakukan
sebelum penambangan yang mencakup :
a. Perintisan (Pioneering)
Perintisan (Pioneering) adalah kegiatan persiapan yang mencakup
pembuatan sarana jalan angkut dan penanganan sarana air drainase (saluran).
Dalam pembuatan jalan, Iebar dan kemiringan jalan harus sesuai dengan yang
direncanakan sehinggga hambatan-hambatan dalam pengangkutan material
mineral dapat diatasi dan tingkat keamanan pengguna jalan lebih Untuk
pembuatan jalan dapat dilakukan dengan menggunakan bulldozer.
b. Pembersihan Lahan (Land Clearing)
Pembabatan (Clearing) adalah kegiatan atau pembersihan
daerah yang akan ditambang dari semak-semak, pohon-pohon kecil dan tanah
maupun bongkahan-bongkahan yang menghalangi selanjutnya.
.........
- - ~
.......
..__.
-
'---'
Peralatan yang sering digunakan untuk kegiatan pembersihan tanah tambang
adalah tenaga manusia seperti gergaji , bulldozer, chainsaw, truk cungkil dan
penggaruk (ripper) . Kegiatan pembersihan lahan tambang dari vegetasi penutup
tanah dilakukan tanpa pembakaran (zero burning). Vegetasi hasil pembersihan
lahan dikumpulkan dan dirapikan bersama hasil tebangan pepohonan pada
tempat yang telah ditentukan dan diharapkan dapat menjadi sumber bahan
organik.
c. Penggalian dan Pemindaha Tanah Penutup (Overburden)
Lapisan tanah penutup merupakan lapisan tanah atau batuan yang
berada diantara lapisan tanah pucuk (top soil) dan lapisan batubara. Pengupasan
tanah penutup (Overburden) yang dilakukan pada lapisan tanah penutup
biasanya dilakukan bersama-sama dengan land clearing dan menggunakan
bulldozer dan excavator kelas V?OO sampai PC3000. Pekerjaan dimulai dari
tempat yang lebih tinggi (puncak bukit) dan tanah penutup didorong ke bawah
kearah tempat yang lebih rendah sehingga alat dapat bekerja dengan bantuan
gaya gravitasi.
Dalam penggalian lapisan penutup juga dapat digunakan bahan peledak
(blasting) apabila lapisan tanah penutup cukup keras dan tidak bias dibongkar
dengan alat mekanik lainnya.
d. Penggalian Batubara
Setelah kegiatan penimbunan lapisan tanah penutup (Overburden) ,
selanjutnya dilakukan penggalian batubara. Pekerjaan penggalian batubara ini
menggunakan peralatan berupa bulldozer 085 yang dilengkapi alat garu. Setelah
batubara dibongkar, kemudian batubara dikumpulkan dengan bulldozer yang
memiliki blade. Batubara selanjutnya dimuat dengan menggunakan excavator
untuk dimasukkan kedalam alat angkut Dump Truck HD465 dengan kapasitas 50
ton untuk diangkut keinstalasi pengolahan batubara.
Untuk menjaga lokasi bukaan tambang batubara agar tetap kering maka
di sekeliling dari lantai bukaan tambang dibuatkan saluran/parit keliling dan
sumur {sump) untuk menampung air tirisan tambang dan ditampung di settling
pond yang te/ah disediakan atau dapat memanfaatkan lubang bekas bukaan
tambang yang belum ditutup. Sedangkan untuk menghindari air run off dari tanah
penutup di atasnya, maka tiap jenjang dan lereng tanah penutup dibuat saluran
drainase.
._.,
........
.........
"-
'--"
.......
e. Reklamasi dan Revegetasi Lahan Bekas Tambang Batubara
Reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang batubara dilakukan
setelah penambangan dimulai pada pit tambang berikutnya. Kegiatan ini
bertujuan untuk memulihkan kondisi lahan sehingga mendekati kondisi awal
sebefum penambangan dilakukan. Setiadi (1999), mendefinisikan revegetasi
sebagai suatu usaha manusia untuk memulihkan lahan kritis di luar kawasan
hutan dengan maksud agar lahan tersebut dapat kembali berfungsi secara
normal, sedangkan Parotta (1993) dalam Latifa (2000), menyatakan bahwa
reklamasi dengan spesies-spesies pohon dan tumbuhan bawah yang terpilih
dapat memberikan peranan penting dalam mereklamasi hutan tropika. Reklamasi
dengan jenis-jenis lokal dan eksotik yang telah beradaptasi dengan kondisi
tempat tumbuh yang terdegradasi dapat memulihkan kondisi tanah dengan
menstabilkan tanah, penambahan bahan-bahan organik dan produksi serasah
yang dihasilkan sebagai mulsa untuk memperbaiki keseimbangan sildus hara
dalam tanah reklamasi. Selanjunya Setiawan (1993) dalam Latifa (2000),
mengemukakan syarat-syarat tanaman penghijauan ataun reklamasi sebagai
berikut:
1. Mempunyai fungsi penyelamatan tanah dan air dengan persyaratan tumbuh
yang sesuai dengan keadaan lokasi, baik iklim rnaupun tanahnya.
2. Mempunyai fungsi mereklamasi tanah.
3. Bemilai ekonomis dimasa yang akan datang dan disukai masyarakat.
4. Hasilnya dapat diperoleh dalam waktu yang tidak terlalu lama .
Kendala dalam melakukan aktivitas reklamasi lahan pasca penambangan
adalah kondisi tanah yang marginal bagi pertumbuhan tanaman. Kondisi ini
secara langsung akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Untuk mengatasi
masalah tersebut maka karakteristik fisik, kimia dan biologi tanah perlu diketahui.
2.4. Kebijakan Pengelolaan Pertambangan Batubara di Indonesia
Pilihan paradigma pembangunan yang berbasis negara (state-based
resources development) mengandung konsekuensi pada manajemen
pembangunan yang bercorak sentralistik dan semata-mata berorientasi pada
pertumbuhan ekonomi, yang didukung oleh instrumen hukum dan kebijakan yang
bercorak refresif. Ada sejumlah peraturan perundangan bidang pertambangan
yang berlaku di Indonesia. Keseluruhan peraturan ini menginduk pada sebuah
undang-undang No. 11 Tahun 1967 yang biasa disebut juga dengan UU pokok
._/
......-
pertambangan/1967. UU ini dikeluarkan untuk mengganti UU No. 37/Prp/ Tahun
1960 yang lahir sebagai pengganti lndischen Minjwet 1899, sebuah UU
pertambangan produk pemerintah kolonial Hindia-Belanda (Bachriadi , 1998).
Untuk mengatur pelaksanaan pengelolaan pertambangan secara formal
maka telah diterbitkan beberapa peraturan yang menyangkut dan mengatur
pengelolaan suatu kegiatan pertambangan, baik yang diterbitkan oleh
pemerintah pusat (UU, PP, Kepres, Kepmen, dll) dan juga yang diterbitkan oleh
pemerintah daerah propinsi dan kabupaten berupa perda-perda yang berkaitan
dengan pengelolaan pertambangan, Adapun peraturan perundang-undangan
tersebut antara lain ;
A. Peraturan yang menyangkut Ungkungan :
1) UU No. 11 tahun 1967 tentang Pokok-pokok Pertambangan.
2) UU No 32 tahun 2009 tentang pengendalian dan pengelolaan lingkungan
hid up
3) PP No. 27 tahun 1999 tentang Analisis mengenai dampak lingkungan
(AMDAL)
4) KEPMEN Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 tentang jenis rencana usaha
dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL (termasuk di
dalamnya kegiatan pertambangan Batubara)
5) KEPMEN Lingkungan Hidup No. 02 tahun 2000 tentang Panduan penilaian
dokumen AMDAL
6) KEPMEN Lingkungan Hidup No. 12 tahun 1994 tentang Panduan
penyusunan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana
pemantauan lingkungan (RPL)
7) KEPMEN Lingkungan Hidup No. 08 tahun 2000 tentang keterlibatan
masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL.
8) KEPMEN Lingkungan Hidup No. 09 tahun 2000 tentang pedoman
penyusunan AMDAL.
9) KEPMEN Lingkungan Hidup No. 02 tahun 1988 tentang baku mutu udara
am bien.
10) KEPMEN Lingkungan Hidup No. 51 tahun 1995 tentang baku mutu limbah
cair bagi kegiatan industri.
11) KEPRES No. 32 tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung.
12) KEPMEN Lingkungan Hidup No. 113 tahun 2003 tentang baku mutu air
limbah cair bagi kegiatan dan/atau usaha pertambangan batubara.
......,
-
-
-
_ ....
B. Peraturan yang menyangkut Ungkungan Pertambangan
1) Kepmentambeng No. 103 tahun 1989 tentang pengawasan atas pelaksanaan
rencana pengelolaan lingkungan dan rencanapemantauan lingkungan dalam
bidang pertambangan dan energi
2) Kepmentambeng No. 1211.K tahun 1995 tentang pencegahan dan
penanggulangan perusakan dan pencemaran lingkungan pada kegiatan
usaha pertambangan umum
3) Kepmentambeng No. 1256.K tahun 1996 tentang pedoman teknis
penyusunan AMDAL untuk kegiatan pertambangan dan energi
4) Kepmen ESDM No. 1453.K tahun 2000 tentang pedoman teknis
penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum.
5) Kep. Dirjen Tambeng No. 693.K tahun 1996 tentang pedoman teknis
pengontrolan erosi dan sedimentasi untuk kegiatan pertambangan umum
6) Kep Dirjen Tambeng No. 336.K tahun 1996 tentang Jaminan Reklamasi
Peraturan Pemerintah Daerah Yang Menyangkut Ungkungan dan
Pertambangan
Peraturan pemerintah daerah menyangkut pengelolaan lingkungan dan
pertambangan, dijabarkan masing-masing oleh kepala daerah sesuia dengan
kondisi daerahnya dengan merujuk pada pertauran tentang lingkungan yang
lebih tinggi , misalnya :
1. SK Gubemur Kalimantan Timur No. 339 tahun 1988 tentang baku mutu
lingkungan hidup di Kalimantan Timur
2. Perda Kab. Kutai Kartanegara No. 09 Tahun 2003 tentang pengelolaan
kualitas air dan pengendalian pencemaran air di Kabupaten Kutai
Kartanegara.
3. SK Bupati Kutai Kartanegara No. 180.188/HK-316/2003 tentang pedoman
pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan pada kegiatan
umum di Kabupagten Kutai Kartanegara
T erkait dengan kebijakan pengelolaan pertambangan batubara,
pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang digunakan sebagai landasan di
dalam kebijakan pengusahaan batubara, yaitu :
1. Kepmen ESDM No.1128 Tahun 2004, tentang Kebijakan Batubara Nasional.
2. Perpres No.5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.
3. lnpres No.2 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Batubara
yang Dicairkan Sebagai Bahan Bakar Lain ..
.......
~ . -
'-'
-
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara,
Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (Dep. ESDMD, 2006) melaporkan
bahwa dalam sasaran bauran energi nasional tersebut, batubara menempati
urutan pertama di dalam penggunaan energi. Hal tersebut dikarenakan oleh :
b) Sumber daya batubara cukup melimpah, yaitu 61 ,3 miliar ton, dengan
cadangan 6,7 miliar ton.
c) Dapat digunakan langsung dalam bentuk padat, atau dikonversi menjadi gas
(gasifikasi) dan cair (pencairan) .
d) Harga batubara kompetitif dibandingkan energi lain.
e) Tekn61ogi pemanfaatan batubara yang ramah lingkungan telah berkembang
pesat, yang dikenal sebagai T eknologi Batubara Bersih (Clean Coal
Technology) .
...__,
._.,
-
3.1. Tujuan Penelitian
BAB Ill
TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan penelitian tni adalah:
1. Mengetahui dampak sosial ekonomi bagi masyarakat terkait dengan
penambangan batubara di Kutai Kartanegara.
2. Mengetahui dampak lingkungan akibat penambangan batubara Kutai
Kartanegara.
3. Menyusun strategi penanggulangan dampak pertambangan batubara yang
perlu dilaksanakan oleh perusahaan pertambangan di Kabupaten Kutai
Kartanegara.
1.4. Manfaat Penelitian
Setelah melakukan penelitian dan penyusunan laporan ini , peneliti
mengharapkan:
1. Hasil kajian ini sebagai salah satu bahan masukan bagi pihak Pemerintah
Daerah (terutama bagi stakeholders seperti , Bapedalda, Dinas
Pertambangan dan Energi , dan Badan Pengelola ljin Terpadu) untuk menilai
dampak perusahaan batubara terhadap sosial ekonomi masyarakat dan
kualitas lingkungan sehingga menjadi pertimbangan dalam pengawasan dan
pengeluaran ijin penambangan batubara.
2. Menemukan kondisi riil sosial ekonomi masyarakat sekitar tambang dan
kondisi kerusakan lingkungan alam akibat penambangan batubara
3. Adanya strategi penanggulangan dampak sosial ekonomi dan lingkungan
akibat penambangan batubara
~
BABIV
METODOLOGI
4.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian berada dalam wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara,.
Empat kecamatan ditetapkan sebagai lokasi penelitian yaitu Kecamatan
Tenggarong, Tenggarong Seberang, Loa Kulu, dan Sanga-Sanga. Lokasi
penelitian disajikan pada Gambar 2. Penetapan lokasi penelitian dipilih secara
sengaja (purposive) dari 18 kecamatan, dengan pertimbangan-pertimbangan
sebagai berikut :
1. Secara geografis, merupakan kecamatan dengan tingkat kepadapat
penduduk yang tinggi dan aktivitas yang cukup ramai sehingga rentan
terhadap dampak dari kegiatan pertambangan batubara.
2. Kecamatan dengan jumlah perusahaan pertambangan batubara terbanyak
yang beroperasi.
3. Memiliki potensi lahan pertanian produktif yang besar namun terancam
kelestariannya akibat aktivitas pertambangan yang memungkinkan dilakukan
pada lahan pertanian produktif tersebut.
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Pebruari sampai dengan bulan
Nopember 2010, terhitung sejak penyusunan proposal penelitian sampai
penyusunan draft dan revisi laporan penelitian.
1
PETALOKASI
PENELITIAN
Keterangan
1. Kec. Anggana
2. Kec. Kembang Janggut
3. Kec. Kenohan
4. Kec. Kola Bangun
5. Kec. Loa janan
7. Kec Marang Kayu
B. Kec. Muara Badak
9. Kec. Muara Jawa
10 Kec. Muara Kaman
11 Kec. Muara Muntai
12Kec. Muara Wis
13 Kec. Samboja
tnl
15 Kec. Sebulu
16Kec. Tabang
'9'
u
!
s
Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian Dampak Pertambangan Batubara di
Kabupaten Kutai Kartanegara
-
4.2. Ruang Lingkup Kajian
Ruang lingkup kajian tentang dampak penambangan batubara terhadap
pengembangan sosial, ekonomi dan lingkungan di Kabupaten Kutai Kartanegara
secara garis besar dibagi atas lingkup wilayah dan lingkup kegiatan. Lingkup
wilayah yang dimaksud adalah wilayah studi yang akan dijadikan sebagai objek
kajian yang dalam hal ini adalah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan
menetapkan beberapa kecamatan sebagai kecamatan sampel. Penentuan
kecamatan sampel dilakukan secara purposive sampel dengan pertimbangan
banyaknya perusahaan pertambangan batubara yang beroperasi pada
kecamatan tersebut.
Untuk lingkup kegiatan, adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam
penambangan batubara yang berpeluang menimbulkan dampak baik kegiatan
pada tahap pra konstruksi, tahap konstruksi, tahap operasi, dan tahap pasca
operasi. Setiap tahapan kegiatan dalam penambangan batubara dimaksud akan
menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap kondisi ekonomi, sosial dan
lingkungan.
4.3. Kerangka Pemikiran
Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan salah satu kabupaten di
Kalimantan Timur yang memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar
baik sumberdaya alam terbarukan (renewble resources) seperti hutan, lahan
pertanian produktif untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan
perkebunan, dan sumberdaya alam pesisir, maupun sumberdaya alam tidak
terbarukan (unrenewable resources) seperti batubara, minyak dan gas bumi yang
terdapat di daratan dan di lautan. Potensi yang besar tersebut dapat
dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu
permasalahan terbesar dalam pemanfaatan sumberdaya alam tersebut adalah
pemanfaatan sumberdaya alam tidak terbarukan terutama batubara yang
memiliki nilai ekonomi yang besar dalam penyediaan energi seringkali
menggeser keberadaan potensi sumberdaya alam terbarukan yang ada di
atasnya.
Dari potensi sumberdaya yang ada, pertambangan batubara
merupakan faktor penentu pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten Kutai
Kartanegara sampai saat ini. Hal ini terlihat dari tingginya sumbangan sektor
pertambangan dan penggalian terhadap peningkatan Produk Domestik Regional
~ -
~ . /
... ~
..........
Bruto (PDRB) Kabupaten Kutai Kartanegara. Di sisi lain sektor pertambangan
berpotensi paling besar menimbulkan dampak sosial, ekonomi dan lingkungan.
Dampak sosial yang timbul seperti tumpang tindih penggunaan lahan, konflik
sosial antara masyarakat dengan perusahaan, sedangkan dampak ekonomi
seperti terbukanya lapangan pekerjaan, hilangnya mata pencaharian
masyarakat, terbukanya peluang berusaha. Sementara itu, pertambangan
batubara juga memberikan dampak terhadap lingkungan (ekologi) yang timbul
karena di sekitar lokasi pertambangan terjadi degradasi lahan, polusi air, udara,
kebisingan, banjir, rusaknya bentang alam dan berbagai kerusakan lingkungan.
Lainnya. Degradasi lahan akibat pertambangan mengakibatkan penurunan
kualitas sifat fisik kimia dan biologi tanah sehingga tanah pasca tambang
berubah menjadi media tumbuh yang sangat jelek yang tidak mampu untuk
mendukung pertumbuhan vegetasi atau tanaman. Adapun kerangka pikir dalam
penelitian ini disajikan pada Gambar 3 di bawah ini :
Potensi Sumberdaya Alam

Sumberdaya Alam
Terbarukan
+
Peningkatan PDRB dan
Kesejahteraan
Masyarakat
Kutai Kartanegara
I

Sumberdaya Alam Tidak
Terbarukan
~
BATUBARA
Eksploitasi Secara Besar-Besaran
I
Gambar 3. Kerangka Pikir Kajian Dampak Pertambangan Batubara terhadap
Pengembangan Ekonomi, Sosial , dan Lingkungan
'--'
~
4.4. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Menurut Subana (2001 ),
penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang menuturkan dan menafsirkan
data yang berkenaan dengan fakta, keadaan, variabel, dan fenomena yang
terjadi saat penelitian berlangsung dan menyajikan hasil penelitian secara jelas
dan akurat berdasarkan dukungan data yang diperoleh secara up to date.
Dalam penelitian ini, penulis berusaha mendeskripsikan atau
menggambarkan data-data yang telah diperoleh dari kuesioner, observasi,
wawancara dan penelusuran pustaka. Penelitian dirancang dalam tiga tahapan
berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Adapun tahapan penelitian ini adalah
sebagai berikut :
o Tahap pertama adalah mengkaji secara mendalam dampak yang ditimbulkan
dari setiap aktivitas pertambangan batubara dilihat dari aspek sosial dan
ekonomi
o Tahap kedua adalah mengkaji secara mendalam dampak yang ditimbulkan
dari setiap aktivitas pertambangan batubara dilihat dari aspek lingkungan
o Tahap ketiga adalah menyusun strategi pengelolaan dampak terutama
dampak negatif dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan, mengurangi
potensi konflik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kajian dampak pertambangan batubara terhadap pengembangan
ekonomi , sosial , dan lingkungan di Kabupaten Kutai Kartanegara ini merupakan
penelitian yang memadukan antara penelitian yang bersifat kualitatif dan
kuantitatif. Namun demikian data-data yang bersifat kualitatif diupayakan diolah
menjadi data kuantitatif sehingga dapat dengan mudah diinterpretasikan dengan
menggunakan kriteria-kriteria tertentu untuk memudahkan menjastifikasi besaran
dampak yang terjadi , seperti dengan menggunakan nilai persentasi ataupun
kriteria lainnya.
4.5. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan model pengukuran dan evaluasi terhadap
dampak penambangan batubara terhadap kondisi sosial dan ekonomi
masyarakat, maupun terjadinya kerusakan lingkungan akibat penambangan
batubara.
Berdasarkan data sekunder yang berasal dari berbagai instansi /lembaga
terkait akan dilakukan validasi atau verifikasi data sebagai sarana menyusun
alternative desain pemecahan masalah yang akan dijadikan sebagai strategi
dalam mengelola dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan
batubara. Secara garis besar ada tiga pendekatan yang dapat dipakai dalam
penelitian ini, yaitu :
4.5.1. Pendekatan Ekonomi
Pendekatan ini dimaksudkan untuk menilai segi-segi biaya dan manfaat
ekonomi yang diperoleh masyarakat sekitar perusahaan dengan adanya kegiatan
pertambangan batubara yang beroperasi disekitar wilayahnya. Kaidah-kaidah
penilaian secara ekonomis akan diterapkan untuk mengetahui sejauh mana
manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat dilihat dari :
1. Pendapatan masyarakat sekitar perusahaan pertambangan batubara
2. Terbukanya lapangan pekerjaan
3. Peluang berusaha bagi masyarakat sekitar
4. Pengembangan ekonomi masyarakat oleh perusahaan melalui CSR
4.5.2. Pendekatan Sosial-Budaya
Dari sisi pendekatan sosia-budaya perlu memperhitungkan biaya manfaat
sosial (social cost) pengembangan usaha pertambangan batubara terhadap
masyarakat sekitar. Kemudahan memperoleh pelayanan dalam konteks interaksi
keruangan yang baru sebagai keuntungan maupun kerugian sosial yang mungkin
timbul terutama menyangkut tindak sinkronnya antara batas-batas wilayah milik
masyarakat, tumpang tindihnya kepemilikan lahan, besaran ganti rugi
pembebasan lahan dan tanam tumbuh, mekanisme perekrutan tenaga kerja,
pemeliharaan situs-situs budaya di lokasi penambangan, dan pemeliharaan
sarana umum seperti pengairan, dan kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan
oleh perusahaan terhadap masyarakat yang dikelola melalui Coorporate Social
Responsibility (CSR), maupun kegiatan social lainnya dalam pengelolaan dan
alokasi sumber daya tertentu yaitu pertambangan batubara oleh suatu
perusahaan
4.5.3. Pendekatan Lingkungan (ekologi)
Dari sisi pendekatan lingkungan akan mempertimbangkan besarnya
perubahan lingkungan yang akan t e ~ a d i sebagai akibat dai kegiatan
pertambangan batubara. Perubahan lingkungan tersebut dilihat dari perubahan
bentang lahan, penurunan tingkat kesuburan tanah, gangguan ekosistem
sebagai dampak dari kejadian erosi dan sedimentasi yang akan mengganggu
kualitas perairan, dan peluang pemanfaatan lahan bekas penambangan
batubara baik untuk kegiatan pertanian tanaman pangan, perkebunan,
kehutanan, perikanan, dan ekowisata yang dapat dikomplementerkan dengan
kegiatan lain seperti peternakan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan
potensi ekonomi wilayah untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat
sekaligus mengurangi potensi konflik dimasyarakat.
4.6. Populasi dan Sample
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kecamaaan di Kutai
Kartanegara yakni sebanyak 18 kecamatan, yang hampir seluruh kecamatan
memiliki lokasi penambangan batubara serta seluruh masyarakat yang ada.
Sedangkan sample yang akan diambil dalam kegiatan penelitian ini adalah 4
kecamatan yakni : Kecamatan Tenggarong, Kecamatan Tenggarong Seberang,
Kecamatan Loa Kulu, dan Kecamatan Sanga-Sanga dan masyarakat pada
empat kecamatan tersebut yang akan dipilih secara acak (random) yang akan
dijadikan sebagai responden. Responden dalam penelitian ini dibedakan atas
dua yaitu responden dari masyarakat umum dan responden kunci.
Jumlah responden dari kalangan masyarakat umum pada kegiatan
penelitian ini meliputi : petani , nelayan, pelajar, ibu rumah tangga, buruh,
pedagang, pegawai negeri dll. Penentuan jumlah responden dilakukan dengan
menggunakan metode Purposive Random Sampling secara proporsional
(Walpole, 1995) dengan rumus sebagai berikut :
n, = ~ :·J n
Dimana : n = Jumlah responden
N = jumlah populasi 4 kecamatan
Nx = Jumlah populasi setiap kecamatan
n = ukuran responden secara keseluruhan
Adapun penempatan titik-titik sampel didasarkan pada zona wilayah
yang akan dibagi dalam tiga (3) klaster yaitu klaster I, klaster II, dan klaster Ill.
Responden yang termasuk klaster I ditetapkan dengan radius sekitar 500 meter
dari lokasi penambangan, klaster II dengan radius 500 - 1500 meter dan klaster
Ill dengan radius lebih dari 1500 meter.
Sedangkan jumlah responden kunci dipilih secara sengaja (Purposive
Sampling). Responden yang dipilih memiliki pengetahuan dan keahlian sesuai
dengan bidang yang dikaji. Beberapa pertimbangan dalam menentukan
responden kunci yang akan dijadikan responden, menggunakan kriteria seperti
berikut:
1. Mempunyai pengalaman yang kompeten sesuai dengan bidang yang dikaji
2. Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompetensinya dengan bidang
yang dikaji
3. Memiliki kredibilitas yang tinggi, bersedia, dan atau berada pada lokasi yang
dikaji
4. 7. Variabel Penelitian
Secara teori, definisi variabel penelitian adalah merupakan suatu objek,
atau sifat, atau atribut atau nilai dari orang, atau kegiatan yang mempunyai
bermacam-macam variasi antara satu dengan lainnya yang ditetapkan oleh
peneliti dengan tujuan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
Pada bagian ini ditentukan variabel-variabel penelitian yang dijadikan titik-
titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Berdasarkan hubungan
antar variabel, maka variabel tersebut dapat berupa variabel dependen (terikat)
dan variabel independent (variabel bebas). Variabel terikat merupakan variabel
yang besarannya tergantung dari besaran variabel independen (bebas). Adapun
variabel bebas dimaksud adalah kegiatan-kegiatan atau proses berlangsungnya
pertambangan batubara yang cenderung menimbulkan dampak. Dampak
tersebut dapat muncul pada setiap tahapan kegiatan pertambangan batubara
mulai dari tahap pra konstruksi, kontruksi, operasi dan pasca operasi.
Sedangkan variabel terikat adalah dampak yang timbuk akibat kegiatan
pertambangan batubara. Dampak ini berupa dampak negatif dan dampak positif
yang dilihat dari berbagai aspek yaitu aspek fisik-kimia (lingkungan), sosial-
ekonomi dan budaya masyarakat
a. Variabel dampak terhadap sifat fisik dan kimia lingkungan, antara lain :
(1) Degradasi (kerusakan) lingkungan akibat pembongkaran batubara
dengan metode open pit
(2) Pencemaran lingkungan akibat limbah-limbah yang dihasilkan oleh
aktivitas pertambangan.
b. Variabel dampak terhadap kondisi sosial ,ekonomi dan budaya masyarakat,
antara lain
( 1) Sikap dan persepsi masyarakat dengan adanya kegiatan pertambangan
batubara
(2) Kehilangan dan terbukanya lapangan pekerjaan
(3) Terbukanya peluang usaha
(4) Konflik sosial antar mansyarakat dengan perusahaan
(5) Kegiatan Coorporate Social Responsibility (CSR)
c. Variabel dampak terhadap kondisi biologi , atara lain :
(1) Terjadinya degradasi vegetasi oleh kegiatan pembukaan lahan
(2) T erganggunya keanekaragaman hayati terutama flora dan fauna
terutama yang dilindungi
Dari kedua variabel di atas, yakni variabel dependen dan variabel
independen, dalam analisis, hubungan antara keduanya tidak dimasukkan dalam
model staistik yang kita gunakan. Artinya tidak dihitung seberapa besar
terjadinya perubahan yang disebabkan oleh variabel independen (bebas) ini ,
akan memberi peluang terhadap perubahan variabel dependen (terikat) sebesar
koefisien (besaran) perubahan dalam variabel independen, tetapi hanya
dideskripsikan bahwa setiap kegiatan yang ber1angsung dalam penambangan
batubara akan menimbulkan dampak baik dampak positif maupun dampak
negatif terhadap kondisi lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat di
sekitarnya.
Untuk rnengukur besamya dampak yang muncul baik dampak positif
maupun dampak negatif, digunakan berbagai indikator, antara lain :
1. Dampak yang terikat dengan tingkat pencemaran lingkungan seperti
penurunan kualitas air, kualitas udara ambient, dan kebisingan mengacu
kepada tingkat baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan, antara lain
(Wardana, 2004) ;
a. Kualitas air mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001
tentang pengelolaan air dan pengendalian pencemaran air
b. Kualitas udara mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun
1999 tentang pengendalian pencemaran udara, SK MenLH Nomor 13
tahun 2005 dan SK Menaker Nomor 51 tahun 1999 tentang nilai ambang
batas debu ditempat kerja
~
c. Kebisingan mengacu pada Kepmen LH No. 48 Tahun 1996 Tentang ;
Baku Tingkat Kebisingan
d. Laju erosi mengacu pada tingkat bahaya erosi (TBE) yang ditetapkan
oleh Sitanala Arsyad tahun 2000 (Konservasi Tanah dan Air)
2. Dampak yang terkait dengan tingkat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat ;
a. Tingkat persepsi dan sikap masyarakat mengacu pada persentase sikap
dan persepsi masyarakat terhadap kegiatan pertambangan batubara
b. Potensi konflik sosial dilihat dari intensitas konflik yang terjadi antara
masyarakat di sekitar perusahaan dengan perusahaan itu sendiri
c. Lapangan pekerjaan mengacu pada perbandingan persentase tenaga
kerja yang diterima antara tenaga kerja lokal dengan tenaga kerja non
lokal
d. Pendapatan masyarakat diukur dari tingkat pendapatan masyarakat
sebelum dan sesudah pertambangan batubara beroperasi
e. Terbukanya peluang usaha diukur dari banyaknya peluang usaha yang
terbuka bagi masyarakat sekitar dengan adanya aktivitas pertambangan
batubara
f. Penyediaan sarana dan prasarana, serta bantua sosial kepada
masyarakat diukur dari banyaknya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
perusahaan melalui CRS (Coorporate Social Responsibity) yang ada.
3. Dampak yang terkait dengan kondisi biologi :
a. Degradasi vegetasi yang terdapat di areal penambangan batubara diukur
dari penurunan jumlah dan populasi vegetasi dan luas daerah pada a r e ~ l
yang ditambang
b. Terganggunya keanekaragaman hayati diukur dari tingkat kepadatan,
keragaman, dan frekuensi kepeberadaan satwa yang ada di lokasi proyek
penambangan batubara
4.8. Metode Analisis Data
4.8.1 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian dampak pertambangan
batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara ini terdiri dari data primer dan data
sekunder. Data primer bersumber dari hasil survei langsung di lokasi studi dan
hasil penjajakan dengan menggunakan kuisioner kepada responden terpilih.
_,
Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait di Kabupaten Kutai
Kartanegara seperti Kantor Kecamatan dan Desa atau Kelurahan, Bappeda,
Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Pertanian, Dinas perkebunan, dan
dinas/instansi lainnya dalam lingkup SKPD Kabupaten Kutai Kartanegara.
4.8.2. Teknik pengumpulan data.
Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan berbagai teknik
pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan
kuisioner, observasi, dan wawancara mendalam kepada responden yang
ditentukan dengan teknik random (acak), serta studi literatur.
a. Kuisioner, dilakukan melalui penyebaran angket atau daftar pertanyaan yang
tersedia relevan dengan masalah yang diteliti. Kuisioner dimaksudkan untuk
memperoleh data yang objektif terkait dengan dampak kegiatan
penambangan batubara baik yang bersifat pengembangan ekonomi, potensi
dan penanganan konflik sosial , maupun ancaman kerusakan lingkungan.
Adapun penyebaran angket kepada responden berjumlah 250 responden dari
4 kecamatan yang menjadi sampel kegiatan penelitian.
b. Observasi, yaitu suatu teknik pengumpulan data dan informasi yang
dilakukan dengan cara pengamatan dan pencatatan secara sistematis
terhadap gejala, peristiwa dan aspek-aspek yang diteliti di lokasi penelitian.
Observasi ini akan dilakukan pada empat wilayah studi untuk mengetahui
secara Jangsung kondisi sosial , ekonomi, dan lingkungan sekitar
pertambangan batubara.
c. Wawancara mendalam (indepth interview) yaitu mengumpulkan data dan
informasi dengan melakukan wawancara secara langsung berdasarkan
pedoman yang telah disusun sebelumnya dengan pihak yang berkompeten
dan berwenang terkait masalah yang diteliti antara lain:
o Kepala Dinas Pertambangan dan Energi
o Badan Lingkungan Hidup Daerah Kutai Kartanegara
o Pimpinan perusahaan pertambangan batubara
o Dekan Fakultas Teknik Geologi Pertambangan
o T okoh Masyarakat.
o LSM
d. Studi Literatur, mengumpulkan data dengan mempelajari , menelaah dan
menganalisa data literatur, dokumen, peraturan serta referensi lainnya yang
._;
~ - -
erat kaitannya dengan masalah yang diteliti. Adapun buku literatur yang
diperlukan antara lain:
~ Data BPS Kutai Kartanegara
~ Data Dinas Pertambangan Kutai Kartanegara
~ Data BLHD Kutai Kartanegara
~ Data Bappeda Kutai Kartanegara
4.8.3. Teknik Pengolahan Data
Dalam studi ini menggunakan metode deskriptif. Analisis deskriptif
(Deskriftive Analysis) diartikan sebagai ana/isis untuk menje/askan dan
menggambarkan suatu kondisi dari objek yang dikaji. Analisis deskriptif dilakukan
dengan cara mengumpulkan berbagai informasi terkait kegiatan pertambangan
batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara dan dampaknya terhadap masyarakat
sekitar baik dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta strategi pengelolaan
dampak. Untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan digunakan metode
triangulasi yang merupakan perpaduan antara studi literatur, observasi lapangan,
dan penyebaran kuisioner. Observasi lapangan dilakukan untuk mencocokkan
beberapa data yang diperoleh dari hasil studi literatur dengan kenyataan yang
terjadi di /apangan. Sedangkan penyebaran kuisioner di/akukan untuk menjaring
informasi dari masyarakat terutama persepsinya dalam kegiatan pertambangan
batubara di wilayahnya dan dampak yang ditimbulkannya.
a. Data kualitatif dan kuantitatif akan dianalisa melalui pendekatan isi dan
kedalaman menterjemahkan suatu fenomena berdasarkan standar
persentase.
b. Sedangkan data kuantitatif akan dikategorikan, diklasifikasi dan diolah
sebagai dasar pengukuran dan analisis untuk memberikan penjelasan dan
penilaian terkait dengan dampak penambangan batubara di wilayah Kutai
Kartanegara baik yang bersifat pengembangan sosial-ekonomi masyarakat
maupun yang bersifat ancaman kerusakan lingkungan.
Data sekunder yang diperoleh akan dijadikan sebagai data menganalisa
dampak penambangan batubara di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.
mengenai data kondisi sosial ekonomi, meliputi :
1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), menggunakan rumus:
r AK
TPAK=----X 100%
r PUK
'--
--
........
2. Kesempatan Kerja (KK) menggunakan rumus :
r. AK yang bekerja
KK = X 100%
r. AK
3. Pendapatan per kapita ( PPK) menggunakan rumus :
PRT
PPK = ---
ART
Keterangan :
AK = Angkatan Kerja (PUK yang bekerja dan mencari pekerjaan)
PUK = Penduduk Usia K e ~ a (Penduduk berusia 15 tahun ke atas)
PRT = Pendapatan rata-rata per rumah tangga
ART = Rata-rata jumlah anggota rumah tangga (RT)
3. Sikap dan persepsi masyarakat di sekitar perusahaan di lakukan survey
lapangan dengan melakukan wawancana dan pengisian kuisioner terhadap
responden sampel. Metode pengumpulan data, analisis data sosial, seperti
pada T abel 1 .
T abel 1. Metode Pengumpulan data, analisis data social dan ekonomi
Parameter Met ode Peralatan
Pengumpulan Data Analisis Data
Sikap dan Observasi, Tabulasi dan Kuisioner/ daftar
Persepsi wawancara, dan Grafikltabel is ian
pengumpulan data
sekunder
------ - ----- - -- ---- --
Untuk karakteristik lingkungan dan komponen biologi, walaupun hanya
didukung dari data sekunder dari perusahaan batubara yang melakukan proses
analisis, namun untuk memperoleh data tersebut, menggunakan berbagai
macam metode analisis, antara lain :
1. Kualitas perairan menggunakan metode analisis laboratorium yang
berpedoman pada Peraturan Pemerintah No.82 tahun 2001 , dengan
parameter fisik dan kimia kualitas air seperti pada Tabel2.
Tabel 2. Daftar parameter fisik dan kimia lingkungan perairan
No. Parameter Satuan Metode Analisis
I, Fisika
2 Residu Terlarut (TDS) mg/1 Gravimetri
3 Residu Tersuspensi (TSS) mg/1 Gravimetri
4 Kekeruhan NTU Secchi disk
5 Wama TCU Spektrofotafinetri I
7 Debu mg/1 Gravimetri I
II, KIMIA
1 I so2 I
ppm I Pararosanilin
-
~
'""'
2 N02
mg/1 Spektrofotometri
No. Parameter Satuan Metode Analisis
3 HC ppm Flame Ionization
4 co ppm NDIR
5 NH
3
mg/1 Spektrofotometri
6 Ph mg/1 Potensiometri
12 BOD mg/1 Titrimetri
13 COD mg/1 Titrimetri
14 DO mg/1 Titrimetri
15 TotaiPhospatsebagaiP mg/1 Spektrofotometri
16 Nitrat sebagai N mg/1 Spektrofotometri
19 Nitrit sebagai N mg/1 Spektrofotometri
21 Fecal Coliform MPN/100 ml MPN atau Filtrasi
22 Total Coliform MPN/100 ml MPN atau Filtrasi
23 Minyak dan Lemak IJQ/L Spektrofotometri
Sumber : Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Kab. Serang, 2007.
2. Kualitas Udara dan Kebisingan. Analisis kualitas udara dilakukan dengan
mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999 tentang
pengendalian pencemaran udara, sedangkan kebisingan diukur dengan
menggunakan metode pembacaan skala pada alat sound level meter.
Adapun metode analisis data untuk kualitas udara dan kebisingan seperti
pada Tabel3.
Tabel3. Metode Pengumpulan Data, Analisis Data, dan Parameter
Komponen Kualitas Udara dan Kebisingan
No. Parameter Satuan Metode
Pengumpulan Data Analisis Data
A Kualitas Udara
1. so2 Ppm Analisis Lab Pararosanilin
co Ppm Analisis Lab NDIR
NOx Ppm Analisis Lab Saltzman
Debu Ug/m
3
Analisis Lab Gravimetric
B Kebisingan
Kebisingan dB (A) Pengukuran Pembacaan
Langsung Skala
Peralatan
Sound
Level
Meter
3. Erosi Tanah diukur dengan menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss
Equation) oleh Weischmeir W. H dan Smith (1978) dengan rumus:
A=RxKxLxSxCxP
...._,

........
Dimana : A = Dugaan erosi tanah (ton/ha/tahun
R = lndeks erosivitas hujan
K = lndeks Erodibiltas tanah
L = Faktor Panjang lereng
S = Faktor kemiringan lereng
C = Faktor pengelolaan tanaman
P = Faktor konservasi tanah
4. Beban sedimen diukur dengan menghitung besamya sedimentasi yang
dengan menggunakan rumus :
as= 0,0864 X a XC
Dimana : Qs = Beban sedimen (ton/hari)
C =Rata-rata sedimen (mglliter)
a =Debit aliran air (m
3
/detik)
5. Vegetasi/flora darat dihitung dengan menggunakan lndeks Nilai Penting (INP)
yang merupakan penjumlahan relatif dari ketiga parameter, yaitu :
a. Kerapatan relatif (KR) = dari suatu jenis x 100 %
Kerapatan seluruh jenis
b. Frekuensi relatif (FR) = Frekuensi dari suatu jenis x 100 %
Frekuensi seluruh jenis
c. Dominasi Relatif = Dominasi dari suatu jenis x 1 00 %
Dominasi seluruh jenis
4.9 Pembentukan Tim Peneliti
Tim Pengarah
Tim Peneliti
1. Kementerian Negara Riset dan T eknologi Deputi
Sipteknas
2. Pit. Kepala Balitbang Depdagri
1. Dr. lr. lnce Raden, MP : Ketua merangkap anggota
: Anggota 2. Dr. lr. Thamrin, MP
3. M. Soleh Pulungan, S.Pd., MH : Anggota
4. Moh. Dahlan, SE, M.Si : Anggota
Tabel 4. Jadwal Kegiatan Penelitian
No. Kegiatan
2 3 4
I. PERSIAPAN
1. Penyusunan TOR dan Studi Literatur
r-
2.Koordinasi dengan lnstansi Terkait
-
3.Rapat-Rapat Tim ...
-
II PELAKSANAAN
1. Pengumpulan Data/Observasi ..
2.Tabulasi Analisis Data
3.Penyusunan Laporan Awal
Ill PENYUSUNAN LAPORAN AKHIR
1. Penyusunan draft Laooran
2.Revisi Laporan
3. Evaluasi dan Diskusi
4. Seminar dan Revisi Laporan Akhir
r
\
5
••
BULAN
6 1
..
..
8
"Ia

9 10
..

