P. 1
Skripsi - Peran Istri dalam Memotivasi Kesuksesan Suami

Skripsi - Peran Istri dalam Memotivasi Kesuksesan Suami

|Views: 1,191|Likes:
Published by rifahanifa
Skripsi yang mengangkat studi kasus ibu SY dan Bapak ZH. Skripsi ini menjelaskan mengenai pentingnya peran istri dalam memberikan motivasi untuk kesuksesan suami
Skripsi yang mengangkat studi kasus ibu SY dan Bapak ZH. Skripsi ini menjelaskan mengenai pentingnya peran istri dalam memberikan motivasi untuk kesuksesan suami

More info:

Categories:Types, Research
Published by: rifahanifa on May 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2014

pdf

text

original

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terdapat rasa cinta, perhatian dan penghargaan dibalik kesuksesan dan
kebahagiaan yang dirasakan oleh pria dan wanita. Wanita memiliki banyak
peran dalam keluarga, diantaranya peran sebagai seorang ibu, peran sebagai
sebagai istri dan peran sebagai anggota masyarakat. Dalam kesempatan kali
ini pembahasan akan terfokus kepada peran seorang wanita ketika menjalani
perannya sebagai teman hidup pria, menjadi seseorang yang paling dekat
dengan pria, dan mengurus segala kebutuhan pria, yaitu istri, istri dari seorang
suami.
Telah tertulis di banyak sejarah, di berbagai biografi orang-orang
sukses, dapat dijumpai bahwa—di balik kesuksesan seorang pria, pasti ada
wanita hebat bersamanya. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri, dalam
kesuksesan seorang pria pasti ada peran wanita. Diberbagai belahan dunia,
diketahui betapa besarnya peran seorang istri terhadap kesuksesan yang
diperoleh suami, diantaranya di Amerika Serikat pengaruh Hillary Clinton
tidak di ragukan lagi terhadap kesuksesan dan pencapaian yang diraih oleh
seorang Bill Clinton. Begitu juga dengan Barrack Husein Obama, presiden AS
terpilih ke-44. Dibalik kesuksesanya menjadi presiden AS berkulit hitam
terdapat peranan Michelle Robinson, atau yang lebih dikenal dengan Michelle
Obama, bukan hanya mendampingi dari belakang, akan tetapi, Michelle
Obama juga sangat berperan sebagai motivator yang handal bagi Barrack
Obama terlebih selama masa kampanye pemilihan presiden AS.
Sama halnya dengan sosok seperti Khadijah binti Khuwailid
Radhiyallahu Anhu, istri dari Rasulullah SAW, wanita yang mengimaninya
ketika orang-orang mengkufurinya; mempercayainya ketika orang-orang tidak
mempercayainya; menerima apa yang beliau katakan ketika orang-orang
mengingkarinya; melindunginya ketika beliau membutuhkannya;
menolongnya ketika orang-orang mencoba untuk mencelakakannya. Khadijah
mendampinginya dalam kehidupan yang susah maupun senang.Bahkan pada


2

tahun 527, tercatat seorang tokoh yang bernama Flavius Petrus Sabbatius
Justinianus atau Justinianus I (umumnya dikenal sebagai Justinianus yang
Agung). Justinian merupakan tokoh terpenting yang ada pada masa kuno.
Masa kekuasaannya ditandai dengan renovatio imperii (restorasi kekaisaran)
yang ambisius. Ambisi ini ditunjukkan melalui perebutan kembali wilayah
Kekaisaran Romawi Barat, termasuk kota Roma sendiri. Dalam masa
kekuasaanya, ditulis hukum Romawi Corpus Juris Civilis, yang akhinya
menjadi dasar bagi hukum bagi masyarakat di negara-negara modern. Dan
pada masanya pula, Bizantium berkembang, dan pembangunannya melahirkan
karya-karya besar. Pencapaian-pencapaian tersebut tidak luput dari peranan
seorang Theodora, yang tidak lain merupakan seorang pendamping, istri dari
Justinian. Theodora menjadi penasihat yang mampu melakukan berbagai tugas
diplomatik. Theodora pun mempunyai pengaruh terhadap peraturan-peraturan
yang dikeluarkan Justinian, termasuk beberapa pengesahan hukum yang
memperbaiki hak-hak dan status wanita.
Di Indonesia, hal serupa dapat dilihat dari peran seorang Siti hartinah
Soeharto, atau lebih dikenal dengan sapaan Ibu Tien. Namanya melekat di
benak rakyat Indonesia karena kesetiaannya mendampingi suami. Semangat
dan rasa simpatinya terhadap kehidupan sosial berdampak besar bagi
kelancaran karier Soeharto. Bukan hanya itu, perannya sebagai seorang ibu, ia
adalah sosok ibu yang bersahaja, membesarkan keenam anaknya sewaktu
Soeharto masih menjadi seorang militer. Sejak awal, Ibu Tien memang
merupakan sosok yang sudah dikondisikan sebagai istri yang patuh dan terus
setia menemani Soeharto dalam menjalani tugas kenegaraannya. Bahkan
banyak kalangan yang berpendapat popularitas Soeharto mulai menurun
sepeninggal Ibu Tien. Dalam bukunya, Arwan T. Artha menyebutkan bahwa
Bu Tien adalah wangsit keprabon Soeharto. Maksudnya adalah, Ibu Tien
merupakan wangsit yang dapat membuat Soeharto mendapatkan tahta
kekuasaannya.
Tidak berbeda dengan peranan Ibu Mufidah Jusuf Kalla, yang tidak
lain adalah istri dari Bapak Jusuf Kalla, dimana ia dikenal sebagai seorang
tokoh, cendekiawan, politisi, pengusaha, juga pernah menjadi wakil presiden
RI. Dan tidak dapat dielakkan lagi, bahwa kesuksesan yang dicapai olehnya


3

tidak luput dari peranan Ibu Mufidah, yang juga selalu menemani Jusuf Kalla
ketika kampanye. Tokoh lain yang kiprahnya tidak perlu dipertanyakan lagi
yaitu, yaitu BJ Habibie yang tidak lain adalah presiden ketiga Republik
Indonesia, keberhasilannya juga tidak lepas dari peran istrinya yaitu Ibu Hasri
Ainun Habibie. Bahkan, setelah kepergian ibu Ainun, bapak HBB membuat
buku yang judulya ―Habibie & Ainun‖, didalamnya diulas tentang peran,
kesetiaan dan cinta Ibu Ainun kepada bapak Habibie, didalam buku itu pula
diulas bagaimana perjuangan dan kesediaan seorang Ibu Hasri Ainun Habibie
menemani, mengilhami Bapak Habibie. Dibuku yang juga menjadi
persembahan untuk Ibu Ainun tertulis puisi-puisi, kata-kata indah, serta do‘a-
do‘a. Salah satunya penggalannya berbunyi, “Terimakasih Allah, Engkau
telah menjadikan Ainun dan Saya Manunggal Jiwa, Roh, Batin, dan Nurani
Kami Melekat pada Diri Kami sepanjang masa dimanapun Kami berada..”
1
.
Tidak berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki profesi
motivator sekali pun. Motivator Indonesia sekaliber Mario Teguh, kesuksesan
yang diraihnya tidak dapat dilepaskan dari sosok Ibu Lina. Yang selalu ada
disamping Mario Teguh baik dalam acara off-air maupun on-air. Begitu
berperannya seorang istri bagi kesuksesan yang di raih oleh suaminya.
Seorang wanita yang berhasil dalam melaksanakan peranannya dan
cerdas dalam emosi akan dapat mengantarkan pria pada keberhasilan. Karena
tentunya Ia mampu untuk ―memainkan‖ emosi pasangannya, kapan saat dan
cara yang tepat untuk menyarankan, untuk mengarahkan, dan kapan waktu
yang tepat untuk mengungkapkan pendapat, ketidaksetujuan, ketidaksukaan
dan kekesalan. Peranan istri bukan hanya sebagai pendamping suami akan
tetapi yang lebih besar adalah sebagai motivator terbaik, dan utama bagi
seorang suami. Seorang motivator yang hebat mampu menularkan
semangatnya pada orang-orang yang berada disekitarnya, seorang penasihat
yang baik dapat membuat orang mengambil keputusan yang bijaksana, dan
seorang manajer yang sukses dapat mengatur, merencanakan, hingga akhirnya
dapat dikerjakan dengan baik dan mendapatkan hasil terbaik. Suami, ataupun
istri sangat kuat pengaruhnya satu sama lain. Karenanya, pada kesempatan

1
Bacharuddin Jusuf Habibie. 2010. Habibie & Ainun. THC Mandiri,hal. 320


4

ini, akan dibahas tentang peran seorang istri sebagai motivator dari kesuksesan
yang dicapai oleh suami. Istri tidak hanya sebagai motivator secara verbal
(memberikan kata-kata mutiara, petuah, ataupun kiat-kiat) akan tetapi, istri
lebih kepada motivator yang bersifat non verbal (menyiapkan makan,
menyiapkan pakaian, ataupun mengurus kebutuhan suami lainnya), istri juga
sebagai motivator dalam konteks pemacu semangat. Dalam konteks ini, sangat
dipastikan bahwa pasangan suami dan istri berada di dalam hubungan
pernikahan yang bahagia, Dalam buku Women‘s Experiences Psychological
Perspective karya Frances Elaine Donelson diterangkan bahwa “Happily
married people tend to have some or all of the following characteristics: They
are well educated, they married past their teens, they were well-acquanted
before marriage, their parents are happily married, and they have good
communication and conflict resolution skills…”, dari kutipan diatas dijelaskan
bahwa, pasangan yang berada didalam pernikahan yang bahagia, memiliki
kecenderungan beberapa atau bahkan semua karakter, diantaranya: Mereka
berpendidikan, mereka menikah setelah lewat masa remaja (gejolak remaja),
mereka benar-benar/ mengenal satu sama lain sebelum menikah, orang tua
mereka juga berada di dalam hubungan pernikahan yang bahagia, dan yang
terakhir mereka memiliki komunikasi yang baik juga keterampilan yang baik
dalam membuat keputusan dalam konflik yang mereka hadapi. Selanjutnya
bukan hanya itu, didalam bukunya, Frances Elaine Donelson juga
menerangkan bahwa, pasangan suami dan istri yang berada di pernikahan
yang bahagia, mereka dapat diharapkan karena di dalam hubungan tersebut
terdapat komitmen satu dengan yang lain dan juga dalam hubungan , mereka
memiliki rasa menghargai yang sangat tinggi satu sama lain. Mereka juga
saling menghormati dan memelihara satu sama lain dan percaya kepada
pasangan mereka.
Didalam kesuksesan seseorang, terdapat peran dari orang-orang
terdekatnya. Kesuksesan yang di raih oleh seorang suami, disana terdapat
peranan dari seorang istri sebagai sosok yang paling dekat dengan suami. Jika
ditinjau dari perspektif agama, Allah SWT berfirman dalam Al qur‘an surat Ar
Ruum : 21 yang artinya, ―Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah
diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu


5

mendapat ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih sayang diantara kamu.
Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran Allah bagi
orang-orang yang berfikir”. Dari ayat tersebut, Allah telah menunjukkan
bahwa istri ataupun suami adalah karunia yang telah diciptakan oleh Allah
sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Dalam ayat lain, Allah menyatakan
bahwa suami dan istri seperti pakaian dimana fungsinya adalah saling
menutupi, melindungi, dan menghiasi satu sama lain. Adapun peranan yang
ada di dalamnya adalah suami dan istri, dan mereka saling berkesinambungan.
Karenanya, didalam kesuksesan yang diraih oleh suami juga terdapat andil
dari seorang wanita yaitu istri.
Dalam sebuah Alhadist Syarif disebutkan bahwa ―Wanita (seorang
ibu) itu adalah mengurus di dalam rumah suaminya dan mendidik putra-
putrinya”. Dalam hadist lain disebutkan, ―Wanita itu ibarat sekolah, jika
kalian mendidiknya dengan baik berarti kalian sedang mempersiapkan sebuah
bangsa dengan baik (Al hadist)”. Ahlul Hikmah juga menyebutkan, ― Wanita
adalah tiang negara. Apabila kaum wanita yang ada itu baik, maka baiklah
negara itu. Dan apabila wanita yang ada itu rusak, maka rusaklah negara ‖.
adapaun orang bijak mengatakan, bahwa, ―dibelakang laki-laki sukses,
terdapat dua wanita yaitu, ibunya dan istrinya...‖. Wanita mengendalikan
semua urusan keluarga dan memiliki suatu peran dan posisi yang menentukan
dalam masyarakat
2
Begitu mulia, terhormat, dan krusialnya peran seorang
wanita yang tak lain kodratnya adalah sebagai istri dari suami mereka.
Begitu mulianya peran seorang wanita. Dan betapa indahnya
kesinambungan yang terjadi antara dua jenis manusia yaitu pria dan wanita
yang akhirnya mengikatkan dirinya dalam hubungan suami dan istri.
Merupakan pengetahuan yang sangat penting, untuk memahami lebih lanjut
tentang peran dan posisi yang baik sebagai seorang wanita untuk
mendampingi pasangannya sampai pada jenjang kesuksesan.
Dari pejabaran yang telah dijelaskan diatas baik secara perspektif
awam, ilmiah maupun agama, banyak sekali tokoh-tokoh yang sukses di

2
Akbar Ahmed. 1993. From Samarkand to Stornoway : Living Islam. BBC Books Limited, hal. 226


6

bidangnya yang tak luput dari peranan istri, salah satunya adalah tokoh yang
akan penulis teliti pada kesempatan ini, beliau adalah Bapak ZH. Kesuksesan,
pencapaian dan prestasi yang beliau raih hingga saat ini, juga tidak luput dari
peran sang istri yang mendampingi beliau, Ibu SY.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dijelaskan di atas,
perumusan masalah yang dilakukan penulis adalah :
 Bagaimana peran istri terhadap kesuksesan yang diraih oleh
suami ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dibuatnya penulisan ini adalah untuk dapat mengetahui,
apa bentuk peranan seorang istri terhadap kesuksesan yang diraih oleh suami.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan menjadi pembelajaran
tentang pentingnya peran seorang istri dalam kesuksesan yang didapatkan oleh
seorang suami.
1.4.2. Bagi Perguruan Tinggi
Untuk menambah wawasan, pengetahuan serta menjadi pembelajaran
tentang peranan istri terhadap kesuksesan yang diraih oleh suami yang
didapatkan dari seorang tokkoh dan juga berdasarkan pengalaman juga
kehidupan nyata.
1.4.3. Bagi Obyek Penelitian/ Praktisi
Semoga dengan penulisan dan penjabaran dari penelitian ini, yang juga
didapatkan dari pengalaman kehidupan nyata bisa menjadi referensi juga
evaluasi bagi seluruh wanita yang nantinya akan menjadi istri dari suaminya


7

juga ibu dari anak-anaknya. Agar dapat lebih mengetahui peranan seorang istri
terhadap kesuksesan yang didapatkan oleh seorang suami.
1.5 Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada penjabaran, bagaimana peranan seorang
istri terhadap kesuksesan seorang suami dengan penelitian/ studi kasus yang
didapatkan lewat pengalaman dari Bapak ZH dengan Ibu SY.























8

BAB II
KERANGKA TEORI
2.1 Pengertian
Dalam awal ulasan awal ini, akan diawali dengan pengertian dari kata-kata
pembahasan skripsi, diantaranya ;
a. Pengertian Suami
su· a· mi n pria yg menjadi pasangan hidup resmi seorang wanita (istri)
3
.
suami adalah pasangan dari istri
4
.
The male head of a household; one who orders the economy of a family
5
.
Dapat juga diartikan bahwa suami adalah adalah pasangan hidup istri
(ayah dari anak-anak), suami mempunyai suatu tanggung jawab yang penuh
dalam suatu keluarga tersebut dan suami mempunyai peranan yang penting,
dimana suami sangat dituntut bukan hanya sebagai pencari nafkah akan tetapi
suami sebagai motivator dalam berbagai kebijakan yang akan di putuskan
termasuk merencanakan keluarga.
b. Pengertian Istri
is· tri n 1 wanita (perempuan) yg telah menikah atau yg bersuami; 2 wanita
yg dinikahi
6
.
istri merupakan pasangan dari suami
7
.
a married woman; a man's partner in marriage
8

Jika suami merupakan kepala keluarga, istri berperan sebagai pengatur
dalam rumah tangga. Istri sebagai pendamping dari suami dan pendidik utama

3
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php diakses hari Rabu, 19 Januari 2011 Pkl. 09.07 PM
4
http://staff.ui.ac.id/internal/131998622/material/PsikologiSuamiIstri-Liche.pdf diakses hari Selasa, 25 November
2011 Pkl. 2.22 AM
5
http://www.brainyquote.com/words/hu/husband174845.html#ixzz1f1lGFEGq diakses hari Selasa, 25 November
2011 Pkl. 1.49 AM
6
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php diakses hari Rabu, 19 januari 2011 Pkl. 09.12 PM
7
http://staff.ui.ac.id/internal/131998622/material/PsikologiSuamiIstri-Liche.pdf diakses hari Selasa, 25 November
2011 Pkl. 2.21 AM
8
http://www.thefreedictionary.com/wife diakses hari Selasa, 25 November 2011 Pkl. 1.47 AM


9

bagi anak-anaknya. Karena itu peran istri sangatlah penting dalam menciptakan
dan membangun rumah tangga yang baik.
c. Pengertian Sukses
suk· ses /suksés/ a berhasil; beruntung: me· nyuk· ses· kan v menjadikan
berhasil; menjadikan beruntung: ke· suk· ses· an n keberhasilan;
keberuntungan: kebanyakan orang senang mempelajari - orang lain untuk
ditiru
9
.
Sedangkan sukses disini memiliki dapat dilihat dari banyak sisi,
diantaranya, sukses secara kekayaan, sukses secara tahta atau kekuasaan, sukses
secara ketenaran, ataupun sukses secara kerohanian. Ada yang mengatakan
bahwa sukses bukan tujuan tetapi sukses adalah sebuah perjalanan, beberapa
ilmuan dan tokoh memiliki pendapat diantaranya, Steven Spielberg berpendapat
,‖Failure inevitable. Success is elusive”, yang maksudnya, kegagalan tidak dapat
dihindari, kesuksesan adalah sulit untuk dipahami. Albert Eisnstein memiliki
pandangan lain tentang sukses yaitu, ”If A is success in life, then A equals x plus y
plus z. Work is x; y is play; and z is keeping your mouth shut", yang memiliki arti,
jika A adalah sukses dalam hidup , maka A sama dengan X ditambah Y ditambah
Z. Bekerja adalah X,Y, adalah bermain, dan Z adalah menjaga mulut.
Bagaimanapun, sukses adalah proses pencapaian seseorang, dan manusia
terus berkembang dan memiliki pencapaian yang terus meningkat sehingga bisa
disimpulkan, seseorang ikatakan sukses ketika ia memiliki pencapaian-pencapaian
dalam hidup dan pencapaian-pencapaian tersebut dapat diraih dengan baik.
2.2 Psikologi Wanita
Posisi istri dijalankan oleh wanita, karenanya menjadi suatu hal yang
penting untuk membahas wanita secara psikologis, dan kejiwaan.
 Kejiwaan Wanita

9
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php diakses hari Rabu, 19 januari 2011 Pkl. 09.16 PM


10

a. Berbolak-baliknya Perasaan Wanita
10

Tidak hanya perempuan, laki-laki pun mengalami pergolakkan
perasaan. Namun, sebab dan bentuknya berbeda dengan laki-laki.
b. Wanita Seperti Gelombang Laut
11

Salah satu dari pergolakkan perasaan wanita adalah karena perasaan
wanita seperti gelombang laut. Ketika seorang wanita merasa dicintai,
dan disenangi, maka semangat mentalnya akan naik, dan mukanya
terlihat senang dan selalu tersenyum lebar. Keadaan jiwa wanita
seperti ini, sedang berada di puncak. Tetapi, ketika gelombang mulai
reda pada tingkat paling bawah, maka wanita merasa hatinya kosong.
Terkadang wanita merasa putus asa, sendirian dan tidak ada bantuan
sama sekali. Tetapi, ketika wanita sudah berada di dasar, dan merasa
ada kekuatan lagi, maka secara otomatis dan cepat keadaan jiwanya
akan kembali baik. Disaat seperti ini, akan menjadi sumber
kebahagiaan bagi orang disekitarnya. Kesiapan perempuan untuk
memberi dan menerima cinta dan kasih sayang, tergantung pada
seberapa besar perasaan dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain,
bergantung pada penghargaan dirinya sendiri. Sikap yang lembut,
mempergaulinya dengan baik, membuatnya merasakan cinta dan
kasih sayang adalah hal-hal yang diperlukan wanita, dan wanita itu
adalah istri. Ketika wanita merasa bahagia, maka berarti kebahagiaan
juga bagi orang disekitarnya, perasaan duka dan gelisah perempuan
berarti ketidaktenangan orang disekitarnya.
c. Menyembunyikan Perasaan Negatif Akan Memengaruhi Perasaan
yang Positif
12

Ketika gelombang seorang wanita sedang turun, sebenarnya pada
waktu itu wanita dapat penjernihan perasaan yang ada padanya. Setiap
wanita tanpa terkecuali membutuhkan waktu untuk menurunkan

10
Thariq Kamal An- Nu‘aimi. 2009. Psikologi Suami Istri. Mitra Pustaka, Hal. 279.
11
Ibid, hal. 280.
12
Ibid, hal 306.


11

kondisi kejiwaannya, siapa pun dan apapun profesi wanita tersebut.
Pengaruh besar dari perubahan perasaan tersebut sangat jelas ketika
berada di rumah bersama orang-orang yang ia cintai dan butuhkan.
Sudah barang tentu orang yang pertama muncul dibenaknya adalah
suami. Karenanya, energi dan perasaan positif yang dimiliki oleh istri
sangat mempengaruhi suami.
Dalam buku Women‘s Experiences Psychological Perspective, Frances
Elaine Donelson menuliskan ―…Psychology of women obviously in women
understanding women….‖ Yang maksudnya adalah bahwa, psikologi wanita
adalah, membahas kenyataan pada wanita untuk mengetahui wanita itu sendiri.
Selanjutnya, diterangkan juga baik suami maupun istri masing-masing memiliki
kontribusinya sendiri-sendiri. Selanjutnya, di pembahasan Expressing Care and
Love ,diterangkan ―….The relationship styles of friendships extend into marriage,
with men emphasizing doing things and women emphasizing saying things and
sharing feelings (Wills,Weiss, & Patterson, 1974). Lilian Rubin (1983) referred to
wives & husbands as “intimate strangers”. Their long history of different
communication Styles means women and men like to talk about different things.
Women generally enjoy discussing feelings and personal issues as well as sharing
the details of the day. In contrast men feel less skillful at sharing feeligs and see
daily detail superfluous (Wood, 1996)
13
. Uraian diatas, menjelaskan bahwa
dengan pernikahan juga memperpanjang atau melanjutkan pertemanan, laki-laki
lebih mengutamakan untuk melakukan sesuatu, sedangkan wanita lebih
mengutamakan dalam mengatakan/ menjelaskan sesuatu dan mecurahkan,
membagi apa yang mereka rasakan. Menurut pendapat lain, suami dan istri adalah
―orang asing yang memliki kedekatan (keintiman)‖. Mereka memiliki cara
komunikasi yang berbeda. Wanita secara umum lebih menikmati mendiskusikan
perasaan mereka dan masalah personal, juga berbagi tentang hal-hal kecil
(mendetil) yag terjadi pada hari itu. Sedangkan laki-laki memiliki perasaan yang
kontras, laki-laki merasa tidak memiliki kemampuan dalam berbagi dan melihat
menceritakan hal-hal kecil adalah sesuatu yang mubazir.

13
Frances Elaine Donelson. 1999. Women‘s Experiences Psyhological Perspective. Mayfield
Publishing Company, hal. 358.


12

Dalam Islam sebagai pasangan suami istri, wanita dan laki – laki memiliki
hak yang sama. Hal ini tercantum dalam Al qur‘an surat Al-Baqarah ayat 228
yang berbunyi :
¬e·³^U·C÷©^¯-4Ò ¬;¯+4O4¨4C
O})_´O¬¼^Ò) ·O·1ÞUÒ¦ ¡7¼ÒNO¬~ _
ºº4Ò Og4·© O}+¤O± pÒ¡ =};©+'¯4C
4` 4-ÞUE· +.- EO)×
O})_g`~4Þ¯OÒ¡ p)³ O}7 O}g`u·NC
*.) g¬¯O4O^¯-4Ò @O´=E-
_ O}×g+©·¯ON¬+4Ò O-EOÒ¡
O}g-g¢14O) O)× Elg¯·O up)³
W-¼Ò÷1-4OÒ¡ w·ÞU;)³ _
O}+¤O±4Ò Nu1g` Og~-.-
O}jg¯OÞU4N ´Ò^Ou¬O^·¬) _
´·E_@´OUg¯4Ò O}jg¯OÞU4N
¬OE_4OE1 ¯ +.-4Ò NOCjG4N N®7´¯EO
^ggg÷
228. Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali
quru'[142]. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah
dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-
suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami)
menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu
tingkatan kelebihan daripada isterinya[143]. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.
[142] Quru' dapat diartikan Suci atau haidh.
[143] Ini disebabkan Karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan
rumah tangga (lihat surat An Nisaa' ayat 34).
2.2 Teori Peran
Setelah dibahas tentang wanita secara psikologis, dan mengetahui secara
garis besar, pembahasan dilanjutkan dengan peranan istri. Maksud dari kata


13

―peran‖ disini adalah, ―pengaruh, bagian‖. Jadi, seorang pasti istri memiliki
pengaruh ataupun bagian dari kesesuksesan yang diperoleh suami, hal itu tidak
dapat dielakkan karena, istri adalah orang terdekat suami.
Soejono Soekanto menjelaskan bahwa
14
, ―Peranan atau role merupakan
aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan
kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka suatu peran sudah dijalankan‖.
Menurutnya, peranan mencakup 3 (tiga) hal, yaitu
a. Peranan meliputi norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat
seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian
peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan
kemasyarakatan.
b. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh
individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi
struktur sosial dalam tatanan masyarakat.
Selain itu, Biddle dan Thomas mengemukakan tentang teori peran,yang
disebutkan oleh Sarwono
15
yaitu:
a. Orang-orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial.
Orang-orang tersebut adalah aktor yang sedang berperilaku
menuruti suatu peran tertentu dan target (sasaran) atau orang lain yang
mempunyai hubungan dengan aktor dan perilakunya .
b. Perilaku yang muncul dalam interaksi tersebut.
(1) Harapan
Harapan tentang peran adalah harapan-harapan orang lain tentang
perilaku yang pantas, yang seyogyanya ditunjukkan oleh seseorang
yang punya peran tertentu.

14
Soejono Soekanto. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada, hal. 268
15
Sarlito Wirawan Sarwono. 2006. Teori-teori Psikologi Sosial. PT Raja Grafindo Persada, hal, 215


14



(2) Norma
Harapan yang bersifat normatif terhadap kinerja yang dilakukan
polisi dalam menjalankan tugasnya (pelayanan) guna mewujudkan
keamanan dan ketertiban bagi masyarakat.
(3) Wujud Perilaku
Peran diwujudkan dalam perilaku nyata oleh aktor. Perilaku
seseorang aktor bisa berbeda dengan lainnya sesuai dengan sifat
asalnya dan tujuannya (motivasinya).
(4) Penilaian dan Sanksi
Penilaian terhadap aktor bisa berasal dari masyarakat dan bisa
berasal dari dalam diriya, sedangkan untuk mempertahankan
penilaian positif maka perlu adanya sanksi yang diterapkan.
c. Kedudukan orang-orang dalam perilaku.
Kaitan dengan kedudukan aktor dapat mempengaruhi perilakunya.
d. Kaitan antara orang dan perilaku
Kriteria untuk menetapkan kaitan tersebut adalah:
(1) Derajat kesamaan atau ketidaksamaan antara bagian-bagian yang
saling terkait.
(2) Derajat saling menentukan atau saling ketergantungan antara
bagian-bagian tersebut.
(3) Gabungan antara derajat kesamaan dan saling ketergantungan.


15

Dalam Islam peran wanita sangatlah penting. Rasulullah mengatakan
bahwa wanita adalah juga pemimpin di rumah dan ia akan dimintakan
pertanggungjawaban atas perannya tersebut. Dalam sejarah para muslimah telah
memainkan perannya dalam berbagai bidang; di medan jihad, di masjid dan juga
di rumah. Namun dengan tetap menjaga akhlaq dan adab Islami. Ini dilakukan
dengan tetap menjaga perannya yang utama yaitu mendidik anak, menjaga
keluarga yang dibangun atas mawaddah dan rahmah, juga tetap menciptakan
suasana tenang dan damai dalam rumah tangga
16
. Hal ini juga tercantum dalam Al
qur‘an surat An-Nahl ayat 80 yang berbunyi :
+.-4Ò ºE¬E_ 7¯·¯ }g)`
¯ª¬:g>ONO+ 4L·¯Ec ºE¬E_4Ò
7¯·¯ }g)` g1O¬UN_ ´¦E¬u^·-
4>ONO+ E_4^OO¼gC4-¯OÞ
4¯¯O4C ¯ª7¯g4u¬·÷ 4¯¯O4C4Ò
¯ª¬:g-4`·~)³ · ;}g`4Ò
E_g·-4O;Ò¡ E-jO4uÒÒ¡4Ò
.E-jOE¬;-Ò¡4Ò L1Ò¦Ò¡
¬4-4`4Ò _OÞ¯)³ ¡×-gO ^g´÷
80. Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan
dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang
ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan
waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan
bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai
waktu (tertentu).
Peranan seorang istri, baik sebagai istri maupun sebagai ibu sangat
penting. Prof. Dr. Hj Zakiyah Darajat menuliskan, bahwa wanita mempunyai
fungsi yang sangat penting, karena wanita masuk dalam segala segi kehidupan.
Sebagai ibu, wanita mempunyai fungsi sebagai pembina pertama bagi pendidikan,
pribadi, prilaku dan kesehatan jiwa anaknya, dan dalam kehidupan keluarga, yang
tercermin dalam hubungan suami-istri dan sikap mental sehingga kehidupan

16
http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/wanita-dalam-islam.htm diakses pada hari Kamis, tanggal 2 Juni
2011, pkl. 22:53 PM.


16

moral, agama
17
. Sebagai istri, wanita memiliki peranan yang tidak dapat
dipandang sebelah mata, ia berperan sebagai pendamping hidup, teman disaat
suka maupun duka, sahabat, penasehat, kekasih, pengingat , pelipur lara, tempat
mencurahkan perasaan, semua peranan itu adalah merupakan bentuk motivasi istri
kepada suaminya. Karenanya, dapat diambil kesimpulan, bahwa peran istri tidak
lain adalah seorang motivator.

