P. 1
kohort

kohort

|Views: 105|Likes:

More info:

Published by: Bernadeta Windy Kristy Sumongga on May 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2013

pdf

text

original

FORMULIR TELAAH KRITIS: PENELITIAN KOHORT Nama NIM No. 1.

: Windy Kristy Sumongga : 09/280194/KU/13005 Pertanyaan Skrining Ya  Tidak Tidak Dapat Justifikasi Jawaban Disimpulkan Populasi penelitian ini adalah pasien dengan HIV positif yang umurnya diatas 14 tahun diantara September 2007 dan Agustus 2009 yang berasal dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, Jawa Barat. Faktor risikonya adalah defisiensi nutrisi, pengobatanm dan efek langsung dari HIV pada sumsum tulang. Outcome yang diharapkan adalah adanya prevalensi anemia pada subjek (pasien dengan infeksi HIV) dan terlihatnya hubungan antara anemia dan homeostasis besi pada pasien dengan infeksi HIV di RS Hasan Sadikin. Ya, penelitian memang bertujuan untuk memperlihatkan efek bahaya dari suatu paparan yaitu status anemia dengan kejadian kematian pada pasien yang terinfeksi HIV dengan penularan melalui penggunaan obat-obatan. 2. Nilai (0-10)

Apakah penelitian tersebut membahas suatu permasalahan secara jelas dan terfokus? Pertanyaan penelitian dapat difokuskan pada:     Populasi penelitian Faktor risiko kondisi kesehatan Outcome/kondisi kesehatan Apakah penelitian bertujuan untuk mendeteksi kebermanfaatan /efek bahaya dari suatu paparan?

Apakah metode penelitian yang

Metode kohort cukup baik digunakan

Pertanyaan Lanjut Ya  Tidak Tidak Dapat Justifikasi Jawaban Disimpulkan Sampel yang diambil berasal dari 1 RS yang sama. 3. Sebanyak 869 pasien ikut. lebih baik daripada defisiensi besi. Semua pasien yang umurnya minimal 14 tahun masuk dan diberikan inform consent.  Apakah telaah kritis atas penelitian ini layak dilanjutkan? Ya / Tidak Ya No. peneliti mampu mendapatkan hubungan tentang HIV dengan anemia. Sehingga dalam penelitian ini.digunakan sudah tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian? Faktor yang dipertimbangkan:  Apakah metode kohort sesuai untuk topik penelitian ini. kondisi ferritin yang tinggi dan rendahnya level sTfr menunjukan redistribusi besi dan rendahnya aktiviras eritropoetic. ART diberikan pada pasien (subjek) yang memiliki tingkat WHO IV. WHO tingkat III dengan jumlah CD4 dibawah 250/mm3 atau Nilai (0-10) Apakah sampel penelitian dipilih dengan tepat? Pertimbangkan potensi bias seleksi yang dapat mempengaruhi generalisasi hasil sebagai berikut:  Apakah sampel yang dipilih dapat merepresentasikan populasi yang ingin diteliti? Adakah sesuatu yang khusus  . yang dijadikan sebagai RS pilihan yaitu RS Hasan Sadikin. 611 merupakan pasien ART naïve dan 258 pasien ART experience. dalam situasi yang tertentu sesuai yang ingin diteliti? Dapatkah metode ini menjawab pertanyaan penelitian? pada jenis penelitian yang tujuannya untuk mengetahui efek bahaya dari suatu paparan. Sama halnya seperti penelitian yang menjadi contoh. Dan juga didapatkan bahwa.

 Data yang dikumpulkan adalah jenis kelamin. karena sudah menggunakan acuan yang sesuai : ECLIA : mendeteksi HIV (antibodi anti HCV) . tingkatan berdasarkan kriteria WHO. BMI. Sisanya mengalamo lost to follow up maupun meninggal selama penelitian berlangsung. Dari 869 pasien yang mengikuti mengisi form kesediaan ikut dalam penelitian. misalnya:  Apakah pengukuran menggunakan metode subjektif/ objektif? Apakah alat pengukur dan metode sudah divalidasi? Apakah seluruh subjek dalam kelompok terpapar diklasifikasikan dengan metode yang sama?   . penyakit karena jamur (candida) pada mulut (sariawan). dan perhitungan manual pada retikulosit (jumlah sel darah merah yang bersirkulasi di aliran darah. riwayat dari ART atau treatment TBC.Flowcytometry : merupakan biomarker untuk mengetahui jumlah sel CD4 Semua subjek yang berada dalam kelompok - 4. riwayat penggunaan obat (suntik). Pengukuran data cukup baik. dan 230 pada pasien dengan ART experience. indeks sel darah merah. Dikatakan bahwa ada baseline pada setiap kunjungan yaitu adanya wawancara terstruktur dan pemeriksaan laboratorium yang mencakup hemoglobin. Apakah pengukuran paparan dalam penelitian dilakukan dengan akurat untuk menghindari bias? Penilaian dilakukan terhadap potensi bias pengukuran dan misklasifikasi. umur. yang mengikuti penelitian hingga akhir sebanyak 261 pasien dengan pemberian ART naïve. tentang kasus yang dipilih? Apakah seluruh responden yang seharusnya terlibat dalam penelitian telah direkrut sebagai sampel penelitian? WHO tingkat I atau II dengan CD4 dengan jumlah dibawah 200/mm3.