..
,
\
32
11
-•
I
BABV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data hasil observasi, survey, dan wawancara sebagai data
primer dan data sekunder dari berbagai sumber untuk mengkaji berbagai
dampak yang ditimbulkan oleh keberadaan aktifrtas perusahaan pertambangan,
diperoleh hasil analisis berbagai dampak di bidang ekonomi, sosial, dan
lingkungan akibat kegiatan pertambangan di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Adapun dampak tersebut diuraikan di bawah ini
5.1 Dampak kegiatan pertambangan terhadap ekonomi masyarakat
Berdasarkan hasil kajian ditemukan bahwa kehadiran perusahaan batu
bara di wilayah Kutai Kartanegara membawa dampak positif di bidang ekonomi
diantaranya dapat meningkatkan pendapatan per bulan masyarakat sekitar
pertambangan. Hasil analisis pada Tabel5 menunjukkan bahwa sebelum adanya
usaha pertambangan penghasilan per bulan penduduk tertinggi (57.14%)
berkisar Rp. 1000000 s/d 2000000, setelah adanya usaha pertambangan terjadi
peningkatan penghasilan per bulan penduduk setempat yaitu Rp 2000000-
3000000 (33.75 %), 3000000-4000000 (11,87 %), dan di atas 4000000 (8.12%).
Data tersebut memberikan indikasi bahwa terjadi pergeseran pendapatan
penduduk sekitar usaha pertambangan yang tadinya terkonsentrasi pada nilai
satu s/d dua juta per bulan terdisribusi ke tingkat yang lebih tinggi.
Tabel5. Pendapatan per bulan sebelum dan sesudah ada perusahaan tambang
batubara
NO Pendapatan per bulan (Rp) Penghasilan Per Bulan (%)
Sebelum Sesudah
1 > 4,000,000 1.78 8.12
2 3000000-4000000 4.76 11.87
·-
---
3 2000000-3000000 14.28 33.75
4 1 000000-2000000 57.14 35.62
5 500000-1 000000 16.07 10.00
6 < 500000 2.38 0.62
7 Pengangguran 3.57 0
Sumber data diolah dari kuesioner 2010
Peningkatan pendapatan temyata berkorelasi positif dengan rata-rata
pengeluaran per bulan masyarakat sekitar pertambangan batubara. Berdasarkan

.........
hasil penelitian (Tabel 6) menunjukkan bahwa ada kenaikan 14.55 %
pengeluaran (belanja) yang dilakukan oleh penduduk setempat.
Tabel6. Pengeluaran setiap bulan sebelum dan sesudah ada perusahaan
Rata-rata pengeluran sebelum dan
Kabupaten sesudah ada perusahaan (Rp) %
Sebelum Sesudah
Kutai
KartaneQara 1,403,000 1,642,000 14,55
Sumber data yang dioleh dari kuesioner 2010
Peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh adanya penerimaan tenaga
yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendukung kegiatan operasional.
meliputi tenaga managerial , teknis tambang, teknis operasional dan tenaga kerja
pendukung. Salah satu contoh kasus berikut ini disajikan salah satu contoh
jumlah kebutuhan tenaga kerja yang akan direkrut oleh salah satu perusahaan
batubara yaitu PT. Anggana Coal yang berioperasi di Kecamatan Loa Kulu
Kabupaten Kutai Kartanegara, dengan data sebagai berikut :
Tabel7. Kebutuhan Tenaga Kerja PT. Anggana Coal untuk Operasional
Tambang Batubara di Kecamatan Loa Kulu
No. Deskripsi Tenaga Kerja Jumlah (orang)
A Manajemen
1 Project Manager 1
2 Mine Manager 1
3 Plant & Machinery Manager 1
4 Mine Operation Manager 1
5 Safety Manager 1
6 Marketing Manager 1
7 Coal Prep. Plant Manager 1
8 Finance & Administrasi Manager 1
9 Secretary 1
Jumlah : 9
B K3 dan Coorporate Social Responsibity (CSR)
1 HRD 2
2 Accountant 2
3 Administration Personil 3
4 Information Tech. Engineer 1
5 Staff K3 1
----- -- ----- ··------------
9
B K3danCoo rate Social Res nsibi
6 Staff Community Development/CSR 1
7 Staff Lingkungan 1
8 Secretary 1
9 Security Guard 6
10 T enaga dokter) 1

'
.......-
..........
.........
'---'
..}.)
11 Paramedis (perawat) 2
Jumlah : 12
c Perencanaan dan Enggineering
Mine Engineer 2
Safety Personil 3
Projek Engineer 1
Geologist 1
Computer Analist 1
Technical Drafting 1
Surveyor 2
Secretary 1
Clerk/Helper Surveyor 2
Jumlah : 14
D Administrasi dan Keuangan
1 Accounting Staff 1
2 Secretary 1
3 Clerk 1
Jumlah : 3
E Operasi
1 Production Surveyor 1
2 Foreman 3
3 Heavy Equipment Operator 44
4 Ugh Equipment Operator 10
5 Cheker 6
Jumlah : 65
F Perawatan Dan Logistik
1 Engineer 2
2 Mechanics 4
3 Electrician 2
4 Welder 3
5 Parts Counter 4
6 Unskilled Laborer 12
Jumlah : 27
G CPP
1 Kepala Bagian 1
2 Teknisi 4
3 Staff adminsitrasi 4
4 Enggineering dan Analist 1
5 Quality Control 1
6 Helper 4
Jumlah : 15
L__ - - --
Jumlah Total : 151
Sumber : PT. Anggana Coal, 2010
Operasiona/ penambangan batubara, PT. Anggana Coal membutuhkan
tenaga kerja sebesar 151 orang. lni berarti akan memberikan kesempatan kerja
kepada penduduk lokal. Diketahui jumlah penduduk usia 16 - 55 tahun di sekitar
lokasi perusahaan sebanyak 5.435 jiwa dan jumlah pengangguran sebanyak 871
jiwa, maka tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), sebesar:
I
I
I
~
~ -
._.J
....__,
'--"'
Dimana:
Maka :
L AK
TPAK =----X 100%
L PUK
AK = Angkatan Kerja (PUK yang mencari pekerjaan)
PUK = Penduduk Usia Kerja (Penduduk berusia 15 tahun ke atas)
871
TPAK= X 100%
5.435
= 0,1601
= 16,02%
Karena PT. Anggana Coal merekrut tenaga kerja sebanyak 151 orang dengan
asumsi bahwa 80 % atau sebanyak 121 orang tenaga kerja berasal dari tenaga
kerja lokal yang belum bekerja, maka PT. Anggana Coal akan mengurangi
tingkat pengangguran atau memberikan kesempatan kerja (KK) bagi penduduk
lokal sebesar :
871 - 121
KK= - X 100%
5.435
= 0,1379
= 13,79%
Dengan demikian kesempatan kerja (KK) = 16,02%-13,79% = 2,23%
Perekrutan masyarakat lokal untuk bekerja di pertambangan batubara
diharapkan akan meningkatkan pendapatan mereka yang pada akhimya akan
berpengaruh pada tingkat pendapatan perkapita keluarga pekerja tambang .
Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan terhadap pendapatan masyarakat
setelah ada aktivitas pertambangan batubara menunjukkan adanya peningkatan
secara umum dari pendapatan sekitar .± Rp 1.000.000,- meningkat menjadi
sekitar .± Rp 2.000.000,- Dengan jumlah anggota keluarga rata 3 orang per
kepala keluarga (KK), maka tingkat pendapatan perkapita (PPK) masyarakat di
sekitar tam bang batubara sebesar :
PRT
PPK =
ART
..__
...__
~
~
Jl
Dimana :
PRT = Pendapatan rata-rata per rumah tangga
ART = Rata-rata jumlah anggota rumah tangga (RT)
Rp. 2000.000
PPK = ---------
3
= Rp. 666.666,- (Enam Ratus Enam Puluh Enam Ribu Enam
Ratus Enam Puluh Enam Rupiah per kapita)
Selain faktor adanya penyerapan tenaga kerja lokal yang b e k e ~ a di
perusahaan, peningkatan penghasilan per bulan yang diterima oleh masyarakat
disebabkan pula oleh adanya peluang usaha bagi masyarakat yang berada
disekitar aktifitas pertambangan. Berdasarkan data Tabel 8 menunjukkan bahwa
72.26 % responden menjawab bahwa kehadiran perusahaan membuka peluang
usaha bagi penduduk setempat.
Warung sembako, rumah sewaan, dan warung makan adalah 3 peluang
usaha yang paling dominan yang dilakukan oleh masyarakat secara berturut-
turut presentasenya 20.76%, 19.48 %, dan 15.33 %.
Tabel8. Peluang usaha yang dapat dikembangkan masyarakat akibat adanya
perusahaan
A. Peluang usaha yang dikembangkan 72.26%
a Warung Makan 15.33
b Warung Sembako 20.76
c Counter Pulsa 11 .18
d Berdagang hasil pertanian (sayuran/buah-buahan) 6.38
e Rumah sewaan/kontrakan 19.48
f Jasa katering perusahaan 5.11
g Bibit penghijauan 2.55
h Jasa pencucian pakaian I Laundry 5.11
i Usaha isi air ulang 7.34
j Usaha petemakan 2.87
k Jasa angkutan karyawan 3.83
B. Tidak ada peluang usaha 18.97%
c. Tidak tahu 8.76%
Sumber data yang dioleh dari kuesioner 2010
I
Berdasarkan data-data aktual tersebut menyebabkan 51 .76% responden
(Tabel9) memberikan jawaban bahwa keberadaan perusahaan pertambangan di
wilayah Kutai Kartanegara memberikan kondisi ekonomi yang lebih baik kepada
........
.........
masyarakat Kutai Kartanegara dibandingkan sebelum ada aktifitas
pertambangan.
Tabel9. Kondisi ekonomi masyarakat akibat adanya perusahaan batubara
NO Kondisi ekonomi masyarakat %
a Lebih baik 51.76
b Sarna saja 29.41
c Lebih buruk 14.12
d Tidak tau 4.71
Sumber data yang dioleh dari kuesioner 2010
5.2. Dampak kegiatan pertambangan terhadap kehidupan sosial masyarakat
Kajian darnpak keberadaan perusahaan pertambangan batubara
terhadap kehidupan sosial masyarakat diarahkan ke bentuk proses sosial yang
terjadi di masyarakat Kutai Kartanegara. Secara asosiatif terjadi k e ~ a s a m a dan
akomodatif antara suku pendatang (yang bekerja diperusahaan dengan suku
asli) dan secara disosiatif juga terjadi persaingan dan konflik
Dampak positif yang ditunjukkan oleh bidang ekonomi akibat adanya
usaha pertambangan ternyata berbanding terbalik dengan dampaknya di bidang
sosial. Data pada Tabel 8 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan konflik
sebelum dan sesudah adanya usaha pertambangan. Peningkatan konflik ini yang
tadinya terbesar masuk dalam kategori tidak pemah (52.69%) dan pemah (1 kali
dalam setahun) meningkat menjadi 2-3 kali setahun (28.74 %), 4-5 kali setahun
(14.37 %) dan sangat sering (12.57 %) setelah adanya aktifitas pertambangan di
wilayah Kutai Kartanegara.
Tabel10. Pengaruh kehadiran perusahaan batubara terhadap konflik
Kejadian konflik antara masyarakat dan
NO perusahaan Persentase (%)
Sebelum Sesudah
a Sangat sering 1.79 12.57
b Sering (4-5 kali setahun) 5.98 14.37
c Kadang-kadang (2-3 kali setahun) 13.77 28.74
d Pemah (1 kali) 25.74 22.15
e Tidak Pernah 52.69 22.15
Sumber data yang dioleh dari kuesioner 2010
Konflik antara masyarakat dan masyarakat dengan perusahaan sebagian
besar dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat sekitar dengan masalah limbah
(28.65 %) yang dikelolah oleh perusahaan sehingga keberadaanya mengganggu
i
I
---
........
........


........
'-'
'--
'--
J7
sumber air minum dan kebutuhan mencuci. Rendahnya jumlah tenaga lokal
yang diterima bekerja di perusahaan (26.07 %), dan masalah ganti rugi lahan
dan tanaman (18.62%) milik masyarakat sekitar proyek eksploitasi pertambangan
sebagaimana disajikan oleh Tabel11 .
Tabel11. Penyebab terjadinya konflik antara masyarakat-peruahaan
Penyebab konflik antara masyarakat-
No. perusahaan %
a Masalah tenaga kerja lokal 26.07
b Masalah ganti rugi lahan dan tanaman 18.62
c Masalah tumpang tindih lahan 11.46
d Masalah limbah 28.65
e Masalah pemberdavaan masvarakat (Comdev) 8.59
f Tidak tahu 6.59
Sumber data yang dioleh dari kuesioner 2010
Selain membawa dampak terhadap meningkatan konflik di masyarakat,
kehadiran perusahaan batubara di Kutai Kartanegara juga mempengaruhi prilaku
gotong royong terutama partisipasi masyarakat dalam mengikuti kerja bakti
mengalami penurunan paling besar, yaitu 31 .34 % (Tabel 12) diikuti oleh
kegiatan keagamaan (22.38 %). Kondisi tersebut, berbanding terbalik dengan
sumbangan masyarakat untuk kegiatan sosial semakin lebih baik.
Waktu kerja di perusahaan batubara sejak pagi hari sampai sore hari
bahkan adanya kerja lembur adalah sebagai pemicu dampak
keikutsertaan masyarakat untuk kegiatan kerja bakti semakin menurun
(berdampak negatif). Disisi lain, meningkatnya jumlah penghasilan per bulan
semakin mendorong masyarakat untuk ikut serta memberikan sumbangan-
sumbangan untuk membiayaan kegiatan-kegiatan sosial.
Tabel12. Perubahan prilaku gotong royong akibat kehadiran pertambangan
batubara
Prilaku gotong royong dan partisipasi Pengaruh adanya
NO masyarakat perusahaan
dalam kegiatan sosial Sebelum Sesudah
a Kematian Baik 20.89
b Kerja bakti Baik 31.34
c Kegiatan keagamaan Baik 22.38
d Sumbangan sosial mas}'arakat Baik 7.46
e Siskamling Baik 17.91
.........
'--
.__
......
.........
........
'--'
........
.....

'--


Akan tetapi pada saat responden diperhadapkan dengan pertanyaan
kondisi sosial masyarakat secara keseturuhan sebagian besar memberikan
jawaban bahwa kondisi sebelum dan sesudah ada perusahaan pertambangan
batubara kondisi sosial masyarakat sama saja (38.95 %) kemudian diikuti lebih
buruk 31 .39% sebagaimana disajikan pada Tabel13.
Tabel13. Perubahan kondisi sosial masyarakat
No Perubahan kondisi sosial %
a. Lebih baik 17.44
B Sarna saja 38.95
c Lebih buruk 31 .39
D Tidak tau 9.88
5.3. Dampak kegiatan pertambangan terhadap lingkungan
Kegiatan pertambangan di wilayah Kutai Kartanegara membawa dampak
negatif terhadap lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa
persentase menurunnya kualitas air, yaitu keruhnya air sungai, merupakan
dampak yang memiliki persentase tertinggi , yaitu 19,19% yang diakibatkan oleh
kegiatan pertambangan batubara . Kemudian diikuti terjadinya peningkatan debu
(18.98 %) dan peningkatan kebisingan (15.35 %) sebagaimana disajikan pada
Tabel14. ke tiga dampak negatif ini langsung dirasakan oleh masyarakat akibat
dari aktifitas pertambangan di Kutai Kartanegara.
Tabel14. Kerusakan lingkungan akibat adanya aktifitas pertambangan batubara
No. Kondisi kerusakan lingkungan %
A Air sungai menjadi keruh 19.19
B Penyebab banjir 13.53
c Terjadi Peningkatan debu 18.98
D Peningkatan kebisingan 15.35
E Masuknya limbah tambang ke Jahan pertanian 10.7
F Rusaknya jalanan umum 13.53
G Adanya lubang tambang tanpa ditutup 8.68
Sumber data Primer 2010
Jika dikaji lebih mendalam, persentase kondisi kerusakan lingkungan
yang lainnya juga mendapatkan penilaian yang tinggi dari masyarakat
diantaranya ekploitasi batubara membawa dampak terhadap terjadinya banjir,
masuknya limbah tambang ke lahan pertanian, rusaknya jalanan umum akibat
mobilisasi bahan dan peralatan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dan
i

i

'
.__.
-
...._
"--'
........
.......
adanya lubang tambang yang tidak dapat ditutup kembali oleh perusahaan. Hasil
penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Zulkiflimansyah (2007) yang
menyatakan bahwa pertambangan batu bara membawa dampak negatif
terhadap pencemaran air, erosi dan sedimentasi tanah, Selanjutnya Suhada et
a/. (1995) menyatakan bahwa pertambangan batubara membawa dampak
negatif terhadap lingkungan karena merubah topografi ,dan bentang alam serta
meninggalkan lubang-lubang besar bekas galian tambang.
Berdasarkan struktur geologi. bentuk dan karakteristik lapisan batubara
serta lapisan penutupnya (kedalaman tanah penutup) di Kebupaten Kutai
Kartanegara, menunjukkan bahwa metode penambangan batubara yang
memungkinkan dapat diterapkan adalah sistem tam bang terbuka (open pit)
dengan menggunakan peralatan seperti backhoe, dump truck yang dibantu
dengan bulldozer sebagai alat garu dorong material galian. Kegiatan
pertambangan yang dilakukan secara terbuka (opened mining) ini, pertama kali
akan membuka vegetasi/pohon-pohonan, menggali tanah dibawahnya, dan
meninggalkan lubang-lubang besar di permukaan bumi. Untuk memperoleh bijih
tambang, permukaan tanah dikupas dan digali menggunakan alat-alat berat
seperti buldoser dan backhoe yang memberikan peluang yang besar terhadap
munculnya dampak negatif terhadap lingkungan.
Kegiatan penambangan batubara secara terbuka tersebut temyata
berdampak terhadap perubahan bentang alam dari kondisi asalnya. Perubahan
ini terjadi oleh aktivitas pengupasan tanah pucuk (top soif) dan tanah penutup
(sub soif). Pengupasan tanah pucuk dilakukan pada lahan yang potensial untuk
dilakukan penambangan dengan menggunakan bulldozer. Tanah pucuk yang
dikupas sedalam lapisan top soil yaitu sekitar 50 em dari permukaan tanah.
Tanah tersebut selanjutnya diangkut dan ditimbun pada tempat yang telah
dtentukan (top soil area) dengan menggunakan truck.
Setelah dilakukan pengupasan tanah pucuk, selanjutnya dilakukan
pengupasan tanah penutup (overburden I sub soif) yang terletak di atas lapisan
batubara. Apabila terdapat lapisan batuan yang keras pada saat pengupasan
tanah penutup ini , maka pengupasannya dilakukan dengan bantuan peledakan
(blasting) untuk menghancurkan batuan yang keras dan selanjutnya ditimbun
pada tempat penimbunan tanah penutup yang telah ditentukan dan nantinya
akan dikembalikan pada lubang bekas penambangan pada saat kegiatan backfill.
Setelah dilakukan pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup, maka
._
.__,
- . . ~
~
.........
~
..._
selanjutnya dilakukan kegiatan pembongkaran batubara sesuai dengan rencana
produksi yang telah ditetapkan, kemudian diangkut keluar dari lubang tambang.
Pembongkaran batubara dilakukan dengan contour mining dimana teknik
penggaliannya dimulai dari elevasi paling tinggi ke elevasi paling rendah sampai
pada kedalaman batas penambangan yang telah ditentukan. Adapun rangkaian
penambangan batubara secara umum dapat dilihat seperti Gambar 1 di bawah
ini.
~ ..•
lfr ~ / Revegetation
D.
_...._ QIV __/
CJIIV" Cool Houcng
..
J =-
Gambar 4. Rangkaian Kegiatan Penambangan Batubara di Kabupaten Kutai
Kartanegara
Berdasarkan rangkaian kegiatan penambangan batubara sebagaimana
diuraikan di atas serta pada Gambar 4, menunjukkan bahwa pembukaan tanah
pucuk dan tanah penutup, serta pembongkaran batubara sangat berpengaruh
terhadap perubahan bentang Jahan dari kondisi aslinya yang terbentuk secara
alami selama ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Setelah deposit batubara
terangkut keluar, selanjutnya dilakukan reklamasi lahan dengan mengembalikan
tanah pucuk dan tanah penutup dengan cara backfill untuk menutupi lubang
tambang bekas penambangan. Adapun kondisi bentang lahan dari aktivitas
penambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara oleh salah satu
perusahaan yang sedang beroperasi seperti pada Gambar 5 dan Gambar 6 .

.__,
.___
........
._,
.._,
-
........
....
'-'
qj
Gambar 5. Kondisi Bentang Lahan setelah Dilakukan Penambangan Batubara
Gambar 6. Pematangan Bentang Lahan pada Lahan eks tambang batubara
Kegiatan pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara yang
secara keseluruhan dilakukan dengan cara tambang terbuka (open pit). Ketika
selesai beroperasi, perusahaan tersebut lubang-lubang raksasa di
bekas areal pertambangannya. Lubang-lubang itu berpotensi menimbulkan
dampak lingkungan jangka panjang, terutama berkaitan dengan kualitas dan
kuantitas air. Dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
yang dimiliki oleh setiap perusahaan pertambangan batubara, ditekankan bahwa
lubang-lubang tambang yang dihasilkan dari aktivitas penambangan batubara ini
harus ditutup melalui kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan. Namun demikian,
........
.........
'"t'"t
kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan tersebut sangat sulit dipenuhi oleh
perusahaan untuk menutup lubang tambangnya 1 00 % yang disebabkan
kekurangan tanah penutup akibat deposit batubara yang terangkut keluar dari
lubang tambang, jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tanah penutup yang
digunakan untuk menutup kembali lahan bekas penambangan. Untuk
mengetimasi cadangan batubara dan rencana bukaan tanah, berikut ini disajikan
data sekunder salah satu perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Kutai
Kartanegara.
Tabel 15. Cadangan 8atubara dan Rencana 8ukaan Tanah (Overburden) PT.
Anggana Coal di Kecamatan Loa Kulu dan Kecamatan Sebulu
PIT/Seam Luas (mz) Overburden (BCM) Coal (MT)
3 42.000,00 919.592,99 61 .759,10
4 28.000,00 602.960,65 40.548,80
48
61.758,00 1.100.186,08 75.046,80
4
8
1 22.831 ,00 799.746,60 52.442,40
481 45.746,00 1 :494.673,50 98.985,00
482 99.300,00 971.254,35 63.982,00
483 40.310,00 1.398.114,00 91 .380,00
5 132.271 ,00 2.723.357,35 185.894,70
6 46.400,00 972.804,16 64.338,90
7 98.500,00 1.745.272,32 119.539,20
8 21 .933,00 1.523. 786,40 44.229,00
9 85.598,00 1.071 .147,98 72.472,80
i
10 264.891 ,00 2.361.784,65 162.881,70
11 154.771 ,00 1.534.982,82 104.420,60
12 238.393,00 2.182.946,40 151.593,50
Jumlah 1.382.702,00 21 .402.610,25 1.389.515,00
Sumber : PT. Anggana Coal, 2010.
8erdasarkan data ekplorasi seperti di atas, diketahui cadangan batubara
terukur sebesar 1.389.515,00 MT dan dihasilkan overburden (08) sebesar
21 .402.610,25 8CM. Dari data tetsebut, diperkirakan OB yang ada tidak
mencukupi untuk menutup lubang tambang secara keseluruhan, sehingga perlu
mencari tambahan tanah penutup yang berasal dari lahan-lahan lainnya yang
ada di sekitarnya.
~
.._..
._..
.......
.__
-..
.......
4)
Hasil kajian di lapangan menunjukkan bahwa pada umumnya perusahaan
pertambangan batubara yang beroperasi di Kabupaten Kutai Kartanegara
meninggalkan lubang-lubang tambang yang besar (8.68%). Mereka
meninggalkan areal bekas tambang tanpa melakukan rehabilitasi dan/atau
reklamasi lahan, sehingga tidak sejalan dengan komitmennya dalam
pengendalian dampak lingkungan sebagaimana yang tertera dalam dokumen
AMDAL.
Gambar 7. Salah satu Lubang Besar Bekas Penambangan Batubara yang
belum Direklamasi di Kabupaten Kutai Kartanegara
Lubang-lubang bekas penambangan batubara berpotensi menimbulkan
dampak lingkungan jangka panjang, terutama berkaitan dengan kualitas dan
kuantitas air. Air lubang tambang mengandung berbagai logam berat yang dapat
merembes ke sistem air tanah dan dapat mencemari air permukaan dan air
tanah. Potensi bahaya akibat rembesan ke dalam air tanah seringkali tidak
terpantau akibat lemahnya sistem pemantauan perusahaan-perusahaan
pertambangan tersebut. Namun demikian, dengan pemberian koagulan untuk
meningkatkan kualitas air tercemar pada lubang tambang bekas penambangan
batubara, maka lubang-lubang tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
sekitar untuk usaha pembudidayaan ikan dan sarana air irigasi.
__.
.......,
"--'
"--'
'-'
'--'
....._,
40
Keruhnya air sungai Mahakam beserta anak-anak sungainya sudah
sangat mengkhawatirkan akibat kerusakan lingkungan yang salah satunya
disebabkan oleh kegiatan pertambangan batubara di sekitarnya yang dilakukan
secara terbuka. Kegiatan pembukaan dan pembersihan lahan tambang serta
aktivitas lainnya seperti pembangunan jaringan jalan tambang, sarana dan
prasarana penunjang lainnya mempercepat aliran permukaan (run-off) yang
membawa material-material atau bahan-bahan pencemar masuk ke dalam badan
air di sungai Mahakam dan anak-anak sungainya serta sumur-sumur penduduk
yang berdekatan dengan areal penambangan pada saat terjadi hujan lebat.
Hasil analisis beberapa par-ameter kualitas air di sekitar perusahaan
pertambangan batubara PT. Arzara Baraindo Energitama dan PT. Kayan Putra
Utama Coal di Kecamatan T enggarong seberang memperlihatkan data kualitas
air sumur penduduk, Sungai Separi Kiri I (Hulu), Sungai Separi Kiri II (Hulu), dan
Sungai Separi Kiri (Hilir} dengan parameter seperti kekeruhan, TSS, TDS, pH,
COD, BOD, Fe dan mangan telah berada di atas baku mutu lingkungan. Adapun
hasil analisis parameter kualitas air tersebut seperti pada Tabel14
Tabel16. Hasil Analisis Kualitas Air di Sekitar Lokasi Tambang PT. Arzara
Baraindo Energitama dan PT. Kayan Putra Utama Coal
No Parameter Satuan BML Pengamatan
1 2 3 4
FISIK
Suhu
oc
Deviasi 27,6 26,65 28,03 30,92
Kekeruhan NTU 25 29,2 - - -
TSS mg/1 50 15 37,5 1.107,5 1.392,5
TDS mg/1 1500 75 327,5 1.671,3 3.093,8
Bau - - Tdk
bau
Rasa - - Normal Normal Normal Normal
KIM lA
pH mg/1 6,5- 5,78 5,52 6,50 5,78
9,0
'-'
'-'
'--"
........
'--"
'-'
"t/
DO mg/1 6 5,02 5,03 4,98
BOD mg/1 2 2,65 8,58 10,09
COD mg/1 10 32,13 99,60 157,43
Amonium (NH4l mg/1 0,5 0,02 0,19 0,24 0,32
Nitrit (N02-) mg/1 1 0,01 Ttd ttd Ttd
Nitrat (N03-) mg/1 10 1,40 0,90 1,26 1,27
Kesadahan total mg/1 500 11,74 - - -
Sulfat (S04) mg/1 400 8,89 34,94 115,60 191,71
Klorida (CI) mg/1 600 4,42 6,95 1,99 3,18
Besi (Fe) mg/1 0,3 0,29 3,65 8,35 11,71
Mangan (Mn) mg/1 0,1 0,48 0,67 4,38 6,73
Seng (Zn) mg/1 15 0,034 0.011 0,064 0,075
Kadmium (Cd) mg/1 0,005 Ttd Ttd 0,002 0,003
Timbal (Pb) mg/1 0,05 0,003 0.009 ttd Ttd
Flourida (F) mg/1 1,5 0,069 0,256 0,325 0,465
Detergen mg/1 0,5 0,013 Ttd ttd Ttd
BIOLOGI mg/1
Total Coliform MPN/10 so 0 - - -
Oml
Coli Fecal MPN/10 - 0
- - -
Oml
Sumber :Hasil analisis Laboratorium Budidaya Perairan (FPK) Unmul
Samarinda, 201 0
Keterangan : ttd = tidak terdeteksi
(1) Air sumur penduduk di desa Mulawarman, Kec Tenggarong
Seberang
(2) Sungai Separi Kiri Hulu I
(3) Sungai Separi Kiri Hulu II
(4) Sungaoi separi Kiri (Hilir)
'-'
___.
'-"
........
I..
....
'"tO
Pada Tabel 16 di atas, terlihat bahwa beberapa parameter kualitas air
pada beberapa titik pengamatan telah berada di atas baku mutu lingkungan.
Tingkat kekeruhan air terlihat tinggi pada salah satu sumur penduduk di desa
Mulawarman. Sedangkan untuk parameter TSS dan TDS berada di atas baku
mutu lingkungan pada lokasi pengamatan di sungai Separi Kiri Hulu II dan
Sungai Separi Kiri Hilir yang merupakan lokasi dekat penambangan dan
pengolahan salah satu perusahaan batubara. Sementara parameter pH,
kandungan besi, dan mangan terlihat tinggi pada semua titik pengamatan.
Tingginya kandungan bahan-bahan pencemaran air di lokasi kajian diakibatkan
oleh aktivitas penambangan dan pengolahan batubara (proses pencucian
batubara) dimana material-material bahan pencemar terbawa oleh air limpasan/
aliran permukaan (surface run-off) ke bagian yang lebih rendah dan masuk ke
badan air. Hasil pengamatan lapangan, menunjukkan bahwa salah satu sumur
penduduk mengalami tingkat kekeruhan air yang cukup tinggi yaitu mencapai
nilai 29,2 NTU yang melebihi dari batas ambang baku mutu lingkungan.
Total Suspention Solid (TSS) atau total padatan tersuspensi merupakan
padatan yang berkeruan < 1 f.Jm yang menyebabkan terjadinya kekeruhan pada
air. Padatan ini tidak terlarut dan tidak dapat mengendap secara langsung.
Timbulnya padatan tersuspensi dalam badan air adalah adanya gerakan-gerakan
air sehingga terjadi adukan Lumpur halus serta terkikisnya tanah akibat gerakan
tersebut. Hasil pengukuran total padatan tersuspensi pada beberapa titik
pengambilan sampel di lokasi kajian seperti pada Tabel 16 di atas
memperlihatkan nilai di atas batas ambang baku mutu lingkungan oleh aktivitas
pertambangan dan pengolahannya yang ada di sekitarnya. Kandungan total
padatan tersuspensi (TSS) di sungai Separi Kiri Hulu 2 sebesar 1.107,50 mg/1
dan sungai Separi Kiri Hilir sebesar 1.392,50 mg/1. Nilai ini cukup jauh melebihi
jika dibandingkan dengan baku mutu lingkungan untuk TSS yang hanya sebesar
50 mg/1 (Permen No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Kualitas Air Kelas I dan II)
Total Dissolved Solid (TDS) merupakan padatan terlarut yang mempunyai
ukuran lebih kecil dari padatan tersuspensi yang berkuruan < 1 o.s mm termasuk
keloid yang berkuruan antara 10·
6
- 10·
3
mm. Sumber TDS umumnya berasal
dari bahan-bahan an-organik dan organic berupa ion yang terdapat pada
perairan. Hasil pengukuran total padatan terlarut (TDS) dilokasi kajian
memperlihatkan sungai-sungai yang memiliki nilai TDS jauh melebihi batas
........
..._ .
4 ~
ambang baku mutu lingkungan. Total padatan terlarut pada sungai Separi Kiri
Hulu II sebesar 1.671 ,25 mg/1 dan sungai Separi Kiri Hilir sebesar 3.093,75 mg/1
sementara batas baku mutu lingkungan untu TDS sebesar 1000 mg/1 air.
Biochemical Oxygen Demand (BOD) merupakan jumlah oksigen yang
dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi bahan organik pada
kondisi aerobik (stabil). Nilai BOD di dalam air merupakan indikator jumlah
oksigen terlarut yang akan hilang selama asimilasi biologis polutan organik
secara alamiah atau merupakan gambaran jumlah bahan organik mudah terurai
(biodegradable organics) yang ada di perairan. Nilai BOD terukur pada beberapa
titik pengambilan sample di lokasi kajian menunjukkan nilai yang cukup tinggi di
atas baku mutu lingkungan. Hal ini terlihat pada sungai Separi Kiri Hulu II
memiliki nilai BOD sebesar 8,58 mg/1 dan di sungai Separi Kiri Hilir sebesar 10,09
mg/1. Nilai ini di atas dari baku mutu yaitu sebesar 2 mg/1 air. Hal yang sama
dengan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) di sungai Separi Kiri Hulu II
sebesar 32,13 mg/1 dan sungai Separi Kiri Hilir sebesar 157,43 mg/1, serta di
sumur penduduk dengan nilai COD sebesar 32,13 mg/1. Nilai COD ini telah
melebihi batas baku mutu lingkungan yaitu sebesar 1 0 mg/1 air. Biochemical
Oxygen Demand merupakan jumlah oksigen yang diperlukan untuk
berlangsungnya proses kimia dalam perairan atau jumlah oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi baik yang bias
didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang tidak bias terdegradasi
(non biodegradable).
Logam mangan (Mn) dan besi (Fe) merupakan unsur yang terkandung
dalam batubara yang dihasilkan oleh proses ekstraksi dan masuk ke lingkungan.
Kandungan Mn dan Fe yang tinggi menyebabkan tingginya tingkat kemasaman
lingkungan. Kandungan Mn dalam air tidak boleh melebih dari 0,1 mg/1 dan Mn
lebih kecil dari 0,3 mg/1. Hasil pengukuran Fe dan Mn di lokasi kajian
memperlihatkan kedua nilai unsur tersebut di atas baku mutu lingkungan. Di
sungai Separi Kiri Hulu II 8,53 mg/1 dan 11 ,71 mg/1, sedangkan di sungai Separi
Kiri Hilir masing-masing sebesar 4,38 mg/1 dan 6,73 mg/1.
Selain menurunnya kualitas air, dampak aktifitas pertambangan juga
menurunkan kualitas udara ambien. Penurunan kualitas udara ambien ini ,
disebabkan oleh pembongkaran batubara dan mobilitas pengangkutan batubara
dan peratalan dari dalam ke luar lokasi penambangan. Dampak aktivitas
penambangan batubara terhadap penurunan kualitas udara dihitung berdasarkan
~
~
...
:>U
jumlah bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan oleh kendaraan perusahaan
yang beroperasi dalam setiap hari. Untuk memudahkan perhitungan, diambil
salah satu contoh perusahaan batubara yang beroperasi di Kecamatan Loa Kulu
yaitu PT. Putra Dewa Jaya, dengan kebutuhan jumlah kendaraan dan bahan
bakar seperti pada Tabel 17 berikut :
Tabel17. Jumlah Kendaraan dan Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) PT.
Putra Dewa Jaya
Kebutuhan Kendaraan dan BBM
No. Nama Alat Kendaraan BBM BBM
(Unit) (liter/Bulan) (Liter/Hari)
1 Excavator 2 16.280 576
2 Bulldozer 1 12.240 408
3 Wheel loader 1 7.200 240
4 Grader 1 5.760 192
5 Dump Truck 24 2.280 160
6 Compactor 1 10.080 336
7 Fuel Truck 1 2.880 96
8 Water Truck 1 2.880 96
9 Mobil Karyawan 2 9.600 320
10 Mobil Operasional 3 12.000 400
11 Diesel Genset 1 2.280 160
12 Pompa 3 2.880 96
Jumlah: 41 83.840 3.080
Sumber : Putra Dewa Jaya, 2010.
Menurut Dewerkgroup Wegverkeer (1970) dalam Rau J.G dan D.c.
Wooten (1980) bahwa penggunaan bahan bakar solar sebanyak 1 ton (1000 liter
= 0,79 ton) akan menghasilkan emisi gas sebanyak:
S02 = .:!: 19,0 kg/ton = .:!: 19,0 X 10
6
mg/ton
N02 = .± 11,0 kg/ton = .± 11,0 x 10
6
mg/ton
CO = .± 34,5 kg/ton = .± 34,5 x 10
6
mg/ton
Jika diasumsikan bahan bakar solar yang digunakan 1.500 liter/hari atau
1 ,5 ton/hari, maka emisi gas buang yang akan dihasilkan sebanyak :
S02 = .:!: 19,0 kg/ton X 1,5 kg/hari = 28,5 kg/hari = .:!: 28,50 X 10
6
mg/hari
N0
2
= .± 11,0 kg/ton x 1 ,5 kg/hari = 16,5 kg/hari = .± 16,50 x 10
6
mg/hari
.........
,__..,
· ~
..__,
~
)1
CO = ±34,5kg/tonx1 ,5kg/hari=51,75kg/hari= ± 51,75x10
6
mg/hari
Jika mobilisasi peralatan melalui jalur-jalur pengangkutan sepanjang ± 10
km (10.000 meter) dengan sebaran gas kiri kanan jalan dengan jarak masing-
masing 100m dan tinggi kolom udara 100m (volume kolam udara = 1 x 10
6
m
3
),
maka gas buang yang dihasilkan kendaraan pengangkut adalah sebagai berikut :
S02 = ± 28,50 X 10
6
mg/1 X 10
6
m
3
= 28,50 mg/m
3
N02 = ± 16,50 X 10
6
mg/1 X 10
6
m
3
CO = ± 51 ,75 x 10
6
mgt 1x 10
6
m
3
= 16,50 mg/m
3
=51 ,75 mg/m
3
Apabila dibandingkan dengan baku mutu lingkungan untuk masing-
masing gas tersebut yaitu sekitar 900 1Jm/Nm
3
(S0
2
), 400 1Jm/Nm
3
(N0
2
}, dan
30.000 1Jm/Nm
3
(CO) menunjukkan bahwa kadar pencemaran udara di lokasi
kajian cukup tinggi. Selain disebabkan oleh pembongkaran batubara dan
mobilisasi kendaraan, penurunan kualitas udara ambient juga disebabkan oleh
tingginya kandungan debu di udara. Untuk menghitung kandungan debu di udara
menggunakan rumus sebagai berikut :
Eu:;:: 20,77 (S/12)(V/48)(W/3)
0