2.4 Teori Motivasi
Selanjutnya, dalam sub bab ini, akan dibahas tentang salah satu teori
motivasi. Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan, dan
memelihara perilaku manusia
18
. Motivasi juga bisa dimaksudkan dengan proses
yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk
mencapai tujuannya. Menurut Stephen P Robbins, ada tiga elemen utama yang
terdapat pada penjelasan diatas, yaitu, intensitas, arah dan ketekunan.
Selain itu ada beberapa definisi yang berkaitan dengan motivasi,
diantaranya definisi motivasi menurut menurut Mitchell, menurutnya motivasi
mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya,
dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan
ke tujuan tertentu
19
. Definisi motivasi juga diungkapkan oleh Gray menurutnya,
motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi
seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi,
dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu
20
. Selanjutnya, motivasi yang
didefinisikan oleh Morgan. Ia mengungkapkan bahwa motivasi bertalian dengan
tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut
adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating states), tingkah laku

17
Zakiyah Darajat. 2003. Ilmu Jiwa Agama. Bulan Bintang, hal.156.
18
http://alumnifatek.forumotion.com/t595-teori-motivasi diakses pada hari Kamis, tanggal 19 Januari
2011, pkl. 9:13 AM.
19
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/definisi-motivasi-dan-teori-teori-motivasi/ diakses pada hari Kamis,
tanggal 2 Juni 2011, pkl. 22.36 PM.
20
Ibid, diakses pada hari Kamis, tanggal 2 Juni 2011, pkl. 22:39 PM.


17

yang di dorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior), dan tujuan dari pada
tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior)
21
.
Teori motivasi yang akan digunakan adalah hirarki, teori kebutuhan yang
mencetuskan adalah Abraham Maslow
22
yang juga merupakan orang pertama
yang memproklamirkan aliran humanistik sebagai kekuatan ketiga dalam
psikologi. Humanisme menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan
nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri (self-realization)
23
.Dalam teorinya
(kebutuhan hirarki), Maslow membuat sebuah rumusan, bahwa di dalam setiap
diri manusia ada yang dinamakan hirarki dan setiap jenjang kebutuhan dapat
dipenuhi hanya kalau jenjang sebelumnya telah (relative) tepuaskan, ada juga 4
jenjang basic need atau deviciency need, dan satu jenjang metaneeds atau growth
needs
24
.
Tabel 2.4.1 Hirarki Maslow
Jenjang Needs

Deskripsi
K
e
b
u
t
u
h
a
n


B
e
r
k
e
m
b
a
n
g

(
M
e
t
a
n
e
e
d
)

Self
actualization needs
(Metaneeds)
Kebutuhan orang untuk menjadi yang seharusnya sesuai dengan
potensinya. Kebutuhan kreatif, realisasi diri, pengembangan self.
Kebutuhan harkat kemanusiaan untuk mencapai tujuan, terus
maju, menjadi lebih baik. Being-values - 17 kebutuhan
berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman, pemakaian
kemampuan kognitif secara positif, mencari kebahagiaan dan
pemenuhan kepuasan alih-alih menghindari rasa sakit. Masing-
masing kebutuhan berpotensi sama, satu bisa mengganti lainnya.
― What people can be they must be…‖

21
Ibid, diakses pada hari Kamis, tanggal 2 Juni 2011, pkl 22:44 PM.
22
Maslow. 1954. (en)A. Motivation and Personality. New York: Harper & Row, hal. 57-67
23
Alwisol. 2008. Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Universitas Muhammadiyah Malang, hal.320.
24
Ibid, hal. 201.


18

K
e
b
u
t
u
h
a
n

k
a
r
e
n
a

K
e
k
u
r
a
n
g
a
n

(
B
a
s
i
c

N
e
e
d
)

Esteem needs


Love needs/ Belonging

Safety Needs
Physiological needs
(1) Kebutuhan kekuatan, penguatan, kompetisi, kepercayaan diri,
kemandirian.
(2) Kebutuhan prestise, penghargaan dari oranng lain, status,
ketenaran, dominasi menjadi penting, kehormatan dan
apresiasi.

Kebutuhan kasih sayang, keluarga, sejawat, pasangan, anak.
Kebutuhan manjadi bagian dari kelompok, masyarakat.
(Menurut Maslow, kegagalan kebutuhan cinta & memiiliki
ini sumber hampir semua bentuk psikopatologi).
Kebutuhan keamanan, stabilitas, proteksi, struktur, hukum,
keteratutan batas, bebas dari tahut dan cemas.
Kebutuhan homeostatik: makan, minum, gula, garam, protein,
serta kebutuhan istirahat dan seks.

Lima kebutuhan hirarki, yaitu diantaranya adalah kebutuhan fisiologis
(rasa lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya), kebutuhan akan rasa aman
(rasa ingin dilindungi, dari bahaya baik bahaya secara fisik ataupun secara
emosional), kebutuhan sosial (rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan
persahabatan), kebutuhan akan penghargaan (faktor penghargaan internal dan
eksternal), juga kebutuhan akan aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi
seseorang, dan pemenuhan diri sendiri).

Gambar 2.4.1 Piramida Hirarki Kebutuhan Maslow

Untuk lebih jelas, akan dijabarkan satu per satu ;
a. Kebutuhan Dasar 1: Kebutuhan Fisiologis


19

Kebutuhan ini bersifat homeostatik (usaha menjaga keseimbangan
unsur-unsur fisik). Seperti, makan, minum, istirahat, seks, dll. Kebutuhan
fisiologis ini sangat kuat, dalam keadaan absolut.
b. Kebutuhan Dasar 2: Kebutuhan Keamanan (Safety)
Kebutuhan fisiologis dan keamanan pada dasarnya adalah
kebutuhan mempertahankan kehidupan. Kebutuhan fisiologis adalah
pertahanan hidup jangka pendek, sedang keamanan adalah pertahanan
hidup jangka panjang. Pada masa dewasa kebutuhan rasa aman terlihat
dalam berbagai bentuk :
1. Kebutuhan pekerjaan dan gaji yang mantap, tabungan, dan
asuransi, memperoleh jaminan masa depan.
2. Praktek beragama dan keyakinan filsafat tertentu yang membantu
orang untuk mengorganisir dunianya menjadi bermakna dan
seimbang.
3. Pengungsian
c. Kebutuhan Dasar 3: Kebutuhan Dimiliki dan Cinta (Belonging dan Love)
Menurut Maslow, cinta tidak sinonim dengan seks, cinta adalah
hubungan sehat antara sepasang manusiayang melibatkan perasaan saling
menghargai, menghormati, dan mempercayai. Dicintai dan diterima adalah
jalan menuju perasaan yang sehat dan berharga, sebaliknya, tanpa cinta,
menimbulkan kesia-siaan, kekosongan dan kemarahan. Dalam hal inilah,
peranan seorang istri sangat diperlukan.
d. Kebutuhan Dasar 4: Kebutuhan Harga Diri
Apabila kebutuhan akan dimiliki dan dicintai sudah relatif
terpuaskan, kekuatan motivasinya melemah, diganti motivasi tinggi,
diganti motivasi harga diri. Ada dua jenis harga diri:
1. Menghargai diri sendiri (self respect): kebutuhan, kekuatan,
penguasaan, kompetensi, prestasi, kemandirian dan kebebasan.
Orang membutuhkan pengetahuan tentang dirinya sendiri, bahwa
dirinya berharga, mampu menguasai tugas dan tantangan hidup.
2. Mendapat penghargaan dari orang lain (respect from others):
kebutuhan prestise , penghargaan dengan orang lain, status,
ketenaran, dominasi, menjadi orang penting, kehormatan, diterima
dan apresiasi.


20

e. Kebutuhan Meta: Kebutuhan Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri adalah keinginan untk memperoleh kepuasannya
dengan dirinya sendiri (self fulfilment), untuk menyadari semua potensi
dirinya, unttuk menjadi apa saja yang dia dapat melakukannya dan untuk
menjadi bebas mencapai puncak prestasi potensinya. Manusia yang dapat
mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh. Sehingga
orang yang sehat adalah orang yang mengembangkan potensi dirinya, dari
pada mengikuti pengaruh lingkungan diluar dirinya. Setelah seseorang
mencapai aktualisasi diri, menurut penelitian Maslow mereka ternyata
mengalami pengalaman puncak (peak experience) dan seseorang yang
telah melewati pengalaman puncak, mereka akan lebih religious, mistikal,
sholeh, dan indah (poetical).
Dengan adanya peran sosok istri, merupakan salah satu media untuk
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang dijabarkan oleh Abraham Maslow.
Sebagai contoh, salah satu peran istri adalah dengan adanya sosok seorang istri
maka otomatis akan terpenuhi pula kebutuhan akan pemenuhan rasa kasih sayang,
kepemilikkan, penerimaan, persahabatan yang tidak lain itu adalah salah satu
kebutuhan sosial. Begitu pula dengan suami, akan terjadi kesimbungan, dan
keseimbangan sehingga peranan istri dalam kesuksesan suami bisa dikatakan
sebagai motivator utama.
Sukses, adalah sebuah pencapaian seseorang. Sukses juga sebagai sebuah
proses. Seseorang dikatakan sukses ketika pencapaiannya terus meningkat, hal ini
beriringan dengan teori hierarki Maslow yang menjelaskan tentang kebutuhan
akan aktualisasi diri, dimana seseorang butuh untuk terus tumbuh, berkembang
dalam pencapaian potensi-potensi sehingga terus ada peningkatan. Dalam usaha
meningkatkan potensi-potensi itulah istri berperan, bukan hanya potensi secara
materil (yang terlihat) akan tetapi juga secara immaterial/ psikologis/ kejiwaan
(yang tidak terlihat). Palgunadi menyebutkan, ada yang dinamakan segitiga
sukses kehidupan
25
diantaranya ;
a. Kunci Pertama : Khusnudzan

25
Palgunaldi T Setyawan. 2004. Daun Berserakan. Gema Insani, hal. 29


21

Apapun yang ada pada diri seseorang itulah yang terbaik menurut-
Nya, yang terpenting adalah bekerja dan melakukan hal apapun sebaik
mungkin.
b. Kunci Kedua : Syukur
Setelah seseorang berprinsip apapun yang terjadi pada dirinya
adalah yang terbaik dari Tuhannya, maka ketika ia mendapatkan
kenikmatan apapun bentuknya, ia akan mensyukurinya.
c. Kunci Ketiga : Sabar
Jika ketetapan yang ditakdirkan tidak sesuai dengan keinginan, maka yang
dapat dilakukan adalah sabar.
Menurutnya, agar sukses mengarungi lautan kehidupan tanpa beban, maka
ketiga kunci diataslah yang harus menjadi pegangan.
Setelah mengetahui peranan istri sebagai motivator, perlu diketahui bahwa
segala dorongan, dukungan ataupun motivasi yang diberikan oleh istri kepada
suami tidak lain adalah karena perasaan cinta dan kasih sayang antara suami dan
istri dan hal itu terjadi karena terciptanya keluarga yang bahagia, pernikahan yang
bahagia sehingga dapat memajukan baik istri atau suami secara lahir dan batin.
Karenanya, dalam pembahasan selanjutnya adalah mengenai pernikahan yang
bahagia.
2.5 Pernikahan yang Bahagia
Peranan istri sebagai pendorong dan motivator untuk suaminya, akan
sangat efektif jika didukung oleh keadaan dimana sepasang suami istri dalam
hubungan yang baik, yaitu pernikahan yang menimbulkan kebahagiaan.
Kebahagiaan rumah tangga dapat diperoleh dengan berbagai cara, kalangan
psikolog telah menemukan kunci-kunci rahasia menuju kehidupan rumah tangga
yang bahagia antara suami dan istri. Salah satu penelitiann yang dilakukan oleh
Washington University dan dipublikasikan di Journal of Pshycology memprediksi
siapa saja pasangan yang akan langgeng ikatan pernikahannya dan siapa saja yang
tidak. Penelitian ini juga dipantau oleh para dokter. Selain memantau, mereka juga
menginterview para pasutri. Lima tahun kemudian, mereka menghubungi
pasangan-pasangan tersebut dan ternyata, prediksi mereka mencapai angka
kebanaran 90%. Dr. Chybill Carrier sebagai pembimbing penelitian berpendapat,
―Konsep-konsep yang dibawa oleh masing-masing pasangannya dan
perkawinannya menunjukkan secara detail keseimbangan rumah tangga mereka―.


22

Berdasarkan dari penelitian tersebut, ada beberapa isyarat dari para pemikir
tentang bagaimana mencerahkan kehidupan rumah tangga di masa mendatang
26
,
antara lain:
a. Ketika suami dan istri berbincang masalah masa depan rumah tangga,
sebaiknya menggunakan kata-kata ―kita‖ sebagai kata ganti ―saya‖.
b. Suami ataupun istri sebaiknya memberikan kesan baik dihadapan siapa
saja bahwa ia bangga dengan pasangannya, baik dari sang istri ataupun
suami.
c. Keharmonisan perspektif dalam memandang sesuatu, sehingga selam
berlangsung pemnbicaraan baik istri ataupun suami bisa saling
mendukung.
d. Masing-masing pasangan sebaiknya mengingat-ingat dengan detil awal
pertemuan mereka, baik terkait dengan kapan dan dimana mereka
berjumpa, bahkan romantisme di awal mereka berjumpa hingga masing-
masing dari mereka menyetujui untuk menikah.
e. Kedua pasangan seharusnya bersifat optimis terhadap berbagai kesulitan
yang mereka hadapi,dengan berpegang pada satu prinsip yaitu mendung
akan mencurahkan hujan kebaikkan.
Selanjutnya, Frances Elaine Donelson juga menerangkan pada bukunya,
“..The closeness or intimacy so important to marital satisfaction includes the
emotional intimacy of expressing feelings as well as spiritual intimacy
27
…” yang
maksudnya adalah bahwa kedekatan ataupun keintiman sangat penting dalam
kepuasan pernikahan termasuk didalamnya keintiman secara emosi yang
didalamnya bagaimana mengekspresikan perasaan seperti keintiman secara
spiritual. Penjelasan Frances berlanjut pada penelitiannya terhadap kepuasan dan
kebahagiaan dalam menikah memiliki beberapa karakteristik, “….the most
important characteristic of their relationship were emotional security, respect,
and communication. The other characteristics, in order, were help and play
behavior, sexual intimacy, and loyality.
28
.‖ dijelaskan bahwa karakteristik yang
paling penting dari hubungan mereka adalah rasa aman (secara emosional), rasa

26
Abdurrahman ‗Ali ad-Disiri. 2010. Agar Bahtera Rumah Tangga Anda. Best Media, hal. 14.
27
Frances Elaine Donelson. 1999. Women‟s Experiences Psyhological Perspective. Mayfield
Publishing Company, hal. 355.
28
Ibid, hal. 356


23

hormat, dan komunikasi. Selanjutnya, dijelaskan pula ada beberapa karakteristik
yang membantu kebahagiaan dalam hubungan suami-istri yaitu, kegiatan bermain
bersama pasangan, keintiman dalam seks, dan loyalti. Peranan adalah termasuk
salah satu bentuk dari sebuah loyalti ataupun dedikasi dalam sebuah hubungan.
Akan tetapi, pada setiap proses interaksi pasti ada kalanya terjadi konflik terlebih,
interaksi suami-istri merupakan interaksi yang intens.
Sedangkan dalam Islam pernikahan yang bahagia adalah pernikaha yang
sakinah, mawaddah, dan rahmah. Konsep sakinah, mawaddah, dan rahmah sudah
tidak asing lagi dalam Islam. Adapun secara bahasa, sakinah berarti tenang/
tentram, mawaddah mengandung arti rasa cinta, sedangkan rahmah berarti kasih
sayang. Tujuan dari pernikahan dalah umtuk membangun rumah tangga yang
sakinah, mawaddah dan rahmah, hal itu tercermin dalam Al qur‘an surat Ar-ruum
ayat 21 yang berbunyi :
;}g`4Ò ¼·gOg-4C-47 upÒ¡ 4-ÞUE·
7¯·¯ ;}g)` ¯ª7¯´O¬¼^Ò¡
~w}4Ò^eÒ¡ W-EONL7¯¯O4g¢¯
E_^1·¯)³ ºE¬E_4Ò ª¬:4LuO4
LEE14OE` OE©;O4O4Ò _ Ep)³ O)×
Elg¯·O ±e4C±E ±¬¯O·³g¢¯
4pÒNO-¯E¼4-4C ^g¯÷
21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir.
Yang pertama adalah sakinah, yang berarti ketenangan. Laki – laki dan
wanita memiliki sifat dan kecenderungan yang tidak akan berfungsi sempurna jika
berdiri sendiri. Kesempurnaan itu akan terwujud dengan bergabung dan menjadi
pasangan sesuai dengan sunnatullah. Dengan memiliki hubungan yang dalam dan
dekat dengan orang lain, akan membantu seseorang untuk mendapatkan kekuatan
dan membuatnya lebih mampu dalam menghadapi tantangan. Karenanya, manusia
membutuhkan pasangan yaitu dengan menikah, berkeluarga sebagai elemen yang


24

paling kecil dalam masyarakat. Dan ketenangan dalah hal yang paling
didambakan oleh setiap pasangan dalam menjalani rumah tangga. Sakinah terlihat
pada kecerahan raut muka yang disertai kelapangan dada, budi bahasa yang halus,
yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan
kesucian hati, serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat.
Itulah makna sakinah secara umum dan makna-makna tersebut yang diharapkan
dapat menghiasi setiap keluarga yang hendak menyandang Keluarga Sakinah
29
.
Selanjutnya adalah mawaddah. Mawaddah memiliki arti rasa cinta.
Dengan adanya seorang istri, suami akan merasakan adanya kedekatan dan
kecenderungan kepada istrinya. Rasa cinta yang tumbuh antara keduanya
merupakan anugrah dari Allah Swt. Dan hal itu sepatutnya disyukuri. Allah
menumbuhkan mawaddah dalam pernikahan dua orang manusia yang berasal dari
dua latar belakang yang berbeda dan akhirnya akan menimbulkan rasa cinta antara
mereka.
Dan yang terakhir adalah rahmah. Kata rahmah disini berarti kasih sayang.
Kebahagiaan dan kesetiaan merupakan hasil dari rasa rahmah. Setia dalam
naungan kasih sayang dengan menerima kekurangan yang ada pada pasangan.
Dan ras a inilah yang akan membawa pasangan suami istri dalam hubungan yang
langgeng hingga akhir hayat. sakinah mawaddah warahmah tidak datang begitu
saja, tetapi ada syarat bagi kehadirannya. Harus diperjuangkan, dan yang lebih
utama, adalah menyiapkan kalbu. Sakinah, mawaddah dan rahmah bersumber dari
dalam kalbu, lalu terpancar ke luar dalam bentuk aktifitas sehari-hari, baik
didalam keluarga maupun dalam masyarakat
30
.
2.6 Konflik dalam Hubungan Suami Istri

29
http://www.akhlaqulkharimah.com/2011/05/02/keluarga-sakinah-mawaddah-warahmah/ diakses pada tanggal 4
Juni 2011, pkl. 8.19 AM WIB

30
Ibid , diakses pada tanggal 4 Juni 2011, pkl. 8.20 AM WIB


25

Wanita dan laki-laki adalah dua dunia yang berbeda, memiliki cara
pandang masing-masing, juga pemahaman yang tidak jarang menghasilkan
pengertian yang berbeda pula. Sehingga karenanya, tidak jarang antara hubungan
suami-istri (laki-laki dan perempuan) mengalami konflik tersendiri.
a. Perbedaan Psikologis Wanita dan Laki-laki secara Umum
31

Wanita dan laki-laki, bukan hanya berbeda secara fisik akan tetapi
juga pada sisi psikologisnya. Sebagai contoh, dalam pengamatan, gerak
intuisi perempuan lebih tinggi dibanding gerak intuisi laki-laki, ketika
perempuan dan laki-laki berada dalam suatu kesulitan mereka juga
memiliki respon yang berbeda. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa setiap
wanita tidak hanya memiliki sifat kewanitaan saja, begitu pula dengan
laki-laki, setiap laki-laki tidak hanya memiliki sifat kelaki-lakian saja.
Laki-laki yang pada tidakkannya lebih dominan kekuatan kelaki-
lakiannya, pada batas tertentu ia akan tampak egois. Mereka berfikir
terpusat (terkonsentrasi). Sebaliknya wanita, dengan sisi kewanitaanya
akan lebih banyak perhatian pada orang lain melebihi perhatiannya kepada
diri sendiri. Untuk bisa mengubah keadaan ekstrim ini, baik laki-laki
ataupun wanita harus mengembangkan sifat kelaki-lakian (bagi wanita)
dan sifat kewanitaan (bagi laki-laki) yang ada dalam dirinya. Bila hal itu
dapat terseimbangkan dengan baik, maka tidak hanya hubungan dengan
orang lain yang akan membaik, tetapi juga membantu untuk selalu
mencipta dan kreatif. Setiap orang akan selalu tertarik dengan kekuatan
pelengkap lain yang ada pada dirinya. Laki-laki akan tertarik dengan
wanita, wanita akan tertarik kepada laki-laki. Melalui rasa cinta, laki-laki
dapat mengembangkan sifat kewanitaannya, wanita dapat
mengembangkan sifat kelaki-lakiannya. Ketika seseorang menyukai dan
menghormati perbedaan, maka akan mencapai keseimbangan yang dicari
tersebut.
b. Konflik dan Marah
Pada pembahasan ini pula, dirasa juga perlu diulas mengenai
marah, karena dalam hubungan antara pasangan suami-istri kemarahan

31
Thariq Kamal An- Nu‘aimi. 2009. Psikologi Suami Istri. Mitra Pustaka, Hal. 18


26

pasti tidak luput darinya, oleh sebab itu, amatlah penting untuk mengetahui
apa itu marah, penyebab marah, bahaya marah, juga terapi marah.
- Pengertian Marah
Menurut Al Ghazali dalam Najar, marah adalah kekuatan setan
yang disimpan oleh Allah SWT didalam diri manusia
32
. Al-
Jurjani menjalankan bahwa marah adalah perbuatan yang
terjadi pada waktu mendidihnya darah dalam hati untuk
memperoleh kepuasan yang ada didalam dada
33
. Dalam
tinjauan psikologi, menurut William James, manusia adalah
makhluk yang secara alami memiliki emosi. Adapaun menurt
William James menuliskan bahwa emosi adalah keadaan jiwa
yang menampakkan diri dengan sesuatu perubahan yang jelas
pada tubuh (the state of mid that manifest itself by a peceptinle
change in the body)
34
.

- Penyebab Kemarahan
Ada beberapa faktor penyebab kemarahan diantaranya
i. Faktor Fisik, misalnya kelelahan, zat-zat tertentu yang
menyebabkan marah (kurang zat asam), ataupun
hormon kelamin (menstruasi misalnya).
ii. Faktor Psikis, faktor psikis yang menimbulkan marah
adalah erat kaitannya dengan kepribadian manusia.
Terutama, yang menyangkut apa yang mengalami
konsep diri yang salah. Berapa self concept yang salah
dapat dibagi yaitu, rendah diri, sombong (superiority
complex) , dan egoistis.
- Bahaya Marah
Dalam pandangan Islam, salah satu sahabat Abdullah bi Umar
ra. Mengatakan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW
―Apa yang dapat menjauhkanku dari murka Allah SWT ? ―
beliau menjawab, ―Janganlah engkau marah‖. Nuh (1993)

32
Yadi Purwanto, Rachmat Mulyono, Psikologi Marah Perspektif Psikologi Islam. PT Refika Aditama, hal. 7.
33
Ibid, hal. 7.
34
Ibid, hal.7.


27

menguraikan lebih rinci lagi tentang bahaya amarah pada
seorang, yaitu diantaranya, membahayakan tubuh, menodai
agama, tidak mampu mengendalikan diri, terjerumus ke dalam
dalih yang hina, dan yang terakhir adalah azab yang keras
35
.
Sedangkan dalam pendekatan psikologis Gie menyatakan
bahwa amarah adalah suatu reaksi emosional yang terbiasakan
dalam kehidupan sehari-hari seseorang. Adapun bahaya marah
yang dilihat dari tinjauan psikologis diantaranya
36
;
i. Bahaya secara Fisiologis
Secara fisiologis, marah dapat mengakibatkan
hipertensi, stress, depresi, dll.
ii. Bahaya Psikologis
Amarah akan menimbulkan berbagai akibat psikologis
yang membahayakan. Salah satunya adalah penyesalan.
Amarah dapat berakibat gawat karena akan merusak
ketenangan pikiran atau kedamaian batin seseorang.
Dengan sendirinya hal ini akan menjadikan penyebab
stress yang berat, serta tumbuhnya berbagai penyakit
psikologis lainnya seperti insomnia dan psikosomatik.
iii. Bahaya Sosial
Watak pemarah mengakibatkan terjadinya disharmonis,
seperti terputusnya hubungan dengan yang dicintai,
terputusnya persahabatan dengan seorang teman,
kehilangan pekerjaan ataupun akibat-akibat lainnya.
- Terapi Marah
Ada beberapa macam terapi marah diantaranya ;
i. Terapi Agama
Dengan terapi agama amarah harus di atur.
Mengendalikan marah sangat penting dalam upaya
mentransformasikan amarah menjadi energi positif,
minimal mengurangi unsur negatifnya
37
.

35
Ibid, hal. 33.
36
Ibid, hal. 43.
37
Ibid, hal. 57


28

ii. Terapi Psikologi
Dalam terapi secara psikologis, menyarankan agar
seorang memerangi kebiasaan setiap hari. Walter
Alvarez menyarankan agar seorang memerangi
kebiasaan marah setiap hari
38
.
Pada setiap hubungan antar pribadi mengandung unsur konflik,
pertentangan pendapat, ataupun perbedaan kepentingan dan keyakinan. Menurut
Johnson, 1981, yang dimaksud dengan konflik adalah situasi diman tindakan salah
satu pihak berakibat menghalangi, menghambat atau menganggu tindakan pihak
lain
39
. Kini konflik sering diberi sebutan yang lebih berkonotasi positif, seperti
bumbu dalam dalam hubungan suami-istri, maupun bentuk-bentuk hubungan
lainnya. Karena sesungguhnya, bila konflik dapat dikelola dengan baik, konflik
justru akan memberi manfaat yang positif, berikut beberapa macam manfaat dari
konflik
40
:
1. Konflik dapat menjadikan seseorang sadar bahwa ada persoalan
yang perlu diselesaikan dalam hubungan kita dengan orang lain.
2. Konflik dapat menyadarkan dan menolong seseorang untuk
melakukan perubahan-perubahan dalam diri kita.
3. Konflik dapat menumbuhkan dorongan dalam diri kita untuk
memecahkan persoalan yang selama ini tidak jelas kita sadari atau
kita biarkan tidak muncul ke permukaan.
4. Konflik dapat menjadikan hidup jadi menarik.
5. Perbedaan pendapat, dapat membimbing kearah keputusan-
keputusan bersama yang lebih matang dan bermutu.
6. Konflik dapat menghilangkan ketegangan-ketegangan kecil yang
sering kita alami dalam hubungan kita dengan seseorang.
7. Konflik juga dapat menjadikan seseorang sadar tentang siapa atau
macam apa dirinya.
8. Konflik juga bisa menjadi sumber hiburan. Maksud dari konflik
disini adalah ketika konflik berada dalam bentuk perlombaan dan
juga permainan.

38
Ibid, hal. 70.
39
A Supratiknya. 1995. Komunikasi Antarpribadi. Kanisius, hal. 94.
40
Ibid, hal. 94.


29

9. Konflik dapat mempererat dan memperkaya hubungan.
Penjelasan diatas berarti bahwa hubungan antar pribadi sesungguhnya
memiliki potensi menunjang perkembangan pribadi diri sendiri atau
perkembangan relasi. Begitu pula halnya dengan konflik yang terjadi antara
suami-istri, dengan terjadinya konflik maka pasangan akan mendapatkan banyak
kebaikkan, juga hubungan yang semakin erat
2.7 Komunikasi antara Suami Istri
Untuk dapat memulai, ,memiliki, mengembangkan dan memelihara
komunikasi yang akrab, hangat, dan produktif, diperlukan dasar dalam
berkomunikasi diantaranya
41
:
- Harus mampu saling memahami, yaitu sikap percaya, pembukaan
diri, dan penerimaan diri.
- Harus mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaan secara
tepat dan jelas.
- Harus mampu saling menerima dan saling menolong.
- Harus mampu memecahkan konflik dan bentuk-bentuk masalah
antar pribadi lain yang mungkin muncul dalam komunikasi dengan
orang lain, melalui cara-cara yang konstruktif.
Kepercayaan adalah elemen penting dari sebuah hubungan suami-istri.
Kepercayaan mutlak diperlukan agar suatu relasi tumbuh dan berkembang,
karnanya pasangan suami-istri harus saling mempercayai. Hal ini dilakukan pada
saat menentukan dimana mereka harus mengambil resiko dengan cara saling
mengungkapkan lebih banyak tentang pikiran, perasaan, dan reaksi mereka
terhadap situasi yang tengah mereka hadapi, kerjasama
42
.
Komunikasi adalah elemen yang krusial dalam suatu hubungan dan hal itu
memberikan andil dalam perjalanan menempuh kehidupan. Pertama, bagaimana
kita menangkap komunikasi orang lain. Kedua, bagaimana kita
mengkomunikasikan yang ingin kita nyatakan, yang kita rasakan, ataupun yang

41
Ibid, hal. 10.
42
Ibid, hal. 26.


30

kita inginkan
43
. James O. Prochaska dan Carlo. C. DiClemente, peneliti di Texas
Reseach Institute of Mental Sciences (TRIMS) pernah menulis buku berjuudul
The Traditional Approach, Crossing Traditional Boundaries of Therapy
44
. Dalam
bukunya, Prochaska dan DiClemente menuliskan sebagian besar ketidakpuasan
perkawinan ternyata bersumber dari masalah komunikasi. Masalah inilah yang
banyak membuat suami dan istri bertengkar. Sikap mudah menyalahkan teman
(blaming partner), menurut Prochaska dan DiClemente dapat menyebabkan
kegagalan komunikasi
45
.
Mungkin saja memang salah satu dari pasangan melakukan kesalahan.
Tetapi juga sangat mungkin apa yang dipersalahkan oleh pasangan adalah perkara
yang tidak salah. Hanya saja pasangan belum melakukan tabayyun (mencari
kejelasan) atau tidak mau mendengar bayyan (penjelasan) yang diterima
46
.
Komunikasi adalah kebutuhan. Dalam sebuah tulisan yang ada dalam
majalah Safina, No. 1/ Th II Maret 2004 menuliskan bahwa komunikasi
merupakan sumber dari keharmonisan. Adapun beberapa teknik dalam
berkomunikasi dengan pasangan antara lain :
1. Kenalilah lebih dahulu pasangan hidup kita. Hal ini sangat penting, agar
tumbuh suatu ikatan hati yang sinergis. Apa yang anda inginkan dari
pasangan anda, bagaimana perasaan anda terhadap anda, apa yang
diinginkan pasangan anda terhadap anda.
2. Sampaikan segala sesuatunya secara terbuka, jangan ada lagi yang
disembunyikan. Karena suami istri dalam pandangan Allah adalah
sepasang manusia yang diberi amanah kehidupan dan kelak akan
diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak.
3. Berusaha untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang menyinggung
apalagi menyakiti pasangan. Menyakiti pasangan sama dengan anda
menyakiti diri sendiri.

43
Mohammad Fauzil Adhim. 2007. Kado Pernikahan Untuk Istriku. Mitra Pustaka, hal. 564.
44
Ibid, hal. 547
45
Ibid, hal. 547
46
Ibid, hal. 571


31

4. Berkomunikasi lebih banyak dikendalikan oleh suasana emosi. Oleh
karena itu perhatikan baik-baik bagaimana emosi anda dan pasangan
ketika hendak berkomunikasi.
Karenanya, sangatlah disarankan untuk dapat menjalin komunikasi yang
baik dengan pasangan. Agar dapat tercipta rumah tangga yang harmonis, dan rasa
cinta akan tetap tumbuh dalam hubungan antara keduanya.









BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pengertian
Riset (penelitian) berarti ―to search for, to find‖. Dalam bahasa latin
berasal dari kata ―re‖ yang artinya lagi dan ―cercier‖ yang artinya mencari. Secara
umum riset berarti ―mencari informasi tentang sesuatu‖, bisa juga diartikan
sebagai sebuah usaha untuk menemukan sesuatu
47
. Riset melalui metode ilmiah
adalah upaya mengungkap realitas untuk mencari kebenaran secara objektif,
empiris, sistematis, dan terorganisir. Hasil dari riset ini adalah menciptakan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan. Jadi, dapat dikatakan, riset berguna untuk
menciptakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Artinya, riset adalah
operasional dari metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan secara

47
Rahmat Kriyantono. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana Prenada Media Group, hal.1


32

ilmiah
48
. Hakikat riset melalui metode penelitian ilmiah adalah untuk mencari
‗nilai kebenaran‘ secara objektif dan logis, termasuk kegiatan pengumpulan fakta-
fakta di lapangan, data dan informasi baik yang diperoleh secara langung
(primarily) maupun tidak langsung (secondary)
49
. Tujuannya adalah untuk
menemukan, mengembangkan, atau menguji kebenaran suatu pengetahuan.
Menemukan berarti berusaha mendapatkan sesuatu untuk mengisi kekosongan
atau kekurangan. Mengembangkan berarti memperluas dan menggali lebih dalam
apa yang sudah ada, sedangkan menguji kebenaran dilakukan jika apa yang sudah
ada masih atau menjadi diragukan kebenarannya.
50

Adapun tujuan penelitian disini adalah untuk, menemukan dan menguji
kebenaran. Maksud dari menemukan adalah dengan penelitian ini, untuk
mendapatkan informasi tentang peranan seorang istri terhadap kesuksesan seorang
suami. Sedangkan tujuan dari menguji kebenaran adalah untuk menguji kebenaran
data yang sudah ada sehingga tidak diragukan lagi kebenarannya.

3.2 Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah, pendekatan
kualitatif, karena penelitian ini berusaha untuk menghasilkan sebuah uraian yang
mendalam tentang peran seorang istri terhadap kesuksesan seorang suami.
Metode yang digunakan adalah Studi Kasus (Case Study). Studi kasus merupakan
penelitian yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu organisasi, satu
program kegiatan, dan sebagainya dalam waktu tertentu. Tujuannya untuk
memperoleh diskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah entitas. Studi kasus
menghasilkan data untuk selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan teori.
Sebagaimana prosedur perolehan data penelitian kualitatif, data studi kasus
diperoleh dari wawancara, observasi, dan arsip
51
.

48
Ibid , hal. 3
49
Rosady Roslan. 2003. Metodologi Penelitian: Public Relations & Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada. 2006. hal 3
50
Hadi, Sutrisno. 1993. Metodologi Research. Cetakan ke 24. Yogyakarta. Fakultas Psikologi Universitas Gajah
Mada. Hal 3
51
http://www.mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/215-jenis-dan-metode-penelitian-kualitatif.html diakses pada
tanggal 6 Desember 2011, pkl. 8.43 AM WIB


33

3.2.1 Kriteria Subjek Penelitian
Jumlah subyek dalam penelitian kualititatif tidak harus banyak, akan tetapi
terfokus. Dapat dijelaskan bahwa responden tersebut merupakan :
1. Seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak.
2. Usia subyek 66 tahun
3. Subyek telah mendampingi suaminya dalam mencapai kesuksesan
selama 40 tahun pernikahan..
4. Berdasarkan sosial ekonominya, responden berasal dari sosial ekonomi
responden yang menengah keatas (yang merupakan salah satu ciri dari
kesuksesan)
Alasan penulis memilih responden karena responden dan pasangannya
memiliki reputasi dan prestasi yang tidak perlu dipertanyakan lagi apalagi dalam
dunia pendidikan dan intelektual. Bukan hanya itu, responden juga berhasil
mendidik anak-anaknya dalam koridor yang baik dan menghasilkan individu –
individu yang berkualitas. Responden juga merupakan ibu rumah tangga yang
memang mendidik anak -anaknya secara mandiri.
3.2.2 Metode Pengambilan Sampel
Metode yang digunakan penulis dalam pemilihan informan pada
penelitian ini adalah dengan purposive sampling, yaitu dimana informan
dipilih atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat periset berdasarkan
tujuan riset
52
. Sedangkan orang-orang dalam populasi yang tidak sesuai
kriteria tersebut tidak dijadikan sampel. Penulis meyakini bahwa informan
tersebut memenuhi pertimbangan tertentu untuk dipilih menjadi narasumber
dalam penelitian ini, karena informan tersebut menguasai, sangat
mengetahui dan berkecimpung pada kegiatan yang tengah penulis teliti.
3.2.3 Metode Pengumpulan Data




52
Rachmat Kriyantono. Op.Cit, hal.156


34

Teknik pengumpulan data adalah cara peniliti memperoleh atau
mengumpulkan data. Data bisa diperoleh melalui teknik wawancara,
pengamatan, kuesioner dan dokumentasi
53
. Sesuai dengan pendekatan yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif, maka metode
pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara.
Wawancara adalah percakapan antara periset (seseorang yang berharap
mendapatkan informasi) dan informan (seseorang yang diasumsikan
mempunyai informasi penting tentang suatu objek. Wawancara merupakan
metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi
langsung dari sumbernya
54
.
Adapun jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah
wawancara mendalam (Depth Interview). Wawancara mendalam adalah
suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung
bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan
mendalam. Pada wawancara mendalam ini, pewawancara relatif tidak
mempunyai kontrol atas respon informan, artinya informan bebas
memberikan jawaban. Berdasarkan hal tersebut, kiranya seorang periset
harus mempunyai kiat-kiat khusus agar informan dapat bersedia
memberikan jawaban-jawaban yang lengkap, mendalam serta tidak ada yang
disembunyikan. Maka, cara yang dapat ditempuh adalah dengan
mengusahakan wawancara berlangsung informal seperti orang sedang
mengobrol
55
.
Wawancara mendalam mempunyai karakteristik yang unik
56
:
- Digunakan untuk subjek yang sedikit atau bahkan satu atau dua
orang saja. Mengenai banyaknya subjek tidak ada ukuran pasti.
- Menyediakan latar belakang secara detail mengenai alasan
informan memberikan jawaban tertentu. Dalam wawancara ini
terelaborasi beberapa elemen dalam jawaban, yaitu opini, nilai-

53
Dr.Hamidi, M.si. 2007. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi, Pendekatan praktis penulisan
Proposal dan Laporan Penelitian, UMM Press, hal.140.
54
Rachmat Kriyantono. Op.Cit, hal.98
55
Ibid
56
Ibid, hal.100


35

nilai, motivasi, pengalaman-pengalaman, maupun perasaan
informan.
- Wawancara mendalam memperhatikan bukan saja jawaban
verbal informan, tapi juga observasi yang panjang mengenai
respons-respons nonverbal informan.
- Wawancara mendalam ini biasanya dilakukan dalam waktu
yang lama dan berkali-kali. Bahkan bila perlu pewawancara
sampai harus melibatkan diri secara dekat dengan hidup
bersama informan guna mengetahui pola keseharian sang
informan.
- Memungkinkan memberikan pertanyaan yang berbeda atas
informan yang satu dengan yang lain.
- Wawancara mendalam sangat dipengaruhi oleh iklim
wawancara. Semakin kondusif iklim wawancara
(keakraban) antara periset dengan informan, maka wawancara
dapat berlangsung terus.


3.3 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di Jakarta, dilakukan pada bulan Mei 2011
hingga bulan Oktober 2011. Tempat penelitian berada di kediaman Ibu SY di
Pondok Indah Jakarta Selatan, dengan waktu yang berbeda.
3.4 Sifat Penelitian
Sifat penelitian ini adalah deskriptif, karena hasil akhir yang diinginkan
adalah deskripsi detail dari topik yang diteliti
57
, secara sisitematis, faktual,dan
akurat tentang dan sifat-sifat populasi atau objek tertentu
58
. Fokus riset ini adalah,
perilaku yang sedang terjadi dan terdiri dari satu variabel
59
. Pada riset deskriptif,
periset diharapkan bisa mengemukakan konseptualisasi yang lebih jelas telah
memiliki definisi konseptual dari gejala yang diteliti yang sekaligus

57
Ibid, hal. 66
58
Ibid, hal. 67
59
Ibid, hal. 59


36

memperlihatkan dimensi-dimensi atau subdimensi dari konsep atau permasalahan
yang akan diteliti. Dalam riset deskriptif konsep yang akan diteliti akan hanya
tunggal, karenanya, tidak ada upaya untuk mencari analisis hubungan antar
konsep
60
.
Karakteristik penelitian ini adalah kualitatif. Karena data yang dihasilkan
berupa narasi fakta-fakta yang mendalam dan alat ukur riset yang lebih banyak
bersifat subjektif
61
. Ciri-ciri riset yang menggunakan metodologi kualitatif antara
lain
62
:
. Intensif, partisipasi periset dalam waktu lama pada setting lapangan,
periset adalah instrument pokok riset.
. Perekaman yang sangat hati-hati terhadap apa yang terjadi dengan
catatan-catatan di lapangan dan tipe-tipe lain dari bukti-bukti
dokumenter.
. Analisis data lapangan.
. Melaporkan hasil termasuk deskripsi detail, quotes (kutipan-kutipan)
dan komentar-komentar.
. Tidak ada realitas yang tunggal, setiap periset mengkreasi realitas
sebagai bagian dari proses risetnya. Realitas dipandang sebagai
dinamis dan produk konstruksi sosial.
. Subjektif dan berada hanya dalam referensi periset. Periset sebagai
sarana penggalian interpretasi data.
. Realitas adalah holistik dan tidak dapat dipilah-pilah.
. Periset memproduksi penjelasan unik tentang situasi yang terjadi

60
Ibid, hal. 31
61
Ibid, hal. 33
62
Ibid, hal. 56


37

dan individu-individunya.
. Lebih pada kedalaman (depth) daripada keluasan (breadth).
. Prosedur riset: empiris-rasional dan tidak berstruktur.
. Hubungan antara teori, konsep dan data: data memunculkan atau
membentuk teori baru.
3.5 Informan Penelitian
Peneliti kualitatif menggunakan istilah informan
63
. Informan adalah
orang yang dapat memberi informasi tentang dirinya dan orang lain
64
. Maka
dalam penelitian ini, peneliti menggunakan narasumber atau informan
sebagai sampel penelitian, karena data yang disajikan berupa cerita dari para
informan tentang pengalaman, pengetahuan, tradisi, filsafat, atau pandangan
hidup mereka
65
.
Penelitian ini, mengambil informasi dari satu informan, alasan
peneliti memilih informan tersebut karena informan adalah orang yang
sangat tepat untuk menjadi informan dalam penelitian ini. Dirasa tepat
karena informan adalah sosok yang menjalani dan yang menjadi pokok dari
pembahasan dari penilitian ini. Informan adalah salah satu sosok istri yang
juga sangat berperan dalam kesuksesan yang diraih oleh suaminya.
Informan bernama Ibu SY, beliau adalah seorang ibu rumah tangga
yang memiliki kegemaran bertananam. Bukan hanya itu, beliau sekarang
aktif sebagai Penasehat Mitra Seni yang bergerak di bidang kesenian. Beliau
adalah istri dari seorang tokoh intelektual, dan nasional Bapak ZH yang
sukses dibidangnya. Banyak sekali prestasi dan pencapaian yang telah diraih
oleh suami beliau, diantaranya, suami beliau pernah menjabat sebagai
Menteri Riset dan Teknologi di era Kabinet Reformasi Pembangunan, beliau
pernah menjadi Direktur Utama PLN, beliau juga sebagai Guru Besar
Elektro Teknik sebagai dosen dan peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB)

63
Dr.Hamidi, M.si. Op.Cit, hal.5.
64
Ibid, hal. 5
65
Ibid, hal.12


38

dan Universitas Indonesia (UI). Selain itu dibidang Riset dan
Pengembangan Teknologi beliau pernah menjabat Kepala Badan Pengkajian
dan Pengembangan Teknologi (BPPT) dan Ketua Dewan Riset Nasional
(DRN). Di bidang korporat, Prof. Dr. Ir. ZH pernah bertugas menjadi
Direktur Utama (CEO) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), saat terjadi
krisis listrik tahun 1992-1995. Sedangkan sebagai Pejabat Negara ia
diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Meneg Ristek) pada
Kabinet Reformasi, setelah sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur
Jendral Listrik dan Pengembangan Energi. Dengan pengalamannya
berkiprah di ranah akademis, bisnis, dan pemerintahan (triple helix) itu,ia
merupakan salah seorang pendorong kuat terwujudnya Sistem Inovasi
Nasional (SINAS) di Indonesia. Saat ini ia adalah Rektor Universitas Al
Azhar Indonesia (UAI) dan Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN) . Dengan
semua rentetan pencapaian yang diraih oleh Bapak ZH ada peranan seorang
pendamping, kekasih, motivator, dan sahabat yaitu orang terdekat beliau,
istri beliau yaitu Ibu SY.

3.6 Metode Pemilihan Informan
Teknik pengambilan sampel yang penulis gunakan dalam penelitian
ini adalah nonprobability sampling, yaitu teknik penarikan sampel dengan
pertimbangan tertentu, sehingga yang menjadi anggota sampel adalah
mereka yang telah memenuhi pertimbangan tertentu itu
66
. Teknik ini
dilakukan dengan pertimbangan tertentu seperti menghilangkan tingkat
kesulitan memperoleh anggota sampel atau perhitungan kecukupan anggota
sampel menurut keyakinan peneliti
67
.





66
Ibid, hal.133
67
Ibid, hal.138


39













BAB IV
TEMUAN UMUM
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian
Tempat Penelitian : Kediaman Ibu SY
Alamat : Jl. Bukit Golf Pondok Indah Jakarta Selatan
Menuju ke kediaman Ibu SY, suasana yang disuguhkan adalah suasana
yang sejuk, dan tenang. Dari hiruk-pikuk daerah Jakarta Selatan tepatnya
Pondok Indah, berubah ke suasana yang lebih asri dan dihiasi dengan
pepohonan. Dalam perjalanan menuju kediaman Ibu SY, melewati rumah
lama Ibu SY yang letaknya tidak jauh dari rumah yang ditinggali olehnya
sekarang. Beliau baru saja pindah dari rumah di Jalan Metro ke rumah yang
berada di Jalan Bukit Golf. Dalam perjalanan menuju rumah yang ditinggali
oleh Ibu SY sekarang, akan melewati rumah yang berada di Jalan Metro,


40

rumah besar tersebut di dominasi oleh elemen warna coklat, dan tumbuhan
yang lebat dan terawat sehingga kesan asri timbul dari melihat rumah tersebut.
Sesampainya di Bukit Golf, suasana yang lebih asri dan teduh juga
tenang pun menyambut. Rumah-rumah didalamnya pun terlihat lebih indah
lagi dan juga sangat terkonsep. Memasuki wilayah tersebut, mungkin tidak ada
yang menyangka bahwa itu berada di tengah kota daerah Jakarta Selatan yang
dipenuhi oleh polusi dan hiruk–pikuk khas kota Jakarta. Yang ada adalah
suasana tenang dan asri. Terlihat disekeliling rumah–rumah mewah yang
berkonsep dan taman–taman yang hijau.
Daerah tersebut banyak dihuni oleh kaum ekspatriat. Rumah-rumah
disekitar tempat tinggal Ibu SY pun telihat mewah, rapi, tertata, serta bersih.
Sesampainya di depan rumah Ibu SY, kesan minimalis modern dengan
sentuhan asri terpancar dari tampilan rumah tersebut. Warna putih, kayu, kaca-
kaca, serta tanaman yang tertata dan indah memberikan kesan mewah,
modern, minimalis serta asri secara bersamaan. Rumah Ibu SY rimbun akan
tetapi, banyak digunakan elemen kaca sehingga banyak cahaya yang masuk.
Kediaman Ibu SY yang bertempat di kawasan elite yang ada di
bilangan Pondok Indah Jakarta Selatan sangat asri. Selain terasa sangat asri
juga sarat dengan kesan design yang artistik dan indah. Hal ini juga
terpengaruh dari kesenangan Ibu SY dengan tanaman dan kesenangan Ibu SY
dengan keindahan juga seni. Bertanam merupakan hobi Ibu SY. Sejak kecil
beliau sudah sering menanam tumbuhan di pot-pot kecil, hobi itu pula yang
sampai sekarang menjadi kegiatan pengisi waktu luang Ibu SY. Selain itu,
kegemarannya akan keindahan dan seni dapat dilihat dari design kediaman
beliau. Ibu SY juga yang mendesign rumahnya di bilangan Pondok Indah
dengan dibantu oleh designer.
Ketika sampai di rumahnya, pramuwisma dengan pakaian sederhana,
sopan tapi rapih mempersilahkan masuk. Kecintaan Ibu SY dengan seni
semakin terlihat ketika memasuki rumah beliau, akan disambut oleh tangga
yang mengantarkan kita ke ruang yang di design seperti galeri. Di ruang
tersebut banyak sekali lukisan-lukisan, tanaman-tanaman hias, juga barang-
barang antik yang dipajang dengan apik diiringi oleh alunan musik jazz dan
klasik yang di putar di rumahnya. Barang-barang tersebut merupakan koleksi
dari barang-barang yang dirawat dari dulu. Beberapa juga ada yang


41

merupakan hadiah atau pun kenang-kenangan diantaranya lukisan dari SD dan
Ibu Duta Besar Roma.
Kemampuan Ibu SY dalam mengatur rumahtangga baik di luar
maupun di dalam dapat terlihat dari kelihaian beliau dalam menata rumahnya.
Beliau mengatur suasana rumah senyaman mungkin sehingga membuat
anggota keluarga betah dan merasa nyaman ketika berada dirumah.
Berada di dalam ruangan yang ditata seperti layaknya galeri dan alunan
musik membuat terciptanya suasana nyaman dan tenang. Setelah tidak lama
duduk menunggu, Ibu SY keluar menggunakan celana merah dengan rambut
yang ditata rapih serta menggunakan penjepit rambut. Ibu SY terlihat ramah
dan duduk di kursi sisi sebelah kanan peneliti. Ibu SY berperawakan tidak
terlalu gemuk, wajahnya segar, berkulit sawo matang, berpenampilan rapih
dan menarik. Sesekali beliau tersenyum.
Di kesempatan yang lain, peneliti melangsungkan wawancara di ruang
makan outdoor. Ruang makan tersebut terdapat meja makan yang panjang dan
bersebelahan dengan dapur bersih. Tepat disebelah ruang makan terdapat
taman yang cukup luar, serta kolam air yang artistik menambahkan kesan
sejuk di rumah tersebut. Suasana di tempat itu terasa lebih terbuka, tenang,
dan asri. Ketika itu, ada dua saudara kandung perempuan Ibu SY yang
berkunjung ke rumah beliau, yang rencananya menjemput beliau untuk pergi
ke daerah Bintaro. Terlihat bahwa Ibu SY adalah sosok yang dekat dengan
keluarganya. Hubungan antar mereka terlihat cukup dekat satu sama lain. Ibu
SY selalu merasa ingin mengikut sertakan kebahagiaan yang ia dapatkan
kepada saudara-saudaranya ataupun orang-orang terdekatnya. Pada
kesempatan itu, beliau berpendapat, seorang wanita dikatakan sukses ketika ia
bisa mengantarkan anak-anaknya ke dalam kebahagiaan dan akhirnya mereka
meraih kesuksesan.
4.2 Gambaran Umum Subyek
4.2.1 Gambaran umum subyek penelitian
Subyek penelitian berjumlah tiga orang, satu diantaranya adalah
responden (Ibu SY) seorang ibu rumah tangga berusia 66 tahun. Beliau
menikah ketika melaksanakan pendidikan tingkat akhirnya di IKIP Jakarta.
Dua orang lainnya adalah suami (Bapak ZH) dan anak pertama (Bapak LRZ).
Dari pernikahannya dengan Bapak ZH, ia memiliki tiga orang anak, dua


42

diantaranya sudah menikah. Adapun untuk nama subyek penelitian, penulis
samarkan untuk kerahasiaan dan kenyamanan subyek. Untuk mengetahui lebih
jelas tentang identitas subyek penelitian ini, dapat dilihat tabel di bawah ini,
sebagai berikut :
Tabel 4.2.1 Data Subyek Penelitian









4.3 Gambaran Umum Penelitian
Ibu SY, lahir di Jakarta tanggal 6 Juni 1946, tahun ini beliau berusia 66
tahun. Kediaman beliau berada di daerah Pondok Indah Jakarta Selatan.
Pendidikan terakhir beliau di IKIP tingkat akhir. Ibu SY menikah dengan
Bapak ZH, pada tahun 1971. Dari pernikahannya selama 40 tahun Ibu SY dan
Bapak ZH dikaruniai tiga orang anak laki – laki, anak yang pertama bernama
LRZ berusia 38 tahun, yang ke dua bernama KKZ berusia 37 tahun, dan yang
terakhir adalah AMZ berusia 32 tahun.
Ibu SY yang sejak lahir berada di Jakarta berasal dari keturunan
Sumatera Barat tepatnya daerah Pariaman. Ibu SY adalah anak ke tiga dari
tujuh bersaudara, dari pasangan Bapak SL, yang menjabat sebagai Menteri
Penerangan pada masa itu dan Ibu RL.
Sejak kecil Ibu SY kerap kali diajak oleh ibundanya untuk menyiapkan
makanan sahur pada saat bulan Ramadhan untuk orang-orang disekitar
rumahnya. Profesi ayah dari Ibu SY sebagai Menteri Penerangan dan Ketua
Partai Syarikat Islam menuntut ayahanda Ibu SY sering melaksanakan tugas
No Nama Usia Agama Status Pekerjaan
1 SY 66 th Islam Istri Ibu rumah tangga
2 ZH 70 th Islam Suami Teknokrat,
Akademisi,
Cendekiawan
3 LRZ 38 th Islam Anak Akademisi


43

keluar rumah sehingga menjadikan ibu SY menjadi sosok yang mandiri.
Kemandirian itu yang diterapkan juga oleh beliau dalam mendidik anak – anak
nya.
Ibu SY sangat mensyukuri dengan kehidupan yang ia jalani sekarang.
Ia merasa sangat diberkati dan diberikan kenikmatan yang berlimpah – ruah.
Akan tetapi, ia selalu ingin membagikan kebahagiaannya kepada orang lain
khususnya kepada keluarga terdekatnya. Di mata salah satu keponakan yang
sering bermain kerumahnya, ia adalah sosok yang peduli dan selalu ingin
membantu tanpa ada rasa pamrih. Karena menurut Ibu SY, adakalanya rezeki
tidak langsung datang kepada seseorang akan tetapi rezeki datang melalui
orang lain, karenanya ketika ia diberikan kenikmatan ia selalu membagikan
kebahagiaan yang ia dapatkan kepada orang-orang terdekatnya.
Ibu SY memiliki postur sedang, berkulit sawo matang, berpenampilan
rapih dan sangat tertata dengan rambut yang digelung kecil rapih kebelakang
serta disematkan jepitan diselanya. Wajahnya segarnya sesekali dihiasi oleh
senyuman kecil. Ketika peneliti ingin mewawancara, ia menerima dengan
senang, dan sikapnya ramah.
Disaat berlangsungnya wawancara, Ibu SY menjawab pertanyaan
dengan hati-hati dan tetata. Beliau memperhatikan setiap pertanyaan yang
dilontarkan oleh peneliti dengan seksama. Ia menceritakan tentang awal mula
berjumpa dengan Bapak ZH dengan antusias.
Ketika ditanya hal yang membuatnya tertarik ketika bertemu dengan
bapak, beliau menjawab ia tertarik ketika ia melihat gigi Bapak ZH yang putih
dan rapi. Sesekali ketika menjawab pertanyaan ia merasa terharu, dan
bersyukur dengan apa yang ia telah peroleh di masa sekarang. Hal itu tidak
serta merta diperolehnya dengan mudah akan tetapi butuh perjuangan yang
besar. Akan tetapi, perjuangannya dalam menjalani rumah tangga bisa ia
rasakan sekarang dan ia tidak henti-hentinya bersyukur atas nikmat yang telah
diberikan Tuhan kepadanya berserta keluarga.





44














BAB V
TEMUAN KHUSUS HASIL PENELITIAN
5.1 Awal Pertemuan
Pertemuan antara Ibu SY dan Pak ZH berawal dari rencana kedua
orangtua sahabat Ibu SY untuk menjodohkan anaknya yang tidak lain adalah
sahabat Ibu SY yang bernama ED. Sahabat Ibu SY adalah anak dari seorang
Jendral Polisi. Ibu SY dan Ibu ED berteman sangat akrab.
Sewaktu itu, Ibu ED akan di jodohkan oleh anak orang tuanya yang
bernama Pak GN. Yang sekarang menjabat sebagai Direktur Elnusa. Lalu, Ibu
ED dan Pak GN ingin bertemu. Padahal, sebenarnya Ibu ED tidak suka dengan
lelaki yang ingin dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Karena sebenarnya, Ibu
ED sudah memiliki pacar pada saat itu, akan tetapi orang tuanya memaksa.
Akhirnya, Ibu ED memenuhi keinginan orang tuanya untuk bertemu Pak GN.
Sebagai sahabat, Ibu SY diminta oleh sahabatnya untuk menemaninya


45

bertemu lelaki yang ingin dijodohkan oleh orang tuanya. Ibu SY pun
menemani sahabatnya itu.
Tidak disangka-sangka, Bapak GN pun membawa seorang temannya
yang tidak lain adalah Pak ZH. Dari situlah Ibu SY dan Pak ZH saLNg
tertarik. Ketika ditanyakan, hal apa yang paling menarik dari Pak ZH ketika
pertama kali Ibu SY melihatnya, dan dengan segera Ibu SY menjawab, deretan
gigi yang putih milik Pak ZH-lah yang mengesankan Ibu SY ketika pertama
kali bertemu. Seperti kutipan cerita Ibu SY ketika proses interview :
“Akhirnya mau ketemu juga dan dia minta ditemani saya, saya sih
namanya sahabat ayo aja. Mereka mau janjian date mau nonton. Ok
aku ikut menemani dia, rupanya si laki-laki tersebut membawa Pak ZH
untuk menemani dia. Nah dari situ saling tertarik”.
“Saya itu pulang- pulang cerita sama saudara-saudara saya, eh tadi
saya ketemu cowok keren. Tapi saya suka giginya. Giginya putih, rata,
bagus. Kalau matanya bapak kan sipit”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Sewaktu itu, Ibu SY sedang kuliah tingkat empat di IKIP dan Pak ZH
sebagai dosen muda di ITB (Institut Teknologi Bandung). Karena pekerjaan
Pak ZH sebagai dosen di ITB Bandung, sehingga mereka pun tidak bisa untuk
sering-sering bertemu.
Pada saat itu Pak ZH menawarkan untuk mengatar pulang akan tetapi
ditolak oleh Ibu SY. Akan tetapi setelah itu, Pak ZH lewat telepon mengajak
Ibu SY untuk „date‟. Ibu SY menyetujui asal Pak ZH menjemputnya di
kampus. Pak ZH pun menyetujui, dan menjemput Ibu SY di kampus yang ada
di daerah Rawamangun.
Pada saat itu, Ibu SY dan Pak ZH berhubungan lewat telepon atau pun
surat. Karena jarak antara Jakarta dan Bandung, mereka tidak bisa bertemu
sesering orang-orang yang sedang pendekatan pada umumnya. Ibu SY
menceritakan bagaimana pendekatan mereka waktu itu hingga akhirnya Ibu
SY dikenalkan oleh Pak ZH kepada keluarga dan rekan-rekan kerjanya di
Bandung.
“Jadi kita pacarannya enggak kayak anak – anak di Jakarta biasanya.
Karena bapak di Bandung jadi paling kalau bapak lagi ke Jakarta
seminggu sekali kadang-kadang dua minggu sekali, enggak tentu.
Kadang-kadang satu bulan gak dateng kalau lagi sibuk, namanya juga


46

dia kerja. Saya gak pernah ke Bandung kecuali menjelang bapak ke
Australia ada acara dosen-dosen ITB bikin malam tahun baru
bersama di tempat seorang professor yang istrinya orang Amerika.
Saya bilang sama ibu saya terus kata ibu saya, “ngapain kamu ke
Bandung?”, “dia mau memperkenalkan dengan keluarganya”. Jadi
sudah ada niat untuk mengakrabkan. Jadi ya sudah saya ke Bandung
sama adik saya. Saya tidur di rumah saudara saya. Jl Raden Fatah.
Ternyata masih ada hubungan keluarga juga dengan Pak ZH jadi
keluarga saya sudah kenal dengan keluarga Pak ZH. Suami saudara
itu masih keluarga besar mereka. Namanya jodoh ya, dimudahkan
sama Allah seperti itu.”

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Mereka mengawali masa pacaran tahun 1969. Dan pada tahun 1970,
Pak ZH mengambil studi lanjutan ke Australia selama satu tahun di
University of New South Wales, Sydney. Pak ZH dikirim untuk menjalani
pendidikan oleh ITB, tempat ia mengajar.
Hari itu tanggal 18 Januari 1970. Di hari yang sama sebelum
keberangkatan Pak ZH, mereka bertunangan. Acara pertunangan diadakan
dengan cara yang sederhana dengan dihadiri oleh keluarga yang dekat saja.
Pada hari itu Ibu SY mengenakan baju kurung dan sanggul kecil, sedangkan
Pak ZH menggunakan kemeja biasa dan peci
68
.
“Pada saat itu saya sudah merasa mantap untuk menjadi istrinya.
Semakin lama saya mengenal ZH, semakin saya melihat bahwa ia
seorang yang dapat mengayomi dan membimbing saya. Ia tidak
pernah meninggalkan shalat, baik hati, punya jiwa kepemimpinan,
pendiam dan sopan. Itu membuat saya tenang dan percaya kepadanya.
Apalagi ia juga pernah kuliah di ITB dan selama empat tahun kuliah
di Tokyo sampai lulus sebagai insinyur. Ia juga sudah memiliki
pekerjaan tetap meski sebagai tenaga pengajar honorer. Dengan
dikirim ke Australia itu sudah menunjukkan betapa ia punya
kemampuan yang baik, Insyallah ia punya masa depan yang baik.
69


(Dikutip dari buku “Zuhal 60 tahun Jejak Perjalanan dan Pikirannya”
hal. 39. )

Dalam menjalani hubungan dengan Pak ZH, Ibu SY dari awal melihat
agamanya. Selain itu juga Ibu SY berkeyakinan sosok Pak ZH memang
memiliki masa depan yang baik.

68
Ramadhan dan Poeradisatra, Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan Pemikirannya. 2002. Pustaka Sinar Harapan,
hal. 3.
69
Ibid, hal. 3.