sTfr (metode enzim immunoassay.Flowcytometry : merupakan biomarker untuk mengetahui jumlah sel CD4 . seperti penggunaan tes HIV-RNA yang hanya diberikan pada ART experience dan tidak diberikan pada ART naïve. Dalam jurnal tidak menjelaskan ada tidaknya proses blinding. sama-sama Apakah pengukuran outcome dalam penelitian dilakukan dengan akurat untuk menghindari bias? Penilaian dilakukan terhadap potensi bias pengukuran dan misklasifikasi. misalnya:  Apakah pengukuran menggunakan metode subjektif/ objektif? Apakah alat pengukur dan metode sudah divalidasi? Adakah sistem yang andal yang dapat digunakan untuk mendeteksi outcome? Apakah metode pengukuran outcome di kedua kelompok sama? Apakah diterapkan “blinding” terhadap subjek dan/atau peneliti lapangan? Apakah hal ini akan mempengaruhi kualitas data yang dihasilkan?  Pengukuran menggunakan metode objektif. berisiko mengalami bias. Diamed.terpapar (ART experience) menggunakan tes HIV-RNA.Yang diukur juga adalah plasma ferritin (menggunakan ECLIA dengan metode Eleksis). bila dilihat penelitian ini tidak menunjukan adanya proses blinding. 5. Pengukuran data cukup baik. Eurogen). dimana ada hasil lab yang dapat dijadikan sebagai acuan. Hanya saja. karena data yang tidak dalam pelaksanaannya tidak dilakukan blinding. -     . ada perbedaan pengukuran antara kedua kelompok tersebut. karena sudah menggunakan acuan yang sesuai : ECLIA : mendeteksi HIV (antibodi anti HCV) . Tentu saja hal ini mempengaruhi kualitas data. Karena. dan hsCRP (metode immunoturbidimetri) Metode pengukuran di kedua kelompok tidak sama.

MCH. BMI. sel CD4. dapat mempengaruhi hasil outcome. umur. Peneliti berusaha mengendalikan semua variabel yang dianggap sebagai perancu dengan memberikan pembatasan-pembatasa dengan adanya kategori. 23 mengalami lost to follow up. MCV. Apakah peneliti telah mengidentifikasi seluruh variabel perancu utama? Buat daftar variabel perancu lain yang belum dipertimbangkan oleh peneliti  Banyak variabel yang berusaha dikendalikan oleh peneliti. riwayat IDU. Pada pasein ART naïve : 98 orang mengalami lost to follow up sebelum menerima ART.6. seperti jenis kelamin. treatment TB. regresi atau analisa sensitivitas untuk memperbaiki. Ada stratiikasi kriteria klinis pada pasien ART naïve. Subjek yang mengalami lost to follow up. stratifikasi. Apakah peneliti telah berupaya mengendalikan variabel perancu dalam desain dan/atau analisanya? Apakah peneliti sudah menerapkan prinsip pembatasan dalam desain penelitian atau penerapan teknik analisa berupa modeling. setelah menerima ART. Sedangkan pada pasien ART experience 26 mengalami lost to follow up. Apakah follow up kasus lengkap dan memadai? Apakah lama periode follow up kasus memadai? Pertimbangkan bahwa:  Efek negative atau positive suatu paparan membutuhkan waktu tertentu untuk menghilang Subjek loss to follow up dapat  Tidak disebutkan berapa waktu yang dibutuhkan sehingga muncul efek negatif maupun positif dari suatu paparan.  . anti HCV. dan index retikulosit. Oral Candidiasis. mengendalikan atau merubah faktor perancu? 7.

Ukuran kekuatan asosiasi yang digunakan peneliti adalah nilai HR dan RR. apakah ada alasan khusus terkait outcome yang menyebabkan loss tofollow up atau alasan khusus terkait paparan yang menyebabkan subjek secara sukarela terlibat dalam penelitian? Apa hasil dari penelitian tersebut? Pertimbangkan:   Apakah hasil utama penelitian ? Apakah peneliti melaporkan rasio atau proporsi antara kelompok terpapar dan tidak terpapar. Pada analisis dasar (multivariat). Dimana dari 19.8% dan 10. atau rate/ratio difference? Bagaimanakah ukuran kekuatan asosiasi antara paparan dan outcome (perhatikan RR)? Bila memungkinkan.  Hasil utamanya adalah status anemia (biasanya mild) memiliki prevalensi yang tinggi pada keadaan tersebut dan memiliki hubungan yang kuat dengan defisiensi immun dan mortalitas. Pada penelitian dynamic (open) kohort. subjek dapat tidak terekspos pada satu waktu ataupun diwaktu yang lainnya.8% sedangkan pada kelompok ART experience sebesar 10.  Pada penelitian open cohort atau dynamic cohort. Peneliti tidak melaporkan rasio maupun proporsi antara kelompok terpapar dan tidak terpapar. Pasien dengan status anemia moderate-   . Pasien yang status anemianya moderate dan severe berisiko 6.1%. pasien dengan jumlah sel CD4 < 50/mm3 berisiko 5. Pada pasien ART naïve.7 kali mengalami mortalitas.5 kali mengalami kematian. memiliki outcome yang berbeda dengan subjek yang menyelesaikan penelitian.8.1% dapat mempengaruhi status anemia yang dihasilkan. berapakah hasil perhitungan ARR (Absolute Risk Reduction)? Persentase subjek yang mengalami lost to follow up pada kelompok ART naïve sebesar 19.