7
(N/4)
0

5
(D/365)
Dimana:
Eu = Jumlah debu per panjang jalan (kg/km)
S = silt content (%)
V = Kecepatan kendaraan ( k m ~ a m )
W = Berat kendaraan (ton)
N = Jumlah roda kendaraan
D = Jumlah hari tidak hujan
Diketahui:
~ Kecepatan alat pengangkut (V) = 20 km/jam
~ Berat alat pengangkut dan muatan (W) = 85 ton
~ Jumlah roda kendaraan pengangkut (N) = 22 buah
~ Silt content (S) untuk jalan diperkeras = 10 %
~ Jumlah hari tidak hujan (365- 215) = 150 hari
Maka jumlah debu yang dihasilkan oleh bergeraknya satu lintasan kendaraan
pada jalan yang diperkeras adalah :
Eu = 20,77 (10/12} (20/48) (85/3)
0

7
(8/4)
0
·
5
(150/365)
= 20,77 (0,83) (0,42) (10,39) (1,41) (0,41)
= 43,49 kg/km
:u.
Jarak angkut dari lokasi tambang menuju pelabuhan menempuh jarak
sejauh .± 1 0 km dengan 2 trip/hari , maka jumlah debu yang dihasilkan sebesar :
Eu = 43,49 kg/hari x 2 trip x 10 km
= 869,8 kg/hari
Jika sebaran gas kiri kanan jalan dengan jarak masing-masing 100 m dan tinggi
kolom udara 100 m, maka :
volume kolom udara = 10.000 m x 200m x 100m = 200 x 10
6
m
3
Sehingga kadar debu di udara (Eu) sebesar :
Eu = 869,8 kg/hari
200 x 10
6
m
3
= 869,8 x 10
6
mg/hari
200 x 10
6
m
3
= 4,349 mglm
3
I hari
Jika dibandingkan dengan nilai baku mutu lingkungan untuk sebaran
debu di udara, menunjukkan bahwa aktivitas pengangkutan material batubara
yang melewati jalan tambang (hauling road) berada di atas batas ambang baku
mutu dimana batas ambang baku mutu sebaran udara berdasarkan Peraturan
Pemerintah nomor 41 tahun 1999 sebesar 0,23 mg/m
3
, sementara sebaran
udara di lokasi penambangan PT. Putra Dewa Jaya mencapai nilai 4,349
mg/m
3
/hari.
Sebagai perbandingan pengambilan sampel kualitas udara ambien pada
lokasi yang belum terjama oleh aktivitas pertambangan batubara oleh PT. Putra
Dewa Jaya di Kecamatan Loa Kulu, memperlihatkan bahwa semua parameter
kualitas udara ambien masih berada di bawah baku mutu lingkungan. Adapun
data hasil pengamatan adalah sebagai berikut :
Tabel18. Kualitas Udara Ambien di Sekitar Lokasi Pertambangan Batubara PT.
Putra Dewa Jaya di Kutai Kartanegara
Parameter Satuan Baku Mutu
Lokasi Pengamatan
1 2
Sulfur Dioksida (S02) 1JQ/Nm
3
900 Ttd 0,09
Nitrogen Dioksida (N02) 1Jg/Nm
3
400 9,36 69,93
Karbon Monoksida (CO) 1Jg/Nm
3
30.000 Ttd 58
Debu mglm" 0,23 0,09 0,19
Sumber : Balai Riset dan Standarisasi lndustri Samarinda, Kalimantan Timur,
2008
Keterangan : ttd = tidak terdeteksi
' '
..._
'---
..._
Jj
Dampak terhadap kebisingan merupakan dampak negatif langsung dari
aktivitas pertambangan batubara dengan menggunakan kendaraan pengangkut
yang beroperasi baik pada tahap persiapan, konstruksi, operasi maupun pada
tahap pasca operasi. Kendaraan perusahaan yang lalu-lalang akan menimbulkan
kebisingan terhadap para p e k e ~ a (karyawan perusahaan) dan masyarakat
sekitar.
Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki dan dapat
mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan yang dinyatakan dalam
satuan desibel (dB). Kebisingan juga dapat didefinisikan sebagai bunyi yang
tidak disukai, suara yang mengganggu atau bunyi yang menjengkelkan. Sumber
kebisingan dapat berasal dari sumber bergerak maupun tidak bergerak.
Umumnya sumber kebisingan dari aktivitas pertambangan batubara berasal dari
penggunaan alat-alat pengangkut dan Dalam kajian ini, pengamatan terhadap
kebisingan dilakukan pada beberapa titik yaitu di sekitar PIT tambang, pos
security, dan permukiman penduduk di desa Mulawarman dan desa Bhuana
Jaya pada areal penambangan batubara PT. Anggana Coal di Kecamatan
Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Hasil pengamatan disajikan seperti
pada Tabel19.
Tabel19. Hasil Pengamatan Tingkat Kebisingan Sesaat di sekitar Lokasi
Kegiatan Tambang Batubara PT. Anggana Coal
Lokasi Pengamatan
Parameter Baku Mutu
1* 2**
lntensitas Kebisingan 55* 54,80 57,50
85**
Keterangan :
* Kepmen LH. No. 48 Tahun 1999 (Permukimah)
** KepMennaker NO. 51 tahun 1999 (Lingkungan Kerja)
Lokasi 1 : Permukiman Penduduk RT 2 Dusun Ngadang, Desa Beloro
Lokasi 2 : PIT Tambang
Lokasi 3: Jalan Tambang
3-
59,70
Berdasarkan hasil pengamatan tingkat kebisingan seperti tabel 17 di atas,
menunjukkan bahwa pada titik-titik lokasi pengamatan di sekitar lokasi
'--'
54
pertambangan batubara PT. Anggana Coal, nilai kebisingan masih berada di
bawah batas ambang baku mutu lingkungan, kecuali di lokasi pit dan sekitar jalan
tambang.
Untuk mengetahui dampak penambangan batubara terhadap keberadaan
vegetasi (flora darat) dan satwa (fauna) liar dilakukan kajian pada salah satu
perusahaan batubara yang beroperasi di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu PT.
Anggana Coal yang beroperasi di Kecamatan Loa Kulu. Pengamatan vegetasi
dilakukan pada areal yang belum terganggu oleh aktivitas pertambangan,
sedangkan pengamatan fauna liar dilakukan dengan cara menghimpun informasi
dari masyarakat setempat.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kondisi vegetasi saat ini merupakan
kawasan hutan alam yang tidak terbina berupa hutan sekunder dan semak
belukar yang merupakan kawasan budidaya non kehutanan (KBNK) berdasarkan
RTRW Provinsi Kalimantan Timur tahun 1999, sehingga memungkinkan untuk
ditambang. Beberapa vegetasi cepat tumbuh yang ditemukan seperti Laban
(Vitex pubesscen), puspa (Schima wallihcit) , dan Mahang (Macaranga sp.).
Penentuan daerah vegetasi dilakukan secara purposive pada kawasan studi.
Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan dengan
metode kuadran. Hasil inventarisasi jenis vegetasi yang ada selanjutnya dihitung
tingkat kerapatan, frekuensi , dan dominansi setiap jenis vegetasi yang ada. Hasil
analisis mengenai vegetasi di lokasi kajian disajikan seperti pada Tabel18.
Tabel 20. Hasil Perhitungan Nilai Penting Jenis Vegetasi (Flora Darat) di sekitar
No.
1
2
3
4
5
6
Areal Pertambangan Batubara PT. Anggana Coal di Kecamatan Loa
Kulu
Nama Vegetasi KR FR DR NPJ
Daerah Botanis (%) (%) (%) (%)
Bengkal Neulea sp. 6,38 4,55 7,23 18,16
Terap Arthocarpus sp. 8,51 9,09 6,12 23,72
Mahang Macaranga triloba 12,77 13,64 8,45 34,85
Sirih Hutan Piper adumcum 12,77 9,09 5,00 26,86
Laban Vitex pubesscen 17,02 18,18 29,47 64,67
Ficus Ficus sp. 8,51 9,09 10,47 28,08
__..
.........
........
,),)
7 Puspa Schima wallici 23,40 18,18 10,56 52,15
8 Anggrung Trema orienta/is 6,38 9,09 15,71 31 ,19
9 Pulai Alostonia sp. 4,26 9,09 6,98 20,33
Jumlah Total: 100,00 100,00 100,00 100,00
Keterangan : KR = Kerapatan Relatif, FR = Frekuensi Relatif, DR = Dommans1
Relatif, NPJ = Nilai Penting Jenis
Berdasarkan hasil analisis di atas, memperlihatkan bahwa jenis vegetasi
di lokasi kajian didominasi oleh jenis Vitex pubesscen yaitu sebesar 64,67 %,
disusul oleh jenis Schima wallici sebesar 51,15 %.
Untuk satwa (fauna) liar, dianalisis fauna-fauna yang ada di sekitar
kawasan pertambangan batubara seperti mamalia, reptilia, amphibia, dan aves.
Sebagaimana diketahui bahwa keberadaan satwa liar ini memegang peran
penting terhadap kawasan hutan terutama perannya sebagai penyebar biji,
mengadakan penyerbukan tanaman dan pengurai bahan-bahan organik. Fauna
liar juga ini memegang peran penting secara ekonomis terutama dalam
peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kawasan hutan merupakan
tempat hidup dan berkembang biak bagi banyak satwa liar yang ada di
dalamnya. Kegiatan pembukaan yang didahului pembersihan lahan untuk
aktivitas pertambangan batubara memberikan dampak negatif terhadap
beberapa jenis satwa liar yang ada, karena dengan rusaknya atau hilangnya
fungsi hutan sebagai habitat satwa-satwa tersebut akan berpengaruh terhadap
kelangsungan hidupnya sehingga sehingga satwa yang ada akan mengadakan
migrasi ke lokasi lainnya atau punah. Beberapa satwa yang teramcam
kepunahannya yang ditemukan di lokasi kajian seperti pada Tabel19
Tabel21 . Jenis Satwa yang Terdapat di Sekitar Lokasi Pertambangan Batubara
PT. Anggana Coal
No. Nama Daerah Nama Latin
A. Insecta
1 Kupu-Kupu
2 Jangkrik
3 Kumbang
4 Lebah
5 Belalang
~
.._.
.........
..........
-
-..,
........
.JO
B. Aves
1 Pipit
2 Kacer
3 Elang
4 Bubut
5 Punai
6 Burung Gereja
7 Cerucuk
8 Murai
9 Burung Madu
10 Blekok Sawah
11 Kuntul
12 Kareo Padi
C. Reptilia
1 Biawak
2 UlarSawah
3 Kadal
4 Kura-Kura
D.Amphibi
Kodok
E. Mamalia
1 Kancil
2 Landak
3 Tupai
4 Tikus
5 Babi Hutan
6 Monyet
Aktivitas pertambangan batubara juga berdampak terhadap peningkatan
laju erosi tanah dan sedimentasi pada sempadan dan muara-muara sungai.
Kejadian erosi merupakan dampak tidak langsung dari aktivitas pertambangan
batubara melainkan dampak dari pembersihan lahan untuk bukaan tambang dan
pembangunan fasilitas tambang lainnya seperti pembangunan sarana dan
prasarana pendukung seperti perkantoran, permukiman karyawan,
.._,
.......
..__.
......,
:>I
pembangunan sarana BBM, genset, gudang bahan peledak dll, serta pembukaan
jalan tambang .
Tanah yang terbuka akan sangat peka dengan erosi yang pada akhirnya
membawa material-material yang akan di endapkan pada sempadan dan muara
sungai. Apalagi dengan intensitas curah hujan yang tinggi di Kabupaten Kutai
Kartanegara akan mempercepat laju aliran permukaan pada lahan yang tidak
tertutup vegetasi karena sudah dibuka untuk kegiatan pertambangan.
Erosi terjadi karena adanya pengikisan permukaan tanah oleh aliran
permukaan.Lapisan yang tererosi merupakan material yang telah mengalami
pelapukan. Untuk mengetahui besarnya erosi yang terjadi , dilakukan kajian pada
salah satu perusahaan yaitu PT. Anggana Coal yang beroperasi di Kecamatan
Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Pendugaan besarnya erosi dihitung
dengan menggunakan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation) oleh
Wischmeier dan Smith (1978) dengan rumus :
A= R . K . L . 5. C. P
Dimana :
A = Nilai duga besarnya erosi tanah yang terjadi (tonlha/tahun)
R = Faktor erosivitas curah hujan
K
L
= Faktor erodibilitas tanah
= Faktor panjang lereng
S = Faktor kemiringan lereng
C = Faktor penutupan lahan oleh vegetasi
P = Faktor perlakuan konservasi tanah
Untuk menghitung berasnya erosivitas curah hujan digunakan rumus :
R = 0,41 x H
1

09
dimana H = curah hujan rata-rata tahunan di wilayah studi.
Diketahui curah hujan rata-rata tahunan (R) di wilayah studi sebesar 2.039,35
mm/tahun, maka nilai erosivitas curah hujan sebesar :
R = 0,41 x H
1

09
;; 0,41 X (2.039,35
1

09
= 0,41 X 4.048,98
= 1.660,08
Faktor erodibilitaslkepekaan tanah terhadap erosi (K) dihitung dengan
menggunakan persamaan :
100K = 2,7132 M
1

14
(10-4) (12- a)+ 3,25 (b- 2) + 2,5 (c- 3)
Dimana :
__,
.._
-
M = persen fraksi pasir halus (32,95 %) , debu (22,80 %) dan fiat (37,50 %)
a = kadar bahan organik (1 ,724 x C-organik) dimana C-organik = 1,35%
b = kode struktur tanah. Yaitu gum pal membulat (3)
c = Nilai permeabilitas tanah. Yaitu agak cepat (0,50 em/jam (2)
Sehingga:
100 K = 2,7132 X {(32,95% + 22,80 %) X (100%- 37,50 %)}
1
·
14
X (10
4
){12-
(1 ,724 X 1,35)} + 3,25 (3- 2) + 2,5 (2- 3)
100 K = (2,7132 X 10.914,97 X 10
4
X 9,67) + 3,25 + (-2,5)
100 K = 33,85 + 3,25 + (-2,5)
100 K = 29,39
K = 29,39
100
K = 0,29 x 1,29 (faktor konversi)
K = 0,38
;)lS
Adapun faktor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S) dapat
dihitung bersamaan yang merupakan faktor topografi (LS) dengan persamaan :
LS = v X { 0,0138 + (0,00965 X s) + (0,00138 X S
2
)
Dimana :
X = panjang lereng = 37 m
S = kemiringan lereng = 2 %
Sehingga :













LS = v 37 { 0,0138 + 0.0193 + 0.00552}
LS = .J 37 (0.03862)
LS = v 1 ,42894
LS = 1,19
Mengingat lahan telah dibersihkan dari vegetasi untuk segera ditambang,
maka nilai faktor pengelolaan tanaman (C) sebesar 1 (tanah terbuka) dan faktor
konservasi tanah (P) sebesar 1, sehingga besar erosi yang terjadi dapat diduga :
A = R . K . L . S. C. P
= (1 .660,08) (0,38) (1 ,19) (1) (1)
= 750,69 ton/ha/tahun
Berdasarkan hasil perhitungan erosi di atas, menunjukkan bahwa tingkat
kejadian erosi yang terjadi di sekitar lokasi pertambangan batubara tersebut
-
.........
..__.
:J'J
cukup tinggi yaitu mencapai 750,69 ton/ha/tahun. Hal ini melebihi dari tingkat
bahaya erosi (TBE) yang diperkenankan yaitu antara 12- 15 ton/ha/tahun.
Kegiatan pembersihan lahan tambang mengakibatkan persentase
penutupan lahan tambang berkurang menjadi < 30 %. Diketahui bahwa jika
persentase penutupan lahan berkurang < 30 %, maka nilai koefisien kekasaran
manning (n) menjadi 0,2 dari 0,8 jika persentase penutupan lahan masih > 70 %.
Jika luasan tam bang yang akan dibuka sekitar 1 0 ha dengan tingkat kemiringan
ler€ng sekitar 8 %, maka nilai SDR (sediment delivery ratio) atau nisbah
pelepasan sediment dapat dihitung sebagai berikut :
SDR = S x { 1 - 0,8683 ( A
0
·
2018
)} + 0,8683 (A
0

2016
)
2 ( S + 50.n)
Di mana :
A = Luas areal (ha)
S = kemiringan lereng rataan permukaan (%)
N = koefisien kekasaran manning
Sehingga:
SDR = 2 x { 1 - 0,8683 (10-
0
·
2018
) + 0,8683 ( 10·
0
·
2018
)
2 ( 2 + 50. 0,2)
= 0,58
Hasil pendugaan erosi akibat pembersihan lahan tambang diketahui
sebesar 750,69 ton/ha/tahun dan hasil perkiraan nilai SDR (sediment delivery
ratio) sebesar 0,58, maka beban sedimen potensial yang akan dihasilkan
sebesar:
Beban Sedimen = 0,58 x 750,69 ton/ha/tahun
= 435,40 ton/ha/tahun
Berdasarkan hasil analisis di atas menunjukkan bahwa nilai erosi dan
sedimentasi cukup besar akibat pembukaan lahan untuk kegiatan pertambangan
batubara jika lahan masih dalam keadaan terbuka tanpa vegetasi penutup.
Untuk memperbaiki kondisi lahan, maka perusahaan mengadakan reklamasi dan
revegetasi lahan. Kegiatan reklamasi dan revetasi lahan ini akan memberikan
dampak positif terhadap kondisi populasi vegetasi penutup lahan yang juga
berpengaruh terhadap penurunan tingkat bahaya erosi dan sedimentasi.
Kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan biasanya didahului dengan pematangan
lahan, yaitu mengembalikan tanah pucuk (top soil) dan tanah penutup (sub soil)
pada lubang bekas penambangan dengan metode contouring. Selanjutnya tanah
._;
oU
diperkaya dengan pemberian pupuk baik pupuk organik maupun pupuk
anorganik untuk memacu pertumbuhan awal tanaman. Kegiatan ini diharapkan
dapat mengembalikan fungsi lahan sebagai kawasan hutan yang salah satu
fungsinya dalam mengurangi laju erosi disamping sebagai habitat yang baik bagi
satwa-satwa yang ada.
Gambar 8. Kegiatan Reklamasi dan Revegetasi Lahan Pasca Tambang di
Kabupaten Kutai Kartanegara
Gambar di atas merupakan salah satu kegiatan reklamasi dan revegetasi
lahan pasca tambang oleh salah satu perusahaan yang beroperasi di Kabupaten
Kutai Kartanegara. Jika kegiatan reklamasi dilakukan dengan pembuatan teras
dengan baik (faktor P = 0,04) yang selanjutnya ditanami dengan semak belukar
atau rumput-rumputan yang cepat tumbuh (faktor C = 0,3), maka erosi tanah
dapat dikurangi sebesar :
A = R . K . L . S. C. P
= (1 .660,08) (0,38) (1 ' 19) (0,3) (0,04)
= 9,01 ton/ha/tahun
Dampak penurunan kesuburan tanah oleh aktivitas pertambangan
batubara terjadi pada kegiatan pengupasan tanah pucuk (top soil) dan tanah
penutup (sub soil/overburden). Pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup
akan merubah sifat-sifat tanah terutama sifat fisik tanah dimana susunan tanah
yang terbentuk secara alamiah dengan lapisan-lapisan yang tertata rapi dari
lapisan atas ke lapisan bawah akan terganggu dan terbongkar akibat
pengupasan tanah tersebut. T anah yang telah dikupas, selanjutnya akan
__.
..........
._,

......
01
ditranslokasi pada tempat yang telah ditentukan di mana tanah pucuk dipisahkan
dengan tanah penutup, Setelah proses pembongkaran deposit batubara, maka
tanah pucuk dan tanah penutup dikembalikan ke lubang tambang dengan cara
backfilling. Waktu pengembalian tanah ke lubang tambang membutuhkan waktu
yang lebih lama tergantung pada kecepatan proses penambangan berlangsung.
Tanah pucuk dan tanah penutup yang telah ditimbun atau telah
dikembalikan ke lubang tambang, sangat rentang terhadap perubahan kesuburan
tanah terutama kesuburan kimia dan biologi akibat tanah tersebut telah rusak
karena dibongkar untuk mengambil deposit batubara yang ada di bawahnya.
Curah hujan yang tinggi , akan memberikan pengaruh yang besar terhadap
kandungan unsur hara yang terdapat di dalamnya, sebab akan pencucian
unsur hara, sehingga tanah dapat kekurangan unsur hara yang dibutuhkan
tamanan pada saat dilakukan revegetasi tanaman.
Pengamatan tingkat kesuburan tanah dilakukan di areal pertambangan
batubara PT. Kayan Putra Utama Coal di Kecamatan Tenggarong Seberang.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara umum status kesuburan tanah
berada pada status kesuburan buruk sampai sangat buruk. Yang dikaji dalam
penelitian ini adalah permeabilitas tanah, kemasaman tanah (pH tanah),
Kapasitas Tukar Kation (KTK), dan Kandungan hara Nitrogen, Fospor dan
Kalium .
Permeabilitas tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam melewatkan
air. Sifat-sifat tanah yang sangat besar pengaruhnya terhadap permeabilitas
tanah adalah tekstur, struktur, bobot isi tanah (bulk density) dan kandungan
mineral liat dan bahan organik. Hasil analisis terhadap permeabilitas tanah di
lokasi kajian menunjukkan permeabilitas tanah umumnya berkisar dari kelas
sedang sampai cepat dengan nilai sebesar 0,06 - 1 ,50 Tinginya
permeabilitas tanah di sekitar areal pertambangan batubara tersebut disebabkan
tanah telah terbongkar secara fisik sehingga mengurangi kemampuan tanah
untuk menghambat aliran air masuk ke dalam tanah. Kondisi ini sangat
berpengaruh terhadap ketersediaan air bagi tanaman, dimana air akan cepat
hilang dari lokasi perakaran sehingga tanaman rentan terhadap kekurangan air.
Permeabilitas tanah yang tinggi ini juga akan berpengaruh terhadap ketersediaan
unsur hara di sekitar perakaran tanaman, sebab dengan laju aliran air masuk
kedalam tanah yang cepat, akan memudahkan unsur hara tersedia tercuci dan
menjauhi areal perakaran tanaman .
._,
~
· ~
OL;
Salah satu sifat kimia tanah yang berperan penting dalam menentukan
status kesuburan tanah adalah pH. pH tanah menunjukkan tingkat keasaman
dan kebasaan suatu tanah atau banyaknya konsentrasi ion hidrogen yang
terdapat dalam larutan tanah. Tingkat kemasaman tanah dicirikan oleh
konsentrasi ion W dan OH- dalam larutan tanah. Tanah dengan kandungan ion
H+ tinggi dalam larutan tanah dikategorikan sebagai tanah yang masam,
sebaliknya jikan kandungan ion OH- yang tinggi dikategorikan sebagai tanah
basa.
pH tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman,.
Umumnya tanaman dapat tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH sekitar
netral (6,5 - 7,5). Namun pada tanaman-tanaman tertentu ada yang lebih
menyukai tanph yang bereaksi masam atau basa. Berdasarkan hasil analisis
tanah di lokasi kajian menunjukkan tingkat kemasaman tanah umumnya berada
pada status masam sampai agak masam. Hasil analisis pH tanah seperti pada
Tabel22
Tabel22. Hasil Analisis pH tanah di Lokasi Kajian
No. Sampel Kedalaman (em) pH Tanah (H20)
P1 0 - 30
30-60
P2 0-30
30-60
f-- - -
P3 0-30
30-60
Keterangan :
P1 = PIT Tambang PT. Kayan Putra Utama Coal
P2 = Sekitar Jalan Tambang
P3 = Lokasi ReklamasiTambang
5,22
5,26
6,81
5,45
4,30
3,98
Status
Masam
Masam
Netral
Masam
Sangat masam
Sangat masam
Kapasitas Tukar Kation (KTK) merupakan gambaran dari kemampuan
tanah mempertukarkan kation dalam tanah. KTK ini merupakan salah satu sifat
kimia tanah yang sangat besar petannya dalam kesuburan tanah. Tanah dengan
nilai KTK tinggi merupakan parameter untuk menilai bahwa tanah tersebut
memiliki kemampuan untuk menjerap dan menyediakan unsur hara yang lebih
'-
pj
baik pada tanaman dibandingkan dengan nilai KTK yang rendah. Pada tanah
dengan KTK yang tinggi didominasi oleh kation-kation basa seperti Ca, Mg, K,
dan Na di mana kation-kation ini mampu dipertukarkan dengan unsur-unsur hara
yang dibutuhkan oleh tanaman karena larut dalam air dan dapat tersedia dan
diserap oleh tanaman.
Hasil pengukuran KTK tanah di lokasi kajian menunjukkan nilai KTK yang
rendah sampai sangat rendah dengan nilai berkisar antara 6,49- 17,71 me/100
g tanah. Hasil analisis seperti pada Tabel23.
Tabel23. Kapasitas Tukar Kation (KTK) di sekitar Lokasi Pertambangan
Batubara PT. Kayan Putra Utama Coal
No. Sampel Kedalaman (em) KTK (me/100 g)
P1 0-30 9,33
30-60 7,95
P2 0 - 30 3,33
30-60 7,32
P3 0-30 17,71
30 - 60 16,72
. -
Keterangan :
P1 =PIT Tambang PT. Kayan Putra Utama Coal
P2 = Sekitar Jalan Tambang
P3 = Lokasi Reklamasi Tambang
Status
Rendah
Rendah
Sangat Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Nitrogen, fosfor, dan kalium merupakan unsur hara yang sangat besar
peranannya bagi pertumbuhan tanaman baik pertumbuhan vegetatif maupun
generatif. Ketiga unsur haran ini dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang
besar dan jika kekurangan salah satunya, akan menimbulkan dampak defisiensi
hara bagi tanaman. Oleh karena itu, ketiga unsur hara tersebut harus tersedia di
dalam tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman budidaya dengan baik
terutama pada saat dilakukan kegiatan revegetasi kembali lahan-lahan pasca
tam bang.
Beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa, ketiga unsur hara disebutkan
di atas. tidak atau sedikit tersedia pada tanah-tanah bekas penambangan
batubara. Hal ini disebabkan unsur hara tersebut dapat larut dalam air dan
\..._.,
......
O<t
tercuci dan meninggalkan areal perakaran tanaman. Walaupun pada beberapa
tempat tersedia, namun tidak mencukupi untuk tanaman revegtasi. Hal ini sesuai
dengan hasil pengamatan di lokasi kajian yang memperlihatkan nilai unsur hara
N, P, dan K yang rata-rata berada pada kriteria rendah, sebagaimana disajikan
pada Tabel 24.
Tabel 24. Kandungan Nitrogen, Fosfor, dan Kalium di Sekitar Areal
Pertambangan Batubara PT. Kayan Putra Utama Coal
No. Kedalaman Nitrogen (N) Fosfor (P) Kalium (K)
Sam pel (em) % Status ppm
P1 0-30 0,12 R 8,63
30-60 0,10 R 9,50
P2 0-30 0,11 R 8,63
30-60 0,10 R 11,22
P3 0-30 0,06 SR 6,56
30-60 0,04 SR 6,90
Keterangan :
P1 = PIT Tambang PT. Kayan Putra Utama Coal
P2 = Sekitar Jalan Tam bang
P3 = lokasi Reklamasi Tambang
Status ppm Status
R 24,05 s
R 18,25 R
R 30,86 s
s 14,44 R
R 11 ,08 R
R 11 ,59 R
Berdasarkan realitas dan kondisi aktual tersebut 65.29 % responden
memberikan penilaian bahwa keberadaan perusahaan pertambangan batu bara
di Kutai Kartanegara membawa perubahan kondisi lingkungan yang lebih buruk
(Tabel25).
Tabel25. Perubahan kondisi lingkungan akibat pertambangan batubara
No Perubahan kondisi lingkungan %
a. Lebih baik 12.35
b Sarna saja 20,00
c Lebih buruk 65.29
d Tidak tau 2.35
'
!
i
'
I
V..l
Kondisi lingkungan yang lebih buruk tersebut dipicu oleh rendahnya
kepedulian perusahaan terhadap lingkungan. 41 .91 % responden menyatakan
bahwa kepedulian perusahaan terhadap lingkungan tidak ada dan 39.52% yang
menyatakan ada (Tabel 26). Hal ini memberikan indikasi bahwa kalaupun
perusahaan melakukan perbaikan lingkungan tidak dilakukan secara optimal dan
perbaikan lingkungan itu dilakukan jika telah t e ~ a d i kerusakan lingkungan atau
akibat adanya aksi-aksi demo yang dilakukan oleh warga masyarakat sekitar
pertambangan batu bara yang menuntut agar perusahaan batubara
bertanggungjawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkannya (Tabel
26).
Tabel26. Kepedulian perusahaan terhadap kerusakan lingkungan
No Kepedulian perusahaan terhadap lingkungan %
a. Ada 39.52
b Tidak ada 41.91
c Tidak tau 18.56
Sumber data diolah dari data primer 2010
5.4. Community Development dan Corporate Sosial Responsibility
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah nom or 23 tahun 2010 tentang
pelaksanaan usaha pertambangan mineral dan batubara setiap perusahaan
harus memiliki program pemberdayaan masyarakat (community development)
dan Corporate Sosial .Responsibility (CSR). Wujud kepedulian tersebut dilakukan
perusahaan dalam berbagai bentuk bantuan. Berdasarkan hasil penelitian
menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan oleh perusahaan 62.22 %
membangun infrastruktur diantaranya jalan, jembatan, sekolah, sumber air bersih
yang bisa digunakan untuk minum dsb. Selain itu, ada pula dalam bentuk
beasiswa dan bantuan kesehatan bagi masyarakat sekitar usaha pertambangan
batubara.sebagaimana disajikan pada T abel 27.
Tabel27. Wujud kepedulian perusahaan terhadap program pemberdayaan
Masyarakat
No Wujud Kepedulian perusahaan terhadap lingkungan %
Pembangunan infrastruktur {Jalan, Jembatan, Sekolah dan
a. Air bersih) 62.22
b Beasiswa Sekolah 22.22
c 6antuan Kesehatan 15.55
---- - --
'-'
'--
()()
Lubang tambang yang tidak tertutup dapat dimanfaatkan warga untuk
sumber air persawahan dan kegiatan perikanan melalui usaha kerambah seperti
yang disajikan pada Gambar 8 dan 9.
Gambar 9. Pemanfaatan Lubang Bekas Tambang Batubara sebagai Sarana
lrigasi di Kecamatan Tenggarong Seberang
Gambar 10. Pemanfaatan Lubang Bekas Tambang untuk Budidaya Tambak lkan
di Kecamatan T enggarong Seberang
5.5 Strategi Pengelolaan dampak Pertambangan Batubara di
Kabupaten Kutai Kartanegara
Untuk menyusun strategi pengelolaan pert:ambangan batubara di
Kabupaten Kut:ai Kart:anegara dilakukan analisis SWOT (Strength, W e a k n e s ~
opportunities, dan TreathS) dengan terlebih dahulu menentukan faktor-faktor
internal dan eksternal yang berpengaruh pada pert:ambangan batubara.
._,
'-'
......,
V/
Penentuan faktor-faktor internal dan eksternal dilakukan melalui penyebaran
kuisioner dan wawancara mendalam dengan stakeholder terkait. Hasil kajian di
lapangan dan analisis data dengan SWOT dapat menggambarkan kemungkinan
adanya potensi dan permasalahan yang ada, yaitu gambaran yang komprehensif
rnengenai faktor-faktor internal yang merupakan kekuatan dan kelemahan, serta
faktor-faktor ekstemal yang merupakan peluang dan ancaman dalam
pengelolaan pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Penentuan tingkat kepentingan setiap faktor, dilakukan dengan
rnemberikan peringkat (skor). Peringkat tetap menggunakan skala 1(rendah)
sampai 4 (tinggi) untuk kekuatan, peluang, kelemahan dan ancaman. Skala
tersebut berdasarkan hasil kuesioner dengan stakeholder kunci. Hasil yang
diperoleh disajikan pada Tabel 28 .
Tabel 28. Faktor-Faktor Internal dan Eksternal Pengelolaan Dampak
Pertambangan Batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara
No. Elemen SWOT Faktor Kunci Peringkat
1. Internal a. Kekuatan 1. Mempunyai potensi sumberdaya mineral
dan batubara yang cukup besar
4
2. Dukungan kebijakan Pemerintah cukup
besar dalam pengembangan
4
pertambangan batubara
3. Memiliki sarana dan prasarana transportasi
darat dan air (sungai) yang memadai
3
4. Jumlah tenaga kerja tersedia cukup besar
4
5. Prospelc pemasaran hasil tambang terbuka
3
luas
b. Kelemahan 1. Ketersediaan SDA Tambang terbatas 4
2. Eksploitasi SDA tambang yang tidak
2
terbatas
2
3. Lemahnya kualitas SDM
3
4. Pencemaran air akibat kegiatan tambang
5. Tumpang tindih perijinan usaha
3
pertambangan dengan usaha lain
2. Ekstemal a. Petuang 1. Kebutuhan dan permintaan pasar domestik 2
dan luar negeri tinggi
2. Pengembangan paket-paket ekowisata
3
pada lubang bekas tambang
3. Pengembangan marineculture dan tambak
pada lubang bukaan tambang 2
4. Dukungan regulasi (UU No.04 tahun 2009
dan PP No.22 tahun 2010, dan PERDA
4
pertambangan umum)
5. Peningkatan PAD 3
........
........
........
vo
No. ElemenSWOT Faktor Kunci Peringkat
b. Ancaman 1. Banyaknya penambangan liar yang tidak
terkendali 4
2. Menurunnya kualitas lingkungan,
munculnya konflik sosial dan perbaikan
kesejahteraan rnasyarakat 4
3. Sedimentasi sungai akibat erosi air
3
4. Konflik antara sektor (pertambangan,
4
kehutanan, perkebunan, pertanian)
5. Konflik dengan masyarakat lokal 4
6. Degradasi keanekaragaman hayati 3
Keterangan : skala 1 = rendah, 2 = sedang, 3 = tinggi, dan 4 = Sangat tinggi
Setelah penentuan faktor-faktor internal dan ekstemal seperti di atas
berdasarkan elemen kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, maka langkah
selanjutnya adalah menyusun faktor-faktor strategi berkaitan dengan
pengelolaan dampak pertambangan batubara dengan menggunakan matrik
SWOT. Berbagai altematif faktor strategi yang dapat dilakukan seperti dalam
Tabel 29 yang mencakup strategi s-o (Strengths-OpportunitieS), strategi W-0
(Weaknesses-OpportunitieS), strategi S-T (Strengths-ThreatS) dan strategi W-T
(Weaknesses-Threats).
Tabel 29. Fonnulasi Rancangan dampak pengelolaan Pertambangan batubara
Kab. Kutai Kartanegara dengan Matrik SWOT
Strengths - S Weaknesses -w
1. Mempunyai potensi 1. Ketersediaan SDA
sumberdaya mineral dan Tambang terbatas
batubara yang cukup besar
2. Eksploitasi SDA tambang
2. Dukungan kebijakan
yang tidak terbatas
Pernerintah cukup besar
3. Lemahnya kualitas SDM
dalam pengembangan
4. Pencemaran air akibat
pertambangan batubara
kegiatan tambang
3. Memiliki sarana dan
prasarana transportasi darat
5. Tumpang tindih perijinan
dan air (sungai) yang
usaha pertambangan
memadai
dengan usaha lain
4. Jumlah tenaga kerja tersedia
cukup besar
5. Prospek pemasaran hasil
tambang· terbuka luas
Opportunities- 0 Strategi S- 0 Strategi w-o
1. Kebutuhan dan 1. rnemanfaatkan potensi 1. Lahan pasca tambang
permintaan pasar sumberdaya mineral dan dimanfaatkan untuk
domestik dan luar batubara untuk mernenuhi rneningkatkan PAD
negeri tinggi permintaan pasar dan 2. mengelolan SDA
2. Pengembangan paket- peningkatan PAD tambang secara bertahap
paket ekowisata ·pacta 2. Dukungan kebiiakan untuk memenuhi
........
-
~
lubang bekas tambang
3. Pengembangan
marineculture dan
tambak pada lubang
bukaan tambang
4. Dukungan regulasi (UU
No.04 tahun 2009 -dan
PP No.22 tahun 2010,
dan PERDA
pertambangan umum)
5. Peningkatan PAD
Threats-T
1. Banyaknya
penambangan liar yang
tidak terkendaU
2. Perbaikan kualitas
lingkungan,
penanganan konflik
sosial dan perbaikan
kesejahteraan
masyarakat
3. Sedimentasi sungai
akibat erosi air
4. Konflik antara sektor
(pertambangan,
kehutanan,
perkebunan, pertanian)
5. Konflik dengan
masyarakat lokal
6. Degradasi
keanekaragaman
hayati
pemerintah untuk
pemanfaatan lahan pasca
tambang sebagai objek wisata
dan marineculture serta
tambak
3. memanfaatkan tenaga kerja
lokal dalam setiap
pemanfaatan potensi SDA
yang ada
4. Kebutuhan permintaan pasar
yang besar memberikan
prospek yang baik bagi
pemasarana hasil tambang
5. Dukungan kebijakan
pemerintah dalam penyusunan
rencana peraturan daerah
tentang pertambangan umum
Strategi s-T
1. Memanfaatkan lahan pasca
tambang sebagai kawasan
wisata berbasis alam,
marineculteru dan tambak
untuk konservasi dan
meningkatkan PAD
2. Memanfaatkan dukungan
kebijakan pemerintah untuk
menyusun PERDA
pertambangan yang mengatur
konflik yang terjadi
3. Tenaga kerja yang tersedia
dapat dimanfaatkan dalam
pengembangan ekowisata,
marineculture dan tambak
untuk pwningkatan PAD
4. Memanfaatkan dukungan
kebijakan pemerintah untuk
menyusun PERDA
pertambangan yang mengatur
perbaikan kualitas lingkungan
dan degradasi
keanekaragaman hayati
5. Sarana dan prasarana
transportasi darat dan air
dimanfaatkan untuk
penQangkutan hasil tambang
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.
\17
permintaan pasar dan
peningkatan PAD
Meningkatkan SDM
dalam mengelolan
pertambangan
Memperbaiki kualitas air
pada lubang tambang
untuk kegiatan ekowisata
dan marlneculture dan
tambak
Membuat PERDA
pertambangan umum
yang didalamnya
mengatur tumpang tindih
lahan usaha
pertambangan dengan
usaha lain disekitarnya,
Strategi W - T
Penegakan hukum yang
ketat dalam mengelola
SDA tambang yang
terbatas untuk mengatasi
penambangan liar
Membenahi sistem
penambangan yang tidak
terkendali dengan
mengawasi
penambangan liar yang
ada
Meningkatk.an kualitas
SDM sehingga
penambangan liar dapat
diatasi dan kualitas
lingkungan dapat terjaga
dengan baik
Mengatasi pencemaran
air oleh aktivitas
tambang dalam
mengantisipasi
munculnya konflik sosial
Mengatasi terjadinya
tumpang tindih lahan
sehingga konflik
penggunaan lahan dapat
diatasi
Setelah penilaian skala peringkat faktor-faktor kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman, selanjutnya ditentukan grand strategi pengelolaan
dampak pertambangan batubara dengan membuat Tabel IFA (Internal Strategy
Factors Analysis) dan tabel EFA (External Factors AnalysiS) dengan memberi
bobot terhadap masing-masing faktor berdasarkan tingkat kepentingan (skala
prioritas (SP)) yang dikalikan dengan konstanta K=4 nilai kepentingan tertinggi.
..........
._,
IV
Nilai skala prioritas 1 menunjukkan nilai rendah, nilai skala prioritas 2
menunjukkan nilai sedang, nilai skala prioritas 3 menunjukkan nilai tinggi, nilai
skala prioritas 4 menunjukkan nilai tertinggi. Hasil pembobotan setiap factor
seperti Tabel 30 dan 31.
Tabel 30. Matrik Internal Factor Evaluation (IFE).
No. Faktor-faktor Internal 5P K=4
5P X K I Bobot
Peringkat Nifai 5kor