47

“Saya kan prinsipnya kan banyak yang bilang ngapain sih kawin sama
dia, bahkan kakak ipar saya sendiri bilang, “ Orang ketemu
dijalanan.. kan gak tau asal – usulnya, kok bisa sih...”. Saya bilang,
pentingnya dia nomer satukan agamanya kuat, ya salat, kl saya
intinya itu. Sama anak – anak juga, cari menantu. Pokoknya intinya
salat, Islam, terus dia kan punya masa depan, dia kan sarjana, udah
serahin sama yang diatas, Bismillah”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Menomersatukan agama, hal itulah yang selalu diterapkan oleh Ibu SY
sejak awal ia memilih sosok Pak ZH, mengahadapi permasalahan, menjalani
kehidupan rumah tangga, hingga ia turunkan kepada ketiga putranya dalam
mencari belahan jiwa mereka.
5.2 Pernikahan
5.2.1 Proses Pernikahan
Rencana pernikahan Ibu SY dan Pak ZH sempat membuat orang tua
Ibu SY terkejut. Karena dirasa oleh orang tua Ibu SY rencana tersebut sangat
mendadak. Orang tua Ibu SY berfikir mereka belum memesan gedung,
undangan, atau pun baju pengantin.
Sebelumnya, kakak dari Ibu SY mengadakan resepsi di hotel Des Indes
di Jakarta. Hotel Des Indes merupakan hotel yang elite pada saat itu. Berbeda
dengan kakaknya, Ibu SY dan Pak ZH lebih memilih untuk menikah dengan
sederhana dan tidak menggunakan upacara adat.
“Yang penting menikah secara Islam”
70

(Dikutip dari buku “Zuhal 60 tahun Jejak Perjalanan dan Pikirannya”
hal. 4. )

Ibu SY pun setuju dengan rencana dari Pak ZH. Mereka tidak mau
merepotkan orang tua. Seperti kutipan hasil wawancara dengan Ibu SY
berikut:
“Misalnya dulu waktu mau nikah ya prinsipnya, sebetulya kakak saya
tu nikah di hotel Des Indes, hotel yang paLNg bagus di Jakarta. Terus
waktu itu saya dimana, orang tua saya itu udah sepuh waktu itu. Saya
gak mau menyulitkan orang tua, saya bilang sama Pak ZH waktu itu,
“kita kalau nikah sederhana aja ya, saya gak mau orang tua saya
dipersulit”, “oh cocok saya juga gak mau begitu”, kata Pak ZH. Jadi

70
Ibid, hal. 4.


48

kita bilang ke orang tua kita masing-masing. Kita gak mau macem-
macem, sampai ibunya bapak tu pergi juga, kalau orang padang itu
kan maunya yang gimana-gimana gitu kan, saya bilang, “enggak, kita
nikah aja di rumah sederhana, nikah di rumah aja”. Walau pun kakak
saya pesta di hotel, saya enggak, karena saya berfikiran tidak mau
menyusahkan orangtua, mungkin karna itulah Allah melimpahakan
rahmat – Nya kali ya, saya gak tau ya mau nya Allah begitu ya, saya
gak mau menyusahkan orangtua saya (dengan suara parau, terharu)
waktu itu kan. Dan bapak setuju gitu, jadi kita nikah degan sangat
sederhana, undang keluarga terdekat, dirumah saja, berkahnya disitu
kali ya, karena intinya saya gak mau menyulitkan orangtua. Karakter
bapak itu pegang prinsipnya, dia maunya sederhana oke tapi gak mau
pakai pakaian adat, nah saya juga setuju, jadi kita sederhana”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Ibu SY menceritakan kisahnya itu dengan terharu. Karena ia sangat
mensyukuri berkah yang telah diberikan kepada ia dan keluarganya saat ini.
Karena rasa syukur dan keharuannya sehingga ketika ia menceritakan kisah
tersebut ia menceritakannya dengan mata yang berkaca-kaca.
Bagi Ibu SY dan Pak ZH yang penting adalah kebahagiaanya bukan
kemewahannya. Menikah dengan pria yang baik dan alim seperti Pak ZH
merupakan sebuah kebahagiaan yang besar untuk Ibu SY. Sebelumnya sudah
disepakati untuk tidak melaksanakan pernikahan dengan cara adat, akan tetapi,
tanpa sepengetahuan Pak ZH para tetua keluarga Ibu SY tetap ingin sedikit
ada acara adat.
Para keluarga Ibu SY mendandaninya dengan sunting dan hiasan
kepala khas pengantin Minang, secara sederhana. Ketika Pak ZH masuk, ia
kaget karena ia hanya mengenakan jas dan peci, tidak menggunakan busana
adat roki. Akan tetapi, pada akhirnya karena permintaan dari para tetua
keluarga Ibu SY, untuk memakaki pakaian roki hanya untuk berfoto saja.
Akhirnya Bapak ZH mengalah dan memakai pakaian roki untuk berfoto
dengan keluarga dan teman-teman terdekat
71
.
Di acara tersebut memang tidak mengundang banyak tamu. Akan
tetapi karena mengingat perjanjian semua, bahwa pakaian roki hanya
dikenakan untuk berfoto, akhirnya setelah melakukan foto bersama, Pak ZH

71
Ibid, hal. 5


49

segera masuk ke kamar untuk mengganti roki-nya dengan pakaian sebelumnya
yaitu, jas dan peci.
Karena kejadian tersebut, sebagian dari sanak famili dan tamu-tamu
menganggap bahwa Pak ZH tidak menghargai adat minang. Padahal
sebenarnya Pak ZH melakukan hal itu karena sesuai dengan perjanjian awal
acara pernikahan tidak menggunakan adat. Dan pakaian roki hanya dipakai
ketika berfoto. Dan itulah karakter Pak ZH yaitu, keras dengan prinsip yang
diyakininya
72
.
Hal tersebut sejalan dengan apa diceritakan oleh Ibu SY ketika proses
wawancara berlangsung.
“Karakter Bapak itu pegang prinsipnya, dia maunya sederhana oke
tapi gak mau pakai pakaian adat, nah saya juga setuju, jadi kita
sederhana. Saya cuma pakai konde aja diatas gitu kan, tau-tau
biasalah saudara, nenek, tante semua, harus begini, harus pakai
sunting sedikit, akhirnya dipakain juga walaupun pendek -pendek
aja. Nah terus waktu dia dateng dia kan cuma pakai sarung aja
pakai jas aja kan, terus udah akad nikah, nenek bilang, ganti dong
pakai roki, roki tu pakaian padang, dia bilang, kita kan prinsipnya
gak pakai itu, gak buat potret aja kata nenek saya kan, dia nurutkan,
begitu abis potret orang kan mau salaman, orang tu udah pada
berdiri, bapak-bapak tua- tua , dia lari ke kamar, dia ganti baju, apa
sih… apa sih yakan…, tapi dia tu kan begitu, orangnya megang
prisnsip, kalau dia begitu ya begitu maunya, jadi bapak-bapak itu
nuggu dulu, sampai heboh tuh waktu itu.... ahahahaaha…”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Sosok Pak ZH yang keras pada prinsipnya itulah yang membuat Ibu
SY tetap mencintainya sampai sekarang. Dan indahnya, hingga sekarang pun,
Ibu SY akan tegas menjawab bahwa ia yakin bahwa Pak ZH sangat
mencintainya hingga sekarang, bahkan mungkin rasa cinta itu terus
bertambah.
Sudah barang tentu, seorang Ibu SY bisa mengatakan hal seperti itu
atas dasar keyakinan dalam dirinya. Dan keyakinan itu timbul ketika sang
suami terus istiqomah dan tidak menyakiti hati istri, sehingga sang istri dapat
menyakini bahwa rasa cinta dan sayang suami terhadapnya tidak pernah

72
Ibid, hal. 5


50

berubah. Ibu SY dengan yakin berbagi tentang perasaannya seperti yang
terkutip dari proses wawancara.
“Bapak gak pernah „maen‟ saya gak pernah udah 40

tahun kawin,
tercederai perkawinan ini oleh orang ketiga, gak ada, gak ada dalam
kamus kami. Alhamdulillah, Karna kita juga kan, menyediakan rumah
tangga yang nyaman buat dia kan, mau cari apalagi…..”
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

5.2.2 Membina Rumah Tangga
Setelah menikah, sebagai seorang istri, Ibu SY ikut dengan suaminya
yang bekerja sebagai dosen yang masih merintis karier di ITB Bandung. Ia
dan Pak ZH menetap di Bandung di rumah sederhana yang ada di Jalan Kebon
Bibit. Ibu SY bersama Pak ZH tinggal di satu paviliun bersama dengan tiga
orang adik Pak ZH yang masih sekolah. Saking sempitnya rumah tersebut, Pak
ZH dan Ibu SY sepakat untuk ikut keluarga berencana (KB)
73
.
“Kamar kami hanya cukup untuk satu tempat tidur ukuran single dan
satu lemari kecil pakaian. Tidak ada kamar untuk bayi jika kami punya
anak
74
”.
(Dikutip dari buku “Potret 70 Tahun Zuhal”, hal. 40)
“Waktu baru nikah tu kita kan KB dulu. Bapak gak mau cepet-cepet
punya anak, Bapak tu orangnya planning segala-segala, aku setuju
aja, aku juga gak mau buru-buru punya anak orang rumah masih
begitu ya kan”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Ibu SY harus tinggal dengan adik-adik iparnya yang masih berkuliah,
mereka semua berada di bawah asuhan Ibu SY. Ketika itu, Pak ZH hanya
seorang dosen muda, tenaga honorer, yang mendapat gaji hanya Rp 15.000,00
rupiah per bulannya. Ibu SY dalam kesempatan bertatap muka, menceritakan
proses yang ia lalui saat itu.
“Oiyaaa..pasti gak cukup, gaji Rp 15.000,00 gimana saya
mengatasinya kan.. kita tuh gajinya dosen muda loh, bukan dosen yang

73
Iman Yuniarto Fakhrudin.2011. Potret 70 Tahun Zuhal. Paperwork. Hal. 39.
74
Ibid, hal. 40.


51

udah senior ya, Bapak tuh masih tenaga honorer di ITB itu dia gak
suka ngurus, padahal dia masuk ke ITB tu tahun 1967 atau 1968 kan
waktu kita kawin tahun 1971 tuh masih tenaga honorer”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Karena penghasilan yang masih pas-pasan, Ibu SY harus mengerjakan
semua urusan rumah tangga sendiri. Ia juga turut mengurus kebutuhan adik-
adik Pak ZH. Padahal pada saat itu tak jarang sakit asma Ibu SY kambuh. Hal
itu disebabkan oleh udara dingin di daerah Bandung.
“Dengan uang lima belas ribu, ada juga kan yang ikut sama kita kan
adik-adiknya Bapak kan yang masih kuliah semuakan, yaa di cukup-
cukupin aja, aku masak sendiri, ke pasar sendiri, nyuci sendiri, gak
ada pembantu loh, tapi kalau kita kuat kan akhirnya dikasih gini sama
Allah, ya kan.., kita sabar, laksanakan aja, aku sakit-sakitan juga, kan
saya asma, kumat-kumat juga disitu haha, kan udaranya dingin,
ruangannya terbuka gitu, ya namanya juga rumah sederhana, teramat
sangat sederhana. Bandung jaman dulu masih dingin. Rumahnya
bukan di bukit namanya jalan kebon bibit, kebon bibit tuh kan jalan
rayanya, nah dia turun kebawahnya itu loh, yang sekarang dibawah
kolongnya tol itu loh”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Mengingat banyak kebutuhan yang diperlukan, akhirnya Ibu SY yang
mendorong Pak ZH untuk mengurus surat pengangkatan sebagai pegawai
tetap. Penghasilan sebagai dosen honorer terlalu pas-pasan, belum lagi Pak ZH
juga harus menghidupi seorang istri dan tiga orang adiknya
75
.
Semua itu dijalankannya dengan sabar dan keyakinan. keyakinan
bahwa semua itu tidak akan belangsung lama.
“Ikut suami di Bandung suami itu juga kan orang kerja, yang baru
saja merintis karir. Dia punya adik-adik tiga orang yg sekolah, tinggal
di paviliun, yang teramat sangat sederhana. Saya bilang apadanya
ya… adik-adik ipar itu namanya anak-anak kos satu calon dokter,
satu calon apoteker, satu calon insinyur. Harus tinggal sama anak-
anak, adik-adik ipar itu kan anak kos namanya. Nah anak-anak itu di
bawah asuhan saya jadi saya jadi ibu kos. Dengan rumah yang
teramat sangat sederhana loh. Masih nimba, kamarnya kecil itu aku
lakukan itu semuanya. Tapi aku lakukan itu dengan kesadaran ah itu
hanya sementara. Toh nanti juga insyallah. Makanya saya kan tidak

75
Ibid, hal. 39.


52

mau terlalu lama, setelah satu tahun bapak kan pulang bawa mobil
holden.”
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Mobil Holden tersebut dijual. Uang dari hasil menjual mobil Holden
dibelikan rumah di daerah Situlama. Rumah di Jalan Situlama tersebut masih
sangat sederhana akan tetapi, Ibu SY dan Pak ZH merasa nyaman sekali,
karena rumah tersebut adalah rumah milik sendiri. Sisanya dari uang menjual
mobil holden dibelikan mobil VW kecil. Berikut kutipan dari proses
wawancara dengan Ibu SY.
“Saya bilang ibunya bilang jual rumah, kan ada tanah kosong terus
jual rumah ini, bangun rumah di tanah itu. Tapi tetap aja itu rumah
keluarga kan, saya sangat menyadari kalau bangun rumah itu tetap
aja rumah keluarga. Kalau bantu keluarga oke, tapi kita kan harus
tetap aja mandiri dong, walaupun sangat sederhana yang penting
punya sendiri. Bapak sih oke-oke aja ikut aja bapak itu nurut-nurut
aja. Jadi dia dengerin saya. Dia jual Holden kita beli satu rumah
tanah di Situlama, menuju jalan kecil menuju ke LIPI rumah juga
setengah gubuk juga sangat sederhana, tapi itu sangat nyaman
sekali.”
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Saat itu ada seorang dosen senior teknik elektro, Bapak IMD pergi
untuk tugas ke Malaysia dan direncanakan kepergiannya selama 2 tahun.
Bapak IMD mendapatkan jatah rumah dinas sebagai dosen senior ITB. Agar
rumah dinas jatah dosen tersebut terpakai dan tidak kosong, akhirnya Ibu SY
dan Pak ZH menempati rumah tersebut sambil membenahi rumah yang ada di
Jalan Situlama. Akan tetapi, karena suatu hal, Bapak IMD pulang sebelum 2
tahun. Kepulangan tersebut sangat mendadak. Sedangkan waktu itu Ibu SY
dan Pak ZH sudah memiliki satu orang anak yaitu LRZ, yang biasa dipanggil
JK.
Waktu itu anak pertama Ibu SY dan Pak ZH, LRZ masih berumur
beberapa bulan. Ibu SY pun bertanya-tanya kepada Pak ZH perihal bagaimana
tindakkan yang harus dilakukan. Akhirnya Ibu SY dan Pak ZH memilih untuk
tetap disitu dan menyambut keluarga Pak IMD secara baik-baik. Setelah itu
Ibu SY pulang untuk sementara ke Jakarta, kerumah orangtua sambil


53

memperbaiki rumah yang telah mereka beli sebelumnya, di daerah Situlama.
Sebagai istri yang baik, Ibu SY setuju dan mendengarkan apa yang dianjurkan
oleh suaminya.
Akan tetapi, situasi yang ada, yaitu dengan dua keluarga tinggal di satu
rumah dan itu dirasa sangat tidak nyaman. Berikut merupakan kutipan yang
sempat disampaikan oleh Ibu SY tentang keadaan saat itu.
“Ada seorang dosen bapak IMD beliau itu dosen elektro tapi sudah
senior, sedangkan Pak ZH junior. Dia mau ke Malaysia. Ada rumah
dari ITB dan itu harus di isi. Rencananya Pak IMD itu ke Malaysia
selama 2 tahun. jadi selama membangun rumah itu kita menempati
rumah tersebut. Maksudnya kita tinggal disitu sambil kita benerin
rumah yang kita beli. Jadi mobil holden 1 dijual, kita beli VW kecil
sisanya beli rumah. Eh belum sampai 1 tahun, mendadak Bapak IMD
dan keluarganya disuruh pulang oleh Pemerintah Malaysia. Eh udah
pulang, pulang dadakan tanpa bilang. jadi kita udah punya anak satu
itu, baru lahir punya JK (LRZ) masih umur berapa bulan. Jadi saya
bilang sama suami saya, „ini pulang dadakkan gini gimana dong kita.
Kita pindah apa gimana ?‟, „Kita terima aja disini dulu baik-baik,
terus kamu balik ke Jakarta pulang ke rumah orangtua, sambil kita
perbaiki rumah‟. Saya ikut aja suami saya gitukan. Oke. Tapi namanya
orang kan, kita kan kamar disitu tempat tidur disitu, dia jg udah bawa
anak bawa itu, kan gak enak kan. Jadi ke Jakarta aja dulu, maksudnya
baik sama orang tapikan jadinya gak baik. Inikan rumah mereka,
tapikan rumah sudah barang-barang kita semua disitu.”
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Dengan keadaan seperti itu, akhirnya Ibu SY memilih untuk segera
pindah ke Jakarta bersama JK untuk sementara. Sedangkan Pak ZH tetap
dirumah tersebut, akan tetapi pindah kamar. Ternyata, semua barang-barang,
box bayi dan sebagainya dikeluarkan dari rumah. Dan hal tersebut dirasa
menyakitkan.
Karena hal itu, Pak ZH menelepon untuk mendiskusikan dengan Ibu
SY, bagaimana cara untuk mengatasi hal tersebut. Disela-sela percakapan
yang berlangsung saat interview, Ibu SY mengatakan bahwa, Pak ZH sejak
muda hingga sekarang jika terjadi suatu masalah dan tidak dapat diselesaikan
langsung menghubungi Ibu SY. Berikut kutipannya:
“Akhirnya kita tu….. Pak ZH telepon saya. Kalau udah gitu Pak ZH
dari muda sampai tua kalau ada masalah dia gak bisa apa-apa dia


54

telepon saya. „LN (panggilan Ibu SY).. ini gini,gini, gini ya udah balik
ke Bandung‟, katanya. Ya udah balik lagi saya ke Bandung, kita
angkatin barang. Bayi saya tinggal di Jakarta. Suruh bagaimana ni
menghadapi orang begini, udah aja kita gak usah ribut ambil aja
barang-barang kita. Tau gak, itu belum bisa di masukin rumah itu.
Rumah itu juga rumah sangat sederhana juga. Nimbanya disumur
jugakan, padahal di sini kan udah rumah bagus, lumayanlah, cukup
baik, nyaman, jadi ya mulai lagi dari nol lagi.”
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Ibu SY dan Pak ZH pun memindahkan barang-barang mereka ke
rumah yang sudah mereka beli di Jalan Situlama. Rumah di Jalan Situlama
pun rumah yang sederhana, untuk mendapatkan air masih harus menimba. Ibu
SY dan Pak ZH memulai dari nol lagi. Barang-barang pun belum bisa
dimasukkan ke rumah itu.
Akhirnya sambil membereskan rumah tersebut, Ibu SY dan Pak ZH
tinggal untuk sementara di rumah Profesor SD, beliau adalah ketua Masjid
Salman ITB, dan ketika itu, Pak ZH sebagai Sekertaris Jendral Masjid Salman
ITB. Selama memindahkan dan membereskan rumah mereka, Ibu SY dan Pak
ZH menginap dirumah Profesor SD selama tiga hari sampai akhirnya rumah di
Jalan Situlama bisa dihuni. Seperti yang dipaparkan oleh Ibu SY dalam proses
wawancara, berikut kutipannya:
―Disuruh nginep rumahnya dia (Profesor SD) tiga hari sampai bisa
dihuni walau pun seharian nyapu, ngepel, bayangin kan rumah masih
kotor kita baru beli, belum sempet ngerapiin kan, panggil tukang
nyapuin dulu. Tapi enak aja, kita ke Jakarta beli lampu satu yang
merah di sudut, beli kursi satu, udah enak juga jadinya. Seminggu juga
beres sama saya. Kan Allahu Akbar kan dari rumah yang setengah
gubuk waktu baru nikah, sekarang gini ya… Padahal rumah Metro
udah bagus banget, kok dikasih Allah lagi rumah yang kaya gini,
Allahu Akbar bener-benerkan, rejeki dari Allah”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Beribu-ribu ucapan syukur dihanturkan oleh Ibu SY kepada Allah.
Berkali-kali ia mengucapkan hamdalah dan takbir atas kenikmatan yang ia
peroleh pada masa sekarang. Rumah yang tadinya hanya gubuk sederhana kini
menjadi rumah yang sangat nyaman dan mewah untuk dihuni, bukan hanya


55

itu, fungsi rumah pun menjadi tempat memajang barang-barang antik dan
lukisan-lukisan indah menjadi sebuah karya seni.
Beliau sangat menyadari dan mensyukuri atas rahmat dari Tuhan. Ia
merasa bahwa rumah yang ada di Jalan Metro sudah merupakan rumah yang
lebih dari cukup, akan tetapi Allah terus melimpahkan rahmat kepada Ibu LN
dan keluarga dengan rumah yangada di Bukit Golf. Rasa syukur selalu terucap
hal tersebut tercermin dari kata-katanya dengan berkali-kali mengucapkan
syukur yang tidak terhingga kepada Tuhan.
Sejak awal pernikahan Ibu SY dan Pak ZH menjalankan biduk rumah
tangga berdasarkan tuntunan yang sudah ada dalam agama. Hal itu dibuktikan
dengan kegiatan sholat maghrib berjama‘ah sejak awal pernikahan. Seperti
kutipan dari potongan wawancara dengan Ibu SY.
“Dari baru nikah pun kita sholat jamaah, saya minta Bapak jadi
imam, nah itulah karena kita berlandaskan agama kehidupan kita, tau
kan apa yang dilarang oleh Allah, ya kan, gak boleh kita membantah
suami, lebih baik kita diem aja, tapi kita juga gak mau juga hak kita
diperlakukan dengan tidak adil, ya kan itu hak kita kan kita bisa
diskusikan itu kan”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

Kegiatan sholat maghrib berjama‘ah juga dijadikan oleh Ibu SY dan
Pak ZH sebagai tempat berkomunikasi antar anggota keluarga. Sebagaimana
yang terekam ketika proses interview berlangsung.
―Kalau maghrib di rumah, kita sholat jamaah, Bapak jadi imam, nah
disitu kan kepemimpinan beliau sudah terbentukkan. Tapi waktu udah
jadi dirut PLN udah gak bisa lagi kan. Tapi waktu dari kecil sampai
mereka gede kan bisa kan. Karena diatur maghrib ada di rumah. Nah
itu kan disitu, sehingga banyak waktunya. Kan abis sholat kita
ngobrol-ngobrol dilanjutkan dengan makan malam. Itu kan
lumayanlah ada berapa jam, abis maghrib kan jam 6 misalnya sampai
jam 8 adalah dua jam atau satu setengah jam bisa bersama ngobrol
walau pun singkat tapi kan sangat efektif. Dan kalau minggu Bapak tu
bawa anak –anak ke toko buku”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

Kegiatan ke toko buku terus dibiasakan oleh Pak ZH kepada cucu-
cucunya. Setiap akhir pekan apabila kosong, Pak ZH menyempatkan untuk
mengajak cucu-cucunya berkunjung ke toko buku. Hal itu dilakukan olehnya


56

untuk menanamkan kecintaan kepada buku dan ilmu pengetahuan. Seperti
yang sudah ia terapkan kepada anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan
ungkapan oleh Ibu SY. Berikut kutipannya:
“..sampai sekarang cucu tu tau nya toko buku, udah tau Gramedia,
Periplus, Kinokuniya. Udah tau tu cucu – cucu , jadi anak – anak
senang membaca. Dan itu sangat efektif, walaupun singkat, tapi
sangat efektif”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

Ketika menghadapi masalah dalam rumah tangga Ibu SY lebih
memilih untuk diam atau berdiskusi. Ia sangat tidak menginginkan adanya
keributan ataupun teriakan ketika menyelesaikan masalah yang terjadi dalam
rumah tangganya. Hal itu ia ambil dari yang sudah di contohkan oleh
Ibundanya.
―Kalau saya dari dulu diem aja, saya gak suka ribut-ribut, orang
intelek gak begitu, gak mau ribut berteriak-teriak saya gak pernah
gitu, karna ibu saya juga kalau ribut, kalau ada salah paham diem aja,
sampai sekarang kita mengenangnya beliau itu, almarhum ibu saya itu
bukan orang yang suka ribut-ribut”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

Ibu SY lebih memilih untuk diam sementara jika ada hal yang
menyebabkan konflik di rumah tangganya. Akan tetapi, bukan diam tanpa
hasil ia pun memiliki batas, sampai kapan diam tersebut dilakukan. Berikut
adalah ungkapan dari Pak LRZ berkenaan dengan hal ini. Berikut kutipannya:
“Kalau konflik ibu biasanya dibicarakan. Biasa pertama diem dulu
terus nanti abis itu dibicarakan, dibicarakan sampai tuntas. Enggak,
gak didepan kita. Kalau udah agak dewasa, sekarang-sekarang ini
kalau itu, kadang-kadang kita ada, tapi kalau waktu kecil enggak”.

(Wawancara dengan Bapak LRZ, putra pertama Ibu SY dan Pak ZH,
bertempat di kantor Sekretaris Rektor UAI, hari Jum‟at, tanggal 28
Oktober 2011)

Ibu SY paham suaminya adalah sosok lelaki yang cerdas dan pandai,
sehingga dalam mendiskusikan sesuatu Ibu SY menggunakan cara yang halus.
Akan tetapi selisih paham kadang juga hadir dalam proses tersebut. Selisih


57

paham itu wajar terjadi asalkan tidak berlanjut ketingkat yang lebih parah,
ujarnya dalam kesempatan wawancara. Berikut kutipan singkatnya:
“Bapak itu orangnya tidak boleh diajari kan dia orang pinter. Dengan
cara yang halus kita menyampaikannya. Namanya orang, gak mungkin
kan gak ribut. Saya gak mau ribut kalau ada masalah ya diem aja.
Terus pergi nanti pulang udah enak. Kalau parah diem dua hari.
Kalau tiga hari kan udah gak boleh. Saya gak suka ribut. Dia yang
berusaha deketin, ngajak ngomong, kalau saya yang salah saya yang
minta maaf. Kita kan manusia kan gak mungkin kan gak salah. Selisih
paham, itu pasti ada cuma jangan sampai itu meningkat menjadi hal
yang lebih parah”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

Seperti ulasan diatas, berdiskusi menjadi jalan keluar dari masalah
yang dihadapi oleh rumah tangga yang dijalani oleh Ibu SY dan Pak ZH.
Diskusi yang berdasarkan dari peraturan yang sudah ditetapkan dalam agama.
Karena menurut Ibu SY peraturan agama adalah peraturan yang sudah
dituliskan oleh Tuhan dan tidak diragukan lagi kebenarannya. Hal ini ia
ungkapkan seperti kutipan berikut:
“Yang paling penting kita kan sebagai muslim, peraturan agama kita.
Sebagai istri harus patuh kepada suami apapun. Tapi kita kan juga
punya hak sebagai istri. Hal itu kita sering selalu diskusikan sehingga
tidak terjadi yang selama 40 tahun ini. Alhamdulillah tidak terjadi hal-
hal yang parah. Pokoknya kalau udah agama itu udah deh. Kan
peraturan Tuhan itu kan gini-gini-gini. Tinggal kita sebagai istri
gimana, kan ada, sikap suami kepada istri gimana. Kalau gak cocok
saya bilang, loh kan menurut agama harus gini, istri kan harus
diayomi”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

Ibu SY sangat menjaga privasi yang ada dalam keluarganya. Ia bukan
sosok yang gemar menceritakan permasalahannya kepada orang lain. Dan itu
merupakan salah satu dari kunci sukses Ibu SY dalam menjalankan perannya
sebagai seorang istri.
Sajadah adalah tempat yang ia pilih ketika ia harus mengahadapi
segala macam permasalahan. Bersimpuh dan mengadukannya kepada Sang
Maha Segalanya. Ketika Ibu SY berbagi tentang apa yang ia lakukan ketika ia


58

benar-benar merasa „down‘, suaranya pun terdengar lirih dan rasa haru
bercampur didalamnya. Berikut kutipan yang menjelaskan uraian diatas:
“Ya aku sholat, nangis di sajadah. Saya gak suka ngomong sama
orang”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

Dalam menjalankan biduk rumah tangga, sebagai istri, Ibu SY
memposisikan suaminya sebagai pemimpin. Pak ZH sebagai pemimpin,
adalah sosok pengambil keputusan.
Sebagai suami, Pak ZH memberikan keleluasaan kepada sang istri. Ia
mempercayai sepenuhnya kepada istri dalam urusan rumah tangga. Berikut
kutipannya:
“Bapak itu dalam kehidupan kita, pernikahan ini ya, bapak itu kan
pemimpin di keluarga, kita akui. Jadi yang menentukan, apapun kita
bicarakan beliau yang memutuskan, saya punya ide gini-gini, enggak
kata bapak ya enggak. Kalau iya kata bapak ya iya. Tapi beliau itu
memberikan keleluasaan kepada saya, sebagian besar uang itu
dipegang oleh saya dengan saya itu merdeka aja, mau beli ini mau beli
itu suka-suka saya. Kecuali dia gak suka tu dulu waktu kita baru-baru,
kalau yang untuk keindahan-keindahan gak boleh. Dulu tu waktu
masih muda, akhirnya aku beli aja misalnya saya beli kursi yang
bagus, aku beli lukisan, dulu tu gak suka, tapi sekarang jadi suka.
Lama-lama kebawa ke saya ,saya kan senang pernik-pernik, apa
gitukan … Dulu beli pot aja yang bagus-bagus bapak marah loh, gak
bermewah-mewah tu, tapi aku iya aja, „iya Pak‟, gitu. Tapi beli aja,
hahahaa. Kalau itu kan gak usah diturutinkan, kan gak prinsip, tau
ada aja.. tau bagus. Tapi kalau udah bagus, „Oiya ya bagus ya Ma ya‟.
Ya udah bagus akan dan dia akhirnya oke”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

Hal itu sangat berkaitan dengan pembagian tugas yang ada dalam
rumah tangga. Pak ZH mempercayakan seratus persen urusan rumah tangga
kepada Ibu SY. Terlebih Pak ZH memiliki mobilitas diluar rumah yang tinggi.
Tentang pembagian dalam rumah tangga putra pertama mereka, Pak LRZ
memiliki pandangan sebagai berikut:
“Pak ZH itu lebih dalam hal yang prinsipil kalau ibu itu, kalau
dirumah ni yang lebih detail, ngisi detail gitu. Jadi memang perannya
bapak sama itu selalu seperti itu, satu yang ke ininya ke arah


59

pendidikannya, satu yang mengisi detailnya. Kan bapak tentu lebih
jarang dirumah daripada ibu kurang lebih gitu”.