 Potensi variabel perancu dapat menyebabkan bias pada hasil. rentang selisih pada pasien dengan status anemia mild dan moderatesever dari 0. Pasien dengan sel CD4 antara 0-50/mm3 berisiko 9.8 sampai 17.8.39) berarti tidak ada hubungan. Rentang selisih mortalitas pada status anemia moderate dan severe dengan yang statusnya mild dari 2. Pada analisis dasar (multivariat).6 sampai 27.8.3 sampai 2.05 (0. Nilai ci juga ada yang melewati angka 1.9 kali mengalami konsentrasi feritin yag tinggi dengan nilai p <0.9 kali mengalami konsentrasi kadar feritin yang tinggi. Pada analisis faktor tingginya konsentrasi kadar feritin.2.05 (0. Berdasarkan kriteria bardford-hills : 1. Bagaimana presisi hasil dan estimasi risiko? Pertimbangkan:  Ukuran interval kepercayaan  Hasil tidak presisi karena rentang selisih yang teralu lebar.001). Tetapi. Apakah kesimpulan hasil penelitian dapat dinilai akurat dan tepat? Pertimbangkan:   Ukuran estimasi risiko/efek Potensi hasil karena “chance”. 10.0.0 sampai 21. dengan nilai p yang > 0. 9.severe berisiko 1. Kekuatan asosiasi . rentang selisih mortalitas CD4  50/mm3 dan > 50/mm3 dari 1. Rentang selisih pasien dengan CD4 0-50 dan CD >50 sel/mL mulai dari 3. Dimana disebutkan bahwa dilakukan eksklusi pada pasien dengan koinfeksi tuberkolosis.

faktor-faktor tersebut merupakan faktor risiko secara biologis dari status anemia. 4. 3. HCV mempengaruhi anemia. Temporality Kondisi ini diperlihatkan pada kadar feritin. Penelitian aplikatif di Indonesia. Apakah hasil penelitian aplikatif untuk permasalahan Indonesia? Pertimbangkan:  Generalisasi subjek penelitian terhadap situasi di Indonesia  Kondisi dan situasi di Indonesia  Estimasi kebermanfaatan dan potensi bahaya secara lokal Apakah hasil penelitian ini mendukung penelitian terdahulu? Diperlihatkan dengan nilai RR. sehingga lebih memperhatikan status anemia yang dialami oleh pasien dengan infeksi HIV. sTfr. 5. ada beberapa unsur yang dibandingkan sebagai penyebab dari status anemia yang dialami pasien dengan infeksi HIV. karena penelitian ini sendiri dilaksanakan di Indonesia tepatnya di RS Hasan Sadikin. 12. Masuk akal Dimana. Jawa Barat. Analogi Dimana.  bias atau variabel perancu Adanya potensi kesalahan desain dan metode yang fatal yang membuat hasil penelitian tersebut tidak dapat diyakini kebenarannya Bardford-Hills criteria 11. Tentu saja manfaat dari penelitian ini cukup besar. namun dalam penelitian ini tidak dicantumkan nilai RR nya (HR dan OR) 2. Koherensi Dimana semua observasi cocok dengan model yang dihipotesakan.  Peneliti menemukan bahwa konsentrasi sTfr umumnya rendah dan tidak memiliki hubungan .

Penelitian lainnya menunjukan bahwa peningkatan dari sTfr akan diikuti ART dan tidak ada hubungan diantara tingkat sTfr dan perkembangan dari penyakit. Hasil lainnya. Penelitian di Thailand menunjukan.dengan jumlah CD4. dan suplementasi besi dapat menyebabkan penurunan status anemia. . Pada penelitian lain terlihat bahwa konsentrasi sTfr tidak terpengaruh oleh infeksi HIV. serum ferritin dan sTfr dapat digunakan secara berhati-hati untuk menilai status besi pada pasien dengan infeksi HIV. anemia defisiensi besi ditemukan sebanyak 20% pada perempuan yang terinfeksi HIV dikarenakan penggunaan obat-obatan terlarang. dan juga dilaporkan bahwa sTfr sendiri memiliki sedikit nilai untuk membedakan adanya inflamasi. tidak ada hubungan antara konsentrasi serum feritin dan plasma HIV RNA. Penelitian di United States menunjukan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->