51 Mempunyai potensi 4 4 . 16 0,25
4 1
sumberdaya mineral dan
batubara yang cukup
besar
52 Dukungan kebijakan 4 4 16 0,25 4 1
Pemerintah cukup besar
dalam pengembangan
pertambangan umum
53 Memiliki sarana dan 2 4 8 0,13 3
0,39
prasarana transportasi
darat dan air (sungai)
yang memadai
54 Jumlah tenaga kerja 3 4 12 0,19 4
0,76
tersedia cukup besar
55
Prospek pemasaran hasif
4 4 16 0,25 3 0,75
tambang terbuka luas
Jumlah 17 3,9
Kelemahan
Wl Ketersediaan SDA 4 4 16 0,25 4 1
Tambang terbatas
W2 eksploitasi SDA tambang 2 4 8 0,13 3 0,39
yang tidak terbatas
W3 Lemahnya kualitas SDM 2 4 8 0,13 3 0,39
. W4 Pencemaran air aldbat 3 4 12 0,19 3 0,57
I ws
kegiatan tambang
Tumpang tindih perijinan
4 4 16 0,25 3 0,75
usaha pertambangan
dengan usaha lain
Jumlah 15 3,1
I
I
I
I
I 1
Tabel 31. Matrik External Factors Eva/uatiol (EFE)
No. Faktor-faktor Internal SP K=4 SPx K Bobot Peringkat Nilai Skor
Peluang (Opportunftie&?
01
Kebutuhan dan
4 4 16 0,25
2
0,50
permintaan pasar
domestik dan luar negeri
tinggi
~
02
Pengembangan paket-
3 4 12 0,19 3 0,57
pak:et ek:owisata pada
lubang bekas tambang
03
Pengembangan
3 4 12 0,19 2 0,38
marineculture .dan tambak
pada lubang bukaan
tam bang
04
Dukungan regulasi (UU
4 4 16 0,25 4 1
No.04 tahun 2009 dan PP
No.22 tahun 2010, dan
PERDA pertambangan
umum)
OS
Peningkatan PAD
2 4 8 0,13 3 0,57
Jumlah 16 3,02
Ancaman (Threats)
T1
Banyaknya penambangan
3 4 12 0,19
4
0,76
liar yang tidak terkendali
T2
Penurunan kualitas
4 4 16 0,25 4 1,00
lingkungan, konflik sosial
dan kesejahteraan
masyarakat
T3
Sedimentasi sungai akibat
3 4 12 0,19 3 0,57
erosl air
T4 Konflik antara sektor 4 4 16 0,25 4 1,00
(pertambangan,
kehutanan, perkebunan,
pertanian)
TS Konflik dengan 4 4 16 0,25 4 1,00
rnasyarakatlokal
Degradasi 2 4 8 0,13 3 0,57 '
keanekaragaman hayati
I
Jumlah 20 4,9
........
..........
...._,
Il.
Berdasarkan Tabel EFE dan IFE dapat dihitung sebagai berikut:
Kekuatan (StrengthS)- Ketemahan (WeaknesseS)= 3,90-3.10 = + 0,80
Peluang ( OpJXJrtinities) - Ancaman (Threats) = 3,02-4,90 = - 1,88
Untuk mengetahui strategi yang harus dilakukan dalam pengelolaan
dampak pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara, maka perlu
dibuat grafik analisis SWOT dengan menggunakan matriks grand strategy. Skor
(nilai) dari matriks internal-eksternal dari hasil wawancara dan kuesioner dapat
digunakan untuk menentukan rancangan pengelolaan pertambangan di
Kabupaten Kutai Kartanegara dalam jangka waktu mendatang. Nilai penjumlahan
untuk faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan sebesar +0,80 (sumbu X
positif) sedangkan nilai penjumlahan faktor eksternal antara peluang dan
ancaman - 1,88 (sumbu Y negatif). Jadi posisi koordinat berada pada (0,80 ; -
1,88), sehingga posisi rancangan berada pada kwadran 2, artinya mendukung
suatu rancangan diversifikasi menggalang kekuatan untuk mengatasi encaman
yang ada. Adapun strategi pengelolaan pertambangan umum di Kabupaten Kutai
Kartanegara seperti terlihat pada Gambar 11.
Sell: Mendukung strategi
stabilisasi (tum around)
Kelemahan
(Weaknesses)
Sell : Mendukung strategi
Bertahan (devensive)
Peluang
(Opportunity)
0,80
I
I
-1,88 1- - .J
Ancaman
(Threats)
Sell : Mendukung strategi
agresif
Kekuatan
(Strength)
Sell : Mendukung strategi
Diversifikasi
Gambar 11. Grafik Analisis SWOT dalam Menentukan Grand Strategy
Gambar 11 menunjukkan bahwa dalam pengelolaan dampak
pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara terutama dalam rangka
menuju pengelolaan pertambangan yang berkelanjutan, maka perlu dilakukan
~
...--
·---
'--'
I ~
strategi diversifikasi yang menggabungkan kekuatan yang dimiliki untuk
mengatasi ancaman yang ada (strategi Strength - ThreatS). Dengan kata lain,
meskipun dalam pengelolaannya mengalami ancaman (Threats), tetapi memiliki
kekuatan dari sisi internal yang dapat digunakan dalam mengatasi ancaman yang
ada.
Berdasarkan analisis tersebut ada beberapa rekomendasi yang perlu
disarankan diantaranya :
1. Bagi Pemerintah
a. Mengevaluasi kinerja perusahaan pertambangan batubara yang telah
beroperasi dalam melakukan kegiatan penambangan pada setiap
tahapan mulai tahapan pra konstruksi, kontruksi, operasi dan pasca
operasi.
b. Badan Perizinan dan pertanahan agar meneliti dengan baik terhadap
perusahaan yang ijin lahannya timpang tindih, baik pertambangan
batubara yang satu dengan yang lainnya maupun antara perusahaan
batubara dengan usaha perkebunan baik kelapa sawit maupun
perkebunan karet yang saai ini menjadi komoditas unggulan di dinas
perkebunan.
c. Diharapkan pemerintah daerah Kabupaten Kutai Kartanegara dan DPRD
segera merampungkan Peraturan Daerah tentang Pertambangan Umum
di Wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara
d. Selanjutnya memberikan sanksi yang tegas kepada perusahaan-
perusahaan yang tidak memenuhi kewajibannya dalam melakukan
reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang yang selama ini
jarang/tidak pernah dilakukan.
2. Bagi Perusahaan
a) Menginventarisasi lahan-lahan milik masyarakat yang akan dibebaskan
untuk kegiatan pertambangan batubara dengan memberikan ganti rugi
lahan dan tanam tumbuh yang memadai sesuai dengan kesepakatan
antara perusahanan dan masyarakat pemilik lahan yang difasilitasi oleh
pemerintah setempat.
~
'--'
/'t
b) Mengadakan sosialisasi kepada masyarakat sekitar pertambangan
batubara tentang rencana pembukaan usaha tambang di sekiar
permukiman agar masyarakat mengetahui dan memahami dampak
penambangan batubara di wilayahnya
c) Memberikan kesempatan yang lebih besar kepada masyarakat lokal
untuk direkrut sebagai karyawan perusahaan sesuai dengan keahlian
yang dimiliki.
d) Pembersihan lahan untuk bukaan tambang dan pembangunan sarana
dan prasarana penunjang lainnya dilakukan tanpa pembakaran untuk
menghindari punahnya satwa-satwa yang ada di dalamnya. Biomassa
vegetasi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan
kualitas tanah pada saat kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan
dilakukan. Biomassa vegetasi yang dibuka dapat dimanfaatkan secara
langsung dengan mencampur secara langsung pada saat pembongkaran
tanah pucuk (top soil) dan tanah penutup dilakukan untuk selanjutnya di
backfilling pada lubang bekas penambangan.
e) Membangun settling pond pada setiap PIT tambang, ruas jalan angkut
(hauling road) untuk mengurangi aliran permukaan run-off dan erosi
masuk ke badan air secara langsung. Pada settling pond diberikan
perlakuan koagulan berupa tawas untuk mempercepat pengendapan
bahan sediment sebelum aimya di buang kelingkungan. Sedangkan untuk
mengatasi air asam tambang diberikan perlakuan kapur sesuai dengan
tarat yang dibutuhkan
f) Membangun fasilitas oil trap untuk menampung ceceran oli dan minyak
agar tidak masuk ke dalam badang perairan
g) Limbah cair dan lumpur yang akan dipompa ke luar dari lubang tambang
saat penambangan batubara berlangsung, dialirkan ke saluran drainasi
yang telah dibuat untuk segera dimasukkan ke settling pond sebelum
airnya dibuang ke lingkungan.
h) Melakukan pengontrolan dan pemeriksaan kualitas air dan kualitas udara
secara berkala sesuai peraturan yang ada di sekitar permukiman
masyarakat dan lokasi penambangan.
i) Menutup lubang tambang pada lahan yang selesai ditambang dengan
mengembalikan tanah pucuk dan tanah penutup (back filling} . {;)
j) Melakukan reklamasi dan revegetasi lahan bekas penambangan batubara
melalui peningkatan kualitas tanah dengan pemberian kapur dan pupuk
(organik dan an-organik), yang selanjutnya menanam tanaman penutup
tanah yang cepat tumbuh seperti rumput-rumputan dan tananam tahunan
non kehutanan (hortikultura} pada kawasan tambang non budidaya
kehutanan (KBNK).
k) Pengangkutan peralatan tambang yang melewati jalan umum dilakukan
pada malam hari dan mendahulukan kendaraan umum jika terdapat
kedaraan umum yang akan lewat.
I) Melakukan penyiraman jalan tambang minimal dua kali sehari terutama
jalan tambang yang dekat dengan permukiman masyarakat saat kegiatan
angkut batubara berlangsung
m) Melakukan reklamasi dan revegetasi lanjutan pada lahan bekas
penambangan yang belum ditutup. Pemeliharaan tanaman revegatasi
dilakukan selama tiga tahun setelah penambangan batubara berakhir
untuk memberikan kesempatan yang baik bagi pertumbuhan dan
perkembangan yang baik tanaman revegetasi.
n) Bagi lubang tambang yang tidak bisa ditutup karena kekurangan tanah
penutup, dapat diarahkan melalui pengembangan wisata alam atay
perikanan budidaya tambak untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat setempat.
o) Pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi karyawan tambang dilakukan
dengan terlebih dahulu membekali keterampilan untuk berwirausaha
sehingga tidak menimbulkan pengangguran baru pasca penambangan.
3. Bagi Masyarakat
a) Diharapkan selalu menyelesaikan masalah konflik social di lapangan
dengan cara musyawarah dan mufakat
b) Membuat program untuk diajukan kepada perusahaan yang dapat
dibiayai melalui program pemberdayaan masyarakat (CSR)
c) Mengevaluasi dan mengontrol program revegetasi dan reklamasi yang
dilaksanakan perusahaan dan disesuaikan dengan dokumen Amdal,
RKL, dan RPL perusahaan tersebut.
~
6.1. Kesimpulan
6AEJVI
KESIMPULAN DAN SARAN
/0
Berdasarkan hasil penelitian, dirumuskan berbagai kesimpulan sebagai berikut :
1. Pertambangan batubara memberikan dampak positif terhadap perekonomian
masyarakat di sekitar perusahaan, yaitu meningkatkan pendapatan per bulan,
memberikan peluang kerja dan peluang usaha sehingga dapat memberbaiki
ekonomi masyarakat
2. Kegiatan usaha pertambangan batubara memberikan dampak positif dan negatif
terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar perusahaan. Dampak negatifnya
adalah Kehadiran usaha pertambangan meningkatkan konflik antara
masyarakat, antara masyarakat dan perusahaan yang dipicu oleh masalah
limbah, penerimaan tenaga kerja, masalah tumpangtindih lahan, dan tidak
optimalnya perusahaan dalam melaksanakan program pemberdayaan
masyarakat (Comdev) . Selain itu, keberadaan perusahaan batubara memberikan
dampak terhadap menurunnya aktifitas keikutsertaan masyarakat dalam
kegiatan gotong royong terutama kerja bakti dan kegiatan-kegiatan keagamaan,
tetapi memberikan dampak positif terhadap kepedulian pemberian bantuan
dana untuk kegiatan-kegiatan sosial.
3. Kegiatan usaha pertambangan memberikan dampak negatif terhadap
lingkungan fisik, kimia dan biologi. Kerusakan-kerusakan tersebut diantaranya
kerusakan bentang alam, penurunan kesuburan tanah, rusaknya flora dan fauna
endemik, meningkatnya polusi udara dan debu, erosi dan sedimen yang memicu
banjir, kebisingan, rusaknya jalanan umum yang digunakan untuk memuat alat-
alat berat perusahaan, dan adanya limbah yang dapat masuk ke lahan-lahan
pertanian dan sungai sehingga merusak biota perairan dan sumber air yang
digunakan untuk air bersih (minum) dan mencuci.
4. Program pengembangan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh
perusahaan pertambangan batubara didominasi oleh pembangunan
infrastruktur, pemberian beasiswa dan bantuan di bidang kesehatan II
6.2. Saran
1. Disarankan perusahaan menin8katkan kepeduliaan terhadap kehidupan ekonomi dan
social masyarakat sekitar perusahaan melalui program-program pemberdayaan
masyarakat diantaranya melakukan pembinaan dan peningkatan skill , memberikan
bantuan untuk sarana dan prasarana umum, memprioritaskan pemuda lokal untuk
dipekerjakan di perusahaan
2. Diharapkan kepada Perusahaan untuk mentaati Amdal yang di dalamnya telah ada
rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan usaha pemantauan Lingkungan (RPL)
dalam mengeliminir dampak kerusakan lingkungan
3. lnstansi teknis yang bertanggungjawab mengawasi, memonitor, pemantau dampak
ekonomi , social dan lingkungan dari aktifitas perusahaan pertambangan batubara
dan instansi teknis yang memberi izin usaha pertambangan agar benar-benar
mengemban amanah sesuai dengan perundang-undangan yang ada.
........
'-'
7S
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad. S. 2000. konservasi Tanah dan Air. lnstitut Pertanian Bogor (IPB) Press .
. I nstitut Pertanian Bog or. Bogor
Bachriadi, B. 1998. Merana di Tengah Kelimpahan. ELSAM. Jakarta
[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kutai
Kartanegara. 2008. Kutai dalam Angka. Bappeda Kutai Kartanegara.
Tenggarong
Latifa, S. 2000. Keragaan Accacia mangium wild pada Lahan Bekas Tambang
Timah (Studi kasus di areal PT. Timah). Tesis Sekolah Pascasarjana.
IPB. Boger.
Pusat Penelitian ttan Pengembangan (Puslitbang) Teknologi Mineral dan
Batubara. Departemen ESDM. 2006. Batubara Indonesia. Departemen
ESDM. Jakarta
Setiadi, Y. 1999. Status Penelitian dan Pemanfaatan Cendawan Mikoriza
arbuskula dan Rizobium untuk Merehabilitasi Lahan Terdegradasi. Dalam
Makalah Seminar Nasional Mikoriza I, Tanggal15-16 November. Bogor.
Sitorus. S.R.P. 2000. Pengembangan Sumberdaya Tanah Berkelanjutan.
Jurusan Tanah. Fakultas pertanian lnstitut Pertanian Bogor (IPB). Boger.
Soemarwoto, 0 . 2005. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada
Uversity Press. Yogyakarta
Suhala, S, A. F. Yoesoef dan Muta'alim. 1995. Teknologi Pertambangan
Indonesia. Pusat Penelitlan dan Pengembangan Teknologi Mineral,
Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Departemen Pertambangan
dan Energi. Jakarta.
Walpole, R. E. 1995. Pengantar Statistika Edisi ke-3. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta. 515 hal.
Wardana. W. A. 2001 . Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit Andi
Yogyakarta.Yogyakarta.
Widodo, S. 2005. Batubara, Produk Strategis yang Harus Jadi Prioritas untuk
lndustri Nasional. http://www.google.eem. Diakses pada tanggal 08 Maret
2010. Boger.

HAJJAN l'J!iNriLlilAft UAll f!i11\ifi1Y1DA11UA11 UAI'JMn
Jln. Wolter Mon~lnsldi Kompl~lz. .Kantor Bupatl Gedun\l Bappeda-Balitbangda Lt. 4

TENGGARONG

SURAT PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama Jabatan : DR.Ir. Ince Raden, MP : Ketua Tim (Penelitian dampak penambangan batubara terhadap pengembangan sosial ekonomi dan lingkungan Di Kabupaten Kutai Kartanegara) Tahun Anggaran :2010

Dengan ini menyatakan bahwa hasil Laporan Akhir Penelitian Dampak penambangan batubara terhadap peningkatan sosial ekonomi masyarakat dan lingkungan di Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2010, telah diperbaiki/ disempurnakan sesuai dengan arahan nara sumber, · pada saat paparan Draft Laporan Akhir hasil penelitian dimaksud yang dilaksanakan di Jakarta pada tanggal12 sf d 16 Nopember 2010. Semoga kegiatan ini
dapa~
'

bermanfaat untuk berbagai pihak terkait khususnya diwilayah

Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur

.......

Demikian Surat Pengesahan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Mengetahui: Kepala Balitbangda ~~~ten Kutai Kartanegara

Tenggarong, l Desember 2010 · Ketua Tim Peneliti,

.1\': M.Hermawan,

M.Si.

R.Ir. Ince Raden MP

9630908 198902 1 002

NIP. 196709081994 31005

PRAKATA
........

Puji dan syukur hanya kehadirat Allah SWT karena berkat petunjuk, rahmat dan karuniah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kajian Dampak Penambangan Batu Bara terhadap Perkembangan Sosial, Ekonomi dan Lingkungan di Kabupaten Kutai Kartanegara. menyajikan tentang Laporan ini secara umum dampak keberadaan usaha pertambangan batubara di 4

...__.

Kecamatan di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Kegiatan penelitian ini didanai pada tahun 2010 oleh Badan Penelitian
..._

dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia melalui program lnsentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah Tahun 201 o yang diajukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Kutai Kartanegara. Sehubungan dengan telah selesainya laporan

'-

penelitian ini kami mengucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memb. 1tu kesuksesan kegiatan ini. • .•himya semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak Tenggarong, November 2010

Tim Peneliti

-...J

~

RINGKASAN
Kutai Kartanegara merupakan salah satu Kabupaten di Kalimantan Timur yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah, salah satu diantaranya adalah penambangan batubara. Dalam proses eksploitasinya menimbulkan dampak terhadap sosial ekonomi dan lingkungan. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah memperoleh informasi tentang dampak sosial ekonomi dan lingkungan fisik, kimia dan biologi terkait dengan penambangan batubara di Kutai Kartanegara serta merekomendasikan strategi penanggulangan dampak pertambangan batubara yang perly dilaksanakan guna untuk mengantisipasi dan mencegah dampak negatif dan mengoptimalkan dampak positif akibat pertambangan batubara di Kabupaten
.......,

Kutai Kartanegara. Diharapkan dari penelitian ini menemukan kondisi riil sosial ekonomi dan kondisi kerusakan lingkungan serta tindakan preventif dan pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan pertambangan sehingga menjadi salah satu bahan masukan bagi pihak Pemerintah Daerah (terutama bagi stakeholders seperti, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pertambangan dan Energi, dan Badan Pengelola ljin Terpadu) untuk menilai dampak penambangan batubara terhadap pengembangan sosial ekonomi masyarakat dan kualitas lingkungan yang pada akhirnya dapat menjadi pertimbangan dalam pengawasan dan pemantauan penambangan batubara. Strategi untuk mencapai tujuan di atas dilakukan pendekatan Penelitian dari aspek ekonomi, sosial budaya dan aspek ekologi (lingkungan) dan mengevaluasi program-program CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan batubara baik berdasarkan data primer maupun data sekunder melalui quisioner,
indepth interview, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka (literatur).

Hasil

penelitian

menunjukkan

bahwa

Pertambangan

batubara

memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di sekitar perusahaan, yaitu meningkatkan pendapatan per bulan, memberikan peluang kerja dan peluang usaha sehingga dapat memberbaiki ekonomi masyarakat. Disisi lain, kegiatan usaha pertambangan batubara memberikan dampak negatif dan positif terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar perusahaan. Dampak negatifnya adalah Kehadiran usaha pertambangan meningkatkan konflik antara masyarakat, antara masyarakat dan perusahaan yang dipicu oleh masalah limbah, penerimaan tenaga kerja, masalah tumpangtindih lahan, dan tidak

kimia dan biologi. Program pengembangan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan batubara didominasi olef1 pembangunan infrastruktur. tetapi memberikan dampak positif terhadap kepedulian pemberian bantuan dana untuk kegiatan-kegiatan sosial. Selanjutnya dari penelitian ini ditemukan pula bahwa kegiatan usaha pertambangan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan fisik. operasi dan pasca operasi penambangan batubara dan Selanjutnya memberikan sanksi yang tegas kepada perusahaanperusahaan yang tidak memenuhi kewajibannya dalam melakukan reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang yang selama ini jarang/tidak pernah dilakukan. rusaknya flora dan fauna endemik. rusaknya jalanan umum yang digunakan untuk memuat alat-alat berat perusahaan. pemberian beasiswa dan bantuan di bidang kesehatan dan strategi untuk meng eliminir dampak negatif akibat aktifrtas pertambangan batubara di Kutai Kartanegara maka perlu dilakukan evaluasi kinerja pertambangan batubara mu!ai tahan Pra konstruksi. erosi dan sedimen yang memicu banjir.J . konstruk. penurunan kesuburan tanah. Kerusakan-kerusakan tersebut diantaranya kerusakan bentang alam. -- kebisingan . keberadaan perusahaan batubara memberikan dampak terhadap menurunnya aktifitas keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan gotong royong terutama kerja bakti dan kegiatan-kegiatan keagamaan. " . dan adanya limbah yang dapat masuk ke lahan-lahan pertanian dan sungai sehingga merusak biota perairan dan sumber air yang digunakan untuk air bersih (minum) dan mencuci.. Selain itu. meningkatnya polusi udara dan debu.optimalnya perusahaan dalam melaksanakan program pemberdayaan masyarakat (Comdev).

. . ... . ... ......... ....... .2 Rumusan Masalah ... Tempat dan Waktu Penelitian . ii iv v viii 1 1 3 5 5 9 10 13 17 17 17 BAB IV. ...... . .. .. . ... ...... ..... .......... ... . . .......... ..... . ..... . 3........ ... . .. 1..... .... .. .. 72 .......... . ..... . ... .. .. ... . .. ...2....... ...... 4... . . 4.. .. .... ... .. .... ... iujuan Penelitian........ Manfaat Penelitian... ... .. ..... .. . ... ... .. ... .. .. . . .... .... Pendekatan Penelitian . ..... ........ . . . ... ... .. ... .. ..... . . ....1... ..... ... Ruang Lingkup Kajian.............. .... .. . .. ... ..... BAB VI. ... ... 1.... ......... .2...... .... ..... ...... . ... .... .... .... ..... ...... ...... ... . . .... ... . ....... .. ... . 2. . . .. . .. .. ..... . . .... .. .. ..5..4.... . .. ..... .. ............ . . . .... . .. ....... .. ......... ... . .... .......... . .. ...... . ... .......... .... Populasi dan Sampel. . .. .... ... ......... ... TINJUAN PUSTAKA .... ..... .. .. Dampak Kegiatan Pertambangan Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat. .. .. .. 4....3....... . .. . .. .... .. . ..... . Community Development dan Corporate Sosial Responsibility.. . BAB Ill... .. . ...... .. .1..... 6..... ..... ...... .. .. ..... ....... 18 18 19 19 .. . ... 5. ..... ...... .. . . ..... .... .. .. ... . ............... .... ... . ..... .. ...... ............ ... . . ... . .. ......... ...... .... . . .......... .......... ...... .1.... ... ..... . .. METODOLOGI PENELITIAN ... .4........ . .. 2.. .... ..... . .2........... ... 4.... . ....... ... Kerangkan Pemikiran .. . .... ...... ............. . DAFTAR lSI....... .. ... 5. .. .. . .. . ... . .. ........_... .... ... ....... .... .... . .... . ... ................ . ..... . . . ...... ...1 Latar Belakang. ..... .. . ..... ..2.... . .... . .... ..... . . .. ... .. . .... ... .. .... ... ....... ... ..5... .. Strategi Pengelolaan dampak Pertambangan Batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara.... .. .. ... .. ....... ...... . ........ . . ... .. ......... .... ...... .. .......... . .. ...6..... . ....... ... .... . ...... ... 4......... ........ .. . ... .... . . . .... ........ . .. .... .... ........... . .. .. . .. . .. 3. Saran.. . . . BAB 1. .... 70 70 71 DAFTAR PUSTAKA. ...... 21 21 23 24 26 33 33 38 40 65 66 BAB V...... RINGKASAN . ... ........... . ... .. . . ..... . ... ...DAFTAR lSI --Halaman PRAKATA ... BAB II.. ..... .. ... .. . . . Kebijakan Pengelolaan Pertambangan Batubara di Indonesia.. ... .. .. .. .... .. . ......... ... ...... . ......... . . TUJUAN DAN MANFAAT.... . .. .. .. . Metode Anal isis Data...... ...... .......... . . 7.. ..... ..... ... .. .. . ...... .... ... ..... ... . .. ....... .... ....3. . ... . ........... . .. . .. 6.. .. .. ... . .. .. .... ..... DAFTAR GAMBAR... . .... ..... .. ...... ...... ..... 4.. ...... .... 5... ........ . .4.. .. ........ . . 5. . .. ...Variabel Penelitian.... .. ... .. Kesimpulan.... ....... .. PENDAHULUAN .. ..1.... .. .. . .. ...8.. . ..... .... ....... .. . ... HASIL DAN PEMBAHASAN . . ..... .... . ...... . . DAFTAR TABEL... .... 2.. .... . . Dampak Kegiatan Pertambangan Terhadap Lingkungan............ ... ... .... .... .....1....... .. . Metode dan Tahap Penambangan batubara..... .... 4.... .... . . .. .. .. .. ... . .. . ........ ... .. Dampak Kegiatan Pertambangan terhadap Ekonomi Masyarakat. ... ...... . Potensi Pertambangan Batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara... 5..... ............... . ... .. ....... .. ..... ....... ..... . .. .. ......... . .. . ... . .......2.. . .. 4........ ... . . . .... .. . . . .. ..... KESIMPULAN DAN SARAN .. . .. . ..... . ... .. ... ...3... . ..... . . .. . . ..... ...... Dampak pertambangan batubara. Rancangan Penelitian . 2.. .... ..

.... ... . ..... .. .... 4. ............. ....... ................ ......... 18.......... .......... ................ ..... .................... 17...... . .... ....... ....... .... Putra Dewa Jaya di Kutai Kartanegara ..... dan Parameter Komponen Kualitas Udara dan Kebisingan ....... 2........ Daftar parameter fisik dan kimia lingkungan perairan . ....... ....... .... Perubahan kondisi sosial masyarakat ............ ............ . Perubahan prilaku gotong royong akibat kehadiran pertambangan batubara ...... ..... . .. ..... 10........... ..... Kualitas Udara Ambien di Sekitar Lokasi Pertambangan Batubara PT... ................ ........ .................. ..... Penyebab terjadinya konflik antara masyarakat-peruahaan .. ...... ......... .. Putra Dewa Jaya .. Kebutuhan Tenaga Kerja PT............... . Arzara Barain ... .............. ......... Kerusakan lingkungan akibat adanya aktifrtas pertambangan batubara ..... . Peluang usaha yang dapat dikembangkan masyarakat akibat adanya perusahaan .. ............... .. 29 29 30 3. ...................... 37 38 38 39 39 40 40 44 46 50 52 .... ....... 13.....v DAFTAR TABEL Nomor Teks Halaman 1.. .. ... ..................... .. ... 16........... ................ ............. ................. .. ... . Analisis Data............ 12. ......... 9.. . ... Pengeluaran setiap bulan sebelum dan sesudah ada perusahaan .... ..... ....... Metode Pengumpulan data.................. . ................... . ............. . Pengaruh kehadiran perusahaan batubara terhadap konflik .. 32 5. .... . .. ..... Metode Pengumpulan Data.......... ..... .......... ... 14..... .. ...... ....... Kondisi ekonomi masyarakat akibat adanya perusahaan batubara .. ...... ..... ...... ... Anggana Coal untuk Operasional Tam bang Batubara di Kecamatan Loa Kulu .... . Hasil Analisis Kualitas Air di Sekitar Lokasi Tambang PT.. ........ analisis data social dan ekonomi... . Anggana Coal di Kecamatan Loa Kulu dan Kecamatan Sebulu .... .................................... 15. .............. .. .. .......... 11 ........ ........ ....... ... Pendapatan per bulan sebelum dan sesudah ada perusahaan tambang batubara ......... . ... ........................................ ....... ..... Jumlah Kendaraan dan Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) PT........... .... Jadwal Kegiatan Penelitian . ......... . 34 34 7......... 8. ..... .. Cadangan Batubara dan Rencana Bukaan Tanah (Overburden) PT....... 33 6.

..... Pematangan Bentang Lahan pada Lahan eks tambang batubara ........... ... dan Lingkungan ...... Peta Lokasi Penelitian Dampak Pertambangan Batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara ................ Grafik Analisis SWOT dalam Menentukan Grand Strategy........... ... ........ Sosial... 9.......... ... 43 43 45 60 66 66 72 ....... .............. ... ............................................ Rangkaian Kegiatan Penambangan Batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara ............... 6........... .. . Dampak yang Timbuk akibat Aktivitas Pembangunan ......... ...................... Kegiatan Reklamasi dan Revegetasi Lahan Pasca Tambang di Kabupaten Kutai Kartanegara ...... ...... .. .. ............... 5 18 20 42 4.. . ..................... Salah satu Lubang Besar Bekas Penambangan Batubara yang belum Direklamasi di Kabupaten Kutai Kartanegara ........ Pemanfaatan Lubang Bekas Tambang untuk Budidaya Tambak lkan di Kecamatan Tenggarong Seberang .. 7..DAFTAR GAMBAR Nomor Teks Halaman 1........ Kerangka Pikir Kajian Dampak Pertambangan Batubara terhadap Pengembangan Ekonomi.... . ...... 11....... 8..... .......................................... .......... ............. Pemanfaatan Lubang Bekas Tambang Batubara sebagai Sarana lrigasi di Kecamatan Tenggarong Seberang . 5......... ............... ......... 3.............. ........ ................................ 2........... ... 10................. Kondisi Bentang Lahan setelah Dilakukan Penambangan Batubara ......