(Wawancara dengan Bapak LRZ, putra pertama Ibu SY dan Pak ZH,
bertempat di kantor Sekretaris Rektor UAI, hari Jum‟at, tanggal 28
Oktober 2011)

Mobilitas Pak ZH yang tinggi, membuat Ibu SY harus mandiri dalam
menghadapi dan menjalankan urusan-urusan rumah tangga. Ibu SY pun
membagikan perasaan suka dan duka dalam menjalankan urusan rumah. Akan
tetapi, itu semua kesabaran dan pengorbanan membuahkan hasil yang
menggembirakan. Berikut kutipannya :
“Iya disitu, Bapak itu gak pernah tahu-menahu semua urusan. Untuk
membeli satu butir apa pun Bapak gak tau, semua saya 100 persen
dalam pendidikan anak-anak. Saya yang ke sekolah, saya yang
mendidik anak-anak 100 persen, karena bapak itu kan sibuk kan kerja
terus. Cuma kalau ada masalah baru saya lapor, baru bapak terlibat
kalau gak ada masalah sih ya udah… Aku yang bawa berenang,
nyetir sendiri, anak – anak latihan berenang 1 minggu 3 kali, nyopir
sendiri, ya kan… Anak-anak masih muda-muda, anak berantem di
sekolah ke panggil ke polisi, aku dipanggil aku dateng sendiri
bapaknya lagi di luar negeri. Namanya anak-anak laki-laki, tiga-
tigakan, ke kantor polisi, saya tau, berantem dia, hahaaa. Ya
biasalah… sama temen-temen geng-geng gitu kan. Dulu kan suka
terjadi gitu kan, dipanggil, ya udah akhirnya dateng sendirian. Jadi
bapak tu 90 persen urusan rumahtangga diserahkan pada saya, Bapak
cari uangnya kan, tapi aku bisa mengembangkan harta yang Bapak
kasih. Bapak misalnya kasih uang segini, saya beli rumah satu,
adalagi lagi rezeki saya beli rumah lagi, dikontrak-kontrakin, jadi
akhirnya beranak-beranak terus rumah itu…. Tadinya punya satu,
bayangin dari satu mobil holden, bisa berkembang biak , jadi begini...
hahahahahaa”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

Sosok Ibu SY sebagai istri yang mandiri terekam oleh Pak LRZ, putra
pertama mereka. Berikut kutipannya:

“…terus kedua enggak manja Ibu tu kan. Padahal Ibu itu kan anak
orang penting itu sebenernya zaman dulu, anak menteri. Ada temen-
temennya Ibu yang dulu juga anak-anak orang penting di zamannya ya
itu hidupnya bisa berbalik 180 derajat. Itukan karena apa karena
kemampuan itu tadi. Jadi ada orang yang biasanya cuma ada fasilitas
yang baik, baru dia bisa berfungsi dengan baik. Kalau Ibu tuh apa


60

yang ada itu yang dimanfaatkan sebaik mungkin dan di jaga gitu ya, di
manage sebaik mungkin”.

(Wawancara dengan Bapak LRZ, putra pertama Ibu SY dan Pak ZH,
bertempat di kantor Sekretaris Rektor UAI, hari Jum‟at, tanggal 28
Oktober 2011)

Ibu SY jugalah yang mengurus segalanya sendiri. Apalagi ketika
suaminya harus tugas diluar. Sebisa mungkin ia tangani dengan
kemampuannya sendiri. Hal tersebut sangat diingat oleh Pak LRZ, sehingga
ketika ia memilih pasangan hidup dalam alam bawah sadarnya ia memiliki
kriteria ini ketika istrinya mendidik dan mengurus anaknya. Berikut potongan
dari pernyataan tersebut:
“Banyak juga orang yang karna kesibukkan dia serahkan ke suster
atau ke pembantu gitukan, tapi dilepas begitu aja, gitu misalnya. Nah
itu juga satu yang selama saya kecil sampai sekarang itu ibu selalu
turun tangan langsung kalau ngurus anak. Walaupun ada pembantu
walaupun ada segala macem tetep dia ngurus. Misalnya kaya
sekarang, gak usah anak, cucu misalnya. Anak saya, saya titipin
disana , kita taro suster disanakan supaya ibu gak repot apa segala
macem, tetep aja kalau dia mau mandi yang mandiin ibu, atau bahkan
kalau ibu lagi sakit Ibunya tetep ngeliat si suster ini mandiin,
terkontrol”.
“Dia sangat memperhatikan, sangat concern, sampai sekarang pun
juga seperti itu, wajarlah ibu tapi di sisi lain beliau juga sangat tegas
kalau dalam keluarga”.

(Wawancara dengan Bapak LRZ, putra pertama Ibu SY dan Pak ZH,
bertempat di kantor Sekretaris Rektor UAI, hari Jum‟at, tanggal 28
Oktober 2011)

Keahlian Ibu SY dalam mengurus dan mengembangkan amanah yang
diberikan kepadanya juga di akui oleh Pak ZH. Dan hal inilah yang menjadi
kelebihan Ibu SY dalam menjalankan perannya menjadi seorang istri dan ibu.
Bukan hanya itu, Pak ZH juga merasa terbantu dengan keahlian Ibu SY dalam
mengembangkan dan menjaga apa yang telah dipercayakan kepadanya.
Sehingga Pak ZH bisa fokus kepada pekerjaan, ilmu pengetahuan, juga
membuat buku.
“Nah itu satu lagi yang bagusnya, saya sebagai pejabat, tentunya ada
fasilitas-fasilitas yang diperoleh. Tapi itu biasanya saya tidak terlalu
memikirkan. Ya udah dapet, yaudah.. Ibu SY itu lebih jauh berfikirnya,
bagaimana asset yg ada ini bisa berkembang dan bisa menjadi, nanti kalo
kita pesiun menjadi bermanfaat. Nah dia ketika saya misalnya dapat


61

bantuan perumahan, dari PLN, bantuan waktu itu setelah jadi Dirut dapet
ada apa namanya bonus gitu dari perusahaan. Nah itu dia investasi, kan
saya gak tau biasanya saya masukin aja di bank. Dia justru memikirkan
invest ditanah. Jadi waktu tanah-tanah di Pondok Indah itu masih murah dia
invest disitu. Tahun 90 kan saya masih Dirut itu. Disitu masih pohon-pohon
karet,nah dia beli tanah. „Jangan, jangan taruh di bank‟ lalu setelah selesai,
baru-baru ini dia bangun rumah dari asset yang saya terima, kemudian di
kontrakkan. Hasil kontraknya dia bangun tanah. Nah begitunya itu tu pintar,
apalagi dia punya darah orang padangkan..., jadi ada entrepreneur-nya. Aaa
itu saya jadi merasa terbantu, jadi saya tidak terlalu pusing mikirin
keuangan. Saya bisa fokus mikirin pendidikan, ilmu pengetahuan, bikin buku.
Karena itu dia udah jalan, hahaha”.
(Wawancara dengan Bapak ZH, bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011 , pukul 11:33 AM menit ke 11.45)
Menurut Pak LRZ, kemampuan Ibu SY dalam mengembangkan rezeki
yang diamanahkan kepadanya, ditunjang dengan kemampuan managerial yang
baik. Kemampuan tersebut ada dalam diri Ibu SY dan ia terapkan dalam
rumah tangganya. Hal tersebut membuat Pak LRZ kagum dengan sosok
ibunya. Berikut kutipannya:
“Ibu SY tu ini, dia manager yang baik, manager keuangan yang baik.
Jadi dia selalu bisa me-manage sehingga apa yang tersedia itu dapat
dimanfaatkan sebaik-baiknya, seoptimal mungkin”.

(Wawancara dengan Bapak LRZ, putra pertama Ibu SY dan Pak ZH,
bertempat di kantor Sekretaris Rektor UAI, hari Jum‟at, tanggal 28
Oktober 2011)

Karena itu pula, Pak ZH bisa tenang dalam menjalankan tugas-tugas
dan kariernya. Ia tau dan percaya bahwa istrinya dapat diandalkan dan bisa
menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu dengan baik. Sama halnya dengan
kepercayaan Ibu SY kepada Pak ZH.
Ibu SY tidak memungkiri, sebagai istri dengan suami yang harus
sering pergi untuk menjalankan tugasnya, kekhawatiran terkadang datang
menghampiri. Untuk hal ini, Ibu SY mengungkapkan sebagai berikut:
“Yaaa… namanya manusia pasti ada rasa khawatir, tapi kan
kepercayaan kita. Kita kan liat dari karakternya beliau ya kan… yang
gak macem-macem, gitukan. Yaudahlah Lillahita‟ala aja, pasrah,
kehendak Allah apa. Kalau kita pasrah malah dilindungin Allah”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)



62

Sejak dari awal Ibu SY sudah melihat karakter Pak ZH yang lurus, dan
tidak ‗macem-macem‘, dan hal itulah yang membuat Ibu SY percaya bahwa
Pak ZH bisa mengayomi dan menjadi imam dalam keluarga. Menurutnya,
pasrah kepada Allah justru yang membuat dirinya dan suaminya dilindungi
oleh Allah. Karena semua yang dilakukan atas dasar Lillahita‘ala (hanya untuk
Allah semata). Itulah yang akhirnya membuat Ibu SY dan Pak ZH tenang
dalam menjalankan tugas dan perannya masing-masing.
Dalam mendidik anak, Pak ZH adalah sosok bapak yang sangat
demokratis. Ia juga lebih menyukai cara-cara yang persuasif
76
. Pak ZH
menanamkan semangat untuk berkompetisi kepada anak-anaknya lewat
diskusi-diskusi
77
. Lewat diskusi-diskusi ringan yang biasa dilakukan sehabis
sholat ataupun di meja makan. Tentang diskusi yang menjadi budaya di rumah
tangga Ibu SY dan Pak ZH, Pak LRZ juga memaparkan tentang hal ini.
Berikut kutipannya:
―…jadi yang dibicarakan umum itu segala macam hal gitu. Kecuali
hal-hal yang sifatnya pribadi. Kalau anak-anak dibahas bersama, tapi
tergantung juga kala ada hal yang lebih pribadi dipanggil tersendiri
oleh Ibu dan Bapak”.

(Wawancara dengan Bapak LRZ, putra pertama Ibu SY dan Pak ZH,
bertempat di kantor Sekretaris Rektor UAI, hari Jum‟at, tanggal 28
Oktober 2011)

Pada saat diskusi, seluruh anggota keluarga boleh berpendapat. Bahkan
anak yang paling kecil sekalipun. Dari situ, Ibu SY dan Pak ZH mengajarkan
anak-anaknya untuk bisa mengutarakan pendapat dan juga mendengarkan
pendapat dari orang lain.
Tak jarang ketika masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya,
terjadi benturan. Dalam kesempatan berdiskusi itu, setiap anggota keluarga
diberikan kesempatan untuk mempertahankan pendapatnya tanpa melihat yang
mana yang lebih tua atau yang lebih mudah. Di sanalah peran Ibu SY, yaitu
sebagai ‗rem‘ dan pengingat batas-batas yang patut. Sebagaimana uraian yang
dijelaskan oleh Pak ZH berikut ini :
“Dalam mendidik anak-anak juga begitu, saya biasanya terlalu
longgar, terlalu apa, dia lebih ketat. Saya biasanya lebih demokratis
ke anak, saya rangsang untuk berdiskusi secara bebas, nah dia agak

76
Ibid, hal. 169.
77
Ibid, hal. 169.


63

meng rem. “Meskipun kamu bebas, tapi kamukan, dia kan orang tua,
harus ada sopan-santun timurnya..”, biasanya pake pukul-pukul meja
apa gitu kan, bagi saya itu ga papa tapi bagi ibu, dia meluruskan.
Supaya dia (anak-anak), tidak kehilangan kepribadian sebagai putra-
putri Indonesia yang punya budaya yang lebih sopan”.
(Wawancara dengan Bapak ZH, bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011 , pukul 11:33 AM menit ke 11.45)
Sosok Pak ZH yang demokratis, menjadikan Pak ZH terbuka dengan
semua anggota keluarga. Juga dengan Ibu SY. Seperti ketika Ibu SY
memberikan masukkan. Ibu SY tau bagaimana cara yang baik untuk
menyampaikan usulnya kepada Bapak, dengan cara yang halus bukan
menggurui.
“Bapak tu kan orangnya yang dalam memimpin rumahtangga itu,
adalah orang yang demokratis, bapak tu kalau saya kasih tau mau,
gitu.. cuman jangan dia di ajarin. Nah, jadi kita bukan ngajarin beliau,
tetapi kita kebanyakan, eh kaya gini kemaren nih ya.. dia mau telfon,
mau sms nih, ada temen, PT itu kan, mau ngundang bapakkan mau
bikin acara, „Ma..apa ya bilangnya ya.. Pak PT..‟, „Gak usah, jgn Pak
PT gak bagus‟, „Bung PT ?‟, „jangaan‟, saya bilang gitu.. „Dek PT,
kan jadi kekeluargaan.. kan, tapi ada lebih senioritasnya papa ya
kaann..‟, „Oh iya ya..‟ akhirnya bikin Dek PT.. yang kaya gitu-gitu..
hal-hal yg kecil kan ya.. tapi kalau kita…, dia kalau diajarin gak
mau.., di diskusikan dulu, oh iyah..kayanya bagusan ini, gitukan”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)

Begitu pun ketika Pak ZH sedang mengambil keputusan. Tak jarang
Pak ZH meminta pandangan dari Ibu SY. Dan sering kali apa yang dipikirkan
Pak ZH sejalan dengan yang dipikirkan Ibu SY.
“Nah.. dia (Bapak ZH) itu sifatnya suka cek dan ricek, jadi dia udah
punya keputusan, begini, gini, gini, tapi dia coba dulu ke saya. Nah,
biasanya tuh kompak gitu, sejalan.. yang dia pikirkan sama sarannya
saya tuh sama, „Ohh sama seperti yang… ini papa cuma mau cek dan
ricek ke Mama, tapi kok ternyata kok sama ya kita‟. Banyakkan gitu
ya..jarang sekali yang berbeda kalau soal gitu-gitu”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Mengenai posisinya sebagai satu-satunya wanita yang ada dalam
keluarga, sekaligus sebagai ibu dan istri, Ibu SY menanggapi seperti kutipan
dibawah ini:


64

“Saya itukan boleh di katakan kaya ratu ya.. karena wanita satu -
satunya dalam keluarga ini kan, saya merasa mereka semua sangat
sayang sama saya, sangat menghargai, ya kan.. paling kalau aku udah
sakit, udah deh mereka sannggaat perhatian. Apalagi anakku yang
paLNg tua itu, aduuhh bukan main perhatiannya, yang lain sih sedeng-
sedeng aja, mereka tuh orangnya bukan yang manis -manis, romantis-
romantis gitu gak ada”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Pada suatu kesempatan Ibu SY sekeluarga jalan-jalan setelah LRZ atau
yang biasa dipanggil JK putra pertamanya wisuda. Ia menginginkan anak-
anaknya mengingat betapa bahagianya mereka sekeluarga. Waktu itu, anak-
anak Ibu SY belum ada yang menikah. Berikut kutipan dari cerita Ibu SY:
“Sampai dulu anakku wisuda yang terakhir, itu JK di Amerika kan,
saya pergi sama anak – anak, belum mantu tu satu pun. Kita pergi
jalan-jalan. Kita kan di LA tuh.. terus kita nyewa satu mobil gede kan,
jalan-jalan yg nyetir anak ganti-gantian kan, terus nyanyi-nyanyi,
saya kan suka nyanyi-nyanyi,nyanyi kemesraan ini, „Inget ni.. kalau
nanti mama gak ada, gimana ni bahagianya ni kita ber lima, di
pejalanan ini..‟, „Iya.. si mama ni sukanya yang suka one big happy
family ya..‟ katanya,‟Iya.. itu dari mama.. dari kecil…, mama selalu
berusaha kita menjadi one big happy family, jadi gelarnya mama tu
one big happy family‟.”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Begitu pun setelah kedua anak Ibu SY, LRZ dan AMZ menikah. Anak,
mantu, dan cucu kerap kali berkumpul dirumahnya. Hal itu merupakan
anugerah yang amat di syukuri oleh Ibu SY.
“Begitu aku ada keperluan, kebutuhan, mereka langsung cepet gitu,
kalau misalnya saya keluar negeri nih, mereka semuanya kumpul loh
disini, mau berangkat saya. Sebelum saya berangkat tuh, misalnya
saya berangkat jam 7, jam 4 atau jam 5 mereka udah disini. Sama-
sama makan malam bersama terus saya berangkat gitu. Saya pulang
gitu.. itu anak, menantu, cucu, nunggu dirumah, mobil jemput, kita
dateng, mereka udah siapin makanan, apa segala itu.. mantu – mantu
yang masak. Kompak iya, Alhamdulillah”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)


65

Disela-sela wawancara Ibu SY bercerita tentang pengalamannya ketika
mendampingi Pak ZH sakit dan harus mengobati trakea-nya ke Tokyo. Berikut
kutipannya:
―Tapi akhir-akhir ini waktu bapak sakit berat yang kita mau ke Tokyo
aku ajarin doa-doa. Dan Alhamdulillah udah bagus, doa-doanya udah
bagus, saya kasih buku ngaji. Saya kan ikut pengajian-pengajian juga,
nah disitu kan ada buku. Doa-doa apa yang mesti di baca , sholat-
sholat, apa gitu kan.‟Ini diapalin Pa‟, waktu mau ke Tokyo, waktu mau
oprasikan, bagus sekali, „Minta doa supaya khusnul khotimah‟,
misalnya gitu kan „Ini dihapalin Pa‟.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)

Dari kutipan diatas, dalam menjalani rumah tangga Ibu SY juga
melengkapi Pak ZH dari sisi spiritualitas. Begitu pun ketika Ibu SY dan Pak
ZH menjalankan ibadah haji. Sebelum melaksanakan ibadah haji, Ibu SY dan
Pak ZH melaksanakan umroh dahulu di tahun 1993 sekaligus menemani Pak
ZH untuk tugas di Paris.
Waktu itu, Ibu SY pasca menjalani operasi pengangkatan kista. Ia
ingin memanjatkan rasa syukurnya karena diberikan kesembuhan dan
kemudahan dalam operasinya. Berikut kutipan yang diungkapkan oleh Ibu SY:
―Sebelumya umroh dulu, tahun 1993 kami umroh dulu. Waktu itu saya
kan abis operasi, ada kistakan saya, abis operasi kan waktu itu jadi
saya bilang „Pa aku kepengen umroh‟. Itu pertama kali saya umroh
tahun 1993. Abis itu bapakkan ada dinas ke Paris, „Kita umroh dulu ya
pah ya..‟, „Ngapain ?..‟, „Ya mau umroh mau bersyukur sama Allah,
sudah sembuh dari operasi, gak ada apa-apa, Alhamdulillah gak
ganas, ya kan.. cuman tumor biasa‟, saya bilang gitu. „Yaudah iya‟
bapak kan nurut aja kalau kaya gitu-gitu sih. Jadi kita sebelum ke
Paris, kita umroh dulu, dari Jakarta langsung ke Mekkah cuma
semalem aja, cuma buat umroh aja”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)

Dari kutipan diatas dapat dilihat kecenderungan Ibu SY untuk
mengajak Pak ZH lebih dekat kepada Yang Maha Kuasa, serta mensyukuri
nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.


66

Setelah itu, di tahun 1994 Ibu SY dan Pak ZH melaksanakan rukun
Islam yang kelima yaitu menunaikan ibadah haji. Ibu SY menceritakan proses
dan pengalaman berhajinya, berikut kutipannya:
“Tahun 1994, berdua, waktu itukan Bapak Dirut PLN kan, saya bilang
sama Bapak, „Pa kita harus berangkat Haji tahun ini, kita kan sudah
dapat rahmat dari Allah‟, Bapak jadi Direktur Utama PLN, itukan gak
semua orang dapet, karena kita merasakan sekali. Kalau disitu kita
kaya presiden diperlakukannya. Kemana-mana ke daerah-daerah,
kaya apa deh. Benar-benar orang nomer 1 PLN, namanya aja dulu,
PLN 1, PLN1 kan. „Jadi kita harus mensyukuri rahmat Allah Pa, kita
pergi Haji‟, „Tapi kan Papa lagi sibuk, gini gini gini‟, „Duh Pa, kan
kesibukkan dunia, kita bersyukur kepada Allah di Mekkah. Kapan lagi
mumpung kita masih muda, masih kuat. Kan tugas kita cuma sekali
wajibnya itu kan, kita laksanakan sekarang‟, „Tapi lagi gini kerja
dikantor lagi banyak masalah‟. Orang lagi heboh-heboh tuh, Bapak tu
kan nerima jadi Dirut PLN tahun 1992. Waktu lagi krisis, Bapak
berhasil mengangkat itu. Jadi 1994 sudah selesai cuma banyak orang
yang ingin posisi itukan. Itukan posisi yang sangat menggiurkan
orang, jadi banyak ini, ini, ini. „Inikan lagi pusing gini,gini Ma‟,
“Enggaklah, udahlah kita mohon yang terbaik kata Tuhan gimana,
tapi yang nomer satu kita bersyukur‟.”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Dalam keadaan itu, Ibu SY mengingatkan untuk melaksanakan ibadah
haji. Padahal ketika itu Pak ZH sedang sibuk-sibuknya dengan urusan
perkerjaannya sebagai Dirut PLN. Akan tetapi, Ibu SY mengingatkan untuk
tetap bersyukur. Salah satunya dengan melaksanakan ibadah haji selagi masih
diberikan kesehatan.
Selain itu, juga untuk memohon yang terbaik mengingat kondisi pada
saat itu Pak ZH sedang menjabat sebagai Dirut PLN dan kondisi saat itu
sedang krisis. Karnanya dengan beribadah haji memohon yang terbaik kepada
Allah merupakan obat penawar dari kesibukkan yang ada pada saat itu.
Ibu SY juga berbagi tentang pengalamannya ketika menunaikan ibadah
haji. Saat menunaikan haji, Ibu SY benar-benar merasakan kebesaran dan
kekuasaan Allah SWT lewat pengalaman yang ia dan suaminya alami.
Pengalaman yang tidak terlupakan itu dijelaskan sebagaimana kutipan berikut:
“Nah ada satu hal yang betul -betul saya bilang sama Allah, betul-
betul kebesaran Allah tuh yah. Waktu itukan, saya bilang sama bapak,


67

waktu itukan kalau bapak berarakan aja kan pakaian ihramnya,
kebuka-buka. „Pa tutup Pa dadanya, nanti Papa masuk angin‟, saya
bilang gitukan, kita kan bawa dokter waktu itu, karena bapakkan
sering sakit, jadi bawa dokter. „Tuh liat tuh kaya dokter HY tuh,
sekarang professor, dia kan rapih‟, terus bapak bilang „Ya.. diakan
sering sakit Papa kan enggak..‟ Allahu akbar Bapak sakit abis itu. Kita
yang terakhir, wukuf di arafah, bapak kan sakit, panas tinggi, bener-
bener kita gak boleh salah ngomong. Itu saya masih inget, kita lagi
jalan menuju ke masjid, di masjidil haram aku ngomong gitu, waduh
saya salah saya ngomong gitu, bapak jadi jawabnya begitu ya kan..
yang salah kan aku ni pasti, kenapa ngomong gitu”.
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)

Itulah pengalaman yang tak terlupakan yang dialami oleh Ibu SY dan
Pak ZH. Yang membuat ia yakin atas kebesaran dan kekuasaan Allah. Apapun
yang diucapkan dan dikerjakan pada saat ibadah haji sangatlah didengar oleh
Allah. Dan Ia Maha berkehendak.
Akan tetapi, selain pengalaman tersebut, ibadah haji yang ditunaikan
dengan suaminya berjalan lancar dan selalu diberikan kemudahan-kemudahan
sejak awal keberangkatannya. Berikut kutipan yang diambil dari proses
wawancara dengan Ibu SY:
Oiyaa… he‟eh, kita tu semua lancar Alhamdulillah, dari mulai
berangkat, dapat kemudahan – kemudahan dari Allah, aduh luar
biasa, kemudahan – kemudahan semua lancar. Temen bilang „Itu pake
itu bagus‟, „Apa namanya ?‟, „INNA‟, katanya, „Ya udah boleh deh
daftarin dong saya, tolong dong daftarin‟, oke di daftarin sama teman
ajakan, eh terus ada beberapa orang teman – teman pada disitu juga
gak sengaja loh gak tau. Waktu pertemuan pertama kali kan mereka
minta dirumah saya, ya namanya dulu Dirut PLN kan, ya oke, aku mau
ajakan, hayuk silahkan, tau-tau loh kok si ini, kok ini, loh kok si AR,
jadi banyak temen-temen, itukan kemudahan dari Allah kan, kita kan
kadang-kadang rombongan gak kenal kan, gak apa, kan gak enak,
ternyata banyak temen- temen, ikut juga, tanpa kita sadari.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)

Dalam melaksanakan ibadah haji Ibu SY dan Pak ZH, merasa
diberikan kemudahan-kemudahan. Dan ia merasa ditunjukkan oleh Allah akan
kekuasaan-Nya. Berikut kutipan yamg terekam dari proses wawancara:


68

“Jadi itu saja lah yang saya pikir, yang merupakan Tuhan
menunjukkan kebesarannya bahwa kita enggak boleh sembarangan
ngomong di Mekkah, ya kan.. sampai pulang ke Indonesia sakit lho,
masuk rumah sakit, 2 minggu di rumah sakit. Allahu Akbar benar-
benar. Nah itulah semuanya lancar, semuanya bagus, apa, tapi kita
gak boleh salah ngomong. Dan itu dia yang selalu sakit dokter kita itu,
dia itu bilang sama kita selalu sakit kalau umroh, dia gak sakit sama
sekali, batuk pun enggak, pilek pun enggak, semua orang batuk, pilek
kan dia enggak sama sekali, itukan Allahu akbar bener-bener, itu gak
maen-maen deh, percaya deh. Hanya itu loh, yang lain semuanya
bagus semuanya lancar. Waktu salat gak dapet tempat, taunya ada
aja. Orang – orang arab yang gede –gede kan gak dapet tempat, tau-
taunya ada orang yang sini-sini-sini, hajj-hajj…”.

(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)

Ketika melaksanakan haji, niat Ibu SY benar-benar ingin mendekatkan
diri kepada Allah. Waktu senggang dijadikan oleh Ibu SY sebagai kesempatan
untuk membaca kitab suci Al quran. Sehingga Ibu SY beserta Ibu QS juga Ibu
MI khatam Al quran di tanah suci. Ia tidak tergoda untuk berbelanja sebelum
semua ibadah yang dilakukan tuntas
78
.
5.3 Menjalani Bahtera Rumah Tangga
Ada beberapa peranan yang dijalankan oleh Ibu SY untuk mendorong
dan mendampingi suaminya dalam berbagai fase ataupun jenjang kehidupan
sehingga mencapai kesuksesan. Fase tersebut dibagi oleh penulis menjadi dua
fase, yang pertama, peranan ketika mendampingi saat melaksakan studi
lanjutan, dan yang kedua, peranan ketika menjalani karier.
5.3.1 Peranan ketika studi lanjut
Dari awal Ibu SY dan Pak ZH bertunangan Pak ZH langsung
melanjutkan studinya ke Australia tepatnya di University of New South
Wales, Sydney. Setelah menikah pun, Pak ZH menempuh studi lanjutannya
dengan beasiswa dari USAID di Amerika, tepatnya di University of Southern
California, Los Angeles.
Di tahun 1976, tepat ketika Ibu SY dan Bapak ZH anak keduanya yaitu
KKZ sedang belajar berjalan, Bapak ZH mendapatkan beasiswa dari USAID

78
Ramadhan dan Poeradisatra, Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan Pemikirannya. 2002. Pustaka Sinar
Harapan, hal. 94.


69

untuk mengambil gelar Master di University of San Diego, Amerika. Setelah
beberapa bulan Pak ZH belajar di San Diego, ternyata bidang studi yang ada
disana tidak sesuai dengan keinginannya. Karenanya, Pak ZH berusaha untuk
pindah ke University of Southern California, Los Angeles
79
.
Saat di Los Angeles, Pak ZH merasa kesepian. Sehingga meminta Ibu
SY dan anak-anaknya untuk menyusul kesana. Ibu SY bersama anak-anaknya
berangkat ke Los Angeles bersama dengan teman Bapak ZH yang bernama
CH yang akan belajar di Los Angeles, dengan membawa keluarganya
kesana
80
. Sehingga Ibu SY bersama anak-anaknya berangkat ke Los Angeles
bersama dengan Bapak CH dan keluarganya.
Ibu SY sebagai istri, sangat ingin menemani sang suami. Bukan
perkara yang mudah, karena beasiswa dari USAID hanya untuk satu orang,
sedangkan Ibu SY beserta kedua anaknya sehingga mereka berjumlah empat
orang. Akan tetapi, Ibu SY ingin Pak ZH bisa konsentrasi belajar dan
menyelesaikan studinya dengan cepat dan juga dengan hasil yang baik.
Sesampainya disana, Pak ZH membawa Ibu SYdan kedua anaknya ke
tempat tinggalnya yang berupa studio kecil yang dilengkapi dengan dapur dan
kamar mandi
81
.
Ketika itu, masalah biaya yang sangat membuat Pak ZH khawatir.
Dengan apa ia harus menghidupi istri dan kedua anaknya di negri orang.
Sedangkan beasiswa yang didapat dari pemerintah AS sangat kecil. Begitupun
dengan jadwal kuliah yang padat pada awal masa studi, membuat Pak ZH
tidak bisa mengambil kerja sambilan yang biasanya dilakoni oleh para
mahasiswa yang menempuh pendidikan di negri orang. Perasaan bersalah
karena sudah meminta istri dan anak-anaknya untuk berangkat menemaninya
dalam masa perantauan dengan keuangan yang mentok hadir di benak Pak ZH.
Malam harinya, Pak ZH mengajak Ibu SY untuk membicarakan
kekhawatirannya akan kondisi keuangan mereka. Dalam benak Ibu SY ia
sangat bangga dengan suaminya itu. Betapa besar tanggungjawabnya sebagai

79
Ibid, hal. 38.
80
Ibid, hal. 38.
81
Ibid, hal. 39.


70

kepala rumah tangga. Perasaan kagum memenuhi perasaanya. Momen itu
merupakan salah satu momen yang tidak terlupakan oleh Ibu SY selama
perjalanan kehidupan rumah tangga mereka.
Tanpa sepengetahuan Pak ZH, Ibu SY sudah mempersiapkan solusi
untuk pemecahan masalah tersebut, sehingga Pak ZH bisa berkonsentrasi
dalam studinya.
Kecerdasan Ibu SY sebagai istri tidak diragukan. Beliau sudah menjual
mobil VW mereka, dan kemudian menagih semua uang dari proyek-proyek
listrik yang pernah dikerjakan oleh Pak ZH
82
. Ternyata, uang dari hasil itu
semua cukup banyak. dari hasil uang tersebut, Ibu SY bisa membeli sebidang
tanah di daerah Duren Sawit Jakarta, dan masih ada sisa untuk membeli tiket
ke Amerika
83
. Sisanya lagi, Ibu SY bawa ke Los Angeles untuk bekal hidup
disana.
Hal itu sangat menghibur dan menenangkan Pak ZH, dari
kekhawatiran yang melandanya. Pada saat itu, Ibu SY berkata kepada Pak ZH:
“Tenang saja, saya membawa sejumlah uang tabungan yang bisa kita
pakai untuk setahun hidup disini”
84
.
(Dikutip dari buku “Zuhal 60 tahun Jejak Perjalanan dan Pikirannya”
hal. 39. )

Peranan Ibu SY sebagai pendamping hidup terlihat. Betapa ia
menginginkan Pak ZH bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Dan
kehadiran Ibu SY dan kedua anaknya membuat Pak ZH lebih tenang dan lebih
bisa berkonsentasi dalam menjalankan studinya. Karena kehadiran Ibu SY dan
kedua anaknya membuat Pak ZH lebih bisa memusatkan pemikiran dan
perhatiannya pada studi S2-nya.
Setelah beberapa hari, mereka pindah ke apartemen kecil yang ada di
lantai dua. Tidak seperti di Indonesia, disana mereka hidup pas-pasan. Akan
tetapi, Pak ZH tetap mendorong Ibu SY untuk kursus ilmu pendidikan disana.
Ketika Ibu SY kursus, Pak ZH yang mengasuh dan menjaga anak-anak, begitu
juga sebaliknya, apabila Pak ZH sedang sibuk belajar, Ibu SY yang mengasuh

82
Ibid, hal. 38.
83
Ibid, hal. 38.
84
Ibid, hal. 39.


71

anak-anak. Tidak seperti ketika mereka di Indonesia, Ibu SY disana tidak
menggunakan jasa pembantu rumah tangga. Semua pekerjaan rumah
dikerjakan sendiri. Jika LRZ atau KKZ sakit, mereka tidak dibawa ke rumah
sakit swasta melainkan ke rumah sakit umum yang lebih murah. Disana
mereka tidak pernah berlibur, karena beasiswa yang didapatkan oleh Pak ZH
hanya US$ 650 sebulan.
Pernah suatu hari, Ibu SY dengan kedua anaknya lama sekali
menunggu bis kota di tepi jalan, karena jarangnya bis kota yang lewat disana,
sehingga LRZ dan KKZ menangis karena kepanasan. Sedangkan Ibu SY di
Indonesia biasa mengendarai mobil VW sendiri
85
. ` Seorang Doktor yang
bernama, Pak RD, akan kembali ke Indonesia. Ia menawari keluarga Pak ZH
untuk tinggal di sebuah paviliun didaerah yang sederhana yang ada di Los
Angeles. Pak ZH sekeluarga sangat senang karena, di paviliun tersebut, anak-
anak bisa bermain bebas di halaman, meskipun tidak luas.
Ketika mengenyam pendidikan di University of Southern California,
Pak ZH benar-benar memusatkan perhatiannya kepada pendidikan yang
dijalaninya. Pak ZH juga tetap menulis dan menyelesaikan dua paper
ilmiahnya yaitu, The Performance of AC system with Predominant Power
Supply by HVDC dan Magnetizing Inrush Currents in Transformers
86
.
Akhirnya, pada pada tahun 1977, Pak ZH mendapatkan gelar MSc,
E.E.,. Ia menyelesaikannya dengan predikat cum laude. Pada saat itu Pak ZH
berniat untuk langsung melanjutkan S3-nya.
Walaupun telah menyelesaikan S2, Pak ZH, Bu SY dan anak-anaknya
tidak segera pulang ke Indonesia karena, menunggu pengumunan apakah Pak
ZH lulus atau tidak untuk mengikuti program Doktor. Dan tidak disangka-
sangka, mereka mendapatkan kabar bahwa Ibunda dari Bu SY mengalami
sakit parah. Setelah melewati pemikiran yang sulit, akhirnya Pak ZH
memutuskan untuk tetap di Amerika menunggu pengumuman lulus atau
tidaknya ia ke program Doktor. Sedangkan Ibu SY dan kedua anaknya pulang
ke Jakarta.

85
Ibid, hal. 39.
86
Ibid, hal. 40.


72

Dalam perjalan pulangnya ke Jakarta, Ibu SY tidak berhenti-hentinya
berdoa. Ia sangat menginginkan masih bisa melihat ibunya dalam keadaan
hidup walaupun hanya sebentar. Ibu SY dan ibundanya memiliki hubungan
batin yang sangat dekat. Sesampainya di Jakarta, Ibu SY masih bisa melihat
wajah ibundanya untuk yang terakhir.
Pak ZH pulang ke Jakarta karena ingin menemani Ibu SY yang masih
sedih karena ditinggalkan oleh ibundanya untuk selamanya. Pak ZH tidak jadi
mengambil program doktor di Amerika, dan berencana untuk mengambil
program doktor ditempat lain saja.
Di waktu itu, Pak ZH sempat dikirim untuk belajar teknologi di Prancis
selama tiga bulan. Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya Pak ZH
mengambil sandwich program dimana untuk disertasinya sebagian di
University of Tokyo dan sebagian lagi di Universitas Indonesia
87
.
Kala itu Pak ZH sedang menjabat sebagai Direktur Pengkajian Sumber
Daya non Mineral di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan
beliau diberikan izin untuk cuti oleh Prof. DR. HBB yang sewaktu itu
menjabat sebagai Ketua BPPT. Bukan hanya itu, bahkan Pak HBB
memberikan bantuan biaya untuk Pak ZH merampungkan program doktornya.
Kegiatan menulis Pak ZH saat itu sangat menyedot waktunya. Pada
tahun 1981, ia mulai menulis disertasinya untuk S3-nya. Karenanya, ia mulai
jarang datang ke acara seminar, diskusi agama, arisan bahkan acara keluaga.
Sehingga Ibu SY seringkali pergi sendiri, padahal biasanya mereka selalu
bersama jika menghadiri acara-acara.
Akan tetapi, jika Pak ZH pergi keluar negeri untuk riset, ia sering
mengajak serta Ibu SY
88
. Pada penelitian awal Pak ZH pergi ke Stanford
Research Institute yang terletak di Pao Alto, Amerika selama tiga bulan, ia
mengajak serta Ibu SY dan putra terakhir meraka AMZ yang waktu itu
berumur dua tahun. Sedangkan LRZ dan KKZ dititipkan kepada kakak Ibu SY
yang ada di Jakarta.

87
Ibid, hal. 55.
88
Ibid, hal. 53.


73

Sambil menunggu adzan maghrib, Pak ZH sibuk di depan meja
tulisnya di rumah. Dengan menggunakan kaos oblong, sarung atau piyama,
juga kacamata, Pak ZH sangat menikmati menulis disertasinya hingga tengah
malam
89
. Judul disertasi Pak ZH yang di selesaikannya selama empat setengah
tahun adalah Sistem Pembangkit Tenaga Listrik .
Disertasinya inilah yang akhirnya menghadirkan rumus ajaib untuk
PLN dalam membuat kebijakkan energi listrik yang lebih sinkron
90
. Lewat
disertasinya Pak ZH mendapatkan gelar S3-nya dengan predikat cum laude
pada tanggal 21 Desember 1985
91
.
Lewat disertasinya itu, Pak ZH menghasilkan rumus yang dinamakan
Zopplan (ZH Optimum Planning). Zopplan merupakan sebuah formula yang
sekarang digunakan secara luas oleh akademisi di perguruan tinggi dan The
World Bank dalam studi kebijakan penetapan harga energi (energy pricing
policy study) dan The World Bank membeli paten Zopplan dengan harga yang
tinggi
92

Idealnya, untuk merampungkan disertasi ini, Pak ZH dibantu lima
persen isi disertasi dengan para promotor. Akan tetapi pada perjalanannya Pak
ZH menjadi single fighter dan nyaris tanpa dukungan siapa pun dalam
merampungkan disertasi yang rumit tersebut. Sehingga masa-masa Pak ZH
menyusun disertasi merupakan masa-masa yang sulit baginya. Akan tetapi
semua itu terbayar rumus yang dihasilkan lewat disertasinya tersebut. Dan ia
pun dinobatkan sebagai pakar listrik ternama dan pertama di Universitas
Indonesia. Juga dinobatkan sebagai guru besar ke-5 di Fakultas Teknik UI
93
.
Kepakaran Pak ZH dalam bidang listrik terdengar. Hal itu berkat
publikasi dan pemberitaan tentang Pak ZH. Dan pada bulan April 1992, Pak
ZH dipercayai amanat besar untuk menjadi Dirut Perusahaan Listrik Negara
(PLN) oleh Menteri Pertambangan pada waktu itu yaitu, Ir. GK, yang juga
merupakan kakak kelas Pak ZH sewaktu Pak ZH kuliah di Jepang.

89
Ibid, hal. 53.
90
Iman Yuniarto Fakhrudin. Potret 70 Tahun Zuhal. 2011. Paperwork. Hal. 61.
91
Ibid, hal. 61.
92
Ibid, hal. 61
93
Ibid, hal. 63.


74

“Suami saya tak suka bermalas-malasan. Ada saja yang dikerjakan.
Apa saja”.
94

(Dikutip dari buku “Potret 70 Tahun Zuhal”, hal. 63)

5.3.2 Peranan ketika menjalani karier
Pada masa awal pernikahan Ibu SY dan Pak ZH, Pak ZH bekerja
sebagai seorang dosen muda, tenaga honorer yang mendapatkan gaji lima
belas ribu rupiah per bulannya. Sedangkan Pak ZH juga bertanggung jawab
atas keempat adiknya yang masih sekolah, dan juga tinggal bersama di satu
rumah yang sederhana dengan Ibu SY dan Pak ZH.
Awal karier Pak ZH masuk ITB sebagai dosen sekitar tahun 1967. Dan
di tahun 1971 Ibu SY dan Pak ZH menikah, itu pun Pak ZH masih menjadi
tenaga honorer. Dalam keadaan yang seperti itu, Ibu SY berperan dalam
mengingatkan dan memberikan pandangan yang akhirnya berdampak positif
kepada langkah selanjutnya yang diambil oleh Pak ZH. Hal itu terkutip dari
percakapan yang berlangsung dengan Ibu SY:
“….Bapak tuh masih tenaga honorer di ITB itu dia gak suka ngurus,
padahal dia msuk ke ITB tu tahun 1967 atau 1968 kan waktu kita
kawin tahun 1971 tuh masih tenaga honorer, „kok gak diurus-urus sih
pah…” saya bilang gitu “males aah…‟, „gak bisa harus diurus… nanti
rugi dibelakangnnya, aturan udah profesor belum profesor..‟, „Ogitu
yaa‟, „Iyaa… ayo diurus cepet..‟, aku tuh selalu dorong-dorong gitu,
dan pasti biasanya nurut. Dia (Pak ZH) tuh orang yang paLNg gak
suka mengurus hak -hak nya Bapak itu”
(Wawancara dengan Ibu SY bertempat di kediaman Ibu SY, di daerah
Pondok Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Pernyataan tersebut menggambarkan peranan Ibu SY dalam
memotivasi dan memberikan arahan menuju kepada pencapaian yang lebih
baik. Cara menyampaikannya pun bukan dengan cara yang menggurui. Ibu SY
sadar, Bapak ZH adalah orang yang pintar, dan cerdas. Dan tidak mungkin ia
menggurui suami tercintanya itu. Karenanya, ia selalu memilah-milah
perkataan dan cara penyampaiannya, sehingga pesan yang ia maksudkan
sampai dengan baik ke Pak ZH. Sebagai contoh ketika Pak ZH meminta

94
Ibid, hal. 63


75

pendapat Ibu SY tentang hal yang kecil tetapi penting, seperti yang
diungkapkan oleh Ibu SY pada kesempatan wawancara sebagai berikut:
“Bapak itu orangnya tidak boleh diajari kan dia orang pinter. Dengan
cara yang halus kita menyampaikannya”.
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
“…hidup sama Bapak tu bukan mudah lho, bapak tuh kan orangnya
yang gimana, ya kan.., orang pintar, yang maunya juga banyak ya
kan.. tapi juga gak bisa gini gitu, hehehee…, harus kuat- kuat, Bapak
tu gak bisa dilawan loh orangnya, uuuhh kalau aku orang yang suka
ngelawan udah lah udah kapan-kapan pisah kali, jurus diem aja,
akhirnya dia gak enakan sendirikan. Tapi kadang-kadang saya juga
salahkan, kalau aku salah aku minta maaf, tapi kita marah dulukan,
diem dulu, udah itu, ah… aku salah ya, introspeksi kita sendirikan…”
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Dalam kesempatan tatap muka dengan Pak ZH, ia juga memaparkan
pandangannya tentang peranan istri dalam memberikan dorongan dengan
penyampaian yang baik kepada suaminya, berikut potongan kutipan dari
proses wawancara :
“Demikian juga istri merupakan pendorong bagi suksesnya suami,
sehingga dua wanita yang dalam hidup seorang pria itu sangat
berkontribusi terhadap kesuksesan seorang pria, ibu dan istri.
Pengaruhnya sangat besar memberi dorongan, bukan mencampuri”
(Wawancara dengan Bapak ZH, bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011 , pukul 11:33 AM menit ke 5)
Tentang posisi suami dan istri ini, Ibu SY juga mengungkapkan hal
yang serupa berikut kutipan dari proses wawancara :
“Hemm….. Bapak itu dalam kehidupan kita, pernikahan ini ya, Bapak
itu kan pemimpin di keluarga, kita akui, jadi yang menentukan, apapun
kita bicarakan beliau yang memutuskan, saya punya ide gini-gini,
enggak kata Bapak ya enggak. Kalau iya kata Bapak ya iya, tapi
beliau itu memberikan keleluasaan kepada saya, sebagian besar uang
itu dipegang oleh saya dengan saya tu merdeka aja, mau beli ini mau
beli itu suka-suka saya, kecuali dia gak suka tu dulu waktu kita baru-
baru, kalau yang untuk keindahan-keindahan gak boleh .Dulu tu waktu
masih muda, akhirnya aku beli aja misalnya saya beli kursi yang
bagus, aku beli lukisan, dulu tu gak suka, tapi sekarang jadi suka.
Lama-lama kebawa ke saya ,saya kan senang pernik-pernik, apa
gitukan … Dulu beli pot aja yang bagus-bagus bapak marah loh, gak


76

bermewah-mewah tu, tapi aku iya aja „iya Pa..‟, gitu..tapi beli aja.. ha
ha haa kalau itu kan gak usah diturutinkan, kan gak prinsip, tau ada
aja.. tau bagus. Tapi kalau udah bagus, „O iyaya bagus ya Ma ya..‟, ya
udah bagus akan dan dia akhirnya oke..”.
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)
Dari pandangan yang disampaikan dengan baik oleh Ibu SY, menjadi
sebuah pacuan kepada Pak ZH. Awalnya Pak ZH tidak menganggap penting
dan menganggap kecil hal tersebut akhirnya tersadar bahwa ternyata hal itu
penting. Ini sejalan dengan pernyataan Pak ZH yang diungkap ketika proses
wawancara, berikut bentuk kutipannya :
―Saya itu kan orang yang kurang detail, cepet percaya sama orang,
kurang memperhatikan hal-hal yang bersifat jangka pendek. Itu Ibu SY
itu menjadi komplementer atau menjadi pasangan yang pas, karna dia
melengkapi, sikap saya yang sering percaya sama orang misalnya,
sehingga sering dibodoh-bodohin. Itu bisa diimbangi oleh beliau,
diingatkan. Saya yang kurang memperhatikan misalnya -dibuku saya
itu ada- kenaikkan pangkat, waktu saya di ITB saya kerja aja nanti
juga pangkat naik sendiri. Ternyata enggak, dia memberikan
dorongan”.
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011, pukul 11:33AM menit ke 7)
Seperti yang sudah di paparkan di pembahasan sebelumnya, di tengah
menjadi dosen, dan sudah memiliki dua orang anak, Pak ZH mendapatkan
beasiswa untuk melanjutkan studinya di Amerika di tahun 1976. Sepulang dari
Amerika, setelah menjalani studi lanjutan S2-nya, Pak ZH meneruskan
kariernya sebagai dosen di ITB, ia pulang-pergi dengan menggunakan kereta,
Jakarta - Bandung. Karena saat itu Pak ZH dan Ibu SY tinggal dirumah
orangtua Ibu SY sekaligus menemani ayah Ibu SY yang baru ditinggal oleh
istrinya.
Pak ZH sekeluarga tinggal dirumah orang tua Ibu SY selama setahun.
Di waktu itu, Pak ZH sempat dikirim untuk belajar teknologi di Prancis
selama tiga bulan. Setelah belajar di Prancis, Ibu SY mengandung anak ketiga
mereka. Ibu SY tetap ingin tinggal di Jakarta, akan tetapi, ia ingin tinggal di
rumah sendiri. Karenanya, rumah mereka yang ada di Jalan Cisitu Lama yang
ada di Bandung dan juga tanah yang ada di Jalan Duren Sawit dijual. Setelah


77

itu, mereka membeli rumah yang bangunannya sederhana namun memiliki
tanah yang cukup luas, sekitar 550 meter persegi di daerah Kalibata.
Banyak peristiwa yang terjadi dan dialami oleh Pak ZH ketika menjadi
dosen di ITB. Saat itu terjadi ‗Aksi Bengong‘ dari mahasiswa sebagai bentuk
reaksi dari mahasiswa yang menginginkan aksi nyata dari setiap dialog yang
diikuti oleh mahasiswa di beberapa kota besar. Selain itu, di tanggal 14 sampai
27 Oktober 1977, seperti yang dituliskan di dalam buku ‗Dari TH ke ITB‘.
Pada tanggal tersebut diadakan pertemuan Gelora Kebangkitan 28 Oktober
1977 di Balai Pertemuan ITB. Setelah acara tersebut diakhiri dengan upacara
besar hari Sumpah Pemuda, acara tersebut dilanjutkan dengan aksi turun ke
jalan yang dijaga ketat oleh tentara
95
. Tidak hanya sampai disitu, keadaan juga
semakin memanas ketika menghadapi pemilihan umum Presiden RI. Pada saat
itu, mahasiswa mengadakan mogok kuliah. Sampai akhirnya, kuliah berjalan
kembali, dan Pak ZH kembali mengajar disana.
Suatu hari ketika Pak ZH mengajar di ITB, sementara itu rumah
mereka yang bertempat di Kalibata bocor. Ketika itu Ibu SY sedang dalam
keadaan hamil tua dan tidak ada pembantu rumah tangga sehingga Ibu SY
harus mengangkat sendiri ember yang dipenuhi oleh air hujan. Disaat tersebut,
air ketuban yang ada di dalam perut pecah. Beruntung, Pak ZH datang tepat
waktu. Dengan segera Ibu SY dibawa ke rumah sakit bersalin. Lagu “First of
May” adalah lagu kesukaan Ibu SY dan Pak ZH, pada saat itu pula tanggal 1
Mei 1979, anak ketiga mereka AMZ lahir dengan selamat.
Selain mengajar di ITB dan juga melaksanakan tugas dari proyek
Puspitek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Karena
kesibukannya di Puspitek, membuat Pak ZH lebih sering tinggal di Jakarta.
Walaupun seperti itu, Pak ZH selalu membina hubungan baiknya dengan para
dosen di ITB.
Di tahun 1978, Prof. DR. SM posisi beliau sebagai Menristek
digantikan oleh Bapak Prof. DR. Ing. HBB yang juga merangkap sebagai
Ketua BPPT
96
. Pak ZH bukan sosok yang mau ‗mendekati‘ seseorang untuk

95
Ibid, hal. 42.
96
Ibid, hal. 51.


78

kepentingannya. Karenanya, waktu itu Pak SM yang juga sudah kenal dekat
dengan Pak ZH semenjak Pak ZH bersekolah di Jepang memperkenalkan Pak
ZH kepada Bapak HBB. Sebagai istri, Ibu SY mengetahui semua proses
tersebut. Dalam perannya, Ibu SY ikut menjaLN silaturahmi kepada rekan-
rekan Pak ZH. Berikut kutipan keterangan dari Ibu SY:
“Kalau Bapak orangnya gak suka terlalu mau yang fight. Bapak itu
orangnya ambisius pengen jadi orang yang maju, tetapi dia itu gak
suka harus gini harus gitu. Orang tu kan nempel-nempel, baik-baikin
orangkan, akulah yang kadang-kadang baikin. Kaya misalnya Pak
HBB dulu, kita kan gak kenalkan sama Pak HBB kan. Bapak
dikenalkan oleh Pak HBB oleh Bapak SM. Dia kan Menristek, diganti
dengan Pak HBB kan kalau sama Pak SM itu bapak memang sudah
kenal waktu bapak masih mahasiswa di Jepang, waktu beliau (Pak
SM) lagi lari-lari, diuber-uber pemerintah Presiden SK kan, tu dia
suka ke Jepang, membina mahasiswa yang muda-muda itu supaya
anak-anak jadi kadernya, dan ternyata Bapak jadi kader yang sukses,
dan dia rumahnya deket sini di ujung sini sampai mau meninggal pun
kita tau, kita bantu, perhatian”.
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Pak HBB sangat menghormati Pak SM, Pak HBB pun juga melihat
dan mengetahui kemampuan Pak ZH. Karnanya, Pak ZH diangkat sebagai
Pak ZH menjadi Pembantu Asisten Menristek Bidang Industri,
Telekomunikasi, Transportasi dan SKIM lalu menjadi Direktur Pengkajian
Sumber Daya Non Mineral (Energi) di BPPT
97
.
Peranan Ibu SY juga dapat dirasakan ketika Pak ZH menjabat sebagai
Direktur Pengkajian Sumber Daya Non Mineral (Energi) di BPPT (Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi) setelah 12 tahun mengemban tanggung
jawab, akhirnya dengan waktu yang sangat panjang tersebut dirasa oleh Ibu
SY dan Pak ZH tidak ada perkembangan. Hal tersebut dirasa oleh Ibu SY dan
Pak ZH kurang baik. Dalam kesempatan bertatap muka Ibu SY
mengungkapkan:
“Dulukan Papa waktu itu udah jenuh banget 12 tahun jadi Direktur
(di BPPT) ga naik-naik, Papa tu kan bosenan kerjaanya, udah gitu
udah deh bosen katanya gitu ya, terus mau jadi bisnisman. Ya gak
mungkinlah Bapak bukan pengusaha sifatnya, jiwanya gak jiwa

97
Ibid, hal. 51.


79

pengusaha aku gak kasih, gak mungkin, disini aja dulu sampai kita
dapet batu loncatan kan gitu”.
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Karenanya, di suatu kesempatan ketika Bapak GK mengadakan acara,
Ibu SY menganjurkan kepada Pak ZH untuk menghadiri acara tersebut. Pada
awalnya Pak ZH kurang tertarik, akan tetapi karena ajakan Ibu SY dan
beberapa pertimbangan yang diutarakan oleh Ibu SY, sehingga membuat Pak
ZH setuju.
Dari menghadiri acara tersebut, terajut kembalilah suatu hubungan
yang memang pada awalnya sudah terjalin. Pak GK menghubungi dan
meminta pendapat Menristek pada saat itu yaitu Prof. DR. Ing. HBB. Dengan
track record dan nilai dari seorang Pak ZH yang memang tidak diragukan lagi,
ditambah dengan hubungan yang sudah terjaLN, sehingga mengembangkan
sayap pencapaian Pak ZH menjadi Direktur Utama PLN.
Pak ZH menjabat sebagai Dirut PLN pada 1 Mei 1992
98
. Ketika itu
keadaan krisis dan pada waktu kepimpinan Pak ZH, keadaan tersebut
membaik. Berikut kutipan yang diambil dari percakapan dengan Ibu SY:
“Tapi lagi gini kerja dikantor lagi banyak masalah”, orang lagi
heboh-heboh tuh, Bapak tu kan nerima jadi Dirut PLN tahun 1992.
Waktu lagi krisis, Bapak berhasil mengangkat itu”.
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
“Menjadi Direktur Utama PLN adalah masa yang paling sulit dalam
kehidupan suami saya. Ia diangkat Pemerintah menjadi Dirut PLN
pada 1 Mei 1992 ketika Indonesia berada dalm situasi kekurangan
tenaga listrik 4000 MWA. Menurut Departemen Perindustrian ada
sekitar 2.000 industri masuk dalam waiting list”
99
.
(Dikutip dari buku “Zuhal 60 tahun Jejak Perjalanan dan
Pikirannya”, hal. 80)
Dalam buku itu juga dipaparkan bahwa, pada saat itu sering terjadi
pemadaman listrik karena krisis listrik yang terjadi di Pulau Jawa. Sehingga

98
Ibid, hal. 80.
99
Ibid, hal. 80.


80

tugas Pak ZH pada saat itu, sebagai Dirut PLN adalah mengatasi krisis listrik
tersebut secepat dan seprofesional mungkin.
Motto yang digunakan oleh Pak ZH yaitu, ―Kebersamaan, Keterbukaan
dan Keunggulan‖
100
. Motto itu pulalah yang akhirnya dikenal menjadi motto
PLN. Dalam menjalankan tugasnya, sebagai orang baru di PLN Pak ZH
melibatkan para senior yang ada di PLN, terutama para mantan pimpinan PLN
untuk memberikan masukan yang diperlukan untuk kemajuan PLN.
Ketika menjalani tugasnya sebagai Dirut PLN, Pak ZH melewati
beberapa rintangan. Banyak sekali tekanan yang ada dalam memperbutkan
proyek-proyek besar. Dalam keadaan seperti itu, Pak ZH menceritakan
keluhan-keluhannya tersebut.
“Tapi kenyataannya, ditengah jalan, saya melihat energi ZH lebih
banyak terserap untuk menangani tekanan perebutan proyek-proyek
besar, dan ini pernah dikeluhkannya kepada saya. Memang investasi
sekitar 9 triliyun banyak pihak tergiur
101
”.
(Dikutip dari buku, “Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan
Pemikirannya”, hal. 82)
Dengan keadaan seperti itu, Pak ZH harus berhati-hati sekaligus
berkonsentrasi dalam menjalani tugasnya. Hal ini bukan saja berlaku kepada
Pak ZH akan tetapi juga kepada sang istri, Ibu SY.
Dalam kenyataannya, Pak ZH adalah sosok yang sangat mudah
percaya kepada seseorang sehingga sering dimanfaatkan oleh orang lain. Hal
ini sejalan dengan pernyataan Ibu SY dalam kesempatan bertatap muka.
Berikut pernyataannya:
“…kalau di kantor saya suka nitip, „jagain Bapak ya, hati-hati Bapak
itu orangnya terlalu baik, jangan sampai ntar dibelakang ada
masalah‟. Karena Bapak orangnya terlalu baik, kadang-kadang dia tu
gak ngerti kalau di boongin orang, atau dikibulin”.
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Pak ZH pun menyadari pembawaannya tersebut. Seperti yang ia
ungkapan saat kesempatan interview, berikut kutipannya:

100
Ibid, hal. 82.
101
Ibid, hal. 82


81

“Saya itukan orang yang kurang detail, cepet percaya sama orang,
kurang memperhatikan hal-hal yang bersifat yang bersifat jangka
pendek”.
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011)
Sifat Pak ZH yang mudah percaya juga diungkapkan oleh Pak LRZ,
putra pertama mereka, dalam kesempatan bertemu muka dengan Pak LRZ.
“Kalau bapak tu semua orang baik aja gitu ngeliatnya tu akhirnya dia
dikerjain orang misalnya, kan gitukan”.
(Wawancara dengan Bapak LRZ, Putra Pertama Ibu SY dan Pak ZH,
bertempat di kantor Sekretaris Rektor UAI, hari Jum‟at, tanggal 28
Oktober 2011)
Beruntung, Ibu SY memiliki sifat detail sehingga ia kerap kali menjadi
pengingat Pak ZH. Dan hal itulah yang membuat Ibu SY dan Pak ZH saling
melengkapi satu sama lain. Sehingga Ibu SY berperan sebagai komplementer
dari kekurangan-kekurangan Pak ZH, begitu pun sebaliknya. Hal ini seperti
yang di jelaskan oleh Pak ZH, berikut kutipannya:
“Itu Ibu SY itu menjadi komplementer atau menjadi pasangan yg pas,
karna dia melengkapi, sikap saya yang sering percaya sama orang
misalnya, sehingga sering dibodoh-bodohin. Itu bisa diimbangi oleh
beliau, diingatkan”.
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011)
Saling mengisi yang ada pada hubungan Ibu SY dan Pak ZH
merupakan elemen penting dalam perjalanan rumah tangga mereka hingga
sekarang. Perbedaan yang ada pada Ibu SY maupun Pak ZH yang akhirnya
justru melengkapi satu sama lain. Putra pertama mereka pun juga memberikan
keterangan yang sama.
“Ya menurut saya itu kecocokan kan. Kecocokan antara dua individu
yang berbeda kan gitu kalau orang berumah tangga. Nah kebetulan
apa kelemahan bapak itu dilengkapi oleh kelebihan ibu, kekurangan
ibu ditutupi oleh kelebihannya bapak, gitukan. Itu yang membuat jadi
pas. Karna kalau orang satu sifat itu malah enggak cocok, yak an
kalau sifatnya sama-sama begitu ini-ini aja kan gak ada saLNg
mengisinya. Ibu dan bapak saling mengisi dan itu terlihat sekali
sampai saat ini. (biasanya dalam hal apa sih pak) dalam semua hal .
jadi banyak hal yang opposite, berbeda. Tapi saling mengisi akhirnya,


82

karna dia beda kutub. Jadi yang bolong sini diisi bolong sana diisi.
Jadi pas gitu”.
(Wawancara dengan Bapak LRZ, Putra Pertama Ibu SY dan Pak ZH,
bertempat di kantor Sekretaris Rektor UAI, hari Jum‟at, tanggal 28
Oktober 2011)
Sebagai istri yang baik, Ibu SY terus menjaga nama baik suaminya.
Dengan seperti itu, Pak ZH tetap terus berkembang dan terjaga dari fitnah.
―..saya gak mau, nama baik Bapak kan, kita juga yang terkena
semuanyakan. Karena Bapak kan iya-iya aja”.
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Ketika menjadi Dirut PLN, bukan hanya orang luar yang mencoba
memanfaatkan Pak ZH akan tetapi juga dari dalam keluarga sendiri. Ketika
itu, Ibu SY sudah menyampaikan bahwa ia merasa ada sesuatu yang janggal.
Akan tetapi, karena hubungan saudara, Pak ZH tidak serta merta
mempertimbangkan masukkan Ibu SY dengan baik. Pengalaman tersebut
dipaparkan oleh Ibu SY dalam kesempatan bertatap muka dengannya, berikut
kutipannya:
―Tapi pernah juga, nah.. ada waktu itu, waktu jadi Dirut PLN, ada
keluarganya yang mau memanfaatkan dia kan. Nah kita kan tau bener
bapak gak mau gitukan, tapi Bapak gak ngerti tu keluarganya mau
manfaatin dia, aku kasih tau kan. Nah Bapak marah besar sama saya,
tapi akhirnya terbukti, dia merusak nama baik Bapak kan. Nah disitu
tanpa saya katakan, „Betul ya Mama‟ dulu ke saya. Tapi dulukan dia
marah kalau saya bilang begitu, karnakan saudara dia, aku ngasih
tau, aku kan ngejagain dia, dan dia juga berusaha jaga diri. Tapikan,
saudara dia gak bisa nolakkan, akhirnya kan terbukti orang itu
merusak nama baiknya kan. Nah, disitu “oiaya.. Mama dulukan udah
pernah ingetin””.
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Kemampuan untuk dapat mengetahui niat dari orang lain ini
diturunkan oleh Ibu SY kepada anak-anaknya. Seperti yang diceritakan oleh
Pak LRZ, putra pertama Ibu SY dan Pak ZH pada kesempatan bertatap muka.
Adapun bunyi pernyataannya adalah sebagai berikut:
“…oo ini orangnya begini, itu dari Ibu tu kalau kaya gitu, karena Ibu
tu punya sensitifitas yang sangat tinggi. Jadi kalau misalnya liat


83

orang, ngomong-ngomong dia udah tau ni, ooh ni maksudnya seperti
ini, nah saya tu bisa adik-adik saya juga bisa. Kalau Bapak tu semua
orang baik aja gitu ngeliatnya tu akhirnya dia dikerjain orang
misalnya, kan gitukan”.
(Wawancara dengan Bapak LRZ, Putra Pertama Ibu SY dan Pak ZH,
bertempat di kantor Sekretaris Rektor UAI, hari Jum‟at, tanggal 28
Oktober 2011)
Dalam suatu kesempatan ketika bertemu dengan Pak ZH, ia
mengemukakan sifat Ibu SY yang bisa mengetahui niat seseorang
membuatnya kagum. Hal itu terekam dalam interview dengan Pak ZH, berikut
kutipannya:
“Tapi yang mengesankan adalah buat saya ya kan.. kalau saya
kadang-kadang gak ngikutin, terjadi kecolongan-kecolongan ha ha
haa. Karakter dia yang hati-hati dan emmm apa yaa.. agak ketat di
awal. Kalau saya tuh agak longgar di awal, cepet percaya, cepet itu,
bantu-bantu. Dia bisa tau, „ini dia mau ngibulin kita ni‟, misalnya gitu,
dan ternyata banyak benernya. Jadi itu yang menarik buat saya, karna
dia menjadi kompensasi kelemahan saya. Nah.. itu yang paling saya
apa namanya kagumi dari beliau”.
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011)
Menjadi Dirut PLN juga memiliki tanggung jawab besar dalam
menentukan proyek mana yang akan menang. Pak ZH sangat berhati-hati
dalam memutuskan hal tersebut.
“Kalau saya terus terang orang berebut project di PLN, mau dapet ini,
kasak-kusuk, lobby sini. Saya harus memutuskan, kalau enggak nanti
saya yang jadi korupsi,atau apakan, karna di bujuk-bujuk sama
pengusahakan, mereka gunakan berbagai macam cara”.
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011)
Perebutan proyek adalah salah satu hal yang harus dihadapi oleh Pak
ZH. Akan tetapi, Pak ZH selalu tidak ingin tergesa-gesa dalam memutuskan
sesuatu. Karena ia sadar jika ia salah dalam memutuskan, akan berakibat
sangat fatal baik bagi dirinya, ataupun orang-orang yang ada disekeliLNgnya.
―...padahal saya menangani proyek yang besar-besar itu, triliyun,
kalau salah-salah saya bisa di bui”.