45 menit (sekitar 25 km). cukup ditempuh dengan pe~alanan darat selama 30. Pertama adalah pengaruh globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi yang makin nyata dan terasa dalam setiap sendi kehidupan masyarakat. dalam konteks pembangunan daerah terdapat 2 (dua} aspek mendasar yang akan mewarnai tatanan kehidupan dan pemerintahan di daerah. Dari ibukota Propinsi Kalimantan Timur (Samarinda) ke Tenggarong (lbukota Kabupaten Kutai Kartanegara).1. sebelah selatan berbatasan dengan Kota Balikpapan dan juga Kabupaten Penajam Paser Utara. Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah sekitar 27.263.28 persen dari tahun 1999. Kutai Timur dan Kota Bontang pada sisi sebelah utara. Pada tahun tersebut jumlah desa/kelurahan tercatat 186 desa/kelurahan. Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Malinau. Sedangkan wilayah Kota Samarinda dikelilingi oleh seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Dengan demikian ada pertambahan 34 desa/kelurahan atau 18. Dari dua aspek tersebut peranan data dan informasi baik dalam penyajian. Kedua. Kabupaten Kutai Kartanegara kini terdiri dari 18 Kecamatan dan 226 desa/ kelurahan (termasuk desa persiapan). Latar Belakang Memasuki abad XXI. Secara geografis Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan salah satu dari 13 kabupaten/kota yang terdapat di Propinsi Kalimantan Timur.10 km 2 terletak antara 115°26' Bujur Timur sampai dengan 117°36' Bujur Timur dan 1°28' Lintang Utara sampai dengan 1°08' Lintang Selatan. Jumlah desa/kelurahan ini meningkat bila dibandingkan dari tahun 1999 ketika awal pemekaran wilayah Kutai menjadi 3 kabupaten dan 1 kota. keakuratan.BABI PENDAHULUAN 1. berkembangnya era otonomi daerah yang ditandai dengan diundangkannya undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. dan aktualisasi dan kecepatan penyampaian informasi akan sangat menentukan keberhasilan kebijakan dan tujuan pembangunan yang dilaksanakan. dan sisi sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kutai Barat. Bila diamati dari letak . Pada sisi sebelah timur berbatasan dengan Selat Makasar.

275. baik pada '-' perubahan struktur sosial. Banyaknya investasi di bidang pertambangan batubara tidak hanya membawa dampak positif akan tetapi juga membawa dampak negatif. _. tentunya dengan banyaknya investor yang menanamkan modalnya di kabupaten Kutai Kartanegara akan membawa dampak positif dan dampak negatif. Dari kegiatan tersebut minyak bumi dan gas alam merupakan hasil tambang yang sangat besar pengaruhnya terhadap perekonomian Kabupaten Kutai Kartanegara khususnya dan Provinsi Kalimantan Timur umumnya karena hingga kini kedua hasil tambang tersebut merupakan komoditi ekspor utama. Struktur sosial di masyarakat juga mengalami perubahan karena masyarakat sekitar pertambangan termotivasi untuk mampu menyesuaian perubahan struktur sosial yang disebabkan banyaknya masyarakat pendatang yang menjadi karyawan di perusahaan tambang batubara maupun masyarakat pendatang berusaha di sekitar perusahaan batubara. kebiasaan minum-minuman keras dan pola hidup konsumtif para karyawan yang bisa mendorong perubahan masyarakat lokal menjadi lebih konsumtif dan bila hal tersebut tidak didukung oleh perubahan kemampuan daya beli masyarakat lokal akan menyebabkan .geografisnya. dari 226 desa/kelurahan tersebut sebanyak 28 desa/kelurahan atau 12. Perkembangan produksi batubara misalnya pada tahun 2006 mencapai 467.07 metrik ton dari empat perusahaan tambang yang memasukkan data pada dinas pertambangan. Dampak positifnya adalah bahwa kesejahteraan masyarakat di wilayah pertambangan secara umum terlihat meningkat karena efek domino dari keberadaan perusahaan telah mampu mendorong dan menggerakkan sendi-sendi ekonomi masyarakat. Kutai Kartanegara merupakan salah satu Kabupaten yang cukup kaya dengan sumber daya alamnya. Kegiatan pertambangan di Kutai Kartanegara mencakup pertambangan migas dan non migas. budaya. Pengaruh negatif struktur sosial masyarakat di sekitar perusahaan pertambangan yang mungkin bisa yang bersifat negatif seperti te~adi adalah perilaku dan atau kebiasaan pe~udian .38 persen merupakan daerah pesisir yang langsung berbatasan dengan laut (selat Makasar). banyak investor yang terlibat dibidang pertambangan batu bara baik investor dari dalam negeri '--' maupun dari luar negeri. ekonomi masyarakat maupun pada kualitas lingkungan. potensi sumber daya alam yang sudah dikelola secara besar besaran adalah potensi pertambangan batubara.

Berdasarkan uraian di atas. maka akan dikaji berbagai dampak dari kegiatan pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara. beasiswa. Rumusan Masalah Dari Jatar belakang masalah di atas. pemerintah dan seluruh masyarakat). peningkatkan skill. peningkatan daya beli masyarakat sekitar tambang . Mengingat besarnya potensi negatif atas pertambangan batubara maka tanggung jawab perusahaan untuk meminimalkan dampak negatif tersebut adalah dengan menyusun dokumen analisis dampak lingkungan.2.kecemburuan sosial yang pada akhirnya bisa menyebabkan ketidak harmonisan (konflik sosial) antara warga di sekitar perusahaan pertambangan. Bagaimana dampak pertambangan batubara terhadap kualitas lingkungan di Kabupaten Kutai Kartanegara ? . Dampak yang dimaksud dalam kajian ini tidak dibatasi pada dampak negatif saja tetapi juga dampak positif yang timbul oleh aktivitas pertambangan batubara. 1. penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1. membantu dalam menyediaan fasilitas kesehatan . dan membantu - membangun infrastruktur yang sangat diperlukan oleh masyarakat termasuk di dalamnya fasilitas air bersih. memberikan pelatihan agar masyarakat sekitar tambang mempunyai daya saing. Hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah dampak negatif terhadap kualitas lingkungan. Tidak dapat di pungkiri bahwa aktivitas pertambangan dapat dipastikan menyebabkan rendahnya kualitas lingkungan. Bagaimana dampak pertambangan batubara terhadap aktifitas sosial dan ekonomi masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara ? 2. menyusun rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang juga di dalamnya terdapat programprogram kepedulian bagi masyarakat sekitar tambang agar tidak hanya merasakan dampak negatif saja akan tetapi juga merasakan manfaat atas aktivitas pertambangan disekitarnya. Bentuk kepedulian perusahaan tambang '---' batubara adalah dengan mengembangkan Corporate Social Responcibility yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya seperti penanggulangan kemiskinan. pendidikan. Untuk mengendalikan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan tambang batubara tersebut maka diperlukan kontrol yang kuat dari seluruh steakeho/der (perusahaan.

.3. Bagaimana strategi yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dan menanggulangi dampak pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kutai Kartanegara ? '---' . .

dan biologi. Dampak Pertambangan Batubara 2. ekonomi dan Budaya Dampak Biofisik Dampak Primer Dampak Biofisik Dampak Sosial.1. ekonomi dan Budaya Dampak Sekunder Tujuan Gambar 1. ekonomi.1. Lebih lanjut didefinisikan dampak pembangunan terhadap lingkungan adalah perbedaan antara kondisi lingkungan sebelum ada pembangunan dan yang diperkirakan akan ada setelah ada ·~ pembangunan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. baik kimia. Sementara itu. budaya.1. Dampak yang Timbuk akibat Aktivitas Pembangunan Dampak penambangan batubara berarti perubahan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan usaha eksploitasi batubara baik perubahan sosial. Kegiatan Pembangunan Dampak Sosial. Pengertian Dampak Dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. fisik. dampak lingkungan didefinisikan sebagai suatu perubahan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu dan atau kegiatan. Dampak penambangan --J . kesehatan maupun lingkungan alam. Pembangunan yang dimaksud termasuk kegiatan penambangan batubara yang dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan secara umum. Soemarwoto (2005) mendefinisikan dampak sebagai suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas di mana aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah.

sesuai rencana tata guna lahan pasca tambang. sarat risiko. flora dan fauna. kegiatan pertambangan mempunyai daya ubah lingkungan yang besar sehingga memerlukan perencanaan total yang matang sejak tahap awal sampai pasca tambang. merupakan kegiatan usaha jangka panjang. air. harus dilakukan di . (4) banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak. dan (6) berbalik (reversible) atau tidak berbalik (ireversible) dampak.2. Konsep dasar pengelolaan pertambangan bahan galian berharga dari lapisan bumi hingga saat ini tidak banyak beruba. melibatkan teknologi tinggi. (5) sifat komulatif dampak. Dampak Penambangan Batubara terhadap Lingkungan Konsekuensi dari sebuah pembangunan akan dapat membawa dampak terhadap lingkungan baik dampak positif maupun negatif. padat modal. yaitu : (1) jumlah manusia yang akan kena dampak. (3) intensitas dan lamanya dampak berlangsung. Kondisi riil di lapangan menunjukkan bahwa perkembangan teknologi mekanisasi pengelolaan pertambangan menyebabkan semakin luas dan semakin dalam pencapaian lapisan bumi jauh di bawah permukaan tanah sehingga membawa dampak terhadap pencemaran air permukaan dan air tanah.batu bara bisa positif bila perubahan yang ditimbulkannya menguntungkan dan negatif. Dasar rencana dan implementasi seperti ini. dan merusak lingkungan hidup.1. 2. Adapun kriteria dampak penting. yang berubah hanyalah skala kegiatannya hal ini juga terjadi di Kutai Kartanegara. Dampak yang diakibatkan oleh penambangan batubara menjadi penting bila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar. Selain itu. dan membutuhkan aturan regulasi yang dikeluarkan oleh beberapa sektor. Semua manusia berkeinginan bahwa adanya sebuah kegiatan (usaha) atau pembangunan akan dapat meningkatkan kesejateraan masyarakat dan mengelolah dampak negatif dengan sebaik-baiknya sehingga dapat dieliminir sehingga kehadiran usaha atau · -. tanah dan ekosistem lainnya). Kegiatan pertambangan merupakan kegiatan usaha yang kompleks dan sangat rum it. sudah harus difahami bagaimana menutup tambang yang menyesuaikan dengan tata guna lahan pasca tambang sehingga proses rehabilitasi/reklamasi tambang bersifat progresif. (2) luas wilayah penyebaran dampak. jika merugikan. Seharusnya pada saat membuka tambang. mencemari. - pembangunan tersebut dapat berhasil guna bagi semua mahluk hidup (manusia.

.. menganggap bahwa batuan limbahnya tidak menimbulkan air asam tambang .. yaitu terjadinya perubahan topografi karena terbentuknya lubang-lubang besar bekas galian tambang. dan terjadinya konflik sosial saat pembebasan lahan.3.. meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat sekitar tambang ..-' menghentikannya karena sifat alamiah dari reaksi yang terjadi pada batuan. baru terbentuk bertahun-tahun kemudian sehingga perusahaan pertambangan yang tidak melakukan monitoring jangka panjang bisa salah . kerusakan hutan hingga erosi dan sedimentasi tanah. semakin besar. menjelaskan '-' bahwa penambangan batubara di Bukit Asam (Sumatera Selatan) dan Ombilin (Sumatera Barat) selain berdampak positif terhadap pemenuhan kebutuhan __.... Di samping itu dapat pula terjadi dampak negatif diantaranya munculnya berbagai jenis penyakit akibat menurunnya kualitas udara.. Air asam tambang berpotensi mencemari air permukaan dan air tanah . dalam kegiatan pertambangan di Indonesia. 6erbagai dampak potensial di sektor sosial dan ekonomi dapat terjadi -. Melihat pertumbuhan produksi' batu bara dari tahun ke tahun yang . dimana dampak ini masih menjadi masalah yang belum terpecahkan secara tuntas . juga berdampak negatif terhadap lingkungan. penurunan mutu udara dengan meningkatnya debu di udara. .1. Studi yang dilakukan oleh Suhala et a/... (1995) misalnya. pertambangan timbal pada era kerajaan Romawi masih memproduksi air asam tambang 2000 tahun setelahnya. Zulkiflimansyah (2007) menambahkan bahwa terdapat dampak negatif lain selain lubang tambang dan air asam tambang yang langsung timbul dari kegiatan pertambangan seperti berkurangnya debit air sungai dan tanah .. maka diperkirakan dalam jangka waktu 10 sampai 20 tahun ke .._. berkurangnya keanekaragaman flora dan fauna serta timbulnya masalah sosial di masyarakat sekitar lokasi penambangan.. pencemaran air. gangguan hidrologi. kesempatan kerja karena adanya penerimaan tenaga kerja. Air asam tambang . Sebagai contoh.J akibat adanya penambangan batubara di suatu wilayah.. baik dampak positif maupun dampak negatif. Berbagai dampak positif diantaranya tersedianya fasilitas sosial qan fasilitas umum..._.__.dan adanya kesempatan berusaha... 2. penurunan kesuburan tanah. sumber energi.. meningkatnya kecelakaan lalu lintas. Dampak Penambangan Batubara terhadap Sosial dan Ekonomi .. Sekali terkontaminasi terhadap air akan sulit melakukan tindakan penanganannya. perubahan aliran permukaan.

768 juta MT. Sumberdaya ini sebagian besar berada di Kalimantan yang menyimpan deposit sebesar 61 % (21 . 2.. Potensi Pertambangan Batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara Keberadaan potensi sumberdaya mineral Kabupaten Kutai Kartanegara sangat dirasakan dalam pemanfaatannya sebagai sumber devisa negara disamping sumberdaya alam lainnya. .2.._. Usaha pertambangan batubara mempunyai prospek sebagai sektor andalan pengganti migas dalam membangun perekonomian Kalimantan Timur di masa mendatang. Besarnya sumberdaya alam yang dimiliki oleh Kutai . akan kehilangan mata pencaharian sebagai akibat dari berhentinya beroperasi kegiatan pertambangan. prospek pemasaran. sumber batubara (resources) sebanyak 57. dan dukungan kebijakan pemerintah daerah.464 juta MT) dan sisanya tersebar di wilayah lain. Dari jumlah tersebut. ~.088 juta ·~ MT). Dari data Direktorat Batubara Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral telah mengidentifikasi cadangan batubara tertunjuk sebanyak 38.284 juta MT cadangan terindikasi.362 juta MT yang . di Sumatera 38 % (17. sekitar 11.. 2005)._. Secara geografis. di mana mereka .. Kutai Kartanegara memiliki sumberdaya alam yang beraneka ragam baik yang terbarukan (renewable resourcer) maupun sumberdaya alam yang tak terbarukan (non renewable resources) misalnya batubara dan migas..484 juta MT merupakan cadangan terukur dan 27.depan deposit batubara ini akan habis yang dapat berdampak negatif terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar terutama masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada kegiatan pertambangan.. dan sekitar 5.. Hal ini didasarkan pada ketersecliaan sumberdaya batubara. diklasifikasikan sebagai cadangan yang terekploitasi. (Widodo.8 milliar ton.... sehingga dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan disegala bidang kehidupan dituntut kearah yang demokratis termasuk hak mengelola sumberdaya mineral (batubara) bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat di daerah sejalan dengan perlindungan hukum dan legitimasi yang wajar. Dari jumlah itu Widodo (2005) melaporkan bahwa cadangan batubara terbesar hanya tersebar di tiga provinsi di Indonesia yaitu Provinsi Sumatera Selatan (38 %}. Kalimantan Timur (35 %). dan Kalimantan Selatan (26 %)... Kabupaten Kutai Kartanegara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur yang mempunyai potensi sumberdaya alam cukup besar termasuk batubara.

meliputi tambang terbuka. Karakteristik yang penting dalam pertambangan batubara ini adalah bahwa pasar dan harga sumberdaya batubara ini yang sangat prospektif menyebabkan '-' industri pertambangan batubara dioperasikan pada tingkat resiko yang tinggi baik dari segi aspek fisik. menjadikan Kabupaten ini sebagai kabupaten terkaya di Indonesia. Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki cadangan batubara yang cukup besar.. Penambangan dalam (subsurfarcel deep mining).3. 2008). Terkait dengan sumberdaya alam berupa batubara.__..21 juta MT dan pada tahun 2007 produksinya mencapai 69._._.1._ keberadaan sumberdaya batubara sebagai sumber keuangan negara. Penambangan permukaan (surface/ shallow mining) . sehingga berbagai kemungkinan dampak- •-" dampak negatif tersebut dapat diminimalkan (walaupun tidak akan 100 % menghilangkan dampak) dan meningkatkan/mengoptimalkan berbagai dampak positif dalam menunjang kesejahteraan kehidupan msyarakat. penambangan dalam jalur dan penambangan hidrolik.3. 2. . 2. maka ada tuntutan dalam mewajibkan untuk dimanfaatkan secara optimal dan diamankan dari berbagai dampak negatif seperti kerusakan dan pencemaran lingkungan agar pembangunan dapat terus berjalan secara berkelanjutan (Sustainable development).. Oleh karena itu di dalam pelaksanaan kegiatan pertambangan batubara atau kegiatan sektor lainnya harus dilakukan berbagai tahapan kegiatan pengelolaan lingkungan dalam berbagai tingkatan kegiatan aktifrtas penambangan.Kartanegara.22 juta MT (Bappeda Kab. . . Mengingat . perdagangan. Kegiatan penambangan batubara dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu (Sitorus.. Metode Penambangan Batubara Kegiatan '-' pertambangan besar terutama batubara merupakan kegiatan eksploitasi sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui dan umumnya membutuhkan investasi yang untuk membangun fasilitas infrastruktur. 2000) : 1. Kutai Kartanegara.. Hal tersebut ditunjukkan oleh perkembangan produksi batubara. Kegiatan penambangan terbuka (open mining) dapat mengakibatkan gangguan seperti : .37 juta MT dan pada tahun 2006 produksinya meningkat dan mencapai sekitar 13. sosial ekonomi maupun aspek politik. Metode dan Tahap Penambangan Batubara 2. dimana pada tahun 2002 produksinya mencapai 7.

Dalam pembuatan jalan. Metode penggalian dilakukan dengan cara membuat jenjang serta membuang dan menimbun kembali lapisan penutup dengan cara back filling per blok penambangan serta menyesuaikan kondisi penyebaran deposit sumberdaya mineral. Perintisan (Pioneering) Perintisan (Pioneering) adalah kegiatan persiapan yang mencakup pembuatan sarana jalan angkut dan penanganan sarana air drainase (saluran). Menimbulkan lubang besar pada tanah.a..2. Penurunan muka tanah atau terbentuknya cekungan pada sisa bahan galian yang dikembalikan ke dalam lubang galian. (Suhala eta/. . Sistem penambangan batubara yang diterapkan oleh perusahaanperusahaan yang beroperasi di Kabupaten Kutai Kartanegara adalah sistem tambang terbuka (Open Cut Mining) .3. 1995). b. pohon-pohon kecil dan tanah maupun bongkahan-bongkahan yang menghalangi peke~aan selanjutnya..1 b. Mengganggu proses penanaman kembali reklamasi pada galian tambang yang ditutupi kembali atau yang ditelantarkan terutama bila terdapat ~ bahan beracun. Tahap Persiapan Penambangan Batubara Beberapa tahap persiapan penambangan batubara khususnya pada penambangan terbuka (open cut mining) adalah kegiatan yang dilakukan . Untuk pembuatan jalan dapat dilakukan dengan menggunakan bulldozer.. Pembersihan Lahan (Land Clearing) Pembabatan (Clearing) adalah kegiatan atau peke~aan pembersihan daerah yang akan ditambang dari semak-semak. c.. Bahan galian tambang apabila di tumpuk atau disimpan pada stock fliling dapat mengakibatkan bahaya longsor dan senyawa beracun dapat tercuci ke daerah hilir. kurang bahan organiklhumus atau unsur hara telah tercuci. d. 2._.. Iebar dan kemiringan jalan harus sesuai dengan yang direncanakan sehinggga hambatan-hambatan dalam pengangkutan material mineral dapat diatasi dan tingkat keamanan pengguna jalan lebih te~amin. ~ . sebelum penambangan yang mencakup : a.. Penambangan batubara dengan sistem tambang terbuka dilakukan dengan membuat jenjang (Bench) sehingga terbentuk lokasi penambangan yang sesuai dengan kebutuhan penambangan..

maka tiap jenjang dan lereng tanah penutup dibuat saluran drainase. kemudian batubara dikumpulkan dengan bulldozer yang memiliki blade. Penggalian dan Pemindaha Tanah Penutup (Overburden) . chainsaw. Penggalian Batubara . Kegiatan pembersihan lahan tambang dari vegetasi penutup tanah dilakukan tanpa pembakaran (zero burning).... adalah tenaga manusia seperti gergaji. truk cungkil dan penggaruk (ripper) . Pekerjaan dimulai dari tempat yang lebih tinggi (puncak bukit) dan tanah penutup didorong ke bawah kearah tempat yang lebih rendah sehingga alat dapat bekerja dengan bantuan gaya gravitasi.. Dalam penggalian lapisan penutup juga dapat digunakan bahan peledak (blasting) apabila lapisan tanah penutup cukup keras dan tidak bias dibongkar dengan alat mekanik lainnya... Batubara selanjutnya dimuat dengan menggunakan excavator untuk dimasukkan kedalam alat angkut Dump Truck HD465 dengan kapasitas 50 ton untuk diangkut keinstalasi pengolahan batubara.Peralatan yang sering digunakan untuk kegiatan pembersihan tanah tambang . Sedangkan untuk menghindari air run off dari tanah penutup di atasnya.... Pekerjaan penggalian batubara ini '---' menggunakan peralatan berupa bulldozer 085 yang dilengkapi alat garu.__. selanjutnya dilakukan penggalian batubara. Setelah batubara dibongkar. Untuk menjaga lokasi bukaan tambang batubara agar tetap kering maka di sekeliling dari lantai bukaan tambang dibuatkan saluran/parit keliling dan sumur {sump) untuk menampung air tirisan tambang dan ditampung di settling pond yang te/ah disediakan atau dapat memanfaatkan lubang bekas bukaan tambang yang belum ditutup. ... Pengupasan tanah penutup (Overburden) yang dilakukan pada lapisan tanah penutup biasanya dilakukan bersama-sama dengan land clearing dan menggunakan bulldozer dan excavator kelas V?OO sampai PC3000.. bulldozer. Vegetasi hasil pembersihan lahan dikumpulkan dan dirapikan bersama hasil tebangan pepohonan pada tempat yang telah ditentukan dan diharapkan dapat menjadi sumber bahan --~ organik. c... Setelah kegiatan penimbunan lapisan tanah penutup (Overburden) . Lapisan tanah penutup merupakan lapisan tanah atau batuan yang berada diantara lapisan tanah pucuk (top soil) dan lapisan batubara.. d.

'--" Kebijakan Pengelolaan Pertambangan Batubara di Indonesia Pilihan paradigma pembangunan yang berbasis negara (state-based resources development) mengandung konsekuensi pada manajemen pembangunan yang bercorak sentralistik dan semata-mata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. sedangkan Parotta (1993) dalam Latifa (2000)... Ada sejumlah peraturan perundangan bidang pertambangan yang berlaku di Indonesia.. menyatakan bahwa reklamasi dengan spesies-spesies pohon dan tumbuhan bawah yang terpilih dapat memberikan peranan penting dalam mereklamasi hutan tropika. Untuk mengatasi masalah tersebut maka karakteristik fisik.. mendefinisikan revegetasi sebagai suatu usaha manusia untuk memulihkan lahan kritis di luar kawasan hutan dengan maksud agar lahan tersebut dapat kembali berfungsi secara . Kondisi ini secara langsung akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Mempunyai fungsi penyelamatan tanah dan air dengan persyaratan tumbuh yang sesuai dengan keadaan lokasi.. 2._. 4.. penambahan bahan-bahan organik dan produksi serasah yang dihasilkan sebagai mulsa untuk memperbaiki keseimbangan sildus hara dalam tanah reklamasi. baik iklim rnaupun tanahnya. Mempunyai fungsi mereklamasi tanah.e.... Kendala dalam melakukan aktivitas reklamasi lahan pasca penambangan . Selanjunya Setiawan (1993) dalam Latifa (2000). kimia dan biologi tanah perlu diketahui. mengemukakan syarat-syarat tanaman penghijauan ataun reklamasi sebagai berikut: 1. Hasilnya dapat diperoleh dalam waktu yang tidak terlalu lama ... yang didukung oleh instrumen hukum dan kebijakan yang bercorak refresif.. Setiadi (1999).4.. Kegiatan ini bertujuan untuk memulihkan kondisi lahan sehingga mendekati kondisi awal sebefum penambangan dilakukan.. adalah kondisi tanah yang marginal bagi pertumbuhan tanaman... undang-undang No. . Keseluruhan peraturan ini menginduk pada sebuah .. "- 2.. Bemilai ekonomis dimasa yang akan datang dan disukai masyarakat.. 11 Tahun 1967 yang biasa disebut juga dengan UU pokok .. Reklamasi dan Revegetasi Lahan Bekas Tambang Batubara Reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang batubara dilakukan setelah penambangan dimulai pada pit tambang berikutnya. Reklamasi dengan jenis-jenis lokal dan eksotik yang telah beradaptasi dengan kondisi tempat tumbuh yang terdegradasi dapat memulihkan kondisi tanah dengan menstabilkan tanah.. 3.. normal.

PP... 8) KEPMEN Lingkungan Hidup No. baik yang diterbitkan oleh pemerintah pusat (UU. 27 tahun 1999 tentang Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) 4) KEPMEN Lingkungan Hidup No. 37/Prp/ Tahun . . 10) KEPMEN Lingkungan Hidup No.pertambangan/1967. 17 tahun 2001 tentang jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL (termasuk di dalamnya kegiatan pertambangan Batubara) 5) KEPMEN Lingkungan Hidup No. Adapun peraturan perundang-undangan A. dll) dan juga yang diterbitkan oleh pemerintah daerah propinsi dan kabupaten berupa perda-perda yang berkaitan . 51 tahun 1995 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan industri. 11 tahun 1967 tentang Pokok-pokok Pertambangan. 09 tahun 2000 tentang pedoman penyusunan AMDAL. 02 tahun 2000 tentang Panduan penilaian dokumen AMDAL 6) KEPMEN Lingkungan rencana Hidup No. UU ini dikeluarkan untuk mengganti UU No. 2) UU No 32 tahun 2009 tentang pengendalian dan pengelolaan lingkungan hid up 3) PP No. 12 tahun lingkungan 1994 tentang (RKL) dan Panduan rencana penyusunan pengelolaan pemantauan lingkungan (RPL) 7) KEPMEN Lingkungan Hidup No. Untuk mengatur pelaksanaan pengelolaan pertambangan secara formal maka telah diterbitkan beberapa peraturan yang menyangkut dan mengatur pengelolaan suatu kegiatan pertambangan.. 1998). sebuah UU pertambangan produk pemerintah kolonial Hindia-Belanda (Bachriadi. 32 tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung. 12) KEPMEN Lingkungan Hidup No. 113 tahun 2003 tentang baku mutu air limbah cair bagi kegiatan dan/atau usaha pertambangan batubara. pertambangan. 11) KEPRES No. Peraturan yang menyangkut Ungkungan : 1) UU No. Kepmen.. 08 tahun 2000 tentang keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL. 9) KEPMEN Lingkungan Hidup No._/ 1960 yang lahir sebagai pengganti lndischen Minjwet 1899. Kepres. 02 tahun 1988 tentang baku mutu udara am bien..- dengan pengelolaan tersebut antara lain .

SK Bupati Kutai Kartanegara No..K tahun 2000 tentang pedoman teknis penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum. Kutai Kartanegara No.. 3. 2. Perda Kab. dijabarkan masing-masing oleh kepala daerah sesuia dengan kondisi daerahnya dengan merujuk pada pertauran tentang lingkungan yang - lebih tinggi. lnpres No. 1211 . .188/HK-316/2003 tentang pedoman pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan pada kegiatan umum di Kabupagten Kutai Kartanegara Terkait dengan kebijakan pengelolaan pertambangan batubara. SK Gubemur Kalimantan Timur No. 693.. Perpres No.. 339 tahun 1988 tentang baku mutu lingkungan hidup di Kalimantan Timur 2.2 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Batubara yang Dicairkan Sebagai Bahan Bakar Lain . 5) Kep.. 336. pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang digunakan sebagai landasan di dalam kebijakan pengusahaan batubara. 1453. 180.. _.K tahun 1996 tentang Jaminan Reklamasi Peraturan Pemerintah Pertambangan Daerah Yang Menyangkut Ungkungan dan Peraturan pemerintah daerah menyangkut pengelolaan lingkungan dan pertambangan. Dirjen Tambeng No.. 1256. yaitu : 1. Peraturan yang menyangkut Ungkungan Pertambangan .5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.B..K tahun 1995 tentang pencegahan dan penanggulangan perusakan dan pencemaran lingkungan pada kegiatan usaha pertambangan umum - 3) Kepmentambeng No..1128 Tahun 2004. 103 tahun 1989 tentang pengawasan atas pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencanapemantauan lingkungan dalam bidang pertambangan dan energi 2) Kepmentambeng No.K tahun 1996 tentang pedoman teknis pengontrolan erosi dan sedimentasi untuk kegiatan pertambangan umum 6) Kep Dirjen Tambeng No.K tahun 1996 tentang pedoman teknis penyusunan AMDAL untuk kegiatan pertambangan dan energi 4) Kepmen ESDM No. 09 Tahun 2003 tentang pengelolaan - kualitas air dan Kartanegara. 1) Kepmentambeng No. Kepmen ESDM No. misalnya : 1. tentang Kebijakan Batubara Nasional.. pengendalian pencemaran air di Kabupaten Kutai 3.

Hal tersebut dikarenakan oleh : b) Sumber daya batubara cukup melimpah.7 miliar ton.. d) Harga batubara kompetitif dibandingkan energi lain. ~. yang dikenal sebagai Teknologi Batubara Bersih (Clean Coal Technology) . c) Dapat digunakan langsung dalam bentuk padat. yaitu 61 .- '-' - . .Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara.. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (Dep. e) Tekn61ogi pemanfaatan batubara yang ramah lingkungan telah berkembang pesat. dengan cadangan 6.. atau dikonversi menjadi gas (gasifikasi) dan cair (pencairan) .3 miliar ton.. 2006) melaporkan bahwa dalam sasaran bauran energi nasional tersebut... batubara menempati urutan pertama di dalam penggunaan energi. ESDMD.

Mengetahui dampak sosial ekonomi bagi masyarakat terkait dengan penambangan batubara di Kutai Kartanegara. 2. Hasil kajian ini sebagai salah satu bahan masukan bagi pihak Pemerintah Daerah (terutama bagi stakeholders seperti._. dan Badan Pengelola ljin Terpadu) untuk menilai dampak perusahaan batubara terhadap sosial ekonomi masyarakat dan kualitas lingkungan sehingga menjadi pertimbangan dalam pengawasan dan pengeluaran ijin penambangan batubara. Kartanegara. Menyusun strategi penanggulangan dampak pertambangan batubara yang . 2.BAB Ill TUJUAN DAN MANFAAT 3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian tni adalah: 1. Adanya strategi penanggulangan dampak sosial ekonomi dan lingkungan akibat penambangan batubara .4. peneliti mengharapkan: 1... Dinas Pertambangan dan Energi. Mengetahui dampak lingkungan akibat penambangan batubara Kutai . Bapedalda. Manfaat Penelitian - Setelah melakukan penelitian dan penyusunan laporan ini . Menemukan kondisi riil sosial ekonomi masyarakat sekitar tambang dan kondisi kerusakan lingkungan alam akibat penambangan batubara 3.1..__. 1. 3. perlu dilaksanakan oleh perusahaan pertambangan di Kabupaten Kutai Kartanegara.

merupakan kecamatan dengan tingkat kepadapat penduduk yang tinggi dan aktivitas yang cukup ramai sehingga rentan terhadap dampak dari kegiatan pertambangan batubara. 4. Kec. dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : 1. 5. Anggana Kec. Kenohan Kec. Muara Wis 13 Kec. Sebulu 16Kec. Empat kecamatan ditetapkan sebagai lokasi penelitian yaitu Kecamatan Tenggarong. Loa janan 1 7. 3. Kola Bangun Kec. Tenggarong Seberang. Lokasi penelitian disajikan pada Gambar 2. Loa Kulu. Penetapan lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) dari 18 kecamatan. 2. Kec Marang Kayu B. Muara Muntai 12Kec. Tempat dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian berada dalam wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Secara geografis. Samboja tnl 15 Kec. Peta Lokasi Penelitian Dampak Kabupaten Kutai Kartanegara Pertambangan .BABIV METODOLOGI 4.1. Kecamatan dengan jumlah perusahaan pertambangan batubara terbanyak yang beroperasi. Memiliki potensi lahan pertanian produktif yang besar namun terancam kelestariannya akibat aktivitas pertambangan yang memungkinkan dilakukan pada lahan pertanian produktif tersebut. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Pebruari sampai dengan bulan Nopember 2010. Kembang Janggut Kec.. dan Sanga-Sanga. Muara Jawa 10 Kec. Tabang '9' ~ ! s Batubara di u Gambar 2. Muara Badak 9. Kec. Muara Kaman 11 Kec. PETALOKASI PENELITIAN Keterangan 1. 2. 3. terhitung sejak penyusunan proposal penelitian sampai penyusunan draft dan revisi laporan penelitian. Kec.

dan tahap pasca operasi.4. Salah satu permasalahan terbesar dalam pemanfaatan sumberdaya alam tersebut adalah pemanfaatan sumberdaya alam tidak terbarukan terutama batubara yang memiliki nilai ekonomi yang besar dalam penyediaan energi seringkali menggeser keberadaan potensi sumberdaya alam terbarukan yang ada di atasnya. Setiap tahapan kegiatan dalam penambangan batubara dimaksud akan menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap kondisi ekonomi. Dari potensi sumberdaya yang ada. sosial dan lingkungan. Lingkup wilayah yang dimaksud adalah wilayah studi yang akan dijadikan sebagai objek kajian yang dalam hal ini adalah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan menetapkan beberapa kecamatan sebagai kecamatan sampel. Ruang Lingkup Kajian Ruang lingkup kajian tentang dampak penambangan batubara terhadap pengembangan sosial. Kerangka Pemikiran Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Timur yang memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar baik sumberdaya alam terbarukan (renewble resources) seperti hutan. tahap operasi. dan sumberdaya alam pesisir. adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam penambangan batubara yang berpeluang menimbulkan dampak baik kegiatan pada tahap pra konstruksi. Hal ini terlihat dari tingginya sumbangan sektor pertambangan dan penggalian terhadap peningkatan Produk Domestik Regional . Potensi yang besar tersebut dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk lingkup kegiatan. pertambangan batubara merupakan faktor penentu pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten Kutai Kartanegara sampai saat ini. tahap konstruksi. ekonomi dan lingkungan di Kabupaten Kutai Kartanegara secara garis besar dibagi atas lingkup wilayah dan lingkup kegiatan. lahan pertanian produktif untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan perkebunan. Penentuan kecamatan sampel dilakukan secara purposive sampel dengan pertimbangan banyaknya perusahaan pertambangan batubara yang beroperasi pada kecamatan tersebut. minyak dan gas bumi yang terdapat di daratan dan di lautan. maupun sumberdaya alam tidak terbarukan (unrenewable resources) seperti batubara.2.3. 4.

rusaknya bentang alam dan berbagai kerusakan lingkungan. Di sisi lain sektor pertambangan ~- berpotensi paling besar menimbulkan dampak sosial. ~. konflik sosial antara masyarakat dengan perusahaan. hilangnya mata pencaharian masyarakat. Kerangka Pikir Kajian Dampak Pertambangan Batubara terhadap Pengembangan Ekonomi. dan Lingkungan . pertambangan batubara juga memberikan dampak terhadap lingkungan (ekologi) yang timbul karena di sekitar lokasi pertambangan terjadi degradasi lahan.... ~ I Peningkatan PDRB dan Kesejahteraan Masyarakat ~ BATUBARA Eksploitasi Secara Besar-Besaran ... Degradasi lahan akibat pertambangan mengakibatkan penurunan kualitas sifat fisik kimia dan biologi tanah sehingga tanah pasca tambang berubah menjadi media tumbuh yang sangat jelek yang tidak mampu untuk mendukung pertumbuhan vegetasi atau tanaman.. Gambar 3. udara. Lainnya. banjir.. polusi air. terbukanya peluang berusaha. Sementara itu. sedangkan dampak ekonomi seperti terbukanya lapangan pekerjaan. Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini disajikan pada Gambar 3 di bawah ini : Potensi Sumberdaya Alam Kutai Kartanegara Sumberdaya Alam Terbarukan • I Sumberdaya Alam Tidak Terbarukan • + .. Dampak sosial yang timbul seperti tumpang tindih penggunaan lahan.. ekonomi dan lingkungan. Sosial...Bruto (PDRB) Kabupaten Kutai Kartanegara./ kebisingan .