84

(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011)
Beruntung, Pak ZH adalah seseorang yang amanah dan sangat
sistematis. Dalam buku ZH 60 Tahun Jejak Perjalanan dan Pemikirannya
dituliskan tentang pendapat dari Ir. AB chairman Bakrie Grup saat melakukan
kerjasama dengan PLN. Pada saat itu, harga yang ditawarkan oleh Bakrie
Grup tidak semahal harga yang ditawarkan oleh perusahaan lain. Akan tetapi,
Pak ZH tidak langsung memutuskan, karena ada beberapa anak pejabat yang
lain yang juga mengingikan untuk mendapatkan proyek tersebut.
Pada saat itu, Pak AB menanyakan perihal alasan mengapa ia tidak
mendapatkan proyek tersebut. Padahal harga yang ia tawarkan lebih rendah
dibandingkan harga yang ditawarkan oleh yang lain. Lalu Pak ZH pun
menjelaskan dengan diplomatis, bahwa ia harus mempelajari semua data dulu,
ia tidak mau tergesa-gesa dan harus memiliki argumen yang kuat dalam
menentukan siapa yang memenangkan tender tersebut. Berikut kutipan dari
pernyataan Pak AB yang disampaikan kepada Pak RMD dan Ibu RT dalam
buku ZH 60 Tahun Jejak Perjalanan dan Pemikirannya:
“Dalam memutuskan siapa yang menang tender, Pak ZH sangat
berhati-hati. Pak ZH sangat tersusun tindakannya. Ibaratnya, ia ingin
mengambil benang dari tepung tanpa membuat tepungnya
berantakkan. Ternyata ZH cukup adil dalam memenangkan tender
102
”.
(Dikutip dari buku, “Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan
Pemikirannya”, hal. 84)
Bukan hanya proyek, beberapa orang menginginkan agar ia bisa naik
kejabatan yang lebih tinggi ataupun ingin agar jabatannya langgeng di PLN.
Orang-orang tersebut mencoba untuk menarik perhatian Pak ZH dengan
menggunakan berbagai macam cara. Pada saat itu, Dirut PLN sangat
berpengaruh dalam menentukan Kepala Distribusi atau Pimpinan Wilayah.
Karenanya, ia membuat peraturan calon Kepala Distribusi atau Pimpinan
Wilayah harus melewati pendidikan khusus terlebih dahulu. Setelah
mendapatkan pendidikan khusus tersebut, akan dipilih presentasi terbaik.
Sehingga cara pengangkatan ditentukan oleh profesionalisme.

102
Ibid, hal. 84.


85

Permintaan untuk memenangkan tender juga datang dari seorang
Menteri. Hal ini diungkapakan oleh Ibu SY dalam buku Zuhal 60 Tahun Jejak
Perjalanan dan Pemikirannya, berikut kutipannya:
“Bahkan saya mendengar sendiri penolakannya atas permintaan
seorang Menteri pertelpon untuk memenangkan tender teman Menteri
tersebut. Itu pula yang mungkin menyebabkan ia diberhentikan dari
jabatan sebagai Dirut dan Dirjen sebelum masa jabatannya
selesai
103
”.
(Dikutip dari buku, “Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan
Pemikirannya”, hal. 85)
Dalam hal ini, Pak ZH juga menceritakan pada kesempatan wawancara
tentang gambaran yang ada pada saat itu:
“Nah si Ibu tu tau tu, bagaimana orang mempengaruhi saya, agar
saya memutuskan si ini aja yang menang si ini aja yang menang dia
tau tu bagaimana para pembesar bahkan Menteri ada yang mau
intervensi telpon saya kerumah, dia tau, saya menolak”.
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011)
Ibu SY bersyukur ia selalu hidup berkecukupan dan tidak pernah hidup
kekurangan dari sisi materi sejak kecil. Hal itu yang membuatnya tidak mudah
tergoda dengan berbagai macam pemberian yang besar kepada suaminya.
Sebagai anak dari Sutan SL yang tidak lain adalah Menteri Penerangan yang
menjabat pada masa pemerintahan Presiden SK dan juga salah seorang dari
pemimpin Partai Syarikat Islam Indonesia, membuat Ibu SY sudah bisa hidup
berkecukupan. Disamping itu, kepribadian Pak ZH yang low profile, dan
sederhana membuat ia tidak mudah tergoda dengan segudang pemberian yang
akhirnya akan mempengaruhi keputusannya.
Presiden SH memangil Pak ZH untuk kerumahnya yang ada di Jalan
Cendana pada November 1994. Dikesempatan tersebut, ia mengungkapkan
bahwa Pak ZH akan diangkat sebagai Dirjen Listrik dan Energi yang ada di
Departemen Pertambangan dan Energi yang pada saat itu menggantikan Pak
AM karena ia sudah lama menderita penyakit yang cukup serius. Selain itu,
Presiden SH juga meminta pendapat Pak ZH perihal siapa orang yang pantas

103
Ibid, hal. 85.


86

menjadi penggantinya sebagai Dirut PLN. Pak ZH memberikan dua nama
yang dianggapnya mempuni dalam mengemban tugas sebagai Dirut PLN,
salah satunya Ir. DM yang akhirnya menjadi Dirut PLN pada tahun 1994.
“…lalu ketika saya selesai di PLN saya dijadikan jadi Direk.. Dirjen,
oleh Pak SH sendiri”.
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011)
Pak ZH tau, dengan pengangkatannya sebagai Dirjen ia akan
diberhentikan sebagai Direktur PLN. Ia pun sangat jelas mengetahui motif apa
yang menyebabkan terjadinya hal tersebut. Akan tetapi, Pak ZH tetap bersikap
tenang. Ia selalu menganggap bekerja merupakan suatu bentuk ibadah
sekaligus amanah. Dan ia selalu berusaha untuk mendedikasikan kemampuan
terbaiknya dimana pun ia diposisikan.
―Ketika saya selesai di PLN saya dijadikan jadi Direk.. Dirjen, oleh
Pak SH sendiri, ya, itu semua itu karena sifat intern yang ada pada
diri manusia yang mengikuti apa namanya, koridor, apa namanya itu,
koridor ya.. koridor-koridor yang di gariskan oleh Allah SWT . Kalau
kita ikuti itu, itu dateng sendiri amanah, misalnya kan itu. Karna dia
menganggap saya amanah, dia percaya. Jadi jarang sekali orang yang
diberhentikan dari Dirut, ditunjuk jadi Dirjen dipanggil oleh Pak SH
sendiri, bukan saya yang minta-minta itukan”.
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011)
Pada akhir masa jabatannya sebagai Direktur Utama PLN, Pak ZH
sempat menyelesaikan buku ―Ketenagalistrikan Indonesia‖
104
. Buku tersebut
diantaranya membahas tentang berbagai aspek perkembangan dan masa depan
kelistrikan Indonesia.
Salah satu atasan Pak ZH ketika di BPPT yaitu Prof. MZ memberikan
testimoni tentang Pak ZH lewat tulisannya kepada Ibu SY, yang juga
tercantum dalam buku ZH 60 Tahun Jejak Perjalanan dan Pemikirannya.
Berikut kutipan dari testimoni dari Prof. MZ:
“ZH sangat teliti di dalam pekerjaannya. Ia tak pernah mau
mengutang pekerjaan, dalam arti semua pekerjaan yang dilimpahkan
kepadanya selalu diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Sebagaii

104
Ibid, hal. 87


87

ilmuwan, ZH sangat berhati-hati dalam melontarkan gagasannya. Ia
selalu cepat dalam analisisnya
105
”.
(Dikutip dari buku, “Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan
Pemikirannya”, hal. 95)
Pemberhentian Pak ZH sebagai Direktur Utama PLN yang tidak wajar,
membuat Pak ZH sedikit terpukul. Akan tetapi, hal itu tidak membuat Pak
ZH gentar. Ia tetap terlihat konsisten dalam langkahnya. Dukungan dari istri
pun membuatnya tetap tegak untuk terus melanjutkan tugas yang tidak kalah
berat sebagai Direktur Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi di
Departemen Pertambangan dan Energi.
Pak ZH mengemban tugas sebagai Direktur Jenderal Listrik dan
Pengembangan Energi yang waktu itu berada dibawah Menteri Pertambangan
dan Energi, berakhir pada tahun 1997. Menteri Pertambangan dan Energi
pada saat itu adalah IBS
106
.
Tepatnya bulan Maret tahun 1997, Pak ZH dipanggil oleh Menteri
Pertambangan dan Energi, yaitu Bapak IBS, tidak ada perbincangan tentang
pencopotannya pada saat itu, yang ada hanya pembicaraan soal pekerjaan.
Selang beberapa hari sesudahnya, Pak ZH diberikan tugas untuk
berkampanye Golkar di Kalimantan. Pada saat itu, Ibu SY berada dirumah
yang diberikan PLN kepada mereka di Jalan Hang Tuah Raya Kebayoran. Ia
menerima telpon dari Pak HBB karena ingin berbicara dengan Pak ZH. Pada
saat itu, Pak HBB menjabat sebagai Menristek. Lalu Ibu SY memberitahu
bahwa Pak ZH sedang berada di Kalimantan. Pak HBB pun tidak
membicarakan perihal apa yang akan dikabarkan kepada suaminya.
Ketika Pak ZH pulang dari tugasnya di Kalimantan, Ibu SY sedang
membereskan buku-buku Pak ZH yang banyak jumlahnya. Ruang kerja Pak
ZH pun yang ada di UI terlalu kecil untuk menampung buku-bukunya. Begitu
pula dengan rumah mereka yang ada di Pondok Indah sudah dipenuhi oleh
banyak buku. Ibu SY sendirilah yang merapikan buku-buku Pak ZH dengan
tertata. Sehingga ketika suaminya membutuhkan, tidak lagi repot untuk

105
Ibid, hal. 95
106
Ibid, hal. 98.


88

mendapatkannya. Ibu SY juga sangat menyukai keindahan, penataan, tempat
yang rapi, juga karya-karya seni. Sehingga banyak teman-teman memberikan
kenang-kenangan berupa karya seni kepadanya. Hingga sekarang pun barang-
barang tersebut tertata dan terpajang rapi bak galeri.
Kala itu, Pak ZH pulang dengan raut wajah yang sangat lelah karena
pada saat di Kalimantan ia harus mengunjungi kota-kota kecil dan melakukan
kampanye Golkar. Pada saat itu, Pak ZH bercerita kepada Ibu SY perihal
rencana pemecatannya sebagai Dirjen dalam waktu dekat. Ibu SY pun
menanyakan siapakah yang memberitahukan suaminya tentang kejadian
tersebut. Pak ZH menceritakan bahwa ia ditelepon oleh Pak HBB ketika tugas
di Kalimantan. Hal tersebut seperti yang tercantum dalam buku Zuhal 60
Tahun Jejak Perjalanan dan Pemikirannya, berikut potongan perbicangannya:
“‟Siapa yang memberitahu Papa akan dipecat?‟, tanya saya.“
“‟Pak HBB. Ia menelepon saya melalui handphone. Kata Pak HBB:
saya tahun anda tidak bersalah. Saya tahu siapa ZH. Anda tenang
saja. Besok anda datang ke kantor saya
107
‟.“
(Dikutip dari buku, “Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan
Pemikirannya”, hal. 99)
Pada hari berikutrnya, Pak ZH pun berangkat menghadap Menteri
Pertambangan dan Energi IBS. Pak ZH diberikan Surat Keputusan
pencopotannya sebagai Dirjen. Sebagai manusia biasa, tentu saja Pak ZH
merasa kecewa karena ia tidak pernah diajak bicara oleh Pak IBS perihal
pencopotannya tersebut. Justru ia malah mendapatkankan kabar dari Pak
HBB.
Pemberhentiannya sebagai Dirjen mendadak menjelang pemilu
108
. Ia
kecewa bukan karena ia tidak lagi menjabat sebagai Dirjen akan tetapi kecewa
dengan caranya diberhentikan dari Dirjen.
Sebelumnya, hal ini sudah diprediksi oleh Pak ZH. Dikarenakan, ia
bukan sosok yang bisa menuruti begitu saja instruksi-instruksi yang diberikan
oleh atasannya, tanpa ada kesesuaian dengan aturan-aturan yang berlaku.

107
Ibid, hal.99
108
Ibid, hal.99


89

Pak ZH adalah orang yang menganggap jabatan adalah amanah dan ia
pun tetap tawakal serta menyerahkan semua hal yang dihadapinya kepada
Allah SWT. Hal ini sangat disyukuri oleh Ibu SY, ia memiliki suami yang
memiliki pendirian yang teguh. Seperti kutipan dari wawancara yang telah
tercantum diatas, Pak ZH selalu menganggap jabatan merupakan tanggung
jawab yang harus dilakukan dengan mengerahkan kemampuan terbaiknya.
Dan jika sewaktu-waktu amanah tersebut diambil, ia akan menerimanya
dengan ikhlas.
Akhirnya, pada tanggal 2 April 1997
109
, upacara serah terima jabatan
dilakukan. Ibu SY adalah istri yang juga aktif dalam kegiatan Dharma Wanita.
Karenanya, banyak ibu-ibu Dharma Wanita yang menangis kala itu.
“Banyak ibu-ibu Dharma Wanita yang menangis dan berpelukan
dengan saya dan Nyonya KR pada acara serah terima jabatan dengan
Dirjen baru
110
”.
(Dikutip dari buku, “Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan
Pemikirannya”, hal. 100)
Bukan hanya itu, karena awak pers mencium adanya kejanggalan dari
pencopotan pejabat ini, menyebabkan ada banyak wartawan dalam dan luar
negeri yang menunggu dan menyaksikan upacara serah terima jabatan
tersebut. Praktis, Pak ZH diwawancara oleh para wartawan tersebut, dan Pak
ZH memberikan jawaban secara diplomatis dan menjelaskan bahwa itu
merupakan hal yang wajar. Ia juga menjelaskan bahwa baginya kerja
merupakan amanah dan harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Ia juga
menerangkan bahwa puncak dari tugasnya adalah ketika mampu menurunkan
harga listrik dari 8 sen dollar AS/kWh menjadi 5,74 sen dollar AS/kWh
111
.
Setelah itu, Pak HBB yang pada waktu itu menjabat sebagai Menristek
dan Kepala BPPT memanggil Pak ZH. Pak HBB mengetahui bahwa
pencopotan Pak ZH bukan karena ia melakukan kesalahan. Dan Pak HBB pun
menjelaskan bahwa pemerintah akan segera mengusulkan posisi Wakil Ketua
BBPT kepada Pak ZH. Akan tetapi, ia tidak bisa langsung menjadi Wakil
Ketua. Ia harus menunggu sampai Wakil Ketua BPPT sebelumnya pensiun

109
Ibid, hal. 100
110
Ibid, hal. 100
111
Ibid, hal. 101


90

lebih dulu. Karenanya, Pak HBB meminta Pak ZH untuk menunggu hingga
tiga bulan kedepan.
Sewaktu menunggu masa Pak PL pensiun, Ibu SY dan Pak ZH diajak
oleh Pak HBB dan Ibu AN untuk berkeliLNg Eropa. Karena tidak ingin
membuat orang lain iri, Pak ZH dan Ibu SY tidak mengikuti seluruh
perjalanan ke Eropa bersama Pak HBB dan Ibu AN. Dan karena ingin
mensyukuri kelulusan anak-anak mereka sebagai master, insinyur dan SMA,
sesampainya di Paris mereka berangkat untuk melaksanakan umroh. Dan
meminta anak-anaknya untuk menyusul mereka ke Mekkah
112
.
Hal yang sangat menarik dari Pak ZH adalah meskipun kesibukkannya
sangat padat, ia tetap mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Karena
bidang pendidikan adalah kecintaannya. Ibu SY sangat mengetahui jiwa Pak
ZH sebagai akademisi, sehingga ketika Pak ZH ingin mencoba-coba untuk
beralih kedunia bisnis, Ibu SY memberikan pandangannya tentang hal
tersebut. Seperti yang ia akui pada proses wawancara:
“…Papa tu kan bosenan kerjaanya, udah gitu udah deh bosen katanya
gitu ya, terus mau jadi bisnisman. Ya gak mungkinlah Bapak bukan
pengusaha sifatnya, jiwanya gak jiwa pengusaha aku gak kasih, gak
mungkin, disini aja dulu sampai kita dapet batu loncatan kan gitu…”
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Jiwa akademisi pun diakui oleh Pak ZH sendiri. Hal ini ia sampaikan
pada kesempatan bertemu muka dengannya, berikut kutipannya:
“…saya memang gak punya bakat untuk bisnis-bisnis gitu, untuk cari-
cari, saya lebih itulah, pegawai negeri, orang akademisi”.
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011)
Walau begitu, dua putranya kini menggeluti bidang bisnis. Jiwa
akademisi Pak ZH diturunkan kepada putra pertamanya. Dedikasi Pak ZH
dalam bidang pendidikan sudah bukan hal yang asing lagi, banyak orang telah
mengakuinya. Salah satunya adalah tokoh FKP DPR RI Bapak TNS, saat

112
Ibid, hal. 101


91

diwawancarai oleh Harian Jawa Pos yang diterbitkan pada tanggal 13 April
1997
113
. Berikut kutipannya:
“Sedangkan fenomena lain yang juga cukup menarik dalam pribadi
ZH menurut TNS, adalah pengabdiannya yang tak pernah kendur
terhadap dunia pendidikan.‟Bayangkan saja, ketika masih menjabat
sebagai seorang Dirjen, dengan kesibukan yang bukan main, dia
masih menyempatkan diri mengajar di kampus setiap Jumat‟, Katanya
ketika diwawancari Jawa Pos
114
”.
(Dikutip dari buku, “Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan
Pemikirannya”, hal. 103)
Hal ini dapat berjalan dengan baik tentu karena dukungan dari sang
istri, Ibu SY. Ia mengerti bahwa suaminya memang tidak bisa dilepaskan dari
bidang akademisi. Pendidikan merupakan passion yang ada dalam diri Pak
ZH. Sejak awal Ibu SY mengenal Pak ZH, ia adalah seorang dosen ITB. Dan
ia pun merasakan menjadi istri dari seorang dosen honorer yang hanya
mendapatkan gaji Rp 15.000,00 per bulannya seperti yang telah diulas
dipembahasan sebelumnya.
Peristiwa diberhentikannya Pak ZH sebagai Dirjen menyedot banyak
perhatian terutama media massa. Keesokkan harinya, kejadian tersebut masuk
kedalam topik pembicaraan yang ada di beberapa koran, tabloid atau pun
majalah. Karenanya, Ibu SY membeli banyak koran, tabloid, dan majalah ia
juga membaca semua tulisan tentang pemberhentian suaminya sebagai Dirjen.
Dari tulisan-tulisan yang ada di media cetak tersebut, Ibu SY sangat bersyukur
karena ia merasakan sekali simpati dari kalangan media kepada suami
tercintanya.
Selepas menjadi Dirjen, Pak ZH memiliki waktu yang lebih banyak
untuk bersama keluarga. Pak ZH melakukan perjalan keliLNg Eropa, Umroh
bersama ketiga putranya, dan berkeliling Amerika. Dalam kesempatan
bertemu muka dengan Ibu SY, ia menceritakan tentang salah satu perjalan
yang ia lakukan bersama dengan ketiga putra dan suaminya. Berikut
kutipannya:

113
Ibid, hal. 103
114
Ibid, hal. 103


92

“Alhamdulillah-lah. Sampai dulu anakku wisuda yang terakhir, itu
LRZ di Amerika kan, saya pergi sama anak-anak, belum mantu tu satu
pun. Kita pergi jalan-jalan. Kita kan di LA tuh.. terus kita nyewa satu
mobil gede kan, jalan-jalan yang nyetir anak ganti-gantian kan, terus
nyanyi-nyanyi, saya kan suka nyanyi-nyanyi. Nyanyi kemesraan ini,
„inget ni.. kalau nanti mama gak ada, gimana ni bahagianya ni kita
ber lima, di pejalanan ini..‟,„iya.. si mama ni sukanya yang suka one
big happy family ya..‟,katanya,‟iya.. itu dari mama.. dari kecil…,
mama selalu berusaha kita menjadi one big happy family, jadi
gelarnya mama tu one big happy family…‟.”.
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Ibu SY menceritakan kisah tersebut dengan wajah yang berseri-seri.
Pengalaman tersebut adalah pengalaman yang menggembirakan baginya dan
keluarga. Ibu SY merupakan sosok yang selalu ingin berbagi kebahagiaan
sama hal nya dengan Pak ZH. Sehingga tidak heran julukkan ―one big happy
family” yang disematkan kepadanya. Hal ini bukan hanya ia lakukan kepada
keluarga kecilnya, akan tetapi juga kepada keluarga besarnya tak luput kepada
keluarga suaminya juga kepada rekan-rekan kerja suaminya. Hal itu pulalah
yang menjadi kunci bahagianya keluarga yang ia bina. Salah satu kisah yang
sempat Ibu SY bagi berkenaan dengan hal ini kepada penulis, adalah sebagai
berikut:
“Ya Allah Alhamdulillah, Engkau berikan aku nikmat yang berlimpah
ruah, terimakasih. Aku sering sekali gitukan. Saya tuh lagi nonton
konser, di Vienna, kebetulan aku kan bisa bawa saudara-saudara, adik
saya yang suka music. Adikku kan suka main piano, cita-citanya dia
konser kan, jadi dia tu kebetulan lagi di Amsterdam, „ayo ikut yuk,
ikut, ikut sini gabung‟, saya ajakkan, ikut gabung saya ajak. Dia
nonton gitukan, nonton konser, gitukan. Itu kan indah sekalikan, aku
tuh lagi nonton aku tuh bersyukur, Ya Allah, aku cuma keluar air
mata, aduh Tuhan aku bersyukur bisa memberikan kenikmatan kepada
saudaraku. Mensyukuri nikmat Allah kan. Bahwa bisa melakukan hal
itu, walaupun hal kecil ya.. dia juga bisa menikmati apa yang aku
nikmati. Nah itu, saya sering sekali kalau saya lagi seneng tuh saya
selalu ingat dengan saudara saya. Makanya mereka sama saya kan
kaya gimanakan”.
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 12 Mei 2011)
Hal itu merupakan tanda syukurnya kepada Allah SWT. Dengan
berbuat baik, dan kegemarannya berbagi merupakan salah satu hal yang secara


93

tidak langsung dapat melanggengkan dan memudahkan suami dan anak-
anaknya menggapai kesuksesan.
Sebagai istri, Ibu SY selalu mensyukuri apa yang diberikan kepadanya,
termasuk ketika Pak ZH diberhentikan menjadi Dirjen. Waktu tersebut tidak
disia-siakan oleh Ibu SY. Untuk menghibur Pak ZH, sesekali ia mengajak Pak
ZH untuk jogging bersama, atau pun makan siang bersama diluar. Pak ZH
menikmati saat-saat senggangnya bersama istri.
Akan tetapi, tidak lama Pak ZH menikmati masa pensiunnya. Setelah
dua minggu Pak ZH diangkat sebagai Wakil Ketua BPPT oleh Menristek
sekaligus Ketua BPPT pada saat itu Prof. DR. Ing. HBB. BPPT bukanlah
lembaga baru Pak ZH, ia pernah menjadi Direktur Sumber Daya Non Mineral
(Energi) di BPPT selama belasan tahun.
Pada bulan Agustus 1997
115
, Pak ZH mulai berdinas sebagai Wakil
Kepala BPPT, ia menempati ruangannya yang bagus dan luas yang ada di
lantai 2 gedung BPPT. Disanalah Pak ZH menyusun buku-bukunya yang
banyak jumlahnya. Bahkan di ruang itu pulalah ia menerima para mahasiswa
Fakultas Teknik UI untuk bimbingan. Pak ZH selalu menyediakan waktu
untuk para mahasiswanya, ia bisa ditemui dikantornya atau bahkan
dirumahnya.
JaLNan yang dekat dengan Pak HBB pun sdah terbentuk dari sejak
Pak ZH menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Non Mineral (Energi) pada
tahun 1983. Sebagai istri, Ibu SY juga memiliki hungungan yang dekat dengan
istri Pak HBB yaitu Ibu AN. Itu juga merupakan salah satu sifat Ibu SY yang
menonjol yaitu, selalu menjaga hubungan baik dengan para istri rekan kerja
suaminya. Hal itu pulalah yang menunjang karier Pak ZH.
Kedekatan Ibu SY dengan Ibu AN berjalan dengan baik lewat kegiatan
Dharma Wanita. Ibu AN pun melibatkan Ibu SY dalam kegiatan ORBIT yang
menyediakan beasiswa bagi para pelajar yang kurang mampu dan
berprestasi
116
. Ibu SY memang memiliki hubungan yang baik dengan para

115
Ibid, hal. 113.
116
Ibid, hal. 125.


94

istri-istri dari rekan kerja suaminya. Hal tersebut merupakan salah satu
peranan Ibu SY dalam karier Pak ZH yaitu dengan terus menjaLN hubungan
baiknya dengan para istri-istri atasan ataupun bawahan rekan kerja Pak ZH.
Hal ini seperti yang dipaparkan oleh Pak LRZ, putra pertama Ibu SY dan Pak
ZH ketika proses wawancara.
“…dia menjaga baik dari sisi kesehatan maupun dari sisi karir juga.
Itu kan Ibu yang cukup berperan disitu. Jadi misalnya menjaga
hubungan silaturahmi sama atasan, sama bawahan itu Ibu tu yang
pinter, Bapak tinggal menjalankan. Karena Bapak fokusnya lebih
kepekerjaannya langsung. Tapi kan gak ada orang bisa sukses
didunia ini kalau cuma fokus ke hanya kerjaan, dia harus memikirkan
sosialnya juga, apanya juga. Nah itu yang memikirkan itu biasanya
Ibu. Jadi partner, sebenarnya partner yang baik. Biasanya Ibu gak
kenal sama rekannya tapi sama istrinya gitukan, sama istri atasan
atau istri bawahan. Kalau istri, bapakkan silaturahminya jadi bisa.
Bapak-bapakkan begitu semua cuma pedulinya apa yang ada dikantor
diluar itu kan enggak. Kalau ibu jadi lebih kekeluargaan”.
(Wawancara dengan Bapak LRZ, Putra Pertama Ibu SY dan Pak ZH,
bertempat di kantor Sekretaris Rektor UAI, hari Jum‟at, tanggal 28
Oktober 2011)
Ibu SY yang selalu mendampingi suaminya, juga ikut dalam suatu
kunjungan kerja pada tahun 1990 di Amerika
117
. Ia mendampingi suaminya
berkunjung ke IBM dab General Electric di New York, Westinghouse di
Pittsburg, Perusahaan Minyak Exxon di Houston, Texas dan Pusat Penelitian
Coal Liquefaction yang berada di dekat New Orleans
118
. Dari situ pulalah
persahabatan mereka terajut. Pak ZH dan Ibu SY diajak oleh Pak HBB dan Ibu
AN bersama-sama dalam Private Plane yang disediakan oleh pihak yang
mengundang. Mereka juga diajak untuk dinner disebuah restoran di daerah
New Orleans yang menyediakan permainan music jazz yang dimainkan oleh
para pemain terkenal. JaLNan baik tersebut terus terajut dan dipelihara oleh
mereka.
Sampai ketika Pak HBB diangkat menjadi Presiden RI ke-3
menggantikan Presiden SH pada masa reformasi. Presiden SH melepaskan
jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998. Dan digantikan posisinya oleh Wakil
Presiden pada saat itu Prof. DR. Ing. HBB.

117
Ibid, hal. 124.
118
Ibid, hal. 124.


95

Sebagai orang yang dekat dengan Pak HBB, Pak ZH dan Ibu SY turut
datang ke rumah Presiden HBB yang terletak didaerah Patra Kuningan untuk
memberikan selamat. Pada saat itu, Pak HBB menyampaikan niatnya untuk
menjadikan Pak ZH sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Dan seperti biasa,
Pak ZH menanggapinya dengan tenang dan mengucapkan terima kasih kepada
Pak HBB karena memberikannya kepercayaan sebagai Menristek. Setelah itu
Pak ZH terdiam.
Perasaan yang gamang pun mampir dalam pikiran Pak ZH, Pak HBB
adalah sosok yang sangat menguasai iptek, ia juga selama dua puluh tahun
menjadi Menristek. Proyek-proyek iptek pada saat itu sangat strategis, dari
industri pesawat hingga kapal laut
119
, mengingat saat itu kondisi ekonomi
yang bersahabat. Keadaan yang berbeda terjadi disaat Pak ZH menjadi
Menristek, keadaan ekonomi pada saat itu sedang memprihatinkan. Pak ZH
memikirkan hal apa yang ia bisa lakukan dalam kondisi krisis. Kerisauannya
tersebut ia sampaikan kepada Ibu SY, istrinya saat perjalanan pulang.
Tanggal 23 Mei 1998, aura menegangkan menjelang pelantikan di
Istana Negara sangat terasa. Para tentara dan sejumlah tank berjaga-jaga di
jalan menuju Istana Negara. Pak ZH dan Ibu SY berangkat pagi hari dari
rumah mereka yang berada di bilangan Pondok Indah menuju ke Jalan
Merdeka Utara dengan mobil Volvo yang sudah disediakan oleh Sekretariat
Negara sejak malam harinya sebelum upacara pelantikan berlangsung.
“Sepanjang jalan kami berdoa, agak tidak ada lagi kerusuhan
120
”.
(Dikutip dari buku, “Potret 70 Tahun Zuhal”, hal. 103)
Ibu SY dan Pak ZH terus berdoa sepanjang perjalanan, berharap tidak
terjadi kerusuhan. Proses pelantikan pun berjalan dengan lancar, hal itu sangat
disyukuri oleh Ibu SY dan Pak ZH.
Kondisi ekonomi pada saat itu masih berguncang. Demonstrasi pun
masih kerap terjadi. Mengingat keadaan ekonomi yang menghimpit rakyat,
membuat Pak ZH membuat gagasan ―Teknologi yang Merakyat‖. Kebijakan

119
Iman Yuniarto Fakhrudin. Potret 70 Tahun Zuhal. 2011. Paperwork. Hal. 101.

120
Ibid, hal. 101.


96

ini memperkenalkan bioteknologi untuk pertanian guna melipatgandakan
produk pangan
121
. Dalam bidang kelautan, Pak ZH menerapkan teknologi
pengindraan jauh (remote sensing)
122
agar hasil produksi yang diperoleh para
nelayan lebih besar. Ia juga memperkenalkan e-commerce kepada para
pengrajin yang ada di Sidoarjo dan Jepara
123
.
Pak ZH juga menerjunkan ratusan peneliti BPPT ke seluruh Indonesia,
terutama di daerah pedesaan untuk dapat membantu para petani dengan
memberikan teknologi tepat guna sehingga para petani yang memiliki
berbagai keterbatasan dapat menerapkannya. Para peneliti juga membagikan
bibit unggul yang didapat dari hasil penelitian bioteknologi yang dilakukan
oleh BPPT beserta lembaga riset lainnya.
Berbeda dengan era Prof. BJ HBB dimana Kemenristek dikenal
sebagai kementrian yang prestisius karena disertai dengan seabrek industri-
industri high-tech, mengingat keadaan perekonomian yang baik pada saat itu.
Keadaan yang berbalik terjadi pada era Pak ZH menjadi Menristek. Nilai dolar
pada saat itu Rp 19.000,00 per dolar. Sehingga Kemenristek merancang
kebijakkan yang lebih ‗merakyat‘.
Ketika menjadi Menristek, kesibukan Pak ZH tidak mengurangi
kedekatannya dengan keluarga. Ia kerap kali mengajak Ibu SY dan anak-
anaknya dalam perjalanan dinas. Bukan itu saja, ia juga menyempatkan untuk
ikut serta menghadiri acara yang diadakan oleh Klub Kajian Agama (KKA)
serta Paramadina yang diadakan oleh NM
124
.
Tugas Pak ZH sebagai Menristek berakhir pada bulan Oktober 1999
125
.
Seiring dengan turunnya Pak HBB dari kursi kepresidenan karena ditolaknya
pertanggungjawaban Presiden oleh MPR/DPR pada saat itu. Pak ZH pun ikut
hadir ketika Presiden HBB memberikan pertanggungjawaban kepada
MPR/DPR. Sebagai rekan yang dekat juga Menteri pada masa pemerintahan

121
Ibid, hal. 103.
122
Ibid, hal. 103.
123
Ramadhan dan Poeradisatra, Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan Pemikirannya. 2002. Pustaka Sinar
Harapan, hal. 115.
124
Ibid, hal. 117.
125
Ibid, hal. 138.


97

Presiden HBB, ia ingin memberikan dukungan kepada Presiden HBB pada
saat itu.
Gagasan-gagasan dari Pak ZH pada saat ia menjadi Menristek tetap
diakui. Ia sempat mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra Adi Prana
sewaktu menjadi Menristek
126

Dalam pengalaman dan perjalanan hidup Pak ZH tentu pernah terjadi
kejadian yang kurang menyenangkan. Salah satunya ketika ia dipanggil ke
Gedung Bundar. Namanya disebut-sebut dalam masalah Paiton.
Setelah Pak SH turun dari posisi kepresidenan, dan digantikan oleh
Prof. DR. Ing HBB, pers mendapatkan kebebasan sebesar-besarnya. Waktu
itu, rakyat Indonesia sangat menginginkan reformasi dan menghapuskan
praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Sehingga pada saat itu, Presiden ABW menelusuri kembali praktek
KKN yang ada di berbagai proyek Pemerintah pada zaman Orde Baru
127
.
Proyek Paiton I, adalah salah satu proyek yang ditelusuri pada saat itu. Yaitu,
proyek listrik swasta pertama ketika Pak ZH menjabat sebagai Direktur Utama
PLN
128
.
Hal itu menjadikan beberpa pejabat yang terkait dengan proyek Paiton
I dipanggil oleh Kejaksaan Agung, termasuk Pak ZH sebagai Direktur PLN
pada masa itu. Pak ZH tetap tegar dalam menghadapi panggilan Kejaksaan
Agung karena ia merasa dirinya tidak bersalah. Dan karena ia tidak ingin lepas
dari tanggungjawab, ia menghadiri panggilan Kejaksaan Agung. Ketika itu
Pak ZH berujar seperti yang terkutip dibawah ini:
“Saya menandatangani persetujuan listrik swasta berdasarkan surat
Persetujuan Pemerintah
129
”.
(Dikutip dari buku, “Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan
Pemikirannya”, hal. 121)

126
Ibid, hal. 139.
127
Ibid, hal. 120.
128
Ibid, hal. 120.
129
Ibid, hal. 121.


98

Dokumen-dokumen penting tersimpan dalam satu bundel buku yang
terdapat tulisan ―Permasalahan Proyek Paiton Swasta – 1‖
130
dokumen itu
ditaruhnya di dalam laci meja kerja. Dokumen itu telah disiapkan oleh Pak
ZH. Karena ia tidak mau membuat risau istrinya, ia tidak pernah
memperlihatkan dokumen tersebut hal itu dilakukan untuk menenankan
perasaan istrinya dari pemberitaan media massa yang meluas.
Pada akhir Oktober, setelah selesai menjalani tugas sebagai Menristek,
Pak ZH datang ke SMU Unggulan Al-Irsyad yang ada di daerah Cilacap.
Sepulangnya Pak ZH dari Cilacap, Pak ZH bercerita kepada Ibu SY bahwa ia
ditawari menjadi rektor Universitas Al-Azhar Indonesia. Tawaran tersebut
datang dari Bapak FB, pendiri SMU Unggulan Al-Irsyad. Pak ZH
mendiskusikan hampir semua hal kepada istrinya, Ibu SY termasuk tawaran
menjadi rektor di Universitas Al-Azhar Indonesia.
Mendengar cerita Pak ZH tentang tawaran menjadi rektor di
Universitas Al-Azhar Indonesia, Ibu SY menganjurkan kepada Pak ZH untuk
menerima tawaran tersebut. Menurut Ibu SY, tugas suaminya menjadi Menteri
telah selesai , sekaranglah waktunya Pak ZH untuk berbuat sesuatu bagi umat
Islam. Mengingat Al-Azhar adalah lembaga pendidikan Islam, Ibu SY
berpikiran hidup suaminya akan sangat indah karena suaminya dapat
melakukan sesuatu untuk umat Islam dan menjadi khusnul khotimah, Ibu SY
lah sosok yang mendorong Pak ZH menjadi rektor di universitas yang terletak
di daerah Kebayoran Baru tersebut . Berikut adalah kutipan dari proses
wawancara dengan Ibu SY:
“Bapak bilang, „Jadi rektor Al-Azhar Ma ?‟, „Saya ni gak bisa‟, terus
aku bilang, „Udahlah pah… kan bagus, nanti kalau Papa meninggal B
di sholatin disitu, Insyallah, tempat masjid yang terbaik di Jakarta.
Mau apa lagi yang dicari, kan udah sampai Menteri udah semua, udah
dapet‟, saya dorong itu. Alhamdulillah…”
(Wawancara dengan Ibu SY di kediaman Ibu SY, di daerah Pondok
Indah, Jakarta Selatan, tanggal 2 Mei 2011)

130
Ibid, hal. 122.


99

Dalam memutuskan sesuatu, Pak ZH sering kali meminta
pertimbangan dari Ibu SY. Keyakinan yang diperoleh lewat berbagi dan
pertimbangan yang diberikan oleh pasangan hidup sangat berarti.
Ketika itu, bersamaan dengan tawaran menjadi rektor, Pak ZH juga
ditawari oleh pimpinan LIPPO Group untuk mendirikan Science and
Technology Park yang menggiurkan secara finansial
131
. Dalam keadaan
menimbang-nimbang tersebut, Ibu SY justru memberikan alternatif yang
berbeda dengan pertimbangan yang sangat baik. Pak ZH pun menceritakan
tentang hal ini ketika proses wawancara berlangsung, berikut kutipannya:
“Tapi di hal-hal yang lain ketika saya mau selesai dari tugas-tugas
pemerintah yang berat ya, sebagai Menteri, sebagai Dirjen. Waktu itu
saya mulai berfikir, „Wah nanti hari tua bagaimana ini..‟, karna
pensiun-pensiun kan sedikit itunya (pendapatannya). Beliau justru
berpikir sebalikya, nah itu, sifat saling mengisinya. Jadi waktu saya
misalnya mendapat tawaran dari satu pengusaha untuk menjadi
advisor. Nah terus di waktu yg sama saya mendapat tawaran dari sini,
untuk menjadi rektor Al-Azhar. Nah dalam saya menimbang-nimbang
itu Ibu SY memberikan saran justru yang diluar dugaan saya, „Udah
rektor Al-Azhar aja, kan kita udah gak perlu lagi cari-cari
penghasilan..‟. Nah jadi dia selalu memberikan alternatif-alternatif
yang mengisi kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan
saya. itu peran dia yang paling baik”
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011, pukul 11:35 AM)
Masukkan dan pertimbangan yang diberikan oleh Ibu SY kepada Pak
ZH memberikan akibat yang baik terhadap keputusan yang diambil oleh Pak
ZH. Pak ZH juga meminta pertimbangan kepada ketiga putranya. Dan semua
anak-anaknya pun sangat mendukung keputusan Pak ZH sebagai rektor di
Universitas Al-Azhar Indonesia.
Dalam perjalanannya menjadi rektor, Pak ZH menerapkan tujuh
elemen dasar yang menjadi landasan kurikulum pengajaran di Universitas Al-
Azhar Indonesia. Tujuh elemen tersebut dibagi menjadi dua bagian
diantaranya: skill building, terdapat dua elemen dalam skill building yaitu,
teknologi informasi dan bahasa, selanjutnya sebagai character building
terdapat lima elemen diantaranya: partnership, entrepreneurial skill,

131
Ibid, hal. 141


100

leadership, managerial skill, dan Islamic value. Baginya, dengan menjadi
rektor ia dapat berkontribusi dan membagikan ilmu yang ia miliki kepada
sesama manusia. Pak ZH memiliki pandangan bahwa ilmu itu sama halnya
dengan udara, tidak memilah-milah siapa yang dapat menghirupnya. Dalam
kesempatan bertemu muka, Pak ZH menyampaikan pandangannya tersebut.
Berikut kutipannya:
“Jadi rektor, kan berarti membagi pengalaman, knowledge kita
kepada manusia sesama. Karena ilmu itu. Itulah ilmu itu seperti
udara, harus bisa dinikmati oleh seluruh ya. Udara itukan tidak
memisah-misahkan, udara hanya boleh dihisap sama orang muslim
saja, kan, enggak, ya kan. Semua rahmatan lil „alamin, begitu juga
ilmu. Nah itu di dalam universitas kita ini, meskipun kita ada berbasis
Islam, karena kita dilahirkan dari Masjid Al-Azhar, kita berusaha
memberikan pendidikan yang Rahmatan lil „alamin. Ada dari agama
lain disini silahkan, ya mengenyam pendidikan yang kita berikan, tidak
membatasi”.
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011
Karenanya tidak heran, di Universitas berbasis Islam yang gedunganya
berdekatan tersebut, tidak sedikit mahasiswa non-Muslim yang terdaftar di
dalamnya. Bukan hanya itu, Universitas ini juga membiayai mahasiswa non-
Muslim untuk menempuh pendidikan di luar negeri.
Selain itu, Pak ZH juga menjadi ketua Komite Inovasi Nasional (KIN)
ia diberi mandat langsung oleh Presiden SBY. Dipilihnya Pak ZH sebagai
Ketua KIN karena Pak SBY membaca buku yang dibuat oleh Pak ZH yang
berjudul Knowledge and Innovation: Platform Kekuatan Daya Saing sudah
barang tentu juga karena diriya memenuhi syarat-syarat yang diperlukan untuk
menjadi seorang ketua KIN.
Pak ZH mensyukuri atas hal yang dapat ia perbuat hingga sekarang.
Rasa syukur tersebut diungkapkannya seperti yang terkutip dari proses
wawancara dengan Pak ZH berikut:
“Saya merasa bersyukur pada Tuhan ya, bahwa saya di ridhoi untuk
bisa berperan besar. Ya kan, kalau saya jadi pemimpin kan kita bisa...
seperti saya disini, jadi pemimpin bisa membina kader-kader. Itukan
juga memberikan rahmat, karna kita mensyukuri, ya.. dan saya jadi


101

direktur sini juga bukan saya yang cari-cari jabatan ini, diminta oleh
yayasan, dan didukung oleh si Ibu itu, ya..”
(Wawancara dengan Bapak ZH bertempat di kantor Rektor UAI, hari
Selasa, tanggal 12 Juli 2011
Ibu SY selalu memberikan alternatif-alternatif yang mengisi
kekurangan Pak ZH. Dan peran tersebut yang dirasa oleh Pak ZH sebagai
peranan yang paling baik dari Ibu SY. Ketika Pak ZH sedang dalam
memikirkan apa langkah yang akan diambil selanjutnya, Ibu SY memiliki
pemikiran yang bisa menunjukkan sisi lain dari keputusan yang akan di ambil
oleh Pak ZH. Sikap saling mengisi itu pulalah yang juga dapat mengatarkan
pasangan ini dapat mencapai kesuksesan.





BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan, terdapat peran istri dalam
memotivasi suami untuk meraih kesuksesan. Kesuksesan bukan hanya dalam
karier, akan tetapi juga dalam hubungan sosial, rumah tangga, berkarya,
spiritual bahkan finansial. Seorang laki-laki atau suami dapat mendapatkan
kesuksesan karena terdapat peran dan dukungan dari dua orang dalam
hidupnya, yaitu ibu dan istrinya.
Pada penelitian ini peran istri terhadap kesuksesan suami dibagi dalam
beberapa tahapan, diantaranya adalah tahap pertemuan, pernikahan dan karier.


102

Adapun bentuk dari peranan istri dalam memotivasi suami yang diambil dari
proses penelitian adalah sebagai berikut:
6.1.1 Awal Pertemuan
Sejak awal bertemu dan menjalin hubungan, motivasi yang mendasar
adalah faktor agama, dan keyakinan akan memiliki masa depan yang baik .
Menomersatukan agama adalah hal yang penting karena dalam perjalanan
hidup berkeluarga dan menghadapi permasalahan dalam rumah tangga,
dengan menggunakan perspektif agamalah yang akan membantu memberikan
jalan keluar yang terbaik.
6.1.2 Pernikahan
 Ketika membina dan menjalankan rumah tangga, semua dijalankan dengan
keyakinan yang kuat dan pemikiran yang positif terhadap masa depan.
Keyakinan positif tersebut juga diikuti dengan rasa syukur terhadap
pencapaian yang di dapatkan. Hal ini merupakan salah satu bentuk motivasi
istri terhadap suaminya untuk mencapai kesuksesan.
 Bentuk motivasi selanjutnya adalah apabila terjadi masalah dalam rumah
tangga, diselesaikan dengan diskusi atau menenangkan diri terlebih dahulu
sehingga keduanya dapat berpikir secara jernih dan mendapatkan jalan
keluar yang terbaik tanpa perlu ada keributan. Dalam proses berdiskusi
menggunakan cara yang baik, menggunakan perkataan yang halus dan tidak
menggurui. Hal itu dilakukan oleh seorang istri untuk memotivasi suami
untuk terus maju dalam menjalani setiap permasalahan yang terjadi.
 Peran istri yang menjadi sangat penting adalah istri hendaknya menjaga
privasi dalam keluarga, dengan tidak menceritakan permasalahan keluarga
kepada sembarang orang. Alangkah baik jika permasalahan tersebut
diadukan kepada Yang Maha Kuasa ataupun dikomunikasikan secara baik
dengan pasangan.
 Sikap mandiri dalam menjalankan tugas rumah tangga yang dimiliki
oleh seorang istri akan membantu suami dalam meringankan beban pikiran.
 Kemampuan manajerial yang baik pada seorang istri dalam mengurus
rumah tangga dan keuangan juga dibutuhkan untuk dapat mengantarkan
suami ke gerbang kesuksesan.


103

 Kepercayaan seorang istri terhadap suami merupakan salah satu elemen
penting dalam menjalani hubungan rumah tangga sehingga suami maupun
istri dapat menjalankan tugas dan perannya masing-masing dengan baik.
 Istri juga memiliki andil dalam mewarnai sisi spiritualitas suami dan
keluarga.
6.1.3 Menjalani Bahtera Rumah Tangga
 Istri mempunyai peran dalam mendukung pendidikan suami dan
keluarganya.
 Kecerdasan seorang istri dalam memberikan solusi atas suatu permasalahan
akan membantu suami dalam meringankan beban.
 Motivasi seorang istri dalam memberikan arahan dan pandangan untuk
menuju ke pencapaian karier yang lebih baik pada suami. Cara
menyampaikannya pun dengan cara yang tidak menggurui dan pandai
dalam memilah-milah kata
 Peran istri juga penting dalam menjalin silaturahmi dengan para istri dari
rekan-rekan kerja dan kolega suami, sehingga tercipta suasana yang
kondusif.
 Istri sebagai komplementer suaminya dengan saling mengisi dan
melengkapi satu sama lain.
 Peranan istri dalam menjaga hubungan baik dengan keluarga suami ataupun
dengan keluarganya sendiri. Secara tidak langsung menjadi salah satu kunci
dari kesuksesan dalam berumah tangga.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian mengenai peran istri dalam
memotivasi kesuksesan suami, berikut saran untuk istri dalam memotivasi
kesesuksesan suami; Istri harus menyadari betapa penting perannya sebagai
seorang istri dalam keluarga dengan pemikiran dan keyakinan yang positif
sangatlah penting untuk dimiliki oleh seorang istri dalam menjalankan
perannya. Sehingga, dalam menghadapi masalah sebaiknya istri dan suami
menyelesaikannya dengan berdiskusi dan menenangkan diri, serta berpikir
jernih untuk mendapatkan jalan keluar terbaik. Dalam hal spiritual, agar dapat
menghadirkan kesejukkan dalam rumahtangga, hendaknya istri menjalankan


104

ibadah dengan baik dan benar. Selain itu, hendaknya istri dapat menempatkan
dirinya dalam memotivasi suami sesuai dengan situasi dan kondisi.
Istri juga harus menyadari bahwa setiap orang tidak dilahirkan dengan
sempurna, sehingga istri dapat menjadi komplementer dari kelemahan
suaminya dan menutupi kekurangan suaminya begitu juga sebaliknya.
Menjadi sosok yang mandiri juga akan membantu untuk mempermudah suami
agar bisa lebih fokus terhadap pekerjaanya. Yang terakhir adalah, hendaknya
menjaga hubungan yang baik dengan keluarga, baik keluarga istri maupun
keluarga suami, serta rekan kerja suami dan tidak mencampuradukkan antara
urusan rumah tangga dengan urusan kantor/ pekerjaan.






DAFTAR PUSTAKA

Ad-Dusiri, Abdurrahman bin Ali, 2010. Agar Bahtera Rumah Tangga Anda Bahagia
dan Harmonis. Best Media: Yogya.
Adhim, Mohammad Fauzil, 2007. Kado Pernikahan untuk Istriku. Mitra Pustaka:
Yogyakarta.
Ahmed, Akbar, 1993. From Samarkand to Stornway. Living Islam. BBC Books
Limited.
An-Nu‘ami, Thariq Kamal, 2009. Psikologi Suami Istri. Mitra Pustaka: Yogyakarta.
Alwisol, 2008. Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Universitas Muhammadiyah
Malang: Malang.
Darajat, Zakiyah, 2003. Ilmu Jiwa dan Agama. Bulan Bintang.


105

Donelson, Frances Elaine, 1999. Women‟s Experiences Psychological Perspective.
Mayfield Publishing Company.
Fakhrudin, Iman Yuniarto, 2011. Potret 70 Tahun Zuhal. Paperwork: Jakarta.
HBB, Bacharuddin Jusuf, 2010. Habibie & Ainun. PT. THC Mandiri: Jakarta.
Hadi, Sutrisno, 1993. Metodologi Research. Fakultas Psikologi Universitas Gajah
Mada: Yogyakarta.
Hamidi, 2010. Metode Penelitian Kualitatif. UMM Press: Malang.
Kriyantono, Rahmat, 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kecana Prenada Media
Group.
KH, Ramadhan dan Ratih Poeradisastra, 2002. Zuhal 60 Tahun Jejak Perjalanan dan
Pikirannya. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.
Maslow, 1954. A Motivation and Personality. Harper &Row: New York.
Purwanto, Yadi dan Rachmat Mulyono, Psikologi Marah Perspektif Psikologi Islam.
PT. Refika Aditama.
Roslan, Rosadi, 2003. Metode Penelitian: Public Relations & Komunikasi. PT. Raja
Grafindo: Jakarta.
Sarwono, Sarlito Wirawan, 2006. Teori-teori Psikologi Sosial. PT. Raja Grafindo:
Jakarta.
Setyawan, T Palgunadi, 2004. Daun Berserakan. Gema Insani: Jakarta.
Soekanto, Soejono. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. PT. Raja Grafindo Persada:
Jakarta
Supratikanya, A. 1995. Komunikasi Antar Pribadi. Kanisius.
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
http://staff.ui.ac.id/internal/131998622/material/PsikologiSuamiIstri-Liche.pdf
http://www.brainyquote.com/words/hu/husband174845.html#ixzz1f1lGFEGq
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
http://staff.ui.ac.id/internal/131998622/material/PsikologiSuamiIstri-Liche.pdf
http://www.thefreedictionary.com/wife
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
http://alumnifatek.forumotion.com/t595-teori-motivasi


106

http://www.akhlaqulkharimah.com/2011/05/02/keluarga-sakinah-mawaddah-
warahmah/
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/definisi-motivasi-dan-teori-teori-
motivasi/
http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/wanita-dalam-islam.htm
http://www.mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/215-jenis-dan-metode-penelitian-
kualitatif.html









Lampiran 1

PEDOMAN WAWANCARA I

Hari/ Tanggal : Senin, 2 Mei 2011
Kamis, 12 Mei 2011
Tempat : Kediaman Ibu SY di Pondok Indah Jakarta Selatan
Pedoman Wawancara dengan Ibu SY sesi I
A. Identitas Responden
 Nama :
 TTL :


107

 Usia :
 Agama :
 Alamat :
 Status :
 Jenjang Pendidikan :
 Pendidikan Terakhir :
 Tahun Menikah :
 Nama Suami :
 Jumlah Anak :
 Nama Anak :
 Usia Anak :
B. Opening Question
 Dimana awal bertemu/ kapan ?
 Apa yang membuat ibu tertarik dengan bapak ?
 Sudah berapa lama berumahtangga (dikaruniai berapa anak/ cucu) ?
 Cerita sekilas awal mula bertemu sampai akhirnya kejenjang pernikahan….
 Apa saja kesibukan ibu ?
C. Motivasi (berdasarkan teori motivasi) dan Sukses
1. Apasajakah hobi bapak & ibu ?
2. Bagaimana perjuangan pada awal merintis kehidupan berumahtangga ?
3. Dalam menjalani hubungan rumahtangga pasti terjadi perbedaan-perbedaan,
bagaimanakah cara ibu dalam mengatasi perbedaan yang ada antara ibu dan
bapak ?
4. Seberapa romantiskah bapak ke ibu ?
5. Bagaimanakah sosok bapak dimata ibu (baik sebagai suami, bapak dan kepala
keluarga) ?
6. Apakah bapak seorang yang tegas, ataukah seorang sosok yang sabar ?
bagaimanakah cara ibu meredam (bila ada/ terjadi) emosi ataupun
ketegangan?
7. Hal apa yang paling ibu suka dari bapak ?
8. Bagaimanakah pembagian tugas/ peran dalam keluarga ?
9. Seberapa pentingkah waktu bersama dengan keluarga (lengkap)? Berapakali
seminggu/ sebulan ibu dan bapak menyisikan waktu untuk berkumpul


108

bersama keluarga ?
10. Biasanya, setelah bapak berpergian, hal apa/ kegiatan apa/ makanan apa yang
paling diingikan oleh bapak ketika sampai dirumah ?
11. Dalam kegiatan dan tanggungjawab bapak yang banyak, bagaimana ibu
sebagai istri membangun quality time dengan bapak maupun dengan putra-i
dan cucu-cucu ?
12. Apakah pondasi dari hubungan rumah tangga yang dijalani oleh ibu dan bapak
(alasannya)?
13. Bagaimanakah penanaman nilai agama yang ibu da bapak tanamkan di dalam
rumahtangga ibu dan bapak ?
14. Dalam menjalani kehidupan berumahtangga adakalanya masalah/
problematika muncul, ketika itu bagaimanakah cara ibu merespon dan melalui
serta menghadapi problematika tersebut ? dan bagaimana ibu beserta bapak
mengatasinya ?
15. Kecemasan ataupun ketakutan sebagai istri (mungkin ketika ditinggal bapak)
sesekali mungkin pernah muncul, bagaimana ibu mengatasi perasaan
tersebut ?
16. Dalam menjalani kehidupan rumahtangga, apakah ibu pernah merasa down
(misalnya karena ada masalah keluarga/ konflik dengan bapak/ perbedaan)
bagaimana ibu menghadapinya ?
17. Ketika bapak mengalami masalah dalam urusan pekerjaan atau tugas-
tugasnya, apakah bapak sering menceritakannya dengan ibu ? beliau
menceritakannya setelah masalah itu selesai atau ketika masalah sedang
berlangsung ?
18. Ketika bapak mengalami kekecewaan atau hal yang tidak sesuai dengan
harapannya dalam pekerjaan, sebagai istri biasanya hal apa yang ibu lakukan ?
19. Apakah definisi sukses menurut ibu ?
20. Dalam menjalani kehidupan untuk menuju kesuksesan terkandang timbul
konflik yang berasal dari diri sendiri (konflik batin) bagaimana ibu
mengatasinya?
21. Menurut ibu, seberapa besarkah pengaruh dan peran pasangan hidup ?
22. Apakah definisi sukses menurut ibu ?
D. Peran (berdasarkan teori peran)
23. Apasajakah kegiatan-kegiatan yang ibu lakukan (kegiatan sosial/ organisasi) ?


109

24. Diorganisasi ibu berperan sebagai apa ? selama berapa lama ? apakah
berkenaan dengan profesi/ posisi bapak ?
25. Bagaimanakah peranan ibu terhadap teman-teman bapak dan juga pekerjaan
bapak?
Pedoman Wawancara dengan Ibu SY sesi II
A. Berdasarkan Teori Kebutuhan Maslow (motivasi)
1. Kebutuhan dasar :
 (Opening; pada awal ibu memulai pernikahan, merintis rumahtangga…)
bagaimana kebutuhan dasar ibu, apakah sudah (langsung) cukup terpenuhi,
(seperti makan, minum, dan istrahat) ?
2. Kebutuhan dasar keamanan :
 (Sejak awal ibu memulai pernikahan….) bagaimana keyakinan ibu tentang
masa depan ibu , apakah ibu yakin dalam hal jaminan masa depan ?
 Kapan ibu dan bapak pergi menunaikan ibadah haji (bersama/ bapak ataukah
ibu yang duluan) ?
 Apakah ada pengalaman yang berkesan pada waktu di tanah suci ?
 Apakah ibu mengikuti perkumpulan pengajian ibu-ibu ?
3. Kebutuhan dimiliki dan cinta :
 Apakah bapak tipe yang romantis ?
 Apakah rasa cinta bapak ke ibu dari dulu sampai sekarang tidak berubah ?
 Menurut ibu, seberapa besarkah pengaruh dan peran pasangan hidup ?
4. Kebutuhan harga diri
 Bagaimanakah bentuk penghargaan bapak dan anak-anak terhadap ibu ?
 (merujuk ke pertemuan sebelumnya, ketika bapak meminta pendapat pada
ibu) apakah ide atau saran dari ibu diterima sepenuhnya oleh bapak ? jika
tidak, bagaimana ibu menanggapinya ?
5. Kebutuhan aktualisasi diri
 Didalam kehidupan, kapan saatnya ibu merasakan kepuasan batin dan
kebahagiaan yang mendalam atas prestasi yang ibu lakukan ?
 (dari banyak pencapaian, prestasi, dan posisi yang sudah bapak jalani)
posisi atau jabatan yang manakah yang paling bapak sukai dari sekian
banyak posisi yang dipercayakan kepada beliau ?


110

B. Berdasarkan Teori Peran
1. Apakah ibu mempunyai idola seorang tokoh wanita yang berperan atas
kesuksesan seorang suami ?
2. Bagaimana peran ibu dalam keluarga bapak (mertua, saudara ipar, sepupu dll)
?
3. Apasajakah kegiatan-kegiatan yang ibu lakukan (kegiatan sosial/ organisasi) ?
4. Bagaimanakah peranan ibu terhadap teman-teman bapak dan juga pekerjaan
bapak?
5. Jika ada hal yang kurang pas atau melenceng yang terjadi (menyangkut
pekerjaan/ kebijakkan bapak), bagaimana cara ibu mengantisipasinya/
memberitahunya ?






Lampiran 2

PEDOMAN WAWANCARA II

Hari/ Tanggal : Selasa, 12 Juli 2011
Tempat : Ruang Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia
Pedoman Wawancara dengan Bapak ZH
1. Definisi sukses menurut bapak ?
2. Definisi seorang pasangan yang sukses menurut bapak?
3. Menurut bapak apakah pasangan hidup sangat berpengaruh, mohon dijelaskan
seperti apa pengaruhnya ?


111

4. Bagaimanakah peran Ibu (Ibu SY) terhadap kehidupan dan pecapaian
(kesuksesan) yang bapak raih sekarang ?
5. Bagaimana karakteristik Ibu, dan hal apakah yang paling menarik dari Ibu
menurut Bapak ?













Lampiran 3

PEDOMAN WAWANCARA III

Hari/ Tanggal : Jum‘at, 28 Oktober 2011
Tempat : Ruang Sekretaris Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia
Pedoman Wawancara dengan Bapak LRZ
1. Bagaimana sosok Ibu SY dan Pak ZH ?
2. Apakah peran Ibu SY dalam mendampingi Pak ZH ?
3. Bagaimana cara Ibu SY mendidik dan mengasuh anak- anaknya ?


112

4. Bagaimana peran Ibu SY sebagai seorang ibu rumah tangga ? Nilai-nilai apa
yang ditanamkan oleh Ibu SY kepada anak-anaknya ?
5. Apakah pernah melihat suatu konflik terjadi antara ibu dan bapak, bagaimana
sikap ibu ketika menghadapi konflik dengan bapak ?
6. Kira-kira apa resep dari bahagianya hubungan keluarga yang dibina oleh Ibu
SY dan Pak ZH ?
7. Sebagai seorang anak (yang sekarang sudah berkeluarga) pelajaran apa yang
bapak ambil dari hubungan, cara Ibu SY dan Bapak ZH membina keluarga
yang akhirnya diterapkan juga oleh Bapak LRZ pada keluarga bapak ?
8. Apakah sosok Ibu SY mempengaruhi Pak LRZ dalam mencari pasangan
hidup ?
9. Pesan apakah yang selalu Ibu SY sampaikan dalam hal membina
rumahtangga ?
10. (menurut Pak LRZ) Apakah kunci sukses Ibu SY dalam perannnya sebagai
pendamping (istri) dari Bapak ZH dan ibu bagi anak-anaknya ?





Lampiran 4

SURAT KETERANGAN


Saya yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan bahwa :


Nama : Rifa‘ati Hanifa


113

NIM : 0601507011
Fakultas : Psikologi & Pendidikan UAI
Program Studi : Healing & Counseling


Telah melaksanakan penelitian berjudul “Peran Istri dalam Memotivasi
Kesuksesan Suami“ Studi Kasus Bapak ZH dan Ibu SY.

Demikian keterangan ini kami buat, agar dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.






Jakarta, 2 Mei 2011

Ibu SY
DOKUMENTASI

1. Ibu SY



114





115







116

2. Bapak ZH





3. Bapak LRZ


117


You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->