5. variabel. sosial.4. Kajian dampak pertambangan batubara terhadap pengembangan ekonomi. Adapun tahapan penelitian ini adalah sebagai berikut : o Tahap pertama adalah mengkaji secara mendalam dampak yang ditimbulkan dari setiap aktivitas pertambangan batubara dilihat dari aspek sosial dan ekonomi o Tahap kedua adalah mengkaji secara mendalam dampak yang ditimbulkan dari setiap aktivitas pertambangan batubara dilihat dari aspek lingkungan o Tahap ketiga adalah menyusun strategi pengelolaan dampak terutama dampak negatif dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan. Penelitian dirancang dalam tiga tahapan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang menuturkan dan menafsirkan data yang berkenaan dengan fakta. Namun demikian data-data yang bersifat kualitatif diupayakan diolah menjadi data kuantitatif sehingga dapat dengan mudah diinterpretasikan dengan menggunakan kriteria-kriteria tertentu untuk memudahkan menjastifikasi besaran dampak yang terjadi. seperti dengan menggunakan nilai persentasi ataupun '--' kriteria lainnya. ~ Berdasarkan data sekunder yang berasal dari berbagai instansi /lembaga terkait akan dilakukan validasi atau verifikasi data sebagai sarana menyusun . Menurut Subana (2001 ). keadaan. maupun terjadinya kerusakan lingkungan akibat penambangan batubara. observasi. Dalam penelitian ini. mengurangi potensi konflik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.4. dan fenomena yang terjadi saat penelitian berlangsung dan menyajikan hasil penelitian secara jelas dan akurat berdasarkan dukungan data yang diperoleh secara up to date. penulis berusaha mendeskripsikan atau menggambarkan data-data yang telah diperoleh dari kuesioner. 4. wawancara dan penelusuran pustaka. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Pendekatan Penelitian Penelitian ini merupakan model pengukuran dan evaluasi terhadap dampak penambangan batubara terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. dan lingkungan di Kabupaten Kutai Kartanegara ini merupakan penelitian yang memadukan antara penelitian yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.

pemeliharaan situs-situs budaya di lokasi penambangan.5. Pendekatan Sosial-Budaya Dari sisi pendekatan sosia-budaya perlu memperhitungkan biaya manfaat sosial (social cost) pengembangan usaha pertambangan batubara terhadap masyarakat sekitar.5. Pengembangan ekonomi masyarakat oleh perusahaan melalui CSR 4. Pendekatan Lingkungan (ekologi) Dari sisi pendekatan lingkungan akan mempertimbangkan besarnya perubahan lingkungan yang akan te~adi sebagai akibat dai kegiatan pertambangan batubara. gangguan ekosistem . yaitu : 4.2. Perubahan lingkungan tersebut dilihat dari perubahan bentang lahan. besaran ganti rugi pembebasan lahan dan tanam tumbuh. Terbukanya lapangan pekerjaan 3. penurunan tingkat kesuburan tanah.1.3.alternative desain pemecahan masalah yang akan dijadikan sebagai strategi dalam mengelola dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan batubara. Kemudahan memperoleh pelayanan dalam konteks interaksi keruangan yang baru sebagai keuntungan maupun kerugian sosial yang mungkin timbul terutama menyangkut tindak sinkronnya antara batas-batas wilayah milik masyarakat. tumpang tindihnya kepemilikan lahan. Pendapatan masyarakat sekitar perusahaan pertambangan batubara 2. maupun kegiatan social lainnya dalam pengelolaan dan alokasi sumber daya tertentu yaitu pertambangan batubara oleh suatu perusahaan 4. Peluang berusaha bagi masyarakat sekitar 4. Pendekatan Ekonomi Pendekatan ini dimaksudkan untuk menilai segi-segi biaya dan manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat sekitar perusahaan dengan adanya kegiatan pertambangan batubara yang beroperasi disekitar wilayahnya. dan kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh perusahaan terhadap masyarakat yang dikelola melalui Coorporate Social Responsibility (CSR).5. Kaidah-kaidah penilaian secara ekonomis akan diterapkan untuk mengetahui sejauh mana manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat dilihat dari : 1. dan pemeliharaan sarana umum seperti pengairan. mekanisme perekrutan tenaga kerja. Secara garis besar ada tiga pendekatan yang dapat dipakai dalam penelitian ini.

dan Kecamatan Sanga-Sanga dan masyarakat pada empat kecamatan tersebut yang akan dipilih secara acak (random) yang akan dijadikan sebagai responden . Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan potensi ekonomi wilayah untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekaligus mengurangi potensi konflik dimasyarakat. Populasi dan Sample Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kecamaaan di Kutai Kartanegara yakni sebanyak 18 kecamatan. perikanan. ibu rumah tangga. dan klaster Ill. kehutanan. klaster II dengan radius 500 . 4.1500 meter dan klaster Ill dengan radius lebih dari 1500 meter. pegawai negeri dll. pedagang. Penentuan jumlah responden dilakukan dengan menggunakan metode Purposive Random Sampling secara proporsional (Walpole. pelajar. yang hampir seluruh kecamatan memiliki lokasi penambangan batubara serta seluruh masyarakat yang ada. . Sedangkan sample yang akan diambil dalam kegiatan penelitian ini adalah 4 kecamatan yakni : Kecamatan Tenggarong. Responden dalam penelitian ini dibedakan atas dua yaitu responden dari masyarakat umum dan responden kunci. Kecamatan Loa Kulu.6. 1995) dengan rumus sebagai berikut : n. klaster II. Jumlah responden dari kalangan masyarakat umum pada kegiatan penelitian ini meliputi : petani. = Dimana : n N ~ :·J n Nx n =Jumlah populasi setiap kecamatan = ukuran responden secara keseluruhan zona wilayah =Jumlah responden =jumlah populasi 4 kecamatan Adapun penempatan titik-titik sampel didasarkan pada yang akan dibagi dalam tiga (3) klaster yaitu klaster I. Kecamatan Tenggarong Seberang. dan ekowisata yang dapat dikomplementerkan dengan kegiatan lain seperti peternakan. dan peluang pemanfaatan lahan bekas penambangan batubara baik untuk kegiatan pertanian tanaman pangan. buruh.sebagai dampak dari kejadian erosi dan sedimentasi yang akan mengganggu kualitas perairan. Responden yang termasuk klaster I ditetapkan dengan radius sekitar 500 meter dari lokasi penambangan. nelayan. perkebunan.

maka variabel tersebut dapat berupa variabel dependen (terikat) dan variabel independent (variabel bebas). operasi dan pasca operasi. sosialekonomi dan budaya masyarakat a. Variabel dampak terhadap sifat fisik dan kimia lingkungan. Responden yang dipilih memiliki pengetahuan dan keahlian sesuai dengan bidang yang dikaji. atau sifat. Variabel Penelitian Secara teori. Memiliki kredibilitas yang tinggi.Sedangkan jumlah responden kunci dipilih secara sengaja (Purposive Sampling). Beberapa pertimbangan dalam menentukan responden kunci yang akan dijadikan responden. 7. Mempunyai pengalaman yang kompeten sesuai dengan bidang yang dikaji 2. Dampak tersebut dapat muncul pada setiap tahapan kegiatan pertambangan batubara mulai dari tahap pra konstruksi. kontruksi. atau atribut atau nilai dari orang. Dampak ini berupa dampak negatif dan dampak positif yang dilihat dari berbagai aspek yaitu aspek fisik-kimia (lingkungan). menggunakan kriteria seperti berikut: 1. Pada bagian ini ditentukan variabel-variabel penelitian yang dijadikan titiktitik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Memiliki reputasi. . bersedia. Berdasarkan hubungan antar variabel. antara lain : (1) Degradasi (kerusakan) lingkungan akibat pembongkaran batubara dengan metode open pit (2) Pencemaran lingkungan akibat limbah-limbah yang dihasilkan oleh aktivitas pertambangan. Adapun variabel bebas dimaksud adalah kegiatan-kegiatan atau proses berlangsungnya pertambangan batubara yang cenderung menimbulkan dampak. dan atau berada pada lokasi yang dikaji 4. Variabel terikat merupakan variabel yang besarannya tergantung dari besaran variabel independen (bebas). atau kegiatan yang mempunyai bermacam-macam variasi antara satu dengan lainnya yang ditetapkan oleh peneliti dengan tujuan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Sedangkan variabel terikat adalah dampak yang timbuk akibat kegiatan pertambangan batubara. kedudukan/jabatan dalam kompetensinya dengan bidang yang dikaji 3. definisi variabel penelitian adalah merupakan suatu objek.

tetapi hanya dideskripsikan bahwa setiap kegiatan yang ber1angsung dalam penambangan batubara akan menimbulkan dampak baik dampak positif maupun dampak negatif terhadap kondisi lingkungan.b. Artinya tidak dihitung seberapa besar terjadinya perubahan yang disebabkan oleh variabel independen (bebas) ini. yakni variabel dependen dan variabel independen. kualitas udara ambient. a. digunakan berbagai indikator. hubungan antara keduanya tidak dimasukkan dalam model staistik yang kita gunakan. Dampak yang terikat dengan tingkat pencemaran lingkungan seperti penurunan kualitas air. Variabel dampak terhadap kondisi biologi. antara lain (Wardana. SK MenLH Nomor 13 tahun 2005 dan SK Menaker Nomor 51 tahun 1999 tentang nilai ambang batas debu ditempat kerja .ekonomi dan budaya masyarakat. akan memberi peluang terhadap perubahan variabel dependen (terikat) sebesar koefisien (besaran) perubahan dalam variabel independen. dalam analisis. antara lain (1) Sikap dan persepsi masyarakat dengan adanya kegiatan pertambangan batubara (2) (3) (4) (5) Kehilangan dan terbukanya lapangan pekerjaan Terbukanya peluang usaha Konflik sosial antar mansyarakat dengan perusahaan Kegiatan Coorporate Social Responsibility (CSR) c. Variabel dampak terhadap kondisi sosial . 2004) . Untuk rnengukur besamya dampak yang muncul baik dampak positif maupun dampak negatif. Kualitas air mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan air dan pengendalian pencemaran air b. Kualitas udara mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara. dan kebisingan mengacu kepada tingkat baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan. sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. antara lain : 1. atara lain : (1) (2) Terjadinya degradasi vegetasi oleh kegiatan pembukaan lahan Terganggunya keanekaragaman hayati terutama flora dan fauna terutama yang dilindungi Dari kedua variabel di atas.

Pendapatan masyarakat diukur dari tingkat pendapatan masyarakat sebelum dan sesudah pertambangan batubara beroperasi e. Tingkat persepsi dan sikap masyarakat mengacu pada persentase sikap dan persepsi masyarakat terhadap kegiatan pertambangan batubara b. Terganggunya keanekaragaman hayati diukur dari tingkat kepadatan. Kebisingan mengacu pada Kepmen LH No. dan frekuensi kepeberadaan satwa yang ada di lokasi proyek penambangan batubara 4. Lapangan pekerjaan mengacu pada perbandingan persentase tenaga kerja yang diterima antara tenaga kerja lokal dengan tenaga kerja non lokal d. Dampak yang terkait dengan kondisi biologi : a. 3. keragaman. Metode Analisis Data 4.8. Potensi konflik sosial dilihat dari intensitas konflik yang terjadi antara masyarakat di sekitar perusahaan dengan perusahaan itu sendiri c. . Dampak yang terkait dengan tingkat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat . Laju erosi mengacu pada tingkat bahaya erosi (TBE) yang ditetapkan oleh Sitanala Arsyad tahun 2000 (Konservasi Tanah dan Air) 2. Penyediaan sarana dan prasarana. Terbukanya peluang usaha diukur dari banyaknya peluang usaha yang terbuka bagi masyarakat sekitar dengan adanya aktivitas pertambangan batubara f. Baku Tingkat Kebisingan d. Degradasi vegetasi yang terdapat di areal penambangan batubara diukur dari penurunan jumlah dan populasi vegetasi dan luas daerah pada ~ are~l yang ditambang b. 48 Tahun 1996 Tentang . a. serta bantua sosial kepada masyarakat diukur dari banyaknya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan melalui CRS (Coorporate Social Responsibity) yang ada.c.8.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian dampak pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari hasil survei langsung di lokasi studi dan hasil penjajakan dengan menggunakan kuisioner kepada responden terpilih.

Dalam pengumpulan data. Studi Literatur. serta studi literatur. potensi dan penanganan konflik sosial. Teknik pengumpulan data. penulis menggunakan berbagai teknik pengumpulan data. b. peristiwa dan aspek-aspek yang diteliti di lokasi penelitian. o o o o o LSM d. c. dokumen. ekonomi. a.8. menelaah dan menganalisa data literatur. Dinas perkebunan. Adapun penyebaran angket kepada responden berjumlah 250 responden dari 4 kecamatan yang menjadi sampel kegiatan penelitian. Dinas Pertambangan dan Energi.Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait di Kabupaten Kutai Kartanegara seperti Kantor Kecamatan dan Desa atau Kelurahan. 4. mengumpulkan data dengan mempelajari. dan lingkungan sekitar pertambangan batubara. dilakukan melalui penyebaran angket atau daftar pertanyaan yang tersedia relevan dengan masalah yang diteliti. dan wawancara mendalam kepada responden yang ditentukan dengan teknik random (acak). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuisioner. Kuisioner dimaksudkan untuk memperoleh data yang objektif terkait dengan dampak kegiatan penambangan batubara baik yang bersifat pengembangan ekonomi. Observasi ini akan dilakukan pada empat wilayah studi untuk mengetahui secara Jangsung kondisi sosial. observasi. dan dinas/instansi lainnya dalam lingkup SKPD Kabupaten Kutai Kartanegara. Observasi. dan berwenang terkait masalah yang diteliti antara lain: o Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Badan Lingkungan Hidup Daerah Kutai Kartanegara Pimpinan perusahaan pertambangan batubara Dekan Fakultas Teknik Geologi Pertambangan Tokoh Masyarakat. Dinas Pertanian. peraturan serta referensi lainnya yang .2. Wawancara mendalam (indepth interview) yaitu mengumpulkan data dan informasi dengan melakukan wawancara secara langsung berdasarkan pedoman yang telah disusun sebelumnya dengan pihak yang berkompeten _. Bappeda. yaitu suatu teknik pengumpulan data dan informasi yang dilakukan dengan cara pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala. Kuisioner. maupun ancaman kerusakan lingkungan.

Observasi lapangan dilakukan untuk mencocokkan beberapa data yang diperoleh dari hasil studi literatur dengan kenyataan yang terjadi di /apangan. dan lingkungan. dan penyebaran kuisioner. a. diperlukan antara lain: ~ ~ ~ Data BPS Kutai Kartanegara Data Dinas Pertambangan Kutai Kartanegara Data BLHD Kutai Kartanegara Data Bappeda Kutai Kartanegara ~ 4. ekonomi. Data kualitatif dan kuantitatif akan dianalisa melalui pendekatan isi dan ~-- kedalaman persentase. meliputi : 1. mengenai data kondisi sosial ekonomi. Sedangkan data kuantitatif akan dikategorikan.3._. menggunakan rumus: r AK TPAK=----X 100% r PUK . observasi lapangan. Analisis deskriptif dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai informasi terkait kegiatan pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara dan dampaknya terhadap masyarakat sekitar baik dampak sosial.erat kaitannya dengan masalah yang diteliti. Teknik Pengolahan Data Dalam studi ini menggunakan metode deskriptif. Analisis deskriptif (Deskriftive Analysis) diartikan sebagai ana/isis untuk menje/askan dan menggambarkan suatu kondisi dari objek yang dikaji. Sedangkan penyebaran kuisioner di/akukan untuk menjaring informasi dari masyarakat terutama persepsinya dalam kegiatan pertambangan batubara di wilayahnya dan dampak yang ditimbulkannya.8. diklasifikasi dan diolah sebagai dasar pengukuran dan analisis untuk memberikan penjelasan dan penilaian terkait dengan dampak penambangan batubara di wilayah Kutai Kartanegara baik yang bersifat pengembangan sosial-ekonomi masyarakat maupun yang bersifat ancaman kerusakan lingkungan. Data sekunder yang diperoleh akan dijadikan sebagai data menganalisa dampak penambangan batubara di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. menterjemahkan suatu fenomena berdasarkan standar b. Adapun buku literatur yang . Untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan digunakan metode triangulasi yang merupakan perpaduan antara studi literatur. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). serta strategi pengelolaan dampak.

. Metode Pengumpulan data. KIMIA I so2 I ppm Parameter Metode Analisis Gravimetri Gravimetri Secchi disk Spektrofotafinetri Gravimetri I I 1 I Pararosanilin . Kualitas perairan menggunakan metode analisis laboratorium yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah No.. analisis data sosial. namun untuk memperoleh data tersebut. seperti pada Tabel 1..- Peralatan Analisis Data Tabulasi dan Grafikltabel -- Kuisioner/ daftar is ian .--. 2 3 4 5 7 Satuan I. Kesempatan Kerja (KK) menggunakan rumus : KK = r.- Untuk karakteristik lingkungan dan komponen biologi. dengan parameter fisik dan kimia kualitas air seperti pada Tabel2. PRT X 100% AK 3. Metode pengumpulan data.. menggunakan berbagai -- macam metode analisis. Fisika Residu Terlarut (TDS) mg/1 Residu Tersuspensi (TSS) mg/1 NTU Kekeruhan TCU Wama mg/1 Debu II.. Daftar parameter fisik dan kimia lingkungan perairan No. analisis data social dan ekonomi Parameter Sikap dan Persepsi Metode Pengumpulan Data Observasi. Sikap dan persepsi masyarakat di sekitar perusahaan di lakukan survey lapangan dengan melakukan wawancana dan pengisian kuisioner terhadap responden sampel. Pendapatan per kapita ( PPK) menggunakan rumus : PPK Keterangan : AK = Angkatan Kerja (PUK yang bekerja dan mencari pekerjaan) PUK Penduduk Usia Ke~a (Penduduk berusia 15 tahun ke atas) PRT Pendapatan rata-rata per rumah tangga ART = Rata-rata jumlah anggota rumah tangga (RT) '-- =--ART = = 3... Tabel 1.-.2... Tabel 2.. wawancara. AK yang bekerja r. antara lain : 1.82 tahun 2001 ..-. walaupun hanya didukung dari data sekunder dari perusahaan batubara yang melakukan proses analisis. dan pengumpulan data sekunder ---. .

-

2 No. 3 4 5 6 12 13 14 15 16 19 21 22 23

N02 Parameter HC co NH 3 Ph BOD COD DO TotaiPhospatsebagaiP Nitrat sebagai N Nitrit sebagai N Fecal Coliform Total Coliform Minyak dan Lemak

mg/1 Satuan ppm ppm mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 MPN/100 ml MPN/100 ml
IJQ/L

Spektrofotometri Metode Analisis Flame Ionization NDIR Spektrofotometri Potensiometri Titrimetri Titrimetri Titrimetri Spektrofotometri Spektrofotometri Spektrofotometri MPN atau Filtrasi MPN atau Filtrasi Spektrofotometri

Sumber : Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Kab. Serang, 2007 .

2. Kualitas Udara dan Kebisingan. Analisis kualitas udara dilakukan dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara, sedangkan kebisingan diukur dengan menggunakan metode pembacaan skala pada alat sound level meter. Adapun metode analisis data untuk kualitas udara dan kebisingan seperti pada Tabel3. Tabel3. Metode Pengumpulan Data, Analisis Data, dan Parameter Komponen Kualitas Udara dan Kebisingan No.
~

Parameter

Satuan

Metode Pengumpulan Data Analisis Data Analisis Lab Analisis Lab Analisis Lab Analisis Lab Kebisingan Pengukuran Langsung Pararosanilin NDIR Saltzman Gravimetric Pembacaan Skala

Peralatan

A

1.

Kualitas Udara Ppm so2 Ppm co Ppm NOx Ug/m3 Debu Kebisingan dB (A)

B

Sound Level Meter

3. Erosi Tanah diukur dengan menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss '""' Equation) oleh Weischmeir W. H dan Smith (1978) dengan rumus: A=RxKxLxSxCxP

Dimana :

A = Dugaan erosi tanah (ton/ha/tahun R = lndeks erosivitas hujan K = lndeks Erodibiltas tanah L = Faktor Panjang lereng S = Faktor kemiringan lereng C = Faktor pengelolaan tanaman P = Faktor konservasi tanah

4. Beban sedimen diukur dengan menghitung besamya sedimentasi yang
te~adi

dengan menggunakan rumus :

...._,

as= 0,0864 X a XC
Dimana : Qs = Beban sedimen (ton/hari) C =Rata-rata sedimen (mglliter)

a

=Debit aliran air (m3/detik)

5. Vegetasi/flora darat dihitung dengan menggunakan lndeks Nilai Penting (INP) yang merupakan penjumlahan relatif dari ketiga parameter, yaitu : a. Kerapatan relatif (KR) =
~ ~

K~rapatan

dari suatu jenis

x 100 %

Kerapatan seluruh jenis b. Frekuensi relatif (FR) = Frekuensi dari suatu jenis Frekuensi seluruh jenis c. Dominasi Relatif = Dominasi dari suatu jenis Dominasi seluruh jenis x 100 % x 100 %

........

4.9 Pembentukan Tim Peneliti
Tim Pengarah 1. Kementerian Negara Riset dan Teknologi Deputi Sipteknas 2. Pit. Kepala Balitbang Depdagri Tim Peneliti 1. Dr. lr. lnce Raden, MP 2. Dr. lr. Thamrin, MP 3. M. Soleh Pulungan, S.Pd., MH 4. Moh. Dahlan, SE, M.Si : Ketua merangkap anggota : Anggota : Anggota : Anggota

r
\

,
\

32

Tabel 4. Jadwal Kegiatan Penelitian

No.
I.

Kegiatan
PERSIAPAN 1. Penyusunan TOR dan Studi Literatur 2.Koordinasi dengan lnstansi Terkait 3.Rapat-Rapat Tim PELAKSANAAN 1. Pengumpulan Data/Observasi 2.Tabulasi Analisis Data 3.Penyusunan Laporan Awal PENYUSUNAN LAPORAN AKHIR 1. Penyusunan draft Laooran 2.Revisi Laporan 3. Evaluasi dan Diskusi 4. Seminar dan Revisi Laporan Akhir

2

r-

...

II

- .. •• ..

3

4

5

6

BULAN 1

8

9

10

11

.
"Ia

Ill

• •

. .

-•

I

BABV HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data hasil observasi, survey, dan wawancara sebagai data primer dan data sekunder dari berbagai sumber untuk mengkaji berbagai dampak yang ditimbulkan oleh keberadaan aktifrtas perusahaan pertambangan, diperoleh hasil analisis berbagai dampak di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan akibat kegiatan pertambangan di Kabupaten Kutai Kartanegara. Adapun dampak tersebut diuraikan di bawah ini

5.1 Dampak kegiatan pertambangan terhadap ekonomi masyarakat

Berdasarkan hasil kajian ditemukan bahwa kehadiran perusahaan batu bara di wilayah Kutai Kartanegara membawa dampak positif di bidang ekonomi diantaranya dapat meningkatkan pendapatan per bulan masyarakat sekitar pertambangan. Hasil analisis pada Tabel5 menunjukkan bahwa sebelum adanya usaha pertambangan penghasilan per bulan penduduk tertinggi (57.14%) berkisar Rp. 1000000 s/d 2000000, setelah adanya usaha pertambangan terjadi peningkatan penghasilan per bulan penduduk setempat yaitu Rp 20000003000000 (33.75 %), 3000000-4000000 (11,87 %), dan di atas 4000000 (8.12%). Data tersebut memberikan indikasi bahwa terjadi pergeseran pendapatan penduduk sekitar usaha pertambangan yang tadinya terkonsentrasi pada nilai satu s/d dua juta per bulan terdisribusi ke tingkat yang lebih tinggi. Tabel5. Pendapatan per bulan sebelum dan sesudah ada perusahaan tambang batubara NO Pendapatan per bulan (Rp) Penghasilan Per Bulan (%) Sebelum Sesudah 1.78 8.12 4.76 11.87 14.28 33.75 57.14 35.62 16.07 10.00 2.38 0.62 3.57 0

> 4,000,000 1 2 3000000-4000000-3 2000000-3000000 1000000-2000000 4 500000-1 000000 5 < 500000 6 7 Pengangguran Sumber data diolah dari kuesioner 2010

·-

Peningkatan pendapatan temyata berkorelasi positif dengan rata-rata pengeluaran per bulan masyarakat sekitar pertambangan batubara. Berdasarkan

. Plant Manager Finance & Administrasi Manager Secretary 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jumlah : K3 dan Coorporate Social Responsibity (CSR) HRD Accountant Administration Personil Information Tech..hasil penelitian (Tabel 6) menunjukkan bahwa ada kenaikan pengeluaran (belanja) yang dilakukan oleh penduduk setempat.-- . Salah satu contoh kasus berikut ini disajikan salah satu contoh jumlah kebutuhan tenaga kerja yang akan direkrut oleh salah satu perusahaan batubara yaitu PT.403..642. Anggana Coal yang berioperasi di Kecamatan Loa Kulu . teknis operasional dan tenaga kerja pendukung.-----. 14..55 Peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh adanya penerimaan tenaga ke~a yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendukung kegiatan operasional.000 1.. Deskripsi K~butuhan Tenaga Kerja Jumlah (orang) A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 B 1 2 3 4 5 B 6 7 Manajemen Project Manager Mine Manager Plant & Machinery Manager Mine Operation Manager Safety Manager Marketing Manager Coal Prep. Pengeluaran setiap bulan sebelum dan sesudah ada perusahaan Rata-rata pengeluran sebelum dan sesudah ada perusahaan (Rp) Sebelum Sesudah Kabupaten % Kutai 1.. Kebutuhan Tenaga Kerja PT. Anggana Coal untuk Operasional Tambang Batubara di Kecamatan Loa Kulu No. dengan data sebagai berikut : Tabel7. Kabupaten Kutai Kartanegara.. Engineer Staff K3 -----.... teknis tambang.- 9 2 2 3 1 1 9 1 1 1 6 1 8 9 10 K3danCoo rate Social Res nsibi Staff Community Development/CSR Staff Lingkungan Secretary Security Guard T enaga Medi~{dokter) ~----..55 % Tabel6. meliputi tenaga managerial..··--.000 KartaneQara Sumber data yang dioleh dari kuesioner 2010 ~ 14....

sebesar: '---' ...-- 151 Sumber : PT. F 1 2 3 4 5 6 G 1 2 4 2 3 4 12 27 1 4 4 1 1 4 15 I I 2 3 4 5 6 L__ ..435 jiwa dan jumlah pengangguran sebanyak 871 jiwa.... maka tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK). Diketahui jumlah penduduk usia 16 ....... PT....55 tahun di sekitar lokasi perusahaan sebanyak 5........ Anggana Coal.) 11 Paramedis (perawat) Jumlah : Perencanaan dan Enggineering Mine Engineer Safety Personil Projek Engineer Geologist Computer Analist Technical Drafting Surveyor Secretary Clerk/Helper Surveyor Jumlah : Administrasi dan Keuangan Accounting Staff Secretary Clerk Jumlah : Operasi Production Surveyor Foreman Heavy Equipment Operator Ugh Equipment Operator Cheker Jumlah : Perawatan Dan Logistik Engineer Mechanics Electrician Welder Parts Counter Unskilled Laborer Jumlah : CPP Kepala Bagian Teknisi Staff adminsitrasi Enggineering dan Analist Quality Control Helper Jumlah : Jumlah Total : c ' 2 12 2 3 1 1 1 1 2 1 2 14 1 1 1 3 1 3 44 10 6 65 I D 1 2 3 .- E 1 2 3 4 5 .. 2010 Operasiona/ penambangan batubara. Anggana Coal membutuhkan .. lni berarti akan memberikan kesempatan kerja kepada penduduk lokal.}.. tenaga kerja sebesar 151 orang..

02% Karena PT.. Anggana Coal akan mengurangi tingkat pengangguran atau memberikan kesempatan kerja (KK) bagi penduduk lokal sebesar : 871 .meningkat menjadi . Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan terhadap pendapatan masyarakat setelah ada aktivitas pertambangan batubara menunjukkan adanya peningkatan secara umum dari pendapatan sekitar sekitar .± Rp 1. maka PT.X 100% L PUK Dimana: AK = Angkatan Kerja (PUK yang mencari pekerjaan) PUK = Penduduk Usia Kerja (Penduduk berusia 15 tahun ke atas) Maka : 871 TPAK= X 100% 5.000.000..121 X 100% = 0.000.02%-13.. maka tingkat pendapatan perkapita (PPK) masyarakat di sekitar tam bang batubara sebesar : PRT PPK = ART '--"' .1601 KK= 5..000.435 =0..1379 = 13.J berpengaruh pada tingkat pendapatan perkapita keluarga pekerja tambang .23% Perekrutan masyarakat lokal untuk bekerja di pertambangan batubara diharapkan akan meningkatkan pendapatan mereka yang pada akhimya akan . Anggana Coal merekrut tenaga kerja sebanyak 151 orang dengan asumsi bahwa 80 % atau sebanyak 121 orang tenaga kerja berasal dari tenaga kerja lokal yang belum bekerja._.79% Dengan demikian kesempatan kerja (KK) = 16...± Rp 2. .~ ~- L AK TPAK = .- Dengan jumlah anggota keluarga rata 3 orang per kepala keluarga (KK).__.79% = 2.435 = 16.

11 7. dan warung makan adalah 3 peluang ..666.26 % responden menjawab bahwa kehadiran perusahaan membuka peluang usaha bagi penduduk setempat.34 2.76% I Tidak tahu Sumber data yang dioleh dari kuesioner 2010 c.18 6. Tabel8.48 5.83 18.76 11 .Jl Dimana : PRT ART =Pendapatan rata-rata per rumah tangga = Rata-rata jumlah anggota rumah tangga (RT) PPK .__ usaha yang paling dominan yang dilakukan oleh masyarakat secara berturutturut presentasenya 20. 666. dan 15.97% 8.33 20.__ = --------3 Rp. Peluang usaha yang dapat dikembangkan masyarakat akibat adanya perusahaan A. peningkatan penghasilan per bulan yang diterima oleh masyarakat disebabkan pula oleh adanya peluang usaha bagi masyarakat yang berada disekitar aktifitas pertambangan.. Berdasarkan data-data aktual tersebut menyebabkan 51 . rumah sewaan.33 %.76%.. 19. a b c d e f g h i j k Peluang usaha yang dikembangkan Warung Makan Warung Sembako ~ B. Counter Pulsa Berdagang hasil pertanian (sayuran/buah-buahan) Rumah sewaan/kontrakan Jasa katering perusahaan Bibit penghijauan Jasa pencucian pakaian I Laundry Usaha isi air ulang Usaha petemakan Jasa angkutan karyawan Tidak ada peluang usaha 72.76% responden (Tabel9) memberikan jawaban bahwa keberadaan perusahaan pertambangan di wilayah Kutai Kartanegara memberikan kondisi ekonomi yang lebih baik kepada ~ . 2000. Berdasarkan data Tabel 8 menunjukkan bahwa 72. Warung sembako.55 5.11 2.38 19.000 = Rp.26% 15.(Enam Ratus Enam Puluh Enam Ribu Enam Ratus Enam Puluh Enam Rupiah per kapita) Selain faktor adanya penyerapan tenaga kerja lokal yang beke~a di perusahaan ..48 %.87 3.

..41 14..... Peningkatan konflik ini yang tadinya terbesar masuk dalam kategori tidak pemah (52. Secara asosiatif terjadi asli) dan secara disosiatif juga terjadi persaingan dan konflik Dampak positif yang ditunjukkan oleh bidang ekonomi akibat adanya usaha pertambangan ternyata berbanding terbalik dengan dampaknya di bidang sosial. 4-5 kali setahun . Tabel10.12 4.74 22.15 22.37 28. Tabel9.37 %) dan sangat sering (12.57 %) setelah adanya aktifitas pertambangan di wilayah Kutai Kartanegara.69 12.. Dampak kegiatan pertambangan terhadap kehidupan sosial masyarakat Kajian darnpak keberadaan perusahaan pertambangan batubara terhadap kehidupan sosial masyarakat diarahkan ke bentuk proses sosial yang terjadi di masyarakat Kutai Kartanegara..98 13. ke~asama dan akomodatif antara suku pendatang (yang bekerja diperusahaan dengan suku (14.69%) dan pemah (1 kali dalam setahun) meningkat menjadi 2-3 kali setahun (28.masyarakat Kutai Kartanegara dibandingkan sebelum ada aktifitas pertambangan.15 i I Sumber data yang dioleh dari kuesioner 2010 Konflik antara masyarakat dan masyarakat dengan perusahaan sebagian besar dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat sekitar dengan masalah limbah (28.77 25. ..74 52.. Pengaruh kehadiran perusahaan batubara terhadap konflik NO a b Kejadian konflik antara masyarakat dan perusahaan Sangat sering Sering (4-5 kali setahun) Kadang-kadang (2-3 kali setahun) Pemah (1 kali) Tidak Pernah Persentase (%) Sebelum Sesudah c d e 1...57 14..2..74 %). Data pada Tabel 8 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan konflik sebelum dan sesudah adanya usaha pertambangan.76 29..71 c d Sumber data yang dioleh dari kuesioner 2010 5.65 %) yang dikelolah oleh perusahaan sehingga keberadaanya mengganggu .79 5. Kondisi ekonomi masyarakat akibat adanya perusahaan batubara NO a b Kondisi ekonomi masyarakat Lebih baik Sarna saja Lebih buruk Tidak tau % 51.

34 % (Tabel 12) diikuti oleh kegiatan keagamaan (22.91 '-' '-- '-- .65 8.38 %).07 %). Tabel12.38 Baik 7. Masalah tenaga kerja lokal a Masalah ganti rugi lahan dan tanaman b Masalah tumpang tindih lahan c Masalah limbah d Masalah pemberdavaan masvarakat (Comdev) e Tidak tahu f Sumber data yang dioleh dari kuesioner 2010 .... yaitu 31 . Perubahan prilaku gotong royong akibat kehadiran pertambangan batubara ~ NO a b c ..34 Baik 22... Rendahnya jumlah tenaga ke~a lokal yang diterima bekerja di perusahaan (26... Tabel11.59 6... Penyebab terjadinya konflik antara masyarakat-peruahaan Penyebab konflik antara masyarakatperusahaan No.. Disisi lain..89 Baik 31...59 .46 Baik 17..J7 sumber air minum dan kebutuhan mencuci.. % 26.07 18. meningkatnya jumlah penghasilan per bulan semakin mendorong masyarakat untuk ikut serta memberikan sumbangansumbangan untuk membiayaan kegiatan-kegiatan sosial.46 28..62 11. d e Prilaku gotong royong dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial Kematian Kerja bakti Kegiatan keagamaan Sumbangan sosial mas}'arakat Siskamling Pengaruh adanya perusahaan Sebelum Sesudah Baik 20.. kehadiran perusahaan batubara di Kutai Kartanegara juga mempengaruhi prilaku gotong royong terutama partisipasi masyarakat dalam mengikuti kerja bakti mengalami penurunan paling besar. ~ Waktu kerja di perusahaan batubara sejak pagi hari sampai sore hari bahkan adanya kerja lembur adalah sebagai pemicu keikutsertaan masyarakat untuk kegiatan kerja bakti te~adinya dampak menurun semakin (berdampak negatif).62%) milik masyarakat sekitar proyek eksploitasi pertambangan --- sebagaimana disajikan oleh Tabel11 . Selain membawa dampak terhadap meningkatan konflik di masyarakat. Kondisi tersebut.. berbanding terbalik dengan sumbangan masyarakat untuk kegiatan sosial semakin lebih baik. dan masalah ganti rugi lahan dan tanaman (18...

.98 %) dan peningkatan kebisingan (15. Dampak kegiatan pertambangan terhadap lingkungan Kegiatan pertambangan di wilayah Kutai Kartanegara membawa dampak ...7 13...95 %) kemudian diikuti lebih buruk 31 . Kerusakan lingkungan akibat adanya aktifitas pertambangan batubara No... merupakan dampak yang memiliki persentase tertinggi... Jika dikaji lebih mendalam.. rusaknya jalanan umum akibat mobilisasi bahan dan peralatan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dan '-- ~ .. Tabel14.__ 5. Perubahan kondisi sosial masyarakat '-- No a. G % 19. Kondisi kerusakan lingkungan Air sungai menjadi keruh Penyebab te~adinya '--' B banjir c D E Terjadi Peningkatan debu Peningkatan kebisingan Masuknya limbah tambang ke Jahan pertanian Rusaknya jalanan umum Adanya lubang tambang tanpa ditutup F . yaitu keruhnya air sungai.44 38...39 c D 9.3..... Kemudian diikuti terjadinya peningkatan debu (18..19 13..19% yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan batubara .39% sebagaimana disajikan pada Tabel13.. B Perubahan kondisi sosial Lebih baik Sarna saja Lebih buruk Tidak tau % 17.... ke tiga dampak negatif ini langsung dirasakan oleh masyarakat akibat dari aktifitas pertambangan di Kutai Kartanegara. persentase kondisi kerusakan lingkungan yang lainnya juga mendapatkan penilaian yang tinggi dari masyarakat diantaranya ekploitasi batubara membawa dampak terhadap terjadinya banjir..68 i • i • ' Sumber data Primer 2010 ..53 8... Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa persentase menurunnya kualitas air..95 31 .. ..53 18. negatif terhadap lingkungan.... Tabel13. ~ masuknya limbah tambang ke lahan pertanian.....35 %) sebagaimana disajikan pada Tabel14. A . yaitu 19.35 10.98 15. batubara kondisi sosial masyarakat sama saja (38.88 ...~v Akan tetapi pada saat responden diperhadapkan dengan pertanyaan kondisi sosial masyarakat secara keseturuhan sebagian besar memberikan jawaban bahwa kondisi sebelum dan sesudah ada perusahaan pertambangan .

. Berdasarkan struktur geologi... bentuk dan karakteristik lapisan batubara serta lapisan penutupnya (kedalaman tanah penutup) di Kebupaten Kutai Kartanegara.. Perubahan . selanjutnya dilakukan .. pertambangan yang dilakukan secara terbuka (opened mining) ini.. menggali tanah dibawahnya. akan membuka vegetasi/pohon-pohonan . erosi dan sedimentasi tanah .. Untuk memperoleh bijih tambang.. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Zulkiflimansyah (2007) yang menyatakan bahwa pertambangan batu bara membawa dampak negatif terhadap pencemaran air..__. Apabila terdapat lapisan batuan yang keras pada saat pengupasan tanah penutup ini.. Pengupasan tanah pucuk dilakukan pada lahan yang potensial untuk dilakukan penambangan dengan menggunakan bulldozer. maka . pengupasan tanah penutup (overburden I sub soif) yang terletak di atas lapisan batubara._ "--' ini terjadi oleh aktivitas pengupasan tanah pucuk (top soif) dan tanah penutup (sub soif). Kegiatan penambangan batubara secara terbuka tersebut temyata berdampak terhadap perubahan bentang alam dari kondisi asalnya.. maka pengupasannya dilakukan dengan bantuan peledakan (blasting) untuk menghancurkan batuan yang keras dan selanjutnya ditimbun pada tempat penimbunan tanah penutup yang telah ditentukan dan nantinya akan dikembalikan pada lubang bekas penambangan pada saat kegiatan backfill. Selanjutnya Suhada et a/.dan bentang alam serta meninggalkan lubang-lubang besar bekas galian tambang. Tanah tersebut selanjutnya diangkut dan ditimbun pada tempat yang telah dtentukan (top soil area) dengan menggunakan truck. Tanah pucuk yang dikupas sedalam lapisan top soil yaitu sekitar 50 em dari permukaan tanah .. Setelah dilakukan pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup. . (1995) menyatakan bahwa pertambangan batubara membawa dampak negatif terhadap lingkungan karena merubah topografi. Setelah dilakukan pengupasan tanah pucuk. dump truck yang dibantu Kegiatan dengan bulldozer sebagai alat garu dorong material galian. permukaan tanah dikupas dan digali menggunakan alat-alat berat seperti buldoser dan backhoe yang memberikan peluang yang besar terhadap munculnya dampak negatif terhadap lingkungan.. menunjukkan bahwa metode penambangan batubara yang memungkinkan dapat diterapkan adalah sistem tam bang terbuka (open pit) dengan menggunakan peralatan seperti backhoe..adanya lubang tambang yang tidak dapat ditutup kembali oleh perusahaan.. pertama kali . dan meninggalkan lubang-lubang besar di permukaan bumi..

_ _.._ perusahaan yang sedang beroperasi seperti pada Gambar 5 dan Gambar 6 .... Setelah deposit batubara .selanjutnya dilakukan kegiatan pembongkaran batubara sesuai dengan rencana produksi yang telah ditetapkan._ ~/ ... Revegetation QIV _ _ / CJIIV" Cool Houcng =- -. Adapun rangkaian penambangan batubara secara umum dapat dilihat seperti Gambar 1 di bawah ini. menunjukkan bahwa pembukaan tanah pucuk dan tanah penutup..... kemudian diangkut keluar dari lubang tambang.. Pembongkaran batubara dilakukan dengan contour mining dimana teknik penggaliannya dimulai dari elevasi paling tinggi ke elevasi paling rendah sampai pada kedalaman batas penambangan yang telah ditentukan.__.• . J D. .~ ~ Gambar 4. .. Adapun kondisi bentang lahan dari aktivitas penambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara oleh salah satu ~ .. selanjutnya dilakukan reklamasi lahan dengan mengembalikan tanah pucuk dan tanah penutup dengan cara backfill untuk menutupi lubang tambang bekas penambangan . serta pembongkaran batubara sangat berpengaruh terhadap perubahan bentang Jahan dari kondisi aslinya yang terbentuk secara alami selama ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.. terangkut keluar. Rangkaian Kegiatan Penambangan Batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara Berdasarkan rangkaian kegiatan penambangan batubara sebagaimana diuraikan di atas serta pada Gambar 4. ~ lfr ...

.. Ketika mening~alkan ._...__... .___ .qj ~ .. terutama berkaitan dengan kualitas dan kuantitas air. selesai beroperasi.. Dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dimiliki oleh setiap perusahaan pertambangan batubara.. '-' .. .. Lubang-lubang itu berpotensi menimbulkan dampak lingkungan jangka panjang. Gambar 5. perusahaan tersebut lubang-lubang raksasa di bekas areal pertambangannya..._. Gambar 6. Kegiatan pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara yang secara keseluruhan dilakukan dengan cara tambang terbuka (open pit)... ditekankan bahwa lubang-lubang tambang yang dihasilkan dari aktivitas penambangan batubara ini harus ditutup melalui kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan.. Pematangan Bentang Lahan pada Lahan eks tambang batubara . Kondisi Bentang Lahan setelah Dilakukan Penambangan Batubara . Namun demikian...

.472.933.759.98 2.40 1.35 1.50 971.758.60 151 .00 21 . sehingga perlu mencari tambahan tanah penutup yang berasal dari lahan-lahan lainnya yang ada di sekitarnya. 786.00 99.960.598.982 .610.'"t'"t kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan tersebut sangat sulit dipenuhi oleh perusahaan untuk menutup lubang tambangnya 100 % yang disebabkan kekurangan tanah penutup akibat deposit batubara yang terangkut keluar dari lubang tambang.08 799..35 972.389.100.. Cadangan 8atubara dan Rencana 8ukaan Tanah (Overburden) PT.80 75.. Anggana Coal.300.00 45..00 40.523.00 85.00 MT dan dihasilkan overburden (08) sebesar 21 .985.32 1.515.548.16 1.229..400. 8erdasarkan data ekplorasi seperti di atas.00 28.10 40.25 8CM.946. jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tanah penutup yang digunakan untuk menutup kembali lahan bekas penambangan.745.00 22.000.00 2.310 .673.271 .65 1.00 1.40 21 .402. 42.00 61.891 .90 119..389.398.771 .894.357.592. Dari data tetsebut.723. diperkirakan OB yang ada tidak mencukupi untuk menutup lubang tambang secara keseluruhan ..00 154. Untuk mengetimasi cadangan batubara dan rencana bukaan tanah.702.338.500.00 8 9 10 11 12 Jumlah i Sumber : PT.82 2.00 63.00 72.147. .420.000.80 52.831 .254.00 91 . Anggana Coal di Kecamatan Loa Kulu dan Kecamatan Sebulu PIT/Seam Luas (mz) Overburden (BCM) Coal (MT) 3 4 48 481 481 482 483 5 6 7 .50 1.382.25 61 .40 98.00 238.442 .00 919.20 44.65 1.539.186..70 104.99 602.804.60 1:494.182.114..00 185.071 .534. .272.00 46..361.881 .515.746.593..380..00 264.046 .746.80 162.00 132. diketahui cadangan batubara terukur sebesar 1. 2010.610.402.70 64.00 98..784.393.982.. Tabel 15. berikut ini disajikan data sekunder salah satu perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Kutai Kartanegara.

sekitar untuk usaha pembudidayaan ikan dan sarana air irigasi. Namun demikian... . Gambar 7. ..._... Potensi bahaya akibat rembesan ke dalam air tanah seringkali tidak terpantau akibat lemahnya sistem pemantauan perusahaan-perusahaan pertambangan tersebut... . sejalan dengan komitmennya pengendalian dampak lingkungan sebagaimana yang tertera dalam dokumen . terutama berkaitan dengan kualitas dan . Mereka dalam meninggalkan areal bekas tambang tanpa melakukan rehabilitasi dan/atau lahan._. Salah satu Lubang Besar Bekas Penambangan Batubara yang belum Direklamasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Lubang-lubang bekas penambangan batubara berpotensi menimbulkan dampak lingkungan jangka panjang.. dengan pemberian koagulan untuk meningkatkan kualitas air tercemar pada lubang tambang bekas penambangan batubara. lubang-lubang sehingga tambang tidak yang besar (8..... . Air lubang tambang mengandung berbagai logam berat yang dapat merembes ke sistem air tanah dan dapat mencemari air permukaan dan air tanah.68%)..__ kuantitas air.. maka lubang-lubang tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat -.4) Hasil kajian di lapangan menunjukkan bahwa pada umumnya perusahaan ~ pertambangan batubara yang beroperasi di Kabupaten Kutai Kartanegara meninggalkan reklamasi AMDAL..

.392. Normal Normal Normal KIM lA pH mg/1 6.107.5 327 . Sungai Separi Kiri I (Hulu). TSS. Kayan Putra Utama Coal No Parameter Satuan BML Pengamatan 1 FISIK '-' 2 3 4 Suhu Kekeruhan TSS '--' oc NTU mg/1 mg/1 Deviasi 25 50 1500 27.5 3. Hasil Analisis Kualitas Air di Sekitar Lokasi Tambang PT._.2 15 75 Tdk bau Normal 37.03 30.78 5.. Hasil analisis beberapa par-ameter kualitas air di sekitar perusahaan "--' pertambangan batubara PT.3 1. TDS..8 TDS Bau - - Rasa .5 1.093.0 5. Arzara Baraindo Energitama dan PT.59.50 5. dan Sungai Separi Kiri (Hilir} dengan parameter seperti kekeruhan. sarana dan prasarana penunjang lainnya mempercepat aliran permukaan (run-off) yang membawa material-material atau bahan-bahan pencemar masuk ke dalam badan air di sungai Mahakam dan anak-anak sungainya serta sumur-sumur penduduk yang berdekatan dengan areal penambangan pada saat terjadi hujan lebat. Arzara Baraindo Energitama dan PT.92 29.5 1. sangat mengkhawatirkan akibat kerusakan lingkungan yang salah satunya disebabkan oleh kegiatan pertambangan batubara di sekitarnya yang dilakukan secara terbuka.78 .. Adapun "--' hasil analisis parameter kualitas air tersebut seperti pada Tabel14 Tabel16. Sungai Separi Kiri II (Hulu). Kayan Putra Utama Coal di Kecamatan T enggarong seberang memperlihatkan data kualitas air sumur penduduk. Keruhnya air sungai Mahakam beserta anak-anak sungainya sudah . COD....40 __.6 26... BOD. Fe dan mangan telah berada di atas baku mutu lingkungan. Kegiatan pembukaan dan pembersihan lahan tambang serta aktivitas lainnya seperti pembangunan jaringan jalan tambang. pH.52 6..671 .65 28..

. Kec Tenggarong Seberang (2) Sungai Separi Kiri Hulu I (3) Sungai Separi Kiri Hulu II (4) Sungaoi separi Kiri (Hilir) '--" '-' .67 0..5 0.60 1.002 ttd 11.003 5.40 11.43 0.011 Ttd 0.71 6..19 Ttd 0.65 0.02 0.075 0.24 ttd 1.71 3.009 8.1 15 0.13 0.5 1 10 500 400 600 0.005 0.09 157..5 0.74 8.95 115.325 ttd 0.034 Ttd 0.94 6.03 4.01 1.064 0.18 '-' Klorida (CI) Besi (Fe) Mangan (Mn) '--" 3.256 Ttd 0.99 191.013 0.05 0.35 4...32 Ttd 1.42 0.003 Ttd Seng (Zn) Kadmium (Cd) Timbal (Pb) Flourida (F) Detergen BIOLOGI 1.65 5. 201 0 Budidaya Perairan (FPK) Unmul Keterangan : ttd = tidak terdeteksi (1) Air sumur penduduk di desa Mulawarman.26 10.27 32.465 Ttd Total Coliform MPN/10 Oml MPN/10 Oml so - 0 - - - Coli Fecal 0 - - - Sumber ..29 0.90 Nitrit (N02-) Nitrat (N03-) Kesadahan total Sulfat (S04) 34.48 0.89 4.58 99.98 8.60 0.3 0.069 0.38 0. :Hasil analisis Laboratorium Samarinda."t/ DO BOD COD Amonium (NH4l '-' mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 mg/1 6 2 10 0.73 0.02 2.

Sementara parameter pH .Jm yang menyebabkan terjadinya kekeruhan pada air... Hasil pengukuran total padatan terlarut (TDS) dilokasi kajian memperlihatkan sungai-sungai yang memiliki nilai TDS jauh melebihi batas I. Tingkat kekeruhan air terlihat tinggi pada salah satu sumur penduduk di desa '-' Mulawarman. Total Suspention Solid (TSS) atau total padatan tersuspensi merupakan padatan yang berkeruan < 1 f. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Kualitas Air Kelas I dan II) Total Dissolved Solid (TDS) merupakan padatan terlarut yang mempunyai '-" . Sumber TDS umumnya berasal dari bahan-bahan an-organik dan organic berupa ion yang terdapat pada perairan. Sedangkan untuk parameter TSS dan TDS berada di atas baku mutu lingkungan pada lokasi pengamatan di sungai Separi Kiri Hulu II dan Sungai Separi Kiri Hilir yang merupakan lokasi dekat penambangan dan pengolahan salah satu perusahaan batubara..50 mg/1 dan sungai Separi Kiri Hilir sebesar 1.. padatan tersuspensi (TSS) di sungai Separi Kiri Hulu 2 sebesar 1...107. ukuran lebih kecil dari padatan tersuspensi yang berkuruan < 1o.s mm termasuk keloid yang berkuruan antara 10·6 - 10·3 mm. Nilai ini cukup jauh melebihi jika dibandingkan dengan baku mutu lingkungan untuk TSS yang hanya sebesar 50 mg/1 (Permen No.50 mg/1. Padatan ini tidak terlarut dan tidak dapat mengendap secara langsung. Timbulnya padatan tersuspensi dalam badan air adalah adanya gerakan-gerakan air sehingga terjadi adukan Lumpur halus serta terkikisnya tanah akibat gerakan tersebut. Hasil pengukuran total padatan tersuspensi pada beberapa titik sampel di lokasi kajian seperti pada Tabel 16 di atas pengambilan memperlihatkan nilai di atas batas ambang baku mutu lingkungan oleh aktivitas pertambangan dan pengolahannya yang ada di sekitarnya. Tingginya kandungan bahan-bahan pencemaran air di lokasi kajian diakibatkan oleh aktivitas penambangan dan pengolahan batubara (proses pencucian batubara) dimana material-material bahan pencemar terbawa oleh air limpasan/ aliran permukaan (surface run-off) ke bagian yang lebih rendah dan masuk ke badan air. kandungan besi.. . menunjukkan bahwa salah satu sumur penduduk mengalami tingkat kekeruhan air yang cukup tinggi yaitu mencapai nilai 29.'"tO Pada Tabel 16 di atas.. . dan mangan terlihat tinggi pada semua titik pengamatan...392. Kandungan total ___. Hasil pengamatan lapangan. terlihat bahwa beberapa parameter kualitas air pada beberapa titik pengamatan telah berada di atas baku mutu lingkungan..2 NTU yang melebihi dari batas ambang baku mutu lingkungan.

13 mg/1. . Nilai COD ini telah melebihi batas baku mutu lingkungan yaitu sebesar 10 mg/1 air.4~ ambang baku mutu lingkungan.1 mg/1 dan Mn lebih kecil dari 0. Nilai BOD di dalam air merupakan indikator jumlah oksigen terlarut yang akan hilang selama asimilasi biologis polutan organik secara alamiah atau merupakan gambaran jumlah bahan organik mudah terurai (biodegradable organics) yang ada di perairan. Nilai BOD terukur pada beberapa titik pengambilan sample di lokasi kajian menunjukkan nilai yang cukup tinggi di atas baku mutu lingkungan.09 mg/1.13 mg/1 dan sungai Separi Kiri Hilir sebesar 157.3 mg/1.58 mg/1 dan di sungai Separi Kiri Hilir sebesar 10...671 . serta di sumur penduduk dengan nilai COD sebesar 32.. dampak aktifitas pertambangan juga menurunkan kualitas udara ambien.25 mg/1 dan sungai Separi Kiri Hilir sebesar 3. Biochemical Oxygen Demand merupakan jumlah oksigen yang diperlukan untuk berlangsungnya proses kimia dalam perairan atau jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi baik yang bias didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang tidak bias terdegradasi (non biodegradable). Kandungan Mn dan Fe yang tinggi menyebabkan tingginya tingkat kemasaman lingkungan._ . Nilai ini di atas dari baku mutu yaitu sebesar 2 mg/1 air..53 mg/1 dan 11 . Logam mangan (Mn) dan besi (Fe) merupakan unsur yang terkandung dalam batubara yang dihasilkan oleh proses ekstraksi dan masuk ke lingkungan. Biochemical Oxygen Demand (BOD) merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi bahan organik pada kondisi aerobik (stabil).. Hasil pengukuran Fe dan Mn di lokasi kajian memperlihatkan kedua nilai unsur tersebut di atas baku mutu lingkungan.38 mg/1 dan 6. Dampak aktivitas penambangan batubara terhadap penurunan kualitas udara dihitung berdasarkan . Penurunan kualitas udara ambien ini. Kandungan Mn dalam air tidak boleh melebih dari 0. . Total padatan terlarut pada sungai Separi Kiri Hulu II sebesar 1. Hal yang sama dengan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) di sungai Separi Kiri Hulu II sebesar 32. Di sungai Separi Kiri Hulu II 8.. disebabkan oleh pembongkaran batubara dan mobilitas pengangkutan batubara dan peratalan dari dalam ke luar lokasi penambangan...43 mg/1.73 mg/1.75 mg/1 sementara batas baku mutu lingkungan untu TDS sebesar 1000 mg/1 air. Hal ini terlihat pada sungai Separi Kiri Hulu II memiliki nilai BOD sebesar 8.71 mg/1. Selain menurunnya kualitas air. sedangkan di sungai Separi Kiri Hilir masing-masing sebesar 4..093.

880 2. Untuk memudahkan perhitungan.:!: 28.5 kg/hari = 28.c.080 2.0 kg/ton .280 12.240 7.000 2..280 10.880 83.5 x 106 mg/ton = .50 X 106 mg/hari = .79 ton) akan menghasilkan emisi gas sebanyak: ~ S02 N02 CO = . dengan kebutuhan jumlah kendaraan dan bahan bakar seperti pada Tabel 17 berikut : Tabel17.080 10 11 12 Sumber : Putra Dewa Jaya.760 2.± = 19.:!: .± 16.0 x 106 mg/ton 34. 2010.5 kg/ton Jika diasumsikan bahan bakar solar yang digunakan 1. Nama Alat Kendaraan (Unit) BBM (liter/Bulan) BBM (Liter/Hari) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 ~ Excavator Bulldozer Wheel loader Grader Dump Truck Compactor Fuel Truck Water Truck Mobil Karyawan Mobil Operasional Diesel Genset Pompa Jumlah: 2 1 1 1 24 1 1 1 2 3 1 3 41 16.5 kg/hari = 16.5 kg/hari = .± 34.:!: 19.0 kg/ton x 1.280 2. Menurut Dewerkgroup Wegverkeer (1970) dalam Rau J.500 liter/hari atau 1.200 5. Jumlah Kendaraan dan Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) PT.. maka emisi gas buang yang akan dihasilkan sebanyak : S02 N02 1.± = .880 9.600 12. Putra Dewa Jaya Kebutuhan Kendaraan dan BBM No.± 11.840 576 408 240 192 160 336 96 96 320 400 160 96 3.5 kg/hari = .G dan D. Putra Dewa Jaya.:!: 19.0 X 106 mg/ton 11.± 11. .0 kg/ton = X . Wooten (1980) bahwa penggunaan bahan bakar solar sebanyak 1 ton (1000 liter =0.50 x 106 mg/hari .:>U jumlah bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan oleh kendaraan perusahaan yang beroperasi dalam setiap hari. diambil salah satu contoh perusahaan batubara yang beroperasi di Kecamatan Loa Kulu yaitu PT.5 ton/hari.0 kg/ton = = .

5kg/tonx1 .)1 CO = ±34.50 mg/m 3 =51 .50 X 106 mg/1 X 106 m3 106 m3 = 28.:: 20.41) (0..000 1Jm/Nm3 (CO) menunjukkan bahwa kadar pencemaran udara di lokasi kajian cukup tinggi.75kg/hari= ± 51. = 43.__.50 mg/m 3 = 16.. penurunan kualitas udara ambient juga disebabkan oleh tingginya kandungan debu di udara. maka gas buang yang dihasilkan kendaraan pengangkut adalah sebagai berikut : S02 N02 CO = ± 28.39) (1.. 400 1Jm/Nm3 (N02}.5kg/hari=51. Dimana: Eu S V W N D = Jumlah debu per panjang jalan (kg/km) = silt content (%) = Kecepatan kendaraan = Berat kendaraan (ton) = Jumlah roda kendaraan = Jumlah hari tidak hujan (km~am) Diketahui: ~ Kecepatan alat pengangkut (V) = 20 km/jam ..77 (S/12)(V/48)(W/3) 0•7 (N/4)0 •5 (D/365) . Selain disebabkan oleh pembongkaran batubara dan mobilisasi kendaraan .__.000 meter) dengan sebaran gas kiri kanan jalan dengan jarak masingmasing 100m dan tinggi kolom udara 100m (volume kolam udara = 1 x 106 m3 ).41) .50 X 106 mg/1 X = ± 51 .49 kg/km ~ . ~ Berat alat pengangkut dan muatan (W) = 85 ton Jumlah roda kendaraan pengangkut (N) = 22 buah Silt content (S) untuk jalan diperkeras Jumlah hari tidak hujan (365.75 x 106 mgt 1x 106 m3 Apabila dibandingkan dengan baku mutu lingkungan untuk masingmasing gas tersebut yaitu sekitar 900 1Jm/Nm3 (S02).77 (10/12} (20/48) (85/3) 0 •7 (8/4)0 ·5 (150/365) = 20.75 mg/m 3 = ± 16. Untuk menghitung kandungan debu di udara menggunakan rumus sebagai berikut : Eu:....83) (0....215) = 10 % = 150 hari ~ ~ ~ ·~ Maka jumlah debu yang dihasilkan oleh bergeraknya satu lintasan kendaraan pada jalan yang diperkeras adalah : Eu = 20. dan 30.77 (0.75x106 mg/hari Jika mobilisasi peralatan melalui jalur-jalur pengangkutan sepanjang ± 10 km (10.42) (10..

8 kg/hari 200 x 106 m3 = 869. 2008 Keterangan : ttd = tidak terdeteksi . maka : volume kolom udara =10.000 0. Putra Dewa Jaya di Kecamatan Loa Kulu.349 mg/m 3/hari. memperlihatkan bahwa semua parameter kualitas udara ambien masih berada di bawah baku mutu lingkungan.± 10 km dengan 2 trip/hari. Putra Dewa Jaya mencapai nilai 4. menunjukkan bahwa aktivitas pengangkutan material batubara yang melewati jalan tambang (hauling road) berada di atas batas ambang baku mutu dimana batas ambang baku mutu sebaran udara berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 1999 sebesar 0.000 m x 200m x 100m =200 x 106 m3 Sehingga kadar debu di udara (Eu) sebesar : Eu =869.23 Lokasi Pengamatan 1 Ttd 9.36 Ttd 0. Jarak angkut dari lokasi tambang menuju pelabuhan menempuh jarak sejauh .:u.09 69. Kualitas Udara Ambien di Sekitar Lokasi Pertambangan Batubara PT. Kalimantan Timur.09 2 0.349 mglm 3 I hari Jika dibandingkan dengan nilai baku mutu lingkungan untuk sebaran debu di udara.49 kg/hari x 2 trip x 10 km = 869.23 mg/m 3 . sementara sebaran udara di lokasi penambangan PT. Putra Dewa Jaya di Kutai Kartanegara Parameter Sulfur Dioksida (S02) Nitrogen Dioksida (N02) Karbon Monoksida (CO) Debu Sumber Satuan 1JQ/Nm 3 Baku Mutu 900 400 30.8 x 106 mg/hari 200 x 106 m3 = 4.93 58 0.8 kg/hari Jika sebaran gas kiri kanan jalan dengan jarak masing-masing 100 m dan tinggi kolom udara 100 m . Adapun data hasil pengamatan adalah sebagai berikut : Tabel18. Sebagai perbandingan pengambilan sampel kualitas udara ambien pada lokasi yang belum terjama oleh aktivitas pertambangan batubara oleh PT. maka jumlah debu yang dihasilkan sebesar : Eu = 43.19 1Jg/Nm 1Jg/Nm 3 3 mglm" : Balai Riset dan Standarisasi lndustri Samarinda.

Sumber ' ' peke~a (karyawan perusahaan) dan masyarakat kebisingan dapat berasal dari sumber bergerak maupun tidak bergerak. Kabupaten Kutai Kartanegara.. 51 tahun 1999 (Lingkungan Kerja) Lokasi 1 : Permukiman Penduduk RT 2 Dusun Ngadang. Hasil Pengamatan Tingkat Kebisingan Sesaat di sekitar Lokasi Kegiatan Tambang Batubara PT. pengamatan terhadap kebisingan dilakukan pada beberapa titik yaitu di sekitar PIT tambang. Anggana Coal di Kecamatan Tenggarong. menunjukkan bahwa pada titik-titik lokasi pengamatan di sekitar lokasi .80 ** KepMennaker NO. Umumnya sumber kebisingan dari aktivitas pertambangan batubara berasal dari penggunaan alat-alat pengangkut dan Dalam kajian ini.Jj Dampak terhadap kebisingan merupakan dampak negatif langsung dari aktivitas pertambangan batubara dengan menggunakan kendaraan pengangkut yang beroperasi baik pada tahap persiapan. No. operasi maupun pada tahap pasca operasi. suara yang mengganggu atau bunyi yang menjengkelkan. dan permukiman penduduk di desa Mulawarman dan desa Bhuana Jaya pada areal penambangan batubara PT. Hasil pengamatan disajikan seperti pada Tabel19. Tabel19.. Kebisingan juga dapat didefinisikan sebagai bunyi yang tidak disukai.70 54 .. Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki dan dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan yang dinyatakan dalam satuan desibel (dB).50 359. konstruksi._ 2** 57. Kendaraan perusahaan yang lalu-lalang akan menimbulkan kebisingan terhadap para sekitar._ . Anggana Coal Lokasi Pengamatan Parameter Baku Mutu 1* lntensitas Kebisingan 55* 85** Keterangan : * Kepmen LH. Desa Beloro Lokasi 2 : PIT Tambang '--- Lokasi 3: Jalan Tambang Berdasarkan hasil pengamatan tingkat kebisingan seperti tabel 17 di atas. pos security.. 48 Tahun 1999 (Permukimah) .

Macaranga triloba Piper adumcum Vitex pubesscen Ficus sp. Untuk mengetahui dampak penambangan batubara terhadap keberadaan vegetasi (flora darat) dan satwa (fauna) liar dilakukan kajian pada salah satu perusahaan batubara yang beroperasi di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu PT.85 26. dan dominansi setiap jenis vegetasi yang ada.02 8. sehingga memungkinkan untuk ditambang.).67 28. Hasil kajian menunjukkan bahwa kondisi vegetasi saat ini merupakan kawasan hutan alam yang tidak terbina berupa hutan sekunder dan semak belukar yang merupakan kawasan budidaya non kehutanan (KBNK) berdasarkan RTRW Provinsi Kalimantan Timur tahun 1999.09 13.09 18.12 8.47 10.77 17. frekuensi .38 8.54 pertambangan batubara PT.16 23.55 9.77 12. sedangkan pengamatan fauna liar dilakukan dengan cara menghimpun informasi dari masyarakat setempat. Hasil Perhitungan Nilai Penting Jenis Vegetasi (Flora Darat) di sekitar Areal Pertambangan Batubara PT. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan dengan metode kuadran. nilai kebisingan masih berada di bawah batas ambang baku mutu lingkungan. Beberapa vegetasi cepat tumbuh yang ditemukan seperti Laban (Vitex pubesscen).00 29.09 (%) 7. puspa (Schima wallihcit) . Anggana Coal di Kecamatan Loa Kulu Nama Vegetasi No. Hasil inventarisasi jenis vegetasi yang ada selanjutnya dihitung tingkat kerapatan. dan Mahang (Macaranga sp.51 (%) 4.47 (%) 18.23 6. Daerah Botanis KR FR DR NPJ (%) 6. kecuali di lokasi pit dan sekitar jalan tambang. '--' . Arthocarpus sp. Hasil analisis mengenai vegetasi di lokasi kajian disajikan seperti pada Tabel18.72 34.86 64. Penentuan daerah vegetasi dilakukan secara purposive pada kawasan studi.45 5. Anggana Coal yang beroperasi di Kecamatan Loa Kulu.18 9.64 9. Anggana Coal.51 12. Tabel 20.08 1 2 3 4 5 6 Bengkal Terap Mahang Sirih Hutan Laban Ficus Neulea sp. Pengamatan vegetasi dilakukan pada areal yang belum terganggu oleh aktivitas pertambangan.

. Kegiatan pembukaan yang didahului pembersihan lahan untuk aktivitas pertambangan batubara memberikan dampak negatif terhadap beberapa jenis satwa liar yang ada.19 20. karena dengan rusaknya atau hilangnya fungsi hutan sebagai habitat satwa-satwa tersebut akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya sehingga sehingga satwa yang ada akan mengadakan migrasi ke lokasi lainnya atau punah. Fauna liar juga ini memegang peran penting secara ekonomis terutama dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar..98 100...00 52.71 6.33 100.40 6. mengadakan penyerbukan tanaman dan pengurai bahan-bahan organik.. memperlihatkan bahwa jenis vegetasi di lokasi kajian didominasi oleh jenis Vitex pubesscen yaitu sebesar 64. dan aves..)...67 %. Anggana Coal No.00 Jumlah Total: Keterangan : KR =Kerapatan Relatif.18 9. A. Beberapa satwa yang teramcam kepunahannya yang ditemukan di lokasi kajian seperti pada Tabel19 Tabel21 ... __. Insecta Nama Daerah Nama Latin 1 2 Kupu-Kupu Jangkrik Kumbang Lebah Belalang 3 4 5 .26 100.) 7 8 9 Puspa Anggrung Pulai Schima wallici Trema orienta/is Alostonia sp.15 %.00 10. disusul oleh jenis Schima wallici sebesar 51....00 18.. ..15 31 . amphibia.56 15.09 100. dianalisis fauna-fauna yang ada di sekitar kawasan pertambangan batubara seperti mamalia. Jenis Satwa yang Terdapat di Sekitar Lokasi Pertambangan Batubara PT. . DR Relatif. NPJ =Nilai Penting Jenis =Dommans1 Berdasarkan hasil analisis di atas.09 9.38 4. FR =Frekuensi Relatif. Untuk satwa (fauna) liar.. Sebagaimana diketahui bahwa keberadaan satwa liar ini memegang peran penting terhadap kawasan hutan terutama perannya sebagai penyebar biji.. 23. Kawasan hutan merupakan tempat hidup dan berkembang biak bagi banyak satwa liar yang ada di dalamnya. reptilia.

..... permukiman karyawan...... Mamalia 1 2 3 4 5 6 Kancil Landak Tupai Tikus Babi Hutan Monyet Aktivitas pertambangan batubara juga berdampak terhadap peningkatan laju erosi tanah dan sedimentasi pada sempadan dan muara-muara sungai.. Reptilia Biawak UlarSawah Kadal Kura-Kura .. -.. 4 D.... Kodok E.... - Kejadian erosi merupakan dampak tidak langsung dari aktivitas pertambangan batubara melainkan dampak dari pembersihan lahan untuk bukaan tambang dan pembangunan fasilitas tambang lainnya seperti pembangunan sarana dan prasarana pendukung seperti perkantoran. Aves 1 Pipit Kacer Elang Bubut Punai Burung Gereja Cerucuk Murai Burung Madu Blekok Sawah Kuntul Kareo Padi 2 3 4 5 6 7 8 9 ~ 10 11 12 1 2 3 ..Amphibi .. C._..... ...JO B...

.660. Tanah yang terbuka akan sangat peka dengan erosi yang pada akhirnya membawa material-material yang akan di endapkan pada sempadan dan muara sungai.35 mm/tahun.98 =1. 5.5 (c.35 1 •09 =0. A= R .25 (b... Erosi terjadi karena adanya pengikisan permukaan tanah oleh aliran permukaan.._.:>I pembangunan sarana BBM.. Anggana Coal yang beroperasi di Kecamatan Loa Kulu. . dilakukan kajian pada salah satu perusahaan yaitu PT. Kabupaten Kutai Kartanegara. C.. K . 0.Lapisan yang tererosi merupakan material yang telah mengalami pelapukan .41 X (2. jalan tambang . L .41 X 4..a)+ 3.. maka nilai erosivitas curah hujan sebesar : R = 0...039..41 x H1 •09 .7132 M1•14 (10-4) (12. P Dimana : A R K =Nilai duga besarnya erosi tanah yang terjadi (tonlha/tahun) = Faktor erosivitas curah hujan .. serta pembukaan .2) + 2. Apalagi dengan intensitas curah hujan yang tinggi di Kabupaten Kutai Kartanegara akan mempercepat laju aliran permukaan pada lahan yang tidak tertutup vegetasi karena sudah dibuka untuk kegiatan pertambangan.08 Faktor erodibilitaslkepekaan tanah terhadap erosi (K) dihitung dengan menggunakan persamaan : 100K =2. gudang bahan peledak dll.048. Untuk mengetahui besarnya erosi yang terjadi.__. Pendugaan besarnya erosi dihitung dengan menggunakan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation) oleh Wischmeier dan Smith (1978) dengan rumus : . Diketahui curah hujan rata-rata tahunan (R) di wilayah studi sebesar 2.. genset. L S C P =Faktor erodibilitas tanah =Faktor panjang lereng =Faktor kemiringan lereng = Faktor penutupan lahan oleh vegetasi =Faktor perlakuan konservasi tanah Untuk menghitung berasnya erosivitas curah hujan digunakan rumus : R = 0.3) Dimana : ...039.41 x H1•09 dimana H = curah hujan rata-rata tahunan di wilayah studi.

95% + 22.50 %)}1·14 X (10 (1 .95 %) . Yaitu agak cepat (0.19) (1) (1) = 750.660.00552} LS =. sehingga besar erosi yang terjadi dapat diduga : A = R .19 Mengingat lahan telah dibersihkan dari vegetasi untuk segera ditambang.~oo~17 38~x~22 ~)} LS = v 37 { 0.38 Adapun faktor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S) dapat S 2) dihitung bersamaan yang merupakan faktor topografi (LS) dengan persamaan : LS =v X { 0.25 + (-2.39 =29. P = (1 .724 x C-organik) dimana C-organik = 1.29 x 1.50 %) __.0138 + (0. a = kadar bahan organik (1 .35)} + 3. debu (22.67) + 3.3) X 4 ){12- 100 K = (2.914.25 + (-2.5) 100 K K = 29.80 %) X (100%..~01~3~8-+~(77 0.00138 X Dimana : X =panjang lereng =37 m S = kemiringan lereng = 2 % Sehingga : LS=v'~3=7~{o~.2) + 2. L .7132 X {(32. S.85 + 3.37.38) (1 . menunjukkan bahwa tingkat kejadian erosi yang terjadi di sekitar lokasi pertambangan batubara tersebut .0193 + 0.50 em/jam (2) Sehingga: 100 K =2.5) 100 K = 33. C.69 ton/ha/tahun - Berdasarkan hasil perhitungan erosi di atas.. K .08) (0.80 %) dan fiat (37.J 37 (0.39 100 K = 0.)lS M = persen fraksi pasir halus (32.29 (faktor konversi) K = 0.5 (2.97 X 104 X 9.03862) LS = v 1.42894 LS =1. maka nilai faktor pengelolaan tanaman (C) sebesar 1 (tanah terbuka) dan faktor .35% b = kode struktur tanah. Yaitu gum pal membulat (3) c = Nilai permeabilitas tanah.0138 + 0. 00~9~67 5-x~27 )-+~(o~.25 (3.724 X 1._ konservasi tanah (P) sebesar 1.7132 10.00965 X s) + (0.

0..8683 ( A 0 · 2018 )} + 0. maka beban sedimen potensial yang akan dihasilkan sebesar: Beban Sedimen =0... Selanjutnya tanah . maka nilai koefisien kekasaran manning (n) menjadi 0.8683 (10-0 ·2018 ) 2 ( 2 + 50 .. Kegiatan pembersihan lahan tambang mengakibatkan persentase penutupan lahan tambang berkurang menjadi < 30 %.58.0.8683 ( 10·0 ·2018 ) Sehingga: SDR = 0.2) + 0. maka nilai SDR (sediment delivery ratio) atau nisbah pelepasan sediment dapat dihitung sebagai berikut : SDR =S x { 1 .. Kegiatan reklamasi dan revetasi lahan ini akan memberikan .__.n) S N =kemiringan lereng rataan permukaan (%) =koefisien kekasaran manning =2 x { 1 . Diketahui bahwa jika persentase penutupan lahan berkurang < 30 %. Hal ini melebihi dari tingkat bahaya erosi (TBE) yang diperkenankan yaitu antara 12.69 ton/ha/tahun. yaitu mengembalikan tanah pucuk (top soil) dan tanah penutup (sub soil) pada lubang bekas penambangan dengan metode contouring. Jika luasan tam bang yang akan dibuka sekitar 10 ha dengan tingkat kemiringan ler€ng sekitar 8 %. maka perusahaan mengadakan reklamasi dan revegetasi lahan.58 .69 ton/ha/tahun =435.2 dari 0..15 ton/ha/tahun.40 ton/ha/tahun Berdasarkan hasil analisis di atas menunjukkan bahwa nilai erosi dan sedimentasi cukup besar akibat pembukaan lahan untuk kegiatan pertambangan batubara jika lahan masih dalam keadaan terbuka tanpa vegetasi penutup.. Hasil pendugaan erosi akibat pembersihan lahan tambang diketahui sebesar 750.8683 (A0 •2016 ) Di mana : A = Luas areal (ha) 2 ( S + 50.0..58 x 750.69 ton/ha/tahun dan hasil perkiraan nilai SDR (sediment delivery ratio) sebesar 0. dampak positif terhadap kondisi populasi vegetasi penutup lahan yang juga berpengaruh terhadap penurunan tingkat bahaya erosi dan sedimentasi.. Untuk memperbaiki kondisi lahan.:J'J cukup tinggi yaitu mencapai 750. Kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan biasanya didahului dengan pematangan lahan.8 jika persentase penutupan lahan masih > 70 %.

Jika kegiatan reklamasi dilakukan dengan pembuatan teras dengan baik (faktor P atau = 0. K . C.08) (0. L . P dapat dikurangi sebesar : A = = (1 . anorganik untuk memacu pertumbuhan awal tanaman.38) (1 '19) (0.01 ton/ha/tahun Dampak penurunan kesuburan tanah oleh aktivitas pertambangan batubara terjadi pada kegiatan pengupasan tanah pucuk (top soil) dan tanah penutup (sub soil/overburden). maka erosi tanah R .04) yang selanjutnya ditanami dengan semak belukar rumput-rumputan yang cepat tumbuh (faktor C = 0. selanjutnya akan .04) = 9.660. Kegiatan ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi lahan sebagai kawasan hutan yang salah satu fungsinya dalam mengurangi laju erosi disamping sebagai habitat yang baik bagi satwa-satwa yang ada. T anah yang telah dikupas. Gambar 8. Pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup akan merubah sifat-sifat tanah terutama sifat fisik tanah dimana susunan tanah yang terbentuk secara alamiah dengan lapisan-lapisan yang tertata rapi dari lapisan atas ke lapisan bawah akan terganggu dan terbongkar akibat pengupasan tanah tersebut.3) (0. S. Kegiatan Reklamasi dan Revegetasi Lahan Pasca Tambang di Kabupaten Kutai Kartanegara Gambar di atas merupakan salah satu kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan pasca tambang oleh salah satu perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Kutai Kartanegara._.oU diperkaya dengan pemberian pupuk baik pupuk organik maupun pupuk .3).

.. sebab akan tamanan pada saat dilakukan revegetasi tanaman. akan memudahkan unsur hara tersedia tercuci dan menjauhi areal perakaran tanaman . Sifat-sifat tanah yang sangat besar pengaruhnya terhadap permeabilitas tanah adalah tekstur. Kayan Putra Utama Coal di Kecamatan Tenggarong Seberang.. Pengamatan tingkat kesuburan tanah dilakukan di areal pertambangan batubara PT._. Yang dikaji dalam penelitian ini adalah permeabilitas tanah. Kalium . dimana air akan cepat hilang dari lokasi perakaran sehingga tanaman rentan terhadap kekurangan air... dengan tanah penutup.. maka tanah pucuk dan tanah penutup dikembalikan ke lubang tambang dengan cara backfilling. . kemasaman tanah (pH tanah). Permeabilitas tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam melewatkan air. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air bagi tanaman.. akan memberikan pengaruh yang besar terhadap kandungan unsur hara yang terdapat di dalamnya. sehingga tanah dapat kekurangan unsur hara yang dibutuhkan . Tanah pucuk dan tanah penutup yang telah ditimbun atau telah .01 ditranslokasi pada tempat yang telah ditentukan di mana tanah pucuk dipisahkan __. Curah hujan yang tinggi. Hasil analisis terhadap permeabilitas tanah di lokasi kajian menunjukkan permeabilitas tanah umumnya berkisar dari kelas sedang sampai cepat dengan nilai sebesar 0. Fospor dan te~adi pencucian unsur hara. sangat rentang terhadap perubahan kesuburan tanah terutama kesuburan kimia dan biologi akibat tanah tersebut telah rusak karena dibongkar untuk mengambil deposit batubara yang ada di bawahnya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara umum status kesuburan tanah berada pada status kesuburan buruk sampai sangat buruk.06 . Kapasitas Tukar Kation (KTK). struktur. Permeabilitas tanah yang tinggi ini juga akan berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara di sekitar perakaran tanaman. sebab dengan laju aliran air masuk kedalam tanah yang cepat... Waktu pengembalian tanah ke lubang tambang membutuhkan waktu yang lebih lama tergantung pada kecepatan proses penambangan berlangsung. dan Kandungan hara Nitrogen.. bobot isi tanah (bulk density) dan kandungan mineral liat dan bahan organik....1. Setelah proses pembongkaran deposit batubara... dikembalikan ke lubang tambang . Tinginya ~ permeabilitas tanah di sekitar areal pertambangan batubara tersebut disebabkan tanah telah terbongkar secara fisik sehingga mengurangi kemampuan tanah untuk menghambat aliran air masuk ke dalam tanah.50 cm~am .

Berdasarkan hasil analisis tanah di lokasi kajian menunjukkan tingkat kemasaman tanah umumnya berada pada status masam sampai agak masam.. Tanah dengan kandungan ion H+ tinggi dalam larutan tanah dikategorikan sebagai tanah yang masam.dalam larutan tanah. Tanah dengan ·~ nilai KTK tinggi merupakan parameter untuk menilai bahwa tanah tersebut memiliki kemampuan untuk menjerap dan menyediakan unsur hara yang lebih .45 4.5). Salah satu sifat kimia tanah yang berperan penting dalam menentukan .7. Kayan Putra Utama Coal P2 Sekitar Jalan Tambang P3 =Lokasi ReklamasiTambang = Kapasitas Tukar Kation (KTK) merupakan gambaran dari kemampuan tanah mempertukarkan kation dalam tanah . pH tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.30 3._.OL.~ - P3 0-30 30-60 Keterangan : P1 = PIT Tambang PT. Hasil analisis pH tanah seperti pada Tabel22 Tabel22. sebaliknya jikan kandungan ion OH. Hasil Analisis pH tanah di Lokasi Kajian No.22 5.81 5.30 30-60 5. pH tanah menunjukkan tingkat keasaman dan kebasaan suatu tanah atau banyaknya konsentrasi ion hidrogen yang terdapat dalam larutan tanah. status kesuburan tanah adalah pH. Sampel Kedalaman (em) pH Tanah (H20) Status P1 0 . Umumnya tanaman dapat tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH sekitar netral (6.26 6. Tingkat kemasaman tanah dicirikan oleh konsentrasi ion W dan OH.5 .98 Masam Masam Netral Masam Sangat masam Sangat masam P2 0-30 30-60 f-. KTK ini merupakan salah satu sifat kimia tanah yang sangat besar petannya dalam kesuburan tanah . Namun pada tanaman-tanaman tertentu ada yang lebih menyukai tanph yang bereaksi masam atau basa.yang tinggi dikategorikan sebagai tanah basa.

Oleh karena itu. ketiga unsur hara disebutkan di atas. Beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa.49. Hal ini disebabkan unsur hara tersebut dapat larut dalam air dan '- . - Keterangan : P1 =PIT Tambang PT.33 7. ketiga unsur hara tersebut harus tersedia di dalam tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman budidaya dengan baik terutama pada saat dilakukan kegiatan revegetasi kembali lahan-lahan pasca tam bang.95 3. K. fosfor. Kayan Putra Utama Coal P2 =Sekitar Jalan Tambang P3 =Lokasi Reklamasi Tambang Nitrogen. tidak atau sedikit tersedia pada tanah-tanah bekas penambangan batubara. Tabel23.72 Rendah Rendah Sangat Rendah Rendah Rendah Rendah P2 0 .17.32 17.33 7. Ketiga unsur haran ini dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang besar dan jika kekurangan salah satunya. Mg. Sampel Kedalaman (em) KTK (me/100 g) Status P1 0-30 30-60 9.30 30-60 P3 0-30 30 .pj baik pada tanaman dibandingkan dengan nilai KTK yang rendah . Kayan Putra Utama Coal No. dan kalium merupakan unsur hara yang sangat besar peranannya bagi pertumbuhan tanaman baik pertumbuhan vegetatif maupun generatif. Hasil pengukuran KTK tanah di lokasi kajian menunjukkan nilai KTK yang rendah sampai sangat rendah dengan nilai berkisar antara 6. dan Na di mana kation-kation ini mampu dipertukarkan dengan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman karena larut dalam air dan dapat tersedia dan diserap oleh tanaman. Pada tanah dengan KTK yang tinggi didominasi oleh kation-kation basa seperti Ca. Hasil analisis seperti pada Tabel23.71 16. Kapasitas Tukar Kation (KTK) di sekitar Lokasi Pertambangan Batubara PT. akan menimbulkan dampak defisiensi hara bagi tanaman.71 me/100 g tanah.60 .

Kayan Putra Utama Coal No.10 0.08 11 .50 8..63 11.12 0..86 14. Sam pel P1 Kedalaman (em) 0-30 30-60 Nitrogen (N) % 0._..35 20. Tabel25. namun tidak mencukupi untuk tanaman revegtasi. dan K yang rata-rata berada pada kriteria rendah. Walaupun pada beberapa tempat tersedia.56 6. P.04 Fosfor (P) ppm 8. Kayan Putra Utama Coal P2 =Sekitar Jalan Tam bang P3 =lokasi Reklamasi Tambang P1 Berdasarkan realitas dan kondisi aktual tersebut 65.11 0.06 0. Kandungan Nitrogen..O<t tercuci dan meninggalkan areal perakaran tanaman . =PIT Tambang PT..59 Status R R R R SR SR Status R R R Status s R ' P2 0-30 30-60 s ! s R R R R R i ' \.29 2. b Perubahan kondisi lingkungan Lebih baik Sarna saja Lebih buruk Tidak tau % 12. Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan di lokasi kajian yang memperlihatkan nilai unsur hara N. Tabel 24..35 .10 0. dan Kalium di Sekitar Areal Pertambangan Batubara PT.05 18.44 11 . P3 0-30 30-60 I Keterangan : .63 9.. Perubahan kondisi lingkungan akibat pertambangan batubara No a..25 30.00 c d 65.29 % responden memberikan penilaian bahwa keberadaan perusahaan pertambangan batu bara di Kutai Kartanegara membawa perubahan kondisi lingkungan yang lebih buruk (Tabel25).90 Kalium (K) ppm 24. sebagaimana disajikan pada Tabel 24. Fosfor.22 6.

41 .. Jembatan.55 . ada pula dalam bentuk beasiswa dan bantuan kesehatan bagi masyarakat sekitar usaha pertambangan batubara. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan oleh perusahaan 62. b c Ada Tidak ada Tidak tau Sumber data diolah dari data primer 2010 5.- c 15. sekolah. Wujud kepedulian perusahaan terhadap program pemberdayaan Masyarakat No Wujud Kepedulian perusahaan terhadap lingkungan % 62..22 % membangun infrastruktur diantaranya jalan..91 18.4.56 a.22 22.l Kondisi lingkungan yang lebih buruk tersebut dipicu oleh rendahnya kepedulian perusahaan terhadap lingkungan. Hal ini memberikan indikasi bahwa kalaupun perusahaan melakukan perbaikan lingkungan tidak dilakukan secara optimal dan perbaikan lingkungan itu dilakukan jika telah pertambangan batu bara yang te~adi kerusakan lingkungan atau perusahaan batubara akibat adanya aksi-aksi demo yang dilakukan oleh warga masyarakat sekitar menuntut agar bertanggungjawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkannya (Tabel 26).52 41.V. jembatan. Wujud kepedulian tersebut dilakukan perusahaan dalam berbagai bentuk bantuan.sebagaimana disajikan pada T abel 27. Kepedulian perusahaan terhadap kerusakan lingkungan No Kepedulian perusahaan terhadap lingkungan % 39. Sekolah dan Air bersih) Beasiswa Sekolah 6antuan Kesehatan ---. Tabel27.91 % responden menyatakan bahwa kepedulian perusahaan terhadap lingkungan tidak ada dan 39.22 a. Selain itu. Tabel26. Community Development dan Corporate Sosial Responsibility Sesuai dengan Peraturan Pemerintah nom or 23 tahun 2010 tentang pelaksanaan usaha pertambangan mineral dan batubara setiap perusahaan harus memiliki program pemberdayaan masyarakat (community development) dan Corporate Sosial .Responsibility (CSR). b Pembangunan infrastruktur {Jalan. sumber air bersih yang bisa digunakan untuk minum dsb.52% yang menyatakan ada (Tabel 26).

Pemanfaatan Lubang Bekas Tambang untuk Budidaya Tambak lkan di Kecamatan T enggarong Seberang '-- 5. .()() Lubang tambang yang tidak tertutup dapat dimanfaatkan warga untuk sumber air persawahan dan kegiatan perikanan melalui usaha kerambah seperti yang disajikan pada Gambar 8 dan 9. dan TreathS) dengan terlebih dahulu menentukan faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh pada pert:ambangan batubara. opportunities.5 Strategi Pengelolaan dampak Kabupaten Kutai Kartanegara Pertambangan Batubara di Untuk menyusun strategi pengelolaan pert:ambangan batubara di Weaknes~ Kabupaten Kut:ai Kart:anegara dilakukan analisis SWOT (Strength. Gambar 9. Pemanfaatan Lubang Bekas Tambang Batubara sebagai Sarana lrigasi di Kecamatan Tenggarong Seberang '-' Gambar 10.

Elemen SWOT Faktor Kunci Dampak Peringkat Internal a. 1. 2 4 5. Peringkat tetap menggunakan skala 1(rendah) sampai 4 (tinggi) untuk kekuatan. Faktor-Faktor Internal dan Eksternal Pengelolaan Pertambangan Batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara No. Pencemaran air akibat kegiatan tambang 5. Kelemahan 1.._. b. Jumlah tenaga kerja tersedia cukup besar 5. '-' kelemahan dan ancaman. 2. Skala tersebut berdasarkan hasil kuesioner dengan stakeholder kunci. Penentuan tingkat kepentingan setiap faktor. 3.. 3 . Lemahnya kualitas SDM 4. Mempunyai potensi sumberdaya mineral dan batubara yang cukup besar Dukungan kebijakan Pemerintah cukup besar dalam pengembangan pertambangan batubara darat dan air (sungai) yang memadai 4 4 2. Kebutuhan dan permintaan pasar domestik dan luar negeri tinggi Pengembangan paket-paket ekowisata pada lubang bekas tambang Pengembangan marineculture dan tambak pada lubang bukaan tambang Dukungan regulasi (UU No.22 tahun 2010.04 tahun 2009 dan PP No. Penentuan faktor-faktor internal dan eksternal dilakukan melalui penyebaran kuisioner dan wawancara mendalam dengan stakeholder terkait. 4. Memiliki sarana dan prasarana transportasi 3 4 4. Tabel 28. 2. peluang. Hasil kajian di lapangan dan analisis data dengan SWOT dapat menggambarkan kemungkinan adanya potensi dan permasalahan yang ada. dan PERDA pertambangan umum) Peningkatan PAD 3 3 2. Kekuatan 1. Hasil yang diperoleh disajikan pada Tabel 28. .. Tumpang tindih perijinan usaha pertambangan dengan usaha lain 1... yaitu gambaran yang komprehensif rnengenai faktor-faktor internal yang merupakan kekuatan dan kelemahan.V/ .. dilakukan dengan rnemberikan peringkat (skor). serta faktor-faktor ekstemal yang merupakan peluang dan ancaman dalam pengelolaan pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara. Prospelc pemasaran hasil tambang terbuka luas 3 4 2 2 Ketersediaan SDA Tambang terbatas Eksploitasi SDA tambang yang tidak terbatas 3. Ekstemal a. Petuang 2 3 3.

Eksploitasi SDA tambang yang tidak terbatas 3. kehutanan. Opportunities. maka langkah selanjutnya adalah menyusun faktor-faktor strategi berkaitan dengan pengelolaan dampak pertambangan batubara dengan menggunakan matrik SWOT. pertanian) Konflik dengan masyarakat lokal Degradasi keanekaragaman hayati 4 2. Pencemaran air akibat kegiatan tambang 5. 2. Dukungan kebiiakan 1. Jumlah tenaga kerja tersedia cukup besar 5. Lemahnya kualitas SDM 4. perkebunan.... peluang dan ancaman.. 6.vo No. Ancaman Banyaknya penambangan liar yang tidak terkendali Menurunnya kualitas lingkungan.. .. Kutai Kartanegara dengan Matrik SWOT . rnemanfaatkan potensi sumberdaya mineral dan batubara untuk mernenuhi permintaan pasar dan peningkatan PAD 2. Dukungan kebijakan Pernerintah cukup besar dalam pengembangan pertambangan batubara 3. dan 4 = Sangat tinggi Setelah penentuan faktor-faktor internal dan ekstemal seperti di atas berdasarkan elemen kekuatan. Fonnulasi Rancangan dampak pengelolaan Pertambangan batubara Kab.. 1. 2 = sedang.. 3 4.0 1.. Kebutuhan dan permintaan pasar domestik dan luar negeri tinggi Pengembangan paketpaket ekowisata ·pacta Strategi S. Peringkat b.. kelemahan..... 3 = tinggi.S . Mempunyai potensi sumberdaya mineral dan batubara yang cukup besar 2. Berbagai altematif faktor strategi yang dapat dilakukan seperti dalam Tabel 29 yang mencakup strategi s-o (Strengths-OpportunitieS). munculnya konflik sosial dan perbaikan kesejahteraan rnasyarakat Sedimentasi sungai akibat erosi air Konflik antara sektor (pertambangan.... .. strategi W-0 (Weaknesses-OpportunitieS). Strategi w-o Lahan pasca tambang dimanfaatkan untuk rneningkatkan PAD mengelolan SDA tambang secara bertahap untuk memenuhi 2.. Strengths . Keterangan : skala 1 4 4 3 = rendah.. 4 3. Memiliki sarana dan prasarana transportasi darat dan air (sungai) yang memadai 4. Prospek pemasaran hasil tambang· terbuka luas Weaknesses -w Ketersediaan SDA Tambang terbatas 2. Tabel 29. strategi S-T (Strengths-ThreatS) dan strategi W-T (Weaknesses-Threats). 5. Tumpang tindih perijinan usaha pertambangan dengan usaha lain 1..0 1. ElemenSWOT Faktor Kunci 1.

Memanfaatkan dukungan kebijakan pemerintah untuk menyusun PERDA pertambangan yang mengatur perbaikan kualitas lingkungan dan degradasi keanekaragaman hayati 5. Sarana dan prasarana transportasi darat dan air dimanfaatkan untuk penQangkutan hasil tambang 2. permintaan pasar dan peningkatan PAD Meningkatkan SDM dalam mengelolan pertambangan Memperbaiki kualitas air pada lubang tambang untuk kegiatan ekowisata dan marlneculture dan tambak Membuat PERDA pertambangan umum yang didalamnya mengatur tumpang tindih lahan usaha pertambangan dengan usaha lain disekitarnya. lubang bekas tambang Pengembangan marineculture dan tambak pada lubang bukaan tambang Dukungan regulasi (UU No. marineculture dan tambak untuk pwningkatan PAD 4. Strategi W . . 5. .04 tahun 2009 -dan PP No. peluang dan ancaman. 5. dan PERDA pertambangan umum) Peningkatan PAD pemerintah untuk pemanfaatan lahan pasca tambang sebagai objek wisata dan marineculture serta tambak 3. memanfaatkan tenaga kerja lokal dalam setiap pemanfaatan potensi SDA yang ada 4.an kualitas SDM sehingga penambangan liar dapat diatasi dan kualitas lingkungan dapat terjaga dengan baik Mengatasi pencemaran air oleh aktivitas tambang dalam mengantisipasi munculnya konflik sosial Mengatasi terjadinya tumpang tindih lahan sehingga konflik penggunaan lahan dapat diatasi 3... marineculteru dan tambak untuk konservasi dan meningkatkan PAD 2. 4. kehutanan.T Penegakan hukum yang ketat dalam mengelola SDA tambang yang terbatas untuk mengatasi penambangan liar Membenahi sistem penambangan yang tidak terkendali dengan mengawasi penambangan liar yang ada Meningkatk. kelemahan.. Memanfaatkan dukungan kebijakan pemerintah untuk menyusun PERDA pertambangan yang mengatur konflik yang terjadi 3. 4. 3. 4.. penanganan konflik sosial dan perbaikan kesejahteraan masyarakat Sedimentasi sungai akibat erosi air Konflik antara sektor (pertambangan. 5. Memanfaatkan lahan pasca tambang sebagai kawasan wisata berbasis alam..22 tahun 2010. 2. Threats-T 1. 1. selanjutnya ditentukan grand strategi pengelolaan dampak pertambangan batubara dengan membuat Tabel IFA (Internal Strategy Factors Analysis) dan tabel EFA (External Factors AnalysiS) dengan memberi bobot terhadap masing-masing faktor berdasarkan tingkat kepentingan (skala ~ prioritas (SP)) yang dikalikan dengan konstanta K=4 nilai kepentingan tertinggi. Kebutuhan permintaan pasar yang besar memberikan prospek yang baik bagi pemasarana hasil tambang 5. 4.. 5. perkebunan.. Tenaga kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan dalam pengembangan ekowisata. pertanian) Konflik dengan masyarakat lokal Degradasi keanekaragaman hayati Strategi s-T 1. 6. Banyaknya penambangan liar yang tidak terkendaU Perbaikan kualitas lingkungan.\17 3. Dukungan kebijakan pemerintah dalam penyusunan rencana peraturan daerah tentang pertambangan umum 3. Setelah penilaian skala peringkat faktor-faktor kekuatan.

25 3 0. 17 Kelemahan (Weak~ 3.25 4 1 53 . 16 0.. nilai skala prioritas 4 menunjukkan nilai tertinggi..25 3 3 3 0..39 0.75 I ws 4 I I I Jumlah 15 3.57 0.25 0. Hasil pembobotan setiap factor seperti Tabel 30 dan 31.. W4 Ketersediaan SDA Tambang terbatas eksploitasi SDA tambang yang tidak terbatas Lemahnya kualitas SDM Pencemaran air aldbat kegiatan tambang Tumpang tindih perijinan usaha pertambangan dengan usaha lain 4 2 4 4 16 0.IV Nilai skala prioritas 1 menunjukkan nilai rendah.76 4 4 16 0.1 .13 3 0. nilai skala prioritas 2 menunjukkan nilai sedang.13 0. No._...19 0.39 8 I 2 3 4 4 4 8 12 16 0. nilai skala prioritas 3 menunjukkan nilai tinggi..75 Jumlah .. Faktor-faktor Internal 5P K=4 5P X K I Bobot Peringkat Nifai 5kor Kekuatan(~~ 51 Mempunyai potensi sumberdaya mineral dan batubara yang cukup besar Dukungan kebijakan Pemerintah cukup besar dalam pengembangan pertambangan umum Memiliki sarana dan prasarana transportasi darat dan air (sungai) yang memadai Jumlah tenaga kerja tersedia cukup besar Prospek pemasaran hasif tambang terbuka luas 4 4 .25 4 1 52 4 4 16 0. 2 4 8 0.13 4 3 1 0.19 4 0.9 Wl W2 W3 .. Matrik Internal Factor Evaluation (IFE). Tabel 30.39 54 55 3 4 12 0.

57 03 3 4 12 0.19 2 0. Matrik External Factors Eva/uatiol (EFE) SP K=4 SPx K Bobot Peringkat Nilai Skor Faktor-faktor Internal Peluang (Opportunftie&? 01 Kebutuhan dan permintaan pasar domestik dan luar negeri tinggi Pengembangan paketpak:et ek:owisata pada lubang bekas tambang Pengembangan marineculture .25 2 0. dan PERDA pertambangan umum) Peningkatan PAD 4 4 16 0.19 3 0.9 .25 4 1 OS 2 4 8 0.57 Jumlah 16 Ancaman (Threats) 3.00 0.13 4 3 1.38 04 4 4 16 0. kehutanan.50 ~ 02 3 4 12 0.57 ' 8 I Jumlah 20 4.13 3 0. No. pertanian) Konflik dengan rnasyarakatlokal Degradasi keanekaragaman hayati 3 4 12 16 0.25 4 4 0.02 T1 T2 Banyaknya penambangan liar yang tidak terkendali Penurunan kualitas lingkungan.25 0.00 TS 4 2 4 4 16 0.19 3 0.dan tambak pada lubang bukaan tam bang Dukungan regulasi (UU No.19 0.57 T4 4 4 16 0.22 tahun 2010.I 1 Tabel 31.76 1.04 tahun 2009 dan PP No.00 4 4 T3 3 4 12 0.25 4 1. konflik sosial dan kesejahteraan masyarakat Sedimentasi sungai akibat erosl air Konflik antara sektor (pertambangan. perkebunan.

1. Skor (nilai) dari matriks internal-eksternal dari hasil wawancara dan kuesioner dapat digunakan untuk menentukan rancangan pengelolaan pertambangan di Kabupaten Kutai Kartanegara dalam jangka waktu mendatang. sehingga posisi rancangan berada pada kwadran 2..02-4....Il..Ancaman (Threats) = + 0.1..- .80 I I -1. Gambar 11. Nilai penjumlahan untuk faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan sebesar +0.90-3.88 Untuk mengetahui strategi yang harus dilakukan dalam pengelolaan dampak pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara. Berdasarkan Tabel EFE dan IFE dapat dihitung sebagai berikut: Kekuatan (StrengthS).J Sell : Mendukung strategi Bertahan (devensive) Sell : Mendukung strategi Diversifikasi Ancaman (Threats) ...80 (sumbu X positif) sedangkan nilai penjumlahan faktor eksternal antara peluang dan ancaman .... Grafik Analisis SWOT dalam Menentukan Grand Strategy Gambar 11 menunjukkan bahwa dalam pengelolaan dampak pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara terutama dalam rangka menuju pengelolaan pertambangan yang berkelanjutan.. maka perlu dibuat grafik analisis SWOT dengan menggunakan matriks grand strategy.. Jadi posisi koordinat berada pada (0.1.._..10 Peluang ( OpJXJrtinities) ..88). Adapun strategi pengelolaan pertambangan umum di Kabupaten Kutai Kartanegara seperti terlihat pada Gambar 11.90 = .Ketemahan (WeaknesseS)= 3.88 (sumbu Y negatif).. . Sell: Mendukung strategi stabilisasi (tum around) Peluang (Opportunity) Sell : Mendukung strategi agresif Kelemahan (Weaknesses) 0. artinya mendukung suatu rancangan diversifikasi menggalang kekuatan untuk mengatasi encaman yang ada.80 = 3. - 1.88 Kekuatan (Strength) ... maka perlu dilakukan .80 .

Bagi Perusahaan a) Menginventarisasi lahan-lahan milik masyarakat yang akan dibebaskan untuk kegiatan pertambangan batubara dengan memberikan ganti rugi lahan dan tanam tumbuh yang memadai sesuai dengan kesepakatan antara perusahanan dan masyarakat pemilik lahan yang difasilitasi oleh pemerintah setempat. baik pertambangan batubara yang satu dengan yang lainnya maupun antara perusahaan batubara dengan usaha perkebunan baik kelapa sawit maupun perkebunan karet yang saai ini menjadi komoditas unggulan di dinas perkebunan. Dengan kata lain. c. Mengevaluasi kinerja perusahaan pertambangan batubara yang telah beroperasi dalam melakukan kegiatan penambangan pada setiap . 2.I~ strategi diversifikasi yang menggabungkan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman yang ada (strategi Strength .ThreatS).. Berdasarkan analisis tersebut ada beberapa rekomendasi yang perlu disarankan diantaranya : ~ 1.-- tahapan mulai tahapan pra konstruksi.. tetapi memiliki kekuatan dari sisi internal yang dapat digunakan dalam mengatasi ancaman yang ada. b. '--' . kontruksi. Bagi Pemerintah a. Badan Perizinan dan pertanahan agar meneliti dengan baik terhadap perusahaan yang ijin lahannya timpang tindih . meskipun dalam pengelolaannya mengalami ancaman (Threats). Selanjutnya memberikan sanksi yang tegas kepada perusahaanperusahaan yang tidak memenuhi kewajibannya dalam melakukan reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang yang selama ini ·-- jarang/tidak pernah dilakukan. Diharapkan pemerintah daerah Kabupaten Kutai Kartanegara dan DPRD segera merampungkan Peraturan Daerah tentang Pertambangan Umum di Wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara d. operasi dan pasca operasi.

Biomassa vegetasi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kualitas tanah pada saat kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan dilakukan. ruas jalan angkut (hauling road) untuk mengurangi aliran permukaan run-off dan erosi masuk ke badan air secara langsung. i) Menutup lubang tambang pada lahan yang selesai ditambang dengan mengembalikan tanah pucuk dan tanah penutup (back filling} . h) Melakukan pengontrolan dan pemeriksaan kualitas air dan kualitas udara secara berkala sesuai peraturan yang ada di sekitar permukiman masyarakat dan lokasi penambangan. dialirkan ke saluran drainasi yang telah dibuat untuk segera dimasukkan ke settling pond sebelum airnya dibuang ke lingkungan. e) Membangun settling pond pada setiap PIT tambang . Biomassa vegetasi yang dibuka dapat dimanfaatkan secara langsung dengan mencampur secara langsung pada saat pembongkaran tanah pucuk (top soil) dan tanah penutup dilakukan untuk selanjutnya di backfilling pada lubang bekas penambangan. '--' ./'t b) Mengadakan sosialisasi kepada masyarakat sekitar pertambangan batubara tentang rencana pembukaan usaha tambang di sekiar permukiman agar masyarakat mengetahui dan memahami dampak penambangan batubara di wilayahnya c) Memberikan kesempatan yang lebih besar kepada masyarakat lokal untuk direkrut sebagai karyawan perusahaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Pada settling pond diberikan ~ perlakuan koagulan berupa tawas untuk mempercepat pengendapan bahan sediment sebelum aimya di buang kelingkungan. d) Pembersihan lahan untuk bukaan tambang dan pembangunan sarana dan prasarana penunjang lainnya dilakukan tanpa pembakaran untuk menghindari punahnya satwa-satwa yang ada di dalamnya. Sedangkan untuk mengatasi air asam tambang diberikan perlakuan kapur sesuai dengan tarat yang dibutuhkan f) Membangun fasilitas oil trap untuk menampung ceceran oli dan minyak agar tidak masuk ke dalam badang perairan g) Limbah cair dan lumpur yang akan dipompa ke luar dari lubang tambang saat penambangan batubara berlangsung.

RKL.) j) Melakukan reklamasi dan revegetasi lahan bekas penambangan batubara melalui peningkatan kualitas tanah dengan pemberian kapur dan pupuk (organik dan an-organik). dan RPL perusahaan tersebut. Pemeliharaan tanaman revegatasi dilakukan selama tiga tahun setelah penambangan batubara berakhir untuk memberikan kesempatan yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan yang baik tanaman revegetasi. I) Melakukan penyiraman jalan tambang minimal dua kali sehari terutama jalan tambang yang dekat dengan permukiman masyarakat saat kegiatan angkut batubara berlangsung m) Melakukan reklamasi dan revegetasi lanjutan pada lahan bekas penambangan yang belum ditutup. Bagi Masyarakat a) Diharapkan selalu menyelesaikan masalah konflik social di lapangan dengan cara musyawarah dan mufakat b) Membuat program untuk diajukan kepada perusahaan yang dapat dibiayai melalui program pemberdayaan masyarakat (CSR) c) Mengevaluasi dan mengontrol program revegetasi dan reklamasi yang dilaksanakan perusahaan dan disesuaikan dengan dokumen Amdal. . dapat diarahkan melalui pengembangan wisata alam atay perikanan budidaya tambak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. 3. o) Pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi karyawan tambang dilakukan dengan terlebih dahulu membekali keterampilan untuk berwirausaha sehingga tidak menimbulkan pengangguran baru pasca penambangan.{. k) Pengangkutan peralatan tambang yang melewati jalan umum dilakukan pada malam hari dan mendahulukan kendaraan umum jika terdapat kedaraan umum yang akan lewat. n) Bagi lubang tambang yang tidak bisa ditutup karena kekurangan tanah penutup. yang selanjutnya menanam tanaman penutup tanah yang cepat tumbuh seperti rumput-rumputan dan tananam tahunan non kehutanan (hortikultura} pada kawasan tambang non budidaya kehutanan (KBNK).

pemberian beasiswa dan bantuan di bidang kesehatan . penurunan kesuburan tanah. antara masyarakat dan perusahaan yang dipicu oleh masalah limbah. penerimaan tenaga kerja. dirumuskan berbagai kesimpulan sebagai berikut : 1. dan tidak optimalnya perusahaan dalam melaksanakan program pemberdayaan masyarakat (Comdev) . Dampak negatifnya adalah Kehadiran usaha pertambangan meningkatkan konflik antara masyarakat. Selain itu. kebisingan. rusaknya flora dan fauna endemik. Kegiatan usaha pertambangan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan fisik. masalah tumpangtindih lahan. meningkatnya polusi udara dan debu. 3. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian. 4. Pertambangan batubara memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di sekitar perusahaan. Kegiatan usaha pertambangan batubara memberikan dampak positif dan negatif terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar perusahaan. yaitu meningkatkan pendapatan per bulan. erosi dan sedimen yang memicu banjir. rusaknya jalanan umum yang digunakan untuk memuat alatalat berat perusahaan. ~ Program pengembangan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan batubara didominasi oleh pembangunan infrastruktur. tetapi memberikan dampak positif terhadap kepedulian pemberian bantuan dana untuk kegiatan-kegiatan sosial. dan adanya limbah yang dapat masuk ke lahan-lahan pertanian dan sungai sehingga merusak biota perairan dan sumber air yang digunakan untuk air bersih (minum) dan mencuci. Kerusakan-kerusakan tersebut diantaranya kerusakan bentang alam. keberadaan perusahaan batubara memberikan dampak terhadap menurunnya aktifitas keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan gotong royong terutama kerja bakti dan kegiatan-kegiatan keagamaan. kimia dan biologi.6AEJVI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. memberikan peluang kerja dan peluang usaha sehingga dapat memberbaiki ekonomi masyarakat 2.

II 6. lnstansi teknis yang bertanggungjawab mengawasi. social dan lingkungan dari aktifitas perusahaan pertambangan batubara dan instansi teknis yang memberi izin usaha pertambangan agar benar-benar mengemban amanah sesuai dengan perundang-undangan yang ada. pemantau dampak ekonomi. Saran 1. . Disarankan perusahaan menin8katkan kepeduliaan terhadap kehidupan ekonomi dan social masyarakat sekitar perusahaan melalui program-program pemberdayaan masyarakat diantaranya melakukan pembinaan dan peningkatan skill. memberikan bantuan untuk sarana dan prasarana umum. memprioritaskan pemuda lokal untuk dipekerjakan di perusahaan 2. memonitor. Diharapkan kepada Perusahaan untuk mentaati Amdal yang di dalamnya telah ada rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan usaha pemantauan Lingkungan (RPL) dalam mengeliminir dampak kerusakan lingkungan 3.2.

E.. Penerbit Andi Yogyakarta.. konservasi Tanah dan Air. Boger. Batubara Indonesia. . 1998. Sitorus. Teknologi Pertambangan Indonesia. Gadjah Mada Uversity Press. 1995.google. Kutai dalam Angka. Walpole. Y. Pengembangan Sumberdaya Tanah Berkelanjutan.eem. Widodo.7S DAFTAR PUSTAKA Arsyad . http://www. '-' . Yogyakarta Suhala. lnstitut Pertanian Bogor (IPB) Press . 2005. 1999. Tenggarong Latifa.R. Pusat Penelitian ttan Pengembangan (Puslitbang) Teknologi Mineral dan Batubara. Keragaan Accacia mangium wild pada Lahan Bekas Tambang Timah (Studi kasus di areal PT. 2001 . Pengantar Statistika Edisi ke-3. 2008. S. 0 . Boger.. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Departemen Pertambangan dan Energi. A. 2000. Yoesoef dan Muta'alim . Timah). Tesis Sekolah Pascasarjana. S.P. S... Fakultas pertanian lnstitut Pertanian Bogor (IPB). Jakarta. Bogor Bachriadi. Institut Pertanian Bog or. Departemen ESDM. Batubara. B. R. . Status Penelitian dan Pemanfaatan Cendawan Mikoriza arbuskula dan Rizobium untuk Merehabilitasi Lahan Terdegradasi. 2000. Gramedia Pustaka Utama. Wardana. 515 hal. Jakarta. Soemarwoto. 1995. Jurusan Tanah. Bappeda Kutai Kartanegara. Boger. W . 2005. 2006.Yogyakarta. Dampak Pencemaran Lingkungan. Dalam Makalah Seminar Nasional Mikoriza I. ELSAM. IPB. A. Merana di Tengah Kelimpahan. Departemen ESDM. 2000. Bogor. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Produk Strategis yang Harus Jadi Prioritas untuk lndustri Nasional. Tanggal15-16 November. S.. F. Diakses pada tanggal 08 Maret 2010. Pusat Penelitlan dan Pengembangan Teknologi Mineral.. Jakarta [Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara. S. Jakarta Setiadi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful